Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan

rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Asuhan

Kebidanan Patologi yang berjudul “RETENSIO PLASENTA” dengan tepat pada

waktunya.

Dalam penyusunan makalah ini, tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada

ibu A’im, selaku dosen yang telah membimbing kami, dan teman-teman semester II

Kebidanan Stikes Insan Unggul Surabaya yang turut serta membantu terselesaikan

makalah ini.

Selaku penulis, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam

penulisan laporan ini, untuk itu penulis sangat berharap kritik dan saran yang bersifat

membangun. Harapan penulis semoga ASKEB III yang berjudul “Retensio Plasenta”

dapat bermanfaat bagi semuanya.

Surabaya, November

Penuli

1
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1
1.2 Tujuan...................................................................................................................3
1.3.1 Tujuan Umum...............................................................................................3
1.3.2 Tujuan Khusus...............................................................................................3
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian.............................................................................................................4
2.2 Etilogi...................................................................................................................5
2.3 Patofisiologi.........................................................................................................7
2.4 Tanda Dan Gejala.................................................................................................7
2.5 Komplikasi...........................................................................................................8
2.6 Diagnosa...............................................................................................................9
2.7 Penanganan...........................................................................................................9
2.8 Planning..............................................................................................................10
BAB III TINJAUAN KASUS
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan.........................................................................................................18
4.2 Saran...................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................19

BAB 1

2
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau
melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir (Prawirohardjo, 2002:178).
Sebab-sebab dari retensio plasenta :

a. Plasenta belum lepas dari dinding uterus atau


b. Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan Jika plasenta belum lepas
sama sekali, tidak terjadi perdarahan, jika lepas sebagian terjadi perdarahan
yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Plasenta belum lepas dari
dinding uterus karena :

a.Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta


adhesiva).
b. Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili
korialis menembus desidua sampai miometrium sampai dibawah
peritonium (plasenta akreta- perkreta) (Prawirohardjo, S. 2002:656-657).

Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar,
disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan
kala III sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang
menghalangi keluarnya plasenta (inserasio plasenta) (Prawirohardjo, S. 2002:656-
657)

Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan grandemultipara dengan


implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesive, plasenta akreta, plasenta inkreta
dan plasenta perkreta (Manuaba, 1GB. 1998 : 301).

Plasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan bahaya perdarahan, infeksi


karena sebagai benda mati, dapat terjadi plasenta inkarserata, dapat terjadi polip
plasenta, dan dapat terjadi degenerasi ganas koriokarsinoma.

3
Dalam melakukan pengeluaran plasenta secara manual perlu diperhatikan
tekniknya sehingga tidak menimbulkan komplikasi seperti perforasi dinding uterus,
bahaya infeksi dan dapat terjadi inversio uteri.

Bidan sebagai tenaga terlatih di klinik terdepan sistem pelayanan kesehatan


dapat mengambil sikap dalam menghadapi “retensio plasenta” sebagai berikut:

1. Sikap Umum Bidan

a. Memperhatikan keadaan umum penderita :

- Apakah anemis
- Bagaimana jumlah perdarahannya
- Keadaan umum penderita : tekanan darah, nadi dan suhu.
- Keadaan fundus uteri : kontraksi dan tinggi fundus uteri

b. Mengetahui keadaan plasenta

- Apakah plasenta dengan perdarahan


- Melakukan tes plasenta lepas

2. Sikap Khusus Bidan

a. Retensio plasenta dengan perdarahan


- langsung melakukan plasenta manual
b. Retensio plasenta tanpa perdarahan
- Setelah dapat memastikan keadaan umum penderita, segera memasang infus
dan memberikan cairan
- Merujuk penderita ke pusat fasilitas cukup, untuk mendapatkan penanganan
yang lebih baik.
- Memberkan transfusi
- Proteksi dengan antibiotika
- Mempersiapkan plasenta manual dengan letargis dalam keadaan pengaruh
narkosa (Manuaba, IGB. 1998 : 300)

4
1.2 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum


Mahasiswa mampu memberikan Asuhan Kebidanan pada ibu post partum
dengan retensio plasenta

1.3.2 Tujuan Khusus


- Mahasiswa mampu melakukan pengkajian untuk memperoleh data
subjektif dan data objektif
- Mahasiswa mampu mengidentifikasi diagnosa atau masalah secara
teliti berdasarkan data yang benar
- Mahasiswa mampu mengantisipasi diagnosa atau masalah potensial
yang mungkin dapat terjadi dari masalah atau diagnosa yang telah
diidentifikasi
- Menilai adanya kebutuhan untuk intervensi segera atau tindakan
konsultasi atau kolaborasi berdasarkan kondisi klien
- Mahasiwa mampu membuat rencana tindakan berdasarkan diagnosa
atau masalah
- Mahasiswa mampu melaksanakan tindakan sesuai rencana yang dibuat.
- Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan.

5
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Retensio Plasenta

2.1.1 Pengertian
Retensio plasenta adalah placenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir
(Ilmu Kebidanan, 2002:656).

Retensio placenta adalah keadaan dimana plasenta tidak dapat lahir


setelah setengah jam kelahiran bayi (Subroto, 1987:346).

Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga


melebihi waktu tiga puluh menit setelah bayi lahir (pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal, 2002:178).

Jenis-jenis retensio plasenta :


a. Plasenta adhesive adalah : implantasi yang kuat dari jonjot korion
plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis
b. Plasenta akreta adalah : Implantasi jonjot korion plasenta hingga
memasuki sebagian lapisan miometrium
c. Plasenta inkreta adalah : implantasi jonjot korion plasenta yang
menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
d. Plasenta Prekreta adalah : implantasi jonjot korion plasenta yang
menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
e. Plasenta inkarserata adalah : tertahannya plasenta di dalam kavum uteri
disebabkan oleh konstriksi ostium uteri (Sarwono, Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal, 2002:178).

Berdasarkan prognosa dan perawatannya, maka retensio plasenta dibagi :

6
1. Retensio plasenta tanpa perdarahan Terjadi bila belum ada bagian
plasenta yang lepas atau seluruh plasenta malah sudah lepas dan plasenta
terjepit dalam rahim.
2. Retensio plasenta dengan perdarahan Menunjukkan bahwa sudah ada
bagian plasenta yang sudah lepas, sedangkan bagian lain masih melekat,
sehingga kontraksi uterus tidak sempurna (Subroto, 1987:347).

2.1.2 Etilogi

Sebab retensio plasenta ada 2:


1. Sebab fungsional
His yang kurang kuat (sebab utama) atau plasenta sulit lepas karena tempat
melekatnya kurang menguntungkan seperti disudut tuba atau karena
bentuknya luar biasa seperti plasenta membranosea.
2. Ukuran plasenta sangat kecil
(Sarwono, P. Ilmu Bedah Kebidanan. 2002:163)

Sebab retensio plasenta ada 2 :


1. Plasenta belum lepas dari dinding uterus.
Etiologi :
a) Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta
adhesive)
b) Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis
menembus desi dua sampai miometrium sampai dibawah peritonium
(plasenta akreta perkreta)
2. Plasenta sah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar.
Etiologi :
Tidak adanya usaha untuk melahirkan / karena salah penanganan kala III, sehingga
terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya
plasenta (Inkarserasio plasenta)
(Sarwono, P. Ilmu kebidanan. 2002:656-657)

Sebab Retensio Plasenta

7
1. Atonia uteri, sebagai lanjutan inertio yang sudah ada sebelumnya / yang terjadi pada kala
III Misalnya partus lama, permukaan narkose dan sebagainya.
2. Pimpinan kala III yang salah Memijat rahim yang tidak merata, pijatan sebelum plasenta
lepas, pemberian uterotonika dan sebagainya.
3. Kontraksi rahim yang hipertonik, yang menyebabkan konstriksion ring, (bukan retraction ring),
hour glass contraction.
4. Plasenta yang adhesive, sukar lepas karena plasenta yang lebar dan tipis (plasenta yang
prematur, immature atau plasenta membranacea)
5. Vili chorialis yang melekatnya lebih dalam :
a. Plasenta akreta
b. Plasenta increta
c. Plasenta perkreta
6. Kelainan bentuk plasenta sehingga plasenta / sebagian plasenta sukat lepas:
a. plasenta fenestrata
b. Plasenta membranacea
c. Plasenta bilabata, plasenta succenturiota, plasenta spuria
(Subroto, 1987 : 347-348)

