Anda di halaman 1dari 17

Bab 1

Pendahuluan

Kami membuat makalah tentang AMPLIFIER karena ini merupakan tugas kami yang

harus kami jalani.Kami minta maaf jika kami melakukan kesalahan karna kami masih dalam

proses pembelajaran.

Maksud dan Tujuan

• Untuk mengetahui tentang AMPLIFIER

1
• Mendapatkan nilai

Sistematika

Bab I Pendahuluan

2
1.1 Pendahuluan

1.2 Maksud dan Tujuan

1.3 Sistematika

Bab II Isi

2.1 Pengertian Umum

2.2 Klasifikasi Penguat Audio

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan dan Saran

Bab IV Daftar Pustaka

BAB 2

PENGERTIAN UMUM

3
Penguat operasi (“ Operational Amplifier “) atau sering disingkat dengan OP-AMP yaitu
merupakan komponen komponen linear yang terdiri dari beberapa komponen diskrit yang
terintegrasi dalam bentuk “ chip “ (IC : Intregated Circuits) . OP-AMP biasanya mempunyai
2 ( dua ) buah input yaitu input pembalik (Inverting Input) dan input bukan pembalik (Non
Inverting Input) serta 1 ( satu ) buah output.
Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar simbol OP-AMP berikut ini :

Simbol OP-AMP

Input OP-AMP bisa berupa tegangan searah maupun tegangan bolakbalik. Sedangkan output
OP-AMP tergantung input yang diberikan. Jika input OP-AMP diberi tegangan searah
dengan input “ Non Inverting “ ( + ) lebih besar dari pada input inverting ( - ), maka pada
output OP-AMP akan positip (
+ ). Sebaliknya jika input “ Non Inverting “ ( + ) lebih kecil dari pada input “ inverting “ ( - ),
maka output OP-AMP akan negatip ( - ). Jika input OP-AMP diberi tegangan bolak-balik
dengan input “ Non
Inverting “ ( + ), maka pada output OP-AMP akan sephasa dengan inputnya tersebut.
Sebaliknya jika input “ Inverting “ ( - ) diberi sinyal / tegangan bolak – balik sinus, maka
pada output OP-AMP akan berbalik phasa terhadap inputnya.
Dalam kondisi terbuka ( open ) besarnya tegangan output ( Uo ) adalah
Uo = AoL ( Ui1 – Ui2 ) ( 1 – 1 )
Dimana : Uo = Tegangan output
AoL = Penguatan “ open loop “
Ui1 = Tegangan input Non Inverting
Ui2 =Tegangan input Inverting

Parameter OP-AMP

Pada keadaan ideal OP-AMP mempunyai sifat- sifat yang penting yaitu :
• Open loop voltage gain ( AoL )
Penguatan tegangan pada keadaan terbuka ( open loop voltage gain ) untuk frekuensi rendah
adalah angat besar sekitar 100.000 atau
sekitar 100 dB.
• Input impedance ( Zin )
Impedansi input pada kedua terminal input kondisi “ open loop “ tinggi sekali sekitar 1 MW,
untuk OP-AMP yang dibuat dari FET, impedansi
inputnya sekitar 10 6 MW lebih.
• Output impedance ( Zo )
Impedansi output pada kondisi “ open loop “ rendah sekali, sekitar 100W lebih kecil.
• Input bias current ( Ib )
Kebanyakan OP-AMP pada bagian inputnya menggunakan transistor bipolar, maka arus bias
pada inputnya adalah kecil. Level amplitudonya tidak lebih dari mikro Ampere.
• Supply voltage range ( Us )
Tegangan sumber untuk OP-AMP mempunyai range minimum dan maksimum yaitu untuk
OP-AMP yang banyak beredar dilapangan / dipasaran sekitar ± 3 V sampai ± 15 V.

