Anda di halaman 1dari 9

UTILITARISME

MAKALAH

Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Etika

Disusun Oleh:

Annisa Nurul Chaerani

Dendi Fachrurrozi

Indriati Widianingrum

Sani Arifah

Velly Febrian Praharti

DIII ANALIS KESEHATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

JENDERAL AHMAD YANI

CIMAHI
2

2011

DAFTAR ISI

Halaman

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang …………………………………….. 1

B. Tujuan ……………………………………………... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Utilitrisme ……………………………… 2

B. Pembagian Utilitarisme ………………………… 3

C. Kekurangan Utilitarisme ………………………… 3

BAB III PEMBAHASAN ……………………………………... 5

BAB IV KESIMPULAN ………………………………………. 7

DAFTAR ISI ……………………………………………………… i

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………… 8


3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Etika adalah salah satu cabang filsafat (penerapan prinsip-prinsip


etika) yang mendalami pertanyaan tentang moralitas, mulai dari dasar
bahasa yang dipakai, ontologi dan hakikat pengetahuan terhadap etika
atau moral (biasa disebut sebagai meta-etika), bagaimana seharusnya nilai
moral dibatasi (etika normatif), bagaimana akibat (konsekuensi) moral
dapat muncul dalam satu situasi (etika terapan), bagaimana kapasitas
moral atau pelaku (manusia) moral dapat mengeluarkan pendapat dan apa
hakikatnya (psikologi moral) dan memaparkan apa nilai moral yang
biasanya diaptuhi oleh orang (etika deskriptif).

Prinsip-prinsip etika tdak berdiri sendiri, tetapi tercantum dalam


suatu kerangka pemikiran sistematis yang disebut teori.Pada kenyataannya
terdapat banyak teori etika. Sepanjang sejarah telah dikembangkan
berbagai teori yang berbeda, sehingga justifikasi bagi perbuatan-perbuatan
moral kita menjadi berbeda. Hal ini mengakibatkan banyak diskusi para
teoritisi, walaupun dalam prakteknya sering kali perbedaannya diperkecil,
karena para teori-teori yang berbeda itu bisa menunjukkan ke arah yang
sama.

B. Tujuan

1. Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Etika


4

2. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai Teori Etika


khusunya Utilitarisme.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Utilitarisme

Utilitarisme berasal dari kata “utility” artinya kemanfaatan,

kegunaan dan kefaedahan. Dengan demikian, menurut aliran ini sesuatu

dikatakan baik ketika itu bermanfaat, berfaedah atau berguna. Aliran ini

memberikan suatu norma bahwa baik buruknya suatu tindakan oleh akibat

perbuatan itu sendiri. Tingkah laku yang baik adalah yang menghasilkan

akibat-akibat baik sebanyak mungkin dibandingkan dengan akibat-akibat

buruknya. Setiap tindakan manusia harus selalu dipikirkan, apa akibat dari

tindakannya tersebut bagi dirinya maupun orang lain dan masyarakat.

Utilitarisme mempunyai tanggung jawab kepada orang yang

melakukan suatu tindakan, apakah tindakan tersebut baik atau buruk.

Tokoh-tokoh aliran ini adalah Jeremi Bentham (1748-1832) dan John Stuart

Mill (1806-1873).

Bentham merumuskan prinsip utilitarisme sebagai the greatest

happiness fot the greatest number (kebahagiaan yang sebesar mungkin

bagi jumlah yang sebesar mungkin). Prinsip ini menurut Bentham harus
5

mendasari kehidupan politik dan perundangan. Menurut Bentham

kehidupan manusia ditentukan oleh dua ketentuan dasar: nikmat (pleasure)

dan perasaan sakit (pain). Oleh karena itu, tujuan moral tindakan manusia

adalah memaksimalkan perasaan nikmat dan meminimalkan rasa sakit.

Prinsip dasar Ultilitarisme adalah Tindakan atau peraturan yang

secara moral betul adalah yang paling menunjang kebahagiaan semua yang

bersangkutan atau bertindaklah sedemikian rupa sehingga akibat

tindakannmu menguntungkan bagi semua yang bersangkutan.

B. Pembagian Utilitarisme

1. Utilitarisme perbuatan (act utililitarianism)

Menyatakan bahwa kita harus memperhitungkan, kemudian

memutuskan, akibat-akibat yang dimungkinkan dari setiap tindakan

aktual ataupun yang direncanakan.

2. Utilitarisme aturan (rule utilitarianism)

Menyatakan bahwa kita harus mengira-ngira, lalu memutuskan, hasil-

hasil dari peraturan dan hukum-hukum.

