KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia sehingga kami menyelesaikan penelitian dengan judul : Gambaran faktor – faktor yang berhubungan dengan kejadian kekurangan energi protein ( KEP ) di Desa Kraton Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini merupakan bagian kepaniteraan klinik ilmu kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan dengan terselenggaranya kegiatan ini diharapkan, kami selaku dokter muda dapat menambah wawasan dan mengetahui masalah yang berkaitan dengan judul penelitian kami serta dapat memberikan masukan yang membangun bagi Puskesmas Krian untuk pemecahannya. Atas terselesainya penelitian ini maka izinkan kami menghaturkan banyak – banyak terima kasih kepada : 1. Rektor Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. 2. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. 3. Kabag Ilmu Kesehatan Masyarakat Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. 4. Kepala Puskesmas Krian Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo beserta staf. 5. Dosen pembimbing yang telah memberi perhatian dan bimbingan kepada kami. 6. Semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian laporan penelitian ini Kami menyadari bahwa penyusunan laporan penelitian ini masih terdapat kekurangan sehingga kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Semoga apa yang kami buat ini dapat memberi manfaat bagi yang membutukan.

Surabaya, Mei 2008

Penyusun

i

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENELITIAN GAMBARAN FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI PROTEIN ( KEP ) PADA BALITA DI DESA KRATON KECAMATAN KRIAN KABUPATEN SIDOARJO

Laporan ini disusun dan diajukan sebagai salah satu persyaratan praktek kerja lapangan Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Surabaya, Mei 2008

Mengetahui, Kepala Puskesmas Krian

Menyetujui, Pembimbing

dr. H. Hari Subagio

Atik Sri Wulandari. SKM, M. KES

ii

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................................................................................................... LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................................ DAFTAR TABEL........................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... A. Latar belakang ......................................................................................... i ii iii iv 1 1 2 2 3 4 4 4 5 8 11 18 18 18 18 18 19 19 20 23 23 25 32 34 34 34 35

B. Permasalahan ............................................................................................ C. Tujuan .....................................................................................................

D. Manfaat penelitian .................................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................. A. Batasan ..................................................................................................... B. Etiologi ..................................................................................................... C. Klasifikasi ................................................................................................. D. Gejala klinis dan diagnosa ........................................................................ E. Penatalaksanaan ........................................................................................ BAB III METODE PENELITIAN ................................................................................ A. Bentuk penelitian ...................................................................................... B. Tempat dan waktu penelitian........................................................................ C. Populasi ..................................................................................................... D. Cara pengumpulan data ............................................................................. E. Cara pengolahan data ................................................................................ F. Analisis data .............................................................................................. G. Definisi operasional .................................................................................. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISA DATA ............................................. A. Gambaran umum daerah penelitian ........................................................... B. Hasil penelitian dan analisa data ............................................................... BAB V PEMBAHASAN ............................................................................................. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................... A. Kesimpulan .............................................................................................. B. Saran ........................................................................................................ DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................

iii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Distribusi responden berdasarkan usia balita ................................................... Tabel 2 : Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin balita .................................... Tabel 3 : Distribusi responden berdasarkan tingkat pendapatan keluarga ...................... Tabel 4 : Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan ibu balita ...................... Tabel 5 : Distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi........... Tabel 6 : Distribusi responden berdasarkan tingkat frekuensi penyuluhan gizi ............... Tabel 7 : Distribusi responden berdasarkan riwayat pemberian ASI eksklusif ................ Tabel 8 : Distribusi responden berdasarkan riwayat imunisasi ....................................... Tabel 9 : Distribusi responden berdasarkan pemberian MP – ASI.................................. Tabel 10 : Distribusi responden berdasarkan riwayat sakit ( 3 bulan terakhir ) ................. Tabel 11 : Distribusi responden berdasarkan riwayat kelahiran ....................................... Tabel 12 : Distribusi responden berdasarkan pola asuhan balita ...................................... Tabel 13 : Distribusi responden berdasarkan pola asupan balita ....................................... Tabel 14 : Distribusi responden berdasarkan kebersihan lingkungan tempat tinggal ........ Tabel 15 : Distribusi responden berdasarkan tingkat kunjungan ke posyandu .................. Tabel 16 : Distribusi responden berdasarkan derajat KEP balita ......................................

25 25 26 26 27 27 27 28 28 28 29 29 29 30 30 31

iv

0176 ) ( 00.LAPORAN PENELITIAN GAMBARAN FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI PROTEIN ( KEP ) PADA BALITA DI DESA KRATON KECAMATAN KRIAN KABUPATEN SIDOARJO ( STUDI KASUS ) Disusun oleh : Agus Hari Subekti S. S . 0078 ) LABORATORIUM ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA 2008 v . Ked Yudha Bayu . 70. 0037 ) ( 00. S. Ked Hani Perbatasari . 70. S . 70. 70. Ked Sentot Prayitno . Ked ( 01. 0060 ) ( 00. Ked Agus Hendra W.P. S. 70. 0039 ) ( 01.

Desa Camping : 41 Desa Kraton mempunyai balita yang mengalami KEP dengan jumlah paling banyak. Kelurahan Kemasan : 45 4. LATAR BELAKANG Kualitas sumber daya manusia ( SDM ) merupakan syarat mutlak pembangunan di segala bidang. Desa Jeruk gamping : 7 8. Kelurahan Tambak : 31 : 50 9. Desa Junwangi 11. sebagai berikut : 1. Status gizi merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada kualitas SDM terutama terkait dengan kecerdasan dan kreativitas. Desa Jatikalang : 25 : 19 : 12 3. Di Puskesmas Krian dari 5551 balita tercatat ada 389 balita yang mengalami KEP. Desa Sidomulyo Total : 65 : 10 389 Balita 5. Desa Tropodo : 20 12. Desa Terung wetan : 6 13. ( KEP ) pada balita vi . Desa Sedenganmijen : 34 6 Desa Katerungan : 23 7. DesaTerik 10. Desa Kraton 15. Kelurahan Krian 2. Desa Terung Kulon : 1 14. Untuk itu perlu diketahui kemungkinan faktor-faktor yang terkait menyebabkan terjadinya gizi kurang pada balita. Balita KEP tersebut tersebar di wilayah kerja Puskesmas Krian yang meliputi 3 ( tiga ) kelurahan dan 12 ( dua belas ) desa. Oleh karena itu maka peneliti mengadakan penelitian tentang gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kekurangan energi protein di Desa Kraton Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo.BAB I PENDAHULUAN A.

Bagaimanakah riwayat sakit balita. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang masalah gizi pada balita. Bagaimanakah gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang masalah gizi pada balita. Bagaimanakah gambaran kesehatan lingkungan tempat tinggal balita. Bagaimanakah gambaran tingkat pendapatan keluarga. Bagaimanakah gambaran pola asupan gizi pada balita. Mengetahui gambaran tingkat pendapatan keluarga. Bagaimanakah gambaran tingkat kunjungan ke posyandu. b. d. c. g. k. 2. i.B. Bagaimanakah gambaran pemberian makanan pendamping ASI ( MP – ASI ) pada bayi. Bagaimanakah riwayat kelahiran pada balita. TUJUAN 1. Bagaimanakah riwayat imunisasi pada balita. PERMASALAHAN 1. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan ibu. ( KEP ) di Desa vii . di Desa Kraton Kecamatan Krian C. l. Khusus a. m. b. h. e. Oleh karena itu dari uraian diatas dapat dirumuskan suatu masalah penelitian yaitu bagaimanakah gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Kekurangan Energi Protein ( KEP ) Kabupaten Sidoarjo 2. j. Bagaimanakah gambaran pemberian ASI eksklusif pada bayi. Khusus a. Bagaimanakah gambaran pola asuhan pada balita. Bagaimanakah gambaran tingkat pendidikan ibu. f. Bagaimanakah partisipasi ibu terhadap penyuluhan gizi oleh tenaga kesehatan. Umum Pengetahuan ibu balita tentang gizi merupakan hal yang sangat berguna dalam menekan terjadinya KEP. Umum Tujuan secara umum dari penelitian ini untuk mengetahui tentang gambaran faktorfaktor yang berhubungan dengan kejadian Kekurangan Energi Protein Kraton Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. c.

