Anda di halaman 1dari 27

METABOLISME PROTEIN

oleh

TETI ANDRIANTI

61109012

Fakultas Kedokteran Universitas Batam


Batam
Januari, 2010
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah, karena berkat limpahan rahmat dan
karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan referat ini. Tak lupa shalawat beserta salam saya
sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat dari alam kebodohan ke
alam yang berilmu pengetahuan seperti sekarang ini.

Begitu banyak pengetahuan dan penjelasan didalam ilmu kesehatan khususnya dalam
ilmu kedokteran. Sebagai mahasiswa kedokteran kita harus memahami ilmu apa saja yang
terdapat didalam kesehatan ini, baik yang berupa pengetahuan teori, praktek maupun lisan.
Dalam referat ini, saya membahas tentang metabolism protein. Referat ini disajikan berdasarkan
referensi yang di dapatkan dari teks book.

Ucapan terimakasih yang tak terhinga bagi pembimbing yang telah membimbing saya.
Sesungguhnya apa yang saya bikin tidak sesempurna yang dinginkan, dan saya mohon maaf
apabila ada kesalahan yang tidak disengaja, kritik dan saran sangat saya harapkan demi referat
yang lebih baik lagi.

Batam, Januari 2010

penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................................... i

KATA PENGANTAR...................................................................................................... ii

DAFTAR ISI.................................................................................................................... iii

BAB I

Pendahuluan...................................................................................................................... 1

I.1 Latar Belakang.................................................................................................. 2

I.2 Identifikasi Masalah......................................................................................... 2

I.3 Tujuan pembelajaran......................................................................................... 2

BAB II

Tinjauan Pustaka............................................................................................................... 3

BAB III

Pembahasan..................................................................................................................... 20

BAB VI

Penutup.............................................................................................................................. 7

REFERENSI.................................................................................................................... 22
BAB 1

PENDAHULUAN

Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling
utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan
polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain
dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen,
nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur
dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.

Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain
berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang
membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan
(imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen
penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu
sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak
mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof).

Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida,


lipid, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain
itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam
biokimia. Protein ditemukan oleh Jöns Jakob Berzelius pada tahun 1838.
I.I Latar Belakang

Banyak penyakit yang ditimbulkan oleh kesalahan manusia itu sendiri.


Salah satunya adalah pada proses metabolism protein. Akibat kekurangtahuan pada
metabolism protein ini, menyebabkan terjadinya berbagai kemungkinan penyakit.
Salah satunya adalah arthritis gout. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui
bagaimana metabolism protein terjadi, agar kita dapat mencegah timbulnyah
berbagai penyakit dan memiliki pola hidup yang sehat.

I.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan scenario 1 pada blok biomedik, pasien (Nyonya Ani) mengalami


berbagai gangguan dalam kesehatannya. Salah satu nya adalah gangguan
metabolisme protein, dapat dilihat dari hasil pemeriksaan laboratorium yang
menyatakan kadar asam urat dalam darah pasien adalah 8 mg/dL, sedangkan kadar
asam urat dalam darah normal adalah 4 mg/dL.

I.3 Tujuan

Agar mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami proses metabolime


protein.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

PROTEIN

Protein dibuat dari sejumlah besar asam amino yang dirangkai membentuk
rantai oleh ikatan peptida yang menghubungkan gugus amino di satu gugus karboksil
di asam amino berikutnya. Selain itu beberapa protein mengandung karbohidrat
(glikoprotein) dan lemak (lipoprotein). Rantai asam amino yang lebihn kecil disebut
peptide atau polipeptida. Rantai yang mengandung 2-10 residun asam amino disebut
peptida, rantai yang mengandung lebih dari 10 tetapi kurang dari 100 residu asam
amino disebut polipeptida, dan rantai yang mengandung 100 atau lebih residu asam
amino disebut protein.

Urutan asam amino di rantai peptide disebut struktur primer suatu protein.
Rantai-rantai tersebut tergulung-gulung dan berlipat-lipat sangat kompleks, dan
istilah struktur sekunder suatu protein adalah susunan spasial (ruang) yang
dihasilkan oleh gulungan dan lipatan tersebut. Struktur tersier suatu protein adalah
susunan rantai-rantai yang tergulung menjadi lapisan, Kristal, atau serat. Banyak
molekul protein terbentuk dari subunit-subunit, dan istilah struktur kuatener
digunakan untuk menyebutkan susunan subunit-subunit tersebut.
Struktur Protein

1) Struktur Primer

Tingkat struktur ini mengacu pada jumlah dan urutan asam amino dalam
suatu protein

2) Struktrur Sekunder

Tingkatan berikut ini lazimya mengacu pada jumlah polipeptida sebagai


akibat ikatan hidrogen diantara ikatan peptida.

3) Struktur Tersier 4) Struktur Kuartener


KEBUTUHAN ASAM AMINO MANUSIA

Secara nutrisonal esensial Secara nutrisional non


esensial
Arginin Alanin
Histidin Asparagin
Isoleusin Aspartat
Leusin Sistein
Metionin Glutamate
Fenilalanin Glutamine
Treonin Glisin
Tritofan Hidroksiprolin
Valin Hidroksilisin
Lisin Prolin
Sarin
Tirosin

Protein Plasma

Tipe utama protein yang terdapat dalam plasma adalah albumin, globulin dan
fibrinogen.

Fungsi utama albumin adalah membentuk tekanan osmotik koloid di


dalam plasma, yang akan mencegah hilangnya plasma dari kapiler.

Globulin melakukan sejumlah fungsi enzimatik dalam plasma, tetapi


yang sama pentingnya, globulin berperan pada imunitas alamiah tubuh dan imunitas
tubuh yang didapat untuk melawan invasi organism.

Fibrinogen berpolimerisasi menjadi pilinan fibrin yang penjang selama


proses koagulasi darah. Dengan demikian, terbentuk bekuan darah kyang akan
membantu memperbaiki kebocoran system sirkulasi.
Pembentukan Protein Plasma

Pada dasarnya, semua albumin dan fibrinogen plasma dan 50-80% globulin
dibentuk di hati. Sisa globulin dibentuk hamper seluruhnya di jaringan limfoid.

Kecepatan pembentukan protein plasma oleh hati sebanyak 30 gram/hari.


Keadaan penyakit tertentu menyebabkan hilangnya protein plasma dengan cepat.
Luka bakar berat yang menghilangkan area permukaan kulit yang luas menyebebkan
kehilangan plasma sebanyak beberapa liter tiap hari melalui area yang terbakar.
Pembentukan protein plasma yang cepat oleh hati berguna untuk mencegah kematian
pada keadaan tersebut.

Pada sirosis hati, sejumlah besar jaringan fibrosa terbentuk di antara sel-
sel parenkim hati, sehingga kemampuannya untuk mensintesis protein plasma
menjadi berkurang. Hal tersebut akan menurunkan tekanan osmotic koloid plasma
sehingga akan terjadi endema seluruh tubuh.

Protein Plasma sebagai Sumber Asam Amino untuk Jaringan.

Sewaktu jaringan kekurang protein, protein plasma dapat bertindak


sebagai sumber untuk menggantikan kembali protein jaringan dengan cepat. Seluruh
protein plasma dapat diinhibisi in toto oleh mekrofag jaringan melalui proses
pinositosis, bagitu berada di dalam sel ini. Protein plasma dipecah menjadi asam
amino yng ditranspor kembali ke dalam darah dan dipakai di seluruh tubuh untuk
membangun protein sel di manapun protein tersebut dibutuhkan. Protein plasma
berfungsi sebagai media penyimpanan protein yang labil dan merupakan sumber
asam aminoyang tersedia dengan mudah bila jaringan tertentu membutuhkannya.

Metabolisme Asam Amino


Asam-asam amino diperlukan untuk membentuk protein . sebagian harus
dipasok dari makanan (asam amino esensial) karena tidak sapat dibentuk tubuh.
Sisanya adalah asam amino nonesensial, yang berasal dari makanan, tetapi juga
dapat dibentuk dari zat-zat antara metabolic melalui transaminasi dengan
menggunakan nitrogen amino dari asam amino lain. Setelah deaminasi, nitrogen
amino diekskresikan sebagai urea, dan kerangka karbon yang tersisa setelah
transaminasi dapat (1) dioksidasi menjadi CO2 melalui siklus asam sitrat; (2)
digunakan untuk membentuk glukosa (glukoneogenesis); atau (3) untuk membentuk
badan keton.

Jalur Metabolik Diberbagai Tingkat Susunan

1. Di tingkat jaringan dan organ, sifat subsrat yang masuk dan metabolik
yang keluar dari jaringan dan organ dapat diketahui.
2. Di tingkat subselular, setiap organel sel (mitokondria) atau kompartemen
(sitosol) memiliki peran tertentu yang membentuk sebagian pola jalur metabolic
subselular.

Ditingkat Jaringan Dan Organ, Sirkulasi Darah Mengintegrasikan Metabolisme

Asam amino yang berasal dari pencernaan protein makanan dan glukosa
yang berasal dari pencernaan karbohidrat diserap melalui vena porta hati. Hati
memiliki peran mengatur konsentrasi berbagai metabolit larut air dalam darah. Pada
kasus glukosa, hal ini dicapai dengan menyerap glukosa yang melebihi kebutuhan
saat ini dan mengubahnya menjadi glikogen atau lemak (lipogenesis). Di antara
waktu makan, hati bekerja mempertahankan kadar glukosa darah dari glikogen
(glikogenolisis) dan bersama dngan ginjal, dengan mengubahn metabolit
nonkarbohidarat, seperti laktat, gliserol, dan asam amino menjadi glukosa
(glukoneogenesis). Hati juga membentuk berbagai protein plasma utama (albumin)
dan mendeaminasi asam amino yang melebihi kebutuhan dan membentuk urea yang
diangkut ke ginjal untuk diekskresikan.
Di Tingkat Subselular, Glikolisis Berlangsung di Sitosol dan Siklus Asam Sitrat di
Mitokondria

Peran sentral mitokondria terlihat jelas karena organel ini bekerja sebagai
focus metabolisme karbohidarat, lipis dan asam amino. Mitokondria mengandung
enzim-enzim siklus asam sitrat, oksidasi-β asam lemak dan ketogenesis serta rantai
resipiratorik dan ATP sintase.

Pada glukoneogenesis substrat seperti laktat dan piruvat yang terbentuk di


siitosol memasuki mitokondria untuk menghasilkan oksaloasetat sebagai precursor
untuk sintesis glukosa.
Proses Glukoneogenesis
Siklus Asam Sitrat
Jalur katabolik utama untuk asetil-KoA pada organism aerob. Asetil-KoA
produk katabolisme protein diibawa ke siklus asam sitrat dan di oksidasi menjadi
CO2, disertai pembebasan ekuivalen pereduksi (2H). Oksidasi 2H selanjutnya di
rantai respiratorik menyebabkan fosforilasi ADP menjadi ATP. Untuk 1 putaran
siklis, dihasilkan 11 ATP melalui fosforilasi oksidatif dan 1 ATP dihasilkakn di
tingkat substrat dari perubahan suksinil-KoA menjadi suksinat.

Biosintesis Urea
Biosintesis urea berlangsung dalam 4 tahap:

1. Transaminasi
2. Deaminasi oksidatif glutamate
3. Transport ammonia
4. Reaksi siklus urea

Transaminasi

Transaminasi saling mengkonversi pasangan-pasangan asam α-amino dan


asam α-keto. Semua asam amino protein kecuali lisin, treonin, prolin dan
hidroksiprolin ikut serta dalam transaminasi. Transaminasi berlangsung reversible,
dan aminotransferase juga berfungsi dalam biosintesis asam amino.

Alanin - piruvat aminotransferase (alanin aminotransferase ) dan glutamate–


α-ketoglutarat amino transferase (glutamate aminotransferase) mengatalisis
pemindahan gugus amino ke piruvat (membentuk alanin) atau ke α-ketoglutarat
membentuk glutamate. Masing-masing aminotransferase bersifat transferase bersifat
spesifik untuk satu pasangan substrat, tetapi tidak spesifik untuk pasangan lain.

Pemindahan nitrogen amino ke α-ketoglutarat membentuk L-glutamat.


Pemindahan nitrogen ini sebagai ammonia kemudian dikatalisis oleh L-glutamat
dehidrogenase (GDH) hati, yang dapat menggunakan NAD+ atau NADP+.
Deaminasi Oksidasi

Terjadi di hati. Satu asam imino dibentuk oleh dehidrogenase, dan senyawa
ini dihidrolisis menjadi asam keto, dengan menghasilkan NH4.

