Anda di halaman 1dari 30

1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Perlindungan tanaman meliputi segala kegiatan perlindungan terhadap
kerusakan pertanaman mulai dari tanam sampai diterima konsumen.
Perlindungan tanaman menyangkut seluruh kegiatan pertanian dan peraturan
hukum, ditinjau dari segi keuntungan produsen. Pengetahuan perlindungan
tanaman dalam arti luas mempelajari gangguan karena penyakit, hama, gulma
tanaman dan pengganggu abiotik serta cara penanggulangannya.
Pertanian merupan usaha bercocok tanam yang penuh resiko. Hal
tersebut dikarenakan adanya pengganggu dari jasad hidup atau sering disebut
dengan jasad pengganggu. Djafaruddin (1996), membedakan jasad
pengganggu menjadi hama, penyakit dan gulma.

1.2 Tujuan Praktikum


Tujuan kegiatan praktikum antara lain sebagai berikut:
1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi gejala-gejala serangan hama.
2. Mahasiswa mengenali jenis-jenis hama yang umum menyerang tanaman
budidaya dilapangan.
3. Mahasiswa menyerap pengetahuan dan pengalaman petani dalam metode
pengendalian dan pemberantasan hama yang biasa digunakan oleh
petani.
4. Mahasiswa mengetahui dan membandingan antara teori yang
diterimanya dengan fakta dilapangan.

1.3 Manfaat Praktikum


1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi gejala-gejala serangan hama.
2. Mahasiswa mengenali jenis-jenis hama yang umum menyerang tanaman
budidaya dilapangan.

1
3. Mahasiswa menyerap pengetahuan dan pengalaman petani dalam metode
pengendalian dan pemberantasan hama yang biasa digunakan oleh
petani.
4. Mahasiswa mengetahui dan membandingan antara teori yang
diterimanya dengan fakta dilapangan.

2
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum


Salah stu factor penyebab gagal panen dialami oleh petani adalah karena
serangan Hama pada tanaman budidaya. Hama merupakan Organisme
Pengganggu Tanaman (OPT) yang menjadi Vektor penyakit.
Hama ialah jasad pengganggu yang merupakan sejenis makhluk hidup
yang termasuk kedalam kelompok hewan. Jenis hama dapat dikelompokan
menjadi 6 (enam) kelompok, antara lain :
- Serangga (insecta) misalnya walang sangit, wereng dan lain-lain.
- Binatang menyusui (mamalia) misalnya babi, tikus dan lain-lain.
- Binatang lunak (mollusca) misalnya keong emas, bekicot dan lain-lain.
- Kaki delapan (acarina) misalnya tungau.
- Kaki seribu (thrimp) misalnya luing.
- Burung (aves) misalnya pipit.
Pengendalian OPT tersebut di atas yang terbaik adalah preventif
dibandingkan kuratif. Pengendalian secara preventif dapat berhasil manakala
petani sering mengunjungi tanaman yang diusahakan. Di samping itu,
pengetahuan tentang biologi hama dan identifikasinya yang akurat merupakan
prasyaratan bagi keberhasilan suatu usaha pengendalian jasad pengganggu
tanaman.
Permasalahn timbulnya gangguan atau kerusakan oleh jasad pengganggu
tanaman dipengaruhi oleh 5 (lima) faktor utama, yaitu : manusia, tanaman inang,
hama, lingkungan dan waktu
Hama dapat dikelompokan dalam beberapa kategori berdasarkan tipe kerusakan
yang ditimbulkannya, yaitu sebagai berikut :
- Penghilang tegakan
- Pemakan jaringan
- Penghisap asimilat
- Pereduksi tingkat fotosintesis

3
- Pereduksi penyinaran
- Pemacu senesan daun
- Pereduksi turgor
Metode pengendalian OPT seperti metode menanam varietas yang tahan, kultur
teknik,hayati/biologis, perundangan atau karantina, serta bahan kimia berbahaya
atau pestisisda yang dapat diterapkan ,disesuikan dengan karakteristik biologi
hama tanamannya, bagian tanaman yang diserang, fase pertumbuhan tanaman
dan pertimbangan sosio-kultural masyarakat setempat. Namun secara umum,
prinsip-prinsip pengendalian jasad pengganggu tanaman tersebut dapat dibagi
menjadi 4 (empat) yaitu : 1).Eksekusi 2). Eradikasi 3). Proteksi 4).
Immunisasi.

2.2. Pencegahan Hama


Untuk mencegah serangan hama dapat dilakukan beberapa langkah berikut :
1. Rotasi tanaman dengan menanam tanaman lain yang bukan inang.
2. Pengolahan tanah yang baik
3. Melindungi musuh alami hama (Predator) dengan menyediakan habitat
yang cocok serta menghindari penggunaan pestisida berbahan aktif yang
bersifat racun yang dapat membunuh predator
4. Menyiapkan Biodinamik dari stone meal serta penggunaan mulsa pada
tanaman
5. Pengembalaan hewan ternak seperti bebek yang dapat memakan
serangga.

