LAPORAN NASIONAL RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS) TAHUN 2010

1

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT selalu kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 telah dapat terselesaiakan. Di dalam Laporan ini dimunculkan perkembangan status kesehatan masyarakat Indonesia khususnya yang berkaitan indikator MDG’s untuk tingkat nasional dan tingkat provinsi. Hasil Riskesdas 2010 mencakup indikator MDG’s nomor 1,4,5,6 dan 7, yaitu : status gizi balita, tingkat konsumsi energi per kapita, kesehatan reproduksi yang diwakili dengan indikator penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, cakupan penggunanaan kotrasepsi oleh perempuan WUS, cakupan imunisasi campak kelompok umur 12-23 bulan, prevalensi TB paru dan malaria, pengetahuan pencegahan HIV/AID, akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan Juni-Juli 2010, di 33 provinsi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) mengerahkan sejumlah enumerator untuk setiap kabupaten/kota, seluruh peneliti Balitbangkes, dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta Perguruan Tinggi. Untuk data kesehatan masyarakat, berhasil dihimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil dihimpun dan diperiksa spesimen dahak dan darah dari sampel anggota rumah tangga. Proses manajemen data mulai dari data dikumpulkan dan dientry ke komputer dilakukan di masing-masing daerah, kemudian data cleaning dilakukan di Badan litbangkes. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan dinamika kehidupan yang indah dalam dunia ilmiah. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas. Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Kami telah berupaya maksimal, namun pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas dimasa yang akan datang.. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb. Jakarta, 17 Agustus 2010 Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, Msi, SpF(K)

2

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Kementerian Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator MDG’s berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2010. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik berkaitan indikator MDG’s 1,4,5,6 dan 7, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas 2010 dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji dengan cepat apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai asupan baru bagi Sistem Kesehatan Nasional yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Puskesmas PRM/labkesda, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan. Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 17 Agustus 2010 Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., DR.PH.

3

Desain Riskesdas 2010 adalah potong lintang dan merupakan penelitian non-intervensi. kemudian melakukan pengiriman data secara elektronik kepada tim manajemen data pusat. pengetahuan dan perilaku kesehatan.6 persen. cara KB. penyakit menular. konsumsi makan dalam 24 jam kemarin. Keterangan ruta meliputi identitas ruta. Pengumpulan data di beberapa daerah telah mulai dilakukan sejak bulan Juni 2010 berakhir pada tanggal 8 Agustus 2010 untuk dilakukan pengolahan dan analisis. dan terendah adalah Bangka Belitung (7. Data yang dikumpulkan meliputi keterangan ruta dan anggota ruta. dan terendah adalah Provinsi Sulut (10. kesehatan ibu. dan pemeriksaan darah malaria dilakukan dengan Rapid Diagnostic Test (RDT). Tujuan Riskesdas 2010 adalah mengumpulkan dan menganalisis data indikator MDG’s kesehatan dan faktor yang mempengaruhinya. sedangkan untuk TB paru dilakukan pemeriksaan dahak pagi dan sewaktu hanya pada kelompok umur 15 tahun ke atas. dengan prevalensi tertinggi adalah Provinsi Jambi (20%). Pengumpulan data dan entri data dilakukan oleh tenaga terlatih dengan kualifikasi minimal tamat D3 kesehatan. keguguran dan kehamilan yang tidak diinginkan. Sampel BS tersebut tersebar di 33 dan 441 kabupaten/kota. Prevalensi balita kurus (wasting) secara nasional adalah sebesar 13. dengan rentang 22. Besar sampel sebanyak 2800 BS.6%).RINGKASAN EKSEKUTIF Riskesdas 2010 merupakan kegiatan riset kesehatan berbasis masyarakat yang diarahkan untuk mengevaluasi pencapaian indikator Millenium Development Goals (MDGs) bidang kesehatan di tingkat nasional dan provinsi. perilaku seksual. Tahap pertama melakukan pemilihan Blok Sensus (BS) dan tahap kedua pemilihan Rumah tangga (ruta) sebanyak 25 ruta setiap BS.3 persen. fasilitas pelayanan kesehatan. kesehatan anak.9 persen diantaranya 4. 4 . Keterangan individu meliputi identitas individu. sanitasi lingkungan dan pengeluaran ruta.5%).9 persen yang gizi buruk.5 persen (DI Yogyakarta) sampai 58.5% dari 2800 BS sampel siap untuk dianalisis. Hasil analisis dapat dilaporkan sebagai berikut: Prevalensi balita kurang gizi (balita yang mempunyai berat badan kurang) secara nasional adalah sebesar 17. Pengukuran tinggi badan/panjang badan dan berat badan dilakukan pada setiap responde. Prevalensi balita gizi kurang menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi NTB (30. Populasi sampel adalah seluruh rumah tangga di Indonesia. Sementara itu prevalensi balita pendek (stunting) secara nasional adalah sebesar 35. Pada tanggal tersebut sejumlah 2704 BS sampel yang terkumpul datanya atau sekitar 96. Pemilihan sampel dilakukan secara random dalam dua tahap. kehamilan dan pemeriksaan sesudah melahirkan. diantaranya 823 BS sebagai sampel biomedis (malaria dan TB)..6%).4 persen (NTT). Pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran data dilakukan oleh Penanggung Jawab Tehnis Kabupaten.

Demikian pula halnya pada provinsi seperti Maluku Utara. Untuk kesehatan ibu. akan tetapi hanya 61. Secara nasional masih ada 19% perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB untuk mencegah/menunda kehamilan. yaitu 84%.6%). akan tetapi di beberapa provinsi penggunaan fasilitas kesehatan untuk melahirkan masih sangat rendah.8 persen di Sulawesi Tenggara. Selain itu diketahui akses (K1) adalah 92. 54. Kelompok penduduk di perdesaan cenderung lebih banyak menggunakan suntikan untuk pencegahan kehamilan dibanding perkotaan.4%) dan terendah adalah Papua (47. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak pada Riskesdas 2010 ini adalah sebesar 74. 8 persen di Maluku Utara.2 persen anak usia sekolah.1 persen yang pernah ber KB akan tetapi sekarang tidak menggunakan. Akan tetapi masih ada 2. atau 12.8% ibu hamil mengikuti pelayanan antenatal.9 persen pada perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun. dan hanya 12 persen di Puskesmas. serta 4. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak menurut provinsi yang terbaik adalah DI Yogyakarta (96.4%). Penggunaan alat/cara KB diketahui hanya 53. secara nasional 82. Tenaga kesehatan terlatih di wilayah perdesaan perlu lebih ditingkatkan agar kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan tidak jauh berbeda dengan kelompok penduduk perkotaan. seperti 7.2 persen Dewasa. Terpantau juga jenis penggunaan alat/cara KB yang masih dominan adalah dengan suntikan yaitu 31.3%).4 persen perempuan usia reproduktif menggunakan fasilitas kesehatan untuk persalinan. Berdasarkan kelompok umur dijumpai 24. Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat pelayanan terdekat ke masyarakat juga perlu ditingkatkan. demikian juga perhatian perlu dipusatkan pada penduduk miskin.7%). karena hanya 1. dan Papua Barat perlu mendapatkan perhatian agar proporsi perempuan usia reproduktif dapat lebih banyak mendapatkan pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan.9%) dan tertinggi di Bali (64.3 persen kelahiran sudah dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. Walaupun secara nasional 59.2 persen ibu hamil mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal. Sementara itu proporsi penduduk tertinggi dengan konsumsi <70% AKG adalah NTB (46.1 persen.5 persen yang memanfaatkan untuk persalinan. Sebagian besar pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52.3 persen selama kehamilan memeriksakan kehamilan minimal 4 kali (K4).5 persen remaja. 41. Disparitas menurut provinsi dapat diketahui dari yang terendah di Papua Barat (31.4 persen Balita.8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan.5 persen.1 persen di Polindes/Poskesdes. Maluku.6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal (kurang dari 70% dari Angka Kecukupan Gizi/AKG) yang dianjurkan tahun 2004. dan terendah adalah provinsi Bengkulu (23. dan 3. serta 44. 40.1 persen di Sulawesi Tengah.2 persen masih memeriksakan kehamilan ke dukun. 5 .5%). Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sudah lebih baik. dan 27.Hasil Riskesdas 2010 menunjukan 40.

sedangkan pada balita hanya 21.5 persen. penggunaan Artemisinin Combination based Therapy (ACT) di Indonesia hanya mencapai 49. Masalah lain yang perlu mendapat perhatian untuk mempercepat penurunan kematian ibu adalah mengupayakan penundaan perkawinan menjadi usia 20 tahun. Prevalensi lebih tinggi pada penduduk belum kawin.7%).0 persen. Menurut provinsi rentangan berkisar 8. Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS secara nasional yaitu 18. DI Yogyakarta. Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi DI. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0.4-35.3 persen. di daerah perkotaan.Pada kelompok penduduk yang tidak menggunakan alat/cara KB.7 persen.4%). dan hanya 75. Jadi penderita malaria semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33.5 persen pada responden semua kelompok umur.3 persen (Bali) dan 31. penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34.25%). serta 89. . cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26.6 persen yang diminum dengan dosis lengkap. Rentang API Nasional adalah antara 0. sedangkan pada perempuan meningkat sebanyak 12 persen dibandingkan Riskesdas 2007.3-93. Khusus pada balita. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010.9%) dan terendah di Bali (8. Karena secara nasional persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46. Dari hasil wawancara. Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 32. Lampung.3%). Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua (1.5 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. dan Bali (0.8 persen. dijumpai cukup lebar dari yang tertinggi di Papua Barat (32.6 persen.4 persen yang diminum dengan dosis lengkap.Menurut provinsi rentangan berkisar 44. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 16.2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66. dan 83.6 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. Secara nasional prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS adalah 75. Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional. Variasi antar provinsi.7 persen.4 persen (Papua).0 persen sebenarnya mereka membutuhkan akan tetapi tidak terpenuhi (unmet need). 80. terdeteksi secara nasional 14.0 persen.1 persen. Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional. pendidikan lebih tinggi.9 persen. penduduk yang masih sekolah dan dengan pekerjaan sebagai pegawai atau wiraswasta. Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 24 permil. Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi Bali.7 persen. 6 . dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12. Sebanyak 20 provinsi dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional.1 persen.5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan. juga pada penduduk dengan status ekonomi lebih tinggi.Yogyakarta. Proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83. Pada penduduk laki-laki meningkat 11 persen.

maka secara nasional terdapat 72. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44. Lebih lanjut dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45. Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25.14 persen.35%).75%). tertinggi di Provinsi Gorontalo (66.79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0.27 persen .83 persen yang akses terhadap sumber air terlindung.85%). Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan. 7 .53 persen. paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82.5%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29.91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45. Akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84.Proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16.74%).69 persen.

Goal 4 MDG 3. Goal 1 MDG 2. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpul Data 6. Disain 2. Goal 6 MDG 5. Populasi dan Sampel 4. Variabel 5. Lokasi 3. Goal 7 MDG BAB 4 Kesimpulan Lampiran 2 3 4 8 9 12 12 12 12 15 16 16 17 17 33 40 68 96 108 109 8 . Manajemen Data BAB 3 Hasil dan Pembahasan 1.DAFTAR ISI Kata Pengantar Sambutan Menteri Kesehatan Kesehatan Republik Indonesia Ringkasan Eksekutif Daftar Isi BAB 1 Pendahuluan BAB 2 Metodologi 1. Goal 5 MDG 4.

oleh Bappenas. terutama Kementerian Kesehatan. dan status gizi). yaitu status kesehatan (penyebab kematian. mutu layananan. untuk test-test lanjutan di laboratorium Badan Litbangkes. menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan. angka kesakitan. bekuan darah. melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna. cakupan. terjangkau. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) merupakan Riset Kesehatan berbasis komunitas berskala nasional sampai tingkat kabupaten/kota. mencapai 9 . dan menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. Riskesdas ini dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan RI. PENDAHULUAN Visi Kementerian Kesehatan adalah “Masyarakat Sehat yang mandiri dan berkeadilan. penggunaan tembakau. pembiayaan kesehatan). bermutu. Salah satu strateginya adalah “Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata. Komposit beberapa indikator Riskesdas 2007 juga telah digunakan sebagai model Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) di Indonesia untuk melihat peringkat Kabupaten/Kota. melaksanakan. mengalokasikan anggaran. bermutu dan berkeadilan serta berbasis bukti dengan mengutamakan pada upaya promotif dan preventif”. perilaku konsumsi makanan) dan berbagai aspek mengenai pelayanan kesehatan (akses. dan sediaan apus. angka kecelakaan.000 sampel serum. Pada deklarasi tersebut disepakati 8 tujuan untuk mencapai MDGs di tahun 2015 yaitu: memberantas kemiskinan dan kelaparan. konsumsi rumahtangga. Telah dikumpulkan pula sekitar 33. Pada tahun 2007 Badan Litbangkes telah melakukan Riskesdas pertama. angka disabilitas. minum alkohol. aktivitas fisik. sekaligus sebagai bahan untuk perencanaan kesehatan. merata. dan oleh beberapa kabupaten/kota dalam merencanakan. Untuk itu diperlukan data kesehatan dasar yang dapat dikumpulkan secara berkesinambungan. pengetahuan-sikap-perilaku kesehatan (Flu Burung. Riskesdas direncanakan dilaksanakan secara periodik. Hasil Riskesdas 2007 telah dimanfaatkan oleh penyelenggara program. meliputi semua indikator kesehatan utama.BAB I. memantau dan mengevaluasi program-program kesehatan berbasis bukti (evidence-based planning). perilaku higienis. dengan tujuan untuk melakukan evaluasi pencapaian program kesehatan yang telah dilaksanakan. kesehatan lingkungan (lingkungan fisik). Sedangkan misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. Riskesdas 2010 bertepatan dengan tahun akan dilaksanakannya pertemuan puncak tingkat tinggi Majelis Umum PBB untuk mengevaluasi pencapaian deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) dari 189 negara termasuk Indonesia. untuk evaluasi program pembangunan termasuk pengembangan rencana kebijakan pembangunan kesehatan jangka menengah (RPJMN 2010-2014). termasuk swasta dan masyarakat madani. dan berkeadilan. HIV/AIDS.

Beberapa indikator MDGs kesehatan yang dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 adalah status gizi balita dan konsumsi (memberantas kelaparan). organisasi profesi. prevalensi malaria dan tuberkulosis (menurunkan angka kesakitan). serta melibatkan penyelenggara program terkait. mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Dalam rangka mendukung pertemuan tersebut dan mendapatkan data kesehatan terkini yang faktual. Beberapa indikator MDGs kesehatan lainnya yaitu prevalensi HIV/AIDS dan angka kematian anak tidak dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 karena memerlukan penelitian khusus atau didapat dari sumber data lain. akses sumber air minum yang aman dan fasilitas sanitasi dasar. Pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan segera setelah selesainya Sensus Penduduk 2010. malaria dan tuberkulosis. dan masyarakat. menurunkan kematian anak. meningkatkan kesehatan ibu. dan b) Memperoleh gambaran faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan provinsi. memastikan lingkungan yang kesinambungan. juga sebagai sarana untuk mengevaluasi perkembangan beberapa status kesehatan masyarakat Indonesia di tingkat nasional dan provinsi. lembaga penelitian. perguruan tinggi. Pertanyaan penelitian untuk Riskesdas 2010 yaitu: 1) Bagaimanakah status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi?. Riskesdas 2010 difokuskan pada indikator-indikator pencapaian MDGs dan data pendukung lainnya. Untuk menjaga kesinambungan. dan pemeriksaan laboratorium untuk kepastian penyakit malaria dan tuberkulosis yang dilakukan di lapangan (darah malaria) dan Laboratorium Puskesmas yang direkomendasi (dahak tuberkulosis). Riskesdas 2010 adalah Riskesdas MDGs karena menghasilkan beberapa indikator MDGs kesehatan nasional (Indonesia) yang berbasis bukti. Riskesdas serupa 2007 direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2013. Pengorganisasian Riskesdas 2010 sama dengan Riskesdas 2007 dilaksanakan sepenuhnya oleh seluruh jajaran Balitbangkes dengan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk metodologi dan penentuan sampel nasional dan provinsi. pengukuran. 10 . mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. status kesehatan ibu dan anak (menurunkan kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu). Data tersebut dikumpulkan seperti pada Riskesdas 2007 yaitu melalui wawancara. memerangi HIV/AIDS. Selain itu. dan perkembangan upaya pembangunan kesehatan di tingkat nasional dan provinsi dalam tiga tahun terakhir. pemerintah daerah. Tujuan khsuusnya adalah untuk: a) Menilai status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi. perubahan masalah kesehatan di tingkat nasional dan provinsi. dan komitmen kesehatan tingkat nasional dan global sebagai bahan penilaian pencapaian MDGs di tahun 2015. dan 2) Bagaimana faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan provinsi? Tujuan umum adalah memperoleh gambaran pencapaian target indikator MDG khusus kesehatan pada tahun 2010 berdasarkan Provinsi dan Nasional.universal primary education.

d. Kalimantan Timur. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi DI Yogyakarta. Jawa Barat. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Jawa Timur. Kep. b. Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. Riskesdas 2010 telah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Lampung. Bali. DKI Jakarta. Kalimantan Selatan. dan Sulawesi Selatan c. Sulawesi Utara. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (lihat lampiran). Nusa Tenggara Barat. Keseluruhan proses Riskesdas 2010 dimulai semenjak bulan februari 2010 sampai data selesai dikumpulan pada minggu pertama Agustus 2010.Riau. Sulawesi Barat. Sulawesi Tenggara. Sumatera Barat. Pengembangan kuesioner dan pedoman dilakukan oleh tim teknis Balitbangkes dan dilakukan pelatihan berjenjang mulai dari pelatih tingkat pusat sampai ke enumerator sebagai pengumpul data di lapangan. 11 . Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu. dan Papua. Riskesdas 2010 memberikan manfaat untuk memantau indikator MDGsn khusus kesehatan sehingga dapat digunakan untuk mempertajam strategi kebijakan pembangunan kesehatan dalam mempercepat pencapaian MDG 2015. Jawa Tengah.jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi Riau. dan Maluku Utara. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung. Sulawesi Tengah. Kalimantan Barat.Proses pengumpulan data dilakukan dibawah koordinasi Balitbangkes yang terbagi menjadi empat koordinator wilayah sebagai berikut: a. Jambi. Bangka Belitung. dan Papua Barat. Maluku. Kalimantan Tengah. Sumatera Selatan. Banten. Sumatera Utara.

Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia. Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya. dan prevalensi malaria/TB-paru hasil Riskesdas 2007. Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif. 2. METODOLOGI 1.BAB II. 12 . hal ini disebabkan karena BS semula terpilih jumlah rumah tangga yang akan menjadi sampel tidak terpenuhi dengan kriteria yang sudah ditetapkan b) Ada 1 kabupaten di Provinsi Papua (Kabupaten Nduga) yang tidak dapat dikunjungi dalam periode waktu pengumpulan data Riskesdas. maka dari 2800 BS yang seharusnya menjadi sampel Riskesdas hanya dapat diolah sejumlah 2704 BS atau 96. Riskesdas memilih BS yang telah dikumpulkan SP 2010. tidak bisa diikutkan untuk proses analisis. Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2010 adalah seluruh rumah tangga biasa yang mewakili 33 provinsi yang tersebar di 441 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2010 dipilih berdasarkan listing Sensus Penduduk (SP) 2010. beberapa catatan berkenan dengan lokasi adalah sebagai berikut: a) Dalam proses pengumpulan data. Papua. yang mewakili penduduk di tingkat nasional dan provinsi dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan untuk kepentingan pencapaian MDGs. c) Sehubungan dengan waktu untuk analisis indikator MDG sudah harus dilaksanakan. Pemilihan BS dilakukan sepenuhnya oleh BPS dengan memperhatikan status ekonomi. terjadi 43 pergantian BS dari 2800 BS yang telah ditetapkan semula. rasio perkotaan/perdesaan. Dari setiap provinsi diambil sejumlah blok sensus yang representative terhadap jumlah rumah tangga/anggota rumah tangga di provinsi tersebut. Proses pemilihan rumah tangga dilakukan BPS dengan two stage sampling yang sama dengan Riskesdas 2007/Susenas 2007. Lokasi Sampel Riskesdas 2010 mewakili nasional dan 33 provinsi yang tersebar di 441 Kabupaten/Kota dari total 497 Kabupaten/Kota di Indonesia. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud.5 persen (lihat tabel 1) 3. Sampai dengan laporan ini dibuat. Riskesdas berhasil mengumpulkan seluruh BS kecuali di kabupaten Nduga. Akan tetapi karena analisis harus segera dilakukan maka 94 BS yang belum sempat terkirim ke manajemen data pusat per tanggal 12 Agustus 2010.

jumlah sampel rumah tangga dari 2704 BS adalah 66.5% dari total 13 .Penarikan Sampel Rumah Tangga/Anggota Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 25 (dua puluh lima) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling). Riskesdas 2010 Jml BSSampel 53 128 54 66 40 83 29 86 23 28 111 494 343 54 410 117 49 64 50 53 35 50 46 38 34 85 33 23 22 23 19 22 35 2800 Jml BS-yang diolah 51 117 52 64 33 82 29 84 23 28 111 487 343 54 410 115 49 64 31 40 35 50 46 32 26 85 33 23 22 23 19 21 22 2704 Jml BS yang belum diolah 2 11 2 2 7 1 0 2 0 0 0 7 0 0 0 2 0 0 19 13 0 0 0 6 8 0 0 0 0 0 0 1 13 96 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Secara keseluruhan.906.946. Jumlah sampel rumah tangga (66.906) yang diolah adalah mewakili 96. Jumlah rumah tangga yang diharapkan terkumpul adalah 70. yang menjadi sampel rumah tangga dari jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut. Tabel 1 Jumlah Sampel Blok Sensus (BS) menurut Provinsi.000 dari 2800 BS. dengan jumlah individu 241.

599 5.sampel yang diharapkan.350 10.994 475 499 2.300 1.106 550 571 2.218 4.009 525 514 1.050 725 2.662 9.529 29.780 550 66.899 1.600 PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Jml BS 51 117 52 64 33 82 29 84 23 28 111 487 343 54 410 115 49 64 31 40 35 50 46 32 26 85 33 23 22 23 19 21 22 2.250 2.925 1.775 12.517 8.150 771 2.738 12.076 875 1.875 1.906 241.940 2.600 774 3.320 2.575 1.099 7.175 8.320 700 2. Tidak semua 2704 BS dapat mengumpulkan masing-masing 25 rumah tangga sampel.000 874 3.300 5.275 2.493 1.362 2.123 1.704 *) Jumlah rumah tangga seharusnya adalah 25 per BS 14 .325 1.385 575 473 1.250 1.201 1.075 825 2.703 2.225 1.235 4.851 11.180 35. artinya ada 694 rumah tangga yang tidak ditemukan pada saat pengumpulan data.350 4.652 800 650 644 2.227 1.400 825 575 2.296 2. Seharusnya dari 2704 BS akan terkumpul 67.140 4.496 2.310 1.118 8. Riskesdas 2010 Jumlah Rumah Jumlah tangga*) ART yang Sampel Yang seharusnya terkumpul terkumpul 1.125 825 3. Tabel 2. Distribusi jumlah rumah tangga dan anggota rumah tangga dapat dilihat pada tabel 2.031 2.946 67.590 6.100 575 2.367 10. Distribusi sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga menurut Provinsi.268 4.780 1.096 41.694 725 2.800 10.039 7.050 575 678 2.600.600 816 3.597 1.174 575 550 2.506 775 968 3.

Db Fertilitas (11 variabel) 3. Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel). Da. Dd Kehamilan. Masa reproduksi perempuan (6 variabel) 2. Kuesioner individu (RKD10. 15 .Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis merupakan sub-sampel dari 2800 BS yang mewakili nasional atau sejumlah 823 BS. pemeriksaan sesudah melahirkan (41 variabel) 5. Perilaku seksual (6 variabel) v. Blok VIII-E tentang kesehatan anak . Blok VI tentang sanitasi lingkungan (20 variabel). TB paru (9 variabel) iii. yang terdiri dari 6 sub-blok: 1. Blok VIII-B tentang penyakit menular: Malaria (10 variabel). Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan indikator MDG bidang kesehatan dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. Blok IX. Blok VII tentang Pengeluaran Rumah Tangga (39 variabel) b.tentang konsumsi makanan individu (jumlah variabel tergantung makanan yang dikonsumsi. 4. Dalam Riskesdas 2010 terdapat kurang lebih 315 variabel yang tersebar dalam 2 (dua) jenis kuesioner (lihat file terlampir). Blok V tentang dasilitas pelayanan kesehatan (18 variabel). Blok II tentang keterangan rumah tangga (4 variabel). rumah tangganya dan anggota rumah tangganya selain dikumpulkan variabel kesehatan masyarakat juga dialkukan pemeriksaan biomedis. Kuesioner rumah tangga (RKD10.IND).RT) yang terdiri dari: Blok I tentang pengenalan tempat (11 variabel). yang terdiri dari 2 sub-blok: 1. Blok VIII-D tentang kesehatan reproduksi. De Keguguran dan Kehamilan yang tidak diinginkan (10 variabel) 6. Dc Alat/cara KB (8 variabel) 4. Blok IV tentang anggota rumah tangga (13 variabel). Untuk pemeriksaan malaria. Blok VIII-C tentang pengetahuan dan perilaku (22 variabel) iv. seluruh anggota rumah tangga dari 823 BS dilakukan pengambilan darah. 2. persalinan. Blok X tentang pengukuran tinggi/panjang badan dan berat badan (5 variabel) Blok XI tentang Pemeriksaan laboratorium (7 variabel). dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a. Blok VIII-A tentang identifikasi responden (4 variabel). ii. Pada BS yang terpilih untuk biomedis. yang terdiri dari: Blok VIII ini dikelompokkan menjadi i. dan anggota rumah tangga usia 15 tahun keatas yang dilakukan pengambilan sputum/dahak pagi dan sewaktu untuk pemeriksaan TB paru. ASI dan MP-ASI (10 variabel) vi. Kesehatan bayi dan anak balita (22 variabel).

RT Responden untuk Kuesioner RKD10. Anggota rumah tangga berumur 10-24 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai perilaku seksual. c.IND Secara umum. tinggi badan / panjang badan. Anggota rumah tangga perempuan berumur 10-59 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan Kesehatan Reproduksi Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan kesehatan anak.5. Anggota rumah tangga berumur = 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan pengetahuan dan perilaku tentanh HIV/AIDS. pencegahan TB paru. hasil pemeriksaan darah malaria dan sputum digunakan formulir tersendiri (form M1. M2. pencegahan malaria. diwakili atau tidak diwakili. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun. konsumsi individu.IND adalah setiap anggota rumah tangga. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2010 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data. b. T1. dengan rincian sebagai berikut: a. dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan TB Paru dengan mengambil sputum pagi dan sewaktu. Manajemen Data Balitbangkes membentuk tim manajemen data pusat yang mengkoordinasikan seluruh proses yaitu: Bersama dengan BPS mengembangkan program data entry yang digunakan oleh enumerator setelah data dikumpulkan di lapangan Setelah data entry dilakukan di lapangan. Untuk biomedis. Pengumpulan data rumah tangga dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD10. Mt1. 6. MT2). Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular malaria dan TB paru. dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT). pengukuran berat badan. T2. 16 . responden untuk Kuesioner RKD10.RT terdapat keterangan anggota rumah tangga termasuk variabel yang dapat menunjukkan apakah anggota rumah tangga diwawancarai atau tidak.RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi Dalam Kuesioner RKD10. data langsung dikirim via email ke tim manajemen Pusat untuk dilakukan pemeriksaan kelengkapan dan data cleaning Bersama dengan BPS melakukan proses pembobotan untuk siap di analisis. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD10. pengetahuan tembakau. dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya. dan konsumsi jamu/obat tradisional.

1a.1). Beberapa indikator terkait goal dimaksud juga disajikan agar informasi yang disajikan menjadi lebih lengkap.1c. Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Indikator status gizi yang digunakan adalah: Berat Badan menurut Umur (BB/U). Demikian pula halnya dengan prevalensi balita pendek yang menurun sebanyak 1. 1. Untuk menilai status gizi balita digunakan Standar Antropometri yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2005 atau yang disebut dengan “Standar WHO 2005”.BAB III. Indikator: 1. 1. maka hasil dan pembahasan berikut khusus menyajikan indikator untuk menjawab goal 1. Balita Pendek dan Balita Kurus dari tahun 2007 ke 2010 antara daerah Kota dan Desa. 17 .9 persen pada tahun 2010. Proporsi penduduk dengan asupan kalori dibawah tingkat konsumsi minimum STATUS GIZI PADA BALITA Seperti halnya pada Riskesdas 2007.1b.3 persen pada tahun 2010 (Tabel 1.1. 1. TB/U dan BB/TB) disajikan pada Tabel 1.6 persen pada tahun 2007 menjadi 13. Status Gizi Balita Di Daerah Kota dan Desa Terdapat perbedaan perkembangan Prevalensi Balita Gizi Burkur. status gizi balita dinilai berdasarkan parameter antropometri yang terdiri dari berat badan dan panjang/tinggi badan. dan prevalensi balita kurus menurun sebanyak 0. indikator status gizi yang dipakai adalah BB/U dan angka prevalensi status “underweight” (gizi kurang dan buruk atau disingkat “Gizi Burkur”) dijadikan dasar untuk menilai pencapaian MDGs.2 persen yaitu dari 36.5 persen yaitu dari 18. Prevalensi balita menurut tiga indikator status gizi (BB/U. HASIL DAN PEMBAHASAN Sesuai dengan tujuan dari Riskesdas 2010 yaitu memberikan informasi terkini keadaan kesehaatan masyarakat berkaitan dengan MDG. Status Gizi Balita Tingkat Nasional Secara nasional prevalensi balita “gizi burkur” menurun sebanyak 0. Dalam Millenium Development Goal (MDGs). Balita Pendek dan Balita Kurus. 5.3 persen yaitu dari 13. dan 7.8 persen pada tahun 2007 menjadi 35. Di daerah Desa tidak terjadi penurunan prevalensi. Goal 1 – MDG Target: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015.4 persen pada tahun 2007 menjadi 17. Prevalensi balita kurang gizi (berat badan rendah. 1. Untuk prevalensi masing-masing indikator menurut BB/U. 1. dan kurus) 2. dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB).6 persen pada tahun 2010. TB/U dan BB/TB dapat dilihat pada tabel 1. pendek.2. 4. Di daerah Kota secara umum terjadi penurunan prevalensi Balita Gizi Burkur.6.

8 13.4 44. Maluku Utara 91.3 13.0 30.8 11.6 19.9 11. Sumatera Barat 14.2 persen tahun 2010 (Gambar 1. DKI Jakarta 32.0 16.3 41.6 17.9 TB/U PENDEK 2007 44.9 17.2 21.4 14.8 14.6 36.3 18. Kalimantan Timur 71.0 15.3 15.1 10.9 9.6 33.4 2010 23.1 13.5 20.5 26.4 13. DI Yogyakarta 35.2 26.0 15.8 35.7 11.4 24.9 22.2 17.9 7.8 17.1 21.6 22.8 20.8 2010 38.9 15.4 18.7 21.2 23.6 33.2 28.2 17.3 17.9 16.4 13. Bangka Belitung 21.0 36.7 36.5 20.5 39.4 37.3 29.4 12.4 27.0 26.6 34. Bengkulu 18. Nusa Tenggara Barat 53.8 11.3 22.7 13.3 48.8 39.6 2010 14.5 16.1 36.1 40.6 17. B a l i 52.0 14. Sulawesi Utara 72.2 19.1).4 49.0 15.5 18.3 32.6 43.7 persen tahun 2007 menjadi 31.2 14. Sulawesi Tengah 73.6 16.0 22.6 BB/TB KURUS 2007 18.5 22.1 14.0 11. Sumatera Selatan 17.1 19. Maluku 82.6 15.2 30.6 22.9 42.4 39.2 14.3 26. Lampung 19.2).4 12. Papua Barat 94.9 10.5 29.5 16. Jawa Timur 36.2 17.3 16.8 22.7 14. Sulawesi Barat 81.2 40.9 26.0 17.1 16.8 40.1 27.0 13.9 37.5 24.2 17.5 36.4 29.8 26.Di daerah Kota prevalensi balita Gizi Burkur menurun dari 15. Kalimantan Selatan 64.8 40.8 32.2 39.3 29.8 25.1 10.8 12.8 9.7 36. Sulawesi Tenggara 75.5 13.7 46.8 13. Kalimantan Tengah 63.4 29.6 37.5 16. Jawa Barat 33.4 persen tahun 2010 (Gambar 1.1 10.4 25. R i a u 15.3 42.9 15.8 23.0 13. STATUS GIZI BALITA PADA TAHUN 2007 DAN 2010 BB/U PROVINSI 11.0 11.9 33.2 20.2 14.7 41. dan prevalensi balita kurus turun dari 13.8 36.3).3 18 .8 33.6 22.0 31.2 31.5 11.5 29.1.3 15.2 58.6 26.9 18.4 31.5 26.0 15. TABEL 1.1 27. Sulawesi Selatan 74.7 15.3 12.0 8.7 39.7 16.9 persen tahun 2007 menjadi 15.2 38.8 39.3 13.7 27.9 16. Jambi 16.3 16.2 14.5 29.6 35.5 35. Jawa Tengah 34. Nanggroe Aceh Darussalam 12.5 27. Nusa Tenggara Timur 61.7 35.9 44.4 17. Banten 51.2 16.1 18.7 14.2 40.8 16.2 14.2 15.7 11.5 persen tahun 2010 (Gambar 1.1 13. Kalimantan Barat 62.6 7.5 33.0 14.8 13.9 17. prevalensi balita pendek turun dari 32. P a p u a INDONESIA GIZI BURKUR 2007 26.0 43.2 9.5 45.6 19.0 38. Kepulauan Riau 31.6 26. Gorontalo 76.7 35.6 12.5 25.3 11.8 17.7 10.3 35.1 persen tahun 2007 menjadi 12.9 14.2 15. Sumatera Utara 13.9 9.

1 10.8 7.6 13.5 4.3 13.4 5.1 27.9 17.9 20.9 17.4 3.4 10.9 12.9 Status Gizi BB/U Gizi kurang 16. Sulawesi Selatan 74.Tabel 1. Banten 51. Kalimantan Timur 71.3 3.3 2.0 11. Sulawesi Tenggara 75.0 Gizi Buruk+ Gizi Kurang 23. Kalimantan Tengah 63.4 5. Sumatera Barat 14.7 6.8 2.0 10.8 12.3 15.3 14.2 19. Maluku Utara 91. Nanggroe Aceh Darussalam 12.0 11. Lampung 19. Jawa Timur 36.7 10.2 23.4 14.6 19.7 9.2 17. Prevalensi Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk (BB/U) Menurut Provinsi Tahun 2010 Provinsi Gizi buruk 11. DI Yogyakarta 35.8 8.0 22. Sulawesi Utara 72.4 14.6 3.6 26. Kepulauan Riau 31.5 25.8 1.1 3.7 9.6 8.2 7.1 6. Jambi 16.5 5. Nusa Tenggara Barat 53.0 9.3 13.4 11.7 21.3 12.9 17.3 4. Sulawesi Tengah 73.0 4.4 19.5 20.6 22. Kalimantan Selatan 64.7 11.5 26.4 11.2 17.5 11.1 18. Papua Barat 94.1 7.5 11.0 15.4 17.6 9.8 4.5 16.2 19. R i a u 15. P a p u a INDONESIA 7.3 13. Jawa Barat 33.7 22. Bengkulu 18.3 1.8 4.9 19 . Sumatera Selatan 17.9 15.8 26.8 17.9 6.9 12.4 6. Jawa Tengah 34. DKI Jakarta 32.7 9.3 6. Maluku 82.4 9.2 4.6 16. Sulawesi Barat 81. Bangka Belitung 21. Gorontalo 76.5 14.0 13. Sumatera Utara 13. B a l i 52. Kalimantan Barat 62.6 18.8 18.0 30. Nusa Tenggara Timur 61.4 29.8 5.7 9.5 29.6 26.1a.4 4.1 16.9 14.5 3.3 16.

Sulawesi Utara 72.1 17.TABEL 1.4 49.7 15.0 15.3 20. Sulawesi Barat 81. Sulawesi Selatan 74.0 15.6 35. Sumatera Utara 13.3 13. Lampung 19.0 18.0 15.0 17.3 29.4 39.4 14. Jambi 16.0 26.8 20.2 38.3 15.5 11. Jawa Barat 33.1 27. Sulawesi Tengah 73.8 36.6 21.9 18.8 40. Papua Barat 94.9 16.5 14.5 19.6 15.3 16. Kepulauan Riau 31. Bengkulu 18.4 28.1 Pendek+ Sangat pendek 38.3 32.7 39.6 16.4 14.5 12.3 20. Kalimantan Selatan 64.4 12.9 20.9 37.2 28.1 17.1 18.9 33. Jawa Timur 36.6 11.6 12.0 21.4 12.5 35.4 23.6 33.6 19.8 18.3 29.6 37.2 40.6 33. DI Yogyakarta 35.3 17.7 20.4 14.8 17.5 29. Maluku Utara 91.6 15.0 15.8 21.3 14.7 18.6 15. Prevalensi Balita Pendek dan Sangat (TB/U) Menurut Provinsi Tahun 2010 Status Gizi TB/U Provinsi Sangat pendek 24.5 Pendek 14.0 21. Sumatera Selatan 17. B a l i 52.8 30.3 41. Sumatera Barat 14.6 16.3 48. Kalimantan Barat 62. DKI Jakarta 32.2 23. Nusa Tenggara Timur 61.2 58. Nanggroe Aceh Darussalam 12.8 32.9 22.1b. R i a u 15.5 14.3 19. Kalimantan Timur 71.4 31.0 12.9 10. Nusa Tenggara Barat 53. Banten 51. Kalimantan Tengah 63.5 29.0 20.0 27.6 13.6 36. Jawa Tengah 34.2 20.9 14. Bangka Belitung 21. Maluku 82.1 20.1 23.6 16.3 35.9 26.5 27. Sulawesi Tenggara 75.7 16.3 18. P a p u a INDONESIA 20 .9 17.5 14.9 42. Gorontalo 76.2 30.

3 5. Jawa Barat 33. Kalimantan Timur 71. Sulawesi Barat 81.6 12.2 4. B a l i 52.8 2.8 11.2 8.9 8. Kepulauan Riau 31.0 4.9 11. Sulawesi Tenggara 75.9 7.0 13. Nusa Tenggara Timur 61.1 9. Bengkulu 18.8 6.2 5.2 14.2 17.4 4. Kalimantan Tengah 63.1 14.3 11.2 14.6 6.0 8.6 4.4 13. Gorontalo 76.4 4.6 17.1 13.9 11.7 6.0 8.9 9.0 8.2 14.7 5. Papua Barat 94.3 7.9 7.4 1.4 2.3 11.7 7.0 15. Kalimantan Selatan 64.8 11.7 13.0 8.4 7.3 Kurus+ Sangat kurus 14.2 20. Kalimantan Barat 62.5 6. DI Yogyakarta 35.2 17. Bangka Belitung 21.6 8.6 7.4 5.3 8.6 7.3 5.2 16.8 12. Sulawesi Selatan 74.7 2.3 9.0 14.2 9. Sulawesi Utara 72.5 5.1 6. Maluku Utara 91. Prevalensi Balita Kurus dan Sangat kurus (BB/TB) Menurut Provinsi Tahun 2010 Status Gizi BB/TB Provinsi Sangat kurus 6.6 6.4 7.8 6. Lampung 19.2 6.8 7.4 4.2 7. Sumatera Utara 13.5 5.2 11.1c. Sumatera Selatan 17. Sulawesi Tengah 73.6 7.8 7.TABEL 1. Nanggroe Aceh Darussalam 12. Sumatera Barat 14.8 6. P a p u a INDONESIA 21 .1 8. Jawa Timur 36.8 13.6 7. DKI Jakarta 32.8 13.9 8.3 6.0 6.7 10. Jambi 16.6 6.2 5.0 9. Nusa Tenggara Barat 53.9 16.2 9.4 9.0 Kurus 7.9 6.0 14.7 7.1 6.0 6.3 6. Maluku 82.1 6.9 6. Jawa Tengah 34. Banten 51.6 15.7 15. R i a u 15.2 14.4 6.

22 .

Dari Gambar 1.5 dan 1. kuintil 4 dan kuintil 5. sedangkan prevalensi untuk ketiga jenis masalah gizi balita pada kuintil 1 dan kuintil 2 terlihat meningkat atau relative tetap. Status Gizi Balita Menurut Kuintil Pendapatan Keluarga Kuintil pendapatan keluarga terdiri dari kuintil 1 sampai kuintil 5. balita pendek dan balita kurus terjadi pada kuintil 3.6 secara umum dapat dilihat bahwa penurunan prevalensi balita gizi burkur. Kuintil 1 adalah kelompok pendapatan terendah dan kuintil 5 adalah kelompok pendapatan tertinggi.1. 23 . 1.3. Dengan demikian keluarga yang masuk 2 kelompok pendapatan terendah atau keluarga yang tergolong miskin masih belum menunjukkan adanya peningkatan status gizi pada balitanya.4.

terutama pada prevalensi balita gizi burkur dan balita pendek (Gambar 1. Prevalensi balita gizi burkur.9). 1.4. Status Gizi Balita Menurut Jenis Kelamin Status gizi balita perempuan secara umum lebih baik dari balita laki-laki baik pada tahun 2007 maupun tahun 2010. 24 .8 dan 1.7. Demikian pula penurunan prevalensi balita yang bermasalah gizi secara umum lebih besar terjadi pada balita perempuan disbanding dengan balita laki-laki. pendek dan kurus secara umum lebih rendah pada balita perempuan dibanding dengan balita laki-laki.1.

8 persen tahun 2007 menjadi 33.11) Demikian pula dengan prevalensi Balita Kurus.0 persen (Gambar 1. Penurunan prevalensi kurus terlihat lebih tinggi pada balita laki-laki yaitu sebesar 0. Dalam hal prevalensi Balita Pendek pada tahun 2010 ada 25 provinsi yang menurun prevalensinya dan 8 provinsi yang meningkat atau relative tetap prevalensinya.9 persen.5. sedangkan pada balita laki-laki tidak terjadi penurunan atau tetap 19. (Gambar 1.2 persen.4 persen. sedangkan pada balita laki-laki penurunan prevalensi terlihat kecil yaitu dari 37. terdapat 20 provinsi yang menurun prevalensinya dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap. Provinsi DI Yogyakarta memiliki prevalensi pendek terendah yaitu 22.7 persen tahun 2007 menjadi 37. 1.5 persen dan Provinsi NTT memiliki prevalensi tertinggi yaitu 58.6.4 persen. Dengan demikian dalamk kurun waktu 5 tahun mendatang Indonesia harus menurunkan prevalensi balita gizi burkur sebesar 2.7 persen.5 persen pada tahun 2015.3 persen tahun 2010 atau turun sebesar 0.6 persen dan Provinsi Jambi memiliki prevalensi tertinggi yaitu 20.5 persen. Demikian pula halnya dengan prevalensi pendek. Pada tahun 1989 prevalensi gizi burkur sebesar 31 persen yang diharapkan menjadi separuhnya yaitu 15.13 trend prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 – 2010.9 persen. pada balita perempuan turun dari 35.4 persen yang berarti rata-rata dalam setahun harus turun sebesar 0.5 persen (Gambar 1. Trend Prevalensi Balita Gizi Burkur dari Tahun 1989 – 2010 Pencapaian MDG berdasarkan indicator status gizi balita disajikan pada Gambar 1.0 persen dan Provinsi NTB memiliki prevalensi tertinggi yaitu 30. Provinsi Bangka Belitung memiliki prevalensi terendah yaitu 7. Secara umum dapat dilihat penurunan prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 ke tahun 2010.7 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1 persen.7 persen tahun 2007 menjadi 16. 1.1 persen.9 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1. 25 .Prevalensi balita gizi burkur pada balita perempuan menurun dari 17.12). Status Gizi Balita Tingkat Provinsi Ditinjau dari prevalensi Balita Gizi Burkur pada tahun 2010 ada 20 provinsi yang menurun prevalensi dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap. Provinsi Sulawesi Utara memiliki prevalensi balita gizi burkur paling rendah yaitu 10.10). Pencapaian indicator MDG pada tahun 2010 berdasarkan prevalensi gizi burkur adalah 17. sedangkan pada balita perempuan sebesar 0.

26 .

27 ..

28 .

Oleh sebab itu data konsumsi energi Riskesdas 2010 lebih akurat. Kebutuhan konsumsi energi setiap individu berbeda menurut umur dan jenis kelamin serta status hamil atau menyusui (bagi individu wanita). sedangkan pada Riskesdas 2007. dimana ibu atau orang yang menyediakan makan untuk semua anggota rumah tangga yang diwawancara dengan memperhitungkan jumlah orang menurut umur dan jenis kelamin yang makan dirumah dan yang makan diluar rumah. Acuan 29 . Sesuai dengan indikator diatas. maka pada Risksdas 2010 telah dikumpulkan data konsumsi energi individu. data konsumsi energi adalah data konsumsi rumah tangga. sebab angka yang diperoleh merupakan angka konsumsi energi individu (anggota rumah tangga). dimana setiap anggota rumah tangga diwawancara konsumsi makan sehari (24 jam yang lalu). Konsumsi energi per kapita penduduk pada data Riskesdas 2007 dihitung berdasarkan konsumsi energi rumah tangga dibagi jumlah anggota rumah tangga yang sudah distandarisasi menurut umur dan jenis kelamin. serta dikoreksi dengan jumlah tamu yang ikut makan dirumah tangga tersebut (menurut umur dan jenis kelamin). Proporsi penduduk dengan konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal dihitung berdasarkan konsumsi energi penduduk dibandingkan kebutuhannya sesuai umur.KONSUMSI ENERGI DIBAWAH KEBUTUHAN MINIMAL Tujuan MDG’s nomor satu adalah “Menanggulangi Kemiskinan dan `Kelaparan” dan didalamnya terdapat target “menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya”. yang dijabarkan dalam indikator “Proporsi penduduk yang berada di bawah konsumsi minimum”. jenis kelamin dan status kehamilan (bagi ibu hamil). Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi lebih rendah dari 70 % dari 2100 kkal.

Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) .6 % penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (70 %). Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) – Riskesdas 2010 % 60 50 40 30 20 10 0 54.Riskesdas 2010 Kelompok Umur Balita Anak Sekolah Remaja Dewasa Ibu Hamil Total % 24.6 Gambar 1. Tabel 1. Hasil Riskesdas 2010.14. dan sebaliknya pada 30 .6 Balita Dewasa Anak Sek Hamil Remaja Total Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% dari AKG) lebih banyak pada penduduk di desa dari pada penduduk di kota.4 40. Menurut kuintil pengeluaran rumah tangga.2 44.5 41.5 40. Proporsi defisit energi < 70 % terbanyak pada usia remaja (54. konsumsi penduduk di Indonesia yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (lebih rendah dari 70 % dari angka kecukupan gizi bagi orang Indonesia (tahun 2004) adalah sebanyak 40.2. Pada penduduk dengan kuintil pengeluaran rumah tangga terendah (kuintil 1) sebanyak 46.4 41.5%).2 40.2 44.4 %).kecukupan yang digunakan adalah “Tabel Angka Kecukupan Gizi 2004 Bagi Orang Indonesia” dalam Widya Karya Pangan dan Gizi Tahun 2004.2 54.2 24. dan terendah pada anak balita (24.2 40.6 %. semakin tinggi kuintil pengeluaran rumah tangga semakin sedikit penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% AKG).

2 40.3.5 40 39.3 40.9 41.5 41 40.5 37. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) Menurut Desa dan Kota – Riskesdas 2010 Kelompok Umur Kota Desa Total % 39.6 31 .6 43.6 Tabel 1.5 39 Kota Desa Total 39.6 Gambar 1. Tabel 1.3 persen penduduk yang mengonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (< 70 % AKG).3 40. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) Menurut Kuintil Pengeluaran Rumah Tangga .9 41.15.3 40. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) di Kota dan Di Desa % 41.4.kuintil pengeluaran rumah tangga tertinggi (kuintil 5). sebanyak 34.3 34.Riskesdas 2010 Tingkat pengeluaran/kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Total % 46.

proporsi konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal 43 persen lebih banyak dibanding pada tahun 2010 yaitu sebanyak 40.3 40.6 34.1%).5 37. provinsi yang penduduknya mengkonsumsi energi lebih rendah dari kebutuhannya dengan jumlah tertinggi adalah provinsi Nusa Tenggara Barat (46. 32 .6 43.6%) dan provinsi dengan proprosi konsumsi energi dibawah kebutuhan terendah adalah di provinsi Bengkulu 23.8 persen. provinsi dengan penduduk mengkonsumsi energi dibawah kebutuhannya tertinggi di provinsi Bengkulu (67%).16. Menurut provinsi. Pada tahun 2010.Gambar 1. dan terendah di provinsi Jawa Timur (26. pada tahun 2007.6 persen.2 40.3 Pada tahun 2007. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) Menurut Kuintil Pengeluaran RT-Riskesdas 2010 % 50 40 30 20 10 0 Kuintil 1 Kuintil 4 Kuintil 2 Kuintil 5 Kuintil 3 Total 46.

4%). Oleh karena Riskesdas 2010 ditujukan pada indikator yang ada dalam MDGs. Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan.5 persen. empat kali imunisasi polio. dan satu kali imunisasi campak. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda. Imunisasi campak merupakan salah satu dari indikator dalam Millenium Development Goals (MDGs). Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada dua tabel (Tabel 4.1 s/d Tabel 4. dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu. Cakupan imunisasi terendah di provinsi Papua (47. imunisasi DPT-HB pada bayi umur dua. Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi.6%). Goal 4 – MDG Menurunkan Kematian Anak Target: Menurunkan Angka kematian balita hingga dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015 1. tiga kali imunisasi DPT-HB.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96. dalam laporan ini hanya analisis untuk imunisasi campak. Program imunisasi untuk penyakitpenyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG. Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui. cakupan imunisasi campak dalam Riskesdas sebesar 74. Imunisasi campak pada anak 12-23 bulan Kementerian Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan. informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu atau anggota rumahtangga lain yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan. Dari Tabel 4. dan satu kali imunisasi campak.1 persen dibanding Riskesdas 2007 (81. tiga kali DPT-HB. cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan. Dalam Riskesdas. imunisasi polio pada bayi baru lahir.2. menurun 6. Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi.1 dapat dilihat secara keseluruhan. tiga kali polio. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) atau Buku KIA. 33 .2) menurut provinsi dan karakteristik responden. tiga. dan Buku catatan kesehatan anak lainnya. anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG. empat bulan dengan interval minimal empat minggu. disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut. Terdapat 19 provinsi cakupan imunisasi campak di bawah rata-rata nasional.

Kenaikan cakupan imunisasi campak antara 2. Riskesdas 2007.4 94. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulasewi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Persentase cakupan imunisasi campak Riskesdas 2007 Riskesdas 2010 69. Dengan demikian terdapat perbedaan cakupan sebesar 9.1 63.6 70.7 88.2 71.2 78.4 83.9 72.7 69.0 59.6 84.9 91.0 75.2 menunjukkan cakupan imunisasi campak menurut karakteristik daerah.5-6. Tabel 4.5 67.8 83.4 64.Bila cakupan imunisasi campak dibandingkan antara Riskesdas 2007 dan 2010 per provinsi.5 75.1 78. rumahtangga.2 96.1 76.4 83.3 83.3 83.4 81.1 68.4 85.5 99. dan anak.3 85.6 74. hanya ada empat provinsi dengan cakupan imunisasi campak yang naik pada tahun 2010.1 86.3 61.9 90.0 71.9 68.3 83.1 62.5 72.7 47.1 89.1.8 73.1 62.9 77.5 persen.6 77.6 84.8 persen dan penurunan antara 0.1 86.7 34 .5 69.2 62. sedangkan provinsi lainnya relatif sama atau menurun.5 76.3%) dibanding di perdesaan (69.3%).5 85.9 80.6 78.7 86. 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.3 95.2 90. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak Menurut Provinsi.5 57.0 85.4 77.3 96.5 Tabel 4.5 81.3 81.5 60.6 87. Terlihat dalam tabel.8 80.7 77. cakupan imunisasi campak di perkotaan lebih tinggi (79.2-22.4 67.7 72.0 90.

9%). Keadaan tersebut serupa dengan hasil Riskesdas 2007.8 79.0 81.1 78.8 82.2 65. lebih tinggi perbedaan tersebut dibanding tahun 2007 yang hanya 7.0 81. 2010 Karakteristik Penduduk Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.9 79.9 83.3 78. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja Ibu rumahtangga PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Persentase cakupan imunisasi campak Riskesdas 2007 Riskesdas 2010 86.2 74.2 67.4 74. Bila dibandingkan menurut jenis kelamin. Pada tabel 4.1 Karakteristik rumahtangga lain dalam analisis ini adalah tingkat pengeluaran per kapita yang dibagi menjadi lima kelompok yaitu kuintil 1 yaitu kelompok terendah sampai kuintil 5 yaitu 35 .6 74.2 persen.3 persen.4 83.9 86.1 64. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak Menurut Karakteristik Responden.8 77.8 85.7 91.6 69.persen antara daerah perkotaan dan perdesaan.4%). Riskesdas 2007.7 59.0 71.5 persen.6 74. Cakupan imunisasi campak menurut pekerjaan kepala keluarga yang terendah pada petani/ nelayan/ buruh (67. tidak banyak terdapat perbedaan cakupan imunisasi campak antara anak laki-laki dan perempuan.3 86.6 78.1 84. Cakupan imunisasi campak terendah bila pendidikan kepala keluarga tidak sekolah (59.5 83.9 77.2 juga dapat dilihat variasi yang lebar cakupan imunisasi campak menurut pendidikan kepala keluarga.1%) dan tertinggi pada pendidikan kepala keluarga tamat perguruan tinggi (86.6 93. Terdapat tren cakupan imunisasi campak yang meningkat seiring dengan makin tingginya pendidikan.5 79.5 -86.1 80. baik dalam tahun 2007 maupun 2010.0 78. lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya sebesar 21.3 88.3 69.1 80.5%) dan tertinggi pada PNS/ Polri/ TNI (86.2. Tabel 4.2 71.2 82.1 78.0 86. Dengan demikian terdapat kesenjangan cakupan sebesar 27.

dan 31.3 terlihat bahwa secara keseluruhan pada tahun 2010 sebanyak 60.7 persen. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita.5. Pemberian ASI Eksklusif Pemberian ASI eksklusif ditanyakan pada Riskesdas 2010. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi.1 persen pada tahun 2010. Oleh karena jumlah bayi di bawah 6 bulan hanya sedikit.1%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66.kelompok tertinggi. ASI eksklusif lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding daerah perkotaan.5 persen. lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya 8. Menurut tipe daerah. tetapi tidak ditanyakan pada Riskesdas 2007. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita. Bayi di bawah 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif jika saat pengumpulan data ibunya menyatakan bahwa bayinya masih mendapatkan ASI.6 persen dan 33. tidak bisa dianalisis menurut provinsi dan hanya dapat dianalisis menurut karakteristik responden yang terlihat dalam Tabel 4. tipe daerah dan rumah tangga pada Riskesdas 2007 dan 2010. Pemberian ASI eksklusif secara keseluruan pada umur 0-1 bulan. Demikian juga tidak ada pola hubungan yang jelas antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pendidikan orangtua.1 persen pada kuintil 5. Dalam Tabel 4. Ada kecenderungan semakin tinggi pengeluaran per kapita semakin tinggi pula cakupan imunisasi campak. Hubungan yang jelas baru terlihat antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pengeluaran per 36 . Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Sulawesi Barat (9. Tidak ada perbedaan ASI eksklusif menurut jenis kelamin bayi. belum pernah mendapatkan MPASI. 38.7 persen neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan.0 persen.6 persen neonatus umur 3-7 hari dan 37. 3. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus. Cakupan imunisasi campak pada kuintil 1 sebesar 65.8%). dan 4-5 bulan berturut-turut adalah 45.3 persen. pemeriksaan neonatos pada tahun 2010 di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan. 2.4 persen.0 persen dibanding 86. Hasil tersebut lebih baik bila dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2007 sebesar 57. Tabel 4.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84.4 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi. dan dalam 24 jam yang lalu tidak mendapatkan makanan selain ASI. Dengan demikian terdapat perbedaan 21. 2-3 bulan. Pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari terendah pada tahun 2010 terdapat di Papua Barat (17.7%). Kunjungan Neonatus Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi.

7 64.4 19.9 66.7 64.2 50.8 63.9 34.2 14.0 50.6 43.0 28.1 63.1 35.8 19. Tabel 4.4 29.8 17.3 54.0 38.5 37.3 65.2 25.6 57.2 31.6 25.2 36.5 9.0 39.3 28.6 58. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulasewi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 37 .9 29.0 42.5 26.9 45.3 49.4 33. Riskesdas 2007.0 64.9 75.3 39.6 58.2 69.4 15.2 43.2 70.9 42.0 42.9 55.6 32.3 53.3 66.5 44.1 66.2 48.8 44.1 32.6 15.8 46.1 26.6 Pemeriksaan neonatus Umur 8-28 hari (KN2) 2007 2010 36.9 52.0 39.3 28.3 21.5 54.3.7 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.4 37.0 18.8 45.7 12.2 54.6 72.4 34.0 68. 2-3 bulan.kapita.9 57.9 35.3 47.4 27.1 26. maupun 4-5 bulan.7 30.5 21.5 64.4 28. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Provinsi.3 22.4 50.8 84.4 62.2010 Pemeriksaan neonatus Umur 3-7 hari (KN1) 2007 2010 56.9 43.3 40.6 34.6 60.7 26.9 55.6 13.7 48.2 26.1 33.7 56.1 24.1 53.8 30. semakin menurun pemberian ASI eksklusif baik di kelompok umur bayi 0-1 bulan.1 52.4 27.6 35.0 68.1 41.0 12.4 51.2 58.8 30.1 66.5 66.8 62.8 26.5 59. Semakin tinggi pengeluaran per kapita rumahtangga.7 41.3 39.2 58.8 33.4 44.1 39.5 49.5 63.2 38.5 17.2 25.4 59.9 50.8 25.5 81.5 67.9 54.2 21.8 61.2 19.6 29.4 23.9 57.

3 31.6 62.2 52.5 52.4 50.1 67.2 29.5 2007 41.9 79.3 54.9 64.9 27.8 41.4. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Karakteristik Responden.2 41.3 46.4 74.0 60.7 61.5 50.3 32.7 35.7 40.9 37.8 63.0 31.5 33.5 36.4 36.1 -74.5 30.9 2010 45.0 51.5 49.1 60.1 2010 68.2 59.0 37.3 57.2 37.8 55.5 37.2 28.5 63.7 64.1 53.3 33.1 57.7 29. Riskesdas 2007.2 46.8 24.8 65.2 31.3 44. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja Ibu rumahtangga PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tkt pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 65.1 47.7 -54.2 33.8 31. 2010 Karakteristik responden 2007 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.4 55.5 42.3 66.7 51.7 38 .2 28.Tabel 4.9 66.0 60.6 33.0 69.5 62.7 52.7 39.1 52.9 67.6 29.0 59.7 57.0 58.5 39.3 44.3 41.7 32.7 59.4 65.

0 44.3 36.8 40.2 37. Riskesdas 2007.5 51. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tkt pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 INDONESIA Umur anak 2-3 bln 34.9 22.4 51.1 43.3 36.5 45.7 35.4 43. Persentase Pemberian ASI Eksklusif Menurut Umur Anak dan Karakteristik Responden.7 47.5 34.8 29.2 35.7 39.4 51.3 36.3 42.6 33.5.5 36.2 36.Tabel 4.0 38.2 44.4 4-5 bln 26.8 41.0 39 .5 25.7 34.3 36.0 42.3 30.3 21.0 37.7 32.3 30.8 50.3 33.3 0-1 bln 41. 2010 Karakteristik responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.0 44.0 45.7 50.6 38.9 29.2 31.6 39.4 33.0 45.2 29.8 40.8 41.4 32.6 23.9 34.1 18.5 71.1 52.3 40.6 34.4 37.2 31.7 30.

Goal 5 .6 3.44 45 -49 50 -54 55 -59 60 -64 65 + Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 4.0 40 .1 5.9 3. Gambaran Sampel Riskesdas 2010 Distribusi kelompok umur untuk keseluruhan sampel Riskesdas adalah sebagai berikut: Tabel 5.4 2.7 2.2 3. 15-49 tahun.7 2. selain Angka Kematian Ibu per 100.5 4.34 35 .3.8 10.1 4.1 4.2 8.19 20 .4 5.8 1.0 3.24 25 .1.7 8.5 1.5 5.1 7.4 8. Indikator untuk mencapai target tersebut.7 Total 8.2 2.6 50.8 3.2 5.2 3.5 100.4 5.39 40 . dengan memperhatikan indikator yang terkait dengan target menigkatkan kesehatan ibu. Distribusi Sampel menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Riskesdas 2010 Kelompok Umur (tahun) 0-4 5-9 10 . terdapat indikator yang dipantau untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah: Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan Angka pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun Berikut ini merupakan hasil analisis Riskesdas 2010.000 kelahiran hidup.3 4.1 1.3 6.2 4.14 15 .2 2.5 9.7 4.0 3.7 3.9 49.8 7.3 4.29 30 . Target sampel penduduk untuk mengetahui kesehatan ibu adalah perempuan pernah kawin usia reproduktif/WUS. Beberapa indikator terkait disajikan juga dengan membandingkan dengan hasil sebelumnya yang berasal dari Susenas maupun SDKI.6 3.9 3.MDG Meningkatkan Kesehatan Ibu Target: Menurunkan 75% kematian ibu dalam kurun waktu 1990-2015.1 4.1 7.

8 9.6 0.1 3.4 0.6 11. Status Perkawinan menurut Jenis Kelamin Riskesdas 2010 Status Perkawinan Belum kawin Kawin Cerai hidup Cerai mati Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 24.9 persen.1%).0 100.3 7.2 10.7 Total 45.Dari tabel di atas.9%.4 0.6 0.1 persen.3 0. Tabel 5.2.2 11.29 30 .3 7.5 10.5 100.0 96. Proporsi kehamilan terhadap total penduduk Riskesdas 2010 Kelompok Umur 10 .5 11.2 50.8 0.7 0.0 41 .0 11.24 25 .8 0.3 10.7 2. Proporsi kehamilan pada perempuan usia reproduktif 15-49 tahun adalah 2.4 0. dan kelompok umur 50-54 tahun (0. Distribusi status perkawinan seluruh kelompok umur penduduk adalah sebagai berikut: Tabel 5.0 Proporsi kehamilan dari sampel Riskesdas 2010 adalah 3.7 9.3 0.1 0.7 10.8 24.39 40 .4 1.1 0.1 0.1 13.3 20.8 12.44 45 -49 50 -54 55 -59 Total Apakah sedang hamil Ya Tidak 0.7 12.9 49.34 35 . proporsi perempuan usia reproduktif/WUS 15-49 tahun terhadap total sampel adalah 26.1 12. dan terlihat kehamilan terjadi pada kelompok umur 10-14 tahun (0.14 15 .1%).4 11.9 Total 13.0 3.4 25.6 50.19 20 .3.

Indonesia 2010 Variasi antar provinsi dapat dilihat pada tabel berikut. Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan Analisis dilakukan berdasarkan perbandingan antara persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih (dokter. Angka pertolongan kelahiran yang diperoleh dibedakan menjadi dua. dan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada 1 tahun sebelum survei. Provinsi terbaik dengan proporsi pertolongan kelahiran ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih adalah DI Yogyakarta (98. DKI Jakarta (96. Grafik 5.1. dan Maluku (52.8%).6%). Sedangkan provinsi yang perlu mendapatkan perhatian adalah Maluku Utara (33. bidan. diikuti Kepulauan Riau (97. dan Bali (92.4%). Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun terakhir. pada umumnya yang digunakan adalah angka pertolongan kelahiran berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan 1 tahun sebelum survei. yaitu berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada lima tahun sebelum survei. Grafik berikut menunjukkan proporsi pertolongan kelahiran yang terjadi pada 5 tahun sebelum survei. dan tercatat 0.1.2 persen.5%).7%).1%). 42 .1 persen tidak menjawab. perawat. Proporsi pertolongan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 80. dan 19. dan tenaga kesehatan lain) dengan dengan jumlah persalinan seluruhnya dan dinyatakan dalam persen. Untuk melihat kecenderungan.7 persen oleh bukan tenaga kesehatan.

4 2.9 3.8 88.4 81.0 0.6 9.0 3.4 57.0 0.5 76.1 21.8 72.0 0.8 78.1 56.Tabel 5.2 Tenaga Non Kesehatan 13. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tenaga Kesehatan 86.5 23.5 14.7 44.6 24.3 0.0 0.9 36.1 96.0 0.6 97.0 0.2 28.2 37.8 59.2 21.1 0.6 19.7 16.5 55.0 0.4 75.0 86.2 12.0 0.1 Sedangkan proporsi pertolongan kelahiran yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk kejadian kelahiran 1 tahun sebelum survei adalah 82.0 92.4 33.3 55.6 18.5 24.6 79.4 0.4 20.7 Tidak menjawab 0. Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun sebelum survei menurut Provinsi.0 0.1 39.6 42.4 57.0 0.1 83.9 40.0 0.0 0.0 0.3 83.2 0.4 80.0 0.0 0.5 42.0 0.7 91.0 0.0 0.0 0.0 52.0 0.5 75.0 0.6 60.6 66.9 8.5 85.5 44.0 0.0 0.0 0.9 81.4 90.9 16.1 60.3 20.0 7.6 98.1 18.0 0.9 43.0 47.4 0.3% dengan variasi antar provinsi yang 43 .5 79.0 0.0 0.4.0 13.9 78.1 63.0 0.

1 98.3 57.5 63.0 79.5 79.8 78.Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Nakes yang terjadi 1 tahun sebelum survei menurut Provinsi.4 56.2 49. Tabel 5.7 87.7 26.3 60.9 80.6 94.8 70.5 87.7 80.6 66.terbaik dan terendah hampir sama dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan 5 tahun sebelum survei.5 88.8 97.8 48.3 44 .2 95.0 66.8 64.6 87.4 79.4 85.9 82.2 95.5 94. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia % 92.0 52.1 64.5.4 95.1 76.

5%).9%). Riskesdas 2010. Kecenderungan Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan Indonesia 1990-2010 Sumber: Susenas 1990-2007. dan berbeda sangat lebar dibanding kelompok penduduk 20% teratas (kuintil 5) yaitu sebesar 94. Grafik 5. Secara nasional.7%). pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 69.1 persen.2%).4%. Pada kondisi saat ini. diikuti Kepulauan Riau (97. 45 .6%).7 persen tahun 1990 menjadi 82. dan Papua Barat (49. Terjadi disparitas yang cukup lebar untuk kelompok penduduk yang tinggal di perdesaan (72.Dari tabel di atas dapat dilihat provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan di atas 95 persen adalah DI Yogyakarta (98. Maluku (48. Berdasarkan tingkat pengeluaran. dapat dilihat kelompok penduduk 20% terbawah (kuintil 1). DKI Jakarta dan Bangka Belitung (95.3%).2%). serta Bali (95.2. dari Riskesdas 2010 menunjukkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan berdasarkan karakteristik penduduk. Sedangkan provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan masih di bawah 50% adalah Maluku Utara (26.3 persen pada tahun 2010. dapat dilihat kelompok penduduk yang tinggal di perkotaan.3 persen pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan. kecenderungan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan meningkat dari 40. 91.8%).

Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada grafik yang menunjukkan provinsi terendah adalah Sulawesi Tenggara (7. terjadi juga kesenjangan tempat melahirkan di perkotaan dan di perdesaan.2 persen.1%).4 30. dan masih banyak yang melahirkan di rumah (39. dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (95.0 Perdesaan Tingkat Pengeluaran 69.3 9.3. Indonesia 2010 Berdasarkan karakteristik penduduk.1 5.5 20.Tabel 5. Sementara kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1) melahirkan di fasilitas kesehatan sebesar 40. 2%).5 13.9 Kuintil 5 Tempat melahirkan untuk persalinan 1 tahun sebelum survei.9 28.7 Perkotaan 72. Grafik 5.5%. Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut tempat melahirkan.6 persen melahirkan di fasilitas kesehatan dibanding di perdesaan yang hanya 40. dan hanya 1. Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan menurut Karakterisitik Penduduk.0 Kuintil 4 94.5% di Poilindes/Poskesdes. Penduduk di perkotaan 77.6.5%).7 persen dibanding kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5) yaitu sebesar 81. Indonesia 2010 Tenaga Tenaga Non Karakteristik Penduduk Kesehatan Kesehatan Tempat Tinggal 91. sebagian besar sudah dilakukan di fasilitas kesehatan (59.8%). 46 .0 9.5 Kuintil 2 86.5 Kuintil 3 91. serta berdasarkan tingkat pengeluaran.6 Kuintil 1 79.

2 40.4 1.6 Karakteristik Penduduk Faskes Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 77.5 Grafik 5. Indonesia 2010 Polindes Rumah /Poskesdes /lainnya 0.2 2. Indonesia 2010 47 .7.8 0.7 53.9 45.4.9 63.2 72.1 81.8 21.0 35.1 17.8 0.Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut Tempat Melahirkan dan Karakateristik Penduduk.1 1.6 56.6 40.6 57.8 2.Tabel 5.0 27. Proporsi Persalinan Satu Tahun Sebelum Survei yang Melahirkan di Fasilitas Kesehatan menurut Provinsi.

Grafik 5.8. khususnya untuk perempuan usia 15-49 tahun.8% ibu hamil mengikuti pelayanan antenatal.2%). Dari sampel Riskesdas 2010. Berdasarkan karakteristik. Proporsi Perempuan Pernah Kawin usia 15-49 tahun dari Kehamilan Anak Terakhir Lima Tahun Terakhir Memeriksakan Kehamilan.6% perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun mempunyai riwayat kehamilan anak terakhir pada periode lima tahun terakhir.0%). Indikator yang dapat diperoleh dari Riskesdas adalah Akses (K1) yang dianalisis berdasarkan akses ibu hamil ke tenaga kesehatan dari semua riwayat kehamilan anak terakhir dari perempuan usia 15-49 tahun.6. Menurut riwayat kehamilannya anak terakhir tersebut.3% yang melakukan pelayanan antenatal minimal 1 kali pada trimester 1. dan tidak melakukan pemeriksaan (2. diperoleh 38. Lebih lanjut hanya 61. perlu juga dipantau akses pelayanan kesehatan reproduksi. persentase kunjungan antenatalnya lebih kecil dibanding dengan kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5). berikut. Proporsi meningkat berdasarkan tingkat pendidikan. minimal 1 kali pada trimester 2 dan. Dari analisis. Indonesia 2010. Akses ibu hamil ke tenaga kesehatan (K1) pada penduduk perkotaan jauh lebih baik dibanding perdesaan. pada umumnya kelompok petani/nelayan yang cakupan pelayanan antenatalnya lebih kecil dibanding kelompok penduduk bukan petani/nelayan. 48 . yang pada umumnya kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1). semakin banyak yang melakukan kunjungan antenatal ke tenaga kesehatan. Selanjutnya adalah K4 yang dianalisis berdasarkan jumlah pemeriksaan antenatal minimal 1 kali pada trimester I. sudah sebagian besar memeriksaan kandungannya (pelayanan antenatal) ke tenaga kesehatan (84. semakin membaik pendidikan penduduk. K1 dan K4 dapat dilihat pada Tabel 5. diketahui akses (K1) secara keseluruhan adalah 92. demikian juga untuk K4.Untuk meningkatkan kesehatan ibu.8%). Demikian halnya dengan tingkat pengeluaran. minimal 2 kali pada trimester 3. masih terdapat ibu memeriksakan kehamilannya ke dukun (3. Berdasakan pekerjaan. dan minimal 2 kali pada trimester 3 dari jumlah kehamilan perempuan usia 15-49 tahun. minimal 1 kali pada trimester II.

3 79.3 47. cakupan pelayanan antenatal ini dapat dilihat pada grafik 5.8 96.2% (2007) ke 61.0 88.4 63.5 88.7 berdasarkan SDKI 2007 dan Riskesdas 2010.5 Grafik 5. Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4. Indonesia 2007-2010 49 .3 48.5 97.1 89.8 persen (2010) dan K4 dari 65.7 70.5 87.1 63.3 50.3 62.6 95.0 99. Terjadi penurunan angka K1 dari 93.2 56.6 57.1 91.7 90.3 persen (2010).7 K4 73.Untuk kecenderungan.3 93.4 79.2 97.3 persen (2007) ke 92. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 K1 97.7 37.2 94.8.5 74. Tabel 5.3 98.6 84.Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Karakteristik Penduduk.9 50.0 75.7.

9 88.6 48.4 77.1 77.7 94.9.0 95. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia K1 93.8 92. sedangkan cakupan terendah untuk K1 adalah provinsi Papua Barat (72.1 32.4 21.1 59. Tabel 5.4 93.4 54.0 92.2 50.7 19.1 93.5 44.7 53.7 89.1 81.6 98.1 46. untuk cakupan K1 dan K4.3 50 .3 52.6 34.5 67.9 91.3 72.6 52.8 24.Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Provinsi.1 82.5 76.8 50.2 85.7 67.0%) dan terendah untuk K4 adalah provinsi Gorontalo (19.8 96.5 88.7 89.5 74.Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.4 98.4 73.7 54.1 84.7 88.6 35.6 35.4 41.5 44.8%).0 96.6 89.0 79.1 100.8 28.9 91.2 39.2 94.9 77.9. DI Yogyakarta merupakan provinsi terbaik.1 94.5 98.4 61.4 56.8 K4 61.4 58.8 75.3 85.8 77.2 93.7 83.

Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan pernah kawin 51 .9 persen perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi. pemakaian kontrasepsi untuk mencegah kehamilan ditanyanya pada perempuan pernah kawin usia 10-59 tahun dan pasangannya. Sedangkan perempuan berstatus kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin”. dan terdapat 19 persen tidak pernah menggunakan sama sekali. Menurut kelompok umur.8 terlihat 53.11. sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2. dan yang berstatus kawin. (Distribusi status perkawinan bisa dilihat pada tabel 5. Untuk kepentingan analisis. Pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun Pada Riskesdas 2010.2) Analisis dibedakan menjadi dua. Sedangkan menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 tahun Indonesia 2010 Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5. Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.10. sampel yang dipilih adalah perempuan usia 15-49 tahun yang berstatus pernah kawin. menurut pekerjaan adalah yang tidak bekerja. pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun.3%) dan terendah adalah provinsi Papua barat (31. ‘cerai hidup’ dan ‘cerai mati’. untuk mengikuti kecenderungan dari tahun 2007 yang sudah dilakukan pada SDKI 2007 ke tahun 2010 a.2. Perempuan berstatus pernah kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin’.8. Proporsi penggunaan alat kontrasepsi di perdesaan pada umumnya lebih tinggi dari perkotaan. Provinsi dengan persentase menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah bali (64. Grafik 5. Analisis pada Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun Pada Grafik 5.9%).

9 persen pada tahun 2007 menjadi 53.9 56.4 56.4 60.7 52.9 44. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 Tahun yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk.2 58.4 47. dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10. Tabel 5.3 60.7 32.8 54.10.6 50.3 45.9 persen pada tahun 2010.3 58.9.6 60.4 54.yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (42%).5 45.1 50. Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5.5 55.2 55.9 53. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Kelompok Umur 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 -49 Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 % 52.7 52 .4%).7 51. Ada terjadi penurunan dari 57.0 57.

2 11.6 16.8 24.6 18.7 25.9 49.7 23.2 21.9 Pernah/tidak menggunakan lagi 27.7 32.1 42.8 13.2 27.6 11.2 62.4 41.4 18.8 19.0 53 . Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sekarang menggunakan 41.5 24.1 28.6 63.7 16.8 27.0 56.1 57.3 51.6 54.4 12.4 60.8 62.7 43.0 24.4 21.2 42.9 23.6 25.1 29.2 49.4 29.0 18.11. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi.7 25.7 22.3 60.0 51.9 56.5 22.3 26.6 40.9 38.4 20.6 27.7 37.1 30.0 17.4 23.7 29.0 53.6 58.2 21.1 29.4 38.3 15.6 29.0 59.4 37.3 17.6 10.7 61.0 25.0 16.4 24.8 35.3 30.7 37.3 18.7 47.7 36.4 30.9 46.1 Tidak pernah sama sekali 30.0 38.8 29.3 15.9 30.2 27.8 31.1 12.6 27.Tabel 5.6 15.2 21.3 27.5 57.3 37.1 22.1 55.8 54.3 30.3 58.2 18.8 31.7 64.

0 2.2 12.9. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB.1 0. Demikian juga 54 . Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 42.1 Riskesdas 2010 2.3 5.0 1.1 persen tahun 2007 menjadi 46. Riskesdas 2010 Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5.8%).Grafik 5.1 1.4 2. penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih banyak yang tinggal di perdesaan (34.4 42.0 0.5 4.1 0.1 Sumber: SDKI 2007.1 persen tahun 2010. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara KB.12.6 1.13). Indonesia: 2007-2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan SDKI 2007 3.1 12. Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD.1 0. Suntikan dan amenorrhea laktasi.7 30. Riskesdas 2010 Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.0 0.3 0. Tabel 5.3 0.12 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010.5%) dibanding di perkotaan (27.0 31.4 1.2 0.1 46. Indonesia: 2007-2010 Sumber: SDKI 2007.

Sebaliknya pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (12. bervariasi.1 0.3 55 . Tabel 5.3 2.9%) dibanding di perkotaan (0. Sebanyak 12.0%) Pustu (4.4 0.9 5.2 0.1 0.9%) dibanding di perdesaan (11.5 2. diikuti di Puskesmas (12.7 0.9 1.3%).8 0.1 47. Tabel 5.9%).5 1.5%).1 45.5 52.5 0.1 12.9 2.14 dapat dilihat sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek (52.7 0.0 34. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat pelayanan KB.0 0.5 0.9 0. atau mendapatkan secara gratis di kantor desa.14.4 1. pada umumnya membeli di Apotik. dan di RS pemerintah (3.4 0. Indonesia 2010 Tempat Pelayanan KB RS Pemerintah RS Swasta RS Bersalin Puskesmas Pustu Klinik TKBK/TMK Dokter praktek Bidan praktek Perawat praktek Polindes/ Poskesdes Lainnya % 3.1 0.5%).9 27.penggunaan pengguna implant di perdesaan (1.1 12.1 11.7%). depot obat.5 2.7 4.13.0 4. dll.2 Perdesaan 1.0 12.5% menjawab lainnya.6 4. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal. Indonesia 2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan Perkotaan 2.1 Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB seperti pada tabel 5.

‘dilarang agama’ . serta yang menjawab lainnya 5.IND) pertanyaan Dc06. Bentuk pertanyaannya dapat dilihat pada kuesioner individu terlampir (RKD10.10 dapat dilihat ada 14. Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8.Pada Riskesdas 2010 ditelusuri juga alasan utama tidak menggunakan KB. Ada empat provinsi dengan persentase yang menjawab butuh. ‘takut efek samping’.0 persen yang sebenarnya membutuhkan akan tetapi tidak bisa terpenuhi. Selanjutnya yang menjawab belum atau ingin punya anak adalah 15 persen. Dari Grafik 5. ‘mahal’ . Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.10. dan Papua Barat (32. tapi tidak terpenuhi di atas 30 persen yaitu Maluku (32.9%). ‘sulit diperoleh’. tidak perlu lagi 11.8 persen. Grafik 5. dan ‘tidak menginginkan’.Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB. Indonesia 2010 56 .7%). dan ‘ingin punya anak’ c) Tidak perlu lagi adalah dari jawaban ‘tidak perlu lagi’ d) Lainnya adalah dari jawaban ‘lainnya Diluar klasifikasi ini adalah responden yang menggunakan KB.15. b) Belum/ingin punya anak adalah dari jawaban ‘belum punya anak’. Jawaban responden dari pertanyaan ini selanjutkan dikelompokkan menjadi empat: a) Butuh/tidak terpenuhi atau unmet need adalah dari jawaban ‘dilarang pasangan’.3%.7%).

6 10.0 11.6 5.7 19.3 Lainnya 7.2 17.5 18.7 12.7 64.3 60.2 15.7 14.5 21.9 32.5 37.9 22.7 25.4 57.8 11.1 38.5 13.9 8.0 5.2 5.3 16.0 11.3 8.8 35.0 38.0 Tidak perlu lagi 9.3 17.9 10.3 19.4 6.1 9.1 57.9 12.1 11.8 32.7 13.2 17.1 11.8 32.4 60.3 11.6 5.5 16.3 3.6 29.7 4.2 8.0 11.5 5.0 56.3 15.4 20.8 15. Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi.4 10.2 12.5 12.7 6.8 Menggunakan KB 41.9 46.9 8.7 9.8 10.0 59.2 9.8 20.3 58. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Butuh/tidak Belum/ingin terpenuhi punya anak 23.2 3.4 14.3 13.6 12.8 9.0 6.8 16.8 10.5 2.6 19.3 51.1 10.3 4.0 12.5 2.6 15.6 9.2 6.15.5 6.6 54.0 5.5 7.0 16.5 16.0 10.7 13.5 7.1 16.7 7.9 63.6 2.7 47.8 13.9 8.9 49.8 25.5 14.9 8.2 14.7 11.5 9.0 12.2 42.3 7.9 9.0 13.Tabel 5.8 12.0 12.0 10.0 11.2 62.0 19.2 5.0 16.2 9.2 10.0 51.1 9.2 6.0 14.4 4.6 19.7 14.3 10.0 18.5 14.7 43.8 62.1 55.7 36.0 11.9 25.3 17.9 57 .8 54.3 9.9 14.3 3.4 38.9 4.5 7.1 6.5 10.7 13.4 9.6 22.9 57.6 58.9 10.9 12.2 49.3 15.2 11.8 61.3 6.3 9.3 15.3 9.7 10.0 53.

4 persen tahun 2007 menjadi 56 persen pada tahun 2010 58 . Sedangkan menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP. Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5.0%) dan terendah adalah provinsi Papua barat (32.4 persen tidak pernah menggunakan sama sekali. Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5. Ada terjadi penurunan dari 61.4%).12.0%. dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10. Grafik 5. menurut pekerjaan adalah yang tidak bekerja. Analisis pada Perempuan berstatus Kawin usia 15-49 tahun Analisis yang sama seperti di atas. Pada grafik 5. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Berstatus Kawin Usia 15-49 tahun Indonesia 2010 Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5.4%). pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun.8%).11 dapat dilihat perempuan yang berstatus kawin dan menggunakan alat KB adalah 56. dilakukan untuk perempuan berstatus kawin umur 15-49 tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi.b.17. dan 18. Penduduk di perdesaan pada umumnya menggunakan alat kontrasepsi lebih tinggi dari perkotaan.11. Provinsi dengan persentase menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah Kalimantan Tengah (66. sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2. Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan berstatus kawin yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (41. Menurut kelompok umur.16.

8 57.2 53.3 57.0 53.6 47.1 48.3 59. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Kelompok Umur 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 -49 Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 % 54.1 62.16.5 60.9 58.1 45.5 59 .7 62. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Usia 15-49 Tahun yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk.4 56.9 53.4 61.6 55.9 57.5 35.Tabel 5.2 55.1 59.5 58.1 48.

5 28.4 16.4 56.1 39.0 Pernah/tidak menggunakan lagi 25.2 63.7 20.1 17.0 66.6 Tidak pernah sama sekali 30.5 15.6 15.5 58.2 59.9 28.1 17.3 27.4 25.2 23.5 28.8 56.1 13.6 62.4 21.3 26.3 59.7 20.8 60.2 62.6 27.4 24.5 32.5 53.7 14.7 20.1 22.3 29.5 39.8 36.6 65.2 51.4 17.8 25.8 15.5 56.7 24.5 40.2 30.1 40.1 16. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sekarang menggunakan 44.3 10.4 43.4 21.7 11.2 37.5 55.8 40. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi.2 30.4 60 .2 37.7 27.8 38.4 21.6 60.0 23.8 10.5 10.Tabel 5.9 59.5 53.1 38.17.7 22.2 23.4 21.8 18.0 15.7 17.1 27.3 50.0 26.5 51.6 24.8 65.2 18.0 31.7 20.5 26.8 28.1 22.7 48.0 41.9 25.3 27.0 15.2 11.3 25.5 27.6 63.4 37.9 28.2 22.6 45.0 62.

0 2.1 1.2 0.8 32. penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih banyak yang tinggal di perdesaan (35.19).12.8 1. Riskesdas 2010 Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.0 persen tahun 2010.18.4 2.4 0.6 persen tahun 2007 menjadi 44. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB.9%) dibanding di perkotaan (29.6 44.1 0.8 4.2 0.4 1.1 38.18 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 38. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara KB.0%).1 31. Riskesdas 2010 Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan perempuan berstatus kawin dapat dilihat pada Tabel 5.1 0. Demikian juga 61 .4 2.3 0.5 0. Tabel 5. Suntikan dan amenorrhea laktasi. Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD.9 5.3 1. Indonesia: 2007-2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan SDKI 2007 Riskesdas 2010 3.0 Sumber: SDKI 2007.1 13. Indonesia: 2007-2010 Sumber: SDKI 2007.0 0.2 12.Grafik 5.

1 0.8 0.1 29.2%).9 2. Sebaliknya pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (13.penggunaan implant di perdesaan (1.2 0.0 0.2 35. dan di RS pemerintah (3.0%) Pustu (4.4 6. atau mendapatkan secara gratis di kantor desa.9 0.1 45.19.20.4 0.1 0.2%).2 4.2 2. dll.6%).5 4. pada umumnya membeli di Apotik. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat pelayanan KB.1 12.1 0. Indonesia 2010 Tempat Pelayanan KB RS Pemerintah RS Swasta RS Bersalin Puskesmas Pustu Klinik TKBK/TMK Dokter praktek Bidan praktek Perawat praktek Polindes/ Poskesdes Lainnya % 3.6 2.1 13.9 Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek (52. Indonesia 2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan Perkotaan 2.8 0.5 52. Tabel 5.5%).9 1.5 2.9%).0 4.0 12. Sebanyak 12. depot obat.4%) dibanding di perdesaan (12.0 0. diikuti di Puskesmas (12.3 62 . Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal.9%) dibanding di perkotaan (0.4 1.4 0.1 12.1 Perdesaan 1.0 42. Tabel 5.9 1. bervariasi.6 0.3% menjawab lainnya.5 0.

Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8. dan Papua Barat (33. Ada dua provinsi dengan persentase teertinggi yang menjawab butuh.7%).13 dapat dilihat ada 13. Proporsi Perempuan berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB. tapi tidak terpenuhi di atas 30% yaitu Maluku (32.Analisis yang sama seperti dilakukan pada perempuan pernah kawin.9 persen yang sebenarnya membutuhkan KB akan tetapi tidak bisa terpenuhi Grafik 5. Dari Grafik 5.0%). 63 .21. Indonesia 2010 Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5. adalah unmet need pada perempuan berstatus kawin.13.3%).

6 16.1 19.5 9.9 16.6 7.9 15.8 3.8 7.2 39.0 18.8 15.4 16.0 7.8 4. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Butuh/tidak Belum/ingin terpenuhi punya anak 23.5 Menggunakan KB 44.5 9.6 4.5 5.7 7.0 23.2 3.6 33.0 64 .6 65.0 15.3 8.5 32.6 10.9 59.3 11.0 13.7 5.0 9.2 16.5 26.8 65.3 6.0 14.8 2.0 16.2 10.2 62.7 20.8 17.2 29.3 5.6 4.5 39.3 6.3 16.8 7.7 17.1 13.5 25.2 20.7 7.2 8.5 53.8 20.0 7.1 11.0 9.4 15.1 25.5 14.3 13.6 8.5 59.3 8.2 59.7 13.2 8.4 6.7 9.9 9.9 10.4 12.0 14.7 3.3 4.7 9.6 63.5 53.6 4.7 4.1 19.7 12.8 13.3 15.4 21.3 4.5 9.7 8.0 19.4 56.0 9.8 14.0 8.0 9.8 38.3 11.6 60.4 43.9 15.3 11.8 13.2 9.8 56.0 18.0 62.2 16.2 63.0 3.5 40.6 5.1 7.2 9.0 10.6 19.7 62.2 59.4 Tidak Lainnya perlu lagi 6.Tabel 5.8 3.0 14.7 19.8 36.8 60.1 10.1 38.6 45.7 19.21.9 22.2 5.7 13. Proporsi Perempuan Berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi.0 10.3 66.5 7.4 10.9 4.5 9.9 8.3 50.1 8.2 9.5 5.1 10.1 12.8 8.5 56.2 6.6 7.5 55.2 51.0 11.6 6.0 15.9 5.7 48.6 2.4 6.5 51.6 32.5 6.9 8.7 12.0 6.7 9.2 13.0 17.6 12.

ditanyakan juga pada responden perempuan pernah kawin berapa kali diberi imunisasi TT sebelum dan sesudah menikah. Imunisasi TT f.Selain dua kelompok indikator di atas. Dapat dilihat pada grafik 5.17. Pada grafik 5. Dari Riskesdas 2010.16. dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu 12 bulan terakhir hanya 4.6 persen perempuan yang melakukan pemeriksaan. sudah menikah pada usia yang sangat muda. Dari grafik 5.15 dapat dilihat sekitar 46. selanjutnya pada usia berikutnya proporsi perempuan menikah pertama ini semakin meningkat sampai dengan usia 19 tahun. 65 . Melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear e. 10 tahun. seperti terlihat pada grafik 5. pada perempuan hamil diketahui sekitar 31 persen mendapat imunisasi TT kurang dari 2 kali. Perempuan Indonesia.15.14. beberapa indikator yang dapat disajikan dari hasil Riskesdas 2010 untuk pertimbangan mempercepat peningkatan kesehatan ibu antara lain memperhatikan: c. Usia menikah pertama d.4 persen perempuan di Indonesia sudah menikah sebelum menginjak usia 20 tahun Grafik 5. Indonesia 2010 Informasi lain yang juga penting untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah rutinitas untuk melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear. Status gizi Dari Riskesdas 2010 dapat diketahui usia perempuan menikah pertama. Proporsi Perempuan Umur 10-54 tahun menurut Umur Menikah Pertama.

Dari grafik 5.17. Inndonesia 2010 Informasi lain yang juga sangat penting untuk kesehatan ibu adalah status gizi perempuan reproduktif yang akan melahirkan. Proporsi Perempuan Umur Reproduktif menurut Jumlah kali mendapat imunisasai TT.18 dapat dilihat ada kecenderungan pada 66 . Indonesia. 2010 Grafik 5. Proporsi Perempuan pernah Kawin umur15-49 tahun yang melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear.16.Grafik 5.

dapat disimpulkan bahwa kesehatan ibu pada prinsipnya dapat menjadi lebih baik jika program tetap mengupayakan peningkatan cakupan pelayanan kesehatan terutama pada pertolongan persalinan untuk perempuan hamil. Indonesia 2010 Berdasarkan analisis di atas. Perempuan dengan IMT <18. Grafik 5. Proporsi Perempuan pernah kawin menurut kelompok umur dan Status Gizi.5 adalah kurus dan mempunyai risiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). dll. 17. 67 . Sebaliknya dari grafik 5.18. Perempuan dengan IMT 25 + cenderung gemuk dan berisiko tinggi untuk terkena penyakit degeneratif seperti darah tinggi. Pelayanan KB diutamakan pada penduduk miskin yang membutuhkan agar jumlah kehamilan dapat diturunkan. diabetes melitus.perempuan kelompok umur 15-19 tahun. 2 persen dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) <18. dan juga dapat mengurangi pernikahan usia remaja serta perbaikan status gizi.5.15 dapat dilihat ada kecenderungan semakin bertambah umur proporsi perempuan dengan IMT 25 keatas semakin meningkat.

PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS Salah satu tujuan yang ingin dicapai MDGs dalam kurun waktu 1990-2015 adalah memerangi HIV/AIDS. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 2015 2.4. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015 Narasi berikut mengkhususkan analisis berkaitan dengan pengetahuan responden tentang HIV/AIDS. Riskesdas 2010 melaporkan sebesar 75 persen perempuan maupun laki-laki umur 15-24 tahun pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Sedangkan mengenai pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS. Gambar 6. Hasil Riskesdas 2010 dibandingkan dengan hasil dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 yang mempunyai metode pengumpulan data yang sama.1. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Target: 1. kepada responden ditanyakan hal-hal yang terkait dengan pengetahuan HIV/AIDS. Goal 6-MDG Memerangi HIV/AIDS. masalah malaria dan TB paru 6. dengan target mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015. Nampak adanya peningkatan pengetahuan pada perempuan sebesar 12 persen dan pada laki-laki sebesar 11 persen dibanding tahun 2007 (Gambar 6.1).1.1. Salah satu indikator yang digunakan untuk memantau pencapaian target dan dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 adalah prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS.1 Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar ttng HIV/AIDS menurut jenis kelamin Riskesdas 2007 dan 2010 68 .

3 77.7 Kuintil 4 68. yang berpendidikan lebih tinggi.1 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS.4 78.Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin. pada mereka yang masih sekolah.3 62.8 85.8 64.81 91.4 50.1 Kuintil 5 75.4 71.8 85.8 30.0 79.6 88.4 79.9 84.4 50.1) Tabel 6.6 66.1 Kuintil 3 64.5 63.8 53.7 69.3 56. yang tinggal di perkotaan.2 79.3 76.2 43.7 72.8 68.8 62.4 38.3 86.0 55.9 55.7 80.9 70. Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 Karakteristik penduduk 2007 Status kawin Belum kawin Kawin Cerai Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D1/2/3/PT Pekerjaan Tidak bekerja Sekolah Pegawai Wiraswasta Petani/ nelayan/buruh Lainnya Laki-laki 2010 Perempuan 2007 2010 64. dan yang bekerja sebagai pegawai dan wiraswasta.3 84.5 49.3 55.4 58.7 91.9 62.2 Indonesia 64.3 44.0 59. menurut karakteristik penduduk.8 74.9 65.4 48.8 82.5 41.9 70.7 61.3 67.1.2 27.1 56.9 56.0 89.9 Tingkat pengeluaran perkapita Kuintil 1 53.3 67.1.1 83.8 69 .1 69.0 63.2 94.2 73. (Tabel 6.1 84.3 67.9 82.0 83.1 51.2 40.0 91.4 23.3 78.8 79.4 84.8 49.9 27.1 90.2 73.5 Kuintil 2 58.2 33.4 51.9 68.7 33.2 90. juga pada kuintil/ pendapatan perkapita yang lebih tinggi.5 96.0 72.3 75.2 90.5 63.6 79.3 63.

NTB. Riskesdas 2010 70 .2 dan Gambar 6. Papua. Jawa Tengah.Tabel 6. Bali.1.1.2 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi pernah mendengar AIDS diatas rata-rata yaitu Yogyakarta. Kepulauan Riau.2 Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar menurut Provinsi.1. dan Jawa Timur. Gambar 6. Papua Barat. Sulawesi Utara. DKI Jakarta.

1 46 .4 75 .1 64 .6 81 .1 62 .8 55 .4 Pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS Untuk melihat kecendrungan hasil tahun 2007 dan 2010 dilakukan reanalisis data SDKI dan SKRRI 2007 dengan menggunakan empat variabel yang sama dalam Riskesdas 2010.1 82 .0 77 . (2) melalui gigitan nyamuk.8 64 .1 53 .2 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS menurut provinsi.Tabel 6.0 77 .2 81 .2 66 .1 64 .0 68 .1 72 .5 66 .5 66 .3 81 .8 57 .5 67 .7 95 .1 66 .2 72 .1 70 .1 86 .7 90 .0 75 . 2 variabel dari persepsi salah tentang penularan HIV/AIDS yaitu melalui (1) makan sepiring dengan orang yang terkena virus HIV/AIDS.8 55 .8 57 . Pengetahuan komprehensif merupakan komposit dari 4 variabel.6 89 .5 63 .6 56 .1 77 .3 79 .2 81 .3 81 .5 61 .3 79 .1 70 .3 83 .0 77 .4 62 .6 78 .7 71 .0 72 .4 75 .2 72 .7 67 .6 41 .1 66 .6 81 .1 82 .0 68 .3 66 .6 48 . dan 2 variabel tentang cara pencegahan HIV/AIDS yaitu 71 .4 71 .5 90 .7 93 .2 76 .6 67 .8 63 .4 Perempuan 74 .4 69 .6 89 .8 81 .4 63 .5 73 .1 94 .5 77 .5 67 .2 76 .5 77 .2 74.4 71 .3 67 .5 60 . Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 73 .1 94 .5 60 .0 89 .8 63 .1 62 .3 67 .7 58 .6 41 .8 Laki-Perempuan 73 .6 78 .4 76 .2 66 .7 74 .7 90 .6 69 .0 75 .1 53 .6 71 .7 58 .6 69 .9 76 .7 95 .1.1 77 .5 73 .

6 14 .0 20 .9 25 .2 13 .4 12 .2 23 .2 27 .5 72 .8 25 .6 19 .9 22 .3 15 .(3) berhubungan seksual dengan satu pasangan saja dan (4) menggunakan kondom saat berhubungan seksual.9 15 . yang berpendidikan lebih tinggi.8 22 . menurut karakteristik penduduk.3 33 .3 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS. yang tinggal di perkotaan.6 7 .6 19 .8 21 .3 4 . wiraswasta dan sekolah.9 9 .6 16 . (Tabel 6.0 13 . pada mereka yang masih sekolah.9 20 .1 10 .7 3 .8 11 .9 10 .4 23 . Riskesdas 2010 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif “baik” tentang HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin.8 11 .7 20 .1.9 18 .5 8 .4 22 .7 18 .5 24 .1.2 15 .6 19.8 15 .4 15 .0 25 .0 18 .3 10 . dan yang bekerja sebagai pegawai.1 16 .6 18 .3 22 .8 22 .0 16 .1 12 .6 18 .0 21 .8 21 .1 24 .6 18 .0 19 . juga pada pendapatan perkapita yang lebih tinggi.2 13 .3 6 .5 17.8 12 .9 8 .3) Tabel 6.1 13 .3 24 .3 32 .8 14 . Riskesdas 2010 Karakteristik penduduk Status kawin Belum kawin Kawin Cerai Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D1/2/3/PT Pekerjaan Tidak bekerja Sekolah Pegawai Wiraswasta Petani/ nelayan/buruh Lainnya Pengeluaran perkapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Indonesia Laki-laki Perempuan Laki-perempuan 20 .8 11 .6 22 .3 35 .5 23 .5 14 .4 17 .

3 menunujukkan 10 provinsi dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS di atas nilai rata-rata yaitu provinsi Bali. Papua Barat.1.Tabel 6. Penduduk 15-24 th dengan Penget. DKI Jakarta. RKD 2010 73 . Sumatera Utara.3 Prev. NTB.. DI Yogyakarta. Jawa Timur.1. Jawa Tengah. Riau. Komprehensif tentang HIV/AIDS menurut Prov.1. Bengkulu.4 dan Gambar 6. Papua. Gambar 6.

9 19 .4 18 .6 31 .6 16 .1 14 .4 7 .0 8 .3 19 .8 17 .6 15 .6 23 .0 16 .4) 74 .0 12 .5 7 .9 27 .7 25 .4 11 .5 27 .4 10 .1 16 .1 10 .3 12 . Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 16 .2 9 .8 18 .5 24 .5 Dibandingkan dengan hasil SDKI 2007.1 12 .1 19 .3 21 .8 19 .1 25 .0 24 .9 16 .6 24 .8 19 .1 17 .5 14 .6 31 .8 10 .6 18 .8 20 .8 24 .8 22 .4 12 .1 20 .0 10 .2 17 . menurut provinsi.2 26 . tampak adanya peningkatan prevalensi penduduk (lakilaki dan perempuan) umur 15-24 tahun belum kawin dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.7 18 .2 21 .2 10 .5 11 .5 8 .4 13 .4 15 .5 30 .2 17 .5 22 .2 32 .4 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.3 39 .Tabel 6.2 Laki-perempuan 16 .8 18 .9 9 .2 15 .5 11 .3 24 .9 18 .2 11 .8 Perempuan 16 .5 15 .2 17 .1 13 .5 7 .2 12 .1.4 21 . tetapi pada laki-laki kawin tampak sedikit penurunan pada tahun 2010 (Gambar 6.8 13 .9 12 .4 13 .4 17 .5 35 .3 12 .4 12 .9 8 .8 15 .1 11 .2 20 .0 14 .5 14 .6 9 .3 12 .1.0 7 .5 22 .6 15 .1 31 .7 16 .0 13 .8 6 .0 15 .6 8 .5 11 .5 13 .3 13 .

5 *5 variabel yaitu penggunaan kondom saat hub. seksual. mengetahui orang tampak sehat dapat terkena HIV. hubungan seksual hanya dengan satu pasangan. SDKI 2007 dan Riskesdas 2010 Catatan: Hasil analisis ulang pengetahuan komprehensif penduduk 15-24 tahun SDKI 2007* dengan 5 variabel.4 Kecenrungan Pengetahuan Komprehensif Penduduk 15-24 tahun tentang HIV/AIDS.1 9.Gambar 6. 75 . menolak dua persepsi salah yaitu HIV tertular melalui gigitan nyamuk dan dapat ditularkan melalui berbagi makan dengan ODHA. sebagai berikut: Status kawin Belum kawin Kawin Laki 13.7 Perempuan 15.1.7 14.

Laporan tahunan menunjukkan kasus terbanyak dilaporkan dari Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Timur. Kelebihan derivatif artemisinin ini adalah dapat mencegah penularan. Di Indonesia eliminasi malaria dimulai sejak tahun 2009. Selain itu malaria umumnya merupakan penyakit di daerah terpencil atau sulit dijangkau dan di negara miskin atau berkembang.6.2. Oleh sebab itu malaria menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi sasaran prioritas komitmen global di Millenium Development Goals (MDGs) yang dideklarasikan oleh 189 anggota PBB pada tahun 2000. dan memungkinkan sebagai penyakit emerging dan re-emerging karena adanya kasus import dan vektor potensial yang dapat menularkan dan menyebarkan malaria. ACT yang digunakan oleh program malaria nasional adalah kombinasi 76 .vivax. Kasus malaria yang dilaporkan umumnya masih merupakan malaria yang diagnosis hanya berdasarkan gejala klinis karena keterbatasan akses dan fasilitas pemeriksaan laboratorium. Untuk percepatan penanggulangan malaria dilakukan berbagai intervensi: kelambu berinsektisida untuk penduduk berisiko. dan pengobatan pencegahan pada ibu hamil1. Sejak tahun 2004. World Health Assembly (WHA) mentargetkan penurunan kasus kesakitan dan kematian malaria sebanyak =50% di tahun 2010 dan =75% di tahun 2015 dari angka pada tahun 2000. Dampak luas dari malaria yang berhubungan dengan 5 indikator MDGs lain dapat dilihat pada Tabel.2.6.1. sehingga tidak mengherankan malaria juga merupakan neglected disease. Pada pertemuan WHA 60 tahun 2007. Peran malaria pada indikator MDGs lain MDG 1 2 4 5 6 8 Tujuan Menanggulangi kemiskinan Mencapai pendidikan dasar untuk semua Menurunkan angka kematian anak Meningkatkan kesehatan ibu Peran malaria Memelihara kemiskinan Penyebab absen sekolah Penyebab kematian Ancaman kehidupan ibu dan anak Memerangi HIV/AIDS. pengobatan yang tepat untuk subjek terinfeksi malaria dengan artemisinin-based combination therapy (ACT). program malaria Indonesia secara bertahap telah menggunakan ACT sesuai rekomendasi WHO4.1. telah dihasilkan komitmen global tentang eliminasi malaria bagi setiap negara. PENYAKIT MALARIA Malaria merupakan masalah kesehatan dunia karena mengakibatkan dampak yang luas. penyemprotan rumah dengan insektisida. Malaria dan penyakit Menyebabkan kesakitan dan menular lainnya kematian Mengembangkan kemitraan global untuk Kerja sama dalam penanggulangan melalui Global pembagunan Fund Pada tahun 2005. Berbagai upaya penanggulangan telah dilaksanakan dengan menggalang berbagai sumber dana baik dari pemerintah dan non pemerintah (WHO dan Global Fund).2. Di Indonesia ditemukan semua jenis human plasmodia terutama Plasmodium falciparum and P. Tabel 6.

persentasi yang melakukan pencegahan. Semua anggota Rumah Tangga diperiksa darahnya dengan RDT (Entebe®) dan apabila disertai dengan riwayat demam dalam 48 jam terakhir juga dilakukan pemeriksaan malaria apusan darah tebal dengan pewarnaan Giemsa. Satu BS terdiri dari 25 RT. dan Riskesdas ke 2 tahun 2010 dirancang khusus sebagai bahan evaluasi pencapaian MDGs. penggunaan obat tradisonal/tanaman obat untuk malaria). sedangkan sampel untuk pemeriksaan darah malaria adalah sebanyak 823 BS yang merupakan sub sampel dari sampel Kesmas. Dari data Riskesdas 2010 dapat ditentukan Angka Kesakitan Malaria (Annual Parasite Incidence/API 2009-2010 dan Prevalensi malaria). Cakupan kelambunisasi berinsektisida pada balita.8 persen (Gambar.1). prevalensi malaria. Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS 15.4 persen. faktor pendukung lainnya (promosi.2. Demikian juga kasus dengan riwayat demam walaupun hasil RDT negatip akan dirujuk untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut. Sedangkan API di JawaBali adalah 0. prevensi. Angka kesakitan malaria Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 2. pemanfaatan pelayanan kesehatan. Pengobatan efektif pada balita. Data Riskesdas selain dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pencapain target MDGs. Sebelum dilakukan wawancara dan pemeriksaan darah malaria.6.artesunat-amodiakuin dan dihidroartemisinin-piperakuin. 77 . 1. Riskesdas pertama dilaksanakan pada tahun 2007. Apusan darah tebal malaria diperiksa di Puslitbang Biomedis dan Farmasi secara blinded untuk keperluan validasi hasil RDT. cakupan ACT. risiko terinfeksi malaria). Total sampel Kesmas adalah 2800 Blok Sensus (BS). dan pada Riskesdas 2010 data kesakitan malaria dilengkapi dengan pemeriksaan darah malaria pada semua responden. dan perkembangan hasil Riskesdas 2007. Semua kasus yang positip malaria dengan RDT dirujuk ke Puskesmas terdekat. Kuesioner yang digunakan ada yang khusus untuk responden Rumah Tangga (RT) untuk faktor pendukung (promosi/pengetahuan tempat pelayanankesehatan dan pemeriksaan darah malaria. semua responden harus menandatangani informed consent. dan pengobatan tradisional atau dengan tanaman obat). Setiap tiga tahun Badan Litbangkes melaksanakan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). dan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT). Data Riskesdas malaria dikumpulkan dengan dua cara yaitu wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas. tetapi juga dapat sebagai data dasar dan bahan evaluasi untuk pencapaian eliminasi malaria di Indonesia. dan kuesioner individu atau Anggota Rumah Tangga/ART (Annual Parasite Incidence/API. sedangkan artemeter-lumefantrin direkomendasi oleh klinisi. Pada Riskesdas 2007 hanya dikumpulkan data prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan hasil wawancara. tempat pemeriksaan/penentuan diagnosis malaria.

1 persen.8 2.5 1 0. API.8 persen dan yang tiga atau lebih adalah 10.Gambar.2. Riskesdas 2010 2.4 API pada tahun 1990 dan 2007 hanya merupakan API Jawa-Bali yang berasal dari fasilitas pelayanan pemerintah.1.3% (Bali) dan 31.2).%) terinfeksi malaria hanya satu kali dalam satu tahun terakhir. Rentang API Nasional adalah antara 0.5 2 1. Sebanyak 20 provinsi dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional (Tabel. 78 .1.16 permil) (Bappenas.17 permil) dan 2007 (0.6.4% (Papua). Jadi tidak mengherankan API Jawa-Bali dari Riskesdas 2010 (8 permil) lebih besar dari pada API tahun 1990 (0. Pada umumnya (50. 2009)8. Hal ini disebabkan karena dimasa lalu hanya Jawa-Bali yang sudah dapat mengkonfirmasi kasus malaria dengan pemeriksaan apusan darah malaria. sedangkan yang dua kali adalah 39.5 0 Jawa-Bali Nasional 0.6. Sedangkan hasil API Riskesdas 2010 adalah API Nasional (24 permil) dan dikumpulkan dari masyarakat yang dapat merupakan data dari fasilitas pelayanan pemerintah dan sektor swasta.2.

4 3.8 6.9 3.2 API malaria menurut provinsi.3 4.7 0.0 0.6 5.7 2.7 6.6 9.6 7.8 0. Riskesdas 2010 NO NAMA PROVINSI 1 NAD 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 8 Lampung 9 Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 22 Kalimantan Selatan 23 Kalimantan Timur 24 Sulawesi Utara 25 Sulawesi Tengah 26 Sulawesi Selatan 27 Sulawesi Tenggara 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Jawa-Bali Indonesia API (%) 2.6 5.9 1.7 10.2.7 0.8 2.Tabel 6.2 4.3 2.3 25.7 2.4 0.4 1.5 31.1 0.4 79 .0 2.7 2.8 5.0 1.2 4.0 2.6 1.6 10.2 1.

4 1.44 45 .Tabel 6.64 65 .2 2.9 2.3 2.3 2.9%).6%).24 25 .9%) 80 . responden laki-laki (2.6 2. API lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-54 tahun.2 2.3 1.9 3.2 2.3 2.5 2.0 2.8 1.3 API (%) Menurut Karakteristik Responden.0 2.7 2.9%).2.5 2.4 2.0 2.6 2.5 2.2 1. 2. responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (3.2 2.54 55 .0 2.14 25 . responden yang tinggal di perdesaan (2.7%. responden dengan pendidikan tidak tamat SD (2.9 2.9 2.0%).2 2.34 35 .2 2.9 Pada Riskesdas 2010. dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 4-5 (2.4 2.5 2. Riskesdas 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 API (%) 1.

dan gejala klinis (10.(Tabel 6. Riskesdas 2010 10 8 6 9. Gejala klinis malaria sangat beragam dan tidak spesifik dari asimptomatik sampai dengan gejala klinis berat.2.6 persen pada Riskesdas 2010.3).6 4 2 0. terjadi penurunan dari 1.6 0 Konfirmasi lab Gejala klinis Asimptomatik Bila dibandingkan dengan angka Prevalensi dalam satu bulan terakhir yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria.3). dan pada umumnya di daerah terpencil atau pedesaan serta ekonomi rendah (Tabel 6. Hal yang menarik adalah pada kelompok kuintil 4 dan 5 ternyata API nya > dari API nasional. Gambar 6.6%). Jadi Period Prevalence Nasional 2010 (10. Gejala klinis ini termasuk kasus asimptomatik atau tanpa demam tetapi minum obat anti malaria (0.2. dapat berhubungan dengan pekerjaan. Angka ini didapatkan dari kasus kesakitan yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria (0.2. 81 . Period Prevalence (%). Hasil ini tidak mengherankan karena malaria menyerang semua umur.2.2).7%) yang lebih tinggi dibandingkan dengan Period Prevalence Riskesdas 2007 (2. Oleh sebab itu penentuan kesakitan atau diagnosis malaria yang benar dan akurat adalah harus melalui konfirmasi pemeriksaan baku emas apusan darah malaria atau deteksi antigen antara lain dengan RDT.7 persen.2.2%).85%) dipengaruhi oleh prevalensi yang berdasarkan gejala klinis.39 pada Riskesdas 2007 menjadi 0. Prevalensi malaria Indonesia dalam satu bulan terakhir (Period Prevalence) pada Riskesdas 2010 adalah 10.6%) berdasarkan hasil wawancara (Gambar 6.6 0. Keadaan ini dapat disebabkan akses dan kemampuan kelompok dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah untuk melakukan pemeriksaan darah malaria terbatas.

5). Karakteristik ini tidak berbeda dengan karakteristik pada responden API kecuali pada kelompok tingkat pengeluaran perkapita yaitu kasus malaria lebih banyak ditemukan pada kelompok kuintil 1-3. responden laki-laki (10.).11.2.2. di perdesaan (0. Angka Prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria ternyata sama dengan angka Prevalensi malaria yang didapat dari hasil pemeriksaan dengan RDT pada saat dilakukan Riskesdas 2010 (Point Prevalence) yaitu 0.6%).8%).8%).9% .85 2007 2010 Sekitar 64 persen (21 provinsi) mempunyai angka Period Prevalence lebih besar atau sama dengan Period Prevalence Nasional.12. Period prevalence terendah adalah di provinsi Yoyakarta dan Bali (4.8%).7%) (Tabel.2%) (Tabel 6. pendidikan rendah (tidak tamat SD) (0.9% . Hal ini menunjukkan konsistensi temuan antara hasil wawancara dengan pemeriksaan RDT.0. (Tabel 6.7%).2%). Period Prevalence yang dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah dan Point Prevalence juga lebih tinggi pada kelompok umur 1-34 tahun (0.39 0. Prevalensi Malaria.8%).7% .6% (Tabel 6. sedangkan yang diagnosisnya diketahui berdasarkan konfirmasi pemeriksaan darah adalah kelompok kuintil 4-5 seperti pada API.6).2.0% – 12.Gambar 6.6 2.6%) dan tertinggi di Papua Barat (33. Riskesdas 2007 dan 2010 12 10 8 10. responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (13.0. responden yang tinggal di perdesaan (13%).0%). pekerjaan anak sekolah dan petani/ nelayan/ buruh (0.7 6 4 2 0 D DG 1.7%) dan pada kuintil 1 dan 3 (0. dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 1-3 (10.2. responden dengan pendidikan rendah/ tidak tamat SMP (12.4. 6. Pada Riskesdas 2010.2.7% . periode prevalence lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-64 tahun (10. Seperti halnya temuan pada karakteristik API.6) 82 .3.

03 3.31 15.6 2010 DG (%) 12.89 1.8 1.27 5.26 3.7 19.02 6.66 2.32 0.85 1.86 2.75 12.41 2.6 0.5 9.6 11.82 1.09 1.1 0.9 9.4 1.7 0.2 28.3 0.32 0.87 2.1 1.4 0.55 0.05 0.3 12.5 8.6 7.3 4.23 1.4 0.65 2.4 0.0 15.8 12.6 13.7 4.4 10.5 0.65 12.06 0.01 4.3 16.85 D (%) 0.0 9.5 9.73 1.12 7.81 0.1 0.3 3.6 7.79 0.6 14.2.07 0.9 33.7 0.88 0.04 3.41 0.2 10.Tabel 6.2 14.14 1.3 6.51 0.1 28.39 2007 DG (%) 3.10 0.86 1.6 20.36 1.10 2.08 0.2 11.45 2.41 0.22 5.7 4.88 0.9 0.51 0.8 2.0 11.73 1.41 1.32 0.9 1.1 0.2 0.0 0. Riskesdas 2007 dan 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nama Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D (%) 1.5 1.0 0.06 7.7 Indonesia 83 .5 1.4 0.1 0.3 10.23 26.37 2.1 0.5 1.31 3.5 18.63 7.42 0.67 2.1 10.18 0.09 1.30 0.6 29.4 Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Provinsi.09 0.37 1.0 12.1 0.16 2.58 0.31 1.14 18.7 7.4 9.1 0.07 0.87 3.07 0.3 22.42 7.9 1.

9 9.6 0.9 10.37 1.8 0.10 1.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Pedesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 2007 D (%) DG (%) 0.69 2.1 10.0 11.4 0.0 10. Riskesdas 2007 dan 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .38 1.6 0.6 9.44 45 .7 8.9 5.7 10.7 0.20 3.54 55 .0 10.2 84 .43 1.5 8.49 2.31 1.38 1.5 0.7 0.6 9.8 11.08 11.75 3.6 12.74 2010 D (%) DG (%) 0.95 4.26 0.57 1.08 1.70 2.72 2.0 1.8 13.5 0.0 11.2 0.0 12.05 2.05 2.62 3.36 1.9 10.14 1.4 10.75 1.54 3.64 65 .3 0.83 1.14 15 .55 1.52 0.42 1.6 0.37 1.8 0.13 2.31 1.5 0.19 1.66 2.35 3.2 12.46 3.5 0.Tabel 6.7 0.19 1.2 9.5 6.59 1.5 0.90 2.4 0.41 1.5 Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Karakteristik Responden.7 0.48 1.9 0.4 0.4 0.4 0.88 1.7 0.05 1.97 2.85 1.0 12.2 10.14 1.50 1.09 3.5 0.35 1.7 11.42 1.64 2.83 3.7 11.7 8.4 10.7 0.83 2.04 2.6 0.22 1.8 10.83 2.4 0.02 2.57 1.66 1.5 13.5 0.53 1.2.34 35 .24 25 .9 7.69 3.12 2.6 0.

4 0.TABEL 6.2. Riskesdas 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .6 Point Prevalence Menurut Karakteristik Responden.7 0.24 25 .7 0.5 0.7 0.6 0.6 0.14 25 .7 0.6 0.7 0.6 0.7 0.5 0.8 0.7 0.5 0.34 35 .8 0.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 NASIONAL Point Prevalence (%) 0.64 65 .6 0.7 0.4 0.5 0.54 55 .6 0.44 45 .3 0.8 0.3 0.2 0.6 0.6 0.6 85 .6 0.8 0.6 0.

dan ketersediaan ACT perlu dievaluasi untuk mendapat pengobatan yang efektif. Sosialisasi dan pelatihan ACT sangat perlu digalakkan.6 21.2. Pengobatan Efektif Malaria. 6. Selain ACT. Jadi penderita malaria semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33. dan 83. serta 89.1%. pengobatan yang efektif perlu ditunjang diagnosis yang akurat dan cepat terutama pada kelompok berisiko yaitu balita. 6. penggunaan ACT di Indonesia hanya mencapai 49.4% yang diminum dengan dosis lengkap. Pengobatan akan lebih efektif apabila pengobatan diberikan dalam 24 jam menderita demam atau sakit. 86 . sedangkan pada balita hanya 21.9% (Tabel. dihidroartemisin-piperakuin (sejak tahun 2009 dan dimulai di Papua).9 Dari hasil wawancara. ACT yang digunakan oleh program adalah artesunat-amodiakuin (sejak tahun 2004).6%.3%. dan hanya 75. dan artemeter-lumefantrin yang direkomendasi oleh klinisi (sejak tahun 2009).4. ACT program diminum dengan dosis tunggal harian selama 3 hari. Khusus pada balita. Jadi yang dimaksud dengan pengobatan efektif menurut WHO adalah pengobatan malaria yang diberikan dalam 24 jam pertama demam atau sakit dengan ACT dan obat diminum dengan dosis lengkap. Gambar. 80.5. Riskesdas 2010 35 30 25 20 15 10 5 0 Semua kelompok umur Balita 33.% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34.% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam.6% yang diminum dengan dosis lengkap. Pengobatan efektif Obat antimalaria yang direkomendasikan oleh program Malaria adalah dengan menggunakan Artemisinin Combination based Therapy (ACT).7).6.2.2.

5% menjadi 12.1 32.5 89. Riskesdas 2010.2 32.2.2. Cakupan Kelambunisasi.1% menjadi 26.7%) (Tabel.5 38.7 5.1%) dan khusus pada balita (dari 38. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12.5% dan dari 7.3 80.1%.0%.0 12. jenis kelambu yang direkomendasikan adalah kelambu yang telah diobati atau dipoles dengan insektisida permetrin. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010. Riskesdas 2007 dan 2010 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Balita Semua umur Balita Semua umur 7.1 Berinsektisida 16.5.2% menjadi 32. cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26.7 Cakupan Penderita Malaria yang Mendapat Pengobatan Efektif.1 75. Sedangkan cakupan total kelambunisasi yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita terjadi kenaikan yaitu dari 5.6 Balita 21.6 49. Cakupan kelambunisasi Penggunaan kelambu dapat mencegah infeksi malaria melalui gigitan nyamuk.9 34. 6.7% menjadi 16.Tabel 6.5% pada responden semua kelompok umur.0%. Gambar. ACT Cakupan (%) ACT dosis lengkap Proporsi (%) Mendapat ACT Mendapat ACT dalam 24 jam Pengobatan 3 hari & diminum habis Semua umur 33.7 26.6.2.6 83.8). dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 16. Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 32. 87 . terjadi penurunan cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida (dari 32. Untuk meningkatkan daya proteksi.4 3.5 Semua kelambu 2007 2010 Dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2007.7%.

Tabel 6.2.8 Cakupan kelambunisasi, Riskesdas 2007 dan 2010 Jenis Kelambu Tahun 2007 Semua umur Balita 32,1 5,5 38,2 7,7 Tahun 2010 Semua Balita umur 26,1 12,5 32.7 16,0

Kelambu dengan dan tanpa insektisida Kelambu dengan insektisida

Penurunan cakupan total kelambunisasi dan khusus pada balita dapat disebabkan karena program lebih mengutamakan kelambu yang diproteksi insektisida sehingga meningkatkan cakupan total kelambu yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita. Walaupun demikian cakupan kelambunisasi protektif dengan insektisida masih perlu ditingkatkan terutama di populasi dengan risiko malaria tinggi atau daerah endemis malaria dan khususnya pada kelompok khusus balita dan ibu hamil. Dari uraian di atas dapat disimpulkan: 1. Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2,4 persen, sedangkan API Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0,8 persen. Demikian pula Period Prevalence malaria pada tahun 2010 (10,7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2,85%). Angka Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point Prevalence (0,6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian. 2. Pengobatan efektif malaria pada balita hanya 21,9 persen. 3. Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7,7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010.

88

6.3. TINGKAT PREVALENSI TUBERKULOSIS Riskesdas 2010 bertujuan untuk memberikan hasil antara lain Angka Prevalensi Nasional TB 2010 dan Proporsi pemanfaatan OAT DOTS oleh penderita TB yang merupakan salah satu komponen untuk memperoleh gambaran pemanfaatan Program Directly Observed Treatment of Short-course (DOTS) di Indonesia. Kedua data ini merupakan bagian dari target nomor 6 pada Millenium Development Goal’s (MDG’s) dan dapat memberikan gambaran mengenai tata laksana TB di Indonesia. Angka Prevalensi Nasional TB pada Riskesdas 2010 diperoleh dengan cara wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana kepada responden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis menderita TB Paru melalui pemeriksaan dahak dan atau foto paru oleh tenaga kesehatan/nakes (dokter/perawat/bidan) untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB berdasarkan diagnosis (D). Kepada responden juga ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah menderita batuk berdahak = 2 minggu disertai satu atau lebih gejala: dahak bercampur darah/ batuk berdarah, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, dan demam > 1 bulan untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB berdasarkan gejala (G). Definisi operasional untuk Prevalensi TB menurut WHO adalah Angka penderita TB Paru positif pada 100.000 populasi berusia 15 tahun atau lebih. Sementara definisi operasional untuk TB Paru positif menurut International Standard for TB Care (ISTC) yang telah diadopsi oleh Indonesia mulai tahun 2006 adalah suspek TB yang telah positif diuji secara mikroskopis BTA (Bakteri Tahan Asam) apusan dahaknya dengan minimal pembacaan terhadap apusan dahak yang dikumpulkan dua kali atau lebih baik tiga kali (sewaktu, pagi, sewaktu) dan paling sedikit satu kali (pagi). Pada Riskesdas 2010 berdasarkan diagnosis nakes (D) adalah sebesar 0,7 persen sementara berdasarkan gejala (G) adalah sebesar 2,7 persen. Angka Prevalensi Nasional TB hasil gabungan D dan G (DG) menjadi 3,3 persen. Bila mengacu pada definisi operasional WHO dan ISTC maka data prevalensi yang mendekati kenyataan adalah data yang berasal dari diagnosis nakes (D), yaitu sebesar 0,7 persen. Prevalensi Nasional TB (D) cenderung meningkat sesuai dengan bertambahnya usia dimana angka tertinggi berada pada kelompok usia 55-64 tahun (1,3%) dan terendah pada kelompok usia 15-24 (0,3%). Prevalensi penderita laki-laki adalah 0,8 persen dan perempuan 0,6 persen dengan prevalensi penderita yang berada di kota sama dengan di desa sebesar 0,7 persen, serta juga menunjukkan kecenderungan menurun dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan dimana prevalensi paling rendah terdapat pada tingkat pendidikan tamat SMA (Tabel 6.3.1). Prevalensi TB tertinggi berdasarkan jenis pekerjaan ditemukan pada kelompok pekerjaan Petani, Nelayan dan Buruh sebesar 0,9 persen dan terendah pada kelompok Sekolah dan POLRI/TNI/Pegawai sebesar 0,4 persen. Berdasarkan tingkat pengeluaran perkapita prevalensi TB yang berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan didapati prevalensi terendah pada kuintil 5 (0,6%) dan tertinggi pada kuintil 3 dan 4

89

(0,8%). Sedangkan angka prevalensi TB berdasarkan diagnosa dan gejala (DG) didapati prevalensi tertinggi pada kuintil 1(3,5%) dan terendah pada kuintil 5 (3,9%) (Tabel 6.3.1). Tabel 6.3.1 Prevalensi TBC menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Prevalensi 2007(%) D DG Prevalensi 2010 (%) D DG

Kelompok umur (tahun) 15-24 0,21 0,60 0,3 2,6 25-34 0,32 0,83 0,6 2,8 35-44 0,44 1,10 0,7 3,1 45-44 0,59 1,45 0,9 3,7 55-64 0,70 1,91 1,3 4,7 65-74 1,08 2,62 1,2 4,7 >74 1,10 2,75 1,1 5,1 Jenis kelamin Laki-laki 0,44 1,08 0,8 3,1 Perempuan 0,35 0,90 0,6 2,4 Tipe Daerah Perkotaan 0,36 0,77 0,7 3,1 Perdesaan 0,42 1,12 0,7 2,4 Pendidikan Tidak pernah sekolah 0,88 2,42 1,1 4,9 Tidak tamat SD/MI 0,53 1,46 1,0 4,7 Tamat SD/MI 0,39 1,02 0,9 3,7 Tamat SLTP/MTS 0,31 0,73 0,6 2,7 Tamat SLTA/MA 0,29 0,62 0,5 2,3 Tamat PT 0,27 0,60 0,6 1,8 Pekerjaan Tidak bekerja 0,62 1,40 0,8 3,2 Sekolah 0,18 0,49 0,4 2,5 TNI/ Polri/Pegawai 0,27 0,56 0,4 2,1 Wiraswata/ Layan Jasa/ Dagang 0,42 0,89 0,7 2,8 Petani/Nelayan/Buruh 0,55 1,60 0,9 4,2 Lainnya 0,49 1,17 0,7 3,1 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0,40 1,07 0,7 3,5 Kuintil 2 0,43 1,07 0,7 3,4 Kuintil 3 0,42 1,01 0,8 3,4 Kuintil 4 0,38 0,94 0,8 3,1 Kuintil 5 0,34 0,82 0,6 2,9 Data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2007 tidak dapat dibandingkan dengan data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2010. Hal ini disebabkan karena penentuan sampel BS pada Riskesdas 2007 berbeda dengan Riskesdas 2010 serta pertanyaan mencakup data diagnosa dan gejala pada kuisioner terstruktur juga berbeda. Menjadi catatan bahwa dengan ruang lingkup pertanyaan yang lebih rinci pada Riskesdas 2010 angka Prevalensi Nasional TB menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

90

104%). hal ini dapat dilihat pada grafik 6. Beberapa provinsi memiliki prevalensi di atas angka nasional.244%). diikuti oleh Provinsi Sulawesi Utara (1. Metode active case 91 .1 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2010 Perbedaan Angka Prevalensi TB pada Riskesdas 2007 dan 2010 dapat dilihat pada tabel 6. Kecendrungan meningkatnya angka Prevalensi Nasional TB bila dibandingkan antara hasil Survei Prevalensi TB 2004 (0.275%) dan pada tahun 2010 turun menjadi 244 kasus/100. Data ini diperoleh berdasarkan hasil laporan dari fasilitas kesehatan yang tergabung dalam program DOTS di seluruh Indonesia. yaitu tertinggi di Provinsi Papua (1.2 di bawah ini. Data prevalensi sebelumnya yang menggunakan uji konfirmasi laboratorium adalah data Prevalensi Nasional hasil Survey Prevalensi TB pada tahun 2004 yang memberikan angka prevalensi Nasional TB berdasarkan pemeriksaan mikroskopis BTA terhadap suspek adalah sebesar 104 kasus/ 100.5%).3.3%) serta angka terendah terdapat di Provinsi Sumatera Selatan.Tuberkulosis Paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 0.1% terhadap suspek) dan hasil Riskesdas 2010 (0. Data WHO Global Report yang dicantumkan pada Laporan Triwulan Sub Direktorat Penyakit TB dari Direktorat Jenderal P2&PL tahun 2010 menyebutkan estimasi kasus baru TB di Indonesia tahun 2006 adalah 275 kasus/100.000 penduduk/tahun (0. Lampung.000 penduduk/tahun (0. Grafik 6.1 di bawah ini.3%).3%) dan Banten (1. DIY dan Bali (0.7 persen.3.000 penduduk (0. Meskipun terjadi peningkatan Case Detection Rate dan Cure Rate yang tinggi setiap tahunnya tetapi percepatan penyebaran penyakit di masyarakat masih lebih tinggi.7% pada populasi) dapat hendaknya menjadi perhatian yang serius bagi Program TB di Indonesia.3.

5 0.0 4.7 0.00 1.7 2.1 3.7 5.12 0.4 2.23 0.6 3.56 0.11 0.7 DG 3.42 0.02 0.71 0.3 0.99 Prevalensi 2010 (%) D 0.69 1.2 2.2 3.8 0.4 DG 1.5 7.5 0.03 1.4 2.6 0.9 0.6 2.6 0.75 0.5 7.03 1.58 0.58 1.6 0.1 1.34 0.finding terhadap populasi usia 15 tahun ke atas yang diterapkan pada Riskesdas 2010 memberikan kenyataan tentang hal ini dimana kasus TBC di masyarakat masih sangat tinggi.48 1.47 0.01 0.4 0.6 0.34 0.23 0.8 1.6 3.9 0.43 0.26 0.89 0.8 5.3 4.3 0.4 2.49 0.3 0.63 0.40 0.3 0.19 1.38 0.83 1.47 1.54 2.4 5.05 0.5 0.2 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2007 dan 2010 PROVINSI Prevalensi 2007(%) D 0.29 0.62 1.8 0.6 3.37 0.4 0.7 7.3 0.3.4 1.02 1.0 0.7 4.0 4.25 0.53 1.73 0.36 0.55 1.13 0.47 0.2 2.3 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92 .6 4.0 0.38 0.0 3.73 0.31 0.6 3.11 0.4 5.7 1.9 3.4 1.9 0.33 0.24 0.07 2. Tabel 6.86 0.2 0.6 0.4 4.47 2.15 0.21 0.6 1.36 1.9 5.22 1.3 0.3 4.40 0.43 0.18 0.24 1.7 0.1 3.98 1.7 0.45 0.00 0.31 0.82 0.8 2.31 0.4 1.

104 0. Persentase Pemanfaatan Program DOTS diperoleh dari data diagnosis oleh nakes (D) yang digabungkan dengan data pemanfaatan OAT DOTS (Kombipak atau Fixed 93 . Pirazinamid (Z). OAT Kombipak untuk program TB jangka pendek selama 2 bulan adalah Isoniazid (H). Rifampisin (R).15 0. Pemberian INH dan Etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yang keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut.1 0. termasuk pengawasan langsung pengobatan serta Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu diikuti Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Kombipak IV untuk fase sisipan. jenis obat yang digunakan adalah Kombipak/FDC (Fixed Doses Combination) atau non Kombipak/FDC?”. Pemberian OAT adalah berdasarkan Berat Badan. kecepataan diagnosis (diagnosis dini) dan terapi pengobatan yang dilakukan. Rifampisin. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat.Grafik 6.3. Rifampisin. Pirazinamid dan Etambutol.3 0.25 0. Pada Riskedas 2010.275 0.244 Indonesia telah mengadopsi program DOTS dari tahun 1994 dimana terdapat lima komponen dan strategi utama DOTS yang direkomendasikan untuk penanggulangan TB yaitu: Komitmen politik. Kombipak III untuk fase lanjutan. Definisi operasional untuk obat Kombipak terdiri atas: Kombipak I dan Kombipak II untuk fase awal. 3 obat yaitu INH.05 0 2004 2006 2010 0. dan 4 obat yaitu INH.2 0. Proporsi jumlah penderita TB yang memanfaatkan OAT DOTS diperoleh dari wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana pada responden yang telah didiagnosis TB oleh nakes dalam 12 bulan terakhir ditanyakan “apakah jika berobat. Fase lanjutan adalah INH dan Rifampicin yang diberikan selama 4 bulan. pirazinamid. terutama penemuan kasus. dan Ethambutol (E). Penurunan prevalensi TB sangat tergantung pada implementasi program DOTS di lapangan.11 Definisi operasional untuk OAT Fixed dose combination terbagi atas 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. Streptomisin (S). Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya.2 Data Prevalensi Nasional TB Indonesia dalam persen 0.

Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua Barat (1. Berdasarkan pendidikan prevalensi tertinggi pada kelompok yang tidak pernah sekolah sebesar 1.1 persen dan terendah pada kelompok tamat SMA sebesar 0.8 83.9 persen dan terendah pada kelompok yang sedang sekolah dan kelompok 94 . nelayan. dan buruh sebesar 0. Hasil Riskesdas 2010 untuk Persentase Pemanfaatan OAT DOTS adalah sebesar 83. Keterlibatan institusi lainnya dalam penanggulangan TB sampai dengan 2009 adalah 13 persen pada Lapas/Rutan. 10 persen pada TB di tempat kerja dan pada RS Angkatan Darat sebanyak 35 persen yang dilibatkan melaksanakan penanggulangan TB menggunakan strategi DOTS. Prevalensi tertinggi pada kelompok umur 45-54 tahun (0. dan Sumatera Selatan (0. Grafik 6. Berdasarkan pekerjaan prevalensi tertinggi dapat ditemukan pada kelompok dengan pekerjaan pertani.3).3. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0. Data ini ini sejalan dengan informasi yang diberikan Subdit TB P2&PL tentang meningkatnya keterlibatan rumah sakit dalam program TB DOTS.5 persen.2 OBAT DOTS NON DOTS Hasil ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66.8 persen dan pada perempuan 0. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa.7 persen dimana terjadi peningkatan Angka Prevalensi dibandingkan dengan Riskesdas 2007 (0.6 persen. Berdasarkan jenis kelamin prevalensi pada laki-laki sebesar 0. termasuk pemberian dukungan dan pelaksanaan Standar Internasional untuk Pelayanan TB (ISTC = International Standard for Tuberculosis Care) yang semakin ditingkatkan dari tahun ke tahun dengan memperkuat jejaring eksternal dan internal.1 Proporsi Kasus TB Yang Diobati OAT Program DOTS pada Riskesdas 2010 26.Dose Combination) pada responden TB dalam 12 bulan terakhir.3%).2 persen.4%).8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen. Bali.5%) dan terendah Provinsi Lampung.25 persen (91% keberhasilan OAT DOTS terhadap 72. DIY.9%) sedangkan terendah pada kelompok umur 15-24 tahun (0.

dengan pekerjaan TNI/Polri/Pegawai sebesar 0. Sedangkan berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita prevalensi TB tertinggi ditemui pada kuintil 3 dan 4 (0.2 persen. Persentase pemanfaatan OAT DOTS hasil Riskesdas 2010 adalah sebesar 83.8%) dan terendah pada kuintil 5 (0.6%).4 persen.25 persen (91% keberhasilan OAT DOTS terhadap 72.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen 95 . Angka ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66.

Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung. Akses terhadap air perpipaan Dalam laporan MDGs 2007 dan 2009. sumur pompa. nonperpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung disajikan dalam tabel 7.2. AKSES AIR MINUM Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 10 (menurunkan separuh proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015) terdapat 2 indikator pemantau pencapaian target.5. 96 . non perpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi dasar 1. dan akses terhadap penyediaan air minum. Air perpipaan terlindung bersumber dari air leding. dan air sungai.Goal 7 – MDG Air Minum dan Sanitasi layak Target Menurunkan hingga separuhnya penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi dasar pada 2015 Indikator yang dipantau: 1. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak 2. mata air tidak terlindung.1 dan tabel 7. mata air terlindung. Dalam memantau akses air minum dapat digunakan 3 pendekatan. akses terhadap air perpipaan digunakan sebagai salah satu indikator akses terhadap air minum. sumur gali terlindung. yaitu akses terhadap air perpipaan. yaitu proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap sumber air minum yang terlindungi dan berkelanjutan dan proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak. akses terhadap sumber air minum terlindung. air non-perpipaan terlindung berasal dari air kemasan. Indikator ini terdiri dari 3 jenis. a. air isi ulang dan lainnya. air perpipaan terlindung. dan air hujan. Sedangkan sumber air tidak terlindung yaitu sumur tidak terlindung.

55 24.69 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Keterangan: * Air ledeng ** Sumur pompa.85 51.16 66.69 47.97 0.65 32.28 18.28 14.02 57.29 52.50 17.96 44.64 40.48 13.00 47.22 34.79 37.61 27.41 61.16 34.98 42.22 43.11 40.64 5.19 54.43 27.21 35.10 21.75 33.1.50 27.79 38. Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut provinsi.58 14.87 48.39 57.41 66.14 16.51 45.30 41.76 47.41 16.03 43.61 33. air kemasan 97 .59 17.03 15.89 9.74 18.17 16.81 25.72 45.24 40.99 21. air hujan.65 29.89 33.09 37.66 20.15 37.85 12.47 8.44 2.78 38.02 29.22 59.64 25.06 39.39 21.54 39.77 63.81 36.40 50.09 21.01 65.43 17.27 8.59 15.75 42.26 63.00 27.19 44.05 40.45 43. sumur gali terlindung.60 18.34 19.72 18.90 5.Tabel 7.58 51.96 27.53 37.23 11.15 44.14 56. mata air terlindung.18 29.95 7.25 29.04 15.96 8.16 18.20 38.93 74. Riskesdas 2010 Provinsi NonNon Perpipaan Perpipaan Perpipaan Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung** 48.35 51.43 15.19 61.

Tabel 7. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84. sumur gali terlindung.74%). air hujan. Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan.76 51.2. 98 .79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0.72 53.49 30.79 57.38 15.30 27. mata air terlindung.75%).93 25. Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga.55 20.10 12.91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45. air kemasan Dari tabel di atas menunjukkan proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44.15 27. angka tersebut mengalami sedikit peningkatan seperti terlihat dalam gambar berikut.75 17.63 24.98 18.25 28. Riskesdas 2010 Non Perpipaan Perpipaan Non-Perpipaan Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung** Daerah Perkotaan Perdesaan Pengeluaran Quintil-1 Quintil-2 Quintil-3 Quintil-4 Quintil-5 26.99 59. Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56.50%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29.99 Keterangan: * Air ledeng ** Sumur pompa.28 16.85%).69 persen.89 60.47 52.83 persen yang akses terhadap terhadap pelayanan air minum layak. Bila dibandingkan data tahun 2009.86 11.14 persen.75 59. tertinggi di Provinsi Gorontalo (66. maka secara nasional terdapat 72.

Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi. sumur terlindung dan mata air terlindung yang jaraknya lebih dari 10 meter dari tempat penampungan kotoran/tinja.14 b. air hujan.73 56. 99 .Gambar 7.27%. pompa.1. Tujuan Pembangunan Milenium mutlak dicapai 2015. Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) 45. yang dijual melalui tangki/air isi ulang. air minum terlindung adalah air leding. Proporsi Penduduk dengan Akses Air Minum Layak (Penduduk dengan Akses Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Non-Perpipaan Terlindungi).69 16. Sumber air terlindung tidak termasuk air kemasan.4. Akses terhadap air terlindung dan berkelanjutan (layak) Sesuai dengan Buku Saku MDGs. air sumur dan mata air tidak terlindung. 1992-2010 (%). tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel tabel 7.3 dan tabel 7. 72.

air hujan. pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m dari penampungan kotoran.10 47.01 56.96 52.95 51.49 54.05 48.76 50. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi.79 35.13 51.25 55.87 74.83 46.24 49.02 60.04 47.58 46.14 53.39 43.88 34.63 51.12 71.27 *) Air ledeng.37 48.40 61. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Layak 68. tidak termasuk air kemasan dan isi ulang 100 .98 39.99 43.47 62.73 Layak*) 31.86 46.12 65.92 71.61 56.65 75.37 54.90 52.75 44.26 60.31 60.05 48.53 37.61 60.95 53.90 63.10 36.63 45.87 48.95 51.3.35 24.70 69.08 43.08 28.21 64.Tabel 7.17 53.92 56.32 32.05 46.74 39.13 25.68 67.51 45.30 30.60 38.69 39.42 53.39 39.43 48.88 28.57 51.

20 Layak*) 41.36 50.87 51.98%).47%) dan terendah di Provinsi Nangroe DKI Jakarta (25.84 45.98 47. air kemasan/botol. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tidak Layak 58.80 *) Air ledeng.13%). dikatakan akses terhadap penyediaan air bila minimal menggunakan air 20 liter per orang per hari.16 54. sumur bor. dan sarana air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah.13 48.86 51. sumur gali terlindung.32 35. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung menurut provinsi. akses terhadap sumber air minum yang layak di perkotaan lebih rendah (41. dan penampungan air hujan. mata air terlindung. Menurut tempat tinggal. dan air yang dijual melalui truk.02 52.80 persen. Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung adalah 53. kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel 7.68 64. tidak termasuk air kemasan dan isi ulang Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung paling tinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (75. kran umum.14 48.Tabel 7. 101 . Sumber air ’improved’ tidak termasuk air yang dijual keliling.6. Akses terhadap pelayanan air minum Menurut Joint Monitoring Programm WHO-Unicef (JMP WHO/Unicef). air hujan.5 dan tabel 7.64%) dibandingkan dengan di perdesaan (49. c. berasal dari sumber air ’improved’. pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m dari penampungan kotoran. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan ada kecenderungan semakin tinggi kuintil pengeluaran rumahtangga semakin rendah proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum yang layak.64 49.4. Yang termasuk sumber air ’improved’ adalah sambungan kran air dalam rumah. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan menurut karakteristik rumahtangga.

37 66.14 48.83 59.49 39.79 53.67 46.40 58.13 70.20 Akses*) 41.82 42. berasal dari sumber air ‘improved’ dalam radius 1 km.33 53.22 57.06 47.13 57.02 58.75 30.93 68.69 54.41 50.25 69.69 49.17 40.87 29.47 38.5.47 69.63 33.01 41.07 31.51 44.23 46.51 60.21 46.53 61.55 27.78 47.51 45.61 64.45 72.87 55.99 58.22 52.80 *) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari.13 44.94 52.70 59.31 50. 102 .98 41.78 42.11 47. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Akses 58.60 41.31 45.19 43.19 58.48 44.81 41.30 40.77 53.89 52.59 49.49 55.86 51.39 35.87 42.81 56.49 54. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut provinsi.Tabel 7.52 55.53 30.18 57.

Tabel 7. AKSES TERHADAP SANITASI LAYAK Dalam memantau akses terhadap fasilitas sanitasi layak digunakan indikator penggunaan sarana pembuangan kotoran (jamban) yang meliputi pemilikan.8.62%) dibandingkan dengan di perkotaan (52.25%) dan terendah di Provinsi DKI Jakarta (27.10 55. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Pengeluaran Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Akses Kurang 47.26 55. pilihan jawaban pembuangan akhir tinja dipisah antara tangki septik dan SPAL.49 40. Dalam Riskesdas 2010. Hasil Riskesdas 2010 proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak disajikan dalam tabel 7.80 persen pada tahun 2010.62 52. berasal dari sumber air ‘improved’ dalam radius 1 km. 103 . jenis kloset dan sarana pembuangan akhir tinja.93 *) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari. Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung menurut JMP WHO/Unicef paling tinggi adalah Provinsi Jawa Tengah (70. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut karakteristik rumahtangga.37 41.90 44. dari 57.07 Akses Baik 52. Dikatakan layak apabila sarana tersebut milik sendiri atau bersama.63 58.70 persen pada tahun 2007 menjadi 53. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga tidak menunjukkan pola yang jelas.10%). Menurut kualifikasi daerah.7 dan tabel 7. Akses terhadap penyediaan air dengan memperhatikan volume pemakaian dan jarak rumah ke sumber air ini mengalami penurunan bila dibandingkan hasil Riskesdas 2007.74 44.6.38 47. 2.51 59. kloset jenis leher angsa dan pembuangan akhir tinjanya ke tangki septik atau SPAL.25 40. sedangkan pada Susenas masih digabung (Tangki septik/SPAL).75 59. akses terhadap sumber air terlindung sedikit lebih tinggi di perdesaan (55.87%).

00 54.7.30 61.89 79. Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut provinsi.23 58.51 35.09 34. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Layak 47.62 49.10 49.70 38.42 49.38 50.01 49.58 50.11 31.87 25.63 41.00 46.12 17.17 45. pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL.72 66.47 53.77 41.38 55.91 65.82 45.89 68.44 48.68 64.28 33.11 20.82 45.53 *) Penggunaan sendiri dan bersama.18 54.72 55.51 42.53 47.83 54.28 44.00 53.91 52.57 60.37 59.11 57.29 46.35 42.63 35.32 35.99 50.71 53.00 45.60 42.21 71.13 74.40 57. 104 .37 64.49 64.18 54.Tabel 7.79 28.90 50.49 57.56 51.47 Layak*) 52.65 57.88 82.89 42. kloset jenis leher angsa.62 44.43 39.09 47.

batu bara.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25.58 64. paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82.52 55. 3. akses terhadap fasilitas sanitasi layak di perkotaan hampir dua kali lipat (71. tandan kelapa. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Tidak Layak Layak Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 28. kloset jenis leher angsa.Tabel 7. Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat disajikan dalam tabel 7. Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga. Menurut kualifikasi daerah. 1 diantaranya adalah proporsi penduduk atau rumahtangga menggunakan bahan bakar padat untuk memasak. arang. Penggunaan bahan bakar memasak Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 9 (memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang) terdapat 6 indikator untuk memantau pencapaian target.53 persen. Yang dimaksud dengan bahan bakar padat adalah kayu bakar. batok kelapa dan lain-lain. batang padi. semakin tinggi penghasilan semakin tinggi pula yang akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga. 105 .58 22. Indikator yang dikumpulkan dalam Riskesdas 2010 ini berkaitan dengan kesehatan.04 71.55%).8.55 32.9 dan tabel 7.42 33.35%).42 77.79 53.45 38.48 44.10.55 61. pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL. sekam.45%) dibandingkan dengan di perdesaan (38.96 *) Penggunaan sendiri dan bersama. yaitu terjadinya polusi dalam ruangan (indoors air pollution) yang dapat menyebabkan penyakit saluran pernafasan.21 46.45 67. Dari tabel di atas tampak bahwa akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55.

Tabel 7.92 45.26 54.40 40.28 24.83 49.96 39.77 47.85 43.9.71 34.01 58.17 50.59 63.15 56.02 69.91 48.02 42.91 52.31 47.58 59.29 65.58 51.92 32.71 51.99 72.41 23. gas dan minyak tanah 62.99 27.21 60.24 36.01 27.09 51.26 69.01 72.94 Arang.52 40.29 48.40 71.14 52.60 28.08 67.60 59.79 39.42 40.23 0.99 41.72 75.25 47. Riskesdas 2010 Listrik.76 63.98 30.60 11.06 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 106 .69 52.86 47.74 30.74 45.23 52. Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut provinsi.77 99.48 59.41 36.63 76.75 52.40 88.42 48. kayu bakar dll 37.37 23.09 47.08 54.59 76.98 57.04 60.

penggunaan bahan bakar padat di perkotaan hampir 4 kali lipat (64.31%). Menurut tempat tinggal. Riskesdas 2010 Karakteristik rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran RT Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-2 Kuintil-2 Kuintil-2 Listrik.33%) dari perdesaan (17.723 47. kayu bakar dll 17.33 70.802 75. tertinggi di Provinsi NTT (76.Tabel 7.150 87.31 64. 107 . Secara nasional penggunaan bahan bakar padat ini mengalami penurunan cukup besar dibanding data tahun 2007 sebesar 53.27 Dari tabel di atas menunjukkan terdapat 40.58%) dan terendah di Provinsi DKI Jakata (0.06% rumahtangga yang masih menggunakan bahan bakar padat untuk memasak.60%). gas dan minyak tanah 82.726 Arang.28 52.67 29.35 39.648 60. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan semakin tinggi penghasilan rumahtangga semakin sedikit yang menggunakan bahan bakar padat untuk memasak.9%.10.69 35.85 12.20 24. Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut tempat tinggal dan pengeluaran rumahtangga.

3 persen. Maluku.6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah 70% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan tahun 2004. sedangkan API Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0. .0%) meningkat dibandingkan Riskesdas 2007 (63.5%). dan terendah di Bengkulu (23. dan ibu hamil (44. dan hanya 12 persen di Puskesmas.6 persen.4%). dan Papua Barat.4%).5%) dan terendah di Provinsi Sulut (10.2 persen pemeriksaan masih dilakukan oleh dukun.8%).1%). Demikian pula Period Prevalence malaria pada 108 . kesimpulan yang dapat diambil antara lain: Prevalensi balita kurang gizi (berat badan kurang) sebesar 18.9%). KESIMPULAN Dari hasil Riskesdas 2010.8 persen.5%). remaja (54. hanya 2.7%) Sedangkan prevalensi dengan pengetahuan komprehensif sebesar 18. tertinggi di Papua Barat (27.6%) dan terendah di Kalimantan Selatan (8. Sedangkan prevalensi balita pendek (stunting) sebesar 35.7%). Umumnya pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52. dan 3.3%) dan tertinggi di provinsi DI. Dan prevalensi balita kurus (wasting) adalah 13. Pemanfaatan masih rendah di Sulawesi Tenggara (7.8%).0 persen diantaranya 4.Yogyakarta (93.2%). sedangkan K4 hanya 61. Sebanyak 40.4%) dan terendah di Papua (47. Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2.3%) meningkat dibandingkan pada tahun 2007 (75.2%).BAB IV.9%). terendah di provinsi Gorontalo (8. Cakupan imunisasi campak terbaik adalah di DI Yogyakarta (96.5 persen.3%). Prevalensi terendah ditemukan di Gorontalo (44.8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan. Proporsi tertinggi konsumsi <70% AKG dijumpai di NTB (46.5 persen.8%).6%). Keadaan ini banyak dijumpai pada anak usia sekolah (41. dengan prevalensi tertinggi di Provinsi Jambi (20%).5%) dan tertinggi di Bali (35.4 persen.6%).4 persen. dan terendah di Bangka Belitung (7.9 persen dengan gizi buruk.3 persen. teringgi di Provinsi NTT (58. Angka K1 dan K4 ini nampak menurun jika dibanding tahun 2007 ( SDKI). Proporsi penolong persalinan oleh tenaga kesehatan (82. Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan masih rendah di provinsi Maluku Utara. Pemanfaatan fasilitas kesehatan untuk persalinan oleh perempuan usia reproduktif adalah 59. serta 4. Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sebesar 84 persen. Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS (75.2%). Akses K1 oleh ibu hamil baik (92. Angka terendah di Papua Barat (31. Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12-23 bulan (74.1 persen di Polindes/Poskesdes. Prevalensi tertinggi di Provinsi NTB (30.5%) menurun dibandingkan tahun 2007 (81.6%).9%) dan tertinggi di Bali (64.0 persen. Masalah lain yang ditemukan adalah persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46.6%).9%) dibandingkan angka SDKI 2007 (57. Masih ditemukan 19 persen perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB dan 27. Proporsi unmet need sebesar 14. Jenis alat/cara KB yang dominan adalah suntikan. Proporsi pengguna KB pada perempuan pernah kawin menurun (53.5%).4%).4%) dan terendah di Provinsi Yogyakarta (22. Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat persalinan hanya 1.1 persen yang pernah ber KB sekarang tidak menggunakan. Maluku Utara (8%) dan Sulawesi Tengah (12.

69%) lebih besar dibandingkan dengan perpipaan terlindung (16.7 persen. 109 .tahun 2010 (10.3%).53%) dibandingkan tahun 2009 (42. dan tertinggi di Provinsi Papua (1.7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010.. Pengobatan efektif malaria dengan ACT pada balita hanya 21. DI Yogyakarta. Prevalensi TB adalah 0.5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan. dan Bali (0..74%).2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66.25%) Proporsi rumahtangga yang menggunakan air non perpipaan terlindung (56.47%).91%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25. Sedangkan proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83. Akses rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak meningkat (55. Proporsi tertinggi ada di Provinsi DKI Jakarta (82.83 persen.27 persen. Dari analisis Riskedas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45. Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah (84.7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2. Angka Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point Prevalence (0. Lampung.85%).9 persen.14%).6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian. Sarana perpipaan dan non perpipaan terlindung yang akses terhadap sumber air terlindung adalah 72.35%).

RT) 3. Kuesioner rumah tangga (RKD10.LAMPIRAN 1. Kuesioner individu (RKD10.IND) 110 . Inform Concent dan Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP) 2.

daneprairie.This document was created with Win2PDF available at http://www.com. . The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful