Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PRAKTIKUM

PEMULIAAN TANAMAN
“HIBRIDISASI MENTIMUN”

Oleh :
EKO SUSANTO
0910480053
Kamis, 07.30 WIB

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mentimun, timun, atau ketimun (Cucumis sativus L.) suku labu-labuan atau
Cucurbitaceae) merupakan tumbuhan yang menghasilkan buah yang dapat dimakan.
Buahnya biasanya dipanen ketika belum masak benar untuk dijadikan sayuran atau
penyegar, tergantung jenisnya. Mentimun dapat ditemukan di berbagai hidangan dari
seluruh dunia dan memiliki kandungan air yang cukup banyak di dalamnya sehingga
berfungsi menyejukkan. Potongan buah mentimun juga digunakan untuk membantu
melembabkan wajah.
Habitus mentimun berupa herba lemah melata atau setengah merambat dan
merupakan tanaman semusim: setelah berbunga dan berbuah tanaman mati.
Perbungaannya berumah satu (monoecious) dengan tipe bunga jantan dan bunga
hermafrodit (banci). Bunga pertama yang dihasilkan, biasanya pada usia 4-5 minggu,
adalah bunga jantan. Bunga-bunga selanjutnya adalah bunga banci apabila
pertumbuhannya baik. Satu tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah, namun dalam
budidaya biasanya jumlah buah dibatasi untuk menghasilkan ukuran buah yang baik.

Tujuan

Dengan demikian,bahwa hibridisasi yang dilakukan pada komoditas mentimun


bertujuan untuk memperoleh kombinasi genetik yang bdiingkan melalui persilangan dua
atau lebih tetua yang berbeda, menambah keragaman genetic, mendapatkan varietas baru
(produksi tinggi, rasa, estetika), memperbaiki ketahanan tanaman terhadap serangan
hama dan penyakit, serta untuk mengetahui karakter-karakter pada mentimun yang
diinginkan.

Manfaat

Hibridisasi pada tanaman mentimun bermanfaat bagi :


1. Mahasiswa, untuk mengetahui teknik atau cara persilangan pada mentimun.

2. Kalangan umum, untuk mengetahui jenis atau varietas yang unggul dari hasil
pemuliaan tanaman mentimun.
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Hibridisasi

Pengertian dari hibridisasi ialah perkawinan antara berbagai spesies, suku, ras,
atau varietas tunggal yang bertujuan memperoleh organism yang diinginkan.Tujuan dari
hibrfidisasi ialah untuk memperoleh kombinasi genetik yang diingkan melalui
persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda.
Hibridisasi dapat dibedakan menjadi dua yakni hibridisasi alami dan hibridisasi
buatan. Hibridisasi alami ialah persilangan tanpa campur tangan manusia, sedangkan
hibridisasi buatan ialah persilangan dengan campur tangan manusia.

Ciri-Ciri Tanaman Mentimun

Berdasarkan perkembangbiakan tanaman, mentimun dapat digolongkan ke dalam


tanaman yang menyerbuk silang. Hal tersebut dapat diketahui dari beberapa ciri-ciri
sebagai berikut :
 Secara morfologi penyerbukan sendiri terhalangi.
 Berbeda masaknya tepung sari dan sel telur.
 Inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin.
 Bunga monoecious.
Mentimun atau Ketimun mempunyai sulur dahan berbentuk spiral yang keluar di
sisi tangkai daun. Sulur ketimun adalah batang yang termodifikasi dan ujungnya peka
sentuhan. Bila menyentuh galah misalnya, sulur akan mulai melingkarinya. Dalam 14
jam sulur itu telah melekat kuat pada galah itu. Kira-kira sehari setelah sentuhan pertama
sulur mulai bergelung, atau menggulung dari bagian ujung maupun pangkal sulur.
Gelung-gelung terbentuk mengelilingi suatu titik di tengah sulur yang disebut titik
gelung balik. Dalam 24 jam, sulur telah tergulung ketat.
Batang tanaman ketimun berbulu kasar, basah, dan mempunyai panjang 0,5-2,5
meter. Daunnya merupakan daun tunggal, letaknya berseling, bertangkai panjang, dan
bentuknya bulat telur lebar. Daun ini bertajuk 3-7 dengan pangkal berbentuk jantung,
ujungnya runcing dan tepinya bergerigi. Panjangnya 7-18 cm, lebar 7-15 cm, dan
warnanya hijau.
Daging buah ketimun mengandung banyak air yang berwarna putih atau
kekuningan. Di dalam buah terdapat banyak biji yang bentuknya lonjong meruncing
pipih dan warnanya putih kotor.
Daun dan tangkai Cucumis sativus bisa dimakan sebagai lalap mentah atau
dikukus. Buahnya bisa dimakan mentah, direbus, dikukus, atau disayur. Bisa juga dibuat
acar atau dimakan bersama rujak.

Teknik Penyerbukan Pada Mentimun

Terdapat beberapa tahapan dalam melakukan teknik penyerbukan mentimun, yaitu :

a. Persiapan
 Dilakukan pengamatan pada bunga mentimun, meliputi pembungaan, benang
sari, dan putik.
 Pemilihan induk jantan dan induk betina.
 Pemilihan bunga-bunga yang akan disilangkan
b. Isolasi kuncup terpilih
c. Emaskulasi
 Membuang semua benang sari dari sebuah kuncup bunga mentimun yang akan
dijadikan induk betina.
 Dilakukan sebelum putik dan benang sari masak.
d. Mengumpulkan dan menyimpan serbuk sari
e. Melakukan penyerbukan silang.

Perkembangan Bunga Mentimun Mulai dari Kuncup Hingga Mekar


Tahapan perkembangan bunga mentimun dapat dikelompokkan kedalam
beberapa tahapan, yaitu :

a. Induksi bunga
Merupakan tahapan pertama dari proses pembungaan, yaitu suatu tahap ketika
meristem vegetative mulai berubah menjadi sistem reproduktif.
b. Inisiasi bunga
Merupakan tahap ketika perubahan morfologis menjadi bentuk kuncup. Transisi dari
tunas adventif menjadi kuncup produktif dapat di deteksi dari perubahan bentuk,
ukuran kuncup serta proses-prose selanjutnya yang memulai membentuk organ-organ
reproduktif.
c. Perkembangan kuncup bunga menjadi anthesis (bunga mekar)
Ditandai dengan terjadinya diferensiasi bagian-bagian bunga mentimun. Pada tahap
ini terjadi proses megasporogenesis dan mikrosporogenesis untuk penyempurnaan dan
pematangan organ-organ reproduksi jantan dan betina.
d. Anthesis
Merupakan tahap ketika terjadi pemekaran bunga mentimun. Biasanya anthesis terjadi
bersamaan dengan masaknya organ reproduksi, dan anther siap membuahi ovul.

Morfologi Bunga Mentimun

Bunga tanaman Cucumis sativus ada yang jantan berwarna putih kekuningan dan
bunga betinanya berbentuk seperti terompet yang ditutupi oleh bulu-bulu. Tanaman
ketimun mempunyai buah yang bulat panjang, tumbuh menggantung, warnanya hijau,
berlilin putih dan setelah tua, warnya kuning kotor. Buah ini panjangnya 10-30 cm dan
bagian pangkalnya berbintil.
Fisiologi Tanaman Mentimun

Tanaman ini termasuk dalam tanaman C3. Fiksasi karbon awal terjadi melalui
rubisko, enzim siklus calvin yang menambahkan CO 2 pada ribulosa berfosfat. Produk
fiksasi karbon organic pertama ialah senyawa berkarbon-tiga, 3-fosfogliserat. Proses
potorespirasi terjadi dalam cahaya (foto) dan mengkonsumsi O2 (respirasi).
Buah tanaman bernama latin Cucumis sativus L ini mengandung saponin, enzim
proteolitik, glutation. Timun dikatakan juga mengandung 35.100 - 486.700 ppm asam
linoleat. Sebagai suku Cucurbitaceae, yang biasanya mengandung kukurbitasin, timun
kemungkinan juga mengandung senyawa tersebut. Kukurbitasin merupakan senyawa
yang mempunyai aktivitas sebagai antitumor.
Saponin adalah senyawa surfaktan. Dan berbagai hasil penelitian disimpulkan,
saponin bersifat hipokolesterolemik, imunostimulator, dan antikarsinogenik. Mekanisme
antikoarsinigenik saponin meliputi efek antioksidan dan sitotoksik langsung pada sel
kanker. Saponin dari kedelai merupakan sumber makanan yang sudah diteliti dapat
menurunkan risiko kanker.
Glutation merupakan antioksidan endogen dalam tubuh yang digunakan sebagai
penangkal oksidatif yang di antaranya akibat senyawa radikal bebas, atau karsinogen.
Sifat oksidatif dari glutation adalah glutation mampu melakukan peroksidasi terhadap
radikal bebas dalam tubuh. Tumbuhan yang mengandung sulfur seperti bawang putih,
mampu meningkatkan aktivitas glutation dan glutation transferase.
Asam linoleat termasuk asam lemak esensial yang terdapat dalam lemak nabati
maupun hewani. Bentuk asam lemak linoleat terkonyugasi (conjugated linoleic acid =
CLA) dikatakan bersifat antikanker. Dari sumber elektronik diketahui bahwa biji
ketimun mengandung CLA. CLA bersifat antioksidan, yang dapat melawan kerusakan
akibat radikal bebas.

Proses Hibridisasi Mentimun

1. Pemilihan tetua (selecting)


Pemilihan tetua dilakukan dengan menggunakan seleksi massa. Caranya ialah
dengan memilih tanaman yang memiliki kualitas baik. Saat panen dilakukan pemilihan
kemudian dicampur sebagai bahan tanaman di musim selanjutnya.
Pemilihan tetua juga tergantung pada sifat unggul yang diinginkan, melalui
kualitatif atau kuantitatif.

a) Sifat kualitatif : lebih mudah diseleksi, gen sederhana (monogenik). Perbedaan


phenotipa = perbedaan gen pengendali, pengaruh lingkungan kecil, Contoh : warna
bunga.
b) Sifat kuantitatif : seleksi tidak mudah dilakukan, gen kompleks (poligenik),
pengaruh lingkungan besar. Contoh : hasil tanaman. Diperlukan lebih banyak tetua
sebagai sumber gen.

2. Emaskulasi dan penyerbukan (pollinating)

Emaskulasi yaitu pengambilan kepala sari dari tetua betina, selain itu untuk
mencegah masuknya polen sendiri atau polen asing.
Cara yang kami lakukan yaitu dengan cara mekanis yaitu dengan mengambil
serbuk sari menggunakan alat penjepit, pinset ataupun jarum. Pengambilan kotak sari
dilakukan sebelum kotak sari terbuka dan serbuksari luruh. Gunting digunakan untuk
memotong ujung palea dan lemma agar mudah diambil kepala sarinya. (Nasir, 2001).

3. Pembungkusan bunga betina (bagging)

Penyungkupan dilakukan setelah emaskulasi selesai, dengan tujuan agar


terhindar dari penyerbukan yang tidak diinginkan dan untuk menghindari kesalahan.
4. Pelabelan (Labeling)

Pelabelan (labeling) bertujuan untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang


tidak diinginkan, misalnya dengan pemberian nama/kode tetua, tanggal penyerbukan,
kode persilangan, dan nama penyilang (breeder).

Syarat Hibridisasi Mentimun

a. Tanaman sehat
Tanaman yang sehat adalah faktor yang sangat mempengaruhi tingkat
keberhasilan suatu hibridisasi, jika tanaman terserang penyakit maka akan berdampak
pada hasil yang kurang baik. Tanaman yang sangat cocok untuk digunakan adalah
tanaman yang bebas dari penyakit serta kontaminasi hama.
b. Lingkungan yang sesuai dan terkontrol dengan baik
Lingkungan yang kurang sesuai dan tidak terkontrol berdampak pada hasil
yang kurang baik, jika tanaman yang digunakan dalam hibridisasi adalah tanaman
dataran tinggi maka lingkungan yang cocok adalah dingin sehingga apabila diletakkan
pada daerah panas maka tanaman tersebut akan mati / tidak cocok dan sebaiknya
tanaman diletakkan pada lingkungan terkontrol, maksudnya adalah tidak diletakkan
pada lingkungan yang memiliki suhu cepat berubah seperti daerah pancaroba.
c. Manusia
Sebaiknya sebelum kita melakukan hibridisasi kita harus memiliki
kemampuan dalam proses hibridisasi setidiknya kita memiliki pengetahuan tentang
hal tersebut . selain itu seorang brider harus memiliki seni dan kesabaran yang tinggi ,
sehingga apabila seorang brider tidak memiliki seni maka tidak akan memiliki tingkat
kekretifan untuk menciptakan bentuk baru suatu tanaman / hasil hibridisasi, dan yang
terakhir harus memiliki sifat yang sabar , karena apabila tidak memiliki kesabaran
maka tidak akan memberikan hasil hibridisasi yang diinginkan.

ALAT, BAHAN DAN METODOLOGI PENELITIAN


Alat dan Fungsi
 Tusuk gigi atau pinset, untuk mengambil benang sari lalu menempelkannya pada
putik.
 Kertas Label, untuk memberi keteranagan terkait dengan komoditas mentimun yang
disilangankan.
 Lup untuk mengamati letaka benangsari yang akan dipindahkan ke bagian putik.
 Cetok untuk meratakam media tanam dan mengolah media tanam.
 Penggaris untuk mengukur pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
 Alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan.

Bahan dan Fungsi


 Benih mentimun, komoditas yang akan disilangkan.
 Air, untuk menyiram tanaman.
 Tanah, sebagai media tanam.

Cara kerja
1. Menyiapkan benih mentimun dan polybag sebagai tempat tanam.
2. Menyiapakan media tanam berupa pupuk kandang dan tanah.
3. Lakukan penanaman benih pada media yang telah disiapkan.
4. Lakukan penyiraman secdukupnya pada polybag tersebut.
5. Tempatkan pada tempat yang cukup dalam hal penyinaran.
6. Mentimun tumbuh dan berbunga.
7. Tentukan tetua jantan dan betina.
8. Lakukan persilangan bunga jantan dan betina pada waktu yang memungkinkan.
9. Buang semua benang sari dari sebuah kuncup bunga yang akan dijadikan induk betina
dalam penyrbukan (Emaskulasi).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil

Bunga betina Bunga Jantan


(panda) (harmoni)
pembungkusan

pelabelan

Pembahasan
Pada praktikum hibridisasi ini dilakukan pada tanaman mentimun varietas harmoni
dengan mentimun varietas panda, yaitu pada tanggal 4 November 2010, proses keberhasilan
persilangan kedua varietas tersebut dapat diamati lebih kurang selama dua atau tiga hari ke
depan.
Tanaman mentimun memiliki bunga jantan dan bunga betina jadi mentimun
merupakan tanaman yang mengalami penyerbukan silang. Lamanya pembungaan tanaman
mentimun berkisar antara 5 sampai 10 hari. Emaskulasi dilakukan pada pagi hari pukul
09.30. Bunga yang akan dikastrasi dipilih bunga jantan yang belum mekar atau hampir
mekar, sehubungan dengan hal itu maka pertumbuhan kuncup bunga perlu diamati dengan
seksama. Emaskulasi dapat dilakukan pada pagi yaitu pada suhu rendah dengan udara yang
cukup lembab, maka kepala sari itu biasanya masih tertutup rapat, sehingga dengan mudah
benang sari dapat dibuang dalam keadaan utuh. Emaskulasi ini bertujuan untuk menghindari
terjadinya penyerbukan sendiri. Emaskulasi dilakukan dengan cara menggunting sepertiga
bagian bunga jantan kemudian diambil benang sarinya.
Hibridisasi dilakukan dengan cara menempelkan atau memasukan bunga jantan
kedalam bunga betina tepat pada putik. Yang menjadi induk bunga jantan ialah dari varietas
Harmoni, sedangkan yang menjadi induk bunga betina yaitu dari varietas Panda. Tujuan dari
hibridisasi adalah menggabungkan dua sifat dari dua varietas tanaman ke dalam satu tubuh
tanaman. Oleh karena itu, sifat tanaman hasil persilangan (F1) merupakan gabungan sifat
diantara kedua tetuanya. Faktor lain yang harus diperhatikan dalam melakukan hibridisasi
adalah lamanya daya hidup (viabilitas) serbuk sari. Untuk tanaman buah-buahan serbuk sari
masih bisa bertahan hidup normal meskipun telah disimpan selama beberapa bulan bahkan
beberapa tahun lamanya. Kombinasi sifat dari kedua tetua pada F1 terjadi secara acak, jadi
bisa saja kombinasi sifat yang ada pada F1 bersifat lebih menguntungkan dari kedua tetuanya.
Karena sifat kedua tetua berbeda satu dengan yang lainnya, maka keturunan yang diperoleh
dapat mempunyai sifat-sifat baru yang berbeda dengan sifat yang ada pada kedua induknya.
Keturunan F1 bersifat heterozigot dan mengalami pemisahan pada generasi berikutnya.
Dari hibridisasi yang kami lakukan pada satu hari setelah persilangan, bunga masih
dalam keadaan baik dan segar, akan tetapi pada hari ke 2 bunga sudah kering dan layu,
sehingga pada hari ke 3 tanaman sudah mati, jadi Hibridisasi ini dianggap tidak berhasil atau
gagal karena bunga sudah layu dan mati sehingga tidak dapat menghasilkan bakal buah. Hal
ini disebabkan karena dalam melakukan hibridisasi serbuk sari yang tersedia tidak cukup
banyak sehingga ada beberapa bunga yang tidak diserbuki.
Hibridisasi yang dilakukan pada tanaman menyerbuk silang agar berhasil sesuai
dengan yang diharapkan maka perlu dilakukan pemilihan tetua yang memiliki potensi genetik
yang diinginkan. Pemilihan tetua ini sangat tergaantung pada karakter tanaman yang akan
digunakan, yaitu apakah termasuk karakter kualitatif atau kuantitatif. Tujuan dari setiap
program pemuliaan tanaman adalah untuk menyatukan gamet jantan dan gamet betina yang
diinginkan dari tetua yang terpilih. Karakter kualitatif menunjukkan fenotip yang berbeda
akibat adanya genotip yang berbeda pula. Sedangkan pemilihan tetua untuk karakter
kuantitatif jauh lebih sulit karena perbedaan fenotif belum tentu disebabkan oleh genotif yang
berbeda. Karena faktor lingkungan juga mempengaruhi terhadap penampilan dari fenotif
yang ada.
Selain faktor-faktor berikut ini merupakan hal-hal yang menyebabkan peristiwa
kegagalan persilangan atau hibridisasi pada tanaman timun yang disilangkan, yaitu:

1)   Gametic Mortality (Kematian Gamet)


Meskipun oleh struktur yang kebetulan memungkinkan bahwa dua
spesies tumbuh-tumbuhan dapat mengadakan perkawinan, fertilisasi yang
sebenarnya mungkin tidak akan terjadi. Contohnya adalah persilangan antara
Varietas Panda dengan varietas Harmoni, sperma dari bunga jantan bila sampai
pada alat kelamin betina segera berhenti bergerak karena keadaan yang tidak
sesuai pada alat kelamin tersebut. Dengan demikian sperma tidak akan mencapai
sel telur.
Tanaman yang lain menghasilkan reaksi antara pada saluran betina jika
mereka mengadakan perkawinan antar spesies. Reaksi ini menyebabkan alat
kelamin betina mengembang dan dengan demikian menghalangi sperma untuk
mencapai sel telur dan mati.

2)   Zygot Mortality (Kematian Gamet)

Hybrid seringkali sangat lemah dan berbentuk tidak baik sehingga sering
mati sebelum mereka dikeluarkan dari induknya. Hal ini berarti bahwa gene flow
antara kedua golongan induk tidak terjadi.

3)   Hybrid Invibility


Anggota dari kedua spesies berdekatan mungkin dapat mengadakan
persilangan dan menghasilkan keturunan yang fertil. Jika keturunan ini dan
keturunannya lagi bersifat sekuat orang tua mereka disamping adaptasi sebaik
orang tua mereka juga, maka dua populasi ini tidak akan tetap terpisah untuk
jangka waktu lama jika mereka simpatrik. Hal ini mengakibatkan mereka tidak
lagi disebut sebagai dua spesies yang penuh tetapi jika anak-anaknya dan
keturunan berikutnya kurang begitu teradaptasi, mereka segera lenyap.
KESIMPULAN

 Hibridisasi ialah perkawinan antara berbagai spesies, suku, ras, atau varietas tanaman
yang bertujuan memperoleh organisme yang diinginkan, yaitu kombinasi genetik yang
diinginkan melalui persilangan antara dua atau lebih tetua yang berbeda.
 Syarat-syarat hibridisasi antara lain tanamannya harus sehat, lingkungan yang sesuai dan
terkontrol dengan baik, serta adanya sumber daya manusia yang cakap dalam hal berseni
khususnya dalam program pemuliaan tanaman.
 Tahapan dalam hibridisasi
- Pemilihan tetua
- Isolasi kuncup terpilih
- Emaskulasi
- Mengumpulkan dan menyimpan serbuk sari
- Melakukan penyerbukan silang
- Pembungkusan
- Pelabelan

 Pada praktikum persilangan pada buah mentimun yang telah dilakukan anrtara varietas
Panda dan varietas Harmoni mengalami kegagalan. Hasil penyerbukan antara kedua
varietas tersebut pada hari pertama setelah persilangan bunga hasil persilangan masih
dalam keadaan segar. Pada hari kedua setalah persilangan, bunga hasil persilangan telah
menjadi kering dan layu. Pada hari ke 3 setelah persilangan, bunga hasil persilangan
telah rontok atau gugur kedalam polybag. Sehingga, dapat dikatakan bahwa hibridisasi
ini dianggap tidak berhasil atau gagal karena bunga sudah layu dan mati sehingga tidak
dapat menghasilkan bakal buah. Hal ini disebabkan karena dalam melakukan hibridisasi
serbuk sari yang tersedia tidak cukup banyak sehingga ada beberapa bunga yang tidak
diserbuki. Selain faktor tersebut, ada beberapa hal yang mempengaruhi kegagalan dalam
proses persilangan atau hibridisasi, yaitu Gametic Mortality (Kematian Gamet), Zygot
Mortality (Kematian Gamet),  Hybrid Invibility.
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. http://www.wikipedia.org/wiki/mentimun/ diunduh tanggal 19 Oktober


2010
Anonymous. 2010. http://dayang sumbi.net/toga/mentimun. diunduh tanggal 21 Okober 2010
Anonymous. 2010. http://backyardgarderner.com/tmimages08/280/7/7054. diunduh tanggal
21 Oktober 2010
Anonymous. 2010. http://maila.blogspot.com/2010/01.html. diunduh tanggal 25 Oktober
2010
Anonymous. 2010. http://sakerarmultiply.com/item/01. diunduh tanggal 27 Oktober 2010.
Anonymous. 2010. http://wapedia.mobi/ide/pemuliaantanaman. diunduh tanggal 27 Oktober
2010.
Anonymous.2010.http://zaifbio.wordpress.com/2009/12/20/peranan-isolasi-dalam-
mekanisme-evolusi/ diunduh, tanggal 18 November 2010.