2.3. Morfologi Umum Hama


Untuk mengenal berbagai jenis binatang yang dapat berperan sebagai
hama, maka sebagai langkah awal dalam kuliah dasar - dasar Perlintan akan
dipelajari bentuk atau morfologi, khususnya morfologi luar (external
morphology) binatang penyebab hama. Namun demikian, tidak semua sifat
morfologi tersebut akan dipelajari dan yang dipelajari hanya terbatas pada
morfologi “penciri” dari masing-masing golongan. Hal ini bertujuan untuk
mempermudah dalam melakukan identifikasi atau mengenali jenis - jenis hama

4
yang dijumpai di lapangan. Dunia binatang (Animal Kingdom) terbagi menjadi
beberapa golongan besar yang masing-masing disebut Filum. Dari masing-
masing filum tersebut dapat dibedakan lagi menjadi golongan - golongan yang
lebih kecil yang disebut Klas. Dari Klas ini kemudian digolongkan lagi menjadi
Ordo (Bangsa) kemudian Famili (suku), Genus (Marga) dan Spesies (jenis).

Beberapa filum yang anggotanya diketahui berpotensi sebagai hama tanaman


adalah Aschelminthes (nematoda), Mollusca (siput), Chordata (binatang
bertulang belakang), dan Arthropoda (serangga, tunggau, dan lain - lain). Dalam
uraian berikut akan dibicarakan secara singkat tentang sifat-sifat morfologi luar
anggota filum tersebut.

2.3.1. Filum Aschelminthes


Anggota filum Aschelminthes yang banyak dikenal berperan sebagai
hama tanaman (bersifat parasit) adalah anggota klas Nematoda. Namun, tidak
semua anggota klas Nematoda bertindak sebagai hama, sebab ada di antaranya
yang berperan sebagai nematoda saprofag serta sebagai nematoda predator
(pemangsa), yang disebut terakhir ini tidak akan dibicarakan dalam uraian -
uraian selanjutnya.
Secara umum ciri - ciri anggota klas Nematoda tersebut antara lain
Adalah:
* Tubuh tidak bersegmen (tidak beruas)
* Bilateral simetris (setungkup) dan tidak memiliki alat gerak
* Tubuh terbungkus oleh kutikula dan bersifat transparan.
Untuk pembicaraan selanjutnya, anggota klas nematoda yang bersifat
saprofag digolongkan ke dalam nematoda non parasit dan untuk kelompok
nematoda yang berperan sebagai hama tanaman dimasukkan ke dalam golongan
nematoda parasit.
Ditinjau dari susunannya, maka bentuk stylet dapat dibedakan menjadi
dua tipe, yaitu tipe stomatostylet dan odonostylet. Tipe stomatostylet tersusun
atas bagian - bagian conus (ujung), silindris (bagian tengah) dan knop stylet
(bagian pangkal). Tipe stylet ini dijumpai pada nematoda parasit dari ordo

5
Tylenchida.

Tipe odonostylet dijumpai pada nematoda parasit dari ordo Dorylaimida, yang
styletnya tersusun atas conus dan silindris saja. Beberapa contoh dari nematoda
parasit ini antara lain adalah :
a. Meloidogyne sp. yang juga dikenal sebagai nematoda “puru akar” pada
tanaman tomat, lombok, tembakau dan lain - lain.
b. Hirrschmanieella oryzae (vBrdH) pada akar tanaman padi sawah.
c. Pratylenchus coffae (Zimm) pada akar tanaman kopi.

2.3.2. Filum Mollusca


Dari filum Mollusca ini yang anggotanya berperan sebagai hama adalah
dari klas Gastropoda yang salah satu jenisnya adalah Achatina fulica Bowd atau
bekicot, Pomacea ensularis canaliculata (keong emas). Binatang tersebut
memiliki tubuh yang lunak dan dilindungi oleh cangkok (shell) yang keras. Pada
bagian anterior dijumpai dua pasang antene yang masing-masing ujungnya
terdapat mata. Pada ujung anterior sebelah bawah terdapat alat mulut yang
dilengkapi dengan gigi parut (radula). Lubang genetalia terdapat pada bagian
samping sebelah kanan, sedang anus dan lubang pernafasan terdapat di bagian
tepi mantel tubuh dekat dengan cangkok/shell.
Bekicot atau siput bersifat hermaprodit, sehingga setiap individu dapat
menghasilkan sejumlah telur fertil. Bekicot aktif pada malam hari serta hidup
baik pada kelembaban tinggi. Pada siang hari biasanya bersembunyi pada
tempat-tempat terlindung atau pada dinding-dinding bangunan, pohon atau
tempat lain yang tersembunyi.

2.3.3. Filum Chordata


Anggota Filum Chordata yang umum dijumpai sebagai hama tanaman
adalah dari klas Mammalia (Binatang menyusui). Namun, tidak semua binatang
anggota klas Mammalia bertindak sebagai hama melainkan hanya beberapa jenis
(spesies) saja yang benar - benar merupakan hama tanaman. Jenis - jenis tersebut
antara lain bangsa kera (Primates), babi (Ungulata), beruang (Carnivora),

6
musang (Carnivora) serta bangsa binatang pengerat (ordo rodentina). Anggota
ordo Rodentina ini memiliki peranan penting sebagai perusak tanaman, sehingga
secara khusus perlu dibicarakan tersendiri, yang meliputi keluarga bajing dan
tikus.

1. Keluarga Bajing (fam. Sciuridae)


Ada dua jenis yang penting, yaitu Callossciurus notatus Bodd. dan C.
nigrovittatus yang keduanya dikenal dengan nama “bajing”. Jenis pertama
dijumpai pada daerah - daerah di Indonesia dengan ketinggian sampai 9000 m di
atas permukaan laut. Sedang jenis C. nigrovittatus dapat dijumpai di Jawa,
Kalimantan, dan Sumatera pada daerha dengan ketinggian sampai 1500 m.
Jenis bajing ini umumnya banyak menimbulkan kerusakan pada tanaman
kelapa namun beberapa jenis tanaman buah kadang - kadang juga diserangnya.
Gejala serangan hama bajing pada buah kelapa tampak terbentuknya lubang
yang cukup lebar dan tidak teratur dekat dengan ujung buah, sedang jika yang
menyerang tikus maka lubang yang terbentuk lebih kecil serta tampak lebih
teratur / rapi.

2. Keluarga tikus (fam. Muridae)


Ada beberapa jenis yang diketahui banyak menimbulkan kerusakan
antara lain, tikus rumah (Rattus - rattus diardi Jent); tikus pohon (Rattus - rattus
tiomanicus Muller), serta tikus sawah (Rattus-rattus argentiver_Rob.&Kl). Tikus
rumah dikenal pula sebagai tikus hitam karena warna bulunya hitam keabu -
abuan atau hitam kecoklatan. Panjang tubuh sampai ke kepala antara 11 - 20 cm
dan panjang ekor biasanya lebih panjang daripada panjang tubuh + kepala.
Jumlah puting susunya ada 10 buah.
Tikus pohon memiliki ukuran tubuh yang hampir sama dengan tikus
rumah. Bulu tubuh bagian ventral putih bersih atau kadang - kadang agak keabu-
abuan. Panjang ekor biasanya lebih panjang daripada panjang tubuh + kepala.
Jumlah putting susunya ada 10 buah.
Tikus sawah memiliki ciri - ciri tubuh antara lain bulu - bulu tubuh
bagian ventral berwarna keabu-abuan atau biru keperakan. Panjang ekor

7
biasanya sama atau lebih pendek daripada panjang tubuh + kepala. Pada
pertumbuhan penuh panjang tubuhnya antara 16 - 22 cm serta jumlah puting
susu ada 12 buah.

2.3.4. Filum Arthropoda


Merupakan filum terbesar di antara filum - filum yang lain karena lebih
dari 75 % dari binatang-binatanag yang telah dikenal merupakan anggota dari
filum ini. Karena itu, sebagian besar dari jenis-jenis hama tanaman juga
termasuk dalam filum Arthropoda.
Anggota dari filum Arthropoda yang mempunyai peranan penting
sebagai hama tanaman adalah klas Arachnida (tunggau) dan klas Insecta atau
Hexapoda (serangga).
1. Klas Arachnida
Tanda - tanda morfologi yang khas dari anggota klas Arachnida ini adalah:
a. Tubuh terbagi atas dua daerah (region), yaitu cephalothorax
(gabungan caput dan thorax) dan abdomen.
b. Tidak memiliki antene dan mata facet.
c. Kaki empat pasang dan beruas - ruas.

Dalam klas Arachnida ini, yang anggotanya banyak berperan sebagai hama
adalah dari ordo Acarina atau juga sering disebut mites (tunggau).
Morfologi dari mites ini antara lain, segmentasi tubuh tidak jelas dan
dilengkapi dengan bulu - bulu (rambut) yang kaku dan cephhalothorax
dijumpai adanya empat pasang kaki.
Alat mulut tipe penusuk dan pengisap yang memiliki bagian - bagian satu
pasang chelicerae (masing - masing terdidi dari tiga segmen) dan satu pasang
pedipaalpus. Chelicerae tersebut membentuk alat seperti jarum sebagai
penusuk. Beberapa jenis hama dari ordo Acarina antara lain adalah :
- Tetranychus cinnabarinus Doisd. atau hama tunggau merah / jingga pada
daun ketela pohon.
- Brevipalpus obovatus Donn. (tunggau daun teh).
- Tenuipalpus orchidarum Parf. (tunggau merah pada anggrek).

8
2. Klas Insekta (Hexapoda / serangga)
Anggota beberapa ordo dari klas Insekta dikenal sebagai penyebab hama
tanaman, namun ada beberapa yang bertindak sebagai musuh alami hama
(parasitoid dan predator) serta sebagai serangga penyerbuk.
Secara umum morfologi anggota klas Insekta ini adalah:
a. Tubuh terdiri atas ruas - ruas (segmen) dan terbagi dalam tiga
daerah, yaitu caput, thorax dan abdomen.
b. Kaki tiga pasang, pada thorax.
c. Antene satu pasang.
d. Biasanya bersayap dua pasang, namun ada yang hanya sepasang
atau bahkan tidak bersayap sama sekali.

Memahami pengetahuan morfologi serangga tersebut sangatlah penting,


karena anggota serangga pada tiap - tiap ordo biasanya memiliki sifat
morfologi yang khas yang secara sederhana dapat digunakan untuk mengenali
atau menentukan kelompok serangga tersebut. Sifat morfologi tersebut juga
menyangkut morfologi serangga stadia muda, karena bentuk-bentuk serangga
muda tersebut juga memiliki ciri yang khas yang juga dapat digunakan dalam
identifikasi.

Bentuk-bentuk serta ciri serangga stadia muda tersebut secara khusus


kakan dibicarakan pada uraian tentang Metamorfose serangga, sedang uraian
singkat tentang morfologi “penciri” pada beberapa ordo penting klas Insekta
akan diberikan pada uraian selanjutnya. Berdasarkan sifat morfologinya,
maka larva dan pupa serangga dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Tipe larva
a. Polipoda, tipe larva ini memiliki ciri antara lain tubuh berbentuk silindris,
kepala berkembang baik serta dilengkapi dengan kaki abdominal dan kaki
thorakal. Tipe larva ini dijumpai pada larva ngengat / kupu (Lepidoptera)

9
b. Oligopoda, tipe larva ini dapat dikelompokkan menjadi : Campodeiform
dan Scarabaeiform,
c. Apodus (Apodous), tipe larva ini memiliki badan yang memanjang dan
tidak memiliki kaki. Kepala ada yang berkembang baik ada yang tidak. Tipe
larva ini dijumpai pada anggota ordo Diptera dan familia Curculionidae
(Coleoptera).

