LAPORAN NASIONAL RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS) TAHUN 2010

1

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT selalu kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 telah dapat terselesaiakan. Di dalam Laporan ini dimunculkan perkembangan status kesehatan masyarakat Indonesia khususnya yang berkaitan indikator MDG’s untuk tingkat nasional dan tingkat provinsi. Hasil Riskesdas 2010 mencakup indikator MDG’s nomor 1,4,5,6 dan 7, yaitu : status gizi balita, tingkat konsumsi energi per kapita, kesehatan reproduksi yang diwakili dengan indikator penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, cakupan penggunanaan kotrasepsi oleh perempuan WUS, cakupan imunisasi campak kelompok umur 12-23 bulan, prevalensi TB paru dan malaria, pengetahuan pencegahan HIV/AID, akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan Juni-Juli 2010, di 33 provinsi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) mengerahkan sejumlah enumerator untuk setiap kabupaten/kota, seluruh peneliti Balitbangkes, dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta Perguruan Tinggi. Untuk data kesehatan masyarakat, berhasil dihimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil dihimpun dan diperiksa spesimen dahak dan darah dari sampel anggota rumah tangga. Proses manajemen data mulai dari data dikumpulkan dan dientry ke komputer dilakukan di masing-masing daerah, kemudian data cleaning dilakukan di Badan litbangkes. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan dinamika kehidupan yang indah dalam dunia ilmiah. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas. Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Kami telah berupaya maksimal, namun pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas dimasa yang akan datang.. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb. Jakarta, 17 Agustus 2010 Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, Msi, SpF(K)

2

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Kementerian Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator MDG’s berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2010. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik berkaitan indikator MDG’s 1,4,5,6 dan 7, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas 2010 dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji dengan cepat apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai asupan baru bagi Sistem Kesehatan Nasional yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Puskesmas PRM/labkesda, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan. Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 17 Agustus 2010 Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., DR.PH.

3

Keterangan ruta meliputi identitas ruta.5%). diantaranya 823 BS sebagai sampel biomedis (malaria dan TB). pengetahuan dan perilaku kesehatan. dengan prevalensi tertinggi adalah Provinsi Jambi (20%). Hasil analisis dapat dilaporkan sebagai berikut: Prevalensi balita kurang gizi (balita yang mempunyai berat badan kurang) secara nasional adalah sebesar 17. cara KB. kesehatan ibu. Pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran data dilakukan oleh Penanggung Jawab Tehnis Kabupaten. Sementara itu prevalensi balita pendek (stunting) secara nasional adalah sebesar 35. Populasi sampel adalah seluruh rumah tangga di Indonesia.5 persen (DI Yogyakarta) sampai 58. kehamilan dan pemeriksaan sesudah melahirkan.. Desain Riskesdas 2010 adalah potong lintang dan merupakan penelitian non-intervensi. kemudian melakukan pengiriman data secara elektronik kepada tim manajemen data pusat. 4 . Keterangan individu meliputi identitas individu. penyakit menular. kesehatan anak. dan terendah adalah Provinsi Sulut (10. Pengumpulan data dan entri data dilakukan oleh tenaga terlatih dengan kualifikasi minimal tamat D3 kesehatan.RINGKASAN EKSEKUTIF Riskesdas 2010 merupakan kegiatan riset kesehatan berbasis masyarakat yang diarahkan untuk mengevaluasi pencapaian indikator Millenium Development Goals (MDGs) bidang kesehatan di tingkat nasional dan provinsi.4 persen (NTT). konsumsi makan dalam 24 jam kemarin.9 persen diantaranya 4. Pemilihan sampel dilakukan secara random dalam dua tahap. sanitasi lingkungan dan pengeluaran ruta. dan pemeriksaan darah malaria dilakukan dengan Rapid Diagnostic Test (RDT).6%). Data yang dikumpulkan meliputi keterangan ruta dan anggota ruta.5% dari 2800 BS sampel siap untuk dianalisis. keguguran dan kehamilan yang tidak diinginkan.6 persen. Besar sampel sebanyak 2800 BS. Prevalensi balita kurus (wasting) secara nasional adalah sebesar 13. Tujuan Riskesdas 2010 adalah mengumpulkan dan menganalisis data indikator MDG’s kesehatan dan faktor yang mempengaruhinya. Pengukuran tinggi badan/panjang badan dan berat badan dilakukan pada setiap responde. Sampel BS tersebut tersebar di 33 dan 441 kabupaten/kota. Pengumpulan data di beberapa daerah telah mulai dilakukan sejak bulan Juni 2010 berakhir pada tanggal 8 Agustus 2010 untuk dilakukan pengolahan dan analisis.6%). fasilitas pelayanan kesehatan.3 persen. Tahap pertama melakukan pemilihan Blok Sensus (BS) dan tahap kedua pemilihan Rumah tangga (ruta) sebanyak 25 ruta setiap BS. Prevalensi balita gizi kurang menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi NTB (30.9 persen yang gizi buruk. dan terendah adalah Bangka Belitung (7. sedangkan untuk TB paru dilakukan pemeriksaan dahak pagi dan sewaktu hanya pada kelompok umur 15 tahun ke atas. Pada tanggal tersebut sejumlah 2704 BS sampel yang terkumpul datanya atau sekitar 96. perilaku seksual. dengan rentang 22.

3%). 40. karena hanya 1.6%). Demikian pula halnya pada provinsi seperti Maluku Utara. Tenaga kesehatan terlatih di wilayah perdesaan perlu lebih ditingkatkan agar kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan tidak jauh berbeda dengan kelompok penduduk perkotaan.2 persen ibu hamil mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal. Sebagian besar pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52.2 persen Dewasa. Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat pelayanan terdekat ke masyarakat juga perlu ditingkatkan. secara nasional 82.9 persen pada perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun. 41. Akan tetapi masih ada 2. demikian juga perhatian perlu dipusatkan pada penduduk miskin.2 persen anak usia sekolah. Disparitas menurut provinsi dapat diketahui dari yang terendah di Papua Barat (31. atau 12.5 persen yang memanfaatkan untuk persalinan. Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sudah lebih baik.2 persen masih memeriksakan kehamilan ke dukun. akan tetapi di beberapa provinsi penggunaan fasilitas kesehatan untuk melahirkan masih sangat rendah. Walaupun secara nasional 59. akan tetapi hanya 61.Hasil Riskesdas 2010 menunjukan 40.1 persen. serta 4.8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan.8% ibu hamil mengikuti pelayanan antenatal.1 persen yang pernah ber KB akan tetapi sekarang tidak menggunakan.1 persen di Sulawesi Tengah. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak pada Riskesdas 2010 ini adalah sebesar 74. Maluku. 5 . Penggunaan alat/cara KB diketahui hanya 53.5 persen. dan 3. dan terendah adalah provinsi Bengkulu (23. dan 27. 54. dan hanya 12 persen di Puskesmas. Berdasarkan kelompok umur dijumpai 24.5 persen remaja. seperti 7. Selain itu diketahui akses (K1) adalah 92. Untuk kesehatan ibu.4%) dan terendah adalah Papua (47.5%).3 persen kelahiran sudah dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. serta 44.7%). yaitu 84%. Sementara itu proporsi penduduk tertinggi dengan konsumsi <70% AKG adalah NTB (46.8 persen di Sulawesi Tenggara.4 persen perempuan usia reproduktif menggunakan fasilitas kesehatan untuk persalinan. Secara nasional masih ada 19% perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB untuk mencegah/menunda kehamilan.3 persen selama kehamilan memeriksakan kehamilan minimal 4 kali (K4).9%) dan tertinggi di Bali (64.1 persen di Polindes/Poskesdes. dan Papua Barat perlu mendapatkan perhatian agar proporsi perempuan usia reproduktif dapat lebih banyak mendapatkan pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan. Terpantau juga jenis penggunaan alat/cara KB yang masih dominan adalah dengan suntikan yaitu 31. Kelompok penduduk di perdesaan cenderung lebih banyak menggunakan suntikan untuk pencegahan kehamilan dibanding perkotaan. 8 persen di Maluku Utara.6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal (kurang dari 70% dari Angka Kecukupan Gizi/AKG) yang dianjurkan tahun 2004. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak menurut provinsi yang terbaik adalah DI Yogyakarta (96.4%).4 persen Balita.

6 persen.0 persen. terdeteksi secara nasional 14. Sebanyak 20 provinsi dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional.9%) dan terendah di Bali (8. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12. Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 24 permil. penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34. serta 89. dijumpai cukup lebar dari yang tertinggi di Papua Barat (32.6 persen yang diminum dengan dosis lengkap.5 persen pada responden semua kelompok umur. pendidikan lebih tinggi.7 persen.4-35.3 persen. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 16.5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan.Yogyakarta. Prevalensi lebih tinggi pada penduduk belum kawin.4 persen yang diminum dengan dosis lengkap.0 persen sebenarnya mereka membutuhkan akan tetapi tidak terpenuhi (unmet need).5 persen. . Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS secara nasional yaitu 18. Lampung. Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional. dan 83. Khusus pada balita. Karena secara nasional persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46. Menurut provinsi rentangan berkisar 8. penduduk yang masih sekolah dan dengan pekerjaan sebagai pegawai atau wiraswasta. di daerah perkotaan. Secara nasional prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS adalah 75.Pada kelompok penduduk yang tidak menggunakan alat/cara KB.3 persen (Bali) dan 31. Variasi antar provinsi.7 persen.1 persen.9 persen. 80. penggunaan Artemisinin Combination based Therapy (ACT) di Indonesia hanya mencapai 49. Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional. Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 32. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua (1.7%).6 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam.4%). dan Bali (0.4 persen (Papua). 6 . Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi DI.3-93. Jadi penderita malaria semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010. Dari hasil wawancara. DI Yogyakarta.Menurut provinsi rentangan berkisar 44.7 persen.5 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. juga pada penduduk dengan status ekonomi lebih tinggi. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0.2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66. Proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83.8 persen.25%). Pada penduduk laki-laki meningkat 11 persen. sedangkan pada balita hanya 21.3%). Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi Bali. Masalah lain yang perlu mendapat perhatian untuk mempercepat penurunan kematian ibu adalah mengupayakan penundaan perkawinan menjadi usia 20 tahun.0 persen. sedangkan pada perempuan meningkat sebanyak 12 persen dibandingkan Riskesdas 2007. cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26. dan hanya 75. Rentang API Nasional adalah antara 0.1 persen.

91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84.Proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16.35%). paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82.5%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29.27 persen . Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan.75%). Akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55. tertinggi di Provinsi Gorontalo (66. Lebih lanjut dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45. Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56.79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0. 7 .14 persen.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25.83 persen yang akses terhadap sumber air terlindung.85%).74%).69 persen.53 persen. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44. maka secara nasional terdapat 72.

Populasi dan Sampel 4. Goal 4 MDG 3. Goal 5 MDG 4. Goal 6 MDG 5. Lokasi 3. Manajemen Data BAB 3 Hasil dan Pembahasan 1.DAFTAR ISI Kata Pengantar Sambutan Menteri Kesehatan Kesehatan Republik Indonesia Ringkasan Eksekutif Daftar Isi BAB 1 Pendahuluan BAB 2 Metodologi 1. Variabel 5. Disain 2. Goal 7 MDG BAB 4 Kesimpulan Lampiran 2 3 4 8 9 12 12 12 12 15 16 16 17 17 33 40 68 96 108 109 8 . Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpul Data 6. Goal 1 MDG 2.

aktivitas fisik. terutama Kementerian Kesehatan. HIV/AIDS. Untuk itu diperlukan data kesehatan dasar yang dapat dikumpulkan secara berkesinambungan. dengan tujuan untuk melakukan evaluasi pencapaian program kesehatan yang telah dilaksanakan. angka kecelakaan. yaitu status kesehatan (penyebab kematian. Pada deklarasi tersebut disepakati 8 tujuan untuk mencapai MDGs di tahun 2015 yaitu: memberantas kemiskinan dan kelaparan. menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan. Riskesdas ini dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan RI. dan menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) merupakan Riset Kesehatan berbasis komunitas berskala nasional sampai tingkat kabupaten/kota. penggunaan tembakau. perilaku higienis. Sedangkan misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. meliputi semua indikator kesehatan utama. Pada tahun 2007 Badan Litbangkes telah melakukan Riskesdas pertama. kesehatan lingkungan (lingkungan fisik). Komposit beberapa indikator Riskesdas 2007 juga telah digunakan sebagai model Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) di Indonesia untuk melihat peringkat Kabupaten/Kota. dan berkeadilan. mengalokasikan anggaran. pengetahuan-sikap-perilaku kesehatan (Flu Burung. mutu layananan. Riskesdas 2010 bertepatan dengan tahun akan dilaksanakannya pertemuan puncak tingkat tinggi Majelis Umum PBB untuk mengevaluasi pencapaian deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) dari 189 negara termasuk Indonesia. termasuk swasta dan masyarakat madani. minum alkohol. dan status gizi). sekaligus sebagai bahan untuk perencanaan kesehatan. dan oleh beberapa kabupaten/kota dalam merencanakan. angka kesakitan. perilaku konsumsi makanan) dan berbagai aspek mengenai pelayanan kesehatan (akses. Telah dikumpulkan pula sekitar 33. pembiayaan kesehatan). Salah satu strateginya adalah “Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata. terjangkau. bermutu dan berkeadilan serta berbasis bukti dengan mengutamakan pada upaya promotif dan preventif”. merata. Hasil Riskesdas 2007 telah dimanfaatkan oleh penyelenggara program. cakupan. melaksanakan.000 sampel serum. mencapai 9 . PENDAHULUAN Visi Kementerian Kesehatan adalah “Masyarakat Sehat yang mandiri dan berkeadilan. bermutu.BAB I. untuk evaluasi program pembangunan termasuk pengembangan rencana kebijakan pembangunan kesehatan jangka menengah (RPJMN 2010-2014). memantau dan mengevaluasi program-program kesehatan berbasis bukti (evidence-based planning). untuk test-test lanjutan di laboratorium Badan Litbangkes. bekuan darah. angka disabilitas. konsumsi rumahtangga. Riskesdas direncanakan dilaksanakan secara periodik. oleh Bappenas. dan sediaan apus.

Beberapa indikator MDGs kesehatan yang dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 adalah status gizi balita dan konsumsi (memberantas kelaparan). organisasi profesi. Pengorganisasian Riskesdas 2010 sama dengan Riskesdas 2007 dilaksanakan sepenuhnya oleh seluruh jajaran Balitbangkes dengan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk metodologi dan penentuan sampel nasional dan provinsi. perguruan tinggi. memastikan lingkungan yang kesinambungan. lembaga penelitian. dan masyarakat. pengukuran. 10 . pemerintah daerah. status kesehatan ibu dan anak (menurunkan kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu). dan komitmen kesehatan tingkat nasional dan global sebagai bahan penilaian pencapaian MDGs di tahun 2015.universal primary education. Beberapa indikator MDGs kesehatan lainnya yaitu prevalensi HIV/AIDS dan angka kematian anak tidak dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 karena memerlukan penelitian khusus atau didapat dari sumber data lain. Data tersebut dikumpulkan seperti pada Riskesdas 2007 yaitu melalui wawancara. malaria dan tuberkulosis. Pertanyaan penelitian untuk Riskesdas 2010 yaitu: 1) Bagaimanakah status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi?. meningkatkan kesehatan ibu. Pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan segera setelah selesainya Sensus Penduduk 2010. Untuk menjaga kesinambungan. serta melibatkan penyelenggara program terkait. Riskesdas serupa 2007 direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2013. dan perkembangan upaya pembangunan kesehatan di tingkat nasional dan provinsi dalam tiga tahun terakhir. dan b) Memperoleh gambaran faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan provinsi. mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Tujuan khsuusnya adalah untuk: a) Menilai status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi. menurunkan kematian anak. dan 2) Bagaimana faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan provinsi? Tujuan umum adalah memperoleh gambaran pencapaian target indikator MDG khusus kesehatan pada tahun 2010 berdasarkan Provinsi dan Nasional. dan pemeriksaan laboratorium untuk kepastian penyakit malaria dan tuberkulosis yang dilakukan di lapangan (darah malaria) dan Laboratorium Puskesmas yang direkomendasi (dahak tuberkulosis). perubahan masalah kesehatan di tingkat nasional dan provinsi. memerangi HIV/AIDS. Selain itu. juga sebagai sarana untuk mengevaluasi perkembangan beberapa status kesehatan masyarakat Indonesia di tingkat nasional dan provinsi. Riskesdas 2010 adalah Riskesdas MDGs karena menghasilkan beberapa indikator MDGs kesehatan nasional (Indonesia) yang berbasis bukti. akses sumber air minum yang aman dan fasilitas sanitasi dasar. mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. prevalensi malaria dan tuberkulosis (menurunkan angka kesakitan). Riskesdas 2010 difokuskan pada indikator-indikator pencapaian MDGs dan data pendukung lainnya. Dalam rangka mendukung pertemuan tersebut dan mendapatkan data kesehatan terkini yang faktual.

