LAPORAN NASIONAL RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS) TAHUN 2010

1

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT selalu kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 telah dapat terselesaiakan. Di dalam Laporan ini dimunculkan perkembangan status kesehatan masyarakat Indonesia khususnya yang berkaitan indikator MDG’s untuk tingkat nasional dan tingkat provinsi. Hasil Riskesdas 2010 mencakup indikator MDG’s nomor 1,4,5,6 dan 7, yaitu : status gizi balita, tingkat konsumsi energi per kapita, kesehatan reproduksi yang diwakili dengan indikator penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, cakupan penggunanaan kotrasepsi oleh perempuan WUS, cakupan imunisasi campak kelompok umur 12-23 bulan, prevalensi TB paru dan malaria, pengetahuan pencegahan HIV/AID, akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan Juni-Juli 2010, di 33 provinsi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) mengerahkan sejumlah enumerator untuk setiap kabupaten/kota, seluruh peneliti Balitbangkes, dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta Perguruan Tinggi. Untuk data kesehatan masyarakat, berhasil dihimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil dihimpun dan diperiksa spesimen dahak dan darah dari sampel anggota rumah tangga. Proses manajemen data mulai dari data dikumpulkan dan dientry ke komputer dilakukan di masing-masing daerah, kemudian data cleaning dilakukan di Badan litbangkes. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan dinamika kehidupan yang indah dalam dunia ilmiah. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas. Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Kami telah berupaya maksimal, namun pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas dimasa yang akan datang.. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb. Jakarta, 17 Agustus 2010 Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, Msi, SpF(K)

2

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Kementerian Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator MDG’s berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2010. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik berkaitan indikator MDG’s 1,4,5,6 dan 7, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas 2010 dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji dengan cepat apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai asupan baru bagi Sistem Kesehatan Nasional yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Puskesmas PRM/labkesda, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan. Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 17 Agustus 2010 Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., DR.PH.

3

9 persen yang gizi buruk.9 persen diantaranya 4. kesehatan anak. dan terendah adalah Bangka Belitung (7.5%). penyakit menular. kesehatan ibu. kehamilan dan pemeriksaan sesudah melahirkan. sanitasi lingkungan dan pengeluaran ruta.4 persen (NTT). Pengukuran tinggi badan/panjang badan dan berat badan dilakukan pada setiap responde.RINGKASAN EKSEKUTIF Riskesdas 2010 merupakan kegiatan riset kesehatan berbasis masyarakat yang diarahkan untuk mengevaluasi pencapaian indikator Millenium Development Goals (MDGs) bidang kesehatan di tingkat nasional dan provinsi. Populasi sampel adalah seluruh rumah tangga di Indonesia. Besar sampel sebanyak 2800 BS. Hasil analisis dapat dilaporkan sebagai berikut: Prevalensi balita kurang gizi (balita yang mempunyai berat badan kurang) secara nasional adalah sebesar 17. perilaku seksual. fasilitas pelayanan kesehatan. konsumsi makan dalam 24 jam kemarin. diantaranya 823 BS sebagai sampel biomedis (malaria dan TB). Pengumpulan data dan entri data dilakukan oleh tenaga terlatih dengan kualifikasi minimal tamat D3 kesehatan.6%). kemudian melakukan pengiriman data secara elektronik kepada tim manajemen data pusat. cara KB. Data yang dikumpulkan meliputi keterangan ruta dan anggota ruta.6%). dengan prevalensi tertinggi adalah Provinsi Jambi (20%). Desain Riskesdas 2010 adalah potong lintang dan merupakan penelitian non-intervensi. Sementara itu prevalensi balita pendek (stunting) secara nasional adalah sebesar 35. Tujuan Riskesdas 2010 adalah mengumpulkan dan menganalisis data indikator MDG’s kesehatan dan faktor yang mempengaruhinya.3 persen.. Prevalensi balita kurus (wasting) secara nasional adalah sebesar 13. pengetahuan dan perilaku kesehatan.6 persen. Pemilihan sampel dilakukan secara random dalam dua tahap. Keterangan individu meliputi identitas individu.5 persen (DI Yogyakarta) sampai 58. Sampel BS tersebut tersebar di 33 dan 441 kabupaten/kota. Prevalensi balita gizi kurang menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi NTB (30. Tahap pertama melakukan pemilihan Blok Sensus (BS) dan tahap kedua pemilihan Rumah tangga (ruta) sebanyak 25 ruta setiap BS. Keterangan ruta meliputi identitas ruta. Pada tanggal tersebut sejumlah 2704 BS sampel yang terkumpul datanya atau sekitar 96. Pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran data dilakukan oleh Penanggung Jawab Tehnis Kabupaten.5% dari 2800 BS sampel siap untuk dianalisis. dan terendah adalah Provinsi Sulut (10. dan pemeriksaan darah malaria dilakukan dengan Rapid Diagnostic Test (RDT). Pengumpulan data di beberapa daerah telah mulai dilakukan sejak bulan Juni 2010 berakhir pada tanggal 8 Agustus 2010 untuk dilakukan pengolahan dan analisis. dengan rentang 22. 4 . sedangkan untuk TB paru dilakukan pemeriksaan dahak pagi dan sewaktu hanya pada kelompok umur 15 tahun ke atas. keguguran dan kehamilan yang tidak diinginkan.

Penggunaan alat/cara KB diketahui hanya 53. Demikian pula halnya pada provinsi seperti Maluku Utara.1 persen. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak menurut provinsi yang terbaik adalah DI Yogyakarta (96.1 persen di Polindes/Poskesdes. dan 27. Secara nasional masih ada 19% perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB untuk mencegah/menunda kehamilan.5 persen.6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal (kurang dari 70% dari Angka Kecukupan Gizi/AKG) yang dianjurkan tahun 2004. Walaupun secara nasional 59. akan tetapi di beberapa provinsi penggunaan fasilitas kesehatan untuk melahirkan masih sangat rendah.6%).3 persen kelahiran sudah dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. 8 persen di Maluku Utara. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak pada Riskesdas 2010 ini adalah sebesar 74. serta 44. Untuk kesehatan ibu. dan terendah adalah provinsi Bengkulu (23.4 persen perempuan usia reproduktif menggunakan fasilitas kesehatan untuk persalinan. 54. Terpantau juga jenis penggunaan alat/cara KB yang masih dominan adalah dengan suntikan yaitu 31. atau 12.9 persen pada perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun.3%). 5 .2 persen anak usia sekolah.9%) dan tertinggi di Bali (64.2 persen ibu hamil mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal.Hasil Riskesdas 2010 menunjukan 40.3 persen selama kehamilan memeriksakan kehamilan minimal 4 kali (K4).8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan.8% ibu hamil mengikuti pelayanan antenatal. serta 4.5 persen remaja.5 persen yang memanfaatkan untuk persalinan.1 persen yang pernah ber KB akan tetapi sekarang tidak menggunakan. dan 3. Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sudah lebih baik. Sementara itu proporsi penduduk tertinggi dengan konsumsi <70% AKG adalah NTB (46. yaitu 84%. Akan tetapi masih ada 2. seperti 7.4%). Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat pelayanan terdekat ke masyarakat juga perlu ditingkatkan. Kelompok penduduk di perdesaan cenderung lebih banyak menggunakan suntikan untuk pencegahan kehamilan dibanding perkotaan. demikian juga perhatian perlu dipusatkan pada penduduk miskin.2 persen masih memeriksakan kehamilan ke dukun.2 persen Dewasa. Sebagian besar pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52. secara nasional 82. Tenaga kesehatan terlatih di wilayah perdesaan perlu lebih ditingkatkan agar kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan tidak jauh berbeda dengan kelompok penduduk perkotaan. 41. dan Papua Barat perlu mendapatkan perhatian agar proporsi perempuan usia reproduktif dapat lebih banyak mendapatkan pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan. Maluku. akan tetapi hanya 61. Disparitas menurut provinsi dapat diketahui dari yang terendah di Papua Barat (31. karena hanya 1.4%) dan terendah adalah Papua (47. dan hanya 12 persen di Puskesmas.1 persen di Sulawesi Tengah.4 persen Balita. Selain itu diketahui akses (K1) adalah 92.5%). Berdasarkan kelompok umur dijumpai 24.8 persen di Sulawesi Tenggara.7%). 40.

Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional.9%) dan terendah di Bali (8.6 persen.5 persen. 6 . . serta 89. dan Bali (0.8 persen. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0.Pada kelompok penduduk yang tidak menggunakan alat/cara KB. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 16. penggunaan Artemisinin Combination based Therapy (ACT) di Indonesia hanya mencapai 49. di daerah perkotaan. Menurut provinsi rentangan berkisar 8.6 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi Bali. Karena secara nasional persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46.Menurut provinsi rentangan berkisar 44. penduduk yang masih sekolah dan dengan pekerjaan sebagai pegawai atau wiraswasta.5 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. Secara nasional prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS adalah 75. terdeteksi secara nasional 14. Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi DI.4 persen yang diminum dengan dosis lengkap.3 persen. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12.3%). 80. sedangkan pada balita hanya 21. Variasi antar provinsi. penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34. DI Yogyakarta.25%). Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 32. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua (1.1 persen.Yogyakarta.4 persen (Papua).4-35.5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan. Rentang API Nasional adalah antara 0. Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional. Masalah lain yang perlu mendapat perhatian untuk mempercepat penurunan kematian ibu adalah mengupayakan penundaan perkawinan menjadi usia 20 tahun.9 persen. Khusus pada balita. dan hanya 75. Dari hasil wawancara. Proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010. Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS secara nasional yaitu 18.7 persen. Pada penduduk laki-laki meningkat 11 persen. Sebanyak 20 provinsi dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional.0 persen sebenarnya mereka membutuhkan akan tetapi tidak terpenuhi (unmet need).4%).7 persen.7%). dan 83.7 persen. pendidikan lebih tinggi.3-93.1 persen.3 persen (Bali) dan 31.2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66. Jadi penderita malaria semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33. Lampung. Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 24 permil.0 persen.0 persen. juga pada penduduk dengan status ekonomi lebih tinggi.6 persen yang diminum dengan dosis lengkap.5 persen pada responden semua kelompok umur. cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26. Prevalensi lebih tinggi pada penduduk belum kawin. dijumpai cukup lebar dari yang tertinggi di Papua Barat (32. sedangkan pada perempuan meningkat sebanyak 12 persen dibandingkan Riskesdas 2007.

27 persen .14 persen. Akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55.35%).75%).83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25.Proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16.53 persen. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84. Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan.79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0.91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45.85%).69 persen.83 persen yang akses terhadap sumber air terlindung. 7 . maka secara nasional terdapat 72.74%). Lebih lanjut dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45.5%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29. tertinggi di Provinsi Gorontalo (66. Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56. paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44.

Goal 6 MDG 5. Goal 5 MDG 4. Goal 7 MDG BAB 4 Kesimpulan Lampiran 2 3 4 8 9 12 12 12 12 15 16 16 17 17 33 40 68 96 108 109 8 . Manajemen Data BAB 3 Hasil dan Pembahasan 1.DAFTAR ISI Kata Pengantar Sambutan Menteri Kesehatan Kesehatan Republik Indonesia Ringkasan Eksekutif Daftar Isi BAB 1 Pendahuluan BAB 2 Metodologi 1. Goal 4 MDG 3. Populasi dan Sampel 4. Goal 1 MDG 2. Variabel 5. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpul Data 6. Disain 2. Lokasi 3.

meliputi semua indikator kesehatan utama.000 sampel serum. minum alkohol. untuk test-test lanjutan di laboratorium Badan Litbangkes. Telah dikumpulkan pula sekitar 33. memantau dan mengevaluasi program-program kesehatan berbasis bukti (evidence-based planning). yaitu status kesehatan (penyebab kematian. pembiayaan kesehatan). konsumsi rumahtangga. terutama Kementerian Kesehatan. bermutu. termasuk swasta dan masyarakat madani. HIV/AIDS. melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna. perilaku higienis. dan berkeadilan. dengan tujuan untuk melakukan evaluasi pencapaian program kesehatan yang telah dilaksanakan. oleh Bappenas. mengalokasikan anggaran. Pada deklarasi tersebut disepakati 8 tujuan untuk mencapai MDGs di tahun 2015 yaitu: memberantas kemiskinan dan kelaparan. perilaku konsumsi makanan) dan berbagai aspek mengenai pelayanan kesehatan (akses. cakupan.BAB I. Komposit beberapa indikator Riskesdas 2007 juga telah digunakan sebagai model Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) di Indonesia untuk melihat peringkat Kabupaten/Kota. Riskesdas ini dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan RI. angka kecelakaan. dan sediaan apus. mutu layananan. aktivitas fisik. merata. Salah satu strateginya adalah “Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) merupakan Riset Kesehatan berbasis komunitas berskala nasional sampai tingkat kabupaten/kota. dan oleh beberapa kabupaten/kota dalam merencanakan. penggunaan tembakau. angka kesakitan. kesehatan lingkungan (lingkungan fisik). dan menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. mencapai 9 . Hasil Riskesdas 2007 telah dimanfaatkan oleh penyelenggara program. bermutu dan berkeadilan serta berbasis bukti dengan mengutamakan pada upaya promotif dan preventif”. bekuan darah. PENDAHULUAN Visi Kementerian Kesehatan adalah “Masyarakat Sehat yang mandiri dan berkeadilan. menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan. Sedangkan misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. untuk evaluasi program pembangunan termasuk pengembangan rencana kebijakan pembangunan kesehatan jangka menengah (RPJMN 2010-2014). Pada tahun 2007 Badan Litbangkes telah melakukan Riskesdas pertama. dan status gizi). melaksanakan. Riskesdas direncanakan dilaksanakan secara periodik. angka disabilitas. Riskesdas 2010 bertepatan dengan tahun akan dilaksanakannya pertemuan puncak tingkat tinggi Majelis Umum PBB untuk mengevaluasi pencapaian deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) dari 189 negara termasuk Indonesia. Untuk itu diperlukan data kesehatan dasar yang dapat dikumpulkan secara berkesinambungan. pengetahuan-sikap-perilaku kesehatan (Flu Burung. sekaligus sebagai bahan untuk perencanaan kesehatan. terjangkau.

Pertanyaan penelitian untuk Riskesdas 2010 yaitu: 1) Bagaimanakah status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi?. Beberapa indikator MDGs kesehatan yang dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 adalah status gizi balita dan konsumsi (memberantas kelaparan). memerangi HIV/AIDS. Beberapa indikator MDGs kesehatan lainnya yaitu prevalensi HIV/AIDS dan angka kematian anak tidak dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 karena memerlukan penelitian khusus atau didapat dari sumber data lain. serta melibatkan penyelenggara program terkait. perguruan tinggi. malaria dan tuberkulosis. dan komitmen kesehatan tingkat nasional dan global sebagai bahan penilaian pencapaian MDGs di tahun 2015. Selain itu. meningkatkan kesehatan ibu. Pengorganisasian Riskesdas 2010 sama dengan Riskesdas 2007 dilaksanakan sepenuhnya oleh seluruh jajaran Balitbangkes dengan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk metodologi dan penentuan sampel nasional dan provinsi. Riskesdas 2010 difokuskan pada indikator-indikator pencapaian MDGs dan data pendukung lainnya. lembaga penelitian. akses sumber air minum yang aman dan fasilitas sanitasi dasar. organisasi profesi. perubahan masalah kesehatan di tingkat nasional dan provinsi. pemerintah daerah. mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. prevalensi malaria dan tuberkulosis (menurunkan angka kesakitan). Data tersebut dikumpulkan seperti pada Riskesdas 2007 yaitu melalui wawancara. dan masyarakat. dan perkembangan upaya pembangunan kesehatan di tingkat nasional dan provinsi dalam tiga tahun terakhir. Riskesdas 2010 adalah Riskesdas MDGs karena menghasilkan beberapa indikator MDGs kesehatan nasional (Indonesia) yang berbasis bukti. dan b) Memperoleh gambaran faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan provinsi. dan 2) Bagaimana faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan provinsi? Tujuan umum adalah memperoleh gambaran pencapaian target indikator MDG khusus kesehatan pada tahun 2010 berdasarkan Provinsi dan Nasional. Riskesdas serupa 2007 direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2013.universal primary education. Pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan segera setelah selesainya Sensus Penduduk 2010. 10 . memastikan lingkungan yang kesinambungan. mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Dalam rangka mendukung pertemuan tersebut dan mendapatkan data kesehatan terkini yang faktual. pengukuran. dan pemeriksaan laboratorium untuk kepastian penyakit malaria dan tuberkulosis yang dilakukan di lapangan (darah malaria) dan Laboratorium Puskesmas yang direkomendasi (dahak tuberkulosis). status kesehatan ibu dan anak (menurunkan kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu). menurunkan kematian anak. Tujuan khsuusnya adalah untuk: a) Menilai status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi. juga sebagai sarana untuk mengevaluasi perkembangan beberapa status kesehatan masyarakat Indonesia di tingkat nasional dan provinsi. Untuk menjaga kesinambungan.

d. Jawa Timur. Riskesdas 2010 telah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Lampung. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi DI Yogyakarta. Nusa Tenggara Barat. dan Sulawesi Selatan c. Jambi. DKI Jakarta. Sulawesi Tengah. Gorontalo. Riskesdas 2010 memberikan manfaat untuk memantau indikator MDGsn khusus kesehatan sehingga dapat digunakan untuk mempertajam strategi kebijakan pembangunan kesehatan dalam mempercepat pencapaian MDG 2015. Sulawesi Utara. Pengembangan kuesioner dan pedoman dilakukan oleh tim teknis Balitbangkes dan dilakukan pelatihan berjenjang mulai dari pelatih tingkat pusat sampai ke enumerator sebagai pengumpul data di lapangan. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Maluku. Kalimantan Tengah. Sulawesi Tenggara. b. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (lihat lampiran). Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu. Keseluruhan proses Riskesdas 2010 dimulai semenjak bulan februari 2010 sampai data selesai dikumpulan pada minggu pertama Agustus 2010. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Barat. dan Papua. Jawa Barat.Riau. Jawa Tengah. Sumatera Barat. Kalimantan Timur. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung. dan Papua Barat. Sumatera Utara. Kep. 11 .jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi Riau. Kalimantan Barat.Proses pengumpulan data dilakukan dibawah koordinasi Balitbangkes yang terbagi menjadi empat koordinator wilayah sebagai berikut: a. dan Maluku Utara. Banten. Kalimantan Selatan. Bangka Belitung. Sumatera Selatan. Bali.

