Anda di halaman 1dari 71

KUMPULAN MATERI

DAUROH MUROBBI

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 1 of 71


“HATMIYYAH AT-TARBIYYAH”
Adalah Abdulloh bin Rowahah RA, seorang sahabat yang ketika diangkat oleh
Rosululloh SAW menduduki sebuah jabatan panglima dalam perang Mu’tah, Ia
menerimanya dengan tangis dan cucuran air mata. Lalu para sahabat lainnya
bertanya : “Maa yubkika ya… Abdalloh…” (Apa gerangan yang membuat engkau
menangis wahai Abdulloh…), Iapun menjawab : “Wa maa bia hubbuddunya walaa
shabaabatan bikum walaakin tadzakkartu hina dzakaranii Rosulullohu biqoulihi
ta’ala : Wa in minkum illaa waariduhaa kaana alaa Rabbika Hatman Maqdhiyya”
(Tidak ada pada diriku cinta dunia dan keinginan untuk dielu-elukan oleh kalian,
akan tetapi aku hanya teringat ketika Rosululloh mengingatkanku dengan firman
Alloh SWT : “Dan tidaklah dari kalain melainkan akan mendatanginya (neraka
jahannam) adalah yang demikian itu bagi Tuhanmu (ya! Muhammad) merupakan
ketentuan yang telah ditetapkan”. (QS. Maryam : 71).

Dari ungkapan Abdulloh bin Rowahah tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa
beliau mentadabburkan ayat al-qur’an begitu dalam, sehingga beliau mengaitkan
erat ayat tersebut dengan amanah jabatan yang baru saja dipangkuanya, apakah
jabatannya kelak dapat menyelamatkannya ketika masing-masing orang mau tidak
mau harus melewati “Shirothol Mustaqim”, karena menghadapi neraka Jahannam
dengan melewatinya adalah “Hatman Maqdhiyya”, ketentuan yang telah
ditetapkan, tidak ada jalan alternatif lain dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

“Hatman Maqdhiyya” juga berlaku dalam kaidah Tarbiah sebagai sebuah


proses dalam proyek kebangkiatan umat dan pembangunan peradaban, oleh
karenanya Tarbiyah memiliki sifat “Hatmiyyah”, sifat keniscayaan, dengan kata lain
bahwa Tarbiyah suatu keniscayaan adala sebuah keharusan, atau ketentuan yang
harus dipenuhi, konsekwensi yang harus dijalankan, tidak dapat ditawar dan tidak
bisa tergantikan dengan apapun. Walhasil untuk dapat istiqomah di jalan da’wah
serta mencapai target dan sasarannya, hanya ada satu jalan : Tarbiah!. Karena
Tarbiyah adalah jalan yang dikehendaki oleh Alloh SWT untuk diikuti ( QS. 6 : 153 ),
dalam rangka melahirkan kader-kader generasi Rabbani (Generasi-generasi yang
tertarbiyah) yang senantiasa antusias mengajarkan Al-qur’an dan mempelajarinya
( QS. 3 : 79).

Tarbiyah suatu keniscayaan dalam prosesnya dapat dilakukan minimal dengan tiga
buah pendekatan.

Pendekatan Idealis
Tarbiyah adalah jalan bagi para Da’i Islam, tidak ada jalan lain, atau dengan
kata lain jalan para da’i adalah jalan tarbawi yang memiliki paling sedikit tiga
karakter mendasar.

Pertama : Sulit tapi hasilnya paten ( Sha’bun – Tsabit )

Sulitnya sebuah proses biasanya membuahkan hasil yang berkualitas, oleh


karena itu proses da’wah yang dilakukan oleh Rosululloh SAW, bukanlah perkara
yang mudah, bayangkan, lima tahun pertama dalam da’wahnya di Mekkah baru
hanya terkumpul “Arba’una rojulan wa khomsu niswatin” (40 laki-laki dan 5 wanita),
akan tetapi ke 45 orang inilah yang kemudian menjadi ujung tombak da’wah, yang
tidak hanya “Qaabilun lidda’wah” tetapi juga “Qaabilun litthagyir”, bahkan mereka

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 2 of 71


seluruhnya menjadi “Anashiruttaghyir”, “Agen of change”, agen perubahan sosial
dari masyarakat jahiliyah menuju masyarakat yang islami.

Berda’wah memang tidak mudah, karena berda’wah melalui proses Tarbiyah


ibarat menanam pohon jati, yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara sehingga
akarnya tetap kuat menghunjam dan tidak goyah diterpa badai dan angin kencang,
oleh karena itu jalan tarbawi adalah proses menuju pembentukan pribadi yang
paten, atau dengan kata lain memiliki “matanah” (imunitas) baik secara
“ma’nawiyah” (moral), “fikriyah” (gagasan dan pemikiran) dan “Tandzhimiyah”
(struktural).

Ka’ab bin malik RA. Adalah salah satu contoh dari sebuah kepribadian yang
paten, yang dengan kesadaran ma’nawiyah, fikriyah dan tandhimiyahnya, Ia
mengakui kelalaiannya tidak turut serta dalam perang Tabuk, dan kemudian iapun
dengan ikhlas menerima ‘uqubah (sanksi) yang telah ditetapkan oleh Rosululloh
SAW. Bahkan ketika datang utusan dari kerajaan Ghassan yang secara diam-diam
menemuinya untuk menyampaikan sepucuk surat dari raja Ghassan yang isinya
antara lain suaka poltik dan jabatan penting telah tersedia untuknya bila Ia mau
eksodus, Ia malah berkata seraya merobek surat tersebut : “Ayyu Mushibatin
Hadzihi” (Musibah apa lagi ini..!)

Itulah sebuah refleksi dari sikap matanah yang hanya bisa dihasilkan melalu
proses tarbiyah yang tidak mudah, melalui jalan da’wah yang terkonsep secara
paten, Al-Qur’an menyebutnya dengan “Al-Qoulu Al-Tsabit” (QS. 14 : 27 ), yang
terumuskan di atas konsep yang baik atau “Kalimat Thayyibah” bukan “kalimat
khabitsah” (QS. 14 : 25 - 26 ).

Kedua : Panjang tetapi terjaga keasliannya (Thawil - Ashil)

Da’wah adalah perjalanan panjang, perjalanan yang dilalui tidak hanya oleh
satu generasi, bahkan untuk dapat mencapai target dan sasaran jangka panjangnya
membutuhkan beberapa generasi, Ingatlah ketika Rosululloh SAW mengayunkan
palu memecahkan bebatuan parit Khandaq, ada percikan apai keluar dari sela-sela
hantaman palu dan batu memercik ke arah timur, lalu beliau mengisyaratkan bahwa
umatnya kelak akan dapat menaklukan Romawi (Byzantium). Padahal Romawi baru
dapat di Taklukan oleh umat Islam pada masa daulah Utsmaniyah sekian abad
sesudahnya, berapa generasi yang telah telampaui dan berapa panjang perjalanan
da’wah yang telah dilalui?, akan tetapi ikhwah fillah betapaun telah melewati sekian
banyak generasi, “Asholah” tetap terjaga, “Hammasah” tetap terpelihara, Islam
yang sampai ke Romawi adalah Islam sebagaimana yang dijalankan oleh generasi
pertamanya yaitu Rosululloh SAW dan Para sahabat Rodhiallohu ‘anhum wa
rodhuu’anhu.

Kepribadian yang asholah adalah kepribadian yang telah teruji dengan


panjangngnya mata rantai perjalanan da,wah, keperibadian yang hammasah adalah
kepribadian yang tak lekang kerena ‘panas’ dan tak lapuk karena ‘hujan’, sebagai
ujian dan cobaan dalam perjalanan da’wah.

Adalah Abu Thalhah RA, salah seoarang sahabat yang Alloh SWT berikan
kepadanya umur yang panjang, sehingga beliau masih hidup pada masa
kekhalifahan Utsman RA, beliau yang saat itu usianya sudah sepuh, ketika ada
seruan jihad maritim, mengarungi lautan menuju perairan Yunani untuk mrnghadapi

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 3 of 71


pasukan Romawi, seruan jihad berkumandang melalui lantunan ayat-ayat Al-Qur’an
“Infiruu khifafan wa tsiqoolan” (berangkatlah kalian dalam keadaan ringan maupun
berat), lalu anak-anaknya berkata kpadanya : “Sudahlah Ayah tak usah ikut
berperang, cukuplah kami saja yang masih muda yang mewakili Ayah di medan
perang”, dengan kecerdasan menafsirkan ayat tersebut dibarengi dengan
pembawaan“Hikmatussuyukh Hammasatussyabab” Abu Ayyub menjawab : “Tidak
bisa, ayat tersebut telah mewajibkan kepada seluruh kaum muslimin baik yang tua
maupun yang muda, karena ayat tersebut menyebutkan “khifafan” (ringan) berarti
ditujukan untuk ka lian yang masih muda dan “tsiqalan” ditujukan untukku yang
sudah tua, maka anak-anaknya pun tak dapat membendung tekad sang ayah,
berangkatlah Abu Thalhah RA turut serta dalam peperangan tersebut dan Iapun
menemui syahadahnya.

Adalah saad bin Abi Waqqash RA, yang telah menggoreskan kesaksian perjalan
da’wah dengan kepribadian yanga asholah yang tidak berubah karena perubahan
situasi dan zaman, dari masa-masa yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan
hingga masa-masa yang penuh dengan kemudahan dan kesenangan, mengenang
semua itu beliau berkata : “Aku adalah salah satu dari 7 orang sahabat (dari 10
sahabat yang dijanjikan masuk surga), dahulu kami bersama Rosullloh SAW dalam
sebuah ekspedisi, kami tidak memiliki makanan, sehingga kami makan daun-daunan
sampai perih tenggorokan kami, akan tetapi sekarang kami yang tujuh orang ini
seluruhnya menjadi gubernur di beberapa daerah, maka kami berlindung kepada
Alloh SWT agar tidak menjadi orang yang merasa besar di tengah-tengah manusia
tetapi menjadi kecil di sisi Alloh SWT”.

Ketiga : Lambat tapi hasilnya terjamin (Bathi’ – Ma’mun)

Da’wah adalah lari estafet bukan sprint, untuk itu diperlukan kesabaran untuk
mencapai target dan sasaran dengan kwalitas terjamin, lari estafet memang
tampak kelihatan lambat , akan tetapi potensi dan tenaga terdistribusi secara
kolektif dan perpaduan kerjasama terarah secara baik untuk memberikan sebuah
jaminan kemenanagn di garis finis. Watak perjalanan da’wah yang lambat harus
dilihat dari proses dan tahapannya bukan dari perangai para pelakunya, karena
perangai yang lambat dalam berda’wah adalah bentuk kelalaian, yang nasab
(afiliasi) nya kepada jama’ah kaliber Internasionalpun tidak akan mempercepat
langkah kerja da’wahnya, sebagaiman hadits rosululloh SAW : “Man bathi’a
‘amaluhu lam yusra’ bihi nasabuhu” (Barang siapa yang lamban kerjanya, tidak bisa
dipercepat dirinya dengan nasabnya).

Salah satu jaminan dari proses tarbiyah adalah melahirkan sebuah kepribadian
yang integral, tidak mendua dan tidak terbelah, integritas kepribadian seorang
muslim yang ditempa di jalan Tarbawi tercermin pada keteguhan akidahnya,
keluhuran akhlaknya , kebersuhan hatinya, kebaikan suluknya baik secara
ta’abbudi, ijtima’i maupun tandzhimi.

Keberhasilan sebuah da’wah akan tampak sejauh mana keterjaminannya bila


dihadapkan oleh situasi dan kondisi yang menguji integritas kepribadiannya.
Sebagaimana halnya ketika terjadi tragedi “Haditsul Ifki” yang menimpa Aisyah
radhiallohu anha, banyak orang yang yang tidak terjamin akhlaknya sehingga turut
menyebarluaskan fitnah keji tersebut, bandingkan dengan para sahabiyah yang
terjamin kualitas tarbawinya, yang menjaga lisannya, yang lebih senang
mengedepankan husnudzhannya kepada ummul Mu’minin aisyah RA, cukuplah isteri

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 4 of 71


Abu Ayyub al-anshari mewakili keluarga para shabiyah yang berhati mulia,
bagaiman ia mensikapi kasus tersebut dengan penuh rasa ukhuwwah dan mencintai
saudaranya karena Alloh SWT.

Berkenaan dengan gunjingan yang menimpa aisyah RA, isteri abu Ayyub al-
anshary berkata kepada suaminya : “Ya..Abaa ayyub!, lau kunta sofwaana hal
taf’alu bihurmati rasulillaahi suu’an, wa hua khairun minka, Ya…Abaa ayyub lau
kuntu ‘Aisyah maa khuntu Rasulallohi abadan” (Wahai abu Ayyub, jika engkau yang
menjadi Safwannya apakah engkau berbuat yang tidak-tidak kepada isteri
Rosululloh SAW, dan Safwan lebih baik dari engkau. Wahai abu Ayyub, kalau aku
yang jadi Aisyah, tidak akan pernah akau menghianati Rasululloh SAW, dan Aisyah
lebih baik dariku).

Dengan kata lain isteri Abu Ayyub Al-Anshari RA mengingatkan suaminya


bahwa dirinya yang tidak lebih baik dari Shafwan RA saja tidak ada pikiran-pikiran
buruk teerhadap Aisyah RA sebagaimana yaang digunjingkan oleh banyak orang,
apalagi Shafwan RA yang jauh lebih baik dari suaminya , sehingga mustahil dalam
pandangan isteri Abu Ayyub RA Shafwan melakukan hal-hal sebagaimana yang
dituduhkan oleh banyak orang. Sebaliknya isteri Abu Ayyub Al-Ansari RA juga
berkata kepada dirinya sendiri , bahwa dirinya saja yang tidak merasa lebih baik dari
Aisyah RA tidak pernah terlintas untuk tega mengkhianati suami apalagi Aisyah
yang dalam pandangannya jelas-jelas jauh lebih baik dari dirinya, sudah barang
tentu mustahil terlintas pikiran jelek menghianati suami (berselingkuh) seperti yang
digosipkan oleh banyak orang.

Kata-kata isteri abu Ayyub syarat dengan taushiah agar kita menjaga syahwatul
lisan, mendahulukan husnu dzhan dan menonjolkan sikap tawaddhu sebagai bukti
terjaminnya hasil da’wah.

Pendekatan taktis
Setelah ketiga faktor idealis tersebut diatas telah terealisasi dengan baik, maka
langkah berikutnya adalah memetakan langkah-langkah taktis, dengan melakukan
program peningkatan kualitas dan kuantitas pertumbuhan kader dan
menyelenggarakan “Bi’tsatudduat”. Seperti beberapa orang sahabat yang diutus
oleh Rosululloh SAW untuk menda’wahkan dan mengajarkan serta melakukan
pembinaan kepada orang-orang yang baru masuk islam, yang telah melampaui
wilayah Makkah dan Madinah, seperti Muadz bin Jabal yang diutus ke Yaman dan
Khalid bin Walid yang dikirim ke wilayah irak. Hal itu dimaksudkan untuk
menyeimbangkan luasnya medan da’wah dengan jumlah kader dan menyelaraskan
dukungan masa dengan potensi (kemampuan) tarbiyah.

Pendekatan Strategis
Langkah strategis dalam sebuah perjalanan da’wah yang sangat penting adalah
fokus untuk menyusun barisan kader inti, dimana hal ini tidak boleh terabaikan
betapapun gegap gempitanya sambutan masyarakat umum terhadap da’wah ini,
oleh karena itu untuk menghindari terjadinya “Lose of generation”, atau generasi
kader yang lowong, maka segera mendesak untuk dirumuskan sebuah strategi
membina kader baru yang sekarang ini semakin kompetitif dengan gerakan-gerakan
da’wah lainnya. Semakin banyak jumlah jumlah kader inti disamping kader baru baik
secara kwalitas maupun kwantitas akan banyak membantu da’wah ini dalam
menghadapi berbagai permasalahan dan ancaman.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 5 of 71


Pada masa abu bakar RA, terjadi gelombang pemurtadan yang luar biasa,
sehingga 2/3 jazirah arab nyaris mengalami kemurtadan, itu artinya hanya 1/3
wilayah yang selamat yang terdiri dari kota Makkah, Madinah dan Thaif, di ketiga
kota inilah kader inti da’wah tetap dijaga dan dipelihara, sedangkan kader-kader
baru dibina pada masa Khalifah Umar bin Khattab dimana kebanyakan mereka
adalah tawanan perang Riddah pada masa Abu Bakar RA. Terbukti kemudian pada
perang Qadisiyah, ketika ancaman imperium Persia menghadang, kader-kader baru
yang dibina oleh umar bin khaatab selama kurang lebih satu tahun kebanyakan
mereka berada dibarisan paling depan dalam jihad fi sabilillah, dan tak jarang
diantara mereka kemudian terkenal sebagai panglima dan komandan pasukan.
Itulah hasil sebuah produk tarbiyah (QS, 3 : 146).

Wallohu ‘alamu bisshowab

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 6 of 71


SISTEM KADERISASI
Setelah mendapat materi ini diharapkan peserta mampu ;
1. Memahami sistem kaderisasi dalam manhaj 1421 H
2. Memahami arah kaderisasi
3. Memahami tujuan kaderisasi
4. Memahami marhalah amal dalam kaderisasi

I. PENDAHULUAN
Islam sebagai Din merupakan sistem atau manhaj yang sempurna dari Allah
sebagai sandaran atau pedoman hidup bagi manusia.
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari
urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa
nafsu orang-orang yang tidak mengetahui ( QS Al-Jaatsiyah l8)”.
Sistem ini integral dan komprehensif, karena diambil dari Kitabullah, Sunnah
Rasul,Siroh Nabi, Siroh Sahabat dan ijma Ulama. Sistem Ilahi ini mampu
memecahkan seluruh persoalan hidup manusia dengan komprehensivitasnya
sehingga tidak lagi membutuhkan sistem yang lain. Yang ingin dicapai dari sistem
ini adalah perubahan yang terdapat pada setiap orang, dari kondisi buruk kepada
yang baik atau kepada yang lebih baik, dari kufur kepada iman, dari ma’shiyat
kepada taat, dari kesesatan menuju hidayah, dari batil menuju benar dan dari
sistem manusia kepada sistem Ilahi disetiap kesempatan. Proses penyiapan manusia
menuju kebaikan ini disebut dengan tarbiyah Islamiyah.

II. TUJUAN TARBIYAH ISLAMIYAH


Tujuan Tarbiyah Islamiyah adalah menciptakan kondisi yang kondusif bagi
manusia untuk dapat hidup di dunia secara lurus dan baik, serta hidup di akhirat
dengan naungan ridla dan pahala Allah SWT.
Tujuan ini mencakup :
1. Ibadah
" Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu" ( Adz-
Dzariyat : 56)
Ibadah menuntut terwujudnya banyak unsur dari seorang muslim, antara lain :
unsur iman, unsur Islam, unsur Ihsan, unsur keadilan, unsur amar ma,ruf nahi
munkar, dan unsur jihad di jalan Allah untuk menjadikan kalimah allah sebagai
kalimah yang tertinggi, sebagaimana tuntutan akan terwujudnya berbagai unsur itu
dalam bentuk kata-kata dan tindakan sekaligus.
2. Tegaknya Khilafah Allah di muka bumi.
”Sesungguhnya Aku jadikan manusia sebagai khalifah di bumi” (Al-Baqarah 30).
Pengangkatan manusia sebagai khalifah menuntut aktivitas pemakmuran bumi dan
pemanfaatan segala sesuatu yang Allah berikan untuk umat manusia
3. Ukhuwah (Al-Hujurat :13)
Setelah beriman kepada Allah swt dan masuk agamaNya secara berbondong-
bondong,tidaklah patut bagi manusia kecuali saling berkasih sayang, saling
menolong, dan saling menasehati dalam kesabaran, kemudian mempererat
hubungan itu agar makin sempurna.
4. Kepemimpinan Dunia.
Allah berfirman :
”Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 7 of 71


yang telah diridlaiNya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan)
mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa ” (An-
Nur : 55)
Artinya, bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shalih adalah para tokoh
penguasa bumi, karena agama mereka adalah agama kemenangan dan kekuasaan,
maka harus ada upaya meraihnya dengan program tarbiyah Islamiyah bagi semua
orang.
5. Menghukum Dengan Syariat.
Allah berfirman :
”Hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang
diturunkan oleh allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-
hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari
sebagian apa yang telah diturunkan oleh allah kepadamu” . (Al-Maidah :49)
Inilah tujuan inti dari tujuan tarbiyah Islamiyah. Tercapainya keempat tujuan
sebelumnya akan menghantarkan kepada tegaknya syariat Islam.

III. TUJUAN TARBIYAH IKHWANIYAH


Tarbiyah ikhwaniyah memiliki dua tujuan besar :
1. Tujuan permanen, yakni penerapan dari tujuan-tujuan tarbiyah islamiyah.
Tujuan permanen itu antara lain :
a. Memberdayakan orang, untuk dapat mengabdi kepada sesembahan yang
hak,yaitu Allah swt.Semua itu dilakukan dengan:
 menajamkan unsur keimanan dalam diri manusia sebagai hamba Allah
dengan persepsi yang benar.
 Menghidupkan unsur Islam diri manusia.Semua itu dilakukan dengan
pemahaman yang benar tentang syahadat dan pengamalan kandungannya.
 Penerapan unsur ihsan dalam ibadah dan tradisi.
 Menegaskan dan membiasakan keadilan serta membantu orang untuk
menegakkannya.
 Penanganan amar ma’ruf nahi munkar dan membantu orang lain
melakukannya.
 Penanganan operasional jihad di jalan Allah agar kalimah Allah menjadi
kalimat yang tertinggi.
b. Menjalankan kewajiban khilafah di muka bumi, memakmurkannya dan
membantu orang lain untuk memahamai tujuan ini.Hal ini meliputi :
3. Keyakinan bahwa bumi dan segala isinya telah Allah ciptakan untuk
manusia,untuk dimanfaatkan dan usaha memakmurkan bumi adalah
kewajiban syariat.
4. Meraih segala yang meningkatkan potensi keilmuan dan keahlian yang dapat
menjadikan manusia mampu memakmurkan bumi.
5. Menegaskan keyakinan bahwa penguasaan kita dengan khilafah atas bumi
untuk tujuan kemanfaatan dunia dan akhirat. (An-nur :55)
c. Menunaikan kewajiban ta’aruf antar kaum muslimin di suatu negeri dan di
berbagai tanah air Islam.
d. Bekerja untuk meraih kekuasaan di bumi dan menjadikan syariat Allah sebagai
dasar pijakannya

2. Tujuan konstekstual, yakni pengamatan terhadap arus berbagai nilai yang


mewarnai masyarakat dan bagaimana mencari perangkat yang dapat digunakan
untuk menghadapinya dalam perspektif syariat Islam. Tujuan Kontekstual atau
tujuan antara, intinya adalah bagaimana upaya menghadapi perubahan arus nilai
secara ilmiah dan tepat berlandaskan ajaran islam, sekaligus bagaimana

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 8 of 71


merumuskan cara-cara terbaik untuk itu. Perubahan adalah sunnatullah dan
bagaimana manusia berubah dari satu kondisi ke kondisi yang lain, juga
bagaimana kehidupan di sekitarnya berubah seiring dengan perubahan yang
diciptakan oleh manusia itu sendiri. Allah tidak akan mengubah kondisi suatu
kaum , kecuali jika manusia itu sendiri berusaha mengubahnya (Ar-Ra’d :1). Allah
akan mengubah apa yang ada pada diri mereka sesuai dengan niat, ucapan, dan
perilaku mereka.
Beberapa perubahan arus nilai itu antara lain :
1. Arus pemikiran dan peradaban.
2. Arus sistem nilai sosial dan politik.
3. Arus politik dan ekonomi.
4. Sarana-sarana kehidupan dan pola-polanya.
5. Arus cara pandang terhadap alam, kehidupan, dan benda hidup.
Untuk mencapai kedua tujuan itu diperlukan tahapan-tahapan amal yang
komprehensiv dan saling berkesinambungan antara satu tahapan ke tahapan
berikutnya. Marhalah (tahapan) amal itu antara lain :
1. Pembentukan pribadi. Terbentuknya sosok muslim dalam pemikiran,
keyakinan,akhlak,dan emosinya.
2. Pembentukan keluarga . Terbentuknya rumah tangga muslim dalam
pemikiran, keyakinan, akhlak, dan emosinya.
3. Pembentukan masyarakat muslim dalam keseluruhan aspek di atas.
4. Memperbaiki negri muslim . Lahirnya pemerintah islam yang menggiring
masyarakat untuk mengamalkan nilai-nilai Islam.
5. Memerdekakan negri muslim. Terbebasnya negri-negri muslim dan kemudian
bergabung bersama ikhwan.
6. Mengembalikan khilafah islam.
7. Menjadi guru peradaban ummat manusia. Terwujudnya penyebaran dakwah
ke seluruh dunia, menyampaikannya kepada seluruh umat manusia,
menggaungkannya ke seluruh penjuru bumi, dan menjatuhkan semua
penguasa otoriter sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya hanya
milik Allah.

IV. CIRI KHAS MANHAJ TARBIYAH


Manhaj tarbiyah ikhwaniyah telah mengalami perkembangan. Dalam sepuluh
tahun terakhir manhaj yang digunakan sebagai bahan rujukan secara nasional
adalah manhaj tahun l994 dan manhaj tahun l998. Ciri khas manhaj l994
menekankan pada referensi yang harus dikaji dalam proses tarbiyah, sedangkan
substansi materi diambil dari maraji’ yang direkomendasikan. Ciri khas manhaj l998
menekankan sasaran dan tujuan tarbiyah yang lebih rinci dalam pengukurannya.
Bahan acuan manhaj tarbiyah masih bervariasi dalam pengambilan sumber rujukan
manhajnya. Dimana untuk marhalah Dewasa mengacu pada manhaj tahun l994 dan
untuk marhalah sebelumnya belum mengacu secara sempurna pada manhaj
terakhir. Untuk itu diperlukan manhaj berskala nasional yang dapat menjawab
tantangan waqi’iah, bersifat kontekstual dan memenuhi standar manhaj alami.
Manhaj ini disebut manhaj l421 H/2000M. Manhaj ini merupakan revisi untuk
manhaj Pemula dan takwiniyah yang selama ini ada. Manhaj ini mengacu
sepenuhnya pada manhaj l998 dan diupayakan sedemikian rupa tetap
mempertahankan beberapa muatan manhaj l994 yang dirasakan masih relevan
untuk diteruskan. Ciri khas manhaj l421 H adalah mentarbiyah seseorang dengan
mengacu pada tujuan akhir tarbiyah, ( apa yang diharapkan dari peserta tarbiyah
pada setiap marhalah tarbiyah ).Yang perlu diingat ,ciri khas metode ini adalah
peranan pelaksana tarbiyah yang harus memahami manhaj dengan sempurna,

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 9 of 71


sehingga jumlah materi, jenis materi, dan masa tarbiyah sangat bervariasi namun
semuanya tetap mengacu pada hasil akhir proses tarbiyah.
Yang menjadi landasan lahirnya manhaj tarbiyah adalah delapan fikroh ikhwan.
Ini dikarenakan pemahaman yang komprehensiv dan utuh tentang Islam dalam diri
ikhwan ini menghasilkan keuniversalan fikrohnya yang menyentuh semua aspek
reformasi umat dan tercermin pula di dalamnya semua ide perbaikan. Kedelapan
fikroh ikhwan itu adalah :
1. Dakwah salafiyah, karena mereka menyeru untuk mengembalikan Islam
kepada sumbernya yang jernih, yakni Kitab Allah dan Sunnah RasulNya.
2. Thariqoh sunniyah, karena segenap kemampuannya mereka membawa
dirinya untuk beramal dengan landasan sunnah yang suci dalam segala hal,
khususnya dalam hal aqidah dan ibadah.
3. Haqiqah shufiyah, karena mereka memahami bahwa asas kebaikan adalah
kescuian jiwa, kejernihan hati, kontinyuitas amal, berpaling dari
ketergantungan kepada makhluk, kecintaan karena allah, dan komitemen
dengan kebajikan.
4. Hai’ah siyasiyah, karena mereka menuntut perbaikan hukum dari dalam,,
meluruskan persepsi seputar hubungan umat Islam dengan bangsa-bangsa
lain di luar negeri, serta mendidik masyarakat untuk memiliki kehormatan,
harga diri, dan kemauan yang kuat untuk mempertahankan jatidirinya,
sampai batas maksimal.
5. Jama’ah riyadliyah, karena mereka sangat memperhatikan fisiknya dan
menyadari bahwa mukmin yang kuat lebih baik dari pada muknin yang
lemah.
6. Rabithah ilmiyah tsaqofiyah, karena Islam menjadikan aktivitas mencari
ilmu sebagai satu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Begitu juga
karena forum-forum ikhwan pada dasarnya adalah madrasah-madrasah
taklim dan peningkatan wawasan serta lembaga-lembaga untuk mentarbiyah
fisik,akal, dan ruhani.
7. Syirkah iqtishodiyah, karena Islam sangat memperhatikan pendistribusian
hareta dan perolehannya.
8. Fikroh ijtimaiyah, karena mereka sangat memperhatikan penyakit-penyakit
yang melanda masyarakat Islam dan berusaha memberikan terapi solusinya.
Fikroh ikhwan ini kemudian mendasari l0 arkanul bai’ah yang menjadi landasan
operasional tarbiyah. Kesepuluh arkanul bai’ah itu adalah :
1. Paham, adalah yakin bahwa fikrah (pandangan ) kita adalah fikrah Islami dan
sahih.Anda harus memahami Islam sebagaimana diuraikan dalam ushul
‘isyrin ( 20 prinsip ikhwan ).
2. Ikhlash, setiap al akh muslim, harus mengharapkan keridhaan Allah dan
pahala dari semua ucapan, amal, dan jihad yang dilakukannya tanpa didorong
oleh kepentingan pribadi, penampilan, kemewahan, pangkat, gelar,
kedudukan dan yang lainnya.
3. Amal, adalah buah dari ilmu dan ikhlas. ( At-taubah 105 )
4. Jihad, adalah kewajiban yang harus dilakukan terus menerus dan
berkesinambungan sampai hari kiamat, seperti yang telah dinyatakan dalam
hadist Rasulullah Saw: “ Barangsiapa yang mati (sedang) ia tidak pernah
berperang dijalan Allah dan tidak pernah berniat untuk berperang (di jalan
Allah), ia mati dalam keadaan jahiliah.”
5. Tadhhiah, adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan dan semua
potensi untuk mencapai tujuan. Di dunia ini tidak ada jihad tanpa
pengorbanan. Setiap pengorbanan dalam memperjuangkan fikrah kita tidak
akan sia-sia, bahkan mendapat pahala yang besar dan baik di sisi Allah SWT.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 10 of 71


Barang siapa yang tidak mau berkorban bersama-sama kaum muslimin dalam
melaksanakan jihad fi sabilillah akan berdosa dan akan menanggung segala
akibatnya.
6. Taat, adalah menerima perintah dan melaksanakannya dengan cepat, baik di
waktu senang atau sulit, terhadap hal-hal yang disukai atau dibenci.
7. Tsabat , al akh senantiasa bekerja dan berjihad untuk mencapai tujuan,
meskipun tujuan tersebut masih jauh bahkan memakan waktu bertahun-
tahun sampai ia bertemu Allah Swt dan benar-benar berhasil memperoleh
salah satu dari dua kebaikan : tercapainya tujuan atau mati syahid.
8. Tajarrud, adalah membersihkan fikrah dari segala pengaruh ajaran dan tokoh
lain.
9. Ukhuwwah, Adalah mengikat hati dan ruh dengan ikatan aqidah, dan aqidah
merupakan ikatan yang paling kokoh dan paling mulia. Ukhuwah adalah
saudara iman, sedang perpecahan adalah saudara kekufuran. Kekuatan
utama adalah kesatupaduan dan kesatupaduan tanpa adanya cinta. Derajat
cinta yang paling rendah adalah hati yang selamat dari segala buruk sangka
kepada saudara muslim lainnya. Derajat cinta yang paling tinggi adalah itsar.
10.Tsiqah, adalah tentramnya jundi (prajurit) kepada mas-ulnya dalam hal
kemampuan dan keikhlasannya.

Setelah memahami 10 arkanul bai’ah dan 8 fikrah ikhwan , maka ditetapkan


tujuan tarbiyah yang bermuatan atau disesuaikan dengan kebutuhan nasional
keIndonesiaan. Pada tahap ini telah dibuat 69 tujuan umum manhaj tarbiyah atau
kompetensi yang harus dicapai dalam tarbiyah (disebut dengan kompetensi kritis).
Dua buah tujuan merupakan tambahan yang bersifat lokal. Tujuan umum atau
kompetensi kritis tersebut kemudian dirinci menjadi tujuan khusus manhaj untuk
setiap marhalah tarbiyah mulai Pemula, Muda, Madya, Dewasa dan Ahli.
Dari tujuan pembelajaran ini dibuat pemetaan antara tujuan umum manhaj
dengan bidang studi yang direkomendasikan. Adapun bidang studi yang
direkomendasikan tercakup dalam 24 bidang studi dan disebar ke dalam 4
kelompok kajian, yaitu :
I. Dasar-dasar keislaman, mencakup :
(1). Al-Qur’an dan ‘Ulumul Qur’ an, (2). Hadist dan ‘Ulumul hadist,
(3).Aqidah.
(4). Fiqh (5 ) . akhlak dan kepribadian muslim.
II. Pengembangan diri dan ketrampilan dasar.
(6). Metodologi berfikir dan riset, (7) Belajar mandiri, (8). Rumah
tangga muslim.
(9). Manajemen dan organisasi, (10). Bahasa arab, (11). Kesehatan dan
kekuatan fisik, (12). Kependidikan dan keguruan.
III. Da’wah dan Pemikiran islam:
(13). Fiqh da’wah , (14). Sejarah dan peradaban ummat, (15).Dunia
Islam kontemporer, (16). Pemikiran, gerakan dan organisasi
pembaharuan, (17). Islam dan kekuatan-kekuatan lawan.
IV. Sosial Kemasyarakatan :
(18). Tata sosial kemasyarakatan , (19). Perundang-undangan, (20).
Sistem politik dan hubungan internasional (21).Ekonomi , (22). Seni
dan budaya, (23). Iptek dan lingkungan, (24 ).Politik kontemporer.