Bagi Masyarakat . Bagi Peneliti . Mengetahui gambaran tingkat kunjungan ke posyandu. k. Mengetahui gambaran pemberian makanan pendamping ASI ( MP – ASI ) pada bayi. 2. MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk : 1. i. 3. l. Mengetahui gambaran pola asuhan pada balita. j. Mengetahui riwayat kelahiran pada balita.Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang masalah gizi terutama pada balita. f. e. h. Mengetahui gambaran pemberian ASI eksklusif pada bayi. Mengetahui gambaran kesehatan lingkungan tempat tinggal balita. m. Untuk melatih peneliti agar berpikir secara obyektif dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Untuk memberi motivasi masyarakat dalam meningkatkan derajat status gizi terutama pada balita. D. Bagi Instalasi terkait Agar dapat memberi masukan bagi Puskesmas Krian untuk meningkatkan status gizi masyarakat terutama pada balita. Mengetahui riwayat sakit balita. Mengetahui riwayat imunisasi pada balita. viii . Mengetahui partisipasi ibu terhadap penyuluhan gizi oleh tenaga kesehatan. Mengetahui gambaran pola asupan gizi pada balita.d. Untuk memberi kesadaran masyarakat akan pentingnya peran serta posyandu dalam meningkatkan derajat kesehatan anak.Untuk menambah wawasan peneliti mengenai gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya KEP pada balita. g.

5. gangguan serapan dan utilisasi pangan serta peningkatan kebutuhan ( dan / atau kehilangan ) akan zat gizi.3) B. riwayat pemberian ASI eksklusif.2. riwayat sakit. pola asuhan. tingkat frekuensi penyuluhan gizi. menimbulkan salah paham tentang cara merawat bayi dan anak yang benar.8.4. Ketiadaan pangan melatarbelakangi KEP primer yang mengakibatkan berkurangnya asupan. juga salah ix .9) Kemiskinan salah satu determinan sosial – ekonomi. Tingkat pendidikan ibu balita yang rendah mempunyai dampak pengetahuan gizi terhadap anak balitanya juga rendah. riwayat pemberian MP-ASI. merupakan akar dari ketiadaan pangan. baik yang berdiri sendiri maupun yang berkaitan dengan kemiskinan. Ketidaktahuan. (1) KEP dikelompokkan menjadi KEP primer dan sekunder. meskipun sulit menentukan kekurangan apa yang lebih dominan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. kebersihan lingkungan tempat tinggal. (1.7. (1.6. yaitu: tingkat pendapatan keluarga. dikatagorikan sebagai KEP sekunder. marasmik – kwasiorkor. BATASAN Kekurangan Energi Protein ( KEP ) ialah suatu keadaan yang terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori. juga tidak sedikit. tingkat pengetahuan ibu tentang gizi. atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. protein. riwayat imunisasI. dan marasmus termanifestasi jika terjadi kekurangan energi yang parah.2) Sindrom kwasiorkor terjadi manakala defisiensi lebih menampakkan dominasi protein. meskipun salah satu lebih dominan ketimbang yang lain. Penyakit yang mengakibatkan pengurangan asupan. Kombinasi kedua bentuk ini. tingkat kunjungan ke posyandu. pola asupan gizi. tempat pemukiman yang berjejalan. kumuh dan tidak sehat serta ketidakmampuan mengakses fasilitas kesehatan. Kedua bentuk defisiensi ini tidak jarang berjalan bersisian. tingkat pendidikan ibu. (1. riwayat kelahiran. ETIOLOGI Ada 13 faktor yang kemungkinan melatarbelakangi terjadinya KEP.

6. yaitu derajat I. (1.) KEP sesungguhnya berpeluang menyerang siapa saja. Klasifikasi KEP menurut Gomez didasarkan pada berat badan terhadap umur ( BB / U ). Hal lain yang juga berpotensi menumbuhkan KEP dikalangan bayi dan anak adalah penurunan minat dalam memberi ASI yang kemudian diperparah pula dengan salah persepsi tentang cara menyapih.9) Tempat tinggal yang berjejalan dan tidak bersih menyebabkan infeksi sering terjadi. (1. Berdasarkan sistem ini. Berat anak yang diperiksa dinyatakan sebagai presentase dari berat anak seusia yang diharapkan pada baku acuan dengan menggunakan persentil ke 50 baku acuan Havard. terutama bayi dan anak yang tengah tumbuh kembang.2.4. Pemberian imunisasi secara lengkap dapat meningkatkan reaksi pembentukan kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi sehingga dapat menekan terjadinya gizi kurang pada balita. baik sebelum maupun selama hamil. antara lain : malnutrisi ibu. Komponen biologi yang menjadi latarbelakang KEP. (1. distribusi pangan dalam keluarga terkesan masih timpang. III. campak. serta akan meningkatkan resiko morbiditas dan mortalitas karena rentan terhadap infeksi. penyakit infeksi. serta diet rendah energi dan protein. Rendahnya tingkat kunjungan ibu ke posyandu ditambah rendahnya frekuensi penyuluhan tentang gizi dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan ibu tentang susunan makanan yang memenuhi kriteria 4 sehat 5 sempurna. II. dan infeksi saluran nafas kerap menghilangkan nafsu makan.mengerti mengenai penggunaan bahan pangan tertentu dan cara memberi makan anggota keluarga yang sedang sakit. Selain itu. Penyakit diare. sementara kwasiorkor cenderung menyerang setelah mereka berusia 18 bulan. KLASIFIKASI Gomez ( 1956 ) merupakan orang pertama yang mempublikasikan cara pengelompokan kasus KEP. KEP diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan.4. Marasmus sering menjangkiti bayi yang baru berusia kurang dari satu tahun. Balita yang mempunyai riwayat kelahiran prematur dan berat badan lahir kurang dari 2500 gram mempunyai resiko lebih mudah mengalami berbagai kelemahan fisik dan mental ( intelegensia ). (1) x .6.6) C. Penyakit infeksi berpotensi sebagai penyokong atau pembangkit KEP.5.2.

Bengoa ( 1970 ) mencoba menengahi kedua pengelompokkan ini dengan memasukkan tanda edema. EGC ) Sayang sekali. anak yang rasio berat badan terhadap usia sangat rendah tidak termasuk sebagai penderita KEP karena anak yang kurus ini memiliki tinggi badan yang rendah pula. EGC ) Dengan klasifikasi Jellife. kwasiorkor dan marasmus masih belum dibedakan. dengan cara ini marasmus tidak dapat dibedakan dengan kwasiorkor. Karena itu. II ( 60 – 75 % ). Jellife membagi KEP menjadi 4 tingkatan : I sampai dengan IV.Klasifikasi KEP menurut Gomez Derjat KEP I ( Ringan ) II ( Sedang ) III ( Berat ) Berat badan / usia (%) 90 – 76 75 – 61 < 60 ( Sumber : Buku Ajar Ilmu Gizi. (1) Penggunaan nilai defisit berdasarkan berat terhadap usia tidak membedakan anak yang memang mempunyai berat badan kurang ( KEP kini ) dengan mereka yang berat dan tingginya seimbang ( KEP lampau ). (1) xi . pengelompokkan KEP sebagai derajat I ( 75 – 90 % dari acuan berat terhadap usia). (1) Jellife ( 1966 ) juga menyusun klasifikasi berdasarkan berat terhadap usia. Akibatnya. disamping data tentang kronologis usia tidak selalu tersedia dan kalaupun ada. data tersebut biasanya tidak valid. KEP cukup dikelompokkan menjadi 3 katagori dan seluruh penderita yang menampakkan tanda edema dinilai sebagai KEP derajat III. Klasifikasi KEP menurut Jellife Katagori KEP I KEP II KEP III KEP IV Berat badan / usia ( %) 90 – 80 80 – 70 70 – 60 < 60 ( Sumber : Buku Ajar Ilmu Gizi. Bedanya. Namun demikian. Menurut Bengoa. dan III ( <60 % ) sangat berfaedah dalam penelitian epidemiologis dan kesehatan masyarakat karena proporsi anak dimasyarakat yang pada suatu ketika dalam hidupnya pernah mengalami KEP dapat ditentukan. tanpa memandang defisit berat badan.

