Anda di halaman 1dari 57

SYSTEM REPRODUKSI

RESUME KASUS 1

SEXUAL ABUSE

Disusun Oleh :
NELI TARNELI
(220110080064)

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2011
KASUS 1

An. E 14 tahun, 2 bulan yang lalu mengalami menarche dengan kelainan yang menyertai
adalah perut terasa sakit, dismenor, sejak menstruasi banyak perubahan tubuh yang dirasakan
seperti payudara menjadi membesar dan kencang, serta tumbuh bulu-bulu pada organ
tertentu. An. E tinggal diperkampungan kumuh padat penduduk dan berasal dari keluarga
dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah sehingga An. E sejak kecil sudah dituntut
membantu keluarganya mencari napkah ngamen dipinggir jalan. Kegiatan tersebut dilakukan
dari siang smpai malam hari, 3 hari yang lalu ketika pulang dari mengamen dia mengalami
sexual abuse pemerkosaan oleh sekelompok pemuda mengakibatkan saat ini An. E dirawat
di RS dengan keluhan sakit dan perdarahan didaerah alat genitalia. Pemfis ditemukan
robekan fourchette posterior, hasil rektal tocher terjadi ruptur himen. Rencana hari ini akan
dilakukan pem. Leb di RS. An. E selalu ditemani oleh angota keluaga maupun perawat,
menjadi pendiam, dan susa berkomunikasi, orangtua terutama ayah selalu menemani namun
sering mengeluarkan kata-kata yang terkesan selalu menyalahka anaknya.

1. Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita


GENITALIA EKSTERNA

Vulva
Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons pubis, labia
mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum, kelenjar-
kelenjar pada dinding vagina.

Mons pubis / mons veneris


Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis.
Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis.

Labia mayora
Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung
pleksus vena.
Homolog embriologik dengan skrotum pada pria.
Ligamentum rotundum uteri berakhir pada batas atas labia mayora.
Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu (pada commisura posterior).

Labia minora
Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak
terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.

Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus clitoridis
yang tertanam di dalam dinding anterior vagina.
Homolog embriologik dengan penis pada pria.
Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut
saraf, sangat sensitif.

Vestibulum
Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora. Berasal
dari sinus urogenital.
Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum, introitus vaginae, ductus
glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri. Antara fourchet dan vagina
terdapat fossa navicularis.

Introitus / orificium vagina


Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa
yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan.
Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan
sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain, hymen
dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk
fimbriae). Bentuk himen postpartum disebut parous.
Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada wanita
pernah melahirkan / para.
Hymen yang abnormal, misalnya primer tidak berlubang (hymen imperforata) menutup total
lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga genitalia interna.

Vagina
Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian kranial
dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut fornix,
dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri.
Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel skuamosa
berlapis, berubah mengikuti siklus haid.
Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk
kopulasi (persetubuhan).
Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam
secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri.
Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah sensorik di sekitar 1/3 anterior dinding
vagina, sangat sensitif terhadap stimulasi orgasmus vaginal.

Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis
(m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda,
m.constrictor urethra).
Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina.
Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar
jalan lahir dan mencegah ruptur.

GENITALIA INTERNA

Uterus
Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa).
Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus.
Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus,
isi konsepsi dikeluarkan.
Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan serviks uteri.

Serviks uteri
Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding dalam
vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan jaringan
ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio
cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar, arah vagina) dilapisi
epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri internum (dalam, arah cavum).
Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat kecil, setelah
pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis melintang. Posisi
serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar mukosa serviks
menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat (musin)
dan larutan berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan viskositas lendir serviks
dipengaruhi siklus haid.

Corpus uteri
Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum latum
uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari
luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam lapisan
endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus haid
akibat pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan
fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria.
Proporsi ukuran corpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama pertumbuhan
dan perkembangan wanita (gambar).

Ligamenta penyangga uterus


Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale, ligamentum
ovarii, ligamentum sacrouterina propium, ligamentum infundibulopelvicum, ligamentum
vesicouterina, ligamentum rectouterina.

Vaskularisasi uterus
Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri ovarica
cabang aorta abdominalis.

Salping / Tuba Falopii


Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang tuba kiri-kanan, panjang
8-14 cm, berfungsi sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri.
Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta mukosa
dengan epitel bersilia.
Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis, serta pars infundibulum dengan
fimbria, dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding yang berbeda-beda pada setiap
bagiannya (gambar).
Pars isthmica (proksimal/isthmus)
Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer
gamet.
Pars ampularis (medial/ampula)
Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula / infundibulum, dan pada hamil
ektopik (patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini.
Pars infundibulum (distal)
Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat dengan
permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi “menangkap” ovum yang keluar saat ovulasi dari
permukaan ovarium, dan membawanya ke dalam tuba.

Mesosalping
Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada usus).

Ovarium
Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kiri-kanan.
Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari
korteks dan medula.
Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel
germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum),
sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel, progesteron
oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum tuba Falopii
melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae “menangkap” ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi.
Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum infundibulopelvicum dan
jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap
arteri renalis.

ORGAN REPRODUKSI / ORGAN SEKSUAL EKSTRAGONADAL

Payudara
Seluruh susunan kelenjar payudara berada di bawah kulit di daerah pektoral. Terdiri dari
massa payudara yang sebagian besar mengandung jaringan lemak, berlobus-lobus (20-40
lobus), tiap lobus terdiri dari 10-100 alveoli, yang di bawah pengaruh hormon prolaktin
memproduksi air susu. Dari lobus-lobus, air susu dialirkan melalui duktus yang bermuara di
daerah papila / puting. Fungsi utama payudara adalah laktasi, dipengaruhi hormon prolaktin
dan oksitosin pascapersalinan.
Kulit daerah payudara sensitif terhadap rangsang, termasuk sebagai sexually responsive
organ.

Kulit
Di berbagai area tertentu tubuh, kulit memiliki sensitifitas yang lebih tinggi dan responsif
secara seksual, misalnya kulit di daerah bokong dan lipat paha dalam.
Protein di kulit mengandung pheromone (sejenis metabolit steroid dari keratinosit epidermal
kulit) yang berfungsi sebagai ‘parfum’ daya tarik seksual (androstenol dan androstenon
dibuat di kulit, kelenjar keringat aksila dan kelenjar liur). Pheromone ditemukan juga di
dalam urine, plasma, keringat dan liur.

POROS HORMONAL SISTEM REPRODUKSI

Badan pineal
Suatu kelenjar kecil, panjang sekitar 6-8 mm, merupakan suatu penonjolan dari bagian
posterior ventrikel III di garis tengah. Terletak di tengah antara 2 hemisfer otak, di depan
serebelum pada daerah posterodorsal diensefalon. Memiliki hubungan dengan hipotalamus
melalui suatu batang penghubung yang pendek berisi serabut-serabut saraf.
Menurut kepercayaan kuno, dipercaya sebagai “tempat roh”.
Hormon melatonin : mengatur sirkuit foto-neuro-endokrin reproduksi. Tampaknya melatonin
menghambat produksi GnRH dari hipotalamus, sehingga menghambat juga sekresi
gonadotropin dari hipofisis dan memicu aktifasi pertumbuhan dan sekresi hormon dari gonad.
Diduga mekanisme ini yang menentukan pemicu / onset mulainya fase pubertas.

Hipotalamus
Kumpulan nukleus pada daerah di dasar otak, di atas hipofisis, di bawah talamus.
Tiap inti merupakan satu berkas badan saraf yang berlanjut ke hipofisis sebgai hipofisis
posterior (neurohipofisis).
Menghasilkan hormon-hormon pelepas : GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone), TRH
(Thyrotropin Releasing Hormone), CRH (Corticotropin Releasing Hormone) , GHRH
(Growth Hormone Releasing Hormone), PRF (Prolactin Releasing Factor). Menghasilkan
juga hormon-hormon penghambat : PIF (Prolactin Inhibiting Factor).
Pituitari / hipofisis
Terletak di dalam sella turcica tulang sphenoid.
Menghasilkan hormon-hormon gonadotropin yang bekerja pada kelenjar reproduksi, yaitu
perangsang pertumbuhan dan pematangan folikel (FSH – Follicle Stimulating Hormone) dan
hormon lutein (LH – luteinizing hormone).
Selain hormon-hormon gonadotropin, hipofisis menghasilkan juga hormon-hormon
metabolisme, pertumbuhan, dan lain-lain. (detail2, cari / baca sendiri yaaa…)

Ovarium
Berfungsi gametogenesis / oogenesis, dalam pematangan dan pengeluaran sel telur (ovum).
Selain itu juga berfungsi steroidogenesis, menghasilkan estrogen (dari teka interna folikel)
dan progesteron (dari korpus luteum), atas kendali dari hormon-hormon gonadotropin.

Endometrium
Lapisan dalam dinding kavum uteri, berfungsi sebagai bakal tempat implantasi hasil
konsepsi.
Selama siklus haid, jaringan endometrium berproliferasi, menebal dan mengadakan sekresi,
kemudian jika tidak ada pembuahan / implantasi, endometrium rontok kembali dan keluar
berupa darah / jaringan haid.
Jika ada pembuahan / implantasi, endometrium dipertahankan sebagai tempat konsepsi.
Fisiologi endometrium juga dipengaruhi oleh siklus hormon-hormon ovarium.

HORMON-HORMON REPRODUKSI

GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone)


Diproduksi di hipotalamus, kemudian dilepaskan, berfungsi menstimulasi hipofisis anterior
untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH / LH ).

FSH (Follicle Stimulating Hormone)


Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior, sebagai respons terhadap GnRH. Berfungsi
memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium wanita (pada
pria : memicu pematangan sperma di testis).
Pelepasannya periodik / pulsatif, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 3 jam), sering
tidak ditemukan dalam darah. Sekresinya dihambat oleh enzim inhibin dari sel-sel granulosa
ovarium, melalui mekanisme feedback negatif.
LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone)
Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH berfungsi memicu
perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya
ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge). Selama fase luteal siklus, LH meningkatkan dan
mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi dalam menghasilkan progesteron.
Pelepasannya juga periodik / pulsatif, kadarnya dalam darah bervariasi setiap fase siklus,
waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 1 jam). Kerja sangat cepat dan singkat.
(Pada pria : LH memicu sintesis testosteron di sel-sel Leydig testis).

Estrogen
Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara
primer, dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui konversi
hormon androgen. Pada pria, diproduksi juga sebagian di testis.
Selama kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta.
Berfungsi stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ
reproduksi wanita.
Pada uterus : menyebabkan proliferasi endometrium.
Pada serviks : menyebabkan pelunakan serviks dan pengentalan lendir serviks.
Pada vagina : menyebabkan proliferasi epitel vagina.
Pada payudara : menstimulasi pertumbuhan payudara.
Juga mengatur distribusi lemak tubuh.
Pada tulang, estrogen juga menstimulasi osteoblas sehingga memicu pertumbuhan /
regenerasi tulang. Pada wanita pascamenopause, untuk pencegahan tulang keropos /
osteoporosis, dapat diberikan terapi hormon estrogen (sintetik) pengganti.

Progesteron
Progesteron (alami) diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian diproduksi di
kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga diproduksi di plasenta.
Progesteron menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik (fase sekresi) pada
endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan yang
optimal jika terjadi implantasi.

HCG (Human Chorionic Gonadotrophin)


Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas (plasenta).
Kadarnya makin meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu (sampai sekitar 100.000
mU/ml), kemudian turun pada trimester kedua (sekitar 1000 mU/ml), kemudian naik kembali
sampai akhir trimester ketiga (sekitar 10.000 mU/ml).
Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi hormon-
hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Mungkin juga memiliki fungsi
imunologik.
Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan sebagai tanda kemungkinan adanya
kehamilan (tes Galli Mainini, tes Pack, dsb).

LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolactin


Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu / meningkatkan produksi dan
sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi
pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum.
Pada kehamilan, prolaktin juga diproduksi oleh plasenta (HPL / Human Placental Lactogen).
Fungsi laktogenik / laktotropik prolaktin tampak terutama pada masa laktasi /
pascapersalinan.
Prolaktin juga memiliki efek inhibisi terhadap GnRH hipotalamus, sehingga jika kadarnya
berlebihan (hiperprolaktinemia) dapat terjadi gangguan pematangan follikel, gangguan
ovulasi dan gangguan haid berupa amenorhea.

ANATOMI FISIOLOGI HYMEN

Adalah sejenis selaput tipis yang mengelilingi lingkaran vagina wanita muda, biasanya
terletak 2-3cm dibelakang lubang vagina. Hymen dapat berupa berbagai bentuk. Selaput dara
paling umum adalah berbentuk seperti setengah bulan. Bentuk ini memungkinkan darah dapat
mengalir keluar dari vagina seorang gadis.

Selaput dara atau hymen adalah membran tipis yang menjadi pintu masuk vagina.Rata-rata
bentuk hymen perempuan seperti bulan sabit.Pada umumnya hymen ini elastis. Namun
tingkat elastisitasnya tidaklah sama antara seorang perempuan satu dengan lainnya
Letak hymen sekitar dua hingga tiga sentimeter dari bibir luar (labia mayora) vagina.
Hymenlah yang menjadi pembatas atau pintu antara bibir dalam (labia minora) dengan liang
vagina.

Selaput dara atau hymen adalah lipatan membran yang menutup sebagian luar vagina.
Bentuk selaput dara paling umum adalah sabit. Setelah seorang wanita melahirkan, selaput
dara yang tertinggal disebut carunculae myrtiformes. Selaput dara tidak memiliki fungsi
anatomi yang diketahui. Selaput dara biasanya tidak rusak karena olahraga atau
menggunakan tampon. Di saat seorang wanita mencapai usia pubertas, selaput dara menjadi
elastis.

Pada organ reproduksi wanita terdapat selapus tipis yang merupakan sekat atau batas antara
vestibulum vaginae dan partiovaginalis cercivis, yang disebut Hymen. Pada sistem
reproduksi hewan, vagina berperan sebagai selaput yang menerima penis dari hewan jantan
pada saat kopulasi, begitu juga pada sistem reproduksi manusia.

Berikut ini adalah bagian-bagian dari anatomi vagina :

Pada gambar anatomi vagina terlihat dengan jelas bentuk dari hymen (selaput dara).

• Clitoris: Pusat rangsangan, memiliki banyak sel-sel syaraf


• Uretra : Tempat keluarnya urin (air kencing)
• Vaginal: Tempat keluarnya darah haid
• Hymen: Selaput dara keperawanan
Bentuk Selaput Dara Perawan :

Ini adalah annulus sempurna selaput dara. Hal ini disebut annulus karena selaput dara
membentuk sebuah cincin di sekeliling lubang vagina. Dan bentuk Selaput Dara yang seperti
inilah yang disebut perawan. Selaput seperti ini biasanya masih dimiliki gadis usia 13 tahun
kebawah.

Ini adalah selaput dara berbentuk crescentic. Membentuk sebuah bentuk sabit, seperti bulan
setengah, di atas atau (seperti dalam kasus ini) di bawah vagina. Bentuk Selaput Dara seperti
ini juga masih dapat dikatakan Perawan
Ini adalah Selaput dara seorang perempuan dengan pengalaman seksual sendiri (internal) atau
disebut masturbasi. Perhatikan bahwa bentuknya sudah tidak sempurna seperti cincin annulus
selaput dara. Namun begitu seorang gadis yang melakukan masturbasi masih dapat
dinyatakan Perawan, selama masturbasi itu dilakukan oleh gadis itu sendiri, tidak dengan
batuan orang lain.

Bentuk Selaput Dara yang dapat dikatakan tidak lagi perawan :

Ini adalah selaput dara seorang wanita yang hanya memiliki sedikit aktivitas seksual. Dapat
berupa karena pelecehan seksual ataupun tindakan berhubungan intim. Dan ini biasanya
terjadi saat pertama kali Selaput Dara tertembus. Dapat dikatakan bahwa hal ini
dikategorikan sebagai tidak perawan lagi.

Ini adalah vulva seorang wanita yang telah melahirkan. Selaput dara benar-benar hilang, atau
mungkin tersisa sedikit. Yang jelas ini sudah bukan perawan lagi, melainkan sudah emak-
emak.

Gambar-gambar Selaput Dara di bawah ini tergolong perawan, namun memiliki


beberapa bentuk yang berbeda:

Kalau yang ini dinamakan selaput dara imperforate. Seorang dokter akan melakukan operasi
untuk membuat lubang di selaput dara pada bayi perempuan yang terdapat kasus seperti
terlihat pada gambar diatas.

Ini adalah selaput dara berkisi yang sangat langka, yang dicirikan oleh banyak lubang kecil.
Selaput dara jenis ini memungkinkan menstruasi dan cairan lain keluar dengan tidak ada
masalah, tetapi aktivitas seksual dan memasukkan tampon bisa menimbulkan masalah.

Ini adalah denticular langka pada selaput dara, disebut demikian karena terlihat seperti set
gigi yang mengelilingi vagina.
Ini adalah fimbriated langka selaput dara, dengan pola yang tidak teratur di sekitar vagina.

Yang ini namanya Labial langka pada Selaput Dara.


Beberapa gadis lahir dengan hanya sebuah lubang kecil di selaput dara mereka. Pembedahan
juga diperlukan untuk bayi yang baru lahir ini untuk membuat lubang vagina yang lebih
besar.

Kelangkaan ini disebut septate selaput dara karena selaput dara potongan yang membuat
septum, atau jembatan, di seberang lubang vagina.
Ini adalah subseptate langka selaput dara, mirip dengan septate hanya selaput dara tidak
membuat sebuah jembatan sepanjang jalan melintasi.

2. KONSEP MENSTRUASI

Siklus menstruasi terbagi menjadi 3 fase:

• Fase Folikuler
Dimulai dari hari 1 sampai sesaat sebelum kadar LH meningkat dan terjadi pelepasan
sel telur (ovulasi). Dinamakan fase folikuler karena pada saat ini terjadi pertumbuhan
folikel di dalam ovarium.
Perdarahan menstruasi berlangsung selama 3-7 hari, rata-rata selama 5 hari. Darah
yang hilang sebanyak 28-283 gram. Darah menstruasi biasanya tidak membeku
kecuali jika perdarahannya sangat hebat.
• Fase Ovulatoir
Fase ini dimulai ketika kadar LH meningkat dan pada fase ini dilepaskan sel telur. Sel
telur biasanya dilepaskan dalam waktu 16-32 jam setelah terjadi peningkatan kadar
LH.
Folikel yang matang akan menonjol dari permukaan ovarium, akhirnya pecah dan
melepaskan sel telur. Pada saat ovulasi ini beberapa wanita merasakan nyeri tumpul
pada perut bagian bawahnya. Nyeri ini dikenal sebagai mittelschmerz, yang
berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam.
• Fase Luteal
Fase ini terjadi setelah ovulasi dan berlangsung selama sekitar 14 hari. Setelah
melepaskan telurnya, folikel yang pecah kembali menutup dan membentuk korpus
luteum yang menghasilkan sejumlah besar progesteron. Progesteron menyebabkan
suhu tubuh sedikit meningkat selama fase luteal dan tetap tinggi sampai siklus yang
baru dimulai.
Setelah 14 hari, korpus luteum akan hancur dan siklus yang baru akan dimulai,
kecuali jika terjadi pembuahan. Jika telur dibuahi, korpus luteum mulai menghasilkan
HCG (human chorionic gonadotropin). Hormon ini memelihara korpus luteum yang
menghasilkan progesteron sampai janin bisa menghasilkan hormonnya sendiri.
Tes kehamilan didasarkan kepada adanya peningkatan kadar HCG.
• SIKLUS MENSTRUASI

Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain
terjadi siklus estrus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi
pembuahan maka lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh,
sedangkan pada siklus estrus, jika tidak terjadi pembuahan, endomentrium akan
direabsorbsi oleh tubuh.

Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula
setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut :

Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel
primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut sel oosit primer
akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang
menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen
yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi
merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas
waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan
memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel
Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14,
waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus.

Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi
badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron
yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh
darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal,
selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH,
akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron
berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium
menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan
(menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase
menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi
dan terjadilan proses oogenesis kembali.


Gambar : Siklus Menstruasi

• TANDA DAN GEJALA MENSTRUASI

Berikut ini adalah beberapa tanda dan gejala yang dapat terjadi pada saat masa menstruasi:

• Perut terasa mulas, mual dan panas.


• Terasa nyeri saat buang air kecil.
• Tubuh tidak fit.
• Demam.
• Sakit kepala dan pusing.
• Keputihan.
• Radang pada vagina.
• Gatal-gatal pada kulit.
• Emosi meningkat.
• Nyeri dan bengkak pada payudara.
• bau badan tak sedap.

• PENANGGULANGAN

Saat menstruasi, rasa nyeri akibat kram menstruasi seringkali datang. Bisa hanya samar-
samar atau sangat nyeri. Kondisi ini memang sedikit menggangu saat menstruasi. Kondisi
yang dalam istilah medisnya disebut dysmenorrhea ini biasanya terjadi di perut bagian
bawah.Untuk mengurangi nyeri saat haid, ada beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu:

• Perbanyak asupan cairan untuk menghindari dehidrasi. Kekurangan cairan akan


membuat nyerinya semakin terasa. Usahakan untuk minum air hangat untuk
meningkatkan aliran darah ke daerah panggul.
• Membuat ramuan jahe. Caranya, rebus beberapa potong jahe yang telah dimemarkan
dalam air lalu minumlah air jahe dalam keadaan hangat.
• Tempatkan handuk hangat di sekitar perut bagian bawah. Ini cara yang cukup mudah
untuk menghilangkan nyeri sementara waktu.
• Hindari meminum minuman yang mengandung kafein karena bisa memicu iritasi
pada usus halus.
• Meminum teh beraroma mint. Lebih baik jika diminum dalam keadaan hangat.
• Melakukan peregangan pada pagi hari dapat melancarkan pereedaran darah dan
sekaligus mengurangi rasa nyeri.
SEXUAL ABUSE

KONSEP PENYAKIT

1. DEFINISI

Sexual abuse adalah setiap aktivitas seksual antara orang dewasa dan anak. Sexual
abusee termasuk ora-genital, genital-genital, genital-rektal, tangan-genital, tangan-
rektal atau kontak tangan-payudara, pemaparan anatomi seksual, melihat dengan
paksa anatomi seksual, dan menunjukan porngrafi.

2. MANIFESTASI KLINIS
- Penganiayaan seksual

Tanda dan gejala dari penganiayaan seksual terdiri dari:

 Nyeri vagina, anus, dan penis serta adanya perdarahan atau sekret di vagina.

 Disuria kronik, enuresis, konstipasi atau encopresis.

 Pubertas prematur pada wanita

 Tingkah laku yang spesifik: melakukan aktivitas seksual dengan teman


sebaya, binatang, atau objek tertentu. Tidak sesuai dengan pengetahuan seksual
dengan umur anak serta tingkah laku yang menggairahkan.

 Tingkah laku yang tidak spesifik: percobaan bunuh diri, perasaan takut pada
orang dewasa, mimpi buruk, gangguan tidur, menarik diri, rendah diri, depresi,
gangguan stres post-traumatik, prostitusi, gangguan makan, dsb.

3. KLASIFIKASI

Jenis-jenis sexual abuse:


• Kekerasan terhadap perempuan (KTP) :

Segala bentuk kekerasan berbasis jender yang berakibat atau mungkin berakibat,
menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap perempuan ;
termasuk ancaman dari tindakan tsb, pemaksaan atau perampasan semena-mena
kebebasan, baik yang terjadi dilingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan
pribadi. (Deklarasi PBB tentang anti kekerasan terhadap perempuan pasal 1, 1983).

• Child abuse (Penganiayaan anak) (KTA) :

Perlakuan dari orang dewasa atau anak yang usianya lebih tua dengan menggunakan
kekuasaan atau otoritasnya, terhadap anak yang tidak berdaya yang seharusnya
berada dibawah tanggung-jawab dan atau pengasuhnya, yang dapat menimbulkan
penderitaan, kesengsaraan, bahkan cacad. Penganiayaan bisa fisik, seksual maupun
emosional.

• Kekerasan dalam rumah-tangga (KDRT) :

Kekerasan fisik maupun psikis yang terjadi dalam rumah-tangga, baik antara suami-
istri maupun orang-tua-anak. Pada umumnya korban adalah istri atau anak.
Sedangkan pelaku tindak kekerasan terhadap anak biasa ayah atau ibu.

• Perkosaan :

Hubungan suksual yang dilakukan seseorang atau lebih tanpa persetujuan


korbannya, dan merupakan tindak kekerasan sebagai ekspresi rasa marah,
keinginan / dorongan untuk menguasai orang lain dan untuk atau bukan untuk
pemuasan seksual. Seks hanya merupakan suatu senjata baginya untuk menjatuhkan
martabat suatu kaum / keluarga, dapat dijadikan alat untuk teror dsb. Perkosaan tidak
semata-mata sebuah serangan seksual, tetapi juga merupakan sebuah tindakan yang
direncanakan dan bertujuan.

4. FAKTOR RESIKO

- Orang dewasa yang pernah mengalami kekerasan pada masa kanak-


kanaknya termasuk KDRT
- Penyalahgunaan alkohol
- Ketiadaan orang tua
- Hubungn yang tidak baik dengan orang tua
- Lingkungan
- Kurangnya pendidikan
- Ekonomi rendah
- Kondisi sosial dan budaya
- Agama
- Serta proteksi terhadap anak

5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
• Laboratorium

Jika dijumpai luka memar, perlu dilakukan skrining perdarahan. Pada


penganiayaan seksual, dilakukan pemeriksaan:

 Swab untuk analisa asam fosfatase, spermatozoa dalam 72 jam setelah


penganiayaan seksual.

 Kultur spesimen dari oral, anal, dan vaginal untuk genokokus

 Tes untuk sifilis, HIV, dan hepatitis B

 Analisa rambut pubis

• Radiologi

Ada dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan salah pada
anak, yaitu untuk:

 Identifiaksi fokus dari jejas

 Dokumentasi

Pemeriksaan radiologi pada anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya dilakukan


untuk meneliti tulang, sedangkan pada anak diatas 4-5 tahun hanya perlu
dilakukan jika ada rasa nyeri tulang, keterbatasan dalam pergerakan pada saat
pemeriksaan fisik. Adanya fraktur multiple dengan tingkat penyembuhan adanya
penyaniayaan fisik.

• CT-scan lebih sensitif dan spesifik untuk lesi serebral akut dan kronik, hanya
diindikasikan pada pengniayaan anak atau seorang bayi yang mengalami trauma
kepala yang berat.

• MRI (Magnetik Resonance Imaging) lebih sensitif pada lesi yang subakut dan
kronik seperti perdarahan subdural dan sub arakhnoid.

• Ultrasonografi digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi visceral

• Pemeriksaan kolposkopi untuk mengevaluasi anak yang mengalami penganiayaan


seksual.

6. PENATALAKSANAAN

Ada dua macam terapi pengobatan yang dapat dilakukan penderita PTSD/sexual
abuse, yaitu farmakoterapi dan psikoterapi.

1. Farmakoterapi

a. Menangani psikologis

Pengobatan farmakoterapi dapat berupa terapi obat psikis hanya dalam hal
berkelanjutan pengobatan pasien yang sudah dikenal, yaitu terapi anti depresant,
obat yang biasa digunakan adalah benzodiazepin, litium, camcolit, dan zat pemblok
beta, seperti propranolol, klonidin,dan karbamazepin.(Kaplan et al,1997).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan obat anti depresant :

• Riwayat respon klien terhadap obat


• Farmakogenetik (riwayat respon keluarga terhadap obat)
• Jenis depresi
• Kemungkinan interaksi obat
• Profil adverse event obat
• Harga obat

b. Mencegah komplikasi yang mengancam jiwa (Wilma Doedens, UNFPA and


Marian Schilperoord, UNHCR) :

• Infeksi Menular Seksual (Sipilis, Chlamydia, dll)- Vaksinasi hepatitis B


• Penularan HIV

Jika insiden < 72 jam dan resiko penularan : Zidovudine (AZT) + Lamuvudine
(3CT) untuk 28 hari.

• Mencegah kehamilan

Untuk kurang dari 5 hari pasca pemerkosaan biasanya diberikan levonorgestrel


dosis tunggal 1,5 mg atau ethinylestradiol 100 mcg + levonorgestrel 0,5 mg, dua
dosis terpisah 12 jam (Yuzpe). Alternatif dengan menggunakan IUD.

• Perawatan luka

- Membersihkan dan mengobati luka

- Memberikan profilaksis dan vaksinasi

2. Psikoterapi

Ada tiga tipe psikoterapi yang digunakan dan efektif untuk penanganan PTSD,
yaitu : anxiety management, cognitive therapy, exposure therapy. (Pusat Penelitian
dan Pengembangan Sistim dan Kebijakan Kesehatan, Surabaya)

a. Anxiety management

• Terapi Relaksasi

Tujuan pokok dari terapi relaksasi adalah untuk menahan terbentuknya respon stress
terutama dalam system saraf dan hormone serta membantumencegah atau
meminimalkan gejala fisik akibat stress.

i). . Teknik Relaksasi Fisik, yaitu dengan melakukan pernapasan diafragma.


Langkah-langkah :

- Posisikan tubuh secara nyaman

- Konsentrasi

- Tarik napas dalam dari hidung atau mulut masuk ke paru, beri jeda sebentar,
kemudian keluarkan udara melalui salauran masuknya udara tersebut.

ii). Teknik Relaksasi Mental, yaitu dengan melakukan meditasi dan imajinasi mental.

- Meditasi : suatu peningkatan konsentrasi dan kesadaran,bertujuan untuk


menjernihkan pikiran.

- Imajinasi mental : suatu teknik mengkaji kekuatan pikiran pasien saat sadar maupun
tidak sadar untuk menciptakan bayangan gambar yang membawa ketenangan dan
keheningan di pikiran pasien.

• Breathing retraining

Yaitu belajar bernafas dengan perut secara perlahan-lahan, santai, dan menghindari
bernafas dengan tergesa-gesa yang menimbulkan perasaan tidak nyaman, bahkan
reaksi fisik yang tidak baik, seperti jantung berdebar dan sakit kepala.

• Positif thinking- self talk

Yaitu belajar untuk menghilangkan pikiran negatif dan mengganti dengan pikiran
positif ketika menghadapi hal- hal yang membuat stress

• Asser- tiueness training

Yaitu belajar bagaimana mengekspresikan harapan, opini, dan emosi tanpa


menyalahkan atau menyakiti orang lain.

• Thought stopping

Yaitu belajar bagaimana mengalihkan pikiran ketika kita sedang memikirkan hal-hal
yang membuat kita stress (Anonim, 2005).
b. Cognitive therapy

Terapis membantu untuk mengubah kepercayaan yang tidak rasional yang menggangu
emosi dan menggangu kegiatan-kegiatan klien. Misalnya seorang korban kejahatan
mungkin menyalahkan diri sendiri karena kecerebohannya. Tujuan terapi kognitif
adalah mengidentifikasi pikiran-pikiran yang tidak rasional, mengumpulkan bukti
bahwa pikiran tersebut tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut tidak rasional
untuk melawan pikiran tersebut yang kemudian mengadopsi pikiran yang lebih realistik
untuk membantu mencapai emosi yang lebih seimbang. (Anonim, 2005)

c. Exposure therapy

Terapis membantu menghadapi situasi khusus, orang lain, obyek, memori atau emosi
yang mengingatkan pada trauma dan menimbulkan ketakutan yang tidak realistik dalam
kehidupannya. Terapi dapat berjalan dengan cara :

• Exposure in the imagination

Yaitu bertanya pada penderita untuk mengulang cerita secara detail sampai tidak
mengalami hambatan dalam menceritakannya

• Exposure in reality

Membantu menghadapi situasi yang sekarang aman tetapi ingin dihindari karena
menyebabkan ketakutan yang sangat kuat (misalnya: kembali ke rumah setelah terjadi
perampokan di rumah). Ketakutan bertambah kuat jika kita berusaha mengingat situasi
tersebut daripada berusaha melupakannya. Pengulangan situasi disertai penyadaran
yang berulang akan membantu menyadari situasi lampau yang menakutkan tidak lagi
berbahaya dan dapat diatasi (Anonim, 2005).

Terapi tambahan lainnya, yaitu:

• Play therapy

Terapis memakai permainan untuk memulai topik yang tidak dapat dimulai secara
langsung. Hal ini dapat membantu anak merasa lebih nyaman dalam berproses dengan
pengalaman traumatiknya (Anonim, 2005).
• Support group therapy

Dalam terapi kelompok seluruh peserta merupakan penderita PTSD yang mempunyai
pengalaman serupa dimana dalam proses terapi mereka saling mencertitakan tentang
pengalaman traumatis mereka, kemudian mereka saling memberi penguatan satu sama
lain (Swalm, 2005).

7. PERAN DAN PENATALAKSANAAN PERAWAT

Penatalaksanaan Perawat

Prioritas penatalaksanaan perawatan adalah untuk mencegah adanya akibat fatal dari
physical abuse yaitu kecacatan dan kematian segera mungkin di samping memberikan
konseling supaya tidak terjadi kasus physical abuse.

Usaha yang dilakukan diantaranya :

1. Memberikan nasehat yang efektif / pendidikan kesehatan untuk anak, keluarga,


dan abuser yang berhubungan dengan trauma dan tekanan psikologis dan
emosional.
2. Memberikan perhatian lebih pada keluarga (orang tua ) yang berisiko tinggi,
seperti keluarga yang mempunyai riwayat physical abuse dan perilaku substance /
penyalahgunaan alkohol.
3. Perlu adanya suatu struktur kelompok pendukung untuk menguatkan ketrampilan
orang tua dan memonitor kesejahteraan / kesehatan anak.
4. Kunjungan perawat ke rumah atau bersama social worker ke masyarakat untuk
mengamati dan mengevaluasi kemajuan anak dan situasi lingkungan rumah.
Banyak studi sudah menunjukkan bahwa kunjungan yang dilakukan oleh perawat
bersama dengan tenaga sosial akan mencapai hasil yang terbaik.

Peran Perawat

1. B ertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam


menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan
dalam memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil
persetujuan (inform concern) atas tindakan keperawatan yang diberikan
kepadanya.
2. Mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena
klien yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan
banyak petugas kesehatan. Perawat adalah anggota tim kesehatan yang
paling lama kontak dengan klien, sehingga diharapkan perawat harus
mampu membela hak-hak klien.
Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan
termasuk didalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien,
memastikan
kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien (Disparty, 1998
:140). Hak-Hak Klien antara lain:
1. Hak atas pelayanan yang sebaik-baiknya
2. Hak atas informasi tentang penyakitnya
3. Hak atas privacy
4. Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
5. Hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian tindakan.
3. C ONSELOR
Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi
tekanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan
interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan
seseorang.
Didalamnya diberikan dukungan emosional dan intelektual kepada
keluarga
klien. Perawat dapat terus memberikan dukunagn dan motivasi selama
anaknya menjalani proses operasi. Peran perawat :
1. Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan sehat
sakitnya.
2. Perubahan pola interaksi merupakan ³Dasar´ dalam merencanakan
metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya.
3. Memberikan konseling atau bimbingan penyuluhan kepada individu
atau keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan
pengalaman yang lalu.
4. Pemecahan masalah di fokuskan pada masalah keperawatan
Pada kasus ini perawat dapat memberikan konseling mengenai
bagaimana pemecahan masalah yang terjadi akibat pemerkosaan tersebut,
misalnya jika sampai terjadi kehamilan pada klien maka keputusan seperti
apa yang harus diambil. Disini perawat dapat memberikan pertimbangan-
pertimbangan baik- buruknya setiap keputusan yang akan diambil.
4.EDUC ATOR
Mengajar adalah merujuk kepada aktifitas dimana seseorang guru membantu
murid untuk belajar.B elajar adalah sebuah proses interaktif antara guru
dengan satu atau banyak pelajar dimana pembelajaran obyek khusus atau
keinginan untuk merubah perilaku adalah tujuannya. (Redman, 1998 : 8 ). Inti
dari perubahan perilaku selalu didapat dari pengetahuan baru atau ketrampilan
secara teknis. Peran perawat sebagai pendidik adalah dengan mengajarkan
atau memberikan penyuluhan kepada klien mengenai tata cara pelaksanaan
perawatan pasien dengan operasi laparatomy. Perawat dapat memberikan
pendidikan mengenai cara perawatan dan pencegahan infeksi, bagaimana
cara penanganan nyeri,dsb.
5. MANAGER
Mengkoordinasikan aktivitas anggota tim kesehatan lain seperti ahli gizi,
terapi fisik, dal sebagainya. Mengatur waktu kerja dan sumber yang tersedia
di tempat kerja. Mengkoordinasikan dan mendelegasikan tanggungjawab
asuhan dan mengawasi tenaga kesehatan lainnya. Perawat bertanggungjawab
dalam hal administrasi keperawatan baik di rumah sakit maupun di rumah
dalam mengelola keperawatan
6. REHAB ILITATOR
Membantu klien mengembalikan kesehatan klien ke tingkat fungsi maksimal
setelah sakit atau operasi sehingga bisa beradaptasi semaksimal mungkin.Fase
postoperatif dimulai dengan masuknya pasien ke ruang pemulihan dan
berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau dirumah. Pada
fase postoperatif langsung, fokus termasuk mengkaji efek dari agen anastesi
dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan
berfokus pada tingkat penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, dan
tindak lanjut serta rujukan penting untuk penyembuhan yang berhasil dan
rehabilitasi diikuti oleh pemulangan.
7. PEMBERI KENYAMANAN
Kenyamanan dan dukungan emosi memberi kekuatan untuk mencapai
kesembuhan. Misalkan pada fase intraoperatif dari perawatan perioperatif
dimulai ketika pasien masuk atau pindah kebagian atau departemen bedah
dan berakhir pada saat pasien dipindahkan keruang pemulihan. Pada fase ini
lingkup aktifitas dapat meliputi : memasang infus (IV ), memberikan medikasi
intravena, melakukan pemantauan fisiologismenyeluruh sepanjang prosedur
pembedahan dan menjaga keselamatan pasien.
Asuhan keperawatan bukan hanya sekedar memperhatikan kebutuhan fisik
saja, tetapi juga memberikan kenyamanan dan dukungan emosi sehingga
dapat member klien kekuatan untuk mencapai kesembuhannya.
Pelaksanaanya dalam kasus ini :
1. Perawat menggunakan komunikasi terapeutik untuk berkomunikasi
dengan klien.
2. Perawat dapat menciptakan suasana yang tenang dan nyaman bagi klien
dalam menjalani proses penyembuhan.
3. Setiap asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien diusahakan
mampu membuat klien menjadi lebih nyaman,
4. Menjaga privasi dan menfasilitasi kebutuhan klien, seperti menyiapkan
kebutuhan untuk pemeriksaan alat genitalia klien
5. Mencegah infeksi nosokomial dengan menerapkan teknik aseptik dan
antiseptik. Dalam kasus, klien beresiko unutk infeksi sehingga poin ini
harus lebih diperhatikam
6. Mencegah kekeliruan dalam penanganan
8. C OMMUNIC ATOR
Untuk mencapai suatu tujuan dengan maksimal harus terdapat komunikasi
yang efektif antara perawat-klien-perawat lainnya-tenaga kesehatan lainnya.
Sebagai komunikator yang baik, perawat juga dapat berperan sebagai sumber
informasi karena kualitas komunikasi menentukan proses penyembuhan.
Pada kasus ini perawat harus benar-benar menjadi komunikator yang baik
dengan keluarga/ ibu klien agar setiap apapun tindakan yang dilakukan
perawat tidak terdapat kesimpangsiuran. Peran perawat seperti memberikan
perawatan yang efektif, pembuatan keputusan dengan klien dan keluarga,
mengoordinasi dan mengatur asuhan keperawatan , membantu klien dalam
rehabilitasi, memberikan kenyamanan atau mengajarkan sesuatu pada klien
tidak mungkin dilakukan tanpa komunikasi. Peran ini terlihat ketika perawat
bertindak sebagai mediator antara klien dengan anggota tim kesehatan
lainnya. Dalam kasus ini klien mungkin butuh seorang psikiater ketika klien
belum mampu terbuka terhadap kejadian yang dialaminya.
9. PENELITI
Perawat diharapkan menjadi pembaharu dalam ilme keperawatan karena
memiliki keterampilan, inisiatif, cepat tanggap terhadap rangsangan dan
ingkungan. Kegiatan penelitian pada hakekatnya adalah melakukan evaluasi,
mengukur kemampuan, menilai dan mempertimbangkan sejauh mana
efeksifitas tindakan yang telah diberikan. Melalui penelitian, perawat dapat
menggerakkan orang lain untuk berbuat sesuatu yang baru berdasarkan
kebutuhan, perkembangan ada aspirasi individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat. Perawat dituntut untuk mengikuti perkembangan, memanfaatkan
media massa dan informasi lain dari berbagai sumber. Selain itu, perawat
perlu melakukan penelitian, mengembangkan ilmu keperawatan dan
meningkatkan praktik profesi keperawatan.

8. PENDIDIKAN KESEHATAN

Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan dapat melakukan berbagai kegiatan dan program yang ditujukan
pada individu, keluarga, dan masyarakat.

a. Prevensi primer-tujuan: promosi orangtua dan keluarga sejahtera.


Individu

 Pendidikan kehidupan keluarga di sekolah, tempat ibadah, dan masyarakat

 Pendidikan pada anak tentang cara penyelesaian konflik

 Pendidikan seksual pada remaja yang beresiko

 Pendidikan perawatan bayi bagi remaja yang merawat bayi

 Pelayanan referensi perawatan jiwa


 Pelatihan bagi tenaga profesional untuk deteksi dini perilaku kekerasan.

Keluarga

 Kelas persiapan menjadi orangtua di RS, sekolah, institusi di masyarakat

 Memfasilitasi jalinan kasih sayang pada orangtua baru

 Rujuk orangtua baru pada perawat Puskesmas untuk tindak lanjut (follow up)

 Pelayanan sosial untuk keluarga

Komunitas

 Pendidikan kesehatan tentang kekerasan dalam keluarga

 Mengurangi media yang berisi kekerasan

 Mengembangkan pelayanan dukungan masyarakat, seperti: pelayanan krisis,


tempat penampungan anak/keluarga/usia lanjut/wanita yang dianiaya

 Kontrol pemegang senjata api dan tajam

b. Prevensi sekunder-tujuan: diagnosa dan tindakan bagi keluarga yang stress


Individu

- Pengkajian yang lengkap pada tiap kejadian kekerasan pada keluarga pada tiap
pelayanan kesehatan

- Rencana penyelamatan diri bagi korban secara adekuat

- Pengetahuan tentang hukuman untuk meminta bantuan dan perlindungan

- Tempat perawatan atau “Foster home” untuk korban

Tindakan sexual abuse apat dibagi atas tiga kategori, yaitu:

1. Perkosaan, yang bisa terjadi dengan didahului oleh ancaman pelaku dengan
memperlihatkan kekuatannya pada anak,
2. Insesct, hubungan seksual antara individu yang mempunyai hubungan dekat
3. Ekspoitasi, meliputi prostitusi dan pornografi

Gejala-gejala akibat sexual abuse adalah:

1. Nyeri vagina, penis dan rektum, perdarahan


2. Disuria kronik, eneuresis, konstipasi atau gerakan usus yang tidak disengaja
3. Pubertas prematur pada wanita

Dampak dari kekerasan seksual

Telah dipercaya bahwa kekerasan seksual itu berbahaya (Finkelhor & Browne 1986, Wyatt &
Powell 1988). Dari akibat tidak menyenangkan bagi anak-anak secara fisik dan psikologikal
sampai akibat yang menyakitkan. Bahkan anak yang lebih besar yang secara fisik cukup
matang untuk merasakan sensasi seksual merasa sakit dan menderita dari akibatnya. Anak-
anak mengatakan mereka tidak menyukainya, mereka mengharapkan untuk berhenti dan
biasanya menyatakan nyeri dan tidak nyaman ketika mencoba menceritakannya tentang hal
tersebut. Bukti dimana kekerasan seksual pada anak menimbulkan efek yang merugikan
muncil dari:
- Pengamatan kekerasan seksual pada anak ketika mendiagnosis.
- Pengamatan lanjut anak-anak setelah pengakuan terjadi kekerasan seksual.
- Studi populasi orang dewasa ketika menilai frekwensi masalah kesehatan mental pada
populasi dengan kekesaran dan populasi tanpa kekerasan.
Efek-efeknya dapat jangka pendek atau berlangsung lama.

Efek jangka pendek pada anak


- Gangguan perilaku seperti mengotori, membasahi, atau mencelakakan diri sendiri.
- Kelainan keadaan emosional seperti cemas, depresi, dan menarik diri.
- Gangguan dalam proses belajar dan yang berhubungan dengan pendidikan, anak-anak
memerlukan bimbingan pendidikan yang spesial.
- Perubahan hubungan sosial, mereka hanya dapat berhubungan dengan orang dewasa
yang satu jenis kelamin dan tidak mempunyai teman satu kelas atau mengasingkan
diri.

Sindrom penyesuaian diri


Ketika anak ditangkap pada hubungan kekerasan seksual, anak tersebut berkembang pada
pola penyesuaian dengan kekerasan yang dikenal sebagai sindrom penyesuaian diri. (Summit
1983). Pengertian pola perilaku yang normal penting untuk dapat membantu anak-anak
termasuk menjelaskan di pengadilan mengapa anak berkaitan dengan arah keterangan
tertentu. Lima karateristik sindrom penyesuaian diri pada anak dengan kekerasan seksual
adalah :
- Kerahasian
- Tidak berdaya
- Penyesuaian diri
- Telambat penyingkapan
- Penarikan

Kerahasian
Anak-anak dikatakan untuk tidak mengatakan.Ancaman kekerasan fisik, tetapi sering
berjanji menarik kasih sayang dan perhatian, semua yang dibutuhkan untuk menjamin
diamnya anak tersebut. Anak takut celaan atau hukuman dan berusaha mengatakan bahkan
menegaskan ketakutan yang terburuk. Pembalasan dendam pasti terjadi. Seorang anak 5
tahun yang mengatakan kepada bibinya dimana ayah tirinya memasukan jarinya ke dalam
bokong diberikan persembunyian yang baik. Anak lain yang mengeluh kepada ibunya,
”tuppence”nya terluka karena ayahnya membawanya ke tempat tidur dengannya. Ibunya
merespon dengan memukul muka anaknya, meninggalkan memar pada pipinya dan
telinganya.
Anak yang lebih besar mengerti dampaknya pada keluarga dengan adanya
penyelidikan polisi, kemungkinan dipenjara ayahnya, kehilangan pendapatan, menimbulkan
trauma, malu dan kemungkinan semua bertanggung jawab atas semua ini. Jalan keluar yang
logis adalah tetap pada konspirasi kerahasian dan diam.

Tidak berdaya
Anak-anak tidak mampu menghentikan kekerasan pada kebanyakan kasus. Walaupun mereka
dapat menentang, minimal awalnya, mereka akan menemukan sedikit masalah apabila tetap
berbohong, berpura-pura tidur. Pada keadaan ini mereka berusaha melindungi diri mereka
sendiri. Perilaku ini tercermin pada situasi ketika anak-anak diperiksa, selama pemeriksaan
beberapa anak pergi tidur. Anak-anak tidak akan menangis atau melawan untuk melindungi
diri mereka dan ini sering disalahartikan sebagai mau menerima, baik oleh pelaku kekerasan
atau masyarakat luas. Anak tidak berdaya, tidak punya kekuatan dan tidak ada orang yang
merubah hal itu.

Terperangkap dan Penyesuaian diri.


Pada posisi tidak berdaya dan kerahasian, anak merasa terperangkap dan merasa tidak ada
jalan keluar pada situasi ini. Peran yang hanya dapat dilakukan mengatakan dia bertanggung
jawab dan merasakan tidak keliru atau tidak buruk dengan apa yang terjadi dan mencoba
rugi. Perasaan bersalah adalah perasaan yang dibagikan oleh anak-anak dengan kekerasan
seksual.
Anak-anak berhadapan dengan tekanan lain:
- Kebutuhan untuk melindungi anak yang lain
- Kebutuhan untuk melindungi orang tua yang lain
- Kebutuhan untuk melindungi keluarga rumah dan integritas keluarga.

Pelaku kekerasan mengatakan kepada anak jika ia berhenti melakukan kekerasan padanya, ia
dapat pindah ke yang lain, mungkin anak yang lebih muda. Anak mempunyai kemampuan
umtuk menghancurkan keluarga, tapi tanggung jawab untuk mempertahankan tetap bersama.
Pada posisi ini , orang tua yang lain mudah melihat anak sebagai individu yang setuju
dan mau mengikuti hal yang dikatakan dan meragukan pernyataan anak jika akhirnya
kebenaran terungkap. Anak yang mampu menyesuaikan efektif dengan pelaku kekerasan
menutupi kebenaran untuk melindungi orang tua tetapi juga memberikan ruang baginya
untuk selamat. Tidak biasa bagi anak-anak, contohnya Berkembang di sekolah dimana
merasa dilindungi dan aman, terpisah dari bagian hidupnya yang penuh ancaman dan tidak
aman di rumah. Kemampuan anak untuk berkembang membedakan kepribadian untuk
mengatasi dengan perasaan mereka yang dapat mengarah pada kekacauan psikologis dan
keadaan kepribadian ganda yang terlihat pada beberapa dewasa yang bertahan (Goodwin
1989a)

Keterlambatan pengungkapan dan penarikan diri


Banyak anak yang tidak pernah mengatakan kekerasan seksual. Mereka mencoba di dalam
keluarga, tapi jarang di luar keluarga. Banyak korban dewasa mengungkapkannya kemudian
hari yang menunjukan mereka tidak pernah mengatakannya. Hal ini didukung oleh:
- Meliputi situasi yang tidak memungkinkan di rumah
- Adanya teman yang sensitif atau yang membantu contohnya guru sekolah.
- Pelaku kekerasan tidak lagi dalam kontak misalnya bercerai.
- Straregi pembelajaran, saluran telephone untuk minta bantuan.
- Keberuntungan.

Banyak pengungkapan nampaknya muncul kebanyakan dalam kesempatan tertentu. Insiden


dimana kesempatan berbicara dibuat oleh anak ketika pertahanan mulai menurun, dijemput
oleh pendengar yang peduli dan hati-hati. Tetapi ini sangat mudah mengahambat usaha anak
dalam pengungkapan dengan tidak mendengar, tidak setuju dan tidak setuju.
Pengalaman kami menduga pengungkapan bukan hanya didukung oleh umur tertentu (Hobbs
& Wynne 1987, Hanks et al 1988). Berlawanan dengan pandangan secara umum , ketika
seorang anak memasuki remaja, ia akan menjadi lebih berterusterang, kami menemukan
bahwa ini suatu puncak untuk menyerah. Pada usia tersebut anak-anak dapat mulai untuk
keluar dari situasi dan pilihan itu menjadi lebih sederhana daripada pengungkapan dan
keterbukaan. Pengungkapan, tetapi sering terlambat, kekerasan akan terjadi untuk beberapa
kali dan anak takut ia tidak terlihat simpatik.
Bahkan ketika anak dilindungi dan diberikan keamanan, pengungkapan dapat menjadi
proses bertahap yang lambat, menghabiskan bulanan kadang-kadang tahunan. Semua faktor
ini tentu saja membuat penyelidikan kriminal menjadi sulit dan sering tanpa penghargaan. Ini
mudah menduga anak tidak bisa dipercaya ketika tentu saja anak biasanya menyembunyikan
lebih banyak daripada mengungkapkannya. Hanya pengertian dan interpretasi yang sensitif
terhadap proses psikologikal yang terlibat membantu bukti dinilai dengan baik.

Penarikan
Tidak peduli anak, dewasa dan bahkan kadang-kadang saksi profesional mengatakan tentang
kekerasan seksual, mungkin sekali mereka akan memutarbalikannya di bawah tekanan.
Untuk anak-anak, pokok keseluruhan dipenuhi dengan dua perasaan yang
bertentangan, rasa bersalah, dan ragu pada diri sendiri. Sikap permusuhan oleh keluarga atau
dunia luar segera membuat anak mengetahui bahwa mereka lebih baik mengambil itu
kembali dan mengatakan mereka mengarangnya. Kenyataan anak tidak dapat dan tidak siap
mengarang cerita aktivitas seksual secara eksplisit, segera dilupakan dengan semua perhatian
sebagai ancaman pengungkapan anak menyurut. Penarikan menetramkan, membesarkan
ketidakp aercayaan terhadap pengungkapan yang asli dan mengarah pada diam saja.
Sementara hal itu harus dilihat sebgai normal dan diharapkan bagian pengaturan psikologik
dari kekerasan seksual pada anak. Orang lebih bahagia mempercayai anak-anak berbohong
daripada mereka korban kekerasan seksual (Goodwin,1989)

Kemarahan
Emosi marah umum pada kekerasan pada anak dan dapat ditemukan pada banyak jalan.
Ekspresi dari kemarahan adalah sebagai berikut:
- Merusak diri sendiri, membenci diri sendiri, memotong diri sendiri, perilaku bunuh
diri, berganti-ganti pasangan, dan melarikan diri.
- Memperdayakan yang lain
- Menolak orang tua yang tidak melakukan kekerasan, biasanya Ibu jika ayah yang
melakukan kekerasan.
- Agresif, perilaku antisosial, ceroboh merusak, perusakan.
- Depresi, penyalahgunaan obat dan alkohol.
- Ketika anak menjadi besar, melakukan kekerasan atau memperkosa lain yang kurang
berdaya.

Efek jangka panjang pada orang dewasa.


Efek jangka panjang kekerasan pada anak muncul pada banyak jalan (Bbriere & Runtz 1988):
- Masalah kesehatan mental : depresi, bunuh diri, melukai diri sendiri, rendah rasa
percaya diri, dan penyalahgunaan alkohol dan atau obat.
- Kesulitan pengaturan seksual : pelacuran, kesulitan perkawinan, keengganan untuk
berhubungan seksual, dan kontrol kesuburan.
- Disfungsi seksual : pelanggaran, perilaku kejahatan, bertindak kekerasan

Riwayat kekerasan seksual anak pada wanita dengan masalah kesehatan mental
Banyak literatur pada prevalensi populasi klinik kekerasan seksual pada masa anak diantara
wanita dewasa telah ditinjau kembali. (Pilkington & Kremer 1995). Tingginya rasio riwayat
kekerasan seksual pada anak ditemukan pada berbagai kelompok diagnostik. Ini termasuk
pasien dengan :
- Gangguan personalitas multipel
- Gangguan makan
- Nyeri pelvis kronik
- Gangguan psikoseksual
Lebih jauh, telah ditemukan resiko berkembangnya depresi meningkat empat kali
lenih besar pada dewasa dengan kekerasan seksual semasa anak daripada mereka ynag tidak.
Wanita kemungkinan lebih menyimpan dalam keadaan berbahaya, dimana laki-laki
beradaptasi dengan mengeluarkan keadaan bahaya dalam agresifitas dan perilaku pemarah.
Model untuk melihat efek berbahaya diusulkan oleh Finkelhor & Browne (1986) dan
termasuk empat terpisah tetapi saling berhubungan area dinamik yang traumagenik.
Perbedaan dinamik- trauma seksual, penghianatan-stigma dan ketidakmampuan ini
munculkan berbagai gejala dan efek yang kita lihat. Untuk setiap dinamik dapat
dibayangkan :
- komponen kejam
- efek membentuk sesuatu pada anak sampai pada dampaknya.
- Manifestasi yang tergabung dalam anak dan kemudian perilaku dewasa.

Trauma Seksual
Anak dapat menemukan ia menerima perhatian dan kasih sayang dalam tukar menukar seks,
sebagai contoh banyak menerima hadiah untuk membolehkan ayah untuk mendapat jalan.
Anak lalu bingung antara seks dengan cinta dan menerima asuhan dan perhatian. Hasil jangka
panjang menjadi sejalan anak tumbuh ia mungkin berusaha untuk secara seksual semua
hubungan dari perhatian dan kasih sayang yang diharapkan. Hasil akhir akan terlihat
berganti-ganti pasangan seksual, mungkin pelacuran dan mengarah untuk menseksualkan
hubungan dengan teman sendiri.
Pada spektrum keadaan lain, aktivitas seksual dapat dirasakan berhubungan dengan
seluruh emosi dan memori, mengarah pada keengganan seksual dan kesulitan dalam
terangsang dann orgasm atau penghindaran total terhadap hubungan seksual.

Penyangkalan
Bibit penyangkalan dari kehilangan kepercayaan dan kekecewaan yang anak rasakan ketika
dilakukan kekerasan atau tidak dilindungi oleh orang tuanya. Ini dapat memunculkan
ketergantungan pada anak yang lebih kecil atau mencari orang yang dipercaya. Lemahnya
kemampuan untuk menilai orang mengarah pada ketidak percayaan atau salah menilai dalam
hubungan, dengan jelas mendatangkan malapetaka untuk perkawinan atau hubungan jangka
panjang.

Stigmatisasi
Dalam kekerasan seksual pada anak, kesalahan besar dalam aktvitas segera dirasakan oleh
anak seperti pelanggar dan merasa menjadi kotor, mengarah pada rasa tidak berharga dan
rendah rasa percaya diri. Individu tersebut, selama mereka tumbuh, dapat menjadi orang yang
terbuang dalam masyarakat, rentan pada penyalahgunaan alkohol dan obat, melukai diri
sendiri, aktivitas kriminal dan isolasi. (Bagley & Ramsay 1986).

Ketidakberdayaan
Kekerasan seksual jelas suatu penyalahgunaan kekuatan yang semua orang dewasa milki
terhadap anak. Ketidakmampuan untuk menghentikan kekerasaan, membuat anak merasa
tidak mempunyai kekuatan, cemas, dan tidak mampu untuk mempengaruhi hidupnya. Anak
selama ia tumbuh merasa cemas, tidak efisen dengan terganggunya kemampuan beradaptasi,
cenderung melarikan diri terhadap masalah atau kadang-kadang keputusaan dan depresi.
Model Finkelhor & Browne berguna dalam mengerti beberapa mekanisme psikologis
dasar terjadi pada anak dengan kekerasan seksual. Itu didapat dari pengertian banyak fakta,
sebagai contoh pelacuran sering kekerasan seksual pada anak. (James & Meyerding 1977),
dimana terdapat frekwensi tinggi dengan riwayat kekerasan pada wanita yang depresi dan
korbannya dapat melakukan kekerasan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dampak dari kekerasan seksual pada anak


Derajat terlukanya secara emosional seorang anak oleh kekerasan seksual dipengaruhi
oleh beberapa faktor, seperti riwayat sebelumnya, tingkat perkembangannya saat itu dan
umur. Serta sifat dari kekerasan seksual tersebut.
- Jenis tindakan seksual:
frekuensi dan durasi
derajat kekerasan dan pemaksaan serta penyuapan yang digunakan
hubungan dengan pelaku
usia anak saat kontak pertama terjadi
pelaku multipel
- Beberapa faktor penting lainnya:
apakah si anak menceritakan kejadian tersebut?
kepada siapa ia menceritakannya?
apakah keluarga dan institusi yang terlibat telah bertindak?
Jenis dari tindakan seksual
Pada kultur kita terdapat persepsi yang berhierarki mengenai keseriusan dari aktivitas
seksual seperti ciuman, memegang payudara, memegang alat genital dan hubungan
seksual. Hirarki yang sama telah diusulkan untuk memprediksi trauma oleh kekerasan
seksual pada anak. Russel (1988) menemukan data sebagai berikut mengenai persentase
wanita yang mengalami trauma setelah berbagai tindakan:

- sentuhan berpakaian, ciuman yang tidak diinginkan 22%


- menyentuh alat genital dan payudara tanpa pakaian 36%
- hubungan seks melalui vagina, oral atau anal 59%

Tindakan penetrasi dianggap lebih berbahaya dibandingkan yang tanpa penetrasi (Russell
1986, Briere 1988, hareter et al 1988). Selain itu dari berbagai riset didapatkan bahwa
jelas para profesional yang bekerja di bidang ini memiliki persepsi yang sama. Davenport
(1988) mewawancarai 19 dokter ( pediatri, psikiatri), pekerja sosial dan psikolog klinis,
semua aktif bekerja di bidang ini. Dia menemukan bahwa penetrasi dianggap sebagai
bentuk yang paling keras dari semua tindakan ini. Hal ini juga tercemin dari cara hukum
memandang beratnya dari berbagai tindakan tersebut. Istilah pemerkosa sendiri merujuk
pada tindakan penetrasi. Persepsi dari korban (apa yang dirasakan oleh-nya mengenai hal
yang telah dilakukan terhadapnya) serta kerusakan yang ditimbulkan terkait secara erat
dengan etiologinya.

Frekuensi dan Durasi


Keseimbangan dari bukti menginginkan pandangan bahwa suatu sifat membahayakan
terkait kepada frekuensi dan durasi terjadinya Tsaiet al 1979, Russel 1986).
Bagaimanapun juga, kejadian yang kronis mengarah kepada akomodasi yang dapat
berhubungan dengan gejala yang lebih sedikit dalam jangka waktu yang pendek
walaupun hal tersebut dapat menimbulkan bahaya psikologis jangka panjang yang lebih
besar. Dalam kekerasan seksual yang kronis, seorang anak lebih mungkin menderita
kelainan/gangguan perkembangan dalam jangka lama.

Derajat Kekuatan dan Kekerasan


Penerimaan masyarakat terhadap penggunaan kekuatan fisik atau kekerasan sebagai
penyalahgunaan kekerasan, dimana rangsangan yang lebih samar menghasilkan akibat
yang sama sering tidak diperlihatkan dengan cara yang sama. Sebaliknya, walaupun
kekuatan yang pertama dilakukan akan segeram mengakibatkan trauma, terdapat
semacam dukungan untuk korban yang nanti mampu menyadari kesalahan dari
pengalaman dan kekurangterlibatannya. Anak yang ditipu, disuao dan dipengaruhi dapat
merasa terlibat dan pandangan mereka terhadap diri mereka sendiri dapat terganggu.
Mereka seringkali merasa sangat bersalah dan seharusnya dapat menghentikan kekerasan
seksual tersebut. Kenyataan bahwa mereka tidak dapat melakukan hal tersebut dengan
mudah menjadi hilang. Bagaimanapun juga, derajat kekerasan, menurut studi penelitian
tetap merupakan faktor yang penting walaupun tentu saja terkait variabel lainnya
(Finkelhor 1979, Bagley & Ramsay 1986,Rusell 1986).

Hubungan dengan Pelaku


Hubungan dengan pelaku termasuk hubungan keluarga, kualitas dan kedekatan, usia,
jeniskelamin dan ledewasaan dari pelaku.
Kekerasan oleh keluarga dekat, terutama oleh mereka yang yang berperanan sebagai
pengasuh/ bertugas sebagai orang tua biasanya memilkik efek yang paling berbahaya.
(Finkelhor 1979, Adam-Tucker 1982, Russel 1986). Bagaaimanapun, tidak ada hubngan
langsung antara kedekatan hubungan keluarga (keluarga inti, dibandingkan saudara jauh,
dibandingkan teman, dibandingkan orang asing) dan efek pada anak yang telah ditetapkan
(Finkelhor 1979). Dalam jangka waktu lama, kualitas hubungan selain kekerasan seksual
akan turut mempengaruhi hasil yang timbul.

Usia Anak
Usia anak merupakan faktor yang penting dan kompleks. Pada anak yag belum mencapai
usia sekolah, andangan bahwa anak tersebut tidak mengerti atau menyadari kesalahan dari
tindakan tersebut sering dianggap sebagai sesuatu yang mengindikasikan bahwa lebih
kecil bahaya yang ditimbulkan. Namun banyak terdapat anak kecil yang memperlihatkan
tanda dari gangguan emosioanl yang menunjukkan bahwa terlepas dari mereka mengerti
atau tidak perbuatan itu salah, efek negatif tetap dirasakan den arespon tetap terjadi.
Dalam pengertian perkembangan, efek yang terjadi sepertinya terkait kepada proses
perkembangan yang terjadi saat itu. Pada anak yang lebih kecil, perkembangan ataupun
kepercayaan dapat rusak dan apabila kekerasan berlanjut, hubungan dapat menjadi
terganggu dengan cara yang fundamental.
Ini adalah pandangan Hanks at al 1988 bahwa kekerasan seksual menghancukan
landasan perkembangan anak sebagai seorang individu. Kekerasan seksual yang terjadi
pada tahap awal kehidupan seorang anak (dari lahir hingga usia 5 tahun) cenderung
menyebabkan perubahan besar dan fundamental pada perkembangan normal dan dari
yang telah kita pelajari sebelumnya akan berakibat sepanjang hidupnya. Anak-anak telah
dirampas kepercayaan dan rasa amannya dalam suatu hubungan. Lebih lanjut mereka
melihat hubungan manusia secara salah, serta distorsi ini yang pada awalnya tidak
diketahui akan berkembang secara kumulatif. Ketika mereka bertambah tua dan mencapai
usia sekitar 9 tahun. Mereka akan menyadari tabu mengenai inses dan akan menarik diri
dengan perasaan salah serta malu, atau berbalik menjadi perilaku agresif atau
menganiaya.

Dewasa muda dianngap sangat rentan secara psikologis terhadap kekerasan seksual. Masa
ini digambarkan sebagai masa pencarian identitas dan pengertian mengenai hubungan
seksual yang normal dan menyimpang, serta dorongan ke arah otonomi dan kebebasan.
Identitas seksual sedang dalam puncak perkembangannya dan akan terdistorsi oleh
kekerasan seksual. Perasaan bersalah sering ditemukan dan diperumit oleh efek
menyenangkan yang ditimbulkan oleh kontak seksual. Isolasi dari teman sebaya mungkin
juga dilakukan oleh pelaku. Pelaku sering menolak anak itu memiliki hubungan lain dan
membatasi kemungkinan hubungan yang bersifat seksual lainnya. Usia adalah suatu
variabel kompleks, dimana efek yang timbul berbeda sesuai dengan tingkat
perbekembangannya.

Pelaku multipel
Efek yang terjadi bila kekerasan dilakukan oleh beberapa pelaku, anak akan merasa
bahwa kesalahan adalah pada dirinya, bukan oleh pelaku. Efek merusak ini bertambah
dan suatu pola bahwa penyalahan diri mungkin berkembang sampai usia dewasa.

Efek dari pengakuan


Anak tidak hanya akan terluka oleh tindak kekerasan, tapi juga oleh respon dari keluarga
dan sistim profesional. Ketidakpercayaan atau penolakan oleh seseorang yang
bertanggung jawab terhadap anak itu (contoh ibu atau bapak), akan menyebabkan
gangguan mayor selain juga akibat dari kekerasan seksual. Hal ini akan menambah rasa
pengkhianatan pada anak. Bahkan apabila suatu pengakuan dipercayai, hal ini akan
menimbulkan trauma yang sangat ekstrim pada keluarga. Gangguan pada hubungan
keluarga, bunuh diri dan pergolakan emosi serta penderitaan berpotensi untuk merusak,
terutama pada jangka pendek. Suatu respon yang positif dan dukungan terhadap
pengakuan, dapat bersifat terapeutik dalam membantu anak dan mempunyai efek pada
hasil akhir. Seperti sikap terhadap pria (Wyatt dan Ray Mickey 1988). Banyak anak-anak
menerima sedikit bantuan terapeutik berupa dukungan positif. Reaksi yang paling sering
walaupun kekerasan telah diakui dan ditindaklanjuti, adalah untuk melupakannya secepat
mungkin (Frothingham et al 1993).

Gangguan iatrogenik
Sangat penting untuk membedakan antara krisis dan penderitaan menyusul penemuan,
yang tidak disebabkan oleh respon profesional dan komponen iatrogenik lainnya (Jones
1991):
- intervensi profesional yang berlebihan, pelaku mungkin jadi mengasingkan orang
tua dan anak yang terlibat.
- Wawancara berulang, multipel, selain itu juga wawancara yang berkepanjangan
dan penuh tekanan.
- Pemeriksaan fisik yang berulang (selain bertentangan dengan kemauan sang anak
atau tidak sensitif)
- Efek sosial dan ekonomi pada keluarga. Hal ini tidak sepenuhnya iatrogenik dan
juga apabila memang diperlukan pemisahan, yang berakibat pada hilang
pendapatan, perkerjaan dan lainnya.
- Pengambilan keputusan bersifat defensif. Hindari usaha seperti pengambilan anak
dari keluarganya di luar kehendak. Lebih baik bila pelaku yang diambil dari
rumah.
- Kehadiran di pengadilan. Hal ini terubuk menambah efek berupa pengalaman
buruk terhadap anak (Flin & Bull 1989, Goodman dkk 1989).
- Menunda terapi. Terkadang memang tidak tersedia atau ditunda untuk karena efek
yang ditimbulkan pada awal terapi.
- Pemberian terapi yang berkepanjangan, dimana perubahan tidak munkin. Hal ini
menambah keadaan dan perasaan putus asa dari keluarga. Dimana intervensi pada
awal sudah cukup.
- Rumah dan orang tua asuh. Kekerasan lebih lanjut dapat timbul dan dapat
merusak untuk anak yang ditaruh disana untuk perlindungannya. Anak yang telah
mengalami kekerasan seksual sering dipindah karena pada umumnya lebih sulit
untuk dirawat. Kurangnya dukungan dari orangtua asuh dan terlalu sering
berpindah, merupakan dasar dari komponen profesional.

ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

1. Identitas klien
Nama : An. E
Umur : 14 tahun
J enis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Pengamen
2. Keluhan utama : Sakit dan perdarahan pada daerah alat genitalia.
3. Riwayat kesehatan sekarang : Klien mengeluh sakit dan perdarahan pada
daerah alat genitalianya.
4. Riwayat kesehatan masa lalu : 2 bulan yang lalu klien mengalami menarche
dengan keluhan yang menyertai perut terasa sakit, dan dismenore. Dan 3 hari
yang lalu, klien mengalami sexual abuse.
5. Aspek psiko-sosio-spiritual
- Psiko, kaji kondisi psokologis klien dan keluarganya dalam menghadapi
keluhannya. Klien menjadi pendiam dan susah berkomunikasi dengan
orang lain, dan ayah selalu mengeluarkan kata-kata yang terkesan selalu
menyalahkan anaknya.
- Sosio, kaji tentang hubungan social klien dengan lingkungan. Klien
tinggal di daerah perkampungan kumuh padat penduduk dan berasal
dari keluarga dengan tingkat social ekonomi yang rendah, sehingga
klien sejak kecil sudah dituntut membantu keluarganya untuk mencari
nafkah dengan cara mengamen di pinggir jalan dari siang hingga malam
hari.
- Spiritual, kaji tentang keyakinan klien dan keluarga tentang ketaatan
beribadah dan bagaimana sikap klien dan keluarga dalam menghadapi
cobaan dilihat dari sudut pandang agama atau keyakinan.
6. Data Subyektif
a. Kaji batasan Karakteristik
i. Riwayat aktivitas seksual yang tidak diinginkan.
-Kita dapat menanyakan waktu dan tempat kejadiannya :
Dalam kasus tempatnya tidak diketahui, tetapi waktunya terjadi
pada saat malam hari.
-Kita tanyakan identitas dan gambaran si penyerang
-B agaimana hubungan seksualnya (berdasarkan tipe, jumlah,
paksaan, senjata) :
-Klien mengalami sexual abuse berupa pemerkosaan.
-Apakah ada saksi :
Dalam kasus tidak teridentifikasi.
-Aktivitas yang mungkin dapat mengubah bukti (mengganti
pakaian, berendam, berkemih, Touching) :
Dalam kasus tidak teridentifikasi.
ii. Riwayat seksual.
Kita dapat tanyakan tanggal menarche dan menstruasi terakhir :
Dalam kasus, klien mengalami menarche 2 bulan yang lalu, tetapi
menstruasi terakhir tidak teridentifikasi.
Riwayat menstruasi klien
Riwayat penyakit kelamin
Penggunaan alat kontrasepsi
Tanggal terakhir hubungan seksual :
Klien mendapat hubungan seksual sekitar 3 hari yang lalu, itu pun
berupa sexual abuse.
iii. Respons terhadap tindak kekerasan selama fase akut.
Kita kaji individu dan keluarga untuk mengetahui adanya :
Gejala somatic : Iritabilitas pencernaan (mual, muntah,
anoreksia), Ketidaknyamanan pencernaan, Ketidaknyamanan
genitourinaria (nyeri, pruritus), Ketidaknyamanan rektum, Tegang
pada otot rangka (spasme, nyeri), Rabas vagina, Memar dan
edema, Laporan tentang: Sakit kepala, Keletihan, Gatal,
Anoreksia, Mual, Nyeri, Rasa panas pada saluran kemih
Gejala psikologis : klien menjadi pribadi yang pendiam dan susah
berkomunikasi semenjak kejadian sexual abuse tersebut.
Reaksi Seksual : Tidak percaya pada pria, dan Perubahan pada
perilaku seksual
Kita kaji klien untuk mengetahui
Pemahaman tentang kejadian yang dia alami
Pengetahuan tentang identitas si penyerang
Kemungkinan tindak kekerasan sebelumnya
Kita kaji orang tua, mauapun pihak lain untuk mengetahui
Pemahaman mereka tentang kejadian
Kemampuan mereka untuk membantu koping korban : dalam
kasus teridentifikasi bahwa koping keluarga tidak cukup baik,
terutama ayahnya, beliau sering mengeluarkan kata-kata yang
terkesan menyalahkan anaknya.
Kemampuan mereka untuk berkoping
iv. Respon terhadap tindak kekerasan selama fase jangka panjang
Kaji reaksi individu dan keluarga
Respon psikologis :F obia, Mimpi buruk atau gangguan tidur,
Pikiran untuk bunuh diri, Kecemasan, dan Depresi
7. Data Objektif
a. Kaji adanya cedera (ekimosis, laserasi, abrasi)
System pencernaan : mual (-), muntah (-)
Sistem otot rangka : memar (-)
Sistem perkemihan
Sistem reproductive :
Dalam kasus teridentifikasi bahwa dalam pemeriksaan fisik
ditemukan robekan pada fourchette posterior.
b. Kaji respons emosional klien Menangis, Histeris, Menarik diri, Pendiam,
Tenang
c. Kaji adanya perubahan perilaku pada individu
Rasa takut kepada pria
Perilaku menghindar pria
Perilaku menarik diri
B erada di dekat tempat perawat
B erbaring dengan posisi janin
( menurut buku Diagnosa KeperawatanAplikasi oleh LyndaJ ual )
8. Aktivitas atau istirahat : masalah tidur pada klien
9. Integritas ego :
a. Pencapaian diri negative, menyalahkan diri sendiri atau meminta ampun
karena tindakannya terhadap orang tua
b. Harga diri rendah
c. Perasaan bersalah, takut dan malu, putus asa atau tidak berdaya
d. Minimasi atau penyangkalan signifikasi perilaku
e. Penghindaran atau takut pada orang, tempat, objek tertentu, sikap
menunduk atau takut
f. Melaporkan faktor stress
g. Permusuhan terhadap objek atau tidak percaya pada orang lain.
10. Eleminasi :
a. Enuresisi dan enkopresis
b. ISK berulang
c. Perubahan pada tonus sfingter
11. Makan dan minum : muntah sering atau tidak, apakah terjadi anoreksia,
makan berlebihan, perubahan berat badan.
12. Hygiene :
a. Mengenakan pakain yang tidak sesuai dan kondusif atau tidak adekuat
member perlindungan
b. Mandi berlebihan atau ansietas (penganiayaan seksual), penampilan
tidak terpelihara
13. Neurosensori :
Perilaku ekstrem (tingkah laku agresif atau menuntut). Sangat amuk dan
menarik diri, perilaku tidak sesuai dgn usia
b. Status mental ; memori tidak sadar, periode amnesia, pikiran tidak
terorganisasi, kesulitan konsentrasi, afek tidak sesuai, mungkin sangat
waspada, cemas, atau depresi
c. Perubahan akan perasaan, kepribadian ganda, cinta, kebaikan dan
penyesalan
d. Kecemburuan patologis, keterampilan koping terbatas, dan kurang
empati
e. Gelisah
f. Manifestasi psikiatrik (missal disosiatif = kepribadian ganda) dan
gangguan kepribadian ambang
g. Adanya deficit neurologis atau kerusakan SSP tanpa tanda-tanda cedera
eksternal
14. Nyeri atau ketidaknyamanan :
B ergantung pada cedera atau bentuk penganiayaan seksual/ berbagai
keluhan somatic (nyeri perut, nyeri panggul kronis, sakit kepala, dan lain-
lain)
a. Keamanan :
Memar, tanda bekas gigitan, laserasi, ruam atau gatal di area genital,
perubahan tonus sfingter
C edera berulang
Perilaku mencederai diri sendiri
Kurangnya pengawasan sesuai usia, tidak ada perhatian yang dapat
menghindari bahaya dirumah
b. Seksualitas :
Perubahan kewaspadaan atau aktivitas seksual
Perdarahan vagina atau laserasi hymen
Adanya PMS atau vaginitis
c. Interaksi social :
Melarikan diri dari rumah, pola interaksi dalam keluarga secara
verbal kurang responsive, dan harga diri rendah.
15. Pemeriksaan fisik
Terdapat robekan di fourchette posterior.
Hasil rectal touch terjadi rupture pada hymen.
Klien diposisikan dengan posisi dorsal recumbent maupun lithothomi,
lalu dengan menggunakan sarung tangan steril, dan diberi pelumas, kita
periksa hymen, apakah terjadi ruptur maupun ada massa. Prosedur
pemeriksaan colok dubur ini mungkin menimbulkan rasa tidak enak
sedikit, namun ini merupakan pemeriksaan yang cepat dan mudah.
a. Tanda-Tanda Maturasi
1) Payudara:
Tahap 1: penonjolan puting
Tahap 2: tahap bakal payudara dan puting susu sebagai gelembung
kecil; pembesaran diameter areolar
Tahap 3: pembesaran selanjutnya dan penonjolan payudara serta
areola, tanpa pemisahan kontur
Tahap 4: penonjolan areola dan puting susu untuk membentuk
gelembung sekunder di atas tinggi payudara
Tahap 5: tahap mature, hanya penonjolan puting susu. Areola telah
menyatu pada kontur umum payudara (walaupun beberapa individu
normal areola berlanjut membentuk gelembung sekunder)
2) Rambut Pubis:
Tahap 1: praremaja tidak terdapat rambut pubis kecuali rambut
tumbuh yang halus (rambut vellus) serupa dengan yang terdapat
pada abdomen
Tahap 2: pertumbuhan jarang dari rambuut yang panjang, agak
berppigmentasi, rebah, lurus, atau sedikit keriting, terutama
sepanjanng labia
Tahap 3: rambut lebih gelap, lebih kasar, lebih keriting, menyebar
dengan tipis diatas simfisis pubis
Tahap 4: rambut kasar dan keriting seperti yang terdapat pada
oranng dewasa; area yang tertutup lebih besar dari yang terdapat
pada tahap 3, tetapi tidak sebanyak yang terdapat pada orang dewasa
dan belum tumbuh di paha
Tahap 5: rambut sudah seperti orang dewasa dalam kuantitas dan
kualitas, menyebar pada permukaaan media paha tetapi tidak sampai
di atas abdomen
b. Evaluasi Laboratorium
- Tes darah
- Tes urin
- Tes kehamilan
- Tes HIV /AIDS, berdasarkan pada prevalensi infeksi dan dugaan
terhadap resiko HIV
- Skrining PMS
- Kultur serviks/vagina/uretra, rektum, dan faring terhadap N.
- Gonorrhoeae,C .trachomatis
- Preparat basah sekret vagina terhadap T.vaginalis
- Kultur lesi terhadap virus herpes simpleks
- Pemeriksaan serologis terhadap sifilis
- Pewarnaan gram dan kultur umum semua sekret vagina/uretra atau
anus
- Pengumpulan bukti
- Pakaian korban; diambil dengan membuka pakaian anak sewaktu
masih berdiri di atas kain steril dan meletakkan semua pakaian
tersebut ke dalam tas kertas. Pakaian yang dikkumpulkan adalah
pakaian yang dipakai sewaktu terjadi kejadian
- Apusan semen, sperma, asam fosfatase, analisis P30; sedikit
apusan
dari mulut (faring, garis gusi), vagina, dan rektum diambil
menggunakan apusan yang tidak lembab dan dibiarkan kering oleh
udara sebelum disimpan. Apusan dapat juga diambil dari daerah
tubuh yang tampak mengandung sekret baik dengan mengerok
sample kering ke dalam amplop kertas atau denngan apusan yang
sedikit lembab (dengan air steril) yang dibiarkan kering oleh udara.
Sekret lembab sebaiknya diambil dengan apusan dan dibiarkan
kering oleh udara.
- Kerokan kuku untuk debris benda asing; ambil kerokan kuku dan
letakkan spesimen ke dalam amplop kertas
- Pengambilan rambut pubis; rambut pubis yang disisir dikumpulkan
ke dalam amplop kertas.C abut 5-10 rambut pubis dan masukkan ke
dalam amplop yang terpisah
- Debris asing; kumpulkan setiap debris asing yang dicurigai yang
ditemukan pada tubu korban ke dalam amplop kertas
- Identifikasi korban; ambil sample saliva dan sample darah dari
korban untuk mengidentifikasi status sekretorik atau untuk analisis
- DNA kemudian
c. Uji Laboratorium dan Diagnostik:
1. Studi radiografik survey skeletal.
2.C T Scan atau MRI pada cedera yang sakit.
3. Pemeriksaan oftalmologi untuk mendeteksi hemoragi retina (akibat
guncangan atau benturan benda keras)
4.F oto berwarna dari cedera.
5. Lingkar kepala, lingkar abdomen.
6. Pemeriksaan cairan serebrospinal.
7. Test kehamilan.
8. Kultur serviks/ vagina/ uretra, rectum dan faring terhadap
N.Gonorhoeae,C . Trachomatis, T.V aginalis dan kultur lesi terhadap
herpes simpleks.
9. Pemeriksaan serologis terhadap sifilis (sebaiknya diulang 12 minggu
setelah penganiayaan atau pemerkosaan).
10. Pemeriksaan serologir terhadap HIV (sebaiknya diulang dalam waktu 3-
6 bulan setelang penganiayaan)
Pewarnaan Gram dan kultur umum semua secret vagina/ uretra dan
anus.

No Dx keperawatan Tujuan Intervensi Rasional

1. Gangguan rasa Tupan : Mandiri : Mandiri :


nyaman Nyeri a. K aji a. Membantu
genitalia terkontrol/berkurang kualitas dan perawat dalam
: Tupen : durasi nyeri menetukan
nyeri - Tidak terdapat tanda- b. B erikan intervensi yang
berhubungan tanda inflamasi waktu istirahat tepat
dengan yang b. K lien dapat
proses cukup dan istirahat dengan
inflamasi akibat tingkat tenang dan dapat
masukanya aktivitas yang merilekskan
benda asing dapat otot-otot
secara paksa, ditoleran. c. U ntuk
ditandai c. B erikan meningkatkan
dengan : pengalihan kenyamanan
DO :- seperti dengan
DS : klien reposisi dan mengalihkan
mengeluh aktivitas perhatian klien
nyeri di daerah menyenangkan dari
alat seperti rasa nyeri.
genetalia. mendengarkan d. Meningkatkan
musik atau kontrol diri atas
nonton TV efek samping
d. dengan
Menganjurkan menurunkan
tehnik stress dan
penanganan ansietas
stress (tehnik
relaksasi,
visualisasi,
bimbingan),
gembira, dan
berikan
sentuhan
therapeutik.

2. Trauma Tupen : trauma klien Mandiri Mandiri


berhubungan menurun dengan
1.Perhatikan 1.orang yang tidak
dengan riwayat kriteria bebas dari
usia atau tingkat mampu memenuhi
penganiayaan penganiayaan
perkembangan kebutuhannya
ditandai dengan
Tupan : klien tidak klien, mental, sendiri/mengatakan
klien selalu minta
mengalami trauma kecerdasan, hubungan
ditemani oleh
lagi kemampuan pribadinya mngkin
anggota keluarga
atau memerlukan
maupun perawat
keterbatasan pemindahan tempat
fisik
2.tinjau ulang tinggal
keluhan/cedera
2.klien
fisik meliputi
menunjukan tanda-
keluhan yang
tanda gangguan
menunjukan
emosi, apek tidak
penganiyaan sex
sesuai dan prilaku
3.identifikasi seperti menarik
masalah diri, menyimpang,
individual klien atau sikap bunuh
diri meskipun tidak
4. gunakan
ada tanda-tanda
pertanyaan
kekerasan fisik
terbuka dengan
cara yang halus 3. masalah akan
dan peduli bervariasi
tergantung pada
5. evaluasi
situasi individu dan
keluarga dan
mempengaruhi
linhkungan
pilihan intervensi
rumah
4.klien atau
Kolaborasi
keluartga akan
1.gunakan lebih berespon
teknik terapi positif dan lebih
bermain siap untuk
membantu
2.rujuk pada
mengatasi masalah
terapi individu
dan keluarga 5.memberi
petunnjuik
perlunya
perubahan untuk
mencegah masalah
lebih lanjut
Kolaborasi

1.metode yang
tidak mengancam
untuk
mengobservasi
sehingga anak
bebas
mengekspresikan
perasaan dan
persepsinya tanpa
dipengaruhi orang
dewasa

2.individu yang
terlihat perlu
membedakan
antara validasi
emosi dan
ketidaksesuain
perilaku

3. Harga diri rendah Tupen Mandiri Mandiri


berhubungan
Harga diri klien 1.bina hubungan 1.komunikasi,
dengan
meningkat dengan kriteria saling percaya, pertumbuhan dan
kerapuhan
klien berpartisipasi dalam suportif dan berbagai kesadaran
pribadi ditandai
program penanganan menenagkan dalam suatu
dengan klien
untuk mendukung atmosfer
menjadi pendiam 2. jadwalkan
perubahan, penerimaan dan
dan sulit untuk waktu untuk
mengungkapkan kepercayaan
berkomunikasi interaksi dan
peningkatan kepekaan
komunikasi 2.keterampilan
rasa percaya diri
klien atau komunikasi
Tupan perawat berkembang
dengan interaksi
3. gali dab
Kliej menunjukan diskusikan yang sering
perubahan perilaku / pola perasaan
3.mengenal dan
hidup untuk penolakan dan
mengekspresikan
meningkatkan hargta diri kemarahan yang
perasaan
positif berhubungan
mengurangi
dengan situasi
perlunya
invidu
displacement dan
4,perkuat penyangkalan
aktivitas dalam
4.membangun
bodang yang
kepekaan sendiri
diminati klien
dan mengurangi
5,dorong keinginan untuk
partisipasi melakukan
dalam aktivitas perilaku
dengan mengganggu
kelompok teman
5.partisipasi sosial
sebaya,
mebantu
mengembangkan
keterampilan sosial