Anda di halaman 1dari 47

c   

  

Pembimbing:: dr. Bondan
Pembimbing Bondan,, M.Kes
M.Kes,, Sp.PD

By: Ali AL Hinduan (205.1.21.0051)


mdentitas Pasien
Nama : Tn. S
Umur : 50 tahun
Jenis kelamin : Laki-
Laki-laki
Alamat : Singosari
Status Perkawinan : Menikah
Suku : Jawa
Tanggal MRS : 6 maret 2011
No register : 212660
ANAMNESA (AUTOANAMNESA)
Keluhan Utama : Mual-
Mual-Mual
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke RSUD dengan keluhan mualmual--mual
namun tidak ada yang dimuntahkan
dimuntahkan,, disertai rasa
panas dari perut hingga ke dada dan juga
kembung,, pasien juga merasa perutnya
kembung
membesar,, pasien pernah muntah darah namun
membesar
hanya 2 kali yg tidak berlanjut lagi
lagi,,
selain itu pasien juga mengeluhkan kakinya
bengkak,, BAB cair dengan frekuensi 2-10
bengkak
kali sehari,
sehari, pasien mengatakan dalam BAB
nya berwarna hitam,
hitam, pasien merasa
badannya lemas dan sedikit pusing.
pusing. Pasien
mengatakan keluhan seperti bukan hanya
kali ini namun sudah sering atau
kambuhan dan kontrol setiap bulannya.
bulannya.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pernah dirawat di rumah sakit
sebelumnya dengan gejala yang
sama 21 hari
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat sakit ginjal (-)
Riwayat asma (-)
Riwayat alergi obat/makanan (-)
Riwayat penyakit jantung (-)
Penyakit paru (-)
Riwayat Penyakit Keluarga :
Hipertensi (+)
Asma (-)
Penyakit jantung (-)
Penyakit paru (-)
DM (+)
Alergi obat/makanan (-)
Riwayat Kebiasaan
Riwayat merokok (-)
Minum kopi (-)
Minum jamu-jamuan dan minuman penyegar
(sering)
Minum alkohol (-)
Olah raga (-)
   
Keadaan Umum
Tampak sakit, kesadaran compos mentis
(GCS 456), status gizi kesan cukup.
Tanda Vital
Tensi : 110/80 mmHg
Nadi : 78 x / menit, reguler, isi
cukup
Pernafasan : 20 x /menit
Suhu : 37,4 oC
Èonƞt
Mata
Èonjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-).
Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-).
Mulut
Bibir pucat (-), bibir cianosis (-), gusi berdarah (-).
Telinga
Nyeri tekan mastoid (- (-), sekret (-), pendengaran
berkurang (-).
Tenggorokan
Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-).
Èonƞt
Leher
JVP tidak meningkat
meningkat,, trakea ditengah,
ditengah, pembesaran kelenjar
tiroid (-), pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-
)
Thoraks
Normochest, simetris,
Normochest, simetris, pernapasan thoracoabdominal,
thoracoabdominal,
retraksi (-), spider nevi (-
(-), pulsasi infrasternalis (-), sela
iga melebar (-).
Èor :
mnspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tak kuat angkat
Perkusi :
Auskultasi: Bunyi jantung m mm intensitas normal, regular,
Auskultasi:
bising (-)
Èonƞt
Pulmo :
Statis (depan dan belakang
belakang))
mnspeksi : pengembangan dada kanan sama
dengan kiri
Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor/
sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler,
vesikuler, suara
tambahan (ronchi -/-)
Èonƞt
Dinamis (depan dan belakang
belakang))
mnspeksi : pergerakan dada kanan sama dengan
kiri
Palpasi : fremitus raba kiri sama dengan
kanan
Perkusi :
?   ?  
Sonor Sonor
Sonor Sonor
Èonƞt
Auskultasi : suara dasar vesikuler menurun
Ronki / Wheezing
Ä Ä
- -
- -

Abdomen
mnspeksi : perut tampak membesar,
membesar, pembesara
hepar dan lien sulit dievaluasi
Palpasi : Supel (+), Nyeri tekan (-), tes undulasi
(+), edeme pitting (+)
Perkusi : hypertympani
Auskultasi : bising usus (+) normal
Èonƞt
Ektremitas
palmar eritema (-/-)
akral dingin Oedem

Sistem Genetalia:
Genetalia: dalam batas normal.
j j j
 ?
Sindroma nefrotik

   ? 

Lab Darah
Urinalisis
mmunologi
Rontgen Thorax
Biopsy hati
Lab darah : 7 - 03 - 2011
2011
Ureum : dbn
Èreatinin : dbn
GDS : dbn
Lab darah : 9-03-
03-2011
Albumin : 2,88
Lab darah : 11
11--03-
03-2011
Albumin : 2,61
Lab darah : 4-03-
03-2011
SGOT : 147
SGPT : 72
Albumin : 2,55
Dll : dbn
Lab darah : 8-03-
03-2011 Albumin : 2,30
Lab darah : 10
10--03-
03-2011 Albumin : 2,81
Lab darah : 12
12--03-
03-2011 Albumin : 3,04
USG : Sirosis Hepatis
Lab darah : 7 - 03 2011
2011 Ureum : dbn
Èreatinin : dbn
GDS : dbn
Lab darah : 9-03-
03-2011 Albumin : 2,88
Lab darah : 11
11--03-
03-2011 Albumin : 2,61
j
 ??
Sirosis Hepatis
 ?
   
Edukasi pasien dan keluarga tentang
penyakitnya yang diderita
Edukasi mengenai komplikasi Sirosis Hepatis
Edukasi tentang pentingnya kontrol rutin untuk
mengurangi faktor komplikasi
mstirahat
Berhenti minum jamu
Makan lemak secukupnya
Diet TKTP
Diet rendah garam
 
mVFD RL 12 tpm
mnj. Furosemid 2x1 amp mV
Letonal 1-0-0
Loperamid 3 x 1
Transfusi Albumin fl
SmROSmS HEPATmS
DEFmNmSm

w Fase lanjut penyakit hati yang ditandai


proses keradangan, nekrosis sel hati,
usaha regenerasi dan penambahan
jaringan ikat difus dengan terbentuknya
nodul yang mengganggu susunan lobulus
hati.
ETmOLOGm
ÕVirus Hepatitis B,D dan C
ÕAlkohol
ÕKelainan Metabolik
ÕKholestasis
ÕObstruksi bilier intrahepatik/ekstrahepatik
ÕGangguan autoimun
ÕToksin dan Obat-
Obat-obatan
Õ ndian Chidhood cirrhosis
ÕCryptogenic
Pembagian

w Berdasarkan morfologi Sherlock membagi


Sirosis hati atas 3 jenis, yaitu :
1. Mikronodular
2. Makronodular
3. Èampuran (yang memperlihatkan
gambaran mikro-
mikro-dan makronodular)
w Secara Fungsional Sirosis terbagi atas :

1. Sirosis hati Kompensata


Sering disebut dengan Laten Sirosis hati.
Pada stadium kompensata ini belum terlihat
gejala--gejala yang nyata. Biasanya stadium ini
gejala
ditemukan pada saat pemeriksaan screening.
2. Sirosis hati Dekompensata
Dikenal dengan Active Sirosis hati, dan
stadium ini biasanya gejala-
gejala-gejala sudah jelas,
misalnya ascites, edema dan ikterus.
Klasifikasi derajat keparahan
Klasifikasi A B È
Parameter (pugh) 1 2 3

Bilirubin (mg/dl) <2 2-3,0 >3,0


Albumin (g/dl) >3,5 3-3,5 <3,0
Ascites - Terkontrol Sulit dikontrol

Ensefalopati - Std m/mm Std mmm/mV


Nutrisi Baik Sedang Jelek
Total Skor 5-7 8-10 11-15
Èhild Pugh Modification

w Klasifikasi Èhild A = Sirosis hati ringan


w Klasifikasi Èhild B = Sirosis hati sedang
w Klasifikasi Èhild È = Sirosis hati berat
Mekanisme terjadinya sirosis

w Secara Mekanik,
Mekanik, dimulai dari kejadian hepatitis viral
akut, timbul peradangan luas, nekrosis hati, dan
pembentukan jaringan hati yang luas disertai
pembentukan nodul regenerasi oleh sel parenkim
hati yang masih baik. Jadi fibrosis pasca nekrotik
adalah dasar timbulnya sirosis hati.

w Secara imunologis,
imunologis, dimulai dengan kejadian hepatitis
viral akut yang menimbulkan peradangan sel hati,
nekrosis/nekrosis bridging dengan melalui hepatitis
kronik agresif diikuti timbulnya sirosis hati.
Manifestasi klinis
[Gejala/tanda kegagalan fungsi hati
Edema
mkterus
Hipoalbumin dan malnutrisi kalori
Spider nevi
Ginekomastia
Bulu ketiak rontok
Eritema palmaris
Atropi testis
Kelainan darah(anemia)
darah(anemia)
[ Gejala/tanda Hipertesi portal
Varises Esofagus
Splenomegali
Pelebaran Vena Kolateral
Ascites
Haemoroid
Èaput Medusae
Kelainan sel darah
tepi(anemia,leukopeni,trombositopeni)
tepi(anemia,leukopeni,trombositopeni)
KOMPLmKASm
Komplikasi yang dapat dijumpai adalah :
1.Hematemesis/melena, oleh karena varises
esofagus yang pecah
2.Ensefalopatik hepatik
3.Ascites permagna
4.Peritonitis bakterial spontan
5.Sindrom Hepatorenal
Mekanisme terjadinya Varises Esophagus
w Varises Esophagus adalah pelebaran pembuluh
darah dalam yang ada di dalam koronkongan
makan (esophagus).
w Pelebaran ini dapat terjadi dalam bentuk yang
kecil hingga besar, bahkan hingga besarnya
dapat pecah menimbulkan perdarahan hebat.
w Perdarahan yang terjadi dapat dimuntahkan
dengan warna hitam hingga merah segar
(hematemesis) dan darah dapat mengalir ke
bawah (anus) sehingga timbul buang air besar
hitam (melena).
w Mekanisme yang mendasari terjadinya varises
esophagus ini adalah penyempitan pembuluh
darah yang berasal dari esophagus untuk
mengalir ke dalam hati (liver).
w Peristiwa ini terjadi pada penyakit hati
kronik dengan disertai perubahan struktur
dari organ hati, hal ini yang dinamakan
sirosis hati.
w Pada keadaan yang terus berlangsung,
sehingga aliran darah di dalam dinding
esophagus melambat dan tekanannya
meninggi.
w Keluhan yang sering terjadi pada keadaan
ini rasa mual, mudah capek, terkadang
mata jadi kuning.
Ensefalopati Hepatik

w Ensefalopati Hepatik,suatu sindrom


neuropsikiatri sekunder karena penyakit
hati akut atau penyakit hati kronis.
w Pada SH disebut : Ensefaloporto-
Ensefaloporto-Sistemik.
Faktor Presipitasi EH pada SH
w  
Fungsi hati yang jelek (Èhild )

w  
w Diit protein yang berlebihan
w Pendarahan saluran cerna yang masif
w Sindrom Dehidrasi hipokalemik
w mnfeksi / Sepsis
w Konstipasi
w Obat--obatan
Obat
w Peningkatan kadar amoniak darah
Gejala dan tanda klinis EH

w Kelainan Neurologik
w Kelainan Mental
w Gangguan rekamam EEG
Ascites pada SH
Hipertensi portal
o
Vasodilatasi perifer
o
Penurunan volume efektif pembuluh darah arterial
o
Peningkatan renin, aldosteron, vasopresin
o
Retensi garam dan air Vasokonstriksi renal
o
kspansi vol. Plasma
+
Hipertensi portal
o
Ascites
Sindrom Hepato Renal
w SHR adalah gangguan fungsi ginjal
sekunder pada penyakit hati tingkat berat
baik penyakit hati yang akut atau kronis.
Patogenesis SHR
Sirosis Hati derajat berat
+
Hipertensi portal
o
Vasodili arterial splanknik
o
Hipovelemi arteria sentral
o
Aktivasi--Simpatis Renin/ Angiotensi/ Aldosteron Hormon anti diuretik
Aktivasi
o
Vasokonstriksi renal
o
nra Renal Vasokonstriksi maningkat Vasodilator menurun
o
Vaksokonstrike renal lebih maningkat
o
Sindrom Hepatorenal
Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan laboraturium pada sirosis hati meliputi hal-
hal-hal berikut:
† 

  !
 "!"""!
"!"""!

† ?
?

"#" Ä 
 !"

†    ! 

† " $  

† !""!

† "  "


  !    "

†   " "!% !


"!&&&'ÄÄj$'Ä
"!&&&' j$'Ä

†   "!"  &  ()**


 ()**ÄÄ
+ *** " 
! !" 
Pemeriksaan penunjang
´ Pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat dilakukan:
w Ultrasonografi (USG).
w Pemeriksaan radiologi dengan menelan bubur barium
untuk melihat varises esofagus.
w Pemeriksaan esofagoskopi untuk melihat besar dan
panjang varises serta sumber pendarahan
w Pemeriksaan sidikan hati dengan penyuntikan zat
kontras
w ÈT scan
w Angiografi
w Endoscopic retrograde chlangiopancreatography (ERÈP).
Pengobatan
w KOMPENSASm :
Ëmstirahat yang cukup
ËDiet TKTP
ËLemak secukupnya
w Dekompensasi : obati komplikasi
â Ascites :
† Diet Rendah Garam 0,5 gr/hr
† Total cairan 1,5 l/hr
† Spironolakton 4 x 25 mg/hr
â Hematemesis dengan Melena
ÕPemasangan NGT untuk memastikan
perdarahan dari saluran cerna
ÕVasopresin 2 amp (0,1 gr dalam 500 cc cairan D 5 %)
ÕSB tube untuk menghentikan perdarahan varises

â Ensefalopati  Koreksi faktor pencetus

â Peritonitis Bakterial Spontan  Èefotaxsim 2g/8


jam i.v
Sindroma Hepatorenal
´ Balance cairan
´ Atasi infeksi dengan pemberian
Antibiotik