P. 1
RISKESDAS 2010

RISKESDAS 2010

5.0

|Views: 19,094|Likes:
Dipublikasikan oleh ayordan

More info:

Published by: ayordan on Apr 03, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2015

pdf

text

original

LAPORAN NASIONAL RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS) TAHUN 2010

1

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT selalu kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 telah dapat terselesaiakan. Di dalam Laporan ini dimunculkan perkembangan status kesehatan masyarakat Indonesia khususnya yang berkaitan indikator MDG’s untuk tingkat nasional dan tingkat provinsi. Hasil Riskesdas 2010 mencakup indikator MDG’s nomor 1,4,5,6 dan 7, yaitu : status gizi balita, tingkat konsumsi energi per kapita, kesehatan reproduksi yang diwakili dengan indikator penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, cakupan penggunanaan kotrasepsi oleh perempuan WUS, cakupan imunisasi campak kelompok umur 12-23 bulan, prevalensi TB paru dan malaria, pengetahuan pencegahan HIV/AID, akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan Juni-Juli 2010, di 33 provinsi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) mengerahkan sejumlah enumerator untuk setiap kabupaten/kota, seluruh peneliti Balitbangkes, dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta Perguruan Tinggi. Untuk data kesehatan masyarakat, berhasil dihimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil dihimpun dan diperiksa spesimen dahak dan darah dari sampel anggota rumah tangga. Proses manajemen data mulai dari data dikumpulkan dan dientry ke komputer dilakukan di masing-masing daerah, kemudian data cleaning dilakukan di Badan litbangkes. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan dinamika kehidupan yang indah dalam dunia ilmiah. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas. Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Kami telah berupaya maksimal, namun pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas dimasa yang akan datang.. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb. Jakarta, 17 Agustus 2010 Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, Msi, SpF(K)

2

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Kementerian Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator MDG’s berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2010. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik berkaitan indikator MDG’s 1,4,5,6 dan 7, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas 2010 dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji dengan cepat apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai asupan baru bagi Sistem Kesehatan Nasional yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Puskesmas PRM/labkesda, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan. Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 17 Agustus 2010 Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., DR.PH.

3

9 persen yang gizi buruk. Sementara itu prevalensi balita pendek (stunting) secara nasional adalah sebesar 35. Desain Riskesdas 2010 adalah potong lintang dan merupakan penelitian non-intervensi. Pengumpulan data dan entri data dilakukan oleh tenaga terlatih dengan kualifikasi minimal tamat D3 kesehatan. diantaranya 823 BS sebagai sampel biomedis (malaria dan TB).5%). dan terendah adalah Provinsi Sulut (10. Pada tanggal tersebut sejumlah 2704 BS sampel yang terkumpul datanya atau sekitar 96. Pengukuran tinggi badan/panjang badan dan berat badan dilakukan pada setiap responde. sedangkan untuk TB paru dilakukan pemeriksaan dahak pagi dan sewaktu hanya pada kelompok umur 15 tahun ke atas.9 persen diantaranya 4. Keterangan individu meliputi identitas individu. sanitasi lingkungan dan pengeluaran ruta. kemudian melakukan pengiriman data secara elektronik kepada tim manajemen data pusat. dengan rentang 22. Keterangan ruta meliputi identitas ruta. kesehatan anak. 4 . fasilitas pelayanan kesehatan. kehamilan dan pemeriksaan sesudah melahirkan.6%). kesehatan ibu.. dan pemeriksaan darah malaria dilakukan dengan Rapid Diagnostic Test (RDT). Hasil analisis dapat dilaporkan sebagai berikut: Prevalensi balita kurang gizi (balita yang mempunyai berat badan kurang) secara nasional adalah sebesar 17. Prevalensi balita kurus (wasting) secara nasional adalah sebesar 13.3 persen. Pengumpulan data di beberapa daerah telah mulai dilakukan sejak bulan Juni 2010 berakhir pada tanggal 8 Agustus 2010 untuk dilakukan pengolahan dan analisis. Tahap pertama melakukan pemilihan Blok Sensus (BS) dan tahap kedua pemilihan Rumah tangga (ruta) sebanyak 25 ruta setiap BS. Prevalensi balita gizi kurang menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi NTB (30. Tujuan Riskesdas 2010 adalah mengumpulkan dan menganalisis data indikator MDG’s kesehatan dan faktor yang mempengaruhinya.6%). konsumsi makan dalam 24 jam kemarin.5% dari 2800 BS sampel siap untuk dianalisis. dan terendah adalah Bangka Belitung (7. Besar sampel sebanyak 2800 BS. Pemilihan sampel dilakukan secara random dalam dua tahap. dengan prevalensi tertinggi adalah Provinsi Jambi (20%).4 persen (NTT). Pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran data dilakukan oleh Penanggung Jawab Tehnis Kabupaten. perilaku seksual. Sampel BS tersebut tersebar di 33 dan 441 kabupaten/kota. penyakit menular.6 persen.RINGKASAN EKSEKUTIF Riskesdas 2010 merupakan kegiatan riset kesehatan berbasis masyarakat yang diarahkan untuk mengevaluasi pencapaian indikator Millenium Development Goals (MDGs) bidang kesehatan di tingkat nasional dan provinsi. pengetahuan dan perilaku kesehatan.5 persen (DI Yogyakarta) sampai 58. cara KB. Data yang dikumpulkan meliputi keterangan ruta dan anggota ruta. Populasi sampel adalah seluruh rumah tangga di Indonesia. keguguran dan kehamilan yang tidak diinginkan.

dan terendah adalah provinsi Bengkulu (23. dan 3. Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat pelayanan terdekat ke masyarakat juga perlu ditingkatkan.8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan.1 persen di Polindes/Poskesdes. Kelompok penduduk di perdesaan cenderung lebih banyak menggunakan suntikan untuk pencegahan kehamilan dibanding perkotaan.5 persen yang memanfaatkan untuk persalinan.2 persen anak usia sekolah. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak menurut provinsi yang terbaik adalah DI Yogyakarta (96.4%). 41. serta 44. karena hanya 1. Sementara itu proporsi penduduk tertinggi dengan konsumsi <70% AKG adalah NTB (46. 5 . Secara nasional masih ada 19% perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB untuk mencegah/menunda kehamilan. Walaupun secara nasional 59.1 persen di Sulawesi Tengah. secara nasional 82. dan 27.4%) dan terendah adalah Papua (47.3%). 40.2 persen masih memeriksakan kehamilan ke dukun.6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal (kurang dari 70% dari Angka Kecukupan Gizi/AKG) yang dianjurkan tahun 2004.5 persen remaja.7%).4 persen Balita.1 persen yang pernah ber KB akan tetapi sekarang tidak menggunakan.5%).5 persen. Berdasarkan kelompok umur dijumpai 24. akan tetapi hanya 61. Tenaga kesehatan terlatih di wilayah perdesaan perlu lebih ditingkatkan agar kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan tidak jauh berbeda dengan kelompok penduduk perkotaan. Maluku.4 persen perempuan usia reproduktif menggunakan fasilitas kesehatan untuk persalinan.2 persen ibu hamil mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal.2 persen Dewasa.8% ibu hamil mengikuti pelayanan antenatal.1 persen. Untuk kesehatan ibu. 54. serta 4.Hasil Riskesdas 2010 menunjukan 40.9%) dan tertinggi di Bali (64. Terpantau juga jenis penggunaan alat/cara KB yang masih dominan adalah dengan suntikan yaitu 31.8 persen di Sulawesi Tenggara. Selain itu diketahui akses (K1) adalah 92. Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sudah lebih baik.9 persen pada perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun.3 persen kelahiran sudah dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. atau 12. Sebagian besar pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52. dan Papua Barat perlu mendapatkan perhatian agar proporsi perempuan usia reproduktif dapat lebih banyak mendapatkan pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan. akan tetapi di beberapa provinsi penggunaan fasilitas kesehatan untuk melahirkan masih sangat rendah. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak pada Riskesdas 2010 ini adalah sebesar 74. Akan tetapi masih ada 2. yaitu 84%.3 persen selama kehamilan memeriksakan kehamilan minimal 4 kali (K4). Disparitas menurut provinsi dapat diketahui dari yang terendah di Papua Barat (31. demikian juga perhatian perlu dipusatkan pada penduduk miskin. Demikian pula halnya pada provinsi seperti Maluku Utara. dan hanya 12 persen di Puskesmas.6%). seperti 7. 8 persen di Maluku Utara. Penggunaan alat/cara KB diketahui hanya 53.

Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua (1. serta 89.0 persen.3 persen (Bali) dan 31.0 persen.Yogyakarta. penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34. sedangkan pada balita hanya 21.3%).1 persen. .2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66.3-93.6 persen.Pada kelompok penduduk yang tidak menggunakan alat/cara KB. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0. Secara nasional prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS adalah 75. dijumpai cukup lebar dari yang tertinggi di Papua Barat (32. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12. Proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83.6 persen yang diminum dengan dosis lengkap.4%). Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 24 permil. Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional. Prevalensi lebih tinggi pada penduduk belum kawin. Sebanyak 20 provinsi dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional. cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26.7%). 80.0 persen sebenarnya mereka membutuhkan akan tetapi tidak terpenuhi (unmet need).Menurut provinsi rentangan berkisar 44.4 persen (Papua).7 persen.7 persen. penggunaan Artemisinin Combination based Therapy (ACT) di Indonesia hanya mencapai 49.4-35. dan Bali (0.9 persen.3 persen. terdeteksi secara nasional 14. DI Yogyakarta. pendidikan lebih tinggi. di daerah perkotaan. dan hanya 75.7 persen.1 persen. Jadi penderita malaria semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33.5 persen. Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 32. Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS secara nasional yaitu 18. Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi DI.9%) dan terendah di Bali (8. Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi Bali. Rentang API Nasional adalah antara 0. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010.6 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. sedangkan pada perempuan meningkat sebanyak 12 persen dibandingkan Riskesdas 2007. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 16. Dari hasil wawancara. Menurut provinsi rentangan berkisar 8. Karena secara nasional persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46.8 persen. dan 83. Lampung.5 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam.4 persen yang diminum dengan dosis lengkap. Pada penduduk laki-laki meningkat 11 persen.5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan. juga pada penduduk dengan status ekonomi lebih tinggi. 6 .5 persen pada responden semua kelompok umur. Variasi antar provinsi. penduduk yang masih sekolah dan dengan pekerjaan sebagai pegawai atau wiraswasta. Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional.25%). Masalah lain yang perlu mendapat perhatian untuk mempercepat penurunan kematian ibu adalah mengupayakan penundaan perkawinan menjadi usia 20 tahun. Khusus pada balita.

Lebih lanjut dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45.Proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16. maka secara nasional terdapat 72.91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45.83 persen yang akses terhadap sumber air terlindung.5%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29. paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82. Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan.35%). 7 .14 persen. tertinggi di Provinsi Gorontalo (66. Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25. Akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55.79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0.27 persen .74%).85%).75%).53 persen. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44.69 persen. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84.

Populasi dan Sampel 4. Lokasi 3. Variabel 5. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpul Data 6. Goal 4 MDG 3. Disain 2. Goal 5 MDG 4.DAFTAR ISI Kata Pengantar Sambutan Menteri Kesehatan Kesehatan Republik Indonesia Ringkasan Eksekutif Daftar Isi BAB 1 Pendahuluan BAB 2 Metodologi 1. Goal 7 MDG BAB 4 Kesimpulan Lampiran 2 3 4 8 9 12 12 12 12 15 16 16 17 17 33 40 68 96 108 109 8 . Goal 1 MDG 2. Goal 6 MDG 5. Manajemen Data BAB 3 Hasil dan Pembahasan 1.

meliputi semua indikator kesehatan utama. untuk test-test lanjutan di laboratorium Badan Litbangkes. melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna. Komposit beberapa indikator Riskesdas 2007 juga telah digunakan sebagai model Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) di Indonesia untuk melihat peringkat Kabupaten/Kota. PENDAHULUAN Visi Kementerian Kesehatan adalah “Masyarakat Sehat yang mandiri dan berkeadilan. melaksanakan. mengalokasikan anggaran. Riskesdas 2010 bertepatan dengan tahun akan dilaksanakannya pertemuan puncak tingkat tinggi Majelis Umum PBB untuk mengevaluasi pencapaian deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) dari 189 negara termasuk Indonesia. terutama Kementerian Kesehatan. Sedangkan misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat.000 sampel serum. sekaligus sebagai bahan untuk perencanaan kesehatan. dan oleh beberapa kabupaten/kota dalam merencanakan. dan status gizi). dan berkeadilan. pengetahuan-sikap-perilaku kesehatan (Flu Burung.BAB I. minum alkohol. Riskesdas direncanakan dilaksanakan secara periodik. mencapai 9 . untuk evaluasi program pembangunan termasuk pengembangan rencana kebijakan pembangunan kesehatan jangka menengah (RPJMN 2010-2014). termasuk swasta dan masyarakat madani. konsumsi rumahtangga. HIV/AIDS. angka kesakitan. dengan tujuan untuk melakukan evaluasi pencapaian program kesehatan yang telah dilaksanakan. angka disabilitas. dan sediaan apus. bermutu dan berkeadilan serta berbasis bukti dengan mengutamakan pada upaya promotif dan preventif”. Pada deklarasi tersebut disepakati 8 tujuan untuk mencapai MDGs di tahun 2015 yaitu: memberantas kemiskinan dan kelaparan. Riskesdas ini dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan RI. Pada tahun 2007 Badan Litbangkes telah melakukan Riskesdas pertama. penggunaan tembakau. Hasil Riskesdas 2007 telah dimanfaatkan oleh penyelenggara program. cakupan. bermutu. bekuan darah. perilaku higienis. angka kecelakaan. mutu layananan. merata. memantau dan mengevaluasi program-program kesehatan berbasis bukti (evidence-based planning). aktivitas fisik. dan menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. terjangkau. pembiayaan kesehatan). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) merupakan Riset Kesehatan berbasis komunitas berskala nasional sampai tingkat kabupaten/kota. yaitu status kesehatan (penyebab kematian. Telah dikumpulkan pula sekitar 33. Salah satu strateginya adalah “Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata. Untuk itu diperlukan data kesehatan dasar yang dapat dikumpulkan secara berkesinambungan. perilaku konsumsi makanan) dan berbagai aspek mengenai pelayanan kesehatan (akses. kesehatan lingkungan (lingkungan fisik). oleh Bappenas. menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan.

memerangi HIV/AIDS. lembaga penelitian. Riskesdas 2010 difokuskan pada indikator-indikator pencapaian MDGs dan data pendukung lainnya. status kesehatan ibu dan anak (menurunkan kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu). Untuk menjaga kesinambungan. Tujuan khsuusnya adalah untuk: a) Menilai status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi. dan b) Memperoleh gambaran faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan provinsi. Pengorganisasian Riskesdas 2010 sama dengan Riskesdas 2007 dilaksanakan sepenuhnya oleh seluruh jajaran Balitbangkes dengan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk metodologi dan penentuan sampel nasional dan provinsi. menurunkan kematian anak. malaria dan tuberkulosis. dan komitmen kesehatan tingkat nasional dan global sebagai bahan penilaian pencapaian MDGs di tahun 2015. pemerintah daerah. prevalensi malaria dan tuberkulosis (menurunkan angka kesakitan). serta melibatkan penyelenggara program terkait. memastikan lingkungan yang kesinambungan. 10 . Dalam rangka mendukung pertemuan tersebut dan mendapatkan data kesehatan terkini yang faktual. Beberapa indikator MDGs kesehatan yang dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 adalah status gizi balita dan konsumsi (memberantas kelaparan). dan perkembangan upaya pembangunan kesehatan di tingkat nasional dan provinsi dalam tiga tahun terakhir. Data tersebut dikumpulkan seperti pada Riskesdas 2007 yaitu melalui wawancara. perguruan tinggi. dan pemeriksaan laboratorium untuk kepastian penyakit malaria dan tuberkulosis yang dilakukan di lapangan (darah malaria) dan Laboratorium Puskesmas yang direkomendasi (dahak tuberkulosis). Beberapa indikator MDGs kesehatan lainnya yaitu prevalensi HIV/AIDS dan angka kematian anak tidak dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 karena memerlukan penelitian khusus atau didapat dari sumber data lain. meningkatkan kesehatan ibu. mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. dan 2) Bagaimana faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan provinsi? Tujuan umum adalah memperoleh gambaran pencapaian target indikator MDG khusus kesehatan pada tahun 2010 berdasarkan Provinsi dan Nasional. dan masyarakat. akses sumber air minum yang aman dan fasilitas sanitasi dasar. mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Pertanyaan penelitian untuk Riskesdas 2010 yaitu: 1) Bagaimanakah status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi?. Pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan segera setelah selesainya Sensus Penduduk 2010.universal primary education. pengukuran. perubahan masalah kesehatan di tingkat nasional dan provinsi. Riskesdas 2010 adalah Riskesdas MDGs karena menghasilkan beberapa indikator MDGs kesehatan nasional (Indonesia) yang berbasis bukti. Selain itu. Riskesdas serupa 2007 direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2013. organisasi profesi. juga sebagai sarana untuk mengevaluasi perkembangan beberapa status kesehatan masyarakat Indonesia di tingkat nasional dan provinsi.

Pengembangan kuesioner dan pedoman dilakukan oleh tim teknis Balitbangkes dan dilakukan pelatihan berjenjang mulai dari pelatih tingkat pusat sampai ke enumerator sebagai pengumpul data di lapangan. Sulawesi Utara.Riau. Banten. d. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (lihat lampiran). Sulawesi Barat.jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi Riau. Lampung. Sulawesi Tengah. Kep. Jawa Timur. dan Papua. Riskesdas 2010 telah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 11 . Bangka Belitung. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung. Keseluruhan proses Riskesdas 2010 dimulai semenjak bulan februari 2010 sampai data selesai dikumpulan pada minggu pertama Agustus 2010. DKI Jakarta. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi DI Yogyakarta. Nusa Tenggara Timur. Sumatera Selatan. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). dan Sulawesi Selatan c. Riskesdas 2010 memberikan manfaat untuk memantau indikator MDGsn khusus kesehatan sehingga dapat digunakan untuk mempertajam strategi kebijakan pembangunan kesehatan dalam mempercepat pencapaian MDG 2015. dan Papua Barat. Jambi. Jawa Tengah. Kalimantan Barat. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Timur. Sumatera Barat.Proses pengumpulan data dilakukan dibawah koordinasi Balitbangkes yang terbagi menjadi empat koordinator wilayah sebagai berikut: a. Nusa Tenggara Barat. Bali. Kalimantan Selatan. Jawa Barat. Sumatera Utara. Kalimantan Tengah. Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu. dan Maluku Utara. Maluku. b. Gorontalo.