2. Tipe pupa
Perbedaan bentuk pupa didasarkan pada kedudukan alat tambahan
(appendages), seperti calon sayap, calon kaki, antene dan lainnya. Tipe pupa
dikelompokkan menjadi tiga tipe :
a. Tipe obtecta, yakni pupa yang memiliki alat tambahan (calon) melekat
pada tubuh pupa. Kadang-kadang pupa terbungkus cocon yang dibentuk dari
liur dan bulu dari larva.
b. Tipe eksarat, yakni pupa yang memiliki alat tambahan bebas (tidak
melekat pada tubuh pupa ) dan tidak terbungkus oleh cocon.
c. Tipe coartacta, yakni pupa yang mirip dengan tipe eksarat, tetapi eksuviar
tidak mengelupas (membungkus tubuh pupa). Eksuviae mengeras dan
membentuk rongga untuk membungkus tubuh pupa dan disebut puparium.
Tipe pupa obtecta dijumpai pada anggota ordo Lepidoptera, pupa eksarat
pada ordo Hymenoptera dan Coleoptera, sedang pupa coartacta pada ordo
Diptera.

Morfologi Beberapa Ordo Serangga yang Penting

a. Ordo Orthoptera (bangsa belalang)


Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada
beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain.
Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua pasang. Sayap depan
lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena - vena menebal /
mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan melebar
dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat

10
di bawah sayap depan. Alat - alat tambahan lain pada caput antara lain : dua
buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana
(occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada
segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar
yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar
terdapat pada tiap - tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat
genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).
Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian
labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing - masing
terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya.
Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan
melalui tiga stadia yaitu telur ---> nimfa ---> dewasa (imago). Bentuk nimfa
dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran
tubuhnya.
Beberapa jenis serangga anggota ordo Orthoptera ini adalah :
- Kecoa (Periplaneta sp.)
- Belalang sembah / mantis (Otomantis sp.)
- Belalang kayu (Valanga nigricornis Drum.)

b. Ordo Hemiptera (bangsa kepik) / kepinding


Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar
anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun
imago). Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang
mingisap cairan tubuh serangga lain. Umumnya memiliki sayap dua pasang
(beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada
bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap
tersebut disebut Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih
pendek daripada sayap depan. Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang
antene, mata facet dan occeli.Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri
atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap
berupa stylet. Pada ordo Hemiptera, rostum tersebut muncul pada bagian
anterior kepala (bagian ujung). Rostum tersebut beruas - ruas memanjang

11
yang membungkus stylet. Pada alat mulut ini terbentuk dua saluran, yakni
saluran makanan dan saluran ludah.
Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam
perkembangannya melalui stadia : telur ---> nimfa ---> dewasa. Bnetuk
nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil
dari dewasanya.
Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah :
- Walang sangit (Leptorixa oratorius Thumb.)
- Kepik hijau (Nezara viridula L)
- Bapak pucung (Dysdercus cingulatus F)

c. Ordo Homoptera (wereng, kutu dan sebagainya)


Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip dengan ordo
Hemiptera. Perbedaan pokok antara keduanya antara lain terletak pada
morfologi sayap depan dan tempat pemunculan rostumnya.
Sayap depan anggota ordo Homoptera memiliki tekstur yang homogen, bisa
keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat
membranus. Alat mulut juga bertipe pencucuk pengisap dan rostumnya
muncul dari bagian posterior kepala. Alat-alat tambahan baik pada kepala
maupun thorax umumnya sama dengan anggota Hemiptera.
Tipe metamorfose sederhana (paurometabola) yang perkembangannya
melalui stadia : telur ---> nimfa ---> dewasa. Baik nimfa maupun dewasa
umumnya dapat bertindak sebagai hama tanaman.
Serangga anggota ordo Homoptera ini meliputi kelompok wereng dan
kutu-kutuan, seperti :
- Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.)
- Kutu putih daun kelapa (Aleurodicus destructor Mask.)
- Kutu loncat lamtoro (Heteropsylla sp.).

d. Ordo Coleptera (bangsa kumbang)


Anggota - anggotanya ada yang bertindak sebagai hama tanaman, namun
ada juga yang bertindak sebagai predator (pemangsa) bagi serangga lain.

