Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahan pangan merupakan hasil dari produksi tumbuh-tumbuhan yang


digunakan untuk menghasilkan pangan. Sedangkan produk pangan adalah hasil
penanganan atau pengolahan dari suatu bahan pangan. sifat fisik bahan pangan
berkaitan erat dengan sudut repos, densitas, dan spesifik gravity. Selain itu, sifat
fisik juga memiliki hubungan dengan mutu bahan pangan karena sebagai
informasi dasar dalam menentukan tingkat metode penanganan atau bagaimana
cara mendesain peralatan pengolahan terutama peralatan pengolahan yang bersifat
otomatis.
Secara matematis, spesifik gravity menunjukkan kerapatan massa yang
dipengaruhi oleh gravitasi. Sedangkan Densitas adalah jumlah atau kuantitas
suatu zat pada suatu unit volume. Maka, untuk mempertahankan mutu bahan
produk pangan diperlukan pemahaman tentang sifat bahan pangan, faktor yang
mempengaruhi penurunan mutu, dan upaya untuk menghambat penurunan mutu.

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum dan makalah yakni untuk menganalisis dan mengetahui sifat
fisik dari suatu bahan misalnya, bulk density, massa jenis (density), sudut repos,
dan spesifik gravity di penanganan bahan hasil pangan
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2,1 Landasan teori :

Karakter atau sifat-sifat yang dimiliki oleh bahan hasil pertanian, dan
untuk mempermudah dalam proses pengklasifikasian dan proses penanganan
maka karakteristik tersebut dibagi menjadi empat karakteristik utama yaitu:

1. Karakteristik fisik, meliputi: kadara air, bentuk dan ukuran, volume,


densitas, specic gravity, porositas, dan luas permukaan.
2. Karakteristik friksi, meliputi: sudut repos (angle of repose).
3. Karakteristik aero dan hidrodinamis, meliputi: terminal velocity
(kecepatan termal), drag koefisien (koefisien drag).
4. Karakteristik termal, meliputi: panas spesifik, konduktivitas termal,
difusitivitas termal, entalpi.
Pengetahuan mengenai densitas dan spesific gravity dari bahan hasil
pertanian memiliki peranan yang sangat penting dalam proses penanganan bahan
hasil pertanian tersebut. Data densitas dan spesific gravity bahan diperlukan
dalam proses pengeringan dan penyimpanan biji-bijian, proses sortasi, grading,
pengemasan, rancang bangun alat dan mesin pertanian dan lain-lain.

Densitas

Density adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda. Kerapatan


(density) merupakan jumlah / kwantitas suatu zat pada suatu unit volume. Rumus
densitas dijelaskan dengan:

ρ = m / V = 1 / vg (1)

Density dapat dinyatakan dalam tiga bentuk :


1. Massa density (p) satuan dalam SI adalah (kg/m3)
2. Berat spesifik (specific weight) (y) = p . g satuan dalam 31 = N/m3 dimana g=
percepatan gravitasi (~9,81 mls2)
3. Spesifik gravity (s.g) merupakan perbandingan antara density dengan berat
spesifik suatu zat terhadap density atau berat spesifik suatu standard zat
(umumnya terhadap air). Jadi spesifik gravity tidak mempunyai satuan.

Sedangkan, Bulk Density adala Kerapatan yang bisa diartikan sebagai


salah satu sifat fisik bahan yang umumnya digunakan dalam suatu gudang
penyimpanan dan volume alat pengolahan. Dalam penentuan bulk density perlu
diketahui terlebih dahulu volume solid suatu komoditas pertanian yakni dengan
membagi berat air yang dipindahkan dengan densitas air. Apabila komoditas yang
diukur bersifat higroskopis, maka digunakan media lain seperti tepung. Kerapatan
ini merupakan parameter yang digunakan dalam menentukan ruang proses
maupun penyimpanan bahan.