Dari berbagai sumber buku yang menyebutkan beberapa penyebab dari retensio
plasenta, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penyebab retensio plasenta adalah sebagai berikut
:

1. HIS / usaha kontraksi uterus yang kurang kuat


2. Perlekatan plasenta pada dinding uterus, dimana semakin dalam plasenta
melekat pada dinding uterus maka sebakin besar usaha yang diperlukan untuk
mengeluarkannya.
3. Piampinan kala III yang salah
4. Kelainan bentuk plasenta sehingga plasenta sukar lepas.

2.1.3 Patofisiologi

Segera setelah anak lahir, uterus berhenti kontraksi namun secara perlahan
tetapi progresif uterus mengecil, yang disebut retraksi. pada masa retraksi itu lembek
namun serabut-serabutnya secara perlahan memendek kembali. peristiwa retraksi
menyebabkan pembuluh-pembuluh darah yang berjalan dicelah-celah serabut otot-

8
otot polos rahim terjepit oleh serabut otot rahim itu sendiri. Bila serabut ketuban
belum terlepas, plasenta belum terlepas seluruhnya dan bekuan darah dalam rongga
rahim bisa menghalangi proses retraksi yang normal dan menyebabkan banyak darah
hilang (TMA Chalik, 1998 : 166).

2.1.4 Tanda Dan Gejala

1. Separasi / Akreta Parsial

a. Konsistensi uterus kenyal


b. TFU setinggi pusat
c. Bentuk uterus discoid
d. Perdarahan sedang – banyak
e. Tali pusat terjulur sebagian
f. Ostium uteri terbuka
g. Separasi plasenta lepas sebagian
h. Syok sering

2. Plasenta Inkarserata

a. Konsistensi uterus keras


b. TFU 2 jari bawah pusat
c. Bentuk uterus globular
d. Perdarahan sedang
e. Tali pusat terjulur
f. Ostium uteri terbuka
g. Separasi plasenta sudah lepas
h. Syok jarang

3. Plasenta Akreta
a. Konsistensi uterus cukup
b. TFU setinggi pusat
c. Bentuk uterus discoid
d. Perdarahan sedikit / tidak ada
e. Tali pusat tidak terjulur

9
f. Ostium uteri terbuka
g. Separasi plasenta melekat seluruhnya
h. Syok jarang sekali, kecuali akibat inversio oleh tarikan kuat pada tali pusat.
(Prawirohardjo, S. 2002 : 178)

2.1.5 Komplikasi
1. Perdarahan
2. Infeksi karena sebagai benda mati
3. Dapat terjadi plasenta inkarserata
4. Terjadi polip palsenta
5. Terjadi degenerasi ganas koriokarsinoma
6. Syok neurogenik
(Manuaba, IGB. 1998 : 300)

2.1.6 Diagnosa
Ibu post partum dengan retensio plasenta.

2.1.7 Penanganan

1. Bila tidak terjadi perdarahan : perbaiki keadaan umum penderita bila perlu misal :
infus atau transfusi, pemberian antibiotika, pemberian antipiretika, pemberian ATS,
bila kasus berasal dari luar Rumah Sakit
2. Bila terjadi perdarahan : lepaskan plasenta secara manual, jika plasenta dengan
pengeluaran manual tidak lengkap dapat disusul dengan upaya kuretase.
3. Cara untuk melahirkan plasenta :
a. Cara dari luar : dicoba mengeluarkan plasenta dengan cara normal :
1. Cara Calkins :
Tangan kanan penolong meregangkan tali pusat sedang tangan yang
lain melakukan massage pada fundus uteri dan mendorong ringan.
Dengan massage pada fundus uteri dan tarikan ringan, maka plasenta
dapat dilahirkan.
2. Cara Williams
3. Cara Dublin
b. Pengeluaran plasenta secara manual (dengan narkose)