12
Sayap terdiri dari dua pasang. Sayap depan mengeras dan menebal serta
tidak memiliki vena sayap dan disebut elytra. Apabila istirahat, elytra seolah
- olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian dorsal).
Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap
depan. Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah, umumnya mandibula
berkembang dengan baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku
Curculionidae alat mulutnya terbentuk pada moncong yang terbentuk di
depan kepala.
Metamorfose bertipe sempurna (holometabola) yang perkembangannya
melalui stadia : telur ---> larva ---> kepompong (pupa) ---> dewasa (imago).
Larva umumnya memiliki kaki thoracal (tipe oligopoda), namun ada
beberapa yang tidak berkaki (apoda). Kepompong tidak memerlukan pakan
dari luar (istirahat) dan bertipe bebas / libera.
Beberapa contoh anggotanya adalah :
- Kumbang badak (Oryctes rhinoceros L)
- Kumbang janur kelapa (Brontispa longissima Gestr)
- Kumbang buas (predator) Coccinella sp.

e. Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat)


Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai
hama, namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa
umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar. Sayap terdiri dari
dua pasang, membranus dan tertutup oleh sisik - sisik yang berwarna - warni.
Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap, sedang
larvanya memiliki tipe penggigit. Pada serangga dewasa, alat mulut berupa
tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris dan mandibula biasanya
mereduksi, tetapi palpus labialis berkembang sempurna.
Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yang
perkembangannya melalui stadia : telur ---> larva ---> kepompong --->
dewasa. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun
abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta.
Beberapa jenisnya antara lain :

13
- Penggerek batang padi kuning (Tryporiza incertulas Wlk)
- Kupu gajah (Attacus atlas L)
- Ulat grayak pada tembakau (Spodoptera litura)

f. Ordo Diptera (bangsa lalat, nyamuk)


Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan
tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya
memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi
menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter. Pada
kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet.
Tipe alat mulut bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya
memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap.
Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian yaitu :
- bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum
- bagian tengah yang berbentuk silindris disebut haustellum
- bagian ujung yang berupa spon disebut labellum atau oral disc.

Metamorfosenya sempurna (holometabola) yang perkembangannya


melalui stadia : telur ---> larva ---> kepompong ---> dewasa. Larva tidak
berkaki (apoda_ biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging,
namun ada pula yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator. Pupa
bertipe coartacta.
Beberapa contoh anggotanya adalah :
- lalat buah (Dacus spp.)
- lalat predator pada Aphis (Asarcina aegrota F)
- lalat rumah (Musca domesticaLinn.)
- lalat parasitoid (Diatraeophaga striatalis).

g. Ordo Hymenoptera (bangsa tawon, tabuhan, semut)


Kebanyakan dari anggotanya bertindak sebagai predator / parasitoid
pada serangga lain dan sebagian yang lain sebagai penyerbuk. Sayap terdiri
dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya lebih besar

14
daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antene (sepasang),
mata facet dan occelli. Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap
yang dilengkapi flabellum sebagai alat pengisapnya.
Metamorfose sempurna (Holometabola) yang melalui stadia : telur->
larva--> kepompong ---> dewasa. Anggota famili Braconidae, Chalcididae,
Ichnemonidae, Trichogrammatidae dikenal sebagai tabuhan parasit penting
pada hama tanaman.
Beberapa contoh anggotanya antara lain adalah :
- Trichogramma sp. (parasit telur penggerek tebu / padi).
- Apanteles artonae Rohw. (tabuhan parasit ulat Artona).
- Tetratichus brontispae Ferr. (parasit kumbang Brontispa).

h. Ordo Odonata (bangsa capung / kinjeng)


Memiliki anggota yang cukup besar dan mudah dikenal. Sayap dua
pasang dan bersifat membranus. Pada capung besar dijumpai vena - vena
yang jelas dan pada kepala dijumpai adanya mata facet yang besar.
Metamorfose tidak sempurna (Hemimetabola), pada stadium larva
dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam air.
Anggota-anggotanya dikenal sebagai predator pada beberapa jenis serangga
keecil yang termasuk hama, seperti beberapa jenis trips, wereng, kutu loncat
serta ngengat penggerek batang padi.

15
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu Dan Tempat


Praktikum ilmu hama tumbuhan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 11
Desember 2010, Pukul 15.00. Tempat praktikum berlokasi di areal budidaya
tanaman sayuran Kelompok Tani Makmur Abadi yang beralamat di Jalan
Pendidikan, Gg. Arjuna Kembar, Sangatta, Kutai Timur.

3.2. Bahan Dan Alat


3.2.1. Bahan
- Tanaman budidaya
- Hama yang menyerang tanaman
3.2.1. Alat
- Peralatan Tulis menulis
- Kamera

3.3. Prosedur Praktikum


Praktikum dilakukan langsung dilapangan pada lokasi areal budidaya tanaman
(Kebun) dengan melalui metode pengtamatan langsung Morfologi dan Biologi
hama, Gejala-gejala serangan yang ditimbulkan oleh hama, Tingkat Kerusakan,
serta cara pengendalian hama yang dilakukan oleh petani. Selain itu, juga
dilakukan sesi Tanya jawab kepada petani.

16
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Dari hasil pengamatan hama pada beberapa komoditas tanaman sayur yang
dibudidayakan oleh petani pada areal Kelompok Tani Makmur Abadi,
teridentifikasi beberapa jenis hama yang menyerang tanaman. Seperti yang tampak
pada table dibawah ini;
No Jenis Komoditas Jenis Hama Di Tingkat Serangan
Rin Seda Bera
Temukan
gan ng t
1 Sawi (Brassica Juncea) Belalang √
Ulat √
2 Tomat (Lycopersicum Trip √
Esculentum)
3 Buncis (Paseolus Vulgaris) Ulat Grayak √
4 Jagung (Zea Mays) Ulat Penggerek √
Batang
5 Ketimun (Cucumis Sativum) Kepik Hijau √
6 Gambas (Luffa acutangula L.) Oteng-oteng √