Densitas bahan sangat sensitif dalam kuantitas gas yang terjebak di sela-
selanya dan tekanan pada alas bahan. Pada saat lainnya, densitas mencapai
kekerasannya, partikel yang kasar menahan lebih banyak pada saat bertumpuk dan
dalam pengukuran ukuran wadah. Hal ini terjadi karena udara dapat lebih mudah
terlepas dari tumpukan, kontak dalam struktur pada bijian yang besar dapat
menahan dengan kekuatan yang besar sebelum memasukan bijian yang lebih kecil
dan kontak antara struktur dengan dinding mendesak ini membuat partikel yang
lebih besar dapat masuk secara bersamaan. Sangat sulit untuk menahan dimensi
dalan kontak dalam struktur pada alas parikel yang baik dengan kuantitas air
dalam gundukan, karena udara lebih sulit untuk keluar dari celah yang sempit dan
berliku.

Hasilnya, kekuatan alas untuk menahan tekanan yang berlebihan oleh


berat partikel dipengaruhi oleh tekanan gas dan alas partikel pun tertekan. Pada
kondisi dilatasi yang ekstrim kekuatan yang tersisa di antara partikel tidak
berpengaruh dalam gaya tolak dan massa akan menjadi seperti air. (sumber:
www.bulk-online.com/ask/askme.php?id=16)

Kerapatan kamba (Bulk Density) dan spesifik gravity dari bahan hasil
pertanian memiliki peranan yang sangat penting dalam proses penanganan bahan
hasil pertanian tersebut. Sebagai contoh, data kerapatan kamba dan spesifik
gravity bahan diperlukan untuk penyimpanan biji-bijian, perencanaan silo,
bunker, hopper, perancangan pengemasan dan lain-lain.

Berat satuan bahan-bahan butiran (bulk solid) dibedakan menjadi :

a. Berat satuan partikel (γ butiran tunggal) disebut solid/particle density (γp)


b. Berat satuan curah (bulk density) yaitu berat bahan curah dibagi volume total
bahan termasuk pori-pori. Macam-macam bulk density yaitu :
1. Apparent/loose Bulk Density, yaitu densitas bahan curah hujan tanpa
pemadatan (γa)
2. Compacted/Tapped Bulk Density, yaitu densitas bahan curah hujan dengan
pemadatan (γc)
3. Working/Dinamic Bulk Density, yaitu densitas bahan curah untuk
penanganan bahan curah.

Berat jenis (Spesifik Gravity) adalah perbandingan berat bahan terhadap


berat air yang volumenya sama dengan bahan. Berat spesifik adalah berat per
satuan volum. Berat disini bersifat gaya yang ditimbulkan. Berat spesifik dapat
dijelaskan dengan

γ=ρg

dimana:

γ = specific weight (kN/m3)

ρ = density (kg/m3)

g = acceleration of gravity (m/s2)

Satuan Internasional untuk berat spesifik adalah kN/m3. Untuk satuan


britishnya adalah lb/ft3 , nilai dari g pada keadaan normal adalah 9.807 m/s2 pada
satuan internasional dan 32.174 ft/s2 pada satuan british. Spesifik grafiti (SG)
tidak mempunyai ukuran, seperti pada rasio pada material densitas, densitas pada
air sudah spesifik. Spesifik graffiti dapat dijelaskan dengan

SG = = ρ / ρH2O (3)
dimana

SG = specific gravity

ρ = density of fluid or substance (kg/m3)

ρH2O = density of water (kg/m3)

Densitas air yang biasa digunakan pada 4 oC (39oF) untuk referensi (pada
saat keadan air stabil) 1000 kg/m3 atau 62.4 lb/ft3. Ada beberapa metode yang
dapat digunakan untuk menentukan volume, densitas, spesifik gravity dari bahan
hasil pertanian, yaitu :

a. Timbangan datar,
b. Timbangan gravitasi spesifik,
c. Tabung gradient gravitasi spesifik,
d. Piknometer komparasi udara,
e. Metode piknometer.

a. Timbangan datar

Cara penggunaan timbangan datar adalah sebagai berikut, pertama-tama


bahan ditimbang dengan timbangan di udara, kemudian bahan dimasukkan ke
dalam wadah yang berisi air dan ditekan sampai tenggelam dengan sebatang alat
penekan. Berat air yang dipindahkan adalah berat wadah dan air ditambah bahan
dikurangi dengan berat wadah dan air tanpa bahan. Selanjutnya berat air yang
dipindahkan ini digunakan untuk menghitung volume bahan, yaitu :