10
Melahirkan plasenta dengan cara memasukkan tangan penolong ke dalam
cavum uteri, melepaskan dari insertio dan mengeluarkannya. Semua tindakan
intrauterin seperti palsenta manual harus dilakukan narcose yang dalam.
c. Bila ostium uteri sudah demikian sempitnya, sehingga dengan narkose yang
dalampun tangan tak dapat masuk dapat dilakukan hysterectomia untuk
melahirkan plasentanya.
d. Bila plasenta tidak dapat dilepaskan dari rahim, misal plasenta increta/percreta,
lakukan hysterectomia. Tindakan pada retensio plasenta :
1. Pasang infus dan transfusi bila perlu
2. Kosongkan kandung seni
3. Periksa dari luar apakah tahap separasi telah terjadi, untuk mengetahui ini
dapat dipakai teknik : klien, kutaner/strasman.
4. Bila Plasenta telah lepas maka plasenta dapat dilahirkan secara :
- Calkins
- Brandt Andrew
5. Bila plasenta belum lepas maka plasenta dilahirkan secara manual.
(Subroto, 1987 : 348)

2.1.8 Planning
1. Sikap Umum Bidan
a. Memperhatikan keadaan umum penderita
- Apakah anemis
- Bagaimana jumlah perdarahannya
- Keadaan umum penderita : tekanan darah, nadi dan suhu
- Keadaan fundus uteri : kontraksi dan tinggi fundus uteri.

b. Mengetahui keadaan plasenta


- Apakah plasenta inkarserata
- melakukan tes plasenta lepas : metode kusnert, metode klein, metode
strassman, metode manuaba.
c. Memasang infus dan memberikan cairan pengganti

2. Sikap Khusus Bidan


a. Retensio plasenta dengan perdarahan

11
- Langsung melakukan plasenta manuaL
b. Retensio plasenta tanpa perdarahan
- Setelah dapat memastikan keadaan umum penderita segera memasang infus
dan memberikan cairan.
- Merujuk penderita ke pusat dengan fasilitas cukup untuk
mendapatkan penanganan yang lebih baik.
- Memberikan transfusi
- Proteksi dengan antibiotika
- Mempersiapkan plasenta manual dengan letargis dalam keadaan pengaruh
narkosa.
3. Upaya Preventif Rentensio Plasenta oleh Bidan
a. Meningkatkan penerimaan KB, sehingga memperkecil terjadi retensio
plasenta
b. Meningkatkan penerimaan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
yang terlatih

c. Pada waktu menolong persalinan kala III tidak diperkenankan melakukan


massage dengan tujuan mempercepat proses persalinan plasenta karena
massage yang tidak tepat waktu dapat mengacaukan kontraksi otot rahim
dan mengganggu pelepasan plasnta.

(Manuaba, IGB. 1998 : 300)

12
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN PATOLOGIS
DENGAN KASUS RETENSIO PLASENTA
TERHADAP Ny. M DI RB DOA IBU SIDOARJO
2008

3. 1. PENGUMPULAN DATA DASAR


3.1.1 Pengkajian
3.1.1.1. Data Subyektif
1. Identitas
Ibu : Ny. M Suami : Tn. M
Umur : 33 tahun Umur : 34 tahun
Pendidikan : SD Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : SWASTA
Agama : Islam Agama : Islam
Suku : Jawa Suku : Jawa
Alamat : Ds. Tambah Dadi Alamat : Ds. Tambah Dadi
Sidoarjo Sidoarjo

2. Anamnese pada tanggal 29 Desember 2006 pukul 08.00


a. Keluhan utama
Ibu datang dengan hamil 9 bulan,G4P3Ao pukul 18.30 WIB. Perut
mulas-mulas sejak pukul 04.00 WIB nyeri menjalar ke pinggang
bagian bawah serta sudah mengeluarkan tanda lendir bercampur darah.
b. Keluhan sejak kunjungan terakhir
Ibu mengatakan saat usia kehamilannya 9 bulan keluhan yang
dirasakan pegal dan nyeri di sekitar pinggang dan perut bagian bawah .
c. Tanda-tanda persalinan
Ibu merasa mulas pada perut bagian bawah, sejak pukul 04.00 WIB
tadi malam dengan frekuensi 3x dalam 10 menit dan lamanya > 40
detik ibu merasa tidak nyaman karena adanya nyeri disekitar pinggang
dan symphisis .
d. Pengeluaran pervaginam

13
Ibu sudah mengeluarkan darah dan lendir . ketuban masih utuh
e. Riwayat Kehamilan sekarang
HPHT : 12 Februari 2008 TP : 19 November 2008
ANC teratur di RB Doa Ibu Sidoarjo.
f. Riwayat Imunisasi
Ibu mengatakan sudah mendapatkan imunisasi TT 2x pada usia
kehamilan 4 bulan dan 5 bulan
g. Riwayat kehamilan, persalinan yang lalu
Tempat Usia Jenis Penyakit BB/PB
Hamil Tahun Penolong Jk Keadaan
persalinan kehamilan persalinan persalinan lahir
1. 1991 BPS 9 bulan Normal Bidan Tidak ada Perempuan 3000 Sehat
pervaginam gr/49
cm
2. 1999 BPS 9 bulan Normal Bidan Tidak ada Laki-laki 3100 Sehat
pervaginam gr/50
cm
3. 2006 BPS 9 bulan Normal Bidan Tidak ada Perempuan 3200 Sehat
pervaginam gr/48
cm

h. Riwayat kesehatan keluarga


Klien tidak pernah menderita penyakit menular seperti TBC,
Hepatitis dan tidak pernah menderita penyakit diabetes melitus,
jantung dan lain-lain. Dari pihak ibu atau suami tidak ada
keturunan kembar atau penyakit keturunan maupun penyakit kronis
lainnya
i. Riwayat Seksual dan kontrasepsi
Klien menggunakan alat kontrasepsi suntik dan hubungan seksual
dilakukan 2x seminggu tanpa masalah dan keluhan.
j. Keadaan psikologis
Ibu mengatakan takut dan cemas dengan persalinannya kali ini.Ibu
terlihat gelisah.

14
3.1.1.2. Data Obyektif

1. Pemeriksaan tanda vital


- Pemeriksaan tanda vital dilakukan setiap kali dibutuhkan berdasarkan
keadaan klien.
- Pemeriksaan tanda vital berfungsi sebagai pemantau keadaan klien yang
mudah berubah bila terjadi gangguan pada fungsi organ.
- Pemeriksaan tanda vital pada pasien dengan Retensio Plasenta :
a. Pemeriksaan tanda vital pada px Retensio Plasenta yang disertai
perdarahan.
• Nadi cepat→ 110 x/menit atau lebih
• Pernapasan cepat→ 30 x/menit atau lebih
• Muka tampak pucat, kulit basah
• Tekanan darahnya turun→ sistole < 90 mmHg
• Hb 8 gr % atau lebih
• produksi urin < 30 cc/jam

b. Pemeriksaan tanda vital pada px Retensio Plasenta tidak ada perdarahan


• Nadi cepat→ 110 x/menit atau lebih
• Pernapasan cepat→ 30 x/menit atau lebih
• Muka px tidak pucat
• Tekanan darahnya naik→ sistole > 90 mmHg
• Hb 10 gr % atau lebih
2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan sebagai data penunjang terhadap data yang


digunakan untuk mencari masalah pemeriksaan fisik yang didapat akibat
retensio plasenta.

a. Muka : keluar keringat dingin tampak pucat.


b. Mata : konjungtiva pucat
c. Mulut : bibir pucat, lidah puca
d. Perut : - TFU tinggi pusat atau lebih

15
- kontraksi uterus lembek
e. Genetalia : - tampak tali pusat menjulur
- disertai perdarahan lebih dari 500 cc
- tidak disertai perdarahan
3. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang digunakan untuk memastikan diagnosa yang telah


ditegakkan dan digunakan untuk mencari penyebab timbulnya masalah,
didapatkan Hb kurang dari 11 gr /%.

2.2 Diagnosa
Perdarahan akibat retensio plasenta
Data Subyektif : ibu mengatakan telah melahirkan 30 menit yang lalu dan plasenta
belum lahir, keluar darah banyak sesudah melahirkan.
Data Obyektif : Genetalia tampak tali pusat menjulur dan perdarahan lebih dari
500 cc.
1. Masalah
a. Takut
Data Pendukung
- Data subyektif : klien mengatakan takut plasentanya belum lahir dan
keluar darah banyak.
- Data Obyektif : ibu tampak takut dan selalu bertanya tentang
keadaannya.
b. Nyeri perut
Data Pendukung
- Data subyektif : klien mengatakan perutnya mules.
- Data Obyektif : ibu tampak menahan sakit dan kontraksi uterus baik

2.3 Diagnosa Potensial


Diagnosa potensial yang mungkin timbul pada kasus perdarahan post partum
akibat retensio plasenta :
1. Potensial Syok Hipovolemik
Data Pendukung

16
- Data subyektif : klien mengatakan keluar darah banyak setelah bayi lahir,
kepala pusing, mata berkurang- kunang, badan
keringatan.
- Data Obyektif : tensi sistole kurang dari 100 mmHg, nadi lebih dari
100x/menit, muka keringatan, kontraksi uterus lembek
dan genetalia keluar darah lebih dari 500 cc, akral teraba
dingin

2. Potensial Anemia
Data Pendukung
- Data subyektif : klien mengatakan pusing, mata berkunang- kunang.
- Data Obyektif : muka pucat, conjungtiva pucat, bibir pucat, keluar darah
lebih dari 500 cc, Hb kurang dari 11 gr %.

2.4 Tindakan Segera


2.4.1 Di BPS
- Diagnosis
- Stabilisasi
- Plasenta manual, untuk kasus adhesiva simpleks
- Uterotonika
- Antibiotika
- Rujuk untuk kasus berat

2.4.2 Di Rumah Sakit


- Diagnosis
- Stabilisasi
- Plasenta manual
- Histerektomi
- Tranfusi
- Uterotonika
- Antibiotika
- Kedaruratan
- Komplikasi

17
2.5 Planning
1. Berikan infus dari cairan isotonik / elektronik dengan kateter 18gr
Rasional : dengan diberikan cairan isotonik / elektronik dapat
meningkatkan volume sirkulasi secara cepat dan dapat
menyelamatkan kehidupan pasien.
2. Bantu dengan prosedur sesuai indikasi yaitu separasi manual dan
penglepasan
plasenta.
Rasional : dengan melakukan separasi plasnta, uterus dapat
berkontraksi dengan baik dan perdarahan dapat
dihentikan.
3. Berikan obat-obatan sesuai indikasi : oksitosin, metilergonovin malet
Rasional : dengan pemberian obat-obatan dapat membantu
meningkatkan kontraksi uterus, sehingga memudahkan
plasenta lepas.
4. Observasi TTV : hipotensi, takikardi, perlambatan pengisisan kapiler,
sianosis dasar kaku, membran mukosa dan bibir
Rasional : Dengan melakukan observasi TTV kita dapat mengetahui
keadaan syok / tidak.
5. Observasi intake dan output
Rasional : dengan melakukan observasi intake dan output, kita
dapat mengetahui seberapa besar px kehilangan dan
membutuhkan cairan.
6. Plasenta keluar dalam waktu 15 menit dari mulai tindakan dilakukan.
Rasional : dengan plasenta keluar perdarahan dapat segera berhenti
dan kontraksi uterus membaik.
7. Pemeriksaan laboratorium Hb ulang
Rasional : dengan pemeriksaan lab Hb ulang, kita dapat mengetahui
kadar Hb pasien normal atau tidak.

2.6 Implementasi
Pelaksanaan tindakan

18
Langkah pelaksanaan dalam asuhan kebidanan dilaksanakan berdasarkan rencana
yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan, dalam langkah ini bidan melakukan
secara mandiri dan kolaborasi dengan tim medis lain.

1. Memberikan infus dari cairan isotonik/elektronik dengan kateter 18 g.


2. Membantu dengan prosedur sesuai indikasi yaitu separasi manual dan
penglepasan plasenta.
3. Memberikan obat-obatan sesuai indikasi : oksitosin, metilergonovin maleat.
4. Mengobservasi TTV : hipotensi, takikardia, perlambatan pengisian kapiler,
sianosis dasar kaku, membran mukosa & bibir.
5. Mengobservasi / melakukan observasi intake dan output
6. Melakukan usaha pegeluaran plasenta
7. Melakukan pemeriksaan laboratorium Hb

2. 7 Evaluasi

S : ibu mengatakan plasenta sudah lahir dan sudah tidak mengeluarkan


darah banyak.
O : Plasenta lahir lengkap, perdarahan terhenti, kontraksi uterus baik,
keadaan umum ibu baik dalam waktu 15 menit dengan : TD : 120/80,
Nadi : 84 x/menit, Suhu : 37o C
A : perdarahan post partum akibat retensio plasenta dapat diatasi.
P : 1. Observasi TTV dan keadaan umum pasien
2. Observasi perdarahan, involusi uterus

19
PERTANYAAN – PERTANYAAN DALAM DISKUSI

1. Apa yang menjadi faktor predisposisi terjadinya jenis-jenis plasenta ?


2. Mengapa pemeriksaan Hb dicantumkan dalam data obyektif dan planning ?
jelaskan!
3. Apa maksud dari plasenta sebagai infeksi benda mati ?

JAWABAN DARI PERTANYAAN DIATAS


1. Jenis-jenis plasenta :

a. Plasenta adhesive adalah : implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta
sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis
b. Plasenta akreta adalah : Implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki
sebagian lapisan miometrium
c. Plasenta inkreta adalah : implantasi jonjot korion plasenta yang menembus
lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
d. d. Plasenta Prekreta adalah : implantasi jonjot korion plasenta yang menembus
lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
e. e. Plasenta inkarserata adalah : tertahannya plasenta di dalam kavum uteri
disebabkan oleh konstriksi ostium uteri (Sarwono, Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal, 2002:178).
• Jadi faktor predisposisinya adalah semakin dalam plasenta itu melekat
(implantasinya) maka separasi plasenta semakin sulit dan bisa menyebabkan trauma.

2.
- Hasil Pemeriksaan Hb yang dicantumkan dalam data objektif,
merupakan pemeriksaan awal sebelum melakukan tindakan pemeriksaan
selanjutnya.

20
- Sedangkan pemeriksaan Hb yang dicantumkan dalam planning,
merupakan pemeriksaan kadar Hb ulang.
- Waktu pemeriksaan Hb ulang dilakukan setelah semua tindakan
asuhan yang direncanakan telah dilakukan, seperti :
1. Pemberian infus
2. Separasi manual
3. Pemberian obat-obatan
4. Observasi TTV

3. Plasenta sebagai infeksi benda mati, maksudnya adalah : Plasenta belum keluar
selama 30 menit dan sudah tidak terdapat sirkulasi darah antara plasenta dan tubuh
ibu sehingga plasenta tersebut bisa dikatakan mati. Jika plasenta itu tetap berada
dalam uterus dalam keadaan mati, maka bisa menyebabkan infeksi.

21
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Dari pengkajian data subyektif dan obyektif sesuai
dengan teori baik keseluruhan maupun sebagian.
2. Dari pengkajian data subyektif dan obyektif dapat
dibuat diagnosa / masalah secara teliti menurut teori
3. Dari diagnosa / masalah, kita dapat mengantisipasi
diagnosa / masalah potensial yang mungkin dapat terjadi dari masalah /
diagnosa yang telah diidentifikasi.
4. Dari diagnosa / masalah potensial, kita dapat menilai
adanya kebutuhan untuk intervensi segera berdasarkan kondisi klien.
5. Dengan ditentukannya kebutuhan klien, kita dapat
membuat rencana tindakan berdasarkan diagnosa / masalah.
6. Dari rencana tindakan tersebut, kita dapat melaksanakan
tindakan asuhan.
7. Setelah kita melakukan tindakan, maka dapat
mengevaluasi rencana tindakan dan membuat follow up

3.2 Saran

22
DAFTAR PUSTAKA

Hemoragi Utomo Obstetri dan Ginekologi. Widya Medika. Jakarta. 1998

Manuaba, G. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana


Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC

Prawirohardjo, S. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo.

Subroto. 1987.Pant hom. Surabaya : FK Unair

23