Kalimantan Tengah. Jawa Tengah.Proses pengumpulan data dilakukan dibawah koordinasi Balitbangkes yang terbagi menjadi empat koordinator wilayah sebagai berikut: a. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Jambi. Kep. Kalimantan Timur. dan Maluku Utara. Jawa Timur. Jawa Barat. dan Sulawesi Selatan c. Sulawesi Tengah. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung. Sumatera Barat. dan Papua Barat. d. Riskesdas 2010 memberikan manfaat untuk memantau indikator MDGsn khusus kesehatan sehingga dapat digunakan untuk mempertajam strategi kebijakan pembangunan kesehatan dalam mempercepat pencapaian MDG 2015. Riskesdas 2010 telah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Sumatera Selatan. Kalimantan Selatan. Sulawesi Barat. dan Papua. Maluku. Bali. Bangka Belitung. Pengembangan kuesioner dan pedoman dilakukan oleh tim teknis Balitbangkes dan dilakukan pelatihan berjenjang mulai dari pelatih tingkat pusat sampai ke enumerator sebagai pengumpul data di lapangan.jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi Riau. 11 . Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu.Riau. Keseluruhan proses Riskesdas 2010 dimulai semenjak bulan februari 2010 sampai data selesai dikumpulan pada minggu pertama Agustus 2010. Lampung. DKI Jakarta. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (lihat lampiran). Banten. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Barat. Gorontalo. Sulawesi Utara. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi DI Yogyakarta. Sumatera Utara. b. Nusa Tenggara Barat.

terjadi 43 pergantian BS dari 2800 BS yang telah ditetapkan semula. hal ini disebabkan karena BS semula terpilih jumlah rumah tangga yang akan menjadi sampel tidak terpenuhi dengan kriteria yang sudah ditetapkan b) Ada 1 kabupaten di Provinsi Papua (Kabupaten Nduga) yang tidak dapat dikunjungi dalam periode waktu pengumpulan data Riskesdas. dan prevalensi malaria/TB-paru hasil Riskesdas 2007. c) Sehubungan dengan waktu untuk analisis indikator MDG sudah harus dilaksanakan. Pemilihan BS dilakukan sepenuhnya oleh BPS dengan memperhatikan status ekonomi.BAB II. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2010 dipilih berdasarkan listing Sensus Penduduk (SP) 2010. Dari setiap provinsi diambil sejumlah blok sensus yang representative terhadap jumlah rumah tangga/anggota rumah tangga di provinsi tersebut. maka dari 2800 BS yang seharusnya menjadi sampel Riskesdas hanya dapat diolah sejumlah 2704 BS atau 96. Proses pemilihan rumah tangga dilakukan BPS dengan two stage sampling yang sama dengan Riskesdas 2007/Susenas 2007. METODOLOGI 1. Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia. tidak bisa diikutkan untuk proses analisis. Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Sampai dengan laporan ini dibuat. Lokasi Sampel Riskesdas 2010 mewakili nasional dan 33 provinsi yang tersebar di 441 Kabupaten/Kota dari total 497 Kabupaten/Kota di Indonesia. 12 . Riskesdas berhasil mengumpulkan seluruh BS kecuali di kabupaten Nduga. Akan tetapi karena analisis harus segera dilakukan maka 94 BS yang belum sempat terkirim ke manajemen data pusat per tanggal 12 Agustus 2010. yang mewakili penduduk di tingkat nasional dan provinsi dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan untuk kepentingan pencapaian MDGs.5 persen (lihat tabel 1) 3. beberapa catatan berkenan dengan lokasi adalah sebagai berikut: a) Dalam proses pengumpulan data. Papua. Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif. Riskesdas memilih BS yang telah dikumpulkan SP 2010. 2. Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2010 adalah seluruh rumah tangga biasa yang mewakili 33 provinsi yang tersebar di 441 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. rasio perkotaan/perdesaan.

jumlah sampel rumah tangga dari 2704 BS adalah 66. yang menjadi sampel rumah tangga dari jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut.946.000 dari 2800 BS.906.5% dari total 13 . Jumlah sampel rumah tangga (66. Jumlah rumah tangga yang diharapkan terkumpul adalah 70.906) yang diolah adalah mewakili 96. dengan jumlah individu 241. Tabel 1 Jumlah Sampel Blok Sensus (BS) menurut Provinsi.Penarikan Sampel Rumah Tangga/Anggota Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 25 (dua puluh lima) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling). Riskesdas 2010 Jml BSSampel 53 128 54 66 40 83 29 86 23 28 111 494 343 54 410 117 49 64 50 53 35 50 46 38 34 85 33 23 22 23 19 22 35 2800 Jml BS-yang diolah 51 117 52 64 33 82 29 84 23 28 111 487 343 54 410 115 49 64 31 40 35 50 46 32 26 85 33 23 22 23 19 21 22 2704 Jml BS yang belum diolah 2 11 2 2 7 1 0 2 0 0 0 7 0 0 0 2 0 0 19 13 0 0 0 6 8 0 0 0 0 0 0 1 13 96 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Secara keseluruhan.

300 5.694 725 2.662 9. Distribusi jumlah rumah tangga dan anggota rumah tangga dapat dilihat pada tabel 2.227 1.994 475 499 2.174 575 550 2.099 7.175 8.300 1.296 2.050 575 678 2.350 4.851 11.362 2.517 8.320 700 2.009 525 514 1.000 874 3.703 2.096 41. Tidak semua 2704 BS dapat mengumpulkan masing-masing 25 rumah tangga sampel.140 4.150 771 2.320 2.268 4.906 241.600 816 3.106 550 571 2.225 1.780 550 66.600 PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Jml BS 51 117 52 64 33 82 29 84 23 28 111 487 343 54 410 115 49 64 31 40 35 50 46 32 26 85 33 23 22 23 19 21 22 2.310 1.031 2.899 1.506 775 968 3.100 575 2.600 774 3.sampel yang diharapkan.039 7.385 575 473 1.250 2.493 1.325 1.235 4.367 10.925 1.218 4.875 1.946 67.123 1.180 35.590 6.529 29.350 10.201 1.775 12.050 725 2. Seharusnya dari 2704 BS akan terkumpul 67.704 *) Jumlah rumah tangga seharusnya adalah 25 per BS 14 .738 12. artinya ada 694 rumah tangga yang tidak ditemukan pada saat pengumpulan data.652 800 650 644 2.600.076 875 1.118 8.400 825 575 2. Tabel 2. Riskesdas 2010 Jumlah Rumah Jumlah tangga*) ART yang Sampel Yang seharusnya terkumpul terkumpul 1.597 1.599 5.075 825 2.250 1.125 825 3.496 2.940 2.275 2.575 1.780 1.800 10. Distribusi sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga menurut Provinsi.

ii. TB paru (9 variabel) iii. Dc Alat/cara KB (8 variabel) 4. Blok VIII-C tentang pengetahuan dan perilaku (22 variabel) iv. Blok VIII-A tentang identifikasi responden (4 variabel). Blok VIII-D tentang kesehatan reproduksi. pemeriksaan sesudah melahirkan (41 variabel) 5. Blok II tentang keterangan rumah tangga (4 variabel). Blok VIII-B tentang penyakit menular: Malaria (10 variabel). Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan indikator MDG bidang kesehatan dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. Kuesioner rumah tangga (RKD10. Blok VI tentang sanitasi lingkungan (20 variabel). Blok IX. Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel). Masa reproduksi perempuan (6 variabel) 2.IND).RT) yang terdiri dari: Blok I tentang pengenalan tempat (11 variabel). Kesehatan bayi dan anak balita (22 variabel). Dd Kehamilan. ASI dan MP-ASI (10 variabel) vi. 4. Blok V tentang dasilitas pelayanan kesehatan (18 variabel). 2. 15 . Pada BS yang terpilih untuk biomedis. Blok IV tentang anggota rumah tangga (13 variabel). dan anggota rumah tangga usia 15 tahun keatas yang dilakukan pengambilan sputum/dahak pagi dan sewaktu untuk pemeriksaan TB paru. yang terdiri dari: Blok VIII ini dikelompokkan menjadi i. seluruh anggota rumah tangga dari 823 BS dilakukan pengambilan darah. Blok VIII-E tentang kesehatan anak . Blok X tentang pengukuran tinggi/panjang badan dan berat badan (5 variabel) Blok XI tentang Pemeriksaan laboratorium (7 variabel). De Keguguran dan Kehamilan yang tidak diinginkan (10 variabel) 6. yang terdiri dari 6 sub-blok: 1. Da. Blok VII tentang Pengeluaran Rumah Tangga (39 variabel) b.Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis merupakan sub-sampel dari 2800 BS yang mewakili nasional atau sejumlah 823 BS. Kuesioner individu (RKD10. Db Fertilitas (11 variabel) 3.tentang konsumsi makanan individu (jumlah variabel tergantung makanan yang dikonsumsi. Dalam Riskesdas 2010 terdapat kurang lebih 315 variabel yang tersebar dalam 2 (dua) jenis kuesioner (lihat file terlampir). Perilaku seksual (6 variabel) v. persalinan. dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a. Untuk pemeriksaan malaria. yang terdiri dari 2 sub-blok: 1. rumah tangganya dan anggota rumah tangganya selain dikumpulkan variabel kesehatan masyarakat juga dialkukan pemeriksaan biomedis.

Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun. Anggota rumah tangga perempuan berumur 10-59 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan Kesehatan Reproduksi Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan kesehatan anak. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2010 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data. T2. dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan TB Paru dengan mengambil sputum pagi dan sewaktu.5. Anggota rumah tangga berumur 10-24 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai perilaku seksual.IND Secara umum. 6. c. diwakili atau tidak diwakili. dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT). dengan rincian sebagai berikut: a. Mt1.RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi Dalam Kuesioner RKD10. tinggi badan / panjang badan. Anggota rumah tangga berumur = 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan pengetahuan dan perilaku tentanh HIV/AIDS. Manajemen Data Balitbangkes membentuk tim manajemen data pusat yang mengkoordinasikan seluruh proses yaitu: Bersama dengan BPS mengembangkan program data entry yang digunakan oleh enumerator setelah data dikumpulkan di lapangan Setelah data entry dilakukan di lapangan. M2. b. dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD10. pencegahan malaria. responden untuk Kuesioner RKD10. konsumsi individu. pencegahan TB paru. pengukuran berat badan.RT terdapat keterangan anggota rumah tangga termasuk variabel yang dapat menunjukkan apakah anggota rumah tangga diwawancarai atau tidak. dan konsumsi jamu/obat tradisional. Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular malaria dan TB paru. pengetahuan tembakau. Untuk biomedis. T1. 16 . Pengumpulan data rumah tangga dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD10.RT Responden untuk Kuesioner RKD10.IND adalah setiap anggota rumah tangga. data langsung dikirim via email ke tim manajemen Pusat untuk dilakukan pemeriksaan kelengkapan dan data cleaning Bersama dengan BPS melakukan proses pembobotan untuk siap di analisis. hasil pemeriksaan darah malaria dan sputum digunakan formulir tersendiri (form M1. MT2).

Beberapa indikator terkait goal dimaksud juga disajikan agar informasi yang disajikan menjadi lebih lengkap. Status Gizi Balita Tingkat Nasional Secara nasional prevalensi balita “gizi burkur” menurun sebanyak 0. 4. maka hasil dan pembahasan berikut khusus menyajikan indikator untuk menjawab goal 1. 17 . Untuk menilai status gizi balita digunakan Standar Antropometri yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2005 atau yang disebut dengan “Standar WHO 2005”. Prevalensi balita menurut tiga indikator status gizi (BB/U. Di daerah Kota secara umum terjadi penurunan prevalensi Balita Gizi Burkur.1. HASIL DAN PEMBAHASAN Sesuai dengan tujuan dari Riskesdas 2010 yaitu memberikan informasi terkini keadaan kesehaatan masyarakat berkaitan dengan MDG.1c.6. Di daerah Desa tidak terjadi penurunan prevalensi. Indikator status gizi yang digunakan adalah: Berat Badan menurut Umur (BB/U). dan 7.6 persen pada tahun 2010.6 persen pada tahun 2007 menjadi 13. dan kurus) 2. Untuk prevalensi masing-masing indikator menurut BB/U. Balita Pendek dan Balita Kurus dari tahun 2007 ke 2010 antara daerah Kota dan Desa.4 persen pada tahun 2007 menjadi 17. TB/U dan BB/TB) disajikan pada Tabel 1.8 persen pada tahun 2007 menjadi 35. dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). 1.3 persen pada tahun 2010 (Tabel 1. 1. Demikian pula halnya dengan prevalensi balita pendek yang menurun sebanyak 1.1). Prevalensi balita kurang gizi (berat badan rendah. Goal 1 – MDG Target: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015. 1. Proporsi penduduk dengan asupan kalori dibawah tingkat konsumsi minimum STATUS GIZI PADA BALITA Seperti halnya pada Riskesdas 2007. Status Gizi Balita Di Daerah Kota dan Desa Terdapat perbedaan perkembangan Prevalensi Balita Gizi Burkur. pendek. 1. Dalam Millenium Development Goal (MDGs).3 persen yaitu dari 13.BAB III. Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Balita Pendek dan Balita Kurus.2 persen yaitu dari 36.1b.9 persen pada tahun 2010. TB/U dan BB/TB dapat dilihat pada tabel 1. indikator status gizi yang dipakai adalah BB/U dan angka prevalensi status “underweight” (gizi kurang dan buruk atau disingkat “Gizi Burkur”) dijadikan dasar untuk menilai pencapaian MDGs. 1. Indikator: 1.5 persen yaitu dari 18. 5. dan prevalensi balita kurus menurun sebanyak 0.2.1a. status gizi balita dinilai berdasarkan parameter antropometri yang terdiri dari berat badan dan panjang/tinggi badan.

4 49.9 33.5 persen tahun 2010 (Gambar 1.5 20.7 15.9 26.7 39.3).7 27. Jawa Tengah 34.2 20.4 persen tahun 2010 (Gambar 1.0 11.3 22.7 11.3 12. Nanggroe Aceh Darussalam 12.7 11.0 31.2).9 22. Jambi 16.2 14.8 22.6 26.2 58.5 16.2 17.6 15. Sulawesi Tenggara 75. Papua Barat 94.2 23.4 29. prevalensi balita pendek turun dari 32.2 30.9 37.9 42.2 14.6 17.8 13.3 48.6 22.1 10.8 17.9 17. Sulawesi Utara 72. Sumatera Selatan 17.1 16.5 36.3 17.1 19.2 15.4 14.8 40.8 32.4 44.9 TB/U PENDEK 2007 44.8 16. dan prevalensi balita kurus turun dari 13. Sulawesi Tengah 73.1 27. Bangka Belitung 21.5 35.4 12.1.2 26.8 33.3 13.6 34.0 13.0 11.2 31.1 10.7 36.4 31. Kalimantan Barat 62. Kalimantan Tengah 63.0 15.0 38. Bengkulu 18. TABEL 1.3 16.5 26.6 16. P a p u a INDONESIA GIZI BURKUR 2007 26. Sulawesi Selatan 74.8 39. Sumatera Utara 13. Sulawesi Barat 81.1 13. DKI Jakarta 32.2 28.7 14.5 25.5 33.2 16.5 11.3 29.8 26. STATUS GIZI BALITA PADA TAHUN 2007 DAN 2010 BB/U PROVINSI 11.9 9.7 16.9 18.6 22.1 40.3 13.7 persen tahun 2007 menjadi 31.4 27.5 39.1 27.5 16.0 30.3 41.1 21. B a l i 52.5 29.2 9.6 19.0 16.5 29.0 43.8 35.0 13.5 18.7 35.9 17.8 2010 38.9 11.1 18.4 13.7 35.2 17.8 20.6 33.3 15. Nusa Tenggara Barat 53.0 17.3 18 .4 37.6 35. DI Yogyakarta 35. Kepulauan Riau 31. Kalimantan Selatan 64.3 26.4 12.6 26. Sumatera Barat 14.1 14.2 14.6 33.4 25.8 17.6 22.5 16.7 41.Di daerah Kota prevalensi balita Gizi Burkur menurun dari 15.8 12.0 14.6 43.5 29.8 14.7 36.5 27.6 36. Jawa Timur 36.8 11.7 46.0 22.4 2010 23.7 21.3 32. R i a u 15. Kalimantan Timur 71.3 15.3 29.6 17.8 36.7 14.9 44.9 15.3 11.0 15.1 persen tahun 2007 menjadi 12.5 45.5 24.2 19.4 39.9 14.2 39.5 26.9 9. Maluku Utara 91.8 39.2 persen tahun 2010 (Gambar 1.6 19.0 14.0 15.0 36.7 10.4 24.6 7. Lampung 19.9 7.8 23.4 18.9 10.8 40.2 17.8 13.9 15.9 16.2 15.6 2010 14.4 17.2 21.5 20.1 10.8 13.4 29.6 37. Banten 51.3 35.0 26.3 42.5 13.1).1 36. Nusa Tenggara Timur 61.2 17.2 40.3 16.6 BB/TB KURUS 2007 18.2 40.8 25.4 13.3 18.0 8.5 22.9 persen tahun 2007 menjadi 15.9 16.0 15.6 12. Maluku 82. Gorontalo 76.2 14.2 14.7 13.2 38.8 9. Jawa Barat 33.8 11.1 13.

Papua Barat 94.6 22.4 19. B a l i 52.7 6.9 6.4 5. Sulawesi Utara 72.0 30.9 19 .1 16.2 4.8 1.1 3.4 29.6 13.1 27.4 10.3 3.8 7.5 25.9 Status Gizi BB/U Gizi kurang 16.1 6.7 9.6 18.3 13.7 22.7 9.0 11.4 11. DI Yogyakarta 35.9 12. Sulawesi Selatan 74. Maluku 82.3 13.3 2. Bengkulu 18.2 23.1 18.9 15.0 10.5 26.3 16.4 14. Sumatera Utara 13.5 14.1 10.4 6.5 29.0 13.1a. R i a u 15.6 26.5 16.2 19. Sumatera Selatan 17.0 Gizi Buruk+ Gizi Kurang 23. Prevalensi Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk (BB/U) Menurut Provinsi Tahun 2010 Provinsi Gizi buruk 11. Jawa Barat 33.8 18. Lampung 19. Gorontalo 76.8 12.7 9.3 15.6 26.3 1.5 3. Sumatera Barat 14.9 14.6 16. Sulawesi Tengah 73. Kalimantan Timur 71.4 9.6 3.0 4.0 15.3 12.8 8.6 8. Kalimantan Barat 62.5 4.4 3.8 26.3 6.7 21.3 13.8 2.7 9.7 10. Jambi 16. Nusa Tenggara Barat 53.2 19.7 11.9 12. Sulawesi Barat 81.9 17.4 11.5 11. Jawa Tengah 34.9 17.3 14.Tabel 1. Bangka Belitung 21.6 9. Maluku Utara 91. Banten 51. Nanggroe Aceh Darussalam 12.0 9. Kepulauan Riau 31.6 19.2 7. Kalimantan Tengah 63.9 20.9 17.1 7.0 22.4 4.3 4.4 5. Nusa Tenggara Timur 61.5 5.4 14.8 5.4 17. Jawa Timur 36. P a p u a INDONESIA 7. DKI Jakarta 32.8 4.8 17. Kalimantan Selatan 64. Sulawesi Tenggara 75.5 11.2 17.2 17.5 20.8 4.0 11.

5 29.9 16.3 32.2 28.6 21. P a p u a INDONESIA 20 .1 17.7 16.2 20.5 29.3 41.4 14. Jambi 16.8 30. Nanggroe Aceh Darussalam 12.0 15.0 21.3 20. B a l i 52.5 14.3 29.1 20. Papua Barat 94. Nusa Tenggara Timur 61.5 27.6 15. Lampung 19. Bangka Belitung 21.3 19. Maluku Utara 91.9 17.0 17.5 14.9 10.9 37.6 36.0 12. Sulawesi Tenggara 75.8 36.5 Pendek 14.4 31.3 15.0 20.5 14. Kalimantan Tengah 63.2 58.3 14.0 27.3 20.6 12.1 27.6 16.0 15. Sumatera Selatan 17.9 33. Sumatera Utara 13. Gorontalo 76.5 11.6 35.1b.5 12.8 32.3 18.6 15. Jawa Tengah 34.1 18. Bengkulu 18.6 33.6 16.6 19. Sumatera Barat 14.9 42.9 20.6 11. Nusa Tenggara Barat 53.4 12.9 14.4 14. Kalimantan Selatan 64.2 40.3 48. Banten 51.8 40.9 26. Kalimantan Timur 71.4 39.5 35.4 49.8 21. Kalimantan Barat 62. Sulawesi Barat 81.8 17.0 15.7 20.0 26.3 29. DKI Jakarta 32.3 35.8 18. Prevalensi Balita Pendek dan Sangat (TB/U) Menurut Provinsi Tahun 2010 Status Gizi TB/U Provinsi Sangat pendek 24.2 38.9 18.4 14.7 15.3 13.1 17.0 21.6 15.2 30.1 Pendek+ Sangat pendek 38. Sulawesi Selatan 74. Maluku 82.6 13.7 18.TABEL 1.4 23. R i a u 15.3 16.1 23.0 15.6 37. Kepulauan Riau 31.4 28. Sulawesi Utara 72. DI Yogyakarta 35.3 17.7 39. Jawa Timur 36.5 19.6 33.4 12.8 20. Jawa Barat 33.9 22.6 16. Sulawesi Tengah 73.2 23.0 18.

