Anda di halaman 1dari 61

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS) ATAU

INTEGRATED MANAGEMENT OF CHILDHOOD ILLNESS


(IMCI)

DEFINISI
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood
Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita
sakit dengan fokus pada kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara menyeluruh. MTBS
bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu pendekatan/cara penatalaksanaan balita
sakit. Konsep pendekatan MTBS yang pertama kali diperkenalkan oleh WHO merupakan suatu
bentuk strategi upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka kematian,
kesakitan dan kecacatan bayi dan anak balita di negara-negara berkembang.
Pendekatan MTBS di Indonesia pada awalnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar (Puskesmas dan jaringannya termasuk
Pustu, Polindes, Poskesdes, dll). Upaya ini tergolong lengkap untuk mengantisipasi penyakit-
penyakit yang sering menyebabkan kematian bayi dan balita di Indonesia. Dikatakan lengkap
karena meliputi upaya preventif (pencegahan penyakit), perbaikan gizi, upaya promotif (berupa
konseling) dan upaya kuratif (pengobatan) terhadap penyakit-penyakit dan masalah yang sering
terjadi pada balita.
Strategi MTBS memliliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu:
1. Komponen I: Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus
balita sakit (selain dokter, petugas kesehatan non-dokter dapat pula memeriksa dan
menangani pasien asalkan sudah dilatih).
2. Komponen II: Memperbaiki sistem kesehatan (utamanya di tingkat kabupaten/kota).
3. Komponen III: Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah
dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan
keluarga dan masyarakat), yang dikenal sebagai 'MTBS berbasis Masyarakat.'
 
SEJARAH PENERAPAN MTBS DI INDONESIA
Strategi MTBS mulai diperkenalkan di Indonesia oleh WHO pada tahun 1996. Pada
tahun 1997 Depkes RI bekerjasama dengan WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
melakukan adaptasi modul MTBS WHO. Modul tersebut digunakan dalam pelatihan pada bulan
November 1997 dengan pelatih dari SEARO. Sejak itu penerapan MTBS di Indonesia
berkembang secara bertahap dan up-date modul MTBS dilakukan secara berkala sesuai
perkembangan program kesehatan di Depkes dan ilmu kesehatan anak melalui IDAI.
Hingga akhir tahun 2009, penerapan MTBS telah mencakup 33 provinsi, namun belum
seluruh Puskesmas mampu menerapkan karena berbagai sebab: belum adanya tenaga kesehatan
di Puskesmasnya yang sudah terlatih MTBS, sudah ada tenaga kesehatan terlatih tetapi sarana
dan prasarana belum siap, belum adanya komitmen dari Pimpinan Puskesmas, dll. Menurut data
laporan rutin yang dihimpun dari Dinas Kesehatan provinsi seluruh Indonesia melalui Pertemuan
Nasional Program Kesehatan Anak tahun 2010, jumlah Puskesmas yang melaksanakan MTBS
hingga akhir tahun 2009 sebesar 51,55%. Puskesmas dikatakan sudah menerapkan MTBS bila
memenuhi kriteria sudah melaksanakan (melakukan pendekatan memakai MTBS) pada minimal
60% dari jumlah kunjungan balita sakit di Puskesmas tersebut.

LATAR BELAKANG PERLUNYA PENERAPAN MTBS DI INDONESIA


Menurut data hasil Survei yang dilakukan sejak tahun 1990-an hingga saat ini (SKRT
1991, 1995, SDKI 2003 dan 2007), penyakit/masalah kesehatan yang banyak menyerang bayi
dan anak balita masih berkisar pada penyakit/masalah yang kurang-lebih sama yaitu gangguan
perinatal, penyakit-penyakit infeksi dan masalah kekurangan gizi.
Penyebab kematian neonatal (bayi berusia 0-28 hari) menurut Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
 Tabel proporsi penyebab kematian neonatal di Indonesia tahun 2007
Sumber: Badan Litbangkes, Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2007
 
Sedangkan penyebab kematian bayi dan anak balita menurut Riskesdas 2007, pada
kelompok bayi (29 hari - 11 bulan) dan kelompok anak balita (12 bulan - 59 bulan) ada dua
penyebab kematian tersering yaitu diare dan pneumonia. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel
di bawah ini. 

Tabel proporsi penyebab kematian bayi dan anak balita di Indonesia tahun 2007
Sumber: Badan Litbangkes, Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2007
 
Penyakit-penyakit penyebab kematian tersebut pada umumnya dapat ditangani di tingkat
Rumah Sakit, namun masih sulit untuk tingkat Puskesmas. Hal ini disebabkan antara lain karena
masih minimnya sarana/peralatan diagnostik dan obat-obatan di tingkat Puskesmas terutama
Puskesmas di daerah terpencil yang tanpa fasilitas perawatan, selain itu seringkali Puskesmas
tidak memiliki tenaga dokter yang siap di tempat setiap saat. Padahal, Puskesmas merupakan
ujung tombak fasilitas kesehatan yang paling diandalkan di tingkat kecamatan. Kenyataan lain di
banyak provinsi, keberadaan Rumah Sakit pada umumnya hanya ada sampai tingkat
kabupaten/kota sedangkan masyarakat Indonesia banyak tinggal di pedesaan.
Berdasarkan kenyataan (permasalahan) di atas, pendekatan MTBS dapat menjadi solusi
yang jitu apabila diterapkan dengan benar (ketiga komponen diterapkan dengan maksimal). Pada
sebagian besar balita sakit yang dibawa berobat ke Puskesmas, keluhan tunggal jarang terjadi.
Menurut data WHO, tiga dari empat balita sakit seringkali memiliki beberapa keluhan lain yang
menyertai dan sedikitnya menderita 1 dari 5 penyakit tersering pada balita yang menjadi fokus
MTBS. Hal ini dapat diakomodir oleh MTBS karena dalam setiap pemeriksaan MTBS, semua
aspek/kondisi yang sering menyebabkan keluhan anak akan ditanyakan dan diperiksa.
Menurut laporan Bank Dunia (1993), MTBS merupakan jenis intervensi yang paling cost
effective yang memberikan dampak terbesar pada beban penyakit secara global. Bila
Puskesmas menerapkan MTBS berarti turut membantu dalam upaya pemerataan pelayanan
kesehatan dan membuka akses bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memperoleh pelayanan
kesehatan yang terpadu. Oleh karena itu, bila anda membawa anak balita berobat ke Puskesmas,
tanyakanlah apakah tersedia pelayanan MTBS di Puskesmas itu? bila ada, mintalah dilayani
memakai pendekatan MTBS.

CARA PENATALAKSANAAN BALITA SAKIT DENGAN PENDEKATAN


MTBS
Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) sudah terintegrasi di dalam pendekatan
Manajemen terpadu Balita Sakit (MTBS), maka bagan MTBM menjadi bagian dari bagan
MTBS. MTBM dan MTBS sudah diterapkan di seluruh provinsi di Indonesia sehingga sudah
menjadi milik masyarakat. Banyaknya permintaan bagan MTBS (termasuk bagan MTBM) oleh
Dinas Kesehatan provinsi/kabupaten perlu dipenuhi sehingga perkembangan penerapannya di
lapangan tidak tersendat. Oleh karena itu masyarakat dan tenaga kesehatan yang
memerlukan dapat memperbanyak bagan ini untuk meningkatkan kelancaran implementasi
penerapannya di Puskesmas, Polindes, Poskesdes, Klinik swasta, Rumah Sakit, dll.
Agar lebih mudah dipelajari, maka bagan MTBM ditampilkan terpisah dengan
bagan MTBS. Berikut ini bagan-bagan MTBS dan MTBM :
Bagan Penilaian, Klasifikasi dan Tindakan bayi muda umur kurang dari 2 bulan:
Berikut Ini Tindakan Pengobatan Untuk Bayi Muda:
Berikut Ini Konseling Bagi Ibu / Keluarga
Formulir MTBM
Untuk setiap bayi muda yang diperiksa, selalu dicatat pada lembar 'Formulir Bayi Muda Kurang
Dari 2 Bulan' seperti pada contoh di bawah ini. Formulir ini disamping berfungsi sebagai status
pasien, juga berfungsi sebagai media pencatatan yang nantinya akan direkap kedalam buku
register MTBS. Petugas akan mengisi identitas pasien, penilaian, klasifikasi penyakit serta
tindakan /pengobatan yang diberikan
Lampiran:
Bagan MTBS Terbaru
Berikut Ini Bagan Tindakan Pengobatan MTBS:
Berikut Ini Pemberian Konseling Bagi Ibu:
Berikutnya Pemberian Pelayanan Tindak Lanjut Pada Kunjungan Ulang:
Formulir MTBS
Untuk setiap balita usia 2 bulan - 59 bulan yang diperiksa, hendaknya dicatat pada lembar
'Formulir Balita Sakit Umur 2 Bulan Sampai 5 Tahun' seperti pada contoh di bawah ini. Formulir
ini disamping berfungsi sebagai status pasien, juga berfungsi sebagai media pencatatan yang
nantinya akan direkap kedalam buku register MTBS. Petugas akan mengisi identitas pasien,
penilaian, klasifikasi penyakit serta tindakan/pengobatan yang diberikan.
Lampiran:
Kesimpulan
Sangat menarik (kalau boleh dikatakan 'menakjubkan') apabila kita melihat buku-buku
modulnya, betapa sistematis, terperinci dan terintegrasinya penatalaksanaan balita sakit dengan
pendekatan MTBS. Semuanya tentu tidak dapat diuraikan disini karena memerlukan puluhan
halaman. Sebagai gambaran, untuk melakukan penilaian dan tindakan/pengobatan bagi setiap
balita sakit, pendekatan MTBS memakai 1 set Bagan Dinding yang ditempelkan di tembok ruang
pemeriksaan dan dapat memenuhi semua sisi tembok ruang pemeriksaan MTBS di Puskesmas
dan formulir pencatatan baik bagi bayi muda (0-2 bulan) maupun balita umur 2 bulan - 5 tahun.
Sedangkan untuk pelatihan petugas, diperlukan 1 paket buku yang terdiri dari 7 buku Modul, 1
buku Foto, 1 buku Bagan, 1 set bagan dinding serta 1 set  buku Pedoman Fasilitator dengan lama
pelatihan selama 7 hari ditambah pelajaran pada sesi malam.
MTBS bukan program yang kedaluarsa karena MTBS selalu di-update mengikuti
perkembangan program kesehatan dan jaman. Sejak tahun 2009 WHO sudah memperkenalkan
MTBS berbasis komputer yang disebut sebagai IMCI Computerized Adaptation and Training
Tool (ICATT).
 
Referensi
1. Departemen Kesehatan RI, 2008, Modul MTBS Revisi tahun 2008.
2. Direktorat Bina Kesehatan Anak, Depkes, salah satu materi yang disampaikan
pada Pertemuan Nasional Program Kesehatan Anak, 2009, Manajemen Terpadu Balita
Sakit.
3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 2008, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, Laporan Nasional 2007.