Anda di halaman 1dari 19

BILANGAN BINER

Komputer tidak bekerja dengan bilangan desimal yakni bilangan biasa yang kita gunakan pada perbitungan. Rangkaian komputer tidak dibuat untuk dapat bekerja dengan bilangan desimal itu.

Jika komputer tidak dapat menangani bilangan desimal, maka dengan apa ia bekerja?

Bilangan biner !

Bersiap-siaplah. Bilangan biner agak aneh, paling sedikit, ketika kita melihatnya untuk pertama kali. Tetapi mereka mulai menjadi wajar setelah kita belajar berhitung dengan bilangan itu serta mengkonversikannya ke bilangan desimal.

1-1. ODOMETER DESIMAL

Descartes (1596-1650) berkata bahwa cara belajar suatu pelajaran barn adalah dari yang diketahui ke yang tidak diketahui, dari yang sederhana ke yang rumit. Mari kita coba.

Yang Diketahui

Setiap orang pemah melihat odometer (penunjuk kilometer) bekeIja. Ketika mobil masih barn, odometemya menunjukkan 0 semuanya:

1

00000

Setelah 1 kilometer, bacaannya menjadi

00001

(Lupakan saja letak 0,1 kilometer). Kilometer berikutnya berturut-turut menunjukkan 00002,00003, dan seterusnya, sampai

00009

Hal serupa juga teIjadi pada akhir kilometer ke-lO. Ketika roda satuan berputar dari 9 kembali ke 0, secara mekanik, satu tonjolan pada roda memaksa roda puluhan maju satu langkah. ltu sebabnya mangapa bilangan itu berubah menjadi

00010

Riset-dan- Keri

Roda satuan baru saja melakukan riset ke 0 serta mengirim keri ke roda puluhan.

Kita namakan saja gerakan biasa ini sebagai riset-dan-keri,

Roda lainnya juga melakukan riset-dan-keri. Setelah 999 kilometer, odometer itu menunjukkan

00999

Apa yang dilakukan oleh kilometer berikutnya ? Roda satuan melakukan riset-dankeri, roda puluhan melakukan riset-dan-keri, roda ratusan melakukan riset-dan-keri, dan roda ribuan maju satu langkah sehingga odometer menunjukkan

01000

Dig i t

Bilangan pada setiap roda odometer dinamakan digit. Sistem bilangan desimal menggunakan 10 digit, dari 0 sampai 9. Pada odometer desimal, setiap kali roda satuan kehabisan digit, ia melakukan riset ke 0 dan mengirim keri ke roda puluhan. Ketika roda puluhan kehabisan digit, ia melakukan riset ke 0 dan mengirim keri ke roda ratusan. Dan

demikian seterusnya pada roda selebihnya. -

2

1-2. ODOMETER DINER

Biner berarti "dua", Sistem bilangan biner hanya menggunakan dua digit. 0 dan 1.

Semua digit lainnya (2 sampai 9) tidak digunakannya.

Odometer Luar Biasa

Bayangkan odometer dengan roda yang hanya mempunyai dua digit, 0 dan 1. Ketil setiap roda berputar, ia menunjukkan O. kemudian 1. kemudian balik lagi ke O. d. selanjutnya, langkah demikian berulang lagi. Karena setiap roda hanya mempunyai di digit, maka kita menamakan alat luar biasa ini odometer biner.

Gagasan riset-dan-keri juga berlaku pada odometer biner. Ketika roda berputar de: 1 kembali ke 0; secara mekanik, ia memaksa roda berikutnya maju satu langkah. Denga kala lain, ketika suatu roda kehabisan digit, ia melakukan riset-dan-keri.

Dalam mobil, odometer biner akan mencacah sebagai berikut. Ketika mobil itu masil, barD, odometer menunjukkan semua 0 :

00000 (nol)

Setclab I kilometer, ia menunjukkan

00001 (satu)

Kilometer beriJrut memaksa roda satuan melakukan riset-dan-keri, sehingga bUangan berubah menjadi

00010 (dua)

KilOOleter ketiga menghasilkan

00011 (tiga)

Apa yang tetjadi setelah 4 kilometer? Roda satuan melakukan riset-dan-keri, roda k.edua melakukan riset-dan-keri, dan roda ketiga maju satu langkah. Hasilnya adalah

00100 (empat)

Kilometer berikutnya secara berurutan memberikan 00101 (lima) 00110 (enam) OOp 1 (tujuh)

Setelah 8 kilometer, roda satuan melakukan riset-dan-keri, roda kedua melakukan riset-dan-keri, roda ketiga melakukan riset-dan-keri, dan roda keempat maju satu langkah. Hasilnya adalah

3

01000 (delapan)

Kilometer kesembilan memberikan

01001 (sembilan)

dan kilometer ke-l0 menghasilkan

01010 (sepuluh)

(Coba teruskan sebanyak beberapa langkah lagi)

Kini, kita sudah dapat menangkap gagasannya. Setiap kilometer memajukan roda satuan sebanyak satu langkah, manakala roda satuan kehabisan digit, ia melakukan risetdan-ken. Pada gilirannya, jika roda kedua kehabisan digit, ia melakukan riset-dan-keri. Demikian seterusnya pada roda lainnya.

Bilangan Biner

Odometer biner menunjukkan bilangan biner yakni kelompok bilangan yang terdiri atas 0 dan 1. 00001 menyatakan 1,00010 menyatakan dua, 00011 menyatakan tiga, dan demikian seterusnya.

Jika muncul bilangan besar, maka bilangan biner tampak menjadi canggung. Misalnya, 01000 menyatakan delapan, 01001 menyatakan sembilan, dan 01010 menyatakan sepuluh. Tiada orang biasa yang mau menggunakan bilangan biner kecuali kalau ia terpaksa, Justru itulah yang terjadi ketika kita memasuki analisis komputer; kita terpaksa menggunakan bilangan biner. Mengapa? Karena seperti halnya odometer biner, rangkaian komputer mencacah dan bekeIja dengan bilangan biner.

Ada satu ha11agi yang merupakan hal terakhir. Ketika odometer desimal menunjukkan 00314, maka kita menghilangkan 0 yang mendahuluinya. serta membaca bilangan itu sebagai 314. Serupa dengan itu, ketika odometer biner menunjukkan 00111, kita dapat juga menghilangkan 0 yang mendahuluinya serta membaca bilangan itu sebagai 111. Dengan 0 yang mendahului itu dibuang, maka bilangan biner adalah 0, I, 10, II, 100, 101, dan seterusnya. Untuk mencegah kecampuradukkan dengan bilangan desimal, bacalah bilangan biner itu seperti ini: not satu, satu-nol, satu-satu, satu-nol-nol, satu-nol-satu, dan seterusnya.

1-3. SANDI BILANGAN

Manusia sudah terbiasa mencacah dengan butiran batu. Pada mulanya, satu, dua, tiga, tampak seperti -, •• , •••. Bilangan besar makin parah: tujuh tampak sebagai •••••••.

4

San d i

Mungkin saja terjadi kemalasan atau mungkin juga tersangkut keinginan yang lebih tinggi. Nyatanya, ada orang yang menciptakan sandi desimal seperti tarnpak pad a tabel 1-1. Kini, ciptaan itu sudah merupakan gagasan kuno, narnun pada waktunya dulu, ciptaan itu adalah suatu revolusi. 1 menyatakan ., 2 menyatakan •• , 3 menyatakan ••• , dar: seterusnya. lni adalah sandi bilangan yang pertarna.

Bagaimana dengan bilangan biner ? Tidak lain, ia hanyalah suatu sandi bilanga. yang baru. Daripada digit desimal, kita menggunakan digit biner. Biner 1 menyatakan • biner 10 menyatakan •• , biner 11 menyatakan ••• , dan seterusnya seperti tarnpak pad, tabel 1-1.

TABEL 1-1. SANDI BILANGAN
Biner Desimal Batu
0 0 Kosong
1 1 •
10 2 ••
11 3 •••
100 4 ••••
101 5 •••••
, <
~ 110 6
••••••
III 7 ....... Kesetaraan

Bilangan biner dan bilangan desimal adalah setara jika mereka masing-masing menunjuk. ke batu yang sarna banyaknya. Biner 10 dan desimal 2 adalah setara karena masing-masing menunjuk ke ••. Demikian pula, biner 101 dan desimal 5 adalah setara karena mereka masing-masing menunjuk ke •••••.

Setara adalah landas pertarna yang terletak di antara kita dengan komputer. Kita menyukai bilangan desimal, tetapi komputer menggunakan bilangan biner. Setara menyatakan kapan kita berbicara tentang barang yang sarna. Jika komputer muncul dengan jawaban 101, setara berarti bahwa bagi kita, jawaban itu adalah sarna dengan 5.

Sebagai lengkah awal untuk memaharni komputer, hafalkanlah kesetaraan biner-kedesimal pada tabel I-I.

CONTOH 1-1

Gbr. 1-1 a menunjukkan tiga dioda cahaya (light emitting diode, LED). Lingkaran gelap menunjukkan bahwa LED itu padarn; lingkaran terang menunjukkan bahwa ia menyala. Untuk membaca tampilan itu, gunakanlah sandi ini:

5

LED

o 1

Biner

padam nyala

Bilangan biner apa yang ditunjukkan oleh Gbr. l-1a ? Oleh gambar 1-lb ?

SOLUSI

Gbr, 1-1 a menunjukkan padam-nyala-nyala, Ini menyatakan biner 011. dan setara

dengan desimal 3. .

Gbr. 1-1b menunjukkan nyala-padam-nyala, dikenal sebagai biner 101, dan setara

dengan desiimal 5. .

.00

0.0

(a)

(b)

Gambar 1-1. Tampilan LED untuk bilangan biner

CONTOH 1·2

Suatu odometer biner mempunyai empat roda. Secara berurutan, sebutkanlah bilangan biner.

SOLUSI

Delapan bilangan biner yang pertama adalah

0000.0001,0010,0011,0100,0101,0110,0111

Pada cacahan berikut, tiga roda di sebelah kanan melakukan riset-dan-keri; roda keempat maju satu langkah. Jadi, delapan bilangan berikutnya adalah

1000, 1001, 10tO, 1011, 1100, 1101, 1110, 1111

6

1-4. MENGAPA DILANGAN DINER DIGUNAKAN

Bacaan terakhir 1111 adalah setara dengan desimal 15. Kilometer berikut melakukan riset terhadap semua roda untuk kembali ke 0, dan selanjutnya, semua langkah berulang kembali.

Kata "komputer" memberi kesan sebagai pengunyah bilangan. Namun, komputer adalah lebih dari sekedar mesin jumlah otomatik. Jawaban yang keluar dari komputer dapat berupa solusi dari soal aritmetika, atau basil terjemahan dari satu bahasa ke bahasa lain, atau langkah terbaik pada suatu pennainan catur, dan sebagainya. Untuk menyajikan terapan yang demikian luasnya, komputer sering dinamakan sebagi pengolah data.

Da t a

Data adalah bilangan, fakta, atau apa saja yang telah diketahui dan diperlukan untuk memecahkan masalah. Data masuk ke dalam komputer, dan di sana, ia diolah untuk menghasilkan informasi barn. Namun, sebelum masuk ke komputer, data harus disandi ke .

bentuk biner. .

Program

Sebelum komputer dapat mengolah data, ada orang yang harus menyusun program yakni suatu urutan instruksi yang memberitahukan komputer apa yang akan dilakukannya. Disesuaikan dengan jenis komputemya, instruksi ini menunjukkan setiap langkah yang diperlukan untuk mencapai jawaban. Sebagai misal, program suatu soal aritmetika dapat dimulai dari penjumlahan dua bilangan, mengalikan jumlah itu dengan bilangan ketiga, membagi basilnya dengan bilangan keempat, dan seterusnya, sehingga komputer mencapai jawaban terakhir.

lnilah pokoknya. Di samping mencatu data ke komputer, uta harus juga memuatnya dengan program. Dan seperti halnya pada data, urutan instruksi ini juga harus disandi ke dalam bentuk biner. Keterangan berikut ini akan menunjukkan mengapa kita hams berbuat demikian.

Transistor

Pernahkah anda menganalisis atau merancang rangkaian dengan beberapa lusin transistor ? Kalau sudah, maka anda seharusnya telah mengetahui betapa buruknya perubahan yang timbul pada transistor. Tanpa balikan yang besar, titik kerjanya bergerak melantur secara liar, penguatannya berubah secara besar-besaran, dan rangkaian itu bekerja secara tat menentu. Bayangkan, masalah apa yang timbuk ketika rangkaian itu memiliki ribuan transistor.

Komputer menggunakan rangkaian padu (K') dengan ribuan transistor, baik bipolar maupun MOS. Dari satu rangkaian ke rangkaian berikutnya, melalui ubahan pada temperatur, parameter (J3dc, I"" ' gm ' dan lainnya) dapat berubah lebih dari 50 persen. Se-

7

kalipun dengan ubahan parameter yang demikian hebatnya, rangkaian padu itu tetap bekeIja dengan sangat baik. Bagaimana mungkin ?

Jawabannya terletak pada rancangan dwi-status yang hanya menggunakan dua titik pada garis beban setiap transistor. Sebagai misal, rancangan dwi-status yang paling umum adalah pendekatan putus-jenuh (cutoff-saturation); setiap transistor bekerja pada titik putus atau titik jenuh, bergantung kepada bentuk sinyal masukan. Ketika transistor berada pada titik putus atau titik jenuh, maka diperlukan ubahan yang sangat besar pada parameter untuk dapat mengeluarkannya dari letak titik putus atau titik jenuh itu. Karena itulah, kita dapat merancang rangkaian dwi-status yang dapat diandalkan, sekalipun transistor itu sendiri adalah tidak rapi dan peka terhadap temperatur.

Register Transistor

Ini adalah suatu contoh dari rancangan dwi-status. Gambar 1-2 menunjukkan suatu register transistor. (Register adalah kumpulan alat untuk dipakai sebagai penyimpan data). Transistor di kiri berada pada titik putus karena voltase basis masukan adalah 0 V. Wama gelap pada transistor itu menunjukkan bahwa ia berada pada titik putus.

r-----------~------------,-----------_,--~+15V

OV (Sekitar)

OV (Sekitar)

OV

+15V

+15V

OV

Gambar 1-2. Register transistor

Dua transistor di sebelah kanan mempunyai catu basis sebesar 15 V. Jika setiap ~dc lebih besar dari sekitar 10, maka transistor itu akan mencapai titik jenuh. Dengan menggunakan jenis transistor yang memiliki nilai ~dc lebih dari 10, maka pada semua kondisi kerja, kita dapat menjamin bahwa transistor itu akan berada pada titik jenuh manakala catu basis adalah 15 V.

Pokok pada Gbr. 1-2 adalah begini. Karena voltase basis adalah 0 V atau 15 V, maka transistor itu bekerja pada titik putus atau pada titik jenuh. Vo1tase basis 0 V memaksa

8

transistor itu ke titik putus. Voltase basis 15 V mendorong transistor itu ke titik jenuh. Jadi, setiap transistor berada pada status tertentu sampai voltase basis mengalihkannya ke status lawannya. Inilah yang dinamakan operasi dwi-status.

Sandi Lain Lagi.

Rancangan dwi-status hampir menyeluruh pada elektonika digital. Dan di situlah bilangan biner turut serta: Voltase rendah menyatakan biner 0, dan voltase tinggi me nyatakan biner 1. Dengan kata lain. kita menggunakan sandi sebagai berikut:

Voltase

° 1

Biner

Rendah Tinggi

Sebagai misal, voltase basis pada Gbr. 1-2 adalah rendah-rendah-tinggi-tinngi atau adalah biner 0011. Voltase ko1ektor adalah tinggi-tinggi-rendah-rendah atau adalah biner 1100.

Register pada Gbr. 1-2 menyimpan data biner. Keluarannya adalah biner 1100 yakni setara dengan desimal 12. Dengan menguosh voltase basis, kita dapat menyimpan bilangan biner apa saja di antara 0000 sampai 11] 1 (desimal ° sampai 15).

Bit

Bit adalah singkatan kata binary digit yakni digit biner. Bilangan biner seprti 1100 mempunyai 4-bit; 110011 mempunyai 6-bit dan 11001100 mempunyai 8-bit.

Gbr. 1-2 adalah register 4-bit. Untuk menyimpan bilangan biner yang lebih besar, register itu memerlukan tambahan transistor. l'<:;!1bahkan dua transistor ke Gbr. 1-2 maka kita memperoleh register 6-bit. Dengan tambahan empat transistor, kita memperoleh register 8-bit

Rangkaian Tak Jenuh

Janganlah memperoleh kesan bahwa semua rangkaian dwi-status bergerak di antara titik putus dan titik jenuh. Jika transistor bipolar sangat jenuh (menjadi jauh lebih besar dari keperluan minimum untuk ke titik jenuh), maka pembawa-listrik tambahan disimpan di wilayah basis. Jika secara tiba-tiba, voltase basis berubah dari tinggi ke rendah. maka transistor itu tidak dapat segera keluar dari titik jenuh. Ia harus menunggu sampai ketika pembawa listrik tambahan itu meninggalkan basis. Panjang waktu yang diperlukan bagi pembawa listrik itu untuk meninggalkan basis, dinamakan waktu tangguh jenuh dan dilambangkan sebagai td' Secara khas, td berukuran nanodetik.

9

Dalam banyak penerapan, waktu tangguh jenuh adalah cukup kecil sehingga tidak lagi diperhatikan orang. Tetapi sejumlah penerapan memerlukan waktu sakelar yang secepat mungkin. Untuk memperoleh kecepatan maksimum itu, perancang telah menciptakan rangkaian dwi-status yang mensakelar dari titik putus (dekat titik putus) ke titik lebih tinggi di garis beban (tetapi tidak sampai titik jenuh). Rangkaian takjenuh ini mengandal kepada dioda apit atau balikan negatif yang kuat untuk mengatasi variasi parameter (TIL Schottky atau ECL).

Yang perlu kita ingat adalah begini: Tidak menjadi soal, rangkaian jenuh atau tak jenuh yang digunakan, transistor selalu mensakelar di antara dua titik nyata di garis beban. Karena itu, semua voltase masukan dan keluaran, dengan mudah, dikenal sebagai rendah atau tinggi, biner 0 atau biner 1.

Teras Magnetik

Pada beberapa komputer digital, teras magnetik menyimpan data biner. Gbr. 1-3a menunjukkan register teras 4-bit. Setiap teras toroidal terbuat dari ferit (keramik magnetik). Dengan bantuan kaidah tangan-kanan, dapat kita lihat bahwa arus biasa yang mengalir ke dalam kawat akan menghasilkan fluksi dengan arah-jarum-jam; pembalikan arah arus menghasilkan fluksi dengan lawan-arah-jarum-jam.

Teras itu mempunyai simpal histeresis persegi; karena itu, fluksi tetap saja berada pada setiap teras, sekalipun arus pemagnet telah tiada (lihat Gbr 1-3b). Itu sebabnya register teras dapat menyimpan data biner untuk waktu yang tak terbatas.

Sebagai misal, kita menggunakan sandi berikut:

A.uksi Biner

Lawan-arah-jarum-jam 0

Arahiarumiam 1

Dengan demikian, register teras pada Gbr. 1-3b menyimpan biner 1001 yang setara dengan desimal 9. Dengan mengubah arus pemagnet pada Gbr. 1-3a. kita dapat mengubah simpanan datanya.

¢~~(j5 ¢~~(j5

~ It It ~

I I I I

(a) (b)

Gambar 1-3. Register teras

10

Untuk. menyimpan bilangan biner yang lebih besar, tambahkanlah lebih banyak teras.

Tambahan dua teras pada Gbr. 1-3a akan menghasilkan register 6-bit; tambahan empat

teras menghasilkan register 8-bit. .

Memori adalah salah satu bagian utama pada komputer. Ada komputer yang mengandung ribuan register teras. Register itu menyimpan instruksi dan data biner yang diperlukan untuk mengeriakan komputer. Bab 7 akan menguraikan lebih banyak hal tentang memori.

Contoh Dwi-status Lainnya

Pita magnetik dapat menyimpan bilangan biner. Tape recorder memagnet sejumlah titik di pita (biner 1), sementara meninggalkan titik lainnya tidak tennagnet (biner 0). Melalui sandi yang sudah diatur terlebih dahulu, sebarisan titik dapat menyatakan instruksi dalam bentuk sandi atau data dalam bentuk sandi. Dengan cara demikian; sam rol pita dapat menyimpan ribuan instruksi dan data biner untuk dipakai kelak oleh komputer,

Kartu-lobang adalah contoh lain dari konsep dwi-status. Suatu lobang pada kartu menyatakan biner 1, sedangkan tiada lobang menyatakan biner O. Dengan menggunakan sandi yang telah diatur terlebih dahulu, mesin kartu-lobang dengan panel kunci ketik dapat menghasilkan satu tumpukan kartu yang mengadung semua instruksi dan data yang diperlukan oleh kerja komputer.

Sampai-sampai cahaya pada panel kendall komputer pun adalah biner; yang menyala menyatakan biner 1, sedangkan yang padam menyatakan biner O. Pada komputer 16-bit, misalnya, sebarisan 16 cahaya memungkinkan operator untuk melihat isi biner dari berbagai register pada komputer ito. Dengan demikian, ia dapat memonitor seluruh operasi komputer dan, bila perlu, mempeIbaik.inya.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa transistor, teras, kartu, pita, cahaya, dan hampir semua alat lain yang digunakan oleh komputer, kesemuanya didasarkan kepada operasi dwi-status. ltu sebabnya mengapa kita dipaksa untuk menggunakan bilangan biner manakala ' kita menganalisis kegiatan komputer.

CONTOH 1-3.

Gbr. 1:4 menunjukkan secarik pita magnetik. Lingkaran hitam adalah titik tennagnet dan lingkaran putib adalah titik yang tidak termagnet, Bilangan biner apa yang ditunjukkan oleh setiap baris mendatar ?

11

0000 •••

• 0000 ••

• 0 •• 0 •• 00 •• 000 ••• 00 •• 0.00.00 •• 00 •• 0

Gambarl-s, Bilangan biner pada pita maknetik.

SOL US I

Pita itu menyimpan bilangan biner berikut:

Baris 1 0000111
Baris 2 1000011
Baris 3 1011011
Baris 4 0011000
Baris 5 1110011
Baris 6 0100100
Baris 7 1100110 (Catatan: Bilangan biner ini dapat menyatakan instruksi atau data dalam bentuk sandi).

1-5. KONVERSI BINER KE DESIMAL

Telah kita ketahui bagaimana mencacah bilangan biner sampai ke desimal 15. Hal berikut yang perlu kita pelajari adalah bagaimana mengkonversi bilangan biner yang lebih panjang ke kesetaraan desimalnya.

Bobot Desimal

Gbr. 1-5a menunjukkan suatu odometer desimal dengan bacaan 57.034. Di bawah setiap digit terdapat bobot atau nilainya. Digit di sebalah kanan mempunyai bobot t()<> (satuan), digit kedua mempunyai bobot 101 (puluhan), digit ketiga mempunyai bobot 1()2 (ratusan), dan demikian seterusnya. Bobot adalah pangkat dari bilangan 10, karena pada kelilingnya, setiap roda mempunyai 10 digit.

12

(b)

Jumlah semua digit yang dikalikan dengan bobot mereka adalah sarna dengan jumlah keseluruhan yang dinyatakan oleh bilangan itu. Misalnya,

57.034 = 5(1()4) + 7(103) + 0(102) + 3(101) + 4(100) = 50.000 + 7000 + 0 + 30 + 4

5 710134

1()4 103 102 101 100 (a)

Gambar 1-5. (a) Bobotdesimal. (b) Bobot biner

Bobot Biner

Digit pada bilangan biner juga mempunyai bobot Karena kita hanya menggunakan dua digit, maka bobotnya adalah pangkat dari bilangan 2. Seperti ditunjukkan pada Gbr. 1-5b, bobot itu adalah 2° (satuan), 21 (duaan), 22 (empatan). 23 (delapanan), dan 24 (enarnbelasan). Jika terdapat bilangan biner yang lebih panjang, maka bobotnya diteruskan melalui penanjakan pangkat pada bilangan 2.

Kesetaraan desimal dari suatu bilangan biner sarna dengan jumlah dari semua bilangan biner yang dikalikan dengan bobot mereka masing-masing. Sebagai misal, konversi bacaan odometer pada Gbr. 1-5b ke dalarn desimal adalah sebagai berikut:

11001 = 1(24) + 1(23) + 0(22) + 0(21) + 1(2°) = 16 + 8 + 0 + 0 + 1

= 25

Jadi, biner 11001 setara dengan desimal 25.

Sebagai misallain, konversi biner 11001100 ke desimal adalah sebagai berikut:

11001100 = 1(27) + 1(26) + 0(25) + 0(24) + 1(23) + 1(22) + 0(21) + 0(20) = 128 + 64 + 0 + 0 + 8 + 4 + 0 + 0

=204

Jadi, biner 11001100 setara dengan desimal 204.

13

Konversi Cepat dan Mudah

lni adalah cara sederhana untuk mengkonversi bilangan biner ke setara desimalnya:

1. Tulis bilangan biner itu.

2. Tulis 1, 2, 4, 8, ... , di bawah digit binemya.

3. Coretlah semua bobot di bawah digit O.

4. Jumlahkan bobot yang tersisa.

Sebagai misal, konversi biner 1101 ke desimal adalah sebagi berikut:

1. 1101

2. 8 4 2 1

3. 8 4 :z 1

4. 8+4+ 1 -> 13

(Tulis bilangan biner itu) (Tulis bobot)

(Corer bobot) (Jumlahkan bobot)

Langkah itu masih dapat kita padatkan lagi:

1 1 0 1 (Langkah 1)

8 4 :z 1 -> 13 (Langkah 2 sampai 4)

Sebagai contoh lain, ini adalah konversi biner 1110101 dalam bentuk dipadatkan:

1 1 64 32

101 16 $ 4

117

o Z

1

1 ->

(Catatan: Dengan mudah. Konversi ini dapat dilakukan dengan kalkulator elektronika. Ada kalkulator elektronika yang dilengkapi dengan bilangan biner, oktal, desimal dan heksadesimal)

Basis atau Akar

Basis (atau akar) suatu sistem bilangan sarna dengan banyaknya digit pada setiap roda odomatemya. Bilangan desimal mempunyai basis 10 karena digunakan digit dari 0 sampai 9. Bilangan biner mempunyai basis 2 karena hanya digit 0 dan 1 yang digunakan.

Suatu subskrip yang digandengkan dengan bilangan menunjukkan basis dari bi-langan itu. 100 menunjukkan biner 100. Sebaliknya biner 100 menyatakan desimal IO), Subskrip membantu kita untuk menjelaskan persamaan ketika bilangan biner bercampur dengan bilangan desimal. Sebagai misal, dua contoh terakhir dari konversi biner-ke-desimal dapat ditulis begini:

1 HH2 = 1310 11101012 = 11710

14

Setelah itu, kita ingin mengkonversi ke arab sebaliknya, dari desimal ke biner.

Di dalarn buku ini, kita menggunakan subskrip, hanya jika hal itu diperlukan demi kejelasan. Dalarn banyak hal, basis bilangan itu sudah jelas dari jalan uraiannya.

1-6. KONVERSI DESIMAL-KE-BINER

Cara Coba-coba

Cara coba-coba adalah jalan cepat dan mudah untuk mengkonversi bilangan desimal kecil ke setara binemya. Gagasannya adalah mencari bobot biner yang jika dijumlahkan, akan sama dengan bilangan desimal itu. Sekali kita menemukan bobot itu, maka mudahlah untuk menulis bilangan binemya.

Inilah langkah untuk konversi coba-coba itu:

1. Tulis bilangan desimal itu.

2. Tulis semua bobot biner yang kurang dari bilangan desimal itu.

3. Coret bobot sehingga jika dijumlahkan, bobot yang ada menjadi sama dengan bilangan desimal itu.

4. Tulis bilangan biner itu.

Sebagai suatu contoh, ini adalah langkah untuk mengkonversi desimal 25 ke setara binemya:

1. 25

2. 16 8

3. 16 8 4. 1 1

K.2'l 421 001

(Tulis bilangan desimal itu) (Tulis bobot)

(Coret bobot)

(Tulis bilangan biner)

Langkah 3 memerlukan taksiran tentang bobot mana yang perlu dicoret. Diperlukan hanya sekali atau dua kali coba-coba untuk menemukan bahwa 4 dan 2 yang harus dicoret; selanjutnya, jumlah bobot sisanya adalah 25.

Konversi itu masih dapat dipadatkan lagi:

25

16 8 ~ ~ 1 1 1 0 0 1

Jadi, biner 11001 setara dengan desimal 25.

Contoh lain lagi. Konversi desimal 53 ke biner adalah sebagai berikut:

53

32 16 ~ 4,z 1 110101

Dengan demikian, desimal 53 dan biner 110101 adalah setara.

15

Dengan sedikit latihan, banyak orang merasa bahwa metoda coba-coba ini adalah cara yang paling cepat dan mudah untuk mengkonversi bilangan desimal kecil ke setara binemya.

Cara 8agi Dua

Cara bagi dua adalah lebih baik untuk bilangan desimal besar. Metoda konversi ini didasarkan pada ciri genap-ganjil pada bilangan desimal. Sekalipun pembuktiannya cukup rumit, namun paling sedikit, kita dapat mempelajari cara melakukannya.

Inilah langkah yang diperlukan untuk mengkonversi desimal13 ke setara binemya.

Langkah 1. Bagi 13 dengan 2 serta tuliskanlah kegiatan itu seperti ini:

6 1 <- (Sisa pertama)

2 ) 13

Hasil baginya adalah 6 dengan sisa 1.

Langkah 2. Kemudian, bagi 6 dengan 2 untuk memperoleh

3 2JO 2 ) 13

o <- (Sisa kedua) 1

Pembagian menghasilkan 3 dengan sisa O.

Langkah 3. Bagi 2 lagi:

1 2)j 2)6 2m

1 <- (Sisa k.etiga) o

1

Di sini diperoleh hasil bagi 1 dengan sisa 1.

Langkah 4. Sekali lagi kita membagi dengan 2, sehingga

o 2)1 2)3 2)6

2 ) 13 Pada pembagian terakhir ini, 1 tidak dapat dibagi 2; karena itu, hasil baginya adalah 0 dengan sisa sebesar I.

16

(Baca bit ke bawah)

o ) 1 D )6

2)13

Ketika kita mencapai hasil bagi 0 dengan sisa 1, maka proses konversi pun selesai.

Dibaca ke arah bawah, sisa itu memberikan setara biner yang kita carl. Pada contoh ini, biner 1101 adalah setara dengan desimal 13.

Cara bagi dua ini bekerja pada semua bilangan desimal. Terns saja membagi dengan 2 serta tulislah sisa mereka. Ketika kita sampai ke hasil bagi sebesar 0 dengan sisa 1, maka pekerjaan kitapun selesai; dibaca ke arah bawah, sisa mereka adalah bilangan biner yang setara dengan bilangan desimal itu.

Cara Bagi Dua yang Ringkas

Kita tidak perlu terns menerns menuliskan bilangan 2 pada setiap pembagian karena telah kita ketahui bahwa semua pembagian itu adalah dengan 2. Sejak sekarang, beginilah caranya mengkonversi desimal 13 ke setara binemya melalui cara bagi dua itu:

CONTOH 1-4

Konversi desimal 23 ke biner

SOLUSI

Langkah pertama pada konversi itu tampak seperti ini:

11 1

2 ) 23

Setelah semua pembagian, hasil kerja kita adalah sebagai berikut:

Ini berarti bahwa biner 10111 adalah setara dengan desimal 23.

17

SOAL

1-1. Sebutkan setara bilangan desimal untuk bilangan biner berikut ini: 10, 110, 111, 1011, 1100, dan 1110.

1-2. Tuliskanlah persamaan

2+2=4

dengan menggunakan bilangan biner.

1-3. Suatu register transistor 4-bit mempunyai voltase keluaran tinggi-rendah-tinggirendah. Bilangan biner apa yang disimpan di dalam register itu ? Berapakah setara desimalnya ?

1-4. Gbr. 1-6 menunjukkan tampilan LED 8-bit. Lingkaran terang menyatakan bahwa LED menyala (biner 1), dan lingkaran gelap menyatakan bahwa LED padam (biner 0). Bilangan biner apa yang ditampilkannya '1 Berapakah setara desimalnya ?

0.0.00 ••

Gambar 1-6. Tampilan LED 8-bit

1-5. Konversikan bilangan biner berikut ke bilangan desimal:

a. 00111

b. 11001

c. 10110

d. 11110

1-6. Solusikan x dari persamaan berikut:

x10 = 110010012

1-7. Suatu register transistor 8-bit mempunyai keluaran begini: rendah-tinggi-rendah-tinggi-rendah-tinggi-rendah-tinggi Berapakah bilangan desimal setara yang disimpannya ?

18

l-B. Pada Gbr. 1-7. fluksi arah-jarum-jam menyatakan biner 1 dan fluksi 1awan arah jarum jam menyatakan biner O. Bilangan biner apa yang disimpan di dalam register teras 8-bit itu ? Berapakah bilangan desimal setaranya ?

Gambar 1-7. Register teras 8-bit

1-9. Gbr. l-S menunjukkan register sakelar 5-bit. Dengan membuka dan menutup sakelar, kita dapat menyusun berbagai bilangan biner. Seperti biasanya, vo1tase keluaran tinggi menyatakan biner 1 dan voltase keluaran rendah menyatakan biner O. Bilangan biner apa yang keluar dari register sakelar itu ? Berapakah setara desimalnya?

~--------T---------~--------~--------~~+5V

1_.

Gambar 1-8. Register sakelar 5-bit

1-10. Konversikan desimal 56 ke setara binemya.

1-11. Konversikan 7210 ke bilangan biner.

1-12. Suatu register transistor S-bit menyimpan desimal 150. Bagaimanakah voltase keluaran dari register itu ?

1-13. Tampilan LED 8-bit menunjukkan desimal4S. Berapakah bilangan biner setaranya?

1-14. Bagaimanakah cara menyusun sakelar pada Gbr. l-S untuk memperoleh keluaran desimal 27 ?

19