LAPORAN NASIONAL RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS) TAHUN 2010

1

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT selalu kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 telah dapat terselesaiakan. Di dalam Laporan ini dimunculkan perkembangan status kesehatan masyarakat Indonesia khususnya yang berkaitan indikator MDG’s untuk tingkat nasional dan tingkat provinsi. Hasil Riskesdas 2010 mencakup indikator MDG’s nomor 1,4,5,6 dan 7, yaitu : status gizi balita, tingkat konsumsi energi per kapita, kesehatan reproduksi yang diwakili dengan indikator penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, cakupan penggunanaan kotrasepsi oleh perempuan WUS, cakupan imunisasi campak kelompok umur 12-23 bulan, prevalensi TB paru dan malaria, pengetahuan pencegahan HIV/AID, akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan Juni-Juli 2010, di 33 provinsi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) mengerahkan sejumlah enumerator untuk setiap kabupaten/kota, seluruh peneliti Balitbangkes, dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta Perguruan Tinggi. Untuk data kesehatan masyarakat, berhasil dihimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil dihimpun dan diperiksa spesimen dahak dan darah dari sampel anggota rumah tangga. Proses manajemen data mulai dari data dikumpulkan dan dientry ke komputer dilakukan di masing-masing daerah, kemudian data cleaning dilakukan di Badan litbangkes. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan dinamika kehidupan yang indah dalam dunia ilmiah. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas. Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Kami telah berupaya maksimal, namun pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas dimasa yang akan datang.. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb. Jakarta, 17 Agustus 2010 Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, Msi, SpF(K)

2

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Kementerian Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator MDG’s berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2010. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik berkaitan indikator MDG’s 1,4,5,6 dan 7, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas 2010 dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji dengan cepat apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai asupan baru bagi Sistem Kesehatan Nasional yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Puskesmas PRM/labkesda, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan. Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 17 Agustus 2010 Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., DR.PH.

3

Tahap pertama melakukan pemilihan Blok Sensus (BS) dan tahap kedua pemilihan Rumah tangga (ruta) sebanyak 25 ruta setiap BS. fasilitas pelayanan kesehatan. Tujuan Riskesdas 2010 adalah mengumpulkan dan menganalisis data indikator MDG’s kesehatan dan faktor yang mempengaruhinya. dengan prevalensi tertinggi adalah Provinsi Jambi (20%). dengan rentang 22.6 persen. perilaku seksual.5% dari 2800 BS sampel siap untuk dianalisis. kehamilan dan pemeriksaan sesudah melahirkan. Hasil analisis dapat dilaporkan sebagai berikut: Prevalensi balita kurang gizi (balita yang mempunyai berat badan kurang) secara nasional adalah sebesar 17.RINGKASAN EKSEKUTIF Riskesdas 2010 merupakan kegiatan riset kesehatan berbasis masyarakat yang diarahkan untuk mengevaluasi pencapaian indikator Millenium Development Goals (MDGs) bidang kesehatan di tingkat nasional dan provinsi. Keterangan individu meliputi identitas individu.6%). Besar sampel sebanyak 2800 BS. kesehatan ibu. dan pemeriksaan darah malaria dilakukan dengan Rapid Diagnostic Test (RDT).4 persen (NTT). diantaranya 823 BS sebagai sampel biomedis (malaria dan TB).9 persen diantaranya 4. konsumsi makan dalam 24 jam kemarin. kesehatan anak. Pengumpulan data di beberapa daerah telah mulai dilakukan sejak bulan Juni 2010 berakhir pada tanggal 8 Agustus 2010 untuk dilakukan pengolahan dan analisis. sedangkan untuk TB paru dilakukan pemeriksaan dahak pagi dan sewaktu hanya pada kelompok umur 15 tahun ke atas. Sementara itu prevalensi balita pendek (stunting) secara nasional adalah sebesar 35. dan terendah adalah Bangka Belitung (7. Pengumpulan data dan entri data dilakukan oleh tenaga terlatih dengan kualifikasi minimal tamat D3 kesehatan. Pemilihan sampel dilakukan secara random dalam dua tahap. penyakit menular. Pada tanggal tersebut sejumlah 2704 BS sampel yang terkumpul datanya atau sekitar 96. Pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran data dilakukan oleh Penanggung Jawab Tehnis Kabupaten. dan terendah adalah Provinsi Sulut (10. kemudian melakukan pengiriman data secara elektronik kepada tim manajemen data pusat.. Pengukuran tinggi badan/panjang badan dan berat badan dilakukan pada setiap responde.6%). Populasi sampel adalah seluruh rumah tangga di Indonesia. sanitasi lingkungan dan pengeluaran ruta.5 persen (DI Yogyakarta) sampai 58. keguguran dan kehamilan yang tidak diinginkan. Prevalensi balita gizi kurang menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi NTB (30. 4 . Desain Riskesdas 2010 adalah potong lintang dan merupakan penelitian non-intervensi. Sampel BS tersebut tersebar di 33 dan 441 kabupaten/kota.3 persen. Keterangan ruta meliputi identitas ruta. cara KB. Prevalensi balita kurus (wasting) secara nasional adalah sebesar 13.5%).9 persen yang gizi buruk. Data yang dikumpulkan meliputi keterangan ruta dan anggota ruta. pengetahuan dan perilaku kesehatan.

Terpantau juga jenis penggunaan alat/cara KB yang masih dominan adalah dengan suntikan yaitu 31. Maluku. dan Papua Barat perlu mendapatkan perhatian agar proporsi perempuan usia reproduktif dapat lebih banyak mendapatkan pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan.3 persen kelahiran sudah dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.2 persen anak usia sekolah.5 persen remaja. Demikian pula halnya pada provinsi seperti Maluku Utara. atau 12. Akan tetapi masih ada 2. serta 4. Kelompok penduduk di perdesaan cenderung lebih banyak menggunakan suntikan untuk pencegahan kehamilan dibanding perkotaan.3 persen selama kehamilan memeriksakan kehamilan minimal 4 kali (K4).8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan.4 persen Balita. Secara nasional masih ada 19% perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB untuk mencegah/menunda kehamilan. dan terendah adalah provinsi Bengkulu (23.8 persen di Sulawesi Tenggara. Untuk kesehatan ibu.6%). Tenaga kesehatan terlatih di wilayah perdesaan perlu lebih ditingkatkan agar kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan tidak jauh berbeda dengan kelompok penduduk perkotaan.1 persen.5 persen. Walaupun secara nasional 59. serta 44. Berdasarkan kelompok umur dijumpai 24. Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat pelayanan terdekat ke masyarakat juga perlu ditingkatkan.2 persen ibu hamil mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal. dan 3. Sebagian besar pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52. akan tetapi di beberapa provinsi penggunaan fasilitas kesehatan untuk melahirkan masih sangat rendah.9%) dan tertinggi di Bali (64.5%). 54. secara nasional 82. dan 27. 8 persen di Maluku Utara.4 persen perempuan usia reproduktif menggunakan fasilitas kesehatan untuk persalinan. akan tetapi hanya 61.8% ibu hamil mengikuti pelayanan antenatal. dan hanya 12 persen di Puskesmas. demikian juga perhatian perlu dipusatkan pada penduduk miskin.1 persen yang pernah ber KB akan tetapi sekarang tidak menggunakan.4%) dan terendah adalah Papua (47. yaitu 84%.2 persen Dewasa.9 persen pada perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun. Sementara itu proporsi penduduk tertinggi dengan konsumsi <70% AKG adalah NTB (46.2 persen masih memeriksakan kehamilan ke dukun. Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sudah lebih baik. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak menurut provinsi yang terbaik adalah DI Yogyakarta (96. 40. 41. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak pada Riskesdas 2010 ini adalah sebesar 74. Disparitas menurut provinsi dapat diketahui dari yang terendah di Papua Barat (31. karena hanya 1.6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal (kurang dari 70% dari Angka Kecukupan Gizi/AKG) yang dianjurkan tahun 2004. Selain itu diketahui akses (K1) adalah 92.1 persen di Polindes/Poskesdes.7%).4%).Hasil Riskesdas 2010 menunjukan 40.3%). 5 .5 persen yang memanfaatkan untuk persalinan. seperti 7.1 persen di Sulawesi Tengah. Penggunaan alat/cara KB diketahui hanya 53.

Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 24 permil. Pada penduduk laki-laki meningkat 11 persen. juga pada penduduk dengan status ekonomi lebih tinggi. terdeteksi secara nasional 14. Sebanyak 20 provinsi dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional. penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34.7 persen. 6 . Karena secara nasional persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46. Jadi penderita malaria semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33.2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66. Lampung. Menurut provinsi rentangan berkisar 8. penduduk yang masih sekolah dan dengan pekerjaan sebagai pegawai atau wiraswasta.4%).0 persen. 80.3-93.4-35. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12.3 persen.Pada kelompok penduduk yang tidak menggunakan alat/cara KB. Prevalensi lebih tinggi pada penduduk belum kawin. dan 83. Rentang API Nasional adalah antara 0.9 persen. dan hanya 75. Proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83. Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional.4 persen yang diminum dengan dosis lengkap. . Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS secara nasional yaitu 18.5 persen.Menurut provinsi rentangan berkisar 44. dan Bali (0.3 persen (Bali) dan 31.7%).5 persen pada responden semua kelompok umur.6 persen yang diminum dengan dosis lengkap. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 16.6 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010. serta 89.Yogyakarta.7 persen.0 persen sebenarnya mereka membutuhkan akan tetapi tidak terpenuhi (unmet need). cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26. sedangkan pada perempuan meningkat sebanyak 12 persen dibandingkan Riskesdas 2007.1 persen.5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan.3%). Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0.0 persen.9%) dan terendah di Bali (8.1 persen. Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi DI. Variasi antar provinsi. Masalah lain yang perlu mendapat perhatian untuk mempercepat penurunan kematian ibu adalah mengupayakan penundaan perkawinan menjadi usia 20 tahun. Secara nasional prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS adalah 75.4 persen (Papua). DI Yogyakarta. sedangkan pada balita hanya 21. Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi Bali.6 persen. dijumpai cukup lebar dari yang tertinggi di Papua Barat (32.25%). di daerah perkotaan.8 persen. Khusus pada balita. Dari hasil wawancara. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua (1. pendidikan lebih tinggi.5 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam.7 persen. penggunaan Artemisinin Combination based Therapy (ACT) di Indonesia hanya mencapai 49. Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 32.

Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan.14 persen.35%).27 persen . 7 . Akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55.Proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44.75%). tertinggi di Provinsi Gorontalo (66.91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45. Lebih lanjut dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45.85%). Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56.83 persen yang akses terhadap sumber air terlindung.5%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25. paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82.79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0. maka secara nasional terdapat 72.53 persen. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84.74%).69 persen.

Goal 7 MDG BAB 4 Kesimpulan Lampiran 2 3 4 8 9 12 12 12 12 15 16 16 17 17 33 40 68 96 108 109 8 . Disain 2.DAFTAR ISI Kata Pengantar Sambutan Menteri Kesehatan Kesehatan Republik Indonesia Ringkasan Eksekutif Daftar Isi BAB 1 Pendahuluan BAB 2 Metodologi 1. Lokasi 3. Populasi dan Sampel 4. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpul Data 6. Manajemen Data BAB 3 Hasil dan Pembahasan 1. Goal 5 MDG 4. Goal 1 MDG 2. Goal 6 MDG 5. Variabel 5. Goal 4 MDG 3.

Riskesdas direncanakan dilaksanakan secara periodik. dan status gizi). penggunaan tembakau. angka disabilitas. mengalokasikan anggaran. dengan tujuan untuk melakukan evaluasi pencapaian program kesehatan yang telah dilaksanakan. bermutu dan berkeadilan serta berbasis bukti dengan mengutamakan pada upaya promotif dan preventif”. angka kesakitan.000 sampel serum. meliputi semua indikator kesehatan utama. Sedangkan misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. Untuk itu diperlukan data kesehatan dasar yang dapat dikumpulkan secara berkesinambungan. dan berkeadilan. oleh Bappenas. minum alkohol. Telah dikumpulkan pula sekitar 33. Komposit beberapa indikator Riskesdas 2007 juga telah digunakan sebagai model Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) di Indonesia untuk melihat peringkat Kabupaten/Kota. menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan. dan sediaan apus. terjangkau. kesehatan lingkungan (lingkungan fisik). angka kecelakaan. pengetahuan-sikap-perilaku kesehatan (Flu Burung. dan menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. PENDAHULUAN Visi Kementerian Kesehatan adalah “Masyarakat Sehat yang mandiri dan berkeadilan. cakupan. Riskesdas 2010 bertepatan dengan tahun akan dilaksanakannya pertemuan puncak tingkat tinggi Majelis Umum PBB untuk mengevaluasi pencapaian deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) dari 189 negara termasuk Indonesia. dan oleh beberapa kabupaten/kota dalam merencanakan. untuk evaluasi program pembangunan termasuk pengembangan rencana kebijakan pembangunan kesehatan jangka menengah (RPJMN 2010-2014). untuk test-test lanjutan di laboratorium Badan Litbangkes. bermutu. melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna. Salah satu strateginya adalah “Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata. mutu layananan. HIV/AIDS. sekaligus sebagai bahan untuk perencanaan kesehatan. aktivitas fisik. Pada tahun 2007 Badan Litbangkes telah melakukan Riskesdas pertama. memantau dan mengevaluasi program-program kesehatan berbasis bukti (evidence-based planning). perilaku konsumsi makanan) dan berbagai aspek mengenai pelayanan kesehatan (akses. perilaku higienis. termasuk swasta dan masyarakat madani. konsumsi rumahtangga. Riskesdas ini dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan RI. Pada deklarasi tersebut disepakati 8 tujuan untuk mencapai MDGs di tahun 2015 yaitu: memberantas kemiskinan dan kelaparan. merata. mencapai 9 . yaitu status kesehatan (penyebab kematian.BAB I. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) merupakan Riset Kesehatan berbasis komunitas berskala nasional sampai tingkat kabupaten/kota. melaksanakan. bekuan darah. terutama Kementerian Kesehatan. pembiayaan kesehatan). Hasil Riskesdas 2007 telah dimanfaatkan oleh penyelenggara program.

memerangi HIV/AIDS. dan komitmen kesehatan tingkat nasional dan global sebagai bahan penilaian pencapaian MDGs di tahun 2015. dan 2) Bagaimana faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan provinsi? Tujuan umum adalah memperoleh gambaran pencapaian target indikator MDG khusus kesehatan pada tahun 2010 berdasarkan Provinsi dan Nasional. malaria dan tuberkulosis. menurunkan kematian anak. juga sebagai sarana untuk mengevaluasi perkembangan beberapa status kesehatan masyarakat Indonesia di tingkat nasional dan provinsi. perubahan masalah kesehatan di tingkat nasional dan provinsi. Data tersebut dikumpulkan seperti pada Riskesdas 2007 yaitu melalui wawancara. lembaga penelitian. Riskesdas 2010 adalah Riskesdas MDGs karena menghasilkan beberapa indikator MDGs kesehatan nasional (Indonesia) yang berbasis bukti. Beberapa indikator MDGs kesehatan yang dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 adalah status gizi balita dan konsumsi (memberantas kelaparan). mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.universal primary education. Riskesdas serupa 2007 direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2013. memastikan lingkungan yang kesinambungan. pengukuran. prevalensi malaria dan tuberkulosis (menurunkan angka kesakitan). dan pemeriksaan laboratorium untuk kepastian penyakit malaria dan tuberkulosis yang dilakukan di lapangan (darah malaria) dan Laboratorium Puskesmas yang direkomendasi (dahak tuberkulosis). Tujuan khsuusnya adalah untuk: a) Menilai status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi. akses sumber air minum yang aman dan fasilitas sanitasi dasar. pemerintah daerah. mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Pengorganisasian Riskesdas 2010 sama dengan Riskesdas 2007 dilaksanakan sepenuhnya oleh seluruh jajaran Balitbangkes dengan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk metodologi dan penentuan sampel nasional dan provinsi. dan b) Memperoleh gambaran faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan provinsi. status kesehatan ibu dan anak (menurunkan kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu). Pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan segera setelah selesainya Sensus Penduduk 2010. meningkatkan kesehatan ibu. organisasi profesi. dan masyarakat. Untuk menjaga kesinambungan. Beberapa indikator MDGs kesehatan lainnya yaitu prevalensi HIV/AIDS dan angka kematian anak tidak dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 karena memerlukan penelitian khusus atau didapat dari sumber data lain. Dalam rangka mendukung pertemuan tersebut dan mendapatkan data kesehatan terkini yang faktual. serta melibatkan penyelenggara program terkait. Riskesdas 2010 difokuskan pada indikator-indikator pencapaian MDGs dan data pendukung lainnya. dan perkembangan upaya pembangunan kesehatan di tingkat nasional dan provinsi dalam tiga tahun terakhir. 10 . perguruan tinggi. Pertanyaan penelitian untuk Riskesdas 2010 yaitu: 1) Bagaimanakah status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi?. Selain itu.

Sulawesi Utara. Lampung.jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi Riau. b. Sumatera Selatan. Jawa Barat.Riau. Banten. dan Papua Barat. dan Maluku Utara. Kalimantan Barat. 11 . Jawa Tengah. Jambi. Riskesdas 2010 memberikan manfaat untuk memantau indikator MDGsn khusus kesehatan sehingga dapat digunakan untuk mempertajam strategi kebijakan pembangunan kesehatan dalam mempercepat pencapaian MDG 2015. Kalimantan Tengah. Riskesdas 2010 telah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Sumatera Utara. Keseluruhan proses Riskesdas 2010 dimulai semenjak bulan februari 2010 sampai data selesai dikumpulan pada minggu pertama Agustus 2010. Bangka Belitung. Kep. Nusa Tenggara Barat. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). d. dan Sulawesi Selatan c. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi DI Yogyakarta. Maluku. Sulawesi Barat. Pengembangan kuesioner dan pedoman dilakukan oleh tim teknis Balitbangkes dan dilakukan pelatihan berjenjang mulai dari pelatih tingkat pusat sampai ke enumerator sebagai pengumpul data di lapangan. Sulawesi Tenggara. dan Papua. Sulawesi Tengah. Jawa Timur. Sumatera Barat. DKI Jakarta. Kalimantan Selatan. Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung.Proses pengumpulan data dilakukan dibawah koordinasi Balitbangkes yang terbagi menjadi empat koordinator wilayah sebagai berikut: a. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (lihat lampiran). Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. Bali. Kalimantan Timur.

tidak bisa diikutkan untuk proses analisis. yang mewakili penduduk di tingkat nasional dan provinsi dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan untuk kepentingan pencapaian MDGs. rasio perkotaan/perdesaan. Proses pemilihan rumah tangga dilakukan BPS dengan two stage sampling yang sama dengan Riskesdas 2007/Susenas 2007. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2010 dipilih berdasarkan listing Sensus Penduduk (SP) 2010. Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Riskesdas memilih BS yang telah dikumpulkan SP 2010. Akan tetapi karena analisis harus segera dilakukan maka 94 BS yang belum sempat terkirim ke manajemen data pusat per tanggal 12 Agustus 2010. METODOLOGI 1. maka dari 2800 BS yang seharusnya menjadi sampel Riskesdas hanya dapat diolah sejumlah 2704 BS atau 96. Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia. 12 . dan prevalensi malaria/TB-paru hasil Riskesdas 2007. Lokasi Sampel Riskesdas 2010 mewakili nasional dan 33 provinsi yang tersebar di 441 Kabupaten/Kota dari total 497 Kabupaten/Kota di Indonesia. Pemilihan BS dilakukan sepenuhnya oleh BPS dengan memperhatikan status ekonomi.5 persen (lihat tabel 1) 3. Riskesdas berhasil mengumpulkan seluruh BS kecuali di kabupaten Nduga. c) Sehubungan dengan waktu untuk analisis indikator MDG sudah harus dilaksanakan. Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2010 adalah seluruh rumah tangga biasa yang mewakili 33 provinsi yang tersebar di 441 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. beberapa catatan berkenan dengan lokasi adalah sebagai berikut: a) Dalam proses pengumpulan data. Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif.BAB II. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud. hal ini disebabkan karena BS semula terpilih jumlah rumah tangga yang akan menjadi sampel tidak terpenuhi dengan kriteria yang sudah ditetapkan b) Ada 1 kabupaten di Provinsi Papua (Kabupaten Nduga) yang tidak dapat dikunjungi dalam periode waktu pengumpulan data Riskesdas. Papua. 2. terjadi 43 pergantian BS dari 2800 BS yang telah ditetapkan semula. Sampai dengan laporan ini dibuat. Dari setiap provinsi diambil sejumlah blok sensus yang representative terhadap jumlah rumah tangga/anggota rumah tangga di provinsi tersebut.

5% dari total 13 . yang menjadi sampel rumah tangga dari jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut. dengan jumlah individu 241.906) yang diolah adalah mewakili 96. Jumlah rumah tangga yang diharapkan terkumpul adalah 70. Tabel 1 Jumlah Sampel Blok Sensus (BS) menurut Provinsi. Riskesdas 2010 Jml BSSampel 53 128 54 66 40 83 29 86 23 28 111 494 343 54 410 117 49 64 50 53 35 50 46 38 34 85 33 23 22 23 19 22 35 2800 Jml BS-yang diolah 51 117 52 64 33 82 29 84 23 28 111 487 343 54 410 115 49 64 31 40 35 50 46 32 26 85 33 23 22 23 19 21 22 2704 Jml BS yang belum diolah 2 11 2 2 7 1 0 2 0 0 0 7 0 0 0 2 0 0 19 13 0 0 0 6 8 0 0 0 0 0 0 1 13 96 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Secara keseluruhan.946.906. jumlah sampel rumah tangga dari 2704 BS adalah 66. Jumlah sampel rumah tangga (66.Penarikan Sampel Rumah Tangga/Anggota Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 25 (dua puluh lima) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling).000 dari 2800 BS.

150 771 2.106 550 571 2.875 1.738 12.775 12.662 9.076 875 1.250 2.599 5.493 1.362 2.100 575 2.600 PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Jml BS 51 117 52 64 33 82 29 84 23 28 111 487 343 54 410 115 49 64 31 40 35 50 46 32 26 85 33 23 22 23 19 21 22 2.325 1. Riskesdas 2010 Jumlah Rumah Jumlah tangga*) ART yang Sampel Yang seharusnya terkumpul terkumpul 1.225 1.590 6. artinya ada 694 rumah tangga yang tidak ditemukan pada saat pengumpulan data.175 8.320 2.296 2.575 1.652 800 650 644 2.600 774 3.800 10. Tabel 2.180 35.268 4.227 1.300 1.506 775 968 3.125 825 3.350 10.218 4.940 2.597 1.780 550 66.694 725 2.350 4.031 2.385 575 473 1.075 825 2.174 575 550 2.899 1.sampel yang diharapkan.009 525 514 1.123 1. Distribusi sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga menurut Provinsi.925 1. Seharusnya dari 2704 BS akan terkumpul 67.600 816 3.118 8.201 1.320 700 2. Distribusi jumlah rumah tangga dan anggota rumah tangga dapat dilihat pada tabel 2.600.517 8.140 4.310 1.496 2.704 *) Jumlah rumah tangga seharusnya adalah 25 per BS 14 .906 241.780 1.235 4.994 475 499 2.096 41.400 825 575 2.050 725 2.099 7.250 1.039 7.050 575 678 2.946 67.851 11.300 5.275 2.703 2.367 10.000 874 3.529 29. Tidak semua 2704 BS dapat mengumpulkan masing-masing 25 rumah tangga sampel.

Kuesioner individu (RKD10. Da. 15 . Dalam Riskesdas 2010 terdapat kurang lebih 315 variabel yang tersebar dalam 2 (dua) jenis kuesioner (lihat file terlampir). Pada BS yang terpilih untuk biomedis. Blok VIII-E tentang kesehatan anak .IND). Blok VIII-D tentang kesehatan reproduksi. Blok X tentang pengukuran tinggi/panjang badan dan berat badan (5 variabel) Blok XI tentang Pemeriksaan laboratorium (7 variabel). Blok V tentang dasilitas pelayanan kesehatan (18 variabel). yang terdiri dari 2 sub-blok: 1. Kuesioner rumah tangga (RKD10. ASI dan MP-ASI (10 variabel) vi. Perilaku seksual (6 variabel) v. Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan indikator MDG bidang kesehatan dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. Blok VIII-A tentang identifikasi responden (4 variabel). Untuk pemeriksaan malaria. persalinan. De Keguguran dan Kehamilan yang tidak diinginkan (10 variabel) 6. Blok IX. rumah tangganya dan anggota rumah tangganya selain dikumpulkan variabel kesehatan masyarakat juga dialkukan pemeriksaan biomedis. Blok II tentang keterangan rumah tangga (4 variabel). dan anggota rumah tangga usia 15 tahun keatas yang dilakukan pengambilan sputum/dahak pagi dan sewaktu untuk pemeriksaan TB paru.Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis merupakan sub-sampel dari 2800 BS yang mewakili nasional atau sejumlah 823 BS.RT) yang terdiri dari: Blok I tentang pengenalan tempat (11 variabel). Blok VIII-B tentang penyakit menular: Malaria (10 variabel). Blok VI tentang sanitasi lingkungan (20 variabel). Db Fertilitas (11 variabel) 3. Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel). Blok VIII-C tentang pengetahuan dan perilaku (22 variabel) iv. Blok VII tentang Pengeluaran Rumah Tangga (39 variabel) b. TB paru (9 variabel) iii. seluruh anggota rumah tangga dari 823 BS dilakukan pengambilan darah. yang terdiri dari 6 sub-blok: 1. Blok IV tentang anggota rumah tangga (13 variabel). Masa reproduksi perempuan (6 variabel) 2. Dd Kehamilan. yang terdiri dari: Blok VIII ini dikelompokkan menjadi i. dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a. 2. Kesehatan bayi dan anak balita (22 variabel). Dc Alat/cara KB (8 variabel) 4. pemeriksaan sesudah melahirkan (41 variabel) 5. ii. 4.tentang konsumsi makanan individu (jumlah variabel tergantung makanan yang dikonsumsi.

dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya. Mt1. pencegahan malaria. M2. pengukuran berat badan. c. 16 . dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT).IND Secara umum. responden untuk Kuesioner RKD10. MT2). tinggi badan / panjang badan.RT terdapat keterangan anggota rumah tangga termasuk variabel yang dapat menunjukkan apakah anggota rumah tangga diwawancarai atau tidak. dan konsumsi jamu/obat tradisional.RT Responden untuk Kuesioner RKD10. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2010 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data. Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular malaria dan TB paru. dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan TB Paru dengan mengambil sputum pagi dan sewaktu. Manajemen Data Balitbangkes membentuk tim manajemen data pusat yang mengkoordinasikan seluruh proses yaitu: Bersama dengan BPS mengembangkan program data entry yang digunakan oleh enumerator setelah data dikumpulkan di lapangan Setelah data entry dilakukan di lapangan. b. pencegahan TB paru. diwakili atau tidak diwakili. Anggota rumah tangga berumur = 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan pengetahuan dan perilaku tentanh HIV/AIDS. Untuk biomedis. Pengumpulan data rumah tangga dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD10. konsumsi individu. 6. Anggota rumah tangga perempuan berumur 10-59 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan Kesehatan Reproduksi Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan kesehatan anak.IND adalah setiap anggota rumah tangga. T2. data langsung dikirim via email ke tim manajemen Pusat untuk dilakukan pemeriksaan kelengkapan dan data cleaning Bersama dengan BPS melakukan proses pembobotan untuk siap di analisis.5. pengetahuan tembakau. Anggota rumah tangga berumur 10-24 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai perilaku seksual. dengan rincian sebagai berikut: a. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun. T1. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD10. hasil pemeriksaan darah malaria dan sputum digunakan formulir tersendiri (form M1.RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi Dalam Kuesioner RKD10.

dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Demikian pula halnya dengan prevalensi balita pendek yang menurun sebanyak 1. Di daerah Desa tidak terjadi penurunan prevalensi. Beberapa indikator terkait goal dimaksud juga disajikan agar informasi yang disajikan menjadi lebih lengkap. Proporsi penduduk dengan asupan kalori dibawah tingkat konsumsi minimum STATUS GIZI PADA BALITA Seperti halnya pada Riskesdas 2007. 4. 1.1c. Dalam Millenium Development Goal (MDGs). 1. Di daerah Kota secara umum terjadi penurunan prevalensi Balita Gizi Burkur.6 persen pada tahun 2010.2 persen yaitu dari 36.1. Status Gizi Balita Di Daerah Kota dan Desa Terdapat perbedaan perkembangan Prevalensi Balita Gizi Burkur. dan 7.2. Indikator: 1. Indikator status gizi yang digunakan adalah: Berat Badan menurut Umur (BB/U). Balita Pendek dan Balita Kurus dari tahun 2007 ke 2010 antara daerah Kota dan Desa. Prevalensi balita kurang gizi (berat badan rendah. Prevalensi balita menurut tiga indikator status gizi (BB/U.1). HASIL DAN PEMBAHASAN Sesuai dengan tujuan dari Riskesdas 2010 yaitu memberikan informasi terkini keadaan kesehaatan masyarakat berkaitan dengan MDG.6 persen pada tahun 2007 menjadi 13. Untuk prevalensi masing-masing indikator menurut BB/U. 1.3 persen yaitu dari 13.1b. Untuk menilai status gizi balita digunakan Standar Antropometri yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2005 atau yang disebut dengan “Standar WHO 2005”. dan prevalensi balita kurus menurun sebanyak 0. indikator status gizi yang dipakai adalah BB/U dan angka prevalensi status “underweight” (gizi kurang dan buruk atau disingkat “Gizi Burkur”) dijadikan dasar untuk menilai pencapaian MDGs.5 persen yaitu dari 18. 1. pendek. TB/U dan BB/TB dapat dilihat pada tabel 1. Goal 1 – MDG Target: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015. status gizi balita dinilai berdasarkan parameter antropometri yang terdiri dari berat badan dan panjang/tinggi badan.8 persen pada tahun 2007 menjadi 35. Balita Pendek dan Balita Kurus. maka hasil dan pembahasan berikut khusus menyajikan indikator untuk menjawab goal 1. Status Gizi Balita Tingkat Nasional Secara nasional prevalensi balita “gizi burkur” menurun sebanyak 0. 17 . TB/U dan BB/TB) disajikan pada Tabel 1.4 persen pada tahun 2007 menjadi 17.BAB III. 1. dan kurus) 2.3 persen pada tahun 2010 (Tabel 1. Tinggi Badan menurut Umur (TB/U).9 persen pada tahun 2010.6. 5.1a.

5 26.0 14.3 41.5 16.6 35. Sulawesi Tengah 73. Lampung 19. Sulawesi Tenggara 75.9 18.0 13. B a l i 52.4 13.5 29. Papua Barat 94.7 16.8 33.8 16. Sulawesi Utara 72.2 14.2 16.0 13.8 13. Nusa Tenggara Timur 61.0 14.1 10.3 16.8 35.5 16. Jawa Tengah 34.3 13.6 16.6 34.6 26.5 29.3 35.8 17.6 17.7 35.7 11.2 21.3 12.4 persen tahun 2010 (Gambar 1.3 15. Gorontalo 76.0 8.9 42.4 27.9 9.8 39.8 23.4 25.2 40.1 16.3).0 36. Nanggroe Aceh Darussalam 12.5 13.9 33.1.1 13.7 persen tahun 2007 menjadi 31. Sulawesi Barat 81.6 43.2 15.3 18.5 22.1 27.2 17.0 38.3 13. Bangka Belitung 21.0 31.5 20. DI Yogyakarta 35.1 14.8 22.3 11.3 32. Maluku 82.0 15.0 15.9 14.5 25.9 persen tahun 2007 menjadi 15.6 17.4 39.1 persen tahun 2007 menjadi 12.2 persen tahun 2010 (Gambar 1.7 27.5 11.7 39.8 14.6 19.6 33.6 33.2 20.7 11. DKI Jakarta 32.9 10.8 12. Bengkulu 18.3 15.0 17.5 24. Kalimantan Selatan 64. Jawa Barat 33.4 49.2 19.0 15. Sumatera Barat 14.4 29.7 21.2 58.2 14. Maluku Utara 91.1 10.3 48.8 40.8 9. Kalimantan Barat 62. Nusa Tenggara Barat 53. dan prevalensi balita kurus turun dari 13.6 12.8 25.7 15.5 45.0 30.7 14.5 39.9 26.2 40.1 21.6 BB/TB KURUS 2007 18.5 35.2 28.8 20.9 17. Banten 51.2 14.1 36.3 29.6 7.2 17. P a p u a INDONESIA GIZI BURKUR 2007 26.5 27.4 14.0 16.7 13.9 22.1).2 15. Jambi 16. Jawa Timur 36.4 18.0 22.1 18.2 38.5 36.6 19.1 13.4 17.0 11.Di daerah Kota prevalensi balita Gizi Burkur menurun dari 15.3 26.2).4 44.3 18 .7 35.2 31.0 43.7 36.9 7. Sumatera Selatan 17.3 22.3 29.9 37.1 19.3 17.9 15. TABEL 1.2 17.4 37. STATUS GIZI BALITA PADA TAHUN 2007 DAN 2010 BB/U PROVINSI 11.2 23.8 39.5 18. Kepulauan Riau 31.9 17.8 13.6 36.7 36.9 16.8 40.8 11.7 10.2 14.4 2010 23.6 22.8 11.0 26.8 36.7 46. Kalimantan Tengah 63.1 40.2 9.5 persen tahun 2010 (Gambar 1.6 22.7 41.4 13.0 15.2 30.4 12.4 12. R i a u 15.9 TB/U PENDEK 2007 44.5 29.2 39.4 24.5 16. Kalimantan Timur 71.3 16.9 11.9 15. Sulawesi Selatan 74.1 10.6 2010 14.8 13.7 14.8 26.6 22.0 11.2 26.5 26.9 9.6 15.6 37. prevalensi balita pendek turun dari 32.6 26.5 20.8 32.2 14.9 16.8 17.3 42.8 2010 38.4 31.9 44.5 33.2 17.4 29.1 27. Sumatera Utara 13.

Lampung 19.9 Status Gizi BB/U Gizi kurang 16.1 10.6 18.4 5.0 22.9 17.4 14.5 14. Sulawesi Tengah 73.6 22. B a l i 52.3 1.3 13.0 11.1 18. Sumatera Selatan 17.8 2.5 29.2 17.7 9.7 11.8 8.7 6.0 10.0 15.9 15. Sulawesi Utara 72.8 17.4 29.5 25. R i a u 15.6 3.2 4.1a.5 11.1 27. Sulawesi Selatan 74.8 12.9 19 . DI Yogyakarta 35.4 3.3 15. Sumatera Utara 13. Jawa Tengah 34. Maluku 82. Kepulauan Riau 31.6 26.4 11.4 6.6 16.6 9.0 13. Nanggroe Aceh Darussalam 12.2 17. DKI Jakarta 32.4 4.5 20.4 11. Gorontalo 76. Prevalensi Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk (BB/U) Menurut Provinsi Tahun 2010 Provinsi Gizi buruk 11.6 8. Sumatera Barat 14.8 7.1 16. Papua Barat 94. P a p u a INDONESIA 7.8 5.9 12. Bangka Belitung 21.5 11. Jambi 16.9 17.0 9.4 5.1 3.0 4. Jawa Barat 33.5 26.4 14. Kalimantan Selatan 64.3 13.8 1.9 6.8 26.6 26.3 4. Banten 51.5 16.5 3. Maluku Utara 91.3 3.2 7.4 19.8 4. Sulawesi Barat 81.6 19.3 6.1 7.3 2. Bengkulu 18.5 4.6 13.0 30.7 22.9 12.3 13.7 9.4 9. Kalimantan Timur 71.5 5.7 21. Kalimantan Barat 62.7 9.9 17.2 19.Tabel 1.9 14.4 10.1 6. Nusa Tenggara Barat 53. Nusa Tenggara Timur 61. Kalimantan Tengah 63. Jawa Timur 36.2 19.2 23.3 12.0 Gizi Buruk+ Gizi Kurang 23.7 10.9 20.3 16.7 9.4 17.8 18.0 11.8 4.3 14. Sulawesi Tenggara 75.

0 27.5 27.4 39.2 28.3 29. Kalimantan Selatan 64.7 39. DI Yogyakarta 35.6 15.9 42. Nanggroe Aceh Darussalam 12.3 20.TABEL 1.6 16.6 33.9 14.5 14.6 37.6 19.0 12.5 11.0 20.9 16.4 14.8 18.1 23.6 21.2 38.3 14.9 20.4 14. Sumatera Selatan 17. Nusa Tenggara Barat 53.3 15. Sulawesi Tengah 73.3 41. Kalimantan Barat 62.4 12.5 Pendek 14.6 16.7 16.8 17.8 36.6 15. Papua Barat 94. Sulawesi Tenggara 75.9 37.5 12.8 32.4 12.2 20. Gorontalo 76.5 19. Bengkulu 18.3 17.9 10.8 20. Sulawesi Selatan 74.7 15. Kalimantan Timur 71.6 36.1b.0 26.4 49.3 48.8 40.3 19.0 18. Lampung 19.3 20. Jambi 16. Sulawesi Barat 81. R i a u 15.7 20. Prevalensi Balita Pendek dan Sangat (TB/U) Menurut Provinsi Tahun 2010 Status Gizi TB/U Provinsi Sangat pendek 24. Bangka Belitung 21.1 Pendek+ Sangat pendek 38. Kalimantan Tengah 63.9 33.5 29.8 30.6 35.9 18.6 12.1 20. Maluku Utara 91.3 32.5 14. Jawa Tengah 34. Maluku 82.2 58. Nusa Tenggara Timur 61.1 17.4 23.6 16.4 28. Kepulauan Riau 31.0 15.3 29.9 17.6 11. B a l i 52. Sumatera Barat 14.9 26. Sulawesi Utara 72.4 14. Jawa Timur 36.0 15.0 21.1 17.7 18. Banten 51. Jawa Barat 33. P a p u a INDONESIA 20 .2 40.0 17.2 23.1 18.3 16.8 21.2 30.0 21.9 22.6 33. Sumatera Utara 13.3 35.5 14.4 31.3 13.1 27.5 29.6 13. DKI Jakarta 32.5 35.3 18.0 15.6 15.0 15.

6 15. Sulawesi Tengah 73.4 2.0 14. Nanggroe Aceh Darussalam 12.1 14.2 17. Sulawesi Selatan 74.4 4.TABEL 1.3 5.0 Kurus 7.8 6.0 8.5 6.8 11.3 11.6 4.1 8. Kalimantan Timur 71.4 13.8 13.9 7.0 4.6 7.3 5.2 8.4 5. Jawa Timur 36.8 13. Kalimantan Tengah 63.3 9.7 7.9 6.7 6.2 6.2 9.0 6.7 2.8 2. Jawa Barat 33.0 14.6 7.6 6.6 6.0 9. Bangka Belitung 21. P a p u a INDONESIA 21 .3 Kurus+ Sangat kurus 14.5 5. Lampung 19.9 8.0 15.4 1.0 8.5 5. Prevalensi Balita Kurus dan Sangat kurus (BB/TB) Menurut Provinsi Tahun 2010 Status Gizi BB/TB Provinsi Sangat kurus 6.2 14.3 6.8 11.9 6.4 6.1 6. Sulawesi Tenggara 75. Banten 51.8 7.4 7.2 16.2 20. Kalimantan Barat 62.6 12.2 14.6 8.2 7.4 9.1 6.7 10.3 11.2 11.9 9.3 8.6 6.6 7. Sumatera Selatan 17.9 7. Maluku 82.9 8.2 5.9 11.7 5. Sumatera Barat 14.3 6.1 6. B a l i 52.4 4. Papua Barat 94.3 7.9 16. Jawa Tengah 34. Kalimantan Selatan 64.8 6.0 8.2 17.0 6.6 17.8 6.1c. Sulawesi Barat 81.2 14. DI Yogyakarta 35.0 8.6 7. Kepulauan Riau 31.0 13. Maluku Utara 91.2 4. R i a u 15. Gorontalo 76. Bengkulu 18.2 5.8 12. Nusa Tenggara Barat 53.2 9.7 15.9 11. Jambi 16.4 7. Nusa Tenggara Timur 61.4 4. Sumatera Utara 13.1 13.2 14.1 9.8 7.7 13. Sulawesi Utara 72. DKI Jakarta 32.7 7.

22 .

23 . balita pendek dan balita kurus terjadi pada kuintil 3. sedangkan prevalensi untuk ketiga jenis masalah gizi balita pada kuintil 1 dan kuintil 2 terlihat meningkat atau relative tetap. Status Gizi Balita Menurut Kuintil Pendapatan Keluarga Kuintil pendapatan keluarga terdiri dari kuintil 1 sampai kuintil 5. 1.1. Dengan demikian keluarga yang masuk 2 kelompok pendapatan terendah atau keluarga yang tergolong miskin masih belum menunjukkan adanya peningkatan status gizi pada balitanya. Kuintil 1 adalah kelompok pendapatan terendah dan kuintil 5 adalah kelompok pendapatan tertinggi.5 dan 1.3.6 secara umum dapat dilihat bahwa penurunan prevalensi balita gizi burkur. Dari Gambar 1.4. kuintil 4 dan kuintil 5.

8 dan 1. 24 . pendek dan kurus secara umum lebih rendah pada balita perempuan dibanding dengan balita laki-laki. Demikian pula penurunan prevalensi balita yang bermasalah gizi secara umum lebih besar terjadi pada balita perempuan disbanding dengan balita laki-laki. Status Gizi Balita Menurut Jenis Kelamin Status gizi balita perempuan secara umum lebih baik dari balita laki-laki baik pada tahun 2007 maupun tahun 2010. Prevalensi balita gizi burkur. terutama pada prevalensi balita gizi burkur dan balita pendek (Gambar 1.4. 1.9).7.1.

7 persen.9 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1.9 persen. Penurunan prevalensi kurus terlihat lebih tinggi pada balita laki-laki yaitu sebesar 0. pada balita perempuan turun dari 35. Dalam hal prevalensi Balita Pendek pada tahun 2010 ada 25 provinsi yang menurun prevalensinya dan 8 provinsi yang meningkat atau relative tetap prevalensinya. 1.5 persen.0 persen dan Provinsi NTB memiliki prevalensi tertinggi yaitu 30. Provinsi DI Yogyakarta memiliki prevalensi pendek terendah yaitu 22.9 persen.0 persen (Gambar 1.4 persen. Pencapaian indicator MDG pada tahun 2010 berdasarkan prevalensi gizi burkur adalah 17. sedangkan pada balita laki-laki penurunan prevalensi terlihat kecil yaitu dari 37.3 persen tahun 2010 atau turun sebesar 0. 1.5 persen (Gambar 1. Demikian pula halnya dengan prevalensi pendek. Pada tahun 1989 prevalensi gizi burkur sebesar 31 persen yang diharapkan menjadi separuhnya yaitu 15. Provinsi Sulawesi Utara memiliki prevalensi balita gizi burkur paling rendah yaitu 10. Secara umum dapat dilihat penurunan prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 ke tahun 2010.5 persen pada tahun 2015.4 persen. Dengan demikian dalamk kurun waktu 5 tahun mendatang Indonesia harus menurunkan prevalensi balita gizi burkur sebesar 2. sedangkan pada balita laki-laki tidak terjadi penurunan atau tetap 19.10). sedangkan pada balita perempuan sebesar 0.7 persen tahun 2007 menjadi 16. Provinsi Bangka Belitung memiliki prevalensi terendah yaitu 7.5 persen dan Provinsi NTT memiliki prevalensi tertinggi yaitu 58.7 persen tahun 2007 menjadi 37.Prevalensi balita gizi burkur pada balita perempuan menurun dari 17. (Gambar 1. 25 . Trend Prevalensi Balita Gizi Burkur dari Tahun 1989 – 2010 Pencapaian MDG berdasarkan indicator status gizi balita disajikan pada Gambar 1.2 persen.5.13 trend prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 – 2010.1 persen.11) Demikian pula dengan prevalensi Balita Kurus.8 persen tahun 2007 menjadi 33.4 persen yang berarti rata-rata dalam setahun harus turun sebesar 0.6. Status Gizi Balita Tingkat Provinsi Ditinjau dari prevalensi Balita Gizi Burkur pada tahun 2010 ada 20 provinsi yang menurun prevalensi dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap. terdapat 20 provinsi yang menurun prevalensinya dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap.6 persen dan Provinsi Jambi memiliki prevalensi tertinggi yaitu 20.7 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1 persen.12).

26 .

27 ..

28 .

yang dijabarkan dalam indikator “Proporsi penduduk yang berada di bawah konsumsi minimum”. jenis kelamin dan status kehamilan (bagi ibu hamil). sedangkan pada Riskesdas 2007. Konsumsi energi per kapita penduduk pada data Riskesdas 2007 dihitung berdasarkan konsumsi energi rumah tangga dibagi jumlah anggota rumah tangga yang sudah distandarisasi menurut umur dan jenis kelamin. Acuan 29 . Proporsi penduduk dengan konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal dihitung berdasarkan konsumsi energi penduduk dibandingkan kebutuhannya sesuai umur. Kebutuhan konsumsi energi setiap individu berbeda menurut umur dan jenis kelamin serta status hamil atau menyusui (bagi individu wanita). Oleh sebab itu data konsumsi energi Riskesdas 2010 lebih akurat. sebab angka yang diperoleh merupakan angka konsumsi energi individu (anggota rumah tangga). dimana setiap anggota rumah tangga diwawancara konsumsi makan sehari (24 jam yang lalu). data konsumsi energi adalah data konsumsi rumah tangga. serta dikoreksi dengan jumlah tamu yang ikut makan dirumah tangga tersebut (menurut umur dan jenis kelamin).KONSUMSI ENERGI DIBAWAH KEBUTUHAN MINIMAL Tujuan MDG’s nomor satu adalah “Menanggulangi Kemiskinan dan `Kelaparan” dan didalamnya terdapat target “menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya”. dimana ibu atau orang yang menyediakan makan untuk semua anggota rumah tangga yang diwawancara dengan memperhitungkan jumlah orang menurut umur dan jenis kelamin yang makan dirumah dan yang makan diluar rumah. maka pada Risksdas 2010 telah dikumpulkan data konsumsi energi individu. Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi lebih rendah dari 70 % dari 2100 kkal. Sesuai dengan indikator diatas.

Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) .2 24.6 % penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (70 %).2 44.2 44.5%). Hasil Riskesdas 2010. semakin tinggi kuintil pengeluaran rumah tangga semakin sedikit penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% AKG).6 Balita Dewasa Anak Sek Hamil Remaja Total Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% dari AKG) lebih banyak pada penduduk di desa dari pada penduduk di kota.4 41. dan sebaliknya pada 30 .2 40.4 40.4 %). Pada penduduk dengan kuintil pengeluaran rumah tangga terendah (kuintil 1) sebanyak 46.Riskesdas 2010 Kelompok Umur Balita Anak Sekolah Remaja Dewasa Ibu Hamil Total % 24.6 %.2 40.kecukupan yang digunakan adalah “Tabel Angka Kecukupan Gizi 2004 Bagi Orang Indonesia” dalam Widya Karya Pangan dan Gizi Tahun 2004.6 Gambar 1. Proporsi defisit energi < 70 % terbanyak pada usia remaja (54. dan terendah pada anak balita (24. Menurut kuintil pengeluaran rumah tangga.5 41. konsumsi penduduk di Indonesia yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (lebih rendah dari 70 % dari angka kecukupan gizi bagi orang Indonesia (tahun 2004) adalah sebanyak 40.5 40.2.2 54. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) – Riskesdas 2010 % 60 50 40 30 20 10 0 54.14. Tabel 1.

Tabel 1.3 40.5 40 39.3 34.6 43.6 Gambar 1.9 41.3 40.5 37.4.3 persen penduduk yang mengonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (< 70 % AKG). Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) Menurut Desa dan Kota – Riskesdas 2010 Kelompok Umur Kota Desa Total % 39.5 39 Kota Desa Total 39.6 31 .15. sebanyak 34.Riskesdas 2010 Tingkat pengeluaran/kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Total % 46.2 40.kuintil pengeluaran rumah tangga tertinggi (kuintil 5).5 41 40.6 Tabel 1. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) di Kota dan Di Desa % 41.3 40. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) Menurut Kuintil Pengeluaran Rumah Tangga .3.9 41.

32 .6%) dan provinsi dengan proprosi konsumsi energi dibawah kebutuhan terendah adalah di provinsi Bengkulu 23.6 43.Gambar 1.2 40.5 37. proporsi konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal 43 persen lebih banyak dibanding pada tahun 2010 yaitu sebanyak 40.3 Pada tahun 2007. Menurut provinsi. pada tahun 2007. provinsi yang penduduknya mengkonsumsi energi lebih rendah dari kebutuhannya dengan jumlah tertinggi adalah provinsi Nusa Tenggara Barat (46. dan terendah di provinsi Jawa Timur (26.6 persen.8 persen. Pada tahun 2010.3 40. provinsi dengan penduduk mengkonsumsi energi dibawah kebutuhannya tertinggi di provinsi Bengkulu (67%).16. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) Menurut Kuintil Pengeluaran RT-Riskesdas 2010 % 50 40 30 20 10 0 Kuintil 1 Kuintil 4 Kuintil 2 Kuintil 5 Kuintil 3 Total 46.6 34.1%).

1 s/d Tabel 4. tiga kali polio. Dalam Riskesdas. empat kali imunisasi polio. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda. anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG. dan satu kali imunisasi campak.1 persen dibanding Riskesdas 2007 (81. dan satu kali imunisasi campak. Oleh karena Riskesdas 2010 ditujukan pada indikator yang ada dalam MDGs.2) menurut provinsi dan karakteristik responden. Cakupan imunisasi terendah di provinsi Papua (47. menurun 6. dalam laporan ini hanya analisis untuk imunisasi campak. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) atau Buku KIA.2. tiga kali DPT-HB. Terdapat 19 provinsi cakupan imunisasi campak di bawah rata-rata nasional. disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96. Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi. Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada dua tabel (Tabel 4. tiga kali imunisasi DPT-HB.4%). informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu atau anggota rumahtangga lain yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan. imunisasi polio pada bayi baru lahir. cakupan imunisasi campak dalam Riskesdas sebesar 74. Goal 4 – MDG Menurunkan Kematian Anak Target: Menurunkan Angka kematian balita hingga dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015 1.5 persen. empat bulan dengan interval minimal empat minggu. 33 . dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan. Program imunisasi untuk penyakitpenyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG. Imunisasi campak pada anak 12-23 bulan Kementerian Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. Dari Tabel 4. Imunisasi campak merupakan salah satu dari indikator dalam Millenium Development Goals (MDGs). Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan.6%). cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan. Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi. dan Buku catatan kesehatan anak lainnya. dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu.1 dapat dilihat secara keseluruhan. tiga. imunisasi DPT-HB pada bayi umur dua. Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui.

6 77.3 83.5 81.0 85. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulasewi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Persentase cakupan imunisasi campak Riskesdas 2007 Riskesdas 2010 69.2 90.4 67.7 34 .0 59.2 96.6 78.5-6.3 96.7 72.3 95.7 88.1 86.6 70.9 77.5 persen.6 74.3 61.2 71.6 84. 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.1 62. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak Menurut Provinsi.4 77.5 85.1 86. sedangkan provinsi lainnya relatif sama atau menurun.1 68.0 75.8 73.1 89.5 99.9 68.3 85.3 81.7 47.6 84.5 57.4 94.5 75.5 69.9 90. dan anak. Dengan demikian terdapat perbedaan cakupan sebesar 9.1.1 62.9 80.3%) dibanding di perdesaan (69.5 76.5 72.9 91. hanya ada empat provinsi dengan cakupan imunisasi campak yang naik pada tahun 2010.1 78. Terlihat dalam tabel.4 81.0 71.4 83.8 80.4 85.2 78. rumahtangga.7 77.5 Tabel 4.6 87.3%).7 69. Tabel 4.2 menunjukkan cakupan imunisasi campak menurut karakteristik daerah. Riskesdas 2007.2-22.5 60.7 86.9 72.8 83.5 67.1 63.2 62.4 64.8 persen dan penurunan antara 0.Bila cakupan imunisasi campak dibandingkan antara Riskesdas 2007 dan 2010 per provinsi.4 83.3 83.0 90. cakupan imunisasi campak di perkotaan lebih tinggi (79.3 83. Kenaikan cakupan imunisasi campak antara 2.1 76.

9 86.2 67. Tabel 4. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja Ibu rumahtangga PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Persentase cakupan imunisasi campak Riskesdas 2007 Riskesdas 2010 86.2 82.4 83. Pada tabel 4.4 74.8 79.6 74. 2010 Karakteristik Penduduk Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.6 93.0 86.7 91. Riskesdas 2007.3 88.persen antara daerah perkotaan dan perdesaan.0 78. Cakupan imunisasi campak terendah bila pendidikan kepala keluarga tidak sekolah (59.1%) dan tertinggi pada pendidikan kepala keluarga tamat perguruan tinggi (86.3 69.1 84. Terdapat tren cakupan imunisasi campak yang meningkat seiring dengan makin tingginya pendidikan.2 65.5%) dan tertinggi pada PNS/ Polri/ TNI (86. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak Menurut Karakteristik Responden. lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya sebesar 21.8 77.7 59.8 82.9 77. baik dalam tahun 2007 maupun 2010.9 79.0 81.9%).4%). tidak banyak terdapat perbedaan cakupan imunisasi campak antara anak laki-laki dan perempuan.8 85.2 persen.9 83.5 83.1 80.2. Bila dibandingkan menurut jenis kelamin.1 Karakteristik rumahtangga lain dalam analisis ini adalah tingkat pengeluaran per kapita yang dibagi menjadi lima kelompok yaitu kuintil 1 yaitu kelompok terendah sampai kuintil 5 yaitu 35 .0 81.2 juga dapat dilihat variasi yang lebar cakupan imunisasi campak menurut pendidikan kepala keluarga.2 74.6 69.5 79.1 78.5 persen.5 -86.6 74. Keadaan tersebut serupa dengan hasil Riskesdas 2007.1 78.1 64. lebih tinggi perbedaan tersebut dibanding tahun 2007 yang hanya 7.3 86.2 71.0 71.3 78.6 78. Dengan demikian terdapat kesenjangan cakupan sebesar 27. Cakupan imunisasi campak menurut pekerjaan kepala keluarga yang terendah pada petani/ nelayan/ buruh (67.1 80.3 persen.

1%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66. 2-3 bulan. lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya 8. pemeriksaan neonatos pada tahun 2010 di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan. Kunjungan Neonatus Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi. Hasil tersebut lebih baik bila dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2007 sebesar 57. Bayi di bawah 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif jika saat pengumpulan data ibunya menyatakan bahwa bayinya masih mendapatkan ASI. Tidak ada perbedaan ASI eksklusif menurut jenis kelamin bayi. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi.4 persen.7 persen.5 persen. Dengan demikian terdapat perbedaan 21.8%). Hubungan yang jelas baru terlihat antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pengeluaran per 36 . tidak bisa dianalisis menurut provinsi dan hanya dapat dianalisis menurut karakteristik responden yang terlihat dalam Tabel 4. dan 4-5 bulan berturut-turut adalah 45. Pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari terendah pada tahun 2010 terdapat di Papua Barat (17. ASI eksklusif lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding daerah perkotaan.1 persen pada tahun 2010. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita. Demikian juga tidak ada pola hubungan yang jelas antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pendidikan orangtua.4 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi. 38.kelompok tertinggi.1 persen pada kuintil 5. tipe daerah dan rumah tangga pada Riskesdas 2007 dan 2010. Pemberian ASI Eksklusif Pemberian ASI eksklusif ditanyakan pada Riskesdas 2010.5.0 persen. belum pernah mendapatkan MPASI. Ada kecenderungan semakin tinggi pengeluaran per kapita semakin tinggi pula cakupan imunisasi campak.3 persen. Cakupan imunisasi campak pada kuintil 1 sebesar 65. tetapi tidak ditanyakan pada Riskesdas 2007. Tabel 4. dan dalam 24 jam yang lalu tidak mendapatkan makanan selain ASI. 2.3 terlihat bahwa secara keseluruhan pada tahun 2010 sebanyak 60. Dalam Tabel 4.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84.6 persen neonatus umur 3-7 hari dan 37. dan 31.0 persen dibanding 86.7%). 3.7 persen neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan. Oleh karena jumlah bayi di bawah 6 bulan hanya sedikit. Pemberian ASI eksklusif secara keseluruan pada umur 0-1 bulan. Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Sulawesi Barat (9. Menurut tipe daerah.6 persen dan 33.

6 29.9 42.4 19.5 49.5 26. Tabel 4.2010 Pemeriksaan neonatus Umur 3-7 hari (KN1) 2007 2010 56.5 81.8 17.7 30.5 54.0 68.6 60.5 37.2 58.5 59.0 50.9 57.8 33.1 26.1 41.1 39.6 Pemeriksaan neonatus Umur 8-28 hari (KN2) 2007 2010 36.8 45.3 22.9 55.4 29. maupun 4-5 bulan.8 44.8 63.5 66.3 66.9 54.4 15.1 26.1 66.5 67.2 25.9 29.5 21.kapita.9 66.8 25. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Provinsi.4 27.7 64.6 32. Riskesdas 2007.2 43.3.7 41.1 33.2 38.6 25.7 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.0 68.8 26.8 62.7 64.3 49.9 43.0 42.3 39.4 23.4 33.1 63.4 44.4 27.1 52.2 54.0 12.9 57.8 46.5 64.9 50.5 9.3 40.9 52.9 34.2 48.2 21.6 72.3 53.7 56.2 50.6 58.9 75.8 30.9 45.4 59.6 34.3 21. 2-3 bulan.8 84.0 39.1 24.2 70.6 43.4 34.2 31.4 37.3 65.2 25.5 63.2 36.3 28.3 39.6 13.5 17.9 35. Semakin tinggi pengeluaran per kapita rumahtangga.2 14.0 64.0 42.3 28.6 35.7 26.5 44.2 19. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulasewi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 37 .6 15.3 54.1 32.6 57.2 26.4 50. semakin menurun pemberian ASI eksklusif baik di kelompok umur bayi 0-1 bulan.0 18.0 38.3 47.7 12.8 19.1 35.4 62.6 58.8 30.0 39.4 28.2 58.1 53.4 51.2 69.7 48.0 28.8 61.1 66.9 55.

2 37.4.5 37.4 50.7 39.3 46.8 55.0 60.7 52.1 52.1 47.5 33.6 62.2 59.8 63.5 42.5 2007 41.0 58.0 69.7 64.9 64.6 29.2 33.9 2010 45.6 33.4 65.8 41.7 -54.0 31.0 37. Riskesdas 2007.1 53.9 37.5 30.9 79.8 65.3 41.1 2010 68.2 31. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja Ibu rumahtangga PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tkt pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 65.1 -74.5 52.8 24.1 57.9 67.7 40.8 31.3 31.9 27.3 32.5 63. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Karakteristik Responden.7 35.3 33.1 60.5 39.4 55.0 60.Tabel 4.7 51.5 36.7 61.2 46.7 38 .3 44.1 67.3 57.5 49. 2010 Karakteristik responden 2007 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.0 51.9 66.2 29.7 59.2 28.7 29.4 36.2 28.7 32.4 74.2 52.5 50.3 54.3 66.5 62.2 41.3 44.0 59.7 57.

6 38. 2010 Karakteristik responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.3 33.1 18.8 29.7 32.2 31.7 47.7 39.5 25.8 40.8 41.8 40.4 4-5 bln 26.3 36.5.5 36.6 39.4 33.3 30.1 43.9 29.4 51.3 40.7 30.7 35.6 23.3 30.2 35.8 41.3 36.5 34.3 42.0 44.0 37.2 44.0 42.8 50.1 52.4 32.9 34.0 45.0 38.7 50.5 71.0 45. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tkt pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 INDONESIA Umur anak 2-3 bln 34. Persentase Pemberian ASI Eksklusif Menurut Umur Anak dan Karakteristik Responden.Tabel 4.9 22.2 37.0 39 .4 43.6 34.3 21.2 29.4 51.3 0-1 bln 41.2 36.3 36.4 37.7 34.2 31. Riskesdas 2007.0 44.3 36.5 51.6 33.5 45.

2 3.1.5 100.000 kelahiran hidup.7 3.5 4.1 1.Goal 5 .39 40 .2 3. Distribusi Sampel menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Riskesdas 2010 Kelompok Umur (tahun) 0-4 5-9 10 .9 3.8 10.3 4.34 35 .9 3.1 4.2 8.3 4.2 2.7 2.3 6.14 15 .4 2.24 25 .8 1. terdapat indikator yang dipantau untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah: Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan Angka pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun Berikut ini merupakan hasil analisis Riskesdas 2010.7 Total 8.0 3. selain Angka Kematian Ibu per 100.7 4. Target sampel penduduk untuk mengetahui kesehatan ibu adalah perempuan pernah kawin usia reproduktif/WUS.5 9.9 49.29 30 .6 3.1 4. Gambaran Sampel Riskesdas 2010 Distribusi kelompok umur untuk keseluruhan sampel Riskesdas adalah sebagai berikut: Tabel 5.0 3.8 7. dengan memperhatikan indikator yang terkait dengan target menigkatkan kesehatan ibu.6 3. Indikator untuk mencapai target tersebut.44 45 -49 50 -54 55 -59 60 -64 65 + Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 4.8 3.7 2.MDG Meningkatkan Kesehatan Ibu Target: Menurunkan 75% kematian ibu dalam kurun waktu 1990-2015.5 5.4 8.0 40 .2 2.1 7.1 5.4 5.6 50.2 5.3.7 8.2 4.19 20 .1 4.1 7. 15-49 tahun.4 5.5 1. Beberapa indikator terkait disajikan juga dengan membandingkan dengan hasil sebelumnya yang berasal dari Susenas maupun SDKI.

1 0.4 1.3 20.1%).9 Total 13.2 10.4 0.0 96.7 10. Tabel 5.8 9.3 7. dan kelompok umur 50-54 tahun (0.6 0.29 30 .7 0.5 10. Distribusi status perkawinan seluruh kelompok umur penduduk adalah sebagai berikut: Tabel 5.4 0. proporsi perempuan usia reproduktif/WUS 15-49 tahun terhadap total sampel adalah 26.9 49.34 35 .4 0.1 persen.2 11. Proporsi kehamilan pada perempuan usia reproduktif 15-49 tahun adalah 2.1 0.7 Total 45. dan terlihat kehamilan terjadi pada kelompok umur 10-14 tahun (0. Proporsi kehamilan terhadap total penduduk Riskesdas 2010 Kelompok Umur 10 .44 45 -49 50 -54 55 -59 Total Apakah sedang hamil Ya Tidak 0.0 Proporsi kehamilan dari sampel Riskesdas 2010 adalah 3.1 12.5 11.3 7.3 0.8 0.24 25 .2 50.4 25.9 persen.7 9.3 0.8 24.39 40 .0 3.19 20 .0 11.7 12.Dari tabel di atas.1 13.1 0.1 3. Status Perkawinan menurut Jenis Kelamin Riskesdas 2010 Status Perkawinan Belum kawin Kawin Cerai hidup Cerai mati Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 24.6 50.6 0.0 100.1%).9%.8 12.3 10.6 11.0 41 .4 11.5 100.14 15 .3.2.8 0.7 2.

dan Maluku (52. Provinsi terbaik dengan proporsi pertolongan kelahiran ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih adalah DI Yogyakarta (98. perawat. pada umumnya yang digunakan adalah angka pertolongan kelahiran berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan 1 tahun sebelum survei.1 persen tidak menjawab. Indonesia 2010 Variasi antar provinsi dapat dilihat pada tabel berikut. Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan Analisis dilakukan berdasarkan perbandingan antara persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih (dokter. Angka pertolongan kelahiran yang diperoleh dibedakan menjadi dua. dan 19. 42 .1%). Grafik 5. diikuti Kepulauan Riau (97.6%). dan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada 1 tahun sebelum survei.5%). dan Bali (92.1. Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun terakhir. Untuk melihat kecenderungan. dan tenaga kesehatan lain) dengan dengan jumlah persalinan seluruhnya dan dinyatakan dalam persen. dan tercatat 0.2 persen. Grafik berikut menunjukkan proporsi pertolongan kelahiran yang terjadi pada 5 tahun sebelum survei.4%). Proporsi pertolongan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 80. bidan.1. Sedangkan provinsi yang perlu mendapatkan perhatian adalah Maluku Utara (33.8%).7 persen oleh bukan tenaga kesehatan.7%). DKI Jakarta (96. yaitu berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada lima tahun sebelum survei.

6 19.6 18.7 91.1 83.1 39.6 60.9 36.5 14.6 24.7 Tidak menjawab 0.1 96.2 0.6 97.0 0.4 0.0 0.0 47.9 8.5 42.2 28.6 42.3 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.8 78.4 2.6 9.0 92.4 90.4 57.6 79.3 83.1 63.1 56.4 81.1 18.6 98.2 Tenaga Non Kesehatan 13.0 86.9 43.0 0. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tenaga Kesehatan 86.0 0.0 0.5 75.0 0.0 0.5 85.5 23.6 66.0 0.8 72.4.9 16.4 57.3% dengan variasi antar provinsi yang 43 .4 33.1 60.1 0.5 79.0 0.5 44.9 78.0 0.0 13.4 75.4 80.0 0.2 21.2 12.5 24.7 16.9 3.5 55.0 0.7 44.0 0.2 37.8 59.0 0.0 3.0 0.0 0.1 Sedangkan proporsi pertolongan kelahiran yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk kejadian kelahiran 1 tahun sebelum survei adalah 82.0 0.0 0.0 0.0 0.9 81.0 0.4 0. Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun sebelum survei menurut Provinsi.3 20.Tabel 5.5 76.0 7.9 40.0 52.8 88.4 20.3 55.1 21.0 0.

7 80.2 95.8 48.6 94.6 66.7 87.6 87.1 98.8 64.5 94.5 63. Tabel 5.3 44 .5.0 52.5 87.2 49.9 82.1 76.3 60.8 70.5 79.3 57.4 95.0 79.4 56.2 95.terbaik dan terendah hampir sama dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan 5 tahun sebelum survei.7 26.8 78.Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Nakes yang terjadi 1 tahun sebelum survei menurut Provinsi.5 88.9 80.1 64.4 79.0 66.8 97. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia % 92.4 85.

8%). Secara nasional. kecenderungan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan meningkat dari 40.9%).2%). Sedangkan provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan masih di bawah 50% adalah Maluku Utara (26. dapat dilihat kelompok penduduk 20% terbawah (kuintil 1).6%). dan berbeda sangat lebar dibanding kelompok penduduk 20% teratas (kuintil 5) yaitu sebesar 94.Dari tabel di atas dapat dilihat provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan di atas 95 persen adalah DI Yogyakarta (98.2%). Maluku (48. Kecenderungan Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan Indonesia 1990-2010 Sumber: Susenas 1990-2007.2. pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 69. diikuti Kepulauan Riau (97.7 persen tahun 1990 menjadi 82.3 persen pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan tingkat pengeluaran. Pada kondisi saat ini. 45 . Grafik 5. dan Papua Barat (49. Terjadi disparitas yang cukup lebar untuk kelompok penduduk yang tinggal di perdesaan (72. dari Riskesdas 2010 menunjukkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan berdasarkan karakteristik penduduk.4%. Riskesdas 2010. serta Bali (95.1 persen.7%).5%).3 persen pada tahun 2010.3%). dapat dilihat kelompok penduduk yang tinggal di perkotaan. 91. DKI Jakarta dan Bangka Belitung (95.

sebagian besar sudah dilakukan di fasilitas kesehatan (59.1%). Penduduk di perkotaan 77. Indonesia 2010 Tenaga Tenaga Non Karakteristik Penduduk Kesehatan Kesehatan Tempat Tinggal 91.3 9.5% di Poilindes/Poskesdes.0 9.5 Kuintil 2 86. 2%). serta berdasarkan tingkat pengeluaran.2 persen.0 Perdesaan Tingkat Pengeluaran 69. dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (95.5%. Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan menurut Karakterisitik Penduduk.8%). Indonesia 2010 Berdasarkan karakteristik penduduk.7 persen dibanding kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5) yaitu sebesar 81.Tabel 5.0 Kuintil 4 94. Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada grafik yang menunjukkan provinsi terendah adalah Sulawesi Tenggara (7.1 5.7 Perkotaan 72.6 Kuintil 1 79. Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut tempat melahirkan.3.4 30.6.5%). Sementara kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1) melahirkan di fasilitas kesehatan sebesar 40.6 persen melahirkan di fasilitas kesehatan dibanding di perdesaan yang hanya 40. dan masih banyak yang melahirkan di rumah (39.9 Kuintil 5 Tempat melahirkan untuk persalinan 1 tahun sebelum survei.9 28. terjadi juga kesenjangan tempat melahirkan di perkotaan dan di perdesaan.5 20. 46 .5 Kuintil 3 91.5 13. Grafik 5. dan hanya 1.

9 63. Indonesia 2010 Polindes Rumah /Poskesdes /lainnya 0.6 Karakteristik Penduduk Faskes Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 77.1 81.8 21.2 40.8 2.2 72. Indonesia 2010 47 .1 17. Proporsi Persalinan Satu Tahun Sebelum Survei yang Melahirkan di Fasilitas Kesehatan menurut Provinsi.6 40.1 1.6 57.Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut Tempat Melahirkan dan Karakateristik Penduduk.6 56.0 27.5 Grafik 5.4.2 2.7 53.Tabel 5.8 0.0 35.8 0.7.4 1.9 45.

dan tidak melakukan pemeriksaan (2. dan minimal 2 kali pada trimester 3 dari jumlah kehamilan perempuan usia 15-49 tahun. pada umumnya kelompok petani/nelayan yang cakupan pelayanan antenatalnya lebih kecil dibanding kelompok penduduk bukan petani/nelayan. diketahui akses (K1) secara keseluruhan adalah 92.8. Indikator yang dapat diperoleh dari Riskesdas adalah Akses (K1) yang dianalisis berdasarkan akses ibu hamil ke tenaga kesehatan dari semua riwayat kehamilan anak terakhir dari perempuan usia 15-49 tahun. Menurut riwayat kehamilannya anak terakhir tersebut. sudah sebagian besar memeriksaan kandungannya (pelayanan antenatal) ke tenaga kesehatan (84. semakin banyak yang melakukan kunjungan antenatal ke tenaga kesehatan. Proporsi Perempuan Pernah Kawin usia 15-49 tahun dari Kehamilan Anak Terakhir Lima Tahun Terakhir Memeriksakan Kehamilan. Dari analisis. minimal 1 kali pada trimester 2 dan. Lebih lanjut hanya 61. Dari sampel Riskesdas 2010.0%). persentase kunjungan antenatalnya lebih kecil dibanding dengan kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5). Indonesia 2010. 48 . semakin membaik pendidikan penduduk.8%). Berdasakan pekerjaan.3% yang melakukan pelayanan antenatal minimal 1 kali pada trimester 1. Proporsi meningkat berdasarkan tingkat pendidikan. demikian juga untuk K4. Grafik 5. berikut. diperoleh 38.6% perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun mempunyai riwayat kehamilan anak terakhir pada periode lima tahun terakhir.2%). Berdasarkan karakteristik. Demikian halnya dengan tingkat pengeluaran. masih terdapat ibu memeriksakan kehamilannya ke dukun (3. minimal 1 kali pada trimester II. yang pada umumnya kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1). K1 dan K4 dapat dilihat pada Tabel 5. perlu juga dipantau akses pelayanan kesehatan reproduksi. Akses ibu hamil ke tenaga kesehatan (K1) pada penduduk perkotaan jauh lebih baik dibanding perdesaan.6.Untuk meningkatkan kesehatan ibu. minimal 2 kali pada trimester 3. Selanjutnya adalah K4 yang dianalisis berdasarkan jumlah pemeriksaan antenatal minimal 1 kali pada trimester I. khususnya untuk perempuan usia 15-49 tahun.8% ibu hamil mengikuti pelayanan antenatal.

7 berdasarkan SDKI 2007 dan Riskesdas 2010.6 84.2% (2007) ke 61.5 Grafik 5. Indonesia 2007-2010 49 .3 62.3 93. Terjadi penurunan angka K1 dari 93.5 88.8.2 97.7 K4 73.9 50.4 79. Tabel 5.0 99. cakupan pelayanan antenatal ini dapat dilihat pada grafik 5.0 75.Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Karakteristik Penduduk.4 63.7 90.3 50.3 48.6 95.0 88.3 persen (2010).3 47.7.1 91.3 98. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 K1 97.1 89.3 persen (2007) ke 92.Untuk kecenderungan.3 79.8 96.5 74.2 94.7 37.6 57.5 97.5 87.7 70.8 persen (2010) dan K4 dari 65.2 56. Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4.1 63.

3 52.7 54.4 98.9 91.8%).0 79.4 61.1 100. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia K1 93.Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Provinsi.8 75.7 19.1 59.6 52.7 83.5 74.2 94.7 88.6 35.4 54.0 92.1 32.5 88. DI Yogyakarta merupakan provinsi terbaik.1 77.7 89.6 34.9.6 89.7 89.9 91.4 41.3 50 .9.8 96.1 94.3 72.2 85.0%) dan terendah untuk K4 adalah provinsi Gorontalo (19.1 84.1 81.5 44.8 K4 61.4 56.4 73.0 96.5 98.7 67.1 82.8 24.7 94. Tabel 5.2 39.8 77.5 76.3 85.4 77.4 93. untuk cakupan K1 dan K4.6 48.8 28.7 53.0 95.2 50.8 50.1 93.5 67.9 88.6 98. sedangkan cakupan terendah untuk K1 adalah provinsi Papua Barat (72.4 21.6 35.8 92.5 44.4 58.Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.2 93.9 77.1 46.

3%) dan terendah adalah provinsi Papua barat (31. (Distribusi status perkawinan bisa dilihat pada tabel 5.9%).2. dan terdapat 19 persen tidak pernah menggunakan sama sekali. pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun. Proporsi penggunaan alat kontrasepsi di perdesaan pada umumnya lebih tinggi dari perkotaan.8 terlihat 53. Menurut kelompok umur. Analisis pada Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun Pada Grafik 5. menurut pekerjaan adalah yang tidak bekerja. untuk mengikuti kecenderungan dari tahun 2007 yang sudah dilakukan pada SDKI 2007 ke tahun 2010 a. Pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun Pada Riskesdas 2010. Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan pernah kawin 51 . dan yang berstatus kawin. sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2. Untuk kepentingan analisis. Grafik 5. sampel yang dipilih adalah perempuan usia 15-49 tahun yang berstatus pernah kawin. Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5. Perempuan berstatus pernah kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin’. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 tahun Indonesia 2010 Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5. Sedangkan menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP. pemakaian kontrasepsi untuk mencegah kehamilan ditanyanya pada perempuan pernah kawin usia 10-59 tahun dan pasangannya.11.2) Analisis dibedakan menjadi dua.9 persen perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi. Sedangkan perempuan berstatus kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin”. Provinsi dengan persentase menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah bali (64.10. ‘cerai hidup’ dan ‘cerai mati’.8.

3 58.7 52 .5 45.9 44.9 56.6 50. Tabel 5.yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (42%).1 50.2 58.4 47.8 54.7 32.4 54. dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10.4 56.3 45.4 60.10.0 57.5 55.3 60.7 51.9.9 persen pada tahun 2010. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 Tahun yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk.7 52.6 60. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Kelompok Umur 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 -49 Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 % 52. Ada terjadi penurunan dari 57.2 55.4%).9 persen pada tahun 2007 menjadi 53.9 53. Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5.

6 58.4 30.2 21.7 64.3 58.4 60.8 62.1 Tidak pernah sama sekali 30.8 29.1 57.5 22.8 35.0 16.2 21.0 53 .7 16.9 49.3 15.2 21.8 31.6 16.6 40.0 53.8 31.2 62.6 29.4 23.Tabel 5.9 23.4 21.8 13.4 37.4 18. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi.6 11.7 25.2 27.4 20.0 59.7 25.4 29.11.2 49.7 32.1 22.1 28.0 24.2 42.3 15.2 11.3 26.1 55.3 51.3 17.9 56.3 18.0 56.5 57.1 42.0 17.3 30.4 24.9 46.8 24.3 60.8 27.2 27.8 19.6 10.6 63.1 29.3 37.0 51.1 12.0 18.7 29.6 25.1 30.6 54.7 37.2 18.7 47.0 25.9 Pernah/tidak menggunakan lagi 27.4 38.1 29.0 38.9 38.3 30.4 41.6 27.6 27.6 15. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sekarang menggunakan 41.4 12.7 36.7 22.7 61.7 43.7 23.6 18.9 30.3 27.7 37.8 54.5 24.

Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara KB.0 2.8%).13). Riskesdas 2010 Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.1 persen tahun 2010.4 42.1 persen tahun 2007 menjadi 46. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 42. Tabel 5. Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD.0 1.4 1.4 2. Suntikan dan amenorrhea laktasi.1 0.12. Demikian juga 54 .2 12.1 0.Grafik 5.12 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010.0 0.1 0.0 31.3 5. Indonesia: 2007-2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan SDKI 2007 3.5 4.1 46.9.1 12. Riskesdas 2010 Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5. penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih banyak yang tinggal di perdesaan (34.3 0.6 1.0 0.7 30.1 Riskesdas 2010 2.1 1.1 Sumber: SDKI 2007.5%) dibanding di perkotaan (27. Indonesia: 2007-2010 Sumber: SDKI 2007.3 0. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB.2 0.

13.9%) dibanding di perdesaan (11. dan di RS pemerintah (3.5 1.1 11. pada umumnya membeli di Apotik.0 34.1 12.3%).4 0.1 45.5%). dll.9%).0 4.4 0.1 0.5%). Tabel 5.5 2.9 0.9 5. Sebanyak 12. atau mendapatkan secara gratis di kantor desa.1 47. bervariasi.2 0.6 4. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat pelayanan KB. Tabel 5.5% menjawab lainnya. depot obat.9%) dibanding di perkotaan (0.4 1. Sebaliknya pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (12.5 52.1 0.0 12.9 2. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal.1 12.3 55 .penggunaan pengguna implant di perdesaan (1.7%).0%) Pustu (4.7 0.14 dapat dilihat sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek (52. Indonesia 2010 Tempat Pelayanan KB RS Pemerintah RS Swasta RS Bersalin Puskesmas Pustu Klinik TKBK/TMK Dokter praktek Bidan praktek Perawat praktek Polindes/ Poskesdes Lainnya % 3. Indonesia 2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan Perkotaan 2.3 2.14.0 0.7 4.5 0.5 2.8 0.1 Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB seperti pada tabel 5.2 Perdesaan 1.5 0.1 0.7 0.9 27.9 1. diikuti di Puskesmas (12.

‘takut efek samping’. b) Belum/ingin punya anak adalah dari jawaban ‘belum punya anak’.8 persen. tapi tidak terpenuhi di atas 30 persen yaitu Maluku (32. Indonesia 2010 56 .15. Ada empat provinsi dengan persentase yang menjawab butuh. Bentuk pertanyaannya dapat dilihat pada kuesioner individu terlampir (RKD10. tidak perlu lagi 11. Dari Grafik 5. Jawaban responden dari pertanyaan ini selanjutkan dikelompokkan menjadi empat: a) Butuh/tidak terpenuhi atau unmet need adalah dari jawaban ‘dilarang pasangan’.3%. dan ‘ingin punya anak’ c) Tidak perlu lagi adalah dari jawaban ‘tidak perlu lagi’ d) Lainnya adalah dari jawaban ‘lainnya Diluar klasifikasi ini adalah responden yang menggunakan KB.7%). serta yang menjawab lainnya 5. Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8. ‘mahal’ .IND) pertanyaan Dc06. dan ‘tidak menginginkan’. ‘dilarang agama’ . Selanjutnya yang menjawab belum atau ingin punya anak adalah 15 persen. Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5. dan Papua Barat (32. ‘sulit diperoleh’.10 dapat dilihat ada 14.9%).Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB. Grafik 5.10.7%).0 persen yang sebenarnya membutuhkan akan tetapi tidak bisa terpenuhi.Pada Riskesdas 2010 ditelusuri juga alasan utama tidak menggunakan KB.

6 22.6 5.2 42.7 12.Tabel 5.6 19. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Butuh/tidak Belum/ingin terpenuhi punya anak 23.5 16.0 18.4 60.8 16.5 16.0 16.3 7.9 8.9 25.0 11.9 14.5 9.0 10.0 Tidak perlu lagi 9.6 54.2 9.3 9.9 57.2 6.1 55.0 19.3 3.3 13.3 9.3 8.5 5.6 29.1 11.7 25.5 6.3 3.8 13.2 49.0 38.5 14.5 18.0 56.8 35.8 10.9 32.3 51.5 10.2 6.2 62.4 14.2 14.8 54.3 Lainnya 7.4 20.0 51.3 15.2 15.1 57.9 4.5 12.8 11.9 8.7 11.3 9.0 12.3 15.7 10.3 4.8 15.0 5.5 37.4 9.7 47.0 53.0 11.2 10.5 14.2 17.7 43.9 12.3 10.5 7.1 11.9 49.1 9.5 21.1 16.3 17.6 15.7 13.9 10.9 22.0 5.2 9.2 5.7 36.8 25.0 12.3 17.8 12.0 11.6 19.9 63.8 61.4 57.2 5.3 58.8 10.7 19.7 14.6 12.8 9.0 14.6 2.9 8.2 3.9 10.2 17.0 11.5 7.0 6.2 12.4 38.15.3 60.0 10.8 62.7 14.9 57 .2 8.9 46.3 15.3 11.9 9.6 10.9 12.1 9.5 2.5 7.6 5.5 2.4 6.8 20.8 32.2 11.0 16.7 7.9 8.1 6.7 13.3 6. Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi.1 10.4 4.3 16.3 19.7 6.7 13.7 9.0 13.0 12.8 Menggunakan KB 41.7 4.7 64.0 11.5 13.4 10.6 58.8 32.0 59.1 38.6 9.

4%). Grafik 5. dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10. pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun. Ada terjadi penurunan dari 61. Analisis pada Perempuan berstatus Kawin usia 15-49 tahun Analisis yang sama seperti di atas.4%). Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan berstatus kawin yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (41. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Berstatus Kawin Usia 15-49 tahun Indonesia 2010 Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5.12. Provinsi dengan persentase menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah Kalimantan Tengah (66.0%. Penduduk di perdesaan pada umumnya menggunakan alat kontrasepsi lebih tinggi dari perkotaan.4 persen tahun 2007 menjadi 56 persen pada tahun 2010 58 .17. Sedangkan menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP.11 dapat dilihat perempuan yang berstatus kawin dan menggunakan alat KB adalah 56. Pada grafik 5.4 persen tidak pernah menggunakan sama sekali.0%) dan terendah adalah provinsi Papua barat (32. sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2. Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.8%). Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5. menurut pekerjaan adalah yang tidak bekerja.11. dilakukan untuk perempuan berstatus kawin umur 15-49 tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi. Menurut kelompok umur.b. dan 18.16.

1 45.3 59.4 61.8 57.16.5 58.1 48.6 47. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Kelompok Umur 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 -49 Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 % 54.6 55.7 62.3 57.1 48.5 60. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Usia 15-49 Tahun yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk.Tabel 5.5 59 .5 35.1 59.2 55.4 56.9 58.2 53.9 53.9 57.1 62.0 53.

7 14.9 59.4 16.8 38. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi.6 27.0 15.7 20.3 59.7 24.4 21.5 56.8 36.6 45.2 11.2 30.5 53.4 60 .5 51.9 28.2 23.4 21.1 27.5 55.3 29.2 18.7 20.5 26.7 20.0 66.5 58.5 28.2 62.3 27.7 17.2 22.5 40.3 10.2 59.5 15.5 27.1 38.3 26.6 63.1 22. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sekarang menggunakan 44.7 20.3 25.1 22.0 62.3 50.5 39.8 60.0 41.5 10.4 25.6 60.3 27.0 26.5 53.1 17.4 21.6 62.8 25.1 13.4 24.8 15.1 40.0 31.8 28.6 15.9 25.17.7 48.2 51.6 Tidak pernah sama sekali 30.8 18.2 30.Tabel 5.2 63.2 23.1 39.6 65.4 37.8 40.1 16.6 24.2 37.7 11.0 15.8 65.0 23.5 28.8 56.0 Pernah/tidak menggunakan lagi 25.7 27.4 17.7 22.4 56.2 37.4 21.9 28.5 32.1 17.4 43.8 10.

Riskesdas 2010 Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5. Indonesia: 2007-2010 Sumber: SDKI 2007.0%).1 1.18 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 38.2 0.1 0.3 0.4 1. penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih banyak yang tinggal di perdesaan (35.4 2.1 31. Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD.4 2. Riskesdas 2010 Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan perempuan berstatus kawin dapat dilihat pada Tabel 5.12.2 0.8 32.0 Sumber: SDKI 2007.6 persen tahun 2007 menjadi 44.Grafik 5.5 0.8 4.19).9%) dibanding di perkotaan (29.18.0 2.9 5.8 1.3 1. Tabel 5. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara KB. Indonesia: 2007-2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan SDKI 2007 Riskesdas 2010 3.6 44. Demikian juga 61 . Suntikan dan amenorrhea laktasi.0 0.2 12. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB.1 13.4 0.1 38.1 0.0 persen tahun 2010.

0 4. atau mendapatkan secara gratis di kantor desa.8 0. depot obat.2%).5 52.6%). Indonesia 2010 Tempat Pelayanan KB RS Pemerintah RS Swasta RS Bersalin Puskesmas Pustu Klinik TKBK/TMK Dokter praktek Bidan praktek Perawat praktek Polindes/ Poskesdes Lainnya % 3.1 12.9 1. diikuti di Puskesmas (12.1 0. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal.1 0.8 0. dan di RS pemerintah (3. Indonesia 2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan Perkotaan 2. Sebaliknya pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (13.penggunaan implant di perdesaan (1.5 2.1 13.0%) Pustu (4.1 Perdesaan 1.0 42.4 1.5 0.20.4 0.5%).4 6.2 2.9 Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek (52.9 1. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat pelayanan KB.5 4. bervariasi.0 0.1 29. Tabel 5.9%).6 0.4%) dibanding di perdesaan (12.3 62 . dll.1 12.2 4.6 2.3% menjawab lainnya.9 0.1 45.9 2.0 12.2 35.1 0.0 0.2%). pada umumnya membeli di Apotik. Sebanyak 12.19. Tabel 5.2 0.4 0.9%) dibanding di perkotaan (0.

adalah unmet need pada perempuan berstatus kawin. tapi tidak terpenuhi di atas 30% yaitu Maluku (32.21.13.0%). Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8. dan Papua Barat (33.9 persen yang sebenarnya membutuhkan KB akan tetapi tidak bisa terpenuhi Grafik 5. Proporsi Perempuan berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB.7%).Analisis yang sama seperti dilakukan pada perempuan pernah kawin.13 dapat dilihat ada 13. 63 . Dari Grafik 5.3%). Ada dua provinsi dengan persentase teertinggi yang menjawab butuh. Indonesia 2010 Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.

4 56.9 9.5 9.2 62.6 19.2 51.9 8.3 50.7 5.4 10.3 6.2 9.0 14.5 53.5 14.6 6.1 11.4 6.0 7.0 8.7 8.7 12.2 59.7 4.3 5.5 51.7 13.2 8.2 10.3 13.9 5.6 63.4 Tidak Lainnya perlu lagi 6.8 38.8 15.0 10.2 3.5 25.8 4.2 20.7 19.Tabel 5.7 48.0 15.0 11.8 3.8 2.1 8.5 55.7 12.1 25.0 16.21.0 17.7 19.5 26.0 3.5 9.0 13.5 39.9 59.9 16.5 5.8 7.8 17.8 60.3 11.5 9.3 8.2 63.9 15.0 18.1 10.4 6.0 62.4 16.2 6.3 6.7 20.3 8.7 62.0 7.5 40.2 5.5 53.1 12.8 14.2 9.0 9.0 9.7 17.1 38.6 7.7 9.8 36.8 3.6 7.6 32.4 15.0 18.2 8.5 9.5 56.6 60.7 13.4 21.9 8.1 7.0 6.0 9.3 11.6 4.3 4.6 45.2 29.5 59.3 16.1 13.0 10.3 15.5 32.2 13.0 14.3 11.6 2.2 39.2 9.5 7.8 13.0 23.0 9.9 22.9 10.7 9.9 15.0 64 .7 9.6 33.2 16.3 4.4 12.9 4.7 7.1 10.0 15.1 19.6 8.5 Menggunakan KB 44.8 65.6 10.7 3.5 6.3 66.8 56.6 12.6 5.4 43.0 14. Proporsi Perempuan Berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi.0 19.2 16.1 19.8 20.8 13.6 4.8 8.6 16. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Butuh/tidak Belum/ingin terpenuhi punya anak 23.6 4.7 7.8 7.2 59.6 65.5 5.

17.Selain dua kelompok indikator di atas. seperti terlihat pada grafik 5. beberapa indikator yang dapat disajikan dari hasil Riskesdas 2010 untuk pertimbangan mempercepat peningkatan kesehatan ibu antara lain memperhatikan: c.15 dapat dilihat sekitar 46. pada perempuan hamil diketahui sekitar 31 persen mendapat imunisasi TT kurang dari 2 kali. Imunisasi TT f. Usia menikah pertama d.15.4 persen perempuan di Indonesia sudah menikah sebelum menginjak usia 20 tahun Grafik 5. Melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear e. 65 . Perempuan Indonesia. Dari Riskesdas 2010. Pada grafik 5. Proporsi Perempuan Umur 10-54 tahun menurut Umur Menikah Pertama.16. 10 tahun. Status gizi Dari Riskesdas 2010 dapat diketahui usia perempuan menikah pertama. Dapat dilihat pada grafik 5. ditanyakan juga pada responden perempuan pernah kawin berapa kali diberi imunisasi TT sebelum dan sesudah menikah.6 persen perempuan yang melakukan pemeriksaan. Indonesia 2010 Informasi lain yang juga penting untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah rutinitas untuk melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear. Dari grafik 5. selanjutnya pada usia berikutnya proporsi perempuan menikah pertama ini semakin meningkat sampai dengan usia 19 tahun. sudah menikah pada usia yang sangat muda. dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu 12 bulan terakhir hanya 4.14.

Proporsi Perempuan Umur Reproduktif menurut Jumlah kali mendapat imunisasai TT.16. Proporsi Perempuan pernah Kawin umur15-49 tahun yang melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear.17. Inndonesia 2010 Informasi lain yang juga sangat penting untuk kesehatan ibu adalah status gizi perempuan reproduktif yang akan melahirkan.18 dapat dilihat ada kecenderungan pada 66 . Indonesia. 2010 Grafik 5. Dari grafik 5.Grafik 5.

Pelayanan KB diutamakan pada penduduk miskin yang membutuhkan agar jumlah kehamilan dapat diturunkan. diabetes melitus. 67 . 17. dll.perempuan kelompok umur 15-19 tahun.15 dapat dilihat ada kecenderungan semakin bertambah umur proporsi perempuan dengan IMT 25 keatas semakin meningkat. Grafik 5.5.5 adalah kurus dan mempunyai risiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). 2 persen dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) <18.18. dan juga dapat mengurangi pernikahan usia remaja serta perbaikan status gizi. dapat disimpulkan bahwa kesehatan ibu pada prinsipnya dapat menjadi lebih baik jika program tetap mengupayakan peningkatan cakupan pelayanan kesehatan terutama pada pertolongan persalinan untuk perempuan hamil. Indonesia 2010 Berdasarkan analisis di atas. Sebaliknya dari grafik 5. Perempuan dengan IMT 25 + cenderung gemuk dan berisiko tinggi untuk terkena penyakit degeneratif seperti darah tinggi. Proporsi Perempuan pernah kawin menurut kelompok umur dan Status Gizi. Perempuan dengan IMT <18.

Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Target: 1. Sedangkan mengenai pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS. kepada responden ditanyakan hal-hal yang terkait dengan pengetahuan HIV/AIDS.1).4.1. Salah satu indikator yang digunakan untuk memantau pencapaian target dan dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 adalah prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015 Narasi berikut mengkhususkan analisis berkaitan dengan pengetahuan responden tentang HIV/AIDS. masalah malaria dan TB paru 6.1. PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS Salah satu tujuan yang ingin dicapai MDGs dalam kurun waktu 1990-2015 adalah memerangi HIV/AIDS. Hasil Riskesdas 2010 dibandingkan dengan hasil dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 yang mempunyai metode pengumpulan data yang sama.1. dengan target mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015. Goal 6-MDG Memerangi HIV/AIDS. Nampak adanya peningkatan pengetahuan pada perempuan sebesar 12 persen dan pada laki-laki sebesar 11 persen dibanding tahun 2007 (Gambar 6.1 Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar ttng HIV/AIDS menurut jenis kelamin Riskesdas 2007 dan 2010 68 . Riskesdas 2010 melaporkan sebesar 75 persen perempuan maupun laki-laki umur 15-24 tahun pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Gambar 6. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 2015 2.

menurut karakteristik penduduk.5 96.3 44.3 76.9 62.3 77.3 67.2 27.6 79.9 84.3 63.5 Kuintil 2 58.1 84.8 49.2 90.8 64.1.3 78.8 74.0 91. (Tabel 6.2 90.8 79.7 33.3 56.8 53.9 82.3 86.4 71.2 73.0 83.9 56.2 73.5 41.4 58.3 75.7 69.2 43. Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 Karakteristik penduduk 2007 Status kawin Belum kawin Kawin Cerai Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D1/2/3/PT Pekerjaan Tidak bekerja Sekolah Pegawai Wiraswasta Petani/ nelayan/buruh Lainnya Laki-laki 2010 Perempuan 2007 2010 64.1 69.6 88.1 83.7 80. pada mereka yang masih sekolah.1 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS.4 79. dan yang bekerja sebagai pegawai dan wiraswasta.4 38.2 Indonesia 64.4 84.1 Kuintil 3 64.0 89.0 63.8 69 .4 23. yang berpendidikan lebih tinggi.4 48.9 65.1 Kuintil 5 75.Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin.4 50.9 27.8 82.9 70. juga pada kuintil/ pendapatan perkapita yang lebih tinggi.8 62.4 51.3 67.1 51.0 72.3 84.7 Kuintil 4 68.2 40.0 59.8 85.9 Tingkat pengeluaran perkapita Kuintil 1 53.9 68.5 63.4 50.3 67.0 55.4 78.1 56.8 30.3 62.9 70.9 55.5 63.7 91.6 66.8 68.1 90.2 94.1.81 91.1) Tabel 6.7 61.3 55.2 79.0 79.5 49.7 72.8 85.2 33. yang tinggal di perkotaan.

Gambar 6. NTB.1.2 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi pernah mendengar AIDS diatas rata-rata yaitu Yogyakarta.2 Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar menurut Provinsi. Papua. Kepulauan Riau. Sulawesi Utara. Riskesdas 2010 70 . DKI Jakarta. Bali. Papua Barat.1.1.2 dan Gambar 6. Jawa Tengah.Tabel 6. dan Jawa Timur.

1.6 41 .6 89 .1 70 .7 95 .2 66 . (2) melalui gigitan nyamuk.1 77 .4 71 . Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 73 . Pengetahuan komprehensif merupakan komposit dari 4 variabel.1 64 .4 76 .6 69 .0 68 .1 53 .5 67 .6 81 .1 77 .2 74.1 82 .4 75 .2 72 .5 60 . dan 2 variabel tentang cara pencegahan HIV/AIDS yaitu 71 .1 46 .5 61 .5 73 .7 58 .2 66 . 2 variabel dari persepsi salah tentang penularan HIV/AIDS yaitu melalui (1) makan sepiring dengan orang yang terkena virus HIV/AIDS.4 69 .8 Laki-Perempuan 73 .4 75 .1 53 .0 77 .0 72 .6 48 .8 55 .6 78 .5 90 .8 81 .5 77 .4 Pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS Untuk melihat kecendrungan hasil tahun 2007 dan 2010 dilakukan reanalisis data SDKI dan SKRRI 2007 dengan menggunakan empat variabel yang sama dalam Riskesdas 2010.6 81 .2 81 .7 93 .2 81 .3 67 .3 81 .7 74 .7 95 .7 58 .4 63 .0 77 .8 64 .1 64 .0 77 .9 76 .4 Perempuan 74 .5 66 .5 73 .1 94 .6 78 .1 86 .0 89 .5 77 .5 63 .6 71 .6 41 .5 66 .5 67 .0 75 .8 63 .3 79 .7 90 .3 79 .6 89 .7 67 .1 62 .8 63 .6 67 .6 69 .7 90 .3 81 .Tabel 6.5 60 .2 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS menurut provinsi.2 76 .0 75 .1 62 .4 62 .0 68 .2 72 .1 82 .1 72 .1 66 .3 66 .3 83 .3 67 .8 57 .2 76 .6 56 .8 55 .4 71 .1 66 .1 70 .7 71 .1 94 .8 57 .

3 22 .(3) berhubungan seksual dengan satu pasangan saja dan (4) menggunakan kondom saat berhubungan seksual.0 13 .3 32 .1 24 .6 19 . yang berpendidikan lebih tinggi.0 21 . pada mereka yang masih sekolah.6 22 .0 16 .6 14 .5 24 .3 15 .6 18 .6 18 .9 25 .3 24 .7 20 .3) Tabel 6.8 22 .6 19 .0 20 .3 35 . Riskesdas 2010 Karakteristik penduduk Status kawin Belum kawin Kawin Cerai Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D1/2/3/PT Pekerjaan Tidak bekerja Sekolah Pegawai Wiraswasta Petani/ nelayan/buruh Lainnya Pengeluaran perkapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Indonesia Laki-laki Perempuan Laki-perempuan 20 .5 8 .9 10 .5 14 .1.3 10 .2 23 .1 10 .6 18 .8 25 .3 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.5 23 .9 22 .7 3 .6 7 .8 12 .8 11 .8 11 .1 16 .9 9 .4 17 . dan yang bekerja sebagai pegawai.4 22 .9 8 . juga pada pendapatan perkapita yang lebih tinggi. yang tinggal di perkotaan.8 11 .8 21 .9 15 .4 23 .4 15 .2 15 .0 19 .6 19.3 6 .7 18 .2 13 .5 72 . (Tabel 6.8 14 .0 25 .8 21 .9 20 . Riskesdas 2010 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif “baik” tentang HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin.0 18 .2 13 . wiraswasta dan sekolah.1 13 . menurut karakteristik penduduk.1 12 .3 33 .9 18 .3 4 .4 12 .5 17.8 22 .8 15 .2 27 .6 16 .1.

Tabel 6. Penduduk 15-24 th dengan Penget.1. RKD 2010 73 .3 menunujukkan 10 provinsi dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS di atas nilai rata-rata yaitu provinsi Bali.4 dan Gambar 6. Jawa Tengah. Bengkulu.1. Gambar 6. Papua Barat. Papua. Jawa Timur. Komprehensif tentang HIV/AIDS menurut Prov. Riau.3 Prev. Sumatera Utara.1. NTB. DI Yogyakarta.. DKI Jakarta.

2 26 .1 31 .1 19 .8 18 .4 15 .8 19 .0 14 .8 22 .9 27 .1 14 .6 15 .4 10 .5 7 .0 15 .0 10 .1 20 .8 24 .8 6 .3 12 .5 14 .2 Laki-perempuan 16 .9 19 .6 8 .2 21 .2 17 .9 9 .2 20 .1 16 .1 25 .5 15 .4) 74 .5 Dibandingkan dengan hasil SDKI 2007.8 13 .2 9 .3 13 .1 11 .1 13 .6 31 .6 18 .6 23 .4 17 .8 17 . menurut provinsi.6 9 .4 13 .5 27 .8 10 .2 15 .5 22 .5 24 .6 31 .6 16 .8 Perempuan 16 .5 35 .5 11 .1.0 13 .3 39 .8 20 .4 12 .4 13 .4 7 .5 11 .5 30 .0 24 .5 7 .1 17 .Tabel 6.7 16 .8 18 .7 18 .9 18 .5 11 .5 14 .3 21 .5 8 .1.8 15 .3 12 .3 24 .4 18 .5 22 .2 12 .9 16 .3 19 .7 25 . tetapi pada laki-laki kawin tampak sedikit penurunan pada tahun 2010 (Gambar 6.4 11 .1 10 .9 12 . tampak adanya peningkatan prevalensi penduduk (lakilaki dan perempuan) umur 15-24 tahun belum kawin dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.2 32 .2 11 .1 12 .0 8 .2 10 .8 19 .0 12 . Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 16 .4 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.2 17 .0 16 .6 15 .3 12 .0 7 .4 12 .2 17 .4 21 .6 24 .9 8 .5 13 .

5 *5 variabel yaitu penggunaan kondom saat hub.7 Perempuan 15.Gambar 6. menolak dua persepsi salah yaitu HIV tertular melalui gigitan nyamuk dan dapat ditularkan melalui berbagi makan dengan ODHA. seksual. mengetahui orang tampak sehat dapat terkena HIV. 75 .7 14. sebagai berikut: Status kawin Belum kawin Kawin Laki 13.1 9. hubungan seksual hanya dengan satu pasangan.4 Kecenrungan Pengetahuan Komprehensif Penduduk 15-24 tahun tentang HIV/AIDS.1. SDKI 2007 dan Riskesdas 2010 Catatan: Hasil analisis ulang pengetahuan komprehensif penduduk 15-24 tahun SDKI 2007* dengan 5 variabel.

2. Di Indonesia eliminasi malaria dimulai sejak tahun 2009. pengobatan yang tepat untuk subjek terinfeksi malaria dengan artemisinin-based combination therapy (ACT). Malaria dan penyakit Menyebabkan kesakitan dan menular lainnya kematian Mengembangkan kemitraan global untuk Kerja sama dalam penanggulangan melalui Global pembagunan Fund Pada tahun 2005.2. Pada pertemuan WHA 60 tahun 2007. penyemprotan rumah dengan insektisida. Laporan tahunan menunjukkan kasus terbanyak dilaporkan dari Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Timur. ACT yang digunakan oleh program malaria nasional adalah kombinasi 76 . Kelebihan derivatif artemisinin ini adalah dapat mencegah penularan. Peran malaria pada indikator MDGs lain MDG 1 2 4 5 6 8 Tujuan Menanggulangi kemiskinan Mencapai pendidikan dasar untuk semua Menurunkan angka kematian anak Meningkatkan kesehatan ibu Peran malaria Memelihara kemiskinan Penyebab absen sekolah Penyebab kematian Ancaman kehidupan ibu dan anak Memerangi HIV/AIDS. PENYAKIT MALARIA Malaria merupakan masalah kesehatan dunia karena mengakibatkan dampak yang luas. Di Indonesia ditemukan semua jenis human plasmodia terutama Plasmodium falciparum and P. telah dihasilkan komitmen global tentang eliminasi malaria bagi setiap negara. Sejak tahun 2004. Berbagai upaya penanggulangan telah dilaksanakan dengan menggalang berbagai sumber dana baik dari pemerintah dan non pemerintah (WHO dan Global Fund). sehingga tidak mengherankan malaria juga merupakan neglected disease.vivax. dan memungkinkan sebagai penyakit emerging dan re-emerging karena adanya kasus import dan vektor potensial yang dapat menularkan dan menyebarkan malaria.2.1. Oleh sebab itu malaria menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi sasaran prioritas komitmen global di Millenium Development Goals (MDGs) yang dideklarasikan oleh 189 anggota PBB pada tahun 2000. Dampak luas dari malaria yang berhubungan dengan 5 indikator MDGs lain dapat dilihat pada Tabel.6.6.1. World Health Assembly (WHA) mentargetkan penurunan kasus kesakitan dan kematian malaria sebanyak =50% di tahun 2010 dan =75% di tahun 2015 dari angka pada tahun 2000. Kasus malaria yang dilaporkan umumnya masih merupakan malaria yang diagnosis hanya berdasarkan gejala klinis karena keterbatasan akses dan fasilitas pemeriksaan laboratorium. Untuk percepatan penanggulangan malaria dilakukan berbagai intervensi: kelambu berinsektisida untuk penduduk berisiko. Selain itu malaria umumnya merupakan penyakit di daerah terpencil atau sulit dijangkau dan di negara miskin atau berkembang. dan pengobatan pencegahan pada ibu hamil1. Tabel 6. program malaria Indonesia secara bertahap telah menggunakan ACT sesuai rekomendasi WHO4.

Demikian juga kasus dengan riwayat demam walaupun hasil RDT negatip akan dirujuk untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut. pemanfaatan pelayanan kesehatan. prevalensi malaria. persentasi yang melakukan pencegahan. dan pada Riskesdas 2010 data kesakitan malaria dilengkapi dengan pemeriksaan darah malaria pada semua responden. dan perkembangan hasil Riskesdas 2007. 77 .artesunat-amodiakuin dan dihidroartemisinin-piperakuin.2. risiko terinfeksi malaria). Cakupan kelambunisasi berinsektisida pada balita. 1. Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS 15. penggunaan obat tradisonal/tanaman obat untuk malaria). Pengobatan efektif pada balita. Satu BS terdiri dari 25 RT. Setiap tiga tahun Badan Litbangkes melaksanakan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). sedangkan artemeter-lumefantrin direkomendasi oleh klinisi.1).6. Pada Riskesdas 2007 hanya dikumpulkan data prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan hasil wawancara. Semua kasus yang positip malaria dengan RDT dirujuk ke Puskesmas terdekat. Sedangkan API di JawaBali adalah 0. dan kuesioner individu atau Anggota Rumah Tangga/ART (Annual Parasite Incidence/API. cakupan ACT. Total sampel Kesmas adalah 2800 Blok Sensus (BS). Apusan darah tebal malaria diperiksa di Puslitbang Biomedis dan Farmasi secara blinded untuk keperluan validasi hasil RDT. Kuesioner yang digunakan ada yang khusus untuk responden Rumah Tangga (RT) untuk faktor pendukung (promosi/pengetahuan tempat pelayanankesehatan dan pemeriksaan darah malaria. Data Riskesdas malaria dikumpulkan dengan dua cara yaitu wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas. dan pengobatan tradisional atau dengan tanaman obat). prevensi. dan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT). Riskesdas pertama dilaksanakan pada tahun 2007. semua responden harus menandatangani informed consent.4 persen. Data Riskesdas selain dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pencapain target MDGs. tetapi juga dapat sebagai data dasar dan bahan evaluasi untuk pencapaian eliminasi malaria di Indonesia. Dari data Riskesdas 2010 dapat ditentukan Angka Kesakitan Malaria (Annual Parasite Incidence/API 2009-2010 dan Prevalensi malaria). faktor pendukung lainnya (promosi.8 persen (Gambar. dan Riskesdas ke 2 tahun 2010 dirancang khusus sebagai bahan evaluasi pencapaian MDGs. Semua anggota Rumah Tangga diperiksa darahnya dengan RDT (Entebe®) dan apabila disertai dengan riwayat demam dalam 48 jam terakhir juga dilakukan pemeriksaan malaria apusan darah tebal dengan pewarnaan Giemsa. tempat pemeriksaan/penentuan diagnosis malaria. sedangkan sampel untuk pemeriksaan darah malaria adalah sebanyak 823 BS yang merupakan sub sampel dari sampel Kesmas. Sebelum dilakukan wawancara dan pemeriksaan darah malaria. Angka kesakitan malaria Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 2.

6. Riskesdas 2010 2. API.%) terinfeksi malaria hanya satu kali dalam satu tahun terakhir.8 2.1.4% (Papua). Sedangkan hasil API Riskesdas 2010 adalah API Nasional (24 permil) dan dikumpulkan dari masyarakat yang dapat merupakan data dari fasilitas pelayanan pemerintah dan sektor swasta.2.5 1 0. Sebanyak 20 provinsi dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional (Tabel. Hal ini disebabkan karena dimasa lalu hanya Jawa-Bali yang sudah dapat mengkonfirmasi kasus malaria dengan pemeriksaan apusan darah malaria.1.Gambar. sedangkan yang dua kali adalah 39.16 permil) (Bappenas.4 API pada tahun 1990 dan 2007 hanya merupakan API Jawa-Bali yang berasal dari fasilitas pelayanan pemerintah.5 2 1.1 persen.2).6. 78 . 2009)8. Jadi tidak mengherankan API Jawa-Bali dari Riskesdas 2010 (8 permil) lebih besar dari pada API tahun 1990 (0.2.8 persen dan yang tiga atau lebih adalah 10.3% (Bali) dan 31. Pada umumnya (50.17 permil) dan 2007 (0. Rentang API Nasional adalah antara 0.5 0 Jawa-Bali Nasional 0.

6 5.0 2.2.6 1.7 6.3 25.4 0.4 1.6 5.8 0.7 0.6 10.3 4.2 API malaria menurut provinsi.0 2.8 6.3 2.Tabel 6.5 31.0 1.9 3.8 5.7 2.7 0.4 79 .2 1.4 3.9 1.8 2.2 4.1 0.2 4.7 2.6 7.7 2.0 0.6 9.7 10. Riskesdas 2010 NO NAMA PROVINSI 1 NAD 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 8 Lampung 9 Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 22 Kalimantan Selatan 23 Kalimantan Timur 24 Sulawesi Utara 25 Sulawesi Tengah 26 Sulawesi Selatan 27 Sulawesi Tenggara 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Jawa-Bali Indonesia API (%) 2.

dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 4-5 (2. responden laki-laki (2.0 2. responden dengan pendidikan tidak tamat SD (2.2 2. responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (3.4 2.7 2. 2.6%).4 1.44 45 .9%).2 2. API lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-54 tahun.9 2.2 2.0 2.7%.6 2.6 2.24 25 . responden yang tinggal di perdesaan (2. Riskesdas 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .9 3.2 2.4 2.0%).9 2.5 2.5 2.2 2.5 2.0 2.3 2.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 API (%) 1.2 2.9%).2 1.0 2.14 25 .34 35 .3 1.3 2.9 Pada Riskesdas 2010.3 API (%) Menurut Karakteristik Responden.54 55 .9 2.8 1.2.Tabel 6.64 65 .3 2.9%) 80 .5 2.

dapat berhubungan dengan pekerjaan.(Tabel 6. Prevalensi malaria Indonesia dalam satu bulan terakhir (Period Prevalence) pada Riskesdas 2010 adalah 10.3).6%) berdasarkan hasil wawancara (Gambar 6. Jadi Period Prevalence Nasional 2010 (10. Gejala klinis malaria sangat beragam dan tidak spesifik dari asimptomatik sampai dengan gejala klinis berat. Gejala klinis ini termasuk kasus asimptomatik atau tanpa demam tetapi minum obat anti malaria (0.2.7 persen.6 4 2 0.2. Hasil ini tidak mengherankan karena malaria menyerang semua umur. Riskesdas 2010 10 8 6 9.6%).3). 81 . Keadaan ini dapat disebabkan akses dan kemampuan kelompok dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah untuk melakukan pemeriksaan darah malaria terbatas. Hal yang menarik adalah pada kelompok kuintil 4 dan 5 ternyata API nya > dari API nasional.2.2. Gambar 6.2%).2). Oleh sebab itu penentuan kesakitan atau diagnosis malaria yang benar dan akurat adalah harus melalui konfirmasi pemeriksaan baku emas apusan darah malaria atau deteksi antigen antara lain dengan RDT.7%) yang lebih tinggi dibandingkan dengan Period Prevalence Riskesdas 2007 (2.2.6 persen pada Riskesdas 2010. Angka ini didapatkan dari kasus kesakitan yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria (0.6 0. dan gejala klinis (10.39 pada Riskesdas 2007 menjadi 0. Period Prevalence (%).85%) dipengaruhi oleh prevalensi yang berdasarkan gejala klinis. terjadi penurunan dari 1.6 0 Konfirmasi lab Gejala klinis Asimptomatik Bila dibandingkan dengan angka Prevalensi dalam satu bulan terakhir yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria. dan pada umumnya di daerah terpencil atau pedesaan serta ekonomi rendah (Tabel 6.

Riskesdas 2007 dan 2010 12 10 8 10. Period prevalence terendah adalah di provinsi Yoyakarta dan Bali (4. 6.4.0.9% . responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (13.0. pendidikan rendah (tidak tamat SD) (0. sedangkan yang diagnosisnya diketahui berdasarkan konfirmasi pemeriksaan darah adalah kelompok kuintil 4-5 seperti pada API.6) 82 .8%).7% .6 2.6). Prevalensi Malaria.2.85 2007 2010 Sekitar 64 persen (21 provinsi) mempunyai angka Period Prevalence lebih besar atau sama dengan Period Prevalence Nasional. Seperti halnya temuan pada karakteristik API.Gambar 6. responden laki-laki (10.2%) (Tabel 6.2. pekerjaan anak sekolah dan petani/ nelayan/ buruh (0.2.8%). Period Prevalence yang dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah dan Point Prevalence juga lebih tinggi pada kelompok umur 1-34 tahun (0.7 6 4 2 0 D DG 1. (Tabel 6. dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 1-3 (10.8%). Karakteristik ini tidak berbeda dengan karakteristik pada responden API kecuali pada kelompok tingkat pengeluaran perkapita yaitu kasus malaria lebih banyak ditemukan pada kelompok kuintil 1-3.).7%).2. Angka Prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria ternyata sama dengan angka Prevalensi malaria yang didapat dari hasil pemeriksaan dengan RDT pada saat dilakukan Riskesdas 2010 (Point Prevalence) yaitu 0.2.2%).6%).39 0. responden yang tinggal di perdesaan (13%).0%). di perdesaan (0.6% (Tabel 6.0% – 12. responden dengan pendidikan rendah/ tidak tamat SMP (12.7% .3. Hal ini menunjukkan konsistensi temuan antara hasil wawancara dengan pemeriksaan RDT.11.12.9% . Pada Riskesdas 2010.8%).7%) (Tabel.5). periode prevalence lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-64 tahun (10.7%) dan pada kuintil 1 dan 3 (0.6%) dan tertinggi di Papua Barat (33.

31 1.7 Indonesia 83 .5 9.3 16.07 0.02 6.65 2.55 0.6 2010 DG (%) 12.9 33.18 0.5 9.86 2.6 29.14 18.51 0.41 2.09 1.88 0.10 2.16 2.6 20.1 0.6 13.86 1.4 9.0 0.8 2.1 0.5 0.63 7.5 8.1 0.0 12.0 15.4 Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Provinsi.9 0.7 19.1 0.06 7.87 3.04 3.41 1.32 0.7 0.3 10.85 D (%) 0.32 0.08 0.1 0.8 1.23 26.79 0.73 1.3 12.3 22.30 0.67 2.7 0.27 5.2 0.22 5.4 0.07 0.58 0.37 1.51 0.5 1.88 0.2 11.7 7.1 1.2 14.05 0.14 1.9 9.87 2. Riskesdas 2007 dan 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nama Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D (%) 1.6 14.45 2.0 9.39 2007 DG (%) 3.3 6.41 0.3 0.7 4.42 7.5 18.89 1.0 0.6 7.4 10.5 1.4 0.3 4.9 1.09 1.75 12.1 0.1 0.03 3.06 0.9 1.1 28.23 1.10 0.66 2.41 0.37 2.85 1.12 7.31 15.3 3.5 1.65 12.81 0.4 0.01 4.42 0.36 1.1 10.6 0.07 0.Tabel 6.82 1.31 3.2 10.26 3.73 1.8 12.2 28.4 1.09 0.7 4.4 0.6 11.2.0 11.6 7.32 0.

05 2.26 0.14 15 .57 1.83 1.37 1.7 11.7 0.53 1.49 2.70 2.5 8.9 9.64 2.7 8.62 3.22 1.0 10.31 1.9 0.2.0 1.5 0.5 0.66 1.5 0.38 1.8 13.34 35 .12 2.7 11.6 12.0 11.7 8.4 0.6 0.4 0.2 9.7 0.24 25 .7 10.90 2.41 1.9 5.3 0.2 12.14 1.20 3.7 0.95 4.9 7.42 1.88 1.6 0.75 1.7 0.04 2.44 45 .08 1.19 1.2 0.57 1.0 12.72 2.4 0.6 9.4 10.05 2.83 3.69 2.9 10. Riskesdas 2007 dan 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .5 0.54 55 .46 3.74 2010 D (%) DG (%) 0.83 2.7 0.09 3.37 1.5 6.19 1.0 12.5 Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Karakteristik Responden.5 13.64 65 .55 1.0 10.05 1.42 1.10 1.4 0.38 1.8 10.6 0.0 11.4 0.31 1.7 0.9 10.4 0.2 84 .35 3.08 11.6 9.14 1.69 3.6 0.8 0.48 1.66 2.43 1.2 10.5 0.52 0.5 0.Tabel 6.6 0.97 2.36 1.50 1.02 2.85 1.54 3.13 2.8 0.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Pedesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 2007 D (%) DG (%) 0.5 0.8 11.59 1.35 1.75 3.83 2.4 10.1 10.

6 85 .6 0.24 25 .TABEL 6.4 0.7 0.7 0.8 0.3 0.7 0.7 0.7 0.6 0.5 0.3 0.5 0.2.6 0.7 0.6 0.6 0.6 Point Prevalence Menurut Karakteristik Responden.2 0.8 0.64 65 .5 0.7 0.6 0. Riskesdas 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .6 0.7 0.44 45 .74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 NASIONAL Point Prevalence (%) 0.6 0.6 0.5 0.14 25 .34 35 .4 0.6 0.54 55 .8 0.8 0.

6. serta 89.4% yang diminum dengan dosis lengkap. Jadi penderita malaria semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33. 6.6. dihidroartemisin-piperakuin (sejak tahun 2009 dan dimulai di Papua). ACT program diminum dengan dosis tunggal harian selama 3 hari.2. dan hanya 75. Selain ACT.9% (Tabel. Sosialisasi dan pelatihan ACT sangat perlu digalakkan.2. Jadi yang dimaksud dengan pengobatan efektif menurut WHO adalah pengobatan malaria yang diberikan dalam 24 jam pertama demam atau sakit dengan ACT dan obat diminum dengan dosis lengkap.% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. Riskesdas 2010 35 30 25 20 15 10 5 0 Semua kelompok umur Balita 33. sedangkan pada balita hanya 21.4.5. dan ketersediaan ACT perlu dievaluasi untuk mendapat pengobatan yang efektif. pengobatan yang efektif perlu ditunjang diagnosis yang akurat dan cepat terutama pada kelompok berisiko yaitu balita. dan artemeter-lumefantrin yang direkomendasi oleh klinisi (sejak tahun 2009). Pengobatan efektif Obat antimalaria yang direkomendasikan oleh program Malaria adalah dengan menggunakan Artemisinin Combination based Therapy (ACT). 86 .9 Dari hasil wawancara.1%. penggunaan ACT di Indonesia hanya mencapai 49. penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34. 80.6% yang diminum dengan dosis lengkap. ACT yang digunakan oleh program adalah artesunat-amodiakuin (sejak tahun 2004). Khusus pada balita.7).6%. dan 83. Pengobatan Efektif Malaria.% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. Gambar. Pengobatan akan lebih efektif apabila pengobatan diberikan dalam 24 jam menderita demam atau sakit.2.6 21.3%.

Tabel 6.6 83.7 5. Riskesdas 2007 dan 2010 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Balita Semua umur Balita Semua umur 7.6 49. Cakupan Kelambunisasi.1 32.2 32. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12.7 Cakupan Penderita Malaria yang Mendapat Pengobatan Efektif.1 Berinsektisida 16.1%) dan khusus pada balita (dari 38.2.5% pada responden semua kelompok umur.5 Semua kelambu 2007 2010 Dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2007.2% menjadi 32.8).5 89. 6. Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 32.7 26.5% dan dari 7.3 80.5 38.0%.7%.2.1 75.2.0 12. Gambar. Cakupan kelambunisasi Penggunaan kelambu dapat mencegah infeksi malaria melalui gigitan nyamuk.6.7% menjadi 16. cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26. Riskesdas 2010.7%) (Tabel. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010. 87 . jenis kelambu yang direkomendasikan adalah kelambu yang telah diobati atau dipoles dengan insektisida permetrin.5% menjadi 12. terjadi penurunan cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida (dari 32.5. Sedangkan cakupan total kelambunisasi yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita terjadi kenaikan yaitu dari 5. ACT Cakupan (%) ACT dosis lengkap Proporsi (%) Mendapat ACT Mendapat ACT dalam 24 jam Pengobatan 3 hari & diminum habis Semua umur 33.1% menjadi 26.0%.4 3.9 34. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 16.1%.6 Balita 21. Untuk meningkatkan daya proteksi.

Tabel 6.2.8 Cakupan kelambunisasi, Riskesdas 2007 dan 2010 Jenis Kelambu Tahun 2007 Semua umur Balita 32,1 5,5 38,2 7,7 Tahun 2010 Semua Balita umur 26,1 12,5 32.7 16,0

Kelambu dengan dan tanpa insektisida Kelambu dengan insektisida

Penurunan cakupan total kelambunisasi dan khusus pada balita dapat disebabkan karena program lebih mengutamakan kelambu yang diproteksi insektisida sehingga meningkatkan cakupan total kelambu yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita. Walaupun demikian cakupan kelambunisasi protektif dengan insektisida masih perlu ditingkatkan terutama di populasi dengan risiko malaria tinggi atau daerah endemis malaria dan khususnya pada kelompok khusus balita dan ibu hamil. Dari uraian di atas dapat disimpulkan: 1. Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2,4 persen, sedangkan API Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0,8 persen. Demikian pula Period Prevalence malaria pada tahun 2010 (10,7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2,85%). Angka Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point Prevalence (0,6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian. 2. Pengobatan efektif malaria pada balita hanya 21,9 persen. 3. Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7,7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010.

88

6.3. TINGKAT PREVALENSI TUBERKULOSIS Riskesdas 2010 bertujuan untuk memberikan hasil antara lain Angka Prevalensi Nasional TB 2010 dan Proporsi pemanfaatan OAT DOTS oleh penderita TB yang merupakan salah satu komponen untuk memperoleh gambaran pemanfaatan Program Directly Observed Treatment of Short-course (DOTS) di Indonesia. Kedua data ini merupakan bagian dari target nomor 6 pada Millenium Development Goal’s (MDG’s) dan dapat memberikan gambaran mengenai tata laksana TB di Indonesia. Angka Prevalensi Nasional TB pada Riskesdas 2010 diperoleh dengan cara wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana kepada responden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis menderita TB Paru melalui pemeriksaan dahak dan atau foto paru oleh tenaga kesehatan/nakes (dokter/perawat/bidan) untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB berdasarkan diagnosis (D). Kepada responden juga ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah menderita batuk berdahak = 2 minggu disertai satu atau lebih gejala: dahak bercampur darah/ batuk berdarah, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, dan demam > 1 bulan untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB berdasarkan gejala (G). Definisi operasional untuk Prevalensi TB menurut WHO adalah Angka penderita TB Paru positif pada 100.000 populasi berusia 15 tahun atau lebih. Sementara definisi operasional untuk TB Paru positif menurut International Standard for TB Care (ISTC) yang telah diadopsi oleh Indonesia mulai tahun 2006 adalah suspek TB yang telah positif diuji secara mikroskopis BTA (Bakteri Tahan Asam) apusan dahaknya dengan minimal pembacaan terhadap apusan dahak yang dikumpulkan dua kali atau lebih baik tiga kali (sewaktu, pagi, sewaktu) dan paling sedikit satu kali (pagi). Pada Riskesdas 2010 berdasarkan diagnosis nakes (D) adalah sebesar 0,7 persen sementara berdasarkan gejala (G) adalah sebesar 2,7 persen. Angka Prevalensi Nasional TB hasil gabungan D dan G (DG) menjadi 3,3 persen. Bila mengacu pada definisi operasional WHO dan ISTC maka data prevalensi yang mendekati kenyataan adalah data yang berasal dari diagnosis nakes (D), yaitu sebesar 0,7 persen. Prevalensi Nasional TB (D) cenderung meningkat sesuai dengan bertambahnya usia dimana angka tertinggi berada pada kelompok usia 55-64 tahun (1,3%) dan terendah pada kelompok usia 15-24 (0,3%). Prevalensi penderita laki-laki adalah 0,8 persen dan perempuan 0,6 persen dengan prevalensi penderita yang berada di kota sama dengan di desa sebesar 0,7 persen, serta juga menunjukkan kecenderungan menurun dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan dimana prevalensi paling rendah terdapat pada tingkat pendidikan tamat SMA (Tabel 6.3.1). Prevalensi TB tertinggi berdasarkan jenis pekerjaan ditemukan pada kelompok pekerjaan Petani, Nelayan dan Buruh sebesar 0,9 persen dan terendah pada kelompok Sekolah dan POLRI/TNI/Pegawai sebesar 0,4 persen. Berdasarkan tingkat pengeluaran perkapita prevalensi TB yang berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan didapati prevalensi terendah pada kuintil 5 (0,6%) dan tertinggi pada kuintil 3 dan 4

89

(0,8%). Sedangkan angka prevalensi TB berdasarkan diagnosa dan gejala (DG) didapati prevalensi tertinggi pada kuintil 1(3,5%) dan terendah pada kuintil 5 (3,9%) (Tabel 6.3.1). Tabel 6.3.1 Prevalensi TBC menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Prevalensi 2007(%) D DG Prevalensi 2010 (%) D DG

Kelompok umur (tahun) 15-24 0,21 0,60 0,3 2,6 25-34 0,32 0,83 0,6 2,8 35-44 0,44 1,10 0,7 3,1 45-44 0,59 1,45 0,9 3,7 55-64 0,70 1,91 1,3 4,7 65-74 1,08 2,62 1,2 4,7 >74 1,10 2,75 1,1 5,1 Jenis kelamin Laki-laki 0,44 1,08 0,8 3,1 Perempuan 0,35 0,90 0,6 2,4 Tipe Daerah Perkotaan 0,36 0,77 0,7 3,1 Perdesaan 0,42 1,12 0,7 2,4 Pendidikan Tidak pernah sekolah 0,88 2,42 1,1 4,9 Tidak tamat SD/MI 0,53 1,46 1,0 4,7 Tamat SD/MI 0,39 1,02 0,9 3,7 Tamat SLTP/MTS 0,31 0,73 0,6 2,7 Tamat SLTA/MA 0,29 0,62 0,5 2,3 Tamat PT 0,27 0,60 0,6 1,8 Pekerjaan Tidak bekerja 0,62 1,40 0,8 3,2 Sekolah 0,18 0,49 0,4 2,5 TNI/ Polri/Pegawai 0,27 0,56 0,4 2,1 Wiraswata/ Layan Jasa/ Dagang 0,42 0,89 0,7 2,8 Petani/Nelayan/Buruh 0,55 1,60 0,9 4,2 Lainnya 0,49 1,17 0,7 3,1 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0,40 1,07 0,7 3,5 Kuintil 2 0,43 1,07 0,7 3,4 Kuintil 3 0,42 1,01 0,8 3,4 Kuintil 4 0,38 0,94 0,8 3,1 Kuintil 5 0,34 0,82 0,6 2,9 Data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2007 tidak dapat dibandingkan dengan data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2010. Hal ini disebabkan karena penentuan sampel BS pada Riskesdas 2007 berbeda dengan Riskesdas 2010 serta pertanyaan mencakup data diagnosa dan gejala pada kuisioner terstruktur juga berbeda. Menjadi catatan bahwa dengan ruang lingkup pertanyaan yang lebih rinci pada Riskesdas 2010 angka Prevalensi Nasional TB menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

90

Tuberkulosis Paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 0. Data ini diperoleh berdasarkan hasil laporan dari fasilitas kesehatan yang tergabung dalam program DOTS di seluruh Indonesia.104%).1% terhadap suspek) dan hasil Riskesdas 2010 (0. DIY dan Bali (0.000 penduduk/tahun (0. Metode active case 91 .1 di bawah ini. Lampung.000 penduduk (0. Data prevalensi sebelumnya yang menggunakan uji konfirmasi laboratorium adalah data Prevalensi Nasional hasil Survey Prevalensi TB pada tahun 2004 yang memberikan angka prevalensi Nasional TB berdasarkan pemeriksaan mikroskopis BTA terhadap suspek adalah sebesar 104 kasus/ 100.3%) serta angka terendah terdapat di Provinsi Sumatera Selatan. Grafik 6. diikuti oleh Provinsi Sulawesi Utara (1.3.3%).7 persen.7% pada populasi) dapat hendaknya menjadi perhatian yang serius bagi Program TB di Indonesia.275%) dan pada tahun 2010 turun menjadi 244 kasus/100.3. yaitu tertinggi di Provinsi Papua (1. hal ini dapat dilihat pada grafik 6.3%) dan Banten (1.3. Data WHO Global Report yang dicantumkan pada Laporan Triwulan Sub Direktorat Penyakit TB dari Direktorat Jenderal P2&PL tahun 2010 menyebutkan estimasi kasus baru TB di Indonesia tahun 2006 adalah 275 kasus/100. Kecendrungan meningkatnya angka Prevalensi Nasional TB bila dibandingkan antara hasil Survei Prevalensi TB 2004 (0.000 penduduk/tahun (0. Meskipun terjadi peningkatan Case Detection Rate dan Cure Rate yang tinggi setiap tahunnya tetapi percepatan penyebaran penyakit di masyarakat masih lebih tinggi.2 di bawah ini.1 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2010 Perbedaan Angka Prevalensi TB pada Riskesdas 2007 dan 2010 dapat dilihat pada tabel 6.244%).5%). Beberapa provinsi memiliki prevalensi di atas angka nasional.

5 0.6 3.02 0.0 4.3 4.03 1.18 0.3 4.03 1.89 0.47 0.5 7.4 0.47 2.5 0.36 1.0 0.4 2.69 1.31 0.22 1.9 5.7 1.34 0.25 0.9 0.83 1.3 0.8 0.4 4.7 DG 3.6 0.8 0.54 2.00 0.21 0.9 3.73 0.05 0.4 5.6 3.38 0. Tabel 6.34 0.6 1.finding terhadap populasi usia 15 tahun ke atas yang diterapkan pada Riskesdas 2010 memberikan kenyataan tentang hal ini dimana kasus TBC di masyarakat masih sangat tinggi.4 2.4 1.15 0.24 0.1 1.4 5.6 2.43 0.7 7.3 0.8 2.47 1.3.7 0.5 0.24 1.8 5.58 0.47 0.7 0.2 3.2 2.56 0.33 0.43 0.62 1.45 0.00 1.31 0.31 0.3 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92 .55 1.1 3.3 0.36 0.4 DG 1.2 0.6 4.02 1.6 0.42 0.40 0.13 0.23 0.58 1.3 0.7 5.0 4.11 0.8 1.99 Prevalensi 2010 (%) D 0.2 2.7 2.6 0.26 0.82 0.4 1.71 0.75 0.19 1.3 0.0 3.07 2.12 0.7 4.38 0.86 0.6 3.29 0.0 0.6 0.2 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2007 dan 2010 PROVINSI Prevalensi 2007(%) D 0.7 0.4 2.9 0.6 0.01 0.37 0.48 1.40 0.4 0.98 1.1 3.73 0.63 0.49 0.4 1.5 7.6 3.3 0.53 1.9 0.23 0.11 0.

1 0. Pada Riskedas 2010. jenis obat yang digunakan adalah Kombipak/FDC (Fixed Doses Combination) atau non Kombipak/FDC?”.25 0. OAT Kombipak untuk program TB jangka pendek selama 2 bulan adalah Isoniazid (H). Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. Persentase Pemanfaatan Program DOTS diperoleh dari data diagnosis oleh nakes (D) yang digabungkan dengan data pemanfaatan OAT DOTS (Kombipak atau Fixed 93 . Pirazinamid dan Etambutol. Rifampisin.275 0. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat.15 0. Proporsi jumlah penderita TB yang memanfaatkan OAT DOTS diperoleh dari wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana pada responden yang telah didiagnosis TB oleh nakes dalam 12 bulan terakhir ditanyakan “apakah jika berobat. dan Ethambutol (E).2 0.3 0. Rifampisin (R). 3 obat yaitu INH. kecepataan diagnosis (diagnosis dini) dan terapi pengobatan yang dilakukan.2 Data Prevalensi Nasional TB Indonesia dalam persen 0. termasuk pengawasan langsung pengobatan serta Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu diikuti Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Kombipak III untuk fase lanjutan. terutama penemuan kasus.104 0.11 Definisi operasional untuk OAT Fixed dose combination terbagi atas 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. Rifampisin.05 0 2004 2006 2010 0. Pirazinamid (Z). Pemberian INH dan Etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yang keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut. Streptomisin (S). pirazinamid.3.244 Indonesia telah mengadopsi program DOTS dari tahun 1994 dimana terdapat lima komponen dan strategi utama DOTS yang direkomendasikan untuk penanggulangan TB yaitu: Komitmen politik.Grafik 6. Pemberian OAT adalah berdasarkan Berat Badan. Penurunan prevalensi TB sangat tergantung pada implementasi program DOTS di lapangan. Definisi operasional untuk obat Kombipak terdiri atas: Kombipak I dan Kombipak II untuk fase awal. Kombipak IV untuk fase sisipan. dan 4 obat yaitu INH. Fase lanjutan adalah INH dan Rifampicin yang diberikan selama 4 bulan.

Prevalensi tertinggi pada kelompok umur 45-54 tahun (0. dan Sumatera Selatan (0.5%) dan terendah Provinsi Lampung.6 persen.3%). Hasil Riskesdas 2010 untuk Persentase Pemanfaatan OAT DOTS adalah sebesar 83.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen. Keterlibatan institusi lainnya dalam penanggulangan TB sampai dengan 2009 adalah 13 persen pada Lapas/Rutan.3. Bali.5 persen. Data ini ini sejalan dengan informasi yang diberikan Subdit TB P2&PL tentang meningkatnya keterlibatan rumah sakit dalam program TB DOTS. dan buruh sebesar 0.2 persen.8 83. Berdasarkan pekerjaan prevalensi tertinggi dapat ditemukan pada kelompok dengan pekerjaan pertani.9 persen dan terendah pada kelompok yang sedang sekolah dan kelompok 94 .1 Proporsi Kasus TB Yang Diobati OAT Program DOTS pada Riskesdas 2010 26. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0.7 persen dimana terjadi peningkatan Angka Prevalensi dibandingkan dengan Riskesdas 2007 (0.8 persen dan pada perempuan 0.3). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa.25 persen (91% keberhasilan OAT DOTS terhadap 72.Dose Combination) pada responden TB dalam 12 bulan terakhir. Berdasarkan pendidikan prevalensi tertinggi pada kelompok yang tidak pernah sekolah sebesar 1. DIY.4%). Berdasarkan jenis kelamin prevalensi pada laki-laki sebesar 0. 10 persen pada TB di tempat kerja dan pada RS Angkatan Darat sebanyak 35 persen yang dilibatkan melaksanakan penanggulangan TB menggunakan strategi DOTS.1 persen dan terendah pada kelompok tamat SMA sebesar 0.2 OBAT DOTS NON DOTS Hasil ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66. nelayan. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua Barat (1. termasuk pemberian dukungan dan pelaksanaan Standar Internasional untuk Pelayanan TB (ISTC = International Standard for Tuberculosis Care) yang semakin ditingkatkan dari tahun ke tahun dengan memperkuat jejaring eksternal dan internal. Grafik 6.9%) sedangkan terendah pada kelompok umur 15-24 tahun (0.

Angka ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66.8%) dan terendah pada kuintil 5 (0.4 persen.2 persen.6%). Persentase pemanfaatan OAT DOTS hasil Riskesdas 2010 adalah sebesar 83.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen 95 .dengan pekerjaan TNI/Polri/Pegawai sebesar 0. Sedangkan berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita prevalensi TB tertinggi ditemui pada kuintil 3 dan 4 (0.25 persen (91% keberhasilan OAT DOTS terhadap 72.

Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung. nonperpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung disajikan dalam tabel 7. Indikator ini terdiri dari 3 jenis. a. yaitu proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap sumber air minum yang terlindungi dan berkelanjutan dan proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak.Goal 7 – MDG Air Minum dan Sanitasi layak Target Menurunkan hingga separuhnya penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi dasar pada 2015 Indikator yang dipantau: 1.5. dan air sungai. Dalam memantau akses air minum dapat digunakan 3 pendekatan. air isi ulang dan lainnya. non perpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung.1 dan tabel 7. mata air terlindung. Air perpipaan terlindung bersumber dari air leding. mata air tidak terlindung. AKSES AIR MINUM Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 10 (menurunkan separuh proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015) terdapat 2 indikator pemantau pencapaian target. air perpipaan terlindung. 96 . Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak 2. sumur gali terlindung. air non-perpipaan terlindung berasal dari air kemasan. akses terhadap air perpipaan digunakan sebagai salah satu indikator akses terhadap air minum. dan air hujan. sumur pompa.2. akses terhadap sumber air minum terlindung. Akses terhadap air perpipaan Dalam laporan MDGs 2007 dan 2009. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi dasar 1. dan akses terhadap penyediaan air minum. yaitu akses terhadap air perpipaan. Sedangkan sumber air tidak terlindung yaitu sumur tidak terlindung.

sumur gali terlindung.22 34.72 18. Riskesdas 2010 Provinsi NonNon Perpipaan Perpipaan Perpipaan Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung** 48.45 43.87 48.69 47.02 57.03 43.09 21.85 51.97 0.55 24.06 39.64 5.79 37.24 40.89 9.11 40.50 17.01 65.14 56. Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut provinsi.76 47.61 27.26 63.59 15.78 38.64 25.40 50.02 29.81 36.54 39.19 54.18 29.58 51. mata air terlindung.17 16.27 8.20 38.41 61.61 33.28 18.96 44.04 15.75 33.58 14.19 44.64 40.98 42.34 19.69 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Keterangan: * Air ledeng ** Sumur pompa.22 43.30 41.15 44.48 13.75 42.15 37.96 8.00 47.85 12.23 11.59 17.60 18.77 63.29 52.93 74.39 57.81 25.65 29.03 15.35 51.05 40.44 2.66 20.65 32.96 27.25 29.50 27.Tabel 7.72 45.79 38.43 17.00 27.10 21.28 14.43 15.47 8.89 33.74 18.09 37.19 61.95 7.14 16.41 66.99 21.41 16.16 18.1.53 37.22 59.21 35.90 5.16 34. air kemasan 97 .16 66.51 45. air hujan.39 21.43 27.

maka secara nasional terdapat 72.30 27.47 52. Bila dibandingkan data tahun 2009. angka tersebut mengalami sedikit peningkatan seperti terlihat dalam gambar berikut.83 persen yang akses terhadap terhadap pelayanan air minum layak.15 27.79 57.69 persen. tertinggi di Provinsi Gorontalo (66. sumur gali terlindung.93 25. Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga.91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44.38 15. 98 .75 59.63 24.86 11.14 persen. mata air terlindung.89 60.75 17.50%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29.55 20. Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan.72 53.74%).Tabel 7.85%). air hujan. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84.2.75%).49 30.79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0.10 12.28 16.76 51.25 28.98 18. Riskesdas 2010 Non Perpipaan Perpipaan Non-Perpipaan Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung** Daerah Perkotaan Perdesaan Pengeluaran Quintil-1 Quintil-2 Quintil-3 Quintil-4 Quintil-5 26.99 59.99 Keterangan: * Air ledeng ** Sumur pompa. Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56. air kemasan Dari tabel di atas menunjukkan proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16.

4. 99 . Tujuan Pembangunan Milenium mutlak dicapai 2015. pompa. Proporsi Penduduk dengan Akses Air Minum Layak (Penduduk dengan Akses Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Non-Perpipaan Terlindungi).1. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi. tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel tabel 7. Sumber air terlindung tidak termasuk air kemasan. Akses terhadap air terlindung dan berkelanjutan (layak) Sesuai dengan Buku Saku MDGs.27%. 1992-2010 (%). 72. yang dijual melalui tangki/air isi ulang. air hujan.3 dan tabel 7.Gambar 7.73 56.14 b. air minum terlindung adalah air leding.69 16. Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) 45. air sumur dan mata air tidak terlindung. sumur terlindung dan mata air terlindung yang jaraknya lebih dari 10 meter dari tempat penampungan kotoran/tinja.

68 67.95 51.14 53.08 28.3.04 47.47 62.53 37.90 52.Tabel 7.32 32.05 48.10 47.61 60.02 60.24 49.83 46.76 50.63 45.95 51.69 39.57 51.63 51.87 48.31 60.30 30.25 55.17 53.95 53. air hujan.01 56.74 39.35 24.08 43.10 36.26 60. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi.75 44.98 39.58 46.05 46.86 46.49 54.90 63.65 75.39 43.88 28. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Layak 68.92 56.05 48.87 74.61 56.39 39.70 69.51 45.79 35.43 48.37 54. pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m dari penampungan kotoran.88 34.37 48.40 61.21 64. tidak termasuk air kemasan dan isi ulang 100 .27 *) Air ledeng.13 25.99 43.12 71.73 Layak*) 31.12 65.42 53.96 52.92 71.13 51.60 38.

tidak termasuk air kemasan dan isi ulang Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung paling tinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (75. pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m dari penampungan kotoran. dan penampungan air hujan. dikatakan akses terhadap penyediaan air bila minimal menggunakan air 20 liter per orang per hari. sumur bor. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung menurut provinsi. Sumber air ’improved’ tidak termasuk air yang dijual keliling. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tidak Layak 58.13%). Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung adalah 53.13 48. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan ada kecenderungan semakin tinggi kuintil pengeluaran rumahtangga semakin rendah proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum yang layak.20 Layak*) 41.64 49.16 54.14 48.98%).68 64. akses terhadap sumber air minum yang layak di perkotaan lebih rendah (41. dan sarana air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah.Tabel 7.80 persen.98 47.87 51. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan menurut karakteristik rumahtangga.32 35. berasal dari sumber air ’improved’. kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel 7. kran umum.80 *) Air ledeng.4. air kemasan/botol.47%) dan terendah di Provinsi Nangroe DKI Jakarta (25. mata air terlindung.86 51. c.02 52. air hujan. Menurut tempat tinggal.64%) dibandingkan dengan di perdesaan (49. sumur gali terlindung. Yang termasuk sumber air ’improved’ adalah sambungan kran air dalam rumah.36 50. dan air yang dijual melalui truk.84 45.5 dan tabel 7. 101 .6. Akses terhadap pelayanan air minum Menurut Joint Monitoring Programm WHO-Unicef (JMP WHO/Unicef).

87 55.87 29.13 57.Tabel 7.11 47.81 41.82 42.22 52. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut provinsi.31 45.89 52.14 48.23 46.60 41.55 27.53 61.52 55. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Akses 58.19 43.67 46.59 49.37 66.48 44.69 54.61 64.75 30.30 40.93 68.47 69.87 42.83 59.78 42.79 53.80 *) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari.49 54.02 58.25 69.13 70.5.98 41.06 47.17 40.78 47.81 56.39 35.21 46.47 38.20 Akses*) 41.41 50.53 30.22 57.07 31.51 44. berasal dari sumber air ‘improved’ dalam radius 1 km. 102 .13 44.69 49.99 58.94 52.70 59.51 60.01 41.45 72.49 39.18 57.51 45.49 55.77 53.63 33.19 58.33 53.86 51.31 50.40 58.

6. dari 57.26 55.93 *) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari.63 58. sedangkan pada Susenas masih digabung (Tangki septik/SPAL). 2.62%) dibandingkan dengan di perkotaan (52. Hasil Riskesdas 2010 proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak disajikan dalam tabel 7. kloset jenis leher angsa dan pembuangan akhir tinjanya ke tangki septik atau SPAL.25%) dan terendah di Provinsi DKI Jakarta (27. jenis kloset dan sarana pembuangan akhir tinja. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga tidak menunjukkan pola yang jelas. berasal dari sumber air ‘improved’ dalam radius 1 km.38 47.70 persen pada tahun 2007 menjadi 53. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Pengeluaran Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Akses Kurang 47.7 dan tabel 7.80 persen pada tahun 2010. Akses terhadap penyediaan air dengan memperhatikan volume pemakaian dan jarak rumah ke sumber air ini mengalami penurunan bila dibandingkan hasil Riskesdas 2007. AKSES TERHADAP SANITASI LAYAK Dalam memantau akses terhadap fasilitas sanitasi layak digunakan indikator penggunaan sarana pembuangan kotoran (jamban) yang meliputi pemilikan. Menurut kualifikasi daerah. Dikatakan layak apabila sarana tersebut milik sendiri atau bersama.37 41.62 52.74 44.87%). Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut karakteristik rumahtangga. Dalam Riskesdas 2010. 103 .10 55.25 40.51 59.90 44. akses terhadap sumber air terlindung sedikit lebih tinggi di perdesaan (55. pilihan jawaban pembuangan akhir tinja dipisah antara tangki septik dan SPAL.75 59.10%).07 Akses Baik 52. Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung menurut JMP WHO/Unicef paling tinggi adalah Provinsi Jawa Tengah (70.Tabel 7.49 40.8.

28 44.30 61.43 39.91 65.99 50.72 55. kloset jenis leher angsa.49 64.01 49.7.57 60.49 57.00 46.51 35. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Layak 47.63 41.37 64.77 41.90 50. Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut provinsi.35 42.38 50. pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL.09 34.82 45. 104 .63 35.37 59.89 79.83 54.58 50.68 64.00 53.09 47.11 31.10 49.40 57.89 42.Tabel 7.11 20.11 57.91 52.32 35.71 53.47 53.18 54.53 47.13 74.62 44.53 *) Penggunaan sendiri dan bersama.79 28.89 68.28 33.72 66.65 57.88 82.12 17.23 58.21 71.70 38.56 51.47 Layak*) 52.00 54.29 46.62 49.51 42.38 55.87 25.00 45.17 45.60 42.44 48.18 54.82 45.42 49.

3.10.45 38. batang padi. Menurut kualifikasi daerah. kloset jenis leher angsa. paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82.42 77.58 64. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Tidak Layak Layak Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 28. semakin tinggi penghasilan semakin tinggi pula yang akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak.8. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga.42 33. Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga.79 53.53 persen.55 32.35%). pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL.Tabel 7.45%) dibandingkan dengan di perdesaan (38. batok kelapa dan lain-lain.52 55. arang.96 *) Penggunaan sendiri dan bersama.55%). Dari tabel di atas tampak bahwa akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55. Yang dimaksud dengan bahan bakar padat adalah kayu bakar.58 22.55 61. Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat disajikan dalam tabel 7. Indikator yang dikumpulkan dalam Riskesdas 2010 ini berkaitan dengan kesehatan. Penggunaan bahan bakar memasak Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 9 (memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang) terdapat 6 indikator untuk memantau pencapaian target. 1 diantaranya adalah proporsi penduduk atau rumahtangga menggunakan bahan bakar padat untuk memasak. tandan kelapa.21 46. sekam. 105 . batu bara. akses terhadap fasilitas sanitasi layak di perkotaan hampir dua kali lipat (71.04 71.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25. yaitu terjadinya polusi dalam ruangan (indoors air pollution) yang dapat menyebabkan penyakit saluran pernafasan.45 67.9 dan tabel 7.48 44.

86 47.23 52.77 47.92 32.21 60.96 39.98 30.08 54.23 0.58 59.72 75.60 28.15 56.91 52.01 72.Tabel 7.40 88.60 11.79 39.77 99.26 54.58 51.63 76.29 65.14 52.31 47.98 57.17 50.41 36.99 72. kayu bakar dll 37. Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut provinsi.24 36. gas dan minyak tanah 62.41 23.74 30.71 34.09 47.04 60.09 51.74 45.76 63.40 71.59 76.06 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 106 .85 43.28 24.42 40.9.92 45.75 52.52 40.02 42.71 51.94 Arang.08 67.42 48.83 49.48 59.29 48.01 58.02 69.37 23.59 63.91 48.99 41.40 40.69 52.99 27.25 47.26 69.01 27.60 59. Riskesdas 2010 Listrik.

Menurut tempat tinggal. penggunaan bahan bakar padat di perkotaan hampir 4 kali lipat (64.726 Arang.20 24.27 Dari tabel di atas menunjukkan terdapat 40. kayu bakar dll 17.150 87.58%) dan terendah di Provinsi DKI Jakata (0.648 60.06% rumahtangga yang masih menggunakan bahan bakar padat untuk memasak. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan semakin tinggi penghasilan rumahtangga semakin sedikit yang menggunakan bahan bakar padat untuk memasak.31%).33%) dari perdesaan (17. Secara nasional penggunaan bahan bakar padat ini mengalami penurunan cukup besar dibanding data tahun 2007 sebesar 53.31 64.9%.85 12. Riskesdas 2010 Karakteristik rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran RT Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-2 Kuintil-2 Kuintil-2 Listrik.723 47. Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut tempat tinggal dan pengeluaran rumahtangga.69 35. 107 .802 75. tertinggi di Provinsi NTT (76.Tabel 7.10.60%).33 70.35 39.67 29.28 52. gas dan minyak tanah 82.

Jenis alat/cara KB yang dominan adalah suntikan. Angka K1 dan K4 ini nampak menurun jika dibanding tahun 2007 ( SDKI). Proporsi pengguna KB pada perempuan pernah kawin menurun (53. Umumnya pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52.6%).7%). Masih ditemukan 19 persen perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB dan 27.9%).2 persen pemeriksaan masih dilakukan oleh dukun.6%) dan terendah di Kalimantan Selatan (8. Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS (75. tertinggi di Papua Barat (27.4 persen.7%) Sedangkan prevalensi dengan pengetahuan komprehensif sebesar 18.1 persen di Polindes/Poskesdes. Proporsi penolong persalinan oleh tenaga kesehatan (82. dan terendah di Bengkulu (23.9%) dibandingkan angka SDKI 2007 (57.1%). Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan masih rendah di provinsi Maluku Utara.4%) dan terendah di Provinsi Yogyakarta (22. Maluku Utara (8%) dan Sulawesi Tengah (12. Prevalensi tertinggi di Provinsi NTB (30.3 persen.9%).0 persen diantaranya 4.3%) meningkat dibandingkan pada tahun 2007 (75.BAB IV. Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12-23 bulan (74.9%) dan tertinggi di Bali (64. Akses K1 oleh ibu hamil baik (92.5 persen.2%). Sedangkan prevalensi balita pendek (stunting) sebesar 35.Yogyakarta (93.1 persen yang pernah ber KB sekarang tidak menggunakan. Sebanyak 40. serta 4.6%).5%) dan tertinggi di Bali (35. Pemanfaatan fasilitas kesehatan untuk persalinan oleh perempuan usia reproduktif adalah 59.8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan. Proporsi unmet need sebesar 14.9 persen dengan gizi buruk.4%) dan terendah di Papua (47. teringgi di Provinsi NTT (58.6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah 70% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan tahun 2004. Dan prevalensi balita kurus (wasting) adalah 13. Pemanfaatan masih rendah di Sulawesi Tenggara (7.0 persen.3%) dan tertinggi di provinsi DI. sedangkan K4 hanya 61.4%). Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sebesar 84 persen. Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat persalinan hanya 1. .5%). Angka terendah di Papua Barat (31. Keadaan ini banyak dijumpai pada anak usia sekolah (41. Maluku. terendah di provinsi Gorontalo (8. Demikian pula Period Prevalence malaria pada 108 .0%) meningkat dibandingkan Riskesdas 2007 (63.6%).2%).2%).5%).4%).8%). sedangkan API Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0.5%) dan terendah di Provinsi Sulut (10. hanya 2. dan terendah di Bangka Belitung (7. KESIMPULAN Dari hasil Riskesdas 2010.6 persen.4 persen. dengan prevalensi tertinggi di Provinsi Jambi (20%).5%) menurun dibandingkan tahun 2007 (81.8%). dan 3. Masalah lain yang ditemukan adalah persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46.3 persen. remaja (54. dan ibu hamil (44. kesimpulan yang dapat diambil antara lain: Prevalensi balita kurang gizi (berat badan kurang) sebesar 18. Proporsi tertinggi konsumsi <70% AKG dijumpai di NTB (46.4%).5%). Cakupan imunisasi campak terbaik adalah di DI Yogyakarta (96.5 persen. dan Papua Barat. dan hanya 12 persen di Puskesmas. Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2.6%). Prevalensi terendah ditemukan di Gorontalo (44.8%).3%).8 persen.

Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7.7 persen. Proporsi tertinggi ada di Provinsi DKI Jakarta (82.74%).7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010. Pengobatan efektif malaria dengan ACT pada balita hanya 21. Angka Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point Prevalence (0.91%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45. Lampung.85%).14%).. Sarana perpipaan dan non perpipaan terlindung yang akses terhadap sumber air terlindung adalah 72. Prevalensi TB adalah 0..35%).3%).7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2.47%).83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25.27 persen.53%) dibandingkan tahun 2009 (42. dan Bali (0. DI Yogyakarta. Dari analisis Riskedas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45.25%) Proporsi rumahtangga yang menggunakan air non perpipaan terlindung (56.69%) lebih besar dibandingkan dengan perpipaan terlindung (16. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah (84.6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian.5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan.2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66.83 persen. dan tertinggi di Provinsi Papua (1. Akses rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak meningkat (55.9 persen. 109 . Sedangkan proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83.tahun 2010 (10.

IND) 110 . Kuesioner rumah tangga (RKD10. Kuesioner individu (RKD10.RT) 3. Inform Concent dan Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP) 2.LAMPIRAN 1.

This document was created with Win2PDF available at http://www.daneprairie. The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.com. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful