Anda di halaman 1dari 9

Tugas Periodonsia II

D
I
S
U
S
U
N
Oleh :

Nama : RESTI WULANDARI


NIM : 070600042

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010
Apa Yang Dimaksud Dengan Iritan Lokal?
Iritan lokal atau faktor etiologi lokal adalah faktor-faktor yang berada disekitar periodonsium yang dapat mempengaruhi
terjadinya penyakit periodontal. Faktor ini disebut juga dengan faktor ekstrinsik karena keberadaannya ada di luar jaringan
periodonsium. Faktor ini merupakan penyebab utama terjadinya penyakit periodontal yaitu plak dan kalkulus serta faktor-
faktor yang mempermudah penumpukannya.

Bagaimana Cara Mengungkapkannya?


1. Lakukan pemeriksaan Indeks Periodontal.
2. Periksa apakah terdapat tepi tumpatan yang mengemper (overhanging) karena merupakan lokasi yang ideal bagi
penumpukan plak serta dapat mengubah keseimbangan ekologis sulkus gingiva ke arah yang menguntungkan bagi
organisme anaerob gram-negatif yang menjadi penyebab penyakit periodontal.
3. Periksa apakah terdapat mahkota tiruan dan restorasi dengan kontur berlebih (overcountoured) yang cenderung
mempermudah penumpukan plak dan kemungkinan juga mencegah mekanisme self-cleansing oleh pipi, lidah, dan bibir.
4. Periksa apakah terdapat restorasi yang tidak sesuai dengan pola oklusal yang akan menimbulkan disharmoni yang
akan mencederai jaringan periodontal pendukung.
5. Bahan restorasi umumnya tidak mencederai jaringan periodontal, kecuali bahan akrilik self-curing apabila kurang
dilakukan pemolisan.
6. Desain gigi tiruan sebagian lepasan yang menutupi gingiva dapat mempermudah penumpukan plak.
7. Gigi tiruan yang terus dipakai sepanjang siang dan malam akan menginduksi lebih banyak pembentukan plak.
8. Penggunaan klem rubber dam, cincin untuk matriks, dan disc yang tidak baik bisa mencederai gingiva dengan akibat
terjadinya inflamasi.
9. Piranti ortodonsi dapat mempermudahpenumpukan plak dan memodifikasi ekosistem gingiva
10. Pemasangan cincin ortodonsi yang terlalu jauh ke daerah subgingival dapat menyebabkan migrasi epitel
penyatu ke arah apikal sehingga terjadi resesi gingiva.
11. Tekanan ortodonsi yang berlebihan dapat menimbulkan nekrose ligamen periodontal dan tulang alveolar.
12. Periksa apakah terdapat impaksi makanan.
13. Tidak digantinya gigi yang hilangdapat menimbulkan dampak bagi periodonsium.
14. Maloklusi dan malposisi gigi menyebabkan kontrol plak sukar atau bahkan bisa tidak mungkin dilakukan.
15. Kebiasaan buruk seperti bernafas dari mulut, mendorong-dorongkan lidah, kebiasaan parafungsional seperti
bruxism, neurosis, dan kebiasaan yang berkaitan dengan okupasi dapat mendorong terjadinya penyakit periodontal.
16. Iritasi bahan kimia dari obat-obatan dan obat kumur dapat menimbulkan inflamasi akut dengan ulserasi gingiva.
17. Radiasi dapat menyebabkan pembentukan eritema dan deskuamasi mukosa termasuk gingiva.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
1. Melakukan kontrol plak secara berkala dan skeling profesional.
2. Memperbaiki retorasi yang mengemper (overhanging), restorasi dengan kontur berlebih (over countoured) dan
restorasi yang tidak sesuai dengan pola oklusal.
3. Lakukan pemolisan restorasi secara maksimal sehingga tidak mempermudah terjadinya penumpukan plak.
4. Membuat desain gigi tiruan sebagian lepasan yang tidak menutupi gingiva.
5. Memakai gigi tiruan hanya pada siang hari serta melakukan perendaman pada malam hari.
6. Pemasangan klem rubber dam, cincin matriks, dan disc yang benar.
7. Tidak memasang cincin ortodonsi terlalu jauh ke daerah subgingival.
8. Tidak memberikan tekanan ortodonsi yang melebihi batas adaptasi periodonsium.
9. Memperbaiki kondisi rongga mulut yang mempermudah terjadinya impaksi makananseperti : (1). Keausan oklusal
yang tidak sama rata, (2). Terbukanya titik kontak sebagai akibat hilangnya dukungan proksimal atau karena ekstrusi,
(3). Abnormalitas kongenital, dan (4). Restorasi yang tidak baik konstruksinya.
10. Mengganti gigi yang hilang sesegera mungkin dengan gigi tiruan untuk mencegah berpindahnya posisi gigi di
sekitarnya.
11. Menghilangkan kebiasaan buruk dengan menggunakan mouth guard saat tidur, dan menghindari kebiasaan-
kebiasaan okupasi.
12. Mengurangi pemakaian obat kumur yang berlebihan serta obat-obatan yang dapat menimbulkan burning effect.
13. Tidak terkena radiasi pada daerah kepala, leher, dan rongga mulut terlalu sering.
Cara Mendeteksi Kalkulus
1. Keterampilan Visual
Kalkulus supragingival dan kalkulus subgingival yang berada dekat ke tepi gingiva tidak sukar dideteksi secara visual,
asal saja pencahayaan baik dan lapangan kerja bersih. Tumpukan kalkulus supragingival yang sedikit sukar terlihat bila
basah oleh ludah. Untuk mendeteksinya, permukaan gigi disemprot dengan semprotan udara sampai kalkulus menjadi
kering dengan warna keputih-putihan seperti kapur sehingga mudah terlihat. Untuk mendeteksi kalkulus subgingival
yang berada tidak jauh dari tepi gingiva, semprotan udara diarahkan ke subgingiva sehingga gingiva bebas sedikit
terkuak dan kalkulus subgingival terlihat.

2. Eksplorasi Taktil
Deteksi kalkulus subgingival yang jauh dari tepi gingiva dan ketidakrataan pada permukaan akar gigi adalah lebih sukar.
Untuk itu dibutuhkan kemahiran menggunakan eksplorer atau prob disertai kepekaan taktil untuk merasakan vibrasi
yang berasal dari ujung alat yang menyentuh kalkulus atau permukaan sementum akar. Kepekaan taktil dapat dicapai
dengan pemegangan alat dengan cara modifikasi pemegangan pena, sehingga telapak jari tengah yang menerima
getaran yang disalurkan ke leher atau gagang alat.

Kalkulus Supragingival Kalkulus Subgingival


Perbedaan Periodontitis Kronis dan Periodontitis Agresif
Periodontitis Kronis Periodontitis Agresif
Nama Sebelumnya Periodontitis dewasa (adult periodontitis) Periodontitis bermula dini (early-onset
atau periodontitis berkembang lambat (slowly periodontitis), periodontitis juvenil (juvenile
progress periodontitis) periodontitis) atau periodontitis berkembang
cepat (rapidly progressive periodontitis)
Umur Pasien Umumnya ditemukan pada orang dewasa, Biasanya timbul pada usia sekitar pubertas
namun bisa juga ditemukan pada anak-anak
dan remaja apabila terjadi penumpukan plak
dan kalkulus
Laju Perkembangan Berkembang lambat Berkembang cepat 3-4 kali dibanding
Penyakit periodontitis kronis
Karakteristik Umum 1. Adanya penumpukan plak supra dan 1. Kehilangan perlekatan interproksimal
subgingiva, yang biasanya disertai dengan pada sekurang-kurangnya dua gigi
pembentukan kalkulus permanen
2. Tanda-tanda inflamasi gingiva 2. Distribusi lesi khas
3. Pembentukan saku periodontal, yang 3. Inflamasi relatif ringan meskipun terjadi
terjadi resesi gingiva bersamaan dengan pembentukan saku periodontal yang dalam
kehilangan perlekatan maka saku dan kehilangan tulang yang banyak
periodontalnya tetap dangkal 4. Jumlah penumpukan plak pada gigi yang
4. Kehilangan perlekatan terlibat minimal dan tidak sebanding dengan
5. Kadang-kandang disertai pernanahan destruksi periodontal yang terjadi.
6. Bila OH buruk, gingiva sedikit membesar 5. Terjadi peningkatan level bakteri
dan mengalami perubahan warna dari Actinobacillus actinomycetemcomitans dan
merah sampai magenta, serta hilangnya Porphyromonas gingivalis.
stipling perubahan topografi permukaan 6. Terjadi migrasi gigi insisivus maksila ke
berupa tepi gingiva yang tumpul atau arah distolabial yang disertai pembentukan
bergelung dan papila interdental datar diastema
7. Inflamasi ringan yg telah berlangsung 7. Meningkatya mobiliti pada gigi geligi
sangat lama tanpa perawatan insisivus maksila dan mandibulaserta molar
menyebabkan gingiva menebal dan fibrotik, pertama
perubahan inflamatoris tidak tidak terlihat 8. Sensitivitas permukaan akar yang
secara klinis tersingkap terhadap stimulus termis dan
8. Kedalaman saku periodontal bervariasi, taktil
baik kehilangan tulang horizontal maupun 9. Nyeri sakit yang samar-samar
vertikal memancar jauh ke dalam sewaktu
9. Mobiliti sering ditemukan pada kasus mengunyah, akibat teriritasinya struktur
stadium lanjut dimana telah terjadi periodontal pendukung oleh gigi yang
kehilangan perlekatan dan kehilangan mobiliti atau karena impaksi makanan, bisa
tulang yang banyak disertai pembentukan abses periodontal dan
pembengkakan nodus limfe regional.
Distribusi Penyakit Melibatkan sisi tertentu (side-specific) yang • Prevalensi sebesar 0,1%-1% dari
merupakan akibat langsung dari plak populasi
subgingival yang menumpuk. Sisi dengan • Orang kulit hitam lebih berisiko daripada
kerusakan yang lebih parah biasanya adalah kulit putih
sisi dengan kontrol plak yang tidak baik dan • Prevalensi paling tinggi pada laki-laki
pada sisi yang inaksesibel (sukar dicapai untuk kulit hitam, perempuan kulit hitam,
pembersihan maupun unstrumentasi perempuan kulit putih, dan laki-laki kulit
perawatan) seperti daerah furkasi dan gigi putih
yang malposisi. Tidak ada pola distribusi lesi • Paling sering dijumpai antara usia puber
periodontitis yang konsisten, kecuali bahwa sampai 20 tahun
lesinya biasanya tidak terisoler pada satu atau
dua sisi saja.
Klasifikasi Berdasarkan distribusi penyakit : 1. Periodontitis agresif lokalisata (localized
1. Periodontitis kronis lokalisata aggressive periodontitis)
apabila kurang dari 30% dari seluruh sisi di 2. Periodontitis agresif generalisata
mulut yang terlibat (generalized aggressive periodontitis)
2. Periodontitis kronis generalisata a. Periodontitis juvenil lokalisata
apabila lebih dari 30% dari seluruh sisi di (localized juvenile periodontitis)
mulut yang terlibat b. Periodontitis juvenil generalisata
(generalized juvenile periodontitis)
Berdasarkan keparahan penyakit :
1. Taraf ringan – ditandai oleh kehilangan
perlekatan yang hanya berkisar 1-2 mm
2. Taraf sedang – ditandai oleh
kehilangan perlekatan sebesar 3-4 mm
3. Taraf parah – ditandai dengan
kehilangan perlekatan sama atau lebih dari
5 mm
Perubahan Radiografis 1. Kekaburan dan terputusnya 1. Kehilangan tulang vertikal sekeliling
kontinuitas lamina dura yang disebabkan molar pertama dan insisivus
oleh penjalaran inflamasi dari gingiva ke 2. Kehilangan tulang berbentuk busur yang
tulang yang disertai pelebaran kanal-kanal meluas dari permukaan distal premolar
yang dilalui pembuluh darah dan kedua ke permukaan mesial molar kedua
pengurangan jaringan terkalsifikasi pada 3. Cacat tulang yang lebih luas
tepi septum interdental. dibandingkan pada periodontitis kronis
2. Daerah radiolusen berbentuk baji
yang disebabkan resorpsi tulang pada sisi
lateral septum interdental yang disertai
penebalan ruang ligamen periodontal.
3. Proyeksi radiolusen seperti jari
meluas dari krista septum interdental ke
dalam septum akibat inflamasi lebih jauh ke
dalam tulang.
4. Pengurangan tinggi tulang pada
tahap lebih lanjut akibat perluasan inflamasi
dan resorpsi tulang alveolar.
Faktor Resiko 1. Riwayat periodontitis sebelumnya – 1. Faktor mikrobiologis – Actinomyces
seorang pasien yang pernah menderita actinomicetemcomitans, Capnocytopha sp.,
periodontitis kronis cenderung beresiko bagi Eikenella corrodens, Prevotella intermedia,
terjadinya kembali kehilangan perlekatan dan Campylobacter restus
dan kehilangan tulang apabila terjadi 2. Faktor imunologis – Human Leucocyte
kembali penumpukan plak. Antigens (HLAs), cacat fungsional leukosit
2. Faktor lokal polimorfonukleus (melemahnya kemotaksis
a. Bakteri – Porphyromonas atau fungsi fagositosis), monosit
gingivalis, Tannerella forsytha, (hiperresponsif dimana diproduksi PGE2),
Treponema denticola atau keduanya
b. Tepi restorasi yang mengemper 3. Faktor genetik
(overhanging) 4. Faktor lingkungan – jumlah dan lama
c. Lesi karies yang meluas ke kebiasaan merokok
subgingival
d. Furkasi akar yang tersingkap
karena kehilangan perlekatan dan
tulang
e. Gigi berjejal (crowded)
3. Faktor sistemik – diabetes melitus
4. Faktor lingkungan dan kebiasaan
a. Kebiasaan merokok – diduga
mempengaruhi respon pejamu dan
mikroflorasubgingiva, mengakibatkan :
• Laju destruksi periodontal
meningkat
• Kehilangan perlekatan dan
tulang, lesi furkasi, pembentukan
kalkulus supragingival lebih
banyak.
• Pembentukan kalkulus
subgingival dan perdarahan
probing lebih sedikit.
• Saku periodontal lebih dalam.
b. Stress – diduga dapat
mempengaruhi perluasan dan
keparahan karena menekan fungsi
imunitas

Perbedaan Trauma Karena Oklusi dan Traumatik Oklusi


Trauma karena oklusi adalah kerusakan jaringan periodonsium akibat tekanan oklusal yang melebihi kapasitas adaptasi
jaringan periodonsium, tekanan oklusal yang menyebabkan kerusakan tersebut disebut traumatik oklusi. Trauma karena
oklusi ini dapat disebabkan oleh tekanan oklusal yang melampaui batas normal, atau karena arah tekanannya berubah tidak
lagi vertikal (arah tekanan yang paling dapat ditolerir oleh periodonsium), atau karena kemampuan adaptasi periodonsium
yang melemah akibat adanya kerusakan yang disebabkan oleh inflamasi.

Faktor-faktor yang menimbulkan peningkatan maupun perubahan arah tekanan oklusal antara lain :
1. Suprakontak – kontak yang dapat menghalangi permukaan oklusal lainnya mencapai kontak stabil dengan banyak titik
kontak
a. Suprakontak retrusif (retrusive supracontacts) – suprakontak yang mendefleksikan mandibula pada penutupan ke
posisi retrusi
b. Suprakontak interkuspal (intercuspal supracontact) – suprakontak yang menghalangi penutupan mandibula ke
posisi interkuspal

Penyebab terjadinya suprakontak :


a. Pembuatan restorasi atau gigi tiruan yang tiidak memperhatikan oklusi yang baik
b. Maloklusi dan malposisi gigi
c. Tidak digantinya gigi yang hilang, sehingga menimbulkan serangkaian perubahan, diantaranya tilting gigi tetangga
dan ekstrusi gigi antagonis

2. Sudut faset – gigi mengalami keausan atau atrisi akibat berkontaknya gigi dengan gigi tetangganya pada waktu
berfungsi atau pada kebiasaan parafungsi (bruxism). Dataran oklusal atau insisal gigi yang mengalami atrisi dinamakan
faset (facets). Faset horizontal cenderung mengarahkan tekanan searah as vertikal gigi, yang mudah diadaptasi oleh
periodonsium. Sebaliknya faset vertikal mengarahkan tekanan ke arah lateral yang berpotensi mencederai
periodonsium.

Traumatik Oklusi