Anda di halaman 1dari 5

A.

TUJUAN EKONOMI ISLAM

Tujuan akhir ekonomi Islam adalah sebagaimana tujuan syariat Islam itu sendiri, yaitu mencapai
kebahagiaan di dunia dan akhirat melalui satu tata kehidupan yang terhormat. Ekonomi Islam tidak
sekadar berorientasi untuk pembangunan fisik-material dari individu, masyarakat dan Negara saja.,
tetapi juga memperhatikan aspek – aspek lain yang juga merupakan elemen penting bagi kehidupan
yang sejahtera dan bahagia. Pembangunan keimanan merupakan prakondisi yang diperlukan dalam
ekonomi Islam, sebab keimanan merupakan fondasi bagi seluruh perilaku individu dan masyarakat.
Keimanan akan turut membentuk preferensi, sikap, pengambilan keputusan, dan perilaku masyarakat.
Manusia memerlukan pemenuhan kebutuhan keimanan yang benar, yang mampu membentuk
preferensi, sikap, keputusan dan perilaku yang mengarah pada perwujudan mashlahah untuk mencapai
falah

Mashlahah harus diwujudkan melalui cara – cara yang sesuai dengan syariat Islam sehingga akan
terbentuk suatu peradaban yang luhur. Peradaban Islam adalah peradaban yang mengedepankan aspek
budi pekerti atau akhlaq, baik manusia dalam hubungannya dengan sesame manusia, makhluk lain di
alam semesta dan hubungannya dengan Tuhan.

Mashlahah dapat dicapai hanya jika manusia hidup dalam keseimbangan ( equilibrium ), sebab
keseimbangan merupakan sunnatullah. Kehidupan yang seimbang merupakan salah satu esensi ajaran
Islam sehingga umat Islam disebut sebagai umat pertengahan. Ekonomi Islam bertujuan untuk
menciptakan kehidupan yang seimbang ini, dimana terjadi keseimbangan fisik dengan mental, material
dengan spiritual, individu dengan sosial, masa kini dan masa depan, serta dunia dengan akhirat.

Dengan demikian, sebagai suatu cabang ilmu , ekonomi Islam bertujuan mewujudkan dan
meningkatkan kesejahteraan bagi setiap individu yang membawa mereka kepada kebahagiaan di dunia
dan akhirat. Sehinga perhatian utama ekonomi Islam adalah pada upaya bagaimana manusia
meningkatkan kesejahteraan materialnya yang sekaligus akan meningkatkan kesejahteraan spiritualnya.

1
B. PRINSIP – PRINSIP EKONOMI DALAM ISLAM

Prinsip ekonomi dalam Islam merupakan kaidah – kaidah pokok yang membangun struktur atau
kerangka ekonomi Islam yang digali dari Al Qur’an dan/atau Sunnah. Prinsip ekonomi ini berfungsi
sebagai pedoman dasar bagi setiap individu dalam berperilaku ekonomi. Namun, agar manusia bisa
menuju falah, perilaku manusia perlu diwarnai dengan spirit dan norma ekonomi Islam, yang tercermin
dalam nilai – nilai ekonomi Islam sebagaimana yang telah dijelaskan.

Berikut prinsip – prinsip yang akan menjadi kaidah – kaidah pokok yang membangun struktur
atau kerangkan ekonomi Islam :

1. Kerja ( Resource Utilization )

2. Kompensasi ( Compensation )

3. Efisiensi ( Efficiency )

4. Profesionalisme ( Professionalism )

5. Kecukupan ( Sufficiency )

6. Pemerataan kesempatan ( Equal Opportunity )

7. Kebebasan ( Freedom )

8. Kerja sama ( Cooperation )

9. Persaingan ( Competition )

10. Keseimbangan ( Equilibrium )

11. Solidaritas ( Solidarity )

12. Informasi simetri ( Symmetric Information )

Di sisi lain, ada kaidah dan prinsip mendasar yang dibangun dengan menggunakan pendekatan
Al Qur’an dan Sunnah yang lebih jauh.

1. Sumberdaya adalah amanah Allah

Manfaatkan seefisien dan seoptimal


mungkin sebagai bentuk
pertanggungjawaban khalifah dan sebagai
ibadah

Proses produksi untuk menghasilkan


barang dan jasa

2
2. Islam mengakui pemilikan
pribadi: barang konsumsi
maupun alat dan faktor
produksi. Tetapi pemilikan itu
terbatas dan bersyarat:

a) Penggunaannya harus
sesuai dengan kehendak
pemiliknya yang hakiki

b) Pemilikan individu dibatasi oleh kepentingan umum

c) Islam menolak setiap pendapatan yang berasal dari suap, rampasan,


kecurangan, penipuan, pencurian, perampokan, pemalsuan, curang
dalam timbangan atau ukuran, pelacuran, ramalan nasib,
alkoholisme, bunga, judi, perdagangan gelap, menimbun barang, dsb.

3. Semangat ekonomi dalam Islam adalah semangat kerjasama. Kompetisi


dilakukan dalam rangka kerjasama dan saling tolong dalam kebaikan

Al-Maidah 2 Al-Hadits

At-Taubah 71

4. Harta tidak boleh beredar di antara orang kaya saja. Al-Hasy-r 7

Distribusi pendapatan, kekayaan, maupun employment.

Distribusi adalah pokok, sedangkan produksi dilaksanakan


dengan memperhatikan distribusi itu.

Produksi kebutuhan Maksimisasi laba firm Peran pemerintah.


pokok mendahului individual menjadi tidak
kebutuhan yang lain penting.

3
5. Riba-free economy

Salah satu dari 1. Riba


2. Zakat
tiga persoalan 3. Perdagangan
ekonomi yang
secara eksplisit
disebutkan di
dalam Qur’an

6. Tidak ada larangan mencari keuntungan melalui keterlibatan


(sebagai pengusaha, pekerja atau penyedia dana ataupun sumber
lain) di dalam produksi dan perdagangan barang/jasa halal.

An-Nisaa’ 29

Al-Baqarah 275

Mencakup semua jenis transaksi, baik produksi maupun konsumsi

7. Barang, jasa, input, faktor produksi, proses produksi, sistem


distribusi, semuanya harus halal.

Al-Baqarah

Yang tidak halal tidak dimasukkan ke dalam analisis.

4
8. Tidak ada intervensi harga, kecuali karena adanya kegagalan pasar
maupun kecurangan.

Dari Anas bin Malik. Ia berkata: Pernah naik harga (barang-barang) di Madinah pada zaman
Rasulullah s.a.w. Orang-orang berkata: ‘Ya Rasulullah, telah naik harga-harga, karena itu
tetapkanlah harga bagi kami’. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah itu penetap
harga, yang menahan, yang melepas, yang memberi rizqi, dan sesungguhnya aku harap bertemu
Allah di dalam keadaan tidak seorangpun dari kamu menuntut aku lantaran mendhalimi jiwa
ataupun harta.

C. FALSAFAH EKONOMI ISLAM

Dalam beberapa literatur dan referensi yang menyebutkan mengenai falsafah ekonomi Islam
dikenal beberapa pendekatan. Namun yang menarik adalah bahwa garis besar pendekatan –
pendekatan tersebut tidak jauh dari kenyataan bahwasanya ekonomi Islam adalah sebuah sistem yang
berjalan sesuai dengan sunnatullah yang berlaku di ala mini sbagai sebuah keseimbangan kehidupan.
Sehingga, ketika sebuah sistem ekonomi tidak berjalan sesuai dengan sunnatullah maka akan terjadi
ketidakseimbangan.

Ekonomi Islam adalah sebuah sistem perekonomian sunnatullah yang mendorong adanya aliran
investasi (dengan zakat) secara optimal (dengan anti riba) yang bersifat produktif (dengan anti judi).
Semua itu berjalan secara linier dengan semua karakter makhluk Allah yang bersifat mengalir, bahwa
harta tidak boleh menumpuk di satu titik saja. Harta tidak boleh dibendung karena akan menghambat
aliran ekonomi.