Tabel Hasil Pengamatan

2.1 Pembahasan
2.1.1. Ulat
Salah satu hama dari jenis serangga yang menyerang hamper semua jenis
tanaman sayur adalah Ulat. Larva dari kupu-kupu ini bias menggagalkan
panen dengan menyerang daun, buah, dan umbi. Ulat yang sering
menyerang tanaman sayuran adalah dari jenis Helicoverpa sp. Dan
Spodoptera Litura F.
Tanaman sayuran yang terserang ulat ditandai dengan gejala umum,
daunnya berlubang-lubang serta buah membusuk, sehingga tidak dapat
dikonsumsi. Selain itu juga ditandai dengan adanya kotoran ulat berupa
butiran kecil berwarna hijau kehitaman pada daun dan sekeliling tanaman.
Beberapa contoh hama ulat yang ditemukan pada areal budidaya Kelompok
Tani Makmur Abadi diantaranya:

17
a. Ulat Grayak (Mythima Separata-Leucania umipunctata)
(Lepidoptera:Noctuidae)
Morfologi:
Telurnya ditutupi oleh bulu berwarna coklat seperti sawo. Larva
muda berwarna kehijauan dsengan bintik hitam pada bagian Abdomen.
Larva tua berwarna abu-abu gelap atau coklat dengan lima garis
memanjang sepanjang badan berwarna kuning coklat atau kehijauan.
Umumnya larva mempunyai bintik hitam arah lateral pada setiap ruas
abdomen. Pupa berwarna coklat kemerah-merahan dan panjangnya
sekitar 16 mm> Ngengat berwarna abu-abu. Sayap depan berwarna
coklat atau keperak-perakan. Sayap belakang berwarna keputih-putihan
dengan noda hitam.
Ngengat betina meletakkan telur secara berkelompok pada bagian
bawah daun. Kadang-kadang pada bagian permukaan daun atas atau
kotiledon. Ngengat betina mampu menghasilkan 4 – 8 kelompok telur
yang terdiri dari kurang lebih 2000 butir. Inkubasi telur 2-4 hari. Larva
yang baru menetas untuk sementara tinggal disekitar kulit telur dan
memakan epidermis bagian bawah daun. Pada awalnya larva merusak
secara bergerombol dan setelah daun pada rumpun habis maka larva
mulai berpencar. Lama stadia larva 13-16 hari dan mengalami lima
instar. Pupa terbentuk dalam tanah dengan lama stadia pupa 9 hari.

Perkembangan ulat grayak; (a) kelompok telur, (b) larva


instar IV, (c) larva instrar VI, (d) pupa, dan (e) imago.

Gejala Serangan

18
Larva serangga ini menyerang buncis pada fase vegetative dan
generative (sepanjang polong). Serangganya dapat merusak daun cukup
berat dimana daun tinggal tulang-tulangnya. Kerusakan akibat larva
muda yang makan secara bergerombol, meninggalkan tulang daun dan
epidermis bagian atas. Larva dewasa makan daun muda bersama
tulangnya dan pada daun tua tulang-tulangnya masih tersisa. Selain
merusak daun, larva juga merusak polong muda. Apabila populasi tinggi
dapat merusak seluruh tanaman. Serangan berat umumnya terjadi pada
musim kemarau.

Pengendalian
1. Tanam serempak dengan jeda tidak lebih 10 hari
2. Secara mekanik mengumpulkan kelompok telur dan larva instar awal
yang masih bergerombol lalu dibakar.
3. Pergiliran tanaman bukan inang.
4. Penggunaan musuh alami yang berupa parasitoid telur dan larva dan
juga ditemukan adanya pathogen. Musuh alami tersebut antara lain:
Apanteles sp, Brachymeria sp, Bracon sp, Charops Longiventris,
Chelomes sp, Eupletus sp, Microplitis manila, Nyotobia sp, dan
Telenomus spodopterae.
5. Aplikasi insektisida setelah hama mencapai ambang ekonomi.

b. Ulat Penggerek Batang (Ostrinia-Pyrausta furnacalis)


(Lepidoptera: Pyralidae)

Morfologi:
Bentuk telur pipih agak oval mengkilap. Pada waktu baru saja di
letakkan berwarna putih kekuningan dan kemudian akan menjadi hitam
pada waktu menetas. Larva yang baru menetasd berwarna ungu, bagian
kepala berwarna coklat atau hitam, dibagian abdomen ada bintik
sirkuler. Larva yang tumbuh sempurna berwarna krem atauputih kotor.
Pupanya menyerupai gelondongan dan meruncing pada bagian posterior.

19
Warnanya coklat cerah sampai coklat gelap. Pada bagian posterior
terdapat dua kremaster yang menyerupai jarum. Ngengat berwarna coklat
kekuningan, panjang tubuh 12-14 mm dan rentang sayap mencapai 30
mm. Bagian ujung sayap berwarna coklat gelap dan pada bagian lain
terdapat garis-garis mengkilap. Ngengat betina lebih gemuk. Pada bagian
distal dan apical sayap depan terdapat dua garis zigzag yang gelap dan
tampak pada saat ngengat beristirahat.
Serangga betina yang sudah dewasa meletakkan telur secara
berkelompok sebanyak 10-40 butir dibawah daun. Selama hidupnya yang
sekitar satu minggu mampu menghasilkan 500-1500 butir telur. Stadia
telur 3-10 hari. Larva instar awal pada mulanya makan daun sebelah
bawah. Selanjutnya larva membuat gerekan pada tulang daun. Pada instar
berikutnya membuat gerekan pada batang, biasanya dekat dengan batang
ruas dan menggerek kea rah bawah. Dalam satu lubang gerekan sering
terdapat banyak larva. Stadia larva berkisar antara 3-4 minggu. Pupa
diselimuti kokon di tanah atau batang dekat dengan lubang gerekan.
Serangga aktif pada malam hari dan dapat terbang sampai beberapa
kilometer. Serangga dewasa mampu hidup 10 – 24 hari.