1 13.9 16.8 6.7 5.2 5.4 4.2 17. Banten 51.3 9. P a p u a INDONESIA 21 .4 6.4 7.4 7. Maluku Utara 91.0 13.4 9.3 5.7 10.4 13.8 13.4 5.0 15.4 4. Lampung 19.2 9. Sulawesi Barat 81. Jambi 16. Nusa Tenggara Barat 53. Bengkulu 18.7 15. Sulawesi Tengah 73.2 14.0 9.6 7.2 14.8 6. Gorontalo 76. Papua Barat 94.6 7. Kalimantan Selatan 64.7 7.6 15.6 8.2 14.8 11. Kepulauan Riau 31.1 6.3 6. Bangka Belitung 21.4 4.0 4. Sulawesi Tenggara 75.3 5. R i a u 15.7 7.1 9.6 12.6 6.6 6.2 9.1 6.7 6.2 7.0 14.8 7.0 Kurus 7.6 6.3 6.9 9. Sulawesi Utara 72.9 8.6 4.2 17.6 7.7 13.5 6.2 6.3 Kurus+ Sangat kurus 14.5 5.4 1.3 7. DKI Jakarta 32.5 5.2 5.2 16. B a l i 52.9 7.1c.9 7.2 11. Prevalensi Balita Kurus dan Sangat kurus (BB/TB) Menurut Provinsi Tahun 2010 Status Gizi BB/TB Provinsi Sangat kurus 6. Sumatera Selatan 17. Nanggroe Aceh Darussalam 12.6 17.0 8.8 11. Kalimantan Barat 62.2 8.7 2.1 6.9 6. Sulawesi Selatan 74.8 2.9 11.2 14.6 7.0 8. Jawa Tengah 34.3 11.8 6.TABEL 1. Jawa Timur 36. Sumatera Utara 13. Jawa Barat 33. Kalimantan Tengah 63.9 6.8 13.8 7. Kalimantan Timur 71.0 14.0 6.0 8.0 8. Sumatera Barat 14.4 2.1 14.3 11.9 11. Maluku 82.0 6.3 8. Nusa Tenggara Timur 61. DI Yogyakarta 35.8 12.9 8.1 8.2 20.2 4.

22 .

sedangkan prevalensi untuk ketiga jenis masalah gizi balita pada kuintil 1 dan kuintil 2 terlihat meningkat atau relative tetap.6 secara umum dapat dilihat bahwa penurunan prevalensi balita gizi burkur.3. Dengan demikian keluarga yang masuk 2 kelompok pendapatan terendah atau keluarga yang tergolong miskin masih belum menunjukkan adanya peningkatan status gizi pada balitanya. kuintil 4 dan kuintil 5. Status Gizi Balita Menurut Kuintil Pendapatan Keluarga Kuintil pendapatan keluarga terdiri dari kuintil 1 sampai kuintil 5. 1. 23 . balita pendek dan balita kurus terjadi pada kuintil 3. Dari Gambar 1.1.4. Kuintil 1 adalah kelompok pendapatan terendah dan kuintil 5 adalah kelompok pendapatan tertinggi.5 dan 1.

Demikian pula penurunan prevalensi balita yang bermasalah gizi secara umum lebih besar terjadi pada balita perempuan disbanding dengan balita laki-laki.1. 24 . Status Gizi Balita Menurut Jenis Kelamin Status gizi balita perempuan secara umum lebih baik dari balita laki-laki baik pada tahun 2007 maupun tahun 2010.8 dan 1.9). Prevalensi balita gizi burkur. 1.7. pendek dan kurus secara umum lebih rendah pada balita perempuan dibanding dengan balita laki-laki.4. terutama pada prevalensi balita gizi burkur dan balita pendek (Gambar 1.

(Gambar 1. Dengan demikian dalamk kurun waktu 5 tahun mendatang Indonesia harus menurunkan prevalensi balita gizi burkur sebesar 2.5.5 persen pada tahun 2015.9 persen.0 persen (Gambar 1.8 persen tahun 2007 menjadi 33. Provinsi Bangka Belitung memiliki prevalensi terendah yaitu 7.7 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1 persen.4 persen yang berarti rata-rata dalam setahun harus turun sebesar 0. Status Gizi Balita Tingkat Provinsi Ditinjau dari prevalensi Balita Gizi Burkur pada tahun 2010 ada 20 provinsi yang menurun prevalensi dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap.11) Demikian pula dengan prevalensi Balita Kurus. 1.2 persen. Penurunan prevalensi kurus terlihat lebih tinggi pada balita laki-laki yaitu sebesar 0.6 persen dan Provinsi Jambi memiliki prevalensi tertinggi yaitu 20. Pada tahun 1989 prevalensi gizi burkur sebesar 31 persen yang diharapkan menjadi separuhnya yaitu 15.6. Secara umum dapat dilihat penurunan prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 ke tahun 2010. sedangkan pada balita laki-laki penurunan prevalensi terlihat kecil yaitu dari 37.1 persen.0 persen dan Provinsi NTB memiliki prevalensi tertinggi yaitu 30. Demikian pula halnya dengan prevalensi pendek.12).3 persen tahun 2010 atau turun sebesar 0. 25 . Trend Prevalensi Balita Gizi Burkur dari Tahun 1989 – 2010 Pencapaian MDG berdasarkan indicator status gizi balita disajikan pada Gambar 1. sedangkan pada balita perempuan sebesar 0.7 persen tahun 2007 menjadi 37. pada balita perempuan turun dari 35. sedangkan pada balita laki-laki tidak terjadi penurunan atau tetap 19.7 persen tahun 2007 menjadi 16.10). Dalam hal prevalensi Balita Pendek pada tahun 2010 ada 25 provinsi yang menurun prevalensinya dan 8 provinsi yang meningkat atau relative tetap prevalensinya.4 persen. Provinsi Sulawesi Utara memiliki prevalensi balita gizi burkur paling rendah yaitu 10.5 persen. 1.4 persen. terdapat 20 provinsi yang menurun prevalensinya dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap. Pencapaian indicator MDG pada tahun 2010 berdasarkan prevalensi gizi burkur adalah 17.13 trend prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 – 2010.5 persen dan Provinsi NTT memiliki prevalensi tertinggi yaitu 58.9 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1.7 persen.Prevalensi balita gizi burkur pada balita perempuan menurun dari 17. Provinsi DI Yogyakarta memiliki prevalensi pendek terendah yaitu 22.5 persen (Gambar 1.9 persen.

26 .

. 27 .

28 .

Kebutuhan konsumsi energi setiap individu berbeda menurut umur dan jenis kelamin serta status hamil atau menyusui (bagi individu wanita). sedangkan pada Riskesdas 2007. Konsumsi energi per kapita penduduk pada data Riskesdas 2007 dihitung berdasarkan konsumsi energi rumah tangga dibagi jumlah anggota rumah tangga yang sudah distandarisasi menurut umur dan jenis kelamin. Acuan 29 .KONSUMSI ENERGI DIBAWAH KEBUTUHAN MINIMAL Tujuan MDG’s nomor satu adalah “Menanggulangi Kemiskinan dan `Kelaparan” dan didalamnya terdapat target “menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya”. dimana ibu atau orang yang menyediakan makan untuk semua anggota rumah tangga yang diwawancara dengan memperhitungkan jumlah orang menurut umur dan jenis kelamin yang makan dirumah dan yang makan diluar rumah. jenis kelamin dan status kehamilan (bagi ibu hamil). serta dikoreksi dengan jumlah tamu yang ikut makan dirumah tangga tersebut (menurut umur dan jenis kelamin). sebab angka yang diperoleh merupakan angka konsumsi energi individu (anggota rumah tangga). data konsumsi energi adalah data konsumsi rumah tangga. dimana setiap anggota rumah tangga diwawancara konsumsi makan sehari (24 jam yang lalu). Oleh sebab itu data konsumsi energi Riskesdas 2010 lebih akurat. Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi lebih rendah dari 70 % dari 2100 kkal. yang dijabarkan dalam indikator “Proporsi penduduk yang berada di bawah konsumsi minimum”. maka pada Risksdas 2010 telah dikumpulkan data konsumsi energi individu. Sesuai dengan indikator diatas. Proporsi penduduk dengan konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal dihitung berdasarkan konsumsi energi penduduk dibandingkan kebutuhannya sesuai umur.

6 %.kecukupan yang digunakan adalah “Tabel Angka Kecukupan Gizi 2004 Bagi Orang Indonesia” dalam Widya Karya Pangan dan Gizi Tahun 2004.6 Gambar 1. Hasil Riskesdas 2010.5 40. konsumsi penduduk di Indonesia yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (lebih rendah dari 70 % dari angka kecukupan gizi bagi orang Indonesia (tahun 2004) adalah sebanyak 40.2 44. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) .4 40. Menurut kuintil pengeluaran rumah tangga. Pada penduduk dengan kuintil pengeluaran rumah tangga terendah (kuintil 1) sebanyak 46. semakin tinggi kuintil pengeluaran rumah tangga semakin sedikit penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% AKG).2.2 54.4 %). dan terendah pada anak balita (24.2 40.5 41.4 41.6 Balita Dewasa Anak Sek Hamil Remaja Total Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% dari AKG) lebih banyak pada penduduk di desa dari pada penduduk di kota.2 40. Tabel 1. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) – Riskesdas 2010 % 60 50 40 30 20 10 0 54. Proporsi defisit energi < 70 % terbanyak pada usia remaja (54.Riskesdas 2010 Kelompok Umur Balita Anak Sekolah Remaja Dewasa Ibu Hamil Total % 24.2 24.5%).6 % penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (70 %).2 44. dan sebaliknya pada 30 .14.

6 Gambar 1.3 persen penduduk yang mengonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (< 70 % AKG).15.kuintil pengeluaran rumah tangga tertinggi (kuintil 5).5 40 39.3 34.5 39 Kota Desa Total 39.5 41 40.2 40.3 40.6 31 .3 40.6 Tabel 1.9 41. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) di Kota dan Di Desa % 41.6 43. Tabel 1.4.Riskesdas 2010 Tingkat pengeluaran/kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Total % 46. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) Menurut Desa dan Kota – Riskesdas 2010 Kelompok Umur Kota Desa Total % 39.3 40. sebanyak 34.3.5 37. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) Menurut Kuintil Pengeluaran Rumah Tangga .9 41.

proporsi konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal 43 persen lebih banyak dibanding pada tahun 2010 yaitu sebanyak 40.6 43. provinsi dengan penduduk mengkonsumsi energi dibawah kebutuhannya tertinggi di provinsi Bengkulu (67%).8 persen.6%) dan provinsi dengan proprosi konsumsi energi dibawah kebutuhan terendah adalah di provinsi Bengkulu 23. Pada tahun 2010.6 34.3 40.16.6 persen.1%). pada tahun 2007.Gambar 1. provinsi yang penduduknya mengkonsumsi energi lebih rendah dari kebutuhannya dengan jumlah tertinggi adalah provinsi Nusa Tenggara Barat (46. dan terendah di provinsi Jawa Timur (26. Menurut provinsi. 32 .5 37.3 Pada tahun 2007. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) Menurut Kuintil Pengeluaran RT-Riskesdas 2010 % 50 40 30 20 10 0 Kuintil 1 Kuintil 4 Kuintil 2 Kuintil 5 Kuintil 3 Total 46.2 40.

Oleh karena Riskesdas 2010 ditujukan pada indikator yang ada dalam MDGs.5 persen. 33 . dalam laporan ini hanya analisis untuk imunisasi campak. Cakupan imunisasi terendah di provinsi Papua (47. tiga kali imunisasi DPT-HB. dan satu kali imunisasi campak. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) atau Buku KIA. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda. anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG. disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut. Program imunisasi untuk penyakitpenyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG. Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada dua tabel (Tabel 4.6%). Imunisasi campak pada anak 12-23 bulan Kementerian Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. Imunisasi campak merupakan salah satu dari indikator dalam Millenium Development Goals (MDGs). Dari Tabel 4.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96. dan Buku catatan kesehatan anak lainnya. Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui.1 s/d Tabel 4.4%). tiga.1 dapat dilihat secara keseluruhan. cakupan imunisasi campak dalam Riskesdas sebesar 74. empat kali imunisasi polio. Dalam Riskesdas. Terdapat 19 provinsi cakupan imunisasi campak di bawah rata-rata nasional. tiga kali polio. cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan. Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi. informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu atau anggota rumahtangga lain yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan.2. tiga kali DPT-HB. Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi. Goal 4 – MDG Menurunkan Kematian Anak Target: Menurunkan Angka kematian balita hingga dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015 1.1 persen dibanding Riskesdas 2007 (81. menurun 6.2) menurut provinsi dan karakteristik responden. imunisasi polio pada bayi baru lahir. Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan. imunisasi DPT-HB pada bayi umur dua. dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan. dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu. dan satu kali imunisasi campak. empat bulan dengan interval minimal empat minggu.

sedangkan provinsi lainnya relatif sama atau menurun.6 84. 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.4 83.5 persen.5 69.3 85.1 63.7 86.1 62.2 62. Terlihat dalam tabel.5 76.7 34 . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulasewi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Persentase cakupan imunisasi campak Riskesdas 2007 Riskesdas 2010 69.5 81.6 78. cakupan imunisasi campak di perkotaan lebih tinggi (79.2-22.8 73.2 71.1 86.2 menunjukkan cakupan imunisasi campak menurut karakteristik daerah.1 76.5 85. rumahtangga.0 90.3%).4 81.5 Tabel 4.8 83.2 78.1 86.3 83.7 72.6 70.5 99. Riskesdas 2007.3 81.0 71. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak Menurut Provinsi. Kenaikan cakupan imunisasi campak antara 2. Tabel 4.3 95.6 87.5 60. dan anak.5-6.3%) dibanding di perdesaan (69.9 90.4 83.Bila cakupan imunisasi campak dibandingkan antara Riskesdas 2007 dan 2010 per provinsi.5 57.7 69.1 62. Dengan demikian terdapat perbedaan cakupan sebesar 9.7 88.1 89.4 77.2 96.7 47.8 80.4 94. hanya ada empat provinsi dengan cakupan imunisasi campak yang naik pada tahun 2010.0 75.2 90.0 85.9 77.0 59.8 persen dan penurunan antara 0.1.3 96.6 84.1 78.9 68.9 91.5 75.3 83.4 67.6 74.5 72.6 77.9 80.4 64.3 83.1 68.4 85.7 77.9 72.3 61.5 67.

0 78.2 82.1 64.5 79.0 81.9 83.9 77.7 91.3 88.1 78.9 86.1%) dan tertinggi pada pendidikan kepala keluarga tamat perguruan tinggi (86.8 79.5 83.6 74. Bila dibandingkan menurut jenis kelamin. tidak banyak terdapat perbedaan cakupan imunisasi campak antara anak laki-laki dan perempuan.5%) dan tertinggi pada PNS/ Polri/ TNI (86.7 59.4 74. Tabel 4.0 86.4 83.1 80.6 78. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja Ibu rumahtangga PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Persentase cakupan imunisasi campak Riskesdas 2007 Riskesdas 2010 86. Pada tabel 4.5 persen. lebih tinggi perbedaan tersebut dibanding tahun 2007 yang hanya 7.6 93.1 84.3 86.2 71.8 77. baik dalam tahun 2007 maupun 2010. 2010 Karakteristik Penduduk Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.1 Karakteristik rumahtangga lain dalam analisis ini adalah tingkat pengeluaran per kapita yang dibagi menjadi lima kelompok yaitu kuintil 1 yaitu kelompok terendah sampai kuintil 5 yaitu 35 .5 -86.1 80. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak Menurut Karakteristik Responden.persen antara daerah perkotaan dan perdesaan.8 82.3 persen.2 persen.2 74.4%).8 85.6 69.2. lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya sebesar 21.3 78. Terdapat tren cakupan imunisasi campak yang meningkat seiring dengan makin tingginya pendidikan.0 81. Dengan demikian terdapat kesenjangan cakupan sebesar 27. Cakupan imunisasi campak menurut pekerjaan kepala keluarga yang terendah pada petani/ nelayan/ buruh (67. Riskesdas 2007. Cakupan imunisasi campak terendah bila pendidikan kepala keluarga tidak sekolah (59.9 79. Keadaan tersebut serupa dengan hasil Riskesdas 2007.9%).6 74.0 71.2 67.2 65.2 juga dapat dilihat variasi yang lebar cakupan imunisasi campak menurut pendidikan kepala keluarga.3 69.1 78.

Pemberian ASI Eksklusif Pemberian ASI eksklusif ditanyakan pada Riskesdas 2010.5 persen. dan 31. Dalam Tabel 4. tipe daerah dan rumah tangga pada Riskesdas 2007 dan 2010.4 persen. Hasil tersebut lebih baik bila dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2007 sebesar 57. Pemberian ASI eksklusif secara keseluruan pada umur 0-1 bulan. dan 4-5 bulan berturut-turut adalah 45. 3.kelompok tertinggi. Menurut tipe daerah. Pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari terendah pada tahun 2010 terdapat di Papua Barat (17. Tidak ada perbedaan ASI eksklusif menurut jenis kelamin bayi.3 terlihat bahwa secara keseluruhan pada tahun 2010 sebanyak 60.3 persen.7 persen neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan. Oleh karena jumlah bayi di bawah 6 bulan hanya sedikit. 2-3 bulan.6 persen dan 33. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi. pemeriksaan neonatos pada tahun 2010 di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan. Ada kecenderungan semakin tinggi pengeluaran per kapita semakin tinggi pula cakupan imunisasi campak. belum pernah mendapatkan MPASI.8%).0 persen dibanding 86. ASI eksklusif lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding daerah perkotaan. tidak bisa dianalisis menurut provinsi dan hanya dapat dianalisis menurut karakteristik responden yang terlihat dalam Tabel 4.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita.7%).1 persen pada kuintil 5. Bayi di bawah 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif jika saat pengumpulan data ibunya menyatakan bahwa bayinya masih mendapatkan ASI. Dengan demikian terdapat perbedaan 21. tetapi tidak ditanyakan pada Riskesdas 2007. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus. 38. Hubungan yang jelas baru terlihat antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pengeluaran per 36 .1%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66.6 persen neonatus umur 3-7 hari dan 37. lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya 8. Demikian juga tidak ada pola hubungan yang jelas antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pendidikan orangtua.4 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi. Cakupan imunisasi campak pada kuintil 1 sebesar 65. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.7 persen.0 persen. 2. dan dalam 24 jam yang lalu tidak mendapatkan makanan selain ASI. Tabel 4.1 persen pada tahun 2010. Kunjungan Neonatus Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi.5. Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Sulawesi Barat (9.

5 64.8 30.6 58.4 62.6 25.4 29.0 28.9 57. Tabel 4.6 34.8 84.4 37.8 19.8 61.5 26.4 33.2 14.9 66.8 17.7 41.4 59.3 65.9 50.1 32.0 38.1 52. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Provinsi.4 19.8 25.6 60.1 63.9 29.1 24.4 27.5 66.4 27.8 45.8 33.8 63.3.0 68.5 63.1 66.9 55.6 15.2010 Pemeriksaan neonatus Umur 3-7 hari (KN1) 2007 2010 56.0 39.2 43.2 38.0 64.2 21. 2-3 bulan.4 34. Semakin tinggi pengeluaran per kapita rumahtangga.6 Pemeriksaan neonatus Umur 8-28 hari (KN2) 2007 2010 36.4 15.2 50.3 22.9 55.9 43.5 37.7 30. semakin menurun pemberian ASI eksklusif baik di kelompok umur bayi 0-1 bulan.3 53.1 39.0 39.6 43.kapita.9 34.2 70.3 40.7 12.5 49.4 23.0 68.8 62. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulasewi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 37 .8 30.7 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.9 42.7 64.3 66.1 53.6 29.8 46.7 48.2 36. Riskesdas 2007.3 54.3 47.2 58.5 44.5 9.2 58.2 48.0 18.3 39.3 28.5 54.0 50.9 52.2 25.6 57.3 49.6 58.5 59.3 28.9 57.4 50.2 26.8 26.1 35.1 66.2 19.5 21.6 13.8 44.0 42.3 21.5 67.6 72.2 69.4 51.6 35.4 28. maupun 4-5 bulan.1 26.1 26.5 17.6 32.3 39.2 31.2 54.7 56.0 42.7 26.1 41.9 45.9 75.9 35.5 81.0 12.7 64.1 33.4 44.9 54.2 25.

7 57. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja Ibu rumahtangga PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tkt pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 65.2 31.2 37.7 51.7 29.3 66.0 58.7 32. 2010 Karakteristik responden 2007 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.6 33.1 53.8 65.7 40.7 52.2 41.0 60.9 64.9 27.1 2010 68.Tabel 4.0 59.4.4 36.7 35.0 37.1 60.3 31.2 59.7 39.1 52.8 63. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Karakteristik Responden.5 39.5 49.5 62.5 52.3 44.4 50.7 38 .3 46.0 60.3 33.3 41.2 52.9 37.4 65.7 59.0 31.6 62.5 42.5 36.8 55.5 2007 41.5 63.3 54.2 28.1 47.7 -54.5 33.1 67.5 30.3 44.0 69.0 51.2 46.6 29.5 37.2 28.3 57.2 33.5 50.4 74.1 -74.1 57.7 61.9 67.8 24.8 41.9 79.8 31. Riskesdas 2007.9 66.2 29.4 55.9 2010 45.7 64.3 32.

3 36.4 33.Tabel 4.6 39.5 51.7 39.4 51.7 47.1 43.3 21.6 38.9 29.0 37.7 30.0 45.3 36.0 38.3 30.9 34.2 29.5 34. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tkt pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 INDONESIA Umur anak 2-3 bln 34.3 36.6 23.6 34.9 22.7 35.8 41.5 36.5 25.8 41.0 44. Riskesdas 2007.1 18.4 43.2 35.7 50.0 45.8 40.4 4-5 bln 26.4 51.2 37.5 71.1 52.4 37.2 31.0 42.3 40.3 42.2 44.7 32.3 33.7 34.3 30.3 0-1 bln 41.6 33.2 36.8 29.4 32.8 40.2 31.0 39 . 2010 Karakteristik responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg. Persentase Pemberian ASI Eksklusif Menurut Umur Anak dan Karakteristik Responden.3 36.5.5 45.0 44.8 50.

1 7.2 8.4 2.9 49.5 1. 15-49 tahun.2 3.1 5.3 4.7 2.000 kelahiran hidup.7 Total 8.7 8.Goal 5 . Beberapa indikator terkait disajikan juga dengan membandingkan dengan hasil sebelumnya yang berasal dari Susenas maupun SDKI. Gambaran Sampel Riskesdas 2010 Distribusi kelompok umur untuk keseluruhan sampel Riskesdas adalah sebagai berikut: Tabel 5.0 40 .4 5.1 4. selain Angka Kematian Ibu per 100.5 100.1.1 4.8 7. Indikator untuk mencapai target tersebut.9 3.2 5. dengan memperhatikan indikator yang terkait dengan target menigkatkan kesehatan ibu.3 4.6 3.0 3.24 25 .14 15 .2 2.1 7. Target sampel penduduk untuk mengetahui kesehatan ibu adalah perempuan pernah kawin usia reproduktif/WUS.7 2.19 20 .4 5.MDG Meningkatkan Kesehatan Ibu Target: Menurunkan 75% kematian ibu dalam kurun waktu 1990-2015.2 2.29 30 .5 9.44 45 -49 50 -54 55 -59 60 -64 65 + Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 4.39 40 .34 35 .7 4.1 4.8 1.2 3.8 10.3 6.5 5. Distribusi Sampel menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Riskesdas 2010 Kelompok Umur (tahun) 0-4 5-9 10 .2 4. terdapat indikator yang dipantau untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah: Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan Angka pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun Berikut ini merupakan hasil analisis Riskesdas 2010.7 3.8 3.0 3.3.5 4.4 8.6 50.1 1.9 3.6 3.

Status Perkawinan menurut Jenis Kelamin Riskesdas 2010 Status Perkawinan Belum kawin Kawin Cerai hidup Cerai mati Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 24.4 25.0 41 .5 11.4 0.9 Total 13.34 35 .1%).1 3.3 0.7 0.0 Proporsi kehamilan dari sampel Riskesdas 2010 adalah 3.3 7. Distribusi status perkawinan seluruh kelompok umur penduduk adalah sebagai berikut: Tabel 5.6 11.7 9.14 15 .8 24.2 11. Proporsi kehamilan terhadap total penduduk Riskesdas 2010 Kelompok Umur 10 .0 100.1 12.1 0.8 0.4 0.1 13.6 0.1 0.8 0.Dari tabel di atas.2.7 Total 45.1 persen.0 11.8 9.5 10.6 0.3 7.19 20 .9%. dan terlihat kehamilan terjadi pada kelompok umur 10-14 tahun (0.4 0.5 100.3 0.7 10. Tabel 5.0 96.7 12.39 40 . dan kelompok umur 50-54 tahun (0.9 persen. proporsi perempuan usia reproduktif/WUS 15-49 tahun terhadap total sampel adalah 26.8 12.3 20. Proporsi kehamilan pada perempuan usia reproduktif 15-49 tahun adalah 2.6 50.1 0.3 10.4 11.44 45 -49 50 -54 55 -59 Total Apakah sedang hamil Ya Tidak 0.7 2.2 10.2 50.24 25 .0 3.3.1%).29 30 .4 1.9 49.

Untuk melihat kecenderungan. Angka pertolongan kelahiran yang diperoleh dibedakan menjadi dua. dan tercatat 0. 42 . Provinsi terbaik dengan proporsi pertolongan kelahiran ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih adalah DI Yogyakarta (98.4%).5%). dan Maluku (52. Indonesia 2010 Variasi antar provinsi dapat dilihat pada tabel berikut. dan 19.6%). Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan Analisis dilakukan berdasarkan perbandingan antara persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih (dokter. pada umumnya yang digunakan adalah angka pertolongan kelahiran berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan 1 tahun sebelum survei. DKI Jakarta (96. Grafik berikut menunjukkan proporsi pertolongan kelahiran yang terjadi pada 5 tahun sebelum survei.8%).2 persen.1 persen tidak menjawab. Sedangkan provinsi yang perlu mendapatkan perhatian adalah Maluku Utara (33.1. dan Bali (92. Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun terakhir.1%). Grafik 5.1. diikuti Kepulauan Riau (97. dan tenaga kesehatan lain) dengan dengan jumlah persalinan seluruhnya dan dinyatakan dalam persen. Proporsi pertolongan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 80. dan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada 1 tahun sebelum survei.7%). bidan. perawat.7 persen oleh bukan tenaga kesehatan. yaitu berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada lima tahun sebelum survei.

0 0.4 0.5 23.7 44.6 66.0 0.1 21.0 0. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tenaga Kesehatan 86.0 0.7 91.6 18.0 86.0 0.1 0.4 57.0 0.0 0.2 37.0 0.9 3.0 0.4 0.0 0.0 3.6 98.1 60.0 0.0 92.4 20.0 0.9 43.0 0.0 0.2 0.0 0.9 8.8 78.9 78.0 0.0 7.7 Tidak menjawab 0.3% dengan variasi antar provinsi yang 43 .3 0.4 81.6 9.2 Tenaga Non Kesehatan 13.4 75.5 24.4 57.3 55.9 81.0 52.0 13.0 0.1 56.0 0.4 80.3 20.2 12.3 83.1 83.4.0 0.1 Sedangkan proporsi pertolongan kelahiran yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk kejadian kelahiran 1 tahun sebelum survei adalah 82.0 0.5 79.7 16.8 59.1 18.0 0.1 39.0 0.1 63.4 33.0 0.4 2.5 55.0 47.5 75.9 16.0 0.6 97.5 76.5 42.8 72.6 60.5 85.0 0.0 0.2 28.0 0.6 42.5 44.6 19.9 40.6 79.0 0.9 36.Tabel 5.1 96.6 24. Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun sebelum survei menurut Provinsi.8 88.4 90.5 14.2 21.

Tabel 5.8 48.1 64.7 26.9 80.5.1 76.4 85.5 88.6 94.6 66.8 97.7 87.2 49.4 95.3 57.2 95.5 87.2 95.4 79.0 52.Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Nakes yang terjadi 1 tahun sebelum survei menurut Provinsi.8 70. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia % 92.0 79.8 64.3 60.8 78.9 82.3 44 .terbaik dan terendah hampir sama dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan 5 tahun sebelum survei.4 56.5 63.6 87.7 80.1 98.5 79.5 94.0 66.

dari Riskesdas 2010 menunjukkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan berdasarkan karakteristik penduduk.2%). kecenderungan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan meningkat dari 40.9%). 91.3%). Sedangkan provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan masih di bawah 50% adalah Maluku Utara (26.5%). dapat dilihat kelompok penduduk 20% terbawah (kuintil 1).3 persen pada tahun 2010.6%).1 persen.Dari tabel di atas dapat dilihat provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan di atas 95 persen adalah DI Yogyakarta (98. 45 . Riskesdas 2010.2. DKI Jakarta dan Bangka Belitung (95. diikuti Kepulauan Riau (97. serta Bali (95. Secara nasional. Kecenderungan Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan Indonesia 1990-2010 Sumber: Susenas 1990-2007. pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 69. dan berbeda sangat lebar dibanding kelompok penduduk 20% teratas (kuintil 5) yaitu sebesar 94. dapat dilihat kelompok penduduk yang tinggal di perkotaan.4%. Grafik 5.7 persen tahun 1990 menjadi 82. dan Papua Barat (49. Maluku (48.2%). Pada kondisi saat ini.7%). Terjadi disparitas yang cukup lebar untuk kelompok penduduk yang tinggal di perdesaan (72.8%).3 persen pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan tingkat pengeluaran.

Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada grafik yang menunjukkan provinsi terendah adalah Sulawesi Tenggara (7.Tabel 5. Indonesia 2010 Tenaga Tenaga Non Karakteristik Penduduk Kesehatan Kesehatan Tempat Tinggal 91.3.0 9. Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut tempat melahirkan.9 Kuintil 5 Tempat melahirkan untuk persalinan 1 tahun sebelum survei. dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (95.4 30.0 Perdesaan Tingkat Pengeluaran 69.1 5.5 Kuintil 3 91. serta berdasarkan tingkat pengeluaran.1%). Grafik 5.6 persen melahirkan di fasilitas kesehatan dibanding di perdesaan yang hanya 40. 46 .6 Kuintil 1 79.5 13. sebagian besar sudah dilakukan di fasilitas kesehatan (59. 2%). Sementara kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1) melahirkan di fasilitas kesehatan sebesar 40.7 persen dibanding kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5) yaitu sebesar 81.7 Perkotaan 72.9 28.3 9. Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan menurut Karakterisitik Penduduk. Penduduk di perkotaan 77. dan masih banyak yang melahirkan di rumah (39.5%).5% di Poilindes/Poskesdes.6.2 persen.5 Kuintil 2 86. Indonesia 2010 Berdasarkan karakteristik penduduk. terjadi juga kesenjangan tempat melahirkan di perkotaan dan di perdesaan.8%). dan hanya 1.0 Kuintil 4 94.5 20.5%.

2 40.1 1. Proporsi Persalinan Satu Tahun Sebelum Survei yang Melahirkan di Fasilitas Kesehatan menurut Provinsi.4 1.Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut Tempat Melahirkan dan Karakateristik Penduduk.5 Grafik 5.2 2.9 63.1 17.6 Karakteristik Penduduk Faskes Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 77.8 0. Indonesia 2010 47 .8 2.7 53.6 40.0 27.8 0.0 35.6 56.Tabel 5.9 45.8 21.6 57.1 81. Indonesia 2010 Polindes Rumah /Poskesdes /lainnya 0.2 72.7.4.

Indikator yang dapat diperoleh dari Riskesdas adalah Akses (K1) yang dianalisis berdasarkan akses ibu hamil ke tenaga kesehatan dari semua riwayat kehamilan anak terakhir dari perempuan usia 15-49 tahun. Dari analisis. K1 dan K4 dapat dilihat pada Tabel 5.8% ibu hamil mengikuti pelayanan antenatal. Lebih lanjut hanya 61. Selanjutnya adalah K4 yang dianalisis berdasarkan jumlah pemeriksaan antenatal minimal 1 kali pada trimester I. yang pada umumnya kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1). Proporsi Perempuan Pernah Kawin usia 15-49 tahun dari Kehamilan Anak Terakhir Lima Tahun Terakhir Memeriksakan Kehamilan.8.6. diketahui akses (K1) secara keseluruhan adalah 92. minimal 1 kali pada trimester 2 dan. berikut.Untuk meningkatkan kesehatan ibu. sudah sebagian besar memeriksaan kandungannya (pelayanan antenatal) ke tenaga kesehatan (84. Demikian halnya dengan tingkat pengeluaran.6% perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun mempunyai riwayat kehamilan anak terakhir pada periode lima tahun terakhir. minimal 1 kali pada trimester II. perlu juga dipantau akses pelayanan kesehatan reproduksi. persentase kunjungan antenatalnya lebih kecil dibanding dengan kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5). Dari sampel Riskesdas 2010. diperoleh 38. Indonesia 2010. semakin banyak yang melakukan kunjungan antenatal ke tenaga kesehatan. khususnya untuk perempuan usia 15-49 tahun.0%). dan minimal 2 kali pada trimester 3 dari jumlah kehamilan perempuan usia 15-49 tahun. masih terdapat ibu memeriksakan kehamilannya ke dukun (3. Berdasakan pekerjaan.3% yang melakukan pelayanan antenatal minimal 1 kali pada trimester 1. Menurut riwayat kehamilannya anak terakhir tersebut. semakin membaik pendidikan penduduk. 48 .2%).8%). minimal 2 kali pada trimester 3. demikian juga untuk K4. Berdasarkan karakteristik. dan tidak melakukan pemeriksaan (2. Grafik 5. pada umumnya kelompok petani/nelayan yang cakupan pelayanan antenatalnya lebih kecil dibanding kelompok penduduk bukan petani/nelayan. Akses ibu hamil ke tenaga kesehatan (K1) pada penduduk perkotaan jauh lebih baik dibanding perdesaan. Proporsi meningkat berdasarkan tingkat pendidikan.

Indonesia 2007-2010 49 .2 97.3 93.2 94.3 48.1 63.3 98.3 persen (2010).7 90. Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4.4 79. Terjadi penurunan angka K1 dari 93.9 50.3 persen (2007) ke 92.8 96.3 50.Untuk kecenderungan.6 95.7.3 62.0 75.1 91. Tabel 5.6 57.5 97.3 79.4 63. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 K1 97.7 berdasarkan SDKI 2007 dan Riskesdas 2010.1 89.7 70.3 47.Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Karakteristik Penduduk.5 87. cakupan pelayanan antenatal ini dapat dilihat pada grafik 5.5 74.5 Grafik 5.7 37.7 K4 73.5 88.0 99.2 56.0 88.8 persen (2010) dan K4 dari 65.8.6 84.2% (2007) ke 61.

7 89.1 100.1 84.4 77.1 93.1 94.Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Provinsi.4 61.7 89.0 92.1 32.6 35.1 77.5 74.2 39.4 56.5 98.1 46.6 98.3 50 .6 48.2 85.1 59.8 96.6 35.4 98. sedangkan cakupan terendah untuk K1 adalah provinsi Papua Barat (72.2 94.5 67.4 58.7 53.1 81.2 93.8%).7 94.9 88.8 50.7 88.8 77.5 44.6 34.0 96. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia K1 93.4 73.9.8 75.5 88.0 79.9 91. Tabel 5.7 83.4 54.9 77.7 67.9.8 28.5 76.0 95. DI Yogyakarta merupakan provinsi terbaik.8 K4 61.6 89.5 44.3 72.1 82.4 21.7 19.7 54.2 50.8 24.3 52. untuk cakupan K1 dan K4.3 85.6 52.9 91.0%) dan terendah untuk K4 adalah provinsi Gorontalo (19.4 93.4 41.8 92.

Proporsi penggunaan alat kontrasepsi di perdesaan pada umumnya lebih tinggi dari perkotaan. Menurut kelompok umur. Grafik 5.10. dan yang berstatus kawin. untuk mengikuti kecenderungan dari tahun 2007 yang sudah dilakukan pada SDKI 2007 ke tahun 2010 a.9%). sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2. pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun.8 terlihat 53. Provinsi dengan persentase menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah bali (64.2. Sedangkan perempuan berstatus kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin”. Pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun Pada Riskesdas 2010. Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan pernah kawin 51 . dan terdapat 19 persen tidak pernah menggunakan sama sekali. Perempuan berstatus pernah kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin’. Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.11.9 persen perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi. (Distribusi status perkawinan bisa dilihat pada tabel 5. menurut pekerjaan adalah yang tidak bekerja. ‘cerai hidup’ dan ‘cerai mati’. Untuk kepentingan analisis.2) Analisis dibedakan menjadi dua. pemakaian kontrasepsi untuk mencegah kehamilan ditanyanya pada perempuan pernah kawin usia 10-59 tahun dan pasangannya.8. sampel yang dipilih adalah perempuan usia 15-49 tahun yang berstatus pernah kawin. Analisis pada Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun Pada Grafik 5. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 tahun Indonesia 2010 Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5.3%) dan terendah adalah provinsi Papua barat (31. Sedangkan menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP.

4 54. Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5. Tabel 5.7 32.3 60.5 45.3 58.6 50.yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (42%).5 55.1 50.3 45.9 56.10.9 44.4 60.9 persen pada tahun 2007 menjadi 53.0 57.7 52 .6 60.7 52.9 53. Ada terjadi penurunan dari 57.9 persen pada tahun 2010. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 Tahun yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk. dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10.4%).4 47.7 51.2 55.9.8 54.2 58.4 56. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Kelompok Umur 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 -49 Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 % 52.

8 54.7 25.0 51.8 62.6 11.3 37.9 46.8 19.9 30.1 29.1 55.7 23.1 12. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi.4 18.0 18.6 27.2 21.3 58.6 15.8 13.4 20.1 30.4 29.7 61.2 42.6 10.0 17.4 12.5 22.9 38.3 15.0 38.9 23.4 60.8 35.9 Pernah/tidak menggunakan lagi 27.8 24.3 17.1 28.6 63.4 41.7 47.2 27.5 57.5 24.2 11.0 16.7 43.6 25.6 18.9 56.8 31.4 38.1 29.2 27. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sekarang menggunakan 41.6 16.4 24.7 36.6 58.2 62.11.2 21.2 49.7 37.2 18.8 29.6 29.0 56.0 53 .1 Tidak pernah sama sekali 30.4 23.9 49.3 26.7 32.1 22.0 59.4 37.6 40.1 57.7 37.8 31.3 18.4 21.4 30.7 22.0 24.6 27.3 51.7 16.0 25.7 29.7 25.6 54.3 27.3 15.8 27.7 64.1 42.3 30.3 30.0 53.Tabel 5.2 21.3 60.