Dengan demikian. departemen kesehatan RI ( 2000 ). Wellcome memasukkan indikator ini kedalam komponen yang harus dinilai. (1) Klasifikasi KEP menurut Waterlow Derajat kependekan Persen ( derajat ) BB/U > 90% ( derajat 0 ) 95–90% ( derajat 1 ) 85-90% ( derajat 2 ) < 85% ( derajat 3 ) ( Sumber : Buku Ajar Ilmu Gizi. xii . Jika defisit berat badan pada klasifikasi Bengoa tidak diperhatikan. Data seperti ini penting karena pendekatan serta antisipasi lamanya terapi keduanya tidak sama. EGC ) Derajat kekurusan ( BB / TB ) > 90%(0) / 80–90%(1) Normal Normal Pendek Pendek 70-80%(2) / < 70% (3) Kurus Kurus Kurus – Pendek Kurus – Pendek Terakhir. yaitu : normal. serta pendek. EGC ) Waterlow ( 1973 ) mengelompokkan KEP menjadi 4 kelas. perbedaan berbagai tahapan kelainan status gizi tergambar jelas sebagai berikut : (1) Klasifikasi KEP menurut Wellcome Tanda yang ada Kurus Pendek Marasmus Kwasiorkor Marasmik kwasiorkor % Berat baku 80 – 60 < 60 < 60 80 – 60 < 60 Edema 0 0 0 + + Defisit BB / TB Minimal Minimal ++ ++ ++ ( Sumber : Buku Ajar Ilmu Gizi. EGC ) Wellcome ( 1970 ) memasukkan parameter edema kedalam penilaian. kurus dan pendek. kurus. berdasarkan temu pakar gizi di Bogor tanggal 19 – 21 januari dan di Semarang tanggal 24 -26 mei tahun 2000.Klasifikasi KEP menurut Bengoa Katagori KEP I KEP II KEP III Berat badan / usia (%) 90 – 76 75 – 61 Semua penderita edema ( Sumber : Buku Ajar Ilmu Gizi.

Indikator yang dipakai ialah tinggi dan berat. Kegiatan fisik dan keluaran energi anak berkurang. Diare kronis dan infeksi merupakan gambaran yang lazim terjadi. EGC ) Gizi buruk -2 SD sampai +2 SD < -2 SD Gemuk Normal Kurus Sangat kurus D. GEJALA KLINIS DAN DIAGNOSA KEP derajat ringan dan sedang Gambaran klinis utama KEP ringan sampai sedang ialah penyusutan berat badan yang disertai dengan penipisan jaringan lemak bawah kulit. pertumbuhan memanjang akan terhenti sehingga anak akan bertubuh pendek. (1. sementara penyajian indeks digunakan simpangan baku.6) KEP Berat Diagnosis KEP berat ditegakkan berdasarkan riwayat pangan serta gambaran klinis. disamping berlangsung pula perubahan pada fungsi kekebalan. kelaparan berkepanjangan dan penyapihan terlalu dini. saluran pencernaan.2. (1) Klasifikasi KEP menurut Depkes 2000 Indeks BB / U Simpangan baku ≥ 2 SD -2 SD sampai +2 SD Status gizi Gizi lebih Gizi baik < -2 SD sampai –3 SD Gizi kurang < -3 SD TB / U Normal Pendek BB / TB ≥ 2 SD -2 SD sampai +2 SD < -2 SD sampai -3 SD < -3 SD ( Sumber : Buku Ajar Ilmu Gizi.2. dan kebiasaan. (1.merekomendasikan baku WHO – NCHS untuk digunakan sebagai baku antropometris di Indonesia. Sementara kwasiorkor terkait dengan keterlambatan menyapih serta kekurangan protein. Jika KEP berlangsung menahun. Marasmus biasanya berkaitan dengan ketiadaan bahan pangan yang sangat parah.6) xiii .

50-6. disokong dengan xiv . Penderita terlihat apatis. tanpa kilat normal dan mudah dicabut tanpa menyisakan rasa sakit.00-1.Perbedaan antara kedua bentuk KEP berat.24 ) ( 6.74 ) ( 4. termasuk bentuk antaranya dipaparkan sebagai berikut: (1.50-2.00-3.00-2.25-3.00-7. meskipun biasanya tetap sadar.25 ) ( 3. Berat badan penderita marasmus biasanya hanya sekitar 60 % dari berat yang seharusnya.99 ) ( 4. Rambut tipis.74 ) ( > 7.49 3. EGC ) Marasmus Gambaran penderita marasmus dapat terwakili dalam istilah tulang terbalut kulit : jaringan lemak bawah kulit ( nyaris ) lenyap. jarang.00 Skor 0 – 3 = marasmus Skor 4 – 8 = marasmik – kwasiorkor Skor 9 – 15 = kwasiorkor Protein total ( g/ 100cc ) ( < 3. kering.99 ) ( 7.99 3.75-5.49 2.25-6. tipis.50-3.49 1.2) Pemberian skor pada KEP berat ( McLaren ) Tanda yang ada Edema Dermatosis Edema + Dermatosis Perubahan rambut Hepatomegali Serum albumin < 1.00 1.49 ) ( 5. Kulit kering.99 2.50-1. tidak lentur serta mudah berkerut. otot mengecil.99 > 4. dan menampakkan gurat kecemasan.00-4. Tanda – tanda itu.75 ) 7 6 5 4 3 2 1 0 Tetapan 3 2 6 1 1 ( Marasmik – Kwasiorkor ) ini dapat pula ditentukan dengan menggunakan skor yang ( Sumber : Buku Ajar Ilmu Gizi.

rapuh. Perut tampak menonjol karena penengahan lambung dan usus yang terpeluntir. dan lunak. jumlah yang diperkirakan ini terlalu banyak bagi mereka dan tidak dapat ditoleransi. (1. kerap terjadi. dengan tanda dan gejala khas kwasiorkor dan marasmus. Keberselangan antara asupan protein yang buruk dan ( agak ) baik membentuk porsi depigmentasi dan gambaran normal pada satu helai rambut sehingga memberi gambaran seperti bendera. tungkai berwarna kebiruan dan teraba dingin. Rambut kering. tidak sakit. (1) Marasmik – kwasiorkor Bentuk kelainan ini merupakan gabungan antara KEP yang disertai oleh edema. merah. Kondisi ini akan membaik manakala keadaan gizi terkoreksi.dan pengurangan lemak bawah kulit seperti pada marasmus. dan dilakukan pengobatan saluran gastrointestinal secara spesifik. sementara pigmen rambut berganti warna menjadi coklat. Gambaran marasmus dan kwasiorkor muncul secara bersamaan dan didominasi oleh kekurangan protein yang parah. atau bahkan putih kekuningan. Jika edema dapat hilang pada awal pengobatan. (1. Sebagian lagi masih dapat mengutarakan rasa lapar. Rambut yang sebelumnya berombak berubah menjadi lurus. namun jika diberikan sejumlah makanan yang diperkirakan dapat melenyapkan rasa lapar itu.6) Nafsu makan sebagian penderita hilang sama sekali. Ekspresi wajah tampak seperti susah dan sedih.2) xv . biasanya terjadi dikaki. menjelaskan gambaran wajah seperti orang tua atau bahkan kera. Diare menahun dan kelemahan yang menyeluruh sering mendampingi KEP sehingga anak tidak dapat berdiri sendiri tanpa dibantu. pengecilan otot. Hati membesar dengan sudut tumpul dan teraba lunak. muntah segera setelah makan. serta diare. Memang. dan mudah dicabut tanpa nenimbulkkan rasa sakit. disebabkan oleh infiltrasi lemak. Gambaran yang utama ialah kwasiorkor edema dengan atau tanpa lesi kulit.6) Ketiadaan nafsu makan. tidak berkilap. (1. penderita tidak jarang muntah. (1.2. penampakan penderita akan menyerupai marasmus. merupakan gambaran utama kwasiorkor. disamping apatis dan iritatif ( cengeng ). Penderita tampak pucat.lekukan pipi dan cekungan dimata.2) Kwasiorkor Edema yang jika ditekan melekuk.