Berat air yang dipindahkan (kg)


Volume (m3 ) 
Densitas air (kg/m3 )
Karena berat bahan di udara dan volume bahan telah diketahui, maka
densitas bahan dalam hal ini densitas massa dapat dihitung dengan cara sebagai
berikut :

massa kg 

Densitas massa kg / m3    
volume m3

Gravitasi spesific bahan dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan :

Massa di udara
Gravitasi spesifik   gravitasi spesifik air
massa air yang dipindahkan

b. Timbangan gravitasi spesifik

Timbangan gravitasi spesifik digunakan untuk mengukur volume,


densitas, dan gravitasi spesifik bahan-bahan yang berukuran kecil, misalnya biji-
bijian dan buah-buahan yang berukuran kecil.

Apabila objek lebih berat dari air, maka volumenya:

Berat .bahan.di.udara  berat.bahan.di.dalam.air


Volume bahan =
Densitas.air

Nilai specific gravity-nya dihitung dengan persamaan:

Massa.di.udara
Specific gravity bahan = x Specific gravity air
Massa.air . yang .dipindahkan
Apabila objek lebih ringan dari air, maka ikatkan benda lain yang lebih
berat dari air pada objek tersebut sebagai pemberat agar objek tersebut tenggelam.
Sehingga gravitasi spesifik dapat diketahui dengan persamaan berikut:

(Wa)objek
Specific gravity =
(Wa  Ww)objek .dan. pemberat  (Wa  Ww) pemberat

dimana:

Wa = massa di udara

Ww = massa di dalam air

c. Tabung gradien gravitasi spesifik

Prinsip kerja tabung gradien gravitasi spesifik adalah pengamatan tinggi


kedudukan objek yang tenggelam dalam kolom berskala yang berisi cairan,
dibandingkan dengan pelampung kaca acuan.

Bahan-bahan atau (objek) yang dapat diukur volume, densitas, dan


gravitasi spesifiknya dengan alat ini hanyalah bahan-bahan yang bersifat tidak
dapat ditembus oleh cairan dalam kolom sampai objek tersebut mencapai
kedudukan seimbang dan diperoleh hasil pembacaan pada skala.

Cara penggunaan alat ini adalah sebagai berikut, objek diletakkan secara
tepat dalam tabung dan dibiarkan mencapai kesetimbangan dengan cairan. Pada
saat itu tinggi kedudukan objek dalam tabung dibaca dan dengan menggunakan
acuan kurva kalibrasi sehingga gravitasi spesifik dari objek dapat ditentukan.

d. Piknometer komparasi udara

Piknometer komparasi udara berfungsi untuk mengukur volume


sebenarnya (true volume) dari suatu bahan. Alat ini memiliki prinsip kerja sebagai
berikut, sebuah katup penghubung kedua ruang, indikator beda tekanan dan
sebuah skala yang dikalibrasikan pada volume pada cc (cubic centimeters).

Apabila katup penghubung tertutup, setiap perubahan posisi sebuah piston


harus diduplikasi oleh adanya stroke atau gerakan piston yang lain untuk menjaga
kesamaan tekanan pada masing-masing sisi yang ditunjukkan oleh indicator
tekanan. Kalau katup penghubung ditutup dan kedua piston digerakkan dengan
posisi yang sama, maka pemasukan suatu sampel ke dalam ruang pengukur akan
mengakibatkan timbulnya perbedaan tekanan piston dari posisi semula yang
terjadi akibat pemasukan sample sebanding dengan volume sample tersebut.

e. Metode piknometer

Untuk padi dan biji-bijian, metode botol gravitasi spesifik atau piknometer
dan toluena telah digunakan selama bertahun-tahun (Bailey, 1912 dalam
Mohsenin, 1980). Prosedur penentuan gravitasi spesifik bahan dengan
menggunakan piknometer dan toluene adalah sebagai berikut :

1. Menentukan kapasitas piknometer dengan menimbang beratnya dalam


keadaan kosong dan dalam keadaan berisi penuh dengan air suling pada
suhu 20oC.
2. Gravitasi spesifik dari toluene ditentukan dengan membandingkan berat
toluene dan air dalam piknometer pada suhu yang sama.

BeratTolue na
Specific gravity toluena =
BeratAir

3. Sampel biji 10 gram dimasukkan ke dalam piknometer dan ditambahkan


sejumlah toluena sehingga dapat menutup sample.
4. secara pelan-pelan udara yang ada dalam piknometer dikeluarkan dengan
pompa vakum untuk membantu pengeluaran udara di bawah permukaan
rambut biji dan lipatan-lipatan biji.
5. apabila gelembung udara sudah habis yakni setelah beberapa kali
pemvakuman, botol diisi dengan toluene dan biarkan suhunya mencapai
20oC.
6. botol piknometer ditimbang dan gravitasi spesifik biji sample dihitung
dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

Gravitasi Specific Toluena  Berat Sampel


Specific gravity sample =
Berat Toluena Yang Di pindahkan Dari Sampel

Berat toluena yang dipindahkan diperoleh dengan cara mengurangkan berat


botol yang berisi penuh toluene dengan sewaktu berisi sample biji. Sedangkan
volume sample dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :

Berat Sampel
Volume sample =
Gravity Spesifik Sampel

(Sudaryanto, 2005)

Toluena (C6H5CH3) memiliki beberapa keuntungan, yaitu:

 Tegangan permukaannya kecil, memungkinkannya untuk dapat mengalir


pada permukaan biji sampel dengan mudah.
 Kemungkinan melarutkan komponen biji terutama lemak dan protein
sangat kecil.
 Suhu didihnya agak tinggi.
 Kalau kontak dengan udara atmosfir, tidak mengalami perubahan gravitasi
spesifik dan viskositas.
 Gravitasi spesifiknya relatif rendah.
 Tendensinya kecil untuk masuk ke dalam biji sampel.
Densitas kamba (bulk density) dan densitas nyata atau massa (mass
density) merupakan salah satu karakteristik biji-bijian yang seringkali digunakan
untuk merencanakan suatu gudang penyimpanan, volume alat pengolahan atau
sarana transportasi; mengkonversikan harga satuan dan sebagainya. Densitas
kamba adalah perbandingan bobot bahan dengan volume yang ditempatinya,
termasuk ruang kosong di antara butiran bahan, sedangkan densitas nyata adalah
perbandingan bobot bahan dengan volume yang hanya ditempati oleh butiran
bahan, tidak termasuk ruang kosong di antaranya.

Densitas kamba biji-bijian dapat diukur dengan menggunakan wadah


literan, yaitu menimbang bahan yang menempati wadah literan tersebut sesuai
dengan volume yang ditunjukkannya. Densitas nyata dapat diukur dengan
menggunakan gelas ukur yang diisi toluene sampai volume tertentu. Kenaikan
volume toluen yang diakibatkan oleh jumlah bobot butiran bahan diukur.

Nilai densitas massa (mass density) lebih tinggi daripada densitas kamba
suatu bahan karena pada densitas massa ruang atau celah di antara bahan tidak
dihitung.

Spesific gravity suatu bahan adalah perbandingan densitas bahan tersebut


dengan densitas air. Jika densitas air adalah 1 gram/cm3, dan komponen lain tidak
diperhitungkan, maka spesific gravity suatu bahan akan sama dengan densitas
bahan tersebut, tetapi tanpa satuan. Spesific gravity tidak memiliki satuan,
artinya, spesific gravity untuk satuan metrik sama dengan spesific gravity pada
satuan British. Spesific gravity bahan dapat dihitung dengan rumus:

SG bahan = berat bahan x spesific gravity air

Berat bahan dalam air


Karakteristik friksi yang perlu diketahui dalam perancangan mesin-mesin
pascapanen dari bahan hasil pertanian terutama biji-bijian adalah sudut repos
(angle of repose). Biasanya sudut repos diperlukan untuk menentukan sudut
kemiringan corong pengumpan (hopper) atau kemiringan saringan mesin sortasi.

Sudut repos (angle of repose)

Biasanya sudut repos diperlukan untuk menentukan sudu kemiringan


corong atau kemiringan mesin sortasi. Sudut repos adalah sudut yang terbentuk
antara bidang alas datar dan bidang miring dari suatu bentuk segitiga pada saat
bahan curah (biji-bijian) mulai bergerak jatuh secara bebas. Nilai sudut repos
dipengaruhi oleh bentuk,ukuran,kadar air, dan orientas bahan. Sudut repos terbagi
atas :

a. sudut repos statik, yaitu sudut gesek antara bijian diambang batas gerak.
b. sudut repos dinamik, yaitu sudut antara lereng timbunan bijian denan
permukaan horizontal.
Sudut poros juga berhubungan dengan sudut gesek, yang akan mengatur
tentang material biji. Sudut repos adalah sudut maksimum dari kemiringan dari
ketentuen gesekan, kohesi dan ketajaman partikel. Pada saat tekanan material biji
dituangkan ke permukaan yang datar, gundukan berbentuk kerucut akan
terbentuk. Sudut dalam antara permukaandan gundukan dan sisi horizontal adalah
sudut repos dan ini berhubungan dengan pemadatan, area permukaan, dan
koefisien gesekan dari bahan tersebut. Bahan dengan sudut repos yang rendah
berbentuk lebih datar daripada yang mempunyai sudut repos lebih tinggi. Dalam
kata lain, sudut repos adalah sudut antara gundukan dan permukaannya.
Sudut repos dapat juga disebut sudut yang terbentuk antara bidang alas
datar dan bidang miring dari suatu bentuk segitiga pada saat bahan curah (biji-
bijian) mulai bergerak jatuh secara bebas. Secara sederhana, sudut repos dapat
ditentukan dengan alat pengukur sudut repos. Sudut repose terkadang digunakan
untuk mendisain peralatan untuk memproses partikel keras. contohnya, digunakan
untuk mendisain dan hopper atau silo yang tepat untuk menyimpan materi. Dapat
juga digunakan untuk baik tidaknya kemiringan yang dibuat. Sudut repos ini juga
untuk menetapkan perhtungan untuk wadah yang tepat untuk bahan hasil
pertanian.

Biasanya sudut repos diperlukan untuk menentukan sudut kemiringan


corong pengumpan (hopper) atau kemiringan saringan mesin sortasi. Sudut repos
terbagi :

1) Sudut repos statik, yaitu sudut geser antar biji-bijian diambang batas gerak
2) Sudut repos dinamik, yaitu sudut antara lereng timbunan bijian dengan
permukaan horizontal.

Menurut Sahay dan Singh (1994), nilai sudut repos dari suatu bahan
dipengaruhi oleh:

1. Bentuk
2. Ukuran
3. Kadar air
4. Orientasi bahan
Sudut curah atau sudut repos adalah sudut yang terbentuk antara bidang
datar dengan sisi miring curahan bila sejumlah biji dituangkan dengan cepat di
atas bidang datar. Sudut repos penting artinya untuk desain wadah, fasilitas
penyimpanan, dan alat-alat pembantu lain dalam pengolahan biji-bijian.

Sudut repos ditentukan dengan menggunakan alat pengukur sudut repos.


Bahan dimasukkan dalam alat dan sudut dirubah-rubah sampai bahan akan
bergerak ke bawah. Sudut repos adalah sudut pada saat bahan mulai bergerak.
Sudut repos juga dapat ditentukan melalui perhitungan, yaitu dengan mengukur
diameter curahan dan tinggi curahan.
t 2t
tg  
0,5d d

α
d

Besar kecilnya sudut repos dapat dipengaruhi oleh besarnya gesekan yang
terjadi. Gesekan tersebut dapat dipengaruhi oleh ukuran, bentuk, massa bahan,
dan kadar air bahan. Selain pengaruh yang terdapat pada bahan itu sendiri, sudut
repos dipengaruhi pula oleh sifat alas tempat curah biji-bijian. Bahan untuk
pembuatan alas dapat mempengaruhi koefisien geseknya terhadap biji-bijian.
BAB III

METODOLOGI

3.1 ALAT DAN BAHAN

Alat : Bahan :

1. Timbangan analitik, 1. kacang kedelai,

2. alat pengukur sudut repos. 2. jagung

3. baker glass, 3. kacang ijo

4. Korek api 4. terung

5. gelas ukur, 5. air.

