Anda di halaman 1dari 5

A.

Definisi Perkawinan Adat


Perkawinan adalah salah satu peristiwa yang sangat penting
dalam penghidupan masyarakat kita; sabab perkawinan itu tidak hanya
menyangkut wanita dan pria calon mempelai saja, tatapi juga orang tua
kedua belah pihak, saudara-saudaranya, bahkan keluarga mereka
masing-masing.

Dalam hukum adat perkawinan itu bukan hanya merupaka


peristiwa penting bagi mereka yang masih hidup saja, tetapi perkawinan
juga merupakan peristiwa yang sangat berarti serta yang sepenuhnya
mendapat perhatian dan dikuti oleh arwah-arwah paras leluhur kedua
belah pihak. Dan dari arwah-arwah inilah kedua belah pihak beserta
seluruh keluarganya mengharapkan juga restuanya bagi kedua mempelai,
hingga mereka ini setelah menikah salanjutnya dapat hidup rukun
bahagia sabagai suami istri samapai “ kaken-kaken ninen-ninen” ( istilah
Jawa yang artinya sampai sang suami menjadi kakaek-kakek dan sang
istri menjadi nenek-nenek yang bercucu-cicit)

Hukum perkawinan adat adalah aturan-aturan hukum adat yang


mengatur tentang bentuk-bentuk perkawinan, cara-cara pelamaran,
upacara perkawinan dan putusnya perkawinan di Indonesia.

B. Ketentuan Perkawinan Adat Yang Diadopsi


Dalam UU No.1 Tahun 1947
Walaupun UU No.1 tahun 1974 tentang perkawinan sudah berlaku,
tetapi hukum adat masih juga berlaku. Di dalam UU Perkawinan ini, tidak
diatur bentuk-bentuk perkawina, cara peminangan (pelamaran) upacara
perkawinan dan lainnya dalam ruang lingkup hukum adat.

Kedudukan hukum adat UU No.1 tahun 1974 tidak terlihat secara


jelas, tetapi terdapat dalam beberapa pasal:

- Pasal 2 : sah perkawinan berdasarkan hukum agama

- Pasal 37 : mengenai harta benda diatur oleh hukumnya masing-


masing (termasuk hukum adat)

- Pasal 35 : sampai pasal 36 mengenai harta perkawinan memuat


ketentuan hukum adat yang dikenal dengan harta gono-gini (ada
harta bawaan dan harta bersama)

C. Berlakunya Hukum Perkawinan Adat Saat Ini


(Ketentuan Mana Yang Berlaku)
D. Sistem Perkawinan Adat
3 macam sistem perkawinan. Diantaranya:

1. Sistem Endogami
Dalam sistem ini orang hanya diperbolehkan kawin dengan
seseorang dari suku keluarganya sendiri. Sistem perkawinan ini jarang
terdapat di Indonesia salah satunya hanya di Toraja.

2. Sistem Exogami
Dalam sistem ini orang diharuskan kawin dengan orang luar suku
keluarganya. Sistem demikian terdapat di daerah Gayo, Alas, Tapanuli,
Minangkabau, Sumatera Selatan, Buru, dan Seram.

3. Sistem Eleutherogami
Sistem ini tidak mengenal larangan-larangan itu atau keharusan-
keharusan halnya dalam sistem Endogami ataupun Exogami,
Eleutherogami ternyata paling meluas di Indonesia. Diantaranya daerah
Aceh, Sumatera Timur, Bangka Belitung, Kalimantan, Minahasa, Aulawai
Selatan, Ternate, Irian Jaya Timur, Bali, Lombok, dan seluruh Jawa-Madura.

E. Bentuk Perkawinan Adat


Susunan masyarakat yang berbeda diantaranaya patrilineal,
matrilineal. Dan parental/bilateral, maka bentuk perkawinan beragam:

1. Susunan Masyarakat Patrilineal


Bentuk perkawinannya adalah perkawinan jujur. Umumnya berlaku
di daerah Gayo, Batak, Nias, Lampung, Bali dan Maluku.

Pihak kerabat calon suami, sebagai tanda pengganti pelepasan


mempelai wanita keluar dari adat persekutuan hukum bapaknya, pindah
dan masuk ke dalam persekutuan suaminya.

Setelah perkawina, istri berada dibawah kekuasaan kerabat


suaminya, dan merupakan tanggung jawab kerabat suaminya. Harta
bawaan istri dikuasai oleh suami, kecuali ditentukan lain.
Umum dalam perkawinan jujur tidak dikenal cerai dan bila si wafat,
si istri mengawini saudara suami, perkawinan ini dikenal dengan
perkawinan pengganti.

Variasi atau macamnya:

- Perkawinan ganti suami-Bapak Toba = Pareakhon

Dengan wafatnya suami, istri kawin dengan saudara laki-laki dari


suami tidak sama dengan pembayaran jujur.

- Perkawinan ganti istri

 Lampung : turun/naik ranjang

 Pasemah : kawin tongkat

Dengan wafatnya istri, suami kawin dengan saudara wanita istri


yang wafat tersebut.

- Perkawinan mengabdi

 Batak : madinding

Karena tidak terjadinya kesepakatan tentang syarat-syarat


perkawinan yang diminta oleh pihak wanita, setelah perkawinan suami
tinggal dalam kerabat istri.

- Perkawinan ambil beri (perkawinan bertukar)

 Minangkabau : perkawinan bako

 Lampung : ngejuk ngakuk

Perkawinan yang terjadi antara kerabat yang sifatnya


symetris,dimana suatau masa kerabat A mengambil istri dari kerabat B,
pada masa lain sebaliknya.

2. Susunan Masyarakat Matrilineal


Bentuk perkawinannya adalah perkawinan semenda dalam rangka
mempertahankan garis keturunan pihak ibu. Dalam perkawinan semenda
calon mempelai pria dilamar oleh kerabat calon mempelai wanita.
Setelah perkawinan terjadi, maka suami berda di bawah kekuasaan
kerabat istri, dan kedudukan hukumnya tergantung pada bentuk
perkawinan semenda, terbagi atas:

- Semenda raja-raja berarti suami-istri kedudukan seimbang.

- Semenda lepas berarti suami mengikuti tempat kediaman istri.

- Semenda bebas berarti suami tinggal pada keluarganya.

- Semenda anak dagang berarti suami hanya datang sewaktu-


waktu.

- Semenda ngangket : bila keluarga tidak mempunyai anak wanita


kemudian dicari anak wanita lain untuk dikawin dengan anak
laki-laki untuk meneruskan harta keluarganya.

Pada umumnya dalam bentuk perkawinan semenda kekuasaan


pihak wanita yang lebih berperan, sedangkan suami tidak ubahnya
sebagai istilah ngijam jago (meminjam jantan), hanya sebagai pemberi
bibit saja dan kurang bertanggung jawab dalam keluarga (rumah tangga).

3. Perkawinan Bebas (Mandiri)


Perkawinan bebasa atau perkawinan mandiri pada umumnya
berlaku di lingkungan masyarakat adat yang bersifat parental seperti
masyarakat Jawa, Sunda, Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi.

Dilingkungan masyarakat parental bias saja terjadi perkawinan ganti


suami atay ganti istri.

Dalam masyarakat Jawa dan Sunda, ada perkawinan manggih kaya


yaitu suami yang kaya diikutu oleh istrinya yang miskin. Ada juga
perkawinan nyelindung kegelung yautu istri yang kaya diikuti oleh suami
yang miskin (si suami bergantung dengan istrinya)

Bentuk perkawinan bebas ini dikehendaki oleh UU No.1 tahun 1974,


simana kedudukan suami istri berimbang sama, suami sebagai kepala
rumah tangga dan istri adalah ibu rumah tangga.

4. Bentuk Perkawinan Mentas (Bilateral)


Tidak ada keharusan untuk jujur, hanya berupa pemberian yang
sifatnya bukan sebagai jujur. Setelah perkawinan suami/istri berpisah dari
keluarga/kerabat dan berdiam dalam rumah sendiri.

F. Pertunangan Adat
G. Mas Kawin dan Uang Jujur
Pembayaran jujur tidak sama dengan mas kawin menutut hukum
islam.

- Mas kawin

Mas kawin adalah kewajiban agama ketika dilaksanakan akad nikah


yang harus dipenuhi oleh mempelai pria untuk mempelai wanita. Mas
kawin boleh diutangkan.

- Uang jujur

Uang jujur adalah kewajiban adat ketika dilakukan pelamaran yang


harus dipenuhi oleh kerabat pria kepada kerabat wanita. Uang jujur tidak
boleh diutangkan.

H. Alasan Perceraian