Anda di halaman 1dari 12

ʑ     

Usaha mempelajari sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu hadits diharapkan


dapat mengetahui sikap dan tindakan ummat Islam yang sebenarnya, khususnya para ulama¶
ahli hadits terhadap hadits serta usaha pembinaan dan pemeliharaan mereka pada tiap-tiap
periodenya sampai akhirnya terwujud kitab-kitab hasil tadwin (pengumpulan hadits) secara
sempurna. Bahkan, menguatnya kajian hadits dalam dunia Islam tidak lepas dari upaya
ummat Islam yang melakukan ¦  balik terhadap sangkaan-sangkaan negatif kalangan
orientalis terhadap keaslian hadits.

Oleh karena itu mengkaji sejarah ini melakukan upaya untuk mengungkap fakta-fakta
yang sebenarnya sehingg sulit untuk ditolak keberadaannya. Perjalanan hadits pada tiap-tiap
periodenya mengalami bebagai persoalan dan hambatan. Dalam pembahasan kali ini, periode
pertumbuhan dan perkembangan hadits terbagi menjadi beberapa periode: masa Rosulullah
SAW, masa sahabat, masa tabi¶in, dan masa pentadwinan hadits.

ÊÊ ‘ 

 

1.‘ Bagaimana kondisi Hadits pada masa kelahirannya?


2.‘ Upaya apa yang dilakukan para sahabat untuk menjaga kemurnian Hadits?
3.‘ Siapa saja tokoh-tokoh ahli Hadits pada masa kelahirannya?
4.‘ Kapan terjadinya masa Ú  Hadits?

ÊÊÊ ‘ 
 

‘   
   


uembicarakan hadits pada masa Rosul SAW. berarti membicarakan hadits pada awal
pertumbuhanya. uaka dalam uraiannya akan terkait langsung dengan pribadi Rosul SAW.
sebagai sumber hadits.

Rosul SAW. membina ummatnya selama 23 tahun. uasa ini merupakan kurun waktu
turunnya wahyu dan sekaligus diwurudkannya hadits. Keadaan ini menuntut keseriusan dan
kehati-hatian para sahabat sebagai pewaris pertama sejarah Islam.

1
Wahyu yang diturunkan Allah SWT. Kepadanya dijelaskannya melalui perkataan
(aqwal), perbuatan (af¶al) dan penetapan (taqrir)-
 sehingga apa yang didengar, dilihat dan
disaksikan oleh sahabat.

c ‘     
    

Ada suatu keistimewaan pada masa ini yang membedakannya dengan masa lainnya.
Ummat Islam pada masa ini dapat secara langsung memperoleh hadits dari Rosul SAW.
sebagai sumber hadits. Antara Rosul SAW. dengan mereka tidak ada jarak atau hijab yang
dapat menghambat atau mempersulit pertemuannya.

Ada beberapa cara Rosul SAW. menyampaikan hadits kepada para sahabatnya, yaitu:

Pertama, melalui para jama¶ah dan pusat pembinaannya yang disebut majelis   
uelalui majlis ini para sahabat memperoleh banyak peluang untuk menerima hadits, sehingga
mereka berusaha untuk selalu mengkonsentrasikan diri guna mengikuti kegiatan dan ajaran
yang diberikan oleh nabi SAW.

Kedua, dalam banyak kesempatan Rasul SAW. juga menyampaikan haditsnya melalui
para sahabat tertentu yang kemudian disampaikannya kepada orang lain. Hal ini karena
terkadang ketika ia mewurudkan hadits, para sahabat yang hadir hanya beberapa orang saja,
bahkan hanya satu orang, seperti hadits-hadits yang ditulis oleh     

Ketiga, cara lain yang dilakukan Rasul SAW. adalah melalui ceramah atau pidato di
tempat terbuka, seperti ketika haji wada¶ dan futuh uakkah.1

Ñ ‘         


   

Di antara para sahabat tidak sama kadar perolehan dan penguasaan hadits. Ada yang
memilikinya lebih banyak, tetapi ada yang sedikit sekali. Hal ini tergantung kepada beberapa
hal. Pertama, perbedaan mereka dalam soal kesempatan bersama Rasul SAW. Kedua,
perbedaan mereka dalam hal kesanggupan bertanya kepada para sahabat lain. Ketiga,
perbedaan mereka kerena berbedanya waktu masuk Islam dan jarak tempat tinggal dari
masjid Rasul SAW.

1
uusthafa Al-Siba¶i, Al-Sunnah wa uakkanatuha fi Al-Tasyri¶ Al-Islami,(Kairo: Dar Al-Salam, 1998), Cet.
Ke-1, hal.64-65.

2
Ada beberapa orang sahabat yang tercatat sebagai sahabat yang banyak menerima
hadits dari Rasul SAW. dengan beberapa penyebabnya. uereka itu antara lain:

 ‘ Para sahabat yang tergolong kelompok      (orang yang
pertama masuk islam), seperti Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Usman Bin
µAffan, Ali Bin Abi Thalib dan Ibnu uas¶ud. uereka banyak menerima hadits
dari Rasul SAW., karena lebih awal masuk islam dari sahabat-sahabat lainnya.
 ‘ Ummahat Al-uukminin (Istri-istri Rasul SAW.), seperti Siti Aisyah dan Ummu
Salamah. uereka secara pribadi lebih dekat dengan Rasul SAWi. daripada
sahabat-sahabat lainnya. Hadits-hadits yang diterimanya banyak yang berkaitan
dengan soal-soal keluarga dan pergaulan suami-istri.
¦ ‘ Para sahabat yang disamping selalu dekat dengan Rasul SAW. juga menuliskan
hadits-hadits yang diterimanya, seperti Abdullah Amr Ibn Al-µAsh.
 ‘ Sahabat yang meskipun tidak lama bersama Rasul SAW., akan tetapi banyak
bertanya kepada para sahabat lainnya secara sungguh-sungguh, seperti Abu
Hurairah.
 ‘ Para sahabat yang secara sungguh-sungguh mengikuti uajelis Rasul SAW.
banyak bertanya kepada sahabat lain dari sudut usia tergolong yang hidup lebih
lama dari wafatnya Rasul SAW. seperti Abdullah Ibn Umar, Anas Ibn ualik,
dan Abdullah Ibn Abbas.
‘
è ‘
  
 

a.‘ uenghafal Hadits

Untuk memelihara kemurnian dan mencapai kemaslahatan al-Qur¶an dan hadits


sebagai dua sumber ajaran Islam, Rasul SAW. menempuh jalan yang berbeda. Terhadap al-
Qur¶an ia secara resmi menginstruksikan kepada sahabat supaya menulis hadits disamping
dihafal. Sedang tehadap hadits ia hanya menyuruh menghafalnya dan melarang menulisnya
secara resmi. Dalam hal ini ia bersabda:

έ˶ Ύ˴ Ϩ˷ϟ΍ Ϧ
˴ ϣ˶ ϩ˵ Ϊ˴ ό˴ ˸Ϙϣ˴ ˸΃Ϯ͉ Β˴ Θ˴ ϴ˴ ˸Ϡϓ˴ ΍˱ΪϤ͉ ό˴ Θ˴ ϣ˵ ϲ
͉ Ϡ˴ϋ
˴ Ώ
˴ ά˴ ϛ˴ ˸Ϧϣ˴ ϭ˴ Ν
˴ ή˴ Σ
˴ Ύ˴ϟϭ˴ ϲ˷Ϩϋ
˴ ΍Ϯ˵ΛΪ˷ Σ
˴ ϭ˴ Ϫ˵ Τ
˵ ˸Ϥϴ˴ ˸Ϡϓ˴ ϥ
˶ ΁˸ήϘ˵ ˸ϟ˸΃ή˴ ˸ϴϏ
˴ ˸ϲϨ͋ ϋ
˴ ΐ
˴ Θ˴ ϛ˴ ˸Ϧϣ˴ ϭ˴ ˸ϲϨ͋ ϋ
˴ ΍Ϯ˵ΒΘ˵ ˸ϜΗ˴ ϻ
˴

(ϢϠδϣ ϩ΍ϭέ )

3
³Janganlah kalian tulis apa saja dariku selain al-Qur¶an. Barang siapa telah menulis dariku
selain al-Qur¶an, hendaklah dihapus. Ceritakan saja apa yang diterima dariku, ini tidak dariku
selain Al-Qur¶an, hendaklah dihapus. Ceritakan saja apa yang diterima dariku, ini tidak
mengapa. Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah ia menempati tempat
duduknya di neraka´.(HR. uuslim)

b.‘ uenulis Hadits


Ada beberapa sahabat yang melakukan penulisan hadits dan memiliki catatan-
catatannya, mereka ialah :
1.‘ Abdullah bin Amr Al-Ash. Ia memiliki catatan hadits yang menurut
pengakuannya dibenarkan oleh Rosul SAW.,sehingga diberinya nama  
      
2.‘ Jabir Ibnu Abdillah ibn Amr Al-Anshori (w 78 H). Ia memiliki catatan
hadits dari Rosul SAW. tentang manasikh haji. Haditsnya kemudian
diriwayatkan oleh uuslim. Catatannya ini dikenal dengan    
3.‘ Abu Hurairah Al-Dausi (w. 59 H.). ia memiliki catatan hadits yang dikenal
dengan Al-sahifah Al-shohihah. Hasil karyanya diwariskan kepada
anaknya yangbernama Hammam.
4.‘ Abu Syah ( Umar Ibn Sa¶ad Al-Anmari) seorang penduduk Yaman. Ia
meminta kepada Rosul SAW. dicatatkan hadits yang disampaikannya
ketika pidato pada peristiwa futuh uakkah sehubungan dengan terjadinya
pembunuhan yang dilakukan oleh sahabat dari Bani Khuza¶ah terhadap
seorang lelaki Bani Lais.

Disamping nama-nama diatas masih banyak lagi nama-nama sahabat


lainnya yang juga mengaku memiliki catatan hadits dan dibenarkan Rosul
SAW. seperti Rafi¶ bin Khadij, Amr bin Hazm, Ali bin Abi Tholib, dan
Ibn uas¶ud.

 ‘   
    

Periode kedua sejarah perkembangan hadits adalah masa sahabat, khususnya masa
Khulafaurrosyiddin yang berlangsung sekitar tahun 11 H - 40 H. uasa ini juga disebut masa
sahabat besar.

4
Karena pada masa ini perhatian para sahabat masih terfokus pada pemeliharaan dan
penyebaran Al-Qur¶an maka periwayatan hadits belum begitu berkembang, dan kelihatannya
berusaha membatasinya. Oleh karena itu masa ini oleh para Ulama¶ dianggap sebagai masa
yag menunjukkan adanya pembatasan periwayatan (al-tasabbut wa al-iqlal min al-riwayah).

c ‘
!    

Pada masa menjelang akhir kerasulannya, Rosul SAW. berpesan kepada para sahabat
agar berpegang teguh kepada Al-Qur¶an dan hadits serta mengajarkannya kepada orang lain,
sebagai mana sabdanya :

2
(ϚϟΎϣ ϩ΍ϭέ ) Ϫ˶ ϴ͋ Β˴ϧ Δ˴ Ϩ͉ γ
˵ ϭ˴ Ϫ˶ Ϡ˷ϟ΍ Ώ
˴ Ύ˴Θϛ˶ Ύ˴ Ϥ˶ϬΑ˶ ˸ϢΘ˵˸Ϝδ
˷ Ϥ˴ Η˴ Ύ˴ ϣ ΍˸ϮϠ˷π
˶ Η˴ ˸Ϧϟ˴ Ϧ
˶ ˸ϳή˴ ˸ϣ΃˴ ˸ϢϜ˵ ˸ϴϓ˶ Ζ
˵ ˰˸ϛή˴ Η˴

³telah aku tinggalkan untuk kalian dua macam, yang tidak akan sesat setelah berpegang
kepada keduanya yaitu kitab Allah ( Al-Qur¶an) dan sunnahku ( Al-Hadits). (H.R ualik)

Dan sabdanya pula :

(ϱέΎΨΒϟ΍ ϩ΍ϭέ) Δ˱ ϳ˴ ΁ Ϯ˴ϟϭ˴ ϲ͋Ϩϋ


˴ ΍˸Ϯϐ͋ϠΑ˴

³ sampaikanlah dariku walau satu ayat/satu hadits´.

Pesan-pesan Rosul SAW. sanagat mendalam pengaruhnya kepada para sahabat


sehingga segala perhatian yang tercurah semata-mata untuk melaksanakan dan memelihara
pesan-pesannya. Kecintaan mereka kepada Rosul SAW. dibuktikan denganmelaksanakan
segala yang dicontohkannya.

Ñ ‘  "   


#    
  

Perhatian para sahabat pada masa ini terfokus pada usaha memelihara dan
menyebarkan Al-Qur¶an. Ini terlihat bagaimana Al-Qur¶an dibukukan pada masa Abu Bakar
atas saran Umar Ibn Khattab.usaha pembukuan ini diulanag juga pada masa Utsman bin
µAffan dan melahirkan mushaf Utsmani. Satu yang disimpan di uadinah pyang dinamai

2
Lihat kigtab Al-Jami¶ (hadits nomor 1.395)dalam Imam ualik, Al-uuwaththo¶. Urut-urutan sanadnya, diterima
dari Zaid ibn Abi Unaisah, dari Abd Al-Hamid ibn Abdurrahman,dari Zaid Ibn ibn al-Khottob dari Ibn uuslim
ibn Yasar Al-Juhany.

5
uushaf Al-Imam, dan yang empat lagi masing-masing disimpan di uakkah, Basrah, Syiria,
dan Kufah.

Kehati-hatian dan usaha membatasi periwayatan yang dilakukan para sahabat,


disebabkan karena mereka kawatir terjadinya kekeliruan, yang padahal mereka sadari bahwa
hadits merupakan sumber tasyri¶ setelah Al-Qur¶an, yang harus terjaga dari kekeliruannya
sebagai Al-Qur¶an. Oleh karenanya, para sahabat khususnya Khulafaurrasyiddin dan sahabat
lainnya, seperti Al-Zubair, Ibn Abbas, dan Abu Ubaidah berusaha memperketat periwayatan
dan penerimaan Hadits.3

è ‘ #      $ 




Pembatasan atau penyederhanaan periwayatan hadits yang ditunjukkan oleh para


sahabat debgan sikap kehati-hatiannya tidak berarti hadits-hadits Rosul tidak diriwayatkan.
Dalam batas-batas tertentu hadits-hadits itu diriwayatkan, khususnya yang berkaitan dengan
kebutuhan hidup masyarakat sehari-harinya, seperti dalam permasalhan ibadah dan
mu¶amalah. Periwayatan tersebut dilakukan setelah diteliti secara ketat pembawa hadits
tersebut dan kebenaran matannya.

Ada dua jalan para sahabat dalam meriwyatkan hadits dari Rosul SAW. itu ,
dengan jalan periwayatan lafdzi (redaksinya persis saperti yang disampaikan Rosul SAW.),
 dengan jalan periwayatan maknawi (maknanya saja).

a.‘ Periwayatan Lafdzi


Separti telah dikatakan, bahwa periwayatan lafdzi adalah periwayatan hadits
yang redaksinya atau matannya persis seperti apa yang diwurudkan Rosul SAW. Ini
hanya bisa dilakukan apabila mereka hafal benar apa yang disabdakan Rosul SAW.
Kebanyakan sahabat menempuh periwayatan hadits melalui jalan ini.mereka
berusaha agar periwayatan hadits sesuai dengan redaksi dari Rosulullah SAW.
bukan menurut redaksi mereka sendiri.
Sebagian dari mereka secara ketat melarang meriwayatkan hadits dengan
maknanya saja, sampai satu huruf atau satu katapun tidak boleh diganti. Begitu pila

3
Ajjaj al-khathib, Al-sunnah Qobla Al-tadwin, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1997) cet. ke-6 hlm: 92-93

6
tidak boleh mendahulukan susunan kata yang disampaikan Rosul dibelakang atau
sebaliknya, atau meringankan bacaan yang tadinya tsiqol (berat) dan sebaliknya.
b.‘ Periwayatan uaknawi
Diantara para sahabat lainnya ada yang berpendapat bahwa dalam keadaan
darurat, karena tidak hafal persis seperti yang diwurudkan Rosul SAW., boleh
meriwayatkan hadits secara maknawi. Periwayatan maknawi artinya periwayatan
hadits yangmatannya tidak sama persis dengan apa yang didengarkannya dari
Rosul SAW., akan tetapiisi atau maknanya tetap terjaga secara utuh, sesuai dengan
yang dimaksudkan oleh Rosul SAW. tanpa ada perubahan sedikitpun.
ueskipun demikian, para sahabat melakukannya dengan sangat hati-hati. Ibnu
uas¶ud misalnya, ketika ia meriwayatkan hadits ada istilah-istilah tertentu yang
digunakannya untuk menguatkan penukilannya, seperti dengan kata : å 
      ( Rosul SAW. telah bersabda begini ),atau 
 å      
   

C.‘   
  %

Pada dasarnya periwayatan yang dilakukan oleh jalangan Tabi¶in tidak berbeda
dengan yang dilakukan oleh para sahabat. uereka, bagaimanapun mengikuti jejak para
sahabat sebagai guru-guru mereka. Hanya saja persoalan yang dihadapi mereka agak bebeda
dengan yang dihadapi sahabat. Pada masa ini Al-Qur¶an sudah dikumpulkan dalalm satu
mushaf. Dipihak lain, usaha yang telah dirintis oleh para sahabat pada masa
Khulafurrosyiddin khususnya masa Kholifah Utsman para sahabat ahli hadits menyebar
kebeberapa wilayah kekuasaan Islam. Kepada merekalah para Tabi¶in mempelajari hadits.

1.‘ Pusat-pusat Pembinaan Hadits


Tercatat beberapa kota sebagai pusat pembinaan dalam periwayatan hadits,
sebagai tempat tujua para Tabi¶in dalam mencari hadits. Kota-kota tersebut ialah,
uadinah Al-uiunawwaroh, uakkah Al-uukarromah, Kufah, Basrah, Syam,
uesir, uaghrbi dan Andalus, Yaman dan Khurasan. Dari sejumlah para sahabat
pembina hadits pada kota-kota tersebut, tercatat beberapa periwayat hadits yang
meriwayatkan cukup banyak, antara lain Abu Hurairoh, Abdullah Ibn Umar,

4
Ajjaj al-Khatib, al-Sunnah Qobla al-Tadwin, (Bairut: Dar al-fikr, 1997) cet. Ke-6 hlm. 130.

7
Anas Ibn ualik, µAisyah, Abdullah Ibn Abbas, Jabir Ibn Abdillah, da Abi Sa¶id
Al-khudry.

2.‘ Pergolakan Politik dalam Pemalsuan Hadits


Pergolakan-pergolakan ini sebenarnya terjadi pada masa sahabat, setelah
terjadinya perang Jamal dan perang Siffin, yairu ketika kekuasaan dipegang oleh
Ali Ibn Abi Tholib. Akan tetapi akibatnya cukup panjang dan berlarut-laut
dengan terpecahnya ummat Islam kedalam beberapa kelompok (Khawarij,
Syi¶ah, uuawiyyah, dan golongan mayoritas lainnya).
Langsung atau tidak dari pergolakan politik seperti diatas cukup memberikan
pengaruh terhadap perkembangan hadits berikutnya. Pengaruh yang langsung
dan bersifat negatif, ialah dengan munculnya hadits-hadits palsu (uaudlu¶)
untuk mendukung kepentinghan politiknya masing-masing kelompok dan untuk
menjatuhka posisi lawan-lawannya.
Adapun pengaruh yang berdifat positif, adalah lahirnya rencana dan usaha
yang mendorong diadakannya kodifikasi atau tadwin hadits, sebagai upaya
penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan, sebagai akibat dari pergolakan
politik tersebut.

D.‘
  # 

Secara bahasa, Tadwin diterjemahkan dengan kumpulan shohifah (uujtama¶ Al-


Shuhuf). Secara luas Tadwin diartikan dengan Al-jam¶u (mengumpulkan).

1.‘ Latar Belakang uunculnya Pemikiran Usaha Tadwin Hadits

Sekurang-kurangnya ada dua hal pokok mengapa Umar Ibn Abd Azis
mengambil sikap seperti ini. Pertama, ia khawatir terhadap hilangnya hadits-hadits
dengan meninggalnya para ulama di medan perang. Kedua, ia khawatir juga akan
tercampurnya antara hadits-hadits yang shahih dengan hadits-hadits palsu.
Dipihak lain, bahwa dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam,
sementara kemampuan para Tabi¶in antara satu dengan yang lainnya tidak sama,
jelas sangat memerlukan adanya usaha pentadwinan ini.
Dengan melihat berbagai persoalan yang muncul, sebagai akibat terjadinya
pergolakan politik yang sudah cukup lama, dan mendesaknya kebutuhan untuk

8
segera mengambil tindakan guna penyelamatan hadits dari kemusnahan dan
pemalsuan, maka Umar Ibn Abd Azis sebagai seorang Khalifah yang berakhlak
mulia, adil, dan wira¶i, terdorong untuk mengambil tindakan ini. Bahkan menurut
beberapa riwayat, ia turut terlibat mendiskusikan hadits-hadits yang sedang
dihimpunnya.

2.‘ Gerakan uenulis Hadits Pada Kalangan Tabi¶in dan Tabi¶at Tabi¶in setelah Ibn
Syihab az-Zuhri
Ada ulama ahli hadits yang berhasil menyusun kitab tadwin, yang bisa
diwariskan kepada generasi sekarang, yaitu ualik Ubn Anas di uadinah, dengan
kitab hasil karyanya  !" Kitab tersebut disusun pada tahun 143 H atas
permintaan Khalifah al-uansur. Para ulama menilai uuwaththa¶ini sebagai kitab
tadwin yang pertama dan banyak dijadikan rujukan oleh para muhaddits
selanjutnya.
Para pentadwin berikutnya, ialah uuhammad Ibn Ishaq (w. 151 H) dan Ibn
Abi Zi¶bin (80-158 H) di uadinah; Ibn Juraij (80-150 H) di uakkah; Al-Rabi¶ Ibn
Shabih (w. 160 H) dan Hammad Ibn Salamah (w. 167 H) di Basrah; Sufyan Al-
Tsauri (97-161 H) di Kufah; Al-Auza¶i (88-151 H.) di Syam; ua¶mar Ibn Rasyid
(93-153 H.) di Yaman; Ibn Al-uubarrak (118-181 H.) di Khurasan; Abdullah Ibn
Al-wahhab (125-197 H.) di uesir; dan Jarir Ibn Abd Al-Hamid (110-188 H.) di
Rei.

9
Ê ‘ Ê
  

 Rasulullah SAW. membina umatnya selama 23 tahun. Di masa inilah turunnya
wahyu dan sekaligus diwurudkannya hadits. Wahyu yang diturunkan kepadanya,
dijelaskannya melalui  "   yang kemudian disampaikan kepada
para sahabat dan umatnya, yang mana itu merupakan pedoman bagi amaliah dan
ubudiah mereka.
Pada masa menjelang akhir kerasulannya, Rasul SAW. berpesan kepada para
sahabat agar berpegang teguh pada al-Qur¶n dan Hadits. Hadits sebagai pedoman
kedua setelah al-Qur¶an harus terjaga kemurniannya, sebagaimana al-Qur¶an. Ini
menuntut para sahabat untuk berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Periwayatan
hadits di masa sahabat melalui periwayatan   
Ketika kekuasaan Islam dipegang oleh Bani Umayyah, wilayah Islam sangat
luas. Ini memicu munculnya pusat-pusat pembinaan hadits, diantaranya; madinah,
uakkah, Kufah, Basrah, Syam, uesir, Andalus dan Khurasan. Sedangkan tokoh-
tokoh ahli Hadits diantaranya; Khulafa Urrasyidin, Abu Hurairah, Siti Aisyah,
Anas Ibn ualik, Abdullah Ibn Abbas, Amr Ibn Al-µAsh, dan sebagainya.
Ketika dikalangan Umat Islam terjadi pergolakan politik dan munculnya
beberapa peperangan di kalangan umat islam sendiri, ini memicu terjadinya
Ú  hadits. Hal ini terjadi ketika Islam dipegang oleh Khalifah Umar Ibn
Abd Azis. Beliauberalasan, diantaranya; Ú ia khawatir akan hilangnya
hadits- hadits dengan meninggalnya para ulama di medan perang. #ia
khawatir akan tercampurnya antara hadits-hadits shahih dengan hadits palsu.

 ‘   

Demikian makalah ini kami susun, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Kami selaku penyusun makalah menyadari masih terdapat banyak kekurangan
didalamnya, baik dari segi susunan maupun isinya. uaka dari itu Kami
mengharap kritik dan saran dari anda sekalian sebagai bahan pertimbangan kami
dalam penyusunan makalah dikemudian hari.

10
Ê ‘& '    

Azami, u. uA, Ph.D. 2003. ¯  !  $  %    Jakarta:
Lentera.

uuhammad, Teungku Hasbi Ash Shiddieqy. 1999.   $  


& . Semarang: PT Pustaka Rizki Putra.

Suparta, uunzier. 2003. Ilmu Hadits_ed. Revisi cet. 4. Jakarta: PT Raja Grasindo
Persada.

11
RR uB 


uB  


u

i 
u i


u
t
li
:ll
it

  
:B  u

   i l:   

R i
   !c"#$cc"#%&

R '' (
)i !"*#%cc"+c&


i l
   !"*#%cc"+#&


,i' i Ri, i  !"*#%cc"++&

(RB -

 u uR . 

uR

"cc

c