Anda di halaman 1dari 42

BAGIAN ILMU KESEHATAN GIGI ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HASANUDDIN
Tugas

PROSEDUR MENEGAKKAN DIAGNOSIS


DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN GIGI ANAK

Oleh :

Nama : Nurhaida Lamlanto

Stambuk : J 111 06 101

BAGIAN ILMU KESEHATAN GIGI ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2010
PROSEDUR MENEGAKKAN DIAGNOSIS
DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN GIGI ANAK

Perawatan yang tepat dimulai dengan diagnosis yang tepat. Untuk sampai
pada diagnosis yang tepat diperlukan ilmu pengetahuan, keterampilan dan seni : ilmu
pengetahuan penyakit serta gejala-gejalanya, keterampilan untuk melakukan cara
menguji yang tepat, dan seni menyatakan impresi, fakta dan pengalaman ke dalam
pengertian.1

Gambar 1. Prosedur menegakkan diagnose untuk menentukan perawatan yang tepat


Sumber : Pathway of the Pulp. 6th ed.

Gejala adalah kesatuan informasi, yang dicari di dalam diagnosis klinis dan
diidefinisikan sebagai fenomena atau tanda-tanda suatu permulaan keadaan sakit yang
normal dan indikatif. Gejala dapat diklasifikasikan sebagai berikut : gejala subjektif
adalah gejala yang dialami dan dilaporkan oleh pasien kepada dokter, gejala objektif
adalah gejala yang dipastikan oleh dokter melalui berbagai uji/tes. Pengertian
mengenai keduanya adalah penting agar sampai pada identifikasi penyakit yang tepat
dan disamping itu sampai pada suatu diagnosis masalah yang membawa pasien
kepada seorang klinisi. 1

PEMERIKSAAN SUBJEKTIF (ANAMNESIS)

Anamnesis merupakan percakapan professional antara dokter dengan pasien


untuk mendapatkan data/riwayat penyakit yang dikeluhkan pasien.

Informasi tentang riwayat pasien dibagi menjadi 3 bagian : riwayat sosial,


dental dan medis. Riwayat ini memberikan informasi yang berguna merupakan dasar
dari rencana perawatan.2

Riwayat dan Catatan Medis

Guna menghindari informasi yang tidak relevan dan untuk mencegah


kesalahan kelalaian dalam uji klinis, klinisi harus melakukan pemeriksaan rutin.
Rangkaian pemeriksaan harus dicatat pada kartu pasien dan harus dijadikan sebagai
petunjuk untuk melakukan kebiasaan diagnostik yang tepat. 1

Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut keluhan utama pasien, riwayat


medis yang lalu, dan riwayat kesehatan gigi yang lalu diperiksa. Bila diperlukan lebih
banyak informasi, pertanyaan-pertanyaan selanjutnya harus ditujukan kepada pasien
dan harus dicatat secara hati-hati. 1

Gejala-gejala Subjektif

Daftar isian medis yang lengkap yang berisi riwayat medis dan kesehatan gigi
pasien terdiri dari gejala-gejala subjektif. Termasuk di dalam kategori ini adalah
alasan pasien menjumpai dokter gigi, atau keluhan utama. Umumnya, suatu keluhan
utama berhubungan dengan rasa sakit, pembengkakan, tidak berfungsi/estetik.
Mungkin juga hanya karena “ada sesuatu pada rontgen”, yang dikeluhkan pasien.
Apapun alasannya, keluhan utama pasien merupakan permulaan yang terbaik untuk
mendapatkan suatu diagnosis yang tepat. 1

Keluhan utama yang paling sering melibatkan perawatan adalah rasa sakit.
Pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang bijaksana mengenai rasa sakitnya dapat
menolong seorang ahli diagnostik menghasilkan suatu diagnosis sementara dengan
cepat. Pasien harus ditanya tentang macam rasa sakit, lokasinya, lamanya, apa yang
menyebabkannya, apa yang meringankannya, dan pernah atau tidak melibatkan
tempat lain. 2

Garis besar pencatatan riwayat

Riwayat Sosial : 2

1. Nama (termasuk nama singkat atau nama kecil alamat sekolah, saudara laki-
laki dan perempuan). Dokter gigi harus memanggil dengan nama yang
disukainya. Jawaban yang diberikan segera memberi petunjuk terhadap
karakter dan pikiran anak. Ia dapat menjawab dengan mudah, bersahabat,
menunjukkan bahwa ia senang dan santai, atau ia dapat menolak menjawab
sama sekali, menunjukkan bahwa ia malu, cemas atau melawan.
2. Binatang peliharaan. Kegiatan yang disukai di rumah dan disekolah.
Pertanyaan sederhana tentang rumah dan sekolah adalah cara umum
berkomunikasi dengan anak. Selain itu, jawabannya dapat menggali lebih jauh
minat dan lingkungan rumah anak.
3. Pekerjaan ibu adalah membawa anak pada kunjungan berikut. Yang paling
sering ibulah yang membawa anak pada kunjungan pertama ke dokter gigi.
Bila ada kesulitan, harus dipertimbangkan pada rencana perawatan, khususnya
bila diperlukan perawatan yang lama.
4. Pekerjaan ayah. Golongkan keluarga menurut status social, berdasar pada
pekerjaan ayah, lakukan penaksiran terhadap sikap keluarga terhadap
perawatan gigi. Sering pekerjaan ayah dapat ditentukan sewaktu menanyakan
pekerjaan ibu. Akan tetapi, kadang-kadang tidak dibenarkan untuk
menanyakan hal ini, disini keterangan dapat diperoleh pada pertemuan
selanjutnya, mungkin setelah menanyakan pada anak “ingin jadi apa kelak
kalau sudah besar?”.

Riwayat gigi : 2

1. Keluhan : apakah pasien datang dengan keluhan tertentu ? Jika tidak, apa
alasan kedatangannya ? Misalnya: pemeriksaan rutin dianjurkan setelah
pemeriksaan gigi di sekolah. Adalah penting mengetahui alasan kedatangan
pasien.
2. Riwayat keluhan jika ada : jika keluhan sakit gigi, cari keterangan berikut :
lokasi, rasa sakit, kapan mulai ? apakah terputus-putus atau terus-menerus ?
jika terputus-putus berapa lama berlangsungnya ? apakah ditimbulkan
rangsang panas, dingin atau manis atau sewaktu makan ? apakah rasa sakit
menyebabkan anak terbangun di waktu malam ? apakah rasa berkurang/hilang
dengan analgesia ? gejala-gejala sakit member indikasi macam kelainan
pulpa, misalnya rasa sakit yang terputus dengan jangka waktu pendek yang
disebabkan panas dingin atau manis; hiperemi pulpa; rasa sakit spontan, berat,
membuat tidak bisa tidur; pulpitis akut; abses. Sayangnya, gejala yang
digambarkan anak atau orang tua samar dan kurang mempunyai nilai
diagnostik.
3. Riwayat kesehatan gigi yang lalu : apakah perawatan gigi yang lalu dilakukan
teratur atau tidak ? apakah pernah diberikan perawatan gigi di lain tempat ?
jika ya, mengapa orang tua mengganti dok ter gigi ? apakah anak pernah
mengalami sesuatu dengan perawatan giginya ? jika ya, perawatan apakah ?
misalnya, penambalan, pencabutan, analgesia lokal dan anastesi umum ?
Keterangan perawatan gigi yang lalu menunjukkan sikap orang tua. Jika anak
dibawa ke dokter gigi baru karena tidak bisa bekerja sama dengan dokter gigi
yang lama, alasan ini perlu ditelusuri dengan teliti dengan member tahu anak
bahwa dokter gigi menarik dan simpatik dan ia pasti akan mencari jalan untuk
mengatasi masalah.
4. Sikap anak terhadap setiap perawatan di atas (pada anak kecil, pendapat orang
tua cukup relevan). Setiap sikap yang tidak menyenangkan selama perawatan
harus diperhatikan dalam rencana perawatan mendatang. Telusuri setiap
bentuk perawatan, dengan mengabaikan sikap anak terhadap perawatan
tersebut menunjukkan kurangnya perhatian pada perasaan anak yang tentunya
tidak sesuai dengan prinsip-prinsip penanganan pasien yang baik.
5. Sikap orang tua terhadap perawatan gigi. Sikap dan harapan orang tua
terhadap perawatan gigi sangat berbeda, rencana perawatan yang diluar
harapan jangan dilakukan sebelum menjelaskan dan menimbang
keuntungannya.

Riwayat medis : 2

1. Penyakit jantung congenital


2. Demam rematik
3. Kelainan darah
4. Penyakit saluran pernapasan
5. Asma
6. Hepatitis
7. Penyakit gastrointestinal
8. Penyakit ginjal atau saluran kencing
9. Penyakit tulang atau sendi
10. Penyakit diabetes
11. Penyakit kulit
12. Kelainan congenital
13. Alergi
14. Pengobatan belakangan atau yang sedang dilakukan
15. Operasi sebelumnya atau penyakit serius
16. Kelainan subnormal mental
17. Epilepsy
18. Riwayat penyakit serius dalam keluarga

PEMERIKSAAN OBJEKTIF (PEMERIKSAAN KLINIS)

Pemeriksaan Ekstra-oral

Setiap kelainan ektraoral yang nampak yang dicatat selama pencatatan riwayat
dapat diperiksa lebih lanjut. Penampilan umum-besar dan berat, cara berjalan, corak
kulit, mata, bibir, simetri wajah, dan kelenjar limfe. 2

Pemeriksaan Intra-oral

Diharapkan agar kecemasan yang dirasakan oleh anak pada kedatangannya


dapat dikurangi atau dihilangkan selama periode pencatatan riwayat. Kemudian, anak
harus duduk dengan tenang pada kursi perawatan. 2

Pemeriksaan awal yang dilakukan pada keadaan seperti ini tidak perlu
mendetail. Jika digunakan sonde harus diingat bahwa terlihatnya alat yang tajam atau
runcing dapat menyebabkan kecemasan dan kecerobohan dalam mempergunakan alat
tersebut dapat menyebabkan timbulnya rasa sakit. Perawatan sederhana dapat dimulai
dengan anak dipangku orang tua, bila anak sudah percaya diri, ia akan dengan senang
hati duduk sendiri. 2
1. Jaringan lunak : mukosa pipi, bibir, lidah, tonsil, palatum lunak, palatum keras
dan gingival.
2. Gigi : kebersihan mulut, keadaan gigi-gigi, posisi gigi-gigi-crowding, spasing,
drifting, oklusi.

Gejala Objektif

Gejala objektif ditentukan oleh pengujian dan observasi yang dilakukan oleh
seorang klinisi. Pengujian-pengujian tersebut adalah sebagai berikut : 1

1) Pemeriksaan visual dan taktil


Uji klinis yang paling sederhana adalah pemeriksaan berdasarkan penglihatan.
Hal ini terlalu sering hanya dilakukan sambil lalu selama pemeriksaan, dan
sebagai hasilnya, banyak informasi penting hilang. suatu pemeriksaan visual dan
taktil jaringan keras dan lunak yang cermat mengandalkan pada pemeriksaan
“three Cs”: color, contour, dan consistency (warna, kontur dan konsistensi). Pada
jaringan lunak, seperti gusi, penyimpangan dari warna merah muda sehat dapat
dengan mudah dikenal bila terdapat inflamasi. Suatu perubahan kontur yang
timbul dengan pembengkakan, dan konsistensi jaringan yang lunak, fluktuan, atau
seperti bunga karang yang berbeda dengan jaringan normal, sehat dan kuat adalah
indikatif dari keadaan patologik.

2) Perkusi
Uji ini memungkinkan seseorang mengevaluasi status periodonsium sekitar suatu
gigi. Gigi diberi pukulan cepat dan tidak keras, mula-mula dengan jari dengan
intensitas rendah, kemudian intensitas ditingkatkan dengan menggunakan tangkai
suatu instrumen, untuk menentukan apakah gigi merasa sakit. Suatu respon
sensitif yang berbeda dari gigi disebelahnya, biasanya menunjukkan adanya
perisementitis (periodontitis). Walaupun perkusi adalah suatu cara sederhana
menguji, tetapi dapat menyesatkan bila digunakan sebagai alat tunggal. Untuk
menghilangkan bias pada pihak pasien, harus diubah rentetan gigi yang diperkusi
pada tes yang berturut-turut. Sering juga, arah pukulan harus diubah dari
permukaan vertikal-oklusal ke permukaan bukal atau lingual mahkota dan
masing-masing tonjol dipukul dengan urutan berbeda. Akhirnya, sambil
mengajukan pertanyaan pada pasien mengenai rasa sakit gigi tertentu, klinisi akan
memperoleh suatu respon yang lebih benar, bila pada waktu yang sama
diperhatikan gerakan badan pasien, reflex respon rasa sakit, atau bahkan suatu
respon yang tidak diucapkan. Jangan melakukan perkusi gigi sensitif melebihi
toleransi pasien. Masalah ini dapat dihindari dengan melakukan tekanan ringan
pada beberapa gigi sebelum melakukan perkusi.

Gambar 2. Tes perkusi.


Sumber : Pathway of the Pulp. 6th ed.

3) Palpasi
Tes sederhana ini dilakukan dengan ujung jari menggunakan tekanan ringan
untuk memeriksa konsistensi jaringan dan respon rasa sakit. Meskipun sederhana,
tetapi merupakan suatu tes yang penting. Nilainya terletak dalam menemukan
pembengkakan yang meliputi gigi yang terlibat dan menentukan hal-hal berikut :
(1) apakah jaringan fluktuan dan cukup membesar untuk insisi dan drainase;
(2) adanya, intensitas dan lokasi rasa sakit; (3) adanya dan lokasi adenopati dan
(4) adanya krepitus tulang.
Bila palpasi digunakan untuk menentukan adenopati sebaiknya berhati-hati bila
melakukan palpasi nodus limfa pada infeksi akut, untuk menghindari
kemungkinan penyebaran infeksi melalui pembuluh limfatik. Bila gigi-gigi
posterior terinfeksi, maka secara diagnostik nodus limfa submaksiler turut terlibat.
Infeksi pada gigi-gigi anterior bawah kemungkinan menyebabkan pembengkakan
nodus limfa submental. Bila infeksi terbatas pada pulpa dan tidak berlanjut pada
periodonsium, palpasi tidak merupakan saran diagnostik. Palpasi, perkusi,
mobilitas, dan depresibilitas adalah lebih untuk menguji periodontium daripada
pulpa.

Gambar 3. Tes palpasi.


Sumber : Pathway of the Pulp. 6th ed.

4) Mobilitas-Depresibilitas
Tes mobilitas digunakan untuk mengevaluasi integritas apparatus pengikat di
sekeliling gigi. Tes ini terdiri dari menggerakkan suatu gigi ke arah lateral dalam
soketnya dengan menggunakan jari atau, lebih diutamakan, menggunakan tangkai
dua instrument. Tujuan tes ini adalah untuk menentukan apakah gigi terikat kuat
atau longgar pada alveolusnya. Jumlah gerakan menunjukkan kondisi
periodonsium; makin besar gerakannya, makin jelek status periodontalnya.
Demikian pula, tes untuk depresibilitas adalah dengan menggerakkan gigi ke arah
vertikal dalam soketnya. Tes ini dapat dilakukan dengan jari atau instrumen. Bila
dijumpai depresibilitas, kemungkinan untuk mempertahankan gigi berkisar antara
jelek dan tidak ada harapan.
Satu klasifikasi mobilitas menetapkan mobilitas derajat pertama sebagai gerakan
gigi yang nyata dalam soketnya; mobilitas derajat kedua adalah gerakan gigi
dalam jarak 1 mm, dan mobilitas derajat ketiga adalah gerakan lebih besar
daripada 1 mm atau bila gigi dapat ditekan.

Gambar 4. Tes mobilitas.


Sumber : Pathway of the Pulp. 6th ed.

5) Radiografi
Radiografi adalah salah satu alat klinis paling penting untuk membuat diagnosis.
Alat ini memungkinkan pemeriksaan visual struktur mulut yang tidak mungkin
dapat dilihat dengan mata telanjang. Tanpa alat ini tidak mungkin dilakukan
diagnosis, seleksi kasus, perawatan, dan evaluasi penyembuhan luka. Praktik
kedokteran gigi tidak mungkin dilakukan tanpa radiograf.
Untuk dapat menggunakan radiograf dengan tepat, seorang klinisi harus
mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat
memberikan interpretasi secara tepat. Diperlukan suatu pengertian seksama
tentang anatomi normal dan anomalinya yang mendasarinya dan perubahan yang
dapat timbul yang disebabkan oleh ketuaan, trauma, penyakit dan penyembuhan.
Dengan demikian, baru bayangan hitam-putih berdimensi-dua yang diproses pada
film ini mempunyai arti.

6) Uji listrik pulpa


Mengetes pulpa dengan listrik lebih cermat daripada beberapa tes yang digunakan
untuk menentukan vitalitas pulpa. Meskipun vitalitas pulpa tergantung pada
sirkulasi darah intrapulpa, tidak pernah ditemukan tes klinis yang praktis untuk
menguji sirkulasi. Tester listrik bila digunakan untuk menguji vitalitas pulpa,
malahan menggunakan stimulasi saraf. Tujuannya adalah untuk merangsang
respon pulpa dengan mengenakan arus listrik yang makin meningkat pada gigi.
Suatu respon positif merupakan suatu indikasi vitalitas dan membantu dalam
menentukan normalitas atau abnormalitas pulpa tersebut. Tidak adanya respon
terhadap stimulus listrik dapat merupakan indikasi adanya nekrosis pulpa.

Gambar 5. Tes elektrik.


Sumber : Pathway of the Pulp. 6th ed.
7) Uji termal
Tes ini meliputi aplikasi dingin dan panas pada gigi, untuk menentukan
sensitivitas terhadap perubahan termal. Meskipun keduanya merupakan tes
sensitivitas, tetapi tidak sama dan digunakan untuk alasan diagnosis yang
berbeda. Suatu respon terhadap dingin menunjukkan pulpa vital, tanpa
memperhatikan apakah pulpa itu normal atau abnormal. Suatu respon abnormal
terhadap panas biasanya menunjukkan adanya gangguan pulpa atau periapikal
yang memerlukan perawatan endodontik.
Tes panas. Tes panas dapat dilakukan dengan cara yang berbeda-beda yang
menghasilkan derajat temperatur yang berbeda. Daerah yang akan dites diisolasi
dan dikeringkan, kemudian udara hangat dikenakan pada permukaan gigi yang
terbuka dan respon pasien dicatat. Bila diperlukan temperatur yang lebih tinggi
untuk mendapatkan suatu respon, harus digunakan air panas, burnisher panas,
guta-percha panas atau kompoun panas atau sembarang instrument yang dapat
menghantarkan temperatur yang terkontrol pada gigi. Bila menggunakan benda
padat, seperti guta-perca panas, panas tersebut dikenakan pada bagian sepertiga
oklusobukal mahkota terbuka. Bila tidak timbul respon, bahan dapat dipindahkan
ke bagian sentral mahkota atau lebih dekat dengan serviks gigi. Bila timbul suatu
respon, benda panas harus segera diambil. Harus dijaga untuk tidak menggunakan
panas yang berlebihan atau memperpanjang aplikasi panas pada gigi.
Tes dingin. Aplikasi dingin dapat dilakukan dengan berbagai cara yang berbeda.
Suatu cucuran udara dingin dapat dikenakan langsung pada mahkota gigi yang
sebelumnya dikeringkan dan juga pada tepi gusi. Bila tidak timbul respon, gigi
dapat diisolasi dengan isolasi karet dan disemprot dengan etil klorida yang begitu
cepat menguap sehingga mengabsorpsi panas dan dengan demikian mendinginkan
gigi. Suatu cara yang lebih umum adalah meletakkan kapas yang dibasahi dengan
etil klorida pada gig yang dites. Meskipun temperaturnya tidak sedingin seperti
bila digunakan semprotan etil klorida, umumnya cukup dingin untuk
mendapatkan suatu respon yang absah.
8) Uji anestesi
Tes ini terbatas bagi pasien yang sedang merasa sakit pada waktu dites, bila tes
yang biasanya digunakan gagal untuk memungkinkan seseorang mengidentifikasi
gigi. Tujuannya adalah untuk menganestesi gigi tunggal berturut-turut sampai
rasa sakitnya hilang dan terbatas pada gigi tertentu.
Caranya sebagai berikut : menggunakan injeksi infiltrasi atau intraligamen,
lakukan injeksi pada gigi yang paling belakang pada daerah yang dicurigai
sebagai penyebab rasa sakit. Bila rasa sakitnya tetap ada setelah gigi dianestesi
penuh, lakukan anestesi gigi disebelah mesialnya, dan lanjutkan melakukan
demikian sampai sakitnya hilang. bila sumber rasa sakit tidak dapat ditentukan,
baik pada gigi rahang atas dan rahang bawah, harus diberikan suatu injeksi
alveolar inferior (blok mandibular). Hilangnya rasa sakit tentu saja menunjukkan
keterlibatan gigi mandibular, dan lokalisasi gigi yang khusus dilakukan dengan
injeksi intraligamen, bila anestesi sudah habis efeknya. Tes ini jelas merupakan
suatu usaha terakhir dan mempunyai suatu keuntungan dibandingkan “tes kavitas”
karena selama tes kavitas dapat terjadi kerusakan iatrogenic.

Gambar 6. Tes anestesi dengan injeksi intraligamen.


Sumber : Pathway of the Pulp. 6th ed.

9) Uji kavitas
Tes ini memungkinkan seseorang menentukan vitalitas pulpa. Tes ini dilakukan
bila cara diagnosis lain gagal. Tes kavitas dilakukan dengan cara mengebur
melalui pertemuan email dentin gigi tanpa anestesi. Pengeburan harus dilakukan
dengan kecepatan rendah dan tanpa air pendingin. Sensitivitas atau nyeri yang
dirasakan oleh pasien yang merupakan suatu petunjuk vitalitas pulpa; tidak
diindikasikan untuk perawatan endodontik. Semen sedatif kemudian diletakkan di
dalam kavitas dan pencarian sumber rasa sakit diteruskan. Bila tidak dirasakan
sakit, preparasi kavitas boleh dilanjutkan sampai kamar pulpa dicapai. Bila
seluruh pulpa nekrotik, perawatan endodontik dapat dilanjutkan tanpa rasa sakit
dan dalam kebanyakan kasus tanpa anestesi.

PEMERIKSAAN TAMBAHAN (BILA PERLU)

Radiografi

Kadang-kadang pemeriksaan klinis dapat memberikan semua keterangan yang


diperlukan mengenai pasien, disini mungkin tidak diperlukan radiografi.
Bagaimanapun juga, radiografi biasanya diperlukan satu atau alasan-alasan berikut : 2

1. Untuk mendiagnosis karies gigi pada permukaan gigi yang tidak bisa dilihat
pada pemeriksaan klinis.
2. Untuk mendeteksi kelainan pada perkembangan gigi.
3. Untuk menemukan gangguan khusus, misalnya kondisi jaringan periapikal
yang berhubungan dengan gigi-gigi nonvital atau yang mengalami trauma.

DIAGNOSIS

Diagnosis Karies Gigi

Diagnosis pertama memerlukan inspeksi atau pengamatan pada semua


permukaan gigi dengan bantuan pencahayaan yang cukup, kaca gigi, dan eksplorer.
Radiografi gigi dapat membantu diagnosis, terutama pada kasus karies
interproksimal. Karies yang besar dapat langsung diamati dengan mata telanjang.
Karies yang tidak ekstensif dibantu dulu dengan menemukan daerah lunak pada gigi
dengan eksplorer.3

Beberapa peneliti gigi telah memperingatkan agar tidak menggunakan


eksplorer untuk menemukan karies. Pada kasus dimana sebuah daerah kecil pada gigi
telah mulai untuk demineralisasi namun belum membentuk lubang, tekanan pada
eksplorer dapat merusak dan membuat lubang. 3

Teknik yang umum digunakan untuk mendiagnosis karies awal yang belum
berlubang adalah dengan tiupan udara melalui permukaan yang disangka, untuk
membuang embun, dan mengganti peralatan optis/ Hal ini akan membentuk sebuah
efek "halo" dengan mata biasa. Transiluminasi serat optik direkomendasikan untuk
mendiagnosis karies kecil. 3

Gambar 7. Dental explorer, alat diagnostik karies.


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/karies gigi. diakses pada tanggal 8 juli 2010

Karies berdasarkan lokasi permukaan kunyah dapat dibagi :4

- Karies oklusal
- Karies labial
- Karies bukal
- Karies palatal/lingual
- Karies aproksimal
- Karies kombinasi (Mengenai semua permukaan)
Pembagian lain dari karies berdasarkan lokasi : 4

1. Karies yang ditemukan di permukaan halus

Ada tiga macam karies permukaan halus:

- Karies proksimal adalah tipe yang paling sulit dideteksi. Tipe ini kadang
tidak dapat dideteksi secara visual atau manual dengan sebuah explorer gigi.
Karies proksimal ini memerlukan pemeriksaan radiografi.

Gambar 8. Radiografi karies proksimal


(titik hitam pada batas gigi menunjukkan sebuah karies proksimal)
Sumber : http://yayanakhyar.wordpress.com. Diakses pada tanggal 8 Juli 2010

- Karies akar adalah tipe karies yang sering terjadi dan biasanya terbentuk
ketika permukaan akar telah terbuka karena resesi gusi. Bila gusi sehat, karies
ini tidak akan berkembang karena tidak dapat terpapar oleh plak bakteri.
Permukaan akar lebih rentan terkena proses demineralisasi daripada enamel
atau email karena sementumnya demineraliasi pada pH 6,7, di mana lebih
tinggi dari enamel. Karies akar lebih sering ditemukan di permukaan fasial,
permukaan interproksimal, dan permukaan lingual. Gigi geraham atas
merupakan lokasi tersering dari karies akar.
- Tipe ketiga karies ini terbentuk pada permukaan lainnya
2. Karies di celah atau fisura gigi.

Celah dan fisura adalah tanda anatomis gigi. Fisura terbentuk saat
perkembangan alur, dan tidak sepenuhnya menyatu, dan membuat suatu turunan atau
depresio yang khas pada strutkur permukaan email. Tempat ini mudah sekali menjadi
lokasi karies gigi. Celah yang ada daerah pipi atau bukal ditemukan di gigi geraham.

Karies celah dan fisura terkadang sulit dideteksi. Semakin berkembangnya


proses perlubangan karena karies, email terdekat berlubang semakin dalam. Ketika
karies telah mencapai dentin pada pertemuan enamel-dental, lubang akan menyebar
secara lateral. Di dentin, proses perlubangan akan mengikuti pola segitiga ke arah
pulpa gigi.

Gambar 9.Celah atau fisura gigi dapat menjadi lokasi karies


Sumber : http://yayanakhyar.wordpress.com. Diakses pada tanggal 8 Juli 2010

Karies berdasarkan kedalamannya: 4

a. Karies Superfisial yaitu karies yang hanya mengenai email.


b. Karies Media yaitu karies yang mengenai email dan telah mencapai setengah
dentin.
c. Karies Profunda yaitu karies yang mengenai lebih dari setengah dentin dan
bahkan menembus pulpa.

Gambar 10. Karies berdasarkan kedalamannya


Sumber : http://yayanakhyar.wordpress.com. Diakses pada tanggal 8 Juli 2010

Berdasarkan jaringan yang terkena karies :4

a) Karies Dini/karies email tanpa kavitas yaitu karies yang pertama terlihat secara
klinis, berupa bercak putih setempat pada email.

Anamnesis : Terdapatnya bintik putih pada gigi

Pemeriksaan Objektif :

· Ekstraoral ; tidak ada kelainan

· Intraoral ; Kavitas (-) , lesi putih (+)

b) Karies email dengan kavitas yaitu karies yang terjadi pada email sebagai lanjutan
dari karies dini.

Anamnesa : Gigi bisa terasa ngilu

Pemeriksaan objektif :

· Ekstraoral ; tidak ada kelainan

· Intraoral ; Kavitas (+) baru mengenai email


c) Karies dengan dentin terbuka/dentin Hipersensitif yaitu peningkatan sensitif
akibat terbukanya dentin.

Anamnesa :

· Kadang-kadang rasa ngilu waktu kemasukan makanan

· Waktu minum dingin, asam dan asin

· Rasa ngilu hilang setelah rangsangan dihilangkan

· Tidak ada rasa sakit spontan

Pemeriksaan objektif :

· Pemeriksaan ekstraoral tidak ada kelainan

· Pemeriksaan intraoral : kavitas baru mengenai email

Diagnosis Penyakit Pulpa

Pulpitis atau inflamasi pulpa dapat akut atau kronis, sebagian atau seluruhnya,
dan pulpa dapat terinfeksi atau steril. Karena perluasan inflamasi, apakah sebagian
atau seluruhnya, kadang-kadang bahkan tidak dapat ditentukan secara histologis,
dank arena keadaan bakteriologik, apakah jaringan terinfeksi atau steril, tidak dapat
ditentukan kecuali dengan usapan atau biakan, maka satu-satunya kemungkinan
perbedaan klinis pulpitis adalah antara akut dan kronis. Dua jenis inflamasi kronis
gigi yang pulpanya terbuka secara klinis dapat dikenali : (1) pulpitis kronis berasal
dari pulpa terbuka yang disebabkan karena karies atau trauma; dan (2) pulpitis
hiperplastik kronis. Bentuk akut pulpitis umumnya mengalami rasa sakit cepat,
sebentar, menyakitkan dan kadang-kadang sangat menyakitkan. Bentuk kronis
hampir tanpa gejala atau hanya terasa sakit sedikit dan karenanya biasanya berjalan
lama.1
Jenis inflamasi pulpa tidak selalu jelas. Karena jenis yang satu dapat
bercampur dengan jenis yang lain, kedua jenis inflamasi, akut dan kronis, dapat
dijumpai pada pemeriksaan histologik. Interpretasi studi mikroskopik pulpa dan
jaringan lain tergantung pada preparasi specimen, yaitu fiksasi, sudut dimana
specimen dipotong, dan staining, seperti juga pada bagian khusus yang diperiksa
secara mikroskopis. Pada suatu studi, gigi-gigi dibelah dua, dan bagian diperiksa
terpisah. Pada satu gigi, separuh pulpa mempunyai lesi parah, sedangkan separuh
yang lain hanya membutuhkan beberapa sel inflamasi.1

Klasifikasi klinis penyakit pulpa pertama-tama didasarkan pada gejala. Tidak


terdapat korelasi antara penemuan histopatologik dan gejala yang ada. Nilai
klasifikasi klinis terletak pada penggunaannya oleh klinisi untuk menentukan
perlindungan dan perawatan yang tepat, prognosis endodontik, dan mungkin,
keperluan restoratif gigi.1

1. Pulpitis reversibel

Definisi. Pulpitis reversibel adalah suatu kondisi inflamasi pulpa ringan-


sampai-sedang yang disebabkan oleh stimuli noksius, tetapi pulpa mampu kembali
pada keadaan tidak terinflamasi setelah stimuli ditiadakan. Rasa sakit yang
berlangsung sebentar dapat dihasilkan oleh stimuli termal pada pulpa yang
mengalami inflamasi reversibel, tetapi rasa sakit hilang segera setelah stimuli
dihilangkan. 1

Histopatologi. Pulpitis reversibel dapat berkisar dari hiperemia ke perubahan


inflamasi ringan-sampai-sedang terbatas pada daerah di mana tubuli dentin terlibat,
seperti misalnya karies dentin. Secara mikroskopis, terlihat dentin reparatif, gangguan
lapisan odontoblas, pembesaran pembuluh darah, ekstravasasi cairan edema, dan
adanya sel inflamasi kronis yang secara imunologis kompeten. Meskipun sel
inflamasi kronis menonjol, dapat dilihat juga sel inflamasi akut. 1
Sebab-sebab. Pulpitis reversibel dapat disebabkan oleh apa saja yang mampu
melukai pulpa. Tegasnya, penyebabnya dapat salah satu yang tertulis berikut :
trauma, misalnya suatu pukulan atau hubungan oklusal yang terganggu; syok termal,
seperti yang ditimbulkan pada waktu melakukan preparasi kavitas dengan bur tumpul,
atau membiarkan bur terlalu lama berkontak dengan gigi, atau karena panas yang
berlebihan pada waktu memoles tumpatan; dehidrasi kavitas dengan alcohol atau
kloroform yang berlebihan, atau rangsangan pada leher gigi yang dentinnya terbuka;
penempatan tumpatan amalgam yang baru berkontak, atau beroklusi dengan suatu
restorasi emas; stimulus kimiawi, misalnya dari bahan makanan manis atau masam
atau dari iritasi tumpatan silikat atau akrilik swa-polimerisasi; atau bakteri, misalnya
dari karies. Setelah insersi suatu restorasi, pasien sering mengeluh tentang sensitivitas
ringan terhadap perubahan temperatur, terutama dingin. Sensitivitas macam itu dapat
berlangsung 2 sampai 3 hari atau seminggu atau bahkan lebih lama, tetapi berangsur-
angsur akan hilang. sensitivitas ini adalah gejala pulpitis reversibel.1

Gejala-gejala. Pulpitis reversibel simptomatik ditandai oleh rasa sakit tajam


yang hanya sebentar. Lebih sering diakibatkan oleh makanan dan minuman dingin
daripada panas dan oleh udara dingin. Tidak timbul secara spontan dan tidak berlanjut
bila penyebabnya telah ditiadakan. Perbedaannya klinis antara pulpitis reversibel dan
irreversibel adalah kuantitatif; rasa sakit pulpitis irreversibel adalah lebih parah dan
berlangsung lebih lama. Pada pulpitis reversibel, penyebab rasa sakit umumnya peka
terhadap suatu stimulus, seperti air dingin atau aliran udara, sedangkan pulpitis
irreversibel rasa sakit dapat datang tanpa stimulus yang nyata. Pulpitis reversibel
asimptomatik dapat disebabkan karena karies yang baru mulai dan menjadi normal
kembali setelah karies dihilangkan dan menjadi normal kembali setelah karies
dihilangkan dan gigi direstorasi dengan baik. 1

Diagnosis. Diagnosis berdasarkan suatu studi mengenai gejala pasien dan


berdasarkan tes klinis. Rasa sakitnya tajam, berlangsung beberapa detik, dan
umumnya berhenti bila stimulus dihilangkan. Dingin, manis, atau masam biasanya
menyebabkan rasa sakit. Rasa sakit dapat menjadi kronis. Meskipin masing-masing
paroksisme (serangan hebat) mungkin berlangsung sebentar, paroksisme dapat
berlanjut berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Pulpa dapat sembuh sama
sekali, atau rasa sakit dapat tiap kali dapat berlangsung lebih lama dan interval
keringanan dapat menjadi lebih pendek, sampai akhirnya pulpa mati. 1

Karena pulpa sensitif terhadap perubahan temperatur, terutama dingin,


aplikasi dingin merupakan suatu cara yang bagus untuk menemukan dan
mendiagnosis gigi yang terlibat. Sebuah gigi dengan pulpitis reversibel secara normal
bereaksi terhadap perkusi, palpasi, dan mobilitas, dan pada pemeriksaan radiografi
jaringan periapikal adalah normal. 1

Anamnesa : 4

Biasanya nyeri bila minum panas, dingin, asam dan asin

Nyeri tajam singkat tidak spontan, tidak terus menerus

Rasa nyeri lama hilangnya setelah rangsangan dihilangkan

Pemeriksaan Objektif : 4

 Ekstra oral : Tidak ada pembengkakan


 Intra oral :

Perkusi (-)

Karies mengenai dentin/karies profunda

Pulpa belum terbuka

Sondase (+)

Chlor etil (+)

2. Pulpitis irreversibel
Definisi. Pulpitis irreversibel adalah suatu kondisi inflamasi pulpa yang
persisten, dapat simptomatik atau asimptomatik yang disebabkan oleh stimulus
noksius. Pulpitis irreversibel akut menunjukkan rasa sakit yang biasanya disebabkan
oleh stimulus panas atau dingin, atau rasa sakit timbul secara spontan. Rasa sakit
bertahan untuk beberapa menit sampai berjam-jam, dan tetap ada setelah stimulus
termal dihilangkan. 1

Histopatologi. Gangguan ini mempunyai tingkatan inflamasi kronis dan akut


di dalam pulpa. Pulpitis irreversibel dapat disebabkan oleh suatu stimulus berbahaya
yang berlangsung lama seperti misalnya karies. Bila karies menembus dentin dapat
menyebabkan respon inflamasi kronis. Bila karies tidak diambil, perubahan inflamasi
di dalam pulpa akan meningkat keparahannya jika kerusakan mendekati pulpa. 1

Sebab-sebab. Sebab paling umum pulpitis irreversibel adalah keterlibatan


bacterial pulpa melalui karies, meskipun factor klinis, kimiawi, termal, atau mekanis,
yang telah disebut sebagai penyebab penyakit pulpa, mungkin juga menyebabkan
pulpitis. Sebagai yang dinyatakan sebelumnya, pulpitis reversibel dapat memburuk
menjadi pulpitis irreversibel. 1

Gejala-gejala. Pada tingkat awal pulpitis irreversibel, suatu paroksisme rasa


sakit dapat disebabkan oleh hal-hal berikut : perubahan temperatur, terutama dingin;
bahan makanan manis atau masam; tekanan makanan yang masuk ke dalam kavitas
atau pengisapan yang dilakukan oleh lidah atau pipi; dan sikap berbaring yang
menyebabkan kongesti pembuluh darah pulpa. Rasa sakit biasanya tetap berlangsung
meski penyebabnya dihilangkan, dan dapat dating dan pergi secara spontan, tanpa
penyebab yang jelas. Pasien dapat melukiskan rasa sakit sebagai menusuk, tajam-
menusuk, atau menyentak-nyentak, dan umumnya adalah parah. Rasa sakit dapat
sebentar-sebentar atau terus-menerus tergantung pada tingkat keterlibatan pulpa dan
tergantung pada hubungannya dengan ada tidaknya suatu stimulus eksternal. 1
Diagnosis. Pemeriksaan biasanya menemukan suatu kavitas dalam yang
meluas ke pulpa atau karies di bawah tumpatan. Pulpa mungkin sudah terbuka.
Waktu mencapai jalan masuk ke lubang pembukaan akan terlihat suatu lapisan keabu-
abuan yang menyerupai buih meliputi pulpa terbuka dan dentin sekitarnya. Probing
ke dalam daerah ini tidak menyebakan rasa sakit pada pasien hingga dicapai daerah
pulpa yang lebih dalam. Pada tingkat ini dapt terjadi sakit dan perdarahan. Bila pulpa
tidak terbuka oleh proses karies, dapat terlihat sedikit nanah jika dicapai jalan masuk
ke kamar pulpa. 1

Pemeriksaan radiografik mungkin tidak menunjukkan sesuatu yang nyata


yang belum diketahui secara klinis, mungkin memperlihatkan suatu kavitas proksimal
yang secara visual tidak terlihat, atau mungkin memberi kesan keterlibatan suatu
tanduk pulpa. Suatu radiografi dapat juga menunjukkan pembukaan pulpa, karies di
bawah suatu tumpatan, atau suatu kavitas dalam atau tumpatan mengancam integritas
pulpa. Pada tingkat awal pulpitis irreversibel, tes termal dapat mendatangkan rasa
sakit yang bertahan setelah penghilangan stimulus termal. Pada tingkat belakangan,
bila pulpa terbuka, dapat bereaksi secara normal. Hasil pemeriksaan untuk tes
mobilitas, perkusi dan palpasi adalah negatif. 1

Anamnesa : 4

· Nyeri tajam spontan yang berlangsung terus-menerus menjalar kebelakang telinga


· Penderita tidak dapat menunjukkan gigi yang sakit

Pemeriksaan Objektif : 4

· Ekstra oral : tidak ada kelainan

· Intra oral :

 Kavitas terlihat dalam dan tertutup sisa makanan


 Pulpa terbuka bisa juga tidak
 Sondase (+)
 Khlor ethil (+)
 Perkusi bisa (+) bisa (-)

3. Pulpitis hiperplastik kronis

Definisi. Pulpitis hiperplastik kronis atau polip pulpa adalah suatu inflamasi
pulpa produktif yang disebabkan oleh suatu pembukaan karies luas yang kadang-
kadang tertutup oleh epithelium dan disebabkan karena iritasi tingkat rendah yang
berlangsung lama. 1

Histopatologi. Secara histopatologis, permukaan polip pulpa ditutup


epithelium skuamasi yang bertingkat-tingkat. Polip pulpa gigi sulung lebih mungkin
tertutup oleh epithelium skuamasi yang bertingkat-tingkat/berstrata daripada polip
pulpa gigi permanen. Epithelium semacam itu dapat berasal dari gingival atau dari sel
epithelial mukosa atau lidah yang baru saja mengalami deskuamasi. Jaringan di
dalam kamar pulpa sering berubah menjadi granulasi, yang menonjol dari pulpa
masuk ke dalam lesi karies. Jaringan granulasi adalah jaringan penghubung vaskuler,
muda dan berisi neutrofil PMF, limfosit, dan sel-sel plasma. Jaringan pulpa
mengalami inflamasi kronis. Serabut saraf dapat ditemukan pada lapisan epithelial. 1

Sebab-sebab. Terbukanya pulpa karena karies yang lambat dan progresif


merupakan penyebabnya. Untuk pengembangan pulpitis hiperplastik diperlukan suatu
kavitas besar yang terbuka, pulpa muda yang resisten, dan stimulus tingkat rendah
yang kronis. Iritasi mekanis yang disebabkan karena pengunyahan dan infeksi
bacterial sering mengadakan stimulus. 1

Gejala-gejala. Pulpitis hiperplastik kronis tidak mempunyai gejala, kecuali


selama mastikasi, bila tekanan bolus makanan menyebabkan rasa tidak
menyenangkan. 1
Diagnosis. Gangguan ini umumnya hanya terlihat pada gigi anak-anak dan
orang muda. Penampilan jaringan polipoid secara klinis adalah khas : suatu massa
pulpa yang kemerah-merahan dan seperti daging mengisi sebagian besar kamar pulpa
atau kavitas atau bahkan meluas melewati perbatasan gigi. Jaringan polipoid kurang
sensitif daripada jaringan normal daripada jaringan pulpa normal dan lebih sensitif
daripada jaringan gingival. Pemotongan jaringan ini tidak menyebabkan rasa sakit.
Jaringan ini mudah berdarah karena suatu anyaman pembuluh darah yang subur. Jika
jaringan pulpa hiperplastik meluas melewati kavitas atau gigi, maka akan terlihat
seolah-olah jaringan gusi tumbuh di dalam kavitas. 1

Tidak begitu sukar untuk mendiagnosi pulpitis hiperplastik kronis dengan


hanya pemeriksaan klinis. Jaringan pulpa hiperplastik di dalam kamar pulpa atau
kavitas gigi adalah khas dalam penampilannya. Radiografi umumnya menunjukkan
suatu kavitas besar yang terbuka dengan pembukaan kamar pulpa. Gigi bereaksi
lemah atau sama sekali tidak terhadap tes termal, kecuali jika digunakan dingin yang
ekstriem, seperti etil klorida. Diperlukan lebih banyak arus daripada gigi normal
untuk mendapatkan suatu reaksi dengan menggunakan tester pulpa listrik. 1

4. Neksrosis pulpa

Definisi. Nekrosis adalah matinya pulpa. Dapat sebagian atau seluruhnya,


tergantung pada apakah sebagian atau seluruhnya terlibat. Nekrosis, meskipun suatu
akibat inflamasi, dapat juga terjadi setelah injuri traumatik yang pulpanya rusak
sebelum terjadi reaksi inflamasi. 1

Bakteriologi. Banyak bakteri telah diisolasi dari gigi dengan pulpa nekrotik.
Pada persentase tinggi kasus-kasus ini, saluran akar berisi suatu campuran flora
mikrobial, aerobik dan anaerobik. 1

Histopatologi. Jaringan pulpa nekrotik, debris seluler dan mikroorganisme


mungkin terlihat di dalam kavitas pulpa. Jaringan periapikal mungkin normal, atau
menunjukkan sedikit inflamasi yang dijumpai pada ligament periodontal. 1
Jenis. Nekrosis ada dua jenis umum : koagulan dan likuefasi. Pada nekrosi
koagulan. Pada nekrosis koagulan, bagian jaringan yang dapat larut mengendap atau
diubah menjadi bahan solid.caseation adalah suatu bentuk nekrosis koagulasi yang
jaringan berubah menjadi massa seperti keju terdiri terutama atas protein yang
mengental, lemak dan air. Nekrosis likuefaksi terjadi bila enzim proteolitik mengubah
jaringan menjadi massa yang melunak, suatu cairan, atau debris amorfus. 1

Penyebab. Nekrosis pulpa dapat disebabkan oleh injuri yang membahayakan


pulpa seperti bakteri, trauma dan iritasi kimiawi. 1

Gejala-gejala. Gigi yang kelihatan normal dengan pulpa nekrotik tidak


menyebabkan gejala rasa sakit. Sering, diskolorisasi gigi adalah indikasi pertama
bahwa pulpa mati. Penampilan mahkota yang buram atau opak hanya disebabkan
karena translusensi normal yang jelek, tetapi kadang-kadang gigi mengalami
perubahan warna keabua-abuan atau kecoklat-coklatan yang nyata dan dapat
kehilangan kecemerlangan dan kilauan yang biasa dipunyai. Adanya pulpa nekrotik
mungkin ditemukan hanya secara kebetulan, karena gigi macam itu adalah
asimptomatik, dan radiograf adalah nondiagnotik. Gigi dengan nekrosis sebagian
dapat bereaksi terhadap perubahan termal, karena adanya serabut saraf vital yang
melalui jaringan inflamasi di dekatnya. 1

Diagnosis. Radiograf umumnya menunjukkan suatu kavitas atau tumpatan


besar, suatu jalan terbuka ke saluran akar, dan suatu penebalan ligament periodontal.
Beberapa gigi tidak mempunyai kavitas ataupu tumpatan, dan pulpanya mati sebagai
akibat trauma. Sedikit pasien mempunyai riwayat rasa sakit parah yang berlangsung
beberapa menit sampai beberapa jam, diikuti oleh penghentian seluruh rasa sakit yang
terjadi. Selama waktu ini, “pulpa sudah hampir tamat riwayatnya” dan memberi
pasien perasaan seolah-olah aman dan sehat. Pada kasus lain, pasien tidak sadar
bahwa pulpa telah mati secara perlahan-lahan dan diam-diam, tanpa gejala. Gigi
dengan pulpa nekrotik tidak bereaksi terhadap dingin, tes pulpa listrik atau tes
kavitas. Namun demikian pada kasus yang jarang terjadi, timbul suatu reaksi minimal
terhadap arus maksimum tester pulpa listrik bila arus listrik dikondusi melalui uap
lembab yang terdapat dalam saluran akar setelah pencairan nekrose ke jaringan vital
tetangganya. Pada pasien lain, beberapa serabut saraf apical terus bertahan dan
bereaksi dengan cara yang sama. Serabut saraf tahan terhadap perubahan inflamasi.
Suatu korelasi tes dingin dan tes listrik dan suatu riwayat rasa sakit, bersama dengan
pemeriksaan klinis yang cermat, harus menentukan suatu diagnosis yang tepat. 1

5. Gangren pulpa

Gangren Pulpa adalah keadaan gigi dimana jarigan pulpa sudah mati sebagai
sistem pertahanan pulpa sudah tidak dapat menahan rangsangan sehingga jumlah sel
pulpa yang rusak menjadi semakin banyak dan menempati sebagian besar ruang
pulpa. Sel-sel pulpa yang rusak tersebut akan mati dan menjadi antigen sel-sel
sebagian besar pulpa yang masih hidup. Proses terjadinya gangren pulpa diawali oleh
proses karies. Karies dentis adalah suatu penghancuran struktur gigi (email, dentin
dan sementum) oleh aktivitas sel jasad renik (mikro-organisme) dalam dental plak.
Jadi proses karies hanya dapat terbentuk apabila terdapat 4 faktor yang saling
tumpang tindih. Adapun faktor-faktor tersebut adalah bakteri, karbohidrat makanan,
kerentanan permukaan gigi serta waktu. Perjalanan gangrene pulpa dimulai dengan
adanya karies yang mengenai email (karies superfisialis), dimana terdapat lubang
dangkal, tidak lebih dari 1mm. selanjutnya proses berlanjut menjadi karies pada
dentin (karies media) yang disertai dengan rasa nyeri yang spontan pada saat pulpa
terangsang oleh suhu dingin atau makanan yang manis dan segera hilang jika
rangsangan dihilangkan. Karies dentin kemudian berlanjut menjadi karies pada pulpa
yang didiagnosa sebagai pulpitis. Pada pulpitis terdapat lubang lebih dari 1mm. pada
pulpitis terjadi peradangan kamar pulpa yang berisi saraf, pembuluh darah, dan
pempuluh limfe, sehingga timbul rasa nyeri yang hebat, jika proses karies berlanjut
dan mencapai bagian yang lebih dalam (karies profunda). Maka akan menyebabkan
terjadinya gangren pulpa yang ditandai dengan perubahan warna gigi terlihat
berwarna kecoklatan atau keabu-abuan, dan pada lubang perforasi tersebut tercium
bau busuk akibat dari proses pembusukan dari toksin kuman. 5

Gejala klinik. Gejala yang didapat dari pulpa yang gangren bisa terjadi tanpa
keluhan sakit, dalam keadaan demikian terjadi perubahan warna gigi, dimana gigi
terlihat berwarna kecoklatan atau keabu-abuan Pada gangrene pulpa dapat disebut
juga gigi non vital dimana pada gigi tersebut sudah tidak memberikan reaksi pada
cavity test (tes dengan panas atau dingin) dan pada lubang perforasi tercium bau
busuk, gigi tersebut baru akan memberikan rasa sakit apabila penderita minum atau
makan benda yang panas yang menyebabkan pemuaian gas dalam rongga pulpa
tersebut yang menekan ujung saraf akar gigi sebelahnya yang masih vital. 5

Diagnosis dan differential diagnosis. Diagnosis ditegakkan dengan


anamnesis dan pemeriksaan objektif (extraoral dan intraoral). Berdasarkan
pemeriksaan klinis, secara objektif didapatkan : 5

- Karies profunda (+)


- Pemeriksaan sonde (-), dengan menggunakan sonde mulut, lalu ditusukkan
beberapa kali ke dalam karies, hasilnya (-). Pasien tidak merasakan sakit.
- Pemeriksaan perkusi (-), dengan menggunakan ujung sonde mulut yang bulat,
diketuk-ketuk kedalam gigi yang sakit, hasilnya (-).pasien tidak merasakan sakit.
- Pemeriksaan penciuman, dengan menggunakan pinset, ambil kapas lalu
sentuhkan pada gigi yang sakit kemudian cium kapasnya, hasilnya (+) akan
tercium bau busuk dari mulut pasien.
- Pemeriksaan foto rontgen, terlihat suatu karies yang besar dan dalam, dan terlihat
juga rongga pulpa yang telah terbuka dan jaringan periodontium memperlihatkan
penebalan.
Bagan patifisiologi terjadinya gangren pulpa

Bakteri + karbihidrat makanan + Kerentanan permukaan gigi + waktu


(Saling tumpang tindih)

Karies superfisialis

Karies Media

Karies Profunda

Radang pada pulpa (Pulpitis)

Pembusukan jaringan pulpa (ditemukan gas-gas indol, skatol, putresin)

Bau Mulut

Keluar Gas H2S, NH3

Gigi non vital (Gangren pulpa)

Differential diagnosis. Periodontitis merupakan komplikasi dari karies


profunda non vitalis atau gangren pulpa, dimana pada pemeriksaan klinis ditemukan
gigi non vital, sondase (-), dan perkusi (+).5

Gangren pulpa Periodontitis

Pemeriksaan sonde (-)

Pemeriksaan perkusi (+)

Reaksi panas/dingin (-)

Pemeriksaan panas/dingin (-)


Untuk menentukan apakah pulpa masih dapat diselamatkan, bisa dilakukan
beberapa pengujian: 5

- Diberi rangsang dingin, rangsang dihentikan, nyeri hilang artinya pulpa sehat.
Pulpa dipertahankan dengan mencabut bagian gigi yang membusuk dan
menambalnya. Jika nyeri tetap, meskipun rangsang nyeri sudah dihilangkan
atau jika nyeri timbul secara spontan, maka pulpa tidak dapat dipertahankan.
- Penguji pulpa elektrik, alat ini digunakan untuk menunjukkan apakah pulpa
masih hidup, bukan untuk menentukan apakah pulpa masih sehat, jika
penderita merasakan aliran listrik pada giginya, berarti pulpa masih hidup.
- Mengetuk gigi dengan sebuah alat, jika dengan pengetukan gigi timbul nyeri,
berarti peradangan telah menyebar ke jaringan tulang dan sekitarnya.
- Rontgen gigi, dilakukan untuk mengetahui adanya pembusukan gigi dan
menunjukkan apakah penyebaran peradangan telah menyebabkan
pengeroposan tulang disekitar akar gigi.

Diagnosis Penyakit Periradikular1

1. Abses Alveolar Akut


Sinonim. Abses akut, abses apikal akut, abses dentoalveolar akut, abses
periapikal akut, dan abses radikular akut.
Definisi. Suatu abses alveolar akut adalah suatu kumpulan nanah yang
terbatas pada tulang alveolar pada apeks akar gigi setelah kematian pulpa, dengan
perluasan infeksi ke dalam jaringan periradikular melalui foramen apikal. Diikuti oleh
suatu reaksi parah setempat, dan kadang-kadang, umum. Abses akut adalah suatu
kelanjutan proses penyakit yang mulai di pulpa dan berkembang ke jaringan
periradikular, yang pada gilirannya bereaksi hebat terhadap infeksi.
Sebab. Meskipun suatu abses akut adalah mungkin adalah mungkin suatu
akibat trauma atau iritasi kimiawi atau mekanis, penyebab dekat umumnya adalah
invasi bacterial jaringan pulpa mati. Kadang-kadang tidak dijumpai suatu kavitas
ataupun suatu restorasi pada gigi, tetapi pasien pernah mengalami trauma. Karena
jaringan pulpa tertutup rapat, tidak mungkin ada drainase dan infeksi terus meluas ke
arah perlawanan yang sedikit, yaitu melalui foramen apikal, dan dengan demikian
melibatkan ligament periodontal dan tulang periradikular.
Gejala-gejala. Gejala pertama mungkin adalah suatu sensitivitas pada gigi
yang dapat berkurang dengan tekanan ringan terus-menerus pada gigi yang ekstrusi
untuk menekannya kembali ke dalam alveolus. Selanjutnya pasien menderita rasa
sakit berdenyut yang parah, dengan disertai pembengkakan jaringan lunak yang
melapisinya. Jika infeksi berkembang, pembengkakan menjadi lebih nyata dan
meluas melebihi tempat semula. Gigi terasa lebih sakit, memanjang, dam goyah.
Diagnosis. Diagnosis biasanya dibuat cepat dan tepat dari pemeriksaan klinis
dan dari riwayat subjektif yang diberikan oleh pasien. Pada tingkat awal, sukar untuk
menentukan giginya karena tidak adanya tanda-tanda klinis dan adanya rasa sakit
yang difus dan menjengkelkan. Suatu diagnosis dapat ditegaskan dengan bantuan tes
pulpa listrik dan tes termal. Gigi yang terlibat adalah nekrotik dan tidak bereaksi
terhadap arus listrik atau aplikasi dingin. Gigi sensitif terhadap perkusi, atau pasien
menyatakan bahwa gigi terasa sakit bila digunakan untuk mengunyah, mukosa apikal
terasa sensitif terhadap palpasi, dan gigi mungkin goyah dan ekstrusi.

2. Periodontitis Apikal Akut


Definisi. Periodontitis apikal akut adalah suatu inflamasi periodonsium
dengan rasa sakit sebagai akibat trauma, iritasi, atau infeksi melalui saluran akar,
tabpa memperhatikan apakah pulpa vital atau nonvital.
Sebab. Periodontitis apikal akut dapat terjadi pada gigi vital yang telah
mengalami trauma oklusal yang disebabkan oleh kontak oklusal yang abnormal, oleh
restorasi yang belum lama dibuat yang meluas melebihi bidang oklusal, karena
penggunaan tusuk gigi di antara gigi-giginya sebagai baji (wedge), makanan, atau
sepotong isolator karet yang ditinggalkan oleh dokter gigi, atau karena pukulan pada
gigi.
Periodontitis apikal akut juga dapat dihubungkan dengan gigi nonvital. Dapat
juga disebabkan oleh sekuel penyakit pulpa, yaitu difusi bakteri dan produk noksius
dari pulpa yang meradang atau nekrotik, atau sebabnya mungkin iatrogenik, seperti
instrumentasi saluran akar yang mendorong bakteri dan debris dengan kurang hati-
hati melalui foramen apikal, mendorong obat-obatan yang merangsang seperti
formocresol melalui foramen apikal yang mengenai jaringan periapikal, perforasi
akar, atau instrumentasi yang berlebihan pada waktu pembersihan dan pembentukan
saluran akar.
Gejala-gejala. Gejala periodontitis apikal akut adalah rasa sakit dan gigi
sangat sensitif. Dapat juga gigi merasa agak sakit, kadang-kadang hanya bila
diperkusi pada arah tertentu, atau rasa sakitnya dapat sangat. Gigi dapat modod
sehingga bila ditutup menimbulkan rasa sakit.
Diagnosis. Diagnosis sering dibuat dari riwayat yang diketahui dari gigi yang
dirawat. Gejala-gejalanya adalah hasil rangsangan yang berasal dari perawatan
endodontik, yang disebabkan oleh instrumentasi yang berlebihan, rangsangan obat-
obatan, atau pengisian yang berlebihan yang dalam kasus ini giginya tanpa pulpa,
atau hasil stimuli noksius yang merangsang ligament periodontal, yang dalam kasus
ini giginya vital. Gigi sensitif terhadap perkusi atau tekanan ringan, sedangkan
mukosa yang melapisi apeks akar mungkin sensitif atau mungkin tidak sensitif
terhadap palpasi. Pemeriksaan radiografik dapat menunjukkan ligament periodontal
yang menebal atau suatu daerah kecil rarefaksi bila melibatkan gigi tanpa pulpa, dan
dapat menunjukkan struktur periradikular normal bila terdapat suatu pulpa vital di
dalam mulut.
3. Eksaserbasi Akut (Lesi Kronis)
Sinonim. Abses phoenix.
Definisi. Kondisi ini adalah suatu reaksi inflamatori akut yang melapisi suatu
lesi kronis yang ada, seperti kista atau granuloma.
Sebab. Daerah periradikular mungkin bereaksi terhadap stimulus noksius dari
suatu pulpa yang sakit, yang menderita penyakit periradikular kronis. Sementara
penyakit periradikular kronis, seperti granuloma dan kista, dalam keadaan
keseimbangan, reaksi apikal ini sama sekali dapat asimptomatik. Kadang-kadang
akrena kemasukan produk nekrotik dari pulpa yang sakit, atau karena bakteri dan
toksinnya, lesi yang kelihatan tidak aktifini dapat bereaksi dan dapat menyebabkan
respon inflamatori akut. Penurunan daya tahan tubuh pada keberadaan bakteri dan
pelepasan bakteri dalam saluran akar atau iritasi mekanis selama preparasi saluran
akar juga dapat memicu respon inflamatori akut.
Gejala-gejala. Pada mulanya, gigi sensitif terhadap palpasi. Bila inflamasi
berkembang, gigi dapat terangkat dalam soketnya dan dapat menjadi sensitif. Mukosa
yang melapisi daerah radikular dapat sensitif terhadap palpasi dan terlihat merah dan
membengkak.
Diagnosis. Eksaserbasi lesi kronis biasa dihubungkan dengan permulaan
terpai saluran akar pada gigi yang sama sekali asimptomatik. Pada gigi semacam itu,
radiograf menunjukkan lesi periradikular yang jelas. Pasien mungkin mempunyai
suatu riwayat kecelakaan traumatik yang mengubah gigi menjadi gelap setelah
beberapa lama atau rasa sakit pasca-bedah pada gigi yang telah reda sampai peristiwa
rasa sakit yang sekarang. Tidak adanya reaksi terhadap tes vitalitas menunjukkan
pada suatu diagnosis pulpa nekrotik, meskipun pada peristiwa yang jarang terjadi,
sebuah gigi dapat bereaksi terhadap tes pulpa listrik karena adanya cairan di dalam
saluran akar; atau pada gigi yang berakar banyak.
4. Abses Alveolar Kronis
Sinonim. Periodontitis apical supuratif kronis.
Definisi. Suatu abses alveolar kronis adalah suatu infeksi tulang alveolar
periradikular yang berjalan lama dan bertingkat rendah. Sumber infeksi terdapat
dalam saluran akar.
Sebab. Abses alveolar kronis adalah suatu sekuel alami matinya pulpa dengan
perluasan proses infektif sebelah periapikal, atau dapat juga disebabkan oleh abses
akut yang sebelumnya sudah ada.
Gejala-gejala. Gigi dengan abses alveolar kronis umumnya adalah
asimptomatik; kadang-kadang abses semacam itu hanya dapat dideteksi pada waktu
pemeriksaan radiografik rutin atau karena adanya fistula.
Diagnosis. Suatu abses kronis mungkin tidak memberikan rasa sakit atau
hanya rasa sakit ringan. Kadang-kadang tanda pertama kerusakan oseus nyata terlihat
secara radiografik pada waktu pemeriksaan rutin atau terdapat perubahan warna pada
mahkota gigi. Radiografi sering menunjukkan suatu daerah difus rarefaksi tulang,
tetapi lesi yang terlihat pada radiograf adalah nondiagnostik. Ligament periodontal
menebal. Gigi tidak bereaksi terhadap tes pulpa listrik atau tes termal.

