Anda di halaman 1dari 30

PRESENTASI PRAKTIKUM KOROSI

KELOMPOK 10

Kelompok 10:

Dennie Widya Hutomo


M.Aqil Mustaqbal
M.Ekaditya Albar
Rhidiyan Waroko
Yanuar A.F
1.A. Sel Galvanik
Logam Ag/AgCl SHE SCE Pers.Reaksi (Anoda)
Fe -0.325 -0.103 -0.343 Fe2+(aq) + 2e-  Fe(s)
Zn -0.773 -0.551 -0.791 Zn2+(aq) + 2e-  Zn(s)
Cu -0.163 0.059 -0.181 Cu2+(aq) + 2e-  Cu(s)

Logam Ag/AgCl SHE SCE Pers.Reaksi (Anoda)


Fe/Zn -0.681 -0.459 -0.699 Zn(s)  Zn2+(aq) + 2e-
Cu/Zn -0.698 -0.476 -0.716 Zn(s)  Zn2+(aq) + 2e-
Fe/Cu -0.375 -0.153 -0.393 Fe(s)  Fe2+(aq) + 2e-

Persamaan Reaksi (Katoda) :


O2 + 2H2O + 4e- → 4OH-

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 2


1.A. Analisa
 Analisa Percobaan
Percobaan dilakukan dengan menghitung nilai potensial masing-masing
logam sebelum dicouple untuk melihat logam mana yang lebih mulia dan
mana yang lebih reaktif, selanjutnya dihitung potensial logam setelah
dicouple. Seluruhnya dihitung pada lingkungan NaCl 3.5 %. Nilai potensial
yang ditunjukkan pada multitester selalu berubah-ubah (tidak stabil)
sehingga sulit dalam menentukan nilai potensial.

 Analilsa Hasil Percobaan


Dari percobaan hasil yang diperoleh adalah logam Cu mempunyai potensial
paling tinggi, disusul oleh Fe dan Zn. Nilai yang berbeda dapat disebabkan
karena pengamplasan kurang sempurna, logamnya bukan logam murni
yang tidak diketahui komposisi pastinya, serta pada saat percobaan wadah
terlalu kecil sehingga mempengaruhi karena kadang elektroda standard
bersentuhan dengan logam.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 3


1.A. Analisa
 Analisa Anoda dan Katoda
Pada Fe/ Cu, katoda = Cu dan anoda = Fe.
Pada Cu/ Zn, katoda = Cu dan anoda = Zn.
Pada Fe/ Zn, katoda = Fe dan anoda = Zn.

 Analilsa Korosi pada Logam yang di-Couple


Logam dengan potensial yang lebih rendah akan rentan terhadap
korosi jika di – couple dengan logam yang memiliki potensial lebih
besar. Aliran elektron yang berasal dari anoda (proses oksidasi) akan
menuju katoda yang mengalami proses reduksi.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 4


1.A. Literatur & Kesimpulan
 Dua buah logam yang saling
berhubungan dengan jenis yang
berbeda akan menghasilkan beda
potensial. Perbedaan potensial ini
akan memicu terjadinya korosi
pada logam dengan potensial yang
lebih rendah.
 Urutan logam (pada percobaan)
berdasarkan nilai potensial
elektrodanya dimulai dari yang
paling reaktif yaitu Zn, Fe, Cu.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 5


1.B. Sel Diferensial Aerasi

Kondisi Ag/AgCl SHE SCE


Deaerasi - 0,408 volt - 0,186 volt - 0,427 volt
Aerasi - 0,383 volt - 0,161 volt - 0,402 volt
Couple - 0,394 volt - 0,172 volt - 0,413 volt

Sebelum di-couple (Aerasi) : Sebelum di-couple (Deaerasi) :


Anoda : Fe  Fe2+ + 2 e – Anoda : Fe  Fe2+ + 2 e –
Katoda : O2 + 2H2O + 4 e-  4OH – Katoda : 2H2O + 2 e-  H2 + OH –

Setelah di-couple:
Sel aerator, bersifat katodik : O2 + 2H2O + 4 e-  4OH –
Sel deaerator, bersifat anodik : Fe  Fe2+ + 2 e –

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 6


1.B. Analisa
 Analisa Percobaan
Percobaan dilakukan dengan menghitung potensial Fe dalam sel aerasi dan
deaerasi (N2), setelah itu, logam di-couple dan dihitung potensialnya dalam
NaCl 3.5 %. Nilai Potensial yang ditunjukkan pada multitester selalu
berubah-ubah (tidak stabil) sehingga sulit dalam menentukan nilai
potensial.

 Analilsa Hasil Percobaan


Pada saat sebelum dipasangkan, logam Fe memiliki potensial -0.383 V
(aerasi) dan -0.408 V (deaerasi), sedangkan setelah di-couple potensial yang
terukur adalah -0.394 V. Logam yang berada dalam larutan konsentrasi
oksigen tinggi akan cenderung bersifat katodik saat di-couple dan logam
yang berada dalam larutan konsentrasi oksigen lebih rendah akan
cenderung bersifat anodik saat di-couple. Hal ini dikarenakan pada sel
deaerasi harus mengimbangi konsumsi elektron yang dibutuhkan oleh sel
katoda (aerasi) sehingga proses korosi berlangsung lebih cepat.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 7


1.B. Kesimpulan

 Perbedaan konsentrasi oksigen pada larutan yang


terdapat dalam elektrolit dimana logam Fe berada, akan
membuat logam tersebut teroksidasi / terkorosi.
 Pada sel tunggal, sel aerasi akan lebih cepat terkorosi
dibandingkan sel deaerasi.
 Pada sel couple, sel deaerasi akan lebih cepat terkorosi
dibandingkan sel aerasi karena sel deaerasi harus
mensuplai elektron dua kali lipat dari semula.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 8


1.C. Sel Konsentrasi
Kondisi Ag/AgCl SHE SCE
CuSO4 0,1 gpl + 0,058 volt + 0,280 volt + 0,039 volt
CuSO4 100 gpl + 0,089 volt + 0,311 volt + 0,070 volt
setelah di Couple + 0,055 volt + 0,277 volt + 0,036 volt

Persamaan Reaksi (sebelum couple):


Anoda : 2Cu → 2Cu2+ + 4e- ΔG = -n.F.E
Katoda : 2H2O + 2e- → H2 + 2OH-

RT
Persamaan Reaksi (setelah couple): Ecell  E 0  log C
Anoda (Encer) : 2Cu → 2Cu2+ + 4e- nF
Katoda (Pekat) : Cu2+ + 2e- → Cu

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 9


1.C. Analisa
 Analisa Percobaan
Percobaan dilakukan dengan logam Cu pada larutan elektrolit CuSO4 dengan
konsentrasi yang berbeda. Nilai Potensial yang ditunjukkan pada multitester
selalu berubah-ubah (tidak stabil) sehingga sulit dalam menentukan nilai
potensial.

 Analisa Data Percobaan


Potensial yang didapat adalah 0.058 V (0.1 gpl) dan 0.089 V (100 gpl). Saat
dicouple, kecepatan reaksi yang lebih tinggi pada konsentrasi tinggi ini terjadi
karena terlalu banyaknya ion Cu2+ di dalam elektrolit sehingga ion-ion Cu2+
cenderung mengendap, dan untuk mengimbanginya maka logam Cu akan
terionisasi dengan kecepatan yang sama dengan ion Cu2+ untuk tereduksi.

 Analisa Korosi Akibat Perbedaan Konsentrasi


Pada sel perbedaan konsentrasi, logam pada daerah dengan elektrolit yang lebih
encer akan terkorosi lebih cepat dibandingkan daerah dengan elektrolit pekat.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 10


1.C. Kesimpulan

 Perbedaan konsentrasi akan mempengaruhi aktivitas ion


dalam elektrolit sehingga mempengaruhi laju korosi
suatu logam.
 Sebelum di-couple, larutan pekat akan mempercepat
laju korosi sedangkan pada larutan encer lebih lambat.
 Setelah di-couple, logam pada konsentrasi rendah akan
menjadi anodik dan logam pada konsentrasi tinggi
menjadi katodik.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 11


2.A. Potensial Korosi Berbagai Logam
dalam NaCl 3.5 %
Nilai Potensial
Logam
Ag/AgCl SHE SCE
Mg -1.61 -1.388 -1.629
Zn anode -1.02 -0.798 -1.039
Al -0.93 -0.708 -0.949
Zn -0.76 -0.538 -0.779
Fe -0.42 -0.198 -0.439
Incolloy -0.3 -0.078 -0.319
SS 316 (las) -0.26 -0.038 -0.279
Ni -0.23 -0.008 -0.249
Cu-Zn -0.21 0.012 -0.229
Cu -0.16 0.062 -0.179
Pb 0 0.222 -0.019

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 12


2.A. Analisa
 Analisa Percobaan
Percobaan dilakukan pada larutan NaCl 3,5% dengan berbagai jenis logam. Pada saat
percobaan, nilai potensial yang ditunjukkan pada multitester selalu berubah-ubah (tidak
stabil) sehingga sulit dalam menentukan nilai potensial.
 Analisa Data Percobaan dengan Literatur
Berdasarkan hasil percobaan maka potensial logam diurutkan dari yang rendah sampai yang
tinggi adalah Mg, Zn Anode, Al, Zn, Fe, Incolloy, SS 316, Ni, Cu-Zn, Pb, Cu.
Berdasarkan literatur, dengan urutan potensial yang sama seharusnya adalah Zn Anode, Mg,
Zn, Al, Fe, Cu, SS 316, Cu-Zn, Pb, Incolloy.
 Persamaan Reaksi
Anoda : M →Mn++ne-
Katoda : O2 + 2H2O + 4e- → 4OH-
 Analisa Pengaruh NaCl terhadap Laju Korosi
Pengaruh NaCl pada laju korosi adalah meningkat pada konsentrasi 0 % - 3.5 % dan
kemudian turun lagi. Hal ini dikarenakan kelarutan O2 pada konsentrasi 3.5 % berada pada
titik maksimal.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 13


2.A. Kesimpulan
 Semakin negatif nilai potensial
reduksi suatu logam, maka
akan semakin aktif dan mudah
terkorosi.
 Deret Galvanik logam disusun
berdasarkan nilai potensial
logam pada lingkungan korosif.
 Pada lingkungan NaCl 3.5 %,
kelarutan oksigen maksimun 3.5

sehingga laju korosi menjadi


maksimum.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 14


2.B. Potensial Korosi Fe pada pH Berbeda

Nilai Potensial
Logam Larutan(pH)
Ag/AgCl SHE SCE
H2SO4 (pH =2) -0,53 -0,308 -0,549
Fe Air Ledeng (pH =4) -0,44 -0,218 -0,459
NaOH (pH =12) -0,47 -0,248 -0,489

Nilai Potensial
Logam Larutan(pH)
Ag/AgCl SHE SCE
H2SO4 (pH =2) -0,03 0,192 -0,049
Cu Air Ledeng (pH =4) -0,01 0,212 -0,029
NaOH (pH =12) -0,18 0,042 -0,199

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 15


2.B. Analisa Fe
Pada H2SO4 (pH=2); potensial -0,308 Fe
- pada daerah ini cenderung terkorosi
- reaksi : Fe + 2H+ → Fe2+ + H2
Pada Air Ledeng (pH=4); potensial -0,218
- pada daerah ini cenderung terkorosi
- reaksi : Fe + 2H+ → Fe2+ + H2
Pada NaOH (pH=12); potensial -0,248
- terbentuk lapisan pasif Fe(OH)3
- reaksi :
Fe  Fe2+ + 2e
Fe2+ + 2H2O  Fe (OH)2 + 2 H+
Fe (OH)2 + 2 H2O  Fe (OH)3 + H+ + e

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 16


2.B. Analisa Cu
Pada H2SO4 (pH=2) ; potensial 0,192
- pada daerah ini cenderung terkorosi
- reaksi : Cu + 2H+ → Cu2+ + H2
Pada Air Ledeng (pH=4); potensial 0,212
- pada daerah ini cenderung terkorosi
- reaksi : Cu + 2H+ → Cu2+ + H2
Pada NaOH (pH=12); potensial 0,042
- terbentuk lapisan pasif Cu2O
- reaksi :
Cu  Cu2+ + 2e
Cu2+ + 2HO-  Cu(OH)2
2Cu(OH)2  Cu2O + OH-
Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 17
2.B. Kesimpulan

 Tingkat keasaman suatu lingkungan (pH) akan


mempengaruhi sifat korosif dari material yang dapat
dilihat pada Diagram Pourbaix.
 Diagram Pourbaix dapat menunjukan daerah aktif , pasif,
dan immun dari suatu logam pada range pH dan
potensial tertentu.
 Kekurangan Diagram Pourbaix adalah tidak dapat
mengukur kinetika (laju) korosi.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 18


3.1. Kurva Polarisasi

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 19


3.2. Analisa
 Perhitungan icorr , Ecorr , dan Laju Korosi (r)
Persamaan yang didapat :
Polarisasi Anodik y1 = 0.127x + 0.047
Polarisasi Katodik y2 = -0.122x – 1.409
Menentukan icorr
ya = yc
0,127x + 0,047 = -0,122x -1,409
0,249x = -1,456
x = -1,456 / 0,249
x = -5,847 ..........(x dalam log icorr) Menentukan corrosion rate

Menentukan Ecorr
x = -5,847 ; y = 0,127x + 0,047
y = 0,127 (-5,847) + 0,047
y = -0,696
Ecorr = -0,696 V

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 20


Relative Corrosion Resistance mpy
Outstanding <1
Excellent 1–5
Good 5 – 20
Fair 20 – 50
Poor 50 – 200
Unacceptable >200

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 21


3.3. Kesimpulan

 Polarisasi merupakan penyimpangan nilai potensial


logam akibat mengalirnya arus.
 Polarisasi dapat digunakan dalam menentukan laju
korosi suatu logam dalam lingkungan tertentu.
 Laju korosi akan berbeda pada lingkungan yang berbeda,
dimana pada lingkungan yang korosif, laju korosi akan
meningkat.
 Kurva polarisasi yang dihasilkan dapat menentukan laju
korosi dari suatu logam.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 22


4.A. Anoda Korban
Sebelum di-Couple Setelah di-Couple
Nilai Potensial Nilai Potensial
Logam Logam
Ag/AgCl SHE SCE Ag/AgCl SHE SCE
Zn -0.942 -0.72 0.961 Fe / Zn -0.694 -0.472 -0.712
Al -0.990 -0.768 -1.009 Fe / Al -0.685 -0.463 -0.703
Fe -0.442 -0.22 -0.46 Fe / Mg -1.332 -1.11 -1.35
Mg -1.566 -1.344 -1.584 Fe / Al anode -0.894 -0.672 -0.912
Al anode -1.025 -1.247 -1.487 Fe / Zn anode -0.928 -0.706 -0.946
Zn anode -1.005 -0.783 -1.023

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 23


4.A. Analisa
• Percobaan dilakukan pada larutan NaCl 3.5 %, karena pada kondisi tersebut
oksigen yang terlarut maksimum.
• Syarat-syarat anoda korban adalah:
 Potensial korosi anoda harus lebih negatif
 Polarisasi anoda korban harus cukup rendah
 Anoda harus bisa menyediakan arus yang konstan
 Efisiensi anoda harus tinggi
 Jenis-jenis anoda korban yang digunakan adalah: Mg (tanah), Al (air laut), Zn (air
sungai).
 Perencanaan pembuatan sistem anoda korban harus memperhatikan hal berikut:
Luas area struktur yang akan dilindungi, kecepatan arus katodik, lifetime dari
sistem tersebut, tipe pelapis, jumlah anoda yang akan digunakan, bentuk anoda
dan resistivitas anoda

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 24


4.A. Kesimpulan

 Mg, Al, Zn dapat menjadi anoda korban untuk proteksi Fe karena


potensial logam tersebut lebih negatif dari logam Fe.
 Al cocok digunakan pada lingkungan air laut karena efisiensinya
besar.
 Mg cocok digunakan untuk lingkungan yang resistivitasnya besar
karena Mg memiliki keaktifan yang tinggi.
 Potensial logam setelah di-couple ada di antara potensial masing-
masing logam sebelum di-couple.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 25


4.B. Impressed Current
Sebelum Dialiri Arus

No Titik Cu/CuSO4 SHE SCE


1 A -0.186 0.132 -0.108
2 B -0.185 0.133 -0.107
3 C -0.389 -0.071 -0.311
4 D -0.382 -0.064 -0.304

Setelah Dialiri Arus


No Titik Cu/CuSO4 SHE SCE
1 A -0.875 -0.557 -0.797
2 B -0.341 -0.023 -0.263
3 C -0.403 -0.085 -0.325
4 D -0.349 -0.031 -0.271

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 26


4.B. Impressed Current
Setelah B dan D dibonding

No Titik Cu/CuSO4 SHE SCE


1 B -0.342 -0.024 -0.264
2 C -0.325 -0.007 -0.247
3 D -0.353 -0.035 -0.275

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 27


4.B. Analisa
 Analisa Percobaan
 Metode impressed current menggunakan arus luar DC
 Kutub negatif dari tegangan dihubungkan ke pipa baja dan
kutub positif dihubungkan ke anoda inert (Pb)
 Bertujuan untuk menghantarkan elektron menuju katoda,
akibatnya akan menekan pelarutan logam / reaksi oksidasi
akan tertahan dan logam cenderung untuk tereduksi
sehingga mencegah keluarnya elektron dari pipa baja
(katoda)
 Hasil percobaan tidak sesuai atau memiliki perbedaan terhadap
teorinya, yaitu disebabkan karena ketahanan tanah, logam / kawat
yang tersambung ke pipa telah membentuk karat sehingga pada
kawat terdapat tahanan tersendiri yang menyebakan hasil
pengukuran berbeda.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 28


4.B. Analisa

 Dilihat dari nilai potensial sebelum dialiri arus, pipa CD


lebih negatif dari pipa AB
 Setelah pipa di aliri arus terjadi perubahan nilai potensial
dimana perubahannya disetiap titik tidak sama besar.
 Pada kondisi ini akan terdapat stray current yang dapat
mempengaruhi struktur logam lain di sekitarnya
(menyebabkan korosi).
 Setelah titik B dan D dihubungkan, maka perbedaan
potensial dititik hampir sama. Stray current dapat
dicegah dengan cara ini.

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 29


4.B. Kesimpulan
• Proteksi katodik menggunakan impressed current menggunakan
arus searah (DC) yang dialirkan ke material yang ingin diproteksi.
• Arus mengalir menghantarkan elektron menuju katoda, sehingga
menekan pelarutan logam / reaksi oksidasi akan tertahan dan
logam cenderung untuk tereduksi.
• Pada impressed current memungkinkan terjadinya stray current
yang dikarenakan jarak struktur yang berdekatan.
• Stray current dapat dicegah dengan menghubungkan kedua pipa
yang berdekatan (electric bonding)

Presentasi Praktikum Korosi Kel.10 30