Flavin terduksi mengalami reoksidasi oleh oksigen molecular, dan


membentuk hydrogen peroksida (H2O2), yang kemudian terurai menjadi O2 dan H2O
oleh katalase.

Glutamin Sintase Mengikat Amonia Menjadi Glutamin

Ammonia bersifat toxik bagi susunan saraf pusat. Gejala intoksikasi


ammonia mencakup tremor, berbicara pelo, penglihatan kabur, koma dan akhirny
kematian. Ammonia bias bersifat toksik bagi otak karena xat ini bereaksi dengan α-
ketoglutarat untuk membentuk glutamate. Kadar α-ketoglutarat yang menurun ini
kemudian menggangu fungsi siklus asam trikarboksilat di neuron.

Oleh karena itu glutamine dikatalisis oleh Glutamine sintase. Glutamine


berfungsi mengubah ammonia menjadi suatu bentuk yang nontoksik.

Siklus Urea
Sebagian besar NH4+ yang terbentuk oleh deaminasi asam amino di hati
diubah menjadi urea, dan urea diekskresikan di dalam urine. NH4+ membentuk
karbomil fosfat, dan di mitokondria gugus ini dipindahkan ke ornitin, membentuk
sitrulin. Enzim yang berperan adalah ornitin karbamoiltransferase. Arginin diubah
menjadi sitrulin , setelah itu ureanya dipisahkan dan ornitin kembali terbentuk.

Gugus-gugus yang mengandung nitrogen dan ikut berperan membentuk urea


diarsir. Reaksi 1 dan 2 terjadi di matriks mitokondriahati dan reaksi 3,4, dan 5 di
sitosol hati. CO2 (sebagai bikarbonat), ion ammonium, ornitin dan sitrulin masuk ke
matriks mitokondria melaluipembawa spesifik (lihat lingkaran biru) yang terdapat di
membrane dalam mitokondria.
Asam Urat

Biosintesis nukleotida purin

Jaringan tubuh dapat mensintesis purin dari zat-zat antara amfibolik. Asam
nukleat dan nukleotida yang dimakan diuraikan di saluran cerna menjadi
mononukleotida sehingga dapat diserap atau diubah menjadi basa purin. Basa purin
lalu dioksidasi menjadi asam urat yang akan diabsorbsi maupun diekskresikan dalam
urine.

Biosintesis purin dimulai dari α-D-ribosa 5 fosfat yang dikatalisi oleh enzim
menjadi inosin monofosfat (IMP).
Dua mekanismem meregulasi perubahan IMP menjadi GMP dan AMP.
Masing-masing menginhibisi adenilosuksinat sintase dan IMP dehigrogenase. Selain
itu perubahan IMP menjadi adenilosuksinat hingga menjadi AMP membutuhkan
GTP, dan perubahan xantinilat (XMP) menjadi GMP membutuhkan ATP. Regulasi
ini berfungsi menurunkakn sintesis sebuah nukleotida purin jika terjadi defisiensi
nukleotida-nukleotida lain.
Katabolisme Purin Menjadi Asam Urat

Manusia mengubah adenosine dan guanosin menjadi asam urat. Adenosine


mula-mula diubah menjadi inosin oleh adenosine deaminase. Selain pada primata
tingkat tinggi, uratase mengubah asam urat menjadi alatoin, suatu produk yang larut
air pada mamalia. Namun pada manusia tidak memiliki uratase, produk akhir
metabolisme purin adalah asam urat.
Gout “Primer” & “Sekunder”

Gout adalah penyakit yang ditandai oleh serangan artritis berulang; endapan urat
di persendian, ginjal, dan jaringan lain; dan peningkatan kadar asam urat dalam darah dan
urine. Sendi yang paling sering terkena mula-mula adalah sendi metatarsofalangea ibu jari
kaki. Ada dua bentuk gout “primer”. Pertama, produksi asam urat meningkat karena
berbagai kelainan enzim. Kedua, terdapat defisit selektif pada transpor asam urat oleh
tubulus ginjal.

Pada gout “sekunder”, kadar asam urat di dalam cairan tubuh meningkat sebagai
akibat ekskresi yang menurun atau produksi yang meningkat karena proses penyakit lain.
Sebagai contoh, ekskresi menurun pada pasien yang diberi obat diuretik dan mereka yang
menderita penyakit ginjal. Produksi meningkat pada leukemia dan penumonia karena
meningkatnya pemecahan sel darah putih yang kaya asam urat.

Terapi gout ditujukan untuk meredakan artritis akut dengan obat seperti kolkisin
atau obat antiradang nonsteroid dapat menurunkan kadar asam urat dalam darah. Kolkisin
tidak memengaruhi metabolisme asam urat, dan tampaknya obat ini meredakan serangan
gout dengan menghambat fagositosis kristal asam urat oleh leukosit, suatu proses yang
agaknya menimbulkan gejala sendi. Fenilbutazon dan probenesid menghambat reabsorpsi
asam urat di tubulus ginjal. Allopurinol, yang menghambat xantin oksidase, adalah salah
satu obat yang digunakan untuk menurunkan produksi asam urat.

.
BAB III

PEMBAHASAN

Diketahui bahwa nyonya Ani mengalami gangguan metabolisme . Salah


satunya adalah gangguan metabolisme protein. Dapat dilihat dari kadar asam urat
Nyonya Ani yaitu 8 mg/dL, dimana kita tahu bahwa yang normal adalah 4 mg/dL.
Kadar asam urat Nyonya Ani merupakan 2 kali lipat dari yang normal. Hal ini
merupakan masalah yang serius apabila tidak diobati. Kadar asam urat yang tinggi
akan mendapatkan resiko terkena penyakit artritis gout. Gout adalah penyakit yang
ditandai oleh serangan artritis berulang, endapan urat di persendian, ginjal, dan
jaringan lain; dan peningkatan kadar asam urat dalam darah dan urine.

Peningkatan kadar asam urat dalam darah darah disebabkan oleh pola
makan yang salah. Terlalu banyak mengkonsumsi purin menyebabkan terjadinya
pembentukan asam urat. Ketika kadar asam urat melebihi batas kelarutannya,
terjadilah kristalisasi natrium urat di jaringan lunak dan sendi sehingga menimbulkan
reaksi inflamasi, artritis gout. Namun sebagian besar kasus gout mencerminkan
gangguan pengaturan asam urat di ginjal.

Terapi non obat

       pasien disarankan mengurangi asupan makanan yang mengandung tinggi


purin (misalnya organ, kacang-kacangan), alkohol dan menurunkan berat badan bila
obesitas.

Terapi obat

Probenesid dan sulfinpyrazone

Probenesid dan sulfinpyrazone meningkatkan klirens ginjal untuk


mengeluarkan asam urat dengan menghambat reabsorbsi asam urat di tubular ginjal.
Probenesid diberikan dengan dosis awal 250 mg dua kali sehari selama 1-2 minggu,
kemudian 500 mg dua kali sehari selama 2 minggu. Dosis awal sulfinpirazon 50 mg
dua kali sehari selama 3-4 minggu, kemudian 100 mg dua kali sehari, ditingkatkan
dosis sehari dengan peningkatan 100 mg tiap minggu sampai 800 mg per hari.

Allopurinol

Allopurinol merupakan inhibitor xantin oksidase dengan menghambat


pembentukan hipoxantin menjadi xantin dan xantin menjadi asam urat. Karena
waktu paruhnya yang panjang, allopurinol dapat diberikan sehari sekali. Allopurinol
merupakan obat pilihan antihiperurisemia pada pasien dengan riwayat batu urat atau
gangguan fungsi ginjal.

 
BAB IV

PENUTUP

Setelah mengetahui pembahasan mengenai metabolisme protein, diharapkan kita


dapat mengatur pola makan yang lebih sehat dan lebih baik lagi. Dengan demikian kita
dapat menghindari berbagai kemungkinan penyakit yang disebabkan oleh gangguan
metabolime protein.
DAFTAR PUSTAKA

William F. Ganong. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed 22. EGC, Jakarta:EGC

Murray Robert.K, dkk.2009. Biokimia Harper, edisi 27. Jakarta : EGC.

Guyton & Hall.2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, edisi 11. Jakarta : EGC

http://www.farmasiku.com/index.php?target=categories&category_id=177

Anda mungkin juga menyukai