Riskesdas berhasil mengumpulkan seluruh BS kecuali di kabupaten Nduga. c) Sehubungan dengan waktu untuk analisis indikator MDG sudah harus dilaksanakan. tidak bisa diikutkan untuk proses analisis. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud. yang mewakili penduduk di tingkat nasional dan provinsi dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan untuk kepentingan pencapaian MDGs. beberapa catatan berkenan dengan lokasi adalah sebagai berikut: a) Dalam proses pengumpulan data. hal ini disebabkan karena BS semula terpilih jumlah rumah tangga yang akan menjadi sampel tidak terpenuhi dengan kriteria yang sudah ditetapkan b) Ada 1 kabupaten di Provinsi Papua (Kabupaten Nduga) yang tidak dapat dikunjungi dalam periode waktu pengumpulan data Riskesdas. Akan tetapi karena analisis harus segera dilakukan maka 94 BS yang belum sempat terkirim ke manajemen data pusat per tanggal 12 Agustus 2010. Dari setiap provinsi diambil sejumlah blok sensus yang representative terhadap jumlah rumah tangga/anggota rumah tangga di provinsi tersebut. Lokasi Sampel Riskesdas 2010 mewakili nasional dan 33 provinsi yang tersebar di 441 Kabupaten/Kota dari total 497 Kabupaten/Kota di Indonesia.BAB II. Pemilihan BS dilakukan sepenuhnya oleh BPS dengan memperhatikan status ekonomi. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2010 dipilih berdasarkan listing Sensus Penduduk (SP) 2010. Sampai dengan laporan ini dibuat.5 persen (lihat tabel 1) 3. terjadi 43 pergantian BS dari 2800 BS yang telah ditetapkan semula. 12 . Papua. 2. Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya. METODOLOGI 1. maka dari 2800 BS yang seharusnya menjadi sampel Riskesdas hanya dapat diolah sejumlah 2704 BS atau 96. Proses pemilihan rumah tangga dilakukan BPS dengan two stage sampling yang sama dengan Riskesdas 2007/Susenas 2007. Riskesdas memilih BS yang telah dikumpulkan SP 2010. rasio perkotaan/perdesaan. Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif. Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2010 adalah seluruh rumah tangga biasa yang mewakili 33 provinsi yang tersebar di 441 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. dan prevalensi malaria/TB-paru hasil Riskesdas 2007. Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia.

Jumlah rumah tangga yang diharapkan terkumpul adalah 70.Penarikan Sampel Rumah Tangga/Anggota Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 25 (dua puluh lima) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling).906) yang diolah adalah mewakili 96.906.946.5% dari total 13 . Jumlah sampel rumah tangga (66.000 dari 2800 BS. jumlah sampel rumah tangga dari 2704 BS adalah 66. Riskesdas 2010 Jml BSSampel 53 128 54 66 40 83 29 86 23 28 111 494 343 54 410 117 49 64 50 53 35 50 46 38 34 85 33 23 22 23 19 22 35 2800 Jml BS-yang diolah 51 117 52 64 33 82 29 84 23 28 111 487 343 54 410 115 49 64 31 40 35 50 46 32 26 85 33 23 22 23 19 21 22 2704 Jml BS yang belum diolah 2 11 2 2 7 1 0 2 0 0 0 7 0 0 0 2 0 0 19 13 0 0 0 6 8 0 0 0 0 0 0 1 13 96 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Secara keseluruhan. yang menjadi sampel rumah tangga dari jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut. Tabel 1 Jumlah Sampel Blok Sensus (BS) menurut Provinsi. dengan jumlah individu 241.

106 550 571 2.031 2.899 1.235 4.529 29.225 1.275 2.906 241. Seharusnya dari 2704 BS akan terkumpul 67.940 2.704 *) Jumlah rumah tangga seharusnya adalah 25 per BS 14 .076 875 1.694 725 2.009 525 514 1.100 575 2.320 700 2.250 2.218 4.994 475 499 2.075 825 2.250 1.946 67.600.310 1.300 1.506 775 968 3.201 1. Tabel 2.400 825 575 2.099 7.800 10.039 7.597 1.140 4.599 5. Riskesdas 2010 Jumlah Rumah Jumlah tangga*) ART yang Sampel Yang seharusnya terkumpul terkumpul 1.851 11.123 1.362 2.050 575 678 2.367 10. Distribusi sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga menurut Provinsi.050 725 2.496 2.175 8. Distribusi jumlah rumah tangga dan anggota rumah tangga dapat dilihat pada tabel 2.662 9.268 4.780 1.300 5.385 575 473 1.096 41.590 6.325 1.227 1.350 4.875 1.000 874 3.703 2.174 575 550 2.118 8.738 12. artinya ada 694 rumah tangga yang tidak ditemukan pada saat pengumpulan data.517 8. Tidak semua 2704 BS dapat mengumpulkan masing-masing 25 rumah tangga sampel.575 1.925 1.125 825 3.350 10.493 1.180 35.296 2.150 771 2.780 550 66.320 2.sampel yang diharapkan.600 816 3.652 800 650 644 2.600 774 3.600 PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Jml BS 51 117 52 64 33 82 29 84 23 28 111 487 343 54 410 115 49 64 31 40 35 50 46 32 26 85 33 23 22 23 19 21 22 2.775 12.

yang terdiri dari 6 sub-blok: 1. dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a. Blok VIII-E tentang kesehatan anak . Da.tentang konsumsi makanan individu (jumlah variabel tergantung makanan yang dikonsumsi.Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis merupakan sub-sampel dari 2800 BS yang mewakili nasional atau sejumlah 823 BS. Blok VIII-D tentang kesehatan reproduksi. pemeriksaan sesudah melahirkan (41 variabel) 5. De Keguguran dan Kehamilan yang tidak diinginkan (10 variabel) 6. Kuesioner rumah tangga (RKD10. Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan indikator MDG bidang kesehatan dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. 2. Db Fertilitas (11 variabel) 3. yang terdiri dari 2 sub-blok: 1. persalinan. Dd Kehamilan. Perilaku seksual (6 variabel) v. Blok VI tentang sanitasi lingkungan (20 variabel). Dalam Riskesdas 2010 terdapat kurang lebih 315 variabel yang tersebar dalam 2 (dua) jenis kuesioner (lihat file terlampir).IND). dan anggota rumah tangga usia 15 tahun keatas yang dilakukan pengambilan sputum/dahak pagi dan sewaktu untuk pemeriksaan TB paru. Untuk pemeriksaan malaria. rumah tangganya dan anggota rumah tangganya selain dikumpulkan variabel kesehatan masyarakat juga dialkukan pemeriksaan biomedis. Blok VII tentang Pengeluaran Rumah Tangga (39 variabel) b. Dc Alat/cara KB (8 variabel) 4. Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel). Kesehatan bayi dan anak balita (22 variabel). Blok VIII-B tentang penyakit menular: Malaria (10 variabel). Blok IV tentang anggota rumah tangga (13 variabel). yang terdiri dari: Blok VIII ini dikelompokkan menjadi i. Blok IX. Blok X tentang pengukuran tinggi/panjang badan dan berat badan (5 variabel) Blok XI tentang Pemeriksaan laboratorium (7 variabel).RT) yang terdiri dari: Blok I tentang pengenalan tempat (11 variabel). Blok II tentang keterangan rumah tangga (4 variabel). Pada BS yang terpilih untuk biomedis. 15 . Masa reproduksi perempuan (6 variabel) 2. TB paru (9 variabel) iii. 4. Blok V tentang dasilitas pelayanan kesehatan (18 variabel). Kuesioner individu (RKD10. Blok VIII-C tentang pengetahuan dan perilaku (22 variabel) iv. ASI dan MP-ASI (10 variabel) vi. seluruh anggota rumah tangga dari 823 BS dilakukan pengambilan darah. Blok VIII-A tentang identifikasi responden (4 variabel). ii.

diwakili atau tidak diwakili. dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT). T1. pencegahan TB paru. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD10. responden untuk Kuesioner RKD10. T2. MT2). pengetahuan tembakau.RT Responden untuk Kuesioner RKD10. Pengumpulan data rumah tangga dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD10. dan konsumsi jamu/obat tradisional. pencegahan malaria. Mt1.IND adalah setiap anggota rumah tangga. tinggi badan / panjang badan.RT terdapat keterangan anggota rumah tangga termasuk variabel yang dapat menunjukkan apakah anggota rumah tangga diwawancarai atau tidak. pengukuran berat badan. M2. 6. data langsung dikirim via email ke tim manajemen Pusat untuk dilakukan pemeriksaan kelengkapan dan data cleaning Bersama dengan BPS melakukan proses pembobotan untuk siap di analisis. hasil pemeriksaan darah malaria dan sputum digunakan formulir tersendiri (form M1. Untuk biomedis.IND Secara umum. Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular malaria dan TB paru. dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya. dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan TB Paru dengan mengambil sputum pagi dan sewaktu. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2010 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data. konsumsi individu.RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi Dalam Kuesioner RKD10. b. c. dengan rincian sebagai berikut: a. 16 . Manajemen Data Balitbangkes membentuk tim manajemen data pusat yang mengkoordinasikan seluruh proses yaitu: Bersama dengan BPS mengembangkan program data entry yang digunakan oleh enumerator setelah data dikumpulkan di lapangan Setelah data entry dilakukan di lapangan. Anggota rumah tangga perempuan berumur 10-59 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan Kesehatan Reproduksi Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan kesehatan anak. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun. Anggota rumah tangga berumur = 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan pengetahuan dan perilaku tentanh HIV/AIDS.5. Anggota rumah tangga berumur 10-24 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai perilaku seksual.

1. Proporsi penduduk dengan asupan kalori dibawah tingkat konsumsi minimum STATUS GIZI PADA BALITA Seperti halnya pada Riskesdas 2007. 1. Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). 4. Untuk menilai status gizi balita digunakan Standar Antropometri yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2005 atau yang disebut dengan “Standar WHO 2005”. Status Gizi Balita Tingkat Nasional Secara nasional prevalensi balita “gizi burkur” menurun sebanyak 0.8 persen pada tahun 2007 menjadi 35. dan prevalensi balita kurus menurun sebanyak 0. dan 7. maka hasil dan pembahasan berikut khusus menyajikan indikator untuk menjawab goal 1. indikator status gizi yang dipakai adalah BB/U dan angka prevalensi status “underweight” (gizi kurang dan buruk atau disingkat “Gizi Burkur”) dijadikan dasar untuk menilai pencapaian MDGs. Prevalensi balita kurang gizi (berat badan rendah. Demikian pula halnya dengan prevalensi balita pendek yang menurun sebanyak 1. 1. Beberapa indikator terkait goal dimaksud juga disajikan agar informasi yang disajikan menjadi lebih lengkap. Balita Pendek dan Balita Kurus. Dalam Millenium Development Goal (MDGs). Balita Pendek dan Balita Kurus dari tahun 2007 ke 2010 antara daerah Kota dan Desa. Untuk prevalensi masing-masing indikator menurut BB/U.4 persen pada tahun 2007 menjadi 17. dan kurus) 2. TB/U dan BB/TB dapat dilihat pada tabel 1. Status Gizi Balita Di Daerah Kota dan Desa Terdapat perbedaan perkembangan Prevalensi Balita Gizi Burkur. Di daerah Kota secara umum terjadi penurunan prevalensi Balita Gizi Burkur. HASIL DAN PEMBAHASAN Sesuai dengan tujuan dari Riskesdas 2010 yaitu memberikan informasi terkini keadaan kesehaatan masyarakat berkaitan dengan MDG. dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB).1).3 persen yaitu dari 13.1a.6 persen pada tahun 2007 menjadi 13. 1. Di daerah Desa tidak terjadi penurunan prevalensi. 5. Indikator: 1. Indikator status gizi yang digunakan adalah: Berat Badan menurut Umur (BB/U). pendek.6. 17 .2.6 persen pada tahun 2010.1. TB/U dan BB/TB) disajikan pada Tabel 1. status gizi balita dinilai berdasarkan parameter antropometri yang terdiri dari berat badan dan panjang/tinggi badan. 1.1b.1c. Prevalensi balita menurut tiga indikator status gizi (BB/U.3 persen pada tahun 2010 (Tabel 1. Goal 1 – MDG Target: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015.9 persen pada tahun 2010.5 persen yaitu dari 18.2 persen yaitu dari 36.BAB III.

7 41.Di daerah Kota prevalensi balita Gizi Burkur menurun dari 15.2 40.1 27.2 30.1 10.9 TB/U PENDEK 2007 44.8 17.9 9.7 11.2 21.7 14.0 43.6 12.7 14.0 15.8 23.8 39.3).7 13.6 26.5 29.3 16.6 16.6 22.6 2010 14.7 36.3 18.2 26.8 33.5 18.0 16.4 24.8 2010 38.1 19. prevalensi balita pendek turun dari 32.1 persen tahun 2007 menjadi 12.4 39.8 11.4 44. Nusa Tenggara Barat 53.0 15.9 9.6 33.1. Jawa Timur 36.8 39.2 19.2 38. Sumatera Barat 14. Bengkulu 18.5 35. dan prevalensi balita kurus turun dari 13.3 22.6 17.3 11. Kalimantan Tengah 63.9 14.2 15.5 29.8 14.9 16.4 31.3 42.3 15.9 33.4 37. Maluku 82.8 35.2 17. Kepulauan Riau 31.0 14. Sulawesi Utara 72.1 18.4 27.8 13.3 15. Jambi 16.2 17.2 9.8 40.3 48.3 32.3 18 .3 17. DI Yogyakarta 35.8 25.9 37.5 16.7 35.4 29.6 17.4 18.4 12.0 15. Jawa Barat 33.0 26.5 26. Nanggroe Aceh Darussalam 12. P a p u a INDONESIA GIZI BURKUR 2007 26.6 35.9 15.0 15.3 12.2 14.3 13.7 35.4 17.1 27. Kalimantan Timur 71. Sulawesi Barat 81.0 36.7 11.5 33.1 13.3 26.2 39.1 10.6 37.5 24.4 persen tahun 2010 (Gambar 1.5 20. Jawa Tengah 34.4 14.5 13.5 11.0 13.0 31.2 14.5 26.6 19. Sumatera Selatan 17.9 26.4 2010 23. Banten 51.0 11.2 58.6 22.8 12.9 17.3 29.7 36.2 23.8 13.6 7.5 27.0 38.8 13.4 29. Papua Barat 94.9 15.2 20.6 26.5 persen tahun 2010 (Gambar 1.8 26.1 13.2 17.4 13. DKI Jakarta 32.2 28. B a l i 52.8 22.8 16.3 16.6 19.6 33.3 41.9 22.5 22. Maluku Utara 91.5 29.0 14.0 22.4 25.6 22.1 40.0 8.2 persen tahun 2010 (Gambar 1.2 17.3 29.1 36.3 13.2 14. Gorontalo 76.1). Sumatera Utara 13.1 14.3 35.8 40.9 10.0 30.6 BB/TB KURUS 2007 18. Nusa Tenggara Timur 61. R i a u 15. STATUS GIZI BALITA PADA TAHUN 2007 DAN 2010 BB/U PROVINSI 11.2 31.7 39. Sulawesi Selatan 74.1 21. TABEL 1.5 16.9 11.2 15. Kalimantan Barat 62.5 25. Sulawesi Tenggara 75.4 12.1 16.2 16.7 persen tahun 2007 menjadi 31.9 44.4 13.6 36.2).5 20.5 45.9 persen tahun 2007 menjadi 15.8 9. Kalimantan Selatan 64.8 20.7 21.7 15.5 36.7 27.1 10. Bangka Belitung 21.7 16.8 17.8 36.0 17.9 7.9 16.2 40.2 14.6 43.9 42.6 34.7 46.9 18. Sulawesi Tengah 73.5 39. Lampung 19.4 49.0 11.9 17.2 14.8 32.7 10.5 16.8 11.0 13.6 15.

3 13.3 4.8 8. Lampung 19.4 10.0 13.9 20.6 26.4 6.4 29.8 7.7 6.7 22.6 19. Sulawesi Barat 81.1 6.5 11.8 5.4 11.6 9. Sumatera Barat 14. Sulawesi Tenggara 75. Sulawesi Utara 72. Maluku 82.1 10.7 9.6 16.3 3.6 18. Banten 51.0 30. Bengkulu 18. Kepulauan Riau 31. R i a u 15.8 12.0 10. Sulawesi Selatan 74.9 Status Gizi BB/U Gizi kurang 16.0 4. DKI Jakarta 32.6 3.2 23.0 9.3 1.3 13. B a l i 52. Jawa Timur 36. Maluku Utara 91.0 Gizi Buruk+ Gizi Kurang 23.7 9.4 17.5 4.1 16.4 14.9 17.5 25.0 15.Tabel 1.7 9.8 4.9 6. Kalimantan Tengah 63.8 4.2 4.1 3.3 15.4 9.5 20.2 17.8 18.4 14.8 2. Kalimantan Selatan 64. Kalimantan Barat 62.8 1.2 17.9 12.1 27.9 15. Prevalensi Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk (BB/U) Menurut Provinsi Tahun 2010 Provinsi Gizi buruk 11. Kalimantan Timur 71. Sulawesi Tengah 73. Sumatera Selatan 17.1 7. Nusa Tenggara Timur 61.7 11.1 18. Sumatera Utara 13. Nanggroe Aceh Darussalam 12.9 12.4 5. Papua Barat 94.6 13.3 14.4 3.9 19 .6 26.0 11.3 12.5 14.5 16.5 26.9 14.0 11.3 13.5 29.2 19.4 4.4 19. Nusa Tenggara Barat 53.3 2. Bangka Belitung 21.6 22. DI Yogyakarta 35.5 11. P a p u a INDONESIA 7.5 5.2 7.0 22. Jawa Tengah 34.5 3.8 17.3 16.9 17.4 11.9 17.7 10.7 9.3 6.6 8.2 19. Gorontalo 76.7 21.1a. Jawa Barat 33.8 26.4 5. Jambi 16.

4 14.7 39. Kalimantan Selatan 64.3 16.1 27.3 17.3 29. Gorontalo 76.2 58.4 23.0 15.0 15. Sulawesi Tenggara 75. Maluku 82.5 12. Bengkulu 18.8 18. Kalimantan Timur 71.6 15.5 19.9 42.0 15.5 27.2 40.1 Pendek+ Sangat pendek 38.6 11.1 17.9 14. Sulawesi Tengah 73.5 14.0 21.3 29. Jawa Tengah 34. Maluku Utara 91.2 30.4 39.9 26.6 33.7 18.9 37. Bangka Belitung 21.3 18.7 20.3 48. Sumatera Barat 14.8 30.6 19. Sulawesi Barat 81.3 35.5 35.5 11.0 17.TABEL 1.5 29.6 15.1b.5 29.4 14.9 17. Kepulauan Riau 31.8 40.3 32. DKI Jakarta 32.8 36.4 12. Nusa Tenggara Timur 61.1 23. Jawa Barat 33.3 13.6 35.9 10.9 22. Jambi 16.1 17.4 14.9 20.4 12.0 20. R i a u 15. DI Yogyakarta 35.2 23.3 19.5 14.0 26.0 27. Sulawesi Selatan 74. P a p u a INDONESIA 20 . Prevalensi Balita Pendek dan Sangat (TB/U) Menurut Provinsi Tahun 2010 Status Gizi TB/U Provinsi Sangat pendek 24.1 20.7 16.5 Pendek 14.3 14.6 21. Banten 51. Sumatera Utara 13.5 14. Papua Barat 94.3 15.6 37.6 16.8 17.3 20. Sulawesi Utara 72. Jawa Timur 36. Nanggroe Aceh Darussalam 12.7 15.6 16.4 28.3 41.0 18.6 13.0 21.8 21.4 49.9 33.8 20.2 38.1 18. Nusa Tenggara Barat 53.0 12.6 15. Lampung 19.0 15.2 28.4 31.6 16.3 20.6 36.6 33.9 16.6 12. Kalimantan Barat 62.8 32.2 20. B a l i 52. Kalimantan Tengah 63.9 18. Sumatera Selatan 17.

0 8.8 2.2 9.0 Kurus 7.9 9.6 7.6 6.1 8.7 10.4 4.9 11.1 6.8 11.2 20. Jawa Tengah 34.0 6.2 14. Prevalensi Balita Kurus dan Sangat kurus (BB/TB) Menurut Provinsi Tahun 2010 Status Gizi BB/TB Provinsi Sangat kurus 6.3 9. Bengkulu 18. Nusa Tenggara Timur 61. Sulawesi Utara 72.5 6.9 11.8 13.9 7.3 6.9 6.8 6. R i a u 15. Nusa Tenggara Barat 53. Jawa Timur 36.4 9.1 13.8 13.8 7.3 5. Kalimantan Selatan 64.6 6. Gorontalo 76.6 7. Sulawesi Barat 81.6 7.7 13.2 9.0 9. Kepulauan Riau 31.3 8.0 13. Sulawesi Tenggara 75.2 5.2 11. Banten 51. Sulawesi Tengah 73. Sumatera Barat 14.6 6. Maluku 82.6 15.2 16.2 14.4 7. Jambi 16.7 5.7 6. Sumatera Selatan 17.1 6.0 8. Kalimantan Timur 71.7 15.0 15.7 2.0 8.8 6.3 6.1 14.8 12.2 7.4 2.2 8.9 6.2 17.3 Kurus+ Sangat kurus 14.4 5.6 12. P a p u a INDONESIA 21 .6 8. Nanggroe Aceh Darussalam 12.3 7. Papua Barat 94.2 14.2 17. Maluku Utara 91. DI Yogyakarta 35.7 7.4 1.TABEL 1. B a l i 52. Sulawesi Selatan 74.0 6.4 4.1c.2 4.0 14.0 14.3 11.4 13.7 7.6 7.6 17.4 4.2 5.4 7.3 5.6 4.9 8.8 6. Sumatera Utara 13.9 8. Lampung 19. Kalimantan Barat 62. Kalimantan Tengah 63.3 11.9 7. Bangka Belitung 21.8 11. DKI Jakarta 32.0 8.1 6.9 16.5 5.8 7.0 4.4 6.1 9.2 6. Jawa Barat 33.2 14.5 5.

22 .

1.1.4. sedangkan prevalensi untuk ketiga jenis masalah gizi balita pada kuintil 1 dan kuintil 2 terlihat meningkat atau relative tetap. Dari Gambar 1. kuintil 4 dan kuintil 5. Status Gizi Balita Menurut Kuintil Pendapatan Keluarga Kuintil pendapatan keluarga terdiri dari kuintil 1 sampai kuintil 5. Dengan demikian keluarga yang masuk 2 kelompok pendapatan terendah atau keluarga yang tergolong miskin masih belum menunjukkan adanya peningkatan status gizi pada balitanya. Kuintil 1 adalah kelompok pendapatan terendah dan kuintil 5 adalah kelompok pendapatan tertinggi.6 secara umum dapat dilihat bahwa penurunan prevalensi balita gizi burkur.3. balita pendek dan balita kurus terjadi pada kuintil 3.5 dan 1. 23 .

8 dan 1. terutama pada prevalensi balita gizi burkur dan balita pendek (Gambar 1. Prevalensi balita gizi burkur.4.1.9). Demikian pula penurunan prevalensi balita yang bermasalah gizi secara umum lebih besar terjadi pada balita perempuan disbanding dengan balita laki-laki. pendek dan kurus secara umum lebih rendah pada balita perempuan dibanding dengan balita laki-laki. Status Gizi Balita Menurut Jenis Kelamin Status gizi balita perempuan secara umum lebih baik dari balita laki-laki baik pada tahun 2007 maupun tahun 2010.7. 24 . 1.

4 persen. Trend Prevalensi Balita Gizi Burkur dari Tahun 1989 – 2010 Pencapaian MDG berdasarkan indicator status gizi balita disajikan pada Gambar 1.4 persen yang berarti rata-rata dalam setahun harus turun sebesar 0.1 persen. Secara umum dapat dilihat penurunan prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 ke tahun 2010.5 persen dan Provinsi NTT memiliki prevalensi tertinggi yaitu 58.10).9 persen. (Gambar 1.13 trend prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 – 2010.11) Demikian pula dengan prevalensi Balita Kurus. sedangkan pada balita laki-laki tidak terjadi penurunan atau tetap 19. Provinsi Sulawesi Utara memiliki prevalensi balita gizi burkur paling rendah yaitu 10.Prevalensi balita gizi burkur pada balita perempuan menurun dari 17.8 persen tahun 2007 menjadi 33. Provinsi Bangka Belitung memiliki prevalensi terendah yaitu 7.9 persen. terdapat 20 provinsi yang menurun prevalensinya dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap.0 persen dan Provinsi NTB memiliki prevalensi tertinggi yaitu 30.7 persen tahun 2007 menjadi 37. Provinsi DI Yogyakarta memiliki prevalensi pendek terendah yaitu 22. Demikian pula halnya dengan prevalensi pendek. Pada tahun 1989 prevalensi gizi burkur sebesar 31 persen yang diharapkan menjadi separuhnya yaitu 15.2 persen. Status Gizi Balita Tingkat Provinsi Ditinjau dari prevalensi Balita Gizi Burkur pada tahun 2010 ada 20 provinsi yang menurun prevalensi dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap.6. 25 .4 persen.5 persen. sedangkan pada balita perempuan sebesar 0. 1.12).7 persen. Pencapaian indicator MDG pada tahun 2010 berdasarkan prevalensi gizi burkur adalah 17.3 persen tahun 2010 atau turun sebesar 0. 1. Dengan demikian dalamk kurun waktu 5 tahun mendatang Indonesia harus menurunkan prevalensi balita gizi burkur sebesar 2.5. Dalam hal prevalensi Balita Pendek pada tahun 2010 ada 25 provinsi yang menurun prevalensinya dan 8 provinsi yang meningkat atau relative tetap prevalensinya.7 persen tahun 2007 menjadi 16.5 persen (Gambar 1. Penurunan prevalensi kurus terlihat lebih tinggi pada balita laki-laki yaitu sebesar 0.7 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1 persen.5 persen pada tahun 2015.6 persen dan Provinsi Jambi memiliki prevalensi tertinggi yaitu 20. sedangkan pada balita laki-laki penurunan prevalensi terlihat kecil yaitu dari 37. pada balita perempuan turun dari 35.0 persen (Gambar 1.9 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1.

26 .

27 ..

28 .

data konsumsi energi adalah data konsumsi rumah tangga. Proporsi penduduk dengan konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal dihitung berdasarkan konsumsi energi penduduk dibandingkan kebutuhannya sesuai umur. Konsumsi energi per kapita penduduk pada data Riskesdas 2007 dihitung berdasarkan konsumsi energi rumah tangga dibagi jumlah anggota rumah tangga yang sudah distandarisasi menurut umur dan jenis kelamin. Kebutuhan konsumsi energi setiap individu berbeda menurut umur dan jenis kelamin serta status hamil atau menyusui (bagi individu wanita). sebab angka yang diperoleh merupakan angka konsumsi energi individu (anggota rumah tangga). serta dikoreksi dengan jumlah tamu yang ikut makan dirumah tangga tersebut (menurut umur dan jenis kelamin). sedangkan pada Riskesdas 2007. Oleh sebab itu data konsumsi energi Riskesdas 2010 lebih akurat. Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi lebih rendah dari 70 % dari 2100 kkal. Sesuai dengan indikator diatas.KONSUMSI ENERGI DIBAWAH KEBUTUHAN MINIMAL Tujuan MDG’s nomor satu adalah “Menanggulangi Kemiskinan dan `Kelaparan” dan didalamnya terdapat target “menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya”. dimana ibu atau orang yang menyediakan makan untuk semua anggota rumah tangga yang diwawancara dengan memperhitungkan jumlah orang menurut umur dan jenis kelamin yang makan dirumah dan yang makan diluar rumah. yang dijabarkan dalam indikator “Proporsi penduduk yang berada di bawah konsumsi minimum”. maka pada Risksdas 2010 telah dikumpulkan data konsumsi energi individu. jenis kelamin dan status kehamilan (bagi ibu hamil). Acuan 29 . dimana setiap anggota rumah tangga diwawancara konsumsi makan sehari (24 jam yang lalu).

6 % penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (70 %). semakin tinggi kuintil pengeluaran rumah tangga semakin sedikit penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% AKG). dan sebaliknya pada 30 .2 40.2 44. konsumsi penduduk di Indonesia yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (lebih rendah dari 70 % dari angka kecukupan gizi bagi orang Indonesia (tahun 2004) adalah sebanyak 40.6 Balita Dewasa Anak Sek Hamil Remaja Total Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% dari AKG) lebih banyak pada penduduk di desa dari pada penduduk di kota. dan terendah pada anak balita (24.4 40.4 41. Pada penduduk dengan kuintil pengeluaran rumah tangga terendah (kuintil 1) sebanyak 46. Menurut kuintil pengeluaran rumah tangga.2 54.6 Gambar 1. Tabel 1.5 41.5%).5 40.2. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) – Riskesdas 2010 % 60 50 40 30 20 10 0 54.Riskesdas 2010 Kelompok Umur Balita Anak Sekolah Remaja Dewasa Ibu Hamil Total % 24.2 24.2 40.2 44. Proporsi defisit energi < 70 % terbanyak pada usia remaja (54. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) . Hasil Riskesdas 2010.4 %).14.kecukupan yang digunakan adalah “Tabel Angka Kecukupan Gizi 2004 Bagi Orang Indonesia” dalam Widya Karya Pangan dan Gizi Tahun 2004.6 %.

5 39 Kota Desa Total 39.kuintil pengeluaran rumah tangga tertinggi (kuintil 5).6 43.6 Tabel 1.6 Gambar 1.3 34.15. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) Menurut Desa dan Kota – Riskesdas 2010 Kelompok Umur Kota Desa Total % 39.2 40. Tabel 1. sebanyak 34.5 40 39.3 persen penduduk yang mengonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (< 70 % AKG).3 40. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) Menurut Kuintil Pengeluaran Rumah Tangga . Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) di Kota dan Di Desa % 41.Riskesdas 2010 Tingkat pengeluaran/kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Total % 46.9 41.5 41 40.3 40.5 37.4.3.3 40.6 31 .9 41.

32 .1%). provinsi yang penduduknya mengkonsumsi energi lebih rendah dari kebutuhannya dengan jumlah tertinggi adalah provinsi Nusa Tenggara Barat (46.6 persen.6 43.3 Pada tahun 2007.5 37. dan terendah di provinsi Jawa Timur (26. Menurut provinsi.6 34.6%) dan provinsi dengan proprosi konsumsi energi dibawah kebutuhan terendah adalah di provinsi Bengkulu 23. pada tahun 2007. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) Menurut Kuintil Pengeluaran RT-Riskesdas 2010 % 50 40 30 20 10 0 Kuintil 1 Kuintil 4 Kuintil 2 Kuintil 5 Kuintil 3 Total 46. provinsi dengan penduduk mengkonsumsi energi dibawah kebutuhannya tertinggi di provinsi Bengkulu (67%). proporsi konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal 43 persen lebih banyak dibanding pada tahun 2010 yaitu sebanyak 40. Pada tahun 2010.2 40.16.Gambar 1.8 persen.3 40.

Imunisasi campak pada anak 12-23 bulan Kementerian Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) atau Buku KIA. dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu. dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan.6%). empat bulan dengan interval minimal empat minggu. Program imunisasi untuk penyakitpenyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG.5 persen. informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu atau anggota rumahtangga lain yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan. disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut. dan satu kali imunisasi campak. cakupan imunisasi campak dalam Riskesdas sebesar 74. Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui. 33 . dalam laporan ini hanya analisis untuk imunisasi campak.2. empat kali imunisasi polio.1 s/d Tabel 4. Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi. Imunisasi campak merupakan salah satu dari indikator dalam Millenium Development Goals (MDGs). Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan. tiga kali polio. dan satu kali imunisasi campak. dan Buku catatan kesehatan anak lainnya. Dalam Riskesdas. imunisasi polio pada bayi baru lahir.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96. Oleh karena Riskesdas 2010 ditujukan pada indikator yang ada dalam MDGs. imunisasi DPT-HB pada bayi umur dua. Terdapat 19 provinsi cakupan imunisasi campak di bawah rata-rata nasional. tiga kali DPT-HB. cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan. Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada dua tabel (Tabel 4. Cakupan imunisasi terendah di provinsi Papua (47. Goal 4 – MDG Menurunkan Kematian Anak Target: Menurunkan Angka kematian balita hingga dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015 1. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda. tiga. menurun 6. Dari Tabel 4. anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG.1 dapat dilihat secara keseluruhan.4%).1 persen dibanding Riskesdas 2007 (81. tiga kali imunisasi DPT-HB.2) menurut provinsi dan karakteristik responden. Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi.

sedangkan provinsi lainnya relatif sama atau menurun.8 persen dan penurunan antara 0.6 78.5 57.1 62.6 70.0 90.6 87.4 81. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulasewi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Persentase cakupan imunisasi campak Riskesdas 2007 Riskesdas 2010 69. hanya ada empat provinsi dengan cakupan imunisasi campak yang naik pada tahun 2010.4 94.6 84.1.3 61.7 47.4 83.7 34 .9 77.4 64.5 72.8 80.0 85.3 83.0 75.9 72.3 95.1 62.1 68.6 77.3 83.4 77.2 62.9 68.9 91.5 75.3%). Tabel 4.5 Tabel 4.3%) dibanding di perdesaan (69.2-22.0 71. Dengan demikian terdapat perbedaan cakupan sebesar 9.3 96.6 84.3 81.Bila cakupan imunisasi campak dibandingkan antara Riskesdas 2007 dan 2010 per provinsi. dan anak.3 85.1 89.7 86.8 73.2 90. Terlihat dalam tabel.5 85.3 83.4 83. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak Menurut Provinsi.5 76.9 90.1 63.9 80.5 60.5 67.5 99.1 78.1 76.4 67.6 74.4 85.5-6.2 71. rumahtangga.7 69.0 59.7 77.1 86. Kenaikan cakupan imunisasi campak antara 2. cakupan imunisasi campak di perkotaan lebih tinggi (79.5 69.2 78.5 81. 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.2 96.7 88.7 72. Riskesdas 2007.5 persen.1 86.2 menunjukkan cakupan imunisasi campak menurut karakteristik daerah.8 83.

1 Karakteristik rumahtangga lain dalam analisis ini adalah tingkat pengeluaran per kapita yang dibagi menjadi lima kelompok yaitu kuintil 1 yaitu kelompok terendah sampai kuintil 5 yaitu 35 . baik dalam tahun 2007 maupun 2010.6 74. lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya sebesar 21.8 79. Keadaan tersebut serupa dengan hasil Riskesdas 2007.0 78.1 84. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja Ibu rumahtangga PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Persentase cakupan imunisasi campak Riskesdas 2007 Riskesdas 2010 86.8 77.0 81.6 69. Terdapat tren cakupan imunisasi campak yang meningkat seiring dengan makin tingginya pendidikan. 2010 Karakteristik Penduduk Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.5 83.0 86.3 persen.5%) dan tertinggi pada PNS/ Polri/ TNI (86.9 77.6 93. tidak banyak terdapat perbedaan cakupan imunisasi campak antara anak laki-laki dan perempuan.3 86.3 78. Tabel 4. Cakupan imunisasi campak menurut pekerjaan kepala keluarga yang terendah pada petani/ nelayan/ buruh (67. Riskesdas 2007.4 83.7 91.2 71.1 78.2 persen. Pada tabel 4. Bila dibandingkan menurut jenis kelamin.persen antara daerah perkotaan dan perdesaan. lebih tinggi perbedaan tersebut dibanding tahun 2007 yang hanya 7.3 69.6 78.8 85.1 80. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak Menurut Karakteristik Responden.2 67.7 59.5 persen.2 juga dapat dilihat variasi yang lebar cakupan imunisasi campak menurut pendidikan kepala keluarga.2.9 79.1 80.6 74.2 74.9 86.3 88.1%) dan tertinggi pada pendidikan kepala keluarga tamat perguruan tinggi (86.5 -86. Cakupan imunisasi campak terendah bila pendidikan kepala keluarga tidak sekolah (59.0 71.2 65.4%).5 79. Dengan demikian terdapat kesenjangan cakupan sebesar 27.1 64.9 83.0 81.2 82.9%).4 74.8 82.1 78.

Hasil tersebut lebih baik bila dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2007 sebesar 57.kelompok tertinggi. 2-3 bulan.0 persen dibanding 86.8%). ASI eksklusif lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding daerah perkotaan.3 persen.1 persen pada kuintil 5. Pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari terendah pada tahun 2010 terdapat di Papua Barat (17. pemeriksaan neonatos pada tahun 2010 di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan. lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya 8. 3. Dengan demikian terdapat perbedaan 21. Menurut tipe daerah. dan 4-5 bulan berturut-turut adalah 45. Dalam Tabel 4.1%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66. 2.7 persen. Bayi di bawah 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif jika saat pengumpulan data ibunya menyatakan bahwa bayinya masih mendapatkan ASI.7%). belum pernah mendapatkan MPASI.7 persen neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan. Cakupan imunisasi campak pada kuintil 1 sebesar 65. Pemberian ASI eksklusif secara keseluruan pada umur 0-1 bulan. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita.6 persen neonatus umur 3-7 hari dan 37.5 persen. dan dalam 24 jam yang lalu tidak mendapatkan makanan selain ASI. Tidak ada perbedaan ASI eksklusif menurut jenis kelamin bayi.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84. tetapi tidak ditanyakan pada Riskesdas 2007. Ada kecenderungan semakin tinggi pengeluaran per kapita semakin tinggi pula cakupan imunisasi campak. 38. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.0 persen.5. dan 31. Tabel 4. tipe daerah dan rumah tangga pada Riskesdas 2007 dan 2010. Kunjungan Neonatus Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi. Oleh karena jumlah bayi di bawah 6 bulan hanya sedikit. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus. Demikian juga tidak ada pola hubungan yang jelas antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pendidikan orangtua.4 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi. Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Sulawesi Barat (9.1 persen pada tahun 2010. Hubungan yang jelas baru terlihat antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pengeluaran per 36 .4 persen. Pemberian ASI Eksklusif Pemberian ASI eksklusif ditanyakan pada Riskesdas 2010. tidak bisa dianalisis menurut provinsi dan hanya dapat dianalisis menurut karakteristik responden yang terlihat dalam Tabel 4.6 persen dan 33.3 terlihat bahwa secara keseluruhan pada tahun 2010 sebanyak 60.

6 60.3 40.4 37.3 21.1 32.7 48.4 19.0 28.4 50.8 84.7 30.2 50.1 53.3 39.9 34.8 33.kapita.7 64.5 59.4 28.5 64.6 15.6 Pemeriksaan neonatus Umur 8-28 hari (KN2) 2007 2010 36.9 66.5 63.5 66.1 33.6 29.4 34.3 54.6 72.1 41.5 9.8 25. maupun 4-5 bulan.3 22.4 15.2 25.2 48.9 42.6 57.0 42.0 38.8 17.0 12.2 58.5 49.8 45.6 43. Tabel 4.1 63.1 39.0 39.0 64.9 45.0 39.2 14.9 55.8 61.4 27.6 25.4 27.0 50.6 13.1 24.8 62.3.2 21.2 69. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Provinsi.3 28.6 34.3 28.0 68. Semakin tinggi pengeluaran per kapita rumahtangga.3 47.0 68. Riskesdas 2007.9 57.5 67.6 58.1 66.0 42.5 37.8 30.2 54. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulasewi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 37 .7 41.8 63.7 56. 2-3 bulan.2 19.1 52.8 26.9 29.4 44.1 66.3 49.5 17.3 65.4 51.9 35.4 29.9 75.5 44.6 35.2 31.2 25.4 62. semakin menurun pemberian ASI eksklusif baik di kelompok umur bayi 0-1 bulan.5 26.2 70.8 30.7 12.1 26.3 53.8 46.5 81.2 26.9 52.7 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.8 44.3 39.3 66.6 58.7 64.4 23.9 57.2 43.1 35.9 50.9 55.2 58.8 19.2010 Pemeriksaan neonatus Umur 3-7 hari (KN1) 2007 2010 56.6 32.2 36.4 59.0 18.9 54.2 38.1 26.5 54.9 43.7 26.5 21.4 33.

3 66.2 28.3 44.1 -74.6 33.2 31.0 58.2 59.7 61.1 67.0 69.5 33.1 47.5 42.7 35.0 31.3 44.1 53.4 74.3 32.0 59.1 52.7 52.7 -54.0 37.7 57.2 52.7 64.2 28. Riskesdas 2007.9 79.9 66.8 65.3 54.4.5 30.7 51.7 38 .5 37.9 27.9 67.5 52.5 36. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Karakteristik Responden.3 33. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja Ibu rumahtangga PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tkt pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 65.9 37.0 60.3 46.8 24.0 60.0 51.4 55.2 37.2 41.8 63.8 55.8 31.7 40.2 33.7 32.Tabel 4.9 2010 45.5 2007 41.2 29.3 57.5 63.6 62.7 29.3 31.4 50.5 62.8 41.7 39.1 2010 68.1 57.7 59.5 39.5 50.6 29. 2010 Karakteristik responden 2007 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.5 49.3 41.2 46.4 65.9 64.1 60.4 36.

9 34.4 32.0 42.5 71.4 33.6 38.9 29.7 50.5 25.7 35.5 36.4 4-5 bln 26.3 36.3 33.Tabel 4.0 37.0 45.4 51.1 43.2 44.0 44.2 37.7 39.4 51.2 36.6 23.3 21.4 43.3 30. 2010 Karakteristik responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.8 40. Persentase Pemberian ASI Eksklusif Menurut Umur Anak dan Karakteristik Responden.5.7 32.2 35.2 31.3 36.4 37.5 34.0 39 .6 39.0 44. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tkt pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 INDONESIA Umur anak 2-3 bln 34.8 41.2 29.5 45.8 40.1 52.7 34.7 47. Riskesdas 2007.3 36.8 50.8 29.7 30.6 34.8 41.3 30.3 0-1 bln 41.1 18.9 22.3 36.2 31.5 51.0 38.0 45.6 33.3 40.3 42.

4 5.2 5.34 35 .8 7.2 2.3 4. terdapat indikator yang dipantau untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah: Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan Angka pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun Berikut ini merupakan hasil analisis Riskesdas 2010.29 30 .MDG Meningkatkan Kesehatan Ibu Target: Menurunkan 75% kematian ibu dalam kurun waktu 1990-2015.2 4.0 3.0 40 .39 40 .1 4.1 4.8 10.3.24 25 .7 8.Goal 5 .6 3.7 2.1 7.6 3.8 3.1 7.4 5.2 8.5 9.14 15 .2 3.1 1.1 4. Beberapa indikator terkait disajikan juga dengan membandingkan dengan hasil sebelumnya yang berasal dari Susenas maupun SDKI. Indikator untuk mencapai target tersebut.4 2.4 8. dengan memperhatikan indikator yang terkait dengan target menigkatkan kesehatan ibu.5 1.19 20 . Target sampel penduduk untuk mengetahui kesehatan ibu adalah perempuan pernah kawin usia reproduktif/WUS.7 Total 8.5 4.7 3. selain Angka Kematian Ibu per 100.2 2. 15-49 tahun.7 2.9 3.9 3.9 49.7 4.44 45 -49 50 -54 55 -59 60 -64 65 + Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 4. Gambaran Sampel Riskesdas 2010 Distribusi kelompok umur untuk keseluruhan sampel Riskesdas adalah sebagai berikut: Tabel 5.3 6.3 4. Distribusi Sampel menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Riskesdas 2010 Kelompok Umur (tahun) 0-4 5-9 10 .6 50.5 5.0 3.1.000 kelahiran hidup.8 1.1 5.2 3.5 100.

24 25 .7 Total 45.29 30 .1 0.0 11.3. Proporsi kehamilan terhadap total penduduk Riskesdas 2010 Kelompok Umur 10 .2 50.44 45 -49 50 -54 55 -59 Total Apakah sedang hamil Ya Tidak 0.6 50.4 25.7 9.2 10.8 0.5 100.39 40 .3 20.7 10.1 0.0 100.9 49.0 3. Tabel 5.7 12.6 0. Status Perkawinan menurut Jenis Kelamin Riskesdas 2010 Status Perkawinan Belum kawin Kawin Cerai hidup Cerai mati Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 24. Proporsi kehamilan pada perempuan usia reproduktif 15-49 tahun adalah 2.0 41 .5 11.2 11.4 0.8 9.9 Total 13.1%). Distribusi status perkawinan seluruh kelompok umur penduduk adalah sebagai berikut: Tabel 5.6 0.19 20 .3 0.2. dan terlihat kehamilan terjadi pada kelompok umur 10-14 tahun (0.1 0.0 Proporsi kehamilan dari sampel Riskesdas 2010 adalah 3.3 0.1 12.9 persen. dan kelompok umur 50-54 tahun (0.1 persen.1%).1 3.5 10.34 35 .4 0.3 10.1 13.8 24.Dari tabel di atas.14 15 .3 7.7 0.4 11.9%.4 1.0 96.8 0.3 7.8 12.6 11. proporsi perempuan usia reproduktif/WUS 15-49 tahun terhadap total sampel adalah 26.4 0.7 2.

Untuk melihat kecenderungan.7 persen oleh bukan tenaga kesehatan.1 persen tidak menjawab. dan Bali (92. Sedangkan provinsi yang perlu mendapatkan perhatian adalah Maluku Utara (33. Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan Analisis dilakukan berdasarkan perbandingan antara persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih (dokter.5%). dan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada 1 tahun sebelum survei. bidan. Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun terakhir. dan 19.1%). dan tenaga kesehatan lain) dengan dengan jumlah persalinan seluruhnya dan dinyatakan dalam persen. Angka pertolongan kelahiran yang diperoleh dibedakan menjadi dua. Indonesia 2010 Variasi antar provinsi dapat dilihat pada tabel berikut.6%).2 persen. diikuti Kepulauan Riau (97.4%). dan Maluku (52. perawat.1. yaitu berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada lima tahun sebelum survei. Provinsi terbaik dengan proporsi pertolongan kelahiran ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih adalah DI Yogyakarta (98. Grafik 5.7%).1. Proporsi pertolongan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 80. DKI Jakarta (96. Grafik berikut menunjukkan proporsi pertolongan kelahiran yang terjadi pada 5 tahun sebelum survei. dan tercatat 0. pada umumnya yang digunakan adalah angka pertolongan kelahiran berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan 1 tahun sebelum survei. 42 .8%).

4 80.0 0.0 0.1 83.4 90.0 0.0 0.4 81.0 7.4 75.4 20.0 0.6 24.0 0.9 16.0 0.5 24.6 79. Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun sebelum survei menurut Provinsi.0 0.5 75.5 55.0 0.5 79.2 Tenaga Non Kesehatan 13.6 60.5 42.7 91.0 3.0 47.0 0.4 33.4 57.0 0.2 0.0 86.Tabel 5.1 0.0 0.0 0.0 0.0 0.1 56.0 13.1 63.0 52.2 12.2 21.1 18.4 0.5 14.1 60.1 39.8 88.0 0.6 66.4 0.9 8.0 0.4.0 0.9 43.9 3.5 85.3 20.6 97.0 92.2 28.0 0.0 0.1 21.1 96.0 0.5 76.6 42.0 0.3 55.6 98.9 78.4 2.4 57.0 0.6 18.7 Tidak menjawab 0.6 19.6 9.0 0.0 0.1 Sedangkan proporsi pertolongan kelahiran yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk kejadian kelahiran 1 tahun sebelum survei adalah 82.7 16.9 81.5 44.7 44.0 0.0 0. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tenaga Kesehatan 86.5 23.9 40.8 72.3 0.3 83.0 0.8 59.9 36.2 37.3% dengan variasi antar provinsi yang 43 .8 78.

0 79.7 87.5 63.5 94.5 87. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia % 92.8 48.3 60.4 95.6 66.Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Nakes yang terjadi 1 tahun sebelum survei menurut Provinsi.4 56.7 80.6 87.8 97.5 88.9 82.6 94.1 64.8 64.1 76.2 49.5 79.2 95.1 98.8 78.0 66.7 26.9 80.3 44 .3 57.4 85.2 95. Tabel 5.5.8 70.4 79.0 52.terbaik dan terendah hampir sama dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan 5 tahun sebelum survei.

Terjadi disparitas yang cukup lebar untuk kelompok penduduk yang tinggal di perdesaan (72. pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 69.3 persen pada tahun 2010.3 persen pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan.3%). DKI Jakarta dan Bangka Belitung (95. Berdasarkan tingkat pengeluaran. 45 . Grafik 5. Riskesdas 2010.6%). dapat dilihat kelompok penduduk 20% terbawah (kuintil 1).2%).4%. kecenderungan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan meningkat dari 40. dapat dilihat kelompok penduduk yang tinggal di perkotaan. dan Papua Barat (49.5%).7%). Maluku (48. Sedangkan provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan masih di bawah 50% adalah Maluku Utara (26.8%). Secara nasional. 91.1 persen.9%).2. Kecenderungan Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan Indonesia 1990-2010 Sumber: Susenas 1990-2007. Pada kondisi saat ini. dan berbeda sangat lebar dibanding kelompok penduduk 20% teratas (kuintil 5) yaitu sebesar 94.Dari tabel di atas dapat dilihat provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan di atas 95 persen adalah DI Yogyakarta (98.7 persen tahun 1990 menjadi 82.2%). diikuti Kepulauan Riau (97. dari Riskesdas 2010 menunjukkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan berdasarkan karakteristik penduduk. serta Bali (95.

Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan menurut Karakterisitik Penduduk. Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada grafik yang menunjukkan provinsi terendah adalah Sulawesi Tenggara (7. 2%).3. dan hanya 1. dan masih banyak yang melahirkan di rumah (39.5 20.6 Kuintil 1 79.2 persen.6.5 13. Penduduk di perkotaan 77. 46 . Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut tempat melahirkan.3 9.5%. Sementara kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1) melahirkan di fasilitas kesehatan sebesar 40.4 30. serta berdasarkan tingkat pengeluaran.1%). Grafik 5. Indonesia 2010 Tenaga Tenaga Non Karakteristik Penduduk Kesehatan Kesehatan Tempat Tinggal 91.1 5.9 28.5 Kuintil 3 91.0 Perdesaan Tingkat Pengeluaran 69.9 Kuintil 5 Tempat melahirkan untuk persalinan 1 tahun sebelum survei.0 Kuintil 4 94.8%).7 persen dibanding kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5) yaitu sebesar 81.5 Kuintil 2 86.6 persen melahirkan di fasilitas kesehatan dibanding di perdesaan yang hanya 40. dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (95. Indonesia 2010 Berdasarkan karakteristik penduduk.Tabel 5.7 Perkotaan 72.5% di Poilindes/Poskesdes.5%). sebagian besar sudah dilakukan di fasilitas kesehatan (59. terjadi juga kesenjangan tempat melahirkan di perkotaan dan di perdesaan.0 9.

6 57.8 2.7 53.1 81.6 Karakteristik Penduduk Faskes Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 77.Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut Tempat Melahirkan dan Karakateristik Penduduk. Indonesia 2010 Polindes Rumah /Poskesdes /lainnya 0.1 17.6 40.9 45.0 27. Indonesia 2010 47 .0 35.8 0.8 21.Tabel 5.2 72.6 56.2 2.9 63.4 1.4.1 1.2 40.8 0.5 Grafik 5. Proporsi Persalinan Satu Tahun Sebelum Survei yang Melahirkan di Fasilitas Kesehatan menurut Provinsi.7.

Dari sampel Riskesdas 2010. minimal 1 kali pada trimester 2 dan. minimal 1 kali pada trimester II. Demikian halnya dengan tingkat pengeluaran. Indikator yang dapat diperoleh dari Riskesdas adalah Akses (K1) yang dianalisis berdasarkan akses ibu hamil ke tenaga kesehatan dari semua riwayat kehamilan anak terakhir dari perempuan usia 15-49 tahun. yang pada umumnya kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1). semakin membaik pendidikan penduduk.Untuk meningkatkan kesehatan ibu. pada umumnya kelompok petani/nelayan yang cakupan pelayanan antenatalnya lebih kecil dibanding kelompok penduduk bukan petani/nelayan. 48 .0%). Menurut riwayat kehamilannya anak terakhir tersebut. masih terdapat ibu memeriksakan kehamilannya ke dukun (3. demikian juga untuk K4.8. Selanjutnya adalah K4 yang dianalisis berdasarkan jumlah pemeriksaan antenatal minimal 1 kali pada trimester I. minimal 2 kali pada trimester 3. berikut.2%).6.8%). Dari analisis. Proporsi meningkat berdasarkan tingkat pendidikan. persentase kunjungan antenatalnya lebih kecil dibanding dengan kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5). khususnya untuk perempuan usia 15-49 tahun.8% ibu hamil mengikuti pelayanan antenatal. K1 dan K4 dapat dilihat pada Tabel 5. Grafik 5. Lebih lanjut hanya 61. dan tidak melakukan pemeriksaan (2. Proporsi Perempuan Pernah Kawin usia 15-49 tahun dari Kehamilan Anak Terakhir Lima Tahun Terakhir Memeriksakan Kehamilan. Berdasakan pekerjaan. diketahui akses (K1) secara keseluruhan adalah 92.6% perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun mempunyai riwayat kehamilan anak terakhir pada periode lima tahun terakhir. Akses ibu hamil ke tenaga kesehatan (K1) pada penduduk perkotaan jauh lebih baik dibanding perdesaan. perlu juga dipantau akses pelayanan kesehatan reproduksi. sudah sebagian besar memeriksaan kandungannya (pelayanan antenatal) ke tenaga kesehatan (84. Indonesia 2010. semakin banyak yang melakukan kunjungan antenatal ke tenaga kesehatan. dan minimal 2 kali pada trimester 3 dari jumlah kehamilan perempuan usia 15-49 tahun.3% yang melakukan pelayanan antenatal minimal 1 kali pada trimester 1. Berdasarkan karakteristik. diperoleh 38.

7 berdasarkan SDKI 2007 dan Riskesdas 2010.7 70.1 89.5 Grafik 5. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 K1 97.2% (2007) ke 61.3 93.Untuk kecenderungan.1 91. Tabel 5.8 96.3 persen (2010).3 62.2 97.3 79.6 57.5 74.5 97.0 99.7 90.8 persen (2010) dan K4 dari 65.0 88.8.1 63.4 79. Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4.0 75.3 50.9 50.3 persen (2007) ke 92. Indonesia 2007-2010 49 .7 37.Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Karakteristik Penduduk.6 84.7.3 47.7 K4 73.4 63.3 48.3 98. Terjadi penurunan angka K1 dari 93.5 88.5 87. cakupan pelayanan antenatal ini dapat dilihat pada grafik 5.2 94.6 95.2 56.

6 35.5 74.1 81.2 50.8 77.7 19. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia K1 93.4 58.2 94.6 52.5 98.1 59.5 88.4 98.2 39.1 84.9 88.6 48.0 79.0 96.4 61.3 52.5 76.5 44.9.0%) dan terendah untuk K4 adalah provinsi Gorontalo (19.6 35.2 85.1 32.3 50 .9 77.9.9 91.7 83.1 82.4 93.6 98.0 95. untuk cakupan K1 dan K4.1 77.4 73.3 85.5 44.1 100.1 94.8 75.0 92.8 K4 61.7 88.7 89.4 21.1 46.8 92.7 89.7 94. Tabel 5.2 93. sedangkan cakupan terendah untuk K1 adalah provinsi Papua Barat (72.1 93.6 89. DI Yogyakarta merupakan provinsi terbaik.4 77.8 50.Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.9 91.4 41.8%).5 67.7 53.8 28.6 34.Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Provinsi.3 72.7 67.7 54.8 96.4 54.8 24.4 56.

9%).2) Analisis dibedakan menjadi dua.9 persen perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi. untuk mengikuti kecenderungan dari tahun 2007 yang sudah dilakukan pada SDKI 2007 ke tahun 2010 a. pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun. sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 tahun Indonesia 2010 Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5.10. dan yang berstatus kawin.11.8. Untuk kepentingan analisis. ‘cerai hidup’ dan ‘cerai mati’. (Distribusi status perkawinan bisa dilihat pada tabel 5. Sedangkan perempuan berstatus kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin”. Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan pernah kawin 51 . Menurut kelompok umur. Proporsi penggunaan alat kontrasepsi di perdesaan pada umumnya lebih tinggi dari perkotaan. Grafik 5. sampel yang dipilih adalah perempuan usia 15-49 tahun yang berstatus pernah kawin. menurut pekerjaan adalah yang tidak bekerja. Perempuan berstatus pernah kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin’.3%) dan terendah adalah provinsi Papua barat (31. dan terdapat 19 persen tidak pernah menggunakan sama sekali.2. Sedangkan menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP. Pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun Pada Riskesdas 2010. Analisis pada Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun Pada Grafik 5. Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5. Provinsi dengan persentase menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah bali (64.8 terlihat 53. pemakaian kontrasepsi untuk mencegah kehamilan ditanyanya pada perempuan pernah kawin usia 10-59 tahun dan pasangannya.

6 60.4 47. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Kelompok Umur 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 -49 Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 % 52. dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10. Tabel 5.4%).1 50.4 60.3 60.10.7 52.3 58. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 Tahun yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk.7 51.3 45.5 45.9 persen pada tahun 2007 menjadi 53.7 52 .5 55.9 53.7 32.2 55.4 54.4 56.9 persen pada tahun 2010.9 56.9.8 54.9 44.2 58.0 57. Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5.6 50.yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (42%). Ada terjadi penurunan dari 57.

7 22.6 40.0 25.2 18.7 64.4 38.1 55.6 15.7 25.8 24.3 30.2 27.3 51.3 15.8 54.4 29.8 19.3 15.8 35.1 22.4 41.2 42.Tabel 5.6 18.0 51.8 29.0 18.5 57.9 46.9 38.4 21.3 18.6 11.0 17.3 26.4 20.1 57.7 16.7 29.1 12.9 49.4 30.3 30.2 21.1 29.6 10.6 54.5 24.7 23.7 36.2 49.4 18.1 Tidak pernah sama sekali 30. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi.8 31.0 24.3 27.2 27.2 62.0 53.9 56.7 43.1 28.8 31.8 13.5 22.8 27.6 58.6 27. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sekarang menggunakan 41.9 Pernah/tidak menggunakan lagi 27.7 61.4 23.1 42.9 23.7 37.4 24.6 16.0 16.1 29.6 29.7 47.3 37.6 25.3 17.11.8 62.0 56.0 53 .7 25.2 21.4 37.3 60.6 63.3 58.7 32.7 37.4 12.0 59.2 21.2 11.0 38.9 30.1 30.4 60.6 27.

1 Riskesdas 2010 2. Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD.1 0.0 0.2 0. Tabel 5.8%).13). Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB.3 0.7 30.2 12.Grafik 5.6 1.1 12.3 0.3 5. Demikian juga 54 .1 persen tahun 2010.1 0.0 1. Indonesia: 2007-2010 Sumber: SDKI 2007.0 31.1 Sumber: SDKI 2007.1 1. penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih banyak yang tinggal di perdesaan (34. Riskesdas 2010 Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.1 0.12 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010.1 persen tahun 2007 menjadi 46. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 42.4 2. Riskesdas 2010 Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5.5%) dibanding di perkotaan (27. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara KB.12.9.1 46. Suntikan dan amenorrhea laktasi.0 2. Indonesia: 2007-2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan SDKI 2007 3.4 1.4 42.0 0.5 4.

dll.5 2.0 12.14.1 Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB seperti pada tabel 5.5 2.1 12.penggunaan pengguna implant di perdesaan (1.1 0.7 4.5 0. Sebaliknya pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (12.9 5.1 0.0 4. Indonesia 2010 Tempat Pelayanan KB RS Pemerintah RS Swasta RS Bersalin Puskesmas Pustu Klinik TKBK/TMK Dokter praktek Bidan praktek Perawat praktek Polindes/ Poskesdes Lainnya % 3.3%).5 1. Tabel 5. Sebanyak 12.4 0.7%).9%) dibanding di perdesaan (11.9 0.14 dapat dilihat sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek (52.5 52.1 12.9 2.5 0.9%) dibanding di perkotaan (0. depot obat.4 0.7 0.2 0.3 55 .4 1.3 2. pada umumnya membeli di Apotik.2 Perdesaan 1.1 0.9%). Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal.0%) Pustu (4. bervariasi.8 0. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat pelayanan KB.5% menjawab lainnya.6 4. Tabel 5.9 27.1 47. diikuti di Puskesmas (12.1 11. Indonesia 2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan Perkotaan 2.5%).1 45.0 34.9 1. dan di RS pemerintah (3.13. atau mendapatkan secara gratis di kantor desa.0 0.7 0.5%).

Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB. ‘mahal’ .Pada Riskesdas 2010 ditelusuri juga alasan utama tidak menggunakan KB. b) Belum/ingin punya anak adalah dari jawaban ‘belum punya anak’. Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8. tapi tidak terpenuhi di atas 30 persen yaitu Maluku (32. Bentuk pertanyaannya dapat dilihat pada kuesioner individu terlampir (RKD10. ‘dilarang agama’ .9%).7%). dan Papua Barat (32. Jawaban responden dari pertanyaan ini selanjutkan dikelompokkan menjadi empat: a) Butuh/tidak terpenuhi atau unmet need adalah dari jawaban ‘dilarang pasangan’. Ada empat provinsi dengan persentase yang menjawab butuh.10.3%. Indonesia 2010 56 .7%). dan ‘tidak menginginkan’. Grafik 5. dan ‘ingin punya anak’ c) Tidak perlu lagi adalah dari jawaban ‘tidak perlu lagi’ d) Lainnya adalah dari jawaban ‘lainnya Diluar klasifikasi ini adalah responden yang menggunakan KB. Dari Grafik 5. ‘sulit diperoleh’. Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.10 dapat dilihat ada 14.0 persen yang sebenarnya membutuhkan akan tetapi tidak bisa terpenuhi.8 persen.IND) pertanyaan Dc06. serta yang menjawab lainnya 5. ‘takut efek samping’. Selanjutnya yang menjawab belum atau ingin punya anak adalah 15 persen.15. tidak perlu lagi 11.

3 58.9 32.1 6.0 12.5 21.0 11.2 5.5 2.9 12.5 7.9 4.6 54.3 15.6 2.0 18.7 13.5 9.5 10.6 58.0 5.7 47.1 38.1 11.8 35.3 7.0 12.4 10.Tabel 5.8 32.5 13.8 62.9 8.9 22.7 43.7 12.2 17.1 11.6 29.7 11.9 10.2 8.8 54.2 9.8 13.7 6.4 14.9 10.9 9.1 9.5 6.9 57.5 7.4 60.3 11.8 11.5 14.8 20.0 11.0 11.2 6.0 11.0 13.3 17.8 15.0 14.3 19.6 15.7 19.1 55.8 32.0 56.5 16.7 10.5 2.0 12.8 12.9 49.7 9.9 12.3 3.0 10.8 9.3 9.6 9.4 6. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Butuh/tidak Belum/ingin terpenuhi punya anak 23.7 14.3 60.6 22.7 4.9 14.2 11.5 37.0 59.2 3.0 19.0 16.4 57.3 15.7 36.2 14.4 4.1 57.6 5.2 6.3 16.2 5.3 13.2 9.5 12.0 Tidak perlu lagi 9.8 16.0 11.9 46.9 57 .6 12.4 20.5 18.8 Menggunakan KB 41.0 6.9 25.3 17.5 5.0 10.2 17. Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi.1 10.5 16.3 15.2 49.3 4.0 5.4 9.7 13.2 15.8 10.7 64.7 14.3 10.0 51.7 13.3 9.3 8.3 3.1 9.5 14.9 8.8 61.5 7.4 38.9 63.7 7.6 5.8 25.6 19.2 62.0 16.2 42.6 19.7 25.0 53.2 12.2 10.1 16.9 8.3 51.0 38.6 10.9 8.3 Lainnya 7.8 10.3 6.3 9.15.

11 dapat dilihat perempuan yang berstatus kawin dan menggunakan alat KB adalah 56. menurut pekerjaan adalah yang tidak bekerja.17. Sedangkan menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP. dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10. Analisis pada Perempuan berstatus Kawin usia 15-49 tahun Analisis yang sama seperti di atas.4%). dilakukan untuk perempuan berstatus kawin umur 15-49 tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi.0%.11.4 persen tahun 2007 menjadi 56 persen pada tahun 2010 58 .4 persen tidak pernah menggunakan sama sekali.b. Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan berstatus kawin yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (41. Pada grafik 5.8%).12. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Berstatus Kawin Usia 15-49 tahun Indonesia 2010 Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5. Provinsi dengan persentase menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah Kalimantan Tengah (66. Penduduk di perdesaan pada umumnya menggunakan alat kontrasepsi lebih tinggi dari perkotaan. pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun. sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2. Grafik 5. Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5. Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5. dan 18.16. Ada terjadi penurunan dari 61. Menurut kelompok umur.4%).0%) dan terendah adalah provinsi Papua barat (32.

1 48.Tabel 5.5 60.4 61.3 57.9 58.5 58.3 59. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Kelompok Umur 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 -49 Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 % 54.4 56.0 53.9 53.1 62.5 35.6 47.6 55.1 45.5 59 . Proporsi Perempuan berstatus Kawin Usia 15-49 Tahun yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk.8 57.9 57.1 59.2 55.1 48.7 62.2 53.16.

5 55.8 60.8 15.3 26.1 17.0 15.5 39.1 39.6 24.3 10.5 58.5 28.4 24.4 17.2 37.6 Tidak pernah sama sekali 30.0 62.8 38.1 16.3 27.1 40.0 41.5 53.6 15.7 22.4 25.7 17.5 51.5 10.6 63.3 25.4 21.1 17.2 23.3 27.0 23.5 32.1 22.4 16.0 15.6 27.3 59.4 56.7 27.1 38.1 27.2 30.5 28.6 60.9 25.0 26.8 28. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi.3 50.4 43.7 48.4 37.5 40.2 59.6 45.1 22.2 22.1 13.4 21.Tabel 5.8 40.2 51.8 36.7 11.5 15. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sekarang menggunakan 44.6 62.4 21.7 20.5 26.9 59.4 60 .7 20.2 63.6 65.2 37.8 10.8 25.2 62.4 21.2 30.3 29.7 14.7 20.17.9 28.8 18.8 65.9 28.2 23.5 53.2 11.0 66.0 Pernah/tidak menggunakan lagi 25.7 20.0 31.7 24.2 18.5 56.5 27.8 56.

1 0.12.6 44.6 persen tahun 2007 menjadi 44.4 2. Indonesia: 2007-2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan SDKI 2007 Riskesdas 2010 3.2 0.1 13.Grafik 5.1 1.0 Sumber: SDKI 2007.1 31.18.0 persen tahun 2010.3 1.1 38. Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD. penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih banyak yang tinggal di perdesaan (35.1 0.4 0.4 2. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB. Tabel 5.9 5.9%) dibanding di perkotaan (29.8 32.0 2.2 12. Riskesdas 2010 Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.0%).19). Suntikan dan amenorrhea laktasi.5 0.3 0.8 1. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 38. Indonesia: 2007-2010 Sumber: SDKI 2007.0 0. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara KB.8 4.4 1.2 0. Demikian juga 61 .18 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010. Riskesdas 2010 Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan perempuan berstatus kawin dapat dilihat pada Tabel 5.

1 29.9 0.8 0. dan di RS pemerintah (3. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat pelayanan KB. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal.6 2.0%) Pustu (4.2 0. Tabel 5.1 0.3 62 . Sebanyak 12.9%) dibanding di perkotaan (0.4 6.9 1.5 4.1 Perdesaan 1. atau mendapatkan secara gratis di kantor desa.0 42.1 0.4%) dibanding di perdesaan (12.1 12.5%). pada umumnya membeli di Apotik.1 13.9 1. bervariasi. Sebaliknya pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (13.9%).1 45.0 12.4 1.5 2. depot obat.0 0.5 52.19. Indonesia 2010 Tempat Pelayanan KB RS Pemerintah RS Swasta RS Bersalin Puskesmas Pustu Klinik TKBK/TMK Dokter praktek Bidan praktek Perawat praktek Polindes/ Poskesdes Lainnya % 3. dll.2%).2%).1 12. Indonesia 2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan Perkotaan 2.9 Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek (52.0 0.3% menjawab lainnya.9 2.2 2.4 0.0 4.6%).1 0.2 4. Tabel 5.5 0. diikuti di Puskesmas (12.6 0.4 0.2 35.penggunaan implant di perdesaan (1.20.8 0.

Proporsi Perempuan berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB.9 persen yang sebenarnya membutuhkan KB akan tetapi tidak bisa terpenuhi Grafik 5. Indonesia 2010 Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.13 dapat dilihat ada 13. Dari Grafik 5. dan Papua Barat (33. 63 .21. adalah unmet need pada perempuan berstatus kawin. tapi tidak terpenuhi di atas 30% yaitu Maluku (32.Analisis yang sama seperti dilakukan pada perempuan pernah kawin.0%).13.3%). Ada dua provinsi dengan persentase teertinggi yang menjawab butuh. Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8.7%).

7 13.7 9.8 2.9 8.4 56.7 9.2 39.7 20.6 7.3 6.0 8.9 5.2 59.3 16.2 29.5 25.5 56.0 14.0 7.1 8.8 60.7 19.0 14.4 15.6 4.5 5.6 2.4 10.6 7.1 11.8 13.9 22.0 10.5 55.8 20.6 12.9 8.1 38.8 7.7 5.2 20.8 13. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Butuh/tidak Belum/ingin terpenuhi punya anak 23.5 53.5 Menggunakan KB 44.7 12.2 8.2 63.4 6.2 5.7 12.9 10.8 38.2 10.6 5.0 14.8 4.5 9.7 17.2 59.1 7.8 15.5 5.6 19.7 13.3 6.8 8.3 4.1 13.5 26.6 45.0 15.2 3.0 9.8 36.7 7.0 17.0 23.3 11.5 51.6 33.3 4.3 8.4 12.7 48.9 4.7 19.5 9.7 4.6 6.6 63.7 7.8 7.2 6.5 7.0 19.6 65.0 62.2 16.4 21.8 65.5 32.8 3.2 9.0 6.8 3.0 3.9 15.8 17.5 59.1 25.6 4.0 11.6 32.2 16.6 10.5 9.5 39.0 16.4 16.3 11.0 18.7 8.2 62.9 9.2 9.1 12.3 8.4 43.3 11.6 60.3 13.6 8.4 6.0 13.6 16.5 53.3 5.9 59.2 8.5 14.0 7.21.1 19.0 15.0 64 .3 50.2 9.7 9.9 15.1 10.0 10.5 40.5 6.1 10.0 9.8 56.5 9.8 14.2 13. Proporsi Perempuan Berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi.4 Tidak Lainnya perlu lagi 6.0 9.1 19.7 62.7 3.Tabel 5.3 66.0 9.3 15.9 16.6 4.0 18.2 51.

beberapa indikator yang dapat disajikan dari hasil Riskesdas 2010 untuk pertimbangan mempercepat peningkatan kesehatan ibu antara lain memperhatikan: c.16.6 persen perempuan yang melakukan pemeriksaan. ditanyakan juga pada responden perempuan pernah kawin berapa kali diberi imunisasi TT sebelum dan sesudah menikah. pada perempuan hamil diketahui sekitar 31 persen mendapat imunisasi TT kurang dari 2 kali.15. Usia menikah pertama d. Indonesia 2010 Informasi lain yang juga penting untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah rutinitas untuk melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear. Imunisasi TT f. Dari Riskesdas 2010. sudah menikah pada usia yang sangat muda.Selain dua kelompok indikator di atas. selanjutnya pada usia berikutnya proporsi perempuan menikah pertama ini semakin meningkat sampai dengan usia 19 tahun. Dapat dilihat pada grafik 5. dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu 12 bulan terakhir hanya 4. seperti terlihat pada grafik 5.17. Status gizi Dari Riskesdas 2010 dapat diketahui usia perempuan menikah pertama. 10 tahun. Dari grafik 5.15 dapat dilihat sekitar 46. Perempuan Indonesia.4 persen perempuan di Indonesia sudah menikah sebelum menginjak usia 20 tahun Grafik 5.14. Pada grafik 5. 65 . Proporsi Perempuan Umur 10-54 tahun menurut Umur Menikah Pertama. Melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear e.

17. Inndonesia 2010 Informasi lain yang juga sangat penting untuk kesehatan ibu adalah status gizi perempuan reproduktif yang akan melahirkan. Proporsi Perempuan Umur Reproduktif menurut Jumlah kali mendapat imunisasai TT. Proporsi Perempuan pernah Kawin umur15-49 tahun yang melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear. Indonesia.18 dapat dilihat ada kecenderungan pada 66 . Dari grafik 5.Grafik 5.16. 2010 Grafik 5.

Perempuan dengan IMT <18. Sebaliknya dari grafik 5. dll. Indonesia 2010 Berdasarkan analisis di atas.18. Perempuan dengan IMT 25 + cenderung gemuk dan berisiko tinggi untuk terkena penyakit degeneratif seperti darah tinggi. Pelayanan KB diutamakan pada penduduk miskin yang membutuhkan agar jumlah kehamilan dapat diturunkan.5 adalah kurus dan mempunyai risiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).perempuan kelompok umur 15-19 tahun. 2 persen dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) <18. dan juga dapat mengurangi pernikahan usia remaja serta perbaikan status gizi. diabetes melitus. Proporsi Perempuan pernah kawin menurut kelompok umur dan Status Gizi. Grafik 5.5.15 dapat dilihat ada kecenderungan semakin bertambah umur proporsi perempuan dengan IMT 25 keatas semakin meningkat. dapat disimpulkan bahwa kesehatan ibu pada prinsipnya dapat menjadi lebih baik jika program tetap mengupayakan peningkatan cakupan pelayanan kesehatan terutama pada pertolongan persalinan untuk perempuan hamil. 17. 67 .

1. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Target: 1. dengan target mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015. kepada responden ditanyakan hal-hal yang terkait dengan pengetahuan HIV/AIDS. Nampak adanya peningkatan pengetahuan pada perempuan sebesar 12 persen dan pada laki-laki sebesar 11 persen dibanding tahun 2007 (Gambar 6. Riskesdas 2010 melaporkan sebesar 75 persen perempuan maupun laki-laki umur 15-24 tahun pernah mendengar tentang HIV/AIDS.4. Sedangkan mengenai pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.1 Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar ttng HIV/AIDS menurut jenis kelamin Riskesdas 2007 dan 2010 68 .1). Gambar 6. PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS Salah satu tujuan yang ingin dicapai MDGs dalam kurun waktu 1990-2015 adalah memerangi HIV/AIDS. Salah satu indikator yang digunakan untuk memantau pencapaian target dan dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 adalah prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS.1. Goal 6-MDG Memerangi HIV/AIDS. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015 Narasi berikut mengkhususkan analisis berkaitan dengan pengetahuan responden tentang HIV/AIDS. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 2015 2. masalah malaria dan TB paru 6. Hasil Riskesdas 2010 dibandingkan dengan hasil dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 yang mempunyai metode pengumpulan data yang sama.1.

8 30.3 78.0 91.9 70.3 63.2 43.5 Kuintil 2 58.5 63.0 89.2 73.8 69 .5 96.4 79.1 69.3 84.7 80.2 33.3 86.5 63.9 55.2 94. (Tabel 6.3 62. juga pada kuintil/ pendapatan perkapita yang lebih tinggi.2 73.1.Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin.0 63.9 62.4 51.3 67.3 67.1 83.8 85.3 76.7 69.9 Tingkat pengeluaran perkapita Kuintil 1 53.2 90.9 27.7 61.3 75.5 49.2 79.6 88.1.8 68.0 79.3 56.4 58.4 84. pada mereka yang masih sekolah.9 56.4 38. yang tinggal di perkotaan.1) Tabel 6.1 Kuintil 3 64.4 78.3 67.7 91. yang berpendidikan lebih tinggi.8 53.0 55.81 91.0 59.1 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS.0 72.6 66. menurut karakteristik penduduk.2 27.1 84.1 51.1 56.1 Kuintil 5 75.7 Kuintil 4 68.2 40.8 85.8 64.9 70.2 90.8 49.3 44.9 82.9 84.4 50.0 83.8 79.9 68.9 65.4 23.8 82.7 72.5 41. dan yang bekerja sebagai pegawai dan wiraswasta.8 74. Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 Karakteristik penduduk 2007 Status kawin Belum kawin Kawin Cerai Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D1/2/3/PT Pekerjaan Tidak bekerja Sekolah Pegawai Wiraswasta Petani/ nelayan/buruh Lainnya Laki-laki 2010 Perempuan 2007 2010 64.2 Indonesia 64.7 33.6 79.8 62.4 50.1 90.3 55.3 77.4 71.4 48.

Gambar 6. Riskesdas 2010 70 . NTB.Tabel 6.1.2 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi pernah mendengar AIDS diatas rata-rata yaitu Yogyakarta.1. Jawa Tengah. Papua Barat. Bali. dan Jawa Timur. Kepulauan Riau.1.2 Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar menurut Provinsi.2 dan Gambar 6. DKI Jakarta. Papua. Sulawesi Utara.

2 76 .5 66 .0 77 .3 81 .6 56 .1 64 .1 72 .6 81 .6 41 .4 Perempuan 74 .1 70 .6 48 .4 63 .1 46 .5 73 .1 53 .8 63 .0 89 .7 71 .9 76 .4 Pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS Untuk melihat kecendrungan hasil tahun 2007 dan 2010 dilakukan reanalisis data SDKI dan SKRRI 2007 dengan menggunakan empat variabel yang sama dalam Riskesdas 2010.7 67 .2 74. (2) melalui gigitan nyamuk. dan 2 variabel tentang cara pencegahan HIV/AIDS yaitu 71 .2 72 .1 77 .4 71 .3 66 .3 83 .Tabel 6.6 81 .7 74 .1 62 .4 75 .2 72 .4 75 .3 67 .0 77 .5 77 .4 71 .8 57 .0 68 .8 57 .0 77 .1 66 .2 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS menurut provinsi.8 55 .1 94 .1 82 .1 77 .2 76 .0 68 .8 64 .8 55 .8 Laki-Perempuan 73 .6 69 .1 64 .3 79 .0 75 .2 66 .6 89 .3 81 .5 67 .2 81 .6 78 .2 81 .5 60 .1 66 .6 71 . 2 variabel dari persepsi salah tentang penularan HIV/AIDS yaitu melalui (1) makan sepiring dengan orang yang terkena virus HIV/AIDS.8 81 .5 66 .7 90 .6 67 .5 63 .6 89 .1 70 .8 63 .7 95 .4 76 .1 94 .3 79 .6 69 .5 60 .4 69 .5 77 .5 67 .7 58 .1 82 .3 67 .0 72 .4 62 .1 62 .1.7 95 .1 86 .1 53 .6 41 .7 93 .0 75 . Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 73 .7 90 .5 73 .5 61 .2 66 .7 58 .6 78 . Pengetahuan komprehensif merupakan komposit dari 4 variabel.5 90 .

wiraswasta dan sekolah.8 15 .3 32 .4 22 .8 22 . yang berpendidikan lebih tinggi.9 18 . dan yang bekerja sebagai pegawai.0 13 . juga pada pendapatan perkapita yang lebih tinggi. menurut karakteristik penduduk.0 19 . yang tinggal di perkotaan.5 72 .8 22 .1 16 .7 20 .6 14 .6 19.3) Tabel 6.6 7 .4 15 . pada mereka yang masih sekolah.8 21 .1.1 12 . Riskesdas 2010 Karakteristik penduduk Status kawin Belum kawin Kawin Cerai Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D1/2/3/PT Pekerjaan Tidak bekerja Sekolah Pegawai Wiraswasta Petani/ nelayan/buruh Lainnya Pengeluaran perkapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Indonesia Laki-laki Perempuan Laki-perempuan 20 .2 23 .9 22 .0 25 . Riskesdas 2010 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif “baik” tentang HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin.0 20 .6 16 .9 15 .0 21 .6 18 .8 11 .0 16 .3 35 . (Tabel 6.8 11 .0 18 .6 18 .7 3 .9 20 .8 25 .3 24 .8 12 .3 10 .3 4 .2 13 .6 18 .1 24 .2 15 .1.9 10 .5 17.5 14 .3 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.8 21 .5 23 .8 14 .3 22 .(3) berhubungan seksual dengan satu pasangan saja dan (4) menggunakan kondom saat berhubungan seksual.9 9 .9 25 .6 22 .4 17 .9 8 .6 19 .7 18 .5 24 .2 13 .1 13 .1 10 .2 27 .5 8 .3 15 .8 11 .3 33 .6 19 .3 6 .4 23 .4 12 .

1. Penduduk 15-24 th dengan Penget. Sumatera Utara. Papua. DKI Jakarta. Jawa Tengah.Tabel 6. Jawa Timur. RKD 2010 73 .1. Papua Barat.3 Prev.1. Gambar 6. Bengkulu. Komprehensif tentang HIV/AIDS menurut Prov. NTB.4 dan Gambar 6. DI Yogyakarta..3 menunujukkan 10 provinsi dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS di atas nilai rata-rata yaitu provinsi Bali. Riau.

4 7 .6 31 .8 18 .5 22 .0 12 .2 Laki-perempuan 16 .2 12 .2 10 .8 19 .6 23 .5 7 .8 6 .8 19 .0 10 .2 20 .7 16 .7 25 .1 31 .8 13 .4) 74 .0 8 .2 15 .0 14 .2 32 . menurut provinsi.1 12 .1 16 .8 18 .5 7 .4 12 .2 17 .3 39 .4 15 .1 17 .4 21 .7 18 .4 13 .9 16 .8 15 .1 14 .1 13 .5 30 .3 19 .5 14 .5 14 .5 15 .0 15 .1.5 35 .8 17 .5 11 .6 15 . tampak adanya peningkatan prevalensi penduduk (lakilaki dan perempuan) umur 15-24 tahun belum kawin dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.2 17 .2 26 .1 19 .2 11 .3 12 .2 9 .1.2 17 .9 8 .8 24 .8 20 .4 12 .1 10 . Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 16 .3 24 .3 13 .5 Dibandingkan dengan hasil SDKI 2007.9 9 .4 11 .5 22 .5 11 .3 12 .4 17 . tetapi pada laki-laki kawin tampak sedikit penurunan pada tahun 2010 (Gambar 6.3 21 .6 18 .1 20 .9 12 .3 12 .8 Perempuan 16 .5 13 .6 16 .0 13 .0 7 .4 13 .6 15 .2 21 .8 10 .5 24 .6 8 .9 19 .6 9 .6 24 .4 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.5 11 .9 27 .1 11 .4 10 .0 24 .4 18 .0 16 .Tabel 6.8 22 .6 31 .5 27 .9 18 .1 25 .5 8 .

SDKI 2007 dan Riskesdas 2010 Catatan: Hasil analisis ulang pengetahuan komprehensif penduduk 15-24 tahun SDKI 2007* dengan 5 variabel.Gambar 6. 75 . mengetahui orang tampak sehat dapat terkena HIV.4 Kecenrungan Pengetahuan Komprehensif Penduduk 15-24 tahun tentang HIV/AIDS.7 Perempuan 15.5 *5 variabel yaitu penggunaan kondom saat hub. sebagai berikut: Status kawin Belum kawin Kawin Laki 13.7 14. hubungan seksual hanya dengan satu pasangan. menolak dua persepsi salah yaitu HIV tertular melalui gigitan nyamuk dan dapat ditularkan melalui berbagi makan dengan ODHA. seksual.1 9.1.

Di Indonesia ditemukan semua jenis human plasmodia terutama Plasmodium falciparum and P. Sejak tahun 2004. PENYAKIT MALARIA Malaria merupakan masalah kesehatan dunia karena mengakibatkan dampak yang luas. Malaria dan penyakit Menyebabkan kesakitan dan menular lainnya kematian Mengembangkan kemitraan global untuk Kerja sama dalam penanggulangan melalui Global pembagunan Fund Pada tahun 2005. Peran malaria pada indikator MDGs lain MDG 1 2 4 5 6 8 Tujuan Menanggulangi kemiskinan Mencapai pendidikan dasar untuk semua Menurunkan angka kematian anak Meningkatkan kesehatan ibu Peran malaria Memelihara kemiskinan Penyebab absen sekolah Penyebab kematian Ancaman kehidupan ibu dan anak Memerangi HIV/AIDS. Tabel 6. pengobatan yang tepat untuk subjek terinfeksi malaria dengan artemisinin-based combination therapy (ACT).2.2. Oleh sebab itu malaria menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi sasaran prioritas komitmen global di Millenium Development Goals (MDGs) yang dideklarasikan oleh 189 anggota PBB pada tahun 2000. Di Indonesia eliminasi malaria dimulai sejak tahun 2009. ACT yang digunakan oleh program malaria nasional adalah kombinasi 76 . Laporan tahunan menunjukkan kasus terbanyak dilaporkan dari Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Timur. telah dihasilkan komitmen global tentang eliminasi malaria bagi setiap negara. Selain itu malaria umumnya merupakan penyakit di daerah terpencil atau sulit dijangkau dan di negara miskin atau berkembang.vivax. Kasus malaria yang dilaporkan umumnya masih merupakan malaria yang diagnosis hanya berdasarkan gejala klinis karena keterbatasan akses dan fasilitas pemeriksaan laboratorium. Dampak luas dari malaria yang berhubungan dengan 5 indikator MDGs lain dapat dilihat pada Tabel. program malaria Indonesia secara bertahap telah menggunakan ACT sesuai rekomendasi WHO4.2. dan memungkinkan sebagai penyakit emerging dan re-emerging karena adanya kasus import dan vektor potensial yang dapat menularkan dan menyebarkan malaria. Berbagai upaya penanggulangan telah dilaksanakan dengan menggalang berbagai sumber dana baik dari pemerintah dan non pemerintah (WHO dan Global Fund). sehingga tidak mengherankan malaria juga merupakan neglected disease.6. Pada pertemuan WHA 60 tahun 2007.1.6. penyemprotan rumah dengan insektisida. Kelebihan derivatif artemisinin ini adalah dapat mencegah penularan. Untuk percepatan penanggulangan malaria dilakukan berbagai intervensi: kelambu berinsektisida untuk penduduk berisiko. dan pengobatan pencegahan pada ibu hamil1. World Health Assembly (WHA) mentargetkan penurunan kasus kesakitan dan kematian malaria sebanyak =50% di tahun 2010 dan =75% di tahun 2015 dari angka pada tahun 2000.1.

6.artesunat-amodiakuin dan dihidroartemisinin-piperakuin. penggunaan obat tradisonal/tanaman obat untuk malaria). Setiap tiga tahun Badan Litbangkes melaksanakan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Riskesdas pertama dilaksanakan pada tahun 2007. Total sampel Kesmas adalah 2800 Blok Sensus (BS). cakupan ACT. Sedangkan API di JawaBali adalah 0. prevalensi malaria. Angka kesakitan malaria Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 2. Semua kasus yang positip malaria dengan RDT dirujuk ke Puskesmas terdekat. Demikian juga kasus dengan riwayat demam walaupun hasil RDT negatip akan dirujuk untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut.8 persen (Gambar. sedangkan artemeter-lumefantrin direkomendasi oleh klinisi. Data Riskesdas malaria dikumpulkan dengan dua cara yaitu wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas. dan kuesioner individu atau Anggota Rumah Tangga/ART (Annual Parasite Incidence/API. tempat pemeriksaan/penentuan diagnosis malaria.4 persen. dan pengobatan tradisional atau dengan tanaman obat). Kuesioner yang digunakan ada yang khusus untuk responden Rumah Tangga (RT) untuk faktor pendukung (promosi/pengetahuan tempat pelayanankesehatan dan pemeriksaan darah malaria. 77 . Data Riskesdas selain dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pencapain target MDGs. sedangkan sampel untuk pemeriksaan darah malaria adalah sebanyak 823 BS yang merupakan sub sampel dari sampel Kesmas. Cakupan kelambunisasi berinsektisida pada balita. prevensi. dan Riskesdas ke 2 tahun 2010 dirancang khusus sebagai bahan evaluasi pencapaian MDGs.2.1). Apusan darah tebal malaria diperiksa di Puslitbang Biomedis dan Farmasi secara blinded untuk keperluan validasi hasil RDT. Semua anggota Rumah Tangga diperiksa darahnya dengan RDT (Entebe®) dan apabila disertai dengan riwayat demam dalam 48 jam terakhir juga dilakukan pemeriksaan malaria apusan darah tebal dengan pewarnaan Giemsa. risiko terinfeksi malaria). 1. Satu BS terdiri dari 25 RT. Dari data Riskesdas 2010 dapat ditentukan Angka Kesakitan Malaria (Annual Parasite Incidence/API 2009-2010 dan Prevalensi malaria). Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS 15. Pengobatan efektif pada balita. tetapi juga dapat sebagai data dasar dan bahan evaluasi untuk pencapaian eliminasi malaria di Indonesia. persentasi yang melakukan pencegahan. pemanfaatan pelayanan kesehatan. faktor pendukung lainnya (promosi. dan pada Riskesdas 2010 data kesakitan malaria dilengkapi dengan pemeriksaan darah malaria pada semua responden. dan perkembangan hasil Riskesdas 2007. Pada Riskesdas 2007 hanya dikumpulkan data prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan hasil wawancara. dan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT). Sebelum dilakukan wawancara dan pemeriksaan darah malaria. semua responden harus menandatangani informed consent.

Riskesdas 2010 2.%) terinfeksi malaria hanya satu kali dalam satu tahun terakhir.5 1 0. Jadi tidak mengherankan API Jawa-Bali dari Riskesdas 2010 (8 permil) lebih besar dari pada API tahun 1990 (0. Sedangkan hasil API Riskesdas 2010 adalah API Nasional (24 permil) dan dikumpulkan dari masyarakat yang dapat merupakan data dari fasilitas pelayanan pemerintah dan sektor swasta. Pada umumnya (50.6.2. 78 .16 permil) (Bappenas.5 0 Jawa-Bali Nasional 0.4 API pada tahun 1990 dan 2007 hanya merupakan API Jawa-Bali yang berasal dari fasilitas pelayanan pemerintah. Rentang API Nasional adalah antara 0.2).Gambar.5 2 1. 2009)8. API.1.1. Hal ini disebabkan karena dimasa lalu hanya Jawa-Bali yang sudah dapat mengkonfirmasi kasus malaria dengan pemeriksaan apusan darah malaria. Sebanyak 20 provinsi dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional (Tabel.8 persen dan yang tiga atau lebih adalah 10.1 persen.17 permil) dan 2007 (0.8 2.6.2.3% (Bali) dan 31. sedangkan yang dua kali adalah 39.4% (Papua).

0 0.7 10.6 10.2 4.7 0.7 6.4 1.0 2.6 7. Riskesdas 2010 NO NAMA PROVINSI 1 NAD 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 8 Lampung 9 Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 22 Kalimantan Selatan 23 Kalimantan Timur 24 Sulawesi Utara 25 Sulawesi Tengah 26 Sulawesi Selatan 27 Sulawesi Tenggara 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Jawa-Bali Indonesia API (%) 2.6 5.1 0.7 2.5 31.0 1.3 2.6 1.8 2.3 4.8 6.9 1.6 9.9 3.Tabel 6.0 2.2.8 0.2 4.4 79 .4 3.8 5.2 1.7 2.2 API malaria menurut provinsi.4 0.7 0.7 2.6 5.3 25.

6 2.6 2.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 API (%) 1. responden dengan pendidikan tidak tamat SD (2.Tabel 6.14 25 .0 2.5 2.3 2.9 2.5 2.2 2.0 2.3 2.44 45 . 2.3 2. responden laki-laki (2.3 API (%) Menurut Karakteristik Responden. API lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-54 tahun.9%).2 2.34 35 .3 1.4 2.4 2.0 2.9 2.2 1.2 2. responden yang tinggal di perdesaan (2.7%.8 1.2 2.6%). Riskesdas 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .4 1. responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (3.5 2.7 2.0%).54 55 .9 3.5 2.0 2.9%).9 Pada Riskesdas 2010.2 2.2 2.2.9 2.64 65 . dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 4-5 (2.24 25 .9%) 80 .

39 pada Riskesdas 2007 menjadi 0.2.6 4 2 0.7%) yang lebih tinggi dibandingkan dengan Period Prevalence Riskesdas 2007 (2. dan gejala klinis (10. Hal yang menarik adalah pada kelompok kuintil 4 dan 5 ternyata API nya > dari API nasional. terjadi penurunan dari 1.2%). Riskesdas 2010 10 8 6 9.2).85%) dipengaruhi oleh prevalensi yang berdasarkan gejala klinis. Period Prevalence (%).2.2. dapat berhubungan dengan pekerjaan.(Tabel 6. Oleh sebab itu penentuan kesakitan atau diagnosis malaria yang benar dan akurat adalah harus melalui konfirmasi pemeriksaan baku emas apusan darah malaria atau deteksi antigen antara lain dengan RDT. Jadi Period Prevalence Nasional 2010 (10. Gambar 6.2.7 persen.6 persen pada Riskesdas 2010.6%).6%) berdasarkan hasil wawancara (Gambar 6. Gejala klinis malaria sangat beragam dan tidak spesifik dari asimptomatik sampai dengan gejala klinis berat.3). Angka ini didapatkan dari kasus kesakitan yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria (0. Keadaan ini dapat disebabkan akses dan kemampuan kelompok dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah untuk melakukan pemeriksaan darah malaria terbatas.3). 81 . Prevalensi malaria Indonesia dalam satu bulan terakhir (Period Prevalence) pada Riskesdas 2010 adalah 10.2. Gejala klinis ini termasuk kasus asimptomatik atau tanpa demam tetapi minum obat anti malaria (0. Hasil ini tidak mengherankan karena malaria menyerang semua umur.6 0 Konfirmasi lab Gejala klinis Asimptomatik Bila dibandingkan dengan angka Prevalensi dalam satu bulan terakhir yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria. dan pada umumnya di daerah terpencil atau pedesaan serta ekonomi rendah (Tabel 6.6 0.

6 2.7% . pekerjaan anak sekolah dan petani/ nelayan/ buruh (0. periode prevalence lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-64 tahun (10.9% . Angka Prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria ternyata sama dengan angka Prevalensi malaria yang didapat dari hasil pemeriksaan dengan RDT pada saat dilakukan Riskesdas 2010 (Point Prevalence) yaitu 0.6). pendidikan rendah (tidak tamat SD) (0.0% – 12. Period prevalence terendah adalah di provinsi Yoyakarta dan Bali (4.39 0. responden dengan pendidikan rendah/ tidak tamat SMP (12. (Tabel 6. Pada Riskesdas 2010.7%) dan pada kuintil 1 dan 3 (0. Period Prevalence yang dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah dan Point Prevalence juga lebih tinggi pada kelompok umur 1-34 tahun (0.2. Riskesdas 2007 dan 2010 12 10 8 10.7 6 4 2 0 D DG 1.8%).12.4.85 2007 2010 Sekitar 64 persen (21 provinsi) mempunyai angka Period Prevalence lebih besar atau sama dengan Period Prevalence Nasional.0.6%). Karakteristik ini tidak berbeda dengan karakteristik pada responden API kecuali pada kelompok tingkat pengeluaran perkapita yaitu kasus malaria lebih banyak ditemukan pada kelompok kuintil 1-3.7% .Gambar 6. Prevalensi Malaria.8%). responden laki-laki (10. Seperti halnya temuan pada karakteristik API.0%).2. 6.0.6%) dan tertinggi di Papua Barat (33.6) 82 . Hal ini menunjukkan konsistensi temuan antara hasil wawancara dengan pemeriksaan RDT.2.8%). di perdesaan (0. responden yang tinggal di perdesaan (13%). dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 1-3 (10.2.7%) (Tabel.2%) (Tabel 6.2%).3.2.5).7%).11.).8%). responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (13.6% (Tabel 6. sedangkan yang diagnosisnya diketahui berdasarkan konfirmasi pemeriksaan darah adalah kelompok kuintil 4-5 seperti pada API.9% .

1 0.4 0.10 0.32 0.41 0.07 0.09 1.1 1.42 7.3 22.86 2.8 12.88 0.5 9.22 5.8 1.85 D (%) 0.01 4.65 12.4 9.9 1.7 4.5 8.05 0.3 16.3 0.81 0.67 2.7 4.07 0.87 3.09 1.6 0.5 0.88 0. Riskesdas 2007 dan 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nama Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D (%) 1.41 0.0 11.08 0.6 13.5 1.4 0.55 0.85 1.37 2.02 6.7 Indonesia 83 .9 1.9 9.09 0.30 0.14 1.16 2.06 0.6 2010 DG (%) 12.4 10.07 0.32 0.73 1.2 11.5 1.1 0.18 0.9 0.5 1.51 0.65 2.42 0.3 12.7 0.06 7.26 3.7 7.4 0.32 0.7 19.6 20.0 9.1 10.3 4.3 6.9 33.04 3.6 7.0 15.7 0.23 1.66 2.87 2.4 Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Provinsi.3 3.1 28.41 2.82 1.75 12.2 28.4 1.39 2007 DG (%) 3.2 0.41 1.1 0.1 0.0 0.63 7.0 12.5 9.23 26.8 2.79 0.2 14.6 14.31 15.86 1.12 7.37 1.1 0.51 0.3 10.03 3.14 18.Tabel 6.6 29.6 7.31 1.1 0.73 1.2 10.31 3.6 11.1 0.45 2.5 18.2.36 1.4 0.27 5.10 2.0 0.89 1.58 0.

5 8.8 13.5 0.42 1.7 0.41 1.6 9.22 1.0 11.26 0.7 10.9 7.5 0.7 8.5 13.66 1.2.08 11.66 2.97 2.4 0.7 8.54 55 .5 0.02 2.44 45 .62 3.9 9.1 10.9 10.5 0.2 10.95 4.9 5.9 10.20 3.0 11.14 15 .64 65 .7 0.4 10.57 1.08 1.14 1.0 1.49 2.7 11.12 2.4 0.0 10.5 0.4 0.90 2.Tabel 6.05 2.83 2.3 0.31 1.59 1.55 1.37 1.69 2.2 0.4 0.69 3.05 1.7 0.74 2010 D (%) DG (%) 0.6 9.88 1.4 0.0 10.35 1.6 0.14 1.83 1.57 1.6 0.70 2.38 1.5 6.46 3.19 1.83 3. Riskesdas 2007 dan 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .09 3.42 1.2 12.9 0.6 0.7 11.75 1.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Pedesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 2007 D (%) DG (%) 0.48 1.72 2.54 3.8 0.34 35 .6 0.8 0.85 1.37 1.5 0.0 12.75 3.83 2.53 1.4 0.50 1.2 84 .19 1.6 12.0 12.38 1.24 25 .5 0.10 1.52 0.8 10.7 0.6 0.7 0.8 11.7 0.64 2.35 3.13 2.31 1.04 2.2 9.5 Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Karakteristik Responden.05 2.4 10.36 1.43 1.

6 0.3 0.6 0.7 0.34 35 .6 0.7 0.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 NASIONAL Point Prevalence (%) 0.5 0.5 0.6 Point Prevalence Menurut Karakteristik Responden.7 0.7 0.4 0.64 65 .5 0. Riskesdas 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .7 0.8 0.6 0.4 0.7 0.14 25 .6 0.24 25 .7 0.6 0.8 0.6 0.2 0.8 0.6 0.6 0.7 0.54 55 .6 0.TABEL 6.3 0.2.6 85 .8 0.5 0.44 45 .

4% yang diminum dengan dosis lengkap. Gambar. 6. penggunaan ACT di Indonesia hanya mencapai 49.6 21. Pengobatan Efektif Malaria.% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam.3%. Pengobatan efektif Obat antimalaria yang direkomendasikan oleh program Malaria adalah dengan menggunakan Artemisinin Combination based Therapy (ACT). Selain ACT. ACT program diminum dengan dosis tunggal harian selama 3 hari. Jadi yang dimaksud dengan pengobatan efektif menurut WHO adalah pengobatan malaria yang diberikan dalam 24 jam pertama demam atau sakit dengan ACT dan obat diminum dengan dosis lengkap. Khusus pada balita.5. penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34.% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. dan artemeter-lumefantrin yang direkomendasi oleh klinisi (sejak tahun 2009).6%. 6.7). dan ketersediaan ACT perlu dievaluasi untuk mendapat pengobatan yang efektif. ACT yang digunakan oleh program adalah artesunat-amodiakuin (sejak tahun 2004). dan 83. sedangkan pada balita hanya 21. pengobatan yang efektif perlu ditunjang diagnosis yang akurat dan cepat terutama pada kelompok berisiko yaitu balita.4.2. Sosialisasi dan pelatihan ACT sangat perlu digalakkan.2. 80. Jadi penderita malaria semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33.1%.9% (Tabel.6. Riskesdas 2010 35 30 25 20 15 10 5 0 Semua kelompok umur Balita 33. serta 89.6% yang diminum dengan dosis lengkap. dan hanya 75.9 Dari hasil wawancara. Pengobatan akan lebih efektif apabila pengobatan diberikan dalam 24 jam menderita demam atau sakit.2. dihidroartemisin-piperakuin (sejak tahun 2009 dan dimulai di Papua). 86 .

7% menjadi 16.0 12. cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26.1%.4 3.Tabel 6.5% pada responden semua kelompok umur.6 49.5% menjadi 12.2.7%) (Tabel.2 32.1 75. Sedangkan cakupan total kelambunisasi yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita terjadi kenaikan yaitu dari 5. 6.5 38.0%. Untuk meningkatkan daya proteksi.5 89.2.5 Semua kelambu 2007 2010 Dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2007.8). jenis kelambu yang direkomendasikan adalah kelambu yang telah diobati atau dipoles dengan insektisida permetrin.2. Riskesdas 2010.3 80. Cakupan Kelambunisasi.5% dan dari 7. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12.6 83. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 16. 87 .7 26. terjadi penurunan cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida (dari 32.2% menjadi 32.6.1 32.7%. ACT Cakupan (%) ACT dosis lengkap Proporsi (%) Mendapat ACT Mendapat ACT dalam 24 jam Pengobatan 3 hari & diminum habis Semua umur 33.1% menjadi 26.0%.7 Cakupan Penderita Malaria yang Mendapat Pengobatan Efektif.6 Balita 21.1%) dan khusus pada balita (dari 38. Riskesdas 2007 dan 2010 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Balita Semua umur Balita Semua umur 7.9 34.1 Berinsektisida 16. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010. Gambar.7 5.5. Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 32. Cakupan kelambunisasi Penggunaan kelambu dapat mencegah infeksi malaria melalui gigitan nyamuk.

Tabel 6.2.8 Cakupan kelambunisasi, Riskesdas 2007 dan 2010 Jenis Kelambu Tahun 2007 Semua umur Balita 32,1 5,5 38,2 7,7 Tahun 2010 Semua Balita umur 26,1 12,5 32.7 16,0

Kelambu dengan dan tanpa insektisida Kelambu dengan insektisida

Penurunan cakupan total kelambunisasi dan khusus pada balita dapat disebabkan karena program lebih mengutamakan kelambu yang diproteksi insektisida sehingga meningkatkan cakupan total kelambu yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita. Walaupun demikian cakupan kelambunisasi protektif dengan insektisida masih perlu ditingkatkan terutama di populasi dengan risiko malaria tinggi atau daerah endemis malaria dan khususnya pada kelompok khusus balita dan ibu hamil. Dari uraian di atas dapat disimpulkan: 1. Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2,4 persen, sedangkan API Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0,8 persen. Demikian pula Period Prevalence malaria pada tahun 2010 (10,7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2,85%). Angka Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point Prevalence (0,6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian. 2. Pengobatan efektif malaria pada balita hanya 21,9 persen. 3. Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7,7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010.

88

6.3. TINGKAT PREVALENSI TUBERKULOSIS Riskesdas 2010 bertujuan untuk memberikan hasil antara lain Angka Prevalensi Nasional TB 2010 dan Proporsi pemanfaatan OAT DOTS oleh penderita TB yang merupakan salah satu komponen untuk memperoleh gambaran pemanfaatan Program Directly Observed Treatment of Short-course (DOTS) di Indonesia. Kedua data ini merupakan bagian dari target nomor 6 pada Millenium Development Goal’s (MDG’s) dan dapat memberikan gambaran mengenai tata laksana TB di Indonesia. Angka Prevalensi Nasional TB pada Riskesdas 2010 diperoleh dengan cara wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana kepada responden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis menderita TB Paru melalui pemeriksaan dahak dan atau foto paru oleh tenaga kesehatan/nakes (dokter/perawat/bidan) untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB berdasarkan diagnosis (D). Kepada responden juga ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah menderita batuk berdahak = 2 minggu disertai satu atau lebih gejala: dahak bercampur darah/ batuk berdarah, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, dan demam > 1 bulan untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB berdasarkan gejala (G). Definisi operasional untuk Prevalensi TB menurut WHO adalah Angka penderita TB Paru positif pada 100.000 populasi berusia 15 tahun atau lebih. Sementara definisi operasional untuk TB Paru positif menurut International Standard for TB Care (ISTC) yang telah diadopsi oleh Indonesia mulai tahun 2006 adalah suspek TB yang telah positif diuji secara mikroskopis BTA (Bakteri Tahan Asam) apusan dahaknya dengan minimal pembacaan terhadap apusan dahak yang dikumpulkan dua kali atau lebih baik tiga kali (sewaktu, pagi, sewaktu) dan paling sedikit satu kali (pagi). Pada Riskesdas 2010 berdasarkan diagnosis nakes (D) adalah sebesar 0,7 persen sementara berdasarkan gejala (G) adalah sebesar 2,7 persen. Angka Prevalensi Nasional TB hasil gabungan D dan G (DG) menjadi 3,3 persen. Bila mengacu pada definisi operasional WHO dan ISTC maka data prevalensi yang mendekati kenyataan adalah data yang berasal dari diagnosis nakes (D), yaitu sebesar 0,7 persen. Prevalensi Nasional TB (D) cenderung meningkat sesuai dengan bertambahnya usia dimana angka tertinggi berada pada kelompok usia 55-64 tahun (1,3%) dan terendah pada kelompok usia 15-24 (0,3%). Prevalensi penderita laki-laki adalah 0,8 persen dan perempuan 0,6 persen dengan prevalensi penderita yang berada di kota sama dengan di desa sebesar 0,7 persen, serta juga menunjukkan kecenderungan menurun dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan dimana prevalensi paling rendah terdapat pada tingkat pendidikan tamat SMA (Tabel 6.3.1). Prevalensi TB tertinggi berdasarkan jenis pekerjaan ditemukan pada kelompok pekerjaan Petani, Nelayan dan Buruh sebesar 0,9 persen dan terendah pada kelompok Sekolah dan POLRI/TNI/Pegawai sebesar 0,4 persen. Berdasarkan tingkat pengeluaran perkapita prevalensi TB yang berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan didapati prevalensi terendah pada kuintil 5 (0,6%) dan tertinggi pada kuintil 3 dan 4

89

(0,8%). Sedangkan angka prevalensi TB berdasarkan diagnosa dan gejala (DG) didapati prevalensi tertinggi pada kuintil 1(3,5%) dan terendah pada kuintil 5 (3,9%) (Tabel 6.3.1). Tabel 6.3.1 Prevalensi TBC menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Prevalensi 2007(%) D DG Prevalensi 2010 (%) D DG

Kelompok umur (tahun) 15-24 0,21 0,60 0,3 2,6 25-34 0,32 0,83 0,6 2,8 35-44 0,44 1,10 0,7 3,1 45-44 0,59 1,45 0,9 3,7 55-64 0,70 1,91 1,3 4,7 65-74 1,08 2,62 1,2 4,7 >74 1,10 2,75 1,1 5,1 Jenis kelamin Laki-laki 0,44 1,08 0,8 3,1 Perempuan 0,35 0,90 0,6 2,4 Tipe Daerah Perkotaan 0,36 0,77 0,7 3,1 Perdesaan 0,42 1,12 0,7 2,4 Pendidikan Tidak pernah sekolah 0,88 2,42 1,1 4,9 Tidak tamat SD/MI 0,53 1,46 1,0 4,7 Tamat SD/MI 0,39 1,02 0,9 3,7 Tamat SLTP/MTS 0,31 0,73 0,6 2,7 Tamat SLTA/MA 0,29 0,62 0,5 2,3 Tamat PT 0,27 0,60 0,6 1,8 Pekerjaan Tidak bekerja 0,62 1,40 0,8 3,2 Sekolah 0,18 0,49 0,4 2,5 TNI/ Polri/Pegawai 0,27 0,56 0,4 2,1 Wiraswata/ Layan Jasa/ Dagang 0,42 0,89 0,7 2,8 Petani/Nelayan/Buruh 0,55 1,60 0,9 4,2 Lainnya 0,49 1,17 0,7 3,1 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0,40 1,07 0,7 3,5 Kuintil 2 0,43 1,07 0,7 3,4 Kuintil 3 0,42 1,01 0,8 3,4 Kuintil 4 0,38 0,94 0,8 3,1 Kuintil 5 0,34 0,82 0,6 2,9 Data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2007 tidak dapat dibandingkan dengan data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2010. Hal ini disebabkan karena penentuan sampel BS pada Riskesdas 2007 berbeda dengan Riskesdas 2010 serta pertanyaan mencakup data diagnosa dan gejala pada kuisioner terstruktur juga berbeda. Menjadi catatan bahwa dengan ruang lingkup pertanyaan yang lebih rinci pada Riskesdas 2010 angka Prevalensi Nasional TB menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

90

000 penduduk (0. Metode active case 91 . Data WHO Global Report yang dicantumkan pada Laporan Triwulan Sub Direktorat Penyakit TB dari Direktorat Jenderal P2&PL tahun 2010 menyebutkan estimasi kasus baru TB di Indonesia tahun 2006 adalah 275 kasus/100. yaitu tertinggi di Provinsi Papua (1.2 di bawah ini.1% terhadap suspek) dan hasil Riskesdas 2010 (0.3. Beberapa provinsi memiliki prevalensi di atas angka nasional.000 penduduk/tahun (0. Lampung. diikuti oleh Provinsi Sulawesi Utara (1. Kecendrungan meningkatnya angka Prevalensi Nasional TB bila dibandingkan antara hasil Survei Prevalensi TB 2004 (0. hal ini dapat dilihat pada grafik 6.3.Tuberkulosis Paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 0.1 di bawah ini.000 penduduk/tahun (0.3%) serta angka terendah terdapat di Provinsi Sumatera Selatan.275%) dan pada tahun 2010 turun menjadi 244 kasus/100. Grafik 6.104%).3%) dan Banten (1.3.5%).7 persen.3%).7% pada populasi) dapat hendaknya menjadi perhatian yang serius bagi Program TB di Indonesia. Meskipun terjadi peningkatan Case Detection Rate dan Cure Rate yang tinggi setiap tahunnya tetapi percepatan penyebaran penyakit di masyarakat masih lebih tinggi. DIY dan Bali (0. Data prevalensi sebelumnya yang menggunakan uji konfirmasi laboratorium adalah data Prevalensi Nasional hasil Survey Prevalensi TB pada tahun 2004 yang memberikan angka prevalensi Nasional TB berdasarkan pemeriksaan mikroskopis BTA terhadap suspek adalah sebesar 104 kasus/ 100.1 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2010 Perbedaan Angka Prevalensi TB pada Riskesdas 2007 dan 2010 dapat dilihat pada tabel 6.244%). Data ini diperoleh berdasarkan hasil laporan dari fasilitas kesehatan yang tergabung dalam program DOTS di seluruh Indonesia.

6 3.6 1.3.47 0.47 0.00 0.21 0.75 0.11 0.9 0.31 0.00 1.3 4.37 0.5 0.0 0.22 1.8 5.31 0.82 0.6 0.4 1.0 0.1 1.56 0.5 7.89 0.36 0.8 0.62 1.6 0.40 0.1 3.9 5.2 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2007 dan 2010 PROVINSI Prevalensi 2007(%) D 0.58 1.7 7.47 2.45 0.9 0.3 0.3 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92 .40 0.6 0.53 1.3 0.99 Prevalensi 2010 (%) D 0.31 0.34 0.5 0.12 0.3 4.02 0.38 0.9 3.7 0.01 0.63 0.83 1.23 0.2 3.7 5.73 0.24 1.2 2.4 0.43 0.23 0.3 0.7 1.4 1.4 1.8 0.24 0.5 7.4 2.43 0.4 2. Tabel 6.4 4.9 0.0 4.02 1.55 1.7 DG 3.4 5.4 0.18 0.25 0.86 0.58 0.07 2.1 3.4 2.finding terhadap populasi usia 15 tahun ke atas yang diterapkan pada Riskesdas 2010 memberikan kenyataan tentang hal ini dimana kasus TBC di masyarakat masih sangat tinggi.47 1.7 0.19 1.98 1.3 0.03 1.4 5.11 0.03 1.29 0.2 2.69 1.36 1.8 2.34 0.7 2.42 0.3 0.5 0.54 2.26 0.6 3.4 DG 1.3 0.33 0.0 4.13 0.7 0.6 0.6 2.6 3.49 0.7 4.6 3.0 3.05 0.2 0.48 1.71 0.38 0.15 0.73 0.6 0.8 1.6 4.

2 Data Prevalensi Nasional TB Indonesia dalam persen 0.3 0. Definisi operasional untuk obat Kombipak terdiri atas: Kombipak I dan Kombipak II untuk fase awal. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. Pada Riskedas 2010.11 Definisi operasional untuk OAT Fixed dose combination terbagi atas 2 obat yaitu INH dan Rifampisin.2 0. kecepataan diagnosis (diagnosis dini) dan terapi pengobatan yang dilakukan.25 0. Pirazinamid dan Etambutol. Pemberian OAT adalah berdasarkan Berat Badan. Kombipak III untuk fase lanjutan.3.15 0.244 Indonesia telah mengadopsi program DOTS dari tahun 1994 dimana terdapat lima komponen dan strategi utama DOTS yang direkomendasikan untuk penanggulangan TB yaitu: Komitmen politik. Pirazinamid (Z). Rifampisin (R). Proporsi jumlah penderita TB yang memanfaatkan OAT DOTS diperoleh dari wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana pada responden yang telah didiagnosis TB oleh nakes dalam 12 bulan terakhir ditanyakan “apakah jika berobat. Kombipak IV untuk fase sisipan.104 0. Streptomisin (S). Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat.05 0 2004 2006 2010 0. pirazinamid. jenis obat yang digunakan adalah Kombipak/FDC (Fixed Doses Combination) atau non Kombipak/FDC?”. Penurunan prevalensi TB sangat tergantung pada implementasi program DOTS di lapangan. termasuk pengawasan langsung pengobatan serta Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu diikuti Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. dan 4 obat yaitu INH. Rifampisin. Pemberian INH dan Etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yang keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut. terutama penemuan kasus. dan Ethambutol (E). 3 obat yaitu INH.275 0.Grafik 6.1 0. Persentase Pemanfaatan Program DOTS diperoleh dari data diagnosis oleh nakes (D) yang digabungkan dengan data pemanfaatan OAT DOTS (Kombipak atau Fixed 93 . Fase lanjutan adalah INH dan Rifampicin yang diberikan selama 4 bulan. Rifampisin. OAT Kombipak untuk program TB jangka pendek selama 2 bulan adalah Isoniazid (H).

6 persen.1 persen dan terendah pada kelompok tamat SMA sebesar 0. Berdasarkan jenis kelamin prevalensi pada laki-laki sebesar 0. Prevalensi tertinggi pada kelompok umur 45-54 tahun (0. Bali. termasuk pemberian dukungan dan pelaksanaan Standar Internasional untuk Pelayanan TB (ISTC = International Standard for Tuberculosis Care) yang semakin ditingkatkan dari tahun ke tahun dengan memperkuat jejaring eksternal dan internal. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa.2 OBAT DOTS NON DOTS Hasil ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66.4%).3%).2 persen. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0.8 persen dan pada perempuan 0.3). Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua Barat (1. Data ini ini sejalan dengan informasi yang diberikan Subdit TB P2&PL tentang meningkatnya keterlibatan rumah sakit dalam program TB DOTS. nelayan.5 persen.3.25 persen (91% keberhasilan OAT DOTS terhadap 72.9 persen dan terendah pada kelompok yang sedang sekolah dan kelompok 94 . 10 persen pada TB di tempat kerja dan pada RS Angkatan Darat sebanyak 35 persen yang dilibatkan melaksanakan penanggulangan TB menggunakan strategi DOTS.Dose Combination) pada responden TB dalam 12 bulan terakhir. Hasil Riskesdas 2010 untuk Persentase Pemanfaatan OAT DOTS adalah sebesar 83. dan buruh sebesar 0.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen.9%) sedangkan terendah pada kelompok umur 15-24 tahun (0. Berdasarkan pekerjaan prevalensi tertinggi dapat ditemukan pada kelompok dengan pekerjaan pertani. Keterlibatan institusi lainnya dalam penanggulangan TB sampai dengan 2009 adalah 13 persen pada Lapas/Rutan. Berdasarkan pendidikan prevalensi tertinggi pada kelompok yang tidak pernah sekolah sebesar 1.7 persen dimana terjadi peningkatan Angka Prevalensi dibandingkan dengan Riskesdas 2007 (0.5%) dan terendah Provinsi Lampung. dan Sumatera Selatan (0. Grafik 6.8 83.1 Proporsi Kasus TB Yang Diobati OAT Program DOTS pada Riskesdas 2010 26. DIY.

Angka ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen 95 .6%).25 persen (91% keberhasilan OAT DOTS terhadap 72. Sedangkan berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita prevalensi TB tertinggi ditemui pada kuintil 3 dan 4 (0.8%) dan terendah pada kuintil 5 (0.dengan pekerjaan TNI/Polri/Pegawai sebesar 0. Persentase pemanfaatan OAT DOTS hasil Riskesdas 2010 adalah sebesar 83.4 persen.2 persen.

5. dan akses terhadap penyediaan air minum. 96 .2. Indikator ini terdiri dari 3 jenis. a. sumur pompa. akses terhadap sumber air minum terlindung.1 dan tabel 7. Sedangkan sumber air tidak terlindung yaitu sumur tidak terlindung. non perpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung. dan air sungai. air isi ulang dan lainnya. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak 2. sumur gali terlindung. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi dasar 1. Akses terhadap air perpipaan Dalam laporan MDGs 2007 dan 2009. akses terhadap air perpipaan digunakan sebagai salah satu indikator akses terhadap air minum. yaitu proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap sumber air minum yang terlindungi dan berkelanjutan dan proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak. Air perpipaan terlindung bersumber dari air leding. dan air hujan. Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung. AKSES AIR MINUM Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 10 (menurunkan separuh proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015) terdapat 2 indikator pemantau pencapaian target. Dalam memantau akses air minum dapat digunakan 3 pendekatan.Goal 7 – MDG Air Minum dan Sanitasi layak Target Menurunkan hingga separuhnya penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi dasar pada 2015 Indikator yang dipantau: 1. air non-perpipaan terlindung berasal dari air kemasan. nonperpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung disajikan dalam tabel 7. mata air tidak terlindung. mata air terlindung. yaitu akses terhadap air perpipaan. air perpipaan terlindung.

28 14.65 29. sumur gali terlindung.64 25.03 15.19 54.11 40.96 27.61 33.51 45.43 15.20 38.01 65.72 45.69 47.24 40.41 16.58 14. mata air terlindung.43 27.02 29.75 33.55 24.27 8.00 27.15 44.47 8.50 17.85 51.89 33.14 16.19 61.19 44.09 21.60 18. Riskesdas 2010 Provinsi NonNon Perpipaan Perpipaan Perpipaan Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung** 48.18 29.22 43.87 48.10 21.04 15.44 2.25 29.96 44.26 63.05 40.58 51.39 21.81 25.29 52.23 11.61 27.22 59.95 7.48 13.89 9.81 36.30 41.93 74.16 18.02 57.39 57.78 38.54 39.69 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Keterangan: * Air ledeng ** Sumur pompa.16 34.79 38.16 66.59 17.66 20.14 56.21 35.79 37.41 61.Tabel 7.06 39.34 19.41 66.00 47.28 18. air kemasan 97 .75 42.98 42. Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut provinsi.59 15. air hujan.72 18.50 27.40 50.35 51.53 37.64 40.77 63.03 43.90 5.43 17.65 32.97 0.22 34.45 43.09 37.74 18.15 37.1.64 5.76 47.96 8.85 12.99 21.17 16.

28 16. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44.99 Keterangan: * Air ledeng ** Sumur pompa. angka tersebut mengalami sedikit peningkatan seperti terlihat dalam gambar berikut.89 60.25 28.76 51.86 11. tertinggi di Provinsi Gorontalo (66.75 59.47 52.30 27.10 12.69 persen. Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan. Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56.98 18.38 15.74%).75%). mata air terlindung.85%). air hujan.63 24.91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45.83 persen yang akses terhadap terhadap pelayanan air minum layak. Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga.55 20. sumur gali terlindung. maka secara nasional terdapat 72.79 57.49 30.14 persen. air kemasan Dari tabel di atas menunjukkan proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16.79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0. 98 .75 17. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84.50%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29. Riskesdas 2010 Non Perpipaan Perpipaan Non-Perpipaan Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung** Daerah Perkotaan Perdesaan Pengeluaran Quintil-1 Quintil-2 Quintil-3 Quintil-4 Quintil-5 26.72 53.99 59.2. Bila dibandingkan data tahun 2009.93 25.15 27.Tabel 7.

73 56. Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) 45.27%. yang dijual melalui tangki/air isi ulang. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi. Sumber air terlindung tidak termasuk air kemasan.14 b. sumur terlindung dan mata air terlindung yang jaraknya lebih dari 10 meter dari tempat penampungan kotoran/tinja.4. Tujuan Pembangunan Milenium mutlak dicapai 2015. Akses terhadap air terlindung dan berkelanjutan (layak) Sesuai dengan Buku Saku MDGs. air hujan.1. air sumur dan mata air tidak terlindung. 1992-2010 (%). air minum terlindung adalah air leding. Proporsi Penduduk dengan Akses Air Minum Layak (Penduduk dengan Akses Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Non-Perpipaan Terlindungi). 99 .Gambar 7. pompa. 72. tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel tabel 7.3 dan tabel 7.69 16.

08 28.58 46.31 60.70 69.05 48.87 48.01 56.95 51.74 39.61 56.88 34.02 60.37 48.04 47.30 30.63 45. tidak termasuk air kemasan dan isi ulang 100 .10 36.73 Layak*) 31.17 53.47 62.05 46.10 47.12 71.39 43.95 53.3.90 63.68 67.40 61.Tabel 7.90 52.43 48.99 43.86 46.95 51.87 74.49 54. pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m dari penampungan kotoran.14 53.37 54.27 *) Air ledeng.53 37. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi.63 51.21 64.65 75.92 56.42 53.13 51.13 25.79 35.32 32. air hujan.69 39.88 28.83 46.39 39.12 65.25 55.61 60.76 50.57 51.92 71.60 38.05 48.98 39.75 44.96 52.35 24.08 43. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Layak 68.26 60.24 49.51 45.

kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel 7. 101 .4.02 52. mata air terlindung. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tidak Layak 58. akses terhadap sumber air minum yang layak di perkotaan lebih rendah (41.36 50.84 45. sumur gali terlindung.13 48. dikatakan akses terhadap penyediaan air bila minimal menggunakan air 20 liter per orang per hari.14 48.32 35. tidak termasuk air kemasan dan isi ulang Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung paling tinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (75.20 Layak*) 41. kran umum. Akses terhadap pelayanan air minum Menurut Joint Monitoring Programm WHO-Unicef (JMP WHO/Unicef). Menurut tempat tinggal.98 47. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan ada kecenderungan semakin tinggi kuintil pengeluaran rumahtangga semakin rendah proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum yang layak.64%) dibandingkan dengan di perdesaan (49.86 51.47%) dan terendah di Provinsi Nangroe DKI Jakarta (25. Yang termasuk sumber air ’improved’ adalah sambungan kran air dalam rumah.16 54.Tabel 7.5 dan tabel 7. berasal dari sumber air ’improved’. dan penampungan air hujan.80 persen.64 49. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung menurut provinsi. dan air yang dijual melalui truk.13%). sumur bor. c. air kemasan/botol. pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m dari penampungan kotoran.98%). Sumber air ’improved’ tidak termasuk air yang dijual keliling. air hujan.6. Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung adalah 53.68 64. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan menurut karakteristik rumahtangga.87 51.80 *) Air ledeng. dan sarana air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah.

19 58.45 72.39 35.41 50.87 55.79 53.51 45.93 68.23 46.13 44.49 55.20 Akses*) 41.94 52.87 29.01 41.78 42.87 42. berasal dari sumber air ‘improved’ dalam radius 1 km.33 53.25 69.13 57.48 44.49 54.77 53.07 31.31 50.55 27.70 59.40 58.19 43.49 39.81 56.14 48.83 59.59 49.78 47.53 30.51 44.21 46.17 40.18 57.Tabel 7.31 45.63 33.5.06 47.22 52.89 52.53 61.47 69.86 51.99 58.98 41.11 47.60 41.22 57. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut provinsi.69 54.81 41. 102 .02 58.75 30.13 70.47 38.52 55.51 60.30 40.61 64.80 *) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Akses 58.67 46.69 49.82 42.37 66.

Dalam Riskesdas 2010.90 44. Dikatakan layak apabila sarana tersebut milik sendiri atau bersama.25%) dan terendah di Provinsi DKI Jakarta (27.07 Akses Baik 52.37 41.51 59. Menurut kualifikasi daerah. Hasil Riskesdas 2010 proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak disajikan dalam tabel 7.8. 2.25 40. 103 . kloset jenis leher angsa dan pembuangan akhir tinjanya ke tangki septik atau SPAL. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut karakteristik rumahtangga. akses terhadap sumber air terlindung sedikit lebih tinggi di perdesaan (55.7 dan tabel 7.49 40.26 55. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga tidak menunjukkan pola yang jelas.Tabel 7. jenis kloset dan sarana pembuangan akhir tinja. Akses terhadap penyediaan air dengan memperhatikan volume pemakaian dan jarak rumah ke sumber air ini mengalami penurunan bila dibandingkan hasil Riskesdas 2007.63 58.6.10%).93 *) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari.62%) dibandingkan dengan di perkotaan (52.87%).10 55. sedangkan pada Susenas masih digabung (Tangki septik/SPAL).38 47. dari 57. pilihan jawaban pembuangan akhir tinja dipisah antara tangki septik dan SPAL.80 persen pada tahun 2010. berasal dari sumber air ‘improved’ dalam radius 1 km. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Pengeluaran Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Akses Kurang 47.70 persen pada tahun 2007 menjadi 53. Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung menurut JMP WHO/Unicef paling tinggi adalah Provinsi Jawa Tengah (70.75 59.62 52. AKSES TERHADAP SANITASI LAYAK Dalam memantau akses terhadap fasilitas sanitasi layak digunakan indikator penggunaan sarana pembuangan kotoran (jamban) yang meliputi pemilikan.74 44.

44 48.Tabel 7. kloset jenis leher angsa.40 57.58 50.42 49.88 82.57 60.47 53.38 55.38 50.00 46.63 41.87 25.10 49.90 50.68 64.43 39.82 45.37 59.09 34.62 44.62 49.47 Layak*) 52.89 68. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Layak 47.91 52.13 74.18 54.12 17.65 57.53 47.23 58.01 49.18 54.49 57.17 45.89 42.21 71.09 47.89 79.56 51.7.29 46.35 42.11 20.71 53.00 53.00 45.91 65.51 35. pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL.30 61. Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut provinsi.70 38.49 64.63 35.99 50.72 55.00 54.11 31. 104 .28 33.77 41.72 66.83 54.79 28.60 42.32 35.82 45.51 42.28 44.53 *) Penggunaan sendiri dan bersama.37 64.11 57.

35%). batu bara. tandan kelapa. arang.53 persen. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga. pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL. batang padi.Tabel 7.48 44.55%).52 55. kloset jenis leher angsa.55 61.79 53.9 dan tabel 7. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Tidak Layak Layak Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 28. 3. Indikator yang dikumpulkan dalam Riskesdas 2010 ini berkaitan dengan kesehatan. Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat disajikan dalam tabel 7. semakin tinggi penghasilan semakin tinggi pula yang akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak. batok kelapa dan lain-lain. Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga. sekam. 1 diantaranya adalah proporsi penduduk atau rumahtangga menggunakan bahan bakar padat untuk memasak. paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82. Dari tabel di atas tampak bahwa akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55. 105 .58 64.8.45 38.55 32.96 *) Penggunaan sendiri dan bersama.42 77.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25.10.04 71.42 33.58 22. Penggunaan bahan bakar memasak Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 9 (memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang) terdapat 6 indikator untuk memantau pencapaian target.45%) dibandingkan dengan di perdesaan (38. yaitu terjadinya polusi dalam ruangan (indoors air pollution) yang dapat menyebabkan penyakit saluran pernafasan. Yang dimaksud dengan bahan bakar padat adalah kayu bakar. akses terhadap fasilitas sanitasi layak di perkotaan hampir dua kali lipat (71. Menurut kualifikasi daerah.45 67.21 46.

23 52.40 40.98 30.21 60.01 72.28 24.37 23.69 52.04 60.08 54. Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut provinsi.02 69.40 71.26 54.99 41.92 32.60 59.52 40.29 48.01 27.09 51.25 47.26 69. kayu bakar dll 37.71 51.63 76.98 57.99 27.58 51.76 63.42 40.08 67.79 39.15 56.Tabel 7.23 0.72 75.60 11.77 99. gas dan minyak tanah 62.40 88.29 65.06 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 106 .96 39.58 59.48 59.77 47.41 36. Riskesdas 2010 Listrik.99 72.75 52.71 34.91 48.24 36.02 42.91 52.59 63.31 47.09 47.41 23.59 76.01 58.42 48.60 28.74 30.74 45.94 Arang.9.14 52.92 45.17 50.85 43.86 47.83 49.

tertinggi di Provinsi NTT (76.35 39.28 52.85 12.31%).27 Dari tabel di atas menunjukkan terdapat 40.67 29.9%. gas dan minyak tanah 82. Secara nasional penggunaan bahan bakar padat ini mengalami penurunan cukup besar dibanding data tahun 2007 sebesar 53. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan semakin tinggi penghasilan rumahtangga semakin sedikit yang menggunakan bahan bakar padat untuk memasak.31 64.58%) dan terendah di Provinsi DKI Jakata (0.10.Tabel 7. kayu bakar dll 17.150 87.802 75.06% rumahtangga yang masih menggunakan bahan bakar padat untuk memasak.723 47.726 Arang.648 60.69 35.33 70.33%) dari perdesaan (17. penggunaan bahan bakar padat di perkotaan hampir 4 kali lipat (64. Menurut tempat tinggal. 107 .20 24.60%). Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut tempat tinggal dan pengeluaran rumahtangga. Riskesdas 2010 Karakteristik rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran RT Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-2 Kuintil-2 Kuintil-2 Listrik.

dan terendah di Bengkulu (23.4%) dan terendah di Provinsi Yogyakarta (22. kesimpulan yang dapat diambil antara lain: Prevalensi balita kurang gizi (berat badan kurang) sebesar 18.2%). dan ibu hamil (44. Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat persalinan hanya 1.6 persen.9%) dibandingkan angka SDKI 2007 (57.9%).1%).8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan. dan 3. Sedangkan prevalensi balita pendek (stunting) sebesar 35. Angka terendah di Papua Barat (31. Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan masih rendah di provinsi Maluku Utara. dan hanya 12 persen di Puskesmas. Dan prevalensi balita kurus (wasting) adalah 13.6%). Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12-23 bulan (74.1 persen yang pernah ber KB sekarang tidak menggunakan. dan Papua Barat. dengan prevalensi tertinggi di Provinsi Jambi (20%). Pemanfaatan masih rendah di Sulawesi Tenggara (7. Maluku.9 persen dengan gizi buruk.0%) meningkat dibandingkan Riskesdas 2007 (63. Prevalensi terendah ditemukan di Gorontalo (44.1 persen di Polindes/Poskesdes.7%). KESIMPULAN Dari hasil Riskesdas 2010.5%).3%) meningkat dibandingkan pada tahun 2007 (75. Proporsi unmet need sebesar 14.3%) dan tertinggi di provinsi DI.3%).3 persen. dan terendah di Bangka Belitung (7. Maluku Utara (8%) dan Sulawesi Tengah (12. hanya 2. serta 4.5%).4 persen. tertinggi di Papua Barat (27. Akses K1 oleh ibu hamil baik (92.8%).4%).BAB IV. Masalah lain yang ditemukan adalah persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46.3 persen.5%) dan tertinggi di Bali (35. Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sebesar 84 persen. Demikian pula Period Prevalence malaria pada 108 .7%) Sedangkan prevalensi dengan pengetahuan komprehensif sebesar 18.6%).5 persen.0 persen.4%) dan terendah di Papua (47. Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS (75.4 persen.0 persen diantaranya 4.Yogyakarta (93. Proporsi tertinggi konsumsi <70% AKG dijumpai di NTB (46.4%). Keadaan ini banyak dijumpai pada anak usia sekolah (41. remaja (54.4%). Pemanfaatan fasilitas kesehatan untuk persalinan oleh perempuan usia reproduktif adalah 59.6%). Sebanyak 40.5%) dan terendah di Provinsi Sulut (10. sedangkan K4 hanya 61.9%) dan tertinggi di Bali (64. Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2. Masih ditemukan 19 persen perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB dan 27. sedangkan API Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0. Angka K1 dan K4 ini nampak menurun jika dibanding tahun 2007 ( SDKI).6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah 70% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan tahun 2004. Cakupan imunisasi campak terbaik adalah di DI Yogyakarta (96.8 persen.5%) menurun dibandingkan tahun 2007 (81. Umumnya pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52.2%). Proporsi penolong persalinan oleh tenaga kesehatan (82. Jenis alat/cara KB yang dominan adalah suntikan.2%).9%).8%).6%). Proporsi pengguna KB pada perempuan pernah kawin menurun (53.5%).6%) dan terendah di Kalimantan Selatan (8. terendah di provinsi Gorontalo (8. Prevalensi tertinggi di Provinsi NTB (30.8%). teringgi di Provinsi NTT (58.2 persen pemeriksaan masih dilakukan oleh dukun. .5 persen.

27 persen.14%). Lampung. Pengobatan efektif malaria dengan ACT pada balita hanya 21.9 persen.47%). tertinggi di Provinsi Jawa Tengah (84. 109 .35%).6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian.91%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25. Sarana perpipaan dan non perpipaan terlindung yang akses terhadap sumber air terlindung adalah 72. dan tertinggi di Provinsi Papua (1.2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66. dan Bali (0.7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010. Akses rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak meningkat (55..53%) dibandingkan tahun 2009 (42. Proporsi tertinggi ada di Provinsi DKI Jakarta (82.5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan. Prevalensi TB adalah 0.7 persen.7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2.74%).25%) Proporsi rumahtangga yang menggunakan air non perpipaan terlindung (56.83 persen. DI Yogyakarta.69%) lebih besar dibandingkan dengan perpipaan terlindung (16. Sedangkan proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83.3%). Dari analisis Riskedas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45.tahun 2010 (10..85%). Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7. Angka Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point Prevalence (0.

IND) 110 . Kuesioner rumah tangga (RKD10.LAMPIRAN 1. Inform Concent dan Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP) 2. Kuesioner individu (RKD10.RT) 3.

This document was created with Win2PDF available at http://www. .daneprairie. The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.com.