3.2 PROSEDUR PERCOBAAN

Prosedur percobaan praktikum meliputi :

1. menganalisis Bulk Density,


a. sejumlah bahan ditimbang dengan timbangan analitik
b. Ukurlah volume bahan bahan tadi menggunakan gelas ukur/gelas
baker.
c. Lalu hitung bulk density bahan sebagai berikut :
bulk density (γ) = massa bahan/volume bahan

2. Menentukan Specific Gravity


a. Timbang sejumlah bahan dengan timbangan analitik
b. Berikan air ke dalam gelas ukur lalu kemudian menimbang gelas
yang telah diisi air (massa wadah + air)
c. masukan bahan ke dalam gelas ukur yang telah diisi air dan catat
massanya (massa wadah + air +bahan)
d. kemudianhitung specific gravity bahan sebagai berikut:
Dimana massa air yang dipindahkan = ( massa wadah + air +
bahan ) – ( massa wadah + air )

3. Menentukan Sudut Repos


a. Letakanlah bahan pada permukaan bidang atas di alat pengukur
sudut repos
b. Lalu dinaikanaikkanlah lapisan atas dari alat pengukur sudut repos
sedikit demi sedikit sampai dengan bahan mulai bergerak turun dan
mengamati busur derajat untuk melihat besarnya sudut yang
terbentuk antara lapisan bawah dan lapisan atas dari alat pengukur
repos.
c. Pada saat bahan mulai bergerak catatlah sudut yang terbentuk
(sudut repos bahan)
d. Ulangi pengukuran masing-masing permukaan sebanyak 30 kali.
4. Mengukur densitas bahan pertanian porus berbentuk tak menentu dengan
pelapisan lilin
a. Siapkan sampel dan timbang beratnya, ms
b. Siapkan air dan ukur volumenya, Va
c. Panaskan ilin sampai mencair,
d. Setelah lilin mencair, celupkan sampel ke dalam lilin kemudian
timbang berat sampel berlapis lilin, msl
e. Masukan sampel berlapis lilin ke dalam air. Ukur volume air
ditambah sampel dan lilin, V s+1+a
f. Hitung volume lilin, V1
g. Hitung volume sampel berdasarkan persamaan Vs = V s+1+a - V1 -
Va
h. Hitung densitas sampel ρs = ms / Vs
BAB IV

HASIL PERCOBAAN

1. Bulky Density
a. Jagung

Percobaan Massa (g) Volume (ml) (gr/ ml)


1 3,03 18,5 – 15 = 3,5 0,866
2 3,05 17 – 15 = 2 1,525
3 2,97 16 – 15 = 1 2,97
1,787± 1,076
0,866  1,525  2,97
Rata-rata ρ =  1,78 g/ml
3

b. Kedelai

Percobaan Massa (g) Volume (mL) (gr /ml)


1 2,99 16 – 15 = 1 2,99
2 3,03 16,5 – 15 = 1,5 2,02
3 2,99 18 – 15 = 3 0,997
2,002 ± 0,966
2,99  2,02  0,997
Rata-rata ρ =  2,002 g/ml
3

c. Kacang Hijau

Percobaan Massa (g) Volume (mL) (gr /ml)


1 3,02 17 – 15 =2 1,51
2 3,00 17,25 – 15 = 2,25 1,33
3 3,04 17 – 15 = 2 1,52
1,453 ± 0,105
1,51  1,33  1,52
Rata-rata ρ =  1,453 g/ml
3

2. Specific Gravity
a. Jagung
Percobaan Massa bahan Massa wadah + air Massa wadah + SG
di udara (g) (g) air + bahan
1 3,02 52,08 55,20 0,97
2 2,98 52,07 54,50 1,23
3 3,00 52,09 54,49 1,25
± SD 1,15 ± 0,16

Dimana: massa air yang dipindahkan = (massa wadah + air + bahan) - (massa
wadah + air) dan berat jenis air = 1 g/cm3

Percobaan 1:

Percobaan 2:

Percobaan 3:

SD

b. Kedelai
Percobaan Massa bahan Massa wadah + air Massa wadah + SG
di udara (g) (g) air + bahan
1 3,01 52,08 55,54 0,87
2 3,03 52,07 55,49 0,89
3 3,03 52,09 55,50 0,89
± SD 0,88 ± 0,01

Percobaan 1:

Percobaan 2:

Percobaan 3:

SD

c. Kacang Hijau
Percobaan Massa bahan Massa wadah + air Massa wadah + SG
di udara (g) (g) air + bahan
1 3,01 52,08 56, 04 0,76
2 3,03 52,07 56,03 0,77
3 3,05 52,09 56,03 0,77
± SD 0,77 ± 0,02

Percobaan 1:

Percobaan 2:

Percobaan 3:

SD

3. Sudut Repos mika

Perhitungan jagung(x) kedelai(x) Kacang ijo (x2) (x2) (x2)


1 26 8 19 361 64 676
2 24 9 15 225 81 576
3 27 8 20 400 64 729
4 29 15 15 225 225 841
5 28 11 9 81 121 784
6 27 7 16 256 49 729
7 27 11 10 100 121 729
8 28 6 17 289 36 784
9 25 18 24 576 324 625
10 29 16 17 289 256 841
Jumlah ∑x = 270 ∑x = 109 ∑x = 162 ∑x2 = ∑x2 = ∑x2 =
Rat-rata x  27 x  10,9 x  16,2 2802 1341 7314
Sudut repoa 27 ± 1,63 10,9 ± 4,12 16,2 ± 4,44
SD
 Jagung
 
n  x 2   x 
2

SD 
nn  1

107314  270
2
240
SD    1,63
1010  1 90
 Kedelai
 
n  x 2   x 
2

SD 
nn  1

101341  109
2
1529
SD    4,12
1010  1 90
 Kacang Ijo
 
n  x 2   x 
2

SD 
nn  1
102802  162
2
1776
SD    4,44
1010  1 90

4. Densitas

Volume
Massa Volume Massa
Perco Sampel + Volume Volume
Sampel Air Sampel + x2
baan Lilin + Air Lilin Sampel Sampel
(gr) (x) (ml) Lilin (gr)
(ml)
1 3,46 15 12,79 23,5 5,12
2 3,5 15 9,64 20 4,80
3 3,37 15 11,93 21,5 9,20 1,56
= -1,9 ± 0,57

 Massa lilin = ( massa sampel+lilin – massa sampel ) sehingga didapatkan


nilai massa lilin sebagai berikut :



 Volume lilin = ( massa lilin / ρ lilin ) sehingga didapatkan nilai volume lilin
sebagai berikut :
 Volume sampel = (vol. sampel + lilin + air) – (vol. lilin) – ( vol. air) sehingga
didapatkan nilai volume sampel sebagai berikut:
– –
– –
– –
 ρ sampel = ( massa sampel / Volume sampel ) sehingga didapat nilai ρ sampel
sebagai berikut :

Data no 5.
jagung kedelai kcg
no jagung kedelai kacang ijo kuadrat kuadrat kuadrat
1 30 24 30 900 576 900
2 33 11 10 1089 121 100
3 30 29 29 900 841 841
4 25 19 17 625 361 289
5 34 15 20 1156 225 400
6 33 22 30 1089 484 900
7 26 10 15 676 100 225
8 29 15 34 841 225 1156
9 20 26 12 400 676 144
10 32 10 20 1024 100 400
rata-rata 29,2 18,1 21,7
jumlah ∑x2
kuadrat 85264 32761 47089 8700 ∑x2 3709 ∑x2 5355
standart
deviasi 4,39 6,94 8,47

 Standar Deviasi jagung =


 (xi - x) 2

= 4,39
n 1
 Rentang nilai sudut repos untuk jagung adalah 29,2±4,39
 Standar Deviasi kedelai =
 (xi - x) 2

= 6,94
n 1
 Rentang nilai sudut repos untuk jagung adalah 18,1±6,94

 Standar Deviasi kedelai =


 (xi - x) 2

= 8,47
n 1
 Rentang nilai sudut repos untuk jagung adalah 21,7±8,47
BAB V

PEMBAHASAN

Dari hasil praktikum mengenai kerapatan kamba (bulk density), densitas,


Specific Gravity dan Sudut Repos dari bahan pangan seperti terong, jagung,
kacang hijau dan kedelai, menggunakan alat yang sesuai dengan prosedur
kegiatan, maka kita akan mendapatkan hasil analisa. Dari hasil analisis,
didapatkan interval sebagai berikut:

kerapatan sudut repos sudut repos


jenis kamba SG mika kayu
jagung 1,787± 1,076 1,15 ± 0,16 27 ± 1,63 29,2±4,39
kacang hijau 1,453 ± 0,105 0,77 ± 0,02 16,2 ± 4,44 21,7±8,47
kedelai 2,002 ± 0,966 0,88 ± 0,01 10,9 ± 4,12 18,1±6,94

Dengan mengetahui nilai interval tersebut, kita dapat mengatahui seberapa


besar ketelitian dalam melakukan percobaan karena sudut deviasi menjadi
indikator tingkat kecermatan dalam perhitungan percobaan. Sedangkan dalam
percobaan bahan pangan terung dalam densitas, hasil analisis adalah -1,9 ± 0,57.
Jika kita amati dengan cermat, nilai standar deviasi hasil percobaan kerapatan
kamba, SG dan densitas menunjukkan angka yang ralatif masih kecil yakni
diantara 0 s/d 2. Hal ini menunjukan tingkat ketelitian dalam percobaan sudah
baik. Sedangkan dalam percobaan sudut repos, tingkat eror terlihat lebih besar
dari percobaan sebelumnya, karena standar deviasi lebih besar. Standar deviasi
suatu percobaan sangat dipengaruhi oleh pengambilan sampel saat percobaan
dilakukan. Oleh karena itu, dalam pengukuran sudut repos, diperlukan tingkat
ketelitian yang baik.
Dalam percobaan kerapatan kamba,berat jenis masing masing bahan
percobaan dipengaruhi oleh massa serta volume bahan tersebut. Sehingga berat
jenis terbesar adalah kedelai dengan nilai rho 2,002. Untuk percobaan spesifik
gravity nilai terbesar diperoleh biji jagung yakni 1,15. Nilai yang besar ini
dipengaruhi oleh berat jagung (massa jagung) yang lebih berat dibandingkan
kedelai atau kacang hijau. Massa jagung ini berpengaruh pula dalam perhitungan
standar deviasi. Untuk sudut repos, besarnya kesempatan lebih cepatnya bahan
akan menggelinding kebawah di permukaan mika lebih besar ketimbang di
permukaan kayu, karena permukaan mika lebih licin daripada permukaan kayu.
Oleh karena itu, ini menjadi salah satu faktor hasil perhitungan rata-rata di
permukaan mika lebih kecil daripada dipermukaan kayu. Untuk bahan pangan
yang mudah menggelinding dalam derajat 0-20 adalah kedelai hal ini karena
permukaan kedelai yang licin dan cukup berat massanya dibandingkan kacang
hijau dan jagung, maka dari itu , rata-rata kedelai di mika dan jagung paling kecil
nilainnya.
BAB VI

KESIMPULAN

1) Dengan mengetahui Kerapatan Kamba (bulk density), densitas, Specific


Gravity dan Sudut Repos bisa meminimalisir kerusakan bahan pertanian
yang telah dicobakan.
2) Dengan berbagai percobaan diatas, kita dapat merancang mesin seperti apa
yang aman dipergunakan untuk bahan pertanian, pengoperasian
meminimalisir kerusakan, dsb.
3) Dengan mengetahui Kerapatan Kamba (bulk density), Specific Gravity
dan Sudut Repos kita dapat mengukur densitas dari produk pertanian yang
berbentuk tidak beraturan.
BAB VII

DAFTAR PUSTAKA

Rusendi, Dadi. Sudaryanto. Nurjannah, Sarifah. Widyasanti, Asri. Rosalinda, S.


2010. Penuntun Praktikum MK. Teknik Penanganan Hasil Pertanian. Unpad

Zain, Sudaryanto. dkk. 2005. Teknik Penanganan Hasil Pertanian. Pustaka


Giratuna, Bandung.
BAB VIII
LAMPIRAN

Gambar pengukuran sudut repos kayu dan mika


Gambar pengukuran densitas
Gambar pengukuran keraptan kambah

Gambar pengukuran spesifik gravity