LAPORAN NASIONAL RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS) TAHUN 2010

1

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT selalu kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 telah dapat terselesaiakan. Di dalam Laporan ini dimunculkan perkembangan status kesehatan masyarakat Indonesia khususnya yang berkaitan indikator MDG’s untuk tingkat nasional dan tingkat provinsi. Hasil Riskesdas 2010 mencakup indikator MDG’s nomor 1,4,5,6 dan 7, yaitu : status gizi balita, tingkat konsumsi energi per kapita, kesehatan reproduksi yang diwakili dengan indikator penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, cakupan penggunanaan kotrasepsi oleh perempuan WUS, cakupan imunisasi campak kelompok umur 12-23 bulan, prevalensi TB paru dan malaria, pengetahuan pencegahan HIV/AID, akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan Juni-Juli 2010, di 33 provinsi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) mengerahkan sejumlah enumerator untuk setiap kabupaten/kota, seluruh peneliti Balitbangkes, dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta Perguruan Tinggi. Untuk data kesehatan masyarakat, berhasil dihimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil dihimpun dan diperiksa spesimen dahak dan darah dari sampel anggota rumah tangga. Proses manajemen data mulai dari data dikumpulkan dan dientry ke komputer dilakukan di masing-masing daerah, kemudian data cleaning dilakukan di Badan litbangkes. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan dinamika kehidupan yang indah dalam dunia ilmiah. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas. Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Kami telah berupaya maksimal, namun pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas dimasa yang akan datang.. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb. Jakarta, 17 Agustus 2010 Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, Msi, SpF(K)

2

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Kementerian Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator MDG’s berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2010. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik berkaitan indikator MDG’s 1,4,5,6 dan 7, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas 2010 dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji dengan cepat apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai asupan baru bagi Sistem Kesehatan Nasional yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Puskesmas PRM/labkesda, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan. Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 17 Agustus 2010 Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., DR.PH.

3

Pemilihan sampel dilakukan secara random dalam dua tahap.5%). dan terendah adalah Provinsi Sulut (10. Keterangan individu meliputi identitas individu. perilaku seksual.. Tujuan Riskesdas 2010 adalah mengumpulkan dan menganalisis data indikator MDG’s kesehatan dan faktor yang mempengaruhinya.6%). pengetahuan dan perilaku kesehatan. Hasil analisis dapat dilaporkan sebagai berikut: Prevalensi balita kurang gizi (balita yang mempunyai berat badan kurang) secara nasional adalah sebesar 17. Pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran data dilakukan oleh Penanggung Jawab Tehnis Kabupaten. kesehatan ibu.9 persen yang gizi buruk. Pengumpulan data dan entri data dilakukan oleh tenaga terlatih dengan kualifikasi minimal tamat D3 kesehatan. Pada tanggal tersebut sejumlah 2704 BS sampel yang terkumpul datanya atau sekitar 96. konsumsi makan dalam 24 jam kemarin. Sampel BS tersebut tersebar di 33 dan 441 kabupaten/kota.6 persen. dan pemeriksaan darah malaria dilakukan dengan Rapid Diagnostic Test (RDT). diantaranya 823 BS sebagai sampel biomedis (malaria dan TB). Besar sampel sebanyak 2800 BS. fasilitas pelayanan kesehatan. keguguran dan kehamilan yang tidak diinginkan. Keterangan ruta meliputi identitas ruta. cara KB. Prevalensi balita gizi kurang menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi NTB (30. Tahap pertama melakukan pemilihan Blok Sensus (BS) dan tahap kedua pemilihan Rumah tangga (ruta) sebanyak 25 ruta setiap BS.9 persen diantaranya 4. Populasi sampel adalah seluruh rumah tangga di Indonesia. 4 . kehamilan dan pemeriksaan sesudah melahirkan.5 persen (DI Yogyakarta) sampai 58. penyakit menular. sedangkan untuk TB paru dilakukan pemeriksaan dahak pagi dan sewaktu hanya pada kelompok umur 15 tahun ke atas.3 persen.4 persen (NTT). kemudian melakukan pengiriman data secara elektronik kepada tim manajemen data pusat. dengan rentang 22. kesehatan anak.6%). Pengumpulan data di beberapa daerah telah mulai dilakukan sejak bulan Juni 2010 berakhir pada tanggal 8 Agustus 2010 untuk dilakukan pengolahan dan analisis.5% dari 2800 BS sampel siap untuk dianalisis. Desain Riskesdas 2010 adalah potong lintang dan merupakan penelitian non-intervensi. Prevalensi balita kurus (wasting) secara nasional adalah sebesar 13. Pengukuran tinggi badan/panjang badan dan berat badan dilakukan pada setiap responde. Data yang dikumpulkan meliputi keterangan ruta dan anggota ruta. dan terendah adalah Bangka Belitung (7. Sementara itu prevalensi balita pendek (stunting) secara nasional adalah sebesar 35. sanitasi lingkungan dan pengeluaran ruta. dengan prevalensi tertinggi adalah Provinsi Jambi (20%).RINGKASAN EKSEKUTIF Riskesdas 2010 merupakan kegiatan riset kesehatan berbasis masyarakat yang diarahkan untuk mengevaluasi pencapaian indikator Millenium Development Goals (MDGs) bidang kesehatan di tingkat nasional dan provinsi.

2 persen Dewasa. 8 persen di Maluku Utara. Berdasarkan kelompok umur dijumpai 24.1 persen. secara nasional 82. dan 3. akan tetapi hanya 61.5 persen. Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sudah lebih baik. seperti 7. Selain itu diketahui akses (K1) adalah 92.4 persen Balita. Tenaga kesehatan terlatih di wilayah perdesaan perlu lebih ditingkatkan agar kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan tidak jauh berbeda dengan kelompok penduduk perkotaan. Disparitas menurut provinsi dapat diketahui dari yang terendah di Papua Barat (31.9 persen pada perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun.8% ibu hamil mengikuti pelayanan antenatal. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak pada Riskesdas 2010 ini adalah sebesar 74.4 persen perempuan usia reproduktif menggunakan fasilitas kesehatan untuk persalinan.9%) dan tertinggi di Bali (64. akan tetapi di beberapa provinsi penggunaan fasilitas kesehatan untuk melahirkan masih sangat rendah. 40.3 persen selama kehamilan memeriksakan kehamilan minimal 4 kali (K4). 54. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak menurut provinsi yang terbaik adalah DI Yogyakarta (96. Sementara itu proporsi penduduk tertinggi dengan konsumsi <70% AKG adalah NTB (46. Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat pelayanan terdekat ke masyarakat juga perlu ditingkatkan. dan hanya 12 persen di Puskesmas. Walaupun secara nasional 59.5 persen yang memanfaatkan untuk persalinan. Sebagian besar pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52. Demikian pula halnya pada provinsi seperti Maluku Utara.1 persen di Polindes/Poskesdes. Kelompok penduduk di perdesaan cenderung lebih banyak menggunakan suntikan untuk pencegahan kehamilan dibanding perkotaan. serta 4. dan Papua Barat perlu mendapatkan perhatian agar proporsi perempuan usia reproduktif dapat lebih banyak mendapatkan pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan.2 persen anak usia sekolah. 5 .7%).2 persen masih memeriksakan kehamilan ke dukun.5 persen remaja. serta 44. Terpantau juga jenis penggunaan alat/cara KB yang masih dominan adalah dengan suntikan yaitu 31. karena hanya 1.3%).6%). 41.2 persen ibu hamil mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal. Akan tetapi masih ada 2.4%) dan terendah adalah Papua (47.4%).3 persen kelahiran sudah dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. Secara nasional masih ada 19% perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB untuk mencegah/menunda kehamilan.8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan. demikian juga perhatian perlu dipusatkan pada penduduk miskin.Hasil Riskesdas 2010 menunjukan 40.1 persen di Sulawesi Tengah. dan 27. Untuk kesehatan ibu. yaitu 84%.5%). dan terendah adalah provinsi Bengkulu (23.1 persen yang pernah ber KB akan tetapi sekarang tidak menggunakan.6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal (kurang dari 70% dari Angka Kecukupan Gizi/AKG) yang dianjurkan tahun 2004.8 persen di Sulawesi Tenggara. Maluku. atau 12. Penggunaan alat/cara KB diketahui hanya 53.

Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua (1. sedangkan pada perempuan meningkat sebanyak 12 persen dibandingkan Riskesdas 2007.6 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0.Yogyakarta.9 persen.5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan.3 persen. Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi DI. Rentang API Nasional adalah antara 0. Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 32. sedangkan pada balita hanya 21.0 persen sebenarnya mereka membutuhkan akan tetapi tidak terpenuhi (unmet need).5 persen. terdeteksi secara nasional 14.0 persen.8 persen.5 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. penduduk yang masih sekolah dan dengan pekerjaan sebagai pegawai atau wiraswasta.7 persen. 80.6 persen yang diminum dengan dosis lengkap. penggunaan Artemisinin Combination based Therapy (ACT) di Indonesia hanya mencapai 49. Prevalensi lebih tinggi pada penduduk belum kawin.4 persen yang diminum dengan dosis lengkap. Masalah lain yang perlu mendapat perhatian untuk mempercepat penurunan kematian ibu adalah mengupayakan penundaan perkawinan menjadi usia 20 tahun.1 persen. Karena secara nasional persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46. Lampung. Proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010. Sebanyak 20 provinsi dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional.4-35. 6 . dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 16.Pada kelompok penduduk yang tidak menggunakan alat/cara KB. Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS secara nasional yaitu 18. penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34. Jadi penderita malaria semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33. Variasi antar provinsi. dan Bali (0.1 persen. Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi Bali.Menurut provinsi rentangan berkisar 44. Pada penduduk laki-laki meningkat 11 persen.4%). pendidikan lebih tinggi.7 persen. juga pada penduduk dengan status ekonomi lebih tinggi. di daerah perkotaan. serta 89.3%).3 persen (Bali) dan 31.4 persen (Papua). Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional. Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 24 permil.9%) dan terendah di Bali (8. dijumpai cukup lebar dari yang tertinggi di Papua Barat (32. cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26. Secara nasional prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS adalah 75. Dari hasil wawancara.6 persen.5 persen pada responden semua kelompok umur. .25%).7 persen.2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66.0 persen. dan hanya 75. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12.7%). Khusus pada balita. Menurut provinsi rentangan berkisar 8. dan 83.3-93. Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional. DI Yogyakarta.

7 .27 persen . tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44.85%).91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45. Lebih lanjut dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45. tertinggi di Provinsi Gorontalo (66. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25.35%). paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82.Proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16.79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0.14 persen. Akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55.74%). Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan.83 persen yang akses terhadap sumber air terlindung.69 persen. maka secara nasional terdapat 72. Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56.5%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29.53 persen.75%).

Lokasi 3. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpul Data 6. Goal 1 MDG 2. Populasi dan Sampel 4. Goal 4 MDG 3. Disain 2.DAFTAR ISI Kata Pengantar Sambutan Menteri Kesehatan Kesehatan Republik Indonesia Ringkasan Eksekutif Daftar Isi BAB 1 Pendahuluan BAB 2 Metodologi 1. Goal 6 MDG 5. Variabel 5. Goal 7 MDG BAB 4 Kesimpulan Lampiran 2 3 4 8 9 12 12 12 12 15 16 16 17 17 33 40 68 96 108 109 8 . Goal 5 MDG 4. Manajemen Data BAB 3 Hasil dan Pembahasan 1.

untuk evaluasi program pembangunan termasuk pengembangan rencana kebijakan pembangunan kesehatan jangka menengah (RPJMN 2010-2014). aktivitas fisik. bermutu dan berkeadilan serta berbasis bukti dengan mengutamakan pada upaya promotif dan preventif”. kesehatan lingkungan (lingkungan fisik). Riskesdas ini dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan RI. oleh Bappenas. bermutu. pembiayaan kesehatan). pengetahuan-sikap-perilaku kesehatan (Flu Burung. dan menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. Komposit beberapa indikator Riskesdas 2007 juga telah digunakan sebagai model Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) di Indonesia untuk melihat peringkat Kabupaten/Kota.BAB I. bekuan darah. untuk test-test lanjutan di laboratorium Badan Litbangkes. Pada deklarasi tersebut disepakati 8 tujuan untuk mencapai MDGs di tahun 2015 yaitu: memberantas kemiskinan dan kelaparan. minum alkohol. dan sediaan apus. Telah dikumpulkan pula sekitar 33. Salah satu strateginya adalah “Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata. perilaku higienis. yaitu status kesehatan (penyebab kematian. mencapai 9 . Riskesdas 2010 bertepatan dengan tahun akan dilaksanakannya pertemuan puncak tingkat tinggi Majelis Umum PBB untuk mengevaluasi pencapaian deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) dari 189 negara termasuk Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) merupakan Riset Kesehatan berbasis komunitas berskala nasional sampai tingkat kabupaten/kota. HIV/AIDS. dengan tujuan untuk melakukan evaluasi pencapaian program kesehatan yang telah dilaksanakan. angka disabilitas. menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan. merata. penggunaan tembakau. dan berkeadilan. cakupan. angka kecelakaan. terutama Kementerian Kesehatan. sekaligus sebagai bahan untuk perencanaan kesehatan. terjangkau. dan oleh beberapa kabupaten/kota dalam merencanakan. perilaku konsumsi makanan) dan berbagai aspek mengenai pelayanan kesehatan (akses. konsumsi rumahtangga. memantau dan mengevaluasi program-program kesehatan berbasis bukti (evidence-based planning). melaksanakan. Sedangkan misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. mengalokasikan anggaran. dan status gizi). PENDAHULUAN Visi Kementerian Kesehatan adalah “Masyarakat Sehat yang mandiri dan berkeadilan.000 sampel serum. Hasil Riskesdas 2007 telah dimanfaatkan oleh penyelenggara program. Pada tahun 2007 Badan Litbangkes telah melakukan Riskesdas pertama. Untuk itu diperlukan data kesehatan dasar yang dapat dikumpulkan secara berkesinambungan. termasuk swasta dan masyarakat madani. Riskesdas direncanakan dilaksanakan secara periodik. meliputi semua indikator kesehatan utama. melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna. mutu layananan. angka kesakitan.

Untuk menjaga kesinambungan. memerangi HIV/AIDS. pengukuran. Pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan segera setelah selesainya Sensus Penduduk 2010. Dalam rangka mendukung pertemuan tersebut dan mendapatkan data kesehatan terkini yang faktual. memastikan lingkungan yang kesinambungan. Beberapa indikator MDGs kesehatan lainnya yaitu prevalensi HIV/AIDS dan angka kematian anak tidak dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 karena memerlukan penelitian khusus atau didapat dari sumber data lain. perubahan masalah kesehatan di tingkat nasional dan provinsi. Riskesdas serupa 2007 direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2013.universal primary education. meningkatkan kesehatan ibu. akses sumber air minum yang aman dan fasilitas sanitasi dasar. menurunkan kematian anak. dan perkembangan upaya pembangunan kesehatan di tingkat nasional dan provinsi dalam tiga tahun terakhir. Riskesdas 2010 adalah Riskesdas MDGs karena menghasilkan beberapa indikator MDGs kesehatan nasional (Indonesia) yang berbasis bukti. 10 . Pertanyaan penelitian untuk Riskesdas 2010 yaitu: 1) Bagaimanakah status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi?. dan komitmen kesehatan tingkat nasional dan global sebagai bahan penilaian pencapaian MDGs di tahun 2015. lembaga penelitian. dan 2) Bagaimana faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan provinsi? Tujuan umum adalah memperoleh gambaran pencapaian target indikator MDG khusus kesehatan pada tahun 2010 berdasarkan Provinsi dan Nasional. perguruan tinggi. dan masyarakat. Riskesdas 2010 difokuskan pada indikator-indikator pencapaian MDGs dan data pendukung lainnya. dan pemeriksaan laboratorium untuk kepastian penyakit malaria dan tuberkulosis yang dilakukan di lapangan (darah malaria) dan Laboratorium Puskesmas yang direkomendasi (dahak tuberkulosis). Tujuan khsuusnya adalah untuk: a) Menilai status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi. pemerintah daerah. malaria dan tuberkulosis. mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. juga sebagai sarana untuk mengevaluasi perkembangan beberapa status kesehatan masyarakat Indonesia di tingkat nasional dan provinsi. Pengorganisasian Riskesdas 2010 sama dengan Riskesdas 2007 dilaksanakan sepenuhnya oleh seluruh jajaran Balitbangkes dengan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk metodologi dan penentuan sampel nasional dan provinsi. dan b) Memperoleh gambaran faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan provinsi. Data tersebut dikumpulkan seperti pada Riskesdas 2007 yaitu melalui wawancara. status kesehatan ibu dan anak (menurunkan kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu). prevalensi malaria dan tuberkulosis (menurunkan angka kesakitan). serta melibatkan penyelenggara program terkait. Beberapa indikator MDGs kesehatan yang dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 adalah status gizi balita dan konsumsi (memberantas kelaparan). organisasi profesi. Selain itu. mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi Riau. DKI Jakarta. Sulawesi Barat. Kalimantan Tengah. dan Maluku Utara. dan Papua. Sulawesi Tenggara. Kep. Bangka Belitung. Maluku. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung. dan Papua Barat. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Pengembangan kuesioner dan pedoman dilakukan oleh tim teknis Balitbangkes dan dilakukan pelatihan berjenjang mulai dari pelatih tingkat pusat sampai ke enumerator sebagai pengumpul data di lapangan. Kalimantan Timur. Keseluruhan proses Riskesdas 2010 dimulai semenjak bulan februari 2010 sampai data selesai dikumpulan pada minggu pertama Agustus 2010. b.Riau. Sumatera Selatan. Kalimantan Barat.Proses pengumpulan data dilakukan dibawah koordinasi Balitbangkes yang terbagi menjadi empat koordinator wilayah sebagai berikut: a. Gorontalo. 11 . Riskesdas 2010 telah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Timur. Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu. Nusa Tenggara Barat. Riskesdas 2010 memberikan manfaat untuk memantau indikator MDGsn khusus kesehatan sehingga dapat digunakan untuk mempertajam strategi kebijakan pembangunan kesehatan dalam mempercepat pencapaian MDG 2015. Jambi. Jawa Timur. dan Sulawesi Selatan c. Jawa Barat. Banten. Lampung. Sulawesi Tengah. Sulawesi Utara. Sumatera Barat. Sumatera Utara. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (lihat lampiran). Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi DI Yogyakarta. Kalimantan Selatan. Bali. d.

beberapa catatan berkenan dengan lokasi adalah sebagai berikut: a) Dalam proses pengumpulan data. 2. maka dari 2800 BS yang seharusnya menjadi sampel Riskesdas hanya dapat diolah sejumlah 2704 BS atau 96. Proses pemilihan rumah tangga dilakukan BPS dengan two stage sampling yang sama dengan Riskesdas 2007/Susenas 2007. 12 . Papua. Dari setiap provinsi diambil sejumlah blok sensus yang representative terhadap jumlah rumah tangga/anggota rumah tangga di provinsi tersebut. terjadi 43 pergantian BS dari 2800 BS yang telah ditetapkan semula. Sampai dengan laporan ini dibuat. rasio perkotaan/perdesaan. Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya. yang mewakili penduduk di tingkat nasional dan provinsi dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan untuk kepentingan pencapaian MDGs. Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2010 adalah seluruh rumah tangga biasa yang mewakili 33 provinsi yang tersebar di 441 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Riskesdas berhasil mengumpulkan seluruh BS kecuali di kabupaten Nduga. c) Sehubungan dengan waktu untuk analisis indikator MDG sudah harus dilaksanakan. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2010 dipilih berdasarkan listing Sensus Penduduk (SP) 2010. Pemilihan BS dilakukan sepenuhnya oleh BPS dengan memperhatikan status ekonomi. Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud. Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif. Riskesdas memilih BS yang telah dikumpulkan SP 2010. dan prevalensi malaria/TB-paru hasil Riskesdas 2007. tidak bisa diikutkan untuk proses analisis. Akan tetapi karena analisis harus segera dilakukan maka 94 BS yang belum sempat terkirim ke manajemen data pusat per tanggal 12 Agustus 2010. METODOLOGI 1.BAB II. hal ini disebabkan karena BS semula terpilih jumlah rumah tangga yang akan menjadi sampel tidak terpenuhi dengan kriteria yang sudah ditetapkan b) Ada 1 kabupaten di Provinsi Papua (Kabupaten Nduga) yang tidak dapat dikunjungi dalam periode waktu pengumpulan data Riskesdas.5 persen (lihat tabel 1) 3. Lokasi Sampel Riskesdas 2010 mewakili nasional dan 33 provinsi yang tersebar di 441 Kabupaten/Kota dari total 497 Kabupaten/Kota di Indonesia.

Tabel 1 Jumlah Sampel Blok Sensus (BS) menurut Provinsi. yang menjadi sampel rumah tangga dari jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut. Jumlah sampel rumah tangga (66.Penarikan Sampel Rumah Tangga/Anggota Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 25 (dua puluh lima) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling). Riskesdas 2010 Jml BSSampel 53 128 54 66 40 83 29 86 23 28 111 494 343 54 410 117 49 64 50 53 35 50 46 38 34 85 33 23 22 23 19 22 35 2800 Jml BS-yang diolah 51 117 52 64 33 82 29 84 23 28 111 487 343 54 410 115 49 64 31 40 35 50 46 32 26 85 33 23 22 23 19 21 22 2704 Jml BS yang belum diolah 2 11 2 2 7 1 0 2 0 0 0 7 0 0 0 2 0 0 19 13 0 0 0 6 8 0 0 0 0 0 0 1 13 96 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Secara keseluruhan. Jumlah rumah tangga yang diharapkan terkumpul adalah 70. jumlah sampel rumah tangga dari 2704 BS adalah 66.906. dengan jumlah individu 241.946.906) yang diolah adalah mewakili 96.000 dari 2800 BS.5% dari total 13 .

175 8.590 6. Distribusi sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga menurut Provinsi.506 775 968 3.201 1.694 725 2.600 816 3.851 11.268 4.250 2.599 5.738 12. Distribusi jumlah rumah tangga dan anggota rumah tangga dapat dilihat pada tabel 2.496 2.652 800 650 644 2.320 2.780 550 66.600 774 3.250 1.123 1.180 35.039 7.367 10.597 1.940 2.050 575 678 2.493 1. artinya ada 694 rumah tangga yang tidak ditemukan pada saat pengumpulan data.600 PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Jml BS 51 117 52 64 33 82 29 84 23 28 111 487 343 54 410 115 49 64 31 40 35 50 46 32 26 85 33 23 22 23 19 21 22 2.225 1.925 1.385 575 473 1.600.296 2.906 241.325 1.775 12. Seharusnya dari 2704 BS akan terkumpul 67.704 *) Jumlah rumah tangga seharusnya adalah 25 per BS 14 .050 725 2.300 5.994 475 499 2.780 1. Tabel 2. Riskesdas 2010 Jumlah Rumah Jumlah tangga*) ART yang Sampel Yang seharusnya terkumpul terkumpul 1.150 771 2.076 875 1. Tidak semua 2704 BS dapat mengumpulkan masing-masing 25 rumah tangga sampel.000 874 3.400 825 575 2.350 10.140 4.946 67.662 9.218 4.320 700 2.099 7.875 1.362 2.575 1.227 1.009 525 514 1.125 825 3.703 2.310 1.174 575 550 2.100 575 2.096 41.517 8.235 4.529 29.800 10.106 550 571 2.350 4.031 2.sampel yang diharapkan.899 1.300 1.075 825 2.118 8.275 2.

yang terdiri dari 2 sub-blok: 1. seluruh anggota rumah tangga dari 823 BS dilakukan pengambilan darah. dan anggota rumah tangga usia 15 tahun keatas yang dilakukan pengambilan sputum/dahak pagi dan sewaktu untuk pemeriksaan TB paru. Pada BS yang terpilih untuk biomedis. Blok V tentang dasilitas pelayanan kesehatan (18 variabel).tentang konsumsi makanan individu (jumlah variabel tergantung makanan yang dikonsumsi. Blok IX. Da. ASI dan MP-ASI (10 variabel) vi. Blok VIII-E tentang kesehatan anak . 2. Blok VIII-B tentang penyakit menular: Malaria (10 variabel). Db Fertilitas (11 variabel) 3. 15 . Untuk pemeriksaan malaria. Kuesioner individu (RKD10. Blok VIII-A tentang identifikasi responden (4 variabel). Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel). Masa reproduksi perempuan (6 variabel) 2. Dc Alat/cara KB (8 variabel) 4. Blok VII tentang Pengeluaran Rumah Tangga (39 variabel) b. 4. ii. persalinan. De Keguguran dan Kehamilan yang tidak diinginkan (10 variabel) 6. Blok II tentang keterangan rumah tangga (4 variabel). Perilaku seksual (6 variabel) v. Blok VIII-D tentang kesehatan reproduksi. Blok IV tentang anggota rumah tangga (13 variabel). Dd Kehamilan. TB paru (9 variabel) iii. dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a. Blok X tentang pengukuran tinggi/panjang badan dan berat badan (5 variabel) Blok XI tentang Pemeriksaan laboratorium (7 variabel). Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan indikator MDG bidang kesehatan dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. Dalam Riskesdas 2010 terdapat kurang lebih 315 variabel yang tersebar dalam 2 (dua) jenis kuesioner (lihat file terlampir). Blok VI tentang sanitasi lingkungan (20 variabel). yang terdiri dari: Blok VIII ini dikelompokkan menjadi i. rumah tangganya dan anggota rumah tangganya selain dikumpulkan variabel kesehatan masyarakat juga dialkukan pemeriksaan biomedis. Blok VIII-C tentang pengetahuan dan perilaku (22 variabel) iv.RT) yang terdiri dari: Blok I tentang pengenalan tempat (11 variabel).IND). pemeriksaan sesudah melahirkan (41 variabel) 5. Kesehatan bayi dan anak balita (22 variabel).Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis merupakan sub-sampel dari 2800 BS yang mewakili nasional atau sejumlah 823 BS. yang terdiri dari 6 sub-blok: 1. Kuesioner rumah tangga (RKD10.

pengetahuan tembakau. Mt1. dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT). MT2). Untuk biomedis. pengukuran berat badan. pencegahan malaria. Manajemen Data Balitbangkes membentuk tim manajemen data pusat yang mengkoordinasikan seluruh proses yaitu: Bersama dengan BPS mengembangkan program data entry yang digunakan oleh enumerator setelah data dikumpulkan di lapangan Setelah data entry dilakukan di lapangan. Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular malaria dan TB paru.RT terdapat keterangan anggota rumah tangga termasuk variabel yang dapat menunjukkan apakah anggota rumah tangga diwawancarai atau tidak. dan konsumsi jamu/obat tradisional. Pengumpulan data rumah tangga dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD10. data langsung dikirim via email ke tim manajemen Pusat untuk dilakukan pemeriksaan kelengkapan dan data cleaning Bersama dengan BPS melakukan proses pembobotan untuk siap di analisis. dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan TB Paru dengan mengambil sputum pagi dan sewaktu. dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya. Anggota rumah tangga berumur 10-24 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai perilaku seksual. Anggota rumah tangga berumur = 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan pengetahuan dan perilaku tentanh HIV/AIDS. konsumsi individu. hasil pemeriksaan darah malaria dan sputum digunakan formulir tersendiri (form M1. diwakili atau tidak diwakili. b. 6.IND Secara umum. 16 . Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD10.5. T1. T2. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2010 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data. responden untuk Kuesioner RKD10. Anggota rumah tangga perempuan berumur 10-59 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan Kesehatan Reproduksi Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan kesehatan anak. pencegahan TB paru.IND adalah setiap anggota rumah tangga.RT Responden untuk Kuesioner RKD10. M2. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun. c.RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi Dalam Kuesioner RKD10. dengan rincian sebagai berikut: a. tinggi badan / panjang badan.

Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). dan kurus) 2.9 persen pada tahun 2010. 4. pendek. status gizi balita dinilai berdasarkan parameter antropometri yang terdiri dari berat badan dan panjang/tinggi badan. 1.6 persen pada tahun 2007 menjadi 13. dan prevalensi balita kurus menurun sebanyak 0. Beberapa indikator terkait goal dimaksud juga disajikan agar informasi yang disajikan menjadi lebih lengkap. 1. 1. Proporsi penduduk dengan asupan kalori dibawah tingkat konsumsi minimum STATUS GIZI PADA BALITA Seperti halnya pada Riskesdas 2007. Untuk prevalensi masing-masing indikator menurut BB/U.1).6 persen pada tahun 2010.BAB III. Goal 1 – MDG Target: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015. Di daerah Desa tidak terjadi penurunan prevalensi. Indikator: 1. 17 . Untuk menilai status gizi balita digunakan Standar Antropometri yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2005 atau yang disebut dengan “Standar WHO 2005”.1a. Balita Pendek dan Balita Kurus dari tahun 2007 ke 2010 antara daerah Kota dan Desa. Status Gizi Balita Di Daerah Kota dan Desa Terdapat perbedaan perkembangan Prevalensi Balita Gizi Burkur. maka hasil dan pembahasan berikut khusus menyajikan indikator untuk menjawab goal 1. indikator status gizi yang dipakai adalah BB/U dan angka prevalensi status “underweight” (gizi kurang dan buruk atau disingkat “Gizi Burkur”) dijadikan dasar untuk menilai pencapaian MDGs. Prevalensi balita menurut tiga indikator status gizi (BB/U.2 persen yaitu dari 36.3 persen yaitu dari 13. Demikian pula halnya dengan prevalensi balita pendek yang menurun sebanyak 1.8 persen pada tahun 2007 menjadi 35. TB/U dan BB/TB) disajikan pada Tabel 1. dan 7. Status Gizi Balita Tingkat Nasional Secara nasional prevalensi balita “gizi burkur” menurun sebanyak 0. Indikator status gizi yang digunakan adalah: Berat Badan menurut Umur (BB/U).1c.4 persen pada tahun 2007 menjadi 17.3 persen pada tahun 2010 (Tabel 1.6.2. TB/U dan BB/TB dapat dilihat pada tabel 1.1b. 5. Prevalensi balita kurang gizi (berat badan rendah. dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Dalam Millenium Development Goal (MDGs).1. 1.5 persen yaitu dari 18. 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Sesuai dengan tujuan dari Riskesdas 2010 yaitu memberikan informasi terkini keadaan kesehaatan masyarakat berkaitan dengan MDG. Di daerah Kota secara umum terjadi penurunan prevalensi Balita Gizi Burkur. Balita Pendek dan Balita Kurus.

9 7.9 9.5 11. Sulawesi Tenggara 75.9 persen tahun 2007 menjadi 15.6 35. Sulawesi Barat 81.0 13.9 15.4 13.3 15.5 persen tahun 2010 (Gambar 1.8 17.9 26.2 16.5 20.0 11.4 27.2 14.8 23.6 43.0 26. Kalimantan Tengah 63.8 11.7 14.0 15.5 36.2 26.4 14.8 13.7 13.9 37.0 16.9 18.4 37.0 8.7 27.1.5 22.2 23. Kalimantan Selatan 64.3 13.2 20.5 24.7 35. Maluku 82. Sumatera Selatan 17.8 14.3 29.8 17. dan prevalensi balita kurus turun dari 13.0 15.4 12. Sumatera Barat 14. R i a u 15.8 36.2 15.4 24.7 39.9 16.6 33.5 16.3 11.1).4 2010 23.7 16.6 2010 14.6 33.4 29. Sulawesi Selatan 74.6 12.1 10.5 27.5 33.5 35.2 14. TABEL 1. Jawa Tengah 34.5 16. Kepulauan Riau 31. Maluku Utara 91.0 43.2 39.4 31.0 38. P a p u a INDONESIA GIZI BURKUR 2007 26. Jambi 16.1 27.3 41.9 17.2 9. DI Yogyakarta 35.6 22.8 32.1 16.9 9.3 12.2 19.4 18.1 13.0 36.2).3 29.8 11.8 20.0 22.2 14.1 10.7 35.1 40.6 37.1 19.9 TB/U PENDEK 2007 44.1 27. Lampung 19.6 26.4 17.7 persen tahun 2007 menjadi 31.5 45.0 15.4 49.2 40.3 18 .8 33.6 7.7 11.9 11.3 32.0 17. Sumatera Utara 13.8 39.9 33.6 19.8 39.1 36.6 17.2 28.4 44.5 26.7 15.9 10. Banten 51.5 18. STATUS GIZI BALITA PADA TAHUN 2007 DAN 2010 BB/U PROVINSI 11.3 35.2 21. Jawa Timur 36.7 14.6 16.1 persen tahun 2007 menjadi 12. Sulawesi Utara 72. Bangka Belitung 21.3 13.2 14.0 30.8 13.7 41.3 42.3 17.5 29.2 38.4 39.3 26.2 14.9 44.2 17.9 17.4 29. Kalimantan Timur 71.6 19.1 14.3 15.Di daerah Kota prevalensi balita Gizi Burkur menurun dari 15.2 17.6 22.7 21.1 13.8 26.8 16. Nusa Tenggara Barat 53.8 22.8 13.8 40.6 36.5 13. Papua Barat 94.6 17.5 26.5 20.8 12.4 13.3 16.6 22.8 25.1 10.5 39.3 18.4 25.5 16.2 17.0 14. Nanggroe Aceh Darussalam 12.2 40.8 35.2 31.6 34.9 22.4 persen tahun 2010 (Gambar 1. B a l i 52.4 12.5 29. Gorontalo 76.7 10. Kalimantan Barat 62.0 31.8 40.0 14. prevalensi balita pendek turun dari 32.2 58.6 BB/TB KURUS 2007 18.2 persen tahun 2010 (Gambar 1.2 30. Sulawesi Tengah 73.1 18.7 36.7 11.7 46. Bengkulu 18.1 21.9 42.0 15.6 15.9 14.8 9. Nusa Tenggara Timur 61. DKI Jakarta 32.3 48.6 26.3 22. Jawa Barat 33.3).2 17.5 25.3 16.0 11.9 15.8 2010 38.2 15.5 29.0 13.7 36.9 16.

9 20. Jambi 16.4 5.9 17.Tabel 1. Sulawesi Tenggara 75.4 5. Sumatera Barat 14.2 7.7 9.7 10.0 Gizi Buruk+ Gizi Kurang 23. P a p u a INDONESIA 7.4 19. Gorontalo 76.1 3. Jawa Timur 36.5 14.4 14. Jawa Tengah 34.4 9.5 29.3 13.6 8. Sumatera Utara 13. Bangka Belitung 21.1 7. Sulawesi Selatan 74.4 29.0 9.8 26.4 4.2 17.5 11.8 1.7 6. DKI Jakarta 32.6 13. Jawa Barat 33.7 22.7 21.5 20.7 9.3 3. Sulawesi Tengah 73.1 27.4 10.6 9.0 10.9 14.0 4.4 11. B a l i 52.1 16. Banten 51.1 18.9 15.4 17.3 1. Prevalensi Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk (BB/U) Menurut Provinsi Tahun 2010 Provinsi Gizi buruk 11.4 11.1a.3 13.8 5.8 4. Papua Barat 94.1 6. DI Yogyakarta 35.4 14. Kalimantan Barat 62.1 10.7 9.3 15.8 2.2 19.9 12.2 19. R i a u 15. Kalimantan Timur 71.0 13.5 16. Kalimantan Tengah 63.4 6. Maluku 82. Kepulauan Riau 31.8 8.0 22.3 16.3 2.5 5.9 17.4 3.8 12.5 3.9 6.3 4.3 6. Nusa Tenggara Barat 53. Bengkulu 18. Sulawesi Barat 81.6 26.6 3. Lampung 19.6 16.8 4.6 22.0 11.3 13.2 17.6 18.0 11. Sulawesi Utara 72.7 11. Nanggroe Aceh Darussalam 12.0 15.8 18.9 Status Gizi BB/U Gizi kurang 16. Nusa Tenggara Timur 61.5 26.7 9.5 25.6 19.5 4.3 12. Kalimantan Selatan 64.8 17. Maluku Utara 91.5 11.9 12. Sumatera Selatan 17.2 4.0 30.6 26.9 17.2 23.3 14.8 7.9 19 .

6 13.4 28. Jawa Tengah 34.9 42. Kalimantan Selatan 64. Maluku Utara 91. Lampung 19.4 14.7 16.5 14.3 16.6 36.7 20.8 17.2 38. Bengkulu 18.4 49. Banten 51. Kalimantan Timur 71.2 58.6 16.5 14.0 15.0 21.6 19.0 17.0 18.7 39.2 23.6 15.5 29.2 30.9 10. Sumatera Utara 13.2 40.8 40.4 39.9 20. Kalimantan Barat 62.9 26. Sulawesi Barat 81. Prevalensi Balita Pendek dan Sangat (TB/U) Menurut Provinsi Tahun 2010 Status Gizi TB/U Provinsi Sangat pendek 24. Nusa Tenggara Timur 61.9 14.1 18.0 15. P a p u a INDONESIA 20 . Gorontalo 76. Sulawesi Tenggara 75.2 20.6 16.1 Pendek+ Sangat pendek 38.8 32.9 22. DKI Jakarta 32. Nanggroe Aceh Darussalam 12.5 12.6 37.1 23. DI Yogyakarta 35.6 16.4 14.5 35.8 36. Kalimantan Tengah 63. Jawa Barat 33.5 29.8 30.9 33.3 41.6 21.3 29.2 28. Bangka Belitung 21.3 13.9 17.3 48. Sumatera Selatan 17.4 12.5 19.3 20.9 16.4 14. Papua Barat 94.0 21.9 37.8 18.0 26.5 11.3 17. Sumatera Barat 14.4 23. R i a u 15.6 15.5 27. Sulawesi Utara 72.3 18.7 15. Jambi 16.1 17.7 18.0 15.9 18.6 11.3 29. Sulawesi Selatan 74.3 32. Sulawesi Tengah 73.1b.3 14.8 21.1 27.1 17.6 33.6 15.8 20.5 14. Nusa Tenggara Barat 53.6 12.4 31.6 33.5 Pendek 14.3 20. Kepulauan Riau 31.TABEL 1.3 15.0 27.0 15.3 19.3 35.4 12. Jawa Timur 36. Maluku 82.0 20.6 35.0 12.1 20. B a l i 52.

4 2.0 Kurus 7.3 5. B a l i 52.5 5.1c.9 9. P a p u a INDONESIA 21 .1 6.0 14.8 11.3 5.8 6.2 17. Banten 51. DKI Jakarta 32.9 8. Kalimantan Barat 62. Nanggroe Aceh Darussalam 12.2 4.4 9. Jawa Timur 36. Gorontalo 76.0 4.0 8.9 11.6 7. Sulawesi Tengah 73.TABEL 1.4 4.2 6.2 14.9 7.6 15.1 6.4 13.8 6.2 16.3 11.8 13.8 11.4 4.7 5. Kepulauan Riau 31.2 7.0 6. Kalimantan Selatan 64. Sumatera Selatan 17.7 15. R i a u 15.3 6.8 13.8 7.8 12. Sulawesi Selatan 74.2 9.3 8. Lampung 19.4 4.4 6.3 6.6 7.6 6.2 8.0 15. Papua Barat 94.0 6.2 11.4 7.6 8.6 6.0 8.9 6.7 10. Kalimantan Tengah 63.0 9.7 7.1 14.2 14.2 17.4 7. Maluku 82.1 6.6 12. Jawa Tengah 34.3 11.4 5.9 8. Sumatera Utara 13.2 14.0 8. Nusa Tenggara Timur 61.9 16.9 11. Prevalensi Balita Kurus dan Sangat kurus (BB/TB) Menurut Provinsi Tahun 2010 Status Gizi BB/TB Provinsi Sangat kurus 6.5 5.7 7. Nusa Tenggara Barat 53. Sulawesi Utara 72. Sulawesi Tenggara 75. Bengkulu 18. DI Yogyakarta 35.9 6.6 17.1 9.1 13.8 6.7 13.6 7.3 Kurus+ Sangat kurus 14.3 9.4 1.7 6.2 5.5 6.1 8. Jawa Barat 33. Kalimantan Timur 71.0 13.0 14.3 7.2 14. Sulawesi Barat 81.6 6. Bangka Belitung 21.6 4.0 8.7 2.6 7.2 5. Jambi 16.2 20.8 2.2 9. Sumatera Barat 14.9 7. Maluku Utara 91.8 7.

22 .

kuintil 4 dan kuintil 5. Dengan demikian keluarga yang masuk 2 kelompok pendapatan terendah atau keluarga yang tergolong miskin masih belum menunjukkan adanya peningkatan status gizi pada balitanya.4.3.1. Status Gizi Balita Menurut Kuintil Pendapatan Keluarga Kuintil pendapatan keluarga terdiri dari kuintil 1 sampai kuintil 5. balita pendek dan balita kurus terjadi pada kuintil 3. sedangkan prevalensi untuk ketiga jenis masalah gizi balita pada kuintil 1 dan kuintil 2 terlihat meningkat atau relative tetap. Kuintil 1 adalah kelompok pendapatan terendah dan kuintil 5 adalah kelompok pendapatan tertinggi. 23 . Dari Gambar 1.5 dan 1.6 secara umum dapat dilihat bahwa penurunan prevalensi balita gizi burkur. 1.

terutama pada prevalensi balita gizi burkur dan balita pendek (Gambar 1. Status Gizi Balita Menurut Jenis Kelamin Status gizi balita perempuan secara umum lebih baik dari balita laki-laki baik pada tahun 2007 maupun tahun 2010. Prevalensi balita gizi burkur. 1.7.4. 24 . Demikian pula penurunan prevalensi balita yang bermasalah gizi secara umum lebih besar terjadi pada balita perempuan disbanding dengan balita laki-laki.9).1.8 dan 1. pendek dan kurus secara umum lebih rendah pada balita perempuan dibanding dengan balita laki-laki.

11) Demikian pula dengan prevalensi Balita Kurus. Penurunan prevalensi kurus terlihat lebih tinggi pada balita laki-laki yaitu sebesar 0.10).7 persen tahun 2007 menjadi 16.7 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1 persen. Pencapaian indicator MDG pada tahun 2010 berdasarkan prevalensi gizi burkur adalah 17. Provinsi DI Yogyakarta memiliki prevalensi pendek terendah yaitu 22. sedangkan pada balita laki-laki penurunan prevalensi terlihat kecil yaitu dari 37. Demikian pula halnya dengan prevalensi pendek.6 persen dan Provinsi Jambi memiliki prevalensi tertinggi yaitu 20. pada balita perempuan turun dari 35.5 persen.9 persen.5 persen pada tahun 2015. 1.7 persen.Prevalensi balita gizi burkur pada balita perempuan menurun dari 17. Secara umum dapat dilihat penurunan prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 ke tahun 2010.13 trend prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 – 2010.3 persen tahun 2010 atau turun sebesar 0. 25 . (Gambar 1.4 persen.9 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1.5 persen dan Provinsi NTT memiliki prevalensi tertinggi yaitu 58.2 persen.0 persen (Gambar 1.5 persen (Gambar 1. sedangkan pada balita perempuan sebesar 0. Pada tahun 1989 prevalensi gizi burkur sebesar 31 persen yang diharapkan menjadi separuhnya yaitu 15. sedangkan pada balita laki-laki tidak terjadi penurunan atau tetap 19.8 persen tahun 2007 menjadi 33.9 persen. Provinsi Sulawesi Utara memiliki prevalensi balita gizi burkur paling rendah yaitu 10. terdapat 20 provinsi yang menurun prevalensinya dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap.4 persen.0 persen dan Provinsi NTB memiliki prevalensi tertinggi yaitu 30.6.12).7 persen tahun 2007 menjadi 37.5.1 persen. Provinsi Bangka Belitung memiliki prevalensi terendah yaitu 7. 1. Dalam hal prevalensi Balita Pendek pada tahun 2010 ada 25 provinsi yang menurun prevalensinya dan 8 provinsi yang meningkat atau relative tetap prevalensinya.4 persen yang berarti rata-rata dalam setahun harus turun sebesar 0. Status Gizi Balita Tingkat Provinsi Ditinjau dari prevalensi Balita Gizi Burkur pada tahun 2010 ada 20 provinsi yang menurun prevalensi dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap. Trend Prevalensi Balita Gizi Burkur dari Tahun 1989 – 2010 Pencapaian MDG berdasarkan indicator status gizi balita disajikan pada Gambar 1. Dengan demikian dalamk kurun waktu 5 tahun mendatang Indonesia harus menurunkan prevalensi balita gizi burkur sebesar 2.

26 .

. 27 .

28 .

dimana ibu atau orang yang menyediakan makan untuk semua anggota rumah tangga yang diwawancara dengan memperhitungkan jumlah orang menurut umur dan jenis kelamin yang makan dirumah dan yang makan diluar rumah. yang dijabarkan dalam indikator “Proporsi penduduk yang berada di bawah konsumsi minimum”.KONSUMSI ENERGI DIBAWAH KEBUTUHAN MINIMAL Tujuan MDG’s nomor satu adalah “Menanggulangi Kemiskinan dan `Kelaparan” dan didalamnya terdapat target “menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya”. dimana setiap anggota rumah tangga diwawancara konsumsi makan sehari (24 jam yang lalu). Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi lebih rendah dari 70 % dari 2100 kkal. Acuan 29 . Sesuai dengan indikator diatas. Kebutuhan konsumsi energi setiap individu berbeda menurut umur dan jenis kelamin serta status hamil atau menyusui (bagi individu wanita). sedangkan pada Riskesdas 2007. Proporsi penduduk dengan konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal dihitung berdasarkan konsumsi energi penduduk dibandingkan kebutuhannya sesuai umur. data konsumsi energi adalah data konsumsi rumah tangga. jenis kelamin dan status kehamilan (bagi ibu hamil). maka pada Risksdas 2010 telah dikumpulkan data konsumsi energi individu. serta dikoreksi dengan jumlah tamu yang ikut makan dirumah tangga tersebut (menurut umur dan jenis kelamin). Konsumsi energi per kapita penduduk pada data Riskesdas 2007 dihitung berdasarkan konsumsi energi rumah tangga dibagi jumlah anggota rumah tangga yang sudah distandarisasi menurut umur dan jenis kelamin. Oleh sebab itu data konsumsi energi Riskesdas 2010 lebih akurat. sebab angka yang diperoleh merupakan angka konsumsi energi individu (anggota rumah tangga).

kecukupan yang digunakan adalah “Tabel Angka Kecukupan Gizi 2004 Bagi Orang Indonesia” dalam Widya Karya Pangan dan Gizi Tahun 2004.4 41. semakin tinggi kuintil pengeluaran rumah tangga semakin sedikit penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% AKG).2 40.2 40.Riskesdas 2010 Kelompok Umur Balita Anak Sekolah Remaja Dewasa Ibu Hamil Total % 24.5 40.6 % penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (70 %).6 %.4 %).2 54. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) – Riskesdas 2010 % 60 50 40 30 20 10 0 54.2. Proporsi defisit energi < 70 % terbanyak pada usia remaja (54. Pada penduduk dengan kuintil pengeluaran rumah tangga terendah (kuintil 1) sebanyak 46. dan sebaliknya pada 30 .2 24. konsumsi penduduk di Indonesia yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (lebih rendah dari 70 % dari angka kecukupan gizi bagi orang Indonesia (tahun 2004) adalah sebanyak 40. Hasil Riskesdas 2010.2 44. dan terendah pada anak balita (24.5 41.6 Balita Dewasa Anak Sek Hamil Remaja Total Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% dari AKG) lebih banyak pada penduduk di desa dari pada penduduk di kota. Tabel 1.14.4 40.6 Gambar 1. Menurut kuintil pengeluaran rumah tangga.2 44.5%). Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) .

Riskesdas 2010 Tingkat pengeluaran/kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Total % 46.4.3 40. Tabel 1.6 Tabel 1.5 41 40.6 31 .15.9 41. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) Menurut Desa dan Kota – Riskesdas 2010 Kelompok Umur Kota Desa Total % 39.6 43.5 39 Kota Desa Total 39.3 40.3 40.2 40. sebanyak 34.3 persen penduduk yang mengonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (< 70 % AKG).3 34.5 37.6 Gambar 1.3.9 41. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % Angka Kecukupan Gizi) Menurut Kuintil Pengeluaran Rumah Tangga .kuintil pengeluaran rumah tangga tertinggi (kuintil 5).5 40 39. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) di Kota dan Di Desa % 41.

6 34. pada tahun 2007.3 40.6 43.Gambar 1.6 persen. dan terendah di provinsi Jawa Timur (26.2 40. proporsi konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal 43 persen lebih banyak dibanding pada tahun 2010 yaitu sebanyak 40.6%) dan provinsi dengan proprosi konsumsi energi dibawah kebutuhan terendah adalah di provinsi Bengkulu 23.5 37.8 persen.1%). Menurut provinsi.16. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 % AKG 2004) Menurut Kuintil Pengeluaran RT-Riskesdas 2010 % 50 40 30 20 10 0 Kuintil 1 Kuintil 4 Kuintil 2 Kuintil 5 Kuintil 3 Total 46. 32 . provinsi yang penduduknya mengkonsumsi energi lebih rendah dari kebutuhannya dengan jumlah tertinggi adalah provinsi Nusa Tenggara Barat (46. provinsi dengan penduduk mengkonsumsi energi dibawah kebutuhannya tertinggi di provinsi Bengkulu (67%). Pada tahun 2010.3 Pada tahun 2007.

Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi.6%).2) menurut provinsi dan karakteristik responden. menurun 6. informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu atau anggota rumahtangga lain yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan. tiga kali DPT-HB. Imunisasi campak merupakan salah satu dari indikator dalam Millenium Development Goals (MDGs). Imunisasi campak pada anak 12-23 bulan Kementerian Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda. cakupan imunisasi campak dalam Riskesdas sebesar 74. tiga kali polio. imunisasi DPT-HB pada bayi umur dua. imunisasi polio pada bayi baru lahir. Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada dua tabel (Tabel 4. dan satu kali imunisasi campak.1 dapat dilihat secara keseluruhan.1 persen dibanding Riskesdas 2007 (81.4%). Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui. Oleh karena Riskesdas 2010 ditujukan pada indikator yang ada dalam MDGs.1 s/d Tabel 4. Dalam Riskesdas. empat kali imunisasi polio. empat bulan dengan interval minimal empat minggu. cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan. Cakupan imunisasi terendah di provinsi Papua (47.5 persen.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) atau Buku KIA. dalam laporan ini hanya analisis untuk imunisasi campak. dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan. Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan. dan Buku catatan kesehatan anak lainnya. Program imunisasi untuk penyakitpenyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG. Terdapat 19 provinsi cakupan imunisasi campak di bawah rata-rata nasional. 33 . tiga kali imunisasi DPT-HB. anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG. Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi. dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu.2. disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut. tiga. dan satu kali imunisasi campak. Goal 4 – MDG Menurunkan Kematian Anak Target: Menurunkan Angka kematian balita hingga dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015 1. Dari Tabel 4.

1 78.3 61.6 84.5 67.0 59.9 91.4 64. sedangkan provinsi lainnya relatif sama atau menurun.1 86. Tabel 4.5 76.8 80.3%).3 83.0 85. Riskesdas 2007. Dengan demikian terdapat perbedaan cakupan sebesar 9.5 69.2 menunjukkan cakupan imunisasi campak menurut karakteristik daerah.1 62. dan anak.4 94. rumahtangga.7 88.2 62.7 34 .4 85. hanya ada empat provinsi dengan cakupan imunisasi campak yang naik pada tahun 2010.8 73.2 96.Bila cakupan imunisasi campak dibandingkan antara Riskesdas 2007 dan 2010 per provinsi.4 77.6 84.9 68. Kenaikan cakupan imunisasi campak antara 2.5 75.4 83. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak Menurut Provinsi.6 77.3 81.5-6.1 89. 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.5 72.8 83.6 78.1.3%) dibanding di perdesaan (69.2 90.2 71.8 persen dan penurunan antara 0.9 77.1 68.3 85.3 96.9 90.6 87.1 86.2 78.1 76.6 74.4 83.5 Tabel 4.7 86.4 67.3 83.9 72.6 70.5 81. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulasewi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Persentase cakupan imunisasi campak Riskesdas 2007 Riskesdas 2010 69.7 77.1 63.5 57. Terlihat dalam tabel.0 90.9 80.5 60.3 95.7 72.5 85.5 99.3 83.5 persen.2-22. cakupan imunisasi campak di perkotaan lebih tinggi (79.7 69.0 71.4 81.0 75.1 62.7 47.

Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak Menurut Karakteristik Responden.5 -86.2 65.9 79.7 59. Pada tabel 4.2 82.5%) dan tertinggi pada PNS/ Polri/ TNI (86.0 78.1%) dan tertinggi pada pendidikan kepala keluarga tamat perguruan tinggi (86.3 persen. tidak banyak terdapat perbedaan cakupan imunisasi campak antara anak laki-laki dan perempuan. Cakupan imunisasi campak menurut pekerjaan kepala keluarga yang terendah pada petani/ nelayan/ buruh (67.6 78.0 86.4%). Cakupan imunisasi campak terendah bila pendidikan kepala keluarga tidak sekolah (59.0 81. Bila dibandingkan menurut jenis kelamin.6 69.7 91.2 juga dapat dilihat variasi yang lebar cakupan imunisasi campak menurut pendidikan kepala keluarga.8 85.2 74.1 78. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja Ibu rumahtangga PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Persentase cakupan imunisasi campak Riskesdas 2007 Riskesdas 2010 86.1 80.1 84.1 64. Keadaan tersebut serupa dengan hasil Riskesdas 2007.5 persen.6 74.3 88.2 67.9%).8 79.6 93.4 83. Tabel 4. lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya sebesar 21.3 78.2. baik dalam tahun 2007 maupun 2010. Terdapat tren cakupan imunisasi campak yang meningkat seiring dengan makin tingginya pendidikan.3 86.persen antara daerah perkotaan dan perdesaan. Riskesdas 2007.1 Karakteristik rumahtangga lain dalam analisis ini adalah tingkat pengeluaran per kapita yang dibagi menjadi lima kelompok yaitu kuintil 1 yaitu kelompok terendah sampai kuintil 5 yaitu 35 .4 74.0 81.2 persen.3 69.9 86.8 77. lebih tinggi perbedaan tersebut dibanding tahun 2007 yang hanya 7.2 71.6 74.1 78.8 82.0 71.5 79.9 83. Dengan demikian terdapat kesenjangan cakupan sebesar 27. 2010 Karakteristik Penduduk Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.9 77.5 83.1 80.

Menurut tipe daerah. Bayi di bawah 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif jika saat pengumpulan data ibunya menyatakan bahwa bayinya masih mendapatkan ASI. tipe daerah dan rumah tangga pada Riskesdas 2007 dan 2010. Kunjungan Neonatus Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi.0 persen dibanding 86. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita. Cakupan imunisasi campak pada kuintil 1 sebesar 65. Tabel 4. Dengan demikian terdapat perbedaan 21. tidak bisa dianalisis menurut provinsi dan hanya dapat dianalisis menurut karakteristik responden yang terlihat dalam Tabel 4.3 terlihat bahwa secara keseluruhan pada tahun 2010 sebanyak 60. 2. belum pernah mendapatkan MPASI.kelompok tertinggi.1 persen pada tahun 2010. 38.7 persen neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan. dan 4-5 bulan berturut-turut adalah 45.6 persen dan 33. dan dalam 24 jam yang lalu tidak mendapatkan makanan selain ASI. 3.0 persen.6 persen neonatus umur 3-7 hari dan 37.4 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi.7%). tetapi tidak ditanyakan pada Riskesdas 2007. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi.4 persen. 2-3 bulan. Pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari terendah pada tahun 2010 terdapat di Papua Barat (17.5 persen.5. Pemberian ASI Eksklusif Pemberian ASI eksklusif ditanyakan pada Riskesdas 2010. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita. Hasil tersebut lebih baik bila dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2007 sebesar 57. Ada kecenderungan semakin tinggi pengeluaran per kapita semakin tinggi pula cakupan imunisasi campak.8%). Hubungan yang jelas baru terlihat antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pengeluaran per 36 .3 persen. pemeriksaan neonatos pada tahun 2010 di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus. Oleh karena jumlah bayi di bawah 6 bulan hanya sedikit. Demikian juga tidak ada pola hubungan yang jelas antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pendidikan orangtua. Dalam Tabel 4.1%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66. Tidak ada perbedaan ASI eksklusif menurut jenis kelamin bayi. ASI eksklusif lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding daerah perkotaan.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84. dan 31.1 persen pada kuintil 5. Pemberian ASI eksklusif secara keseluruan pada umur 0-1 bulan. lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya 8.7 persen. Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Sulawesi Barat (9.

1 33.1 66.6 25.5 17.2 50.2 19.9 57.2 58.2 14.9 50.2 36.2 25.4 59.1 26.kapita.7 12.0 18.6 58.6 13.5 59.7 26.8 61.3 66.3 28.2 31.0 50.3.9 35.0 28.1 52.3 40.8 45.3 53. Semakin tinggi pengeluaran per kapita rumahtangga.8 30.5 54.3 65.5 67.5 21.5 63.2010 Pemeriksaan neonatus Umur 3-7 hari (KN1) 2007 2010 56.4 28.2 54.4 27.0 42.2 38.5 81.2 48.8 46.5 66. Riskesdas 2007.6 57.2 43.0 68.9 52.0 42.4 44.1 41.1 66.5 37.7 64.2 70.9 42.8 33.8 44.6 34. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Provinsi.0 39.0 12.8 62.8 63.4 15.4 27.8 30.7 64.7 41.4 51.3 54.3 28.2 26.8 84.9 34.6 43.5 64.0 64.4 37.3 22.6 32.4 62.6 72.4 23.8 17.3 47.7 30.7 56.4 34. semakin menurun pemberian ASI eksklusif baik di kelompok umur bayi 0-1 bulan.6 29.9 66.1 35.1 24.3 39.1 39.6 Pemeriksaan neonatus Umur 8-28 hari (KN2) 2007 2010 36.1 26.1 32. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulasewi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 37 .5 26.9 75. Tabel 4.3 21.3 49.0 39. maupun 4-5 bulan.6 60.1 53.2 69.9 55.7 48.4 50.3 39.8 26.2 21.2 25.4 29.9 55.4 19.1 63.7 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2-3 bulan.0 68.5 49.9 57.6 15.6 35.8 25.6 58.2 58.4 33.0 38.5 44.9 43.5 9.8 19.9 29.9 54.9 45.

9 27.5 30.3 44.3 31.5 33.3 54.2 37.9 67.0 37.1 2010 68.1 53. 2010 Karakteristik responden 2007 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.7 59.1 60.5 42. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja Ibu rumahtangga PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tkt pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 65.2 29. Riskesdas 2007.7 64.0 69.1 67.8 55.Tabel 4.5 63.4 36.5 37.0 58.6 62.7 52.5 62.7 39.4 55.1 47.3 44.2 46.8 41.2 28.8 63.5 36.4.9 2010 45.1 -74.9 37.6 29.7 35.5 52.3 66.0 31. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Karakteristik Responden.7 32.3 32.4 50.7 38 .2 59.6 33.7 51.2 31.3 46.5 2007 41.8 31.2 28.5 49.4 74.0 60.2 33.7 -54.7 29.3 57.8 24.2 52.0 60.9 66.9 64.1 57.5 50.4 65.7 61.8 65.9 79.0 51.3 33.7 57.2 41.0 59.5 39.3 41.7 40.1 52.

3 42.8 41.2 31.2 29.0 44.3 21.0 45.4 4-5 bln 26.3 30.5 34.4 43.3 36.0 39 . Persentase Pemberian ASI Eksklusif Menurut Umur Anak dan Karakteristik Responden.9 34.7 47.1 43.6 38.2 35.4 32.8 40.4 33.2 31.5 36. 2010 Karakteristik responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Pendidikan kepala keluarga Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat Perg.3 30. Riskesdas 2007.5 45.5 25.7 35.0 45.4 51.3 36.8 29.1 52.3 0-1 bln 41.7 50.6 34.0 38.7 34.2 37.3 33.0 42.6 33.3 36.6 39.Tabel 4.3 36.0 44. Tinggi Pekerjaan kepala keluarga Tidak bekerja PNS/ Polri/ TNI Wiraswasta Petani/ Nelayan/ Buruh Lainnya Tkt pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 INDONESIA Umur anak 2-3 bln 34.7 39.8 41.9 29.4 37.7 30.6 23.8 40.9 22.8 50.5 51.7 32.1 18.5.2 36.2 44.4 51.5 71.3 40.0 37.

14 15 .7 4.2 3.5 100. dengan memperhatikan indikator yang terkait dengan target menigkatkan kesehatan ibu.7 Total 8.24 25 .1 5.0 3.39 40 .1 7.7 2. Distribusi Sampel menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Riskesdas 2010 Kelompok Umur (tahun) 0-4 5-9 10 .1.5 5.8 10.9 49. Indikator untuk mencapai target tersebut. selain Angka Kematian Ibu per 100.4 5.2 2.3 4.2 8.29 30 .2 3.9 3. Beberapa indikator terkait disajikan juga dengan membandingkan dengan hasil sebelumnya yang berasal dari Susenas maupun SDKI.5 9.2 5.5 1.8 1.1 4. Gambaran Sampel Riskesdas 2010 Distribusi kelompok umur untuk keseluruhan sampel Riskesdas adalah sebagai berikut: Tabel 5.1 4.19 20 .0 3.7 8.4 2.3 4.6 3.4 5.6 3.1 7.3.2 4.0 40 .8 3.7 2.4 8.1 1. terdapat indikator yang dipantau untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah: Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan Angka pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun Berikut ini merupakan hasil analisis Riskesdas 2010.34 35 .3 6.5 4.8 7.7 3.000 kelahiran hidup. Target sampel penduduk untuk mengetahui kesehatan ibu adalah perempuan pernah kawin usia reproduktif/WUS.1 4.Goal 5 .44 45 -49 50 -54 55 -59 60 -64 65 + Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 4.6 50.9 3.MDG Meningkatkan Kesehatan Ibu Target: Menurunkan 75% kematian ibu dalam kurun waktu 1990-2015. 15-49 tahun.2 2.

9 Total 13.2 11.14 15 .7 2.7 12.0 Proporsi kehamilan dari sampel Riskesdas 2010 adalah 3. Tabel 5.0 41 .3 10.0 100.24 25 .4 0.6 0.1 12.3 0.5 10.2.39 40 .34 35 .1%).Dari tabel di atas.19 20 .8 12.8 9.1 13.1 3.4 11.5 100.7 10. proporsi perempuan usia reproduktif/WUS 15-49 tahun terhadap total sampel adalah 26.2 50.44 45 -49 50 -54 55 -59 Total Apakah sedang hamil Ya Tidak 0. Proporsi kehamilan terhadap total penduduk Riskesdas 2010 Kelompok Umur 10 .3 7.6 11.1 0.1%).8 0.5 11.8 0.3 20.0 11.3 0.6 50.4 0. dan terlihat kehamilan terjadi pada kelompok umur 10-14 tahun (0.2 10. dan kelompok umur 50-54 tahun (0.9 49.9%.4 0.9 persen. Distribusi status perkawinan seluruh kelompok umur penduduk adalah sebagai berikut: Tabel 5.0 3.1 0.29 30 .0 96.1 persen.3 7.4 25.7 Total 45.8 24.6 0.7 0.7 9.3.4 1.1 0. Proporsi kehamilan pada perempuan usia reproduktif 15-49 tahun adalah 2. Status Perkawinan menurut Jenis Kelamin Riskesdas 2010 Status Perkawinan Belum kawin Kawin Cerai hidup Cerai mati Total Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 24.

Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan Analisis dilakukan berdasarkan perbandingan antara persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih (dokter. bidan. dan Maluku (52. Sedangkan provinsi yang perlu mendapatkan perhatian adalah Maluku Utara (33. Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun terakhir. Provinsi terbaik dengan proporsi pertolongan kelahiran ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih adalah DI Yogyakarta (98. Angka pertolongan kelahiran yang diperoleh dibedakan menjadi dua.1 persen tidak menjawab.1. Grafik 5.4%). Indonesia 2010 Variasi antar provinsi dapat dilihat pada tabel berikut.1. pada umumnya yang digunakan adalah angka pertolongan kelahiran berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan 1 tahun sebelum survei. 42 . Untuk melihat kecenderungan.7 persen oleh bukan tenaga kesehatan.2 persen.1%). DKI Jakarta (96. yaitu berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada lima tahun sebelum survei. dan tercatat 0. dan Bali (92.8%). perawat.5%). diikuti Kepulauan Riau (97. Grafik berikut menunjukkan proporsi pertolongan kelahiran yang terjadi pada 5 tahun sebelum survei.6%). dan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada 1 tahun sebelum survei.7%). dan 19. dan tenaga kesehatan lain) dengan dengan jumlah persalinan seluruhnya dan dinyatakan dalam persen. Proporsi pertolongan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 80.

0 0.0 0.4 0.0 0.2 37.0 0.1 18. Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun sebelum survei menurut Provinsi.0 0.0 7.0 0.5 14.0 0.0 13.6 79.8 72.0 52.6 18.6 9.0 0.0 0.1 96.3 0.1 83.0 0.6 97.3 83.5 24.9 16.0 0.5 85.4 90.Tabel 5.5 44.0 86.0 0.2 Tenaga Non Kesehatan 13.2 28.1 60.0 0.6 66.0 0.5 23.1 0.6 24.6 60.3% dengan variasi antar provinsi yang 43 .9 8.4 57.0 92.4 75.7 Tidak menjawab 0.6 19.0 0.9 43.5 79.9 36.4 20.4 80.2 12.7 16.0 0.9 3. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tenaga Kesehatan 86.0 0.0 0.0 0.8 59.7 91.1 56.5 75.6 98.4 81.0 0.1 21.0 0.0 0.2 0.4.0 0.0 0.1 39.0 47.2 21.7 44.9 78.1 63.0 0.0 0.3 55.6 42.5 55.4 2.0 0.5 76.0 3.9 40.4 0.3 20.8 78.9 81.5 42.0 0.8 88.1 Sedangkan proporsi pertolongan kelahiran yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk kejadian kelahiran 1 tahun sebelum survei adalah 82.4 33.4 57.

5 88.7 87.0 52.3 57.8 64.terbaik dan terendah hampir sama dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan 5 tahun sebelum survei.7 80.8 70.5 87. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia % 92.8 48.0 79.7 26.Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Nakes yang terjadi 1 tahun sebelum survei menurut Provinsi.4 56.2 95.3 44 .5 94.5.6 66.5 63.2 49.9 82.4 79.4 85.6 94.6 87.9 80.4 95.8 97.0 66.8 78.1 98.5 79. Tabel 5.1 76.2 95.3 60.1 64.

1 persen. Berdasarkan tingkat pengeluaran. serta Bali (95. Pada kondisi saat ini. 91.2.2%).8%). dan berbeda sangat lebar dibanding kelompok penduduk 20% teratas (kuintil 5) yaitu sebesar 94. diikuti Kepulauan Riau (97. kecenderungan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan meningkat dari 40.Dari tabel di atas dapat dilihat provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan di atas 95 persen adalah DI Yogyakarta (98. Sedangkan provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan masih di bawah 50% adalah Maluku Utara (26.4%.2%). Terjadi disparitas yang cukup lebar untuk kelompok penduduk yang tinggal di perdesaan (72. 45 .7%).5%).3 persen pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan. DKI Jakarta dan Bangka Belitung (95.3%).3 persen pada tahun 2010. Kecenderungan Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan Indonesia 1990-2010 Sumber: Susenas 1990-2007. Grafik 5. dari Riskesdas 2010 menunjukkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan berdasarkan karakteristik penduduk. dapat dilihat kelompok penduduk 20% terbawah (kuintil 1). dan Papua Barat (49.7 persen tahun 1990 menjadi 82. pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 69. Riskesdas 2010. Maluku (48. dapat dilihat kelompok penduduk yang tinggal di perkotaan. Secara nasional.6%).9%).

2%). 46 .5%.6 Kuintil 1 79.6.5%).6 persen melahirkan di fasilitas kesehatan dibanding di perdesaan yang hanya 40.1 5.0 Perdesaan Tingkat Pengeluaran 69. dan hanya 1. dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (95.5% di Poilindes/Poskesdes. Indonesia 2010 Berdasarkan karakteristik penduduk.3 9.5 13. Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut tempat melahirkan.7 persen dibanding kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5) yaitu sebesar 81.3. serta berdasarkan tingkat pengeluaran.9 Kuintil 5 Tempat melahirkan untuk persalinan 1 tahun sebelum survei.4 30. Penduduk di perkotaan 77.9 28.5 Kuintil 3 91.1%).7 Perkotaan 72. terjadi juga kesenjangan tempat melahirkan di perkotaan dan di perdesaan.2 persen. sebagian besar sudah dilakukan di fasilitas kesehatan (59. Indonesia 2010 Tenaga Tenaga Non Karakteristik Penduduk Kesehatan Kesehatan Tempat Tinggal 91. dan masih banyak yang melahirkan di rumah (39.8%).0 Kuintil 4 94. Sementara kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1) melahirkan di fasilitas kesehatan sebesar 40. Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada grafik yang menunjukkan provinsi terendah adalah Sulawesi Tenggara (7.5 Kuintil 2 86. Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan menurut Karakterisitik Penduduk.0 9.Tabel 5.5 20. Grafik 5.

6 40. Proporsi Persalinan Satu Tahun Sebelum Survei yang Melahirkan di Fasilitas Kesehatan menurut Provinsi.0 27.9 63. Indonesia 2010 47 .4.6 57.Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut Tempat Melahirkan dan Karakateristik Penduduk.8 21.2 72.2 40.1 81.9 45.0 35.6 56.8 0.8 0.7.4 1.2 2. Indonesia 2010 Polindes Rumah /Poskesdes /lainnya 0.6 Karakteristik Penduduk Faskes Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 77.Tabel 5.1 17.8 2.1 1.5 Grafik 5.7 53.

minimal 1 kali pada trimester 2 dan. Dari sampel Riskesdas 2010.8. diperoleh 38.0%).2%).3% yang melakukan pelayanan antenatal minimal 1 kali pada trimester 1. berikut. diketahui akses (K1) secara keseluruhan adalah 92. Grafik 5. dan tidak melakukan pemeriksaan (2. semakin membaik pendidikan penduduk. demikian juga untuk K4. Indonesia 2010. persentase kunjungan antenatalnya lebih kecil dibanding dengan kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5). Berdasakan pekerjaan.6% perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun mempunyai riwayat kehamilan anak terakhir pada periode lima tahun terakhir. Demikian halnya dengan tingkat pengeluaran. perlu juga dipantau akses pelayanan kesehatan reproduksi. Indikator yang dapat diperoleh dari Riskesdas adalah Akses (K1) yang dianalisis berdasarkan akses ibu hamil ke tenaga kesehatan dari semua riwayat kehamilan anak terakhir dari perempuan usia 15-49 tahun. minimal 1 kali pada trimester II.6.8%). K1 dan K4 dapat dilihat pada Tabel 5. Menurut riwayat kehamilannya anak terakhir tersebut. dan minimal 2 kali pada trimester 3 dari jumlah kehamilan perempuan usia 15-49 tahun. minimal 2 kali pada trimester 3. Selanjutnya adalah K4 yang dianalisis berdasarkan jumlah pemeriksaan antenatal minimal 1 kali pada trimester I. Berdasarkan karakteristik. Proporsi Perempuan Pernah Kawin usia 15-49 tahun dari Kehamilan Anak Terakhir Lima Tahun Terakhir Memeriksakan Kehamilan.Untuk meningkatkan kesehatan ibu. khususnya untuk perempuan usia 15-49 tahun. pada umumnya kelompok petani/nelayan yang cakupan pelayanan antenatalnya lebih kecil dibanding kelompok penduduk bukan petani/nelayan. Proporsi meningkat berdasarkan tingkat pendidikan.8% ibu hamil mengikuti pelayanan antenatal. yang pada umumnya kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1). Lebih lanjut hanya 61. masih terdapat ibu memeriksakan kehamilannya ke dukun (3. sudah sebagian besar memeriksaan kandungannya (pelayanan antenatal) ke tenaga kesehatan (84. 48 . Dari analisis. Akses ibu hamil ke tenaga kesehatan (K1) pada penduduk perkotaan jauh lebih baik dibanding perdesaan. semakin banyak yang melakukan kunjungan antenatal ke tenaga kesehatan.

0 99.7 K4 73.7 berdasarkan SDKI 2007 dan Riskesdas 2010.5 88. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 K1 97.7 37.6 84.7 90.8.6 95.5 74.3 93.Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Karakteristik Penduduk.3 persen (2010). Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4.Untuk kecenderungan.2 97. Terjadi penurunan angka K1 dari 93. Tabel 5.8 persen (2010) dan K4 dari 65.4 63.2% (2007) ke 61. cakupan pelayanan antenatal ini dapat dilihat pada grafik 5.6 57.2 94.0 88.5 97.3 47.5 87.3 50.4 79.1 89.1 91.3 98.2 56.0 75.3 48.8 96.3 persen (2007) ke 92.3 79.3 62.5 Grafik 5. Indonesia 2007-2010 49 .7 70.7.9 50.1 63.

1 94.9.1 84.Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.4 58.6 35. Tabel 5.4 21.9 91.4 73.5 76.6 98.2 50.6 34.5 74.3 52.7 67.6 89.3 50 .4 77.2 93.5 44.8 77.0 96.7 83.0 92.1 81.6 48.7 53.0 79.1 59.9 77.8 75.4 54.4 56.8 K4 61.0 95.2 94.4 61. sedangkan cakupan terendah untuk K1 adalah provinsi Papua Barat (72.7 88.8 92.4 93.6 52.1 93.9 91.7 54.6 35.7 94.5 67.8 28.2 85.1 100.1 82.1 46.8 96.8 50.0%) dan terendah untuk K4 adalah provinsi Gorontalo (19.Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Provinsi.7 89.1 32.5 98.5 88.2 39.9.5 44. DI Yogyakarta merupakan provinsi terbaik.7 89. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia K1 93.8 24.3 85.7 19.9 88.1 77.4 98. untuk cakupan K1 dan K4.8%).4 41.3 72.

dan terdapat 19 persen tidak pernah menggunakan sama sekali. Sedangkan menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP.11. (Distribusi status perkawinan bisa dilihat pada tabel 5. sampel yang dipilih adalah perempuan usia 15-49 tahun yang berstatus pernah kawin. untuk mengikuti kecenderungan dari tahun 2007 yang sudah dilakukan pada SDKI 2007 ke tahun 2010 a.9%). sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2. Analisis pada Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun Pada Grafik 5. Untuk kepentingan analisis. Provinsi dengan persentase menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah bali (64. Sedangkan perempuan berstatus kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin”.2.10. Proporsi penggunaan alat kontrasepsi di perdesaan pada umumnya lebih tinggi dari perkotaan.2) Analisis dibedakan menjadi dua.9 persen perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi. Grafik 5.3%) dan terendah adalah provinsi Papua barat (31. Perempuan berstatus pernah kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin’. Menurut kelompok umur.8. Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan pernah kawin 51 . Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5. pemakaian kontrasepsi untuk mencegah kehamilan ditanyanya pada perempuan pernah kawin usia 10-59 tahun dan pasangannya. menurut pekerjaan adalah yang tidak bekerja. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 tahun Indonesia 2010 Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5. dan yang berstatus kawin. Pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun Pada Riskesdas 2010. pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun. ‘cerai hidup’ dan ‘cerai mati’.8 terlihat 53.

7 32.3 45. Ada terjadi penurunan dari 57. Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5.9 persen pada tahun 2010.7 52 .0 57.9 56.6 60.4 60.yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (42%).3 58.9 44.9 persen pada tahun 2007 menjadi 53.9.4 56.4 47.3 60.7 52.4%). Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Kelompok Umur 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 -49 Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 % 52.9 53.5 45. dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 Tahun yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk.2 58.5 55.1 50.7 51. Tabel 5.10.6 50.2 55.4 54.8 54.

1 29.9 56.0 53.4 24.4 18.0 25.4 37.6 15.8 24.0 38.4 60.1 22.3 15.4 30.5 57.6 58.6 16.4 20.2 11.2 18.7 47.3 37.4 29.9 30.7 61.7 25.7 32.1 Tidak pernah sama sekali 30.3 26.8 19.8 35.2 21.7 22.7 23.2 42.3 27.7 16.7 36.3 17.9 49.6 27.4 12.8 31.7 29.3 60.1 29.1 55.6 18.7 37.6 40.8 29.0 53 .8 13.2 21.1 12.6 54.0 16.6 10.6 63.11.3 51.9 Pernah/tidak menggunakan lagi 27.0 17.7 37.9 46.5 24.4 38.3 30. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi.5 22.4 21.0 24.0 18.2 62.8 62.1 28.1 57.0 59.Tabel 5.9 38.0 51.2 21.7 64.6 29.2 27.3 58.0 56.4 23.9 23.4 41. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sekarang menggunakan 41.2 27.6 11.2 49.8 54.8 31.1 30.3 30.6 27.3 18.7 43.6 25.8 27.3 15.1 42.7 25.

1 Sumber: SDKI 2007.0 2.Grafik 5.12 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010. Suntikan dan amenorrhea laktasi.1 1. Demikian juga 54 . Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara KB.4 42.1 persen tahun 2010.13).1 Riskesdas 2010 2. Tabel 5.7 30.9.0 0.0 0. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 42.5 4. penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih banyak yang tinggal di perdesaan (34.12.2 0.1 12. Indonesia: 2007-2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan SDKI 2007 3.3 0.1 persen tahun 2007 menjadi 46.0 31. Riskesdas 2010 Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5.4 2.6 1.2 12. Indonesia: 2007-2010 Sumber: SDKI 2007.0 1.1 0.1 0.5%) dibanding di perkotaan (27. Riskesdas 2010 Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.1 0.8%). Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD.3 5.4 1.1 46.3 0.

9%) dibanding di perkotaan (0.0 34. Sebanyak 12.5 2. pada umumnya membeli di Apotik.1 0. Tabel 5.5 52.1 12.1 45.2 0.1 Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB seperti pada tabel 5. diikuti di Puskesmas (12.0%) Pustu (4.0 0.9 2.9 5.7 0. bervariasi.1 0.1 47.7 4.5 0.2 Perdesaan 1.9%).9 27.4 1. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal. dll.5% menjawab lainnya.1 0. atau mendapatkan secara gratis di kantor desa.penggunaan pengguna implant di perdesaan (1.5 1.3%).4 0.1 12. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat pelayanan KB.3 2.0 12. Sebaliknya pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (12.9%) dibanding di perdesaan (11.14.8 0.13.3 55 .6 4.4 0.0 4.5 2. Indonesia 2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan Perkotaan 2.9 1. Indonesia 2010 Tempat Pelayanan KB RS Pemerintah RS Swasta RS Bersalin Puskesmas Pustu Klinik TKBK/TMK Dokter praktek Bidan praktek Perawat praktek Polindes/ Poskesdes Lainnya % 3.7%). Tabel 5.1 11.5%).5%).9 0.7 0.14 dapat dilihat sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek (52. depot obat.5 0. dan di RS pemerintah (3.

IND) pertanyaan Dc06. dan ‘tidak menginginkan’.Pada Riskesdas 2010 ditelusuri juga alasan utama tidak menggunakan KB.3%. dan ‘ingin punya anak’ c) Tidak perlu lagi adalah dari jawaban ‘tidak perlu lagi’ d) Lainnya adalah dari jawaban ‘lainnya Diluar klasifikasi ini adalah responden yang menggunakan KB.7%). Selanjutnya yang menjawab belum atau ingin punya anak adalah 15 persen. Grafik 5.9%). dan Papua Barat (32.0 persen yang sebenarnya membutuhkan akan tetapi tidak bisa terpenuhi. serta yang menjawab lainnya 5. ‘takut efek samping’. Indonesia 2010 56 . tidak perlu lagi 11. Ada empat provinsi dengan persentase yang menjawab butuh. Jawaban responden dari pertanyaan ini selanjutkan dikelompokkan menjadi empat: a) Butuh/tidak terpenuhi atau unmet need adalah dari jawaban ‘dilarang pasangan’.7%). ‘mahal’ .8 persen. Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8. ‘dilarang agama’ . ‘sulit diperoleh’.10. Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5. tapi tidak terpenuhi di atas 30 persen yaitu Maluku (32. Bentuk pertanyaannya dapat dilihat pada kuesioner individu terlampir (RKD10. b) Belum/ingin punya anak adalah dari jawaban ‘belum punya anak’.10 dapat dilihat ada 14.15.Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB. Dari Grafik 5.

9 8.0 12.5 2.5 16.7 14.8 15.0 18.0 19.1 55.1 38.2 15.0 11.3 16.5 37.7 19.1 10.8 62.5 14.3 8.6 12.3 17.9 57.3 58.0 5.4 57.15.2 17.5 7.0 56.6 5.7 12.7 36.5 21.8 13.0 6.2 6.6 29.2 3.5 18.4 20.7 13.5 5. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Butuh/tidak Belum/ingin terpenuhi punya anak 23.3 9.5 9.9 8.3 17.3 19.4 10.2 12.0 16.9 63.0 11.7 11.6 54.1 9.5 14.3 15.0 12.7 10.8 35.0 53.0 11.6 10.4 14.8 32.4 9.5 7.3 15.3 13.8 10.6 19.1 11.2 10.7 13. Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi.7 6.9 10.1 6.8 54.3 51.9 22.8 9.1 57.4 4.9 12.0 11.2 8.3 3.0 51.0 59.1 11.4 60.3 Lainnya 7.0 10.6 2.2 5.3 3.8 10.5 2.2 42.8 11.8 Menggunakan KB 41.0 11.7 9.7 43.5 16.7 25.8 16.Tabel 5.8 25.1 9.4 6.0 16.8 12.2 49.6 22.1 16.0 38.6 9.6 19.7 4.2 9.2 62.9 12.9 9.7 13.3 60.3 4.3 11.2 9.0 12.9 32.5 6.0 13.9 25.7 64.2 14.9 8.0 Tidak perlu lagi 9.9 46.9 10.3 9.3 10.3 9.2 5.3 15.5 10.6 15.5 7.3 7.8 61.0 14.8 32.4 38.5 13.3 6.2 6.6 58.0 10.9 4.8 20.6 5.9 14.2 17.9 8.7 47.0 5.9 49.5 12.7 7.7 14.9 57 .2 11.

Menurut kelompok umur.4%). Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Berstatus Kawin Usia 15-49 tahun Indonesia 2010 Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5.b. Sedangkan menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP. Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan berstatus kawin yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (41.8%).4 persen tidak pernah menggunakan sama sekali.11. Penduduk di perdesaan pada umumnya menggunakan alat kontrasepsi lebih tinggi dari perkotaan. dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10. menurut pekerjaan adalah yang tidak bekerja. dilakukan untuk perempuan berstatus kawin umur 15-49 tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi.4 persen tahun 2007 menjadi 56 persen pada tahun 2010 58 .11 dapat dilihat perempuan yang berstatus kawin dan menggunakan alat KB adalah 56.17. Analisis pada Perempuan berstatus Kawin usia 15-49 tahun Analisis yang sama seperti di atas.16.0%. Grafik 5. Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5. Ada terjadi penurunan dari 61. Pada grafik 5.12. sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2. Provinsi dengan persentase menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah Kalimantan Tengah (66. dan 18. pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun.0%) dan terendah adalah provinsi Papua barat (32.4%).

5 35.7 62.9 53.1 48.1 59.1 48. Indonesia 2010 Karakteristik Penduduk Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Kelompok Umur 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 -49 Pendidikan Tidak sekolah/tidak tmt SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTS Tamat SLTA/MA Tamat D1/D2/D3/PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Petani/Nelayan PNS/Pegawai/lainnya Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 % 54.6 55.4 56.3 57.8 57.9 58.5 60.0 53.5 58.9 57. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Usia 15-49 Tahun yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk.2 55.5 59 .4 61.Tabel 5.3 59.1 62.2 53.6 47.16.1 45.

6 63.4 17.7 27.9 28.7 48.3 27.4 16.7 22.0 26.5 28.4 21.5 51.1 39.2 30.1 40.Tabel 5.7 20.2 63.4 21.2 23.3 50.5 28.3 29.1 16.4 43.9 59.8 36.6 60.5 39.4 37.8 15.2 30.17.7 20. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sekarang menggunakan 44.2 22.4 21.3 10.0 41.0 66.0 15.2 11.3 25.4 56.8 28.7 14.8 25.5 58.5 53.1 17.7 11.2 18.5 27.0 15.7 20.6 45.5 56.2 23.4 25.0 31.7 24.2 37.6 27.1 13.8 10.8 38.4 60 .3 27.1 27.6 24.8 65.1 17.5 40.4 21.9 25.2 62.0 Pernah/tidak menggunakan lagi 25.1 38.2 51.0 62.1 22.5 53.6 62.5 10.0 23.5 55.6 65.2 37.4 24.2 59.5 32.3 59.7 17.5 26.9 28.1 22.6 15. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi.5 15.8 40.7 20.8 60.6 Tidak pernah sama sekali 30.8 18.3 26.8 56.

0 0.6 44.8 4.4 0. penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih banyak yang tinggal di perdesaan (35.0 2.1 13.0 persen tahun 2010.1 1. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB.2 0.3 0.Grafik 5.1 0.1 0.18 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010.8 32.9 5.2 0.6 persen tahun 2007 menjadi 44. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 38. Demikian juga 61 .12.4 1.19). Indonesia: 2007-2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan SDKI 2007 Riskesdas 2010 3. Riskesdas 2010 Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan perempuan berstatus kawin dapat dilihat pada Tabel 5. Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD. Indonesia: 2007-2010 Sumber: SDKI 2007. Riskesdas 2010 Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.4 2.0 Sumber: SDKI 2007.1 31. Tabel 5. Suntikan dan amenorrhea laktasi.1 38. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara KB.3 1.8 1.4 2.2 12.5 0.18.0%).9%) dibanding di perkotaan (29.

9 2.penggunaan implant di perdesaan (1. Sebanyak 12.4 6.1 0.3 62 .0 42.2 0.1 13.2 35. atau mendapatkan secara gratis di kantor desa.9%) dibanding di perkotaan (0. Indonesia 2010 Jenis Alat/Cara KB Sterilisasi wanita Sterilisasi pria Pil IUD/AKDR/Spiral Suntikan Implant Kondom Amenorrhea Laktasi Pantang Berkala/Kalender Senggama terputus Lainnya Tidak menggunakan Perkotaan 2. Tabel 5. Tabel 5.4 1.9 1.8 0.2 2.6 0. dll.1 0. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal.5 4.0 12.6 2.20.1 12.5%).1 0.4 0.0 4.9 Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek (52.4%) dibanding di perdesaan (12.1 12.2%).5 52.6%).2 4.9 1. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat pelayanan KB. depot obat. pada umumnya membeli di Apotik.8 0.9%).1 29.1 Perdesaan 1. bervariasi. Sebaliknya pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (13.9 0.2%).5 0.3% menjawab lainnya.0%) Pustu (4. Indonesia 2010 Tempat Pelayanan KB RS Pemerintah RS Swasta RS Bersalin Puskesmas Pustu Klinik TKBK/TMK Dokter praktek Bidan praktek Perawat praktek Polindes/ Poskesdes Lainnya % 3.0 0.5 2.0 0.1 45. dan di RS pemerintah (3.19.4 0. diikuti di Puskesmas (12.

Ada dua provinsi dengan persentase teertinggi yang menjawab butuh.21. 63 . tapi tidak terpenuhi di atas 30% yaitu Maluku (32.3%).9 persen yang sebenarnya membutuhkan KB akan tetapi tidak bisa terpenuhi Grafik 5. Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8. Dari Grafik 5.13 dapat dilihat ada 13. dan Papua Barat (33. Proporsi Perempuan berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB. Indonesia 2010 Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.Analisis yang sama seperti dilakukan pada perempuan pernah kawin. adalah unmet need pada perempuan berstatus kawin.7%).13.0%).

7 48.1 13.7 12.0 62.6 63.4 10.7 17.6 33.5 53.3 11.5 9.7 3.3 4.1 19.6 2. Proporsi Perempuan Berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi.2 5.5 Menggunakan KB 44.Tabel 5.5 25.0 10.6 12.9 8.0 18.7 12.8 65.6 32.2 51.4 6.4 Tidak Lainnya perlu lagi 6.5 32.6 7.1 8.6 16.7 8.0 14.0 9.5 51.1 38.9 9.7 9.9 8.5 5.0 10.7 4.5 9.4 56.6 19.2 59.5 39.9 10.4 21.7 5.2 9.2 16.0 7.8 7.7 19.2 6.3 6.7 62.6 45.5 9.0 23.4 43.8 13.1 11.5 55.0 9.6 4.7 13.5 14.0 9.3 50.8 15.8 56.8 8.2 9.4 15.4 16.9 15.8 36.8 38.6 8.3 11.2 62.2 29.8 20.0 15.3 6.0 17.8 3.2 3.6 65.5 7.0 14.0 14.5 26.5 9.9 15.7 13.1 10.9 59.2 13.2 63.3 4.1 25.3 16.5 5.7 7.8 14.0 18.5 6. Indonesia 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Butuh/tidak Belum/ingin terpenuhi punya anak 23.3 13.4 12.5 59.0 7.2 16.0 15.0 8.8 7.8 2.9 22.8 13.0 13.2 8.6 10.2 39.6 4.0 3.2 10.3 11.9 16.8 60.0 19.0 11.5 56.6 60.9 5.8 4.3 8.1 7.1 19.21.3 5.6 5.7 19.3 15.2 20.2 59.7 7.7 9.6 6.2 9.3 66.7 20.2 8.7 9.6 4.0 64 .4 6.8 3.9 4.1 10.6 7.1 12.0 6.0 16.5 40.8 17.3 8.5 53.0 9.

4 persen perempuan di Indonesia sudah menikah sebelum menginjak usia 20 tahun Grafik 5. pada perempuan hamil diketahui sekitar 31 persen mendapat imunisasi TT kurang dari 2 kali. 65 . seperti terlihat pada grafik 5. dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu 12 bulan terakhir hanya 4.14. Status gizi Dari Riskesdas 2010 dapat diketahui usia perempuan menikah pertama.17.15. Proporsi Perempuan Umur 10-54 tahun menurut Umur Menikah Pertama. Indonesia 2010 Informasi lain yang juga penting untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah rutinitas untuk melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear. Dari Riskesdas 2010. sudah menikah pada usia yang sangat muda.6 persen perempuan yang melakukan pemeriksaan. selanjutnya pada usia berikutnya proporsi perempuan menikah pertama ini semakin meningkat sampai dengan usia 19 tahun. ditanyakan juga pada responden perempuan pernah kawin berapa kali diberi imunisasi TT sebelum dan sesudah menikah.Selain dua kelompok indikator di atas. Perempuan Indonesia.16.15 dapat dilihat sekitar 46. Imunisasi TT f. beberapa indikator yang dapat disajikan dari hasil Riskesdas 2010 untuk pertimbangan mempercepat peningkatan kesehatan ibu antara lain memperhatikan: c. Dari grafik 5. Dapat dilihat pada grafik 5. Melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear e. Pada grafik 5. 10 tahun. Usia menikah pertama d.

Proporsi Perempuan Umur Reproduktif menurut Jumlah kali mendapat imunisasai TT. Dari grafik 5. Inndonesia 2010 Informasi lain yang juga sangat penting untuk kesehatan ibu adalah status gizi perempuan reproduktif yang akan melahirkan.Grafik 5.18 dapat dilihat ada kecenderungan pada 66 . Proporsi Perempuan pernah Kawin umur15-49 tahun yang melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear.16. Indonesia. 2010 Grafik 5.17.

Sebaliknya dari grafik 5. 67 .5. Perempuan dengan IMT <18. Perempuan dengan IMT 25 + cenderung gemuk dan berisiko tinggi untuk terkena penyakit degeneratif seperti darah tinggi. Grafik 5. dll.15 dapat dilihat ada kecenderungan semakin bertambah umur proporsi perempuan dengan IMT 25 keatas semakin meningkat. Indonesia 2010 Berdasarkan analisis di atas. dapat disimpulkan bahwa kesehatan ibu pada prinsipnya dapat menjadi lebih baik jika program tetap mengupayakan peningkatan cakupan pelayanan kesehatan terutama pada pertolongan persalinan untuk perempuan hamil.18. Proporsi Perempuan pernah kawin menurut kelompok umur dan Status Gizi.perempuan kelompok umur 15-19 tahun.5 adalah kurus dan mempunyai risiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). dan juga dapat mengurangi pernikahan usia remaja serta perbaikan status gizi. diabetes melitus. Pelayanan KB diutamakan pada penduduk miskin yang membutuhkan agar jumlah kehamilan dapat diturunkan. 17. 2 persen dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) <18.

Riskesdas 2010 melaporkan sebesar 75 persen perempuan maupun laki-laki umur 15-24 tahun pernah mendengar tentang HIV/AIDS.1. Goal 6-MDG Memerangi HIV/AIDS.1. Hasil Riskesdas 2010 dibandingkan dengan hasil dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 yang mempunyai metode pengumpulan data yang sama.4. Salah satu indikator yang digunakan untuk memantau pencapaian target dan dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 adalah prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS. masalah malaria dan TB paru 6. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015 Narasi berikut mengkhususkan analisis berkaitan dengan pengetahuan responden tentang HIV/AIDS. Nampak adanya peningkatan pengetahuan pada perempuan sebesar 12 persen dan pada laki-laki sebesar 11 persen dibanding tahun 2007 (Gambar 6.1. dengan target mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015. PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS Salah satu tujuan yang ingin dicapai MDGs dalam kurun waktu 1990-2015 adalah memerangi HIV/AIDS. kepada responden ditanyakan hal-hal yang terkait dengan pengetahuan HIV/AIDS. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 2015 2. Gambar 6. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Target: 1.1). Sedangkan mengenai pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.1 Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar ttng HIV/AIDS menurut jenis kelamin Riskesdas 2007 dan 2010 68 .

7 72.2 90.8 69 .3 56.9 27.3 86. dan yang bekerja sebagai pegawai dan wiraswasta.5 41.2 79.5 49.9 84.1) Tabel 6.8 49.2 73.3 84.3 78.9 62. yang berpendidikan lebih tinggi.2 94.7 61.4 84.1 84.81 91.1 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS. pada mereka yang masih sekolah. juga pada kuintil/ pendapatan perkapita yang lebih tinggi.1 51.4 58.9 Tingkat pengeluaran perkapita Kuintil 1 53.4 51.3 75.2 27.1.8 62.8 64.7 Kuintil 4 68.8 85.9 65. Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 Karakteristik penduduk 2007 Status kawin Belum kawin Kawin Cerai Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D1/2/3/PT Pekerjaan Tidak bekerja Sekolah Pegawai Wiraswasta Petani/ nelayan/buruh Lainnya Laki-laki 2010 Perempuan 2007 2010 64.8 82.1 90.0 72.3 55.4 50.Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin.3 67.6 79.0 83.8 68.4 78.0 91.6 88.7 80.8 53.2 43.5 96.3 67.9 82.2 90.1 Kuintil 5 75.7 33.2 Indonesia 64.9 70.6 66.3 77.1 56.0 63.4 71.8 30.1 83.4 50.2 73.3 44.0 59.0 79.2 33.9 56.5 Kuintil 2 58.0 55.9 70.2 40.8 79.8 74.7 69.1 Kuintil 3 64. yang tinggal di perkotaan.3 67.5 63.8 85.4 38.1.4 48.3 62.5 63. (Tabel 6. menurut karakteristik penduduk.3 76.0 89.9 68.4 23.3 63.4 79.7 91.1 69.9 55.

DKI Jakarta. NTB. Papua.2 Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar menurut Provinsi.1. Kepulauan Riau. Riskesdas 2010 70 . Sulawesi Utara. Bali.1.2 dan Gambar 6. Gambar 6. Jawa Tengah. Papua Barat.1. dan Jawa Timur.2 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi pernah mendengar AIDS diatas rata-rata yaitu Yogyakarta.Tabel 6.

3 67 .3 83 .2 76 .6 81 .1 94 .7 71 .4 71 .5 73 .0 77 .3 79 .5 66 .7 90 . 2 variabel dari persepsi salah tentang penularan HIV/AIDS yaitu melalui (1) makan sepiring dengan orang yang terkena virus HIV/AIDS.6 69 .5 73 .1 66 .0 77 .8 55 .4 75 .4 71 .Tabel 6.8 81 .1 53 .8 63 .3 81 .0 75 .5 67 .6 48 .1 72 .0 77 .1 64 .0 68 .1 46 .0 89 .7 95 .0 75 .2 76 .6 71 .2 81 .2 72 .1 70 . (2) melalui gigitan nyamuk.6 78 .5 63 .7 58 .1 86 .1 82 .2 72 .5 77 .4 62 .2 74.6 89 .2 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS menurut provinsi.8 57 .6 69 .6 67 .9 76 .1 77 .4 75 .4 Pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS Untuk melihat kecendrungan hasil tahun 2007 dan 2010 dilakukan reanalisis data SDKI dan SKRRI 2007 dengan menggunakan empat variabel yang sama dalam Riskesdas 2010.1 66 . Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 73 .7 74 .5 61 .3 79 .6 78 .1 53 .3 81 .7 93 .6 81 .5 77 .7 90 .2 81 .1 77 .5 90 .6 89 .5 67 .7 58 .8 Laki-Perempuan 73 .4 69 .1 62 .1 82 .1 62 .5 60 .2 66 .8 57 . dan 2 variabel tentang cara pencegahan HIV/AIDS yaitu 71 .3 66 .1 94 .6 56 .0 72 .8 63 .7 67 .8 55 .8 64 .2 66 .4 63 . Pengetahuan komprehensif merupakan komposit dari 4 variabel.6 41 .7 95 .4 76 .6 41 .5 60 .5 66 .1 70 .1.4 Perempuan 74 .1 64 .0 68 .3 67 .

0 25 .3 22 .3 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.5 8 .3) Tabel 6.8 21 .2 15 .1 24 . menurut karakteristik penduduk.6 22 .9 25 .7 20 .5 23 .4 23 .8 21 .8 22 .3 24 .1 16 .1 12 . wiraswasta dan sekolah.8 14 .0 21 .5 24 .1 13 .7 18 .7 3 .6 18 .9 20 .6 16 .3 6 . yang berpendidikan lebih tinggi.0 20 .3 32 .5 17.0 19 . Riskesdas 2010 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif “baik” tentang HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin.5 72 .4 22 .6 7 .0 13 .1. yang tinggal di perkotaan.(3) berhubungan seksual dengan satu pasangan saja dan (4) menggunakan kondom saat berhubungan seksual.6 18 .3 10 .9 8 .3 15 .6 18 .2 13 .8 12 .9 22 .6 19.6 14 .4 12 .9 15 .4 17 .3 4 . pada mereka yang masih sekolah.2 27 .1 10 .5 14 .1.6 19 .0 18 .2 13 .8 11 .9 10 . (Tabel 6.2 23 .8 22 . dan yang bekerja sebagai pegawai.9 9 .9 18 . juga pada pendapatan perkapita yang lebih tinggi.8 11 .8 25 .3 33 .3 35 .8 15 .0 16 . Riskesdas 2010 Karakteristik penduduk Status kawin Belum kawin Kawin Cerai Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat D1/2/3/PT Pekerjaan Tidak bekerja Sekolah Pegawai Wiraswasta Petani/ nelayan/buruh Lainnya Pengeluaran perkapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Indonesia Laki-laki Perempuan Laki-perempuan 20 .4 15 .8 11 .6 19 .

Papua Barat. Sumatera Utara. Penduduk 15-24 th dengan Penget.Tabel 6.3 menunujukkan 10 provinsi dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS di atas nilai rata-rata yaitu provinsi Bali.1. Bengkulu. Jawa Timur. DI Yogyakarta. NTB. Gambar 6.1. Komprehensif tentang HIV/AIDS menurut Prov. Riau.4 dan Gambar 6.1.3 Prev.. Papua. RKD 2010 73 . Jawa Tengah. DKI Jakarta.

6 15 .4 10 .0 7 .9 27 .2 Laki-perempuan 16 .0 16 .8 17 .1 11 .6 31 .1 25 .5 7 .4 18 .4 7 .2 20 .0 14 .2 15 .8 19 .1 14 .6 31 .1 13 .3 39 .Tabel 6.3 13 .4) 74 .5 7 .2 9 .5 13 .6 16 .9 18 .2 11 .5 11 .2 17 .5 35 .5 11 .8 15 .2 32 .9 19 .0 13 .2 26 .6 8 .7 16 .3 24 .6 9 .1.1 31 .0 15 .7 18 .2 17 .4 12 .8 18 .8 10 .3 19 .9 9 . tetapi pada laki-laki kawin tampak sedikit penurunan pada tahun 2010 (Gambar 6.0 12 .2 12 .1 10 .6 23 .6 15 .4 15 . Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 16 .2 21 .5 14 .6 18 .1.9 12 .8 6 .4 Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.4 17 .1 20 .7 25 .3 21 .1 16 .4 12 .4 13 .0 8 .3 12 .3 12 . menurut provinsi.1 12 .5 14 .8 18 .2 17 .3 12 .1 17 .6 24 .8 20 .8 13 .0 24 .8 Perempuan 16 .5 27 .5 15 .0 10 .2 10 .4 21 .8 19 .5 11 .5 Dibandingkan dengan hasil SDKI 2007.8 22 . tampak adanya peningkatan prevalensi penduduk (lakilaki dan perempuan) umur 15-24 tahun belum kawin dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS.4 11 .9 8 .5 30 .9 16 .5 24 .4 13 .1 19 .5 22 .8 24 .5 8 .5 22 .

mengetahui orang tampak sehat dapat terkena HIV.7 Perempuan 15.1 9. hubungan seksual hanya dengan satu pasangan. 75 . seksual.4 Kecenrungan Pengetahuan Komprehensif Penduduk 15-24 tahun tentang HIV/AIDS. menolak dua persepsi salah yaitu HIV tertular melalui gigitan nyamuk dan dapat ditularkan melalui berbagi makan dengan ODHA.Gambar 6. SDKI 2007 dan Riskesdas 2010 Catatan: Hasil analisis ulang pengetahuan komprehensif penduduk 15-24 tahun SDKI 2007* dengan 5 variabel. sebagai berikut: Status kawin Belum kawin Kawin Laki 13.1.7 14.5 *5 variabel yaitu penggunaan kondom saat hub.

Laporan tahunan menunjukkan kasus terbanyak dilaporkan dari Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Timur.1. Malaria dan penyakit Menyebabkan kesakitan dan menular lainnya kematian Mengembangkan kemitraan global untuk Kerja sama dalam penanggulangan melalui Global pembagunan Fund Pada tahun 2005. Di Indonesia eliminasi malaria dimulai sejak tahun 2009. dan memungkinkan sebagai penyakit emerging dan re-emerging karena adanya kasus import dan vektor potensial yang dapat menularkan dan menyebarkan malaria.2. Untuk percepatan penanggulangan malaria dilakukan berbagai intervensi: kelambu berinsektisida untuk penduduk berisiko. PENYAKIT MALARIA Malaria merupakan masalah kesehatan dunia karena mengakibatkan dampak yang luas.6. Di Indonesia ditemukan semua jenis human plasmodia terutama Plasmodium falciparum and P.6. Kasus malaria yang dilaporkan umumnya masih merupakan malaria yang diagnosis hanya berdasarkan gejala klinis karena keterbatasan akses dan fasilitas pemeriksaan laboratorium. sehingga tidak mengherankan malaria juga merupakan neglected disease. pengobatan yang tepat untuk subjek terinfeksi malaria dengan artemisinin-based combination therapy (ACT). Kelebihan derivatif artemisinin ini adalah dapat mencegah penularan. dan pengobatan pencegahan pada ibu hamil1. Peran malaria pada indikator MDGs lain MDG 1 2 4 5 6 8 Tujuan Menanggulangi kemiskinan Mencapai pendidikan dasar untuk semua Menurunkan angka kematian anak Meningkatkan kesehatan ibu Peran malaria Memelihara kemiskinan Penyebab absen sekolah Penyebab kematian Ancaman kehidupan ibu dan anak Memerangi HIV/AIDS. Berbagai upaya penanggulangan telah dilaksanakan dengan menggalang berbagai sumber dana baik dari pemerintah dan non pemerintah (WHO dan Global Fund). World Health Assembly (WHA) mentargetkan penurunan kasus kesakitan dan kematian malaria sebanyak =50% di tahun 2010 dan =75% di tahun 2015 dari angka pada tahun 2000. Oleh sebab itu malaria menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi sasaran prioritas komitmen global di Millenium Development Goals (MDGs) yang dideklarasikan oleh 189 anggota PBB pada tahun 2000. telah dihasilkan komitmen global tentang eliminasi malaria bagi setiap negara. Dampak luas dari malaria yang berhubungan dengan 5 indikator MDGs lain dapat dilihat pada Tabel. Pada pertemuan WHA 60 tahun 2007.2.1. Tabel 6. ACT yang digunakan oleh program malaria nasional adalah kombinasi 76 . Selain itu malaria umumnya merupakan penyakit di daerah terpencil atau sulit dijangkau dan di negara miskin atau berkembang.vivax. program malaria Indonesia secara bertahap telah menggunakan ACT sesuai rekomendasi WHO4. Sejak tahun 2004. penyemprotan rumah dengan insektisida.2.

prevensi. Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS 15. sedangkan artemeter-lumefantrin direkomendasi oleh klinisi. dan pengobatan tradisional atau dengan tanaman obat). Apusan darah tebal malaria diperiksa di Puslitbang Biomedis dan Farmasi secara blinded untuk keperluan validasi hasil RDT. sedangkan sampel untuk pemeriksaan darah malaria adalah sebanyak 823 BS yang merupakan sub sampel dari sampel Kesmas. Pada Riskesdas 2007 hanya dikumpulkan data prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan hasil wawancara. Dari data Riskesdas 2010 dapat ditentukan Angka Kesakitan Malaria (Annual Parasite Incidence/API 2009-2010 dan Prevalensi malaria). Satu BS terdiri dari 25 RT. Pengobatan efektif pada balita. dan pada Riskesdas 2010 data kesakitan malaria dilengkapi dengan pemeriksaan darah malaria pada semua responden. 77 . dan kuesioner individu atau Anggota Rumah Tangga/ART (Annual Parasite Incidence/API.1). persentasi yang melakukan pencegahan. Riskesdas pertama dilaksanakan pada tahun 2007. tempat pemeriksaan/penentuan diagnosis malaria. pemanfaatan pelayanan kesehatan. Data Riskesdas malaria dikumpulkan dengan dua cara yaitu wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas. Sebelum dilakukan wawancara dan pemeriksaan darah malaria. Setiap tiga tahun Badan Litbangkes melaksanakan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).4 persen. Semua anggota Rumah Tangga diperiksa darahnya dengan RDT (Entebe®) dan apabila disertai dengan riwayat demam dalam 48 jam terakhir juga dilakukan pemeriksaan malaria apusan darah tebal dengan pewarnaan Giemsa. Angka kesakitan malaria Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 2. Cakupan kelambunisasi berinsektisida pada balita. risiko terinfeksi malaria). dan Riskesdas ke 2 tahun 2010 dirancang khusus sebagai bahan evaluasi pencapaian MDGs. faktor pendukung lainnya (promosi.artesunat-amodiakuin dan dihidroartemisinin-piperakuin. prevalensi malaria. dan perkembangan hasil Riskesdas 2007. Demikian juga kasus dengan riwayat demam walaupun hasil RDT negatip akan dirujuk untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut.8 persen (Gambar. semua responden harus menandatangani informed consent. dan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT). penggunaan obat tradisonal/tanaman obat untuk malaria). 1.2. Total sampel Kesmas adalah 2800 Blok Sensus (BS). cakupan ACT. Data Riskesdas selain dapat dimanfaatkan sebagai evaluasi pencapain target MDGs. tetapi juga dapat sebagai data dasar dan bahan evaluasi untuk pencapaian eliminasi malaria di Indonesia. Semua kasus yang positip malaria dengan RDT dirujuk ke Puskesmas terdekat. Sedangkan API di JawaBali adalah 0.6. Kuesioner yang digunakan ada yang khusus untuk responden Rumah Tangga (RT) untuk faktor pendukung (promosi/pengetahuan tempat pelayanankesehatan dan pemeriksaan darah malaria.

Gambar.2).%) terinfeksi malaria hanya satu kali dalam satu tahun terakhir.16 permil) (Bappenas. 2009)8. Rentang API Nasional adalah antara 0.6. Sebanyak 20 provinsi dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional (Tabel.1 persen.8 persen dan yang tiga atau lebih adalah 10. API.3% (Bali) dan 31. Hal ini disebabkan karena dimasa lalu hanya Jawa-Bali yang sudah dapat mengkonfirmasi kasus malaria dengan pemeriksaan apusan darah malaria.17 permil) dan 2007 (0.2. Pada umumnya (50.8 2.1.1.5 2 1. Riskesdas 2010 2.5 0 Jawa-Bali Nasional 0. Jadi tidak mengherankan API Jawa-Bali dari Riskesdas 2010 (8 permil) lebih besar dari pada API tahun 1990 (0.2.4% (Papua).5 1 0.6. sedangkan yang dua kali adalah 39.4 API pada tahun 1990 dan 2007 hanya merupakan API Jawa-Bali yang berasal dari fasilitas pelayanan pemerintah. 78 . Sedangkan hasil API Riskesdas 2010 adalah API Nasional (24 permil) dan dikumpulkan dari masyarakat yang dapat merupakan data dari fasilitas pelayanan pemerintah dan sektor swasta.

7 2.7 2.6 9.4 79 .0 0.8 2.6 5.9 3.9 1.1 0.4 3.2 1.5 31.Tabel 6.4 0.8 6.8 0.6 10.0 2.7 2.2 4.2.7 0.8 5.6 5.7 10.3 4.2 API malaria menurut provinsi.7 6.3 25.0 1.2 4. Riskesdas 2010 NO NAMA PROVINSI 1 NAD 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 8 Lampung 9 Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 22 Kalimantan Selatan 23 Kalimantan Timur 24 Sulawesi Utara 25 Sulawesi Tengah 26 Sulawesi Selatan 27 Sulawesi Tenggara 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Jawa-Bali Indonesia API (%) 2.6 7.7 0.6 1.4 1.0 2.3 2.

0 2.8 1.2 2.Tabel 6.3 2.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 API (%) 1.9 2.2 2.2 2.9 Pada Riskesdas 2010.6 2. dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 4-5 (2.9 2.3 1.2 2.7%.3 2.2 1. responden laki-laki (2.2 2.9%).4 1.3 API (%) Menurut Karakteristik Responden.9 3. responden yang tinggal di perdesaan (2. responden dengan pendidikan tidak tamat SD (2.7 2.24 25 .2.5 2. 2.64 65 .34 35 .14 25 . Riskesdas 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .4 2.6%).9%).6 2.9 2.9%) 80 .5 2.0 2.4 2.2 2. responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (3. API lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-54 tahun.5 2.0 2.0 2.44 45 .54 55 .3 2.0%).5 2.

85%) dipengaruhi oleh prevalensi yang berdasarkan gejala klinis. Keadaan ini dapat disebabkan akses dan kemampuan kelompok dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah untuk melakukan pemeriksaan darah malaria terbatas.6 0.6%) berdasarkan hasil wawancara (Gambar 6.2). Period Prevalence (%). 81 .2. Gejala klinis ini termasuk kasus asimptomatik atau tanpa demam tetapi minum obat anti malaria (0.2. dapat berhubungan dengan pekerjaan.(Tabel 6.7%) yang lebih tinggi dibandingkan dengan Period Prevalence Riskesdas 2007 (2. dan pada umumnya di daerah terpencil atau pedesaan serta ekonomi rendah (Tabel 6.2%). Gambar 6.7 persen.3). Hasil ini tidak mengherankan karena malaria menyerang semua umur. Jadi Period Prevalence Nasional 2010 (10.6 0 Konfirmasi lab Gejala klinis Asimptomatik Bila dibandingkan dengan angka Prevalensi dalam satu bulan terakhir yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria.2. Riskesdas 2010 10 8 6 9. Hal yang menarik adalah pada kelompok kuintil 4 dan 5 ternyata API nya > dari API nasional.2.6%).39 pada Riskesdas 2007 menjadi 0. terjadi penurunan dari 1.3). Oleh sebab itu penentuan kesakitan atau diagnosis malaria yang benar dan akurat adalah harus melalui konfirmasi pemeriksaan baku emas apusan darah malaria atau deteksi antigen antara lain dengan RDT. Angka ini didapatkan dari kasus kesakitan yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria (0. dan gejala klinis (10.6 persen pada Riskesdas 2010.6 4 2 0.2. Gejala klinis malaria sangat beragam dan tidak spesifik dari asimptomatik sampai dengan gejala klinis berat. Prevalensi malaria Indonesia dalam satu bulan terakhir (Period Prevalence) pada Riskesdas 2010 adalah 10.

Angka Prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria ternyata sama dengan angka Prevalensi malaria yang didapat dari hasil pemeriksaan dengan RDT pada saat dilakukan Riskesdas 2010 (Point Prevalence) yaitu 0.8%).2%). Seperti halnya temuan pada karakteristik API.8%).39 0.6%) dan tertinggi di Papua Barat (33. pekerjaan anak sekolah dan petani/ nelayan/ buruh (0.6%). Period Prevalence yang dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah dan Point Prevalence juga lebih tinggi pada kelompok umur 1-34 tahun (0.2. Pada Riskesdas 2010.0.6) 82 . Riskesdas 2007 dan 2010 12 10 8 10. periode prevalence lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-64 tahun (10.9% .2.8%). (Tabel 6.85 2007 2010 Sekitar 64 persen (21 provinsi) mempunyai angka Period Prevalence lebih besar atau sama dengan Period Prevalence Nasional. responden dengan pendidikan rendah/ tidak tamat SMP (12.11.Gambar 6.7% .0% – 12. dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 1-3 (10.7 6 4 2 0 D DG 1. sedangkan yang diagnosisnya diketahui berdasarkan konfirmasi pemeriksaan darah adalah kelompok kuintil 4-5 seperti pada API.7%).4. responden yang tinggal di perdesaan (13%).2. pendidikan rendah (tidak tamat SD) (0.7% . Period prevalence terendah adalah di provinsi Yoyakarta dan Bali (4.12.0.7%) (Tabel.5). Hal ini menunjukkan konsistensi temuan antara hasil wawancara dengan pemeriksaan RDT. Prevalensi Malaria.8%).2. 6.6% (Tabel 6.9% .7%) dan pada kuintil 1 dan 3 (0.6).3.0%). Karakteristik ini tidak berbeda dengan karakteristik pada responden API kecuali pada kelompok tingkat pengeluaran perkapita yaitu kasus malaria lebih banyak ditemukan pada kelompok kuintil 1-3. responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (13. responden laki-laki (10.2%) (Tabel 6.6 2.2. di perdesaan (0.).

Tabel 6.06 7.42 0.5 8.31 15.82 1.03 3.2.10 0.42 7.1 0.3 0.7 4.09 0.9 0.3 16.75 12.14 1.2 14.51 0.1 0.41 0.30 0.9 1.36 1.08 0.0 12.5 9.7 0.8 1.2 11.1 0.6 20.18 0.6 0.4 0.5 18.41 2.63 7.06 0.7 7.31 1.37 2.2 10.05 0.5 1.0 11.04 3.73 1.7 Indonesia 83 .58 0.22 5.31 3.5 0.81 0.5 1.66 2.7 19.1 0.88 0.6 7.23 1.3 22.4 0.37 1.89 1.4 0.3 4.0 0.87 3.1 28.4 10.07 0.32 0. Riskesdas 2007 dan 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nama Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D (%) 1.5 9.85 D (%) 0.7 4.67 2.09 1.1 10.5 1.2 28.0 15.2 0.6 2010 DG (%) 12.02 6.27 5.9 1.09 1.4 9.51 0.4 Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Provinsi.01 4.1 0.6 29.32 0.85 1.16 2.4 0.0 0.6 7.3 12.41 1.7 0.87 2.14 18.9 33.39 2007 DG (%) 3.8 12.45 2.3 3.73 1.79 0.0 9.6 14.3 6.3 10.6 13.65 12.1 0.12 7.6 11.86 2.86 1.26 3.55 0.32 0.1 1.07 0.4 1.65 2.8 2.07 0.41 0.23 26.9 9.10 2.1 0.88 0.

7 0.8 0.4 0.75 3.7 8.83 2.8 10.26 0.05 2.38 1.05 2.7 11.0 11.95 4.83 3.6 0.0 10.5 13.97 2.70 2.7 10.46 3.52 0.3 0.22 1.6 12.34 35 .62 3.6 0.13 2.43 1.74 2010 D (%) DG (%) 0.83 2.12 2.55 1.14 1.1 10.04 2.90 2.7 0.6 9.88 1.08 1.09 3.8 11.0 10.2 12.42 1.37 1.49 2.9 10.5 Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Karakteristik Responden.48 1.14 1.9 5.2 84 .31 1.7 0.10 1.72 2.4 10.54 3.69 2.38 1.4 10.35 1.75 1.0 11.6 0.42 1.6 0.2.5 6.9 9.35 3.31 1.19 1.64 2.57 1.5 8.24 25 .85 1. Riskesdas 2007 dan 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .5 0.2 9.5 0.8 0.08 11.5 0.57 1.59 1.5 0.4 0.4 0.9 0.7 0.44 45 .7 0.5 0.4 0.8 13.05 1.50 1.54 55 .0 1.83 1.66 2.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Pedesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 2007 D (%) DG (%) 0.19 1.41 1.Tabel 6.36 1.5 0.2 0.2 10.7 11.0 12.4 0.14 15 .69 3.20 3.6 9.7 0.53 1.5 0.37 1.0 12.6 0.9 7.4 0.64 65 .7 8.9 10.66 1.02 2.

6 0. Riskesdas 2010 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) <1 1– 4 5 .8 0.6 0.8 0.7 0.5 0.6 Point Prevalence Menurut Karakteristik Responden.TABEL 6.7 0.7 0.7 0.7 0.5 0.24 25 .6 0.6 0.4 0.6 0.5 0.7 0.74 = 75 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Pegawai/TNI/POLRI Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 NASIONAL Point Prevalence (%) 0.6 85 .7 0.4 0.64 65 .6 0.6 0.34 35 .5 0.2 0.6 0.8 0.6 0.7 0.2.54 55 .6 0.44 45 .14 25 .3 0.8 0.3 0.

Jadi penderita malaria semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33. Khusus pada balita. penggunaan ACT di Indonesia hanya mencapai 49. Selain ACT. dan 83.9 Dari hasil wawancara. pengobatan yang efektif perlu ditunjang diagnosis yang akurat dan cepat terutama pada kelompok berisiko yaitu balita. ACT program diminum dengan dosis tunggal harian selama 3 hari. Riskesdas 2010 35 30 25 20 15 10 5 0 Semua kelompok umur Balita 33. 80. dan ketersediaan ACT perlu dievaluasi untuk mendapat pengobatan yang efektif.7). penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34.1%. 6. ACT yang digunakan oleh program adalah artesunat-amodiakuin (sejak tahun 2004).2.6%.2. Pengobatan efektif Obat antimalaria yang direkomendasikan oleh program Malaria adalah dengan menggunakan Artemisinin Combination based Therapy (ACT).9% (Tabel. dan hanya 75.5. 6. dan artemeter-lumefantrin yang direkomendasi oleh klinisi (sejak tahun 2009).2.6.4% yang diminum dengan dosis lengkap.3%.% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. Jadi yang dimaksud dengan pengobatan efektif menurut WHO adalah pengobatan malaria yang diberikan dalam 24 jam pertama demam atau sakit dengan ACT dan obat diminum dengan dosis lengkap.4. dihidroartemisin-piperakuin (sejak tahun 2009 dan dimulai di Papua).% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam. Pengobatan akan lebih efektif apabila pengobatan diberikan dalam 24 jam menderita demam atau sakit. serta 89. 86 . sedangkan pada balita hanya 21. Gambar. Pengobatan Efektif Malaria.6 21. Sosialisasi dan pelatihan ACT sangat perlu digalakkan.6% yang diminum dengan dosis lengkap.

2.2% menjadi 32.1 32. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12.4 3. 6.Tabel 6. ACT Cakupan (%) ACT dosis lengkap Proporsi (%) Mendapat ACT Mendapat ACT dalam 24 jam Pengobatan 3 hari & diminum habis Semua umur 33. terjadi penurunan cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida (dari 32.2.0%.7%) (Tabel. cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26.7 26.5 38. Riskesdas 2010.6 Balita 21.1 75. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010. dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 16.7% menjadi 16.1%.3 80.7 5.6 83. Riskesdas 2007 dan 2010 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Balita Semua umur Balita Semua umur 7.7 Cakupan Penderita Malaria yang Mendapat Pengobatan Efektif.5 Semua kelambu 2007 2010 Dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2007.6 49. Untuk meningkatkan daya proteksi. Cakupan Kelambunisasi.5% menjadi 12. Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 32.5.9 34.2 32.5 89.5% dan dari 7.8).0 12.1%) dan khusus pada balita (dari 38. Gambar. 87 . jenis kelambu yang direkomendasikan adalah kelambu yang telah diobati atau dipoles dengan insektisida permetrin.2.1 Berinsektisida 16.5% pada responden semua kelompok umur.0%. Sedangkan cakupan total kelambunisasi yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita terjadi kenaikan yaitu dari 5.6. Cakupan kelambunisasi Penggunaan kelambu dapat mencegah infeksi malaria melalui gigitan nyamuk.1% menjadi 26.7%.

Tabel 6.2.8 Cakupan kelambunisasi, Riskesdas 2007 dan 2010 Jenis Kelambu Tahun 2007 Semua umur Balita 32,1 5,5 38,2 7,7 Tahun 2010 Semua Balita umur 26,1 12,5 32.7 16,0

Kelambu dengan dan tanpa insektisida Kelambu dengan insektisida

Penurunan cakupan total kelambunisasi dan khusus pada balita dapat disebabkan karena program lebih mengutamakan kelambu yang diproteksi insektisida sehingga meningkatkan cakupan total kelambu yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita. Walaupun demikian cakupan kelambunisasi protektif dengan insektisida masih perlu ditingkatkan terutama di populasi dengan risiko malaria tinggi atau daerah endemis malaria dan khususnya pada kelompok khusus balita dan ibu hamil. Dari uraian di atas dapat disimpulkan: 1. Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2,4 persen, sedangkan API Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0,8 persen. Demikian pula Period Prevalence malaria pada tahun 2010 (10,7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2,85%). Angka Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point Prevalence (0,6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian. 2. Pengobatan efektif malaria pada balita hanya 21,9 persen. 3. Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7,7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010.

88

6.3. TINGKAT PREVALENSI TUBERKULOSIS Riskesdas 2010 bertujuan untuk memberikan hasil antara lain Angka Prevalensi Nasional TB 2010 dan Proporsi pemanfaatan OAT DOTS oleh penderita TB yang merupakan salah satu komponen untuk memperoleh gambaran pemanfaatan Program Directly Observed Treatment of Short-course (DOTS) di Indonesia. Kedua data ini merupakan bagian dari target nomor 6 pada Millenium Development Goal’s (MDG’s) dan dapat memberikan gambaran mengenai tata laksana TB di Indonesia. Angka Prevalensi Nasional TB pada Riskesdas 2010 diperoleh dengan cara wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana kepada responden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis menderita TB Paru melalui pemeriksaan dahak dan atau foto paru oleh tenaga kesehatan/nakes (dokter/perawat/bidan) untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB berdasarkan diagnosis (D). Kepada responden juga ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah menderita batuk berdahak = 2 minggu disertai satu atau lebih gejala: dahak bercampur darah/ batuk berdarah, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, dan demam > 1 bulan untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB berdasarkan gejala (G). Definisi operasional untuk Prevalensi TB menurut WHO adalah Angka penderita TB Paru positif pada 100.000 populasi berusia 15 tahun atau lebih. Sementara definisi operasional untuk TB Paru positif menurut International Standard for TB Care (ISTC) yang telah diadopsi oleh Indonesia mulai tahun 2006 adalah suspek TB yang telah positif diuji secara mikroskopis BTA (Bakteri Tahan Asam) apusan dahaknya dengan minimal pembacaan terhadap apusan dahak yang dikumpulkan dua kali atau lebih baik tiga kali (sewaktu, pagi, sewaktu) dan paling sedikit satu kali (pagi). Pada Riskesdas 2010 berdasarkan diagnosis nakes (D) adalah sebesar 0,7 persen sementara berdasarkan gejala (G) adalah sebesar 2,7 persen. Angka Prevalensi Nasional TB hasil gabungan D dan G (DG) menjadi 3,3 persen. Bila mengacu pada definisi operasional WHO dan ISTC maka data prevalensi yang mendekati kenyataan adalah data yang berasal dari diagnosis nakes (D), yaitu sebesar 0,7 persen. Prevalensi Nasional TB (D) cenderung meningkat sesuai dengan bertambahnya usia dimana angka tertinggi berada pada kelompok usia 55-64 tahun (1,3%) dan terendah pada kelompok usia 15-24 (0,3%). Prevalensi penderita laki-laki adalah 0,8 persen dan perempuan 0,6 persen dengan prevalensi penderita yang berada di kota sama dengan di desa sebesar 0,7 persen, serta juga menunjukkan kecenderungan menurun dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan dimana prevalensi paling rendah terdapat pada tingkat pendidikan tamat SMA (Tabel 6.3.1). Prevalensi TB tertinggi berdasarkan jenis pekerjaan ditemukan pada kelompok pekerjaan Petani, Nelayan dan Buruh sebesar 0,9 persen dan terendah pada kelompok Sekolah dan POLRI/TNI/Pegawai sebesar 0,4 persen. Berdasarkan tingkat pengeluaran perkapita prevalensi TB yang berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan didapati prevalensi terendah pada kuintil 5 (0,6%) dan tertinggi pada kuintil 3 dan 4

89

(0,8%). Sedangkan angka prevalensi TB berdasarkan diagnosa dan gejala (DG) didapati prevalensi tertinggi pada kuintil 1(3,5%) dan terendah pada kuintil 5 (3,9%) (Tabel 6.3.1). Tabel 6.3.1 Prevalensi TBC menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Prevalensi 2007(%) D DG Prevalensi 2010 (%) D DG

Kelompok umur (tahun) 15-24 0,21 0,60 0,3 2,6 25-34 0,32 0,83 0,6 2,8 35-44 0,44 1,10 0,7 3,1 45-44 0,59 1,45 0,9 3,7 55-64 0,70 1,91 1,3 4,7 65-74 1,08 2,62 1,2 4,7 >74 1,10 2,75 1,1 5,1 Jenis kelamin Laki-laki 0,44 1,08 0,8 3,1 Perempuan 0,35 0,90 0,6 2,4 Tipe Daerah Perkotaan 0,36 0,77 0,7 3,1 Perdesaan 0,42 1,12 0,7 2,4 Pendidikan Tidak pernah sekolah 0,88 2,42 1,1 4,9 Tidak tamat SD/MI 0,53 1,46 1,0 4,7 Tamat SD/MI 0,39 1,02 0,9 3,7 Tamat SLTP/MTS 0,31 0,73 0,6 2,7 Tamat SLTA/MA 0,29 0,62 0,5 2,3 Tamat PT 0,27 0,60 0,6 1,8 Pekerjaan Tidak bekerja 0,62 1,40 0,8 3,2 Sekolah 0,18 0,49 0,4 2,5 TNI/ Polri/Pegawai 0,27 0,56 0,4 2,1 Wiraswata/ Layan Jasa/ Dagang 0,42 0,89 0,7 2,8 Petani/Nelayan/Buruh 0,55 1,60 0,9 4,2 Lainnya 0,49 1,17 0,7 3,1 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0,40 1,07 0,7 3,5 Kuintil 2 0,43 1,07 0,7 3,4 Kuintil 3 0,42 1,01 0,8 3,4 Kuintil 4 0,38 0,94 0,8 3,1 Kuintil 5 0,34 0,82 0,6 2,9 Data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2007 tidak dapat dibandingkan dengan data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2010. Hal ini disebabkan karena penentuan sampel BS pada Riskesdas 2007 berbeda dengan Riskesdas 2010 serta pertanyaan mencakup data diagnosa dan gejala pada kuisioner terstruktur juga berbeda. Menjadi catatan bahwa dengan ruang lingkup pertanyaan yang lebih rinci pada Riskesdas 2010 angka Prevalensi Nasional TB menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

90

3. Data ini diperoleh berdasarkan hasil laporan dari fasilitas kesehatan yang tergabung dalam program DOTS di seluruh Indonesia.000 penduduk/tahun (0. Metode active case 91 . Kecendrungan meningkatnya angka Prevalensi Nasional TB bila dibandingkan antara hasil Survei Prevalensi TB 2004 (0. DIY dan Bali (0.1 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2010 Perbedaan Angka Prevalensi TB pada Riskesdas 2007 dan 2010 dapat dilihat pada tabel 6.Tuberkulosis Paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 0.5%). Grafik 6.104%).000 penduduk (0. Data WHO Global Report yang dicantumkan pada Laporan Triwulan Sub Direktorat Penyakit TB dari Direktorat Jenderal P2&PL tahun 2010 menyebutkan estimasi kasus baru TB di Indonesia tahun 2006 adalah 275 kasus/100. diikuti oleh Provinsi Sulawesi Utara (1.000 penduduk/tahun (0. Data prevalensi sebelumnya yang menggunakan uji konfirmasi laboratorium adalah data Prevalensi Nasional hasil Survey Prevalensi TB pada tahun 2004 yang memberikan angka prevalensi Nasional TB berdasarkan pemeriksaan mikroskopis BTA terhadap suspek adalah sebesar 104 kasus/ 100.2 di bawah ini.3%) serta angka terendah terdapat di Provinsi Sumatera Selatan. Meskipun terjadi peningkatan Case Detection Rate dan Cure Rate yang tinggi setiap tahunnya tetapi percepatan penyebaran penyakit di masyarakat masih lebih tinggi.275%) dan pada tahun 2010 turun menjadi 244 kasus/100.3%). hal ini dapat dilihat pada grafik 6.3%) dan Banten (1.3. Beberapa provinsi memiliki prevalensi di atas angka nasional.1% terhadap suspek) dan hasil Riskesdas 2010 (0. Lampung.1 di bawah ini.7% pada populasi) dapat hendaknya menjadi perhatian yang serius bagi Program TB di Indonesia.7 persen.244%).3. yaitu tertinggi di Provinsi Papua (1.

03 1.29 0.2 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2007 dan 2010 PROVINSI Prevalensi 2007(%) D 0.6 3.86 0.7 2.71 0.42 0.4 0.3 0.33 0.00 1.63 0.34 0.5 0.2 0.01 0.37 0.3 4.4 5.3 0.4 1.26 0.6 1.0 4.6 3.0 3.15 0.11 0.23 0.5 0.0 0.03 1.02 1.45 0.31 0.58 1.4 2.8 1.19 1.13 0.7 5.43 0.4 4.5 0.9 5.7 0.4 2.7 7.48 1.6 2.12 0.6 0.3 0.47 2.8 0.38 0.38 0.24 0.3 4.4 2.9 3.6 0.5 7.6 3.7 1.47 0.6 0.4 5.4 0.6 0.99 Prevalensi 2010 (%) D 0.47 1.75 0.3 0.83 1.00 0.0 0.23 0.5 7.3 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92 .7 0.55 1.1 1.49 0.7 4.3.25 0.8 2.21 0.54 2.2 3.58 0.8 5. Tabel 6.9 0.34 0.finding terhadap populasi usia 15 tahun ke atas yang diterapkan pada Riskesdas 2010 memberikan kenyataan tentang hal ini dimana kasus TBC di masyarakat masih sangat tinggi.73 0.3 0.2 2.2 2.7 0.4 1.02 0.73 0.6 0.43 0.7 DG 3.18 0.05 0.98 1.07 2.56 0.0 4.31 0.36 1.69 1.22 1.11 0.40 0.47 0.89 0.24 1.9 0.31 0.4 1.6 4.82 0.1 3.4 DG 1.36 0.9 0.6 3.8 0.62 1.40 0.1 3.53 1.3 0.

Pirazinamid dan Etambutol. Fase lanjutan adalah INH dan Rifampicin yang diberikan selama 4 bulan.275 0. kecepataan diagnosis (diagnosis dini) dan terapi pengobatan yang dilakukan.25 0. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat.2 Data Prevalensi Nasional TB Indonesia dalam persen 0.Grafik 6.244 Indonesia telah mengadopsi program DOTS dari tahun 1994 dimana terdapat lima komponen dan strategi utama DOTS yang direkomendasikan untuk penanggulangan TB yaitu: Komitmen politik.15 0. OAT Kombipak untuk program TB jangka pendek selama 2 bulan adalah Isoniazid (H). Persentase Pemanfaatan Program DOTS diperoleh dari data diagnosis oleh nakes (D) yang digabungkan dengan data pemanfaatan OAT DOTS (Kombipak atau Fixed 93 . Pada Riskedas 2010.3. Kombipak IV untuk fase sisipan. 3 obat yaitu INH.104 0.11 Definisi operasional untuk OAT Fixed dose combination terbagi atas 2 obat yaitu INH dan Rifampisin. Rifampisin. Penurunan prevalensi TB sangat tergantung pada implementasi program DOTS di lapangan. Definisi operasional untuk obat Kombipak terdiri atas: Kombipak I dan Kombipak II untuk fase awal. pirazinamid.1 0. terutama penemuan kasus.05 0 2004 2006 2010 0. Pemberian OAT adalah berdasarkan Berat Badan.3 0. Streptomisin (S). Rifampisin (R).2 0. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya. dan 4 obat yaitu INH. Proporsi jumlah penderita TB yang memanfaatkan OAT DOTS diperoleh dari wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana pada responden yang telah didiagnosis TB oleh nakes dalam 12 bulan terakhir ditanyakan “apakah jika berobat. jenis obat yang digunakan adalah Kombipak/FDC (Fixed Doses Combination) atau non Kombipak/FDC?”. Rifampisin. termasuk pengawasan langsung pengobatan serta Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu diikuti Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. Pirazinamid (Z). dan Ethambutol (E). Kombipak III untuk fase lanjutan. Pemberian INH dan Etambutol selama 6 bulan merupakan paduan alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yang keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif tersebut.

8 83.2 OBAT DOTS NON DOTS Hasil ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66. dan buruh sebesar 0. nelayan.8 persen dan pada perempuan 0.9%) sedangkan terendah pada kelompok umur 15-24 tahun (0.3%). Bali.1 persen dan terendah pada kelompok tamat SMA sebesar 0.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen.7 persen dimana terjadi peningkatan Angka Prevalensi dibandingkan dengan Riskesdas 2007 (0.2 persen. Data ini ini sejalan dengan informasi yang diberikan Subdit TB P2&PL tentang meningkatnya keterlibatan rumah sakit dalam program TB DOTS.Dose Combination) pada responden TB dalam 12 bulan terakhir.5%) dan terendah Provinsi Lampung.3. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0.25 persen (91% keberhasilan OAT DOTS terhadap 72.3).5 persen. Berdasarkan jenis kelamin prevalensi pada laki-laki sebesar 0. Berdasarkan pendidikan prevalensi tertinggi pada kelompok yang tidak pernah sekolah sebesar 1. Keterlibatan institusi lainnya dalam penanggulangan TB sampai dengan 2009 adalah 13 persen pada Lapas/Rutan. Hasil Riskesdas 2010 untuk Persentase Pemanfaatan OAT DOTS adalah sebesar 83. Berdasarkan pekerjaan prevalensi tertinggi dapat ditemukan pada kelompok dengan pekerjaan pertani.4%). dan Sumatera Selatan (0.6 persen. DIY. termasuk pemberian dukungan dan pelaksanaan Standar Internasional untuk Pelayanan TB (ISTC = International Standard for Tuberculosis Care) yang semakin ditingkatkan dari tahun ke tahun dengan memperkuat jejaring eksternal dan internal.9 persen dan terendah pada kelompok yang sedang sekolah dan kelompok 94 . 10 persen pada TB di tempat kerja dan pada RS Angkatan Darat sebanyak 35 persen yang dilibatkan melaksanakan penanggulangan TB menggunakan strategi DOTS. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa.1 Proporsi Kasus TB Yang Diobati OAT Program DOTS pada Riskesdas 2010 26. Grafik 6. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua Barat (1. Prevalensi tertinggi pada kelompok umur 45-54 tahun (0.

25 persen (91% keberhasilan OAT DOTS terhadap 72.2 persen. Persentase pemanfaatan OAT DOTS hasil Riskesdas 2010 adalah sebesar 83. Sedangkan berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita prevalensi TB tertinggi ditemui pada kuintil 3 dan 4 (0.8%) dan terendah pada kuintil 5 (0.dengan pekerjaan TNI/Polri/Pegawai sebesar 0. Angka ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen 95 .4 persen.6%).

AKSES AIR MINUM Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 10 (menurunkan separuh proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015) terdapat 2 indikator pemantau pencapaian target. akses terhadap sumber air minum terlindung. Akses terhadap air perpipaan Dalam laporan MDGs 2007 dan 2009. mata air tidak terlindung. 96 . non perpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi dasar 1. sumur pompa. air perpipaan terlindung.1 dan tabel 7. nonperpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung disajikan dalam tabel 7. dan akses terhadap penyediaan air minum. sumur gali terlindung. Sedangkan sumber air tidak terlindung yaitu sumur tidak terlindung. akses terhadap air perpipaan digunakan sebagai salah satu indikator akses terhadap air minum. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak 2. dan air hujan.5. Dalam memantau akses air minum dapat digunakan 3 pendekatan.2. yaitu akses terhadap air perpipaan. dan air sungai. air non-perpipaan terlindung berasal dari air kemasan. yaitu proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap sumber air minum yang terlindungi dan berkelanjutan dan proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak. Indikator ini terdiri dari 3 jenis. a. Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung. mata air terlindung.Goal 7 – MDG Air Minum dan Sanitasi layak Target Menurunkan hingga separuhnya penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi dasar pada 2015 Indikator yang dipantau: 1. Air perpipaan terlindung bersumber dari air leding. air isi ulang dan lainnya.

28 18.14 16.09 21.51 45.90 5.45 43. air hujan.19 54.05 40.41 66.75 42.79 37.43 27. air kemasan 97 .15 44.1.96 8.98 42.66 20.96 44.41 16.18 29.27 8.22 34.61 33.Tabel 7.77 63.59 15.26 63.81 25. sumur gali terlindung.54 39.14 56.16 34.65 29.61 27.74 18.78 38.34 19.69 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Keterangan: * Air ledeng ** Sumur pompa.39 21.75 33.17 16.22 59.03 43.55 24.76 47.22 43.39 57.15 37.50 17.23 11.43 17.06 39.89 9.20 38.81 36.64 5.99 21.69 47.10 21.09 37.87 48.21 35.72 18.48 13.97 0.64 40.35 51.40 50.29 52.44 2.65 32.24 40.53 37.96 27.30 41.11 40.89 33.59 17.43 15.00 47.02 29.19 61. Riskesdas 2010 Provinsi NonNon Perpipaan Perpipaan Perpipaan Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung** 48. Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut provinsi.02 57.60 18.00 27.50 27.85 51.19 44.03 15.85 12.95 7.79 38.93 74.04 15.16 66.47 8.64 25.58 14.25 29.01 65.41 61.28 14.16 18. mata air terlindung.72 45.58 51.

angka tersebut mengalami sedikit peningkatan seperti terlihat dalam gambar berikut.47 52.89 60.79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44.98 18.15 27.14 persen.85%).30 27.69 persen. Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56.86 11.91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45.49 30.99 Keterangan: * Air ledeng ** Sumur pompa.63 24.93 25.2.28 16. Riskesdas 2010 Non Perpipaan Perpipaan Non-Perpipaan Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung** Daerah Perkotaan Perdesaan Pengeluaran Quintil-1 Quintil-2 Quintil-3 Quintil-4 Quintil-5 26.55 20. air hujan. Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga. sumur gali terlindung.25 28.99 59. tertinggi di Provinsi Gorontalo (66.72 53.Tabel 7.76 51.75%). Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan. mata air terlindung.38 15.75 59.83 persen yang akses terhadap terhadap pelayanan air minum layak. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84.50%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29. 98 . maka secara nasional terdapat 72. Bila dibandingkan data tahun 2009.75 17.74%).79 57.10 12. air kemasan Dari tabel di atas menunjukkan proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16.

air minum terlindung adalah air leding. tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel tabel 7. sumur terlindung dan mata air terlindung yang jaraknya lebih dari 10 meter dari tempat penampungan kotoran/tinja.Gambar 7. Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) 45. pompa.73 56. Akses terhadap air terlindung dan berkelanjutan (layak) Sesuai dengan Buku Saku MDGs.4. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi.27%. 72. Tujuan Pembangunan Milenium mutlak dicapai 2015. Proporsi Penduduk dengan Akses Air Minum Layak (Penduduk dengan Akses Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Non-Perpipaan Terlindungi).69 16.3 dan tabel 7. Sumber air terlindung tidak termasuk air kemasan. 99 . air hujan. yang dijual melalui tangki/air isi ulang. 1992-2010 (%).1. air sumur dan mata air tidak terlindung.14 b.

63 51.92 71.88 28.61 56.49 54.86 46.42 53.39 43.05 46.90 52.3. pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m dari penampungan kotoran.12 71.25 55.26 60.02 60.73 Layak*) 31. air hujan.75 44.40 61.95 53.39 39.99 43.08 28.08 43.79 35.98 39.27 *) Air ledeng.05 48.76 50.95 51.47 62.14 53.96 52.90 63.37 54.30 30.35 24.60 38.65 75.57 51.31 60.87 48.24 49.51 45.58 46.70 69.95 51.43 48.37 48.69 39.68 67.10 47.21 64.53 37. tidak termasuk air kemasan dan isi ulang 100 .63 45.12 65.01 56.13 25.10 36.61 60.87 74.92 56. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Layak 68. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi.13 51.83 46.17 53.Tabel 7.05 48.88 34.04 47.74 39.32 32.

sumur gali terlindung.80 *) Air ledeng.14 48.13 48. mata air terlindung. air kemasan/botol.64%) dibandingkan dengan di perdesaan (49. dan penampungan air hujan.68 64. c.98%).87 51.36 50. air hujan. Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung adalah 53.13%).4. tidak termasuk air kemasan dan isi ulang Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung paling tinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (75.80 persen.02 52. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung menurut provinsi. kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel 7. Sumber air ’improved’ tidak termasuk air yang dijual keliling. sumur bor. Menurut tempat tinggal.20 Layak*) 41. akses terhadap sumber air minum yang layak di perkotaan lebih rendah (41. pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m dari penampungan kotoran. dan sarana air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah. 101 . dikatakan akses terhadap penyediaan air bila minimal menggunakan air 20 liter per orang per hari. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan menurut karakteristik rumahtangga. dan air yang dijual melalui truk.86 51.32 35.6.84 45. Yang termasuk sumber air ’improved’ adalah sambungan kran air dalam rumah.16 54.64 49.98 47. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tidak Layak 58.47%) dan terendah di Provinsi Nangroe DKI Jakarta (25. Akses terhadap pelayanan air minum Menurut Joint Monitoring Programm WHO-Unicef (JMP WHO/Unicef). kran umum. berasal dari sumber air ’improved’.Tabel 7.5 dan tabel 7. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan ada kecenderungan semakin tinggi kuintil pengeluaran rumahtangga semakin rendah proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum yang layak.

02 58.70 59.20 Akses*) 41.07 31.63 33.22 57.61 64.06 47.83 59.17 40.86 51.21 46.98 41.41 50.87 29.51 45.51 60.48 44.39 35.13 44.78 47.60 41. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut provinsi.55 27.79 53. 102 .Tabel 7. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Akses 58.81 41.59 49.49 55.49 54.87 42.53 30.23 46.13 70.13 57.33 53.51 44.94 52.14 48.99 58.18 57.89 52.5.75 30.19 43.78 42. berasal dari sumber air ‘improved’ dalam radius 1 km.52 55.49 39.19 58.47 69.47 38.82 42.81 56.30 40.31 50.25 69.11 47.80 *) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari.53 61.69 49.37 66.31 45.01 41.87 55.45 72.69 54.22 52.67 46.93 68.77 53.40 58.

37 41. berasal dari sumber air ‘improved’ dalam radius 1 km. Hasil Riskesdas 2010 proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak disajikan dalam tabel 7. dari 57.51 59. jenis kloset dan sarana pembuangan akhir tinja.93 *) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga tidak menunjukkan pola yang jelas.10 55.62%) dibandingkan dengan di perkotaan (52. sedangkan pada Susenas masih digabung (Tangki septik/SPAL). 103 .38 47.8.62 52.6. Dalam Riskesdas 2010.07 Akses Baik 52. Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung menurut JMP WHO/Unicef paling tinggi adalah Provinsi Jawa Tengah (70.90 44. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Pengeluaran Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Akses Kurang 47. akses terhadap sumber air terlindung sedikit lebih tinggi di perdesaan (55.87%).80 persen pada tahun 2010.Tabel 7. AKSES TERHADAP SANITASI LAYAK Dalam memantau akses terhadap fasilitas sanitasi layak digunakan indikator penggunaan sarana pembuangan kotoran (jamban) yang meliputi pemilikan.63 58. 2.70 persen pada tahun 2007 menjadi 53.49 40.25 40. Dikatakan layak apabila sarana tersebut milik sendiri atau bersama.26 55.25%) dan terendah di Provinsi DKI Jakarta (27. pilihan jawaban pembuangan akhir tinja dipisah antara tangki septik dan SPAL.74 44.75 59.10%). Menurut kualifikasi daerah. Akses terhadap penyediaan air dengan memperhatikan volume pemakaian dan jarak rumah ke sumber air ini mengalami penurunan bila dibandingkan hasil Riskesdas 2007.7 dan tabel 7. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut karakteristik rumahtangga. kloset jenis leher angsa dan pembuangan akhir tinjanya ke tangki septik atau SPAL.

88 82.87 25.49 57.38 55.79 28.60 42.72 55.37 64.47 53.49 64.40 57.13 74.63 41.00 46.89 68.11 31.62 49.53 *) Penggunaan sendiri dan bersama.82 45.29 46.7.89 42.00 53.21 71.72 66. Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut provinsi.Tabel 7.90 50.42 49.62 44.37 59.28 44.11 57.89 79.38 50.09 47.11 20.18 54.18 54.47 Layak*) 52.44 48.77 41.23 58.35 42.10 49.12 17.30 61.68 64. Riskesdas 2010 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tidak Layak 47.99 50.91 52.56 51.28 33.53 47. 104 .01 49.82 45.43 39.51 42.65 57. kloset jenis leher angsa.17 45.51 35.63 35.70 38.00 54.71 53.83 54.58 50.91 65. pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL.09 34.00 45.57 60.32 35.

45 38. pembuangan akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL.Tabel 7.58 22.42 77.45%) dibandingkan dengan di perdesaan (38. 3. kloset jenis leher angsa.55 32. batu bara. Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat disajikan dalam tabel 7. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga. Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga.8. 1 diantaranya adalah proporsi penduduk atau rumahtangga menggunakan bahan bakar padat untuk memasak.21 46. tandan kelapa.10. arang. Yang dimaksud dengan bahan bakar padat adalah kayu bakar.79 53. Menurut kualifikasi daerah.48 44.52 55. sekam.58 64. Penggunaan bahan bakar memasak Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 9 (memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang) terdapat 6 indikator untuk memantau pencapaian target. batok kelapa dan lain-lain. Indikator yang dikumpulkan dalam Riskesdas 2010 ini berkaitan dengan kesehatan. 105 .55%). semakin tinggi penghasilan semakin tinggi pula yang akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak.04 71.42 33. paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82.55 61. akses terhadap fasilitas sanitasi layak di perkotaan hampir dua kali lipat (71.45 67. Riskesdas 2010 Karakteristik Rumahtangga Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Tidak Layak Layak Tempat Tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 28. Dari tabel di atas tampak bahwa akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55. batang padi.9 dan tabel 7.96 *) Penggunaan sendiri dan bersama. yaitu terjadinya polusi dalam ruangan (indoors air pollution) yang dapat menyebabkan penyakit saluran pernafasan.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25.35%).53 persen.

58 51.02 42.60 28.17 50.26 54.08 67.08 54.71 51. gas dan minyak tanah 62.42 48.Tabel 7.37 23.23 52.29 48.92 32.09 47.9.98 30.41 23.23 0.28 24.74 30.72 75.86 47.15 56.75 52.99 41.69 52.14 52.60 11.77 99. Riskesdas 2010 Listrik. kayu bakar dll 37.24 36.98 57.63 76.06 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 106 .99 27.40 40.92 45. Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut provinsi.76 63.59 63.25 47.71 34.01 58.48 59.52 40.83 49.77 47.96 39.58 59.42 40.29 65.01 72.31 47.02 69.40 71.26 69.21 60.99 72.41 36.91 52.59 76.74 45.85 43.40 88.79 39.94 Arang.04 60.09 51.91 48.60 59.01 27.

802 75. gas dan minyak tanah 82. Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut tempat tinggal dan pengeluaran rumahtangga.648 60.33%) dari perdesaan (17. Riskesdas 2010 Karakteristik rumahtangga Tempat tinggal Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran RT Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-2 Kuintil-2 Kuintil-2 Listrik.33 70.723 47.9%. Secara nasional penggunaan bahan bakar padat ini mengalami penurunan cukup besar dibanding data tahun 2007 sebesar 53. Menurut tempat tinggal.27 Dari tabel di atas menunjukkan terdapat 40.69 35. Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan semakin tinggi penghasilan rumahtangga semakin sedikit yang menggunakan bahan bakar padat untuk memasak.06% rumahtangga yang masih menggunakan bahan bakar padat untuk memasak. tertinggi di Provinsi NTT (76.67 29.726 Arang.28 52.20 24. penggunaan bahan bakar padat di perkotaan hampir 4 kali lipat (64.60%).31%). 107 .150 87.58%) dan terendah di Provinsi DKI Jakata (0.31 64.10.35 39. kayu bakar dll 17.85 12.Tabel 7.

8%).5%). dan hanya 12 persen di Puskesmas. Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan masih rendah di provinsi Maluku Utara.3%) meningkat dibandingkan pada tahun 2007 (75.3 persen. Pemanfaatan masih rendah di Sulawesi Tenggara (7.3 persen. dengan prevalensi tertinggi di Provinsi Jambi (20%). sedangkan API Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0. Jenis alat/cara KB yang dominan adalah suntikan. Masalah lain yang ditemukan adalah persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46.BAB IV.4%). Proporsi unmet need sebesar 14. Proporsi tertinggi konsumsi <70% AKG dijumpai di NTB (46.9%) dan tertinggi di Bali (64. Umumnya pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52.4%) dan terendah di Papua (47.4 persen. Cakupan imunisasi campak terbaik adalah di DI Yogyakarta (96. tertinggi di Papua Barat (27. .8%).6%). Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12-23 bulan (74. Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2. Demikian pula Period Prevalence malaria pada 108 . Angka K1 dan K4 ini nampak menurun jika dibanding tahun 2007 ( SDKI).9%).9 persen dengan gizi buruk.8%). Maluku Utara (8%) dan Sulawesi Tengah (12.1 persen yang pernah ber KB sekarang tidak menggunakan. dan terendah di Bengkulu (23. Proporsi pengguna KB pada perempuan pernah kawin menurun (53.3%) dan tertinggi di provinsi DI.5%).5 persen. Pemanfaatan fasilitas kesehatan untuk persalinan oleh perempuan usia reproduktif adalah 59.8 persen. Prevalensi tertinggi di Provinsi NTB (30.0 persen diantaranya 4.6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah 70% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan tahun 2004.8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan. terendah di provinsi Gorontalo (8.1%). sedangkan K4 hanya 61.6%). dan ibu hamil (44.0%) meningkat dibandingkan Riskesdas 2007 (63. Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sebesar 84 persen. Angka terendah di Papua Barat (31.5%) dan terendah di Provinsi Sulut (10.2 persen pemeriksaan masih dilakukan oleh dukun.6%) dan terendah di Kalimantan Selatan (8.6%). Dan prevalensi balita kurus (wasting) adalah 13. Proporsi penolong persalinan oleh tenaga kesehatan (82. dan Papua Barat.5%) menurun dibandingkan tahun 2007 (81. remaja (54. dan terendah di Bangka Belitung (7. KESIMPULAN Dari hasil Riskesdas 2010.5%) dan tertinggi di Bali (35. teringgi di Provinsi NTT (58.4%). serta 4.2%). Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat persalinan hanya 1.0 persen. kesimpulan yang dapat diambil antara lain: Prevalensi balita kurang gizi (berat badan kurang) sebesar 18. Masih ditemukan 19 persen perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB dan 27. Sedangkan prevalensi balita pendek (stunting) sebesar 35.7%). Prevalensi terendah ditemukan di Gorontalo (44.Yogyakarta (93.4%). Maluku.1 persen di Polindes/Poskesdes.9%) dibandingkan angka SDKI 2007 (57. Keadaan ini banyak dijumpai pada anak usia sekolah (41.2%). Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS (75.6 persen.4%) dan terendah di Provinsi Yogyakarta (22.9%).6%).5%). Akses K1 oleh ibu hamil baik (92.2%).4 persen. Sebanyak 40. hanya 2.3%).7%) Sedangkan prevalensi dengan pengetahuan komprehensif sebesar 18. dan 3.5 persen.

.53%) dibandingkan tahun 2009 (42.. DI Yogyakarta.7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010. Akses rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak meningkat (55.7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2.69%) lebih besar dibandingkan dengan perpipaan terlindung (16. Lampung. Dari analisis Riskedas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45.2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66. Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7. Pengobatan efektif malaria dengan ACT pada balita hanya 21.85%).47%).14%).91%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45. Proporsi tertinggi ada di Provinsi DKI Jakarta (82.tahun 2010 (10. Angka Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point Prevalence (0. dan tertinggi di Provinsi Papua (1.83 persen.5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan. tertinggi di Provinsi Jawa Tengah (84.9 persen.27 persen.25%) Proporsi rumahtangga yang menggunakan air non perpipaan terlindung (56. Prevalensi TB adalah 0.83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25. 109 .3%). Sedangkan proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83.35%).7 persen. Sarana perpipaan dan non perpipaan terlindung yang akses terhadap sumber air terlindung adalah 72. dan Bali (0.74%).6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian.

Inform Concent dan Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP) 2.IND) 110 . Kuesioner rumah tangga (RKD10.RT) 3.LAMPIRAN 1. Kuesioner individu (RKD10.

com. The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.daneprairie. .This document was created with Win2PDF available at http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful