Anda di halaman 1dari 4

ANEMIA Download versi PDF

Apakah Itu Anemia?

Anemia adalah kekurangan hemoglobin (Hb). Hb adalah protein dalam sel darah merah,
yang mengantar oksigen dari paru ke bagian tubuh yang lain.

Anemia menyebabkan kelelahan, sesak napas dan pusing. Orang dengan anemia
merasa badannya kurang enak dibandingkan orang dengan tingkat Hb yang wajar.
Mereka merasa lebih sulit untuk bekerja. Ini berarti mutu hidupnya lebih rendah.

Tingkat Hb diukur sebagai bagian dari tes darah lengkap (complete blood count/CBC).
Lihat Lembaran Informasi 121 untuk informasi lebih lanjut tentang tes laboratorium ini.

Anemia didefinisikan oleh tingkat Hb. Sebagian besar dokter sepakat bahwa tingkat Hb
di bawah 6,5 menunjukkan anemia yang gawat. Tingkat Hb yang wajar adalah
sedikitnya 12 untuk perempuan dan 14 untuk laki-laki.

Secara keseluruhan, perempuan mempunyai tingkat Hb yang lebih rendah dibandingkan


laki-laki. Begitu juga dengan orang yang sangat tua atau sangat muda.

Apa Penyebab Anemia?

Sumsum tulang membuat sel darah merah. Proses ini membutuhkan zat besi, dan
vitamin B12 dan asam folat. Eritropoietin (EPO) merangsang pembuatan sel darah
merah. EPO adalah hormon yang dibuat oleh ginjal.

Anemia dapat terjadi bila tubuh kita tidak membuat sel darah merah secukupnya.
Anemia juga disebabkan kehilangan atau kerusakan pada sel tersebut. Ada beberapa
faktor yang dapat menyebabkan anemia:

• Kekurangan zat besi, vitamin B12 atau asam folat. Kekurangan asam folat dapat
menyebabkan jenis anemia yang disebut megaloblastik, dengan sel darah merah
yang besar dengan warna muda (lihat Lembaran Informasi 121).
• Kerusakan pada sumsum tulang atau ginjal
• Kehilangan darah akibat pendarahan dalam atau siklus haid perempuan
• Penghancuran sel darah merah (anemia hemolitik)

Infeksi HIV dapat menyebabkan anemia. Begitu juga banyak infeksi oportunistik (lihat
Lembaran Informasi 500) terkait dengan penyakit HIV. Banyak obat yang umumnya
dipakai untuk mengobati HIV dan infeksi terkait dapat menyebabkan anemia.
Anemia dan HIV

Dahulu, anemia parah jauh lebih umum. Lebih dari 80% yang didiagnosis AIDS
mengalami anemia dengan tingkat tertentu. Orang dengan penyakit HIV lebih lanjut,
atau dengan kadar CD4 lebih rendah, mengalami angka anemia lebih tinggi.

Angka anemia menurun setelah Odha mulai memakai terapi antiretroviral (ART).
Anemia parah jarang terjadi di negara maju. Namun ART belum memberantas anemia.
Satu penelitian besar menemukan bahwa kurang-lebih 46% pasien mempunyai anemia
ringan atau sedang, walaupun sudah memakai ART selama satu tahun.

Beberapa faktor yang berhubungan dengan angka anemia semakin tinggi pada Odha:

• Kadar CD4 yang lebih rendah (lihat Lembaran Informasi 124)


• Viral load yang lebih tinggi (lihat Lembaran Informasi 125)
• Memakai AZT (lihat Lembaran Informasi 420)
• Pada perempuan

Kelanjutan penyakit HIV kurang-lebih lima kali lebih umum pada orang dengan anemia.
Anemia juga dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi. Mengobati anemia
tampaknya dapat menghapuskan risiko ini.

Bagaimana Anemia Diobati?

Mengobati anemia tergantung pada penyebabnya.

• Pertama, mengobati pendarahan kronis. Ini mungkin pendarahan dalam,


wasir, atau bahkan sering mimisan
• Berikut, memperbaiki kelangkaan zat besi, vitamin B12 atau asam folat, jika
ada
• Berhenti memakai, atau mengurangi dosis obat-obatan yang menyebabkan
anemia

Pendekatan ini mungkin tidak berhasil. Mungkin mustahil berhenti memakai semua obat
yang menyebabkan anemia. Dua pengobatan lain adalah transfusi darah dan suntikan
EPO.

Transfusi darah dahulu satu-satunya pengobatan untuk anemia parah. Namun,


transfusi darah dapat menyebabkan infeksi dan menekan sistem kekebalan tubuh.
Transfusi darah tampaknya mengakibatkan kelanjutan penyakit HIV yang lebih cepat
dan meningkatkan risiko kematian pada Odha.

EPO (eritropoietin) merangsang pembuatan sel darah merah. Pada 1985, ilmuwan
berhasil membuat EPO sintetis (buatan manusia). EPO ini disuntik di bawah kulit,
biasanya sekali seminggu.
Sebuah penelitian besar terhadap Odha menemukan bahwa suntikan EPO mengurangi
risiko kematian. Transfusi darah tampaknya meningkatkan risiko kematian. Karena risiko
dari transfusi darah, sebaiknya kita hindari transfusi untuk mengobati anemia.

Garis Dasar

Anemia menyebabkan kelelahan dan rasa kurang enak. Anemia juga meningkatkan
risiko kelanjutan penyakit dan kematian. Anemia dapat diakibatkan infeksi HIV atau
penyakit lain. Banyak obat yang dipakai untuk mengobati HIV dan infeksi terkait juga
dapat menyebabkan anemia.

Anemia sejak awal adalah masalah untuk Odha. Angka anemia parah menurun secara
bermakna di negara maju sejak orang mulai memakai ART. Namun hampir separuh
Odha masih mengalami anemia ringan atau sedang.

Mengobati anemia meningkatkan kesehatan dan daya tahan hidup Odha. Memperbaiki
pendarahan, atau kekurangan zat besi atau vitamin adalah langkah pertama. Jika
memungkinkan, sebaiknya berhenti memakai obat-obatan yang menyebabkan anemia.
Jika perlu, pasien sebaiknya diobati dengan eritropoietin (EPO), atau jika tidak ada
pilihan lain, dengan transfusi darah.
Anemia adalah penyakit kurang darah, yang ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah
merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal. Jika kadar hemoglobin kurang dari 14 g/dl dan
eritrosit kurang dari 41% pada pria, maka pria tersebut dikatakan anemia. Demikian pula pada
wanita, wanita yang memiliki kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37%,
maka wanita itu dikatakan anemia.

Anemia umumnya disebabkan oleh perdarahan kronik. Gizi yang buruk atau gangguan
penyerapan nutrisi oleh usus juga dapat menyebabkan seseorang mengalami kekurangan darah.
Demikian juga pada wanita hamil atau menyusui, jika asupan zat besi berkurang, besar
kemungkinan akan terjadi anemia. Perdarahan di saluran pencernaan, kebocoran pada saringan darah
diginjal , menstruasi yang berlebihan, serta para pendonor darah yang tidak diimbangi dengan gizi
yang baik dapat memiliki risiko anemia.

Perdarahan akut juga dapat menyebabkan kekurangan darah. Pada saat terjadi perdarahan yang
hebat, mungkin gejala anemia belum tampak. Transfusi darah merupakan tindakan penanganan
utama jika terjadi perdarahan akut. Perdarahan tersebut biasanya tidak kita sadari. Pengeluaran
darah biasanya berlangsung sedikit demi sedikit dan dalam waktu yang lama.

Mineral besi, vitamin B12, danasam folat merupakan nutrisi yang penting dalam pembentukan sel
darah. Kekurangan ketiga unsur tersebut dapat menyebabkan anemia. Anemia karena defisiensi zat
besi ditandai dengan adanya perubahan pada kulit . Kulit tampak pucat dan kusam. Selain itu, terjadi
kerusakan kelenjar secara terus menerus, seperti lidah menjadi halus, bibir dan sudut-sudut mulut
tampak pecah-pecah dan berwarna kemerahan.

Zat besi (Fe) merupakan mineral yang sangat penting bagi tubuh, meskipun dibutuhkan dalam jumlah
yang sedikit (trace mineral). Hemoglobin, yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh,
mengandung 60-70% zat besi. Kekurangan zat besi menunjukkan bahwa tubuh kita kekurangan
hemoglobin dan oksigen. Zat besi dapat diperoleh dari sayuran hijau dandaging , tetapi zat besi
yang terkandung dalam sayuran lebih sulit diserap dibandingkan dengan zat besi dalam daging.
Namun, itu bukan berarti kita harus banyak mengonsumsi daging untuk mencukupi kebutuhan zat
besi, kecuali dalam keadaan defisiensi unsur besi. Setiap hari tubuh kita membutuhkan sekitar 20 mg
zat besi dari makanan. Namun dari sejumlah itu hanya sekitar 2 mg saja yang diserap oleh tubuh, dan
sisanya akan dibuang bersama dengan tinja. Zat besi dalam tubuh kita berkisar 2-4 g, atau sekitar 50
mg dalam setiap kilogram berat badan pada pria dewasa. Sedangkan pada wanita hanya 35 mg dalam
setiap kilogram berat badan. Umumnya defisiensi zat besi disertai dengan defisiensi asam folat.
Kebutuhan tubuh terhadap vitamin B12 sama pentingnya dengan mineral besi. Vitamin B12 bersama
besi akan berfungsi sebagai bahan pembentuk sel darah merah. Bahkan kekurangan vitamin B12 tidak
hanya memicu anemia, melainkan dapat mengganggu sistem saraf.

Gizi makanan sangat berkaitan dengan penyakit kurang darah. Konsumsi bahan makanan yang miskin
akan asam folat, besi, dan vitamin B12 cenderung menyebabkan seseorang menjadi kurang darah
(anemia). Asam folat dapat diperoleh dari daging, sayuran hijau, dan susu
. Asam folat termasuk
nutrisi yang sangat mudah diserap oleh usus dan berlangsung di sepanjang saluran pencernaan.
Tetapi, mengapa masih banyak ditemukan kasus anemia karena kekurangan asam folat. Masalahnya
adalah pada kadar gizi dalam makanan yang dikonsumsi. Gizi yang buruk atau malnutrisi
merupakan penyebab utamanya.