Anda di halaman 1dari 16

m   

 


  


?  ? ?




 ? ?? 

w





NAMA : IMAM SYAFI´iw
KELAS : VI D
NPM :08.11.108.501101.002528




?     !  ?"#$$
%
 ? ? 

KATA PENGANTAR

Allhamdulilah kami panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT karena atas

petunjuk dan ijin NYA,sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah

mata kuliah´Hukum Administrasi Negara´ dengan judul Kasus Bansos diKutai Karta

Negara dalam konteks Hukum Aministrasi Negara ´ Di dalam makalah ini saya

berusaha memaparkan kasus yang terjadi di pemerintahan kabupaen kutai

kartanegra

Terima kasih kepada Dosen pembimbing ³Hukum Administrasi Negara´, serta

Rekan-rekan yang juga membantu di dalam pembuatan makalah ini ,sehingga dapat

di selesaikan dan dapat di jadikan sebagai bahan diskusi bersesama.

Saya menyadari di dalam makalah ini memang masih banyak kekurangan

dalam penyajian nya,karena saya juga dalam masa pembelajaran agar kita bis

bersama untuk mengerti di dalam mata kuliah ini.Kritik dan Saran yang bersifa t

membangun sangat di harapkan.

Tenggarong 02 April 2011

Penulis
DATAR ISI

KATA PENGANTAR «««««««««««««««««««««««««.i

DAFTAR ISI «««««««««««««««««««««««««««««««ii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang ««««««««««««««««««««««««««««1

1.2.Rumusan Masalah «««««««««««««««««««««««««2

1.3.Tujuan «««««««««««««««««««««««««««««««3

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Landasan Teori ««««««««««««««««««««««««««««4

2.2. Analis Kasus Bansos di Kabupaten Kutai Kartanegara ««««««««««5

2.3.Penyebab terjadinya penyimpangan dana Bansos di Kabupaten Kutai kartanegra

BAB III

PENITUP

3.1.Kesimpulan «««««««««««««««««««««««««««.10

3.2.Saran ««««««««««««««««««««««««««««««.11

DAFTAR PUSTAKA
„ „

  

1.1.

„ 



Bantuan Sosial dan Hibah Pemkab Kukar yang dialokasikan tiap tahun anggaran

bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat secara mandiri dan bermartabat. Tapi

dalam kenyataanya, pengalokasian dana bansos dan hibah Kukar selama ini banyak

kurang tepat sasaran. Akibat organisasi, kelompok band semakin menjamur ketika

musim penganggaran dana bansos.

Anggota DPRD Kukar Praptomo menyebut, pengelolaan dana bantu an sosial

dan hibah Pemkab Kukar selama ini sangatlah buruk. Mengingat pengelokasian

dana untuk hibah maupun bansos tidak selektif dan tidak didasarkan kreteris yang

jelas dengan memperhatikan keadilan, transparan dan memprioritaskan kepentingan

masyarakat luas."Banyak alokasi bansos maupun hibah yang penerimanya tidak

mempunyai alamat jelas ataupun ada pihak yang menerima bansos ganda. Hal ini

memperlihatkan bahwa pengelolaan dana bansos dan hibah sangatlah buruk," beber

Praptomo.

Seperti di ketahui, dana bantuan sosial pada APBD 2010 mengalami

peningkatan yang sangat signifikan, dari nilai Rp90 miliar menjadi Rp110 miliar.

Kenaikan tersebut juga ternyata tak mampu menekan angka kemiskinan di Kukar

yang mencapai jumlah 32 ribu jiwa. Sementara dana hibah yan g nilai

pengalokasiannya lebih Rp50 juta, pada APBD 2010 ini mencapai angka Rp200
miliar, baik untuk hibah dana yayasan, dana untuk KPUD Kukar, KONI, maupun

hibah untuk pengurus cabang olahraga Kukar.

Disisi lain, alokasi untuk dana pembangunan pertanian d alam arti luas masih

terbilang sangat minim, tak mencapai angka 12 persen. Padahal disektor pertanian

dalam arti luas mampu menyerap sekitar 60 persen tenaga kerja di Kukar."Alokasi

pembangunan disektor pertanian lebih rendah ketimbang anggaran untuk Banso s

Kukar yang tidak jelas keperuntukannya dan manfaatnya," beber Praptomo.

Dari penelurusan yang dilakukan penulis, ternyata usulan permohonan bantuan

sosial melalui tiga pintu pilihan, yang pertama adalah usulan bisa melalui Bagian

Kesmas Setkab Kukar, Bappeda serta melalui DPRD Kukar yang biasa disebut

dengan aspirasi rakyat.

Nilai lolos nya anggaran bansos cukup variasi, namun bisa ditebak jika usulan

anggaran melalui Kesmas atau Bappeda, anggaran yang disetujui lebih rendah

dibanding usulan dari DPRD Ku ka





 

Pembangunan di bidang kesejahteraan sosial, dilaksanakan sebagaimana

tercermin dari tujuan nasional yang termaktub dalam pembukaan UndangUndang

Dasar 1945 dan dalam pasal 27 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi: ³Tiap tiap warga

negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan´.

Sedangkan dalam pasal 34 ayat (1) disebutkan bahwa: ³Fakir miskin dan anakanak

yang terlantar dipelihara oleh Negara´. Berdasarkan amanat konstitusional UUD

1945 tersebut maka pembangunan di bidang lainnya ditujukan untuk mewujudkan


kemakmuran dan kesejahteraan yang berkeadilan sosial dalam kehidupan

bermasyarakat dan bernegara

Hal ini sangat ironis dengan kenyataa yang terjadi di Pemerintah Kabupten

Kutai Kartanegara, yang di kenal dengan A PBD terbesar .namun kenyataannya

dengan berapa decade pemerintah Kutai Kartanegara belum mampu mengurangi

jumlah kemiskinan.hanya terjadai malah terungkapap nya kasus penyalahgunaan

dana Bantuan Sosial ( BANSOS ) hal ini semakin bertambahnya jumlah pejaba tyang

di tangkap KPK, dan bukan rahasia UMUM bahwa penirima BANSOS kebanyakan

hanyalah fiktif belaka.

Berkaiatan permasalahan diatas penulis mencoba menganalisa kasus bansos

di Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara di kaitan dengan Hukukm Administrasi

Negara.




Adapun penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui penyalahgunaan

dana bantuan social yang berada di kabupaten Kutai Kartanegara.serta makalah ini

merupakan tuntutan tugas dari dosen pembimbing mata kuliah Hukum Administrasi

Negara.

Di karenakan minimnya literature yang ada pada penulis sehingga makaah ini

jauh dari sempurna ,untuk itu masukan dari berbagai pihak sangat di harapkan

sebagai bahan diskusi bersama.


BAB II

PEMBAHASAN




  

1. Hukum administrasi negara adala h peraturan hukum yang mengatur

administrasi, yaitu hubungan antara warga negara dan pemerintahnya yang

menjadi sebab hingga negara itu berfungsi. (R. Abdoel Djamali).

2. Hukum administrasi negara adalah keseluruhan aturan hukum yang mengatur

bagaimana negara sebagai penguasa menjalankan usaha -usaha untuk

memenuhi tugasnya. (Kusumadi Poedjosewojo.)

3. Hukum administrasi negara adalah hukum yang menguji hubungan hukum

istinewa yang diadakan, akan kemungkinan para pejabat melakukan tugas

mereka yang khusus. (E. Utrecht.)

4. Hukum administrasi negara adalah keseluruhan aturan yang harus

diperhatikan oleh para pengusaha yang diserahi tugas pemerintahan dalam

menjalankan tugasnya. (Van Apeldoorn.)

5. Hukum administrasi negara adalah hukum yang mengatur tentang hubungan -

hubungan hukum antara jabatan-jabatan dalam negara dengan warga

masyarakat

. Hukum Administrasi Negara termasuk dalam hukum Publik (Hukum Negara), yaitu

hukum yang mengatur hubungan antara negara dengan alat -alat perlengkapan atau

hubungan antara negara dengan perseorangan (warga negara).


 

„

!"
 


 



Sidang kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) Pemkab Kukar

2005 dengan senilai Rp18,5 miliar yang digelar di Pengadilan Negeri (PN)

Tenggarong, Rabu (2/3) kema rin pagi dengan terdakwa mantan Anggota DPRD

Khairudin dan Basran Yunus mantan Asisten IV Setkab Kukar terpaksa harus

ditunda, lantaran saksi ahli yakni A Situmorang dari BPK -RI yang dihadirkan tidak

datang.

Penundaan ini sebenarnya sudah ketiga kalinya, R abu (2/3) kemarin saksi A

Situmorang tidak hadir lantaran sedang menjadi saksi ahli di Lampung. "Sidang akan

digelar kembali pada tanggal 16 Maret 2011 mendatang dan mudah -mudahan saksi

ahli nantinya bisa datang,´ ungkap Jaka Penuntut Umum (JPU) dalam kasu s

tersebut, Sofyan Latoriri pada wartawan kemarin.

Diakui oleh Sofyan, bahwa proses persidangan kasus dugaan korupsi Bansos Kukar

yang menyeret Khairudin, Basran Yunus , Boyke, dan Edi Mulawarman terbilan

cukup panjang, mengingat kasus tersebut sebelumnya ditangani KPK, kemudian

prosesnya digelar di Pengadilan Negeri Tenggarong. Selain itu juga banyaknya

saksi juga membuat proses sidang lama.

Seperti diketahui sebelumnya, dalam sidang kasus tersebut telah

menghadirkan saksi yakni para mantan anggota DPRD ya ng menerima dana aliran

bansos Kukar, yang nilainya mencapai Rp375 juta per anggota dewan. Para

anggota dewan mengaku dengan jujur aliran dana bansos fiktif tersebut.Munculnya

kasus dugaan korupsi dana bansos itu sendiri merupakan pengembangan KPK.

Dimana KPK telah memasukan mantan Wakil Bupati Kukar Samsuri Aspar dan

mantan Ketua Fraksi Golkar Setia Budi.


Khairuddin yang saat ini menjadi staf khusus Bupati didakwa didakwa

melakukan pidana korupsi bersama Setia Budi tahun 2005 -2006 melalui penyuluran

dana bansos sebesar Rp 18.5 miliar.

Contoh kasus di atas hanyalah salah satu contoh kasus penyimpangan dana

bantuan social ( BANSOS ) yang terjadi di kabupaten kutai kartanegara dan apabila

kita kaji lebih jauh lagi masih banyak kasus penyimpangan penggunaan bansos

yang tidak tepat sasaran.yang jadi permasalahan kenapa hal ini harus terjadi.?

Pertanyaan tersebut dapat di kaitkan dengan hukum aministrasi Negara maka

sangat bertentangan dengan azaz hukum administrasi Negara.adapun azas hukum

administrasi Negara adalah:

ü Azas Yuridiksi : bahwa setiap tindakan pejabat administrasi Negara tidak

boleh melanggar hukum ( harus sesuai dengan rasa keadilan dan kepatutan

) tidak tertulis

ü Azas Legalitas : bahwa setiap tindakan administrasi Negara harus ada dasar

hukumnya ( ada peraturan dasar yang melandasinya ).apalagi negara

indonesia adalah negara hukum,maka azas legalitas adalah hal yang paling

utama dalam setiap tindakan pemerintah.

ü Azas Dikresi dari Emessen :yaitu kebebasan dari seorang pejabat untuk

mengambil keputusan berdasarkan pendapatnya sendiri yang tidak

bertentangan dengan legalitas ,dengan demikian seetiap pejabat administrasi

Negara tidak boleh menolak untuk mengambil keputusan bila ada seo rang

warga yang mengajukan permohonan. Hal ini sangat ironis dengan keadaan

yang terjadio di pemerintah kabupaten kutai kartanegara. Keyika warga yang

betul- betul membutuhkan bantuan dana malah jarang mendapatkanya,toh


kenyataan yang terjadi adalah ketika warga memerlukan bantuan dana

tersebut di iringi dengan sistim birokrasi yang rumit dan berbelit -belit.beda

hanya dengan yang mengajukan dana BANSOS mempunyai koneksi oknum

yang mempunyai wewenang akan sangat mudah untuk memperoleh dana

bantuan tersebut, mlahan keanyakan para oknum birokrat dengan terang -

terangan mau meloloskan berkas permohonan dengan bagi hasil.maka tak

heran apabila setiap tahun penerima bansos banyak yang hanya fikitif belaka

dan orang-orangnya itu-itu saja.sehingga akan muncul oaring kaya baru

( OKB )di kutai kartanegara dengan menggunakan dana BANSOS.

  # !
! 
 #
 " #"

 

 „
 
!"
 




 


1. Tanggungjawab profesi, moral dan sosial yang rendah

2. Sanksi yg lemah dan penerapan hukum yang tidak konsisten dari institusi

penegak hukum, institusi pemeriksa/peng awas yang tidak bersih/independen

3. Rendahnya disiplin/kepatuhan terha dap Undang-undang dan Peraturan

4. Kehidupan yg konsumtif, boros dan serakah (untuk memperkaya diri)

5. Lemahnya pengawasan berjenjan g (internal) dalam pelaksanaan tugas,

pokok dan fungsi (TUPOKSI) pekerjaan

6. Kurangnya keteladanan dari atasan/pimpinan

7. Hilangnya rasa malu ber KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme)

8. Wewenang yg besar tidak d iikuti evaluasi laporan kinerja

9. Kesempatan yang terbuka

10. Lemahnya pengawasan eksternal

11. Belum efektifnya pengawasan masyarakat lembaga legislatif, terutama di

daerah
12. Aturan tidak jelas;

13. Budaya memberi upeti/tips

14. Pengaruh lingkungan social

15. Penghasilan yang rendah dibandingkan dgn kebutuhan hidup yg layak

16. Sikap permisif/serba membolehkan dalam masyarakat, dan sungkan utk

saling mengingatkan

17. Rendahnya kepedulian terh adap kehidupan masyarakat

18. Lemahnya penghayatan Pancasila dan pengalaman agama.

akibat yang ditimbulkan:

1. Merusak mental aparat/masyarakat (budaya instan)

2. Menurunkan/menghilangkan kepercayaan, citra dan martabat

3. Ekonomi biaya tinggi, investasi ren dah, laporan kerja/usaha rendah

4. Hasil pembangunan tidak dinikmati sebagian besar masyarakat, sebaliknya

lebih banyak utk penguasa yg akhirnya akan menimbulkan kesenjangan

social

5. Kualitas prestasi kerja/kinerja aparat rendah

6. Output tidak optimal/tidak dapat dimanfaatkan tepat waktu/tepat guna/tepat

standar

7. Peraturan/prosedur tidak dapat ditegakkan

8. Kekuasaan dan kewenangan berkuasa melalui UANG.

upaya memberantas penyalahgunaa bansos

1. Penegakan hukum yg tegas dan konsisten dengan sanksi berat kepad a

pelaku korupsi (hukuman mati)


2. Meningkatkan komitmen, konsisten dengan sanksi berat kepada pelaku

korupsi

3. Menata kembali organisasi, memperjelas, transparansi, mempertegas vi si,

misi, tugas dan fungsi yg diemban oleh setiap instansi

4. Menyempurnakan sistem ketatalaksanaan meliputi:m perumusan kebijakan

(agar tidak terjadi penyalahgunaan kebijakan), perencanaan penganggaran,

pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi pertanggungjawaban kinerja serta

KUALITAS PELAYANAN MASYARAKAT

5. Memperbaiki manajemen kepegawaian (penerimaan, penempatan,

pengembangan, kesejahteraan, jaminan hari tua)

6. Mengembangkan budaya kerja/tertib/malu melakukan KKN

7. Meningkatkan evaluasi laporan Akuntabilitas Kine rja Instansi Pemerintah

(LAKIP)

8. Meningkatkan efektifitas pelaksanaan sistem Pengendalian Manajemen,

Pengawasan fungsional/berjenjang dan memper berdayakan pengawasan

masyarakat

9. Meningkatkan transparansi, akuntabilitas dan pelayanan prima.

hambatan pemberantasan kasus bansos

1. Lemahnya koordinasi

2. Kepemimpinan yg kurang komitmen, konsisten dan tegas

3. Kurang dukungan teknologi informasi.

4. Kurang pedulinya masyarakat kutai kartanegara terhadap kebjakan

pemerintah kabupaten kutai kartanegra


„ „$$$



 "


Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selalu saja ditemukan tarik ulur

antara kekuasaan, hukum, dan demokrasi yang bersumber pada keserakahan

terhadap kekuasaan, padahal keserakahan akan kekuasaan tersebut tidak saja

melanggar prinsip-prinsip negara hukum, demokrasi, dan hak-hak asasi manusia,

namun juga dapat melanggar perinsip -prinsip hukum administrasi dan asas -asas

umum pemerintahan yang layak. Dari optik hukum administrasi, kiranya di era

reformasi inilah seharusnya mulai ditumbuhkan dan d ikembangkan pemikiran-

pemikiran tentang perlunya merekonseptualisasikan dan mereposisi, serta

merefungsionalisasi kedudukan hukum administrasi dalam penyelenggaraan

pemerintahan, khususnya asas-asas umum penyelenggaraan pemerintahan yang

layak, baik di pusat maupun daerah sehingga secara perlahan dan pasti diharapkan

akan mengubah tatanan, instrumentasi, dan orientasi kehidupan penyelenggaraan

pemerintah.

Penyaluran dan penggunaan Bantuan Sosial (Bansos) yang hibah di

Kabupaten Kutai Karta Negara (Kukar), K alimantan Timur (Kaltim), tampaknya perlu

pembenahan serius.Terbukti dengan banyaknya keluhan dari penerima bansos

tersebut.Bansos kukar penuh dengan birokrasi dan terkesan dalam pencairan

danyanya sengaja dibuat berbeli ±belit. Sebagian masyarakat penerima bansos

mengeluh,´ ujarnya
Bukan hanya itu, tak sedikit penerima bansos merasa kesal dan

mengerutu.Pasalnya, pengurusan bansos Kukar juga terindikasi tak beres. Mulai

tahap awal pengurusan bansos hingga tahap akhir, selalu harus menggunakan uang

pelicin alias pungli.³Hal ini tak jarang membuat penerima bansos seperti rakyat kecil

menggerutu, karena ulah dan tingkah sebagian oknum yang tak bertanggung jawab

%



Gembar-gebor bantuan sosial (bansos) akan dihentikan di 2011 tak terbukti.

Sebab di Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (R -APBD) Kukar

2011, belanja bansos muncul lagi. Nilainya lumayan besar, mencapai Rp 44,7 miliar.

Dibanding bansos 2010, jumlah ini menurun Rp 63 miliar ( kaltim post.co.id )

Semoga kedepan para birokrat di pemerint ahan kabupaten kutai Negara lebih

mengedepankan azas hukum administrasi Negara.serta masyarakat lebih berperan

aktif dalam mengawasi jalannya pemerintah beserta penggunaan aset daerah.guna

terwujudnya pemerataan pembangunan untuk masyarakat kutai karta

Negara.sehingga GERBANG RAJA bukan hanya slogan semata.


 & % 

Bachsan MustafaVistem Hukum Administrasi Negara Indonesia Citra Aditya

Kaltim post@yahoo.co.id

Ridwan HRHukum Administrasi Negara Rajawali Pers

Jawapos group online.

Kaltim post .onlone.