4
Input voltage range ( Ui max )
Range tegangan input maksimum sekitar 1 Volt atau 2 Volt atau lebih dibawah dari tegangan
sumber Us.
• Output voltage range ( Uo max )
Tegangan output maksimum mempunyai range antara 1 Volt atau 2 Volt lebih dibawahnya
tegangna sumber ( supply voltage ) Us. Tegangan output ini biasanya tergantung tegangan
saturasi OP-AMP.
• Differensial input offset voltage ( Uio )
Pada kondisi ideal output akan sama dengan nol bila kedua terminal inputnya digraund-kan.
Namun pada kenyataannya semua piranti OPAMP tidak ada yang sempurna, dan biasanya
terjadi ketidak
seimbangan pada kedua terminal inputnya sekitar beberapa millivolt. Tetapi jika input ini
dibiarkan untuk dikuatkan dengan OP-AMP dengan model “ closed loop “, maka tegangan
output bisa melebihi saturasinya. Karena itu biasanya setiap OP-AMP pada bagian luar
dilengkapi dengan rangkaian offset tegangan nol ( zero offset voltage ) • Common mode
rejection ratio ( CMRR ) Secara ideal OP-AMP menghasilkan output yang proporsional
dengan / terhadap beda kedua terminal input, dan menghasilkan output sama dengan nol jika
sinyal kedua input simultan yang biasa disebut “
Common mode “. Secara praktik sinyal “ Common mode “ tidak diberikan pada inputnya dan
dikeluarkan pada outputnya. Sinyal CMRR ( Common Mode Rejection Ratio ) selalu
diekspresikan dengan rasio dari penguatan sinyal beda OP-AMP dengan harga sebesar 90 dB.
• Transition frequency ( fT )
Secara umum OP-AMP pada frekuensi rendah mempunyai penguatan tegangan sekitar 100
dB. Kebanyakan OP-AMP mempunyai frekuensi transisi fT setiap 1 MHZ dan penguatan
pada harga sebesar 90 dB.
• Slew rate (s )
Untuk penormalan batas lebar band ( bandwidth limitations ) yang biasa disebut juga sebagai
“ slew rate limiting “, yaitu suatu efek untuk membatasi rate maksimum dari perubahan
tegangan output piranti OPAMP. Normalnya” slew rate “ Volt per mikro detik ( V/ µS ), dan
rangenya sebesar 1 V / µS sampai 10 V / µS pada OP-AMP yang sudah populer. Efek lain
dari “ slew rate “ adalah membuat “bandwidth “lebih besar untuk sinyal output yang rendah
dari pada sinyal output yang besar

Karakteristik OP-AMP

Dari parameter–parameter penting yang dipunyai OP-AMP, karakteristiknya tidak jauh


berbeda dengan parameternya. Besarnya level magnitude dari tegangan beda pada input yang
absolut kecil akan mempengaruhi perubahan level tegangan output. Jelasnya jika Referensi
tegangan yang digunakan = 1 Volt, hanya diperlukan hanya sekitar 200 µV untuk membuat
output dari saturasi level negatip ke level positip.
Perubahan ini disebabkan oleh sebuah pergeseran dari hanya 0,02 % pada sinyal 1 Volt input.
Rangkaian ini yang menyebabkan fungsinya menjadi fungsi komparator tegangan yang
presisi atau detektor seimbang (balance detector).

SEJARAH PERKEMBANGAN OP-AMP

Pengembangan rangkaian terpadu IC luar telah ada sejak tahun 1960, pertama telah
dikembangkan pada “ chip “ silikon tunggal. Rangkaian terpadu itu merupakan susunan
antara transidtor, dioda sebagai penguat beda dan pasangna Darlington. Kemudian tahun
1963 industri semikonduktor Fairchild