C. Kelemahan Utilitarisme

1. Manfaat merupakan konsep yang begitu luas sehingga dalam kenyataan


praktis akan menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit.
6

2. Etika utilitarisme tidak pernah menganggap serius nilai suatu tindakan


pada dirinya sendiri dan hanya memperhatikan nilai suatu tindakan
sejauh berkaitan dengan akibatnya.
3. Etika utilitarisme tidak pernah menganggap serius kemauan baik
seseorang.
4. Variabel yang dinilai tidak semuanya dapat dikualifikasi.
5. Seandainya ketiga kriteria dari etika utilitarisme saling bertentangan,
maka akan ada kesulitan dalam menentukan prioritas diantara
ketiganya.
6. Etika utilitarisme membenarkan hak kelompok minoritas tertentu
dikorbankan demi kepentingan mayoritas .
7

BAB III

PEMBAHASAN

Perbuatan yang sempat mengakibatkan paling banyak orang merasa


senang dan puas adalah perbuatan yang terbaik. Mengapa melestarikan
lingkungan hidup, merupakan tanggung jawab moral kita? Utilitarisme
menjawab : karena hal itu membawa manfaat paling besar bagi umat manusia
sebagai keseluruhan, termasuk juga generasi-generasi sesudah kita. Kita tentu
bisa meraih banyak manfaat dengan menguras kekayaan alam melalui
teknologi dan industri, hingga sumber daya alam rusak atau habis sama sekali,
tapi dengan demikian kita merugikan anak-cucu kita. Karena itu, menurut
utilitarisme upaya pembangunan berkelanjutan (sustain-able development)
menjadi tanggung jawab moral kita.

Ada seseorang ragu-ragu apa mau pergi ke rumah pelacuran untuk


melepaskan dorongan seks mengingat istrinya yang sakit tidak dapat melayani
kebutuhannya, atau haruskah ia tetap setia kepada istrinya? Agar ia memilih
dengan benar, menurut utilitarisme ia harus mencek mana dari dua alternatif
itu menghasilkan nikmat lebih banyak dan ketidakenakan lebih sedikit.
8

Menurut prinsip Mill bahwa yang harus dipilih adalah kesetiaan pada istri.
Karena kesetiaan adalah nilai rohani dan nilai rohani lebih luhur daripada
jasmani.

Orang-orang yang sengaja tidak banyak bersosialisasi sehingga dapat


belajar dan berhasil di dalam ujiannya atau orang yang hidup hemat untuk bisa
menabung dan membeli apa yang diinginkannya pada masa depan. Akan
tetapi, hal ini tidak berlaku pada semua kasus. Kenikmatan dan juga rasa sakit
adalah sebuah sensasi (sensation) dan orang seringkali mengabaikan akibat
jangka panjang dari sensasi. Mereka hanya ingin sekedar merasakan. Oleh
karena itu, lebih baik kita berbicara tentang kebahagiaan daripada tentang
kenikmatan ataupun rasa sakit karena orang yang memilih untuk tidak
menonton bioskop dan pergi bersama kekasihnya untuk belajar, mengangap
lulus ujian adalah kebahagiaan yang lebih besar daripada pergi bersama
kekasihnya. Walaupun lulus, ia harus berjuang dan menderita terlebih dahulu.

Utilitarisme mengalami perkembangan menjadi utilitarisme pilihan.


Utilitarisme pilihan sebenarnya memiliki tujuan yang sama dengan utilitisme
klasik, yakni memaksimalkan kebahagian. Akan tetapi, konsepsi kebahagian
yang digunakan memiliki perbedaan, yakni kebahagiaan sebagai pemuasaan
dari hasrat-hasrat (desires).
Kebahagiaan sebagai pencapaian keinginan-keinginan mencerminkan
kedalaman pemakna akan kehidupan. Konsep ini juga melihat manusia sebagai
makhluk yang otonom yang mampu menentukan apa yang menjadi cita-cita
mereka di dalam hidup. Sementara itu didalam utilitalisme klasik, kenikmatan
sungguh menjadi tolak ukur utama bagi moralitas.
Contoh :
Ada seseorang menderita pedofilia. Ketika melihat seorang anak kecil, orang
itu memiliki keinginan untuk menyerang anak tersebut. Ternyata, anak itu
9

sendiri tidak keberatan, jika orang itu yang menderita pedofilia tersebut
menyerangnya. Bahkan anak itu menginginkannya. Dengan kata lain, tidak ada
paksaan. Tindakan menyerang ternyata memberikan kenikmatan bagi kedua
belah pihak.
Kenikmatan sensasional tidak dapat menjadi kriteria utama bagi
tindakan moral. Fakta bahwa suatu tindakan menghasilkan kenikmatan yang
besar tidak otomatis membuat tindakan itu menjadi bermoral, sering kali,
kebalikannya yang benar, justru karena tindakan itu menghasilkan kenikmatan
yang besar, tindakan itu menjadi tidak bermoral.

DAFTAR PUSTAKA

Anshory, M. Nasruddin. (2008). Dekonstruksi kekuasaan: konsolidasi semangat


kebangsaan. Yogyakarta: LKIS.

Bertens, Kess. (2000). Pengatar Etika Bisnis. Yogyakarta: Kanisius.

Teichman, Jenny. (1998). Etika sosial. Yogyakarta: Kanisius.

Wattimena, Reza AA. Sebuah Pengantar Filsafat Sains. Jakarta: Grasindo.