Gejala Serangan
Serangan pada tanaman jagung mengakibatkan batang menjadi
lemah dan mudah patah akibat tiupan angin. Larva membuat gerekan
didalam batang dan membuat terowongan didalamnya. Larva juga
merusak buah jagung. Bila tanaman tidak patah, umumnya menjadi kecil
dan biji yang terbentuk hanya sedikit. Hama penggerek merah jambu
(Sesamea inferens), gejala yang diakibatkan sama dengan penggerek
batang sehingga pemantauan dan pengendaliannya hamper sama.

Pengendalian
1. Pengendalian pada pratanam, yaitu dengan sanitasi sisa-sisa tanaman
jagung. Pengolahan tanah (tanah dibalik)

20
2. Tanam serentak dan tidak menanam jagung dua kali pada lahan yang
sama.
3. Penggunaan parasitoid telur Trichogramma spp, Parasitoid larva
Xanthopimpla etenimta, Predator dermapterans (cecopet).
4. Pengendalian dilakukan apabila serangan mengkhawatirkan atau
telah mencapai ambang ekonomi. Pengendalian dilakukan pada fase
vegetative sampai pembentukan biji.

c. Kepik Hijau (Nezara viridula L) (Hemiptera: Pentatomidae)

Morfologi:
Telurnya berbentuk tong, pada awalnya berwarna putih lalu
berubah merah jambu, ukurannya 1,2-0,75 mm. Nimfa memiliki warna
yang bervariasi, hitam, putih, dan merah. Kepik berwarna hijau, kadang-
kadang berwarna coklat kemerahan, berukuran 15 x 8 mm
Kepik betina meletakkan telur dalam kelompok 50-60 butir dalam
susunan seperti rakit pada permukaan bawah daun. Jumlah telur
keseluruhannya mencapai kurang lebih 1.100 butir. Nimfa mempunyai
lima instar. Nimfa yang baru menetas tetap tinggal berkelompok didalam
kelompok telur dan tidak makan. Nimfa instar dua mulai menyebar dan
mulai makan, terutama pada biji atau buah yang sedang tumbuh. Stadia
telur dan nimfa sekitar delapan minggu

Gejala Serangan
Kepik dan Nimfa menusuk buah-buahan yang sedang
berkembang, menyebabkan kematian local yang berupa bercak-bercak
pada buah. Serangan pada buah muda akan menyebabkan buah
berlubang. Pada saat hama menghisap buah sering disertai masuknya
jamur pathogen sehingga mengakibatkan buah membusuk.

Pengendalian
1. Tidak menanam ketimun pada lahan yang terserang kepik hijau

21
2. Pengendalian alami, banyak kelompok telur kepik hijau yang
terparasit yang dicirikan dengan kelompok telur berwarna hitam
keabu-abuan
3. Aplikasi insektisida setelah populasi hama mencapai ambang
batas ekonomi pada tanaman setelah berumur 45 HST.

2.1.2. Belalang (Valanga Nigricornis)


Morfologi:
Belalang (Valanga Nigricornis) memiliki ciri morfologi
yaitu berbentuk bulat memanjang, berwarna coklat kehijauan,
mempunyai caput,mata, antena, thorax, abdomen, mandibula,
tiga pasang tungkai, dan sayap.
Belalang pedang (Sexava sp.) memiliki tipe mulut penggigit
dan penguyah, kepala (Caput) yang terdapat antena, dada
(Toraks), perut (Abdomen), terdapat tiga pasang tungkai dan
memiliki sayap. nimfa berukuran 7 cm sampai 9 cm, berwarna
hijau kadang-kadang coklat. Masa perkembangan 40 hari.

Siklus Perkembangbiakan Belalang

Siklus Hidup Belalang

22
Gejala Serangan
Gejala serangannya pada daun tanaman yaitu merusak
daun tua dan dalam keadaan terpaksa juga merusak daun
muda, kulit buah dan bunga-bunga. Pada daun nampak
berlubang-lubang.

Pengendalian
1. Tanam serentak
2. Pengendalian dengan insektisida dilakukan apabila serangan
mengkhawatirkan atau telah mencapai ambang ekonomi.
3. Pengendalian dengan musuh alami.

2.1.3. Thrip (Thrips parvispinus Karny.)

Morfologi
Nimfa berwarna pucat, keputihan / kekuningan, instar 1 dan 2
aktif dan tidak bersayap. Nimfa yang tidak aktif berada di permukaan
tanah sekitar tanaman. Perkembangan pupa menjadi trips muda
meningkat pada kelembaban relatif rendah dan suhu relatif tinggi. Daur
hidup sekitar 20 hari, di dataran rendah 7 – 12 hari. Hidup berkelompok.
Biasanya Thrips muda ini gerakannya masih sangat lambat dan
pergerakannya hanya terbatas pada tempat dimana dia memperoleh
makanan. Nimfa terdiri dari empat instar, dan Instar pertama sudah mulai
menyerang tanaman. sayap baru akan terlihat pada masa pra-pupa. Daur
hidup sekitar 7-12 hari

Thrips memiliki panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini


tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang.
Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga. Serangan
paling parah biasanya terjadi pada musim kemarau, namun tidak
menutup kemungkinan pada saat musim hujan bisa juga terjadi serangan.

23
Thrips dapat berkembang biak secara generatif (kawin) maupun
vegetatif melalui proses Phartenogenesis, misalnya thrips yang
mengalami phartenogenesis adalah Thrips tabaci yang menyerang
tembakau. Perkembangbiakan secara phartenogenesis akan menghasilkan
serangga-serangga jantan. Menurut Kalshoven (1981) bahwa imago
betina Thrips dapat meletakkan telur sekitar 15 butir secara berkelompok
kedalam jaringan epidhermal daun tanaman dengan masa inkubasi telur
sekitar 7 hari. Telur dari hama ini berbentuk oval atau bahkan mirip
seperti ginjal pada manusia, imago betina akan memasukkkan telurnya
ke dalam jaringan epidhermal daun dengan bantuan ovipositornya yang
tajam. Ukuran telurnya sangat kecil maka sering tak terlihat dengan mata
telanjang. Telur ini diletakkannya dalam jumlah yang besar,dengan rata-
rata 80 butir tiap induk. letak telur akan mudah diketahui dengan
memperhatikan bekas tusukan pada bagian tanaman tersebut dan
biasanya disekitar jaringan tersebut terdapat pembengkakan. Telur-telur
ini akan menetas sekitar 3 atau 7 hari setelah pelatakan oleh imago
betina( Direktorat Perlindungan Tanaman, 1992).

Hama Thrip

Gejala Serangan
Pada permukaan daun akan terdapat bercak-bercak yang
berwarna putih seperti perak. Hal ini terjadi karena masuknya udara ke
dalam jaringan sel-sel yang telah dihisap cairannya oleh hama Thrips

24
tersebut. Apabila bercak-bercak tersebut saling berdekatan dan akhirnya
bersatu maka daun akan memutih seluruhnya mirip seperti warna perak.
Lama kelamaan bercak ini akan berubah menjadi warna coklat dan
akhirnya daun akan mati. Daun-daun cabai yang terserang hebat maka
tepinya akan menggulung ke dalam dan kadang-kadang juga terdapat
bisul-bisul. Kotoran-kotoran dari Thrips ini akan menutup permukaan
daun sehingga daun menjadi hitam. Jadi pada umumnya bagian tanaman
yang diserang oleh Thrips ini adalah pada daun, kuncup, tunas yang baru
saja tumbuh, bunga serta buah yang masih muda ( Setiadi, 2004 ).

Pengendalian
Tidak menanam berbagai jenis tanaman inang diatas dengan
lokasi yang berdekatan. Hal ini untuk menghindari terjadinya
perpindahan hama Thrips dari komoditi yang satu ke komoditi yang lain,
sehingga menyulitkan dalam hal pengendaliannya atau bahkan bisa
menyebabkan kerusakan produksi- hasil.

2.1.4. Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver)


Morfologi
Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver) biasa juga di sebut
Oteng-oteng merupakan Kumbang daun berukuran 1 cm dengan sayap
kuning polos dan mengkilap. Kumbang ini aktif pada senja dan malam
hari. Bersifat pemangsa segala jenis tanaman (Polifag). Dapat berpindah
dari satu tanaman ke tanaman lain dengan cara terbang.

Kutu Kuya / Oteng-oteng

25
Gejala Serangan
Merusak dan memakan daging daun sehingga daun bolong; pada
serangan berat, daun tinggal tulangnya.
Pengendalian
1. Melakukan pergiliran tanaman (Rotasi)
2. Waktu tanam serempak (Bersamaan).
3. Penyemprotan Insektisida Natural BVR atau PESTONA
bilamana serangan telah melewati ambang ekonomi.

26
BAB V
PENUTUP

2.2. Kesimpulan
Pada praktikum Ilmu Hama Tumbuhan diareal budidaya sayuran kelompok
tani Makmur Abadi, teridentifikasi beberapa jenis hama dari golongan serangga
yaitu; Ulat grayak (Spodoptera litura F), Ulat penggerek batang (Omphisa
anastomosalis), Ulat hijau ( ), Berlalang (Caelifera).
Hama yang menyerang tanaman budidaya petani
pengendaliannya dilakukan secara kimiawi dengan
menyemprotkan insektisida. Tingkat serangan hama ringan
hingga sedang sehingga masih dapat dikendalikan. Serangan
hama masih dalam batas toleransi, dan belum sampai merugikan.

2.3. Saran
1. Penggunaan pestisida berbahan aktif kimia sebaiknya dikurangi bila
perlu ditiadakan karena tingkat serangan hama masih dapat dikendalikan
dan belum sampai merugikan.
2. Ada baiknya petani mulasi mencoba penggunaan pestisida nabati dalam
pengendalian hama pada tanaman budidaya.
3. Perlu adanya sosialisasi intensif dalam pengendalian hama, penanaman
tanaman perangkap, tanaman repelan, dan tanaman inang alternative.

27
DAFTAR PUSTAKA
.

DR.Ir.Suharto,M.Sc. Pengenalan dan Pengendalian Hama Tanaman Pangan. Jember:

CV Andi Offset, 2007

Melly Manuhutu & Bernard T. Wahyu w. Panduan Bertanam Sayur Organik. Jakarta:

PT Agro Media Pustaka,2005

Redaksi Agromedia. Panduan Lengkap Budidaya dan Bisnis Cabai. Jakarta: PT Agro

Media Pustaka,2008

28
LAMPIRAN

29
30