Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

GEOMETRI TRANSFORMASI
Tentang
PENGGOLONGAN, LAMBANG DAN AKSIOMA GEOMETRI

Oleh :

ARIF PURNAWAN : 409.015


ARIF SWANDRI : 406.253
MAULIDA FITHRIANI : 409.060
SRI KURNIA YULI SARI : 409.064
ZULFIKAR NASUTION : 409.090

Dosen Pembimbing :
ANDI SUSANTO, S.Si, M.Sc

JURUSAN TADRIS MATEMATIKA


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
1432 H/ 2011 M
PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah SWT yang mana berkat limpahan rahmat-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah ini, shalawat dan salam kami sampaikan untuk
pimpinan umat islam yakni Nabi besar Muhammad SAW. Yang telah membawa
umat manusia ke alam yang penuh pengetahuan ini.
Pada kesempatan ini kami telah membuat makalah tentang geometri,
Diharapkan dapat membantu proses perkuliahan geometri transformasi.
Geometri adalah ilmu mengenai bangun, bentuk dan ukuran benda-benda.
Geometri adalah ilmu yang membahas tentang hubungan antaratitik, garis, sudut,
bidang dan bangun-bangun ruang.
Di dalam makalah sederhana ini kami mencoba membahas tentang
Penggolongan Geometri, Lambang Dan Aksioma Geometri.

PENGGOLONGAN, LAMBANG DAN AKSIOMA


GEOMETRI
Geometri secara harfiah dapat diartikan sebagai “ilmu pengukuran bumi”.
Kata “Geometri” berasal dari bahasa Yunani, “geo” yang berarti “bumi”, dan
“metria” yang berarti “pengukuran”. Ini adalah cabang ilmu dari matematika
untuk mempelajari hubungan di dalam suatu ruang, dimana orang dapat
mengetahui ruang dari ciri dasarnya.
Geometri adalah salah satu ilmu tertua, ilmu yang menyangkut geometri
telah ada sejak zaman Mesir Kuno, Lembah Sungai Indus dan Babilonia, sekitar
3.000 SM. Peradaban zaman dulu telah memiliki pengetahuan tentang irigasi,
drainase dan dapat mendirikan bangunan-bangunan raksasa yang tertinggal di
masa kini. Diketahui, ilmu geometri telah berkembang lebih dari dua ribu tahun,
karenanya persepsi tentang geometri telah mengalami evolusi sepanjang zaman.
Prasasti kuno yang menyangkut geometri ditemukan di Mesir, India, hingga Cina.
Pada awal abad ke-17, geometri memasuki tahap baru, yaitu geometri dengan
koordinat dan persamaan oleh Descartes (1596-1650) dan Pierre de Fermat (1601-
1665). Hal ini juga turut memberikan peranan dalam pengembangan kalkulus
pada abad ke-17. Pengembangan geometri juga dilakukan oleh Girard Desargues
(1591-1661).
Salah satu buku yang paling berpengaruh dalam geometri, adalah buku
“Elements” oleh Euclid. Euclid menulis sekitar delapan buku mengenai geometri.
Pada abad ke-20, David Hilbert berusaha memperbaharui dengan memberikan
dasar-dasar geometri yang lebih modern. Tahun 1979, buku setebal 1000 halaman
tentang “Geometri Modern” juga dipopulerkan Dubrovin, Novikov dan Fomenko.
Subjek geometri semakin diperkaya oleh studi struktur intrinsik benda geometris
yang berasal dengan Euler dan Gauss, menyebabkan penciptaan topologi dan
geometri diferensial, dimana topologi berkembang dari geometri.1
Travers dkk (1987:6) menyatakan bahwa: “Geometry is the study of the
relationships among points,lines, angles, surfaces, and solids”. Geometri adalah
ilmu yang membahas tentang hubungan antaratitik, garis, sudut, bidang dan
bangun-bangun ruang.2

1http://id.shvoong.com/exact-sciences/architecture/2042383-mengenal-geometri/
2 http://matematikayulianti2.wordpress.com/geometri/
A. Penggolongan Geometri Menurut Ruang Lingkup, Bahasa dan Aksioma
1. Menurut Ruang Lingkup
a. Geometri Bidang ( dimensi 2)
Geometri Bidang (G Datar atau G Dimensi Dua)
membicarakan bangun-bangun datar; Yang dibahas dalam Geometri
Dimensi Dua adalah, sudut, serta keliling dan luas permukaaan bangun
datar.
b. Geometri Ruang (dimensi 3)
Geometri Dimensi Tiga, yang meliputi bangun ruang dan
unsur-unsurnya, luas permukaan bangun ruang, volume bangun ruang
dan menentukan hubungan antara unsur-unsur suatu bangun ruang.
Sebuah bangun ruang, dalam konteks geometri ruang, adalah
himpunan semua titik, garis, dan bidang dalam ruang berdimensi tiga
yang terletak dalam bagian tertutup beserta seluruh permukaan yang
membatasinya Lebih jauh, yang dimaksud dengan bangun ruang
dengan sisi datar adalah bangun ruang yang dibatasi oleh bidang datar.
Bangun ruang dengan sisi datar disebut juga sebagai bidang banyak
atau polihedron yang berasal dari bahasa Yunani polys yang berarti
banyak dan hedron yang berarti permukaan. Bidang-bidang datar
pembatas bangun ruang dinamakan sebagai bidang sisi. Ruas garis
yang terbentuk oleh perpotongan antara dua bidang sisi bangun ruang
disebut rusuk. Ujung-ujung dari rusuk ini dinamakan sebagai
titiksudut.3
c. Geometri Dimensi n
Yaitu geometri yang tidak bisa digambarkan diruang.

d. Geometri Bola
Geometri bola adalah geometri dua dimensi dari permukaan
bola. Pada geometri bola, titik didefinisikan seperti pada geometri
3 Untung Trisna Suwaji, Permasalahan Pembelajaran Geometri Ruang SMP dan
Alternatif Pemecahannya
datar, tetapi "garis lurus" didefinisikan sebagai "lintasan terpendek
antara dua titik" yang disebut geodesik. Pada permukaan bola,
geodesik adalah bagian dari sebuah lingkaran besar sehingga dengan
demikian sebuah sudut dibentuk oleh dua buah lingkaran besar.
Geometri bola melahirkan sebuah konsep trigonometri baru
yang disebut sebagai trigonometri bola yang berbeda dari trigonometri
biasa (sebagai contoh, dalam sebuah segitiga bola, jumlah semua
sudutnya lebih dari 180 derajad).
Ilmu geometri bola banyak digunakan dalam navigasi dan
astronomi bola. Penentuan arah kiblat misalnya, banyak menggunakan
konsep-konsep geometri bola.
2. Menurut Bahasa
a. Geometri Murni ( dengan bahasa geometri / gambar )
Gambar geometri sederhana salah satunya adalah garis (garis
lurus). Garis berdimensi satu, yaitu: panjang. Garis mempunyai
panjang yang tak berhingga. Yang kita pikirkan dalam geometri
sesungguhnya hanya ‘penggal garis’ bukan garis yang sesungghnya
(dengan panjang tak berhingga). Karena itu, sejumlah matematikawan
berpendapat bahwa lukisan dalam geometri itu tidak perlu
digambarkan, tetapi secara logis dapat dibayangkan (dikonstruksi).
Sebagai catatan kita perlu mebedakan antara: garis, sinar garis, dan
penggal garis.
b. Geometri Analitik ( dengan bahasa aljabar )
Pada awalnya, geometri analitik juga disebut geometri analitis,
geometri koordinat atau geometri Kartesius. Belakangan, geometri ini
disebut juga sebagai geometri aljabar. Geometri analitik adalah telaah
bangun-bangun geometri dengan menggunakan prinsip-prinsip aljabar.
Bangun-bangun itu dinyatakan dalam bentuk bilangan vector. Bangun-
bangun dasar dari geometri analitik adalah titik, garis, dan bidang.
Geometri analitik sudah dikembangkan sejak jaman
Apolloneus dari Vega. Ia mengembangkan geometri berdimensi satu,
yaitu yang berhubungan dengan garis-garis. Misalnya, mencari sebuah
titik yang berada pada sebuah garis kalau perbandingan jaraknya
kepada dua titik lain yang juga terletak pada garis yang sama
diketahui. Matematikawan Persia, Omar Khayyam, menunjukkan
hubungan yang erat antara aljabar dan geometri. Ia mengembang
persamaan yang disebut persamaan kubus. Pada abad ke-17,
matematikawan Rene Descartes mendedikasikan pemikirannya untuk
membuat sistematika geometri analitik yang kita kenal saat ini. Tentu
saja untuk menjaga konsistensi teoritis, tidak semua pemikiran para
pendahulu disertakan dalam bahasannya. Rene Descartes dipandang
sebagai peletak teori-teori geometri analitik di jaman modern
ini.
c. Geometri Diferensial ( dengan bahasa derivatif )
Geometri deferentisal membahas bagian-bagian dari suatu
bangun geometri yang disebut manipol. Manipol merupakan bagian
dari suatu bangun gemetri yang cukup sempit, tetapi masih dapat
dikenali bentuknya dengan ’mudah’. Lihat Gambar 2. Pada gambar ini
disajikan sebuah segitiga dan dua buah garis yang sejajar pada bangun
pelana kuda (paraboloida hiperbolik). Tampak bahwa garis-garis itu
melengkung sesuai dengan bentuk dari permukaan bangun tersebut.
Ambil sebagai contoh dua garis yang tampak tidak sejajar. Ternyata,
mereka hanya akan berpotongan di takberhingga. Geometri diferensial
ini dalam perkembangannya membentuk sejumlah cabang baru.
Misalnya: geometri Riemann, Geometri Finsler, dan geometri
kompleks. 4
3. Menurut Aksioma
Aksioma yaitu pendapat yang dijadikan pedoman dasar dan
merupakan Dalil Pemula, sehingga kebenarannya tidak perlu dibuktikan
lagi, atau suatu pernyataan yang diterima sebagai kebenaran dan bersifat
umum, tanpa memerlukan pembuktian.
4http://www.scribd.com/doc/18799859/Belajar-Bangunbangun-Geometri-63-Berbagai-
Jenis-Geometri
a. Geometri Euclides, Postulat sejajar Euclid dapat dinyatakan sebagai
berikut :
“Jika dua garis dipotong oleh garis transversal sedemikian hingga
jumlah dua sudut interiornya (sudut dalam) pada satu sisi transversal
adalah kurang dari 180°. Garis tersebut akan bertemu pada satu sisi
transversal tersebut”
b. Geometri Non Euclides, adalah geometri yang tidak lagi mendasarkan
diri pada postulat kesejajaran. teori geometri non Euclid dapat
kontradiksi dengan postulat kesejajaran Euclid. Seiring dengan
kepercayaan ahli matematika bahwa geometri non Euclid hanya
memungkinkan untuk teori ruang dan yang menjelaskan segala
sesuatunya secara fisik.
c. Geometri Proyeksi, adalah cabang matematika yang terkait dengan
bentuk-bentuk geometrikal yang tidak akan berubah ketika bentuk-
bentuk itu diproyeksikan ke bidang yang berbeda.
B. Lambang-Lambang Khusus dalam Geometri5
1. A, B, . . . : titik-titik
2. g, h, . . . : garis-garis
3. titik (g, h) : titik potong garis g dan h
←→
4. garis ( A,B ) = AB : garis melalui A dan B
→AB : sinar garis AB dengan pangkal A
5.

6. AB : ruas garis AB

7. AB : panjang ruas garis AB


AB : ruas garis berarah dari A ke B. vektor dengan
8.
pangkal A, ujung B
9. A-B-C : B terletak di antara A dan C
∠ABC : sudut ABC
10.

11. m ∠ABC : besar sudut ABC, dengan satuan derajat


5 B. Susanta,Geometri transformas,i 1990,Yogyakarta.hal.1
12. ≅ : kongruen

13. ~ : sebangun (similar )


14. AB : ruas gari berarah di titik pangkal A dan ujung titik
B
PQ
15. AB = : ruas garis berarah AB ekivalen dengan ruas garis

berarah PQ

16. AB ≅ CD : ruas garis AB kongruen dengan ruas garis CD

∆ABC ≅ ∆PQR : segitiga ABC kongruen dengan segitiga PQR


17.
18. ABC : sudut berarah ABC
19. m( ABC ) : ukuran sudut berarah ABC
C. 5 Aksioma Dasar Euclid
Aksioma adalah logika atau matematika yang tidak dapat dibuktikan
namun sahih.
1. Aksioma Eksistensi / insiden
a. Jika ada dua titik berbeda, akan ada tepat satu garis yang memuat dua
titik tersebut
b. Jika ada tiga titik berbeda dan tidak segaris, maka ada tepat satu bidang
yang memuat ketiga titik tersebut.
c. Jika ada dua titik berbeda terletak pada suatu bidang, maka garis yang
memuat kedua titik tersebut terletak pada bidang.
d. Jika dua bidang berpotongan, maka perpotongannya adalah suatu garis.
e. Setiap garis memuat sedikitnya dua titik, setiap bidang memuat
sedikitnya 3 titik yang tidak segaris dan setiap ruang memuat
sedikitnya empat titik yang tidak sebidang.
2. Aksioma urutan
a. Jika A dan B dua titik, maka
1) terdapat sedikitnya satu titik C sehingga C
diantara A dan B
2) terdapat sedikitnya satu titik D sehingga B
diantara A dan D
3) terdapat sedikitnya satu titik E sehingga A
diantara B dan E
b. Jika A, B dan C suatu titik sehingga B diantara A dan C, maka A, B,
dan C berbeda & terletak pada satu garis (kolinear).
c. Jika A, B dan C suatu titik sehingga B diantara A dan C, maka B
diantara C dan A.
d. Jika A, B dan C tiga titik kolinear, maka tepat satu dari tiga keadaan
ini benar:
1) B diantara A dan C
2) C diantara A dan B
3) A diantara B dan C.
3. Aksioma Kongruensi
a. Diketahui suatu ruas garis
AB dan suatu titik P pada
garis g, maka pada setiap
sinar garis di g yang
berpangkal di P terdapat
tepat satu titik Q yang
memenuhi PQ ≅ AB .

b. AB ≅ AB

c. Jika AB ≅ A' B' maka

A' B ' ≅ AB
d. Jika AB ≅ A' B' dan

A' B' ≅ A' ' B ' ' maka

AB ≅ A' ' B ' '


e. Jika AB dan BC adalah
∠ruas garis-ruas garis
tanpa titik serikat pada
garis g, dan A' B' dan

B 'C ' adalah ruas garis-


ruas garis tanpa titik
serikat pada g’, dan jika

A' B' ≅ AB dan B'C ' ≅

BC maka A'C ' ≅ A'C '


f. Diketahui sudut (h,
k)yang bukan sudut lurus,
dan diketahui sinar h’
pada garis g, maka pada
setiap sisi g terdapat tepat
satu sinar k’ sedemikian
hingga ∠ (h’,k’ ≅ ∠(h,k)
suatu sudut lurus hanya
akan kongruen dengan
sudut lurus juga.
g. Diketahui sudut (h,
k)yang bukan sudut lurus,
dan diketahui sinar h’
pada garis g, maka pada
setiap sisi g terdapat tepat
satu sinar k’ sedemikian
hingga ∠(h’,k’ ≅ ∠(h,k)
suatu sudut lurus hanya
akan kongruen dengan
sudut lurus juga.
h. ∠ (h, k) ≅ ∠ (h, k)
i. Jika ∠ (h, k) ≅ ∠ (h’,
k’) maka ∠ (h’, k’) ≅ ∠
(h, k)
j. jika ∠ (h, k) ≅ ∠ (h’,
k’) dan ∠ (h’, k’) ≅ ∠
(h”, k”) maka ∠ (h, k) ≅
∠ (h”, k”)
k. Jika dalam segitiga-
segitiga ABC dan A’B’C’

diketahui bahwa AB ≅

A' B' dan AC ≅ A'C '


dan ∠A ≅ ∠A’ maka ∠
B ≅ ∠B’.
4. Aksioma Kesejajaran
Dua garis dikatakan sejajar bila kedua garis itu tidak berserikat satu
titikpun.
Aksioma kesejajaran : Melalui suatu titik di luar sebuah garis
terdapat tepat satu garis yang sejajar dengan garis yang diketahui.
5. Aksioma kontinuitas dan kelengkapan
1. Diketahui titik A dan B dan A1 sehingga A-A1-B, kemudian ambil
A2, A3, . . . dst. Sehingga A-A1-A2, A1-A2-A3, dst. Dengan AA1 =
A1A2 =A2A3 = . . . , maka terdapatlah bilangan positif n sedemikian
sehingga A- B – An.
2. Tidak ada titik atau garis yang dapat ditambahkan kepada sistem di
atas tanpa melanggar salah satu aksioma di atas.
D. Bukti Dalil-Dalil dalam Geometri Euclid
Euclid adalah seorang ahli logika ternama telah menyatakan bahwa
perubahan perkembangan teori geometri non Euclid dapat kontradiksi dengan
postulat kesejajaran Euclid. Seiring dengan kepercayaan ahli matematika
bahwa geometri non Euclid hanya memungkinkan untuk teori ruang dan yang
menjelaskan segala sesuatunya secara fisik. Tetapi posisi unik geometri Euclid
di abad 19 telah diserang oleh penemuan geometri non Euclid. Dan banyak
ahli matematika sangat terguncang. Ide tentang kealamian geometrid an posisi
unik geometri Euclid yang telah di lakukan sepanjang dua ribu tahunan,
akhirnya runtuh pada decade 1820-1830.
Awal abad 19 ahli matematika yang berkompeten berhasil diyakinkan
bahwa masalahnya tentang postulat telah diselesaikan dan hanya sedikit
memiliki kekurangan dalam pembuktiannya. Kegagalan setiap percobaan
dalam membuktikan postulat kesejajaran tersebut membawa pada perngakuan
bahwa postulat kesejajaran tidaklah pasti. Dan bahwa teori geometri lainnya
(non Euclid )bias saja digunakan. Selanjutnya dalam bab ini akan dijelaskan 3
upaya penting dalam membuktikan postulat kesejajaran Euclid.
1. Struktur Geometri Bidang Euclid
Postulat sejajar Euclid dapat dinyatakan sebagai berikut : “ Jika
dua garis dipotong oleh garis transversal sedemikian hingga jumlah dua
sudut interiornya (sudut dalam) pada satu sisi transversal adalah kurang
dari 180°. Garis tersebut akan bertemu pada satu sisi transversal tersebut”
Sejumlah asumsi / postulat untuk geometri bidang Euclid , yaitu :
a. Sesuatu akan sama dengan sesuatu atau sesuatu yang sama
akan sama satu sama yang lainnya
b. Jika kesamaan di tambahkan dengan kesamaan maka
jumlahnya akan sama
c. Jika kesamaan dikurangi dengan kesamaan maka selisihnya
akan sama
d. Keseluruhan akan lebih besar dari bagiannya
e. Bangun geometric dapat dipindahkan tanpa mengubah
ukuran atau bentuknya
f. Setiap sudut memiliki bisector ( garis bagi )
g. Setiap segmen memiliki titik tengah
h. Dua titik hanya berada pada satu-satunya garis
i. Sembarang segmen dapat diperluas oleh suatu segmen yang
sama dengan segmen yang diberikan
j. Lingkaran dapat di gambarkan dengan sembarang titik
pusat dan radius yang diketahui
k. Semua sudut siku-siku sama besar
Dari postulat-postulat ini, dapat di deduksi sejumlah teorema dasar
diantaranya :
1. Sudut bertolak
belakang sama
besar
Bukti 1 :
a. Lu
kis
gari
s l
dan
m
seja
jar
b. Gar
is
tran
sve
rsal
h
me
mot
ong
teg
ak
lur
us l
dan
m
di
P
dan
Q
c. P =
Q
(po
stul
at
ke
11)
d. P =
1
(po
stul
at
ke
11)
e. P
dan
1
dua
sud
ut
bert
ola
k
bel
aka
ng,
jadi
sud
ut
bert
ola
k
bel
aka
ng
sa
ma
bes
ar
(ter
buk
ti)
2. Sifat
kongruensi
segitiga (SAS,
ASA, SSS)
Bukti : Sifat kongruensi segitiga (ASA )
a. Lu
kis
ΔA
BC
da
n
ΔP
QR
se
hin
gg
a
A=
P,
B=
Q
dan
AB
=
PQ
b. Pin
da
hk
an
Δ
AB
C
pa
da
Δ
PQ
R
se
hin
gg
a
A
beri
mpi
t
den
gan
P,
B
beri
mpi
t Q
dan
AB
beri
mpi
t
pad
a
PQ
ma
ka
C
beri
mpi
t
pad
a R
dan
C=
R
( p
ost
ulat
5)
3. Teorema
kesamaan
sudut alas
segitiga sama
kaki dan
konversinya
Bukti :
Diberikan Δ ABC dengan AC = BC, maka A = B
a. Lukis garis bagi C (aksioma 6)
b. Perpanjang garis bagi tersebut hingga memotong AB di D
(aksioma 9)
c. Dalam Δ ACD dan Δ BCD, AC=BC, 1= 2 (aksioma 6),
CD=CD (berimpit), sehingga Δ ACD kongruen dengan
Δ BCD (S-A-S)
d. Jadi A = B (sudut yang berkoresponden sama besar) (terbukti )
Dan sebaliknya jika diberikan Δ ABC dengan A = B
maka AC = BC
Bukti :
a) Lukis garis bagi C sehingga 1 = 2 (aksioma
6)
b) Karena A = B dan 1 = 2 maka ADC = BDC
c) Δ ADC kongruen dengan Δ BDC
sehingga AC = BC (terbukti)
d) Eksistensi garis yang tegak lurus pada garis
pada titik dari garis tersebut
e) Eksistensi garis yang tegak lurus pada garis
yang melalui titik eksternal
f) Pembentukan suatu sudut yang sama,
dengan sudut, dengan titik sudut dan sisi
yang telah diberikan sebelumnya
g) Pembentukan segitiga yang kongruen
dengan segitiga dengan sisi yang sama pada
sisi segitiga yang di ketahui