Anda di halaman 1dari 5

Hidup Ini Masa Penuh Karya

Artikel Lepas, Suplemen


23/3/2011 | 19 Rabiuts Tsani 1432 H | Hits: 1.473
Oleh: Christian Atanila

0diggsdigg

dakwatuna.com – Kembali mengingat apa


yang Rasul katakan,” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling
banyak manfaatnya bagi orang lain ” . Dan juga “Barang siapa hari ini lebih baik
dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari
ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang
siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang
celaka”. Kembali berpikir untuk terus memantaskan diri di hadapan Alloh atas
segala kenikmatan yang Dia berikan padaku..

Kejadian ini tepatnya di akhir tahun 2010 lalu. Saat itu terdengar kabar bahwa istri
dari seorang ustad kami meninggal dunia. Memang kami baru mendengarnya 2
hari setelahnya, tetapi kisah pada hari-H pengurusan jenazahnya memberikan
kisah yang begitu bermakna bagi kami yang ditinggalkan.

Rumah di daerah bekasi itu ramai oleh tetangga yang datang melayat dan
membantu mengurusi jenazah. Ada beberapa orang ustad kami yang hadir ke
rumah itu (salah satu dari keduanya yang menyampaikan kepadaku kisah ini).
Setelah bersalaman dan menyampaikan doa, tak terlihat dari wajah keluarga
tetesan air mata. Semua terlihat tegar dan tabah menjalani ujian ini. Kehilangan
istri, kehilangan ibu, yang mungkin bagi sebagian besar orang akan menangis
sejadi-jadinya saat tahu istri atau ibu mereka meninggal. Semua pengurusan
jenazah hampir selesai dan siap dikuburkan.

Saat disholatkan, seorang ustad yang hadir pada kesempatan itu sempat nyeletuk,
“Begitu tegar dan sabarnya ia, sampai-sampai tak ada air mata yang menetes saat
ia akan mengimami sholat jenazah istrinya. Bisakah saya seperti dia pada saat
terjadi kejadian yang sama..” Ada juga diantara jama’ah sholat jenazah tersebut
yang teringat pada sebuah hadits Rasul yang artinya, “Apabila seorang muslim
wafat dan jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak syirik kepada
Allah maka Allah mengijinkan pertolongan oleh mereka baginya (si mayit).” (HR.
Abu Dawud)

Selepas sholat jenazah dilangsungkan, semuanya bergegas menuju mobil yang


tersedia untuk mengangkut para pelayat yang akan mengantarkan jenazah hingga
ke peraduan terakhirnya. Sesampainya di TPU, jenazah langsung diturunkan oleh
sang suami dibantu beberapa orang lainnya. Beliau dengan begitu tegarnya, tak
terlihat wajah sedih penuh duka, mengangkat jenazah istrinya. Semua dilakukan
oleh beliau dengan wajah yang tenang. Sampailah pada akhir dari prosesi
penguburan itu, semua orang satu persatu meninggalkan pusara termasuk sang
suami.

Sekembalinya di rumah duka, beberapa orang masih berkumpul dan bercakap-


cakap. Ada yang bertanya tentang kabar saudara yang lain yang belum terlihat
hingga siang itu. Ada juga yang bertanya tentang seorang naqib yang belum
terdengar kabarnya sejak informasi istri ustad tersebut beredar. Walaupun ternyata
setelah diklarifikasi kepada sang empunya rumah, naqib tersebut sudah hadir dari
ba’da shubuh tadi karena beliau harus ke kalimantan untuk memberikan pelatihan
kepada kader-kader disana. Sirnalah prasangka mereka berganti dengan lantunan
istighfar dalam hati dan lirih dari lisan mereka.

Hari sudah semakin sore, para pelayat satu persatu mulai berpamitan kepada
empunya rumah termasuk para ustad. Saat giliran salah seorang ustad akan
berpamitan, tak pelak terdengar suara parau menahan tangis dari empunya rumah.
Ternyata suami itu tak tahan menahan haru dan duka dalam hatinya saat melihat
saudaranya akan berpamitan. Terdengar lirih dari lisannya sebuah pesan pada
ustad tersebut, “Jaga silaturahim akhi”. Memang suara itu terdengar parau tapi
makna kalimatnya jelas tertangkap oleh telinga, diteruskan ke otak, lalu sampai ke
hati.

Di dalam perjalanan pulang, para ustad tadi bercerita dan berdiskusi tentang
kejadian-kejadian hari ini. Akhirnya terungkap bahwa almarhumah adalah
seorang pengidap kanker payudara sejak lama. Suami dan anak-anaknya tahu itu
dengan jelas, dan mereka sudah dikondisikan untuk mengikhlaskan apabila waktu
itu hadir lebih cepat. Suaminya dalam kondisi tersebut tetap bersemangat bahkan
semangatnya berkali-kali lipat dari biasanya. Kini posisi terbaik dalam perusahaan
telah didapatkannya, untuk membiayai pengobatan istrinya. Ia terus berusaha
untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga, agama, dan masyarakat. Tak
pernah ia mengeluh pada saudara-saudaranya yang lain. Ia hanya mengukir
senyuman pada orang yang bertanya padanya tentang hal-hal yang menimpanya.

Lantas, ustad yang diberikan pesan sebelum pulang pun ikut menyampaikan pada
forum saat itu. Berharap ada makna lebih yang bisa diambil dari pesan beliau.
Dari perbicangan dan perenungannya, akhirnya didapatkanlah beberapa makna
dari kalimat “Jaga silaturahim akhi…”

Pertama, menjaga silaturahim sama seperti menjaga barang kesukaan kita. Harus
dengan penuh pengorbanan dan perjuangan. Dalam ukhuwah tidak mungkin tidak
ada perselisihan, sakit hati, kecewa, dan kekurangan lainnya. Tetapi, itu semua
Islam membatasinya. Saat rasa sakit hati, perselisihan, kecewa, dan kekurangan
lainnya itu hadir dalam ukhuwah maka tidaklah lebih dari 3 hari. Setelah itu,
wajib hukumnya untuk menjalin kembali silaturahim dan mengikhlaskan hal-hal
yang berkaitan dengan hal itu.

Dari silaturahim kepada sesama, kita bisa mendapatkan kawan dan saudara baru.
Silaturahim terdekat adalah silaturahim pada keluarga terdekat, tetangga, dan
lainnya. Terkadang silaturahim dengan tetangga saat ini jarang terjadi karena
sikap individualis, kesibukan personal, dan macam-macam alasan lainnya. Maka
sungguh merugi mereka yang apabila waktu sholat datang tidak berjama’ah di
masjid. Mengapa? karena ia telah kehilangan momentum silaturahim dengan
tetangga. Bukankah silaturahim itu membuka pintu rezeki, menambah pahala, dan
mengikatkan hati di atas jalinan sayang Alloh??

Kedua, kalimat itu memiliki arti selainnya yaitu berbuat kebaikanlah saat kau
masih bisa berbuat. Masa kematian itu hanyalah masa transisi antara masa karya
kita di dunia dengan masa penuh balasan di akhirat nanti. Maka kerjakanlah karya
yang terhebat dan fantastis sejak sekarang juga karena waktu kita di dunia hanya
sebentar saja. Tak ada sehela nafaspun yang sia-sia dengan tidak berbuat kebaikan
di masa-masa ini.

Kita sering merasa jabatan atau amanah kita yang rendah diartikan sebagai pintu
penghalang memberikan kebaikan pada oranglain dan berbuat karya terbaik
semampu kita. Padahal itu adalah cara pandang yang keliru. Malahan saat itu, kita
sedang diberi peluang memberi kebaikan dan menorehkan karya terbaik kita.

Seseorang yang berprofesi sebagai tukang sapu jalanan mungkin dipandang


sebelah mata oleh orang. Tak seperti pandangan orang-orang pada seorang
presiden. Apa yang berbeda dari mereka?? Tidak ada sama sekali. Mereka sama-
sama manusia ciptaan Alloh Ta’ala. Mereka sama-sama punya tugas dunia yang
sama yaitu beribadah pada-Nya. Merekapun sama, manusia yang berpeluang
untuk berbuat kebaikan dan menorehkan karya terbaiknya sesuai dengan jabatan
dan amanah mereka di dunia ini.

Seorang yang menjabat sebagai presiden tidak akan bahagia apabila jabatannya itu
diperoleh dari yang haram. Tidak akan bahagia apabila ia tidak bisa memerintah
dengan adil. Tapi ia akan bahagia apabila ia mendapatkan jabatan itu bukan
dengan cara yang haram, dan ia bisa memerintah rakyatnya dengan adil. Begitu
pun dengan seorang tukang sapu jalanan. Ia bisa menorehkan karya terbaiknya di
dunia ini dan merasakan kebahagiaan. Tapi bila ia merasa rendah diri dan tidak
melakukan yang terbaik dalam menjalankan tugasnya maka ia akan menjadi
orang-orang yang merugi.

***

Saudaraku..

hidup ini masa kita berbakti pada-Nya

hidup ini masa menanam benih kebaikan

hidup ini masa menyemai kasih sayang

hidup ini masa karya kita

karena kematian hanyalah waktu tunggu bagi kita

antara masa penuh karya (dunia)

dengan masa penuh balasan (akhirat)

yakinlah apapun yang Dia janjikan

sekecil apapun karya yang kita torehkan

di masa penuh karya ini

maka Dia akan membalas sepadan

bahkan berkali-kali lipat

Saudaraku…

optimalkanlah hidupmu

buatlah ia menjadi berarti

bagi dirimu

bagi sekelilingmu

karena hidup ini

masa penuh karya

yang rugi bila terlewatkan


saat kesempatan masih ada