V. TAHAPAN-TAHAPAN TARBIYAH

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 11 of 71


Untuk selanjutnya seluruh bidang studi ini disebar ke dalam proses tarbiyah.
Menurut Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Risalah Ta’lim bahwa tarbiyah harus
melalui 3 fase :

1. Ta’rif.
Dalam tahapan ini, da’wah dilakukan dengan menyebarkan fikrah prinsip-prinsip
dasar dan nilai-nilai serta ajaran-ajaran pokok Islam ditengah masyarakat melalui
da’wah fardiah (dengan menjalankan hubungan dengan orang-orang yang
berpotensi berubah) atau dengan halaqoh dan melakukan perubahan secara Islam.

2. Takwin
Dalam tahapan ini da’wah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir
positif untuk memikul beban dan mengembangkan seluruh potensi yang ada.
Da’wah pada tahapan ini bersifat khusus, tidak dapat diikuti oleh seseorang kecuali
yang memiliki persiapan secara benar untuk memikul beban jihad yang panjang
masanya dan berat tantangannya. Sistem tarbiyah pada tahapan ini bersifat tasawuf
murni dalam tatanan ruhani dan bersifat militer dalam tataran operasional.

3. Tanfidz
Da’wah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plinplan, kerja terus
menerus untuk menggapai tujuan akhir, kesiapan menanggung cobaan dan ujian
yang tidak mungkin bersabar atasnya kecuali orang-orang yang tulus dan memiliki
ketaatan total.

VI. MUWASHOFAT
Sebagaimana telah disebutkan, bahwa ciri khas manhaj l421 H adalah mentarbiyah
seseorang dengan mengacu kepada tujuan akhir tarbiyah seseorang (goal based
learning), atau apa yang diharapkan dari peserta tarbiyah pada setiap marhalah.
Untuk itu perlu diketahui karakteristik peserta tarbiyah yang mencakup aspek
sikap (afektif ), pengetahuan ( cognitif), dan perilaku (psikomotorik) .
Karakteristik yang harus dimiliki setiap individu itu mencakup 10 point :
1. Salimul aqidah, setiap individu dituntut untuk memiliki kelurusan aqidah
yang hanya dapat mereka peroleh melalui pemahaman terhadap Qur’an dan
Sunnah.
2. Shahihul ibadah, setiap individu dituntut untuk beribadah sesuai dengan
petunjuk yang disyariatkan kepada Rasulullah SAW.
3. Matinul khuluq, setiap individu dituntut untuk memiliki ketangguhan akhlak
sehingga mampu mengalahkan hawa nafsu dan syahwat.
4. Qadirun ‘alal Kasbi, setiap individu dituntut untuk mampu menunjukkan
potensi dan kreativitasnya dalam dunia kerja.
5. Mutsaqqaful fikri, setiap individu dituntut untuk memiliki keluasan wawasan.
6. Qawiyyul jism, setiap individu dituntut untuk memiliki kekuatan fisik melalui
sarana-sarana yang dipersiapkan Islam.
7. Mujahid lin nafsi , setiap individu dituntut untuk memerangi hawa nafsunya
dan senantiasa mengokohkan diri di atas hukum-hukum Allah melalui ibadah
dan amal shaleh.
8. Munadzam fi syu’unihi, setiap individu dituntut untuk mampu mengatur
segala urusannya sesuai dengan keteraturan Islam.
9. Haristun ‘ala waqtihi, setiap individu dituntut untuk memelihara waktunya
sehingga ia terhindar dari kelalaian dan kehilafan perbuatan manusia.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 12 of 71


10.Nafi’un li ghoirihi, setiap individu harus menjadikan dirinya bermanfaat bagi
orang lain.

VII. PROSES TARBIYAH


Untuk mencapai muwashofat proses tarbiyah memerlukan komponen-
komponennya. Baik internal ataupun eksternal. Komponen ini saling berhubungan
dan berpengaruh antara satu dengan yang lainnya. Adapun komponen internalnya
yang mempengaruhi proses tarbiyah adalah :
1. Peserta adalah seseorang yang direkrut untuk mengikuti proses tarbiyah
sesuai dengan marhalahnya
2. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan
bahan bidang studi serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan tarbiyah yang berkaitan dengan waktu dan tingkatan
tarbiyah. Kurikulum merupakan sesuatu yang harus dikuasai dengan baik oleh
pelaksana program tarbiyah. Pada akhir program tarbiyah, kurikulum
digunakan sebagai alat untuk melihat tingkat keberhasilan proses tarbiyah.
3. Pelaksana adalah seseorang yang bertugas melaksanakan berbagai sarana
tarbiyah untuk setiap peserta tarbiyah sesuai dengan jenjang tarbiyah.
4. Pengelola adalah institusi yang berwenang dalam
perencanaan,pengorganisasian, dan mutaba’ah penyelenggaraan tarbiyah
sesuai dengan ruang lingkup yang menjadi tanggung jawabnya.
5. Metode adalah cara untuk menyampaikan materi kepada peserta didik dalam
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
6. Media adalah alat bantu atau alat peraga yang digunakan dalam proses
tarbiyah untuk memudahkan pencapaian tujuan pemberian materi.
7. Administrasi meliputi tulis-menulis dalam rangka fungsi manajemen pada
seluruh komponen tarbiyah.
8. Taqwim adalah sebuah proses dan mekanisme evaluasi pencapaian
muwashafat dan seleksi kenaikan jenjang peserta tarbiyah.
9. Prasarana adalah segala sesuatu yang tidak berhubungan langsung dengan
proses belajar mengajar,akan tetapi dapat mempengaruhi hasil belajar.
Prasarana ada yang bersifat materi dan non materi.
10.Lingkungan adalah kondisi yang mempengaruhi proses tarbiyah, positif atau
negatif, dalam skala keluarga, masyarakat, negara, dan internasional.

VIII. SARANA TARBIYAH


Sarana adalah program atau bentuk acara yang dijadikan sebagai alat untuk
merealisasikan kurikulum tarbiyah. Sarama tarbiyah itu antara lain :
1. Halaqah, adalah proses kegiatan tarbiyah dalam dinamika kelompok. Jumlah
normal satu halaqah maksimal 12 orang. Murabbi diperkenankan mentarbiyah
paling banyak 3 kelompok.
2. Tatsqif,adalah salah satu sarana sebagai proses pembentukan syakhsiyah
dai’yah mutakamilah yang bersifat ilzami melalui pembekalan ‘ulum islamiyah
kepada peserta tarbiyah.
3. Daurah dan kursus, adalah forum intensif untuk mendalami suatu tema atau
ketrampilan/keahlian tertentut. Diikuti oleh peserta dengan persyaratan tertentut
dan dilaksanakan dalam waktu relatif lebih lama.
4. Ta’lim, adalah bentuk penyampaian mawad tarbiyah tsaqafiah sekaligus tarbiyah
jamahiriyah yang diselenggarakan melalui sarana-sarana umum seperti masjid
atau majelis ta’lim dengan penamaan ta’lim fil masajid.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 13 of 71


5. Mabit, adalah salah satu sarana tarbiyah ruhiyah dalam bentuk menginap
bersama dengan menghidupkan malam untuk meningkatkan hubungan dengan
Allah SWT serta kecintaan kepada Rasulullah SAW.
6. Rihlah, adalah suatu perjalanan rekreasi yang bersifat tarbawi, manhaji, dan
tandzimi dengan kegiatan yang disiapkan untuk mencapai sasaran pemulihan
dan penyegaran potensi ruhi, fikri, dan jasadi serta penguatan hubungan
kemasyarakatan dan kekeluargaan.
7. Mukhayam, adalah sarana penghimpunan , pelatihan dan pengarahan dalam
rangka menerapkan nilai Islam pada aktifitas kehidupannya.

IX. PENUTUP
Manhaj tarbiyah /sistem kaderisasi merupakan sebuah rangkaian yang utuh dan
saling berkesinambungan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya. Tujuan
tarbiyah akan tercapai, Insya Allah jika setiap tahapan-tahapan tarbiyah dilakukan
dengan usaha yang sungguh-sungguh, manhaji , dan menyerahkan seluruh amal
serta urusan akhir kepada Allah SWT.
Waallohu A’lamu bisshawab.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 14 of 71


PROFIL HALAQAH
Pengertian Halaqah
Dalam manhaj 1421 H disebutkan halaqah adalah sarana utama tarbiyah
sebagai media untuk merealisasikan kurikulum tarbiyah sarana utama berupa
halaqah tersebut masih harus dilengkapi dengan sarana-sarana tambahan agar
sasaran tarbiyah yakni pencapaian muwashafat atau karakteristik di jenjang-jenjang
tersebut dapat tercapai secara optimal. Sarana-sarana tambahan antara lain rihlah,
mukhayyam, daurah, seminar, ta’lim, dan penugasan.
Selain merupakan salah satu sarana tarbiyah, halaqah juga dapat
didefinisikan sebagai satu proses kegiatan tarbiyah dalam dinamika kelompok
dengan jumlah anggota maksimal 12 orang.
Walaupun cara mentarbiyah seseorang bisa melalui da'wah fardhiyah
misalnya, halaqah tetap merupakan metode talaqqi wadah yang efektif karena
terjadi proses interaksi yang intensif antara anggota halaqah. Melalui proses
interaksi, tersebut diharapkan terjadi proses saling bercermin, mempengaruhi dan
berpacu ke arah yang lebih baik serta melatih kebersamaan dalam ruang lingkup
amal jama’i.
Dalam buku Adab Halaqah, Dr. Abdullah Qadiri menegaskan bahwa sasaran
utama belajar mengajar dalam sebuah halaqah haruslah bertujuan akhir
mengokohkan hubungan dengan Allah dan mampu beribadah kepada-Nya, dengan
cara yang diridhai-Nya. Karena beribadah kepada Allah adalah tujuan asasi
diciptakan-Nya manusia.

Halaqah Sebagai Sarana Pembentukan Pribadi Muslim


Halaqah sebagai sarana utama tarbiyah marhalah Pemula dan Muda juga
berfungsi sebagai sarana pembentukan pribadi Muslim yang shaleh. Pribadi-pribadi
yang terbentuk diharapkan memiliki sifat-sifat terpuji, perangai Islam asasi, tidak
terkotori oleh bentuk-bentuk kemusyrikan dan tidak memiliki hubungan dengan
pihak-pihak yang memusuhi Islam. Dalam fase tarbiyah ini diperkenalkan dasar-
dasar umum Islam berupah aqidah, syari’ah, akhlaq dan jihad.
Ada sepuluh muwashafat atau karakteristik pribadi muslim yang shaleh
dengan rincian atau penjabaran yang sesuai dengan marhalah Pemula dan Muda.
Sebagai contoh untuk karakteristik Saliimul Aqidah (aqidah yang bersih/selamat)
seorang pribadi yang shaleh hanya akan merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunnah,
tidak berhubungan dan meminta tolong pada jin, tidak meramal nasib dan pergi ke
dukun, tidak memintah berkah ke kuburan atau meminta tolong pada orang yang
sudah mati dan lain-lain.
Kemudian untuk ciri Shahihul Ibadah (ibadah yang shahih) ternampakkan bila
ia berani mengumandangkan adzan, benar-benar ihsan dalam thaharah (bersuci),
bersemangat untuk shalat berjama’ah di masjid, ihsan dalam shalat, berpuasa
fardhu, berzakat dan qiyamul lail / shalat tahajjud minimal 1 kali sepekan.
Berikutnya untuk muwashafat Matiinul Khuluq (akhlak yang kokoh, mulia)
terjabarkan dalam sikap dan perilaku yang tidak takabbur, tidak imma’ah (asal ikut,
membeo), tidak berdusta, tidak mencaci maki, tidak mengadu domba, tidak ghibah
(membicarakan keburukan orang lain) dan tidah mematahkan pembicaraan orang
lain.
Selanjutnya, karakteristik Qadirun ‘alal kasbi (kemandirian) tercermin pada
perilaku peserta halaqah ini bila ia selalu menjauhi sumber penghasilan yang haram,
giat bekerja dan rajin membayar zakat, menjauhi riba, judi dan segala tindak
penipuan.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 15 of 71


Ciri Mutsaqaful Fikri (intelektualitas yang berkembang dengan baik)
terwujudkan bila pribadi ini pandai, cakap membaca dan menulis, berwawasan luas,
pandai menggunakan logika berfikir yang logis dan metodologis, membaca 1 juz
tafsir Al-Qur’an (juz ke 30), memperhatikan hukum-hukum tilawah, menghafalkan
Hadits Arba’in (hadits ke 1-20) dan mengetahui hukum thaharah (bersuci), shalat
dan berpuasa.
Sedangkan karakteristik Qawwiyul Jismi tertampakkan pada kebersihan
badan, pakaian, tempat tinggal, komitmen terhadap adab makan dan minum sesuai
dengan sunnah, kontinyu olahraga 2 jam/pekan, bangun sebelum fajar, menghindari
rokok dan minuman-minuman yang berkafein.
Selanjutnya ciri Mujahidin Linafsihi terlihat bila pribadi yang shaleh tersebut
selalu menjauhi segala yang haram, tempat-tempat hiburan maksiat. Sedangkan
karakter Munazhamun fi Syu’unihi tercermin bila peserta halaqah mulai
memperbaiki penampilan ke arah lebih Islami serta kualitas kerja yang rapi dan
profesional.
Kemudian Muwashafat Harishun Waqtihi (menjaga dan menghargai waktu)
nampak bila pribadi tersebut senantiasa bangun pagi, menghindari kesia-siaan atau
hal-hal yang tak berfaedah serta memanfaatkan waktu untuk beribadah, belajar,
mencari nafkah dan berda'wah.
Akhirnya ciri ke sepuluh berupa Nafi’un Lighairihi (bermanfaat bagi orang lain)
terjabarkan oleh sosok pribadi shaleh dengan menunaikan hak kedua orang tua,
berpartisipasi dalam kebaikan seperti aktif dalam bakti sosial dan kerja bakti, pandai
membahagiakan orang lain, membantu orang yang membutuhkan dan sebagainya.

Rukun Halaqah
Halaqah memiliki rukun: Ta’aruf, Tafahum dan Takaful.
Rukun pertama (1) Ta’aruf (saling mengenal) adalah sebuah permulaan yang
harus ada dalam sebuah halaqah. Dasar da'wah kita adalah saling mengenal,
seyogyanyalah setiap peserta halaqah saling mengenal dan berkasih sayang dalam
naungan ridha Allah SWT.
Ayat-ayat Al-Qur’an seperti Al-Hujurat ayat 10 dan 13 serta Ali Imran ayat 103
memberi arahan pokok bagaimana seseorang harus saling mengenal. Ditambah lagi
hadits-hadits Nabi SAW: “Mukmin dengan mukmin lainnya ibarat satu bangunan
yang saling mengokohkan”, “Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya, tidak
akan menzhalimi dan menyerahkannya pada musuh” dan “Perumpamaan orang-
orang yang beriman dalam hal cinta, kasih sayang dan kelemah-lembutan seperti
jasad yang satu”.
Ta’aruf melingkupi saling mengenal mulai hal-hal yang berkaitan dengan fisik
seperti nama, pekerjaan, postur tubuh, kegemaran, keadaan keluarga. Kemudian
aspek kejiwaan seperti emosi, kecenderungan, kepekaan hingga aspek fikriyah
seperti orientasi pemikiran. Selain itu juga hingga mengetahui kondisi sosial
ekonomi, keseriusan dalam beribadah, dan puncaknya sampai mengetahui kondisi
“isi kantong” dan kegiatan harian secara detail sepekan penuh.

(2) Tafahum (saling memahami). Rasulullah SAW bersabda : “Seorang


mukmin itu hatinya lunak. Tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak dapat
menggugah hati”.(HR Imam Ahmad). Yang dimaksud dengan tafahum adalah :
a. Menghilangkan faktor-faktor penyebab kekeringan dan keretakan hubungan
b. Cinta kasih dan lembut hati
c. Melenyapkan perpecahan dan perselisihan karena pada hakikatnya perbedaan
itu bukan pada masalah yang sifatnya prinsipil.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 16 of 71


Jika itu sudah terwujud maka tafahum akan mampu memberikan arahan-arahan
positif berupa :
a. Bekerja demi tercapainya kedekatan cara pandang
b. Bekerja untuk membentuk keseragaman pola pikir yang bersumberkan pada
Islam dan keberpikan pada kebenaran
c. Mempertemukan ragam cara pandang atas 2 hal yang sangat penting yakni :
 Skala prioritas amal
 Tahapan-tahapan dalam beraktivitas
d. Menuju puncak tafahum yakni memiliki kesatuan hati dan mampu berbicara
dengan bahasa yang satu

(3) Takaful (saling menanggung beban). Hendaknya sesama peserta halaqah


dilatih untuk saling memikul beban saudaranya.
Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang yang berjalan dalam rangka memenuhi hajat
saudaranya lebih baik baginya dari I’tikaf satu bulan di masjidku ini”, kemudian
hadits lainnya “Barangsiapa memasukkan kegembiraan kepada satu keluarga
Muslim Allah tidak melihat balasan baginya kecuali surga”
Takaful memiliki tahapan-tahapan sebagai berikut :
1 Saling mencintai, adanya kasih sayang dan keterkaitan hati.
2. Bahu membahu dalam berbagai pekerjaan yang menuntut banyak energi
3. Tolong menolong sesama muslim
4. Saling menjamin (takaful) dalam ruang lingkup halaqah baik dengan murabbi
maupun dengan sesama peserta halaqah.
Adab-adab Halaqah

Agar sebuah halaqah dapat dikategorikan sebagai halaqah muntigah (berhasil


guna) tentunya ada aturan-aturan yang harus ditaati oleh semua komponen halaqah
dalam hal ini adalah murrabi dan mutarabbi.
Dr. Abdullah Qadiri dalam buku Adab Halaqah menyebutkan adab-adab pokok
yang harus ada dalam sebuah halaqah:
1. Serius dalam segala urusan, menjauhi senda gurau dan orang-orang yang
banyak bergurau. Yang dimaksudkan serius dan tidak bersenda gurau tentu
saja bukan berarti suasana halaqah menajdi kaku, tegang, dan gersang,
melainkan tetap diwarnai keceriaan, kehangatan, kasih sayang, gurauan yang
tidak melampaui batas atau berlebih-lebihan. Jadi canda ria dan gurauan
hanya menjadi unsur penyela/penyeling yang menyegarkan suasana dan
bukan merupakan porsi utama halaqah.
2. Berkemauan keras untuk memahami aqidah Salafusshalih dari kitab-kitabnya
seperti kitab Al-’Ubudiyah. Sehingga semua peserta halaqah akan terhindar
dari segala bentuk penyimpangan aqidah.
3. Istiqamah dalam berusaha memahami kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya
dengan jalan banyak membaca, mentadabbur ayat-ayatnya, membaca buku
tafsir dan ilmu tafsir, buku hadits dan ilmu hadits dan lain-lain.
4. Menjauhkan diri dari sifat ta’asub (fanatisme buta) yang membuat orang-
orang yang taqlid terhadap seseorang atau golongan telah terjerumus ke
dalamnya karena tidak ada manusia yang ma’shum (bebas dari kesalahan)
kecuali Rasulallah yang dijaga Allah. Sehingga apabila ada perbedaan
pendapat hendaknya dikembalikan kepada dalil-dalil yang berasal dari Allah
dan Rasul-Nya. Hanya kebenaranlah yang wajib diikuti, oleh karenanya tidak
boleh mentaati makhluk dalam hal maksiat pada Allah.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 17 of 71


5. Majlis halaqah hendaknya dibersihkan dari kebusukan ghibah dan namimah
terhadap seseorang atau jama’ah tertentu. Adab-adab Islami haruslah
diterapkan antara lain dengan tidak memburuk-burukan seseorang.
6. Melakukan Ishlah (koreksi) terhadap murabbi atau mutarabbi secara tepat dan
bijak karena tujuannya untuk mengingatkan dan bukan mengadili.
7. Tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan
menetapkan skala prioritas bagi pekerjaan-pekerjaan yang akan dilaksanakan
berdasarkan kadar urgensinya.

Selain adab-adab pokok tersebut, secara lebih spesifik ada adab yang harus
di penuhi oleh peserta/anggota halaqah terhadap diri mereka sendiri, terhadap
murabbi, dan sesama peserta halaqah. Mula-mula seorang peserta halaqah
hendaknya memiliki kesiapan jasmani, ruhani, dan akal saat menghadiri liqa
halaqah ia semestinya membersihkan hati dari aqidah dan akhlaq yang kotor,
kemudian memperbaiki dan membersihkan niat, barsahaja dalam hal cara
berpakaian, makanan dan tempat pertemuan. Selain itu juga besemangat menuntut
ilmu dan senantiasa menghiasai diri dengan akhlaq yang mulia.
Selanjutnya terhadap murabbi hendaknya ia tsiqah (percaya) dan taat selama
sang murabbi tidak melakukan maksiat. Lalu berusaha konsultatif atau selalu
mengkomunikasikan dan meminta saran-saran tentang urusan-urusan dirinya
kepada murabbi. Selain itu ia juga berupaya memenuhi hak-hak murabbi dan tidak
melupakan jasanya, sabar atas perlakuannya yang boleh jadi suatu saat tidak
berkenan, meminta izin dan berlaku serta bertutur kata yang sopan dan santun.
Dan akhirnya adab terhadap kolega, rekan atau sesama peserta halaqah:
mendorong peserta lain untuk giat dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti
tarbiyah. Lalu tidak memotong pembicaraan teman tanpa izinnya, selalu hadir tidak
terlambat dan dengan wajah berseri, memberi salam, bertegur sapa dan tidak
menyakiti perasaan. Selain itu terhadap lingkungan di sekitar tempat halaqah
berlangsung, hendaknya semua peserta halaqah selalu menunjukkan adab-adab
kesantunan, mengucapkan salam, meminta izin ketika melewati mereka dan pamit
bila akan pulang serta melewati mereka lagi.

Agenda Aktivitas Halaqah


Agenda aktivitas halaqah atau baramij halaqah adalah sesuatu yang harus
dirancang dan direncanakan dengan matang dan seksama. Ayat Al-Qur’an di surat
Al-Hasyr ayat ke 18 yakni: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada
Allah, hendaklah setiap diri memperhatikan bekal apa yang sudah dipersiapkannya
untuk hari esok, bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha melihat apa
yang kamu kerjakan”, mengingatkan bahwa agenda aktivitas halaqah harus di
“planning”, direncanakan dengan baik agar ia tidak sekedar menjadi tempat temu
kangen, ngobrol-ngobrol yang tentu arah dan sedikit diselingi dengan materi
tarbiyah, lalu diakhiri dengan makan siang.
Kita tidak bisa mengatakan: “Ah bagaimana nanti saja”, melainkan kini
paradigmanya harus dibalik: “Bagaimana nanti seandainya tidak direncanakan
dengan baik”.
Agenda aktivitas ini bisa direncanakan dan dibuat dalam rentang waktu per
pekan, per bulan atau per tiga bulan dan kalau perlu agenda acara atau baramij
selama 1 tahun penuh sudah dirancang sebelumnya.
Terlepas dari rancangan agenda acara yang setahun sekali atau sebulan
sekali, yang jelas baramij halaqah yang pokok, yang harus ada dan secara tertib
dilaksanakan setiap pekan adalah sebagai berikut:

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 18 of 71


1. Iftitah (pembukaan) bisa berupa taujih (pengarahan) dari murabbi atau
sekilas info berupa analisis atas masalah da'wah atau kejadian-kejadian yang
actual di masyarakat.
2. Infaq, kotak infaq (sunduq infaq), diedarkan di awal acara selagi konsentrasi
para peserta halaqah masih penuh, karena jika dikahir acara dikhawatirkan
konsentrasi sudah buyar, ada saja yang lupa atau peserta-peserta sudah
terlanjur bubar.
3. Tilawah dan tadabbur. Hendaknya ditunjuk koordinator yang mengawasi yang
dipilih dari peserta halaqah yang paling baik bacaannya. Hendaknya semua
menyimak dan dilanjutkan bersama-sama mentadabburinya agar diperoleh
keberkahan dan rahmat dari Allah.
4. Talaqqi madah, murabbi lalu menyampaikan materi tarbiyah untuk marhalah
Pemula dan Muda secara disiplin dan cermat agar muwashafat yang
diharapkan dari materi tersebut dapat terwujud dalam diri peserta halaqah.
5. Mutaba’ah/pemantauan dan diskusi
6. Ta’limat/pemberitahuan-pemberitahuan tentang rencana-rencana berikut
atau info-info penting yang mendesak
7. Ikhtitam berupa do’a penutup yakni do’a rabithah atau do’a persatuan hati.

Selain agenda pokok rutin yang dilaksanakan per pekan, acara yang secara
rutin sebulan sekali dilakukan juga dapat direncanakan secara baik. Misalnya acara
jalasah ruhi atau buka shaum sunnah sebukan sekali. Atau ziarah sebukan sekali
bergiliran ke tempat setiap peserta halaqah dengan tujuan mempererat ukhuwwah.
Acara yang diselenggarakan bisa berupa saling tukar hadiah. Bisa juga acara ziarah
itu berupa ziarah yang insidental dan tidak direncakan seperti menjenguk peserta
halaqah yang sakit atau melahirkan.
Kemudian sebulan sekali bisa pula dilakukan acara diskusi, bedah buku,
penugasan kliping atau daurah “upgrading” dengan mengundang guru dari luar.
Setiap tiga bulan sekali atau 6 bulan sekali bisa diadakan acara rihlah atau piknik
bersama ke puncak atau pantai misalnya. Acara-acara sepertiini bisa menjadi
sarana taqwim/penilaian yang efektif karena seseorang akan terlihat sifat aslinya
bila sedang menjadi musafir juga akan terlihat apakah ia mau berinisiatif
berkerjasama dsb.
Untuk mengasah kepekaan dan tanggung jawab sosial, peserta halaqah
dilatih untuk rutin, memberikan bantuan dan mengunjungi panti asuhan atau yatim
piatu, bakti sosial atau penjualan sembako murah, khitanan massal dan pengobatan
gratis di daerah kumuh dan penggalangan dana bagi Mujahid-mujahid di dunia Islam
seperti Palestina, Ambon dll.
Sementara untuk melatih dan meningkatkan kemampuan da’wiyah bisa
berupa penugasan untuk mengajar TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), membina
remaja masjid dsb.
Acara tahunan berupa Tarhib Ramadhan dan ‘Idul Fitri bisa disemarakkan
dengan menjadikan ifthar shaim untuk dhu’afa, musafir atau piknik bersama dan
pemberian Kiswatul ‘Id dalam acara misalnya Gebyar ‘Idul Fitri (Gembira bersama
yatim di saat ‘Idul Fitri)
Selanjutnya karena tarbiyah melingkupi 3 aspek yang ada pada manusia
yakni jasmani, rohani dan intelektualitas (jism, ruhi dan fikri), maka agenda acara
yang dibuatpun harus memperhatikan dan mengasah ketiga aspek tersebut.
Di aspek jasmani bisa berupa penyuluhan pola hidup dan pola makan yang
sehat, pemeriksaan kesehatan dan olahraga yang rutin seperti senam bagi wanita
dan sepakbola, jalan kaki atau bulu tangkis bagi laki-laki.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 19 of 71


Aspek fikriyah bisa diasah dengan sering menjadi panitia atau peserta
seminar bedah buku, membaca kitab-kitab Hadits dan Sirah Nabawiyah, biografi
sahabat-sahabat Rasulullah SAW dengan sumber-sumber rujukan seperti Riyadhus
Shalihin, Sirah Ibnu Hisyam, Fiqh Sirah M. Ghazali, Said Ramadhan Al-Buthi, Fiqh
Sirah Munir Muhammad Ghadban, Manhaj Haraki Lis Sirah An-Nabawiyah.
Berikutnya aspek ruhiyah dapat disentuh dengan daurah-daurah ruhiyah,
daurah “upgrading”, tahsin dan tahfizh, mutaba’ah tilawah, membaca Ma’tsurat,
shaum sunnah, ifthar shaim, bergaul, ziarah ke orang-orang shaleh, membaca kitab
Targhib wa Tarhib.
Sebagai pelengkap agar peserta halaqah juga memiliki skill atau ketrampilan,
faktor fanniyah pun perlu diasah dengan mengadakan kursus dan pelatihan masak
memasak, jahit menjahit, kewiraniagaan, mengemudi motor atau mobil dan
jurnalistik.
Bila baramij halaqah tersebut direncanakan dan dilakksanakan secara baik,
cermat dan konsisten agar ahdaf halaqah terealisir.

Karakteristik Halaqah Pada Segmen-segmen Tertentu


Secara prinsip tidak ada perbedaan mendasar antara halaqah yang satu
dengan yang lain walaupun peserta-pesertanya terdiri dari segmen masyarakat
yang berbeda misalnya segmen akhwat dan mahasiswa.
Sebenarnya juga tidak ada keharusan bahwa halaqah harus homogen atau
terdiri dari peserta-peserta halaqah yang sejenis atau seprofesi, namun memang
lebih mudah buat seorang murabbi untuk mengarahkan bila dalam satu kelompok
halaqah tidak terdapat kesenjangan intelektualitas, pemikiran atau perbedaan latar
belakang yang mecolok.
Oleh karena itu kita mengenal adanya halaqah buruh, pelajar, mahasiswa
atau akhwat dan halaqah akhwat masih bisa dirinci halaqah akhwat yang mahasiswi,
buruh atau pelajar. Sesuai dengan perbedaan taraf inetelektualitas, kedewasaan
dan latar belakang memang ada perbedaan spesifik di antara jenis-jenis halaqah
tersebut.

Halaqah Pelajar
Dalam hadits disebutkan tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah
di mana tidak ada naungan selain naungan Allah, di antaranya adalah pemuda yang
tumbuh berkembang dalam ibadah dan pemuda yang lekat hatinya dengan masjid.
Pelajar sebagai awal dari rentang usia seorang pemuda atau lazim pula disebut ABG
(Anak Baru Gede) berada di masa-masa transisi/pubertas. Masa-masa ini sulit
karena kematangan biologis, seksual pada diri mereka tidak dibarengi kematangan
ruhani dan fikriyah (intelektualitas) sehingga dampak berupa kenakalan remaja,
tawuran, keterjeratan/keterperangkapan pada narkoba dan pergaulan bebas
semakin marak.
Seyogyanyalah sejak usia SLTP dan SMU, mereka mulai dilirik dan dibidik
sebagai sasaran da'wah dengan tetap memperhatikan kekhasan dunia mereka
sebagai ABG sehingga acara seperti wisata ruhani, olah raga dan kesenian dapat
digunakan sebagai daya tarik sebuah halaqah pelajar.

Halaqah Mahasiswa
Mahasiswa dikenal sejak dulu sebagai agen perubahan. Kekhasannya sebagai
segelintir elit pemuda yang terdidik, dinamis dan peka serta memiliki nurani yang
tajam membuat ia menjadi sasaran utama da'wah.
Umar ibnul Khathab r.a pernah berkata: “Kalau ingin menggenggam dunia,
genggamlah para pemudanya”. Dan memang sejarah mencatat setiap terjadi

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 20 of 71


perubahan besar di masyarakat, hampir bisa dipastikan mahasiswalah ujung
tombaknya.
Karena itulah pembinaan halaqah mahasiswa harus memperhatikan kekhasan
mahasiswa berupa aspek intelektualitas dan dinamikanya yang tinggi. Kegiatan
penugasan untuk menjadi peserta atau panitia seminar, diskusi panel, pentas seni di
kampus sendiri atau di kampus-kampus lain sebagai studi banding adalah sarana
yang baik untuk mengasah kemampuan ilmiah, da’wah dan bekerja dalam sebuah
team work.
Selain mereka disupport untuk aktif melakukan da'wah ammah di lingkungan
kampus, mereka pun hendaknya secara berkala di up grade melalui daurah-daurah
tarqiyah (up grading). Dengan kata lain mereka tetap menjadi sasaran da'wah
khosshoh yang utama agar mereka senantiasa mendapatkan back up/daya dukung
ruhiyah yang memadai.

Halaqah Buruh/Pekerja
Buruh yang kini lebih dan ingin dikenal sebagai kelompok pekerja tak pelak
lagi merupakan salah satu komponen masyarakat yang penting karena merekalah
yang turut menggerakkan roda-roda ekonomi dan industri.
Merekapun rentan terhadap hasutan dan penguasaan kaum sosialis atau
marxis yang juga berkepentingan mendekati, menggarap dan membina para
pekerja ini yang mereka anggap dan sebut sebagai kaum proletar.
Para pekerja ini umumnya memang memiliki taraf intelentualitas yang
terbatas karena umumnya lulusan SD, SLTP atau maksimum SMU, namun tak berarti
mereka sulit disentuh dan dibina. Asal kita bisa mengarahkan dengan pas, faham
jadual kerja mereka yang acapkali berganti-ganti shift, mereka bisa menjadi kader
da'wah yang handal dan motor penggerak paling tidak di kalangan pekerja pula.
Bahkan Majalah Ummi dulu sempat mencatat sekitar tahun 1993 – 1996
ketika membuka dompet Bosnia bagi pembaca yang ingin membantu saudara-
saudaranya di Bosnia, bahwa banyak sekali pekerja-pekerja wanita dari beberapa
pabrik tertentu yang rutin menyalurkan infaq mereka.

Halaqah Akhwat
Seyogyanyalah seorang murabbi bagi halaqah ini adalah juga akhwat, karena
hanya wanitalah yang mengetahui secara lebih mendalam kekhasan-kekhasan
kejiwaan seorang wanita. Kecuali dalam keadaan terpaksa misalnya ketiadaan
akhwat yang mampu.
Walaupun tidak ada perbedaan tugas, kewajiban dan hak-hak selaku hamba
Allah, wanita tetap memiliki hak dan kewajiban yang spesifik sebagai seorang anak
wanita, istri dan ibu. Sehingga selain diajarkan hal-hal yang pokok seperti aqidah,
ibadah dan syari’ah, akhlaq dan jihad, kepada halaqah akhwat ini juga harus
diberikan materi-materi yang dapat mengasah kewanitaannya seperti daurul mar’ah
(peranan wanita), tarbiyatul aulad (pendidikan anak), Fiqh Nisa’ (fiqh wanita) seperti
thaharah (bersuci), haid dsb dan Tarajimun Nisa’ (biografi wanita-wanita teladan
dalam sejarah Islam).
Bahkan perlu ditambah pula pekan-pekan khusus seperti pekan terakhir di
setiap bulan berupa pembekalan fanniyah yang berkaitan dengan ke”rabbatul
bait”an (kerumahtanggaan) seperti kursus memasak, menjahit, menata rumah,
merangkai bunga dan juga ketrampilan lain seperti memotong rambut dan
mengemudi. Dalam hal evaluasi tarbiyah juga perlu diperhatikan pula tingkat
kepekaan, kedewasaan kewanitaan dan tingkat kecondongan mereka pada fitrah
kewanitaan mereka di samping kekuatan iman dan kontinuitas ibadah serta
keutamaan akhlaq.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 21 of 71


Proses pembinaan akhwat perlu memperhatikan peluang berupa athifiyah
(kelembutan) dan kepekaan wanita dalam bersegera menyambut kebaikan namun
ancaman berupa ketidakstabilan emosi dan friksi-friksi dengan murabiyyah atau
dengan sesama peserta halaqah perlu diwaspadai dan disiasati.
Kendala-kendala seperti cobaan keterlambatan mendapat jodoh atau bila
sudah berumah tangga kekurangcakapan menata beban-beban baru seperti tugas-
tugas kerumahtanggaan dan anak dapat mengendurkan semangat dan menurunkan
aktivitas serta produktivitas akhwat.
Seyogyanyalah halaqah akhwat perlu ditata, direncanakan dan ditangani
secara lebih matang dan serius oleh tenaga-tenaga pembina yang handal.
Waallohu A’lamu bisshawab.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 22 of 71


PROFIL MUROBBI

MUQODDIMAH
Sudah menjadi hal yang lazim bagi setiap tugas atau pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh
seseorang. Harus adanya kesiapan dan persiapan terlebih dahulu .Sebagai contoh; membangun sebuah
rumsh tidak mungkin bisa terlaksana kecuali ada ahli bangunan yang memiliki pengetahua yang lengkap
tentang semua permasahan yang terkait dengan bangunan.Demikian pula membngun manusia dengan
proses tarbiah membutuhkan murobbi murobbi profesional.
Proses tarbiah pekerjaan yang sangat berat lagi tidak mudah ,karena tarbiah
berati mempersiapkan manusia dengan membentuk dan mempormatnya menjadi
syakhsyiah muslimah da’iah setelah menghlangkan potensi negatif dan
mengembangkan potensi positif pada dirinya.
Tarbiah berarti berinteraksi dengan manusia makhluk yang memiliki banyak
dimensi dan permasalahan yang kompleks.Orang yang berinteraksi dengan
makhluk selain manusa dengan mudah dapat menundukkan dan
mengendalikannya namun berinteraksi dengan manusia tidak dapat disamakan
dengan berinteraksi dengan binatang atau makhluk lainnya.Oleh karena itu tidak
semua orang dapat mentarbiah,bahkan orang yang sudah memiliki pemahaman
yang bagus ,latarbelakang ilmiah yang yang memadai,kemampuan berbicara dan
kemampuan berdialog yang baik sekalipun belum cukup untuk menjadi murobbi
sukses.
Mengingat mentarbiah manusia bukan pekerjaan yang ringan maka para
murobbi dituntut untuk terus melakukan peningkatan kualitas diri agar menjadi
murobbi yang profesional.

DEFINISI MUROBBI
Murobbi adalah orang yang melaksanakan proses tarbiah morabbi,dengan fokus
kerjanya pada pembentukam pribadi muslim solih muslih ,yang memperhatikan
aspek pemeliharaan[ar-ria’yah],pengembangan[at-tanmiah]dan pengarahan[at-
taujih] serta pemberdayaan[at-tauzhif].

FUNGSI MUROBBI DI DALAM AL-QUR’AN


Di dalam al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskan fungsi murobbi, seperti di dalam
surat Al-Baqoroh ayat151,Ali Imron ayat 164 dan Al-Jumu’ah ayat 2.Di dalam surat
Al-Baqoroh ayat 151 Allah SWT. Berfirman;

Artinya;
‘‘Sebagaimana Kami telah utus kepada kamu seorang rasul[Muhammad]
membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, membersihkan jiwa-jiwa kamu,
mengajarkan kepada kamu al-kitab dan al-hikmah dan mengajarkan kepada kamu
apa-apa yang kamu belum mengetahuinya”.

Di dalam ayat ini ada 3 poin penting yaitu;


1. Rosul diutus kepada ummatnya sebagai murobbi[kama
arsalna fikum rosulan minkum]
2. Rosul dalam melaksanakan fungsi tarbiah dibekali manhaj dan
penguasaannya yang benar dan utuh. [yatlu ‘alaikum ayatina]
3. Proses tarbiah yang dilakukan rosul memperhatikan 3 aspek
penting yaitu;

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 23 of 71


a. Mensucikan jiwa[wayuzakkikum]agar terbentuknya ruhiah
ma’nwiah[mentalitas sepiritual].
b. Mengajarkan ilmu[wayu’allimukumul kitaba walhikmata] agar
terbentuknya fikriah tsaqofiah [wawas an intelektua]
c. Mengajarkan cara beramal [wayu’allimukum malam takunu ta’lamun]
agar terbentuknya amaliah harokiah[amal dan harokah].

Jika kita perhatikan ayat di atas tazkiatun nafs [pembersihan jiwa] menjadi skala
prioritas dalam proses tarbiah sebelum memberikan wawasan intelektualitan dan
berbagai aktivitas,karena perubahan dan perbaikan manusia harus dimulai dari
perubahan dan perbaikan jiwa sebagaimana. firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat
11.
Artinya;
“sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu
merubah keadaan dirinya’’.
walapun murobbi tidak boleh menabaikan sisi-sisi yang lainnya yaitu sisi
intelektualitas dan aktivitas secara seimbang dan berkesinambungan.

FUNGSI MURBBI DALAM MENJALANKAN PROSES TARBIAH


Murobbi dalam melaksanakan proses tarbiah atas mutarobbi berfungsi sebagai ;
1. Walid [orang tua]dalam hubungan emosional.
2. Syaikh[bapak sepiritual]talam tarbiah ruhiah
3. Ustadz[guru] dalam mengaarkan ilmu
4. Qoid [pemimpin]dalam kebijakan umum da’wah.
Agar fungsi-fungsi ini dapat di perankan oleh murobbi maka murobbi dituntut untuk
memenuhi keriteria dan sifat-sifat murobbi sukses.

KRITERIA DAN SIFAT-SIFAT MUROBBI SUKSES


Diantara kriteria dan sifat-sifat murobbi sukses sebagai berikut ;
1. Memiliki ilmu.
Ilmu yang harus dimiliki seorang murobbi meliputi banyak cabang ilmu
pengetahuan,diantaranya;
a. Ilmu syar’i; salahsatu tujuan tarbiah dalam islam menjadikan manusia agar
beribadah kepada Allah ibadah baru akan tercapai hanya dengan ilmu syar’i.Yang
dimaksud dengan ilmu syar’i di sini tidak berarti bahwa seorang murbbi harus alim
di bidang ilmu syar’i atau sepesialis di bidang ulum syar’iah akan tetapi ilmu syar’I
yang harus dimiliki seorang murobbi adalah ilmu syar’i yang dengannya ia mampu
membaca,membahas dan mempersiapkan tema-tema syar’i serta memiliki ilmu-
ilmu dasar yang kemudian ia dapat mengembangkan potensi syar’inya dengan
semangat belajar.
b. Ilmu pngetahuan yang sesuai dengan kebutuhannya sebagai murobbi
tentang situasi dan kodisi zaman dan masyarakatnya.
c. Psikologi, seperti karakter manusia sesuai dengai usianya;anak-
anak,remaja,dan orang dewasa, tentang motifasi naluri dan potensi manusia serta
membaca tulisan-tulisan dan kajian-kajian tentang kelompok masyarakat yang
dibutuhkan dalam proses tarbiah.Ini tidak berarti seorang murobbi harus psikolog
atau ahli di bidang ilmu pendidikan,akan tetapi yang diperlukan murobbi adalah
dasar-dasar umum ilmu jiwa dan memiliki kemampuan memahami hasil kajian dan
penelitian di bidang ini.
d. Mengetahui kesiapan, kemampuan dan potensi mutarobbi, dalam hal ini
Rasul SAW. murobbi yang sangat tahu tentang kondisi, potensi, kesiapan dan

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 24 of 71


kemampuan mutarobb, sebagai contoh ketika rosul memberikan sarannya kepada
Abu Dzar al-Gifari di saat ia minta jabatan kepada rosul dalam sabdanya ;
’’Wahai Abu Dzar saya lihat kamu dalam hal ini lemah,dan saya mencintai
kamu seperti saya mencintai diri saya sendiri ,kamu tidak layak untuk
mempin hanya dua orang sekalipun dan tidak mampu mengelola harta milik
anak yatim”.[H.R.Muslim].
e. Mengetahui lingkungan di mana mutarobbi berada/tinggal, karena
lingkungan mempuanyai pengaruh yang besar terhadap kepribadaian
[mutarobbi], pengetahuan tentang lingkungan mutarobbi sangat penting bagi
mutarobbi sebagai bahan dalam proses tarbiah.
2. Murobbi harus lebih tinggi kualitasnya dari mutarobbi; dalam proses
tarbiah terjadi timbal balik antara murobbi dan mutarobbi, terjadi proses memberi
dan mengambil menyampaikan dan menerima,oleh karenanya murobbi harus
lebih tinggi dari mutarobbi, tidak berarti murobbi harus lebh tua dari mutarobbi
sekalipun faktor usia penting akan tetapi yang lebih penting kemampuan,
pengalaman dan keterampilan murobbi harus lebih tinggi dari mutarobbinya.
Karenanya Rosul orang memiliki sifat-sifat di atas semua manusia di berbagai sisi.
3. Mampu mentransformasikan apa-apa yang dimiliki; banyak orang
orang besar yang tidak mampu memberikan dan menyampaikan apa-apa yang
dimilikinya,karenanya ia tidak dapat mentarbiah ,walaupun memiliki kelebiahb dari
sisi ilmu pengetahuan, moralitas, mentalitas dan emosional, akan tetapi karena
alasan tertentu mereka mereka tidak mendapatkan pengalaman lapangan
khususnya di medan Tarbiyah ia hanya memiliki wawasan tioritis tidak memlki
pengalaman praktis. Orang-orang seperti ini sering dijumpai di acara-acara umum
seperti kajian ilmiah, seminar, dialog wawancara dan lain-lainnya mereka padandai
berbicara,kuat argumentasinya dan penyampaian materinya menarik, tapi semua
itu belum cukup untuk menjadikan seseorang mampu mentarbiah. Sering kali kita
terpesona dengan orang-orang seperti itu bahkan menganggap mereka memiliki
potensi tarbiah yang paling baik tanpa melihat sisi-sisi yang lain.
4. Memiliki kemampuan memimpin [al-qudroh ‘alal qiadah]; kemampuan
memimpin menjadi salah satu kriteria asasi bagi murobbi.dan tidak semua orang
memilki kemampuan ini,ada orang yang dapat mengambil keputusan
menagirial,dan ada pula yang mampu memanag perusahaan atau yayasan, akan
tetapi qiadah [kepemmpinan] lebih dari itu, khususnya proses tarbiah tidak bisa
dipaksakan, jika militer atau penguasa dapat menggiring manusia dengan tongkat
dan senjata maka seorang yang tidak memiliki kemampuan memimpin tidak akan
bisa mentarbiah orang lain.
5. Memiliki kemampuan mengevaluasi[al-qudroh ‘alal mutaba’ah];
proses tarbiah bersiafat terus menerusdan berkesinambungan tidak cukup denan
arahan-arahan sesaat dan temporer dan tarbiah membutuhkan evaluasi yang
berkesinambungan.untuk mengetahui berhasil atau tidaknya proses tarbiah maka
evaluasi suatu hal yang tidak boleh diabaikan.Murobbi mengevaluasi dirinya,
manhaj, sarana, media, metoda dan mutarobbi secara intensif dan integral.
6. Memiliki kemampuan melakukan penilaian [al-qudroh ‘alat taqwim];
taqwim dalam proses bagian yang tidak terpisahkan dari tarbiah itu sendiri
,murobbi harus melakukan penilaian terhadap ;
a. Menilai peserta tarbiah untuk mengetahui kemampuannya,agar murobbi
dapat mentarbiah sesuai dengan keadaannya.
b. Menilai peserta tarbiah untuk mengetahui sejauh mana pecapaian muasofat
pada dirinya dan apa pengaruhnya dalam kehidupan kesehariannya.
c. Menilai program ,tugas dankendala serta solusinya .

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 25 of 71


d. Menilai permasalahan tarbawiah untuk ditangani secara profesonal dan
proporsional.
Taqwim yang dilakukan oleh murobbi harus dilkukan secara ilmiah dan obyektif
dengan berpegang pada kaidah-kaidah taqwim yang telah baku,bukan kesan
pribadi atua emosional.
7. Memilki kemampuan membangun hubungan emosional[al-qudroh ‘ala
binaal-‘laqoh al-insaniah]. Hubungan antara murobbi dan mutarobbi harus
dilandasi kasih sayang dan cinta karena Allah.maka murobbi yang tidak
menanamkan kasih sayang dan kecintaan kedam jiwa mutarobbinya , bisa
dipastikan bahwa semua pelajaran dan pesan-pesannya yang disampaikan
kepadanya akan berakhir dengan berakhirnya kata-kata murobbi dan tidak akan
masuk kedalam hati , apa lagi untuk menjadi ilmu yang mengkristal di dalam jiwa.
Allah SWT.telah mengingatkan didalam surat Ali Imron ayat 159 :
’’Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap
mereka ,sekiranya kamu bersikapkeras lagi berhati kasar tentulah menjauhkan
diri dari sekelilingmu,karena itu maafkanlah mereka mohonkanlah ampunan bagi
mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad ,maka bertawakkallah kepada Allah
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadanya’’.

SARANA TARBIAH
Pendahuluan
Tarbiyah sebagai proses pembangunan diri muslim yang kaaffah harus
mendapat porsi terbesar kehidupan seseorang. Sarana, proses, pengembangan dan
evaluasi tarbiyah yang dilakukan secara simultan adalah sebuah kesatuan yang tak
terpisahkan. Sisi lain tarbiyah yang dilakukan adalah tarbiyah bagi orang dewasa.
Kesadaran akan hal tersebut akan membawa kita pada pemahaman pendidikan
orang dewasa tidak sama dengan pendidikan anak-anak.
Pendidikan bagi orang dewasa memberi kesempatan yang luas bagi
komunikasi dua arah. Peran peserta menjadi sangat besar dalam pencapaian
tarbiyah itu sendiri. Kesadaran peserta akan apa yang dilakukannya dan apa yang
menjadi tujuannya akan mempercepat proses perjalanan tarbiyah. Tugas seorang
murobbilah untuk memotivasi dan mengembangkan setiap potensi yang dimiliki
peserta. Kesiapan para murobbi untuk berkomunikasi dua arah juga memainkan
peranan penting. Dengan komunikasi dua arah diharapkan peserta dapat
memahami setiap nilai secara baik, tidak taklid dan sadar sepenuhnya terhadap apa
yang dilakukan berikut keterkaitannya dengan tanggungjawab dihadapan Allah Swt.
Pada sarana tarbiyah dalam setiap marhalah perlu digaris bawahi masalah
kekhasan pendidikan orang dewasa ini. Dengan pelibatan setiap peserta dalam
menanamkan dan memahami nilai yang ada diharapkan keikhlasan, keinginan untuk
beramal dan seterusnya tumbuh terintegrasi dalam diri peserta. Dengan kata lain
para murobbi harus siap dengan berbagai proses kreatif dalam mengembangkan
sarana tarbiyah pada berbagai marhalahnya. Partisipasi aktif dari peserta tarbiyah
dalam pengembangan dan pengokohan pemahamannya dapat dibangun melalui
sarana tarbiyah pada setiap levelnya yang berjalan secara efektif. Diharapkan pada
setiap sarana terdapat proses yang menyentuh kognisi (konsep pengetahuan),
afeksi (perasaan) dan konasi (kecenderungan untuk melakukan) sehingga nilai yang
disampaikan dapat terinternalisasi dalam diri peserta.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 26 of 71


DR Ali Abdul Halim Mahmud menuliskan dalam buku Perangkat-perangkat
Taarbiyah Ikhwanul Muslimin terjemahan dalam bahasa Indonesia:
…selain itu, tarbiyah Islamiyah memiliki keistimewaan dengan kemampuannya
mengiringi fitrah manusia dalam menghadapi realitas hidupnya di bumi dan di alam
materi ini, sebagaimana juga mengiringi potensinya menuju tingkat keteladanan
dan kepeloporan sehingga dapat mewujudkan kemanfaatan dan keselamatan bagi
diri, agama dan masyarakatnya. Semua itu termasuk dalam batas yang Allah swt.
halalkan dan syariatkan.(hal. 26)
Pernyataan ini mengisyaratkan pentingnya internalisasi nilai Ilahiah dalam
kehidupan sehari-hari. Dan itu secara tegas dinyatakan sebagai sebuah
keistimewaan Tarbiyah Islamiyah.

Apa yang dimaksud dengan sarana tarbiyah ?


Manhaj Tarbiyah 1421 H mencatat bahwa yang dimaksud dengan sarana
tarbiyah adalah program atau bentuk acara yang dijadikan media untuk
merealisasikan kurikulum tarbiyah. Sebagai sarana utama dalam tarbiyah adalah
Halaqah. Sedangkan sarana tambahannya berupa mabit/jalasah ruhiyah/lailatul
katibah, tatsqif, rihlah, mukhayyam, dauroh, seminar, ta'lim dan penugasan.
Masing-masing sarana memerlukan pengelolaan yang tepat sesuai dengan
peserta dan sasaran yang ingin dicapai pada tiap-tiap marhalah. Pelibatan seluruh
peserta dalam pencapaian sasaran akan mempercepat pencapaiannya. Setiap
sarana memiliki kekhasan masing-masing sehingga para murobbi perlu cermat
untuk memadukan ke seluruhan sarana yang ada.
i. Halaqoh
•1 Halaqoh adalah proses kegiatan tarbiyah dalam dinamika kelompok. Jumlah
normal satu halaqoh maksimal 12 orang. Murobbi diperkenankan paling banyak
mentarbiyah 3 halaqah. Bagi halaqoh akhwat dengan peserta kaum ibu perlu
dipertimbangkan masalah jumlah. Biasanya kehadiran para ibu disertai dengan
putra-putrinya yang masih kecil. Murobbi, bekerjasama dengan para suami, perlu
membuat sistem taawun yang dapat membantu para ibu mengembangkan
potensi dirinya secara proporsional.
•1 Pengelolaan halaqoh bagi marhalah Pemula dan muayid bertumpu pada
murobbi. Tetapi dalam pelaksanaannya murobbi dapat melibatkan seluruh
peserta memilih program-program yang dianggap dapat mewujudnya
tercapainya muwashaffat marhalah tersebut. Murobbi dapat menugaskan salah
seorang peserta untuk menjadi koordinator, mengatur alur informasi sesama
peserta. Menunjuk peserta lain yang bertugas mencatat absensi dan notulensi
pertemuan, serta peserta lain sebagai bendahara. Dapat pula ditambah
beberapa penanggung jawab program yang telah disepakati. Absensi dan
notulensi dapat digunakan untuk pengecekan silang terhadap catatan murobbi
dalam proses takwim.
• Baramij adalah acara yang mesti diikuti dalam melaksanakan halaqah dengan
tertib, sehingga terealisir ahdaf halaqah. Baramij dapat ditambah sesuai dengan
kebutuhan
 Iftitah
 Tilawah dan tadabbur
 Talaqqi madah
 Mutaba'ah dan diskusi
 Ta'limat
 Ikhtitam

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 27 of 71


• Talaqqi madah tidak berarti harus selalu satu arah dan berbentuk skematik,
tetapi bisa dilakukan dengan beberapa tahap yaitu penjelasan sasaran materi,
pelibatan peserta, ceramah atau dialog. Berikut ini contoh talaqqi untuk madah
Birrul Walidain (1B081):
. Peserta diminta untuk mengingat syair yang dirasa paling tepat untuk
menggambarkan perasaannya terhadap orang tua. Misalnya:
kasih ibu.. kepada beta…
tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi tak harap kembali..
bagai sang surya menyinari dunia
(diambil dari syair lagu anak-anak)
. Dilakukan dialog tentang alasan pemilihan syair tersebut
. Penjelasan materi
. Diskusi dengan melibatkan perasaan peserta.

ii. Tarbiyah Fardiyah


Dilakukan bagi peserta yang karena satu dan lain hal tidak dapat bergabung dengan
peserta lain dalam halaqoh. Seorang murobbi paling banyak melakukan tarbiyah
fardiyah pada 3 orang.
iii. Mabit/Lailatul Katibah & Jalsah Ruhiyah
Dilakukan dengan prioritas bagi tarbiyah ruhiyah setiap peserta dengan acara
menginap bersama, kecuali untuk akhwat. Program yang dijalankan adalah
menghidupkan malam dalam upaya meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah
swt. dan meningkatkan upaya meneladani dan mencintai Rasulullah Saw,
mengeratkan ukhuwwah, meningkatkan akhlaq rabbaniyah dan menambah bekalan
da'wah.
iv. Tarbiyah Tsaqofiyah (tatsqif)
Tatsqif adalah proses pembentukan syakhsiyah Islamiyah mutakamilah yang
bersifat ilzami melalui melalui pembekalan 'ulum Islamiyah kepada peserta. Selain
kehadiran dan talaqqi, partisipasi aktif peserta sangat menunjang peningkatan
pemahaman. Mengkaji maraji' yang disarankan, mendiskusikan hal-hal praktis yang
berkaitan dengan madah yang disampaikan dapat menjadikannya sebagai ilmu
yang terinternalisasi bagi peserta.
v. Dauroh/Kursus
Dauroh adalah forum khusus untuk mempelajari keahlian atau ketrampilan tertentu.
Diikuti oleh peserta dengan persyaratan tertentu dan dilaksanakan dalam waktu
yang relatif lama. Sebelum mengikuti dauroh ini sebaiknya diberi pemahaman akan
pentingnya keterlibatan dalam dauroh ini. Juga sangat baik bila peserta yang
merasakan sendiri kebutuhan akan keahlian tertentu sehingga muncul keinginan
untuk meningkatkan ketrampilannya.

vi. Rihlah
Rihlah adalah suatu perjalanan rekreasi yang bersifat tarbawi, manhaji dan tanzimi
dengan kegiatan yang disiapkan untuk mencapai sasaran pemulihan dan
penyegaran potensi ruhi, fikri dan jasadi serta penguatan hubungan kekeluargaan
dan kemasyarakatan. Rihlah diikuti keluarga masing-masing peserta, dilaksanakan
minimal satu tahun sekali dan mengutamakan kesempatan rekreasi bagi ummahat.
vii. Mukhayyam
Mukhayyam adalah sarana penghimpunan, pelatihan dan pengarahan peserta
dalam rangka menerapkan nilai Islam pada aktifitas kehidupannya.
Anasir Acara yang diselenggarakan terdiri atas unsur riyadhi, askari, ruhi dan fikri.
viii. Ta'lim

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 28 of 71


Ta'lim adalah bentuk penyampaian mawad tarbiyah tsaqofiyah sekaligus tarbiyah
jamahiriyah yang diselenggarakan melalui sarana-sarana umum seperti masjid atau
majelis ta'lim

Apakah sarana tarbiyah dapat dikembangkan ?


Seperti telah diuraikan sebelumnya, sarana tarbiyah yang beragam dapat
dikembangkan dan sangat tergantung pada kreatifitas murobbi dan pengelola. Tidak
kurang pentingnya adalah partisipasi aktif para peserta dengan berbagai
kreatifitasnya mengembangkan sarana-sarana yang ada dengan batasan koridor
manhaj 1421 H.
Di dalam halaqah akan tampak kreatifitas peserta mempengaruhi dinamika
kelompoknya. Bila seorang murobbi membina lebih dari satu kelompok halaqah,
maka ia tidak dapat menganggap kedua kelompok adalah sama. Setiap kelompok
memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Kelompok aktivis biasanya kreatif namun dari segi
kehadiran sering berganti-ganti orang karena aktivitasnya. Sebaliknya kelompok
pekerja akan sulit melakukan program rutin pada waktu kerjanya. Dengan demikian
para murobbi perlu melakukan pengelolaan sedemikian rupa yang khas bagi
masing-masing kelompok.

Beberapa kiat untuk pengembangan sarana tarbiyah


Setiap murobbi pasti memiliki kiat-kiat untuk mengembangkan halaqohnya.
Dan disadari bersama kiat-kiat tersebut sangat spesifik bagi kelompok dengan
karakter tertentu. Sebaiknya dilakukan workshop antar murobbi untuk
mengembangkan dan memperkaya kreatifitas.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan halaqoh diantaranya:
α Metode penyampaian yang beragam.
Dimulai dengan 'opening session' (sesi pembuka) untuk mempersiapkan peserta
dalam menerima materi. Dapat dilakukan dengan pre test, dialog, permainan, dll.
Materi disampaikan sambil mengukur kesiapan peserta pada saat tersebut. Sedapat
mungkin melibatkan keaktifan peserta. Selain dengan skematik, dapat dengan
narasi, bahas buku, membahas kondisi kontemporer yang kemudian dibingkai oleh
murobbi dengan tujuan materi yang disampaikan dan aplikasinya dalam kehidupan
sehari-hari. Metode curah pendapat (sharing) dapat pula dijadikan sessi pembuka
yang nanti dapat dijadikan contoh dari materi tersebut.
α 0 Digunakan media yang beragam dalam penyampaian materi. Artikel, gambar-
gambar di koran atau majalah untuk memancing keterlibatan perasaan peserta
dalam pembahasan materi.
α1 Metode evaluasi yang juga beragam dengan berbagai kuis, jurnal, membuat
tlisan atau artikel dan sebagainya yang pada gilirannya dapat dijadikan indikasi
otentik dalam proses takwim. Khusus tentang jurnal akan diuraikan di lampiran.
Berikut ini sebuah contoh dalam penyampaian materi 'Ilmu Allah:
Peserta diminta tanggapannya tentang kasus ajinomoto. Tanpa memberi penilaian
terhadap masing-masing pendapat murobbi menjelaskan materi 'Ilmu Allah (1D232)
yang menyimpulkan bahwa setiap pengetahuan kauniyah dikembangkan hanya
dalam rangka menegakkan syariah Allah di muka bumi. Dilanjutkan dengan diskusi.
Sebelum menutup acara murobbi meminta peserta menulis jurnal tentang
perasaannya ketika menerima materi dan rencana aplikasinya di waktu mendatang.

Penutup
Sebagaimana kekhasan pendidikan orang dewasa, maka pengembangan
sarana tarbiyah sangat tergantung pada para murobbi serta peserta itu sendiri.
Mengingat murobbi lebih memahami kondisi dan tujuan pada setiap marhalahnya

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 29 of 71


maka dituntut kreatifitas dan komitmen terhadap kelangsungan perkembangan
tarbiyah di negri ini.
Semoga Allah Swt. memberi kelapangan hati, kemudahan urusan dan
kekuatan dalam mengemban amanah-Nya menegakkan kalimat Allah di muka bumi.
Amin
Wallahu'alam bisawab.

Maraji :
1. Mahmud, Ali Abdul Halim. PERANGKAT-PRANGKAT TARBIYAH IKHWANUL
MUSLIMIN. Terjemahan dlm bahasa Indonesia. Era Intermedia, 1998.
2. Kelompok Kajian Manhaj Tarbiyah. PEDOMAN PEMBINAAN KADER-KADER ISLAM
DAN DA'WAH, 2000

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 30 of 71


Lampiran 1

Contoh kuis tertulis Contoh jurnal harian


1. Kuis taakhi: 1. Pembahasan materi Ma'rifatu Diinul
i. Coba sebutkan nama orang tua Islam (1A031)
dan alamat fulan (teman se sebelum materi :
liqo) Islam itu..agama yang emang dari dulu udah
ii. Apa yang tidak disukai fulan ? ada. Maksudnya, ya Islam itu agama yang
iii. Siapa nama anak-anak fulan ? udah ditentukan ame Allah dan sebenarnya
iv. …………………. waktu kita belom lahir kan udah diberi
kesaksian tentang hal itu

setelah materi:
Kemudian.. saya berfikir bahwa
sesungguhnya semakin nyata perjuangan
Islam melawan kaum nashoro dan yahudi,
yang seharusnya kita dapat melakukan
sesuatu yang berguna
2. Kuis untuk mengukur salah 2. Pembahasan materi Ma'na
satu muwashaffat Syahadatain (1A036)
i. Korupsi, kolusi dan nepotisme sesudah materi:
terjadi karena kurang tegasnya
aparat penegak hukum. saya baru tau kalo' sebenernya ilah itu bukan
Bagaimana tanggapan anda hanya tuhan yang kudu disembah aja. Tapi
tentang pernyataan di atas? ternyata sangat luas. Saya berharap bisa
ii. Bagaimana pendapat anda berhati-hati dalam bertindak karena bisa fatal
tentang ziarah kubur ? kalo salah
catatan: pertanyaan dibuat terbuka
sehingga diharapkan dapat menggali
beberapa aspek dari muwashaffat

Contoh jurnal di atas diambil dari salah satu halaqah yang semuanya pelajar SMU
sehingga cara mengungkapkan pendapatnya tentu tidak akan sama dengan peserta
yang berusia dewasa.

Contoh permainan ukhuwwah :


1. Peserta diminta berdiri membentuk lingkaran
2. Peserta menghafal nama ayah teman disebelah kanan dan kirinya
3. Murobbi menjelaskan aturan main yaitu : jika murobbi menunjuk salah seorang
dengan mengucapkan kata "ding" maka peserta harus segera menyebut nama
ayah teman disebelah kanannya. Sedangkan jika disebut kata "dang" maka
segera menyebut nama ayah teman disebelah kirinya.
4. Dilakukan berulang-ulang
5. Bagi peserta yang sudah berkeluarga dapat diganti dengan menyebit nama
anak-anaknya

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 31 of 71


Lampiran 2 : Buku Jurnal

1. Jurnal adalah buku yang disediakan oleh murobbi bagi setiap peserta dan
disimpan oleh murobbi. Mengandung dua fungsi : tarbiyah dan takwim. Fungsi
tarbiyah dilakukan dengan menjadikan jurnal sebagai media komunikasi dua
arah dan fungsi takwim berjalan sepanjang proses tarbiyah untuk mendapatkan
indikasi-indikasi otentik yang murni berasal dari peserta.
2. Jurnal dibuat untuk mengetahui apa yang diterima peserta pada saat tsb.
sehingga mungkin ketika itu ybs mengantuk sehingga jurnal hanya diisi : afwan
hari ini ana ngantuk berat… atau sedang punya masalah: hari ini saya nggak
bisa nangkep apa-apa soalnya lagi ada masalah.
3. Jurnal juga dapat diisi dengan curahan perasaan yang tidak terungkap secara
verbal (dapat berupa tulisan biasa atau kadang-kadang dalam bentuk puisi
tergantung kecenderungan peserta) sehingga bersifat rahasia antara murobbi
dan peserta kecuali dalam konteks taqwim dalam pencarian indikasi.
4. Jurnal diisi oleh peserta pada masing-masing buku yang selalu dikumpulkan oleh
murobbi
5. Jurnal perlu rutin diperiksa oleh murobbi dan dikomentari dengan kalimat-
kalimat penguat yang menandakan adanya perhatian dari murobbi
6. Berikut ini adalah contoh pengisian jurnal yang pernah dilakukan pada halaqoh
dari 3 orang peserta setelah mendapat materi Akhtarul Syirik (kode lama B5
kode baru 1A03):
•1 Peserta 1
Kita telah dewasa, semua yang kita lakukan benar-benar harus
dipertanggungjawabkan pada Alloh dan Rosul. Apakah kita masih meragukan Allah
dan Rosul ? Jangan tenang-tenang aja… lihatlah diri kita karena antara keimanan
dan syirik itu sangat tipis… so, bagaimana dong. Jadi kita harus super hati-hati dan
super menambah ilmu dan kekuatan iman kita pada Allah.
Yang menjadi masalah kita adalah "malas", apakah malas tsb indikasi keraguan
pada Allah ? Naudzubillah…..

•1 Peserta 2
Alhamdulillah…
Tangisku dalam jiwa… Rabbi…aku takut
ALLAH… kenapa tipis batas kemusyrikan itu
sedikit saja licin, ups, aku tergelincir
astaghfirullah…….
Rugilah hamba yaa ALLAH
Rugilah hamba yaa ALLAH
seandainya amal-amal itu hanya berupa
kapas putih ringan beterbangan

syetan….syetan
ALLAH, lindungi hamba, selimuti hamba darinya
setelah semua coba dibangun
dan runtuh, hilang tak bersisa
akankah ??? Tidak. ALLAH….lembaran-lembaran
itu sedang kutata lagi
masih lagi kususun…..jangan lagi
jangan lagi kembali sejak awal

ALLAH…seandainya peringatanMu bukan

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 32 of 71


sebagai tanda uluran kasih dan cintaMu
seandainya KAU biarkan selalu terlena
maka, tiadalah aku berbeda dengan mereka
yang KAU murkai…

ALLAH… hamba bodoh, aku lemah tanpa daya


buka hati ini untuk mampu membedakan
warnai jiwa ini untuk senantiasa peka
dan mengerti kemana wajahku harus
kuhadapkan
dan mengetahui dimana saja wajah dan
cintaMu bisa kutemui…. ALLAH, ijinlanlah!

•1 Peserta 3
Catetan!!! Terlambat banget…
insight yang didapat:
#0 Syirik, dengan bahaya-bahayanya begitu tipis sehingga membutuhkan
kehati-hatian ekstra untuk mendeteksi, hingga akhirnya terbebass!!!
#1 Jadi kembali teringat dengan "furqon" yang hanya Allah turunkan bagi
orang-orang beriman yang bertaqwa
 jadi kunci untuk menghindari syirik.
#0 Action for the family :
-0 menyiasati segala bentuk syirik & bid'ah -
How ??? First of All, Perbaiki hubungan dg semua!
Respon ketiga peserta terhadap satu materi ternyata berbeda, namun demikian
ketiganya telah nampak memadukan pengetahuan, perasaan dan kecenderungan
antisipasi terhadap bahaya syirik. Ini dapat menjadi bahan takwim reguler yang
diselenggarakan oleh murobbi dan takwim ireguler oleh usroh.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 33 of 71


MICRO TEACHING
Latar belakang
Profesionalisme Murobbi ditandai oleh cara dan hasil memberikan taujih. Dalam
keseharian memberikan taujih perlu dibekali pengetahuan, sikap serta ketrampilan
tertentu. Upaya kearah tersebut bisa ditempuh salah satunya dengan cara
mengoptimalkan kegiatan micro teaching.

Pengertian
Micro berarti kecil, terbatas, sempit. Teaching berarti mendidik atau menajar.
Micro Teaching berarti suatu kegiatan mengajar dimana segalanya diperkecil atau
disederhanakan. Apa yang dikecilkan atau disederhanakan, yaitu :
 Jumlah siswa 5-6 orang
 Waktu mengajar 5 – 10 menit
 Bahan pelajaran hanya mencakup satu atau dua hal yang sederhana
 Ketrampilan mengajar difokuskan beberapa ketrampilan khusus saja.
Unsur micro merupakan ciri utamanya dan berusaha untuk meyederhanakan
secara sistimatis keseluruhan proses mengajar yang ada. Usaha simplikasi ini
didasari oleh asumsi bahwa : “sebelum kita dapat mengerti, dapat belajar dan dapat
melaksanakan kegiatan mengajar yang komplek, kita harus menguasai dulu
komponen-komponen dari keseluruhan kegiatan yang ada.” Maka dengan
memperkecil murid, menyingkat waktu, mempersempit saran-saran serta
membatasi ketrampilan, perhataian dapat sepenuhnya diarahkan pada pembinaan
penyempurnaan ketrampilan khusus yang sedang dipelajari

Urgensi Micro Teaching


Micro Teaching dapat digunakan dalam :
 Pendidikan pre service, yaitu bagi calon guru:
1. Sebagai persiapan calon guru sebelum benar-benar mengajar di depan
kelas.
2. Sebagai usaha perbaikan penampilan calon guru.
 Pendidikan in service, yaitu bagi guru atau penilik.
1. Untuk meningkatkan kemampuan guru mengajar rutin, supaya
menemukan dan mengetahui kelemahan-kelemahannya sendiri dan berusaha
memperbaikinya.
2. Untuk meningaktkan kemampuan supervisor supaya ia tahu apakah
bimbingan, nasihat dan saran-saranya benar-benar efektif dalam membantu
peningkatan guru-gurunya.
3. Untuk percobaan melaksanakan metode baru, sebelum metode itu
dilaksanakan dalam pembelajaran yang sebenarnya.

Tujuan operasional Micro Teaching


1. Mengembangkan kemampuan mawas diri dan menilai orang lain.
2. Memungkinkan adanya perbaikan dalam waktu singkat.
3. Menanamkan rasa percaya pada diri dan bersifat terbuka dengan kritik orang lain
4. Mengembangkan sikap kritis murobbi.
5. Menanamkan kesadaran akan nilai ketrampilan mngajar dan komponen-
komponenya.
6. Mengenal kelemahan-kelemahan dan keliruan –keliruan dalam penampilan
ketrampilan mengajar dan tahu penampilan yang baik.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 34 of 71


7. Dengan menggunakan video Tape recorder maka :
8. Memberi kesempatan guru untuk melihat dan mendengar dirinya sendiri.
9. Memberi kesempatan untuk mengikuti kembali kritik dan diskusi caranya
mengajar berulangkali.
10.Memungkinkan untuk membuat model cara mengjar.
11.Memungkinkan banyak orang yang dapat mengikuti proses belajar dan tidak
tentu waktunya.
12.Merupakan medan untuk mencobakan sistem atau metode baru untuk diteliti
sebelum dikembangkan.
13.Memberi kesempatan pendekatan analistis mengenai ketrampilan dan strategi
mengajar.

Materi Kegiatan (program Kegiatan)


Yang dimaksud materi disini adalah ketrampilan yang akan dilatih melalui
penampilan dalam micro teaching.
Ada sepuluh ketrampilan khusus yang dapat dilatih dalam micro teaching yang
kesemuanya itu merupakan dalam sebuah proses belajar mengajar.
Keteampilan khusus itu meliputi:
 Ketrampilan membuka pelajaran
 Keteampilan memberi motivasi
 Ketrampilan bertanya
 Ketrampilan menerangkan
 Ketrampilan mendayagunakan media
 Ketrampilan menggunakan metode yang tepat
 Ketrampilan mengadakan interaksi
 Ketrampilan penampilan verbal dan non verbal
 Ketrampilan penjajagan/assesment.
 Ketrampilan menutup pelajaran.

Aspek-aspek keterampilan yang harus ditampilkan sebagai berikut :


a. Keterampilan membuka pelajaran
 Memperhatikan sikap dan tempat duduk siswa
 Memulai pelajaran setelah nampak siswa siap belajar.
 Cara mengenalkan pelajaran cukup menarik.
 Mengenalkan pokok pelajaran dengan menghubungkan pengetahuan yang
sudah diketahui oleh siswa (apersepsi).
 Hubungan antara pendahuluan dengan inti pelajaran nampak jelas dan logis.
b. Keterampilan memberi motivasi
 Mengucapkan ‘baik”, bagus, ya, bila siswa menjawab/ mengajukan
pertanyaan
 Ada perubahan sikap non verbal positif pada saat menenggapi pertanyaan/
jawaban siswa.
 Memuji dan memberi dorongan dengan senyum, anggukan atas partisipasi
siswa.
 Memberi tuntunan pada siswa agar dapat memberi jawaban yang benar.
 Memberi pengarahan sederhana dan pancingan, agar siswa memberi jawaban
yang benar.
c. Keterampilan bertanya
 Pertanyaan guru sebagian besar telah cukup jelas
 Pertanyaan guru sebagian besar jelas kaitanya dengan masalah.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 35 of 71


 Pertanyaan ditunjukan keseluruhan kelas lebih dahulu, baru menunjuk
 Guru menggunakan teknik -pause- dalam menyampaikan pertanyaan
 Pertanyaan didistribusikan secara merata diantara para siswa.
 Teknik menunjuk yang memungkinkan seluruh siswa siap.
d. Keterampilan menerangkan
 Keterangan guru berfokus pada inti pelajaran
 Keterangan guru menarik perhatian siswa
 Keterangan guru mudah ditangkap(dicerna) oleh siswa.
 Penggunaan contoh, ilustrasi, analogi, dan semacamnya menarik perharian
siswa.
 Guru memperhatikan dengan sungguh-sungguh respon siswa yang berupa
pertanyaan, reaksi, usul dan semacamnya.
 Guru menjelaskan respon siswa, sehingga siswa menjadi jelas dan mengerti.
e. Keterampilan mendayagunakan media
 Pemilihan media sesuai dengan PBM yang diprogramkan
 Teknik mengkomunikasikan media tepat.
 Organisasi mengkomunikasikan media menunjang PBM.
 Guru trampil menggunakan media.
f. Keterampilan menggunakan metode yang tepat
 Ada kecocokan antara metode yang dipilih dengan tujuan pengajaran.
 Ada kecocokan antara metode yang dipilih dengan materi pelajaran dan
situasi kelas.
 Dalam menggunakan metode telah memenuhi / mengikuti sistematika
metode tersebut
 Alat yang dapat menunjang kelancaran penggunaan metode tersebut telah
disiapkan.
 Menguasai dalam penggunaan metode tersebut.
 Aspek mengadakan interaksi
 Ada keseimbangan antara jumlah kegiatan guru (aksi) dengan kegiatan siswa
(reaksi) selama proses belajar mengajar.
 Ada pengaruh langsung yang berupa :
 Informasi
 Pengarahan
 Menyalahkan atau membenarkan adalah cukup komunikatif

 Nampak ada partisipasi dari siswa yang berupa :


 Mendengarkan
 Mengamati
 Menjawab
 Bertanya
 Mencoba
g. Keterampilan penampilan verbal non verbal
 Gerakan guru wajar dan bertujuan.
 Gerakan guru bebas
 Isyarat guru menggunakan tangan, badan, dan wajah cukup bervariasi
 Suara guru cukup bervariasi, lemah dan keras.
 Ada pemusatan perhatian dari pihak siswa.
 Pengertian indera melihat dan mendengar berjalan dengan wajar.
h. Keterampilan penjajagan/assesment

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 36 of 71


 Menaruh perhatian kepada siswa yang mengalami kesulitan.
 Adanya kesepakatan guru terhadap tanda siswa yang mengalami salah
pengertian
 Melakukan penjajagan kepada siswa tentang pelajaran yang telah
diterimanya
 Mencari/melakukan apa yang menjadi sumber terjadinya kesulitan.
 Melakukan kegiatan untuk mengatasi/menunjukan kesulitan siswa.
i. Keterampilan menutup pelajaran
 Dapat menyimpulkan pelajaran dengan tepat.
 Dapat menggunakan kata-kata yang dapat membesarkan hati siswa
 Dapat menimbulkan perasaan mampu ( sense of achievment) dari pelajaran
yang diproleh.
 Dapat mendorong siswa tertarik pada pelajaran yang telah diterima.

Persiapan Penyelenggaraan
Dalam mempersiapkan penyelenggaraan micro teaching kita harus menetapkan.
 Waktu / bilamana diadakan micro teaching
 Tempat, dimana kapan diguanakan, pelaksanaan micro teaching
 Personalia dalam micro teaching (calon yang praktek, peserta didik/siswa
guru, orang yang akan mengadakan observasi dan penilaian, ahli teknik alat
rekaman)
 Pola micro teaching yang akan digunakan dan dikembangkan.
 Rencana kegiatan dan prosedur kegiatan micro teaching
 Sarana dan prasarana.
 Follow up.
Dalam follow up ditentukan kapan mengajar dikelas yang sebenarnya atau
melaksanakan tugas profesional guru.
Waallohu A’lamu bisshawab.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 37 of 71


PRESENTASI EFEKTIF
a. Pendahuluan
Presentasi merupakan salah satu cara dalam upaya menjelaskan sesuatu
topik atau bahasan tertentu dengan menggunakan (multi) media dalam waktu yang
relatif singkat. Media yang dimaksud dapat berupa media tulisan, visual, verbal atau
gabungan dari berbagai media (multi-media). Dengan kata lain, presentasi mestilah
bertujuan untuk menyampaikan atau menjelaskan sesuatu bahasan dengan
menggunakan alat peraga yang menyebabkan pembahasan tersebut menjadi
sistematis, menarik dan mudah dimengerti.
Dalam dunia pendidikan orang dewasa presentasi merupakan cara yang paling
banyak digemari oleh para instruktur (pengajar) karena pendekatan tersebut dapat
dengan mudah dan efektif menjelaskan bahasan-bahasan yang kompleks dan rumit
sedemikian rupa sehingga kegiatan belajar-mengajar menjadi tidak membosankan
dan melelahkan.

b. Persiapan presentasi
1. Hal yang paling awal untuk dipersiapkan untuk melakukan presentasi adalah
meyakinkan diri dengan pertanyaan berikut:
-0 Bahasan atau tema apa yang akan saya sampaikan ?
-1 Seberapa luas cakupan bahasan yang harus saya sampaikan dan
berapa waktu yang tersedia ?
-2 Dapatkan saya membuat daftar poin-poin utama dari seluruh bahasan
yang akan saya sampaikan ?
-3 Sudahkan saya mendapatkan cukup bahan (informasi) untuk
mensupport bahasan yang akan saya sampaikan, seperti: data, argumentasi,
contoh, dalil, kasus dsb ??

2. Mengetahui medan presentasi: siapa dan bagaimana karakteristik audience,


berapa jumlah mereka, bagaimana struktur kelas dan tata ruang yang tersedia,
fasilitas presentasi yang ada, serta waktu presentasi. Dengan mengetahui medan
ini, paling tidak ada kesiapan antisipatif baik psikologis maupun teknis.
3. Menyiapkan alur dan struktur bahasan dengan mempertimbangkan waktu
yang tersedia. Sebaiknya dilakukan persiapan rancangan alur pembahasan
dalam draft yang ditulis dalam satu lembar kertas. Rancangan ini membantu
menjaga sistematika dan efisiensi presentasi, sehingga tidak ‘terjebak’
membahas sesuatu yang jauh melenceng dari topik bahasan.
4. Menentukan cara dan media yang akan digunakan. Pada intinya, gunakanlah
cara dan media yang paling komunikatif dan mudah difahami. Bila topik bahasan
seputar konsep-konsep dan pengertian, maka pendekatan verbal menjadi pilihan
yang memadai. Membuat makalah yang sistematis, jelas urut-urutan dan poin-
poin bahasan menjadi tuntutan pokok. Apalagi bila disertai dengan ringkasan
makalah yang disajikan di awal atau di akhir bahasan. Bila pokok bahasan
menyangkut suatu kajian sebab-akibat, atau suatu proses (kejadian) pendekatan
visual dengan gambar-gambar grafis yang relevan akan sangat membantu
mempercepat pemahaman peserta didik.

c. Kiat-kiat Presentasi yang menarik


Agar presentasi menarik, hendaknya dilakukan hal-hal berikut:
1. Structure. Hendaknya bahan yang akan disampaikan tersusun secara sistematis
dengan alur yang jelas dan mudah difahami. Bila bahan yang akan disampaikan

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 38 of 71


sangat padat dengan masalah konsepsional dan teoritis, susunlah dengan bentuk
sebagai berikut :
a. Pengantar :
-4 membangkitkan perhatian dan minat peserta
-5 memaparkan ikhtisar materi bahasan
b. Bagian utama :
-6 sejumlah judul utama (main points)
-7 beberapa sub judul
c. Kesimpulan :
-8 butir-butir atau catatan penting
-9 diskusi dan pertanyaan
2. Simple. Sampaikan penyajian dengan mudah dan tidak berbelit-belit. Hindari
istilah-istilah yang sulit difahami, Gunakan kalimat-kalimat yang pendek, jelas
dan bervariasi. Penyajian jadi sangat membosankan apabila penyaji sering
menggunakan istilah-istilah yag berulang-ulang.
3. Surprise. Kesuksesan penyajian seringkali tergantung di titik awal
penyampaian. Apabila kesan pertama penyajian menggoda, maka selanjutnya
menjadi terserah anda. Oleh karena itu mulailah penyajian bahasan dengan
sesuatu yang mengejutkan, memancing perhatian atau mengundang minat dan
keseriusan. Gunakan kasus, data, gambar, games ataupun cerita mengenai
sesuatu yang relevan dengan topik bahasan.
4. Support. Penyajian akan sangat menarik dan meyakinkan serta mudah difahami
apabila disertai dengan ilustrasi dan hala-hal yang menunjang. Lengkapilah
setiap sub bahasan dengan ilustrasi yang memadai dan relevan dalam bentuk
kasus, contoh aplikatif, data dan fakta, dalil.
5. Shape. Penyajian akan menjadi enak dilihat apabila disampaikan dengan model
tampilan hand out, skema, matriks atau grafis yang yang jelas, mudah dan
menarik. Bentuk ini akan mempermudah pemahaman pada topik-topik bahasan
yang padat dan kompleks.
6. Style. Gaya menyampaikan sungguh akan mempengaruhi keberhasilan
penyampaian. Bila penyaji hanya duduk dan berbicara dengan nada yang datar
atau monoton tentu akan sangat membosankan. Sebaiknya gaya penyampaian
dilakukan dengan berbagai variasi gaya: kadang duduk, berdiri, jalan, menyapa
dengan nada bicara yang ekspresif serta penuh semangat.
7. Smart-smile. Penampilan yang menarik hendaknya juga dipertimbangkan
dalam menyampaikan sesuatu kepada sejumlah pendengar. Seringkali kesan
pertama penyajian justeru muncul dari penampilan fisik si penyaji: pakaian,
kerapihan dan kebersihan serta wewangian. Penampilan yang menarik akan
menjadi optimal manakala dalam proses penyampaian, tercipta hubungan dan
suasana yang interaktif antara penyaji dan pendengar. Munculkanlah suasana
akrab dan hangat melalui teguran, sapaan, senyuman, pertanyaan, meminta
tanggapan ataupun komentar mereka.
8. Show. Usahakanlah menggunakan media dan atau alat peraga yang memadai.
Apakah dalam bentuk makalah, hand-out, flipp chart, papan tulis, transparancy-
sheet, slide. Artinya, jangan hanya menggunakan lembar text-book yang
merupakan bagian dari referensi yang digunakan.
9. Stop. Berhenti sejenak dengan joke atau selingan-selingan segar untuk
memelihara konsentrasi dan perhatian pendengar, terutama apabila bobot topik
bahasan berat dan sulit.
10. Summarize. Menentukan akhir presentasi yang mengesankan. Kiat menutup
presentasi menjadi sangat menentukan keberhasilan menyampaikan bahasan.
Presentasi hendaknya diakhiri dengan merangkum kembali secara utuh pokok

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 39 of 71


bahasan yang telah disampaikan, sambil terus memberi kesempatan kepada
audience untuk memperjelas hal-hal yang terlewat.

d. Penutup

Presentasi atau penyajian suatu topik bahasan pada intinya adalah seni
untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada pendengar dengan tujuan agar
mereka dapat dengan mudah memahaminya. Oleh karena itu keberhasilan
presentasi selain ditentukan oleh keterampilan berbicara di depan publik dengan
segala kreativitas dan gaya penyampaian, juga dipengaruhi oleh pengalaman atau
jam terbang yang telah dikantongi presenter. Selain itu, kemauan dan kemampuan
mempelajari metode-metode yang berkembang ataupun melihat, memperhatikan
dan mempelajari orang-orang yang piawai dalam penyajian juga menjadi faktor
penentu bagi kesuksesan presentasi.
Waallohu A’lamu bisshawab.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 40 of 71


DINAMIKA KELOMPOK
(Upaya melatih berdinamika kelompok antaranggota untuk mendukung
amal jama,i dalam halaqoh tarbiyah)

Mukaddimah
Tuntutan bahwa dakwah harus dilaksanakan oleh setiap mukmin untuk
mewujudkan rahmatan lil alamin tak dapat ditawar-tawar lagi. Proyek dakwah yang
besar ini tidak dapat dipikul oleh seorang saja, melainkan dipikirkan dan
dilaksanakan secara bersama dalam satu ikatan amal jama’i.

