Anda di halaman 1dari 8

SuaraMerdeka 01.10.2001 11.

52
Hidayat Nur Wahid:
Seruan Jihad Hanya 'Warning'
SuaraMerdeka-Jakarta, Seruan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan berbagai
pihak untuk berjihad membantu Afghanistan seandainya diserang Amerika Serikat
(AS), hanyalah warning agar negara adidaya itu mengurungkan niatnya untuk
menggempur Afghanistan. Begitu pula dengan adanya aksi sweeping dan
pendaftaran sukarelawan jihad.
"Semua itu hanya warning dari kawan-kawan sebagai respon atas teror
Amerika terhadap rakyat Afghanistan. Kalau Amerika membuktikan ancamannya
ya jihad itu juga direalisasikan, tapi kalau Amerika membatalkan rencana
serangannya, ya tidak ada perintah jihad atau pengiriman sukarelawan jihad ke
sana," tutur Presiden Partai Keadilan (PK), Dr Hidayat Nur Wahid kepada
SM CyberNews, di kantor DPP PK, Jl Mampang Prapatan, Jakarta, Senin (1/10).
Hidayat menilai AS selama ini selalu memakai "bahasa kekerasan" lewat
ancaman perang, teror lewat media dan sebagainya. Akibatnya, umat Islam juga
bertindak sama agar AS mengurungkan rencananya menyerang Afghanistan.
"Jadi adanya aksi sweeping warga Amerika, seruan jihad atau pendaftaran
sukarelawan, itu bahasa yang dianggap paling dimengerti Amerika, sehingga
tidak arogan dan seenaknya menuduh dan menyerang negara lain," jelas dosen
pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Soal seruan jihad MUI, Hidayat mengharapkan hal itu tidak dimaknai sempit.
Seperti dikemukakan Sekjen MUI Prof Dr Dien Syamsudin, seruan jihad MUI
merupakan seruan bersyarat, yakni apabila AS menyerang Afghanistan.
Sedangkan jihad yang dimaksud maknanya luas, tidak hanya jihad fisik, tapi juga
dana dan doa. "Seruan tersebut bukan saja seruan keagaaman, tapi justru
mengandung seruan solidaritas kemanusiaan," tandasnya.
Dia berharap AS tidak mengarahkan tuduhan hanya pada Usamah bin Ladin.
AS semestinya bekerja secara profesional dalam mengusut pelaku peledakan
gedung World Trade Centre (WTC) dan gedung pertahanan Pentagon, 11
September 2001 lalu. "Bukannya menuduh secara sepihak, apalagi sampai
berdampak penyerangan," ujarnya.
Presiden PK juga mengaku sedih melihat jutaan warga Afghanistan yang
terpaksa mengungsi akibat teror ancaman serangan AS ke negara itu. "Kita
berharap Amerika segera menghentikan terornya. Kalau Amerika merasa gelisah
dan dirugikan oleh teror umat Islam yang sama sekali tidak membawa korban,
mengapa dia tidak gelisah melihat jutaan orang menjadi korban akibat terornya
kepada rakyat Afghanistan," demikian Hidayat. (cn05)

Pimpinan MPR dan MUI Sepakat Serukan Jihad,


Jika AS Serang Afghanistan
Tgl. publikasi: 1/10/2001 14:12 WIB

eramuslim, Jakarta - Pimpinan MPR sepakat dengan seruan MUI bersama ormas-
ormas Islam, agar tidak ikut terhadap kepentingan-kepentingan AS. Karena saat
ini AS tidak bersahabat dengan dunia Islam. Pendapat itu disampaikan Ketua MPR
Amien Rais kepada wartawan usai menerima rombongan MUI, Senin (01/10), di
ruang kerjanya.

"Saya setuju dengan seruan MUI bersama-sama Ormas Islam, agar pemerintah
Indonesia tidak larut dengan kepentingan-kepentingan AS," cetus Amien Rais.

Berkaitan penegasan MUI yang menyerukan jihad bagi Afgnistan, Amien menilai
seruan itu sifatnya masih umum. "Artinya menyangkut segala bidang kehidupan.
Dalam kondisi damai, jihad itu bisa dilakukan dalam bidang pendidikan, teknologi,
dan lain-lain," seru Amien.

Lebih lanjut Amien menjelaskan, jihad dalam arti perang suci harus dilihat
kondisinya. "Kita tidak boleh gegabah dalam hal ini. Kita harus wait and see,"
tutur Ketua Umum PAN Itu.

MUI dan MPR sepakat serukan jihad apabila AS jadi menyerang Afghanistan.
Terutama bila serangan AS mengenai warga sipil. Padahal tuduhan pada Osama
sampai saat ini tidak terbukti. (stn/sdn)

PeKaOnline 26.09.2001 05:48


AS, Polisi Yang Sering Melanggar
oleh Iko Musmulyadi

PeKa Online-Jakarta, Apa jadinya kalau aturan lalu lintas yang ada di jalan raya justru
dilanggar oleh bapak-bapak polisi sebagai pembuat peraturan tersebut. Kelihatannya
rambu-rambu yang dibuat itu memang hanya diperuntukan bagi para pengguna jalan,
tapi tidak untuk polisi. Meski bukan sebagai bentuk pelanggaran, misalnya mobil polisi
parkir di sembarang tempat, motor polisi masuk jalan tol, dan lain-lain. Bagi orang awam
ada penilaian, ternyata polisi sendiri tidak memberikan contoh yang baik.
Tamsil itu sepertinya pas buat negeri Paman Sam yang saat ini masih dirundung duka
pasca tragedi WTC. Di satu sisi AS menyuarakan diri sebagai polisi dunia. Di sisi lain ia
juga tampil sebagai pihak yang mudah saja melakukan pelanggaran terhadap hal-hal
yang sudah disepakati negara-negara di dunia.
Sedikit saja dalam catatan kita, seperti keengganan Amerika melaksanakan hasil-
hasil kesepakatan dua kontrak politik berskala mondial soal pertahanan dan lingkungan
hidup. Pertama, perjanjian Traktat ABM (Anti Ballistic Missile) tahun 1972. Intinya,
negara-negara yang terlibat dalam kontrak itu setuju tidak membangun sistem
pertahanan antirudal nasional dan sistem sejenis di negaranya masing-masing. Tujuan
kesepakatan ini adalah membuat masing-masing pihak tak dirangsang untuk melakukan
serangan pertama. Karena ia tahu, pembalasan musuh akan menghancurkan dirinya.
Bagi kita yang mengikuti perkembangan politik luar negeri Amerika, semasa
pemerintahan Bill Clinton, bahkan dipromosikan oleh pemerintahan Presiden George W
Bush muncul political will membangun satu sistem pertahanan yang jelas-jelas tidak
diinginkan oleh banyak negara didunia. Traktat ABM oleh Bush dianggap sudah
ketinggalan zaman.
Dalam konferensi pers 12 Juni 2001 lalu, pemimpin AS ini bersama PM Spanyol Jose
Maria Aznar, di Madrid menyatakan bahwa Traktat ABM adalah peninggalan (relic) masa
lalu. Ia mencegah rakyat yang cinta kebebasan menjelajahi masa depan. Meski negara-
negara lain tidak bisa menerima rencana pertahanan tersebut Presiden seakan tidak
menghiraukan dan terus berjalan sendiri.
Kedua, pelanggaran AS terhadap Protokol Kyoto dengan tidak mau mengurangi
emisi gas-gas Rumah Kaca khususnya karbondioksida, yang diyakini berperan besar
dalam terjadinya pemanasan global. Dengan entengnya, Bush menegaskan bahwa
pemerintahannya tetap terikat (comitted) untuk mengurangi gas-gas Rumah Kaca di AS.
Bagi negara-negara lain tidak akan ada gunanya Protokol Kyoto kalau ternyata negara
penyumbang emisi gas terbesar mengambur-hamburkan gasnya ke atmosfer dunia.
Mereka mendesak Bush agar mengubah pikirannya dan kembali pada Traktat Kyoto
untuk urusan pemanasan global. Lagi-lagi teguran itu tidak memberikan dampak yang
berarti bagi perubahan sikap Bush.
Terkait dengan tragedi WTC beberapa pekan silam, saya terhenyak membaca judul :
"AMERIKA BERHAK DIDUKUNG", di sebuah media ibukota tulisan seorang aktivis LSM.
Walau secara implisit dinyatakan ia mendukung tindakan Amerika memerangi terorisme,
namun isinya memberi kesan dukungan moral perang terhadap Afganistan (Umat Islam).
Sejauh yang kita baca di berbagai media massa soal aksi fantastis meruntuhkan
gedung kembar WTC, kecaman dan kutukan seolah menjadi pendapat umum penduduk
dunia. Kupasan yang sepotong-potong akan berdampak luas kepada masyarakat dunia
ihwal peran dan permainan Amerika yang sering bersikap ambivalensi dalam
menyelesaikan pertikaian antar negara di dunia. Ada kesan dan nyata-nyata disengaja,
media membawa emosi publik bersimpati terhadap AS, untuk bersama perang melawan
pihak yang disebutnya teroris. Mudah ditebak siapa teroris yang dimaksud. Dalam
kamus Amerika, tidak ada pengertian teroris kecuali Islam.
Melihat tayangan live misalnya, saat Boeing 767 perlahan mendekati gedung WTC
kemudian menancap dan bersarang di leher gedung itu, seketika pesawat meledak
menghamburkan bola api raksasa dan kepulan asap hitam. Tak lama kemudian si burung
besi dan gedung jangkung itu ditarik gravitasi bumi akhirnya rata dengan tanah. Tak
habis sampai disitu, tragedi itu menyisakan cerita getir keluarga korban yang dimuat di
sejumlah harian ibukota.
Kita memang sedang digiring untuk turut menganggap peristiwa itu sebagai aksi
biadab serta tidak berperikemanusiaan. Tetapi, tidak ada kutukan dan hanya sedikit
kecaman ketika si polisi dunia itu membombardir Irak, membiarkan etnic cleansing di
Bosnia tahun silam dan yang hingga detik ini berlangsung memberi kelapangan bagi
Israel menduduki Palestina. Sangat kontras.
Walau sejumlah kepala negara menyatakan kesediaanya menawarkan jasa untuk
menumpas teroris, namun sebagian diantara negara Eropa itu sebenarnya pernah
dikecewakan oleh Amerika. Tak pelak tentu muncul sedikit perasaan lega dalam diri
kepala negara yang pernah dikecewakan, meski tidak nampak secara eksplisit. Perlu
diketahui, dalam tata pergaulan dunia, bagi negara lain dengan klaimnya sebagai polisi
dunia Amerika dikenal sebagai negara yang gemar melanggar perjanjian, susah diberi
nasehat, sok kuasa, merasa paling benar dengan kekuasaan privilese-nya.
Jadi untuk apa mendukung AS ?
• penulis adalah Staf Bidang Kebijakan Publik DPP PK

PeKaOnline 15.09.2001 05:32


Menuju Sistem Ekonomi Islam (4):
Persaudaraan dan Keadilan Universal
oleh : H. Syamsul Balda, SE, MM, MBA, MSc.

PeKa Online-Jakarta, Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari


seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian menjadikan kamu berbangsa-
bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia
diantaramu di mata Allah adalah dia yang paling taqwa diantaramu. Sungguh, Allah Maha
Tahu lagi Maha Mengenal (segala sesuatu)" (QS. 49:13).
"Tuhanmu adalah Satu. Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam dibuat dari tanah.
Tidak ada kelebihan seorang Arab dari yang bukan Arab, tidak pula seorang kulit putih
atas seorang kulit hitam kecuali taqwa" (HR. Tabarani, dalam Majma' al-Zawa'id, 8:84).
Islam bertujuan membentuk suatu tertib sosial dimana semua orang diikat dengan
tali persaudaraan dan kasih sayang, seperti anggota-anggota satu keluarga yang
diciptakan oleh Allah SWT dari sepasang manusia. Persaudaraan ini adalah universal dan
tidak picik. Ia tidak dibatasi oleh batas-batas geografis maupun demografis, tetapi
meliputi seluruh umat manusia, bukan hanya satu kelompok keluarga, suku atau ras.
Qur'an menegaskan: "Katakanlah: Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan
Allah kepadamu semuanya" (QS. 7:158).
Konsekuensi yang wajar dari konsep persaudaraan universal ini adalah kerjasama
dan tolong menolong, khususnya diantara sesama kaum Muslimin. Dengan demikian,
kaum muslimin disamping dipersatukan satu sama lain oleh asal usul yang sama, juga
lebih khusus lagi dipersatukan oleh ikatan persamaan ideologi, yang disifatkan Al-Qur'an
sebagai "saudara-saudara seiman" (QS.9:11), "yang saling berkasih sayang diantara
mereka" (QS.48:29).
Nabi SAW menekankan: "Umat manusia adalah keluarga Allah dan yang paling
tercinta di mata-Nya adalah yang paling baik kepada keluarga-Nya" (HR. Baihaqi,
Misykat, 2:613).
"Berlaku baiklah kamu kepada mereka yang ada di bumi, niscaya Dia yang ada di
langit akan berlaku baik kepadamu" (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
"Kamu lihat orang-orang beriman itu, yang saling mengasihi, mencintai dan berlaku
baik diantara sesamanya, mereka adalah laksana satu tubuh: bila satu bagian merasa
sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam panas" (HR.
Bukhari, dalam Shahih-nya, 8:12; dan Muslim, dalam Shahih-nya, 4:1999).
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya: tak layak ia menzhaliminya,
tidak menolongnya, ataupun menghinanya" (HR. Muslim, dalam Shahih-nya, 4:1986).
Berhubungan erat dan tak terpisahkan dari konsep persaudaraan ini adalah
penekanan yang diberikan Islam pada keadilan. Hal ini tegas dinyatakan Al-Qur'an untuk
ditegakkan di muka bumi sebagai salah satu tujuan utama ajaran Rasul-Rasul Allah,
terutama Muhammad SAW (QS. 57:25). Iman yang tercampur dengan ketidakadilan,
tidak diakui Allah sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur'an: "Mereka yang beriman dan
tidak mencampur iman mereka dengan ketidak-adilan, bagi mereka adalah kedamaian,
dan merekalah orang-orang yang mendapat bimbingan yang benar" (QS. 6:83).
Karena itu kaum Muslimin tidak hanya diseru tapi juga didesak terus menerus oleh
Qur'an untuk menegakkan keadilan: "Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan" (QS.
16:90), dan "apabila kamu mengadili manusia, adililah dengan adil" (QS. 3:58).
Keadilan menempati kedudukan yang sangat penting dalam Islam, sehingga berlaku
adil dianggap sebagai persyaratan untuk bisa disebut saleh dan bertaqwa kepada Allah,
yaitu ciri pokok seorang Muslim. Berkata Qur'an:"Wahai orang-orang beriman! Jadilah
penegak-penegak kesaksian yang adil karena Allah, dan janganlah kebencianmu kepada
suatu golongan, menjadikanmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Itu lebih dekat kepada
taqwa. Bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Tahu akan apa yang kamu
lakukan" (QS. 5:8).
Lebih-lebih lagi, keadilan harus diikuti walaupun merugikan kepentingan diri sendiri
atau kepentingan orang-orang yang hubungannya dekat dengan kita. "Dan bila kamu
berbicara, berbicaralah dengan adil, walaupun menyangkut seorang sanak keluarga" (QS.
6:152), dan "Jadilah penegak-penegak keadilan, sebagai saksi-saksi bagi Allah, walaupun
hal itu merugikan dirimu sendiri, orang tuamu, atau orang-orang yang dekat denganmu,
baik mereka yang kaya ataupun miskin, karena Allah mampu melindungi kedua-duanya,
Janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu, agar kamu tidak menyimpang (dari keadilan).
Dan bila kamu menyimpang (dari keadilan) atau menolak untuk bertindak adil, maka
ingatlah bahwa Allah mengetahui benar-benar apa yang kamu kerjakan" (QS. 4:135).
Implikasi-implikasi keadilan dalam Islam akan lebih jelas terlihat dalam uraian berikut
tentang keadilan sosial dan ekonomi.
a. Keadilan sosial
Karena Islam memandang umat manusia sebagai satu keluarga, maka setiap
manusia adalah sama derajatnya di mata Allah dan di depan hukum yang diwahyukan-
Nya. Tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, antara yang berpangkat tinggi
dan yang berpangkat rendah, antara kulit putih dengan kulit hitam. Tidak boleh ada
diskriminasi karena perbedaan ras, warna kulit atau kedudukan di masyarakat.
Satu-satunya kriteria nilai diri seseorang adalah akhlaknya, kemampuan dan
pengabdiannya kepada kemanusiaan. Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupamu atau kekayaanmu, tetapi kepada
hati dan perbuatanmu" (HR. Muslim, dalam Shahih-nya, 4:1987).
"Orang yang paling mulia diantaramu adalah yang paling baik budi pekertinya" (HR.
Bukhari, dalam Shahih-nya, 8:15).
Untuk lebih menekankan lagi, Nabi memperingatkan akan malapetaka yang akan
terjadi, akibat diskriminasi perseorangan atau antara bangsa di muka hukum.
"Umat-umat sebelum kamu telah tersesat karena apabila ada golongan yang
berkedudukan tinggi diantara mereka melakukan pencurian, maka dibebaskan; tetapi
golongan rendah yang mencuri, maka hukum dipaksakan atas mereka. Demi Allah,
seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, pasti akan kupotong tangannya" (HR.
Bukhari, dalam Shahih-nya, 8:199).
"Barangsiapa menghina seorang Muslim, laki-laki atau perempuan, karena
kemiskinan atau kekurang mampuannya, maka Allah akan menghinanya pada Hari
Pengadilan" (Musnad, Imam Ali Ar-Ridha, hal.474).
Umar bin Khathab, Khalifah kedua, menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy'ari, salah
seorang Gubernurnya, dan memerintahkannya: "Perlakukanlah setiap orang yang berada
di hadapanmu sama hormatnya, agar orang yang lemah tidak berputus asa akan
keadilanmu, dan yang berpangkat tidak mengharap keuntungan yang tidak menjadi
haknya". Semangat keadilan sosial ini betul-betul meresap di kalangan masyarakat Islam
selama masa pemerintahan empat Khalifah yang pertama. Pada masa-masa sesudahnya
juga masih terlihat, walaupun agak menurun.
Simaklah apa yang ditulis oleh seorang ahli hukum termasyhur, Abu Yusuf, kepada
Khalifah Harun Al-Rasyid: "Perlakukanlah semua orang dengan sama tanpa memandang
apakah mereka dekat hubungannya denganmu atau jauh. Dan bahwa kesejahteraan
rakyatmu tergantung pada tegaknya hukum Allah dan terberantasnya ketidak-adilan!"
(Abu Yusuf, dalam kitab Al-Kharaj, hal.4 dan 6).
b. Keadilan ekonomi
Konsep persaudaraan dan perlakuan yang sama terhadap seluruh anggota
masyarakat di muka hukum tidaklah berarti apa-apa, kalau tidak disertai dengan
keadilan ekonomi yang memungkinkan setiap orang memperoleh hak atas
sumbangannya terhadap masyarakat atau terhadap produksi sosial. Agar tidak ada
eksploitasi terhadap seseorang oleh orang lain, Al-Qur'an mendesak kaum Muslimin
untuk "tidak menahan hak orang lain" (QS. 26:183).
Disini diisyaratkan bahwa setiap orang harus memperoleh apa yang benar-benar
menjadi haknya, bukan dengan merampas hak orang lain. Nabi dengan tepat sekali telah
memperingatkan: "Hati-hatilah dengan ketidakadilan, karena ketidakadilan akan
mendatangkan kegelapan pada Hari Pengadilan". Nabi memberi peringatan terhadap
ketidakadilan dan eksploitasi ini adalah untuk melindungi hak-hak anggota masyarakat
(baik para konsumen maupun produsen serta distributor, baik buruh maupun majikan)
dan untuk memajukan kesejahteraan umum, yang merupakan tujuan utama Islam.
Hal yang sangat penting dalam keadilan ekonomi adalah hubungan antara majikan
dan buruh, antara direktur dengan karyawan, yang oleh Islam ditempatkan pada tempat
yang selayaknya dan diberi norma-norma khusus sebagai pedoman untuk
memperlakukan kedua belah pihak sebagaimana mestinya. Juga untuk menciptakan
keadilan diantara mereka. Seorang buruh atau karyawan berhak menerima upah yang
"adil" atas hasil pekerjaannya dan tidaklah halal bagi seorang majikan Muslim untuk
memeras tenaga dan potensi buruhnya.
Nabi menyatakan bahwa "ada tiga jenis orang yang pasti akan menghadapi balasan
kemurkaan Allah pada Hari Pengadilan, yaitu: Seorang yang mati tanpa memenuhi janji-
janjinya kepada Allah, seorang yang menjual orang yang merdeka dan memakan hasil
penjualannya tersebut, dan seorang yang mempekerjakan buruh atau karyawannya yang
memberikan hasil/keuntungan kepadanya tetapi tidak membayar upah yang layak
kepada buruh tersebut" (HR. Bukhari, dalam Shahih-nya, 3:112). Dengan menempatkan
eksploitasi terhadap buruh/karyawan sejajar dengan memperbudak seorang yang
merdeka, hadits tersebut menyatakan betapa Islam sangat membenci eksploitasi
terhadap kaum buruh.
Batasan upah yang "adil" dan apa yang disebut "eksploitasi" terhadap kaum buruh
haruslah ditentukan berdasarkan keterangan-keterangan dari ajaran Qur'an dan Sunnah.
Islam tidak mengakui kontribusi produksi yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi
selain kerja buruh, dan karena itu konsep eksploitasi buruh dalam Islam tidak punya
sangkut paut dengan konsep 'nilai lebih' (surplus value) yang digagas oleh Marx.
Secara teoritis dapat diajukan bahwa upah yang "adil" haruslah upah yang senilai
dengan nilai kontribusi terhadap produksi yang diberikan oleh buruh. Tetapi batasan ini
sulit ditentukan dan tidak memiliki nilai aplikatif yang cukup dalam pengaturan upah.
Akan tetapi ada sejumlah hadits yang darinya dapat disimpulkan secara kuantitatif
tingkat upah "minimum" dan "adil".
Menurut Nabi saw: "Seorang buruh/karyawan (laki-laki atau perempuan) berhak,
paling sedikit, memperoleh makanan dan pakaian yang baik dengan ukuran layak, dan
tidak dibebani dengan pekerjaan yang diluar batas kemampuannya" (HR. Malik,
Muwaththa', 2:980).
Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa upah "minimum" haruslah upah yang
memungkinkan seorang buruh/karyawan untuk memperoleh makanan dan pakaian yang
baik dan layak dalam jumlah yang cukup untuk dirinya dan keluarganya tanpa harus
bekerja terlalu keras (diforsir). Ukuran ini dipandang oleh sahabat-sahabat Nabi sebagai
ukuran minimum untuk mempertahankan standar spiritual masyarakat Islam.
Utsman bin Affan, Khalifah ketiga, telah menyatakan:
"Janganlah kamu bebani buruh perempuan (karyawati) diluar batas kemampuan/
kekuatannya dalam usahanya mencari penghidupan, karena bila kau lakukan itu
terhadapnya, ia mungkin akan melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan
dengan moral; dan janganlah kamu bebani bawahanmu yang laki-laki dengan tugas yang
diluar batas kemampuannya, karena bila kau lakukan itu terhadapnya, mungkin ia akan
melakukan pencurian (korupsi). Berlakulah penuh pertimbangan terhadap pegawai-
pegawaimu, niscaya Allah akan berlaku penuh pertimbangan terhadapmu. Wajib bagimu
untuk memberi mereka makanan yang baik dan halal" (HR. Malik, Muwaththa', 2:981).
Demikian pula upah yang "ideal", yakni upah yang memungkinkan seorang
pegawai memperoleh makanan dan pakaian yang sama dengan yang bisa
diperoleh majikannya. Hal tersebut merupakan kesimpulan dari hadits berikut ini:
"Pegawai-pegawaimu adalah saudara-saudaramu yang telah dijadikan Allah sebagai
bawahan-bawahanmu. Karena itu barangsiapa yang mempunyai saudara yang menjadi
bawahannya, maka hendaklah ia memberi makanan dengan apa yang dimakannya
sendiri dan memberinya pakaian dengan apa yang dipakainya sendiri......." (HR. Bukhari,
dalam Shahih-nya, 1:16; 3:185; juga Muslim, dalam Shahih-nya, 3:1283).
Karena itu, upah yang "adil" tidak bisa berada dibawah upah "minimum". Tentu saja,
tingkat upah "adil" yang sangat baik adalah yang mendekati upah "ideal" agar dapat
meminimalkan perbedaan 'income' dan menjembatani jurang antara tingkat hidup
majikan dan buruh yang cenderung menciptakan dua kelas masyarakat yang berbeda:
kelompok the haves dan the haves not. Kondisi demikian akan melemahkan ikatan
persaudaraan yang merupakan sifat yang mendasar dari suatu masyarakat Islam yang
sejati. Diantara kedua batas upah tersebut -upah minimum dan upah ideal- maka tingkat
upah yang aktual akan ditentukan oleh interaksi persediaan dan permintaan (supply dan
demand), tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat kesadaran moral masyarakat Islam
yang bersangkutan, dan tingkat peranan yang dimainkan oleh negara.
Disamping diberi upah, sedikit-dikitnya upah minimum dan sebaik-baiknya upah
ideal, maka Islam menuntut agar buruh tidak dipekerjakan terlampau berat, atau dalam
kondisi yang buruk, sehingga kesehatan mereka, atau kesempatan mereka untuk
menikmati penghasilannya dan menjalani kehidupan rumah tangganya tidak terganggu.
Apabila mereka disuruh mengerjakan suatu pekerjaan yang diluar batas kemampuan
mereka, maka hendaklah mereka diperlengkapi dengan bantuan yang cukup untuk
memungkinkan mereka mengerjakan pekerjaan tersebut tanpa kesukaran. Dalam hadits
yang dikutip di atas, Rasulullah menasehatkan para majikan untuk memandang buruh-
buruhnya sebagai saudara.
Sabda Rasulullah SAW: "........dan janganlah kamu bebani mereka dengan pekerjaan
yang diluar batas kemampuan mereka. Bila kamu lakukan hal itu, maka bantulah
mereka" (HR. Bukhari, Ibid). Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa penetapan jumlah
hari dan jam kerja maksimum, kondisi-kondisi kerja yang layak, dan pengambilan
langkah-langkah penjagaan terhadap akibat resiko pekerjaan yang dijalani haruslah
sesuai dengan semangat ajaran-ajaran Islam.
Sementara hal-hal tersebut di atas merupakan perlakuan yang diharapkan dari pihak
majikan terhadap buruhnya, maka karena komitmennya pada keadilan, Islam juga
melindungi kepentingan majikan dengan memberikan kewajiban-kewajiban moral
tertentu kepada pihak buruh/karyawan. Kewajiban buruh yang pertama adalah
mengerjakan pekerjaannya dengan jujur, teliti, rajin dan dengan kecermatan
yang tinggi.
Nabi mengajarkan: "Allah telah mewajibkan kepadamu semua untuk bekerja dengan
baik" (HR. Muslim, dalah Shahih-nya, 3:1548), dan bahwa "Allah suka apabila seseorang
diantaramu mengerjakan sesuatu pekerjaan, ia mengerjakannya dengan sempurna" (HR.
Baihaqi, dalam Syu'ab al-Iman, Syuyuti, 1:75). Tak perlu dipersoalkan lagi bahwa
keadilan sosial ekonomi -yang jelas-jelas ditekankan Islam- menuntut pelaksanaan yang
efisien dari fungsi yang telah ditetapkan bagi seseorang.
Pada kesempatan lain Nabi saw bersabda: Seorang buruh/karyawan yang tinggi
pengabdiannya kepada Allah dan juga melaksanakan kewajibannya terhadap majikannya
yang menyangkut tugas, kejujuran dan kepatuhan terhadapnya, akan mendapat pahala
dua kali lipat (dari Allah)" (HR. Bukhari, dalam Shahih-nya, 3:186).
Kewajiban kedua bagi seorang buruh adalah berlaku jujur dan bisa
dipercaya. Qur'an mengatakan bahwa pekerja yang paling baik adalah yang kuat
(mampu) dan jujur (QS. 28:26). Nabi SAW juga mengingatkan: "Barangsiapa yang telah
kami serahi suatu pekerjaan dan telah kami sediakan (cukupkan) nafkahnya, maka apa
yang diperolehnya diluar itu adalah haram!" (HR. Abu Dawud, dalam Sunan-nya, 2:121).
Jadi, bila Islam membebankan sejumlah kewajiban-kewajiban terhadap pihak majikan,
ia juga menuntut pihak buruh/pekerja untuk bekerja dengan teliti dan rajin, berlaku jujur
dan bisa dipercaya. Tujuannya adalah memberikan keadilan bagi kedua belah pihak
dalam setiap hubungan ekonomi. Hanya dengan keserasian seperti inilah (yang
mengatur tanggung jawab kedua belah pihak dan menekankan kerja sama dan
pemenuhan kewajiban masing-masing dengan cermat, dalam suasana persaudaraan,
keadilan, dan memegang teguh nilai-nilai moral) yang akan dapat melenyapkan konflik
dan perpecahan antara buruh dan majikan, dan terciptanya kesehatan dan kedamaian
iklim industri. (bersambung )

PeKaOnline 01.10.2001 05:22


Kematian Dan Alam Kubur
oleh Cecep Y. Pramana

PeKa Online-Jakarta, Meski telah meninggalkan jasad, ruh masih dapat merasakan
kepedihan atau kebahagiaan. Menurut Al-Ghazali, hakikat dari kematian itu adalah jasad
tidak lagi efektif terhadap keberadaan ruh. Semua anggota badan ( telinga, hidung,
tangan, mata dan hati/kalbu ) sesungguhnya merupakan alat-alat yang digunakan ruh
untuk melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu. Sedangkan perasaan gembira,
senang, bahagia, duka dan nestapa adalah bagian yang terkait dengan ruh itu sendiri.
Kematian sama dengan hilangnya segala kemampuan yang timbul sebagai sebab
akibat keterkaitan ruh dengan anggota-anggota tubuh. Lenyapnya kemampuan anggota
tubuh itu seiring dengan matinya jasad, hingga tiba saatnya nanti ruh dikembalikan
(baca: difungsikan) kepada jasadnya. Seringkali kita mendengar bahwa ruh akan
dipersatukan kembali dengan jasad (baca: manusia dibangkitkan kembali) hingga
datangnya hari kiamat kelak bukan ?
Logikanya, menurut Al Ghazali dapat dipersamakan dengan hilangnya fungsi salah
satu anggota badan disebabkan karena telah rusak atau hancurnya anggota badan itu.
Urat-urat yang berada dalam anggota tubuh itu tidak dapat dialiri lagi oleh ruh. Jadi ruh
yang memiliki daya pengetahuan, berfikir dan merasa itu tetap ada dan memfungsikan
sebagian anggota tubuh lain namun tak mampu memfungsikan sebagian yang lain.
Jadi kematian tak berarti musnahnya ruh atau hilangnya daya cerna ruh. Bukti
tentang ini dapat direnungi pada kematian para syuhada dalam surat Ali Imran ayat 169 :
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan
mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki ".
Kematian dapat pula berarti kekalnya kebahagiaan atau kesengsaraan. Rasulullah
SAW bersabda: "Kuburan itu dapat menjadi salah satu jurang neraka atau syurga" (HR
Tarmidzi). Penjelasannya dilanjutkan kembali oleh Rasulullah dalam sabdanya yang lain:
"Jika salah seorang dari kalian mati, pagi dan petang akan diperlihatkan kedudukannya
(kelak). Jika ia termasuk penghuni syurga maka tempat duduknya di tempatkan di surga,
dan jika ia termasuk penghuni neraka maka tempatnya di neraka. Dan kepada mereka
dikatakan,"Inilah tempat kalian hingga tiba saatnya dibangkitkan untuk menemui Dia
pada hari kebangkitan." (HR Bukhari).
Tentang kondisi alam kubur digambarkan oleh Al-Ghazali mengutip beberapa ulama
salaf (seperti 'Ubaid bin 'Umair Al-Laitsi, Muhammad bin Shabih, Yazid Al-Ruqasyi, dan
Ka'b (Al-Ahbar) lebih mencekam lagi. Bahwa ruh orang yang telah berada dalam alam
lain itu dapat mendengar perkataan ruh lain, bahkan orang yang masih hidup. Hal itu
pernah dibuktikan oleh Rasulullah SAW saat beliau bertanya tentang janji Allah, kepada
jawara-jawara Quraisy yang tewas terbunuh dalam perang Badar.
Usai bertanya tersebut, Beliau ditanya oleh para sahabat: "Wahai Rasulullah ! Apakah
engkau berseru kepada mereka, sedangkan mereka sudah mati ?". Beliau menjawab:
"Demi Allah yang jiwaku berada ditanganNya, mereka mendengar kata-kataku lebih jelas
daripada kalian. Hanya saja mereka tak mampu menjawab."
Dari Muhammad bin Shabih pernah diriwayatkan pula, jenazah yang telah diletakkan
di liang lahat/kubur akan disapa oleh sesama ahli kubur tetangganya seraya
melemparkan beberapa pertanyaan berikut: "Wahai orang yang telah meninggalkan
sanak saudara dan handai taulan, tidak pernahkah engkau belajar dari kami ? Pernahkah
terlintas engkau akan seperti kami ? Tidakkah engkau melihat bahwa kami tak bisa lagi
beramal sedangkan engkau pernah memiliki kesempatan ? dan sebagainya.
Mengingat maut = Memproduktifkan hidup
Jika ada manusia tidak pernah tergugah dengan kematian manusia lain, maka dapat
dikatakan orang itu masuk golongan "Mandom" alias manusia domba. Layaknya domba
di Iedul Qurban. Lahap memakan rumput tanpa henti sambil menatap kawan-kawannya
disembelih, sementara ia adalah giliran berikutnya.
Analoginya, manusia golongan ini dapat dikatakan sebagai orang bodoh yang telah
mensia-siakan modal hidup dan menghamburkannya dengan sia-sia. Semakin banyak
kesia-siaan yang dilakukan maka tingkat kebodohannya semakin tinggi. Sebaliknya,
orang yang paling cerdas adalah orang yang paling sering mengingat ajal dan paling
banyak mempersiapkan diri menghadapi maut.
Khusnul khotimah adalah suatu karunia Allah SWT yang khusus diberikan kepada
manusia. Karena itu slogan nyeleneh: "muda berfoya-foya, tua kaya-raya, mati masuk
syurga" tak berlaku dalam konteks ini. Khusnul khotimah merupakan hadiah bagi
manusia atas upayanya yang sungguh-sungguh menjalankan tugas hidup (baca:
beribadah dengan benar dan mengimplementasikan amar ma'ruf nahi munkar) di dunia
ini. Seperti mahasiswa yang belajar mati-matian kemudian lulus dengan predikat summa
cum laude.
Adat manusia biasanya selalu berfikir bagaimana mendapatkan sesuatu itu terlebih
dahulu, ketimbang memikirkan dengan cara apa saja sesuatu itu dapat diraih. Dalam
kasus khusnul khatimah, kita tak bisa langsung bermimpi ingin mendapatkannya.
Khusnul khatimah bisa diraih dengan merintisnya jauh-jauh hari sebelum kedatangan
sang maut. Kata-kata mati (plus persiapannya), harus dihadirkan dalam hati kita setiap
hari.
Sabda Rasulullah, yang menyatakan bahwa dengan banyak-banyak mengingat maut
menjadikan seseorang menjadi makhluk yang produktif, cermat dan selektif, adalah
benar adanya. Setiap pekerjaan yang dilakukan dianggap sebagai pekerjaan terakhirnya.
Hal ini karena sang maut bisa datang kapan saja.
Sebaliknya, kalau Allah belum memberi izin, sang mautpun takkan datang. Seperti
orang yang berkeinginan bunuh diri di rel kereta api. Sesaat kereta api melintas, ternyata
tubuhnya masih utuh. Karena ia berada di lintasan dengan tiga jalur rel, dan ia tak berdiri
di jalur yang dilewati kereta api itu.
Dengan selalu mengingat maut, maka kematian menjadi semacam bahan bakar agar
manusia mampu hidup produktif dan bermanfaat. Agar manusia memiliki manfaat hidup
hendaknya mengingat 4 rumus "selalu". Pertama, selalu bermunajat kepada Allah SWT.
Kedua, selalu mengevaluasi dan mengintrospeksi diri sendiri. Ketiga, selalu bertafakkur,
mengasah diri dan ilmu. Keempat, selalu memenuhi hak hidup, seperti makan, minum,
tidur dengan teratur.
Jadi sebelum manusia mendekati sakaratul maut, Rasulullah sudah memberi solusi
kepada manusia. Jika ajal telah tiba, tidak perlu takut menghadapinya. Jadikanlah tidur
kita sebagai tidur yang terakhir, shalat yang terakhir, makan sebagai makan yang
terakhir, berzakat, infaq dan shadaqah sebagai zakat, infaq dan shadaqah yang terakhir.
Bayangkan bahwa hari esok, kita tak lagi berada di dunia.

• penulis adalah Ketua DPC PK Pesanggrahan, Jakarta Selatan