Anda di halaman 1dari 7

Cerpen :

Persahabatan Dudung Maman

Sebuah bangunan tua tak terpakai lagi terlihat tampak


sangat gersang. Keadaan yang sepi, sunyi, bagai tak
berpenghuni. Ilalang dan pohon-pohon yang tumbuh tak
beraturan hidup dimana-mana hingga menyembunyikan
bangunan tua tak terawatt itu tertutup oleh pandangan mata.
Kreek..kreek..kreek bunyi pintu tua yang terhembus angin
bertiup, perlahan membuka pintu tua itu. Sangat terlihat bahwa
bangunan tua itu bekas sebuah kantor yang sudah tidak berfungsi
lagi.

Tiba-tiba diluar bangunan itu terdengar suara pijakan kaki


yang berlarian dengan terengah-engah seolah dating mengarah
kebangunan tua itu. Seorang anak laki-laki yang berpakaian putih
- abu-abu datang dengan raut muka yang ketakutan. Tak jauh
dari anak laki-laki itu, terlihat segerombolan anak laki-laki dengan
seragam sekolah yang berbeda mengejarnya dengan beberapa
anak diantaranya membawa kayu-kayu besar. Seorang anak laki-
laki berbadan tinggi bernama Dudung, berlari seolah berharap
agar cepat sampai kebangunan tua itu. Dengan ketakutan yang
luar biasa ia menoleh kearah belakang, suara segerombolan
anak-anak nakal itu pun masih terdengar ditelinganya. Dengan
kecemasan, ia terus berlari dan berlari. Akan tetapi tenaganya tak
cukup kuat untuk mewujudkan niatnya itu. Dengan nafas yang
terengah-engah ia berusaha, tetapi tak sia-sia ia memaksakan
dirinya untuk bangkit kembali. Hingga akhirnya ia sampai
kebangunan tua itu.

Ia pun memompa semangatnya untuk mendapat tempat


persembunyian yang aman. Ia berlari cepat kedalam bangunan
tua itu, tetapi dengan ketakutan yang luar biasa ia tersungkur
jatuh ketika kakinya terkait pada kaki meja tua, sehingga kardus-
kardus tua yang berdebu diatas meja itu jatuh berserakan dan
menimbulkan suara yang cukup keras. Suara itupun mengundang
perhatian gerombolan anak nakal itu. Gemuru gerombolan anak
nakal itu pun tersayup lagi ditelinganya. Seakan berjalan
mendekati dirinya. Akan tetapi, sebelum semuanya menjadi gelap
ia melihat seraut wajah tersenyum padanya sambil menggapai
tangannya. Setelah itu semuanya hilang. Dia tak tahu lagi apa
yang terjadi padanya.
Dudung membuka mata, dengan setengah sadar ia melihat
raut wajah seorang yang epertinya ia tak mengenalnya. Seorang
anak laki-laki yang sebaya dengannya, sengan kulit kusam
sedang mengobati luka ditangannya.

“Dimana aku ? A-aku harus pergii.” Ujar Dudung ketakutan.

Anak itu tersenyum menatap Dudung,

“Sudah tenanglah, kamu sudah selamat.”

“Tidak ! Aku harus pergi.. aku harus pergii. Anak-anak itu


akan membunuhku .. aku harus pergii. Ya, aku harus pergi
sekarang !” Dudung tersentak seolah teringat kejadian tadi.

Anak itu berjalan meninggalkan Dudung menuju


kebangunan belakang bangunan tua itu. Dudung pun menatap
heran sekeliling tempat ia berbaring.

“Dimana ini ? Dan tempat apa ini ?” Ucapnya heran.

Dan tak lama kemudian anak itu kembali menghampiri Dudung.

“Tenang, sekarang obati dulu lukamu itu. Nanti akan ku


jelaskan, kau aman bersamaku disini.”

Anak itu berdiri didepan pintu bangunan tua itu sambil


membenahi koran-koran dagangannya. Matanya terus
menghadap kearah Dudung yang sedang duduk kesakitan
didekatnya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu ?” Ucap Dudung sinis.

Anak itupun tersenyum melihat Dudung.

Seorang anak berbadan pendek dengan kulit kusam. Ia


tampak seperti seorang gelandangan. Akhirnya Dudung pun
merasa mendingan, ia sudah dapan berdiri perlahan. Dengan
perasaan yang was-was terlihat diwajahnya, berfikir seakan anak-
anak nakal itu masih disekitar hembus nafasnya.

Lalu anak itu berbicara padanya sambil melihat kearah Dudung.

“Namaku Maman. Aku sering berjualan koran didaerah


sekitar sini. Tadi waktu aku lewat, aku melihat kau sedang
dikejar-kejar oleh gerombolan anak-anak tadi. Aku terus
mengawasi kalian dari kejahuan, ketika aku melihat kau terjatuh
tersandung kaki meja itu kupikir kau memerlukan sebuah
bantuan. Jadi aku sembunyikan saja kau disini agar kau selamat
dari kejaran anak-anak tadi.” Jelas Maman.

Dudung hanya terdiam mendengar uraian Maman.


“Sepertinya lukamu taj terlalu parah. Kau Cuma luka-luka
kecil saja. Tapi ku kira sekarang kau sudah agak mendingan.”

“Tak menyangka aku masih hidup ! hah.” Celetuk Dudung


berbicara heran pada dirinya sendiri.

“Lihat, kau saja masih dapat bernafas. Itu tandanya tentu


kau masih hidup.”

Sambung Maman.

“Diam kau ! Aku tak meminta komentarmu.” Hentak


Dudung.

Maman terdiam.

“Terus siapa kau ini ?” Tanya Dudung.

“Kan tadi aku sudah bilang, aku ini Maman ! M-A-M-A-N,


Maman.”

“Dasar idiot, bukan itu yang ku maksud !”

Maman mencoba berfikir.

“Ow .. ! Yayaya, aku mengerti maksudmu sekarang. Aku ini


Cuma seorang pedagang koran kok. Aku sering mengantarkan
koran disekitar sini.”

“Kenapa kau mau menolongku ? Apa kau tak takut dengan


anak-anak tadi, jika mereka tau kau menyembunyikan ku. Mati
kau !”

“Aku tidak takut dengan mereka. Kenapa aku harus takut,


toh aku dan mereka sama-sama manusia.” Jawab Maman berani.

“Hah a.. ! Dasar idiot.” Ucap Dudung sambil tertawa sinis.

“Terus kenapa kau bisa dikejar-kejar oleh anak-anak tadi ??”

“Bukan urusanmu ! Lebih baik kau urusi saja koran-koranmu


itu.”

“Ayolah, ceritakan pada ku.” Maman memohon.

“Dulu aku segenk dengan anak-anak tadi. Ngebut-ngebutan,


ngedrugs, dan tauran itu hal yang biasa bagiku. Hidupku
berkelimbangan harta, uang bukanlah apa-apa bagiku. Tetapi,
semua itu berubah ketika ayahku bangkrut karna kasus
korupsinya dan sekarang ia masih dipenjara, sedangkan ibu .. !
Melihat ayah dipenjara, ibu jatuh sakit. Jiwanya menjadi
terganggu, karna dia tak bisa terima dengan keadaan kami yang
sekarang. Dahulu aku terlalu terbuai dengan kekayaan ayahku,
mereka juga tak pernah memperhatikanku. Bahkan mungkin
mereka tak tahu apa sekarang aku masih hidup atau tlah mati.
Ayah dan ibu terlalu sibuk dengan urusan mereka.”

“Hah.. sudahlah ! Ini bukan urusanmu.”

Cerita Dudung.

Lalu Dudung pun berjalan kearah pintu. Sambil mentap


keluar Dudung berkata,

“Sekarang lebih baik kau pulang. Aku sudah mendingan, aku


tak butuh bantuanmu lagi. Nanti orangtuamu mencari-carimu.”
Ucap Dudung acuh.

“Apa kau tidak mau mengucapkan terima kasih kepada ku


sebelum aku pulang ?”

“Haa…, biasa sajalah ! aku juga tidak mau ditolong olehmu.


Jadi tak usah berlebihan.” Jawab Dudung.

“Dung, apakah boleh kalau aku menganggapmu sebagai


temanku ?”

“Ha ? Kau ingin menganggapku sebagai temanku ? Kau


dengar, bukan berarti dengan kau menolongku kau bisa berteman
denganku. Jangan harap ! Lagian apa kau tak takut berteman
dengan orang sepertiku ini. Haa..Sudahlah !”

Maman pun memandangi Dudung yang membelakangi


dirinya. Ia bertambah yakin bahwa sebenarnya Dudung adalah
anak yang baik. Dia telah menyesali semua perbuatannya.
Kemudianmereka berdua terdiam, seolah member waktu untuk
saling merenung.

“Sekarang pulanglah. Banggakanlah kedua orangtuamu.


Jadilah anak yang pemberani dan tetaplah bersikap jujur. Jangan
menjadi seorang seperti aku. Negara ini membutuhkan anak
sepertimu untuk memimpinnya. Jadi apa Negara ini jika semua
anak sepertiku. Hah .. ! Ujar Dudung.

Maman berjalan perlahan keluar meninggalkan bangunan


tua itu. Dengan berjalan perlahan ia merenung, memikirkan hal
yang diucapkan oleh Dudung tadi.

Keesokan harinya, saat Maman ingin menghampiri Dudung.


Ia tlah yakin bahwa Dudung pasti akan melewati bangunan tua itu
lagi hari ini. Tetapi tanpa disangka , ia terkejut melihat banyak
polisi dibangunan tua itu. Lalu ia melihat ada seorang anak yang
digiring oleh Polisi masuk kedalam mobil patrol dan ternyata itu
adalah Dudung. Maman terkejut setengah mati.
“A-ada apa dengan Dudung? Ke-kenapa ia ditanggkap ?”
Tanya dirinya heran.

Mobil-mobil polisi itupun akhirnya pergi meninggalkan


bangunan tua itu dan Maman. Disepanjang perjalanan pulang
Maman masih bingung dengan kajadian tadi, sampai tiba-tiba
Maman terlihat anak-anak nakal yang waktu itu mengejar
Dudung. Maman pun penasaran dengan apa yang sedang mereka
lakukan. Sekilas terdengar ditelingan Maman anak-anak itu
menyebut-nyebut nama Dududng. Lalu Maman pun
mendengarkan pembicaraan anak-anak itu.

Akhirnya rasa penasaran Maman pun terjawab akan apa


yang ia lehat pada Dudung kemarin. Ternyata polisi-polisi itu
menangkap Dudung dikarnakan polisi-polisi itu menangkap
Dudung dikarnakan polisi-polisi itu menemukan 1 kg ganja
didalam bangunan tua itu. Dan pada saat itu Dudung sedang
berada disana. Pollisi-polisi itu pun langsung mengamankan
Dudung. Karena mereka mengira bahwa barang-barang itu
adalah milik Dudung. Tetapi ternyata semua itu adalah perbuatan
dari anak-anak nakal itu yang sengaja menjebak Dudung. Mereka
merasa dendam kepada Dudung, Dudung keluar dari gank
mereka. Karena itu ia merasa dendam kepada Dudung.
Mengetahui hal itu, Maman pun tak mau tinggal diam. Dia
langsung bergegas kekantor polisi.

Sesampainya dikantor polisi ia meminta izin kepada penjaga


sel penjara untuk menemui Dudung. Lalu penjaga itu pun
mengijinkannya. Maman pun menceritakan semuanya kepada
Dudung. Tetapi Dudung malah tidak menghiraukan.

“Sudahlah, percuma kau ceritakan itu padaku. Sepertinya,


memang sudah takdirku seperti ini. Mungkin ini balasan untukku,
karna sikapku dan keluargaku.”Jawab Dudung.

“Tapi kau kan tidak bersalah ?”

“Terus, kalau aku tidak bersalah kau bisa apa ? Kau juga tak
bisa apa-apakan ? Alaa.. sudahlah..” Jawab Dudung sambil
berjalan kembali menuju sel.

“Tidak, pokoknya aku akan menolongmu. Aku akan


membuktikan kalau kau tidak bersalah.”

Akhirnya Maman pun pergi meninggalkan kantor polisi tersebut.


Ia pun pulang kerumah. Ia terus memikirkan cara untuk
membebaskan Dudung.

“Bagaimana carabya agar aku bisa membebaskan Dudung ?


Kalau aku member tahu kepada polisi tentang kejadian yang
sebenarnya, polisi mana percaya pada ku. Tidak, pokoknya aku
harus berusaha. Dudungkan teman ku, meski dia tidak
menganggapku. Tapi aku tetap harus menolongnya, karna aku
tahu kalau dia tidak bersalah.”

Sampai keesokan harinya, ketika Maman ingin pulang. Ia


melihat anak-anak nakal itu sedang mengadakan pesta narkoba
dibangunan tua tempat kemarin Dudung ditangkap.

“Wah, ini kesempatan yang bagus.”

Maman pun langsung pergi meninggalkan tempat itu. Tak lama


kemudian, Niuu..niuu..niuu, suara sirine mobil polisi kembali
mengiasi tempat itu. Datang beberapa mobil polisi mengepung
tempat itu.

“Angkat tangan, kalian sudah dikepung !”

Ternyata Maman melapor kekantor polisi bahwa sedang ada


pesta narkoba dibangunan tua itu. Maman menjelaskan kesalah
pahaman tentang penangkapan Dudung kemarin. Awalnya polisi
sempat tidak percaya, tetapi setelah mendapatkan pengakuan
dari anak-anak nakal itu dan Dudung pun tak terbukti bersalah
akhirnya ia pun dibebaskan.

Setelah kejadian itu, Dudung pun mau berteman dengan


Maman. Bahkan tidak hanya berteman, sekarang mereka sudah
menjadi dua orang sahabat yang selalu bersama. Perlahan semua
berlangsung membaik, dimulai dari ayah Dudung yang
dibebaskan dari penjara ditambah dengan kesembuhan pada ibu
Dudung. Dudung menyambut bahagia perubahan yang terjadi
pada kehidupannya dan kehidupan keluarganya sekarang.

Maman dan Dudung pun menjadi semakin dekat. Dan


sekarang Maman telah bersekolah di SMA yang sama dengan
Dudung. Orang tua Dudung bersedia membiayai sekolah Maman
sebagai ungkapan terima kasih dari kelurga mereka.

Besok adalah hari minggu, dimana besok Dudung akan


mengisi acara pada acara pensi disekolah. Maman pun tak sabar
untuk melihat penampilan Dudung bersama bandnya besok.
Keesokan harinya,

“Chek sound ..satu.. duaa.. tiga .. empat !” Pertanda bahwa


acara akan segera dimulai. Akhirnya tibalah saat-saat yang
ditunggu, penampilan dari Dudung..

Lirik :

*Ini jamannya shabu-shabu bukan dijaman batu


Atau kisah si rambo
Ini bukan kisah sinetron yang sabar slalu menang
Di akhir episode

Reff:
Berakit-rakit kita ke hulu
Berenang kita ke tepian
Bersakit dahulu senangpun tak datang
Malah mati kemudian.

Kesimpulan :

Pergaulan remaja sekarang dipenuhi dengan lika-liku


kehidupan yang timbul karna keegoisan yang tak terkendali pada
dirinya. Dimulai dari pergaulan bebas dan dunia malam dan
banyk prilaku lainnya. Hal ini diakibatkan karna kurang adanya
komnikasi didalam sebuah kelurga. Jadi jadilah remaja yang sehat
yang selalu berikhtiar dijalan Allah S.W.T.

Dwi Amalia Rahmadani

X.D

Beri Nilai