Semua penderita hipoglikemi harus diberi antibiotik spektrum luas untuk mengobati infeksi sistemik yang luas. dehidrasi.E. atau jika anak dibiarkan tidak makan salama 4 – 6 jam.2) Tanda hipoglikemi mencakup (1) temperatur tubuh kurang dari 36. penanganan KEP berat dikelompokkan menjadi pengobatan awal dan rehabilitasi. (4) pemberian makanan.2. terutama selama pengobatan 2 hari pengobatan awal.5˚ C. kondisi tersebut menyuburkan suasana apatis sekaligus memperburuk anoreksia yang telah ada. Keadaan ini disebabkan oleh infeksi sistemik yang serius.2. Menginap di rumah sakit justru meningkatkan resiko infeksi silang.2) Hipotermi xvi . hipotermi. (1. Upaya pengobatan awal meliputi (1) pengobatan atau pencegahan terhadap hipoglikemi. (5) pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain seperti kekurangan vitamin. (3) pengobatan infeksi. (2) pencegahan jika ada ancaman atau perkembangan renjatan septik. upaya pengobatan harus cepat dilaksanakan tanpa harus menanti hasil pemeriksaan laboratorium. Agar hipoglikemi tidak terjadi.3) Hipoglikemi Penderita KEP berat berkemungkinan untuk jatuh kedalam keadaan hipoglikemia ( kadar glukosa darah < 35 mg/dl atau < 3mmol/L ). (2) letargi. sementara suasana yang berlainan dengan keadaan rumah menyebabkan anak merasa diasingkan. Pengobatan awal ditujukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa. anak harus diberi makan sekurang – kurangnya setiap 2 – 3 jam. PENATALAKSANAAN Penanganan KEP berat Pasien yang menderita KEP tanpa penyulit sangat dianjurkan untuk dirawat dirumah saja. (3) lemas (4) kesadaran kurang. sementara fase rehabilitasi diarahkan untuk memulihkan keadaan gizi. baik siang ataupun malam.3) Secara garis besar. (1. Jika tanda – tanda ini telah tampak. (1. terutama sepanjang perjalanan dari rumah ke rumah sakit. dan pemulihan ketidakseimbangan elektrolit. (1. dan payah jantung. anemia berat.

2) Rehidrasi berhasil jika anak tidak lagi kehausan. Cairan sebanyak itu harus habis selam 12 jam. lidah. dan (b) renjatan septik yang tengah berlangsung.5˚ C atau suhu ketiak dibawah 35˚ C. anak harus tetap diberi minum. (b) mulut. sudah dapat berkemih. Semua anak yang mengalami hipotermi juga harus diobati untuk hipolikemi dan infeksi sistemik.2) per infus dapat menyebabkan kelebihan cairan dan gagal jantung. (b) rasa haus. Tanda tidak bermakna dilihat berdasarkan (a) keadan mental. Sebagai patokan.Hipotermi kerap terjadi pada balita yang berusia kurang dari 12 bulan dan mereka yang menderita marasmus dengan kerusakan kulit yang parah serta infeksi berat. dan air mata. (1. (1) Cairan rehidrasi oral ( CRO ) harus mengandung lebih banyak kalium ketimbang natrium karena penderita KEP berat selalu mengalami defisiensi kalium serta kelebihan natrium. dan (f) aliran urin. Suhu rektal harus diukur setiap 30 menit jika anak dipanaskan dengan lampu. Tanda yang bermakna terungkap pada (a) riwayat diare. Pemanasan boleh diterapkan dengan cara apa saja. Cara pemberian dimulai sebanyak 5cc/kgBB setiap 30 menit selama 2 jam pertama per oral atau dengan slang nasogastrik kemudian ditingkatkan menjadi 5 – 10cc/kgBB/jam. (d) mata cekung.2) Pengobatan dehidrasi Proses rehidrasi sebaiknya dilakukan secara oral karena pemberian boleh diberlakukan hanya dalam keadaan renjatan (syok). dan tanda dehidrasi lain hilang. Sedangkan tanda renjatan septik dibagi menjadi (a) ancaman yang mengarah ke keadaan renjatan septik. (1) Dehidrasi dan renjatan septik Penegakkan diagnosis dehidrasi pada pasien yang menderita KEP berat sungguh sulit. (c) hipotermia. Pemberian secara parenteral xvii . (1. (e) kaki dan tangan terasa dingin. (1. Agar anak tidak mengalami dehidrasi lagi. jika anak berusia kurang dari 2 tahun. dan (c) kelenturan kulit. Anak mesti dihangatkan manakala suhu rektal terukur kurang dari 35. namum sebaiknya tidak menggunakan botol panas atau lampu floresens. Pemberian CRO sebanyak 70-100cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi. berikan 50 – 100cc tiap kali diare sementara anak yang lebih besar jumlahnya dua kali lipat.

Jika demikian adanya. F-75 harus segera diberikan meskipun proses rehidrasi belum selesai. (1.cc Kandungan / 100 cc Energi ( kkal ) 75 100 25 100 27 20 1000 F – 100 100 50 80 20 1000 xviii . berarti pasien telah mengalami renjatan septik.(1. Pemberian demikian biasanya dilakukan sekitar 2 – 3 jam setelah rehidrasi dimulai. masing – masing disebut sebagai F-75 dan F-100.Rehidrasi intravena Pemberian cairan rehidrasi per infus hanya diperbolehkan jika terjadi dehidarsi berat atau renjatan septik.2) Selama satu jam cairan diberikan sebanyak 15cc/kg BB. Berikan makanan cair yang mengandung 75-100 kkal / 100cc..2) Pemberian ASI sebaiknya tidak diberhentikan ketika CRO / intravena diberikan dalam kegiatan rehidrasi.2) Cara membuat formula F-75 dan F-100 dan kandungan zat gizi per 100 cc larutan F – 75 Susu bubuk (g) Gula (g) Tepung serealia (g) Minyak (g) Larutan elektrolit / mineral (cc) Tambahan air hingga . Jika perbaikan tidak terjadi selama pemberian cairan satu jam pertama. dan sesudahnya ganti dengan CRO per oral atau slang sebanyak 10cc/kgBB/jam hingga 10 jam. Kemungkinan munculnya tanda – tanda kelebihan cairan ( overhydration ) harus dicermati selama pemberian. perpanjang perlakuan rehidrasi intravena selama satu jam lagi. jika memungkinkan diberikan KCl sebanyak 20 mmol/L. (3) larutan garam fisiologis 0. setelah satu jam akan terjadi perbaikan ( frekuensi nadi dan pernafasan akan berkurang ). Jika anak tetap sadar dan mampu minum.. (1. Cairan yang dianjurkan ialah (1) cairan Darrow – half strength – dengan destrose 5%. baik melalui mulut atau dengan bantuan slang nasogastrik. Dapat dipasang pula slang nasogastrik untuk memasukkan CRO sebanyak 10cc/kg BB/jam. (2) larutan Ringer Laktat dengan dektrose 5%.45% dengan dektrose 5%. jika memungkinkan ditambah KCl 20mmol/L. Jika semula pasien datang dengan dehidrasi berat. Satu jam kemudian pasien harus diperiksa ulang. sesegera mungkin.

Seandainya gejala dan tanda gagal jantung kongestif tetap saja timbul. Disamping itu. suntikkan kedalam otot vitamin K dosis tunggal sebanyak 1mg.3 1. hentikan makanan itu dan ganti dengan larutan garam rehidrasi oral untuk xix .25 5 32 413 2. atau muntah berulang kali.3 0. jarum infus dicabut dan proses rehidrasi dilanjutkan lewat mulut atau pipa nasogastrik. atau jika anak tidak membaik setelah satu jam pemberian infus. (1. Jika terjadi gagal jantung kongestif. segera berikan tranfusi darah sebanyak 10cc/kgBB secara perlahan selama setidaknya tiga jam. atau baru tahap ancaman kearah sana.43 2. Seandainya darah tidak tersedia berikan plasma. melalui pipa nasogastrik.3 4.9 4. berikan diuretik sembari memperlambat kecepatan. pemberian makanan selayaknya diperlambat.2) Selama tranfusi berlangsung kepada penderita tidak boleh diberikan apa – apa lagi agar gagal jantung kongestif tidak terjadi.0 0.25 12 53 419 Pengobatan renjatan septik Semua anak yang menderita KEP berat. yang menampakkan tanda renjatan septik. jika tranfusi telah selesai. Jika terlihat gagal hati.2 6. Seandainya perut anak kembung. Anak-anak ini tidak perlu dimandikan. mereka mesti diberi antibiotik spektrum luas dan dihangatkan untuk mencegah dan mengobati hipotermia. Jika dengan cara ini perut tetap kembung dan muntah tidak mereda.6 0.9 1.2) Makanan F-75 baru boleh diberikan.Protein (g) Laktose (g) Kalium (mmol) Natrium (mmol) Magnesium (mmol) Seng (mg) Tembaga (mg) % energi dari protein % energi dari lemak Osmolaritas ( mOsm/l) ( Sumber : Buku Ajar Ilmu Gizi.9 0. (1.0 0. Segera setelah denyut nadi menguat dan anak siuman. (1) Rehidrasi melalui pembuluh darah vena harus segera dijalankan jika pasien telah menampakkan gambaran ranjatan septik yang nyata.73 2. EGC ) 0. harus diobati sebagai renjatan septik.

makanan besar.(1. segera setelah diagnosis ditegakkan. sementara interval antara waktu makan diperpendek.045 300 ( formula ) untuk mereka sebaiknya berkadar rendah protein dan lemak. serta masalah lain yang terkait dengan ketidakseimbangan elektrolit. Penderita yang tidak mau makan sebaiknya disuapin melalui pipa nasogastrik. Jika muntah jumlah pangan digandakan. EGC ) Pemberian makanan ketika pederita baru dirawat. (1) Komposisi larutan garam rehidrasi oral untuk KEP Komposisi Kadar ( mmol / L ) Glukosa Natrium Kalium Klorida Sitrat Magnesium Seng Tembaga Osmolaritas 125 45 40 70 7 3 0.2) Pengobatan dietetis Makanan fomula sebaiknya segera diberikan pada anak manakala tidak terdeteksi tanda – tanda gawat darurat. lemak dan natrium dalam takaran normal. harus dalam jumlah kecil namun sesering mungkin karena kemungkinan overloading pada saat ini sangat tinggi.Mereka biasanya tidak mampu menoleransi protein. Oleh karena itu.3 atau 4 jam sekali siang dan malam.penderita KEP dengan kecepatan infus 2 -4 cc/kg/jam. disamping melanjutkan pemberian ASI. tetapi jangan menggunakan IV feeding. gangguan fungsi hati dan usus. diberikan pula 2cc larutan magnesium sulfat 50%. Disamping itu. Kebanyakan penderita KEP berat yang baru tiba di rumah sakit terbukti mengidap infeksi.volume makanan diperbesar dan xx .3 0. Penderita yang masih mau makan harus diberi santapan setiap 2. tetapi mengandung karbohidrat dalam jumlah lebih ( Sumber : Buku Ajar Ilmu Gizi. Jika keadaan fisik penderita membaik.

penderita telah dapat tersenyum dan beriteraksi dengan lingkungannya dan pertambahan berat badan telah mencapai kecepatan maksimal. baru dapat terlaksana manakala edema telah lenyap. anak harus didorong agar mau bermain serta berpartisipasi pada seluruh kegiatan fisik. merangsang perkembangan fisik dan emosi serta menyiapkan ibu dan / atau pengasuh dalam pengawasan anak setalah keluar rumah sakit. Pengobatan dikatakan berhasil jika nafsu makan penderita membaik yang terlihat pada cepatnya anak merasa lapar. (1. hati telah mampu memetabolisasi makanan. serta disemarakkan dengan alunan musik untuk merangsang akustik. lesi kulit hampir sembuh. (1) Rehabilitasi Tugas utama fase ini adalah mendorong anak untuk makan sebanyak mungkin.2) Diare yang membandel tetapi ringan tidak akan mengganggu rehabilitasi gizi sejauh asupan cairan dan elektrolit untuk hidrasi normal tercukupi. (1) Perangsangan fisik dan emosi tidak kalah penting dalam pengobatan KEP berat. Dan ini menandakan infeksi mulai teratasi. Inilah akhir dari fase awal pengobatan. idealnya mereka boleh dirujuk ke klinik gizi atau pusat rehabilitasi untuk kelanjutan xxi . penderita telah aktif serta dapat berinteraksi dengan lingkungannya. Sekarang penderita siap memasuki fase rehabilitasi.frekuensi pemberian diperkecil. (1.2) Pemberian makanan tradisional yaitu makanan yang biasa disantap dirumah. diet harus dimodifikasi dengan mempertimbangkan mutu serta kepadatan zat gizi makanan pengganti. edema dan lesi kulit hilang. penderita memerlukan perhatian dan kasih sayang baik dari keluarga maupun staf rumah sakit. nafsu makan membaik. dan ketidaknormalan metabolik lain berkurang. mulai dan / atau mendorong pemberian ASI secukupnya. Segera setelah mampu bergerak tanpa bantuan dan mau berinteraksi dengan staf rumah sakit dan anak – anak lain. (1. Kamar perawatan harus dicat dengan warna lembut dan meriah. Sejak awal pengobatan.2) Kriteria sembuh Setelah keadaan yang mengancam jiwa teratasi. Jika dicurigai telah terjadi intoleransi makanan. nafsu makan telah pulih. dan kecepatan tumbuh untuk mengejar ketertinggalan selama sakit telah tercapai.

pengobatan. Jika proses ini dapat diselenggarakan dirumah. penderita diperbolehkan pulang. atau kunjungan petugas gizi dari rumah ke rumah. Hampir semua penderita yang telah sembuh total memiliki rasio berat terhadap tinggi seperti yang diharapkan. Kriteria sembuh yang paling praktis adalah pertambahan berat badan. Para ibu atau pengasuh harus mengerti pentingnya diet tinggi kalori dan protein hingga tercapai penyembuhan sempurna. sementara perawatan di klinik gizi atau pusat rehabilitasi gizi dilanjutkan secara teratur. (1) xxii .

Jenis Variabel a. BENTUK PENELITIAN Penelitian ini bersifat Deskriptif yang akan menggambarkan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian KEP pada balita di Desa Kraton Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. CARA PENGUMPULAN DATA 1. Jenis Data a. C. B. D.BAB III METODE PENELITIAN A. Data Sekunder Meliputi gambaran umum daerah penelitian di Desa Kraton Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. Data Primer Dikumpulkan dengan tehnik wawancara menggunakan acuan kuisioner dengan responden ibu balita. b. 2. Objek penelitian adalah seluruh populasi KEP yang ada di Desa Kraton dengan responden oleh ibu dari balita tersebut. Variabel terikat xxiii . TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Di Desa Kraton Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 19 mei 2008 sampai 14 Juni 2008. POPULASI Populasi adalah jumlah balita KEP di Desa Kraton Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo dengan jumlah 65 balita.

Variabel bebas 1. 7. Riwayat sakit. Riwayat pemberian ASI eksklusif. 5.Gizi kurang dari balita KEP di Desa Kraton Kecamatam Krian Kabupaten Sidoarjo. Membuat tabel distribusi frekuensi F. Tingkat kunjungan ke Posyandu 6. Pola asuhan. 13. Riwayat kelahiran. Pengumpulan data. CARA MENGELOLA DATA Data Mentah Informasi dari karakteristik obyek penelitian yang dituangkan dalam bentuk jawaban kuisionar yang sudah di edit menurut karakteristik penelitian kemudian ditabulasi menjadi bentuk tabel distribusi frekuensi yang digunakan sesuai dengan analisis deskriptif. Tingkat frekwensi penyuluhan gizi. Kebersihan lingkungan tempat tinggal E. Riwayat pemberian MP – ASI. Tingkat pendapatan 2. b. 10. b. Pengolahan Data a. 12. Tingkat pendidikan 3. xxiv . Riwayat imunisasi 9. ANALISIS DATA Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif yang dilakukan dengan Interpretasi data pada tabel distribusi frekuensi untuk memberikan gambaran hasil penelitian sesuai dengan tujuan penelitian. 11. Tingkat pengetahuan ibu tentang gizi 4. 8. Pengeditan. c. Pola asupan gizi.

Riwayat kelahiran .Kunjungan ke posyandu G.Kebersihan tempat tinggal Faktor Pengetahuan tentang gizi : .Riwayat imunisasi .000. Rp 2.000. Sedang : Rp 550. Tingkat pendapatan ialah penghasilan rata .Tingkat pendidikan Faktor sosial budaya : .Riwayat MP .Riwayat sakit .ASI .rata yang diperoleh keluarga dalam 1 bulan..Penyuluhan tentang gizi .Riwayat pemberian ASI eksklusif .000.Pola asupan . DEFINISI OPERASIONAL 1. yang terdiri dari :  Rendah : < Rp550.- xxv .Pola asuhan Faktor kesehatan : .Pengetahuan tentang gizi .000.Tingkat pendapatan .Faktor sosial ekonomi : .

 ASI eksklusif  Bukan ASI eksklusif 7.  Pernah memperoleh penyuluhan gizi di posyandu. D3 / SI. 4.000. Campak. Riwayat pemberian ASI eksklusif ialah riwayat pemberian ASI selama bulan tanpa pemberian makanan tambahan dan susu formula.000. 9.  Cukup : Hanya memenuhi kriteria 4 sehat saja. SMA. 5. Hepatitis. SMP.  Pernah sakit dalam 3 bulan terakhir  Tidak prnah sakit dalam 3 bulan terakhir. Polio. DPT.  Baik : Sesuai kriteria 4 sehat 5 sempurna. Tingkat keaktifan ibu balita dalam melakukan kunjungan ke Posyandu  Aktif : Teratur melakukan kunjungan ke posyandu  Tidak aktif : Tidak teratur melakukan kunjungan ke posyandu 6. 10. Tingkat frekwensi penyuluhan gizi yang pernah diperoleh ibu balita selama di posyandu. 3. Tingkat pengetahuan ibu tentang gizi yang berhubungan dengan 4 sehat 5 sempurna.  Tidak pernah memperoleh penyuluhan gizi di posyandu. Riwayat sakit yang diderita oleh balita dalam 3 bulan terakhir. Riwayat imunisasi yang pernah diberikan pada balita antara lain : BCG. Riwayat kelahiran bayi yang dikatagorikan :  Normal : Usia kandungan 9 bulan saat melahirkan dan berat badan lahir diatas 2500 gram  Prematur : Usia kandungan kurang dari 9 bulan saat melahirkan 0–6 xxvi . Tinggi : > Rp 2. yang terdiri atas SD.  Mulai usia 6 bulan  Kurang dari usia 6 bulan 8.2.  Kurang : Tidak memenuhi kriteria 4 sehat 5 sempurna. Riwayat makanan pendamping ASI ( MP – ASI ) adalah riwayat pemberian makanan tambahan selain ASI yang diberikan sejak usia 6 bulan. Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal tertinggi ibu balita yang diperoleh saat penelitian dilakukan.

Pola asuhan adalah tentang siapa yang sering mengasuh balita sehari – hari. Berat badan lahir rendah ( BBLR ) : Berat badan lahir kurang dari 2500 gram 11.  Baik : Sehari 3-5 x dan memenuhi kriteria 4 sehat 5 sempurna  Jelek : Sehari 1-2 x dan kalau anaknya meminta serta tidak memenuhi kriteria 4 sehat 5 sempurna 12. Pola asupan gizi merupakan frekuensi dan kualitas makanan balita yang memenuhi kriteria 4 sehat 5 sempurna yang diberikan dalam sehari.     Sendiri Keluarga Tetangga Pengasuh 13.11  Cukup : 1 .8  Kurang : 1 – 4 BAB IV xxvii . Kebersihan lingkungan tempat tinggal merupakan kondisi tempat tinggal terdapat sarana : 1) Pembuangan kotoran 2) Penyediaan air bersih 3) Pembuangan sampah 4) Pembuangan air limbah 5) Jendela ruang tidur 6) Lubang asap dapur 7) Ruang tidur tidak lembab 8) Tidak padat penghuni 9) Bebas jentik 10) Bebas tikus 11) Pekarangan bersih Kriteria:  Baik : 1 .

Pegawai Negeri Sipil . . batas Desa Kraton : .953 orang. : 2. : 298 orang. : 2. Luas wilayah. b.Batas sebelah selatan : Desa Kemangsen.Jumlah RW : 4 2.Batas sebelab utara b. Jenis pekerjaan  Karyawan. : 12 orang. Data demografi a. : Desa sidomulyo.573 orang. . : 1. b. Luas wilayah Desa Kraton : 156.1 Ha c. : 2. Jumlah kepala keluarga 1.Batas sebelab barat . : 56 0rang. : Desa Balong Bendo. Jumlah penduduk perempuan d. Jumlah penduduk Desa Kraton : 5. Sosial Ekonomi dan Budaya a. Pembagian Pemerintahan. . Agama xxviii . Data Geografis a. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 1. Jumlah penduduk laki – laki c. . : 36 orang.Jumlah RT : 22 .Batas sebelah timur : Kelurahan Krian.957 orang. : 472 orang.510 orang.HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA A.TNI / POLRI . : 23 orang.Swasta  Wiraswasta / Pedagang  Petani  Pertukangan  Pensiunan  Pemulung  Jasa : 79 orang : 24 orang.996 orang.

: 3.  Kristen : 128 orang. : 894 orang. Tingkat pendidikan penduduk. : 819 orang. :- B.650 orang. Islam : 5.       Taman kanak – kanak Sekolah dasar SMP SMA / SMK Akademi ( D1 – D3 ) Sarjana ( SI – S3 ) : 173 orang. ::: 3 orang.  Lulus pendidikan khusus      Pondok pesantren Madrasah Pendidikan keagamaan Sekolah luar biasa Kursus / keterampilan : 37 orang.  Lulus pendidikan umum. : 426 orang : 274 orang. c. HASIL PENELITIAN DAN ANALISA Hasil penelitian tentang gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian KEP pada balita di Desa Kraton Kecamatan Krian Kabupatan Sidoarjo berupa xxix .774 orang.  Katolik : 34 orang.  Hindu  Budha :: 17 orang.

69 % 43.23% ).47 % ). tingkat pendidikan ibu. riwayat pemberian MP-ASI. riwayat kelahiran. sedangkan balita yang umurnya 0 . Tabel 1. riwayat sakit.12 bulan jumlahnya paling sedikit yaitu sebesar ( 9.69 % ). usia 37 – 60 bulan sebesar ( 43. tingkat pengetahuan ibu tentang gizi. pola asupan gizi. NO 1 2 3 Usia 0 – 12 bulan 13 – 36 bulan 37 – 60 bulan Jumlah ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Jumlah 6 31 28 65 Prosentase 9.23 % 47.53 % ). Data umum berupa karateristik responden antara lain usia dan jenis kelamin.08 % 100 % Berdasarkan tabel diatas tampak bahwa tingkat usia balita paling banyak adalah usia 13 – 36 bulan sebesar ( 47. Tabel 2. sedangkan yang berjenis kelamin laki – laki sebesar ( 41. NO 1 2 Jenis kelamin Laki – laki Perempuan Jumlah ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Jumlah 27 38 65 Prosentase 41. tingkat frekwensi penyuluhan gizi.53 % 58. Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin balita. kebersihan lingkungan tempat tinggal. sedangkan data khusus berupa faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian KEP pada balita yaitu: tingkat pendapatan keluarga. pola asuhan.08% ). riwayat imunisasI. riwayat pemberian ASI eksklusif.47 % 100 % Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu ( 58. Distribusi responden berdasarkan usia balita. tingkat kunjungan ke posyandu.gambaran umum lokasi penelitian dan data dimana dikelompokkan dalam dua bagian yaitu data umum dan data khusus. xxx .

.20% ). tamat Akademis / Perguruan tinggi ( 7. Distribusi responden berdasarkan tingkat pendapatan keluarga.69 % 23.70 % 34 52. pendapatan sedang ( antara Rp500.20%.) Jumlah ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Jumlah 20 Prosentase 30.Rp2...) sebanyak ( 52.000..80 % 100 % Berdasarkan tabel diatas diperoleh bahwa pendidikan ibu yang tamat SD sebanyak ( 29.000. tamat SLTA 32.) 2 Sedang ( Rp 550.20 % 30..) 3 Tinggi ( > Rp 2.Rp2.70 % ).00 % 65 100 % Berdasarkan tabel diatas diperoleh bahwa pendapatan keluarga balita yang rendah ( < Rp500.tamat SLTP ( 30.30 % ).) sebanyak ( 30. Distribusi responden berdasarkan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi NO 1 2 Tingkat pengetahuan gizi Kurang Cukup Jumlah 44 15 Prosentase 67. sedangkan yang mempunyai pendapatan tinggi ( > Rp2.00.000.000.000.000..70 % 32.07 % xxxi .000.Tabel 3.000) sebanyak ( 17 % ) Tabel 4. Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan ibu balita NO 1 2 3 4 Pendidikan Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat D3 / SI Jumlah ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Jumlah 19 20 21 5 65 Prosentase 29.70% ).. NO 1 Pendapatan Rendah ( < Rp 550.30 % 7.80% ) Tabel 5.000.000.30 % 11 17.000..

07% ). Distribusi responden berdasarkan riwayat pemberian ASI eksklusif NO 1 2 Pemberian ASI eksklusif Bukan ASI eksklusif ASI eksklusif Jumlah ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Jumlah 44 21 65 Prosentase 67.69 % 32. sedangkan yang mendapat ASI eksklusif sebesar yaitu ( 32.15 % 13. Distribusi responden berdasarkan riwayat imunisasi NO 1 2 Riwayat imuisasi Lengkap Tidak lengkap Jumlah 61 4 Prosentase 93.69% ).31 % 100 % Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa balita yang mendapat bukan ASI eksklusif sebesar ( 67. Tabel 8.24% ) memiliki tingkat pengetahuan baik. tidak pernah Tabel 7.3 Baik Jumlah 6 65 9.24% 100 % ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa dari 65 responden yang memiliki tingkat pengetahuan kurang yaitu ( 67.85 % 100 % Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa ( 86. Tabel 6. Distribusi responden berdasarkan tingkat frekuensi penyuluhan gizi NO 1 2 Frekwensi penyuluhan gizi Pernah Tidak pernah Jumlah ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Jumlah 56 9 65 Prosentase 86.16 % xxxii .84 % 6.83% ) responden mengikuti penyuluhan tentang gizi.31 % ). sedangkan ( 13.69% ). dan 6 responden ( 9. tingkat pengetahuan sedang ( 23.15% ) responden pernah mengikuti penyuluhan tentang gizi.

16% ).ASI NO 1 2 Pemberian MP – ASI Kurang dari 6 bulan Mulai 6 bulan Jumlah ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Jumlah 42 23 65 Prosentase 64.62 % 35.38% ) (64. Tabel 9.62 % 100 % Berdasarkan tabel diatas diperoleh jumlah balita yang mempunyai riwayat sakit dalam 3 bulan terakhir yaitu sebesar ( 55.38 % 44.84% ) dan balita yang mendapat imunisasi tidak lengkap sebesar ( 6. Distribusi responden berdasarkan pemberian MP .Jumlah ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) 65 100 % Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa balita yang mendapat imunisasi lengkap yaitu sebesar ( 93.38% ).84 % 1. Tabel 10.54 % xxxiii .62 % ). sedangkan yang tidak pernah sakit sebesar ( 44. Distribusi respoden berdasarkan riwayat sakit (3 bulan terakhir ) NO 1 2 Riwayat Sakit Pernah Tidak Pernah Jumlah ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Jumlah 36 29 65 Prosentase 55. Distribusi responden berdasarkan riwayat kelahiran NO 1 2 Riwayat Kelahiran Normal Prematur Jumlah 61 1 Prosentase 93.38 % 100 % Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pemberian MP – ASI yang dimulai dari umur kurang dari 6 bulan berjumlah paling banyak yaitu sebesar sedangkan yang mulai 6 bulan sebesar ( 35.62% ) Tabel 11.

61 % 100 % ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Berdasarkan tabel diatas diperoleh bahwa balita yang mempunyai pola asupan yang baik adalah sebesar (35. Distribusi responden berdasarkan kebersihan lingkungan tempat tinggal NO Kebersihan lingkungan Tempat tinggal 1 2 Baik Cukup 35 22 53.39%). sedangkan yang mempunyai pola asupan yang jelek adalah sebesar (64.62% ).3 BBLR Jumlah 3 65 4.23 % 10. Tabel 14.54% ).84 % Jumlah Prosentase xxxiv . Tabel 12. sedangkan yang mempunyai riwayat kelahiran dengan BBLR sebesar ( 4.84 % 33.84% ).77% ) Tabel 13.77 % 0 % 0% 100 % ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Berdasarkan tabel diatas dapat ditunjukkan bahwa sebagian besar balita diasuh sendiri oleh ibu sebesar ( 89.61%).62 % 100 % ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar riwayat kelahiran dari balita adalah normal yaitu sebesar ( 93. sedangkan yang diasuh oleh keluarga / nenek sebesar ( 10. Distribusi responden berdasarkan pola asuhan balita NO 1 2 3 4 Pola Asuhan Sendiri Keluarga Tetangga Pengasuh Jumlah Jumlah 58 7 65 Prosentase 89. balita yang riwayat kelahirannya prematur sebesar ( 1.39 % 64. Distribusi responden berdasarkan pola asupan balita NO 1 2 Pola Asupan Baik Jelek Jumlah Jumlah 23 42 65 Prosentase 35.23% ).

31 % 100 % ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Berdasarkan tabel diatas menunjukkan sebagian besar kebersihan lingkungan tempat tinggal adalah baik yaitu sebesar ( 53. Tabel 15.93% ). yang cukup sebesar ( 33. sedangkan kebersihan lingkungan tempat tinggal yang kurang adalah sebesar ( 12.07% ). Distribusi responden berdasarkan derajat KEP balita NO 1 2 3 Derajat KEP Ringan Sedang Berat Jumlah Jumlah 52 12 1 65 Prosentase 80.3 Kurang Jumlah 8 65 12.84% ).93 % 100 % Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar ibu balita aktif datang ke posyandu yaitu sebesar ( 83.54% ) balita berderajat berat.31% ).84% ).00 % 18. Sedangkan yang tidak aktif sebesar ( 16.07 % 16.46% ).46 % 1. xxxv . derajat sedang sebesar ( 18.54 % 100 % Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari 65 balita yang mengalami KEP sebagian besar mempunyai derajat ringan yaitu sebesar ( 80% ). Distribusi responden berdasarkan tingkat kunjungan ke posyandu. NO 1 2 Kunjungan ke posyandu Aktif Tidak aktif Jumlah ( Sumber : Hasil Survey di Desa Kraton ) Jumlah 54 11 65 Prosentase 83. hanya ( 1. Tabel 16.

Balita pada usia ini.47 % ). Sebagian besar balita yang mengalami KEP berjenis kelamin perempuan ( 58. Segera setelah anak dapat bergerak sendiri tanpa bantuan orang lain. Hasil ini sesuai dengan penelitian Nazir HZ.BAB V PEMBAHASAN Pada penelitian ini tampak bahwa tingkat usia balita yang mengalami KEP paling banyak adalah usia 13 – 36 bulan sebesar ( 47. Sedangkan Agustina Lubis dkk. dkk di RSUP Palembang. Diantaranya tahapan untuk mulai beralih dari ketergantungan yang besar pada ASI atau susu formula ke makanan semipadat. (1997 ) menemukan prevalensi laki – laki : perempuan adalah 1 : 4. M. xxxvi . baru memasuki suatu tahapan baru dalam proses tumbuh kembangnya. mereka akan lebih sering kontak dengan orang – orang disekitarnya sehingga memudahkan untuk terkena penyakit infeksi terutama bagi anak – anak yang daya tahan tubuhnya lemah.69 % ). Pada usia ini balita juga sudah mulai lebih banyak bersosialisasi dengan lingkungannya.

WBC ) ke makanan yang disiapkan. Dan juga kemungkinan didukung oleh susunan makanan yang kurang sempurna.62 % ). Dapat diketahui bahwa bayi yang mendapat bukan ASI eksklusif sebesar ( 67. pisang dipanggang. Pemberian MP – ASI yang terlalu dini akan menyebabkan meningkatnya insidensi penyakit infeksi terutama diare. Ada kemungkinan karena kebiasaan dalam masyarakat MP – ASI diberikan pada usia lebih dari 1 bulan dalam bentuk bubur SUN. ASI juga mengandung zat antiinfeksi yang tidak bisa didapatkan dalam susu formula.Menurutnya hal ini disebabkan karena perbedaan nilai anak. disimpan. Selain itu. kandungan vitamin dan mineralnya banyak. Dari 65 responden yang memiliki tingkat pengetahuan tentang gizi kurang yaitu 44 responden ( 67. rasio kalsium-fosfat sebesar 2:1 yang merupakan kondisi yang ideal bagi penyerapan kalsium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MP – ASI yang dimulai dari umur kurang dari 6 bulan berjumlah paling banyak yaitu sebesar ( 64.69% ). Ada kemungkinan terganggunya kelangsungan pemberian ASI eksklusif dalam masa waktu menyusui disebabkan kesibukan kerja oleh ibu untuk memperoleh tambahan pendapatan keluarga. Hal itu karena makanan berubah. gabin yang direndam diair hangat yang diberikan 3 x sehari.69% ). protein utamanya laktalbumin yang mudah dicerna. dan dimakan tanpa mengindahkan syarat kebersihan ( kesehatan ). laktoferin. anak laki – laki dianggap lebih berharga daripada anak perempuan sehingga anak laki – laki akan mendapatkan perawatan kesehatan dan pemberian makanan yang lebih baik. ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi dalam segala hal : karbohidrat dalam ASI berupa laktosa. xxxvii . dari ASI yang bersih dan mengandung zat – zat anti infeksi ( antara lain : IgA. Banyak ibu yang tidak mempunyai pengalaman untuk memilih jenis makanan yang tepat untuk anaknya karena ibu cenderung memilih makanan yang mengandung kalori tinggi. Hal ini kurang ideal terhadap proses tumbuh kembang bayi karena ASI merupakan makanan yang ideal untuk 6 bulan pertama sejak dilahirkan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu balita kurang memahami tentang gizi dan pentingnya posyandu bagi pertumbuhan anak balitanya. lemaknya banyak mengandung polyunsaturated fatty acid ( asam lemak tak jenuh ganda ).