5. Granuloma
Definisi. Suatu granuloma gigi adalah suatu pertumbuhan jaringan
granulomatus yang bersambung dengan ligament periodontal disebabkan oleh
matinya pulpa dan difusi bakteri dan toksin bakteri dari saluran akar ke dalam
jaringan periradikular di sekitarnya melalui foramin apikal dan lateral.
Suatu granuloma dapat dianggap sebagai reaksi defensif kronis tingkat rendah
terhadap iritasi dari saluran akar. Suatu kondisi bagi perkembangan suatu granuloma
adalah iritasi ringan yang terus-menerus. Sebagai abses kronis, granuloma adalah
sekuel lanjutan infeksi dari suatu pulpa nekrotik; jaringan granulasi dapat bervariasi
dalam diameter dari pecahan millimeter sampai sentimeter atau bahkan lebih besar.
Sebab. Sebab perkembangan suatu granuloma adalah matinya pulpa, diikuti
oleh suatu infeksi ringan atau iritasi jaringan periapikal yang merangsang suatu reaksi
seluler produktif. Suatu granuloma hanya berkembang beberapa saat setelah pulpa
mati.
Gejala-gejala. Suatu granuloma tidak menghasilkan reaksi subjektif, kecuali
pada kasus langka bila runtuh dan mengalami supurasi. Biasanya granuloma adalah
asimptomatik.
Diagnosis. Adanya granuloma, yang tanpa gejala, biasanya ditemukan pada
pemeriksaan radiografik rutin. Daerah rarefaksi nampak nyata, dengan tidak adanya
kontinuitas lamina dura. Diagnosis tepat hanya dapat dibuat dengan pemeriksaan
mikroskop. Gigi yang terlibat biasanya tidak peka terhadap perkusi, dan tidak goyah.
Mukosa di atas apeks akar mungkin peka atau mungkin tidak peka terhadap palpasi.
Dapat dijumpai suatu fistula. Gigi tidak bereaksi terhadap tes termal atau tes pulpa
listrik. Pasien memberikan suatu penyakit pulpagia yang telah reda.

6. Kista Radikuler
Definisi. Suatu kista adalah suatu kavitas tertutup atau kantung yang bagian
dalam dilapisi oleh epithelium, dan pusatnya terisi cairan atau bahan semisolid. Kista
rahang dibagi dalam odontogenik, nonodontogenik, dan nonepitelial. Kista
nonodontogenik timbul dari epithelium odontogenik dan diklasifikasikan sebagai
folikuler, timbul dari organ email atau folikel; dab radikuler, timbul dari sisa sel
Malassez. Kista nonodontogenik diklasifikasikan sebagai fisural, timbul dari bekas
epithelial terjebak dalam peleburan prosesus fasial, atau nasopalatin. Kista semu atau
kista nonepitelial adalah kavitas bertulang yang tidak dilapisi epithelium dan
karenanya bukan kista sebenarnya. Suatu kista radikuler atau alveolar adalah suatu
kantung epithelial yang pertumbuhannya lambat pada apeks gigi yang melapisi suatu
kavitas patologik pada tulang alveolar.
Sebab. Suatu kista radikular mensyaratkan injuri fisis, kimiawi, atau bacterial
yang menyebabkan matinya pulpa, diikuti oleh stimulasi sisa epithelial Malassez,
yang biasanya dijumpai pada ligament periodontal.
Gejala-gejala. Tidak ada gejala yang dihubungkan dengan perkembangan
suatu kista, kecuali yang kebetulan diikuti nekrosis pulpa. Suatu kista dapat menjadi
cukup besar untuk secara nyata menjadi pembengkakan.
Tekanan kista cukup menggerakkan gigi yang bersangkutan, yang disebabkan
oleh timbulnya cairan kista. Pada kasus semacam itu, apeks-apeks gigi yang
bersangkutan menjadi renggang, sehingga mahkota gigi dipaksa keluar jajaran. Gigi
dapat juga menjadi goyah. Bila dibiarkan tidak terawatt, suatu kista dapat terus
tumbuh dan merugikan rahang atas atau rahang bawah.
Diagnosis. Pulpa gigi dengan kista radikular tidak bereaksi terhadap stimuli
listrik atau termal, dan hasil tes klinis lainnya adalah negatif, kecuali radiograf. Pasien
mungkin melaporkan suatu riwayat rasa sakit sebelumnya. Biasanya pada
pemeriksaan radiografik, terlihat tidak adanya kontinuitas lamina dura, dengan suatu
daerah rarefaksi. Daerah radiolusen biasanya bulat dalam garis bentuknya, kecuali
bila mendekati gigi sebelahnya, yang dalam kasus ini dapat mendatar atau
mempunyai bentuk oval. Daerah radiolusen lebih besar daripada suatu granuloma dan
dapat meliputi lebih dari satu gigi. Baik ukuran maupun bentuk daerah rarefaksi
bukan indikasi definitif suatu kista.

7. Osteoitis Memadat

Definisi. Osteoitis memadat (osteoitis yang mengalami kondensasi) adalah


reaksi terhadap suatu inflamasi kronis-tingkat rendah daerah periradikuler yang
disebabkan oleh suatu rangsangan ringan melalui saluran akar.

Histopatologi. Secara makroskopis, osteoitis memadat terlihat sebagai suatu


daerah tulang padat dengan tepi trabekular yang dilapisi oleh osteoblas. Sel-sel
inflamantori kronis, sel-sel plasma, dan limfosit terlihat pada sumsum tulang yang
sedikit.

Sebab. Osteoitis memadat adalah suatu rangsangan ringan dari penyakit pulpa
yang menstimulasi aktivitas osteoblastik pada tulang alveolar.

Gejala-gejala. Gangguan ini biasanya tanpa gejala dan ditemukan pada waktu
pemeriksaan radiografik rutin.

Diagnosis. Diagnosis dibuat dari radiografi. Osteoitis memadat terlihat pada


radiograf sebagai suatu radiopak terlokalisasi yang mengelilingi gigi yang
terpengaruh. Ini adalah suatu daerah tulang padat dengan pola trabekuler yang
berkurang. Gigi posterior rahang bawah yang paling sering terlibat. Hasil tes vitalitas
dalam kisaran normal.

Tabel 1. Terminologi diagnostik6


RENCANA PERAWATAN

Rencana perawatan yang baik dibuat oleh dokter gigi yang baik. Hal utama
pada rencana perawatan yang baik adalah tekad yang kokoh untuk kebaikan anak
seluruhnya, tidak hanya gigi-giginya, dan untuk mempengaruhi sikap anak terhadap
kedokteran gigi, selain melakukan perawatan yang diperlukan. Perawatan yang
berhasil dalam menyelesaikan perawatan operatif tetapi gagal menyelesaikan sikap
positif hanya bermanfaat bagi anak dalam jangka pendek; jika terbentuk sikap
negatif, dapat terjadi hal-hal yang lebih buruk. Intisari kedokteran gigi yang baik bagi
anak adalah merencanakan dan menjalankan perawatan sedemikian rupa sehingga
bermanfaat bagi anak dalam arti yang luas dalam jangka panjang maupun pendek. 2

Untuk mencapai tujuan ini, perlu mengetahui lebih jauh mengenai anak
daripada hanya keadaan gigi geliginya. Banyak keterangan yang dapat diperoleh dari
riwayat social, dental, medis dari pasien serta pengaruhnya terhadap rencana
perawatan. Setiap anak berbeda, dan setiap rencana perawatan yang tepat untuk tiap
individu hanya dapat dilakukan berdasarkanlatar belakang yang berhubungan.
Dengan keterangan mengenai latar belakang ini, gangguan yang mungkin timbul
dapat diantisipasi dan perawatan dapat dierncanakan sedemikian rupa untuk
mengatasi atau menghindarinya. 2

Garis besar rencana perawatan dipaparkan di bawah. Rencana akhir harus


dicatat dalam bentuk buku, tetapi bukan berarti tidak fleksibel; ini semua harus tetap
dapat dimodifikasi, jika perlu, selama dilakukannya perawatan. 2

KESIMPULAN

Prosedur menegakkan diagnosis :

1. Pemeriksaan subjektif (anamnesis)


2. Pemeriksaan objektif (pemeriksaan klinis)
3. Pemeriksaan tambahan, bila perlu.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, ditegakkan diagnosis untuk menentukan


rencana perawatan yang tepat.

Diagnosis penyakit pulpa :

 Pulpitis reversibel

 Pulpitis irreversibel

 Pulpitis hiperplatik kronis

 Nekrosis pulpa

 Gangren pulpa

Diagnosis penyakit periradikular :

 Abses alveolar akut

 Periodontitis apikal akut

 Eksaserbasi akut

 Abses alveolar kronis

 Granuloma

 Kista radikular

 Osteoitis memadat

DAFTAR PUSTAKA

1. Grossman IL, Oliet S, Rio CED. Ilmu endodontik dalam praktik. Ed.11. Jakarta :
EGC, 1995 : hal 1-19, 71-109.
2. Andlaw RJ, Rock WP. Perawatan gigi anak. Ed.2. Jakarta : Widya Medika, 1992 :
hal 3-14.

3. Anonim. Karies gigi. Available at http://id.wikipedia.org/wiki/kariesgigi. Diakses


pada tanggal 8 juli 2010.

4. Julianti R, Dharma MS, Erdaliza, Anggia D, Fahmi F, dkk. Gigi dan mulut.
Pekanbaru : FK UNRI, 2008. Available at (http://yayanakhyar.wordpress.com.
Diakses pada tanggal 8 Juli 2010.)

5. Kartini A. Gangren pulpa. Available at http://aniekart.blogspot.com/2009/07/bp-


gigi-rsu-dr-slamet.html. Diakses pada tanggal 8 Juli 2010.

6. Walton RE, Torabinejad M. Principles and practice of endodontic. Philadelphia :


W.B. Saunders Company, 2002 : p.65.

Anda mungkin juga menyukai