Anda di halaman 1dari 25

HANDOUT

MATA PELAJARAN

Courtesy of Neer
Enterprises Pvt. Ltd.

Disusun oleh
Moh. Aris As’ari S,Pd.

PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK PENDINGINAN DAN TATA


UDARA
SMK NEGERI 1 CIREBON
2010
CHAPTER I
SISTEM REFRIGERASI PABRIK ES

Gambar 1.1 Instalasi sistem refrigerasi water chiller untuk pabrik es

Gambar 1.1 merupakan gambar instalasi pemipaan sistem refrigerasi dengan


water chiller untuk pabrik es. Dari gambar terdapat 3 sistem yang perlu kita anailisi,
yaitu:
1. Sistem Refrigerasi
2. Sitem Cooling Tower
3. Sistem Ice Plant

1. Komponen Sistem Refrigerasi


A. Compressor

Gambar 1.2 Gambar Kompresor unit (courtesy : PT. Grasso Int.)

Karena refrigeran yang sering digunakan pada sistem refrigerasi untuk pabrik es
adalah R-717 (ammonia) dan halocarbon maka kompresor yang digunakan bisa
reciprocating, rotary dan centrifugal. Untuk menentukkan kompresor pada sistem
refrigerasi untuk pabrik es, diperlukan beberapa parameter seperti berikut :

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
a. Speed dalam rpm (rotasi per menit)
b. Evaporating temperatur Te dalam °C (evaporasi temperatur
refrigerant/amoniak)
c. Condensing temperatur Tc dalam °C (kondensasi temperatur
refrigerant/amoniak)
d. Superheat dalam K (panas lanjut kompresi yang melewati batas saturasi uap
Te)
e. Subcooling dalam K (pendinginan lanjut yang melewati batas saturasi cair Tc)
Evaporating temperatur untuk Pabrik Es pada umumnya ditetapkan pada suhu
–8°C hingga –15°C, karena air garam biasanya bekerja pada suhu –5°C hingga –
12.5°C. Temperatur air garam lebih rendah dari –15°C akan membuat Es Balok cepat
retak pada waktu pencabutan es, karena perbedaan temperatur udara dan es yang
sangat besar.
Condensing temperatur biasanya berkisar antara 35°C hingga 45°C, tergantung
dari jenis refrigerant yang digunakan (Freon/Amoniak) juga jenis condenser (air
cooled, water cooled atau evaporative condenser).
Superheat adalah perbedaan suhu antara saturasi uap temperatur dari kompresi (Te)
yang suhunya naik akibat panas lanjut dari lingkungan sekitarnya (panas udara di
ruangan mesin atau panas mesin sendiri dari pergerakan piston) hingga mencapai
saturasi uap temperatur sesungguhnya. Ideal superheat 0 K pada dasarnya sulit
dicapai. Umumnya superheat berkisar antara 3 hingga 5 K.
Subcooling adalah penurunan temperatur saturasi cair dari kondensasi lebih
lanjut dengan menggunakan heat exchanger (penukar kalor) antara amoniak
dengan air, udara, atau refrigerant lain. Subcooling bisa mencapai penurunan
temperatur 5 hingga 10 K. Apabila tidak digunakan heat exchanger tambahan
setelah condenser untuk menurunkan temperatur saturasi cair dari kondensasi
maka sub cooling adalah 0 K.

B. Condensing unit
Dalam aplikasinya, terdapat tiga jenis condenser berdasarkan media pendinginnya,
yaitu :
1) Air Cooled Condeser (ACC)
Air Cooled Condeser (ACC) adalah condenser dengan media pendingin udara.
Keuntungan menggunakan Air Cooled Condeser adalah mengurangi instalasi
untuk cooling tower sehingga mengurangi biaya perawatan. Instalasi cooling tower
akan berhubungan dengan maintenance pada water treatment, make up water,
perawatan pada tower, freeze protection dan pembesihan tabung condenser.
Keuntungan lain dari Air Cooled Condeser adalah sistem yang sudah utuh,
packaged system, sehingga akan mengurangi waktu untuk mendesain sistem,
instalasi yang sederhana, dan faktor packaging system yang membuat semua
komponen refrigerasi yang sudah terpasang dari pabrik sehingga memudahkan
untuk monitoring sistemnya. Kerugian dari sistem ini adalah jika temperatur
ambient diatas dari temperature kondesor serta mahalnya biaya energy listrik. Air
Cooled Condeser diinstalasi dibagian luar gedung.

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
Gambar 1.3 Air Cooled Condenser

2) Water Cooled Condenser (WCC)


Water Cooled Condenser adalah condenser dengan media pendingin air. Energi
yang digunakan pada Water Cooled Condenser lebih efesien dibandingkan Air
Cooled Condenser. Keuntungan menggunakan Water Cooled Condenser salah
satunya tidak dipengaruhi oleh temperatur ambient . Life time dari Water-cooled
chiller bisa mencapai 20-25 tahun sedangkan untuk air-cooled chillers hanya 15-
20 tahun. Water Cooled Condenser diinstalasi di bagian dalam gedung biasanya di
basement. Kerugian dari Water Cooled Condenser adalah instalasi yang tidak
sederhana. Secara umum sistem Water Cooled Condenser bisa dibagi menjadi 2
kategori, yaitu :
a. Waste-water system, dimana air yang sudah terpakai di condenser
langsung dibuang. Biasanya sistem ini dipakai untuk lokasi sistem yang
kaya dengan sumber air.

Gambar 1.4. Waste-water system

b. Recirculated water system, dimana air yang sudah terpakai untuk


mendinginkan kondenser didinginkan melalui cooling tower lalu
disirkulasikan kembali ke condenser.

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
Gambar 1.5. Recirculated water system

Terdapat tiga tipe dasar dari Water Cooled Condenser yaitu :


a) Tipe double-tube / tube and tube
Tipe ini menggabungkan dua pipa, yang satu berisi refrigeran dan satunya lagi
berisi air dengan arah arus saling berlawanan.

Gambar 1.6 Double tube Condenser

b) Tipe Shell and tube


Tipe ini menggunakan shell (tabung) yang berfungsi menampung refrigeran
dari kompresor untuk dikondesasikan sedangkan air sebagai media penghantar
panas berada di dalam pipa horizontal.
Refrigerant
vapor in She
ll
Hot water
out

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial

Tub Refrigerant liquid


Cold water
e out
in
Gambar 1.7 Shell and tube Condenser

c) Tipe Shell and coil


Tipe ini menggunakan shell (tabung) yang berfungsi menampung refrigeran
dari kompresor untuk dikondesasikan sedangkan air sebagai media
penghantar panas berada di dalam pipa coil.
Refrigerant
vapor in

Cold water
in

Hot water
out
Refrigerant liquid
out
Gambar 1.8 Shell and coil Condenser

3) Evaporative Cooled Condenser (ECC)


Evaporative Cooled Condenser adalah condenser dengan media pendingin
kombinasi antara udara dan air.

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
Gambar 1.9 Evaporative Cooled Condenser

C. Evaporator unit
Evaporator berfungsi untuk menguapkan refrigerant, dalam hal ini refrigeran akan
mengambil panas dari sistem. Dalam sistem refrigerasi yang besar (umumnya tipe
shell and tube), evaporator bisa dibagi menjadi dua tipe yaitu :
a. Tipe Flooded Evaporator
Refrigeran dari XV akan masuk menggenangi shell yang di dalamnya berisi pipa yang
berisi air. Air hangat yang masuk di dalam pipa akan diserap panasnya oleh refrigeran
yang menggenangi shell. Akibat perpindahan panas ini, refrigeran yang menggenangi
shell akan menguap dan uap refrigeran akan naik menuju kompresor, sedangkan air
yang keluar dari shell akan menjadi dingin. Flooded evaporator biasanya dilengkapi
oleh sensor level liquid refrigeran di dalam shell yang terhubung dengan mekanisme
kerja electronic expansion valve sehingga akan mengatur banyaknya refrigeran yang
akan masuk ke dalam shell untuk menjaga tingkat terendah refrigeran yang
menggenangi shell.

Gambar 1.10 Flooded Evaporator

b. Tipe Direct Expansion (DX) Evaporator

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
Gambar 1.11 Dry-Expansion Evaporator
Beda dengan tipe Flooded evaporator, refrigeran yang keluar dari XV akan masuk
melalui pipa dan air akan masuk memenuhi shell. Air di dalam shell akan didinginkan
oleh refrigeran yang ada di dalam pipa, konsekuensinya refrigeran akan menguap
dan keluar menuju kompresor.

CHAPTER II
COOLING TOWER

Gambar 2.1 Cooling Tower

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
Dalam sub ini, kita hanya akan membahas condensing unit tipe recirculated water
jenis shell and tube dimana akan berhubungan erat dengan cooling tower. Cooling
tower merupakan alat yang dapat menghemat air (water conservation) atau alat
yang memproses ulang air atau mampu menurunkan temperatur air (recovery
devices). Berdasarkan cara udara bersirkulasi, cooling tower bisa dibedakan menjadi
dua jenis yaitu natural draft dan mechanical draft. Bila sirkulasi udara yang melewati
tower berlangsung secara alamiah maka cooling tower tersebut berjenis natural draft
atau atmospheric tower. Sedangkan bila sirkulasi udara dilakukan secara aksi (gaya)
oleh fan atau blower maka cooling tersebut berjenis mechanical draft tower.
1. Natural draft cooling tower
Natural draft atau hyperbolic cooling tower memanfaatkan perbedaan temperatur
antara udara sekitar dengan udara panas di dalam tower. Ketinggian cooling tower
tipe ini harus di atas 200 m, dan biasanya digunakan untuk pembuangan panas yang
besar karena biaya pembangunannya tower ini mahal. Terdapat dua tipe natural
draft cooling tower, yaitu :
a. Cross flow tower yaitu udara dialirkan melewati tetesan air dan air yang telah dingin
ditampung diluar tower.

Gambar 2.2 Gambar Natural draft Cooling Tower Cross flow tower
b. Counter flow tower yaitu udara dialirkan ke atas berlawanan arah dengan tetesan
air dan air yang telah dingin ditampung didalam tower.

Gambar 2.3 Gambar Natural draft Cooling Tower Counter flow tower

2. Mechanical draft cooling tower


Mechanical draft cooling tower menggunakan fan/blower untuk menekan dan
mengalirkan udara untuk mendinginkan air. Terdapat dua tipe dari mechanical draft
cooling tower, yitu :
a. Forced draft cooling tower
Udara di dorong ke dalam cooling tower dengan menggunakan fan yang diletakan
pada inlet air tower.

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
Gambar 2.4 Forced draft cooling tower
b. Induced draft cooling tower
Induced draft cooling tower bisa dibagi dua berdasarkan arah aliran udaranya yaitu
counter flow dan cross flow induced draft cooling tower.

Counter flow induced draft cooling tower

Gambar 2.5 Counter flow induced draft cooling tower

Cross flow induced draft cooling tower

Gambar 2.6 Cross flow induced draft cooling tower


Berdasarkan bentuknya, cooling tower juga bisa dibagi menjadi dua bentuk, yaitu
Rectilinear dan Round Mechanical Drift.

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
Gambar 2.7 Rectilinear Mechanical Drift Cooling Tower

Gambar 2.8 Round Mechanical Drift Cooling Tower

Kefektifan sebuah cooling tower dipengaruhi oleh beberapa faktor di bawah ini :
a. Perbedaan tekanan uap antara udara dan air
b. Luas permukaan air dan lamanya proses
c. Kecepatan udara yang dialirkan melewati tower
d. Arah aliran udara yang dihubungkan dengan luas permukaan air yang dipercikan

CHAPTER III
REFRIGERAN
a. Refrigeran
Berdasarkan bahan penyusunnya, refrigeran bisa dibagi menjadi beberapa
kelompok :
1) Kelompok Halocarbon contohnya R-11 (CCl3F) , R-12(CCl2F2), R-22(CHClF2), dll.
2) Kelompok Cyclic Organic contohnya R-C316 (C4Cl2F6), R-C317 (C4ClF7), dan R-
C318 (C4F8).
3) Kelompok Azeotropes contohnya R-500 (R-12+R-152a), R-501 (R-22+R-12), R-502
(R-11+R-115).
4) Kelompok Hydrocarbon contohnya R-50(methane), R-170 (ethane), R-290
(propane), dll.

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
5) Kelompok Oxygen contohnya R-610 (Ethyl Ether), R-611(Methyl Formate)
6) Kelompok Sulfur contohnya R-620
7) Kelompok Nitrogen contohnya R-630 (Methyl amine), R-631 (Ethyl amine).
8) Kelompok Inorganic contohnya R-717 (NH4), R-718 (H2O), R-729 (Udara), R-744
(CO2) dll
9) Kelompok Unsaturated Organic contohnya R-1112a (CCl2==CF2), R-
1113(CClF==CF2) dll
Untuk pabrik es komersil biasanya menggunakan refrigeran 717 (Ammoniac),
walaupun tidaklah tidak mungkin menggunakan kelompok halocarbon.

b. Ammoniac (R – 717)
Amoniak adalah satu-satunya refrigeran diluar kelompok fluorocarbon yang
banyak digunakan pada saat ini., Sifat amoniak tidak berwarna, namun beracun,
berbau menusuk, dan mudah terbakar pada keadaan tertentu. Meskipun bagitu sifat
thermal yang baik dari amoniak membuatnya banyak digunakan untuk ice plant,
packing plant, skating rinks, cold storage berukuran besar dsb.
Pada tekanan normal, temperatur didih amoniak -2.22°C sedangkan pada
temperatur evaporator -15°C bertekanan 34.27 psia dan temperatur kondenser
30°C bertekanan 169.2 psia.
Amoniak dalam bentuk cair dapat membuat korosi logam non ferrous seperti
tembaga dan kuningan, karena itu perlu digunakan pemipaan baja untuk sistem
refrigerasinya. Amoniak tidak akan bercampur dengan oli dan tidak membuat oli di
dalam crank case habis, namun diperlukan oil separator pada discharge line supaya
oli tidak masuk dan mengendap di dalam evaporator.
Gas ammonia dapat dideteksi dengan membakar belerang disekitar sistem yang
dicurigai bocor, jika ada kebocoran maka akan terlihat gumpalan asap putih
ammonium sulfat atau ammonium chloride.

c. Kriteria Refrigeran Ideal


A.Faktor Thermodinamika dan Thermo-fisika
1. Tekanan suction

⇒ Refrigeran yang ideal harus memiliki tekanan suction yang


tinggi sehingga akan menurunkan compressor displacement.

2. Tekanan discharge

⇒ Refrigeran yang ideal harus memiliki tekanan discharge


yang rendah sehingga akan memungkinkan pemilihan
kompresor dan kondensor yang lebih ringan dan murah.

3. Pressure ratio

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
⇒ Refrigeran yang ideal harus memiliki pressure ratio yang
rendah sehingga akan menaikkan efesiensi volumetric dan
penggunaan energy yang lebih sedikit.

4. Panas latent penguapan

⇒ Refrigeran yang ideal harus memiliki panas latent


penguapan yang tinggi sehingga jumlah refrigeran yang masuk
ke evaporator lebih sedikit.

5. Proses isentropic kompresi

⇒ Refrigeran yang ideal harus memiliki proses isentropis yang


rendah sehingga panas yang terjadi ketika proses kompresi
akan rendah.

6. Panas specific

⇒ Refrigeran yang ideal harus memiliki panas specific yang


tinggi sehingga akan menurunkan temperatur superheat.

7. Konduktivitas thermal

⇒ Refrigeran yang ideal harus memiliki konduktivitas thermal


yang tinggi pada fasa cair maupun gas sehingga akan
menaikkan proses transfer panas.

8. Viscositas

⇒ Refrigeran yang ideal harus memiliki viskositas yang rendah


baik pada fasa cair dan gas untuk mengurangi penurunan
tekanan (pressure drop).

B.Faktor keamanan dan efek terhadap lingkungan


1. Ozone Depletion Potential (ODP)

⇒ Berdasarkan Montreal Protocol, nilai ODP refrigeran


seharusnya adalan nol, jadi tiap refrigeran harus tidak bersifat
merusak lapisan ozon. Semakin rendah nilai ODP maka
semakin baik sifat refrigeran tersebut dan sebaliknya, semakin
tinggi nilai ODP suatu refrigeran maka semakin buruk efek
refrigeran tersebut terhadap lingkungan. Berdasarkan hasil
penelitian, Chlorine dan Bromine merupakan substan dari
refrigeran yang menyebabkan penipisan lapisan ozone.

2. Global Warming Potential (GWP)

⇒ Semakin rendah nilai GWP maka semakin baik sifat


refrigeran tersebut karena dengan rendahnya nilai GWP maka
efek penggunaan refrigeran tersebut terhadap pemanasan
global akan rendah.

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
3. Total Equivalent Warming Index

⇒ Nilai TEWI merupakan gabungan dari efek refrigeran


terhadap lingkungan baik itu efek langsung (kerusakan di
atmosfer) dan tidak langsung (penggunaan energi) yang
berkontribusi terhadap pemanasan global. Suatu refrugeran
dengan nilai TEWI rendah nilai akan lebih baik daripada
refrigeran yang mempunyai nilai GWP yang rendah. Jadi
semakin rendah nilai TEWI maka semakin baik sifat refrigeran
tersebut, dan

4. Toxicity

⇒ Toxicity merupakan sifat beracun suatu refrigeran.


Sebenarnya semua refrigeran beracun (kecuali udara) dan sifat
toxicity refrigeran sangat relative karena sifat racun refrigeran
akan timbul ketika konsentrasinya dalam udara sangat tinggi.
Refrigeran seperti CFC dan HCFC tidak akan beracun ketika
bercampur dengan udara sekitar, namun jika CFC dan HCFC
terbakar maka akan menghasilkan gas yang sangat beracun
(phosgene-COCl2).

5. Flammability

⇒ Flammability merupakan sifat mudah terbakarnya suatu


refrigeran. Refrigeran yang ideal haruslah tidak mudah
terbakar. Berdasar standar ASHRAE (American Society Heating,
Refrigerating and Air Conditioning Engineer), refrigeran terbagi
menjadi 6 group berdasarkan faktor keamanannya yaitu dari
group A1-A3 dan B1-B3. Refrigeran pada group A1 (ex. R11,
R12, R22, R744, R718) merupakan refrigeran dengan tingkat
terbakar yang rendah sedangkan pada group B3 (ex. R1140)
merupakan refrigeran dengan tingkat terbakar yang tinggi.

6. Chemical stability

⇒ Refrigeran harus memiliki kestabilan unsur kimia yang baik


sehingga ketika digunakan pada sistem refrigerasi tidak
mengalami perubahan unsur kimianya dalam waktunya yang
lama.

7. Compatibility

⇒ Maksud compatibility disini adalah kemampuan refrigeran


untuk digunakan dengan material konstruksi yang lain jadi tidak
mempengaruhi unsur dari material lainnya. Contohnya
penggunaan R12 dengan instalasi pemipaan menggunakan
tembaga. Namun jika menggunakan Ammoniac maka tidak
menggunakan instalasi pemipaan tembaga karena dapatb

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
menyebabkan korosi jadi menggunakan instalasi pemipaan
baja.

8. Mudah bercampur dengan oli

⇒ Refrigeran yang ideal harus mudah bercampur dengan oli


sehingga ketika didalam sistem refrigerasi, refrigeran dan oli
bisa kembali ke compressor. Sedangkan untuk refrigeran yang
tidak bisa bercampur dengan oli, bisa menggunakan oil
separator.

9. Kekuatan dielektrik

⇒ Refrigeran yang ideal harus memiliki kekuatan dielektrik


yang tinggi untuk menghindari kerusakan di motor kompresor.

10. Mudah dalam medeteksi kebocoran

d. Secondary Refrigerant
Secondary refrigerant adalah fluida yang bisa membawa panas dari suatu
substan yang sedang didinginkan menuju evaporator dari sistem refrigerasi.
Dalam industry terdapat dua jenis sistem refrigerasi jika dilihat dari pemakaian
refrigerannya, yaitu :
a. Direct Refrigeration

substan being
primary
cooled
refrigerant

Gambar 3.1 Direct Refrigeration Cycle

b. Indirect Refrigeration

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
substan being
cooled

secondary
refrigerant

heat exchanger

primary
refrigerant

Gambar 3.2 Indirect Refrigeration Cycle

Secondary refrigerant akan didinginkan oleh primary refrigerant dan akan terjadi
perpindahan panas di heat exchanger tanpa ada perubahasan fasa. Secondary
refrigerant disebut juga secondary fluid, heat transfer fluid atau juga brines.
Keuntungan sistem indirect dibandingkan sistem direct refrigeration salah satunya
adalah penggunaan primary refrigerant bisa diminimalisir. Secondary refrigerant bisa
digunakan pada sistem refrigersi komersil dan low temperature refrigeration dan
sangat cocok untuk sistem yang menggunakan primary refrigerant yang ramah
lingkungan namun bersifat racun dan mudah terbakar seperti ammonia dan
hydrocarbon. Pada pronsipnya, air adalah secondary refrigerant yang baik untuk
sistem Air Conditioning serta aplikasi lainnya jika hanya untuk menurunkan
temperatur sampai +3 °C (37.4 °F).
Secondary Refigerant yang baik, harus memiliki beberapa syarat sebagai berikut :
a. memiliki viscosity yang rendah.
b. memiliki specific heat yang tinggi, sehingga proses pertukaran panas lebih
cepat.
c. memiliki konduntivitas thermal yang tinggi, sehingga pertukaran panas antara
pipa dengan liquid lebih cepat.
d. memiliki chemical corrosion inhibitor yang baik.
e. memiliki kestabilan kimia yang baik.
f. tidak beracun.
g. tidak mudah terbakar.
h. tidak memperanguhi kualitas subtan yang didinginkan.
Jenis-jenis Secondary refrigerant
Terdapat dua kategori secondary refrigerant yang tersedia di pasaran, yaitu :
a. aqueous solutions
⇒ bahan dasar air, biasanya dicampur dengan garam dengan kandungan
tertentu, bahan tambahan bisa berupa magnesium dan calcium chloride.

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
⇒ penggunaan pada low temperature refrigeration, biasanya digunakan
campuran potassium acetate dan potassium formate yang memiliki tingkat
resistansi korosi yang lebih tinggi.

Jenis aqueous secondary refrigerant beserta freezing temperaturnya

b. non-aqueous solutions
⇒ brand name perusahaan, heat transfer kurang baik, lebih mahal dan
mudah bermasalah pada korosi, kontaminasi dan tekanan kerja.

Jenis non-aqueous secondary refrigerant beserta freezing temperaturnya

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
CHAPTER IV
MAPING SISTEM ICE PLANT

A. Map pabrik es

B. Lay out pabrik es


 All system

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
 Part of Brine
a) Agitator

Agitator dilengkapi propeller, tangkai dan propeller berfungsi untuk


mensirkulasikan refrigeran sekunder.

b) Ice Can Filler dan Over head crane

Ice can filler berfungsi untuk pengisian air pada cetakan es balok secara
otomatis.
c) Blower roots

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
Blower roots berfungsi untuk meniupkan udara ketika es dibekukan supaya es
menjadi jernih.

d) Cetakan es

 Storage Room

Evaporator

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
Storage Ice Block

CHAPTER IV
CAPACITY LOAD CALCULATION

A. Kapasitas refrigerasi
Kapasitas suatu sistem refrigerasi untuk pabrik es berkisar 15 TR (49 kW)
sampai 306 TR (1077.68 kW) per 24 jam nya (sumber PT. Grasso Indonesia). Karena
itu membutuhkan suatu sitem refrigerasi yang besar untuk mencapai kapasitas
pendinginan di atas. Contoh menghitung kapasitas refrigerasi adalah sebagai berikut :
Untuk membekukan 1 Ton air/24 Jam dari suhu air +30°C hingga menjadi es –
5°C, dengan mengabaikan perbedaan volume spesifik air dan es, dapat dicari
kapasitas panas (pendingin) dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
a. Panas sebelum dan sesudah pendinginan
Q’ = m’ × Cp × ΔT
dimana :
Q’ = kapasitas pendinginan persatuan per satuan waktu (kW)
m’ = massa air persatuan waktu (kg/s)
Cp air = panas spesifik air (1 kcal/kg.°C)
Cp es = panas spesifik es (0.5 kcal/kg.°C)
ΔT = Perbedaan temperature (°C)
b. Panas pada saat pembekuan/panas laten
Q’ = m’ × q
dimana :
Q’ = kapasitas pendinginan persatuan per satuan waktu (kW)
m’ = massa air persatuan waktu (kg/s)
q = panas laten es (1 kcal/kg)
Dari persamaan diatas, maka kita bias mendapatkan kapasitas pendinginan
sebagai berikut :

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
b) Sebelum pembekuan Q’ = 1000 kg/24.60.60 s x (30–0)K x 4.19 kJ/kg.K =1.455
kW
c) Panas laten pada waktu pembekuan Q’ = 1000 kg/24.60.60 s x 335 kJ/kg=3.877
kW
d) Setelah pembekuan Q’ = 1000 kg/24.60.60 s x [0-(-5)]K x 2.1 kJ/kg.K =0.122 kW
Maka jumlah kapasitas panas secara teori adalah 5.454 kW. Namun dalam
praktek sehari–hari banyak faktor yang mempengaruhi dalam pabrik es, seperti:
 Beban panas dari Agitator
 Transmisi panas (dingin) dari bak air garam yang tidak memadai isolasinya serta
kayu penutup
 Peniupan udara untuk membuat es jernih menambah beban panas
 Pembukaan kayu penutup pada waktu mencabut es dan pengisian air juga
menambah beban panas
Pada umumnya pabrik es di Indonesia menambahkan 30% dari perhitungan
kapasitas berdasarkan teori untuk mengatasi beban tambahan tersebut diatas,
sehingga menjadi
5.454 kW x 1.3 = 7.09 kW (6100 kcal/jam)
Perlu diingat bahwa waktu pembuatan es tidak semuanya 24 jam, tergantung
dari dimensi cetakan es . Tepatnya untuk menghitung kapasitas panas yang
diperlukan disesuaikan dengan waktu pembekuan menurut cetakan es (tidak
selamanya dibagi dalam 24 Jam) dan massa air yang dimasukkan dalam cetakan es
(biasanya air dalam cetakan es 50 kg beratnya lebih dari 60 kg, bahkan sampai 70
kg), namun tetap harus menambahkan faktor beban panas tambahan, yang tidak
harus 30%, tergantung kondisi pabrik es.

CHAPTER V
JENIS – JENIS WATER CHILLER

A. Air Cooled and Reciprocating Compressor Water Chiller

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
Electrical Air Cooled Condenser
Panel

Evaporator/Water
Chilled

Electrical Air Cooled Condenser


Panel

Reciprocating
Compressor

B. Air Cooled and Scroll Compressor Water Chiller

Electrical
Panel

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial
Air Cooled
Condenser

Scroll
Compressor

C. Air Cooled and Screw Compressor Water Chiller

Air Cooled Condenser

Scroll
Compressor

Electrical
Panel Air Cooled Condenser

Scroll
Compressor

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial

Water Cooled
Evaporator/Water
D. Water Cooled and Screw Compressor Water Chiller

Screw Electrical
Compressor Panel

Water Cooled
Condenser

Screw
Compressor

Electrical
E. Panel
Water Cooled and Centrifugal Compressor Water Chiller

Centrifugal
Compressor
MicroTec
h
Water Cooled
Condenser

Evaporator/Water
Chilled
Centrifugal
Compressor

MicroTec
h

Water Cooled
Condenser

Dokumen Moh. Aris As’ari, S.Pd Handout Mata Pelajaran Pabrik Es Komersial