Balita yang mengalami KEP sebagian besar berjenis kelamin perempuan. 2. Sebagian besar ibu balita kurang memahami tentang gizi dan pentingnya posyandu bagi pertumbuhan anak balitanya. Dalam penelitian ini sebagian besar responden mempunyai riwayat sakit diare dalam 3 bulan terakhir. Hal ini kemungkinan dikarenakan kurangnya pengetahuan ibu balita tentang pentingnya aneka ragam jenis makanan yang sesuai dengan 4 sehat 5 sempurna.62% ). 7.38% ). BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Balita sebagian besar mempunyai riwayat sakit diare dalam 3 bulan terakhir. Hal tersebut dapat menyebabkan anak tidak mempunyai nafsu makan sehingga terjadi kekurangan jumlah makanan dan minuman yang masuk ke tubuhnya serta mengganggu fungsi imunitas yang dapat berakibat terjadinya gizi kurang. Usia balita yang mengalami KEP paling banyak adalah usia 13 – 36 bulan.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh jumlah balita yang mempunyai riwayat sakit dalam 3 bulan terakhir lebih tinggi yaitu sebesar ( 55. Mayoritas bayi yang mendapat ASI bukan ASI eksklusif . 3. SARAN xxxviii . 5. Dapat diperoleh dari hasil penelitian bahwa sebagian besar balita mempunyai pola asupan yang jelek (64. sedangkan yang tidak pernah sakit sebesar ( 44. B. 4.61%). Pemberian MP – ASI sebagian besar dimulai sejak umur kurang dari 6 bulan. Pada umumnya balita mempunyai pola asupan yang jelek. 6.

dkk. Marizza Novelia. Jilid Ketiga. Nugroho Adi. 4. Jakarta. Hassan. 4. xxxix . 3. 2007. Vol 6 No 1. Maret 2007. 5. 2000. Majalah Berkala Kedokteran. jumlah sampel yang lebih besar dan waktu penelitian yang lebih panjang. 2002. Buku Ajar Ilmu Gizi : “ Gizi dalam Daur Kehidupan “. Edisi Ketiga.1. Fakultas kedoktaran Universitas Indonesia. Azizah yulia. “ Ilmu Kesehatan Anak “. Triawati. DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta. Perlunya peningkatan pengetahuan ibu bayi tentang cara yang benar memberikan ASI secara eksklusif dengan diadakan penyuluhan yang intensif dan berkesinambungan. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. MB Arisman. dkk. Melalui posyandu dilakukan program perbaikan gizi balita yang dilaksanakan secara berkesinambungan dengan melibatkan peranserta masyarakat dalam rangka membantu menekan angka kejadian KEP 2. Untuk memperoleh hasil penelitian yang akurat. Rusepno. No 4. peneliti berharap ada penelitian lanjutan dengan menggunakan instrumen penelitian yang tepat. Fakultas Universitas Lambung Mangkurat. Diperlukan penyuluhan yang rinci pada ibu – ibu mengenai pengetahuan tentang gizi dan pemberian MP . Buletin Penelitian RSU Dr. EGC. Surabaya. Soetomo. Vol 9 Bidang Penelitian dan Pengembangan RSU Dr. Banjarbaru. Suprohaita. Arif Mansjoer. 3. 2. Soetomo. Kapita Selekta Kedokteran : “ Penyakit Gizi Anak “.ASI untuk menjamin kecukupan gizi pada balita. Des 2007.

Surabaya. Buletin Peneltian RSU Dr. Artikel Cermin Dunia Kedokteran. Soetomo. April .000. < 550. Tarigan Ukur Ingan. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Depkes RI. Vol 8 No 1. 2002. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Pelayanan Dan Teknologi Kesehatan. Apa pekerjaan ibu ( istri ) sekarang ? xl .S Kasduki. 550. Juni 2005. Kecamatan. Soetomo. Sidoarjo : Mei 2008 1. 8.000 – 2. Depkes RI.000 c. Soeparmanto paiman. Krian Kabupaten. 000 b. 2003. > 2. S Ananto. Berapa pendapatan ( gaji ) rata – rata keluarga tiap bulan ? a. Surabaya. Bidang Penelitian Dan Pengembangan RSU Dr. 7. O. 9. D. Nangroe Darusalam Aceh.I.6. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan. Balai Penelitian Kesehatan. 000 2. Vol 7 No 2. S Titiek K. Surabaya. No 134. Kristiono Anton. Buletin Penelitian Kesehatan.Juni 2005. Depkes RI. KUISIONER Nama ibu Desa Tanggal : : Kraton.000. Vol 31 No 1.

Tamat SLTP c. 2 X sehari d. Mulai 6 bulan 8. Apa pendidikan formal tertinggi ibu ( istri ) ? a. Apakah ibu mengerti tentang 4 sehat 5 sempurna ? xli . Tamat SD b. Swasta d. Tiap > 2 jam 7. Petani b. Tamat akademi / perguruan tinggi 5. Tidak bekerja 3. Kurang dari 6 bulan b. Tetangga d. Siapa yang lebih sering mengasuh balita anda ? a. Diasuh sendiri b. Kurang dari 6 bulan b. 3-5 X sehari 9. Sampai umur berapa ASI ( tanpa makanan tambahan dan susu formula ) diberikan kepada bayi ? a. Sampai 6 bulan 6. Pengasuh 4. 1 X sehari c. Kalau anaknya meminta b. Dalam sehari berapa kali ibu memberi makan pada anaknya ? a. Buruh c. Tiap berapa jam dalam sehari ibu memberikan ASI ( tanpa makanan tambahan dan susu formula ) ? a. Keluarga c. Tamat SLTA d. Mulai umur berapa bayi diberi makanan tambahan ? a.a. PNS / TNI / POLRI e. Tiap ≤ 2 jam b.

Ya b. Ya b. Kurang c. Kurang b. Apakah balita anda sering sakit ( 3 bulan terakhir ) ? a. Baik b. Sewa c. Milik keluarga 15.. Milik sendiri b. Tidak pernah b. Tidak lengkap xlii . ) b. Ya ( sakit apa .... Cukup c.. Tidak 12. Status tempat tinggal ? a. lengkap b. lengkap a. pernah a.a. Status imunisasi :    BCG Polio DPT a. Baik 11. Apakah anda aktif pergi ke posyandu ? a. Cukup 16. Kebersihan tempat tinggal dan sekitarnya ? a. Tidak lengkap b.. Ya b. Menu makanan apa yang anda berikan untuk balita anda sehari – sehari ( hari ini ) ? Pagi Siang : : Malam : a. Tidak 14. Tidak 10. Tidak 13... Apakah kader di tempat ibu pernah memberikan penyuluhan gizi waktu di posyandu ? a.

9 bulan 18. lengkap b. Kurang dari 2500 gram b. lengkap a.  Hepatitis Campak a. Berapa berat badan lahir anak anda ? a. 2500 gram sampai 3500 gram c. Tidak lengkap b. Kurang dari 9 bulan b. Tidak lengkap 17. Lebih dari 3500 gram xliii . Berapa usia kandungan anda saat anak anda lahir ? a.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful