Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Secara umum,`perusahaan didefinisikan sebagai suatu organisasi produksi yang


menggunakan yang menggunakan dan mengkoordinir sumber-sumber ekonomi
untuk memuaskan kebutuhan dengan cara yang menguntungkan. Berdasarkan
definisi diatas maka dapat dilihat adanya lima unsur penting dalam sebuah
perusahaan, yaitu organisasi, produksi, sumberekonomi, kebutuhan dan cara yang
menguntungkan. Adapun jenis-jenis perusahaan :

1. Usaha Perseorangan,

2. Firma (Fa),

3. Perseroan Komanditer (CV),

4. Perseroan Terbatas (PT),

5. Perseroan Terbatas Negara (Persero),

6. Perusahaan Daerah (PD),

7. Perusahaan Negara Umum (PERUM),

8. Perusahaan Negara Jawatan (PERJAN),

9. Koperasi

10. Yayasan.

Dalam makalah ini penulis akan mengkaji lebih dalam tentang pengertian serta
pendirian, permodalan, organisasi, dan pembubaran yang dimiliki oleh Maatschap,
Firma, dan CV.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka secara umum rumusan
masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
A. Perusahaan Perseorangan
1) Pengertian Persekutuan Perdata / maatschap
2) Pendirian, permodalan, organ serta pembubaran Persekutuan Perdata /
maatschap
3) Kebaikan dan keburukan Persekutuan Perdata / maatschap

B. FIRMA
1) Pengertian Firma
2) Pendirian, permodalan, organ serta pembubaran Firma

C. Perseroan Komanditer / CV
1) Pengertian Perseroaan Komanditer / CV
2) Pendirian, permodalan, organ serta pembubaran Perseroan Komanditer
/ CV
3) Kebaikan dan keburukan Perseroan Komanditer / CV

3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan makalah ini adalah untuk
mengetahui:
1. Pengertian Persekutuan Perdata (maatschap), Firma dan Perseroan
Komanditer (CV).
2. Pendirian, permodalan, organ serta pembubaran Persekutuan Perdata /
maatschap, Firma, dan Perseroan Komanditer / CV.
3. Kebaikan dan keburukan Persekutuan Perdata (maatschap), Firma dan
Perseroan Komanditer (CV).
BAB 2
PEMBAHASAN

A. Perusahaan Peseorangan atau Maatschap

Tanpa kerja sama dan spesialisasi maka masyarakat tidak dapat berfungsi
dengan sempurna. Memang orang dapat bekerja sendiri, namun apa yang tidak
dapat dilakukannya sendiri terpaksa ia akan minta bantuan orang lain lagi pula
dengan bekerja sama, orang kadang dapat memperoleh keuntungan yang tidak
dapat dicapai jika ia bekerja sendiri. Dikenal suatu bentuk “kerja sama” yaitu
kerja sama diantara beberapa orang di dalam lingkungannya sendiri dimana
mereka masing-masing merupakan para pengurus dan sekaligus pemiliknya. Kerja
sama tersebut dilakukan secara terus menerus yang menyangkut adanya
keterikatan dari aktiva-pasiva, hak dan kewajiban, perjanjian dengan pihak luar
dan lain sebagainya.

Dalam literatur Belanda, maatshcap sering disebut burgerlijke maatschap atau


”persekutuan perdata.” Menurut Pasal 1618 KUHPer, maatshcap adalah suatu
perjanjian dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan
sesuatu, dengan maksud untuk membagi keuntungan yang diperoleh. Dilihat dari
bunyi pasal tersebut, dapat ditafsirkan bahwa maatschap memiliki unsur-unsur
sebagai berikut:

1 merupakan suatu perjanjian


2 ada perikatan antara dua orang atau lebih
3 ada pemasukan (inbreng)
4 ada tujuan untuk membagi keuntungan yang diperoleh

Unsur pemasukan (inbreng) tersebut bisa berupa sejumlah uang, barang dengan
wujud tertentu, atau berupa tenaga, jasa, atau keahlian (skill). Selain itu, dalam
maatshcap juga harus ada kerjasama antar para sekutu dan kerjasama antara
sekutu dengan maatschap sebagai suatu kesatuan. Hal ini menunjukkan adanya
hubungan hukum dan hak serta kewajiban para sekutu satu sama lainnya, serta
hak dan kewajiban para sekutu terhadap maatschap sebagai suatu kesatuan.

Atas kekayaan maatschap ini, ada kepemilikan bersama yang terikat dimana
semua sekutu memiliki hak yang sebanding atas seluruh benda milik bersama
sebagai suatu kesatuan. Atas benda milik bersama ini tidak dapat ditetapkan harta
bagian masing-masing sekutu atas masing-masing benda yang menjadi bagian dari
keseluruhan benda milik bersama. Dengan demikian sekutu masing-masing tidak
bisa menjual atau mengalihkan benda milik maatschap tanpa persetujuan semua
sekutu.

Pada maatschap, tidak ada nama bersama seperti halnya yang terjadi dalam
persekutuan dengan firma. Konsekuensinya adalah masing-masing sekutu
bertindak keluar (bertindak dengan pihak ketiga) atas namanya sendiri, kecuali
telah diperjanjikan bahwa sekutu yang bersangkutan bertindak atas nama
maatschap (seluruh sekutu), sehingga pihak ketiga tahu bahwa ia telah
berhubungan dengan suatu maatschap.

Sifat Pendirian Maatschap

Menurut Pasal 1618 KUHPerdata, maatschap adalah persekutuan yang


didirikan atas dasar perjanjian. Menurut sifatnya, perjanjian itu ada dua macam
golongan, yaitu perjanjian konsensual (concensuelle overeenkomst) dan perjanjian
riil (reele overeenkomst). Perjanjian mendirikan maatschap adalah perjanjian
konsensual, yaitu perjanjian yang terjadi karena ada persetujuan kehendak dari
para pihak atau ada kesepakatan sebelum ada tindakan-tindakan (penyerahan
barang). Pada maatschap, jika sudah ada kata sepakat dari para sekutu untuk
mendirikannya, meskipun belum ada inbreng, maka maatschap sudah dianggap
ada.

Undang-undang tidak menentukan mengenai cara pendirian maatschap,


sehingga perjanjian maatschap bentuknya bebas. Tetapi dalam praktek, hal ini
dilakukan dengan akta otentik ataupun akta dibawah tangan. Juga tidak ada
ketentuan yang mengharuskan pendaftaran dan pengumuman bagi maatschap, hal
ini sesuai dengan sifat maatschap yang tidak menghendaki adanya publikasi
(terang-terangkan).

Perjanjian untuk mendirikan maatschap, disamping harus memenuhi


ketentuan dalam Pasal 1320 KUHPerdata, juga harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:

a. Tidak dilarang oleh hukum;

b. Tidak bertentangan dengan tatasusila dan ketertiban umum; dan

c. Harus merupakan kepentingan bersama yang dikejar, yaitu keuntungan.

Pembagian Keuntungan dan Kerugian

Para mitra bebas untuk menentukan bagaimana keuntungan maatschap


akan dibagikan diantara mereka. Menurut Pasal 1633 KUHPerdata cara membagi
keuntungan dan kerugian itu sebaiknya diatur dalam perjanjian pendirian
maatschap. Bila dalam perjanjian pendirian tidak diatur maka bagian tiap sekutu
dihitung menurut perbandingan besarnya sumbangan modal yang dimasukkan
oleh masing-masing sekutu. Sekutu yang inbreng-nya hanya berupa tenaga, maka
bagian keuntungan/rugi yang diperolehnya sama dengan bagian sekutu yang
memasukkan inbreng berupa uang atau barang yang paling sedikit. Menurut pasal
1634 KUHPerdata, para sekutu tidak boleh berjanji bahwa jumlah bagian mereka
masing-masing dalam maatschap ditetapkan oleh salah seorang sekutu dari
mereka atau orang lain. Perjanjian yang demikian harus dianggap tidak ada/tidak
tertulis. Disamping itu, menurut Pasal 1635 KUHPerdata, para sekutu dilarang
memperjanjian akan memberikan keuntungan saja kepada salah seorang sekutu,
tetapi harus mencakup dua-duanya, yakni keuntungan (laba) dan kerugian. Bila
hal itu diperjanjikan juga maka hal itu dianggap batal. Namun sebaliknya, para
sekutu diperbolehkan memperjanjikan bahwa semua kerugian akan ditanggung
oleh salah seorang sekutu saja.

Keanggotaan Maatschap

Keanggotaan suatu maatschap penekanannya diletakkan pada sifat


kapasitas kepribadian (persoonlijke capaciteit) dari orang (sekutu) yang
bersangkutan. Pada asasnya maatschap terikat pada kapasitas kepribadian dari
masing-masing anggota, dan cara masuk-keluarnya ke dalam maatschap
ditentukan secara statutair (tidak bebas). Adapun sifat kapasitas kepribadian
dimaksud diutamakan, seperti: sama-sama seprofesi, ada hubungan keluarga, atau
teman karib.

KUHPerdata (Bab VIII) sendiri juga tidak melarang adanya maatschap antara
suami-istri. Meskipun tidak dilarang, maatschap yang didirikan antara suami-istri,
dimana ada kebersamaan harta kekayaan (huwelijk gemeenschap van goederen), maka
maatschap demikian tidak berarti apa-apa, sebab kalau ada kebersamaan harta
kekayaan (harta perkawinan), maka pada saat ada keuntungan untuk suami-istri itu
tidak ada bedanya, kecuali pada saat perkawinan diadakan perjanjian pemisahan
kekayaan.

Pengurusan Maatschap

Pengangkatan pengurus Maatschap dapat dilakukan dengan dua cara (Pasal 1636),
yaitu:
a. Diatur sekaligus bersama-sama dalam akta pendirian maatschap. Sekutu
maatschap ini disebut “sekutu statuter” (gerant statutaire);
b. Diatur sesudah persekutuan perdata berdiri dengan akta khusus. Sekutu
pengurus ini dinamakan “sekutu mandater” (gerant mandataire).

Perbedaan kedudukan hukum antara sekutu statuter dan sekutu mandater:

a. Menurut Pasal 1636 (2) KUHPerdata, selama berjalannya maatschap, sekutu


statuter tidak boleh diberhentikan, kecuali atas dasar alasan-alasan menurut
hukum, misalnya tidak cakap, kurang seksama (ceroboh), menderita sakit
dalam waktu lama, atau keadaan-keadaan atau peristiwa-peristiwa yang tidak
memungkinkan seorang sekutu pengurus itu melaksanakan tugasnya secara
baik.

b. Yang memberhentikan sekutu statuter ialah maatschap itu sendiri. Atas


pemberhentian itu sekutu statuter dapat minta putusan hakim tentang soal
apakah pemberhentian itu benar-benar sesuai dengan kaidah hukum. Sekutu
statuter bisa minta ganti kerugian bila pemberhentian itu dipandang tidak
beralasan.

c. Sekutu mandater kedudukannya sama dengan pemegang kuasa, jadi


kekuasaannya dapat dicabut sewaktu-waktu atau atas permintaan sendiri.

Kalau diantara para sekutu tidak ada yang dianggap cakap atau mereka tidak
merasa cakap untuk menjadi pengurus, maka para sekutu dapat menetapkan orang
luar yang cakap sebagai pengurus. Jadi, ada kemungkinan pengurus maatschap adalah
bukan sekutu. Hal ini dapat ditetapkan dalam akta pendirian maatschap atau dalam
perjanjian khusus.

Pembubaran Maatschap

Mengenai pembubaran maatschap, Pasal 1646 KUHPer mengatur bahwa suatu


maatschap hanya dapat berakhir apabila:

1 Lewatnya waktu untuk mana persekutuan telah diadakan;

2 Musnahnya barang atau diselesaikannya perbuatan yang menjadi pokok


persekutuan;

3 Atas kehendak semata-mata dari beberapa orang sekutu;

4 Jika salah seorang sekutu meninggal atau ditaruh di bawah pengampuan atau
dinyatakan pailit.

B. FIRMA

Firma (dari bahasa Belanda venootschap onder firma; secara harfiah: perserikatan
dagang antara beberapa perusahaan) atau sering juga disebut Fa, adalah sebuah
bentuk persekutuan untuk menjalankan usaha antara dua orang atau lebih dengan
memakai nama bersama. Pemiliki firma terdiri dari beberapa orang yang
bersekutu dan masing-masing anggota persekutuan menyerahkan kekayaan
pribadi sesuai yang tercantum dalam akta pendirian perusahaan.

Firma diatur pada Pasal 15 sampai dengan 35 KUHD (Kitab Undang-undang


Hukum Dagang). Pengertian Firma adalah tiap persekutuan perdata yang didirikan
untuk menjalankan perusahaan dengan memakai nama bersama atau firma.

Pendirian FIRMA

Bentuk usaha Firma diatur dalam perundangan warisan Belanda yaitu dalam Kitab
Undang-undang Hukum Dagang (“KUHD”) Bab Ketiga, Bagian Kedua, Pasal 16
s/d 35. Didalamnya Bagian Kedua tersebut juga diatur mengenai Persekutuan
Komanditer/CV yang merupakan bentuk khusus dari Firma.

Pasal 16 KUHD menerangkan pengertian Firma yaitu: tiap-tiap perserikatan yang


didirikan untuk menjalankan sesuatu perusahaan dibawah satu nama bersama.
Selanjutnya Pasal 17 KUHD menerangkan bahwa tiap-tiap pesero(sekutu) yang
tidak dikecualikan dari satu sama lain, berhak untuk bertindak untuk
mengeluarkan dan menerima uang atas nama perseroan (persekutuan), pula untuk
mengikat perseroan itu dengan pihak ketiga dan pihak ketiga dengannya. Segala
tindakan yang tidak bersangkutpaut dengan perseroan/persekutuan itu, atau yang
para pesero/sekutu tidak berhak melakukannya tidak termasuk dalam ketentuan
(kuasa yang diberikan) diatas.

Di dalam Firma, tiap-tiap pesero/sekutu secara tanggung menanggung


bertanggung jawab untuk seluruhnya atas segala perikatan dari Firma (Pasal 18
KUHD).

Langkah-langkah mendirikan Firma adalah sebagai berikut:


1. Para pihak yang berkehendak mendirikan Firma menyiapkan akta yang
didalamnya minimal memuat (Pasal 26 KUHD):

• Nama lengkap, pekerjaan, dan tempat tinggal para pendiri Firma;


• Nama Firma yang akan didirikan (termasuk juga tempat kedudukan
Firma);
• Keterangan kegiatan usaha yang akan dilakukan Firma di kemudian hari;
• Nama Sekutu yang tidak berkuasa untuk menandatangani perjanjian atas
nama Firma;
• Saat mulai dan berakhirnya Firma;
• Klausula-klausula yang berkaitan dengan hubungan antara pihak ketiga
dengan Firma

2. Akta tersebut dibuat sebagai akta otentik yang dibuat di hadapan notaris
(Pasal 22 KUHD)
3. Akta otentik tersebut selanjutnya didaftarkan pada register Kepaniteraan
Pengadilan Negeri dimana Firma berkedudukan (Pasal 23 KUHD).
4. Akta yang telah didaftarkan ke Pengadilan Negeri selanjutnya diumumkan
dalam Berita Negara.

Permodalan Firma
Pasal 1619 ayat (2) KUHPerdata menetapkan bahwa tiap-tiap sekutu dari
persekutuan perdata diwajibkan memasukan dalam kas persekutuan perdata yang
didirikan itu:
a. uang;
b. benda-benda lain apa saja yang layak bagi pemasukan
c. tenaga kerja, baik fisik maupun tenaga pikiran

Menurut keilmuan danyurisprudensi, persekutuan perdata itu belum


mencapai status badan hukum, akan tetapi menurut Arrest H.G.H tanggal 7 januari
1926, persekutuan perdata itu dinyatakan memiliki kekayaan sendiri. Putusan itu
mendasarkan diri atas pasal 1618, 1640, 1641, dan 1645 KUHPerdata, serta asas-
asas yang mendukung pasal-pasal tersebut. Kekayaan itu berdiri sendiri, terpisah
dari kekayaan pribadi sekutu masing-masing. Penyendirian harta kekayaan itu
harus ditentukan dalam perjanjian pendirian persekutuan.

Kekayaan persekutuan perdata itu terdiri dari :

a. pemasukan (inbreng) dari masing-masing sekutu.


b. penagihan-penagihan kedalam, kepada sekutu-sekutunya, yaitu bunga-bunga
dari pemasukkan yang disanggupkan, tetapi belum masukdan lain-lain;
c. pergantian kerugian kepada persekutuan dari sekutu-sekutu yang karena
kesalahannya mengakibatkan kerugian bagi persekutuan;
d. penagihan-penagihan keluar kepada pihak ketiga.

Prof. Mr. J van Kan dalam anotasinya dibawah putusan H.G.H tanggal 7
Januari 1926 tersebut diatas, mengatakan bahwa adanya kekayaan sendiri bagi
persekutuan firma sudah lama diakui dalam keilmuan dan dalam yurisprudensi,
walaupun pengakuan itu belum meluas sampai dengan pengakuan bahwa
persekutuan firma itu adalah badan hukum. Dengan adanya pengakuan terhadap
adanya kekayaan tersendiri bagi persekutuan fima itu, maka dicapailah sekaligus
dua macam tujuan:

1 Persekutuan Firma dilindungi dari penuntutan pembagian kekayaan dari


sekutu-sekutunya, sebelum semua utang persekutuan dilunasi dahulu. (arrest
H.R Tanggal 26 November 1897);
2 Dengan demikian persekutuan firma itu dilindungi terhadap penagihan-
penagihan prive dari para sekutu, karena kekayaan sendiri itu merupakan
jaminan bagi semua kreditur persekutuan bukan kreditur-kreditur para sekutu
(Pasal 1131 KUHPerdata).

Beberapa ahli dan praktisi hukum mengatakan bahwa persekutuan firma


mempunyai kekayaan sendiri. Polak berpendapat bahwa para sekutu sangat
berkepentingan agar utang-utang persekutuan dapat dipenuhi dari kas persekutuan
(gemeenschaaplijke kas). Kalau tidak demikian, tiap-tiap sekutu dapat ditagih
untuk pembayaran seuluruh utang persekutuan. Jika seorang sekutu membayar
utang-utang persekutuan tersebut, maka dia dapat minta gantirugi kepada sekutu-
sekutu lainnya.

Pembubaran Firma
Pembubaran Firma telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang terutama di
dalam Pasal 31 hingga Pasal 35, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1 Perubahan harus dinyatakan dengan data otentik;
2 Perubahan akta harus didaftarkan kepada Panitra Pengadilan Negri;
3 Perubahan akta harus diumumkan dalam berita negara;
4 Perubahan akta yang tidak diumumkan akan mengikat pihak ketiga;
5 Pemberesan oleh persero adalah pihak lain yang disepakati atau yang
ditunjuk oleh Pengadilan.
Perlu diketahui, bahwa sebab-sebab berakhimya Firma adalah sama seperti
maatschap dalam menangani utang-piutang Firma, yang diantaranya : dana Firma
yang digunakan Apabila kekayaan Firma tidak cukup, maka mitra harus memberi
kontribusi sesuai bagiannya. Bila kekayaan Firma tersisa setelah pembayaran
semua hutang-hutangnya, kekayaannya akan dibagikan diantara para mitra
menurut ketentuan perjanjian Firma (Pasal 32 Kitab Undang-Undang Hukum
Dagang).
Perlu diketahui juga, bahwa keberadaan hidup Firma tidak terjamin karena bila
ada anggota yang meninggal dunia, maka Firma bubar karena sifatnya pribadi
(personallife), maka tidak dialihkan.

C. PERSEKUTUAN KOMANDITER (CV)

Commanditaire Vennootschap atau biasa di sebut persekutuan komanditer


merupakan suatu persekutuan yang di dirikan oleh dua orang atau lebih. Sebuah
CV mempunyai dua macam sekutu :

1 Sekutu aktif biasanya disebut dengan pengurus CV adalah sekutu yang


menjalankan perusahaan dan berhak melakukan perjanjian dengan pihak
ketiga. Artinya, semua kebijakan perusahaan dijalankan oleh sekutu aktif.

2 Sekutu pasif atau biasa disebut komanditer adalah sekutu yang hanya
menyertakan modal dalam persekutuan. Apabila perusahaan rugi sekutu
komanditer bertanggung jawab hanya sebatas modal yang ditanamkan
demikian juga, apabila perusahaan untung maka uang yang mereka
memperoleh terbatas tergantung modal yang mereka berikan.

Dalam KUH Dagang tidak ada aturan tentang pendirian, pendaftaran, maupun
pengumumannya, sehingga persekutuan komanditer dapat diadakan berdasarkan
perjanjian dengan lisan atau sepakat para pihak saja (Pasal 22 KUH Dagang).

" Perseroan-perseroan firma harus didirikan dengan akta otentik, tanpa


adanya kemungkinan untuk disangkalkan terhadap pihak ketiga, bila akta itu
tidak ada. (Pasal 22 KUH Dagang) "

Dalam praktik di Indonesia untuk mendirikan persekutuan komanditer dengan


dibuatkan akta pendirian/berdasarkan akta notaris, didaftarkan di Kepaniteraan
Pengadilan Negeri yang berwenang dan diumumkan dalam Tambahan Berita
Negara RI. Hubungan perusahaan dengan pihak luar dikerjakan oleh sekutu aktif
sesuai pasal 19 KUH Dagang.

" Perseroan yang terbentuk dengan cara meminjamkan uang atau disebut
juga perseroan komanditer, didirikan antara seseorang atau antara
beberapa orang persero yang bertanggung jawab secara tanggung-renteng
untuk keseluruhannya, dan satu orang atau lebih sebagai pemberi pinjaman
uang. Suatu perseroan dapat sekaligus berwujud perseroan firma terhadap
persero-persero firma di dalamnya dan perseroan komanditer terhadap
pemberi pinjaman uang. (Pasal 19 KUH Dagang) "

Dalam pasal 16 KUH Dagang, CV merupakan persekutuan perdata yang masa


berakhirnya ditetapkan dalam pasal 1646 s/d 1652 KUH Perdata.

Pendirian CV

CV dapat didirikan dengan hanya mensyaratkan pendirian oleh 2 orang


dengan menggunakan akta notaris yang berbahasa Indonesia. Walupun dewasa ini
pendirian CV mengharuskan adanya akta notaris, namun dalam Undang-undang
Hukum Dagang dinyatakan bahwa pendirian CV tidak mutlak harus dengan akta
Notaris.

Pada waktu pendirian CV, yang harus dipersiapkan sebelum datang ke Notaris
adalah Calon nama yang akan digunakan oleh CV tersebut, tempat kedudukan dari
CV, Siapa yang akan bertindak selaku Persero aktif, dan persero diam, serta
maksud dan tujuan yang spesifik dari CV tersebut (walaupun sebenarnya bisa
mencantumkan maksdu dan tujuan yang seluas-luasnya).

Untuk menyatakan berdirinya CV sebenarnya sudah cukup dengan akta


notaris, tetapi untuk memperkokoh posisi CV tersebut, sebaiknya CV tersebut di
daftarkan pada Pengadilan negeri setempat dengan membawa kelengkapan berupa
Surat keterangan Domisili Perusahaan (SKDP) dan NPWP atas nama CV yang
bersangkutan.

Untuk CV yang ingin mengikuti tender dari pemerintah semestinya mengurus


kelengkapan dibawah ini:

1 Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP),

2 Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP)

3 Tanda daftar Perseroan (khusus CV)

4 Keanggotaan pada KADIN.

Pengurusan ijin-ijin diatas dapat dilakukan bersamaan sebagai satu rangkaian


dengan pendirian CV dimasud, dengan melampirkan berkas tambahan berupa:
Copy kartu keluarga Persero Pengurus (Direktur) CV, Copy NPWP Persero
Pengurus (Direktur) CV, dan Copy bukti pemilikan atau penggunaan tempat
usaha, dimana: apabila milik sendiri, harus dibuktikan dengan copy sertifikat dan
copy pelunasan PBB tahun terakhir, apabila sewa kepada orang lain, maka harus
dibuktikan dengan adanya perjanjian sewa menyewa, yang dilengkapi dengan
pembayaran pajak sewa (Pph) oleh pemilik tempat, dan Pas photo ukuran 3X4
sebanyak 4 lembar dengan latar belakang warna merah.

Organ Persekutuan Komanditer

Sebagaimana dijelaskan bahwa di dalam CV ini terdapat dua macam


sekutu, yaitu sekutu aktif yang di samping menanamkan modal ke dalam
perusahaan juga bertugas mengurus perusahaan dan sekutu pasif atau sekutu diam
yang hanya memasukkan modal, tetapi tidak terlibat di dalam pengurusan
perusahaan. Akibatnya, terdapat juga dua macam tanggung jawab sekutu CV.
Sekutu aktif bertanggung jawab tidak saja terbatas pada kekayaan CV, tetapi juga
kekayaan pribadi (kalau diperlukan). Di sini persis sama dengan sekutu pada
sebuah Fa. Lain halnya dengan sekutu pasif yang hanya bertanggung jawab
terbatas pada modal yang dimasukkan saja.

Misalnya, A sebagai sekutu pasif pada CV ABC memasukkan modal Rp 1


juta, maka kalau CV ABC tersebut mempunyai kewajiban terhadap pihak ketiga
(katakanlah D) sebesar Rp 10 juta, A hanya wajib menanggung sebesar modal
yang telah di investasikannya tersebut saja (yaitu Rp 1 juta). A tidak perlu
menambah uang untuk membayar sisa hutang perusahaan tersebut. Hal ini
tentunya berbeda dengan B dan C yang merupakan sekutu aktif dalam CV
tersebut, yang menyebabkan mereka bertanggung jawab tidak terbatas, baik secara
sendiri-sendiri (A atau B) maupun secara bersama-sama (A dan B). Apabila A dan
B ini masing-masing memasukan modal Rp 1 juta. Sebagai sekutu aktif mereka
masih harus mengorbankan kekayaan pribadi untuk menutupi sisa hutang
perusahaan tersebut.

Berakhir Persekutuan Komanditer

Berakhirnya Persekutuan Komanditer boleh dikatakan sama dengan


berakhirnya persekutuan Firma, yaitu dianggap bubar apabila :

1 waktu yang ditentukan untuk bekerja telah lampau,

2 barang musnah atau usaha yang menjadi tugas pokok selesai

3 seorang atau lebih anggota mengundurkan diri atau meninggal dunia,

Dalam prakteknya, pengunduran diri seorang anggota tidak selalu


membuat persekutuan komanditer menjadi bubar. Sering kita lihat bahwa seorang
anggota persekutuan komanditer yang mundur digantikan oleh orang lain dengan
tetap mempertahankan persekutuan yang ada.

Pasal 31 KUHD mengatur bahwa pembubaran persekutuan (firma ataupun


komanditer) sebelum waktu yang ditentukan (karena pengunduran diri atau
pemberhentian) harus dilakukan dengan suatu akte otentik, didaftarkan pada
Pengadilan Negeri, dan diumumkan dalam Berita Negara. Apabila hal ini tidak
dilakukan maka persekutuan tetap dianggap ada terhadap pihak ketiga.

Pasal 32 KUHD mengatur cara penyelesaian pembubaran, yaitu dilakukan


atas nama perseroan oleh anggota-anggota yang telah mengurus perseroan, kecuali
apabila ditunjuk orang lain dalam akte pendirian atau persetujuan kemudian, atau
semua pesero (berdasarkan suara terbanyak) mengangkat seseorang untuk
menyelesaikan pembubaran. KUHD tidak mengatur tugas-tugas mereka, hal itu
diserahkan kepada para pesero. Pasal 1802 KUHPer mengatur bahwa orang yang
ditunjuk untuk menyelesaikan pembubaran harus mempertanggung jawabkan
segala usaha dan hasil-hasilnya kepada para pesero dan berkewajiban mengganti
kerugian apabila perseroan menderita kerugian karena perbuatannya. Setelah
urusan dengan orang yang ditugaskan ini selesai, maka pembagian kepada para
pesero dapat dilakukan.

Selama proses pembubaran, persekutuan masih berjalan sehingga proses


likuidasi benar-benar selesai. Kelebihan dari likuidasi adalah laba, dan apabila
terjadi kekurangan maka itu adalah kerugian. Apabila suatu persekutuan
komanditer jatuh pailit, maka seluruh anggotanya pun jatuh pailit karena hutang-
hutang persekutuan juga menjadi hutang-hutang mereka yang harus ditannggung
sampai dengan kekayaan pribadi, kecuali untuk pesero komanditer, di mana ia
hanya menanggung sebatas modal yang telah disetornya.