Riskesdas 2010 Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.0 0.3 5. Tabel 5.4 1.0 2.1 0. Indonesia: 2007-2010 Sumber: SDKI 2007. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 42. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara KB. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB.8%).2 12.0 0.3 0.4 2.5%) dibanding di perkotaan (27.1 Riskesdas 2010 2.5 4. Riskesdas 2010 Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5. penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih banyak yang tinggal di perdesaan (34.1 1.1 46.1 Sumber: SDKI 2007.1 12. Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD. Demikian juga 54 .Grafik 5.0 31.0 1.12. Suntikan dan amenorrhea laktasi.6 1.3 0. Indonesia: 2007-2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan SDKI 2007 3.7 30.9.4 42.12 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010.13).1 persen tahun 2010.1 0.2 0.1 persen tahun 2007 menjadi 46.1 0.

4 0.3%). Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal.0 0.1 47.1 11.7 4.14.5 2.5 52.13.4 0.1 Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB seperti pada tabel 5.0 4.0%) Pustu (4. Indonesia 2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan Perkotaan 2. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat pelayanan KB. atau mendapatkan secara gratis di kantor desa.4 1. bervariasi.7 0.1 0.9%). Tabel 5.3 55 . depot obat. dll.5 2.1 12. dan di RS pemerintah (3.3 2.14 dapat dilihat sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek (52.9 0. pada umumnya membeli di Apotik.0 12.9 5.penggunaan pengguna implant di perdesaan (1.5%). Indonesia 2010 Tempat Pelayanan KB RS Pemerintah RS Swasta RS Bersalin Puskesmas Pustu Klinik TKBK/TMK Dokter praktek Bidan praktek Perawat praktek Polindes/ Poskesdes Lainnya % 3.1 0.9%) dibanding di perkotaan (0. Sebanyak 12.5 1.2 0.8 0.0 34.2 Perdesaan 1.5% menjawab lainnya.9 2.1 12.7%).6 4.9 27. Sebaliknya pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (12.7 0.5%).5 0.9 1. diikuti di Puskesmas (12.1 0.9%) dibanding di perdesaan (11.5 0. Tabel 5.1 45.

10. tidak perlu lagi 11. Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5. ‘sulit diperoleh’.7%).0 persen yang sebenarnya membutuhkan akan tetapi tidak bisa terpenuhi. Ada empat provinsi dengan persentase yang menjawab butuh. Bentuk pertanyaannya dapat dilihat pada kuesioner individu terlampir (RKD10.8 persen.Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB. ‘mahal’ . ‘dilarang agama’ . Grafik 5. tapi tidak terpenuhi di atas 30 persen yaitu Maluku (32.10 dapat dilihat ada 14. Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8.15.Pada Riskesdas 2010 ditelusuri juga alasan utama tidak menggunakan KB. Selanjutnya yang menjawab belum atau ingin punya anak adalah 15 persen.IND) pertanyaan Dc06. dan ‘tidak menginginkan’. ‘takut efek samping’. b) Belum/ingin punya anak adalah dari jawaban ‘belum punya anak’. dan Papua Barat (32.3%.7%). Dari Grafik 5. serta yang menjawab lainnya 5. Jawaban responden dari pertanyaan ini selanjutkan dikelompokkan menjadi empat: a) Butuh/tidak terpenuhi atau unmet need adalah dari jawaban ‘dilarang pasangan’. Indonesia 2010 56 . dan ‘ingin punya anak’ c) Tidak perlu lagi adalah dari jawaban ‘tidak perlu lagi’ d) Lainnya adalah dari jawaban ‘lainnya Diluar klasifikasi ini adalah responden yang menggunakan KB.9%).

2 5.6 2.1 10.5 7.6 5.7 6. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Butuh/tidak Belum/ingin terpenuhi punya anak 23.7 14.5 5.1 55.0 Tidak perlu lagi 9.8 32.0 11.3 19.9 32.7 9.3 4.5 21.5 2.3 15.0 11.0 51.0 18.7 11.0 12.7 13.0 38.5 37.2 6.5 18.1 9.4 38.7 14.3 58.3 17.1 11.6 19.5 14.3 17.4 60.5 7.9 8.4 10.3 Lainnya 7.5 9.2 6.3 16.2 5.3 7.3 9.0 59.7 25.3 8.3 11.2 11.9 25.0 11.5 2.2 17.8 62.9 57 .9 12.9 12.7 4.8 10.1 38.1 57.3 3.7 36.7 47.9 10.9 9.0 6.3 15.6 54.9 8.1 16.9 63.1 6.7 13.4 57.0 16.8 20.0 14.3 6.0 11.8 9.8 16.6 9.9 14.0 12.8 32.3 9.4 20.2 17.2 15.5 10.3 51.7 12.4 6.2 9.8 61.9 10.8 15.15.2 10.5 16.0 56.8 54.0 10.0 53.4 4.3 13.4 9.2 3.8 11.9 22.8 13.7 64.3 3.2 62.4 14.6 12.2 8.9 8.7 10.7 43.Tabel 5.8 25.7 13.1 9.5 12.0 10.3 10.9 4.8 35.2 14.0 5.5 14.1 11.0 19.6 5.5 16.9 57.0 5.6 58.9 46.8 12.2 42.0 12.5 13.6 29.0 13.6 10.6 22.3 9.2 9.5 7.6 15.8 10.0 16.0 11.3 60.8 Menggunakan KB 41. Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi.2 12.3 15.9 49.7 7.7 19.6 19.2 49.9 8.5 6.

Provinsi dengan persentase menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah Kalimantan Tengah (66. Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5. sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2.4%). Pada grafik 5. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Berstatus Kawin Usia 15-49 tahun Indonesia 2010 Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5. Menurut kelompok umur.4%). Sedangkan menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP. dilakukan untuk perempuan berstatus kawin umur 15-49 tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi.17.4 persen tahun 2007 menjadi 56 persen pada tahun 2010 58 .8%). pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun.b. dan 18.0%. Ada terjadi penurunan dari 61. Analisis pada Perempuan berstatus Kawin usia 15-49 tahun Analisis yang sama seperti di atas.11. Grafik 5.0%) dan terendah adalah provinsi Papua barat (32.16. Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.11 dapat dilihat perempuan yang berstatus kawin dan menggunakan alat KB adalah 56. dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10. menurut pekerjaan adalah yang tidak bekerja. Penduduk di perdesaan pada umumnya menggunakan alat kontrasepsi lebih tinggi dari perkotaan. Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan berstatus kawin yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (41.12.4 persen tidak pernah menggunakan sama sekali.

Tabel 5.3 57.6 47.8 57.1 48.5 60.1 62.2 55. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Usia 15-49 Tahun yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk.1 45.4 56.1 48.5 59 .7 62.0 53. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Kelompok Umur 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 -49 Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 % 54.4 61.9 57.1 59.3 59.5 35.5 58.9 53.2 53.9 58.6 55.16.

3 25.6 24.4 21.1 27.7 27.5 40.5 55.8 18.2 37.0 15.8 60.3 27.7 20.6 60.9 25.6 27.7 11.9 28.8 36.4 16.4 17.1 17.2 30.4 21.4 21.6 65.0 26.7 22.2 30.6 63.2 11.7 14.2 22.3 59.5 58.1 17.7 17.8 10.2 51.1 38.Tabel 5.2 59.0 41.0 62.6 15.4 56.1 16.5 28.8 38.8 65.1 39.1 13.5 39.5 53.0 15.3 10.4 25.9 59.3 50.2 18.5 51.5 26.4 24.2 23.5 32.6 62.8 25.4 60 .5 28.1 40.6 45.0 Pernah/tidak menggunakan lagi 25. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sekarang menggunakan 44. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi.7 20.5 53.3 27.4 43.8 56.5 15.5 10.8 28.7 20.2 37.2 62.7 24.4 37.6 Tidak pernah sama sekali 30.7 20.2 63.4 21.1 22.17.8 15.0 31.0 66.1 22.0 23.9 28.8 40.3 29.5 27.3 26.7 48.5 56.2 23.

Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD.1 13.9 5.2 0.4 2.1 38.4 1.18 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010.12. Indonesia: 2007-2010 Sumber: SDKI 2007. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB.0%).1 1.6 44.8 32.0 0.2 12.4 2. Indonesia: 2007-2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan SDKI 2007 Riskesdas 2010 3.0 2. Demikian juga 61 .19).4 0.9%) dibanding di perkotaan (29.8 1.5 0.6 persen tahun 2007 menjadi 44.3 1.3 0. Tabel 5.2 0.Grafik 5.1 0.1 0.1 31. Riskesdas 2010 Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan perempuan berstatus kawin dapat dilihat pada Tabel 5. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara KB.18. Suntikan dan amenorrhea laktasi.8 4. penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih banyak yang tinggal di perdesaan (35. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 38.0 persen tahun 2010. Riskesdas 2010 Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.0 Sumber: SDKI 2007.

3 62 . atau mendapatkan secara gratis di kantor desa.2 2.6 0.1 0. Indonesia 2010 Tempat Pelayanan KB RS Pemerintah RS Swasta RS Bersalin Puskesmas Pustu Klinik TKBK/TMK Dokter praktek Bidan praktek Perawat praktek Polindes/ Poskesdes Lainnya % 3.3% menjawab lainnya.1 0.5 4.9 1.0%) Pustu (4.9%) dibanding di perkotaan (0.9 1.9 2.8 0.1 13. dan di RS pemerintah (3.6 2.6%). depot obat.penggunaan implant di perdesaan (1.5 52.4 0.9 Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek (52.20.4 0.0 4. dll.2%). pada umumnya membeli di Apotik.0 42.4 1. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal.4 6.2 35.0 0.9 0.1 45.1 12. diikuti di Puskesmas (12.2 0.1 Perdesaan 1.5 2.2 4.0 0. Indonesia 2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan Perkotaan 2.5%). bervariasi.0 12.4%) dibanding di perdesaan (12. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat pelayanan KB.1 29. Sebanyak 12.8 0.19. Sebaliknya pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (13.1 12.1 0. Tabel 5.2%).9%). Tabel 5.5 0.

0%).3%). Ada dua provinsi dengan persentase teertinggi yang menjawab butuh.Analisis yang sama seperti dilakukan pada perempuan pernah kawin. Proporsi Perempuan berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB. Indonesia 2010 Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.21.13 dapat dilihat ada 13. adalah unmet need pada perempuan berstatus kawin.13. tapi tidak terpenuhi di atas 30% yaitu Maluku (32. Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8. dan Papua Barat (33.7%). Dari Grafik 5. 63 .9 persen yang sebenarnya membutuhkan KB akan tetapi tidak bisa terpenuhi Grafik 5.

5 39.5 5.2 3.7 19.0 18.9 59.0 7.7 9.2 63.8 13.0 62.Tabel 5.6 2.3 6.3 5.2 39.2 16.8 15.0 14.0 10.7 48.4 16.0 6.8 17.6 7.2 9.8 7.7 3.7 20.6 4.5 55.2 20.7 17.6 7.0 14.8 38.8 20.1 11.5 9.6 65.0 9.1 19.5 59.3 50.9 8.8 8.6 12.7 12.9 5.9 9.8 3.7 19.3 13.5 53.5 9.4 56.2 51.7 7.9 8.1 19.21.7 5.4 43.2 6.0 16.8 60.0 14.3 11.3 16.1 7.0 3.1 25.9 22.0 10.1 10.2 5.2 59.0 18.7 7.0 13.6 45.5 25.7 62.7 8.9 10.2 9.5 5.5 40.9 4.0 19.5 32.7 9.3 11.5 26.3 6.1 13.1 8. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Butuh/tidak Belum/ingin terpenuhi punya anak 23.0 17.6 16.0 9.6 33.4 15.1 38.8 2.2 10. Proporsi Perempuan Berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi.2 16.8 65.2 8.4 Tidak Lainnya perlu lagi 6.7 9.5 53.6 4.5 14.0 15.2 59.0 11.3 8.9 15.0 23.6 4.0 9.6 60.5 6.7 4.0 7.2 29.8 13.1 12.5 9.6 6.5 51.4 21.6 63.2 13.5 9.3 4.5 56.7 12.0 9.8 14.7 13.8 7.3 66.1 10.8 56.3 11.5 Menggunakan KB 44.9 16.4 10.9 15.8 4.8 36.8 3.0 15.6 8.4 6.7 13.2 62.2 8.2 9.0 64 .6 19.3 15.6 32.6 10.5 7.3 8.4 6.4 12.0 8.3 4.6 5.

beberapa indikator yang dapat disajikan dari hasil Riskesdas 2010 untuk pertimbangan mempercepat peningkatan kesehatan ibu antara lain memperhatikan: c.17.16. Dapat dilihat pada grafik 5.4 persen perempuan di Indonesia sudah menikah sebelum menginjak usia 20 tahun Grafik 5. Dari grafik 5. Melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear e. 65 .15.Selain dua kelompok indikator di atas. seperti terlihat pada grafik 5. Indonesia 2010 Informasi lain yang juga penting untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah rutinitas untuk melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear. Pada grafik 5. sudah menikah pada usia yang sangat muda. Usia menikah pertama d. Dari Riskesdas 2010.6 persen perempuan yang melakukan pemeriksaan. selanjutnya pada usia berikutnya proporsi perempuan menikah pertama ini semakin meningkat sampai dengan usia 19 tahun.15 dapat dilihat sekitar 46. Proporsi Perempuan Umur 10-54 tahun menurut Umur Menikah Pertama. 10 tahun. Imunisasi TT f. Perempuan Indonesia. pada perempuan hamil diketahui sekitar 31 persen mendapat imunisasi TT kurang dari 2 kali.14. dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu 12 bulan terakhir hanya 4. Status gizi Dari Riskesdas 2010 dapat diketahui usia perempuan menikah pertama. ditanyakan juga pada responden perempuan pernah kawin berapa kali diberi imunisasi TT sebelum dan sesudah menikah.

Dari grafik 5. 2010 Grafik 5.18 dapat dilihat ada kecenderungan pada 66 .16. Indonesia. Proporsi Perempuan pernah Kawin umur15-49 tahun yang melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear.17. Inndonesia 2010 Informasi lain yang juga sangat penting untuk kesehatan ibu adalah status gizi perempuan reproduktif yang akan melahirkan.Grafik 5. Proporsi Perempuan Umur Reproduktif menurut Jumlah kali mendapat imunisasai TT.

5 adalah kurus dan mempunyai risiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). 2 persen dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) <18. Perempuan dengan IMT 25 + cenderung gemuk dan berisiko tinggi untuk terkena penyakit degeneratif seperti darah tinggi. dll. dan juga dapat mengurangi pernikahan usia remaja serta perbaikan status gizi. dapat disimpulkan bahwa kesehatan ibu pada prinsipnya dapat menjadi lebih baik jika program tetap mengupayakan peningkatan cakupan pelayanan kesehatan terutama pada pertolongan persalinan untuk perempuan hamil.perempuan kelompok umur 15-19 tahun.15 dapat dilihat ada kecenderungan semakin bertambah umur proporsi perempuan dengan IMT 25 keatas semakin meningkat. Indonesia 2010 Berdasarkan analisis di atas. Pelayanan KB diutamakan pada penduduk miskin yang membutuhkan agar jumlah kehamilan dapat diturunkan. Grafik 5. Perempuan dengan IMT <18. diabetes melitus.5. Proporsi Perempuan pernah kawin menurut kelompok umur dan Status Gizi. 17.18. Sebaliknya dari grafik 5. 67 .

1 Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar ttng HIV/AIDS menurut jenis kelamin Riskesdas 2007 dan 2010 68 .1. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 2015 2. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Target: 1.1. kepada responden ditanyakan hal-hal yang terkait dengan pengetahuan HIV/AIDS. Sedangkan mengenai pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS. PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS Salah satu tujuan yang ingin dicapai MDGs dalam kurun waktu 1990-2015 adalah memerangi HIV/AIDS. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015 Narasi berikut mengkhususkan analisis berkaitan dengan pengetahuan responden tentang HIV/AIDS. Salah satu indikator yang digunakan untuk memantau pencapaian target dan dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 adalah prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Riskesdas 2010 melaporkan sebesar 75 persen perempuan maupun laki-laki umur 15-24 tahun pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Hasil Riskesdas 2010 dibandingkan dengan hasil dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 yang mempunyai metode pengumpulan data yang sama. dengan target mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015. masalah malaria dan TB paru 6. Goal 6-MDG Memerangi HIV/AIDS. Gambar 6.1.1).4. Nampak adanya peningkatan pengetahuan pada perempuan sebesar 12 persen dan pada laki-laki sebesar 11 persen dibanding tahun 2007 (Gambar 6.

7 91.9 27.1 Kuintil 3 64.8 74.8 82.1 51.4 58.8 53.9 70.2 Indonesia 64.8 68.2 90.4 23.7 72.2 43.3 44.1 84.8 85.4 50.9 84.4 48.6 79.8 30.3 63. yang tinggal di perkotaan.3 67.3 62.9 55.3 55. dan yang bekerja sebagai pegawai dan wiraswasta.1 56.8 64.4 78.81 91.5 49.0 79.4 71.1.3 67.6 66.0 83.Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin.8 79.1 69.1 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS.2 73.5 41.9 82.1 83.2 79.1 90.4 51.7 80.8 85.3 75.0 63.0 55.2 94.0 89.9 56.9 65.7 Kuintil 4 68.3 67.1) Tabel 6.3 56.3 84.4 50. menurut karakteristik penduduk.0 91.2 73.9 62.4 38.9 70.9 Tingkat pengeluaran perkapita Kuintil 1 53.9 68.3 76.4 79.2 40.5 96. Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 Karakteristik penduduk 2007 Status kawin Belum kawin Kawin Cerai Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D1/2/3/PT Pekerjaan Tidak bekerja Sekolah Pegawai Wiraswasta Petani/ nelayan/buruh Lainnya Laki-laki 2010 Perempuan 2007 2010 64.4 84.8 49.0 59.7 61.3 77.0 72. (Tabel 6. pada mereka yang masih sekolah.1.8 62.2 27.5 Kuintil 2 58.2 33.2 90.3 78.7 69.3 86.5 63.5 63.7 33. yang berpendidikan lebih tinggi.6 88.1 Kuintil 5 75. juga pada kuintil/ pendapatan perkapita yang lebih tinggi.8 69 .

DKI Jakarta. Gambar 6. NTB. Papua.Tabel 6. Papua Barat.1. dan Jawa Timur. Riskesdas 2010 70 .1.2 dan Gambar 6.1. Sulawesi Utara.2 Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar menurut Provinsi. Bali. Jawa Tengah. Kepulauan Riau.2 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi pernah mendengar AIDS diatas rata-rata yaitu Yogyakarta.

4 71 .8 55 .3 79 .1 62 .1 82 .2 72 .7 90 .8 63 .6 69 .8 Laki-Perempuan 73 .1 82 . dan 2 variabel tentang cara pencegahan HIV/AIDS yaitu 71 .7 90 .1 66 .4 69 .5 77 .4 Perempuan 74 .7 95 .5 63 .2 81 .5 67 .6 81 .7 67 .6 89 .4 Pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS Untuk melihat kecendrungan hasil tahun 2007 dan 2010 dilakukan reanalisis data SDKI dan SKRRI 2007 dengan menggunakan empat variabel yang sama dalam Riskesdas 2010.1 46 .2 72 .0 68 .1.1 77 .6 67 .0 68 .4 75 .3 66 .5 73 .3 83 .6 78 .2 66 .0 77 .7 74 .2 76 .8 64 .0 75 .5 66 .8 55 .1 77 .4 71 .5 60 .5 77 .7 58 .5 73 .5 66 .4 76 .1 94 .8 81 .0 77 .2 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS menurut provinsi.1 94 .1 66 .2 76 .1 70 .4 75 .1 53 .6 78 .2 66 .5 67 . 2 variabel dari persepsi salah tentang penularan HIV/AIDS yaitu melalui (1) makan sepiring dengan orang yang terkena virus HIV/AIDS.2 81 .5 61 .0 72 .9 76 .6 89 . (2) melalui gigitan nyamuk.0 77 .5 90 . Pengetahuan komprehensif merupakan komposit dari 4 variabel.5 60 .1 70 .4 63 .3 81 .2 74.8 57 .1 64 .6 56 .4 62 .3 67 .6 69 .3 67 .1 53 .1 72 .6 48 .7 58 .0 75 .8 57 .1 64 .7 71 .6 71 .6 41 .6 81 .3 81 . Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 73 .Tabel 6.6 41 .7 93 .3 79 .8 63 .7 95 .0 89 .1 62 .1 86 .

6 18 .6 16 . yang berpendidikan lebih tinggi.2 27 .8 11 .8 22 .0 20 .2 15 .6 19.6 18 .0 19 .8 12 .5 14 .1 24 . juga pada pendapatan perkapita yang lebih tinggi. pada mereka yang masih sekolah.5 8 .3 35 .8 11 .6 18 .1 13 .8 25 .5 17.1.1 16 .3 15 .2 23 .4 12 .0 18 .8 11 .3 33 .9 18 .4 17 .1 10 .8 21 . yang tinggal di perkotaan.7 18 .3 32 .6 7 . (Tabel 6.6 19 .2 13 .5 24 .2 13 .1 12 .3 4 .9 10 . dan yang bekerja sebagai pegawai.9 15 . menurut karakteristik penduduk.5 23 .8 14 .9 8 .7 20 .4 22 .3 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.6 19 .9 9 .4 23 .7 3 . Riskesdas 2010 Karakteristik penduduk Status kawin Belum kawin Kawin Cerai Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D1/2/3/PT Pekerjaan Tidak bekerja Sekolah Pegawai Wiraswasta Petani/ nelayan/buruh Lainnya Pengeluaran perkapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Indonesia Laki-laki Perempuan Laki-perempuan 20 .6 14 .1.3 10 .8 21 .0 21 .3) Tabel 6. Riskesdas 2010 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif “baik” tentang HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin.(3) berhubungan seksual dengan satu pasangan saja dan (4) menggunakan kondom saat berhubungan seksual.0 25 .8 22 .8 15 .9 20 .3 6 .9 25 .9 22 .3 22 .6 22 .4 15 .5 72 .3 24 .0 13 .0 16 . wiraswasta dan sekolah.

Gambar 6. DI Yogyakarta.4 dan Gambar 6. Bengkulu.Tabel 6. Papua. Komprehensif tentang HIV/AIDS menurut Prov.3 Prev.1. Riau. Jawa Timur.1.1. Penduduk 15-24 th dengan Penget. Papua Barat. DKI Jakarta.. Sumatera Utara.3 menunujukkan 10 provinsi dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS di atas nilai rata-rata yaitu provinsi Bali. RKD 2010 73 . NTB. Jawa Tengah.

3 12 .4 12 .5 24 .0 13 .0 12 .4 18 .6 15 .8 19 .1 10 .8 20 .5 22 .6 16 .8 13 .6 15 .4 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.4 17 .4 13 .3 13 .5 Dibandingkan dengan hasil SDKI 2007. tampak adanya peningkatan prevalensi penduduk (lakilaki dan perempuan) umur 15-24 tahun belum kawin dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.5 7 .0 10 .6 24 .8 15 .1 31 .6 8 .1 13 .7 18 .7 25 .5 35 .2 32 .0 14 .0 7 .1 11 .8 10 .5 11 . Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 16 .5 13 .1 12 . menurut provinsi.9 16 .1.6 23 .1 16 .6 31 .2 11 .9 12 .4 7 .4 10 .2 15 .Tabel 6.7 16 .8 17 .4 11 .3 12 .2 20 .0 15 .1 20 .8 18 .3 24 .5 7 .4 15 .5 8 .8 18 .5 11 .8 22 .9 27 .1 25 .5 14 .5 30 .4) 74 .5 11 .2 26 .2 Laki-perempuan 16 .4 12 .6 31 .2 17 . tetapi pada laki-laki kawin tampak sedikit penurunan pada tahun 2010 (Gambar 6.3 39 .1 17 .3 19 .9 19 .6 9 .3 21 .5 15 .2 21 .0 16 .2 17 .3 12 .2 9 .8 6 .5 22 .8 24 .9 18 .9 9 .5 14 .8 19 .1.2 10 .4 13 .0 24 .8 Perempuan 16 .6 18 .2 17 .9 8 .4 21 .0 8 .1 19 .1 14 .2 12 .5 27 .

SDKI 2007 dan Riskesdas 2010 Catatan: Hasil analisis ulang pengetahuan komprehensif penduduk 15-24 tahun SDKI 2007* dengan 5 variabel. seksual.Gambar 6.4 Kecenrungan Pengetahuan Komprehensif Penduduk 15-24 tahun tentang HIV/AIDS.7 Perempuan 15. mengetahui orang tampak sehat dapat terkena HIV.7 14. menolak dua persepsi salah yaitu HIV tertular melalui gigitan nyamuk dan dapat ditularkan melalui berbagi makan dengan ODHA. hubungan seksual hanya dengan satu pasangan.1.1 9. 75 .5 *5 variabel yaitu penggunaan kondom saat hub. sebagai berikut: Status kawin Belum kawin Kawin Laki 13.

6.6. Berbagai upaya penanggulangan telah dilaksanakan dengan menggalang berbagai sumber dana baik dari pemerintah dan non pemerintah (WHO dan Global Fund). Peran malaria pada indikator MDGs lain MDG 1 2 4 5 6 8 Tujuan Menanggulangi kemiskinan Mencapai pendidikan dasar untuk semua Menurunkan angka kematian anak Meningkatkan kesehatan ibu Peran malaria Memelihara kemiskinan Penyebab absen sekolah Penyebab kematian Ancaman kehidupan ibu dan anak Memerangi HIV/AIDS. Kelebihan derivatif artemisinin ini adalah dapat mencegah penularan. penyemprotan rumah dengan insektisida. Dampak luas dari malaria yang berhubungan dengan 5 indikator MDGs lain dapat dilihat pada Tabel. Di Indonesia ditemukan semua jenis human plasmodia terutama Plasmodium falciparum and P.2. pengobatan yang tepat untuk subjek terinfeksi malaria dengan artemisinin-based combination therapy (ACT). dan memungkinkan sebagai penyakit emerging dan re-emerging karena adanya kasus import dan vektor potensial yang dapat menularkan dan menyebarkan malaria. telah dihasilkan komitmen global tentang eliminasi malaria bagi setiap negara. Pada pertemuan WHA 60 tahun 2007. sehingga tidak mengherankan malaria juga merupakan neglected disease.1.2. dan pengobatan pencegahan pada ibu hamil1. PENYAKIT MALARIA Malaria merupakan masalah kesehatan dunia karena mengakibatkan dampak yang luas.1. Di Indonesia eliminasi malaria dimulai sejak tahun 2009. Malaria dan penyakit Menyebabkan kesakitan dan menular lainnya kematian Mengembangkan kemitraan global untuk Kerja sama dalam penanggulangan melalui Global pembagunan Fund Pada tahun 2005. ACT yang digunakan oleh program malaria nasional adalah kombinasi 76 . program malaria Indonesia secara bertahap telah menggunakan ACT sesuai rekomendasi WHO4. World Health Assembly (WHA) mentargetkan penurunan kasus kesakitan dan kematian malaria sebanyak =50% di tahun 2010 dan =75% di tahun 2015 dari angka pada tahun 2000. Oleh sebab itu malaria menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi sasaran prioritas komitmen global di Millenium Development Goals (MDGs) yang dideklarasikan oleh 189 anggota PBB pada tahun 2000.vivax. Selain itu malaria umumnya merupakan penyakit di daerah terpencil atau sulit dijangkau dan di negara miskin atau berkembang. Laporan tahunan menunjukkan kasus terbanyak dilaporkan dari Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Timur.2. Untuk percepatan penanggulangan malaria dilakukan berbagai intervensi: kelambu berinsektisida untuk penduduk berisiko. Sejak tahun 2004. Tabel 6. Kasus malaria yang dilaporkan umumnya masih merupakan malaria yang diagnosis hanya berdasarkan gejala klinis karena keterbatasan akses dan fasilitas pemeriksaan laboratorium.

dan pada Riskesdas 2010 data kesakitan malaria dilengkapi dengan pemeriksaan darah malaria pada semua responden. Kuesioner yang digunakan ada yang khusus untuk responden Rumah Tangga (RT) untuk faktor pendukung (promosi/pengetahuan tempat pelayanankesehatan dan pemeriksaan darah malaria. prevalensi malaria. semua responden harus menandatangani informed consent. Setiap tiga tahun Badan Litbangkes melaksanakan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). faktor pendukung lainnya (promosi. Apusan darah tebal malaria diperiksa di Puslitbang Biomedis dan Farmasi secara blinded untuk keperluan validasi hasil RDT. Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS 15. Cakupan kelambunisasi berinsektisida pada balita. sedangkan artemeter-lumefantrin direkomendasi oleh klinisi. Angka kesakitan malaria Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 2. Demikian juga kasus dengan riwayat demam walaupun hasil RDT negatip akan dirujuk untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut.1). Sedangkan API di JawaBali adalah 0. risiko terinfeksi malaria). Dari data Riskesdas 2010 dapat ditentukan Angka Kesakitan Malaria (Annual Parasite Incidence/API 2009-2010 dan Prevalensi malaria).artesunat-amodiakuin dan dihidroartemisinin-piperakuin.8 persen (Gambar. 77 . Riskesdas pertama dilaksanakan pada tahun 2007.6. dan kuesioner individu atau Anggota Rumah Tangga/ART (Annual Parasite Incidence/API. tetapi juga dapat sebagai data dasar dan bahan evaluasi untuk pencapaian eliminasi malaria di Indonesia. 1. dan Riskesdas ke 2 tahun 2010 dirancang khusus sebagai bahan evaluasi pencapaian MDGs. cakupan ACT. Total sampel Kesmas adalah 2800 Blok Sensus (BS). Sebelum dilakukan wawancara dan pemeriksaan darah malaria. dan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT). Data Riskesdas selain dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pencapain target MDGs. prevensi. pemanfaatan pelayanan kesehatan. penggunaan obat tradisonal/tanaman obat untuk malaria).2. persentasi yang melakukan pencegahan. dan pengobatan tradisional atau dengan tanaman obat). dan perkembangan hasil Riskesdas 2007.4 persen. Semua anggota Rumah Tangga diperiksa darahnya dengan RDT (Entebe®) dan apabila disertai dengan riwayat demam dalam 48 jam terakhir juga dilakukan pemeriksaan malaria apusan darah tebal dengan pewarnaan Giemsa. Pengobatan efektif pada balita. Satu BS terdiri dari 25 RT. Semua kasus yang positip malaria dengan RDT dirujuk ke Puskesmas terdekat. tempat pemeriksaan/penentuan diagnosis malaria. Data Riskesdas malaria dikumpulkan dengan dua cara yaitu wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas. Pada Riskesdas 2007 hanya dikumpulkan data prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan hasil wawancara. sedangkan sampel untuk pemeriksaan darah malaria adalah sebanyak 823 BS yang merupakan sub sampel dari sampel Kesmas.

3% (Bali) dan 31.%) terinfeksi malaria hanya satu kali dalam satu tahun terakhir.1 persen.2).17 permil) dan 2007 (0.16 permil) (Bappenas. Hal ini disebabkan karena dimasa lalu hanya Jawa-Bali yang sudah dapat mengkonfirmasi kasus malaria dengan pemeriksaan apusan darah malaria. Riskesdas 2010 2. sedangkan yang dua kali adalah 39.2.1. Sedangkan hasil API Riskesdas 2010 adalah API Nasional (24 permil) dan dikumpulkan dari masyarakat yang dapat merupakan data dari fasilitas pelayanan pemerintah dan sektor swasta. Jadi tidak mengherankan API Jawa-Bali dari Riskesdas 2010 (8 permil) lebih besar dari pada API tahun 1990 (0. Pada umumnya (50.8 persen dan yang tiga atau lebih adalah 10.5 0 Jawa-Bali Nasional 0. Sebanyak 20 provinsi dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional (Tabel.Gambar. 78 .4 API pada tahun 1990 dan 2007 hanya merupakan API Jawa-Bali yang berasal dari fasilitas pelayanan pemerintah.6.2.5 1 0.6.8 2. API.5 2 1. Rentang API Nasional adalah antara 0.1. 2009)8.4% (Papua).

3 4.0 1.0 2.2 1.8 0.9 1. Riskesdas 2010 NO NAMA PROVINSI 1 NAD 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 8 Lampung 9 Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 22 Kalimantan Selatan 23 Kalimantan Timur 24 Sulawesi Utara 25 Sulawesi Tengah 26 Sulawesi Selatan 27 Sulawesi Tenggara 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Jawa-Bali Indonesia API (%) 2.2 4.4 3.6 1.2 API malaria menurut provinsi.9 3.7 10.4 1.6 5.7 2.3 25.2.6 10.7 2.7 0.8 5.8 2.1 0.6 9.4 79 .5 31.6 7.Tabel 6.8 6.4 0.3 2.7 6.7 0.0 2.0 0.2 4.7 2.6 5.

6%).2 2.9%).6 2.9 2. Riskesdas 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 . responden dengan pendidikan tidak tamat SD (2.9 2.0 2.2 2.14 25 .0%).34 35 .2 2.0 2.2 2.2 2.44 45 .54 55 .Tabel 6.24 25 . dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 4-5 (2.9 Pada Riskesdas 2010.5 2.9 2. 2. responden laki-laki (2. responden yang tinggal di perdesaan (2.5 2.7%.3 1.9%) 80 .3 2.8 1.7 2.3 2.2 2.4 1.4 2.9 3.4 2.64 65 .3 API (%) Menurut Karakteristik Responden.5 2. API lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-54 tahun.6 2.0 2.3 2.2.2 1.0 2. responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (3.5 2.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 API (%) 1.9%).

Gejala klinis ini termasuk kasus asimptomatik atau tanpa demam tetapi minum obat anti malaria (0. Angka ini didapatkan dari kasus kesakitan yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria (0.85%) dipengaruhi oleh prevalensi yang berdasarkan gejala klinis.2.7%) yang lebih tinggi dibandingkan dengan Period Prevalence Riskesdas 2007 (2. Keadaan ini dapat disebabkan akses dan kemampuan kelompok dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah untuk melakukan pemeriksaan darah malaria terbatas.6%) berdasarkan hasil wawancara (Gambar 6. Jadi Period Prevalence Nasional 2010 (10.6 0.2. Hasil ini tidak mengherankan karena malaria menyerang semua umur.2. Riskesdas 2010 10 8 6 9.(Tabel 6.39 pada Riskesdas 2007 menjadi 0. Oleh sebab itu penentuan kesakitan atau diagnosis malaria yang benar dan akurat adalah harus melalui konfirmasi pemeriksaan baku emas apusan darah malaria atau deteksi antigen antara lain dengan RDT.6 persen pada Riskesdas 2010.2.6%). dan pada umumnya di daerah terpencil atau pedesaan serta ekonomi rendah (Tabel 6. Period Prevalence (%). dapat berhubungan dengan pekerjaan.6 4 2 0.2.7 persen. Hal yang menarik adalah pada kelompok kuintil 4 dan 5 ternyata API nya > dari API nasional.2%). Prevalensi malaria Indonesia dalam satu bulan terakhir (Period Prevalence) pada Riskesdas 2010 adalah 10.3). Gejala klinis malaria sangat beragam dan tidak spesifik dari asimptomatik sampai dengan gejala klinis berat. Gambar 6.2). dan gejala klinis (10. terjadi penurunan dari 1. 81 .6 0 Konfirmasi lab Gejala klinis Asimptomatik Bila dibandingkan dengan angka Prevalensi dalam satu bulan terakhir yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria.3).

2.39 0.12.8%).85 2007 2010 Sekitar 64 persen (21 provinsi) mempunyai angka Period Prevalence lebih besar atau sama dengan Period Prevalence Nasional.2%) (Tabel 6.6%) dan tertinggi di Papua Barat (33.2.Gambar 6. Pada Riskesdas 2010.2%). Karakteristik ini tidak berbeda dengan karakteristik pada responden API kecuali pada kelompok tingkat pengeluaran perkapita yaitu kasus malaria lebih banyak ditemukan pada kelompok kuintil 1-3.2. dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 1-3 (10.7% . Period Prevalence yang dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah dan Point Prevalence juga lebih tinggi pada kelompok umur 1-34 tahun (0.7%).6% (Tabel 6.0.2.8%). Seperti halnya temuan pada karakteristik API. sedangkan yang diagnosisnya diketahui berdasarkan konfirmasi pemeriksaan darah adalah kelompok kuintil 4-5 seperti pada API.6 2. pekerjaan anak sekolah dan petani/ nelayan/ buruh (0.0%).6).8%). di perdesaan (0. pendidikan rendah (tidak tamat SD) (0.).3. periode prevalence lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-64 tahun (10. 6.0.7%) dan pada kuintil 1 dan 3 (0. responden laki-laki (10. Prevalensi Malaria.9% .8%).7%) (Tabel. Hal ini menunjukkan konsistensi temuan antara hasil wawancara dengan pemeriksaan RDT. responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (13.6%).0% – 12.7% . Angka Prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria ternyata sama dengan angka Prevalensi malaria yang didapat dari hasil pemeriksaan dengan RDT pada saat dilakukan Riskesdas 2010 (Point Prevalence) yaitu 0.6) 82 .9% . Riskesdas 2007 dan 2010 12 10 8 10.5).11.2. Period prevalence terendah adalah di provinsi Yoyakarta dan Bali (4. responden yang tinggal di perdesaan (13%). responden dengan pendidikan rendah/ tidak tamat SMP (12.7 6 4 2 0 D DG 1. (Tabel 6.4.

36 1.7 Indonesia 83 .4 0.85 D (%) 0.03 3.73 1.0 9.73 1.66 2.42 7.37 2.67 2.26 3.23 26.31 1.55 0.6 11.0 15.5 0.1 0.09 0.9 1.37 1.3 0.88 0.6 0.09 1.5 1.31 15.2 28.5 1.41 2.32 0.10 0.4 9.08 0.05 0.07 0.65 2.1 10.2.1 0.65 12.3 3.6 2010 DG (%) 12.6 29.0 0.3 12.07 0.1 0.6 20.23 1.5 9.87 2.89 1.30 0.18 0.7 19.4 0.4 10.2 0.7 7.9 1.1 0.14 1.7 0.1 0.88 0.9 33.45 2.3 16.75 12.58 0.0 11.8 1.5 18.41 0.2 10.42 0.79 0.39 2007 DG (%) 3.5 1.6 13.3 10.2 14.5 8.7 4.7 4.32 0.6 7.41 1.0 12.4 1.0 0.12 7.85 1.32 0.1 1.10 2.86 2.9 9.31 3.1 0.6 7.3 6.41 0.4 0.3 22.63 7.09 1.01 4.3 4. Riskesdas 2007 dan 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nama Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D (%) 1.27 5.81 0.4 0.51 0.2 11.8 2.87 3.1 0.4 Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Provinsi.07 0.06 7.1 28.9 0.02 6.6 14.8 12.82 1.22 5.7 0.04 3.51 0.16 2.14 18.06 0.Tabel 6.5 9.86 1.

53 1.70 2.8 0.44 45 .75 3.14 15 .38 1.88 1.50 1.9 10.7 0.62 3.57 1.5 0.Tabel 6.2 0.02 2.7 0.55 1.8 10.2 10.7 0.74 2010 D (%) DG (%) 0.05 2.3 0.0 10.0 10.5 0.48 1.52 0.2 9.26 0.5 0.0 12.7 0.0 11.7 11.49 2.7 0.83 2.5 0.08 11.4 0.5 0.72 2.5 6.83 2.6 0.54 55 .14 1.2 12.42 1.36 1.1 10.7 11.83 1.6 12.5 0.66 2.46 3.22 1.4 0.43 1.41 1.9 0.10 1.19 1.6 0.97 2.6 9.0 12.4 10.38 1.2.4 0.8 13.2 84 .20 3.04 2.12 2.6 0.5 Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Karakteristik Responden.83 3.4 0.8 0.24 25 .95 4.0 1.35 1.4 10.4 0.9 7.14 1.66 1.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Pedesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 2007 D (%) DG (%) 0.31 1.9 10.5 0.4 0.7 8.69 3.05 1.19 1.69 2.5 8.05 2.37 1.54 3.08 1.90 2.8 11.09 3.37 1.85 1.7 10.7 8.35 3.9 5.6 9.5 13.64 65 .31 1.59 1.42 1.57 1.6 0.64 2.0 11.34 35 .13 2.6 0.75 1.9 9.7 0. Riskesdas 2007 dan 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .

2 0.6 0.3 0.8 0.6 0.6 Point Prevalence Menurut Karakteristik Responden.34 35 .6 0.7 0.3 0.6 0.8 0.4 0.6 0.8 0.24 25 .6 0.7 0.7 0.6 0.44 45 .14 25 .5 0. Riskesdas 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .5 0.7 0.7 0.TABEL 6.6 0.4 0.6 85 .7 0.7 0.5 0.6 0.2.6 0.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 NASIONAL Point Prevalence (%) 0.54 55 .8 0.64 65 .5 0.7 0.

9% (Tabel. Khusus pada balita. 86 .3%. 80.1%. penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34.6% yang diminum dengan dosis lengkap.% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam.6 21. Gambar. dan hanya 75. Jadi yang dimaksud dengan pengobatan efektif menurut WHO adalah pengobatan malaria yang diberikan dalam 24 jam pertama demam atau sakit dengan ACT dan obat diminum dengan dosis lengkap. dan 83. Pengobatan akan lebih efektif apabila pengobatan diberikan dalam 24 jam menderita demam atau sakit. Pengobatan Efektif Malaria.4% yang diminum dengan dosis lengkap.9 Dari hasil wawancara. Pengobatan efektif Obat antimalaria yang direkomendasikan oleh program Malaria adalah dengan menggunakan Artemisinin Combination based Therapy (ACT). Riskesdas 2010 35 30 25 20 15 10 5 0 Semua kelompok umur Balita 33. dihidroartemisin-piperakuin (sejak tahun 2009 dan dimulai di Papua).6%. penggunaan ACT di Indonesia hanya mencapai 49. Sosialisasi dan pelatihan ACT sangat perlu digalakkan.4.2. sedangkan pada balita hanya 21. Jadi penderita malaria semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33. dan ketersediaan ACT perlu dievaluasi untuk mendapat pengobatan yang efektif.2.7). dan artemeter-lumefantrin yang direkomendasi oleh klinisi (sejak tahun 2009). Selain ACT. pengobatan yang efektif perlu ditunjang diagnosis yang akurat dan cepat terutama pada kelompok berisiko yaitu balita.2. serta 89.6. ACT yang digunakan oleh program adalah artesunat-amodiakuin (sejak tahun 2004).5. ACT program diminum dengan dosis tunggal harian selama 3 hari. 6. 6.% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam.

Gambar. cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26. terjadi penurunan cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida (dari 32.1% menjadi 26. Riskesdas 2007 dan 2010 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Balita Semua umur Balita Semua umur 7. Riskesdas 2010. jenis kelambu yang direkomendasikan adalah kelambu yang telah diobati atau dipoles dengan insektisida permetrin.6.2 32.1 75. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12.Tabel 6.6 Balita 21.7% menjadi 16. 87 .7%) (Tabel.4 3.0%.5% menjadi 12. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010.7 Cakupan Penderita Malaria yang Mendapat Pengobatan Efektif.0 12. Sedangkan cakupan total kelambunisasi yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita terjadi kenaikan yaitu dari 5.5% dan dari 7.8). Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 32.2.1%. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 16.7 5. Cakupan kelambunisasi Penggunaan kelambu dapat mencegah infeksi malaria melalui gigitan nyamuk.7%.1 Berinsektisida 16.1%) dan khusus pada balita (dari 38. ACT Cakupan (%) ACT dosis lengkap Proporsi (%) Mendapat ACT Mendapat ACT dalam 24 jam Pengobatan 3 hari & diminum habis Semua umur 33.2.1 32.7 26.6 83.9 34. 6. Cakupan Kelambunisasi.5 89.2% menjadi 32.3 80.0%.6 49.5 Semua kelambu 2007 2010 Dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2007.5 38. Untuk meningkatkan daya proteksi.2.5% pada responden semua kelompok umur.5.

Tabel 6.2.8 Cakupan kelambunisasi, Riskesdas 2007 dan 2010 Jenis Kelambu Tahun 2007 Semua umur Balita 32,1 5,5 38,2 7,7 Tahun 2010 Semua Balita umur 26,1 12,5 32.7 16,0

Kelambu dengan dan tanpa insektisida Kelambu dengan insektisida

Penurunan cakupan total kelambunisasi dan khusus pada balita dapat disebabkan karena program lebih mengutamakan kelambu yang diproteksi insektisida sehingga meningkatkan cakupan total kelambu yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita. Walaupun demikian cakupan kelambunisasi protektif dengan insektisida masih perlu ditingkatkan terutama di populasi dengan risiko malaria tinggi atau daerah endemis malaria dan khususnya pada kelompok khusus balita dan ibu hamil. Dari uraian di atas dapat disimpulkan: 1. Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2,4 persen, sedangkan API Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0,8 persen. Demikian pula Period Prevalence malaria pada tahun 2010 (10,7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2,85%). Angka Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point Prevalence (0,6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian. 2. Pengobatan efektif malaria pada balita hanya 21,9 persen. 3. Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7,7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010.

88

6.3. TINGKAT PREVALENSI TUBERKULOSIS Riskesdas 2010 bertujuan untuk memberikan hasil antara lain Angka Prevalensi Nasional TB 2010 dan Proporsi pemanfaatan OAT DOTS oleh penderita TB yang merupakan salah satu komponen untuk memperoleh gambaran pemanfaatan Program Directly Observed Treatment of Short-course (DOTS) di Indonesia. Kedua data ini merupakan bagian dari target nomor 6 pada Millenium Development Goal’s (MDG’s) dan dapat memberikan gambaran mengenai tata laksana TB di Indonesia. Angka Prevalensi Nasional TB pada Riskesdas 2010 diperoleh dengan cara wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana kepada responden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis menderita TB Paru melalui pemeriksaan dahak dan atau foto paru oleh tenaga kesehatan/nakes (dokter/perawat/bidan) untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB berdasarkan diagnosis (D). Kepada responden juga ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah menderita batuk berdahak = 2 minggu disertai satu atau lebih gejala: dahak bercampur darah/ batuk berdarah, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, dan demam > 1 bulan untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB berdasarkan gejala (G). Definisi operasional untuk Prevalensi TB menurut WHO adalah Angka penderita TB Paru positif pada 100.000 populasi berusia 15 tahun atau lebih. Sementara definisi operasional untuk TB Paru positif menurut International Standard for TB Care (ISTC) yang telah diadopsi oleh Indonesia mulai tahun 2006 adalah suspek TB yang telah positif diuji secara mikroskopis BTA (Bakteri Tahan Asam) apusan dahaknya dengan minimal pembacaan terhadap apusan dahak yang dikumpulkan dua kali atau lebih baik tiga kali (sewaktu, pagi, sewaktu) dan paling sedikit satu kali (pagi). Pada Riskesdas 2010 berdasarkan diagnosis nakes (D) adalah sebesar 0,7 persen sementara berdasarkan gejala (G) adalah sebesar 2,7 persen. Angka Prevalensi Nasional TB hasil gabungan D dan G (DG) menjadi 3,3 persen. Bila mengacu pada definisi operasional WHO dan ISTC maka data prevalensi yang mendekati kenyataan adalah data yang berasal dari diagnosis nakes (D), yaitu sebesar 0,7 persen. Prevalensi Nasional TB (D) cenderung meningkat sesuai dengan bertambahnya usia dimana angka tertinggi berada pada kelompok usia 55-64 tahun (1,3%) dan terendah pada kelompok usia 15-24 (0,3%). Prevalensi penderita laki-laki adalah 0,8 persen dan perempuan 0,6 persen dengan prevalensi penderita yang berada di kota sama dengan di desa sebesar 0,7 persen, serta juga menunjukkan kecenderungan menurun dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan dimana prevalensi paling rendah terdapat pada tingkat pendidikan tamat SMA (Tabel 6.3.1). Prevalensi TB tertinggi berdasarkan jenis pekerjaan ditemukan pada kelompok pekerjaan Petani, Nelayan dan Buruh sebesar 0,9 persen dan terendah pada kelompok Sekolah dan POLRI/TNI/Pegawai sebesar 0,4 persen. Berdasarkan tingkat pengeluaran perkapita prevalensi TB yang berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan didapati prevalensi terendah pada kuintil 5 (0,6%) dan tertinggi pada kuintil 3 dan 4

89

(0,8%). Sedangkan angka prevalensi TB berdasarkan diagnosa dan gejala (DG) didapati prevalensi tertinggi pada kuintil 1(3,5%) dan terendah pada kuintil 5 (3,9%) (Tabel 6.3.1). Tabel 6.3.1 Prevalensi TBC menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Prevalensi 2007(%) D DG Prevalensi 2010 (%) D DG

Kelompok umur (tahun) 15-24 0,21 0,60 0,3 2,6 25-34 0,32 0,83 0,6 2,8 35-44 0,44 1,10 0,7 3,1 45-44 0,59 1,45 0,9 3,7 55-64 0,70 1,91 1,3 4,7 65-74 1,08 2,62 1,2 4,7 >74 1,10 2,75 1,1 5,1 Jenis kelamin Laki-laki 0,44 1,08 0,8 3,1 Perempuan 0,35 0,90 0,6 2,4 Tipe Daerah Perkotaan 0,36 0,77 0,7 3,1 Perdesaan 0,42 1,12 0,7 2,4 Pendidikan Tidak pernah sekolah 0,88 2,42 1,1 4,9 Tidak tamat SD/MI 0,53 1,46 1,0 4,7 Tamat SD/MI 0,39 1,02 0,9 3,7 Tamat SLTP/MTS 0,31 0,73 0,6 2,7 Tamat SLTA/MA 0,29 0,62 0,5 2,3 Tamat PT 0,27 0,60 0,6 1,8 Pekerjaan Tidak bekerja 0,62 1,40 0,8 3,2 Sekolah 0,18 0,49 0,4 2,5 TNI/ Polri/Pegawai 0,27 0,56 0,4 2,1 Wiraswata/ Layan Jasa/ Dagang 0,42 0,89 0,7 2,8 Petani/Nelayan/Buruh 0,55 1,60 0,9 4,2 Lainnya 0,49 1,17 0,7 3,1 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0,40 1,07 0,7 3,5 Kuintil 2 0,43 1,07 0,7 3,4 Kuintil 3 0,42 1,01 0,8 3,4 Kuintil 4 0,38 0,94 0,8 3,1 Kuintil 5 0,34 0,82 0,6 2,9 Data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2007 tidak dapat dibandingkan dengan data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2010. Hal ini disebabkan karena penentuan sampel BS pada Riskesdas 2007 berbeda dengan Riskesdas 2010 serta pertanyaan mencakup data diagnosa dan gejala pada kuisioner terstruktur juga berbeda. Menjadi catatan bahwa dengan ruang lingkup pertanyaan yang lebih rinci pada Riskesdas 2010 angka Prevalensi Nasional TB menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

90

104%).7% pada populasi) dapat hendaknya menjadi perhatian yang serius bagi Program TB di Indonesia.3. Beberapa provinsi memiliki prevalensi di atas angka nasional.275%) dan pada tahun 2010 turun menjadi 244 kasus/100. diikuti oleh Provinsi Sulawesi Utara (1.3%) serta angka terendah terdapat di Provinsi Sumatera Selatan.244%).1% terhadap suspek) dan hasil Riskesdas 2010 (0.000 penduduk/tahun (0.000 penduduk/tahun (0.3.5%). Data ini diperoleh berdasarkan hasil laporan dari fasilitas kesehatan yang tergabung dalam program DOTS di seluruh Indonesia. yaitu tertinggi di Provinsi Papua (1.Tuberkulosis Paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 0. Meskipun terjadi peningkatan Case Detection Rate dan Cure Rate yang tinggi setiap tahunnya tetapi percepatan penyebaran penyakit di masyarakat masih lebih tinggi.3.3%) dan Banten (1. Lampung.2 di bawah ini. Data prevalensi sebelumnya yang menggunakan uji konfirmasi laboratorium adalah data Prevalensi Nasional hasil Survey Prevalensi TB pada tahun 2004 yang memberikan angka prevalensi Nasional TB berdasarkan pemeriksaan mikroskopis BTA terhadap suspek adalah sebesar 104 kasus/ 100. Data WHO Global Report yang dicantumkan pada Laporan Triwulan Sub Direktorat Penyakit TB dari Direktorat Jenderal P2&PL tahun 2010 menyebutkan estimasi kasus baru TB di Indonesia tahun 2006 adalah 275 kasus/100. hal ini dapat dilihat pada grafik 6.000 penduduk (0. DIY dan Bali (0. Metode active case 91 .1 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2010 Perbedaan Angka Prevalensi TB pada Riskesdas 2007 dan 2010 dapat dilihat pada tabel 6.7 persen. Grafik 6. Kecendrungan meningkatnya angka Prevalensi Nasional TB bila dibandingkan antara hasil Survei Prevalensi TB 2004 (0.3%).1 di bawah ini.

7 0.47 0.99 Prevalensi 2010 (%) D 0.25 0.38 0.3 4.98 1.6 0.3 0.7 4.47 2.36 1.19 1.5 7.7 1.2 2.1 3.6 0.3.03 1.6 3.2 0.3 0.4 DG 1.0 4.31 0.1 1.4 0.7 7.05 0.6 0.11 0.6 0.12 0.86 0.2 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2007 dan 2010 PROVINSI Prevalensi 2007(%) D 0.71 0.40 0.26 0.15 0.43 0.56 0.5 0.83 1.2 2.6 1.33 0.21 0.4 1.11 0.4 2.45 0.8 1.9 3.53 1.31 0.0 0.69 1.6 2.9 0.48 1.7 0.34 0.4 2.75 0.7 DG 3.8 0.00 0.0 0.8 2.6 3.34 0.4 0.02 1.3 0.47 1.58 1.00 1.24 1.3 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92 .37 0.7 5.89 0.finding terhadap populasi usia 15 tahun ke atas yang diterapkan pada Riskesdas 2010 memberikan kenyataan tentang hal ini dimana kasus TBC di masyarakat masih sangat tinggi.0 3.58 0.82 0.3 4.9 0.47 0.6 0.24 0.43 0.31 0.3 0.6 3.55 1.6 4.9 0.4 5.49 0.4 1.6 3.36 0.23 0.13 0.73 0.54 2.5 7.8 0.03 1.2 3.01 0.63 0.7 0.40 0.4 2.18 0.3 0.73 0.3 0.1 3.02 0.42 0.8 5.0 4.38 0. Tabel 6.23 0.4 1.07 2.22 1.4 4.9 5.7 2.62 1.5 0.4 5.5 0.29 0.

104 0.1 0.2 Data Prevalensi Nasional TB Indonesia dalam persen 0. Persentase Pemanfaatan Program DOTS diperoleh dari data diagnosis oleh nakes (D) yang digabungkan dengan data pemanfaatan OAT DOTS (Kombipak atau Fixed 93 . Rifampisin.2 0. Kombipak IV untuk fase sisipan.3 0. 3 obat yaitu INH. jenis obat yang digunakan adalah Kombipak/FDC (Fixed Doses Combination) atau non Kombipak/FDC?”. Pemberian INH dan Etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yang keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat.275 0.05 0 2004 2006 2010 0. pirazinamid. Fase lanjutan adalah INH dan Rifampicin yang diberikan selama 4 bulan. Kombipak III untuk fase lanjutan.25 0. termasuk pengawasan langsung pengobatan serta Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu diikuti Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Pemberian OAT adalah berdasarkan Berat Badan. kecepataan diagnosis (diagnosis dini) dan terapi pengobatan yang dilakukan.Grafik 6. OAT Kombipak untuk program TB jangka pendek selama 2 bulan adalah Isoniazid (H). dan 4 obat yaitu INH. terutama penemuan kasus.3. Definisi operasional untuk obat Kombipak terdiri atas: Kombipak I dan Kombipak II untuk fase awal.15 0.244 Indonesia telah mengadopsi program DOTS dari tahun 1994 dimana terdapat lima komponen dan strategi utama DOTS yang direkomendasikan untuk penanggulangan TB yaitu: Komitmen politik. Pirazinamid dan Etambutol. Pada Riskedas 2010. Streptomisin (S). Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. Proporsi jumlah penderita TB yang memanfaatkan OAT DOTS diperoleh dari wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana pada responden yang telah didiagnosis TB oleh nakes dalam 12 bulan terakhir ditanyakan “apakah jika berobat. dan Ethambutol (E).11 Definisi operasional untuk OAT Fixed dose combination terbagi atas 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. Pirazinamid (Z). Rifampisin. Penurunan prevalensi TB sangat tergantung pada implementasi program DOTS di lapangan. Rifampisin (R).

9 persen dan terendah pada kelompok yang sedang sekolah dan kelompok 94 .5 persen.2 OBAT DOTS NON DOTS Hasil ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66.Dose Combination) pada responden TB dalam 12 bulan terakhir.8 83.8 persen dan pada perempuan 0. Berdasarkan jenis kelamin prevalensi pada laki-laki sebesar 0. 10 persen pada TB di tempat kerja dan pada RS Angkatan Darat sebanyak 35 persen yang dilibatkan melaksanakan penanggulangan TB menggunakan strategi DOTS. Keterlibatan institusi lainnya dalam penanggulangan TB sampai dengan 2009 adalah 13 persen pada Lapas/Rutan. dan buruh sebesar 0. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua Barat (1.2 persen. Berdasarkan pendidikan prevalensi tertinggi pada kelompok yang tidak pernah sekolah sebesar 1. termasuk pemberian dukungan dan pelaksanaan Standar Internasional untuk Pelayanan TB (ISTC = International Standard for Tuberculosis Care) yang semakin ditingkatkan dari tahun ke tahun dengan memperkuat jejaring eksternal dan internal. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0. Grafik 6. nelayan.3%). Bali.1 Proporsi Kasus TB Yang Diobati OAT Program DOTS pada Riskesdas 2010 26.3).3. dan Sumatera Selatan (0.4%). DIY. Hasil Riskesdas 2010 untuk Persentase Pemanfaatan OAT DOTS adalah sebesar 83. Data ini ini sejalan dengan informasi yang diberikan Subdit TB P2&PL tentang meningkatnya keterlibatan rumah sakit dalam program TB DOTS.1 persen dan terendah pada kelompok tamat SMA sebesar 0.5%) dan terendah Provinsi Lampung.9%) sedangkan terendah pada kelompok umur 15-24 tahun (0. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa.7 persen dimana terjadi peningkatan Angka Prevalensi dibandingkan dengan Riskesdas 2007 (0. Berdasarkan pekerjaan prevalensi tertinggi dapat ditemukan pada kelompok dengan pekerjaan pertani.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen.6 persen.25 persen (91% keberhasilan OAT DOTS terhadap 72. Prevalensi tertinggi pada kelompok umur 45-54 tahun (0.

Persentase pemanfaatan OAT DOTS hasil Riskesdas 2010 adalah sebesar 83.6%).2 persen.25 persen (91% keberhasilan OAT DOTS terhadap 72.4 persen.dengan pekerjaan TNI/Polri/Pegawai sebesar 0.8%) dan terendah pada kuintil 5 (0. Sedangkan berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita prevalensi TB tertinggi ditemui pada kuintil 3 dan 4 (0.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen 95 . Angka ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66.

air perpipaan terlindung. dan air hujan. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi dasar 1. mata air tidak terlindung. Dalam memantau akses air minum dapat digunakan 3 pendekatan.1 dan tabel 7. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak 2. akses terhadap air perpipaan digunakan sebagai salah satu indikator akses terhadap air minum. akses terhadap sumber air minum terlindung. Air perpipaan terlindung bersumber dari air leding. air isi ulang dan lainnya. mata air terlindung. dan air sungai. AKSES AIR MINUM Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 10 (menurunkan separuh proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015) terdapat 2 indikator pemantau pencapaian target.Goal 7 – MDG Air Minum dan Sanitasi layak Target Menurunkan hingga separuhnya penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi dasar pada 2015 Indikator yang dipantau: 1. yaitu akses terhadap air perpipaan. nonperpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung disajikan dalam tabel 7. a. Indikator ini terdiri dari 3 jenis. Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung. sumur pompa. air non-perpipaan terlindung berasal dari air kemasan.2. non perpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung.5. Sedangkan sumber air tidak terlindung yaitu sumur tidak terlindung. 96 . sumur gali terlindung. yaitu proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap sumber air minum yang terlindungi dan berkelanjutan dan proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak. dan akses terhadap penyediaan air minum. Akses terhadap air perpipaan Dalam laporan MDGs 2007 dan 2009.

43 27.22 43.90 5.93 74.74 18.48 13.41 61.06 39.03 43.40 50.50 27.64 25.28 14.72 18.16 18.79 37. Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut provinsi.19 61.96 27.96 8.20 38.19 44.65 29.99 21.87 48.54 39.85 51.96 44.53 37.14 16.00 27.81 36.64 40.24 40.98 42.03 15.Tabel 7.15 44.02 57.02 29. Riskesdas 2010 Provinsi NonNon Perpipaan Perpipaan Perpipaan Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung** 48.81 25.59 17.22 59.64 5.25 29.59 15.51 45.22 34.58 51.1.89 33.61 33.18 29.16 66.77 63.11 40.69 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Keterangan: * Air ledeng ** Sumur pompa.78 38.95 7.50 17.85 12.44 2.01 65.35 51.69 47.58 14.43 15.41 66.27 8.28 18.34 19.60 18.41 16.97 0.43 17.75 33.61 27.65 32.75 42.16 34.29 52.76 47.45 43.26 63.19 54.79 38.04 15.15 37.05 40.14 56.17 16.39 57.09 21.21 35.23 11.55 24. air kemasan 97 .66 20.09 37. mata air terlindung.39 21.72 45.10 21. air hujan.89 9. sumur gali terlindung.30 41.47 8.00 47.

47 52.83 persen yang akses terhadap terhadap pelayanan air minum layak. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44.55 20. Riskesdas 2010 Non Perpipaan Perpipaan Non-Perpipaan Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung** Daerah Perkotaan Perdesaan Pengeluaran Quintil-1 Quintil-2 Quintil-3 Quintil-4 Quintil-5 26. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84.91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45. air kemasan Dari tabel di atas menunjukkan proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16. Bila dibandingkan data tahun 2009.75 17.69 persen.10 12.49 30. 98 .2. mata air terlindung.72 53.79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0. Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga.75%).63 24.Tabel 7. Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan. air hujan. angka tersebut mengalami sedikit peningkatan seperti terlihat dalam gambar berikut.25 28.14 persen.15 27.50%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29.74%).85%). sumur gali terlindung.28 16.99 Keterangan: * Air ledeng ** Sumur pompa.93 25.79 57.89 60.99 59.86 11.76 51.75 59. maka secara nasional terdapat 72. Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56.30 27. tertinggi di Provinsi Gorontalo (66.98 18.38 15.

air minum terlindung adalah air leding. air sumur dan mata air tidak terlindung.1.14 b. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi.3 dan tabel 7.Gambar 7. pompa. 99 .73 56.4. yang dijual melalui tangki/air isi ulang. air hujan. 72.27%. Sumber air terlindung tidak termasuk air kemasan. Akses terhadap air terlindung dan berkelanjutan (layak) Sesuai dengan Buku Saku MDGs. Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) 45. sumur terlindung dan mata air terlindung yang jaraknya lebih dari 10 meter dari tempat penampungan kotoran/tinja. Tujuan Pembangunan Milenium mutlak dicapai 2015. Proporsi Penduduk dengan Akses Air Minum Layak (Penduduk dengan Akses Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Non-Perpipaan Terlindungi). 1992-2010 (%). tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel tabel 7.69 16.

08 43. pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m dari penampungan kotoran.13 51.49 54.99 43.61 56.87 74.51 45.08 28.31 60. air hujan.95 53.40 61. tidak termasuk air kemasan dan isi ulang 100 .30 30.88 34.69 39.17 53.43 48.32 32.10 36.37 54.13 25.02 60.01 56.79 35.63 51.53 37.88 28.76 50.14 53.39 43.25 55.3.21 64.12 71.92 71.75 44.12 65.70 69.42 53.39 39.92 56.60 38.95 51.61 60.10 47.63 45.37 48.74 39.96 52.24 49.05 48.47 62.73 Layak*) 31.26 60.35 24.98 39.90 52. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Layak 68.86 46.05 46.27 *) Air ledeng.65 75.04 47.57 51. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi.87 48.Tabel 7.83 46.68 67.90 63.95 51.58 46.05 48.

sumur gali terlindung.80 persen.98%). dan penampungan air hujan. dan sarana air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah. pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m dari penampungan kotoran.80 *) Air ledeng. Menurut tempat tinggal. Akses terhadap pelayanan air minum Menurut Joint Monitoring Programm WHO-Unicef (JMP WHO/Unicef).4.20 Layak*) 41.64 49.14 48. Yang termasuk sumber air ’improved’ adalah sambungan kran air dalam rumah.64%) dibandingkan dengan di perdesaan (49. dan air yang dijual melalui truk.13 48. 101 . c. sumur bor.87 51. berasal dari sumber air ’improved’.Tabel 7. kran umum. tidak termasuk air kemasan dan isi ulang Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung paling tinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (75.84 45. kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel 7. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung menurut provinsi. Sumber air ’improved’ tidak termasuk air yang dijual keliling. akses terhadap sumber air minum yang layak di perkotaan lebih rendah (41.5 dan tabel 7. air hujan. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan menurut karakteristik rumahtangga. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tidak Layak 58.6. air kemasan/botol. mata air terlindung.13%).02 52.36 50. dikatakan akses terhadap penyediaan air bila minimal menggunakan air 20 liter per orang per hari.98 47.86 51. Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung adalah 53.16 54.68 64. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan ada kecenderungan semakin tinggi kuintil pengeluaran rumahtangga semakin rendah proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum yang layak.32 35.47%) dan terendah di Provinsi Nangroe DKI Jakarta (25.

02 58.13 70.49 39. 102 .69 49.5.22 57.53 61.75 30.18 57. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut provinsi.61 64.23 46.51 44.81 56.13 44.17 40.30 40.53 30.83 59.19 58.48 44.82 42.14 48.79 53.13 57.59 49.41 50.40 58.33 53.87 29.07 31.31 45.21 46.87 42.98 41.99 58.37 66.52 55.67 46.77 53.22 52.49 54. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Akses 58.69 54.11 47.60 41.20 Akses*) 41.86 51.70 59.80 *) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari.78 47.63 33.78 42.47 69.81 41.51 60.31 50. berasal dari sumber air ‘improved’ dalam radius 1 km.01 41.87 55.49 55.39 35.51 45.25 69.47 38.93 68.19 43.55 27.94 52.Tabel 7.89 52.45 72.06 47.

pilihan jawaban pembuangan akhir tinja dipisah antara tangki septik dan SPAL.Tabel 7.26 55. sedangkan pada Susenas masih digabung (Tangki septik/SPAL). Menurut kualifikasi daerah.6. jenis kloset dan sarana pembuangan akhir tinja.63 58. kloset jenis leher angsa dan pembuangan akhir tinjanya ke tangki septik atau SPAL. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut karakteristik rumahtangga.93 *) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari.74 44.25%) dan terendah di Provinsi DKI Jakarta (27.80 persen pada tahun 2010.10 55.25 40.37 41.7 dan tabel 7.87%). 2.8.07 Akses Baik 52. Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung menurut JMP WHO/Unicef paling tinggi adalah Provinsi Jawa Tengah (70.62 52. berasal dari sumber air ‘improved’ dalam radius 1 km. dari 57. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Pengeluaran Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Akses Kurang 47.90 44. Akses terhadap penyediaan air dengan memperhatikan volume pemakaian dan jarak rumah ke sumber air ini mengalami penurunan bila dibandingkan hasil Riskesdas 2007.10%). Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga tidak menunjukkan pola yang jelas. Dalam Riskesdas 2010.51 59. akses terhadap sumber air terlindung sedikit lebih tinggi di perdesaan (55. Hasil Riskesdas 2010 proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak disajikan dalam tabel 7.38 47.62%) dibandingkan dengan di perkotaan (52.49 40.70 persen pada tahun 2007 menjadi 53. AKSES TERHADAP SANITASI LAYAK Dalam memantau akses terhadap fasilitas sanitasi layak digunakan indikator penggunaan sarana pembuangan kotoran (jamban) yang meliputi pemilikan.75 59. Dikatakan layak apabila sarana tersebut milik sendiri atau bersama. 103 .

00 53.01 49.89 79.63 35.77 41.62 44.63 41.28 44.44 48.87 25.88 82.99 50.37 59. kloset jenis leher angsa.71 53.49 64.18 54.82 45.49 57.38 50.72 55. pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL.60 42.32 35.00 46.82 45.13 74.51 35.72 66.90 50.43 39.57 60.11 31.09 34.29 46. Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut provinsi. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Layak 47.91 52.47 Layak*) 52.65 57.00 54.68 64.23 58.Tabel 7.47 53.35 42.11 20.53 *) Penggunaan sendiri dan bersama.53 47.37 64.30 61.28 33.38 55. 104 .21 71.70 38.00 45.89 42.12 17.62 49.09 47.40 57.56 51.51 42.18 54.7.89 68.17 45.42 49.58 50.83 54.10 49.11 57.91 65.79 28.

52 55.8. 1 diantaranya adalah proporsi penduduk atau rumahtangga menggunakan bahan bakar padat untuk memasak. 105 . batok kelapa dan lain-lain.35%). pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL.55 61.58 22. yaitu terjadinya polusi dalam ruangan (indoors air pollution) yang dapat menyebabkan penyakit saluran pernafasan.53 persen.Tabel 7. paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82.45 38.48 44. batang padi.55 32.04 71.58 64. Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga.42 33.10. arang. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Tidak Layak Layak Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 28. Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat disajikan dalam tabel 7. tandan kelapa.55%).79 53.42 77. Dari tabel di atas tampak bahwa akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55. akses terhadap fasilitas sanitasi layak di perkotaan hampir dua kali lipat (71.45 67.45%) dibandingkan dengan di perdesaan (38.96 *) Penggunaan sendiri dan bersama. semakin tinggi penghasilan semakin tinggi pula yang akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak. batu bara.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25. Yang dimaksud dengan bahan bakar padat adalah kayu bakar.9 dan tabel 7.21 46. Indikator yang dikumpulkan dalam Riskesdas 2010 ini berkaitan dengan kesehatan. kloset jenis leher angsa. Menurut kualifikasi daerah. Penggunaan bahan bakar memasak Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 9 (memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang) terdapat 6 indikator untuk memantau pencapaian target. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga. sekam. 3.

gas dan minyak tanah 62.01 58.29 48.59 63.79 39.40 40.08 67.83 49.99 27.60 11.52 40.58 51. Riskesdas 2010 Listrik.01 72.75 52.74 45.71 34.94 Arang.60 59.77 47.92 32.09 47.77 99.92 45.42 40.21 60.58 59. Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut provinsi.91 48.26 54.37 23.91 52.48 59.15 56.99 41.41 36.76 63.29 65.98 57.23 52.59 76.04 60.42 48.28 24.40 88.17 50.41 23.63 76.96 39.99 72.09 51.24 36.01 27.23 0.14 52.02 69.06 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 106 .72 75.86 47.71 51.40 71.25 47.31 47.26 69.9.02 42.69 52.85 43.98 30.60 28. kayu bakar dll 37.74 30.Tabel 7.08 54.

tertinggi di Provinsi NTT (76. gas dan minyak tanah 82. kayu bakar dll 17.648 60. 107 .28 52.31 64.33%) dari perdesaan (17.726 Arang. penggunaan bahan bakar padat di perkotaan hampir 4 kali lipat (64. Riskesdas 2010 Karakteristik rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran RT Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-2 Kuintil-2 Kuintil-2 Listrik. Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut tempat tinggal dan pengeluaran rumahtangga.10. Secara nasional penggunaan bahan bakar padat ini mengalami penurunan cukup besar dibanding data tahun 2007 sebesar 53.85 12.58%) dan terendah di Provinsi DKI Jakata (0.9%.33 70.723 47.802 75.Tabel 7.150 87.67 29.69 35.31%).27 Dari tabel di atas menunjukkan terdapat 40. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan semakin tinggi penghasilan rumahtangga semakin sedikit yang menggunakan bahan bakar padat untuk memasak.20 24.06% rumahtangga yang masih menggunakan bahan bakar padat untuk memasak. Menurut tempat tinggal.60%).35 39.

3 persen. dan ibu hamil (44.5%).4%). Proporsi unmet need sebesar 14.8 persen.9%). terendah di provinsi Gorontalo (8. Prevalensi tertinggi di Provinsi NTB (30. Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12-23 bulan (74. Pemanfaatan fasilitas kesehatan untuk persalinan oleh perempuan usia reproduktif adalah 59. dan Papua Barat. Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat persalinan hanya 1.9%).Yogyakarta (93.9%) dan tertinggi di Bali (64.BAB IV.0 persen.3%) dan tertinggi di provinsi DI.5%). Cakupan imunisasi campak terbaik adalah di DI Yogyakarta (96. kesimpulan yang dapat diambil antara lain: Prevalensi balita kurang gizi (berat badan kurang) sebesar 18. sedangkan API Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0. teringgi di Provinsi NTT (58.6%). Masih ditemukan 19 persen perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB dan 27. Maluku Utara (8%) dan Sulawesi Tengah (12.1 persen yang pernah ber KB sekarang tidak menggunakan.6%). Sedangkan prevalensi balita pendek (stunting) sebesar 35.8%). tertinggi di Papua Barat (27.4%) dan terendah di Provinsi Yogyakarta (22.6%).2%).3 persen.1 persen di Polindes/Poskesdes. dan terendah di Bangka Belitung (7.4%) dan terendah di Papua (47. Pemanfaatan masih rendah di Sulawesi Tenggara (7.6 persen. Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sebesar 84 persen.4%).2%).7%) Sedangkan prevalensi dengan pengetahuan komprehensif sebesar 18.0%) meningkat dibandingkan Riskesdas 2007 (63.7%).0 persen diantaranya 4. dengan prevalensi tertinggi di Provinsi Jambi (20%). Dan prevalensi balita kurus (wasting) adalah 13. Proporsi penolong persalinan oleh tenaga kesehatan (82.4 persen. serta 4. KESIMPULAN Dari hasil Riskesdas 2010. Akses K1 oleh ibu hamil baik (92.8%). Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan masih rendah di provinsi Maluku Utara. Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS (75. Maluku.9 persen dengan gizi buruk.4%).3%) meningkat dibandingkan pada tahun 2007 (75. Keadaan ini banyak dijumpai pada anak usia sekolah (41. sedangkan K4 hanya 61.2 persen pemeriksaan masih dilakukan oleh dukun. Masalah lain yang ditemukan adalah persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46. Sebanyak 40. dan hanya 12 persen di Puskesmas. Proporsi tertinggi konsumsi <70% AKG dijumpai di NTB (46. Jenis alat/cara KB yang dominan adalah suntikan. Demikian pula Period Prevalence malaria pada 108 . Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2.5%) menurun dibandingkan tahun 2007 (81.1%). hanya 2.5 persen. dan terendah di Bengkulu (23.5%). Angka terendah di Papua Barat (31.2%).6%) dan terendah di Kalimantan Selatan (8.8%). remaja (54.4 persen. .8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan. Angka K1 dan K4 ini nampak menurun jika dibanding tahun 2007 ( SDKI). Proporsi pengguna KB pada perempuan pernah kawin menurun (53. Umumnya pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52.5%) dan terendah di Provinsi Sulut (10. dan 3.6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah 70% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan tahun 2004.3%).5 persen. Prevalensi terendah ditemukan di Gorontalo (44.5%) dan tertinggi di Bali (35.9%) dibandingkan angka SDKI 2007 (57.6%).

2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66.9 persen.7 persen.7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2. dan Bali (0.74%).85%). Sarana perpipaan dan non perpipaan terlindung yang akses terhadap sumber air terlindung adalah 72.83 persen.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25.25%) Proporsi rumahtangga yang menggunakan air non perpipaan terlindung (56. dan tertinggi di Provinsi Papua (1.14%).69%) lebih besar dibandingkan dengan perpipaan terlindung (16. Dari analisis Riskedas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45.. Akses rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak meningkat (55. Lampung. Pengobatan efektif malaria dengan ACT pada balita hanya 21.tahun 2010 (10. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah (84.27 persen.53%) dibandingkan tahun 2009 (42.5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan.35%).7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010. Angka Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point Prevalence (0. 109 .. Sedangkan proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83.3%). Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7. Proporsi tertinggi ada di Provinsi DKI Jakarta (82.91%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45.47%). Prevalensi TB adalah 0.6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian. DI Yogyakarta.

IND) 110 .LAMPIRAN 1. Kuesioner individu (RKD10. Kuesioner rumah tangga (RKD10. Inform Concent dan Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP) 2.RT) 3.

.This document was created with Win2PDF available at http://www. The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.daneprairie.com.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful