Anda di halaman 1dari 7

FIQIH DAN USHUL FIQIH1

Oleh Arif Al Wasim, S.Pt.

1. Fiqih
a. Pengertian

Fiqh ( ‫ )الفقه‬menurut bahasa pemahaman (‫)الفهم‬. Sedangkan terjemah mu’jamnya


adalah

.3‫ عبارة عن فهم غرض المتكلم من كلامه‬. ‫إدراك دقائق الامور‬ 2

Pemahaman orang yang bebicara terhadap apa yang dibicarakannya, kesadaran


mendalam terhadap inti permasalahan.

Sedangkan menurut istilah adalah

4
‫العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية‬
Pengetahuan terhadap hukum-hukum syar’iy yang digali dari dalil-dalilnya yang
terperinci.

5
ْ ِ ‫معر َفة ا ْلا َٔ ْح َكام الشَّ ْر ِع َّية الَّتِي طريقها ال‬
‫اج ِت َهاد‬
Pengetahuan tentang ketentuan hukum syar’iy yang ditempuh dengan cara ijtihad

Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya “Baina Syubhtaid Dhallin wa Akadzibil


Muftarin” mengatakan bahwa Fiqh ialah analisa fuqaha pada garis dilalat nash atau
pada sesuatu yang tidak ada nash padanya. Dalam perkembangan selanjutnya sesuai
dengan pembidangan ilmu yang semakin tegas ulama ushul fiqh mendefinisikan fiqh
sebagai ilmu tentang hukum syara’ yang bersifat praktis yang diperoleh melalui dalil
yang terperinci6. Definisi tadi dikemukakan oleh Imam Al-Amidi, dan telah menjadi
definisi Fiqh termutakhir dan masyhur hingga sekarang.

b. Objek pembahasan

Fiqh adalah ilmu tentng hukum syar’iy yang bersumber dari Kalamullah
sebagai sumber utama. Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang

1
Dipresentasikan pada kuliah Ushul Fiqh, Fakultas Syari’ah Universitas Sains Al-Qur’an.
2
Mohammad Rawas Qal’aji - Hamid Sadiq Qannibi. Mu’jam Lughat fuqaha. Penerbit: Dar an-Nafa`is li
ath-Tahaba’ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi’. Cetakan Kedua, 1988. (1/348-349)
3
Ali bin Muhammad bin Ali Al Jurjani (w 816 h) al-Ta’rifat Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah: Beirut – Lebanon.
Cetakan Pertama, 1983 (1/168)
4
ibid
5
Abdul Malik bin Abdullah bin Muhammad bin Yusuf al-Juwaini(w: 478h), Al-Waraqat (1/7)
6
Prof. Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, Dina Utama, Semarang, 1994. cet. 1 hal. 2
berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah,
makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili).

Fiqh adalah ilmu tentang hukum syar’iyyah yang berkaitan dengan perbuatan
manusia yang bersifat praktis. Pengetahuan terhadap fiqh bertujuan agar hukum
tersebut dapat dilaksanakan para mukallaf dalam kehidupannya sehari-hari,
sekaligus untuk mengetahui nilai dari perkataan dan perbuatan para mukallaf
tersebut.

Fiqh diperoleh melalui proses istinbath dan istidlal dari sumber hukum yang
benar, dengan dalil tafshili (terperinci), berasal dari Al-Qur’an, Al-Hadits, Qiyas, dan
Ijma’. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hukum fiqh tidak dapat terlepas dari
An-Nusus Al-Muqaddasah. Maka dari itu sutu hukum tidak dinamakan fiqh apabila
analisis untuk memperoleh hukum itu bukan melalui istidlal dan istinbath kepada
salah satu sumber syariat.

Sebagai mahluk sosial dan budaya, dalam hidupnya manusia tidak lepas dari
interaksi, komunikasi, atau hubungan diri dengan dunia di sekitarnya. Ilmu fiqh
membicarakan bentuk interaksi dan pola hubungan itu yang meliputi kedudukannya,
hukumnya, caranya, alatnya dan sebagainya.

Bentuk-bentuk hubungan tersebut adalah:

• Hubungan manusia dengan Allah;


• Hubungan manusia dengan dirinya sendiri;
• Hubungan manusia dengan keluarga dan tetangganya;
• Hubungan manusia dengan masyarakat, orang lain seagama maupun yang tidak
seagama dengannya;
• Hubungan manusia dengan makhluk hidup lainnya;
• Hubungan manusia dengan benda mati dan alam semesta;
• Hubungan manusia dengan akal fikiran dan pengetahuan;
• Hubungan manusia dengan alam ghaib.

Karena rumusan fiqh itu berbentuk hukum hasil formulasi para ulama yang
bersumber pada Al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad, maka urutan dan area
pembahasannya bermacam-macam. Topik pembahasan fiqh yang umum dijumpai
dalam kitab-kitab fiqh ada empat, yang sering disebut Rubu’ yaitu Rub’ul Ibadat,
Rub’ul Mu’amalat, Rub’ul Munakahat, dan Rub’ul Jinayat. Ada pula yang
berpendapat bahwa pembahasan-pembahasan tersebut dikelompokkan menjadi
tiga yaitu: bab ibadah, bab mu’amalat, bab ‘uqubat.

Menurut Prof. T.M. Hasbi Ashiddieqqi, bila kita perinci lebih lanjut, dapat
dikembangkan menjadi 8 (delapan) topik:7

1) Ibadah

7
Ash-Shiddieqy, Hasbi, Prof. Dr. TM, Pengantar Ilmu Fiqih, Bulan Bintang, Jakarta, 1978.
Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah masalah yang dapat
dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan berikut ini: Thaharah, Ibadah,
Shiyam, Zakat, Zakat Fithrah, Haji, Janazah, Jihad, Nadzar; Udhiyah, Zabihah,
Shayid, ‘Aqiqah, Makanan dan minuman

2) Ahwalusy Syakhshiyyah
Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dapat
dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan pribadi (perorangan),
kekeluargaan, harta warisan, yang meliputi persoalan: Nikah, Khithbah,
Mu’asyarah, Nafaqah, Talak, Khulu’, Fasakh, Li’an, Zhihar, Ila’, dan lain-lain.

3) Muamalah Madaniyah
Biasanya disebut muamalah saja. Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah-
masalah yang dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan harta kekayaan,
harta milik, harta kebutuhan, cara mendapatkan dan menggunakan, yang
meliputi masalah: Jual-beli, Khiyar, Riba, Sewa-menyewa, Hutang-piutang, Gadai,
dan lain-lain.

4) Muamalah Maliyah
Kadang-kadang disebut Baitul mal saja. Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas
masalah-masalah yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan harta
kekayaan milik bersama, baik masyarakat kecil atau besar seperti negara
(perbendaharaan negara = baitul mal). Pembahasan di sini meliputi: Status milik
bersama baitul mal, Sumber baitul mal, Cara pengelolaan baitul mal, Macam-
macam kekayaan atau materi baitul mal, Obyek dan cara penggunaan kekayaan
baitul mal, Kepengurusan baitul maal; dan lain-lain.

5) Jinayah dan ‘Uqubah (pelanggaran dan hukuman)


Biasanya dalam kitab-kitab fiqh ada yang menyebut jinayah saja. Dalam bab ini
dibicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dapat dikelompokkan ke dalam
kelompok persoalan pelanggaran, kejahatan, pembalasan, denda, hukuman dan
sebagainya. Pembahasan ini meliputi: Pelanggaran, Kejahatan, Qishash, Diyat,
Hukuman pelanggaran dan kejahatan, dan lain-lain.

6) Murafa’ah atau Mukhashamah


Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dapat
dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan peradilan dan pengadilan.
Pembahasan pada bab ini meliputi: Peradilan dan pendidikan, Hakim dan Qadi,
Gugatan, Pembuktian dakwaan, Saksi, Sumpah dan lain-lain.

7) Ahkamud Dusturiyyah
Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dapat
dikelompokkan ke dalam kelompok persoalan ketatanegaraan. Pembahasan ini
meliputi: Kepala negara dan Waliyul amri, Syarat menjadi kepala negara dan
Waliyul amri, Hak dan kewajiban Waliyul amri, Hak dan kewajiban rakyat,
Musyawarah dan demokrasi, Batas-batas toleransi dan persamaan, dan lain-lain.
8) Ahkamud Dauliyah (hukum internasional)
Dalam bab ini dibicarakan dan dibahas masalah-masalah yang dapat
dikelompokkan ke dalam kelompok masalah hubungan internasional.
Pembicaraan pada bab ini meliputi: Hubungan antar negara, sama-sama Islam,
atau Islam dan non-Islam, baik ketika damai atau dalam situasi perang, Ketentuan
untuk orang dan damai, Penyerbuan, Masalah tawanan, Upeti, Pajak, dan lain-
lain.

2. Ushul Fiqih
a. Pengertian

Kata Ushul Fiqh adalah rangkaian dari dua kata yang membentuk tarkib
ifadlah, yaitu Ushul dan Fiqh. Kata Ushul ( ‫ ) أصول‬adalah bentuk plural dari kata Ashl
( ‫) أصل‬yang menurut bahasa,
‫َما بني َع َل ْي ِه غَيره‬
sesuatu yang dijadikan dasar bagi yang lain.
Dan kata Fiqh sendiri, seperti dalam permulaan pembahasan ini, berarti

8
ْ ِ ‫معر َفة ا ْلا َٔ ْح َكام الشَّ ْر ِع َّية الَّتِي طريقها ال‬
‫اج ِت َهاد‬
Pengetahuan tentang ketentuan hukum syar’iy yang ditempuh dengan cara ijtihad

Dari penjelasan Ushul dan Fiqh di atas, maka pengertian Ushul Fiqh sebagai
rangkaian dua kata, yaitu dalil-dalil bagi hukum syara’ mengenai perbuatan dan
aturan-aturan/ ketentuan-ketentuan umum bagi pengambilan hukum-hukum syara’
mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.

9
‫القواعد التي يتوصل بها إلى استنباط الاحكام الشرعية من الادلة التفصيلية‬
.

Kaidah-kaidah yang mengantarkan kepada istinbath hukum syar’iy dari dalil-dalil


yang terperinci

10
‫وصل بها إلى الفقه‬
َّ ‫العلم بالقواعد التي ُي َت‬

8
Abdul Malik bin Abdullah bin Muhammad bin Yusuf al-Juwaini(w: 478h), Al-Waraqat. (1/7)
9
Mohammad Rawas Qal’aji - Hamid Sadiq Qannibi. Mu’jam Lughat fuqaha. Penerbit: Dar an-Nafa`is li
ath-Tahaba’ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi’. Cetakan Kedua, 1988. (1/72)
Ilmu tentang kaidah-kaidah yang mengantarkan kepada fiqih (pemahaman hukum-
hukum syar’iy)

Para ulama ahli Ushul Fiqh memberikan definisi terhadap Ushul Fiqh sebagai
nama satu bidang ilmu dari ilmu-ilmu syari’ah. Abu Ishaq as-Syirazy mendfinisikan
Ushul Fiqh sebagai:

11
‫الأدلة التي يبنى عليها الفقه وما يتوصل بها إلى الأدلة على سبيل الإ جمال‬
.

Dalil-dalil yang menjadi pondasi fiqih, segala sesuatu yang menjadi pengantar pada
dalil-dalil yang bersifat global.

Abdul Wahhab Khallaf memberi pengertian Ilmu Ushul Fiqh sebagai “Ilmu
tentang kaidah-kaidah (aturan-atura/ketentuan-ketentuan) dan pembahasan-
pemhahasan yang dijadikan sarana untuk memperoleh hukum-hukum syara’
mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci12.” Maksud dari kaidah-kaidah
itu dapat dijadikan sarana untuk memperoleh hukum-hukum syara’ mengenai
perbuatan, yakni bahwa kaidah-kaidah tersebut merupakan cara-cara atau jalan-
jalan yang harus ditempuh untuk memperoleh hukum-hukum syara’ sebagaimana
yang terdapat dalam rumusan pengertian Ilmu Ushul Fiqh yang dikemukakan oleh
Muhammad Abu Zahrah, “Ilmu tentang kaidah-kaidah yang menggariskan jalan-jalan
utuk memperoleh hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan dan dalil-dalilnya yang
terperinci.”13

b. Objek pembahasan

Imam al-Ghazali (w. 505 H) dalam kitab al-Mustashfa fi ‘Ilm al-Ushul berkata
bahwa inti kajian ushul fiqh meliuti empat tema besar, yaitu: hukum syari’ah, dalil
syar’i, istidlal, dan mujtahid-muqallid. Jika diibaratkan, objek kajian ushul fiqh
adalah buah (hukum), pohon (dalil), cara memetik buah (istidlal), dan pemetik buah
(mujtahid-muqollid).

Pembahasan tentang hukum dalam Ilmu Ushul Fiqh adalah secara umum,
tidak dibahas secara terperinci hukum bagi setiap perbuatan. Pembahasan tentang
hukum ini, meliputi pembahasan tentang macam-macam hukum dan syarat-
syaratnya, yang dalam analoginya digambarkan sebagai buah yang merupakan hasil
dari pohon.

Yang menjadi obyek utama dalam pembahasan Ushul Fiqh ialah Adillah
Syar’iyah (dalil-dalil syar’i) yang merupakan sumber hukum dalam ajaran Islam.

10
Ali bin Muhammad bin Ali Al Jurjani (w 816 h) al-Ta’rifat Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah: Beirut – Lebanon.
Cetakan Pertama, 1983 (1/28)
11
Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Syirazi (w. 476h). Al-Luma’ fi Ushul al-Fiqh. Dar al-Kutub al-
‘Ilmiyah. Beirut – Lebanon. Cetakan kedua. 2003 (1/6).
12
Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, Dina Utama, Semarang, 1994. cet. 1 hal. 2
13
Muhammad Abu Zahrah. Ushul Fiqh. Dar al-Fikr. Beirut – Lebanon. 1958.
Selain dari membicarakan pengertian dan kedudukannya dalam hukum Adillah
Syar’iyah itu dilengkapi dengan berbagai ketentuan dalam merumuskan hukum
dengan mempergunakan masing-masing dalil itu.

Pembahasan tentang istidlal yang digunakan sebagai jalan untuk memperoleh


hukum dari dalil-dalilnya antara lain mengenai macam-macamnya, kehujjahannya
dan hukum-hukum dalam mengamalkannya, analoginya adalah cara bercocok tanam
yaitu metode-metode yang dipakai untuk menanam pohon untuk menghasilkan
buah.

Pembahasan tentang mujtahid, Dalam pembahasan ini, dibicarakan tentang


macam-macamnya, syarat-syarat bagi orang yang boleh melakukan ijtihad,
tingkatan-tingkatan orang dilihat dari kaca mata ijtihad dan hukum melakukan
ijtihad, disini Al-Ghazali menggambarkanya dengan cara memetik buah dari
pohonnya.

Topik-topik dan ruang lingkup yang dibicarakan dalam pembahasan ilmu Ushul
Fiqh ini meliputi:

• Bentuk-bentuk dan macam-macam hukum, seperti hukum taklifi dan hukum


wadl’i.
• Masalah perbuatan seseorang yang akan dikenai hukum (mahkum fihi).
• Pelaku suatu perbuatan yang akan dikenai hukum (mahkum ‘alaihi).
• Keadaan atau sesuatu yang menghalangi berlakunya hukum ini meliputi keadaan
yang disebabkan oleh usaha manusia, keadaan yang sudah terjadi tanpa usaha
manusia.
• Masalah istinbath dan istidlal meliputi makna zhahir nash, takwil dalalah lafazh,
mantuq dan mafhum yang beraneka ragam, ‘am dan khas, muthlaq dan
muqayyad, nasikh dan mansukh, dan sebagainya.
• Masalah ra’yu, ijtihad, ittiba’ dan taqlid; meliputi kedudukan ra’yu dan batas-
batas penggunannya, fungsi dan kedudukan ijtihad, syarat-syarat mujtahid,
bahaya taqlid dan sebagainya.
• Masalah adillah syar’iyah, yang meliputi pembahasan Al-Qur’an, As-Sunnah,
ijma’, qiyas, istihsan, istishlah, istishhab, mazhabus shahabi, al-’urf, syar’u man
qablana, bara’atul ashliyah, sadduz zari’ah, maqashidus syari’ah/ususus syari’ah.
• Masalah ra’yu dan qiyas; meliputi. ashal, far’u, illat, masalikul illat, al-washful
munasib, as-sabru wat taqsim, tanqihul manath, ad-dauran, as-syabhu, ilghaul
fariq; dan selanjutnya dibicarakan masalah ta’arudl wat tarjih dengan berbagai
bentuk dan penyelesaiannya.

c. Ilmu-Ilmu Pendukung

Dalam pembicaraan dan pembahasan materi Ushul Fiqh sangat diperlukan


ilmu-ilmu pembantu yang langsung berperan, seperti ilmu tata bahasa Arab dan
qawa’idul lugahnya, ilmu mantiq, ilmu tafsir, ilmu hadits, tarikh tasyri’il islami dan
ilmu tauhid. Tanpa dibantu oleh ilmu-ilmu tersebut, pembahasan Ushul Fiqh tidak
akan menemui sasarannya. Istinbath dan istidlal akan menyimpan dari kaidahnya.
Ushul Fiqh itu ialah suatu ilmu yang sangat berguna dalam pengembangan
pelaksanaan syari’at (ajaran Islam).

3. Hubungan Fiqih dan Ushul Fiqih

Ushul al-Fiqh bersamaan munculnya dengan Fiqh, meskipun dalam


penyusunannya Fiqh dilakukan lebih dahulu dari Ushul al-Fiqh. Sebenarnya keberadaan
Fiqh harus didahului oleh Usul al-Fiqh, karena Usul al-Fiqh itu adalah ketentuan atau
kaidah yang harus diikuti mujtahid pada waktu menghasilkan fiqhnya. Namun dalam
perumusannya, Ushul al-Fiqh datang belakangan.

a. Usul al-Fiqh sebagai Metode Ijtihad

Sebagai metode berijtihad, Usul al-Fiqh berperanan sebagai jalan yang menuntun
seorang mujtahid dalam melakukan istinbat. Atau sebagai penjelasan jalan yang telah
ditempuh oleh seorang mujtahid, sehingga orang-orang yang datang sesudahnya bisa
memahami alasan mujtahid tersebut menempuh jalan tersebut.

b. Ushul al-Fiqh sebagai Kaidah

Sebagai kaidah, Usul al-Fiqh memiliki peranan sebagai pengingat mujtahid dari
kesalahan yang mungkin akan dilakukannya. Atau korektor atas kesalahan yang telah
dilakukannya.