METODOLOGI 1. yang mewakili penduduk di tingkat nasional dan provinsi dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan untuk kepentingan pencapaian MDGs. maka dari 2800 BS yang seharusnya menjadi sampel Riskesdas hanya dapat diolah sejumlah 2704 BS atau 96. Riskesdas memilih BS yang telah dikumpulkan SP 2010. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2010 dipilih berdasarkan listing Sensus Penduduk (SP) 2010.5 persen (lihat tabel 1) 3. Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya. rasio perkotaan/perdesaan. Sampai dengan laporan ini dibuat. Akan tetapi karena analisis harus segera dilakukan maka 94 BS yang belum sempat terkirim ke manajemen data pusat per tanggal 12 Agustus 2010. hal ini disebabkan karena BS semula terpilih jumlah rumah tangga yang akan menjadi sampel tidak terpenuhi dengan kriteria yang sudah ditetapkan b) Ada 1 kabupaten di Provinsi Papua (Kabupaten Nduga) yang tidak dapat dikunjungi dalam periode waktu pengumpulan data Riskesdas. Dari setiap provinsi diambil sejumlah blok sensus yang representative terhadap jumlah rumah tangga/anggota rumah tangga di provinsi tersebut. dan prevalensi malaria/TB-paru hasil Riskesdas 2007. beberapa catatan berkenan dengan lokasi adalah sebagai berikut: a) Dalam proses pengumpulan data. Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia. Papua. Riskesdas berhasil mengumpulkan seluruh BS kecuali di kabupaten Nduga. terjadi 43 pergantian BS dari 2800 BS yang telah ditetapkan semula. Lokasi Sampel Riskesdas 2010 mewakili nasional dan 33 provinsi yang tersebar di 441 Kabupaten/Kota dari total 497 Kabupaten/Kota di Indonesia. 12 . 2.BAB II. Pemilihan BS dilakukan sepenuhnya oleh BPS dengan memperhatikan status ekonomi. Proses pemilihan rumah tangga dilakukan BPS dengan two stage sampling yang sama dengan Riskesdas 2007/Susenas 2007. c) Sehubungan dengan waktu untuk analisis indikator MDG sudah harus dilaksanakan. tidak bisa diikutkan untuk proses analisis. Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif. Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2010 adalah seluruh rumah tangga biasa yang mewakili 33 provinsi yang tersebar di 441 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud.

Jumlah sampel rumah tangga (66. yang menjadi sampel rumah tangga dari jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut.5% dari total 13 .906.000 dari 2800 BS.946. jumlah sampel rumah tangga dari 2704 BS adalah 66. dengan jumlah individu 241.Penarikan Sampel Rumah Tangga/Anggota Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 25 (dua puluh lima) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling).906) yang diolah adalah mewakili 96. Jumlah rumah tangga yang diharapkan terkumpul adalah 70. Riskesdas 2010 Jml BSSampel 53 128 54 66 40 83 29 86 23 28 111 494 343 54 410 117 49 64 50 53 35 50 46 38 34 85 33 23 22 23 19 22 35 2800 Jml BS-yang diolah 51 117 52 64 33 82 29 84 23 28 111 487 343 54 410 115 49 64 31 40 35 50 46 32 26 85 33 23 22 23 19 21 22 2704 Jml BS yang belum diolah 2 11 2 2 7 1 0 2 0 0 0 7 0 0 0 2 0 0 19 13 0 0 0 6 8 0 0 0 0 0 0 1 13 96 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Secara keseluruhan. Tabel 1 Jumlah Sampel Blok Sensus (BS) menurut Provinsi.

150 771 2.sampel yang diharapkan.106 550 571 2.123 1.225 1.050 725 2.529 29.096 41.118 8.031 2.175 8.140 4.652 800 650 644 2. Distribusi sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga menurut Provinsi. Seharusnya dari 2704 BS akan terkumpul 67.940 2.599 5.493 1. Tabel 2.496 2.180 35.300 1. artinya ada 694 rumah tangga yang tidak ditemukan pada saat pengumpulan data.362 2.600 816 3.050 575 678 2.506 775 968 3.275 2.780 550 66.590 6.385 575 473 1.320 2.250 1.800 10.076 875 1.310 1.994 475 499 2.227 1.703 2.875 1.250 2.039 7.218 4.575 1. Distribusi jumlah rumah tangga dan anggota rumah tangga dapat dilihat pada tabel 2.268 4.662 9.946 67.201 1.174 575 550 2.738 12.235 4.125 825 3.350 10.099 7.367 10.075 825 2.320 700 2.704 *) Jumlah rumah tangga seharusnya adalah 25 per BS 14 .100 575 2.600.925 1.906 241. Tidak semua 2704 BS dapat mengumpulkan masing-masing 25 rumah tangga sampel.899 1.400 825 575 2.296 2.325 1.600 PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Jml BS 51 117 52 64 33 82 29 84 23 28 111 487 343 54 410 115 49 64 31 40 35 50 46 32 26 85 33 23 22 23 19 21 22 2.000 874 3.851 11.300 5.600 774 3.350 4.775 12.694 725 2. Riskesdas 2010 Jumlah Rumah Jumlah tangga*) ART yang Sampel Yang seharusnya terkumpul terkumpul 1.517 8.597 1.009 525 514 1.780 1.

Dc Alat/cara KB (8 variabel) 4. Kesehatan bayi dan anak balita (22 variabel). De Keguguran dan Kehamilan yang tidak diinginkan (10 variabel) 6. Blok VIII-A tentang identifikasi responden (4 variabel). ii. 2. yang terdiri dari 6 sub-blok: 1. Blok VIII-B tentang penyakit menular: Malaria (10 variabel). Blok IX. 15 .IND).RT) yang terdiri dari: Blok I tentang pengenalan tempat (11 variabel). Blok VIII-C tentang pengetahuan dan perilaku (22 variabel) iv. Blok VII tentang Pengeluaran Rumah Tangga (39 variabel) b. Blok VIII-E tentang kesehatan anak . Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan indikator MDG bidang kesehatan dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. yang terdiri dari 2 sub-blok: 1.tentang konsumsi makanan individu (jumlah variabel tergantung makanan yang dikonsumsi. seluruh anggota rumah tangga dari 823 BS dilakukan pengambilan darah. dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a. persalinan. Blok IV tentang anggota rumah tangga (13 variabel). Kuesioner individu (RKD10. yang terdiri dari: Blok VIII ini dikelompokkan menjadi i. Blok V tentang dasilitas pelayanan kesehatan (18 variabel). Db Fertilitas (11 variabel) 3. Blok II tentang keterangan rumah tangga (4 variabel). Blok VIII-D tentang kesehatan reproduksi. TB paru (9 variabel) iii. Pada BS yang terpilih untuk biomedis. dan anggota rumah tangga usia 15 tahun keatas yang dilakukan pengambilan sputum/dahak pagi dan sewaktu untuk pemeriksaan TB paru. Da. Dalam Riskesdas 2010 terdapat kurang lebih 315 variabel yang tersebar dalam 2 (dua) jenis kuesioner (lihat file terlampir).Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis merupakan sub-sampel dari 2800 BS yang mewakili nasional atau sejumlah 823 BS. pemeriksaan sesudah melahirkan (41 variabel) 5. Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel). Untuk pemeriksaan malaria. Blok X tentang pengukuran tinggi/panjang badan dan berat badan (5 variabel) Blok XI tentang Pemeriksaan laboratorium (7 variabel). rumah tangganya dan anggota rumah tangganya selain dikumpulkan variabel kesehatan masyarakat juga dialkukan pemeriksaan biomedis. Perilaku seksual (6 variabel) v. Kuesioner rumah tangga (RKD10. Blok VI tentang sanitasi lingkungan (20 variabel). 4. ASI dan MP-ASI (10 variabel) vi. Dd Kehamilan. Masa reproduksi perempuan (6 variabel) 2.

RT Responden untuk Kuesioner RKD10. dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT). Manajemen Data Balitbangkes membentuk tim manajemen data pusat yang mengkoordinasikan seluruh proses yaitu: Bersama dengan BPS mengembangkan program data entry yang digunakan oleh enumerator setelah data dikumpulkan di lapangan Setelah data entry dilakukan di lapangan. pengukuran berat badan. pengetahuan tembakau. dengan rincian sebagai berikut: a. responden untuk Kuesioner RKD10. dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya.IND Secara umum.5. pencegahan TB paru. 16 . Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular malaria dan TB paru. hasil pemeriksaan darah malaria dan sputum digunakan formulir tersendiri (form M1. T1.IND adalah setiap anggota rumah tangga. T2. dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan TB Paru dengan mengambil sputum pagi dan sewaktu. dan konsumsi jamu/obat tradisional. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2010 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data. 6. M2. Pengumpulan data rumah tangga dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD10. c. pencegahan malaria. Anggota rumah tangga perempuan berumur 10-59 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan Kesehatan Reproduksi Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan kesehatan anak. data langsung dikirim via email ke tim manajemen Pusat untuk dilakukan pemeriksaan kelengkapan dan data cleaning Bersama dengan BPS melakukan proses pembobotan untuk siap di analisis. Anggota rumah tangga berumur = 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan pengetahuan dan perilaku tentanh HIV/AIDS. Mt1. tinggi badan / panjang badan.RT terdapat keterangan anggota rumah tangga termasuk variabel yang dapat menunjukkan apakah anggota rumah tangga diwawancarai atau tidak. b. diwakili atau tidak diwakili. konsumsi individu. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun.RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi Dalam Kuesioner RKD10. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD10. Anggota rumah tangga berumur 10-24 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai perilaku seksual. Untuk biomedis. MT2).

1.BAB III. 17 . Balita Pendek dan Balita Kurus dari tahun 2007 ke 2010 antara daerah Kota dan Desa. Status Gizi Balita Di Daerah Kota dan Desa Terdapat perbedaan perkembangan Prevalensi Balita Gizi Burkur.6. pendek. Prevalensi balita menurut tiga indikator status gizi (BB/U. Untuk prevalensi masing-masing indikator menurut BB/U. Indikator: 1. Di daerah Kota secara umum terjadi penurunan prevalensi Balita Gizi Burkur.6 persen pada tahun 2007 menjadi 13. TB/U dan BB/TB dapat dilihat pada tabel 1. 5.5 persen yaitu dari 18.1). Dalam Millenium Development Goal (MDGs). Goal 1 – MDG Target: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015. TB/U dan BB/TB) disajikan pada Tabel 1.1a. dan kurus) 2.9 persen pada tahun 2010.8 persen pada tahun 2007 menjadi 35. dan 7. Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Prevalensi balita kurang gizi (berat badan rendah. Indikator status gizi yang digunakan adalah: Berat Badan menurut Umur (BB/U). maka hasil dan pembahasan berikut khusus menyajikan indikator untuk menjawab goal 1. Beberapa indikator terkait goal dimaksud juga disajikan agar informasi yang disajikan menjadi lebih lengkap. Demikian pula halnya dengan prevalensi balita pendek yang menurun sebanyak 1.1. 1. 1.1c.3 persen yaitu dari 13. 1. 4.1b. Status Gizi Balita Tingkat Nasional Secara nasional prevalensi balita “gizi burkur” menurun sebanyak 0. Proporsi penduduk dengan asupan kalori dibawah tingkat konsumsi minimum STATUS GIZI PADA BALITA Seperti halnya pada Riskesdas 2007.6 persen pada tahun 2010. indikator status gizi yang dipakai adalah BB/U dan angka prevalensi status “underweight” (gizi kurang dan buruk atau disingkat “Gizi Burkur”) dijadikan dasar untuk menilai pencapaian MDGs. HASIL DAN PEMBAHASAN Sesuai dengan tujuan dari Riskesdas 2010 yaitu memberikan informasi terkini keadaan kesehaatan masyarakat berkaitan dengan MDG. dan prevalensi balita kurus menurun sebanyak 0. Balita Pendek dan Balita Kurus. Untuk menilai status gizi balita digunakan Standar Antropometri yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2005 atau yang disebut dengan “Standar WHO 2005”. Di daerah Desa tidak terjadi penurunan prevalensi. dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB).3 persen pada tahun 2010 (Tabel 1.2 persen yaitu dari 36. 1. status gizi balita dinilai berdasarkan parameter antropometri yang terdiri dari berat badan dan panjang/tinggi badan.2.4 persen pada tahun 2007 menjadi 17.

6 22. Lampung 19.6 16.0 22.6 26.6 43.3 32.8 13.3 29.4 27.8 11.2 17.8 12.1 10.1 persen tahun 2007 menjadi 12. Jambi 16.8 40. P a p u a INDONESIA GIZI BURKUR 2007 26.3 16. Nusa Tenggara Barat 53.2 21. B a l i 52. Kalimantan Tengah 63.2 17.2 14.4 31.2 16.8 20.2 38. Jawa Timur 36.2 17. prevalensi balita pendek turun dari 32.9 TB/U PENDEK 2007 44.0 26. Kepulauan Riau 31.8 9.8 25.3 48.7 35.1 19.7 16.4 24.6 7.6 22.9 7.2 14.7 14.3 41.8 36.5 25. Sumatera Utara 13. DKI Jakarta 32.9 10.5 16.4 39.7 36.0 13.3 18 .0 15.7 15.4 37.4 2010 23.3 35.2 19.1 21.3 16.8 16.0 15.6 19.2 persen tahun 2010 (Gambar 1. Maluku 82. TABEL 1.0 43.5 24. Sulawesi Tengah 73. Gorontalo 76.1 18.2 23.6 34. Papua Barat 94.0 31.8 40. Jawa Tengah 34.1 27.4 12.1).4 14.2 15.2 40.8 26. Sumatera Barat 14.0 15.2 15. Bengkulu 18.5 16.2 58.9 37.7 27.2 40.5 27. Nusa Tenggara Timur 61.4 29. Sumatera Selatan 17.1 27. STATUS GIZI BALITA PADA TAHUN 2007 DAN 2010 BB/U PROVINSI 11.6 33.6 19.3 22.3 18.7 10.3 29.6 26.7 14. Sulawesi Barat 81. Kalimantan Barat 62.Di daerah Kota prevalensi balita Gizi Burkur menurun dari 15.9 15.5 26.9 persen tahun 2007 menjadi 15.1 13.0 8. Banten 51.7 11. R i a u 15.0 36.2).3 42.4 17.3 12.9 14.3 15.6 33.6 12.6 15.0 14.9 18.0 11.2 17.0 16.1 40.4 persen tahun 2010 (Gambar 1.2 28.4 49.3 11.9 15.9 17.9 42.8 35.4 18.1.3 13.9 33.4 29.5 16.8 14. Sulawesi Utara 72.9 22.3 26.7 13.8 17.8 22.8 23.2 14.4 13.5 36.8 2010 38.5 35.0 30.9 11.9 16. Kalimantan Selatan 64.1 16.7 41.0 15.3 13.7 39.0 13.9 9. Maluku Utara 91.6 BB/TB KURUS 2007 18.7 46.8 39. DI Yogyakarta 35.7 35.9 26.4 12.3 17.3).6 2010 14.2 14.5 39.5 20.1 36.4 25.8 32.9 9.5 18. Kalimantan Timur 71.6 17.8 17.9 17.1 14.2 9.0 17.6 36.4 13.1 10.9 16.5 29. Jawa Barat 33.2 26.8 13.5 13.3 15.5 29.9 44.5 29.5 22.5 45.7 persen tahun 2007 menjadi 31.2 30.7 11.2 31.1 13.8 13.5 33.1 10.8 39.6 22.4 44.5 11.0 11.8 33. Sulawesi Tenggara 75.7 36.5 20.0 14.2 20.2 14.5 26.5 persen tahun 2010 (Gambar 1. Nanggroe Aceh Darussalam 12.2 39.6 35.6 37.6 17. Sulawesi Selatan 74.0 38. dan prevalensi balita kurus turun dari 13.7 21.8 11. Bangka Belitung 21.

P a p u a INDONESIA 7. Sulawesi Selatan 74.6 26.9 6.4 10.6 13.9 15.4 4.9 17. Jambi 16.6 26.9 17. Sumatera Selatan 17.4 14.0 10.2 23.9 Status Gizi BB/U Gizi kurang 16.5 11.5 16. Jawa Timur 36.6 16.1 10.3 1.2 4.4 5.3 3.7 10. B a l i 52.8 2. Sulawesi Tenggara 75. Sulawesi Barat 81.5 11. DKI Jakarta 32.4 11.4 17.7 9.0 11.8 18.0 11.6 3.4 3. Jawa Barat 33.7 6.8 1. Jawa Tengah 34.3 2. DI Yogyakarta 35.9 12.3 13.8 7.0 15. Prevalensi Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk (BB/U) Menurut Provinsi Tahun 2010 Provinsi Gizi buruk 11.0 22.7 9. Sumatera Barat 14.1 7.8 26.0 13.4 19.8 4.0 4.1 6.5 5.8 12.0 Gizi Buruk+ Gizi Kurang 23.7 21.6 18. Lampung 19.2 19.2 17.1 16.7 11.5 14.6 22.8 4.4 11.8 5.7 22.5 26.3 14. Sulawesi Utara 72.5 29.3 12.1a.8 17. Nusa Tenggara Timur 61.2 17.3 13.2 19. Banten 51.6 19. Papua Barat 94.4 5.1 3.3 16.4 9. Kalimantan Barat 62.9 19 . Nusa Tenggara Barat 53. Sumatera Utara 13.0 30.0 9. Gorontalo 76.9 17.6 9.3 13. Kepulauan Riau 31.5 4. Kalimantan Timur 71.4 14. Maluku Utara 91.3 4.7 9.3 6.5 20.7 9. Maluku 82. R i a u 15.9 20.4 29.2 7.9 12.5 25.3 15.1 27. Bangka Belitung 21. Kalimantan Selatan 64. Bengkulu 18. Nanggroe Aceh Darussalam 12. Sulawesi Tengah 73. Kalimantan Tengah 63.8 8.1 18.4 6.5 3.Tabel 1.6 8.9 14.

Gorontalo 76.3 20. R i a u 15. B a l i 52.8 21.9 26.4 31.6 12.9 17.8 36.5 35. Kepulauan Riau 31.6 16.3 29.0 12.4 12. Banten 51. P a p u a INDONESIA 20 .7 39. Papua Barat 94.5 Pendek 14. Sulawesi Utara 72.6 15.5 14.8 40. Sulawesi Selatan 74.6 13.0 21.5 14.1 20. Kalimantan Selatan 64.3 16.7 20.2 28.4 14.1 23.8 18.5 27.0 27.6 19. Kalimantan Tengah 63.0 18.3 29.9 37.5 29. Kalimantan Barat 62.8 30.0 21. Lampung 19.6 37. Jawa Timur 36.3 18.9 22.4 49.0 15.9 42.3 13.3 32.9 16.5 29. Nanggroe Aceh Darussalam 12.1 Pendek+ Sangat pendek 38.6 33. Sumatera Selatan 17.2 40.7 18. Nusa Tenggara Timur 61.3 35. Jambi 16. Sumatera Utara 13. Kalimantan Timur 71.5 12.4 28. Sulawesi Barat 81.0 15. Nusa Tenggara Barat 53.4 39.0 15. DKI Jakarta 32.9 14.6 16.1b.3 17. Sulawesi Tenggara 75. Prevalensi Balita Pendek dan Sangat (TB/U) Menurut Provinsi Tahun 2010 Status Gizi TB/U Provinsi Sangat pendek 24.6 21.1 17.1 18.0 26.9 10.5 11.4 14.2 38. Bengkulu 18.TABEL 1.6 16.6 35.6 33.2 20.4 12.0 20.5 19.6 15.4 23.2 58.0 15.3 48.3 14.9 18.6 15.1 17. Bangka Belitung 21. Jawa Tengah 34.8 32.6 11.2 30.3 19.2 23.7 16.8 17.9 33.1 27. Jawa Barat 33. Sumatera Barat 14.3 41.3 15.9 20.5 14.7 15.4 14. Maluku 82. Sulawesi Tengah 73.6 36.3 20. DI Yogyakarta 35. Maluku Utara 91.8 20.0 17.

Sulawesi Selatan 74.1c. Maluku 82.6 6.9 16.6 8.4 4.6 17.2 4. Nusa Tenggara Timur 61.8 6. Papua Barat 94.8 13.4 1.8 6. Bangka Belitung 21.6 4.2 14.0 14.6 7.2 14.9 11.8 11.0 14. DI Yogyakarta 35.4 4.1 9.0 6.7 15.8 6. Kalimantan Timur 71. Sulawesi Utara 72.9 6. Sulawesi Tengah 73.6 6.2 14.TABEL 1. Sumatera Selatan 17.8 11.3 11. Prevalensi Balita Kurus dan Sangat kurus (BB/TB) Menurut Provinsi Tahun 2010 Status Gizi BB/TB Provinsi Sangat kurus 6.2 11. Sumatera Barat 14. Gorontalo 76. Nanggroe Aceh Darussalam 12.2 20.6 15.1 6. Jawa Timur 36.7 10. Bengkulu 18.0 8. Kalimantan Tengah 63.3 7. Jambi 16. Sulawesi Tenggara 75.7 2. Kalimantan Selatan 64.9 8. Sulawesi Barat 81. P a p u a INDONESIA 21 .7 7.4 13. R i a u 15.2 17.0 9. B a l i 52. Kepulauan Riau 31.2 9.1 13.3 6.4 7.0 8.2 14. Jawa Barat 33.3 6.6 12.8 2.2 9.6 7.4 4.9 7.1 6. Kalimantan Barat 62.8 12. Maluku Utara 91.5 5.5 6.1 6.5 5.2 16.2 7.2 5.0 6. Sumatera Utara 13.8 7.4 2.9 9. Jawa Tengah 34.4 9.3 5.2 17. DKI Jakarta 32.4 5.0 15.0 4.4 7.2 5.6 6.0 Kurus 7.6 7.6 7. Nusa Tenggara Barat 53.0 8.3 5.7 13.0 8.8 13.3 9.7 6. Lampung 19.1 14.2 8.9 7.9 8.4 6.2 6.3 8.9 11.0 13.3 11.3 Kurus+ Sangat kurus 14.7 5.1 8.9 6. Banten 51.8 7.7 7.

22 .

1. sedangkan prevalensi untuk ketiga jenis masalah gizi balita pada kuintil 1 dan kuintil 2 terlihat meningkat atau relative tetap. Dari Gambar 1.1. Dengan demikian keluarga yang masuk 2 kelompok pendapatan terendah atau keluarga yang tergolong miskin masih belum menunjukkan adanya peningkatan status gizi pada balitanya. kuintil 4 dan kuintil 5. balita pendek dan balita kurus terjadi pada kuintil 3. 23 .3.6 secara umum dapat dilihat bahwa penurunan prevalensi balita gizi burkur.4.5 dan 1. Kuintil 1 adalah kelompok pendapatan terendah dan kuintil 5 adalah kelompok pendapatan tertinggi. Status Gizi Balita Menurut Kuintil Pendapatan Keluarga Kuintil pendapatan keluarga terdiri dari kuintil 1 sampai kuintil 5.

terutama pada prevalensi balita gizi burkur dan balita pendek (Gambar 1.7.9). Prevalensi balita gizi burkur. 1. Demikian pula penurunan prevalensi balita yang bermasalah gizi secara umum lebih besar terjadi pada balita perempuan disbanding dengan balita laki-laki.1.4. 24 . Status Gizi Balita Menurut Jenis Kelamin Status gizi balita perempuan secara umum lebih baik dari balita laki-laki baik pada tahun 2007 maupun tahun 2010. pendek dan kurus secara umum lebih rendah pada balita perempuan dibanding dengan balita laki-laki.8 dan 1.

4 persen. Dengan demikian dalamk kurun waktu 5 tahun mendatang Indonesia harus menurunkan prevalensi balita gizi burkur sebesar 2. 25 .5 persen pada tahun 2015. Status Gizi Balita Tingkat Provinsi Ditinjau dari prevalensi Balita Gizi Burkur pada tahun 2010 ada 20 provinsi yang menurun prevalensi dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap. pada balita perempuan turun dari 35. Provinsi DI Yogyakarta memiliki prevalensi pendek terendah yaitu 22. 1.7 persen tahun 2007 menjadi 16. 1.4 persen.5 persen (Gambar 1.9 persen.0 persen dan Provinsi NTB memiliki prevalensi tertinggi yaitu 30. sedangkan pada balita perempuan sebesar 0. terdapat 20 provinsi yang menurun prevalensinya dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap. Penurunan prevalensi kurus terlihat lebih tinggi pada balita laki-laki yaitu sebesar 0. Secara umum dapat dilihat penurunan prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 ke tahun 2010.9 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1. sedangkan pada balita laki-laki tidak terjadi penurunan atau tetap 19.11) Demikian pula dengan prevalensi Balita Kurus. Dalam hal prevalensi Balita Pendek pada tahun 2010 ada 25 provinsi yang menurun prevalensinya dan 8 provinsi yang meningkat atau relative tetap prevalensinya.6. (Gambar 1. Provinsi Bangka Belitung memiliki prevalensi terendah yaitu 7. Pencapaian indicator MDG pada tahun 2010 berdasarkan prevalensi gizi burkur adalah 17. sedangkan pada balita laki-laki penurunan prevalensi terlihat kecil yaitu dari 37.7 persen.9 persen.7 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1 persen.12).1 persen.10). Trend Prevalensi Balita Gizi Burkur dari Tahun 1989 – 2010 Pencapaian MDG berdasarkan indicator status gizi balita disajikan pada Gambar 1.5 persen.5 persen dan Provinsi NTT memiliki prevalensi tertinggi yaitu 58.13 trend prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 – 2010. Provinsi Sulawesi Utara memiliki prevalensi balita gizi burkur paling rendah yaitu 10.8 persen tahun 2007 menjadi 33.5.Prevalensi balita gizi burkur pada balita perempuan menurun dari 17.3 persen tahun 2010 atau turun sebesar 0.7 persen tahun 2007 menjadi 37.4 persen yang berarti rata-rata dalam setahun harus turun sebesar 0.6 persen dan Provinsi Jambi memiliki prevalensi tertinggi yaitu 20.0 persen (Gambar 1. Demikian pula halnya dengan prevalensi pendek. Pada tahun 1989 prevalensi gizi burkur sebesar 31 persen yang diharapkan menjadi separuhnya yaitu 15.2 persen.

26 .

. 27 .

28 .

Kebutuhan konsumsi energi setiap individu berbeda menurut umur dan jenis kelamin serta status hamil atau menyusui (bagi individu wanita). dimana ibu atau orang yang menyediakan makan untuk semua anggota rumah tangga yang diwawancara dengan memperhitungkan jumlah orang menurut umur dan jenis kelamin yang makan dirumah dan yang makan diluar rumah. yang dijabarkan dalam indikator “Proporsi penduduk yang berada di bawah konsumsi minimum”. maka pada Risksdas 2010 telah dikumpulkan data konsumsi energi individu. Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi lebih rendah dari 70 % dari 2100 kkal.KONSUMSI ENERGI DIBAWAH KEBUTUHAN MINIMAL Tujuan MDG’s nomor satu adalah “Menanggulangi Kemiskinan dan `Kelaparan” dan didalamnya terdapat target “menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya”. dimana setiap anggota rumah tangga diwawancara konsumsi makan sehari (24 jam yang lalu). jenis kelamin dan status kehamilan (bagi ibu hamil). Sesuai dengan indikator diatas. sedangkan pada Riskesdas 2007. Oleh sebab itu data konsumsi energi Riskesdas 2010 lebih akurat. sebab angka yang diperoleh merupakan angka konsumsi energi individu (anggota rumah tangga). Konsumsi energi per kapita penduduk pada data Riskesdas 2007 dihitung berdasarkan konsumsi energi rumah tangga dibagi jumlah anggota rumah tangga yang sudah distandarisasi menurut umur dan jenis kelamin. Proporsi penduduk dengan konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal dihitung berdasarkan konsumsi energi penduduk dibandingkan kebutuhannya sesuai umur. serta dikoreksi dengan jumlah tamu yang ikut makan dirumah tangga tersebut (menurut umur dan jenis kelamin). Acuan 29 . data konsumsi energi adalah data konsumsi rumah tangga.

6 % penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (70 %).5 40.2 40. Proporsi defisit energi < 70 % terbanyak pada usia remaja (54. Tabel 1. Pada penduduk dengan kuintil pengeluaran rumah tangga terendah (kuintil 1) sebanyak 46. Menurut kuintil pengeluaran rumah tangga. Hasil Riskesdas 2010.14.5 41.kecukupan yang digunakan adalah “Tabel Angka Kecukupan Gizi 2004 Bagi Orang Indonesia” dalam Widya Karya Pangan dan Gizi Tahun 2004.2.2 40.Riskesdas 2010 Kelompok Umur Balita Anak Sekolah Remaja Dewasa Ibu Hamil Total % 24.4 %). dan sebaliknya pada 30 . semakin tinggi kuintil pengeluaran rumah tangga semakin sedikit penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% AKG).2 44. dan terendah pada anak balita (24.2 54.4 40.4 41. konsumsi penduduk di Indonesia yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (lebih rendah dari 70 % dari angka kecukupan gizi bagi orang Indonesia (tahun 2004) adalah sebanyak 40. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) .2 24.6 Gambar 1.5%).6 Balita Dewasa Anak Sek Hamil Remaja Total Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% dari AKG) lebih banyak pada penduduk di desa dari pada penduduk di kota. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) – Riskesdas 2010 % 60 50 40 30 20 10 0 54.2 44.6 %.

6 Gambar 1.3 40.5 37. sebanyak 34.3 34.Riskesdas 2010 Tingkat pengeluaran/kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Total % 46.9 41. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) Menurut Kuintil Pengeluaran Rumah Tangga . Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) di Kota dan Di Desa % 41.15.kuintil pengeluaran rumah tangga tertinggi (kuintil 5).6 31 .9 41.5 39 Kota Desa Total 39.5 40 39.3 40.6 43.4. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) Menurut Desa dan Kota – Riskesdas 2010 Kelompok Umur Kota Desa Total % 39.3 persen penduduk yang mengonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (< 70 % AKG). Tabel 1.3.5 41 40.3 40.6 Tabel 1.2 40.

1%). Menurut provinsi. dan terendah di provinsi Jawa Timur (26.2 40.16.6 34. proporsi konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal 43 persen lebih banyak dibanding pada tahun 2010 yaitu sebanyak 40. Pada tahun 2010.3 40. 32 . provinsi yang penduduknya mengkonsumsi energi lebih rendah dari kebutuhannya dengan jumlah tertinggi adalah provinsi Nusa Tenggara Barat (46.6%) dan provinsi dengan proprosi konsumsi energi dibawah kebutuhan terendah adalah di provinsi Bengkulu 23.5 37.6 persen. pada tahun 2007. provinsi dengan penduduk mengkonsumsi energi dibawah kebutuhannya tertinggi di provinsi Bengkulu (67%).6 43.3 Pada tahun 2007.Gambar 1. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) Menurut Kuintil Pengeluaran RT-Riskesdas 2010 % 50 40 30 20 10 0 Kuintil 1 Kuintil 4 Kuintil 2 Kuintil 5 Kuintil 3 Total 46.8 persen.

33 . dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu. tiga. Program imunisasi untuk penyakitpenyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG.5 persen. Dari Tabel 4. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda. anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG.2) menurut provinsi dan karakteristik responden.1 persen dibanding Riskesdas 2007 (81.1 dapat dilihat secara keseluruhan. Goal 4 – MDG Menurunkan Kematian Anak Target: Menurunkan Angka kematian balita hingga dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015 1. dalam laporan ini hanya analisis untuk imunisasi campak. empat kali imunisasi polio. cakupan imunisasi campak dalam Riskesdas sebesar 74. imunisasi polio pada bayi baru lahir. menurun 6. Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan. cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan. Dalam Riskesdas. Imunisasi campak merupakan salah satu dari indikator dalam Millenium Development Goals (MDGs). Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi. dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan. Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada dua tabel (Tabel 4. Cakupan imunisasi terendah di provinsi Papua (47. disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut. dan satu kali imunisasi campak.4%). dan satu kali imunisasi campak. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) atau Buku KIA.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96.6%).2. tiga kali polio. Terdapat 19 provinsi cakupan imunisasi campak di bawah rata-rata nasional. Oleh karena Riskesdas 2010 ditujukan pada indikator yang ada dalam MDGs. empat bulan dengan interval minimal empat minggu. Imunisasi campak pada anak 12-23 bulan Kementerian Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi. imunisasi DPT-HB pada bayi umur dua.1 s/d Tabel 4. Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui. informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu atau anggota rumahtangga lain yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan. tiga kali imunisasi DPT-HB. dan Buku catatan kesehatan anak lainnya. tiga kali DPT-HB.

9 77.6 87.6 84. Dengan demikian terdapat perbedaan cakupan sebesar 9.1 86.1 89.7 34 .3 81.7 47.5 72.5 67. cakupan imunisasi campak di perkotaan lebih tinggi (79.8 persen dan penurunan antara 0.4 85.5 Tabel 4.4 94.0 59. Riskesdas 2007.1.0 71.6 77.2 78.5 76.9 72. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak Menurut Provinsi.0 85.Bila cakupan imunisasi campak dibandingkan antara Riskesdas 2007 dan 2010 per provinsi.2-22. Terlihat dalam tabel.1 68.5 57.5 60.7 77.1 62.1 78.3 83.3 83.0 90. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulasewi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Persentase cakupan imunisasi campak Riskesdas 2007 Riskesdas 2010 69.9 90.5 99.6 78.9 91.1 62.1 86.5 69.2 62. Kenaikan cakupan imunisasi campak antara 2.8 80.7 86.4 81. dan anak.0 75.3 61.5 persen.7 69.9 80.4 77.3 96.3%). sedangkan provinsi lainnya relatif sama atau menurun.2 menunjukkan cakupan imunisasi campak menurut karakteristik daerah.8 73. hanya ada empat provinsi dengan cakupan imunisasi campak yang naik pada tahun 2010. Tabel 4.5 85.4 64.7 88.6 74.1 63.5 81.3 85.1 76. rumahtangga.9 68. 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.2 71.6 70.8 83.6 84.3%) dibanding di perdesaan (69.2 90.3 83.4 83.5-6.5 75.7 72.4 67.4 83.3 95.2 96.

8 77.1 78.1 80. tidak banyak terdapat perbedaan cakupan imunisasi campak antara anak laki-laki dan perempuan.persen antara daerah perkotaan dan perdesaan.0 78.3 78.1 64.1 84.9 86.3 persen.3 69. Tabel 4.2 67.8 82.9 83.1 80. Keadaan tersebut serupa dengan hasil Riskesdas 2007.9 79. 2010 Karakteristik Penduduk Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.9%).0 81.9 77.7 59.8 85.2 persen.6 78.4 74.7 91.5 persen.0 71. Riskesdas 2007.0 81.5 79.1 Karakteristik rumahtangga lain dalam analisis ini adalah tingkat pengeluaran per kapita yang dibagi menjadi lima kelompok yaitu kuintil 1 yaitu kelompok terendah sampai kuintil 5 yaitu 35 . Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja Ibu rumahtangga PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Persentase cakupan imunisasi campak Riskesdas 2007 Riskesdas 2010 86.5%) dan tertinggi pada PNS/ Polri/ TNI (86.6 69.6 93.2 82.5 83.2 74.2 juga dapat dilihat variasi yang lebar cakupan imunisasi campak menurut pendidikan kepala keluarga.6 74.2 65. lebih tinggi perbedaan tersebut dibanding tahun 2007 yang hanya 7. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak Menurut Karakteristik Responden.4%).2 71.3 88.6 74. Cakupan imunisasi campak terendah bila pendidikan kepala keluarga tidak sekolah (59.1%) dan tertinggi pada pendidikan kepala keluarga tamat perguruan tinggi (86.2.8 79. Terdapat tren cakupan imunisasi campak yang meningkat seiring dengan makin tingginya pendidikan.4 83. Pada tabel 4. lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya sebesar 21. Cakupan imunisasi campak menurut pekerjaan kepala keluarga yang terendah pada petani/ nelayan/ buruh (67.5 -86. Dengan demikian terdapat kesenjangan cakupan sebesar 27. baik dalam tahun 2007 maupun 2010. Bila dibandingkan menurut jenis kelamin.3 86.0 86.1 78.

tidak bisa dianalisis menurut provinsi dan hanya dapat dianalisis menurut karakteristik responden yang terlihat dalam Tabel 4. 3.1 persen pada tahun 2010. Pemberian ASI eksklusif secara keseluruan pada umur 0-1 bulan. 2. Hasil tersebut lebih baik bila dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2007 sebesar 57.4 persen.3 terlihat bahwa secara keseluruhan pada tahun 2010 sebanyak 60. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita. belum pernah mendapatkan MPASI. dan 4-5 bulan berturut-turut adalah 45.6 persen neonatus umur 3-7 hari dan 37. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi. ASI eksklusif lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding daerah perkotaan. Menurut tipe daerah. Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Sulawesi Barat (9.7 persen.kelompok tertinggi. Demikian juga tidak ada pola hubungan yang jelas antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pendidikan orangtua. Bayi di bawah 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif jika saat pengumpulan data ibunya menyatakan bahwa bayinya masih mendapatkan ASI.1%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66.0 persen.8%). tetapi tidak ditanyakan pada Riskesdas 2007.6 persen dan 33. tipe daerah dan rumah tangga pada Riskesdas 2007 dan 2010.5 persen. dan 31. Tidak ada perbedaan ASI eksklusif menurut jenis kelamin bayi. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus.1 persen pada kuintil 5. Tabel 4. lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya 8. Hubungan yang jelas baru terlihat antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pengeluaran per 36 .7%). Ada kecenderungan semakin tinggi pengeluaran per kapita semakin tinggi pula cakupan imunisasi campak.3 persen. pemeriksaan neonatos pada tahun 2010 di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan. 38.5.0 persen dibanding 86. Oleh karena jumlah bayi di bawah 6 bulan hanya sedikit. Dengan demikian terdapat perbedaan 21.4 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi. 2-3 bulan. Kunjungan Neonatus Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi. Pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari terendah pada tahun 2010 terdapat di Papua Barat (17. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita. dan dalam 24 jam yang lalu tidak mendapatkan makanan selain ASI. Cakupan imunisasi campak pada kuintil 1 sebesar 65.7 persen neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84. Dalam Tabel 4. Pemberian ASI Eksklusif Pemberian ASI eksklusif ditanyakan pada Riskesdas 2010.

8 44.2 69.0 50.7 41.1 33.5 17.8 26.kapita.4 50.8 19.4 34.8 62.9 55.4 29. semakin menurun pemberian ASI eksklusif baik di kelompok umur bayi 0-1 bulan.2 54.1 66.3 39.2010 Pemeriksaan neonatus Umur 3-7 hari (KN1) 2007 2010 56.9 75.4 27.3 21.3 53.1 52.9 54.5 59.6 60.5 49.8 33.5 21.0 68.2 43.7 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.2 21. maupun 4-5 bulan.9 45.5 64.0 64.9 55.6 29.5 54.1 41.2 31.0 28.8 30.5 81.4 33.1 35. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulasewi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 37 .9 57.1 24.1 26.9 34.7 48.1 66.8 63. Semakin tinggi pengeluaran per kapita rumahtangga.9 66.3.0 18.2 58.3 47.9 42.6 13.9 29.2 70.0 42.6 32.2 50.6 34.3 66.2 14.2 25.8 30.2 38.9 57.5 9.7 64.3 28.2 25.6 43.4 28.2 26.0 42.0 39.4 37.7 64.3 54.5 66.2 19.3 22.7 30.4 59.3 65. 2-3 bulan.6 25.6 72.6 57.0 68.2 58.9 35.4 27.1 53.6 Pemeriksaan neonatus Umur 8-28 hari (KN2) 2007 2010 36.4 15.4 23.8 25.2 48.8 17.3 28.7 26.8 84.8 45.6 35. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Provinsi.5 67.3 40.6 58.3 39.5 44.0 12.7 12.8 46. Tabel 4.9 50.3 49.4 19.9 43.0 38.4 62. Riskesdas 2007.4 44.0 39.1 39.1 32.5 63.9 52.4 51.7 56.6 15.8 61.5 37.5 26.2 36.6 58.1 26.1 63.

5 63.7 57.4 55.0 69.4.0 59.9 64.3 57.1 52.1 47.1 60.2 41.9 66.7 61.7 29.2 31.3 41. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Karakteristik Responden.3 44.3 54.5 30.0 37.4 36.7 -54.3 32.7 52.5 62.1 57.7 51.9 79.8 55.3 31. Riskesdas 2007.6 29.3 46.5 36.Tabel 4.8 24.0 51.5 39.7 39.1 67.0 31.1 53.4 65.6 33.5 42.2 29.7 35. 2010 Karakteristik responden 2007 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.9 27.5 33.2 52.8 65.5 50.3 66.0 60.1 2010 68.2 37.0 58.7 40.2 59.5 37.2 33.0 60.3 44.9 37.7 38 .5 52.8 63.8 41.8 31.7 64.9 67.2 28.5 2007 41.4 74.6 62.7 59.2 46.5 49.1 -74.3 33. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja Ibu rumahtangga PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tkt pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 65.2 28.7 32.4 50.9 2010 45.

3 40.2 36.9 29.9 34.2 31.3 36.4 37.0 44.5.0 38.3 33.1 18.4 51.6 39.2 35.3 30. 2010 Karakteristik responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.7 39.8 41.3 36.5 36.3 42.5 71.0 44.8 29.5 45.4 33.7 32.2 31.5 51.2 29.0 42.6 33. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tkt pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 INDONESIA Umur anak 2-3 bln 34.7 34.6 34.0 45.0 37.2 44.7 35.1 52.0 39 .9 22.0 45. Persentase Pemberian ASI Eksklusif Menurut Umur Anak dan Karakteristik Responden.8 40.5 25. Riskesdas 2007.4 4-5 bln 26.6 38.3 36.3 0-1 bln 41.4 51.7 30.8 41.1 43.4 32.Tabel 4.6 23.5 34.3 30.7 47.8 50.2 37.4 43.8 40.7 50.3 36.3 21.

Distribusi Sampel menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Riskesdas 2010 Kelompok Umur (tahun) 0-4 5-9 10 .MDG Meningkatkan Kesehatan Ibu Target: Menurunkan 75% kematian ibu dalam kurun waktu 1990-2015.29 30 .0 40 .7 2.9 3.3.1 5.5 4.4 8.5 9.3 6.2 3. 15-49 tahun.0 3.2 2.1 4.7 4. dengan memperhatikan indikator yang terkait dengan target menigkatkan kesehatan ibu.6 50.5 1.3 4.2 3.1 4.000 kelahiran hidup.5 100.6 3.8 3.2 2.8 7.7 8.4 5.7 2. Gambaran Sampel Riskesdas 2010 Distribusi kelompok umur untuk keseluruhan sampel Riskesdas adalah sebagai berikut: Tabel 5. Beberapa indikator terkait disajikan juga dengan membandingkan dengan hasil sebelumnya yang berasal dari Susenas maupun SDKI.4 5.7 Total 8.2 8.24 25 .19 20 .7 3. Indikator untuk mencapai target tersebut.9 49.Goal 5 .6 3.34 35 .1 1.5 5. terdapat indikator yang dipantau untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah: Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan Angka pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun Berikut ini merupakan hasil analisis Riskesdas 2010.1.1 7.1 4.44 45 -49 50 -54 55 -59 60 -64 65 + Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 4. Target sampel penduduk untuk mengetahui kesehatan ibu adalah perempuan pernah kawin usia reproduktif/WUS.1 7.4 2.39 40 .3 4.2 5.0 3.9 3. selain Angka Kematian Ibu per 100.8 10.2 4.14 15 .8 1.

9 49.1 0. Tabel 5.1 3.1 0.3 7.5 100.4 11.9 persen.7 9.3 20.39 40 . Status Perkawinan menurut Jenis Kelamin Riskesdas 2010 Status Perkawinan Belum kawin Kawin Cerai hidup Cerai mati Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 24. Proporsi kehamilan terhadap total penduduk Riskesdas 2010 Kelompok Umur 10 .5 11.0 11.3.6 0.8 12.8 9.3 10.1 0.2.2 10.19 20 .0 41 .1 persen.6 11.9%.6 50.7 2.0 3.4 0.0 96.24 25 .4 0.6 0.7 0.34 35 .14 15 . Proporsi kehamilan pada perempuan usia reproduktif 15-49 tahun adalah 2.3 7.4 1.8 24.44 45 -49 50 -54 55 -59 Total Apakah sedang hamil Ya Tidak 0.0 Proporsi kehamilan dari sampel Riskesdas 2010 adalah 3. proporsi perempuan usia reproduktif/WUS 15-49 tahun terhadap total sampel adalah 26.2 50.1 13.8 0.4 25.Dari tabel di atas. dan kelompok umur 50-54 tahun (0.7 10.0 100.3 0.4 0. dan terlihat kehamilan terjadi pada kelompok umur 10-14 tahun (0.2 11.1%).8 0.1 12.5 10.1%). Distribusi status perkawinan seluruh kelompok umur penduduk adalah sebagai berikut: Tabel 5.7 Total 45.29 30 .9 Total 13.3 0.7 12.

Proporsi pertolongan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 80.4%).1.5%). Grafik 5. perawat. Angka pertolongan kelahiran yang diperoleh dibedakan menjadi dua. dan Maluku (52. dan tenaga kesehatan lain) dengan dengan jumlah persalinan seluruhnya dan dinyatakan dalam persen.1. Sedangkan provinsi yang perlu mendapatkan perhatian adalah Maluku Utara (33. 42 . dan tercatat 0.6%).1 persen tidak menjawab. diikuti Kepulauan Riau (97.7 persen oleh bukan tenaga kesehatan. pada umumnya yang digunakan adalah angka pertolongan kelahiran berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan 1 tahun sebelum survei.1%). Indonesia 2010 Variasi antar provinsi dapat dilihat pada tabel berikut.8%). Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun terakhir. DKI Jakarta (96. Provinsi terbaik dengan proporsi pertolongan kelahiran ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih adalah DI Yogyakarta (98. yaitu berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada lima tahun sebelum survei.2 persen. Grafik berikut menunjukkan proporsi pertolongan kelahiran yang terjadi pada 5 tahun sebelum survei. Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan Analisis dilakukan berdasarkan perbandingan antara persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih (dokter. dan 19. dan Bali (92. dan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada 1 tahun sebelum survei. bidan.7%). Untuk melihat kecenderungan.

0 0.0 0.4 33.0 0.0 0.0 0.6 42.0 0.4 20.0 0.3 55.5 23.0 0.5 55.0 0.1 0.8 59.6 66.5 76.1 Sedangkan proporsi pertolongan kelahiran yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk kejadian kelahiran 1 tahun sebelum survei adalah 82.3 83.0 0.2 12.0 0.8 78.4 57.8 88.2 28.6 9.0 0.5 44.6 24.5 85.0 0.8 72.2 0.7 16.2 37.0 0.4.6 60.4 75.4 80.4 57.6 97.0 0.0 0.1 63.5 14.9 40.7 91.9 78.6 98.6 19.0 0.4 90.6 18.5 79.6 79.5 75.1 39.0 92.4 81.0 52.3% dengan variasi antar provinsi yang 43 .4 2.1 83.7 44.0 0.9 43.4 0.2 21.5 24.7 Tidak menjawab 0.0 13.0 0.0 47.0 3.Tabel 5.0 0.9 3.9 81.0 0.0 0.4 0.9 36.0 0.9 16.0 0.2 Tenaga Non Kesehatan 13. Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun sebelum survei menurut Provinsi.0 7.3 0.1 56.1 60.1 96.0 0.0 0.9 8.1 18.5 42.1 21.3 20.0 0.0 0. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tenaga Kesehatan 86.0 86.

8 48.4 56.8 78.7 26.4 95.5 88.terbaik dan terendah hampir sama dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan 5 tahun sebelum survei.4 79.Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Nakes yang terjadi 1 tahun sebelum survei menurut Provinsi.7 87.9 80.5 79.1 64.2 95.5 94.0 52.8 70.5 87.8 97.1 98. Tabel 5.5.6 66.4 85.2 95. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia % 92.6 87.6 94.5 63.2 49.3 44 .1 76.9 82.3 57.0 79.0 66.8 64.3 60.7 80.

Kecenderungan Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan Indonesia 1990-2010 Sumber: Susenas 1990-2007.6%). kecenderungan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan meningkat dari 40.7 persen tahun 1990 menjadi 82.1 persen. Sedangkan provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan masih di bawah 50% adalah Maluku Utara (26. Riskesdas 2010. 45 .7%). Pada kondisi saat ini. Terjadi disparitas yang cukup lebar untuk kelompok penduduk yang tinggal di perdesaan (72.2. diikuti Kepulauan Riau (97. dan berbeda sangat lebar dibanding kelompok penduduk 20% teratas (kuintil 5) yaitu sebesar 94.2%).4%. Secara nasional.3 persen pada tahun 2010. 91. pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 69. serta Bali (95. dan Papua Barat (49.2%). Maluku (48.3 persen pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan tingkat pengeluaran. dapat dilihat kelompok penduduk 20% terbawah (kuintil 1).Dari tabel di atas dapat dilihat provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan di atas 95 persen adalah DI Yogyakarta (98.9%). Grafik 5. DKI Jakarta dan Bangka Belitung (95.8%). dari Riskesdas 2010 menunjukkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan berdasarkan karakteristik penduduk. dapat dilihat kelompok penduduk yang tinggal di perkotaan.3%).5%).

3.9 28.8%).6.5 Kuintil 3 91. dan hanya 1.6 Kuintil 1 79. dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (95.5 20.7 Perkotaan 72. Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan menurut Karakterisitik Penduduk.0 Kuintil 4 94. serta berdasarkan tingkat pengeluaran.5% di Poilindes/Poskesdes. Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut tempat melahirkan. Grafik 5.1%). Indonesia 2010 Berdasarkan karakteristik penduduk.5%. Penduduk di perkotaan 77.0 9.9 Kuintil 5 Tempat melahirkan untuk persalinan 1 tahun sebelum survei. sebagian besar sudah dilakukan di fasilitas kesehatan (59.5 13. Indonesia 2010 Tenaga Tenaga Non Karakteristik Penduduk Kesehatan Kesehatan Tempat Tinggal 91. dan masih banyak yang melahirkan di rumah (39.Tabel 5.3 9. Sementara kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1) melahirkan di fasilitas kesehatan sebesar 40. terjadi juga kesenjangan tempat melahirkan di perkotaan dan di perdesaan.0 Perdesaan Tingkat Pengeluaran 69.5%).2 persen. 46 .5 Kuintil 2 86.6 persen melahirkan di fasilitas kesehatan dibanding di perdesaan yang hanya 40.1 5. 2%).4 30. Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada grafik yang menunjukkan provinsi terendah adalah Sulawesi Tenggara (7.7 persen dibanding kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5) yaitu sebesar 81.

9 63.7.8 2. Indonesia 2010 Polindes Rumah /Poskesdes /lainnya 0.0 27.2 2.8 0.1 81.6 Karakteristik Penduduk Faskes Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 77. Proporsi Persalinan Satu Tahun Sebelum Survei yang Melahirkan di Fasilitas Kesehatan menurut Provinsi.Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut Tempat Melahirkan dan Karakateristik Penduduk. Indonesia 2010 47 .Tabel 5.7 53.6 57.6 40.6 56.9 45.1 17.2 40.4 1.2 72.0 35.5 Grafik 5.8 0.1 1.4.8 21.

masih terdapat ibu memeriksakan kehamilannya ke dukun (3.3% yang melakukan pelayanan antenatal minimal 1 kali pada trimester 1. 48 . yang pada umumnya kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1). minimal 2 kali pada trimester 3. Proporsi meningkat berdasarkan tingkat pendidikan. Indonesia 2010.6% perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun mempunyai riwayat kehamilan anak terakhir pada periode lima tahun terakhir. Berdasakan pekerjaan. minimal 1 kali pada trimester II. Dari analisis. Akses ibu hamil ke tenaga kesehatan (K1) pada penduduk perkotaan jauh lebih baik dibanding perdesaan.0%). Demikian halnya dengan tingkat pengeluaran. sudah sebagian besar memeriksaan kandungannya (pelayanan antenatal) ke tenaga kesehatan (84.8. perlu juga dipantau akses pelayanan kesehatan reproduksi. semakin banyak yang melakukan kunjungan antenatal ke tenaga kesehatan. semakin membaik pendidikan penduduk. pada umumnya kelompok petani/nelayan yang cakupan pelayanan antenatalnya lebih kecil dibanding kelompok penduduk bukan petani/nelayan. Berdasarkan karakteristik. Lebih lanjut hanya 61. persentase kunjungan antenatalnya lebih kecil dibanding dengan kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5). Menurut riwayat kehamilannya anak terakhir tersebut.6. khususnya untuk perempuan usia 15-49 tahun.8% ibu hamil mengikuti pelayanan antenatal.8%). Indikator yang dapat diperoleh dari Riskesdas adalah Akses (K1) yang dianalisis berdasarkan akses ibu hamil ke tenaga kesehatan dari semua riwayat kehamilan anak terakhir dari perempuan usia 15-49 tahun. demikian juga untuk K4. Dari sampel Riskesdas 2010. diperoleh 38. minimal 1 kali pada trimester 2 dan. dan minimal 2 kali pada trimester 3 dari jumlah kehamilan perempuan usia 15-49 tahun. Proporsi Perempuan Pernah Kawin usia 15-49 tahun dari Kehamilan Anak Terakhir Lima Tahun Terakhir Memeriksakan Kehamilan. diketahui akses (K1) secara keseluruhan adalah 92. berikut. dan tidak melakukan pemeriksaan (2.2%). K1 dan K4 dapat dilihat pada Tabel 5.Untuk meningkatkan kesehatan ibu. Grafik 5. Selanjutnya adalah K4 yang dianalisis berdasarkan jumlah pemeriksaan antenatal minimal 1 kali pada trimester I.

Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Karakteristik Penduduk.5 Grafik 5.3 79.8.2 56.7.3 98.3 47.3 48.5 74.3 persen (2010).8 persen (2010) dan K4 dari 65.5 97. Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4.0 99.9 50.7 37. cakupan pelayanan antenatal ini dapat dilihat pada grafik 5. Terjadi penurunan angka K1 dari 93.6 57.3 persen (2007) ke 92. Indonesia 2007-2010 49 .Untuk kecenderungan.5 87.6 95.7 70.3 93.7 K4 73.2% (2007) ke 61.1 89.2 97. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 K1 97.0 75.3 62.1 63.1 91.7 berdasarkan SDKI 2007 dan Riskesdas 2010.6 84.4 63.0 88.4 79.2 94. Tabel 5.3 50.8 96.5 88.7 90.

Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Provinsi.1 59.6 89. Tabel 5.9 77. DI Yogyakarta merupakan provinsi terbaik.7 94.6 35.1 46.2 94.5 98.3 52.8 24.4 56.0%) dan terendah untuk K4 adalah provinsi Gorontalo (19.7 88.4 61.9.5 44. sedangkan cakupan terendah untuk K1 adalah provinsi Papua Barat (72.6 52.2 50.6 35.5 88.6 98.9 91. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia K1 93.2 93.9 88.7 89.8 96.5 44.7 54.6 34.1 81.7 89.1 100.0 92.2 85.0 79.9 91.5 76.1 82.1 77.4 73.8 50.0 95.4 77.4 98.4 54.5 67.1 32.4 21.8 77.2 39.8 75.6 48.8%).8 K4 61.1 94.8 28.8 92.9.4 93.7 53.5 74.3 72.3 85.1 84.4 41. untuk cakupan K1 dan K4.1 93.0 96.7 67.4 58.3 50 .7 19.Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.7 83.

3%) dan terendah adalah provinsi Papua barat (31. dan yang berstatus kawin. Perempuan berstatus pernah kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin’.11.2) Analisis dibedakan menjadi dua. sampel yang dipilih adalah perempuan usia 15-49 tahun yang berstatus pernah kawin.10. Analisis pada Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun Pada Grafik 5. untuk mengikuti kecenderungan dari tahun 2007 yang sudah dilakukan pada SDKI 2007 ke tahun 2010 a. ‘cerai hidup’ dan ‘cerai mati’.8 terlihat 53. Grafik 5. pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun. pemakaian kontrasepsi untuk mencegah kehamilan ditanyanya pada perempuan pernah kawin usia 10-59 tahun dan pasangannya.2. menurut pekerjaan adalah yang tidak bekerja.9 persen perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi. Untuk kepentingan analisis.8.9%). Menurut kelompok umur. Proporsi penggunaan alat kontrasepsi di perdesaan pada umumnya lebih tinggi dari perkotaan. Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan pernah kawin 51 . Sedangkan menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP. (Distribusi status perkawinan bisa dilihat pada tabel 5. Pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun Pada Riskesdas 2010. dan terdapat 19 persen tidak pernah menggunakan sama sekali. Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5. Provinsi dengan persentase menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah bali (64. sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 tahun Indonesia 2010 Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5. Sedangkan perempuan berstatus kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin”.

5 55.10.9.9 44. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 Tahun yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk.7 51.4 47.4 56.2 55.9 56. Ada terjadi penurunan dari 57. Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5.2 58.1 50.9 persen pada tahun 2007 menjadi 53. Tabel 5.3 58.6 60.5 45.9 persen pada tahun 2010.4 54. dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10.9 53.7 52 .yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (42%).7 32.6 50.4%).4 60.3 45.8 54.7 52. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Kelompok Umur 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 -49 Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 % 52.3 60.0 57.

6 18.6 15.4 30.7 64.7 37.7 36.1 12.3 15.9 56.6 54.4 18.1 28.1 22.8 13.2 18.4 29.6 27.7 22.5 24.3 15.1 30. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sekarang menggunakan 41.7 61.2 21.4 37.3 30.7 32.4 38.7 43.8 24.1 55.4 23.6 25.1 57.Tabel 5.6 40.6 63.1 Tidak pernah sama sekali 30.0 51.8 31.0 16.4 12.3 17.9 23.6 58.1 29.8 31.4 60.2 42.0 56.4 21.2 11.2 27.7 16.0 38.4 41.9 30.9 Pernah/tidak menggunakan lagi 27.9 46.7 37.3 60.5 22.2 21.8 62.8 19.0 59.8 27.2 21.8 54.9 49.4 20.11.7 29.0 25.6 10.3 27.6 27.2 49.7 25.7 47. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi.3 18.3 51.3 58.4 24.8 29.0 53.1 29.6 29.0 18.3 30.7 23.9 38.0 17.3 37.6 11.0 53 .5 57.1 42.2 27.3 26.7 25.0 24.8 35.6 16.2 62.

0 31.8%). Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD.2 0.3 5.6 1.3 0.1 Sumber: SDKI 2007. Indonesia: 2007-2010 Sumber: SDKI 2007.13).2 12.4 2. Riskesdas 2010 Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.0 0. penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih banyak yang tinggal di perdesaan (34.1 0.Grafik 5.4 1.1 46. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 42.5%) dibanding di perkotaan (27.7 30. Riskesdas 2010 Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara KB.1 12.1 1.1 0.1 0.3 0. Demikian juga 54 .1 persen tahun 2010.0 2.1 Riskesdas 2010 2.5 4.1 persen tahun 2007 menjadi 46. Suntikan dan amenorrhea laktasi.0 1. Indonesia: 2007-2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan SDKI 2007 3.12 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010.4 42.12.0 0.9. Tabel 5. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB.

1 45.1 47.4 1.9 0.0 34.0%) Pustu (4.1 0.3%). pada umumnya membeli di Apotik.2 Perdesaan 1. Tabel 5. atau mendapatkan secara gratis di kantor desa.6 4.9%). dan di RS pemerintah (3.9 5.1 Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB seperti pada tabel 5.penggunaan pengguna implant di perdesaan (1.9 2.4 0.5 0.14 dapat dilihat sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek (52.4 0. Sebanyak 12. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat pelayanan KB.14.5%). bervariasi.0 12.1 11.0 0.5 2.5 1.7 0.5 2. Indonesia 2010 Tempat Pelayanan KB RS Pemerintah RS Swasta RS Bersalin Puskesmas Pustu Klinik TKBK/TMK Dokter praktek Bidan praktek Perawat praktek Polindes/ Poskesdes Lainnya % 3.1 0. Sebaliknya pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (12. dll.7 0. Tabel 5. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal.7%).7 4.9%) dibanding di perkotaan (0. diikuti di Puskesmas (12.1 12.9 27.3 2.2 0.5%).5 52.9%) dibanding di perdesaan (11.13.5% menjawab lainnya.0 4. Indonesia 2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan Perkotaan 2.5 0.1 12.8 0.9 1. depot obat.1 0.3 55 .

serta yang menjawab lainnya 5.10.9%). dan ‘ingin punya anak’ c) Tidak perlu lagi adalah dari jawaban ‘tidak perlu lagi’ d) Lainnya adalah dari jawaban ‘lainnya Diluar klasifikasi ini adalah responden yang menggunakan KB. ‘sulit diperoleh’.3%. Jawaban responden dari pertanyaan ini selanjutkan dikelompokkan menjadi empat: a) Butuh/tidak terpenuhi atau unmet need adalah dari jawaban ‘dilarang pasangan’.15.IND) pertanyaan Dc06. Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.7%).Pada Riskesdas 2010 ditelusuri juga alasan utama tidak menggunakan KB. Bentuk pertanyaannya dapat dilihat pada kuesioner individu terlampir (RKD10.Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB. Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8. ‘dilarang agama’ . ‘takut efek samping’. Grafik 5. tapi tidak terpenuhi di atas 30 persen yaitu Maluku (32. dan Papua Barat (32.7%). Selanjutnya yang menjawab belum atau ingin punya anak adalah 15 persen. Dari Grafik 5.0 persen yang sebenarnya membutuhkan akan tetapi tidak bisa terpenuhi.8 persen. b) Belum/ingin punya anak adalah dari jawaban ‘belum punya anak’.10 dapat dilihat ada 14. Indonesia 2010 56 . dan ‘tidak menginginkan’. Ada empat provinsi dengan persentase yang menjawab butuh. tidak perlu lagi 11. ‘mahal’ .

3 15.15.3 9.4 38.0 5.5 5.6 12.6 5.7 9.5 2.7 43.0 11.7 14.7 6.8 12.8 Menggunakan KB 41.5 7.6 54.5 6.5 14.2 6.4 57.1 55.2 10.8 10.0 18.7 4.8 9.9 32.0 11.4 6.3 17.2 5.0 51.8 54.5 18.7 14.1 10.7 11.8 16.6 9.7 10.5 37.2 42.3 16.3 4.2 17.9 8.1 16.6 5.1 11.6 22.8 25.7 13.8 13.9 57 .3 10.3 15.4 10.2 14.0 11.9 10.8 20.4 60.9 57.4 9.7 19.8 10.2 15.1 57.0 12.3 6.7 12.5 12.5 9.0 10.5 7.0 56.7 64.2 9.6 2.9 4.9 12.3 17.6 29.9 14.7 13.3 19.2 3.9 49.2 62.0 Tidak perlu lagi 9.3 11.3 58.7 13.6 15.9 46. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Butuh/tidak Belum/ingin terpenuhi punya anak 23.3 8.5 13.0 12.7 7.8 61.1 9.0 16.0 6.2 17.9 25.7 25.0 59.1 11.0 11.5 16.3 15.9 10.3 13.9 12.2 11.9 22.6 10.8 62.3 Lainnya 7.0 11.6 19.8 32.2 49.9 8.4 4.3 9.4 14. Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi.2 5.1 9.2 8.3 9.9 8.0 19.3 51.0 10.9 63.1 38.0 14.7 47.2 9.8 35.3 60.0 13.8 15.4 20.0 38.3 7.1 6.2 12.5 16.Tabel 5.5 2.2 6.0 12.3 3.3 3.5 14.5 10.0 5.0 53.5 21.6 19.9 8.6 58.7 36.5 7.9 9.0 16.8 32.8 11.

17. Provinsi dengan persentase menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah Kalimantan Tengah (66.8%). Sedangkan menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Berstatus Kawin Usia 15-49 tahun Indonesia 2010 Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5. Menurut kelompok umur. Pada grafik 5.4%). Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan berstatus kawin yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (41. dan 18. dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10.4 persen tahun 2007 menjadi 56 persen pada tahun 2010 58 .11 dapat dilihat perempuan yang berstatus kawin dan menggunakan alat KB adalah 56. Grafik 5. sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2. pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun. Analisis pada Perempuan berstatus Kawin usia 15-49 tahun Analisis yang sama seperti di atas. menurut pekerjaan adalah yang tidak bekerja. Penduduk di perdesaan pada umumnya menggunakan alat kontrasepsi lebih tinggi dari perkotaan.0%.4 persen tidak pernah menggunakan sama sekali. Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.4%).0%) dan terendah adalah provinsi Papua barat (32. Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5.b.16. dilakukan untuk perempuan berstatus kawin umur 15-49 tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi.12. Ada terjadi penurunan dari 61.11.

1 45.8 57.4 56.6 55.5 60.5 59 .9 53.4 61.5 35.3 57.16.1 48.2 55.3 59.5 58.1 62.9 57.1 59.2 53. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Kelompok Umur 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 -49 Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 % 54.0 53.9 58.7 62.Tabel 5.1 48. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Usia 15-49 Tahun yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk.6 47.

4 25.6 63.3 59.1 22.Tabel 5.5 53.5 28.9 25.6 60.2 22.0 15. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sekarang menggunakan 44.8 65.7 20.3 50.2 59.1 17.4 21.5 28.0 62.2 51.8 25.0 23.0 66.4 21.8 40.8 36.4 16.6 62.5 53.4 17.5 56.2 63.9 28.5 39.7 20.4 37. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi.5 58.8 56.3 25.7 20.3 10.1 16.8 60.6 27.6 45.0 26.4 60 .2 62.4 43.3 26.3 29.7 20.1 38.9 28.7 22.2 30.8 38.8 15.1 39.5 15.4 56.3 27.5 26.8 18.1 17.6 Tidak pernah sama sekali 30.2 37.2 23.2 37.4 21.8 10.3 27.2 30.7 17.7 11.2 11.5 55.7 48.5 40.17.9 59.2 23.1 40.5 10.8 28.0 31.0 15.4 21.1 27.6 65.7 27.5 51.5 32.6 24.2 18.5 27.1 13.0 Pernah/tidak menggunakan lagi 25.7 14.0 41.4 24.7 24.6 15.1 22.

4 1.1 1.12.1 0.9 5.19).6 44.4 2.18 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010. Riskesdas 2010 Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.2 12.9%) dibanding di perkotaan (29. penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih banyak yang tinggal di perdesaan (35.6 persen tahun 2007 menjadi 44.1 31.0%).0 2.0 Sumber: SDKI 2007.Grafik 5. Riskesdas 2010 Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan perempuan berstatus kawin dapat dilihat pada Tabel 5.1 13.2 0. Suntikan dan amenorrhea laktasi.5 0.8 32.8 1. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara KB. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 38. Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD.1 0.4 2.3 1. Tabel 5.0 0. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB.4 0. Indonesia: 2007-2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan SDKI 2007 Riskesdas 2010 3.18. Demikian juga 61 .0 persen tahun 2010.1 38.8 4. Indonesia: 2007-2010 Sumber: SDKI 2007.2 0.3 0.

0 42.4 1. atau mendapatkan secara gratis di kantor desa.0%) Pustu (4.1 13.0 0.5 4. pada umumnya membeli di Apotik. dan di RS pemerintah (3. dll.9 Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek (52.2 0. diikuti di Puskesmas (12.1 29.4 0.1 12. Indonesia 2010 Tempat Pelayanan KB RS Pemerintah RS Swasta RS Bersalin Puskesmas Pustu Klinik TKBK/TMK Dokter praktek Bidan praktek Perawat praktek Polindes/ Poskesdes Lainnya % 3.1 12. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat pelayanan KB.0 0.6 0.5 0.2 4.5%).9 1.6 2. depot obat. Tabel 5.2 2.9%) dibanding di perkotaan (0.9%).1 45.5 52.8 0.4%) dibanding di perdesaan (12.19.0 12. bervariasi.1 0.3 62 .1 0. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal.2%).2%).3% menjawab lainnya.0 4.9 2.4 6.8 0.2 35.9 0.penggunaan implant di perdesaan (1. Sebanyak 12.6%). Indonesia 2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan Perkotaan 2. Sebaliknya pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (13.1 0. Tabel 5.9 1.5 2.20.4 0.1 Perdesaan 1.

Ada dua provinsi dengan persentase teertinggi yang menjawab butuh.13.21. adalah unmet need pada perempuan berstatus kawin. Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8.7%). dan Papua Barat (33.Analisis yang sama seperti dilakukan pada perempuan pernah kawin. Proporsi Perempuan berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB. Indonesia 2010 Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5. tapi tidak terpenuhi di atas 30% yaitu Maluku (32. 63 .13 dapat dilihat ada 13. Dari Grafik 5.0%).3%).9 persen yang sebenarnya membutuhkan KB akan tetapi tidak bisa terpenuhi Grafik 5.

6 4.7 12.8 7.2 8.6 4.1 7.8 20.0 14.3 8.0 13.4 43.7 9.8 7.8 60.5 53.9 8.6 4.2 13.5 Menggunakan KB 44.1 10.2 8.2 39.9 4.3 50.0 15.7 13.2 10.5 53.6 8.7 19.7 48.0 10.6 65.6 12.7 62.5 5.2 20.9 5.5 5.0 3.9 16.5 9.3 6.3 4.1 8.2 16.1 12.0 11.5 40.2 6.0 16.2 29.3 4.2 59.1 10.6 6.1 11.3 11.8 3.2 51.5 9.8 13.5 9.6 33.5 14.2 63.6 7.6 45.3 6.9 15.2 9.1 13.6 7.3 66.8 8.7 3.0 10.4 21.5 9.3 11.7 19.0 6.3 11.8 17.7 7.2 62.3 16.8 4.Tabel 5.4 6.0 17.0 14.2 3.6 63.8 36.7 17.9 8.0 9.0 18.4 12.8 13.9 22.5 39.4 6.7 12.6 2.1 25.3 13.9 10.0 9.4 16.6 16.7 9.3 8.0 14.5 7.8 3.4 Tidak Lainnya perlu lagi 6. Proporsi Perempuan Berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi.2 5.8 2.6 60.7 7.5 55.5 6.5 51.5 59.2 59.1 19.0 15.7 4.8 15.1 38.0 18.7 20.0 62.5 56.5 26.8 14.5 32.8 56.0 8.6 32.0 19.9 15.8 65.0 7.0 7.6 5.4 56.4 15.6 10.3 5.7 8.2 9.21.4 10. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Butuh/tidak Belum/ingin terpenuhi punya anak 23.3 15.7 13.9 59.5 25.1 19.2 16.0 23.6 19.0 64 .9 9.7 9.0 9.8 38.0 9.7 5.2 9.

Perempuan Indonesia. ditanyakan juga pada responden perempuan pernah kawin berapa kali diberi imunisasi TT sebelum dan sesudah menikah. beberapa indikator yang dapat disajikan dari hasil Riskesdas 2010 untuk pertimbangan mempercepat peningkatan kesehatan ibu antara lain memperhatikan: c.14. sudah menikah pada usia yang sangat muda. pada perempuan hamil diketahui sekitar 31 persen mendapat imunisasi TT kurang dari 2 kali. Melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear e. Dari grafik 5. selanjutnya pada usia berikutnya proporsi perempuan menikah pertama ini semakin meningkat sampai dengan usia 19 tahun. Pada grafik 5. Usia menikah pertama d. Status gizi Dari Riskesdas 2010 dapat diketahui usia perempuan menikah pertama.15. Indonesia 2010 Informasi lain yang juga penting untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah rutinitas untuk melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear. 65 .Selain dua kelompok indikator di atas.15 dapat dilihat sekitar 46. Dari Riskesdas 2010. Proporsi Perempuan Umur 10-54 tahun menurut Umur Menikah Pertama. dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu 12 bulan terakhir hanya 4. Dapat dilihat pada grafik 5.6 persen perempuan yang melakukan pemeriksaan.16. 10 tahun.17.4 persen perempuan di Indonesia sudah menikah sebelum menginjak usia 20 tahun Grafik 5. Imunisasi TT f. seperti terlihat pada grafik 5.

Dari grafik 5.Grafik 5. Inndonesia 2010 Informasi lain yang juga sangat penting untuk kesehatan ibu adalah status gizi perempuan reproduktif yang akan melahirkan. Proporsi Perempuan Umur Reproduktif menurut Jumlah kali mendapat imunisasai TT.16. Proporsi Perempuan pernah Kawin umur15-49 tahun yang melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear. Indonesia.18 dapat dilihat ada kecenderungan pada 66 .17. 2010 Grafik 5.

dan juga dapat mengurangi pernikahan usia remaja serta perbaikan status gizi. Perempuan dengan IMT <18. dapat disimpulkan bahwa kesehatan ibu pada prinsipnya dapat menjadi lebih baik jika program tetap mengupayakan peningkatan cakupan pelayanan kesehatan terutama pada pertolongan persalinan untuk perempuan hamil. 2 persen dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) <18. Indonesia 2010 Berdasarkan analisis di atas. Perempuan dengan IMT 25 + cenderung gemuk dan berisiko tinggi untuk terkena penyakit degeneratif seperti darah tinggi.18. dll. 17.15 dapat dilihat ada kecenderungan semakin bertambah umur proporsi perempuan dengan IMT 25 keatas semakin meningkat. Pelayanan KB diutamakan pada penduduk miskin yang membutuhkan agar jumlah kehamilan dapat diturunkan.5 adalah kurus dan mempunyai risiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Proporsi Perempuan pernah kawin menurut kelompok umur dan Status Gizi. diabetes melitus.perempuan kelompok umur 15-19 tahun. Grafik 5. 67 .5. Sebaliknya dari grafik 5.

Hasil Riskesdas 2010 dibandingkan dengan hasil dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 yang mempunyai metode pengumpulan data yang sama. Gambar 6. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015 Narasi berikut mengkhususkan analisis berkaitan dengan pengetahuan responden tentang HIV/AIDS.4. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Target: 1. Riskesdas 2010 melaporkan sebesar 75 persen perempuan maupun laki-laki umur 15-24 tahun pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Nampak adanya peningkatan pengetahuan pada perempuan sebesar 12 persen dan pada laki-laki sebesar 11 persen dibanding tahun 2007 (Gambar 6.1.1. masalah malaria dan TB paru 6.1. kepada responden ditanyakan hal-hal yang terkait dengan pengetahuan HIV/AIDS.1). Sedangkan mengenai pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 2015 2. Salah satu indikator yang digunakan untuk memantau pencapaian target dan dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 adalah prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS. PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS Salah satu tujuan yang ingin dicapai MDGs dalam kurun waktu 1990-2015 adalah memerangi HIV/AIDS.1 Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar ttng HIV/AIDS menurut jenis kelamin Riskesdas 2007 dan 2010 68 . Goal 6-MDG Memerangi HIV/AIDS. dengan target mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015.

4 79.1 84.0 55.4 50.0 59.9 84.8 49.1 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS.5 Kuintil 2 58.3 67.4 78.5 63.8 68.9 70.9 55. yang tinggal di perkotaan.0 89.7 61.1 Kuintil 3 64.9 70. menurut karakteristik penduduk.8 85.1) Tabel 6.2 Indonesia 64.2 79.2 73.1 69.3 86.9 62.3 77.6 79.0 72.6 88.2 27.2 90. dan yang bekerja sebagai pegawai dan wiraswasta.Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin.5 49.1 56.3 63.3 67.9 Tingkat pengeluaran perkapita Kuintil 1 53. Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 Karakteristik penduduk 2007 Status kawin Belum kawin Kawin Cerai Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D1/2/3/PT Pekerjaan Tidak bekerja Sekolah Pegawai Wiraswasta Petani/ nelayan/buruh Lainnya Laki-laki 2010 Perempuan 2007 2010 64.1 Kuintil 5 75.9 82.9 56.2 33.3 62.9 68.1.1 51.3 55.4 50.1 83.7 Kuintil 4 68.5 96.7 80.9 27.0 79.2 40.3 76.2 90.3 56.1 90.2 43.4 51.4 38.3 44. pada mereka yang masih sekolah.3 75.3 84.3 78.5 41.0 63.8 62.8 79.6 66. juga pada kuintil/ pendapatan perkapita yang lebih tinggi.1.7 91.9 65.8 74.2 94.5 63.4 84. yang berpendidikan lebih tinggi.81 91.4 23.8 82.8 64.0 91.8 53.8 85.4 71. (Tabel 6.7 72.8 69 .0 83.7 33.7 69.2 73.3 67.4 58.8 30.4 48.

NTB.1.1.2 Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar menurut Provinsi.Tabel 6. Jawa Tengah. Gambar 6. Papua Barat.2 dan Gambar 6. DKI Jakarta. Kepulauan Riau.2 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi pernah mendengar AIDS diatas rata-rata yaitu Yogyakarta. Riskesdas 2010 70 . dan Jawa Timur.1. Bali. Sulawesi Utara. Papua.

0 89 .2 66 .5 66 .1 70 .1 77 .6 41 .6 41 .0 68 .5 66 .2 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS menurut provinsi.1 86 .1 82 .8 Laki-Perempuan 73 .6 69 .6 81 .8 63 .1 77 .3 79 .8 81 .5 77 .4 69 .7 67 .0 77 .5 60 .1 62 .1 64 .5 67 .6 78 .1 94 .Tabel 6.6 69 .2 74.0 68 .0 75 .1 64 .7 58 .3 81 .5 60 .1 53 .1 70 .0 72 .2 76 .5 63 .4 71 .4 63 .7 95 .3 81 .3 83 .5 67 .5 73 .1 66 .0 77 .7 93 .8 63 .6 56 . Pengetahuan komprehensif merupakan komposit dari 4 variabel.4 76 .4 Pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS Untuk melihat kecendrungan hasil tahun 2007 dan 2010 dilakukan reanalisis data SDKI dan SKRRI 2007 dengan menggunakan empat variabel yang sama dalam Riskesdas 2010.6 78 .1 94 .1 82 .5 77 .6 67 .8 57 .7 95 .1 66 .7 90 .2 81 .1.4 Perempuan 74 .7 90 .6 89 . Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 73 .5 61 .5 73 .0 75 .6 89 .3 79 .2 66 .7 74 .4 75 .4 62 .4 71 .2 81 . (2) melalui gigitan nyamuk.3 66 .1 72 .6 71 .7 58 . 2 variabel dari persepsi salah tentang penularan HIV/AIDS yaitu melalui (1) makan sepiring dengan orang yang terkena virus HIV/AIDS.8 55 .8 57 .1 46 .6 48 .1 53 .1 62 .6 81 .3 67 .5 90 .3 67 .8 55 . dan 2 variabel tentang cara pencegahan HIV/AIDS yaitu 71 .9 76 .2 72 .7 71 .0 77 .8 64 .2 76 .2 72 .4 75 .

dan yang bekerja sebagai pegawai.1 16 . pada mereka yang masih sekolah.0 13 .6 7 .9 20 .3 6 . Riskesdas 2010 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif “baik” tentang HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin.4 15 .1 12 .8 25 .8 21 .1.4 17 .3) Tabel 6.0 21 .6 22 .2 13 .5 17.3 15 .4 12 .3 33 .5 14 .5 23 .8 14 .5 24 .0 20 .6 19.2 13 .0 16 .4 22 .3 32 . yang tinggal di perkotaan.6 19 .9 18 .8 11 .9 25 .0 19 .3 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.1 13 .8 12 .4 23 .7 3 .3 10 .6 18 . wiraswasta dan sekolah.9 15 .2 15 .8 11 . (Tabel 6.9 8 .9 22 .0 25 .8 22 .2 27 .7 18 .6 14 .8 22 .6 19 . Riskesdas 2010 Karakteristik penduduk Status kawin Belum kawin Kawin Cerai Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D1/2/3/PT Pekerjaan Tidak bekerja Sekolah Pegawai Wiraswasta Petani/ nelayan/buruh Lainnya Pengeluaran perkapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Indonesia Laki-laki Perempuan Laki-perempuan 20 .7 20 .8 11 .6 18 .3 24 .1 10 .5 72 .6 18 .8 21 .5 8 .(3) berhubungan seksual dengan satu pasangan saja dan (4) menggunakan kondom saat berhubungan seksual.6 16 .1.3 22 .1 24 .0 18 .2 23 .8 15 .9 10 . menurut karakteristik penduduk.3 35 . juga pada pendapatan perkapita yang lebih tinggi. yang berpendidikan lebih tinggi.3 4 .9 9 .

.4 dan Gambar 6. Penduduk 15-24 th dengan Penget. NTB. Papua. RKD 2010 73 . Jawa Tengah. DKI Jakarta. Riau.Tabel 6. Bengkulu. Gambar 6.1. Komprehensif tentang HIV/AIDS menurut Prov. Jawa Timur.1.3 menunujukkan 10 provinsi dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS di atas nilai rata-rata yaitu provinsi Bali. Sumatera Utara.3 Prev. Papua Barat. DI Yogyakarta.1.

2 17 .0 13 .8 6 .2 10 .2 17 .3 21 .5 24 .8 19 .4 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.6 9 .1 20 .4 13 .3 12 .1 12 .3 12 . menurut provinsi.8 13 .9 9 .4 18 .Tabel 6.0 16 .4 11 .8 10 .9 12 .1 19 .5 15 .7 18 .5 7 .8 22 .4 15 .6 15 .8 Perempuan 16 .4 17 .3 12 .1 31 .5 11 .0 7 .8 18 .9 18 .5 14 .2 9 .8 15 .1 25 .0 8 . Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 16 .4 12 .1 17 .2 11 .5 7 .6 18 .8 19 .5 27 .9 16 .3 39 .7 25 .5 14 .0 24 .0 10 .3 19 .4 12 .5 11 . tetapi pada laki-laki kawin tampak sedikit penurunan pada tahun 2010 (Gambar 6.6 15 .1.4 7 .2 17 .2 32 .6 31 .5 13 .2 15 .5 30 .9 27 .5 22 .5 8 .9 8 .4 13 .5 22 .6 31 .6 23 .2 Laki-perempuan 16 .6 8 .0 14 .0 15 .5 35 .2 26 .3 24 .8 24 .1 13 .5 11 .4 10 .1.4) 74 .0 12 .2 20 .6 16 . tampak adanya peningkatan prevalensi penduduk (lakilaki dan perempuan) umur 15-24 tahun belum kawin dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.9 19 .8 17 .8 20 .4 21 .1 11 .1 10 .3 13 .2 21 .2 12 .1 16 .5 Dibandingkan dengan hasil SDKI 2007.8 18 .1 14 .6 24 .7 16 .

7 14.7 Perempuan 15. seksual.5 *5 variabel yaitu penggunaan kondom saat hub.Gambar 6. mengetahui orang tampak sehat dapat terkena HIV. menolak dua persepsi salah yaitu HIV tertular melalui gigitan nyamuk dan dapat ditularkan melalui berbagi makan dengan ODHA.1 9. sebagai berikut: Status kawin Belum kawin Kawin Laki 13. 75 . hubungan seksual hanya dengan satu pasangan.1. SDKI 2007 dan Riskesdas 2010 Catatan: Hasil analisis ulang pengetahuan komprehensif penduduk 15-24 tahun SDKI 2007* dengan 5 variabel.4 Kecenrungan Pengetahuan Komprehensif Penduduk 15-24 tahun tentang HIV/AIDS.

Pada pertemuan WHA 60 tahun 2007.6. World Health Assembly (WHA) mentargetkan penurunan kasus kesakitan dan kematian malaria sebanyak =50% di tahun 2010 dan =75% di tahun 2015 dari angka pada tahun 2000. dan pengobatan pencegahan pada ibu hamil1.1. Kelebihan derivatif artemisinin ini adalah dapat mencegah penularan. Peran malaria pada indikator MDGs lain MDG 1 2 4 5 6 8 Tujuan Menanggulangi kemiskinan Mencapai pendidikan dasar untuk semua Menurunkan angka kematian anak Meningkatkan kesehatan ibu Peran malaria Memelihara kemiskinan Penyebab absen sekolah Penyebab kematian Ancaman kehidupan ibu dan anak Memerangi HIV/AIDS. Selain itu malaria umumnya merupakan penyakit di daerah terpencil atau sulit dijangkau dan di negara miskin atau berkembang. Oleh sebab itu malaria menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi sasaran prioritas komitmen global di Millenium Development Goals (MDGs) yang dideklarasikan oleh 189 anggota PBB pada tahun 2000. Laporan tahunan menunjukkan kasus terbanyak dilaporkan dari Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Timur. Di Indonesia eliminasi malaria dimulai sejak tahun 2009.2. Dampak luas dari malaria yang berhubungan dengan 5 indikator MDGs lain dapat dilihat pada Tabel.vivax. telah dihasilkan komitmen global tentang eliminasi malaria bagi setiap negara. PENYAKIT MALARIA Malaria merupakan masalah kesehatan dunia karena mengakibatkan dampak yang luas.6. Untuk percepatan penanggulangan malaria dilakukan berbagai intervensi: kelambu berinsektisida untuk penduduk berisiko. pengobatan yang tepat untuk subjek terinfeksi malaria dengan artemisinin-based combination therapy (ACT). dan memungkinkan sebagai penyakit emerging dan re-emerging karena adanya kasus import dan vektor potensial yang dapat menularkan dan menyebarkan malaria.2. penyemprotan rumah dengan insektisida.1. Kasus malaria yang dilaporkan umumnya masih merupakan malaria yang diagnosis hanya berdasarkan gejala klinis karena keterbatasan akses dan fasilitas pemeriksaan laboratorium. Malaria dan penyakit Menyebabkan kesakitan dan menular lainnya kematian Mengembangkan kemitraan global untuk Kerja sama dalam penanggulangan melalui Global pembagunan Fund Pada tahun 2005. program malaria Indonesia secara bertahap telah menggunakan ACT sesuai rekomendasi WHO4. Tabel 6. Berbagai upaya penanggulangan telah dilaksanakan dengan menggalang berbagai sumber dana baik dari pemerintah dan non pemerintah (WHO dan Global Fund). sehingga tidak mengherankan malaria juga merupakan neglected disease. ACT yang digunakan oleh program malaria nasional adalah kombinasi 76 .2. Di Indonesia ditemukan semua jenis human plasmodia terutama Plasmodium falciparum and P. Sejak tahun 2004.

Total sampel Kesmas adalah 2800 Blok Sensus (BS). dan pada Riskesdas 2010 data kesakitan malaria dilengkapi dengan pemeriksaan darah malaria pada semua responden. Semua kasus yang positip malaria dengan RDT dirujuk ke Puskesmas terdekat. dan perkembangan hasil Riskesdas 2007.8 persen (Gambar. persentasi yang melakukan pencegahan. dan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT). dan kuesioner individu atau Anggota Rumah Tangga/ART (Annual Parasite Incidence/API. Cakupan kelambunisasi berinsektisida pada balita. Demikian juga kasus dengan riwayat demam walaupun hasil RDT negatip akan dirujuk untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut. Angka kesakitan malaria Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 2. tempat pemeriksaan/penentuan diagnosis malaria. prevensi. dan Riskesdas ke 2 tahun 2010 dirancang khusus sebagai bahan evaluasi pencapaian MDGs. Pada Riskesdas 2007 hanya dikumpulkan data prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan hasil wawancara. 1. Apusan darah tebal malaria diperiksa di Puslitbang Biomedis dan Farmasi secara blinded untuk keperluan validasi hasil RDT. Riskesdas pertama dilaksanakan pada tahun 2007. pemanfaatan pelayanan kesehatan. Setiap tiga tahun Badan Litbangkes melaksanakan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Sebelum dilakukan wawancara dan pemeriksaan darah malaria. semua responden harus menandatangani informed consent. Pengobatan efektif pada balita. sedangkan artemeter-lumefantrin direkomendasi oleh klinisi. Data Riskesdas malaria dikumpulkan dengan dua cara yaitu wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas.artesunat-amodiakuin dan dihidroartemisinin-piperakuin. risiko terinfeksi malaria).1).2. sedangkan sampel untuk pemeriksaan darah malaria adalah sebanyak 823 BS yang merupakan sub sampel dari sampel Kesmas. Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS 15.6. cakupan ACT. Satu BS terdiri dari 25 RT. faktor pendukung lainnya (promosi. Sedangkan API di JawaBali adalah 0. penggunaan obat tradisonal/tanaman obat untuk malaria). tetapi juga dapat sebagai data dasar dan bahan evaluasi untuk pencapaian eliminasi malaria di Indonesia. Semua anggota Rumah Tangga diperiksa darahnya dengan RDT (Entebe®) dan apabila disertai dengan riwayat demam dalam 48 jam terakhir juga dilakukan pemeriksaan malaria apusan darah tebal dengan pewarnaan Giemsa. prevalensi malaria. Dari data Riskesdas 2010 dapat ditentukan Angka Kesakitan Malaria (Annual Parasite Incidence/API 2009-2010 dan Prevalensi malaria). Data Riskesdas selain dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pencapain target MDGs. dan pengobatan tradisional atau dengan tanaman obat). 77 .4 persen. Kuesioner yang digunakan ada yang khusus untuk responden Rumah Tangga (RT) untuk faktor pendukung (promosi/pengetahuan tempat pelayanankesehatan dan pemeriksaan darah malaria.

1.%) terinfeksi malaria hanya satu kali dalam satu tahun terakhir.4 API pada tahun 1990 dan 2007 hanya merupakan API Jawa-Bali yang berasal dari fasilitas pelayanan pemerintah. 78 . Rentang API Nasional adalah antara 0. Sedangkan hasil API Riskesdas 2010 adalah API Nasional (24 permil) dan dikumpulkan dari masyarakat yang dapat merupakan data dari fasilitas pelayanan pemerintah dan sektor swasta.5 2 1.Gambar.4% (Papua). Jadi tidak mengherankan API Jawa-Bali dari Riskesdas 2010 (8 permil) lebih besar dari pada API tahun 1990 (0. 2009)8.5 1 0.17 permil) dan 2007 (0. API.5 0 Jawa-Bali Nasional 0.8 persen dan yang tiga atau lebih adalah 10.1 persen.1. Pada umumnya (50. Hal ini disebabkan karena dimasa lalu hanya Jawa-Bali yang sudah dapat mengkonfirmasi kasus malaria dengan pemeriksaan apusan darah malaria. Sebanyak 20 provinsi dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional (Tabel. Riskesdas 2010 2.2.16 permil) (Bappenas.6. sedangkan yang dua kali adalah 39.6.8 2.2.2).3% (Bali) dan 31.

6 9.0 2.3 2.6 5.0 1.4 0.7 2.2.2 4.8 6.6 1.8 0.8 5.2 1.4 79 .2 4.7 2.4 3.7 6.2 API malaria menurut provinsi.7 10.4 1.8 2.6 5.0 2.9 3.6 10.7 0.3 25. Riskesdas 2010 NO NAMA PROVINSI 1 NAD 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 8 Lampung 9 Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 22 Kalimantan Selatan 23 Kalimantan Timur 24 Sulawesi Utara 25 Sulawesi Tengah 26 Sulawesi Selatan 27 Sulawesi Tenggara 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Jawa-Bali Indonesia API (%) 2.3 4.5 31.Tabel 6.9 1.6 7.7 0.7 2.1 0.0 0.

0 2. dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 4-5 (2.3 1.54 55 .3 2.64 65 .9 2.6 2.5 2.9 2.5 2.9%). responden dengan pendidikan tidak tamat SD (2.9%) 80 .9 Pada Riskesdas 2010.5 2.0 2.24 25 .2 2.0 2.5 2.9 2.6%).3 API (%) Menurut Karakteristik Responden.2 2.0 2. API lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-54 tahun.34 35 .7 2.3 2. responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (3.2 2.0%).4 2.14 25 .4 1. Riskesdas 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 . 2. responden laki-laki (2.3 2.8 1.Tabel 6.2 2.6 2.9%).4 2.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 API (%) 1.2.2 2.2 1.9 3.7%.2 2.44 45 . responden yang tinggal di perdesaan (2.

dan pada umumnya di daerah terpencil atau pedesaan serta ekonomi rendah (Tabel 6.39 pada Riskesdas 2007 menjadi 0.85%) dipengaruhi oleh prevalensi yang berdasarkan gejala klinis.2.2%).6 persen pada Riskesdas 2010. Oleh sebab itu penentuan kesakitan atau diagnosis malaria yang benar dan akurat adalah harus melalui konfirmasi pemeriksaan baku emas apusan darah malaria atau deteksi antigen antara lain dengan RDT.7%) yang lebih tinggi dibandingkan dengan Period Prevalence Riskesdas 2007 (2. Period Prevalence (%). Hal yang menarik adalah pada kelompok kuintil 4 dan 5 ternyata API nya > dari API nasional. Keadaan ini dapat disebabkan akses dan kemampuan kelompok dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah untuk melakukan pemeriksaan darah malaria terbatas.2. Gejala klinis ini termasuk kasus asimptomatik atau tanpa demam tetapi minum obat anti malaria (0.7 persen.2).6 0.2. 81 . dan gejala klinis (10. Prevalensi malaria Indonesia dalam satu bulan terakhir (Period Prevalence) pada Riskesdas 2010 adalah 10.6 0 Konfirmasi lab Gejala klinis Asimptomatik Bila dibandingkan dengan angka Prevalensi dalam satu bulan terakhir yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria. Gejala klinis malaria sangat beragam dan tidak spesifik dari asimptomatik sampai dengan gejala klinis berat.2.3).3). dapat berhubungan dengan pekerjaan. Hasil ini tidak mengherankan karena malaria menyerang semua umur. Riskesdas 2010 10 8 6 9. Jadi Period Prevalence Nasional 2010 (10. terjadi penurunan dari 1.6%) berdasarkan hasil wawancara (Gambar 6.6 4 2 0.2.6%). Gambar 6.(Tabel 6. Angka ini didapatkan dari kasus kesakitan yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria (0.

di perdesaan (0.39 0.9% .2.8%).7% . Prevalensi Malaria. periode prevalence lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-64 tahun (10. responden yang tinggal di perdesaan (13%).2.6).9% .5).2.6% (Tabel 6. (Tabel 6.8%).11.85 2007 2010 Sekitar 64 persen (21 provinsi) mempunyai angka Period Prevalence lebih besar atau sama dengan Period Prevalence Nasional.12. pekerjaan anak sekolah dan petani/ nelayan/ buruh (0.2. Riskesdas 2007 dan 2010 12 10 8 10. Seperti halnya temuan pada karakteristik API.8%). responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (13.6%) dan tertinggi di Papua Barat (33.2%). Pada Riskesdas 2010.2. pendidikan rendah (tidak tamat SD) (0.0%).7%) dan pada kuintil 1 dan 3 (0.7%).8%).7% . 6.6 2.2%) (Tabel 6.6%).Gambar 6.7 6 4 2 0 D DG 1. dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 1-3 (10.0% – 12. responden laki-laki (10. Period Prevalence yang dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah dan Point Prevalence juga lebih tinggi pada kelompok umur 1-34 tahun (0.6) 82 . sedangkan yang diagnosisnya diketahui berdasarkan konfirmasi pemeriksaan darah adalah kelompok kuintil 4-5 seperti pada API. Period prevalence terendah adalah di provinsi Yoyakarta dan Bali (4. Karakteristik ini tidak berbeda dengan karakteristik pada responden API kecuali pada kelompok tingkat pengeluaran perkapita yaitu kasus malaria lebih banyak ditemukan pada kelompok kuintil 1-3.0.3.).4.7%) (Tabel. Hal ini menunjukkan konsistensi temuan antara hasil wawancara dengan pemeriksaan RDT. Angka Prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria ternyata sama dengan angka Prevalensi malaria yang didapat dari hasil pemeriksaan dengan RDT pada saat dilakukan Riskesdas 2010 (Point Prevalence) yaitu 0. responden dengan pendidikan rendah/ tidak tamat SMP (12.0.

86 1.42 0.12 7.1 0.9 1.7 4.6 13.03 3.7 7.1 0.88 0.88 0.7 0.07 0.1 0.5 8.8 2.32 0.63 7.1 1.23 26.32 0.5 18.4 0.37 1.41 2.67 2.8 1.81 0.86 2.75 12.18 0.58 0.04 3.65 2.2 10.10 0.4 Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Provinsi.2 11.5 1.09 1.Tabel 6.9 0.5 9.4 0.07 0.0 11.27 5.2 28.85 D (%) 0.26 3.1 28.31 3.3 6.6 11.0 0.5 1.87 3.3 12.07 0.36 1.0 0.9 9.3 4.5 9.5 0.01 4.45 2.08 0.9 1.82 1.3 10.31 1.73 1.09 1.7 19.02 6.4 1.30 0.3 22.0 15.4 10.9 33.14 18.6 20.05 0.0 12.14 1.51 0.42 7.41 0.5 1.1 0.23 1.2.4 0.7 4.51 0.65 12.89 1.1 0.4 0.39 2007 DG (%) 3.6 7.31 15.66 2.6 2010 DG (%) 12.1 0.41 0.3 3.7 0.8 12.1 0.37 2.10 2.6 29.2 0. Riskesdas 2007 dan 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nama Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D (%) 1.79 0.06 0.3 0.1 10.16 2.55 0.32 0.6 7.41 1.2 14.87 2.85 1.73 1.4 9.7 Indonesia 83 .6 0.0 9.06 7.09 0.3 16.6 14.22 5.

13 2.7 0.6 0.0 12.5 Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Karakteristik Responden.70 2.14 1.35 3.05 2.0 10.08 1.37 1.7 11.8 0.9 9.35 1.20 3.44 45 .5 0.08 11.14 1.9 7.2 12.9 10.5 0.7 0.69 2.6 9.83 2.6 12.83 1.19 1.6 0.69 3.62 3.09 3.5 0.53 1.95 4.7 8.31 1.0 12.4 0.5 8.83 2.4 10.72 2.36 1.5 0.64 65 .1 10.38 1.46 3.05 1.9 10.5 6.4 0.8 10.42 1.0 1.7 0.5 0.7 0.12 2.38 1.10 1.6 0.4 0.5 0.7 11.5 0.55 1.2.52 0.26 0.19 1.54 55 .4 0.9 5.97 2.31 1.57 1.6 0.85 1.8 13.41 1.59 1.02 2.6 9.5 13.7 8.90 2.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Pedesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 2007 D (%) DG (%) 0.54 3.9 0.3 0.05 2.14 15 .6 0.22 1.49 2.74 2010 D (%) DG (%) 0.2 0.43 1.0 11.57 1.37 1.83 3.2 9.Tabel 6.7 10.34 35 .8 11.8 0.0 10.66 2.50 1. Riskesdas 2007 dan 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .75 1.66 1.2 84 .42 1.75 3.7 0.4 0.0 11.4 10.4 0.2 10.7 0.88 1.64 2.48 1.24 25 .04 2.

34 35 .6 0.6 0.4 0.5 0.54 55 .3 0.4 0.6 0.7 0.8 0.5 0.6 0.14 25 .7 0.8 0.6 0.7 0.64 65 .6 0.24 25 .6 0.7 0.6 Point Prevalence Menurut Karakteristik Responden.5 0.6 85 .2.8 0.3 0.6 0.6 0.8 0.7 0.6 0. Riskesdas 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .TABEL 6.7 0.44 45 .7 0.5 0.7 0.2 0.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 NASIONAL Point Prevalence (%) 0.

7). 86 .4% yang diminum dengan dosis lengkap. Jadi penderita malaria semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33.6%.2. ACT yang digunakan oleh program adalah artesunat-amodiakuin (sejak tahun 2004).6. Sosialisasi dan pelatihan ACT sangat perlu digalakkan.6% yang diminum dengan dosis lengkap.5. dihidroartemisin-piperakuin (sejak tahun 2009 dan dimulai di Papua). 6. Gambar.% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. sedangkan pada balita hanya 21.3%.1%. Khusus pada balita. dan ketersediaan ACT perlu dievaluasi untuk mendapat pengobatan yang efektif. pengobatan yang efektif perlu ditunjang diagnosis yang akurat dan cepat terutama pada kelompok berisiko yaitu balita.9 Dari hasil wawancara. Pengobatan akan lebih efektif apabila pengobatan diberikan dalam 24 jam menderita demam atau sakit. 6. Pengobatan efektif Obat antimalaria yang direkomendasikan oleh program Malaria adalah dengan menggunakan Artemisinin Combination based Therapy (ACT). dan 83. Riskesdas 2010 35 30 25 20 15 10 5 0 Semua kelompok umur Balita 33. penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34. 80. dan hanya 75. dan artemeter-lumefantrin yang direkomendasi oleh klinisi (sejak tahun 2009).% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. penggunaan ACT di Indonesia hanya mencapai 49.2.9% (Tabel.6 21.4. Jadi yang dimaksud dengan pengobatan efektif menurut WHO adalah pengobatan malaria yang diberikan dalam 24 jam pertama demam atau sakit dengan ACT dan obat diminum dengan dosis lengkap. Pengobatan Efektif Malaria. ACT program diminum dengan dosis tunggal harian selama 3 hari. serta 89. Selain ACT.2.

1 32.1 75. 87 .6 83.7%) (Tabel.7 5.0 12. 6. jenis kelambu yang direkomendasikan adalah kelambu yang telah diobati atau dipoles dengan insektisida permetrin.2.Tabel 6. Riskesdas 2007 dan 2010 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Balita Semua umur Balita Semua umur 7.5% dan dari 7.2. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12.3 80.1%.2 32.0%. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010. Gambar. ACT Cakupan (%) ACT dosis lengkap Proporsi (%) Mendapat ACT Mendapat ACT dalam 24 jam Pengobatan 3 hari & diminum habis Semua umur 33. cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26.5% menjadi 12. Sedangkan cakupan total kelambunisasi yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita terjadi kenaikan yaitu dari 5. terjadi penurunan cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida (dari 32. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 16.5 38.0%.1 Berinsektisida 16. Riskesdas 2010.7 26.4 3.7% menjadi 16.7 Cakupan Penderita Malaria yang Mendapat Pengobatan Efektif.8).5 89.5.6. Cakupan kelambunisasi Penggunaan kelambu dapat mencegah infeksi malaria melalui gigitan nyamuk. Cakupan Kelambunisasi.6 Balita 21.6 49. Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 32. Untuk meningkatkan daya proteksi.5 Semua kelambu 2007 2010 Dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2007.1%) dan khusus pada balita (dari 38.7%.2.1% menjadi 26.9 34.2% menjadi 32.5% pada responden semua kelompok umur.

Tabel 6.2.8 Cakupan kelambunisasi, Riskesdas 2007 dan 2010 Jenis Kelambu Tahun 2007 Semua umur Balita 32,1 5,5 38,2 7,7 Tahun 2010 Semua Balita umur 26,1 12,5 32.7 16,0

Kelambu dengan dan tanpa insektisida Kelambu dengan insektisida

Penurunan cakupan total kelambunisasi dan khusus pada balita dapat disebabkan karena program lebih mengutamakan kelambu yang diproteksi insektisida sehingga meningkatkan cakupan total kelambu yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita. Walaupun demikian cakupan kelambunisasi protektif dengan insektisida masih perlu ditingkatkan terutama di populasi dengan risiko malaria tinggi atau daerah endemis malaria dan khususnya pada kelompok khusus balita dan ibu hamil. Dari uraian di atas dapat disimpulkan: 1. Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2,4 persen, sedangkan API Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0,8 persen. Demikian pula Period Prevalence malaria pada tahun 2010 (10,7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2,85%). Angka Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point Prevalence (0,6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian. 2. Pengobatan efektif malaria pada balita hanya 21,9 persen. 3. Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7,7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010.

88

6.3. TINGKAT PREVALENSI TUBERKULOSIS Riskesdas 2010 bertujuan untuk memberikan hasil antara lain Angka Prevalensi Nasional TB 2010 dan Proporsi pemanfaatan OAT DOTS oleh penderita TB yang merupakan salah satu komponen untuk memperoleh gambaran pemanfaatan Program Directly Observed Treatment of Short-course (DOTS) di Indonesia. Kedua data ini merupakan bagian dari target nomor 6 pada Millenium Development Goal’s (MDG’s) dan dapat memberikan gambaran mengenai tata laksana TB di Indonesia. Angka Prevalensi Nasional TB pada Riskesdas 2010 diperoleh dengan cara wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana kepada responden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis menderita TB Paru melalui pemeriksaan dahak dan atau foto paru oleh tenaga kesehatan/nakes (dokter/perawat/bidan) untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB berdasarkan diagnosis (D). Kepada responden juga ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah menderita batuk berdahak = 2 minggu disertai satu atau lebih gejala: dahak bercampur darah/ batuk berdarah, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, dan demam > 1 bulan untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB berdasarkan gejala (G). Definisi operasional untuk Prevalensi TB menurut WHO adalah Angka penderita TB Paru positif pada 100.000 populasi berusia 15 tahun atau lebih. Sementara definisi operasional untuk TB Paru positif menurut International Standard for TB Care (ISTC) yang telah diadopsi oleh Indonesia mulai tahun 2006 adalah suspek TB yang telah positif diuji secara mikroskopis BTA (Bakteri Tahan Asam) apusan dahaknya dengan minimal pembacaan terhadap apusan dahak yang dikumpulkan dua kali atau lebih baik tiga kali (sewaktu, pagi, sewaktu) dan paling sedikit satu kali (pagi). Pada Riskesdas 2010 berdasarkan diagnosis nakes (D) adalah sebesar 0,7 persen sementara berdasarkan gejala (G) adalah sebesar 2,7 persen. Angka Prevalensi Nasional TB hasil gabungan D dan G (DG) menjadi 3,3 persen. Bila mengacu pada definisi operasional WHO dan ISTC maka data prevalensi yang mendekati kenyataan adalah data yang berasal dari diagnosis nakes (D), yaitu sebesar 0,7 persen. Prevalensi Nasional TB (D) cenderung meningkat sesuai dengan bertambahnya usia dimana angka tertinggi berada pada kelompok usia 55-64 tahun (1,3%) dan terendah pada kelompok usia 15-24 (0,3%). Prevalensi penderita laki-laki adalah 0,8 persen dan perempuan 0,6 persen dengan prevalensi penderita yang berada di kota sama dengan di desa sebesar 0,7 persen, serta juga menunjukkan kecenderungan menurun dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan dimana prevalensi paling rendah terdapat pada tingkat pendidikan tamat SMA (Tabel 6.3.1). Prevalensi TB tertinggi berdasarkan jenis pekerjaan ditemukan pada kelompok pekerjaan Petani, Nelayan dan Buruh sebesar 0,9 persen dan terendah pada kelompok Sekolah dan POLRI/TNI/Pegawai sebesar 0,4 persen. Berdasarkan tingkat pengeluaran perkapita prevalensi TB yang berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan didapati prevalensi terendah pada kuintil 5 (0,6%) dan tertinggi pada kuintil 3 dan 4

89

(0,8%). Sedangkan angka prevalensi TB berdasarkan diagnosa dan gejala (DG) didapati prevalensi tertinggi pada kuintil 1(3,5%) dan terendah pada kuintil 5 (3,9%) (Tabel 6.3.1). Tabel 6.3.1 Prevalensi TBC menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Prevalensi 2007(%) D DG Prevalensi 2010 (%) D DG

Kelompok umur (tahun) 15-24 0,21 0,60 0,3 2,6 25-34 0,32 0,83 0,6 2,8 35-44 0,44 1,10 0,7 3,1 45-44 0,59 1,45 0,9 3,7 55-64 0,70 1,91 1,3 4,7 65-74 1,08 2,62 1,2 4,7 >74 1,10 2,75 1,1 5,1 Jenis kelamin Laki-laki 0,44 1,08 0,8 3,1 Perempuan 0,35 0,90 0,6 2,4 Tipe Daerah Perkotaan 0,36 0,77 0,7 3,1 Perdesaan 0,42 1,12 0,7 2,4 Pendidikan Tidak pernah sekolah 0,88 2,42 1,1 4,9 Tidak tamat SD/MI 0,53 1,46 1,0 4,7 Tamat SD/MI 0,39 1,02 0,9 3,7 Tamat SLTP/MTS 0,31 0,73 0,6 2,7 Tamat SLTA/MA 0,29 0,62 0,5 2,3 Tamat PT 0,27 0,60 0,6 1,8 Pekerjaan Tidak bekerja 0,62 1,40 0,8 3,2 Sekolah 0,18 0,49 0,4 2,5 TNI/ Polri/Pegawai 0,27 0,56 0,4 2,1 Wiraswata/ Layan Jasa/ Dagang 0,42 0,89 0,7 2,8 Petani/Nelayan/Buruh 0,55 1,60 0,9 4,2 Lainnya 0,49 1,17 0,7 3,1 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0,40 1,07 0,7 3,5 Kuintil 2 0,43 1,07 0,7 3,4 Kuintil 3 0,42 1,01 0,8 3,4 Kuintil 4 0,38 0,94 0,8 3,1 Kuintil 5 0,34 0,82 0,6 2,9 Data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2007 tidak dapat dibandingkan dengan data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2010. Hal ini disebabkan karena penentuan sampel BS pada Riskesdas 2007 berbeda dengan Riskesdas 2010 serta pertanyaan mencakup data diagnosa dan gejala pada kuisioner terstruktur juga berbeda. Menjadi catatan bahwa dengan ruang lingkup pertanyaan yang lebih rinci pada Riskesdas 2010 angka Prevalensi Nasional TB menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

90

Beberapa provinsi memiliki prevalensi di atas angka nasional. Data WHO Global Report yang dicantumkan pada Laporan Triwulan Sub Direktorat Penyakit TB dari Direktorat Jenderal P2&PL tahun 2010 menyebutkan estimasi kasus baru TB di Indonesia tahun 2006 adalah 275 kasus/100.104%).3. Meskipun terjadi peningkatan Case Detection Rate dan Cure Rate yang tinggi setiap tahunnya tetapi percepatan penyebaran penyakit di masyarakat masih lebih tinggi.3%) serta angka terendah terdapat di Provinsi Sumatera Selatan. Metode active case 91 . diikuti oleh Provinsi Sulawesi Utara (1.000 penduduk (0.2 di bawah ini.000 penduduk/tahun (0. Grafik 6.7 persen.3.3%). Lampung.7% pada populasi) dapat hendaknya menjadi perhatian yang serius bagi Program TB di Indonesia. Data ini diperoleh berdasarkan hasil laporan dari fasilitas kesehatan yang tergabung dalam program DOTS di seluruh Indonesia.3%) dan Banten (1.1% terhadap suspek) dan hasil Riskesdas 2010 (0.244%).275%) dan pada tahun 2010 turun menjadi 244 kasus/100. DIY dan Bali (0.Tuberkulosis Paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 0.3. hal ini dapat dilihat pada grafik 6. Kecendrungan meningkatnya angka Prevalensi Nasional TB bila dibandingkan antara hasil Survei Prevalensi TB 2004 (0. Data prevalensi sebelumnya yang menggunakan uji konfirmasi laboratorium adalah data Prevalensi Nasional hasil Survey Prevalensi TB pada tahun 2004 yang memberikan angka prevalensi Nasional TB berdasarkan pemeriksaan mikroskopis BTA terhadap suspek adalah sebesar 104 kasus/ 100.000 penduduk/tahun (0.5%).1 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2010 Perbedaan Angka Prevalensi TB pada Riskesdas 2007 dan 2010 dapat dilihat pada tabel 6.1 di bawah ini. yaitu tertinggi di Provinsi Papua (1.

48 1.21 0.4 2.6 3.58 1.4 4.54 2.31 0.31 0.1 3.07 2.6 0.4 5.56 0.7 2.2 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2007 dan 2010 PROVINSI Prevalensi 2007(%) D 0.45 0.7 7.47 2.3 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92 .01 0.3 4.40 0.9 0.22 1.6 4.4 2.6 0.7 DG 3.3 0.29 0.3 0.9 5.47 0.12 0.9 3.37 0.40 0.11 0.03 1.6 0.0 4.4 2.2 0.47 1.99 Prevalensi 2010 (%) D 0.33 0.98 1.4 1.0 4.7 4.02 1.75 0.03 1.34 0.finding terhadap populasi usia 15 tahun ke atas yang diterapkan pada Riskesdas 2010 memberikan kenyataan tentang hal ini dimana kasus TBC di masyarakat masih sangat tinggi.2 2.43 0.89 0.19 1.3.7 5.47 0.5 0.02 0.2 3.86 0.69 1.55 1.38 0.0 3.49 0.9 0.05 0.1 3.36 1.00 0.5 0.63 0.18 0.83 1.4 5.8 5.11 0.43 0.6 0.24 1.8 2.0 0.4 1.8 1.71 0.25 0.73 0.5 7.31 0.8 0.5 7.38 0.6 3.3 4.7 0.00 1.6 3.58 0.24 0.1 1.23 0.6 0.73 0.7 0.0 0.26 0.3 0.6 1.42 0.6 2.13 0.4 1.34 0.2 2.9 0.3 0.8 0.82 0.4 0.7 1.4 0.7 0.53 1. Tabel 6.23 0.3 0.62 1.3 0.36 0.15 0.6 3.5 0.4 DG 1.

3 obat yaitu INH. pirazinamid. Pirazinamid dan Etambutol. Pada Riskedas 2010.1 0.2 0.2 Data Prevalensi Nasional TB Indonesia dalam persen 0. Kombipak IV untuk fase sisipan.3. Rifampisin (R).275 0. kecepataan diagnosis (diagnosis dini) dan terapi pengobatan yang dilakukan. Pemberian INH dan Etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yang keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut.244 Indonesia telah mengadopsi program DOTS dari tahun 1994 dimana terdapat lima komponen dan strategi utama DOTS yang direkomendasikan untuk penanggulangan TB yaitu: Komitmen politik. Fase lanjutan adalah INH dan Rifampicin yang diberikan selama 4 bulan. Penurunan prevalensi TB sangat tergantung pada implementasi program DOTS di lapangan. Pemberian OAT adalah berdasarkan Berat Badan. Definisi operasional untuk obat Kombipak terdiri atas: Kombipak I dan Kombipak II untuk fase awal. dan Ethambutol (E). Rifampisin. jenis obat yang digunakan adalah Kombipak/FDC (Fixed Doses Combination) atau non Kombipak/FDC?”. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. Streptomisin (S).05 0 2004 2006 2010 0.3 0. dan 4 obat yaitu INH. Rifampisin. terutama penemuan kasus. termasuk pengawasan langsung pengobatan serta Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu diikuti Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.11 Definisi operasional untuk OAT Fixed dose combination terbagi atas 2 obat yaitu INH dan Rifampisin.15 0. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. Proporsi jumlah penderita TB yang memanfaatkan OAT DOTS diperoleh dari wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana pada responden yang telah didiagnosis TB oleh nakes dalam 12 bulan terakhir ditanyakan “apakah jika berobat. Pirazinamid (Z).25 0.Grafik 6. Persentase Pemanfaatan Program DOTS diperoleh dari data diagnosis oleh nakes (D) yang digabungkan dengan data pemanfaatan OAT DOTS (Kombipak atau Fixed 93 . Kombipak III untuk fase lanjutan.104 0. OAT Kombipak untuk program TB jangka pendek selama 2 bulan adalah Isoniazid (H).

1 persen dan terendah pada kelompok tamat SMA sebesar 0.2 OBAT DOTS NON DOTS Hasil ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66.5%) dan terendah Provinsi Lampung. 10 persen pada TB di tempat kerja dan pada RS Angkatan Darat sebanyak 35 persen yang dilibatkan melaksanakan penanggulangan TB menggunakan strategi DOTS.8 persen dan pada perempuan 0.Dose Combination) pada responden TB dalam 12 bulan terakhir. Hasil Riskesdas 2010 untuk Persentase Pemanfaatan OAT DOTS adalah sebesar 83.25 persen (91% keberhasilan OAT DOTS terhadap 72.3%). Berdasarkan pendidikan prevalensi tertinggi pada kelompok yang tidak pernah sekolah sebesar 1.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen. Keterlibatan institusi lainnya dalam penanggulangan TB sampai dengan 2009 adalah 13 persen pada Lapas/Rutan. Grafik 6.9%) sedangkan terendah pada kelompok umur 15-24 tahun (0. dan Sumatera Selatan (0. nelayan.6 persen. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua Barat (1. Bali. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa. termasuk pemberian dukungan dan pelaksanaan Standar Internasional untuk Pelayanan TB (ISTC = International Standard for Tuberculosis Care) yang semakin ditingkatkan dari tahun ke tahun dengan memperkuat jejaring eksternal dan internal. Berdasarkan jenis kelamin prevalensi pada laki-laki sebesar 0. Berdasarkan pekerjaan prevalensi tertinggi dapat ditemukan pada kelompok dengan pekerjaan pertani.8 83.2 persen. DIY. Prevalensi tertinggi pada kelompok umur 45-54 tahun (0. dan buruh sebesar 0.7 persen dimana terjadi peningkatan Angka Prevalensi dibandingkan dengan Riskesdas 2007 (0.5 persen.4%).1 Proporsi Kasus TB Yang Diobati OAT Program DOTS pada Riskesdas 2010 26.3).9 persen dan terendah pada kelompok yang sedang sekolah dan kelompok 94 . Data ini ini sejalan dengan informasi yang diberikan Subdit TB P2&PL tentang meningkatnya keterlibatan rumah sakit dalam program TB DOTS.3.

8%) dan terendah pada kuintil 5 (0.4 persen. Persentase pemanfaatan OAT DOTS hasil Riskesdas 2010 adalah sebesar 83.25 persen (91% keberhasilan OAT DOTS terhadap 72.2 persen. Angka ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen 95 .dengan pekerjaan TNI/Polri/Pegawai sebesar 0. Sedangkan berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita prevalensi TB tertinggi ditemui pada kuintil 3 dan 4 (0.6%).

5. sumur pompa. a. dan air sungai. akses terhadap sumber air minum terlindung. air non-perpipaan terlindung berasal dari air kemasan. non perpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung. dan akses terhadap penyediaan air minum. akses terhadap air perpipaan digunakan sebagai salah satu indikator akses terhadap air minum.1 dan tabel 7. Air perpipaan terlindung bersumber dari air leding. 96 .2. dan air hujan. Dalam memantau akses air minum dapat digunakan 3 pendekatan. yaitu proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap sumber air minum yang terlindungi dan berkelanjutan dan proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak. AKSES AIR MINUM Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 10 (menurunkan separuh proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015) terdapat 2 indikator pemantau pencapaian target. Indikator ini terdiri dari 3 jenis. yaitu akses terhadap air perpipaan. sumur gali terlindung. Sedangkan sumber air tidak terlindung yaitu sumur tidak terlindung. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak 2.Goal 7 – MDG Air Minum dan Sanitasi layak Target Menurunkan hingga separuhnya penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi dasar pada 2015 Indikator yang dipantau: 1. air perpipaan terlindung. Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung. Akses terhadap air perpipaan Dalam laporan MDGs 2007 dan 2009. mata air terlindung. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi dasar 1. nonperpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung disajikan dalam tabel 7. air isi ulang dan lainnya. mata air tidak terlindung.

96 44.35 51.41 66.09 21.19 44.53 37.97 0.65 32.25 29.30 41.34 19.61 33.Tabel 7.44 2.93 74.89 9.41 16. sumur gali terlindung.96 27.15 37.22 43.16 18.18 29.66 20.23 11.75 33.09 37.17 16.65 29.79 38. Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut provinsi.54 39.75 42.16 66.39 57.06 39.58 51.05 40.76 47. air hujan. air kemasan 97 .20 38.50 27.69 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Keterangan: * Air ledeng ** Sumur pompa.81 36.19 61.19 54.10 21.43 27.58 14.85 51.1.64 25.69 47.26 63.81 25.60 18.02 29.99 21.04 15.27 8.47 8.61 27.40 50.96 8.02 57.79 37.15 44.64 5.03 43.59 17.51 45.78 38.43 17.87 48.89 33.55 24.90 5.98 42.48 13.29 52.01 65.28 14.39 21.00 27.22 34.43 15.00 47.14 56.24 40.45 43.50 17.77 63.59 15.74 18. Riskesdas 2010 Provinsi NonNon Perpipaan Perpipaan Perpipaan Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung** 48.28 18.41 61.72 18.72 45.03 15.21 35.22 59.64 40.95 7.16 34. mata air terlindung.11 40.14 16.85 12.

Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga.38 15.75 17. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44.76 51.99 59. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84. tertinggi di Provinsi Gorontalo (66.93 25.85%).79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0. angka tersebut mengalami sedikit peningkatan seperti terlihat dalam gambar berikut.49 30.91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45. Bila dibandingkan data tahun 2009.10 12.50%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29.63 24.69 persen.83 persen yang akses terhadap terhadap pelayanan air minum layak.28 16. Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan.47 52.2.72 53.55 20. Riskesdas 2010 Non Perpipaan Perpipaan Non-Perpipaan Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung** Daerah Perkotaan Perdesaan Pengeluaran Quintil-1 Quintil-2 Quintil-3 Quintil-4 Quintil-5 26.74%).25 28. air hujan.15 27. sumur gali terlindung.30 27.86 11.75%).79 57.14 persen.89 60. Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56. air kemasan Dari tabel di atas menunjukkan proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16. mata air terlindung.98 18.99 Keterangan: * Air ledeng ** Sumur pompa.75 59. maka secara nasional terdapat 72.Tabel 7. 98 .

14 b.3 dan tabel 7. yang dijual melalui tangki/air isi ulang. Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) 45. air sumur dan mata air tidak terlindung. Tujuan Pembangunan Milenium mutlak dicapai 2015.Gambar 7. sumur terlindung dan mata air terlindung yang jaraknya lebih dari 10 meter dari tempat penampungan kotoran/tinja. tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel tabel 7. Sumber air terlindung tidak termasuk air kemasan. Akses terhadap air terlindung dan berkelanjutan (layak) Sesuai dengan Buku Saku MDGs. Proporsi Penduduk dengan Akses Air Minum Layak (Penduduk dengan Akses Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Non-Perpipaan Terlindungi). 72. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi. 99 . 1992-2010 (%). air minum terlindung adalah air leding. pompa. air hujan.69 16.1.27%.4.73 56.

98 39.86 46.90 52.39 39.53 37.31 60. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Layak 68.42 53.51 45.74 39.39 43.21 64.3.24 49.99 43.58 46. tidak termasuk air kemasan dan isi ulang 100 .26 60.40 61.60 38.37 48.83 46.88 34.37 54.95 51. pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m dari penampungan kotoran.32 32.87 74.17 53.25 55.92 56.95 53. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi.49 54.76 50.88 28.79 35.63 45.57 51.61 60.12 65.47 62.04 47.12 71.61 56.02 60.87 48.96 52.63 51.90 63.70 69.08 43.13 25.08 28.27 *) Air ledeng.13 51.10 47.69 39.Tabel 7.05 48.14 53.75 44.68 67.35 24.05 48.95 51.73 Layak*) 31.05 46.01 56.43 48. air hujan.10 36.65 75.30 30.92 71.

02 52.5 dan tabel 7. Yang termasuk sumber air ’improved’ adalah sambungan kran air dalam rumah.86 51. Akses terhadap pelayanan air minum Menurut Joint Monitoring Programm WHO-Unicef (JMP WHO/Unicef).13%). dan air yang dijual melalui truk.4.32 35. Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung adalah 53.98%).84 45. 101 .68 64. akses terhadap sumber air minum yang layak di perkotaan lebih rendah (41.14 48.80 *) Air ledeng. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan menurut karakteristik rumahtangga.87 51. kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel 7.13 48.16 54.80 persen. dan penampungan air hujan.20 Layak*) 41.6. kran umum.64%) dibandingkan dengan di perdesaan (49. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tidak Layak 58. pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m dari penampungan kotoran. Menurut tempat tinggal. c.36 50.Tabel 7. berasal dari sumber air ’improved’. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan ada kecenderungan semakin tinggi kuintil pengeluaran rumahtangga semakin rendah proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum yang layak. sumur gali terlindung.47%) dan terendah di Provinsi Nangroe DKI Jakarta (25. mata air terlindung. air hujan. tidak termasuk air kemasan dan isi ulang Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung paling tinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (75. dan sarana air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah. Sumber air ’improved’ tidak termasuk air yang dijual keliling. air kemasan/botol. dikatakan akses terhadap penyediaan air bila minimal menggunakan air 20 liter per orang per hari.64 49. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung menurut provinsi. sumur bor.98 47.

33 53.79 53.Tabel 7.23 46.89 52.30 40.51 60.81 41.19 58.41 50.87 42.14 48.45 72.81 56.87 55.11 47.51 45.78 42.83 59.53 61.17 40.37 66.80 *) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari.31 45.01 41.75 30.49 39.53 30.40 58.49 55.60 41. berasal dari sumber air ‘improved’ dalam radius 1 km.13 57.87 29.49 54.13 70.61 64.51 44.48 44.99 58.93 68.69 54.31 50.22 57.22 52.86 51.55 27.06 47. 102 .82 42. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut provinsi.59 49.78 47.63 33.67 46.94 52.70 59.19 43.77 53.69 49.07 31.02 58.18 57.13 44.98 41.47 69.21 46.47 38.5.20 Akses*) 41. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Akses 58.52 55.25 69.39 35.

62 52. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut karakteristik rumahtangga.8. 103 . Akses terhadap penyediaan air dengan memperhatikan volume pemakaian dan jarak rumah ke sumber air ini mengalami penurunan bila dibandingkan hasil Riskesdas 2007. Hasil Riskesdas 2010 proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak disajikan dalam tabel 7.38 47.Tabel 7.10 55. dari 57. berasal dari sumber air ‘improved’ dalam radius 1 km.07 Akses Baik 52. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga tidak menunjukkan pola yang jelas.87%). Menurut kualifikasi daerah.74 44. Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung menurut JMP WHO/Unicef paling tinggi adalah Provinsi Jawa Tengah (70. pilihan jawaban pembuangan akhir tinja dipisah antara tangki septik dan SPAL.75 59.7 dan tabel 7.25 40.90 44. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Pengeluaran Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Akses Kurang 47.26 55.25%) dan terendah di Provinsi DKI Jakarta (27. jenis kloset dan sarana pembuangan akhir tinja.49 40. 2.62%) dibandingkan dengan di perkotaan (52. Dalam Riskesdas 2010. Dikatakan layak apabila sarana tersebut milik sendiri atau bersama.6.37 41. AKSES TERHADAP SANITASI LAYAK Dalam memantau akses terhadap fasilitas sanitasi layak digunakan indikator penggunaan sarana pembuangan kotoran (jamban) yang meliputi pemilikan.70 persen pada tahun 2007 menjadi 53.80 persen pada tahun 2010. akses terhadap sumber air terlindung sedikit lebih tinggi di perdesaan (55.10%). sedangkan pada Susenas masih digabung (Tangki septik/SPAL).51 59.93 *) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari. kloset jenis leher angsa dan pembuangan akhir tinjanya ke tangki septik atau SPAL.63 58.

63 35.09 47.77 41.43 39.62 49.40 57.90 50.00 54.89 68.00 46. Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut provinsi.44 48.51 42. 104 .56 51.00 53.53 *) Penggunaan sendiri dan bersama.51 35.87 25.10 49.11 31.62 44.88 82.32 35.12 17.91 65.82 45. pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL.65 57.38 55.13 74.18 54.42 49.70 38.63 41.89 79.83 54.23 58. kloset jenis leher angsa.18 54.91 52.09 34.11 20.47 Layak*) 52.53 47.00 45.37 64.89 42.28 33.17 45.29 46.28 44.82 45.49 57.11 57.Tabel 7.37 59.72 55.72 66.99 50.71 53.57 60.01 49.21 71. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Layak 47.79 28.7.30 61.47 53.60 42.58 50.68 64.35 42.38 50.49 64.

58 22. Indikator yang dikumpulkan dalam Riskesdas 2010 ini berkaitan dengan kesehatan. sekam. Dari tabel di atas tampak bahwa akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55. semakin tinggi penghasilan semakin tinggi pula yang akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak.04 71. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Tidak Layak Layak Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 28. 1 diantaranya adalah proporsi penduduk atau rumahtangga menggunakan bahan bakar padat untuk memasak. kloset jenis leher angsa. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga.58 64. 3.35%).10. yaitu terjadinya polusi dalam ruangan (indoors air pollution) yang dapat menyebabkan penyakit saluran pernafasan. tandan kelapa.42 33.8. Penggunaan bahan bakar memasak Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 9 (memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang) terdapat 6 indikator untuk memantau pencapaian target.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25.45 67.55 61.55%).21 46.45 38.55 32. Yang dimaksud dengan bahan bakar padat adalah kayu bakar. 105 . batang padi. arang. batu bara. Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga. akses terhadap fasilitas sanitasi layak di perkotaan hampir dua kali lipat (71.52 55. pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL.Tabel 7.53 persen.96 *) Penggunaan sendiri dan bersama.42 77. Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat disajikan dalam tabel 7.79 53. Menurut kualifikasi daerah.48 44. paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82. batok kelapa dan lain-lain.9 dan tabel 7.45%) dibandingkan dengan di perdesaan (38.

41 36.74 45. Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut provinsi.40 71.08 54.96 39.31 47.98 57.01 27.41 23.09 51.99 72.63 76.01 72.01 58.58 59.77 47.69 52.60 28.9. Riskesdas 2010 Listrik.23 0.09 47.94 Arang.48 59.26 69.91 48.85 43.58 51.59 76.76 63.40 40.86 47.52 40.92 45.75 52.06 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 106 .23 52.72 75.60 59.21 60.24 36.40 88.99 41.99 27.74 30.37 23.29 48.17 50. kayu bakar dll 37.42 40.02 69.08 67.25 47.79 39.92 32.15 56.59 63.91 52. gas dan minyak tanah 62.04 60.42 48.Tabel 7.14 52.26 54.02 42.60 11.28 24.77 99.71 34.29 65.71 51.98 30.83 49.

Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut tempat tinggal dan pengeluaran rumahtangga.10.27 Dari tabel di atas menunjukkan terdapat 40.67 29.33 70. Menurut tempat tinggal.33%) dari perdesaan (17.9%.802 75. tertinggi di Provinsi NTT (76.31 64. penggunaan bahan bakar padat di perkotaan hampir 4 kali lipat (64. 107 .726 Arang.150 87.06% rumahtangga yang masih menggunakan bahan bakar padat untuk memasak.69 35. gas dan minyak tanah 82. Riskesdas 2010 Karakteristik rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran RT Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-2 Kuintil-2 Kuintil-2 Listrik. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan semakin tinggi penghasilan rumahtangga semakin sedikit yang menggunakan bahan bakar padat untuk memasak.20 24.31%).60%).28 52.723 47.35 39.85 12.648 60.58%) dan terendah di Provinsi DKI Jakata (0. kayu bakar dll 17. Secara nasional penggunaan bahan bakar padat ini mengalami penurunan cukup besar dibanding data tahun 2007 sebesar 53.Tabel 7.

3 persen. dan 3.5%).4%).5%). dan hanya 12 persen di Puskesmas.3%) dan tertinggi di provinsi DI. sedangkan API Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0. Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sebesar 84 persen.6%).4 persen.5%) dan tertinggi di Bali (35. Proporsi tertinggi konsumsi <70% AKG dijumpai di NTB (46. dengan prevalensi tertinggi di Provinsi Jambi (20%).6 persen.8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan.4%) dan terendah di Provinsi Yogyakarta (22.3%). dan terendah di Bangka Belitung (7. dan Papua Barat. Prevalensi terendah ditemukan di Gorontalo (44.6%) dan terendah di Kalimantan Selatan (8. Proporsi penolong persalinan oleh tenaga kesehatan (82.2%). Angka K1 dan K4 ini nampak menurun jika dibanding tahun 2007 ( SDKI). Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan masih rendah di provinsi Maluku Utara.7%).6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah 70% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan tahun 2004. Proporsi unmet need sebesar 14. Sebanyak 40.5%). Masalah lain yang ditemukan adalah persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46.0 persen diantaranya 4.BAB IV. Proporsi pengguna KB pada perempuan pernah kawin menurun (53.6%).2%).0%) meningkat dibandingkan Riskesdas 2007 (63. Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat persalinan hanya 1. Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12-23 bulan (74.8 persen. Keadaan ini banyak dijumpai pada anak usia sekolah (41. teringgi di Provinsi NTT (58.5 persen.5 persen.7%) Sedangkan prevalensi dengan pengetahuan komprehensif sebesar 18. kesimpulan yang dapat diambil antara lain: Prevalensi balita kurang gizi (berat badan kurang) sebesar 18. Masih ditemukan 19 persen perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB dan 27.6%).8%). KESIMPULAN Dari hasil Riskesdas 2010. dan terendah di Bengkulu (23. Angka terendah di Papua Barat (31. sedangkan K4 hanya 61.1 persen di Polindes/Poskesdes.4 persen.9 persen dengan gizi buruk.1 persen yang pernah ber KB sekarang tidak menggunakan. Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2.2 persen pemeriksaan masih dilakukan oleh dukun.4%). Cakupan imunisasi campak terbaik adalah di DI Yogyakarta (96.3 persen. Umumnya pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52. tertinggi di Papua Barat (27.9%) dan tertinggi di Bali (64. hanya 2. Maluku Utara (8%) dan Sulawesi Tengah (12.9%).9%). Jenis alat/cara KB yang dominan adalah suntikan. serta 4. Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS (75.2%). Sedangkan prevalensi balita pendek (stunting) sebesar 35.3%) meningkat dibandingkan pada tahun 2007 (75.4%) dan terendah di Papua (47. Pemanfaatan masih rendah di Sulawesi Tenggara (7.9%) dibandingkan angka SDKI 2007 (57. Maluku. remaja (54.5%) menurun dibandingkan tahun 2007 (81. . Dan prevalensi balita kurus (wasting) adalah 13.1%). Demikian pula Period Prevalence malaria pada 108 . dan ibu hamil (44. Akses K1 oleh ibu hamil baik (92. Pemanfaatan fasilitas kesehatan untuk persalinan oleh perempuan usia reproduktif adalah 59.0 persen.8%).Yogyakarta (93.4%). Prevalensi tertinggi di Provinsi NTB (30.8%).5%) dan terendah di Provinsi Sulut (10. terendah di provinsi Gorontalo (8.6%).

Sarana perpipaan dan non perpipaan terlindung yang akses terhadap sumber air terlindung adalah 72.83 persen.7 persen.47%).3%). dan Bali (0.5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan. Prevalensi TB adalah 0.7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010.14%). 109 . Proporsi tertinggi ada di Provinsi DKI Jakarta (82.35%).9 persen.tahun 2010 (10.53%) dibandingkan tahun 2009 (42. dan tertinggi di Provinsi Papua (1..85%). tertinggi di Provinsi Jawa Tengah (84.25%) Proporsi rumahtangga yang menggunakan air non perpipaan terlindung (56.6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian. Akses rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak meningkat (55.2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66. Dari analisis Riskedas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45. Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7. Angka Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point Prevalence (0. Pengobatan efektif malaria dengan ACT pada balita hanya 21. Lampung.69%) lebih besar dibandingkan dengan perpipaan terlindung (16.91%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45. DI Yogyakarta.. Sedangkan proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25.27 persen.74%).7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2.

LAMPIRAN 1. Kuesioner individu (RKD10. Inform Concent dan Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP) 2.IND) 110 . Kuesioner rumah tangga (RKD10.RT) 3.

daneprairie.com. The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only. .This document was created with Win2PDF available at http://www.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->