Anda di halaman 1dari 2

Jika ada dua cairan yang memiliki konsentrasi yang sebanding maka akan tercipta keseimbangan, tidak ada

perpindahan kompartemen (solute) dari satu cairan satu ke cairan yang lain. Misalnya normal saline,
merupakan cairan isotonis karena memiliki konsentrasi garam yang hampir sama dengan konsentrasi garam
pada darah.
Larutan hipotonis memiliki konsentrasi larutan yang lebih rendah dibandingkan dengan larutan yang lain.
Bahasa mudahnya, suatu larutan memiliki kadar garam yang lebih rendah dan yang lainnya lebih banyak.
Jika ada larutan hipotonis yang dicampur dengan larutan yang lainnya maka akan terjadi perpindahan
kompartemen larutan dari yang hipotonis ke larutan yang lainnya sampai mencapai keseimbangan
konsentrasi. Contoh larutan hipotonis adalah setengah normal saline (1/2 NS).
Larutan hipertonis memiliki konsentrasi larutan yang lebih tinggi dari larutan yang lainnya. Bahasa
mudahnya, suatu larutan mengandung kadar garam yang lebih tinggi dibandingkan dengan larutan yang
lainnya. Jika larutan hipertonis ini dicampurkan dengan larutan lainnya (atau dipisahkan dengan membran
semipermeabel) maka akan terjadi perpindahan cairan menuju larutan hipertonis sampai terjadi
keseimbangan konsentrasi larutan. Sebagai contoh, larutan dekstrosa 5% dalam normal saline memiliki sifat
hipertonis karena konsentrasi larutan tersebut lebih tinggi dibandingkan konsentrasi larutan dalam darah
pasien.
Hemolisa adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah merah menuju ke cairan di
sekelilingnya. Keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena pecahnya membrane sel darah merah.
Membrane sel darah merah mudah dilalui atau ditembus oleh ion-ion H+, OH-, NH4+, PO4, HCO3-, Cl-,
dan juga oleh substansi-substansi yang lain seperti glukosa, asam amino, urea, dan asam urat.
Sebaliknya membrane sel darah merah tidak dapat ditembus oleh Na+, K+, Ca++, Mg++, fosfat organic
dan juga substansi lain seperti hemoglobin dan protein plasma. Secara umum, membrane yang dapat
dilaui atau ditembus oleh suatu substansi dikatakan bahwa membrane ini permeable terhadap substansi
tersebut. Membrane yang betul-betul semi permeable adalah membrane yang hanya dapat ditembus oleh
molekul air saja, tetapi tidak dapat ditembus oleh substansi lain. Tidak ada membrane pada organism
yang bersifat betul-betul semi permeable, yang ada adalah membrane yang bersifat permeable selektif,
yaitu membrane yang dapat ditembus oleh molekul air dan substansi-substansi lain, tetapi tidak dapat
ditembus oleh substansi yang lain lagi. Jadi membrane sel darah merah termasuk yang permeable
selektif.
Ada 2 macam hemolisa yaitu :
1. Hemolisa Osmotik
Hemolisa osmotic terjadi karena adanya perbedaan yang besar antara tekanan osmosa cairan di dalam
sel darah merah dengan cairan di sekelilingnya sel darah merah. Dalam hal mini tekanan osmosa isi sel
jauh lebih besar daripada tekanan osmosa di luar sel. Tekanan osmosa isi sel darah merah adalah sama
dengan tekanan osmosa larutan NaCl 0.9%. bila sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan 0,8 %
belum terlihat adanya hemolisa tetapi sel darah merah yang dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0,4 %
hanya sebagian saja dari sel darah merah yang mengalami hemolisa sedangkan sebagian sel darah
merah yangt lainnya masih utuh. Perbedaan ini disebabkan karena umur sel darah merah berbeda-beda.
Sel darah merah yang sudah tua, membrane sel mudah pecah sedangkan sel darah merah yang muda,
membrane selnya kuat. Bila sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0,3%, semua sel darah
merah akan mengalami hemolisa. Hal ini disebut hemolisa sempurna. Larutan yang mempunyai tekanan
osmosa lebih kecil daripada tekanan osmosa isi sel darah merah disebut larutan hipotonis, sedangkan
larutan yang mempunyai tekanan osmosa lebih besarisi sel darah merah disebut larutan hipertonis. Suatu
larutan yang mempunyai tekanan osmosa yang sama besar dengan tekanan osmosa isi sel disebuit
larutan isotonis.
2. Hemolisa Kimiawi
Pada hemolisa kimiawi, membrane sel darah merah dirusak oleh macam-macam substansi kimia. Seperti
telah disinggung sebelumnya bahwa dinding selm darah merah terutama terdiri dari lipid dan protein
membentuk suatu lapisan yang disebut lipoprotein. Jadi setiap substansi kimia yang dapat melarutkan
lemak (pelarut lemak) dapat merusak atau melarutkan membrane sel darah merah. Kita mengenal
bermacam-macam pelarut lemak yaitu kloroform, aseton, alcohol, benzene dan eter. Substansi lain yang
dapat merusak membrane sel darah merah diantaranya adalah bias ular, bias kalajengking, garam
empedu, saponin, nitrobenzene, pirogalol, asam karbon, resi, dan senyawa arsen.
Sel darah merah yang ditempatkan dalam larutan garam yang isotonis tidak akan mengalami kerusakan
dan tetap utuh.Tetapi bila sel darah merah ditempatkan dalam air distilata,sel darah merah akan
mengalami hemolisa,karena tekanan osomose isi sel darah merah jauh lebih besar daripada tekanan
osomose diluar sel sehingga mengakibatkan banyak air masuk kedalam sel darah
merah(osmosis).Selanjutnya air yang banyak masuk kedalam sel darah merah itu akan menekan
membrane sel darah sehingga membrane pecah.

Pemeriksaan resistensi osmotic darah ini bermanfaat dalam mendiagnosa bermacam macam kelainan
seperti anemia hemolitik, Hb abnormal maupun pada penyakit malaria yang terjadi hemolisis sel darah
merah oleh parasit Plasmodium sp.

http://www.scribd.com/doc/12936574/Asam-Amino-Non-Esensial#open_download
asam amino