5
memperkenalkan IC OP-AMP pertama kali µA 702, yang mana merupakan pengembangan
IC OP-AMP yang lain sebelumnya, dimana tegangan sumber ( Catu Daya ) dibuat tidak sama
yaitu + UCC = + 12 V dan - UEE = - 6 V, dan resistor inputnya rendah sekali yaitu ( 40 KW )
dan gain tegangan ( 3600 V/V ).
IC tipe µA702 ini tidak direspon oleh industri- industri lain karena tidak universal.
Tahun 1965 Fairchild memperkenalkan IC MA709 merupakan kelanjutan sebagai tandingan
dari µA702. Dengan banyak kekhususan tipe µA709 mempunyai tegangan sumber yang
simetris yaitu + UCC = 15 V dan –
UEE = -15 V,resistan input yang lebih tinggi ( 400 KW ) dan gain tegangan yang lebih tinggi
pula (45.000 V/v). IC µA709 merupakan IC linear pertama yang cukup baik saat itu dan tidak
dilupakan dalam sejarah dan merupakan generasi OP-AMP yang pertama kali. Generasi yang
pertama OP-AMP dari
Motorola yaitu MC1537.
Beberapa hal kekurangan OP-AMP generasi pertama yaitu :
1. Tidak adanya proteksi hubung singkat. Karena OP-AMP sangat rawan terhadap hubung
singkat ke ground, maka seharusnya proteksi ini penting.
2. Suatu kemungkinan problem “ latch up “. Tegangan output dapat di “ latch up “ sampai
pada beberapa harga yang karena kesalahan dari perubahan inputnya.
3. Memerlukan Jaringan frekuensi eksternal sebagai kompensasi ( dua kapasitor dan resistor )
untuk operasi yang stabil.
Selanjutnya tahun 1968 teknologi OP-AMP dikembangkan oleh Fairchild dengan IC µA741
yang telah dilengkapi proteksi hubung singkat , stabil, resistor input yang lebih tinggi ( 2 MW
), gain tegangan yang ekstrim ( 200.000 V/V ) dan kemampuan offset null ( zerro offset ).
OP-AMP 741 termasuk generasi kedua dan IC yang lain juga termasuk OP-AMP generasi
kedua yaitu LM101, LM307, µA748 dani MC1558 merupakan OP-AMP yang berfungsi
secara umum sebagaimana LM307. Untuk tipe – tipe OP-AMP yang khusus seperti
mengalami peningkatan dari segii kegunaan atau fungsinya seperti : LM318 (dengan
kecepatan tinggi sekitar 15 MHZ). Lebar band kecil dengan “ slew rate “ 50 V/µS. IC µA 771
merupakan OP-AMP dengan input bias arus yang rendah yaitu 200 pA dan “ slew rate “ yang
tinggi 13 V/µS. Lalu µA714 yaitu IC OP AMP yang presisi dengan noise rendah (1,3
µA/10C), offset tegangan yang rendah ( 75 µV ), offset arus yang rendah ( 2,8 nA ). Tipe IC
OP-AMP lain yaitu µA791 merupakan OP-AMP sebagai
penguat daya (Power Amplifier) dengan kemampuan arus output 1A. Dan IC OP-AMP
µA776 adalah OP-AMP yang multi guna bisa diprogram. Generasi – generasi yang akhir
inilah yang banyak dijumpai dalam pameran – pameran untuk pemakaian – pemakaian
khusus. IC linear dalam pengembangannya tidak cukup hanya disitu saja bahkan sudah dibuat
blok – blok sesuai keperluan seperti untuk keperluan
konsumen (audio, radio dan TV), termasuk keperluan industri seperti (timer, regulator dan
lain-lainnya). Bahkan belakangan ini dikembangkan OP-AMP dengan teknologi BI - FET
dan “ laser trimming “. Karena dengan teknologi BI - FET lebar band bisa ditekan dan “ slew
rate “ cepat, bersama ini pula bias
arus rendah dan offset input arus rendah. Contoh tipe OP-AMP BI – FET LF351, dan LF353
dengan input bias ( 200 pA ) dan offset arus ( 100 pA ), bandwidth gain unity yang besar ( 4
MHZ ), dan “ slew rate “ yang cepat (13V/MS ) dan ditambah lagi pin kaki – kakinya sama
dengan IC µA741 (yang ganda) dan IC MC1458 ).
Industri Motorola melanjutkan pengembangan OP-AMP dengan teknologi “ trimming dan
BI-FET “ ( disingkat TRIMFET ) untuk memperoleh kepresisian karakteristik input dengan
harga yang rendah, ontoh MC34001 / MC34002 / MC34004 masing – masing adalah OP-
AMP tunggal, ganda dan berjumlah empat ( guard )

6
JENIS OP-AMP DAN BENTUK KEMASANNYA

IC ( Integrated Circuit ) dibedakan kedalam “ Digital “ dan “ Analog “, IC Analog biasanya


termasuk dari bagian IC linear. IC ini merupakan rangkaian integrasi kumpulan dari beberapa
komponen aktip diskrit seperti transistor, Dioda atau FET dan lain – lainnya serta komponen
pasip seperti resistor, kapasitor dan lain-lainnya. IC linar biasanya digunakan sebagai
penguat, filter, pengali frekuensi ( Frequency Multiplier ) serta modulator yang biasanya
memerlukan komponen dari luar agar sempurna seperti kapasitor, resistor dan lain-lainnya.
Mayoritas IC linear adalah OP-AMP, yang biasanya digunakan sebagai penguat, filter aktip,
integrator dan differensiator serta untuk aplikasi – aplikasi lainnya.
Sedangkan OP-AMP yang untuk keperluan rangkaian khusus seperti aplikasi komparator,
regulator tegangan supply dan fungsi – fungsi khusus yang lainnya termasuk penguat daya
besar.
Beberapa fungsi IC linear yang umum dan khusus akan diberikan lengkap beserta contohnya,
termasuk kode produksi sampai ke bentuk model kemasannya.

Jenis IC linear berdasarkan fungsi dan fabrikasi

IC linear atau analog yang fungsinya umum biasanya digunakan pada rangkaian – rangkaian
integrator, differensiator, penguat penjumlah ( summing amplifier ) atau yang lainnya.
Contoh IC yang umum adalah LM / µA741 atau tipe 351. Disisi lain untuk IC linear yang
khusus ( special ) biasanya hanya digunakan pada aplikasi-aplikasi khusus, contoh untuk tipe
LM380 hanya bisa digunakan pada aplikasi penguat audio ( audio amplifier ). Tipe seri IC
linear mempunyai pengertian yang berbeda sesuai
dengan fabrikasi atau pabrik pembuat IC tersebut. Di Amerika saja sekitar 30 industri
memproduksi IC sebanyak 1 ( satu ) juta lebih setiap tahunnya. Masing-masing industri
mempunyai kode – kode tertentu dan tanda-tanda khusus untuk penomorannya. Berikut ini
diberikan tipe dan inisial serta penomoran dan kode produksi IC linear yang beredar di pasar
elektronika selama ini :

Selain industri pembuat IC linear tersebut masih banyak lagi seperti Mitsubishi, Hitachi,
Matsushita, Sony, Sharp, Sanyo, dan lain-lainnya. Untuk mengenal pengertian kode dan
inisial ini diberi contoh 1 (satu ) IC linear yang umum diproduksi oleh beberapa industri :

7
• LM741 : IC OP-AMP 741 diproduksi National Semiconductor
• MC17141 : IC OP-AMP 741 diproduksi Motorola
• CA3741 : IC OP-AMP 741 diproduksi R C A
• SN52741 : IC OP-AMP 741 diproduksi Texas Instruments
• N5741 : IC OP-AMP 741 diproduksi Signetics

Dari tipe diatas dapat dijelaskan bahwa angka tiga digit terakhir masing industri IC
menyatakan tipe Op-AMP yaitu 741, dan semua industri membuat dengan spesifikasi yang
sama yaitu internasional. Untuk mendapatkan informasi yang banyak dan khusus biasanya
pembuat IC selalu menyertakan pembuatan buku data ( data book ) sebagai referensi atau
petunjuk. Beberapa IC linear mempunyai kemampuan dan kelompok yang berbeda – beda,
seperti kelas A, C, E, S dan SC. Sebagai contoh IC 741,
741A, 741C, 741E, 741S dan 741SC semuanya adalah OP-AMP, namun biasanya dibedakan
tentang temperatur operasi. Contoh untuk OP-AMP keperluan militer mempunyai suhu
sekitar – 550C s/d. 1250C, sedangkan OPAMP komersial mempunyai range temperatur 00C
s/d. 750C dan range
temperatur OP-AMP industri – 400C s/d. +850C. Disisi lain untuk 741A dan 741E
merupakan improvisasi dari tipe 741 dan 741C, yang masing – masing mempunyai
spesifikasi yang lebih. IC
741Cdan 741E merupakan IC yang identik dengan 741 dan 741A dengan range temperatur
00C s/d. 750C, namun range temperatur 741C dan 741E sekitar – 550C s/d. 1250C.
Sedangkan IC 741S dan 741SC adalah OP-AMP tipe militer dan komersial yang masing –
masing dengan pengubah rate
tegangan output per unit waktu lebih tinggi ( higher slew rate ) dibandingkan tipe 741 dan
741C.

Bentuk kemasan

Ada 3 ( tiga ) macam bentuk kemasan IC linear yaitu

• Bentuk kemasan datar ( Flat pack )


• Bentuk kemasan logam / transistor ( Metal or transistor pack )
• Bentuk kemasan sisi gari ganda ( Dual-in-line pack )

8
Klasifikasi Penguat Audio
Sudah menjadi suatu hal yang lumrah jika seseorang selalu mencari sesuatu yang lebih baik.
Tak terkecuali di bidang rancang bangun penguat amplifier, perancang, peminat atau insinyur
elektronika tak pernah berhenti mencari berbagai macam konsep yang lebih baik. Ada
beberapa jenis penguat audio yang dikategorikan antara lain sebagai penguat class A, B, AB,
C, D, T, G, H dan beberapa tipe lainnya yang belum disebut di sini. Tulisan berikut
membahas secara singkat apa yang menjadi ciri dan konsep dari sistem power amplifier (PA)
tersebut.

Fidelitas dan Efisiensi


Penguat audio (amplifier) secara harfiah diartikan dengan memperbesar dan menguatkan
sinyal input. Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah, sinyal input di-replika (copied) dan
kemudian di reka kembali (re-produced) menjadi sinyal yang lebih besar dan lebih kuat. Dari
sinilah muncul istilah fidelitas (fidelity) yang berarti seberapa mirip bentuk sinyal keluaran
hasil replika terhadap sinyal masukan. Ada kalanya sinyal input dalam prosesnya kemudian
terdistorsi karena berbagai sebab, sehingga bentuk sinyal keluarannya menjadi cacat. Sistem
penguat dikatakan memiliki fidelitas yang tinggi (high fidelity), jika sistem tersebut mampu
menghasilkan sinyal keluaran yang bentuknya persis sama dengan sinyal input. Hanya level
tegangan atau amplituda saja yang telah diperbesar dan dikuatkan. Di sisi lain, efisiensi juga
mesti diperhatikan. Efisiensi yang dimaksud adalah efisiensi dari penguat itu yang dinyatakan
dengan besaran persentasi dari power output dibandingkan dengan power input. Sistem
penguat dikatakan memiliki tingkat efisiensi tinggi (100 %) jika tidak ada rugi-rugi pada
proses penguatannya yang terbuang menjadi panas.

PA kelas A

Contoh dari penguat class A adalah adalah rangkaian dasar common emiter (CE) transistor.
Penguat tipe kelas A dibuat dengan mengatur arus bias yang sesuai di titik tertentu yang ada
pada garis bebannya. Sedemikian rupa sehingga titik Q ini berada tepat di tengah garis beban
kurva VCE-IC dari rangkaian penguat tersebut dan sebut saja titik ini titik A. Gambar berikut
adalah contoh rangkaian common emitor dengan transistor NPN Q1.

9
gambar 1 : rangkaian dasar kelas A

Garis beban pada penguat ini ditentukan oleh resistor Rc dan Re dari rumus VCC = VCE + IcRc +
IeRe. Jika Ie = Ic maka dapat disederhanakan menjadi VCC = VCE + Ic (Rc+Re). Selanjutnya
pembaca dapat menggambar garis beban rangkaian ini dari rumus tersebut. Sedangkan
resistor Ra dan Rb dipasang untuk menentukan arus bias. Pembaca dapat menentukan sendiri
besar resistor-resistor pada rangkaian tersebut dengan pertama menetapkan berapa besar arus
Ib yang memotong titik Q.

gambar 2 : Garis beban dan titik Q kelas A

Besar arus Ib biasanya tercantum pada datasheet transistor yang digunakan. Besar penguatan
sinyal AC dapat dihitung dengan teori analisa rangkaian sinyal AC. Analisa rangkaian AC
adalah dengan menghubung singkat setiap komponen kapasitor C dan secara imajiner
menyambungkan VCC ke ground. Dengan cara ini rangkaian gambar-1dapat dirangkai
menjadi seperti gambar-3. Resistor Ra dan Rc dihubungkan ke ground dan semua kapasitor
dihubung singkat.

10
gambar 3 : rangkaian imajimer analisa ac kelas A

Dengan adanya kapasitor Ce, nilai Re pada analisa sinyal AC menjadi tidak berarti. Pembaca
dapat mencari lebih lanjut literatur yang membahas penguatan transistor untuk mengetahui
bagaimana perhitungan nilai penguatan transistor secara detail. Penguatan didefenisikan
dengan Vout/Vin = rc / re`, dimana rc adalah resistansi Rc paralel dengan beban RL (pada penguat
akhir, RL adalah speaker 8 Ohm) dan re` adalah resistansi penguatan transitor. Nilai re` dapat
dihitung dari rumus re` = hfe/hie yang datanya juga ada di datasheet transistor. Gambar-4
menunjukkan ilustrasi penguatan sinyal input serta proyeksinya menjadi sinyal output
terhadap garis kurva x-y rumus penguatan vout = (rc/re) Vin.

gambar 4 : kurva penguatan kelas A

Ciri khas dari penguat kelas A, seluruh sinyal keluarannya bekerja pada daerah aktif. Penguat
tipe class A disebut sebagai penguat yang memiliki tingkat fidelitas yang tinggi. Asalkan
sinyal masih bekerja di daerah aktif, bentuk sinyal keluarannya akan sama persis dengan
sinyal input. Namun penguat kelas A ini memiliki efisiensi yang rendah kira-kira hanya 25%
- 50%. Ini tidak lain karena titik Q yang ada pada titik A, sehingga walaupun tidak ada sinyal
input (atau ketika sinyal input = 0 Vac) transistor tetap bekerja pada daerah aktif dengan arus
bias konstan. Transistor selalu aktif (ON) sehingga sebagian besar dari sumber catu daya
terbuang menjadi panas. Karena ini juga transistor penguat kelas A perlu ditambah dengan
pendingin ekstra seperti heatsink yang lebih besar.

PA kelas C

11
Kalau penguat kelas B perlu 2 transistor untuk bekerja dengan baik, maka ada penguat yang
disebut kelas C yang hanya perlu 1 transistor. Ada beberapa aplikasi yang memang hanya
memerlukan 1 phase positif saja. Contohnya adalah pendeteksi dan penguat frekuensi pilot,
rangkaian penguat tuner RF dan sebagainya. Transistor penguat kelas C bekerja aktif hanya
pada phase positif saja, bahkan jika perlu cukup sempit hanya pada puncak-puncaknya saja
dikuatkan. Sisa sinyalnya bisa direplika oleh rangkaian resonansi L dan C. Tipikal dari
rangkaian penguat kelas C adalah seperti pada rangkaian berikut ini.

gambar 10 : rangkaian dasar penguat kelas C

Rangkaian ini juga tidak perlu dibuatkan bias, karena transistor memang sengaja dibuat
bekerja pada daerah saturasi. Rangkaian L C pada rangkaian tersebut akan ber-resonansi dan
ikut berperan penting dalam me-replika kembali sinyal input menjadi sinyal output dengan
frekuensi yang sama. Rangkaian ini jika diberi umpanbalik dapat menjadi rangkaian osilator
RF yang sering digunakan pada pemancar. Penguat kelas C memiliki efisiensi yang tinggi
bahkan sampai 100%, namun tingkat fidelitasnya memang lebih rendah. Tetapi sebenarnya
fidelitas yang tinggi bukan menjadi tujuan dari penguat jenis ini.

PA kelas D

Penguat kelas D menggunakan teknik PWM (pulse width modulation), dimana lebar dari
pulsa ini proporsioal terhadap amplituda sinyal input. Pada tingkat akhir, sinyal PWM men-
drive transistor switching ON dan OFF sesuai dengan lebar pulsanya. Transistor switching
yang digunakan biasanya adalah transistor jenis FET. Konsep penguat kelas D ditunjukkan
pada gambar-11. Teknik sampling pada sistem penguat kelas D memerlukan sebuah
generator gelombang segitiga dan komparator untuk menghasilkan sinyal PWM yang
proporsional terhadap amplituda sinyal input. Pola sinyal PWM hasil dari teknik sampling ini
seperti digambarkan pada gambar-12. Paling akhir diperlukan filter untuk meningkatkan
fidelitas.

12
gambar 11 : konsep penguat kelas D

gambar 12 : ilustrasi modulasi PWM penguat kelas D

Beberapa produsen pembuat PA meng-klaim penguat kelas D produksinya sebagai penguat


digital. Secara kebetulan notasi D dapat diartikan menjadi Digital. Sebenarnya bukanlah
persis demikian, sebab proses digital mestinya mengandung proses manipulasi sederetan bit-
bit yang pada akhirnya ada proses konversi digital ke analog (DAC) atau ke PWM. Kalaupun
mau disebut digital, penguat kelas D adalah penguat digital 1 bit (on atau off saja).

PA kelas E

Penguat kelas E pertama kali dipublikasikan oleh pasangan ayah dan anak Nathan D dan
Alan D Sokal tahun 1972. Dengan struktur yang mirip seperti penguat kelas C, penguat kelas
E memerlukan rangkaian resonansi L/C dengan transistor yang hanya bekerja kurang dari
setengah duty cycle. Bedanya, transistor kelas C bekerja di daerah aktif (linier). Sedangkan
pada penguat kelas E, transistor bekerja sebagai switching transistor seperti pada penguat
kelas D. Biasanya transistor yang digunakan adalah transistor jenis FET. Karena
menggunakan transistor jenis FET (MOSFET/CMOS), penguat ini menjadi efisien dan cocok
untuk aplikasi yang memerlukan drive arus yang besar namun dengan arus input yang sangat
kecil. Bahkan dengan level arus dan tegangan logik pun sudah bisa membuat transitor
switching tersebut bekerja. Karena dikenal efisien dan dapat dibuat dalam satu chip IC serta
dengan disipasi panas yang relatif kecil, penguat kelas E banyak diaplikasikan pada peralatan
transmisi mobile semisal telepon genggam. Di sini antena adalah bagian dari rangkaian
resonansinya.

13
PA kelas T

Penguat kelas T bisa jadi disebut sebagai penguat digital. Tripath Technology membuat
desain digital amplifier dengan metode yang mereka namakan Digital Power Processing
(DPP). Mungkin terinspirasi dari PA kelas D, rangkaian akhirnya menggunakan konsep
modulasi PWM dengan switching transistor serta filter. Pada penguat kelas D, proses
dibelakangnnya adalah proses analog. Sedangkan pada penguat kelas T, proses sebelumnya
adalah manipulasi bit-bit digital. Di dalamnya ada audio prosesor dengan proses umpanbalik
yang juga digital untuk koreksi timing delay dan phase.

PA kelas G

Kelas G tergolong penguat analog yang tujuannya untuk memperbaiki efesiensi dari penguat
kelas B/AB. Pada kelas B/AB, tegangan supply hanya ada satu pasang yang sering
dinotasikan sebagai +VCC dan –VEE misalnya +12V dan –12V (atau ditulis dengan +/-12volt).
Pada penguat kelas G, tegangan supply-nya dibuat bertingkat. Terutama untuk aplikasi yang
membutuhkan power dengan tegangan yang tinggi, agar efisien tegangan supplynya ada 2
atau 3 pasang yang berbeda. Misalnya ada tegangan supply +/-70 volt, +/-50 volt dan +/-20
volt. Konsep ranagkaian PA kelas G seperti pada gambar-13. Sebagai contoh, untuk alunan
suara yang lembut dan rendah, yang aktif adalah pasangan tegangan supply +/-20 volt.
Kemudian jika diperlukan untuk men-drive suara yang keras, tegangan supply dapat di-
switch ke pasangan tegangan supply maksimum +/-70 volt.

gambar 13 : konsep penguat kelas G dengan tegangan supply yang bertingkat

14
PA kelas H

Konsep penguat kelas H sama dengan penguat kelas G dengan tegangan supply yang dapat
berubah sesuai kebutuhan. Hanya saja pada penguat kelas H, tinggi rendahnya tegangan
supply di-desain agar lebih linier tidak terbatas hanya ada 2 atau 3 tahap saja. Tegangan
supply mengikuti tegangan output dan lebih tinggi hanya beberapa volt. Penguat kelas H ini
cukup kompleks, namun akan menjadi sangat efisien.

15
Bab III

Kesimpulan
High fidelity dan high efficiency adalah dua hal yang menjadi tujuan pokok pada setiap
rancangan rangkaian penguat amplifier.

Saran

16
Bab IV

DAFTAR PUSTAKA

• http://www.electroniclab.com

17