Anda di halaman 1dari 7

LILY EVELINA.

S
0706187432
TEORI KRIMINOLOGI
PROGRAM PASCASARAJANA
DEPARTEMEN KRIMINOLOGI
FISIP UI 2008
LABEL, STIGMA DAN REINTEGRATIVE SHAMING:
ANALISA KASUS MALPRAKTEK KEDOKTERAN

PENDAHULUAN
Aliran pemikiran interaksionis dalam kriminologi juga dikenal sebagai aliran
pemikiran labeling atau suatu pendekatan reaksi social terhadap kejahatan. Menurut
labeling teori, kejahatan bersifat relative dan didefinisikan (sekaligus dihasilkan) oleh
masyarakat. Berdasarkan cara pandang ini, penyimpangan bukanlah sifat dari orang
yang melakukan tindakan, tetapi merupakan konsekuensi penerapan aturan dari orang
lain.
Pada tahun 1989, John Braithwaite melalui karyanya Crime, Shame and
Reintegration (Kejahatan, Rasa Malu dan Integrasi) mengevaluasi teori-teori labeling.
Braithwaite berkesimpulan, untuk membuat adanya konformitas pada masyarakat,
harus dihindari penerapan label yang akan menghasilkan subkebudayaan kejahatan.
Yang harus dilakukan adalah pemberian rasa malu yang tidak menghasilkan label tapi
menghasilkan integrasi atau suatu keadaan reintegrative shaming.

PERMASALAHAN
Malpraktek yang Ditutupi RS
Keteledoran operasi oleh seorang dokter senior (dr Liem Kian Hong) di
Rumah Sakit Graha Medica Kebon Jeruk menyebabkan pasien berinisial JD harus
dioperasi ulang di Singapura. Pasien tersebut menuntut malpraktek yang dilakukan
dokter tersebut, namun pihak rumah sakit menutupinya dengan menyelesaikan secara
damai dan diam-diam, mungkin dengan memberikan ganti rugi. Melihat kasus
malpraktek yang sering terjadi, sebagai orang kecil, saya selalu merasa cemas
karena ternyata kasus malpraktek tidak diselesaikan di pengadilan dan tidak diambil
tindakan yang seharusnya oleh badan yang berwenang. Padahal, sebagai seorang
perawat saya tahu betul dokter lulusan luar negeri yang melakukan malpraktek demi
popularitas di kalangan pasien, cenderung menggunakan obat-obatan yang memiliki
efek samping bagi kesehatan pasien. Jika kasus malpraktek terhadap pasien yang
bonafit saja bisa ditutup-tutupi bagaimanakah dengan pasien-pasien kelompok
menengah dan kecil. Saya dan kawan-kawan perawat di Rumah Sakit Graha Medica
merasa terpanggil untuk tidak berhenti mendesak kasus ini. Kami mengetuk hati ibu
Menkes yang tercinta dan Bapak Dirjen, Pengurus IDI, Majelis Kehormatan Etik
Kedokteran Indonesia, serta pimpinan rumah sakit untuk mengambil tindakan yang
penting guna mengatasi masalah malpraktek yang dilakukan oleh dokter senior
tersebut tanpa ditutup-tutupi. Semoga setiap insan manusia memiliki nurani dan
ketulusan hati.
Seorang perawat di Rumah Sakit Graha Medica (Suara Pembaruan Online, 7
November 2008).

PERTANYAAN MAKALAH
Bagaimanakah label, stigma dan reintegrative shaming melihat kasus
malpraktek ini?

ANALISA
Kasus malpraktek di Indonesia sudah bukan merupakan hal yang aneh lagi.
Ketika terjadi dugaan malpraktek, reaksi yang timbul adalah cenderung ditutup-tutupi.
Hal itu tentu membuat tanda tanya, kenapa untuk kasus malpraktek para korban yang
dirugikan sangat sulit mendapat keadilan. Ternyata jawabannya mudah saja, karena
tidak ada dokter yang mau tersangkut masalah. Bahkan, orang pada umumnya tidak
akan bersedia mendapat label pelaku malpraktek.
Untuk memahami mengapa seseorang mendapat label dari orang lain, yang
pertama harus dilihat adalah cara pandang orang tersebut. Teori label berada dalam
paradigma interaksionis yang menetapkan suatu perbuatan tertentu merupakan
kejahatan dikarenakan kita mendefinisikan perbuatan tersebut sebagai kejahatan
kemudian bertindak sesuai dengan definisi tersebut. Kita juga harus melihat proses
interaksi antara pelaku dan pengamat yang pada akhirnya akan menghasilkan label
penjahat pada individu yang melakukan tindakan tersebut.
Michalowski menyebutkan bahwa aliran pemikiran ini mempunyai asas-asa
sebagai berikut:
• Kriminalitas bukan merupakan ciri yang melekat pada perilaku, tetapi
merupakan respon terhadap perilaku tersebut;
• Perilaku yang direspon sebagai kejahatan diberi label kejahatan;
• Setiap individu yang perilakunya dicap sebagai kejahatan juga dicap sebagai
penjahat;
• Orang-orang yang dilabel sebagai penjahat melalui proses interaksi;
• Terdapat kecenderungan bagi setiap orang yang dicap sebagai penjahat
mengidentifikasi diri dengan cap tersebut.
Label tidak bisa dipisahkan dari stigma, ketika seseorang mendapat label,
maka orang lain akan menganggap cap itu benar adanya sehingga orang yang
mendapat label tersebut menjadi terstigma. Istilah stigma sendiri berasal dari Yunani
yang artinya merek atau tato. Saat ini, stigma digunakan untuk mempermalukan atau
mendeskreditkan orang lain.
Menurut Braithwaite, stigmatisasi adalah proses mempermalukan yang
berakibat si penyimpang atau pelanggar hukum memperoleh stigma tanpa ada upaya
mengintegrasikan si penyimpang atau pelanggar hukum kembali ke dalam
masyarakat. Braithwaite meyakini bahwa stigmatisasi akan menimbulkan:
 Criminal subculture;
 Criminal subcultre formation;
 Legitimate opportunities systematically blocked;
 Illegitimate opportunities to indulge tastes;
 High crime rates.
Dalam kasus malpraktek kedokteran, ternyata stigma tidak serta-merta
merupakan hal yang buruk. Dalam suatu penelitian tentang legal stigma terhadap
gugatan malpraktek di Connecticut, ditemukan hasil bahwa dari 58 responden, 52
dilaporkan tidak mengalami efek negatif dari gugatan tersebut. Bahkan 5 dari 6 orang
yang tersisa dilaporkan meningkat prakteknya. Penelitian ini menunjukkan bahwa
profesi kedokteran masih sangat disegani.
Jika demikian, seharusnya kasus yang terjadi di Rumah Sakit Graha Medica
Kebon Jeruk tidak perlu ditutup-tutupi. Melihat kenyataan yang terjadi, tepatlah
kiranya jika Goffman menghubungkan stigma dengan peran. Setiap situasi sosial
didalamnya terdapat peran yang normal dan diharapkan. Goffman melihat peran
sebagai sekumpulan aktivitas yang secara efektif terikat dalam situasi.
Dalam kasus ini, dokter sebagai suatu profesi yang sangat disegani diharapkan
bertindak sesuai perannya yaitu menyembuhkan orang sakit. Oleh karena itu, ketika
ada seorang dokter yang melakukan kesalahan dan mengakibatkan orang menjadi
sakit, masyarakat bereaksi. Respon masyarakat yang menganggap tindakan dokter
tersebut sebagai suatu kejahatan kemudian menimbulkan perilaku menutup-nutupi
kesalahan demi menghindari label tersebut.
Stigma menurut Goffman ada beberapa sumber, salah satunya adalah stigma
yang berasal dari rusaknya atau tercemarnya karakter dan kepribadian seseorang.
Kasus malpraktek ini sangat tepat dijadikan contoh, yang menjadi pertanyaan apakah
seorang dokter jika melakukan kesalahan pantas langsung diberi label penjahat.
Apakah tidak ada cara lain untuk menghukum dokter tersebut tanpa harus
menghilangkan keahliannya?
Untuk kasus seperti inilah, kiranya reintegrative shaming diperlukan.
Reintegrative shaming adalah proses mempermalukan yang diikuti dengan upaya-
upaya mengintegrasikan kembali pelaku penyimpangan atau pelanggaran hukum ke
dalam masyarakat yang patuh hukum. Braithwaite menyebutkan 4 karakteristik
reintegrative shaming yaitu jika masyarakat:
 Menolak atau mencela tingkah laku jahat, memuji atau mendukung tingkah
laku baik;
 Memiliki formalitas yang menyatakan tingkah laku seseorang jahat atau
menyimpang, yang diakhiri dengan menyatakan orang tersebut sudah
dimaafkan;
 Memberikan hukuman atau pencerahan tanpa proses labelling;
 Tidak menjadikan kesalahan atau penyimpangan atau kejahatan sebagai ciri
status utama.
Jika diterapkan dalam kasus ini, dokter senior yang melakukan malpraktek
tersebut masih memiliki harapan dikarenakan kepedulian sejawatnya yaitu para
perawat yang berusaha mengembalikan citra rumah sakit tersebut. Respon para
perawat dalam kasus ini memenuhi persyaratan yang harus ada dalam masyarakat
untuk menerapkan reintegrative shaming diantaranya adalah:
• Adanya saling ketergantungan dan;
• Masyarakat komunitarian.
Saling ketergantungan adalah kondisi dalam masyarakat dimana terdapat rasa
keterlibatan individu terhadap individu lainnya atau terhadap kelompoknya seperti
yang diperlihatkan dari hubungan pekerjaan yang terjadi antara dokter dan perawat.
Dalam kasus ini, 3 elemen yang menguatkan komunitarian juga tergambar dari
keputusan para perawat untuk menuntaskan kasus ini agar tidak ditutup-tutupi, yaitu:
 Saling ketergantungan yang kuat;
 Rasa mempunyai kewajiban dan rasa saling memiliki;
 Kesetiaan pada kelompok.
KESIMPULAN
Label, stigma dan reintegrative shaming merupakan teori yang termasuk
dalam paradigma interaksionis. Paradigma ini menekankan bahwa penyimpangan
bukanlah ciri khas dari orang yang melakukannya, tetapi merupakan ciri yang dibuat
oleh orang lain yang melihatnya. Oleh karena itu, untuk memahami kejahatan, tidak
dapat dilakukan dengan mencari hubungan sebab-akibatnya, akan tetapi memahami
kejahatan harus dilakukan dengan cara mempelajari proses interaksi antara pelaku dan
pengamat yang kemudian menghasilkan label kejahatan.
Braithwaite menjelaskan bahwa pemberian rasa malu adalah semua proses-
proses sosial yang menunjukkan ketidaksetujuan yang bertujuan agar orang yang
melakukan penyimpangan atau pelanggaran hukum merasa menyesal dan malu.
Penghukuman semacam ini-yang biasanya dilakukan oleh anggota masyarakat-
membuat orang menjadi waspada akan adanya shaming. Untuk kasus malpraktek
kedokteran, kiranya penulis berpendapat bahwa pemberian rasa malu sebagai suatu
bentuk hukuman kepada pelaku lebih tepat dalam bentuk reintgrative shaming.
DAFTAR PUSTAKA

Allan, Kenneth (2006) Contemporary Social and Sociological Theory Visualizing


Social Worlds, London, Thousand Oaks, New Delhi: Sage Publications, hal.
73-93

Kelly, Delos H. (1979) Deviant Behavior Readings in the Sociology of Deviance,


United States of America: St. Martin’s Press, Inc, hal. 412-424

Mustofa, Muhammad (2007) Kriminologi Kajian Sosiologi Terhadap Kriminalitas,


Perilaku Menyimpang dan Pelanggaran Hukum, Depok: FISIP UI Press, hal.
85-90

Supatmi, Mamik Sri dan Herlina Permata Sari (2007) Dasar-Dasar Teori Sosial
Kejahatan, Jakarta: PTIK Press, hal. 69-108

Vold, George B (2002) Theoretical Criminology New York, Oxford: Oxford


University Press, hal. 209-226

Hay, Carter “An Exploratory Test of Braithwaite's Reintegrative Shaming Theory”


Journal of Research in Crime and Delinquency Vol. 38, No. 2, 132-153, 2001

Sartorius, Norman “Fighting stigma: theory and practice” World Psychiatry


February; 1(1): 26–27, 2002