Dalam perkembangannya, pelaksanaan dakwah ilallah ini banyak menemukan


masalah-masalah di lapangan. Permasalahan ini tak pelak menyertai setiap aktivis
dakwah dalam setiap langkah-langkahnya.

Melihat hal tersebut, makin dirasakan perlunya bekerja dalam tim untuk
mengatasi masalah-masalah dalam berbagai bidang. Agar kerja tim dapat berhasil
dengan baik, para anggotanya perlu memiliki kemampuan berinteraksi dan
mengadakan hubungan antarpribadi yang baik. Kemampuan ini sangat membantu
dalam menghidupkan amal jama’I dalam tataran halaqoh atau yang lebih besar dari
itu.

Pengertian
Adanya kerja tim dalam ikatan halaqoh tarbiyah memungkinkan terciptanya
dinamika kelompok. Di dalam dinamika kelompok inilah setiap anggota akan
mengenali perasaan-perasaan anggota timnya, mengenali permasalahan-
permasalahan yang sering timbul dalam halaqoh tarbiyah timnya, mengatasi
permasalahan-permasalahan dalam aktivitas halaqohnya, dan pada gilirannya
mampu mendinamiskan halaqoh timnya sehingga benar-benar halqoh muntijah itu
bukan sekadar utopia belaka atau konsep saja.

Di dalam buku Dinamika kelompok oleh Drs. Slamet Santosa, M.Pd.,


dikemukakan bahwa dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang teratur dari
dua individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara
anggota yang satu dengan yang lain. Setiap anggota kelompok mempunyai
hubungan psikologis yang berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama-
sama.
Ciri-ciri nya adalah:
1. adanya dorongan/motif yang sama pada setiap individu sehingga terjadi
interaksi antaranggota dan tertuju dalam tujuan yang sama,
2. adanya reaksi dan kecakapan yang berbeda di antara individu satu dengan
yang lain,
3. adanya pembentukan dan penegasan struktur kelompok yang jelas, terdiri
dari peranan dan kedudukan yang berkembang dengan sendirinya di dalam
rangka mencapai tujuan bersama, dan
4. adanya penegasan dan peneguhan adab-adab tingkah laku antaranggota
kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam
merealisasikan tujuan kelompok.
Dengan demikian, urgensi mengetahui dan melaksanakan dinamika kelompok
diantaranya adalah :
1. proyek dakwah dari Allah SWT ini tidak dapat dipikul dan dilaksanakan sendiri

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 41 of 71


2. individu tidak mungkin hidup sendiri di dalam masyarakat, di mana pun ia
berada
3. individu tidak dapat bekerja sendiri di dalam kehidupannya
4. dalam suatu ikatan halaqoh tarbiayah atau suatu ikatan masyarakat yang
besar perlu adanya pembagian kerja agar dapat terlaksana sesuai dengan
ketentuannya
5. mewujudkan amal jama’I yang sehat

Kendala yang terjadi dalam suatu kelompok


Persoalan-persoalan yang ada dalam dinamika kelompok yang dapat dijumpai
dalam ikatan halaqoh adalah sebagai berikut:
1. kohesi/persatuan
Dalam persoalan kohesi ini akan terlihat tingkah laku anggota dalam kelompok,
seperti proses pengelompokkan, intensitas anggota, arah pilihan, nilai kelompok
dan sebagainya. Dalam kasus ini misalnya seorang a’dho/anggota merasa
bermasalah dengan tingkat kehadiran anggota yang lain sehingga ikut
mempengaruhi dirinya dalam menilai kelompok halaqohnya. Kasus lain misalnya,
Dia bukan berada dalam satuan pekerjaan yang sama dengan anggota lain, usia
anggota sangat berjauhan, dan sebagainya.
2. motive/dorongan
Persoalan motive atau dorongan ini berkisar kepada ketertarikan anggota
terhadap kehidupan kelompok seperti kesatuan berkelompok, tujuan bersama,
orientasi diri terhadap kelompok dan sebagainya. Kasus ini misalnya adanya
a’dho yang tidak memiliki quwwatul indhifa’ dalam berhalaqoh sehingga selalu
mengalami kendala dalam aktivitas halaqohnya
3. struktur
Persoalan ini terlihat pada bentuk pengelompokan, bentuk hubungan, perbedaan
kedudukan antaranggota, pembagian tugas, dan sebagainya. Misalnya, kasus
seorang murobbi yang tidak memberikan tugas secara proporsional kepada
seluruh anggotanya menyebabkan struktur halaqoh pincang.
4. pimpinan
Persoalan yang satu ini tidak kalah pentingnya pada kehidupan berkelompok. Hal
ini terlihat pada bentuk-bentuk kepemimpinan, tugas pemimpin, dan sebagainya.
Ada kalanya ketidakcocokan antara murobbi dengan anggotanya lebih
disebabkan gaya kepemimpinannya dalam mengelola aktivitas halaqoh yang
dianggap tak sesuai dengan harapan anggota
5. perkembangan kelompok
Persoalan perkembangan kelompok dapat pula menentukan kehidupan kelompok
selanjutnya, dan ini terlihat pada perubahan dalam kelompok, senangnya
anggota kelompok tetap berada dalam kelompok, perpecahan kelompok, dan
sebagainya. Kasus-kasus seperti anggota yang sering dipindah-pindah, atau
ditinggal murobbi tanpa pengontrolan, keringnya nuansa ukhuwah antaranggota.

Solusi atas Kendala yang terjadi


Sering dalam interaksi antaranggota terjadi konflik antaranggota, anggota
dengan murobbinya, anngota dengan keluarganya dan sebagainya. Konflik ini perlu
dicarikan solusinya dengan tepat. Dengan solusi yang tepat diharapkan konflik
mereda dan hilang sama sekali, sebaliknya bila solusinya tidak tepat, konflik masih
tetap ada bahkan bias jadi membesar dan menyebabkan kefuturan bagi anggota itu
karena akumulasi kekecewaan-kekecewaan. Bagaimana mengatasinya :

1. tentukan dahulu persoalan dengan tepat

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 42 of 71


2. munculkan perilaku asertif yakni
a. keberanian dan kejujuran untuk mengungkapkan pendapat, perasaan,
kehendak, dan putusan pribadi seperti apa adanya tanpa merendahkan diri
sendiri dan orang lain
b. kesadaran akan hak dan kewajiban diri sendiri dan orang lain serta berupaya
memenuhinya secara timbal balik
3. mengembangkan sikap mendengar aktif, pesan diri, dan umpan balik antar
peserta dengan murabbi
4. gunakanlah manajemen konflik untuk menyelesaikan persoalan secara win-win
solution
5. mengembangkan hikmah syura dalam halaqoh tarbiyah

Amal Jama’I
Di bagian atas telah dijelaskan dinamika kelompok mulai dari pengertian, arti
pentingnya, kendala, dan solusi. Kini akan dijelaskan pula mengenai amal jama’i.
Dakwah secara berjamaah adalah dakwah yang paling efektif dan sangat
bermanfaat bagi gerakan Islam. Sebaliknya, seperti yang sudah diungkapkan pada
awal modul ini – dakwah sendirian akan kurang pengaruhnya dalam usaha
menanamkan ajaran Islam pada umat manusia. Atas dasar ini Allah SWT
mengisyaratkan dalam AL Quran dengan firman-Nya : “Dan hendaklah ada di antara
kamu segolongan umat yang menyeru pada kebaikan, menyuruh pada yang ma’ruf
dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali
Imaran : 104)

Tampak dalam ayat tersebut Allah SWT mewajibkan pelaksanaan dakwa secara
bersama. Sebab ikhtiar perseorangan dengan cara sendiri-sendiri tidak akan mampu
memikul segala tugas dan tanggungjawab dakwah dan tidak akan berdaya
melaksanakan segala tuntutan perjuangan dakwah dalam rangka memberantas
segala kejahatan yang ada di muka bumi dan menghancurkan akar-akar jahiliyah.

Amal jama’I mulai diwujudkan dalam tataran halaqoh tarbiyah. Di sanalah sang
murabbi akan menjadi fasilitator bagi terwujudnya amal jama,I bersama para
anggotanya.

Urgensi Amal Jama,I


Urgensi amal jama’I dalam Islam adalah :
1. tuntutan sunnatullah fil alam
2. tuntutan sunnatul basyar
3. tuntutan kerja amaliyah dakwah untuk menghadaipi musuh-musuh Allah SWT
4. tuntutan karakteristik gerakan dakwah

Pokok-pokok Amal Jama’I


Pokok-pokok amal jama’I meliputi :
1. sehatnya orientasi (ittijah) anggota ( 6 : 75-79) yang meliputi sehat mabdanya
(lillah), sehat manhajnya (billah), dan sehat ghoyahnya (ilallah)
2. sehatnya loyalitas (wala’u) anggota (2: 130-132) yang merupakan penerjemahan
dari sehatnya ketaatan kepada Allah, Rasul, dan pemimpin-pemimpinnya
3. sehatnya amal anggota (2:124) dengan karakter anggota yang berkorban
(tadhiyah), bersungguh-sungguh (jiddiyah), dan berkelanjutan (istimroriyah)
untuk menopang jihad di jalan Allah

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 43 of 71


Sasaran Amal Jama’I
Sasaran amal jama’I pada setiap anggota adalah :
1. tercapainya perencanaan, pelaksanaan, pengontrolan, dan evaluasi atas amal-
amal dakwah secara baik dalam halaqoh tarbiyah melalui sarana proyek-proyek
kecil hingga berskala besar, baik dalam bentuk kepanitiaan majlis ta’lim, rihlah,
pernikahan, badan usaha, dan sebagainya
2. tercapainya keterlibatan anggota secara aktif dalam menyukseskan amal jama’I
di halaqoh tarbiyahnya pada skala kecil atau jamaah secara lebih luas.
3. Tercapainya pemahaman peserta yang shahih tentang amal jama’I

Mendinamiskan Halaqoh
Berikut ini disampaikan beberapa upaya untuk mendinamiskan halaqoh tarbiyah :
1. murobbi mengenali anggota-anggotanya secara baik meliputi pengenalan
zhohiri dan ma’nawi
2. menciptakan iklim halaqoh tarbiyah yang kondusif bagi pemunculan ukhuwah
bainal a’dho, ketsiqohan dengan murobbi, dan ketaatan anggota pada
murobbinya
3. menggunakan berbagai sarana tarbiyah secara optimal dan tepat untuk
berbagai keperluan dan mengembangkannya
4. menjaga keistimroriyahan perjalanan halaqoh tarbiyah untuk mencegah
dampak insyilah akibat ketidakhadiran anggota dalam halaqoh tarbiyah

Penutup
Demikianlah modul dinamika kelopok ini dibuat. Dengan harapan akan
terwujudlah upaya melatih berdinamika kelompok antaranggota untuk mewujudkan
amal jama’I dalam halaqoh tarbiyah. Modul ini akan dilengkapi dengan berbagai
metode penyampaian materi ke arah pelatihan hingga sesuai dengan apa yang
diharapkan.
Waallohu A’lamu bisshawab.

Maroji’

1. Manhaj 1421 H
2. Drs. Slamet Santosa, M.Pd. Dinamika Kelompok
3. Pelatihan Dinamika Kelompok
4. Mustafa Masyhur, Amal Jama’I
5. Hildegard Wenzler-Cremer dan Maria Fischer, Proses Pengembangan Diri
SCHEDULE PELATIHAN DINAMIKA KELOMPOK

No Kegiatan Sasaran Wak Pelaksanaan Alat/Med Keteran


. tu ia gan
1. Agenda Menyepakati 5’ Instruktur Transpara
Acara agenda acara memperlihatka nsi
n agenda
acara
Peserta
menyetujui
agenda
tersebut
2. Ice Breaker Tercapai 15’ Intruktur Pluit

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 44 of 71


suasana memandu ice
pelatihan yang breaker :
cair wawancara A-
Tercapai B
upaya A menanyakan
mengatasi sesuatu (bisa
kebekuan tentang acara
atau yang lain)
kepada B. B
menyimak.
Setelah usai, B
giliran
menanyakan
sesuatu pada
A. Instruktur
meminta
pasangan A
menyampaika
n tentang B
dan
sebasliknya di
hadapan
peserta.
3. Sharing Tersampaikan 10’ Peserta
perasaan menyampaika
peserta ttg n sharing per
daurah individu.
murobbi yang Tersampaikan
berkaitan perasaan
dengan peserta dalam
materi-materi kegiatan
yang sudah tersebut
diberikan
4. Game Memperlancar 20’ Ada di fotokopi Lembar
proses Game berjudul tanda
perkenalan Tanda Tangan tangan
Mengurangi Pensil
kecemasan
yang dialami
pada
permulaanlatih
an
5. Diskusi Terungkap 30’ Peserta Kertas,
tinjauan berbagi spidol
peserta kelompok dan
terhadap bahas
dinamika “dinamika
kelompok kelompok
menurut saya”
6. Cerkat Tercapai 25’ Instrukur Tranpara
Dinamika pengetahuan bahas nsi
Kelompok peserta Dinamika Kertas

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 45 of 71


tentang Kelompok Flip chart
dinamika
kelompok
(pengertian,
cirri, kendala,
dan solusi)
Tersampaikan
penyelesaian
kasus kecil
menurut
peserta
7. Istirahat 10’ Peserta
makan
dan
minum
8. Game Terungkap 30’ Ada dalam Spidol, 4
pentingnya fotokopi utas
komunikasi Game berjudul tali/benan
dalam : Gambar g, botol
dinamika Berantai : teh sosro
kelompok komunikasi kertas
Terungkap Game
pentingnya Permainan
peran Botol :
pemimpin Pemimpin
dalam
dinamika
kelompok
9. Cerkat Tercapai 15’ Peserta
komunikasi kesadaran mendengarkan
dan pentingnya uraian
pemimpin unsure intsruktur
dalam komunikasi
dinamika dan pemimpin
kelompok dalam
dinamika
kelompok
10. Role Play : Tercapai 45’ Peserta Potongan
Game dinamika terlibat dalam bujursang
kelompok. game kar
(fotokopi) bolong
bujur sangkar Lembar
bolong petunjuk,
4 amplop
kertas
dan alat
tulis
11. Pembahasa Tercapai 25’ Instruktur Transpara
n : Amal pengetahuan menjelaskan nsi
Jama’i dan kesadaran amal jama’I
urgensi termasuk juga
dinamika mendengar

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 46 of 71


kelompok akti dan
dalam konteks manajemen
amal jama’I konflik (khusus
win-win
solution) (ada
fotokopinya)
12. Jurnal Tercapai 5’ Peserta Lembar
perasaan menulis jurnal jurnal
peserta
terhadap
materi
pelatihan
dinamika
kelompok

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 47 of 71


TARBIYAH FARDIYAH
Definisi dan urgensi
Tarbiyah Fardiyah adalah peran dan tugas individu dalam konteks amal islami,
dengan keharusan melakukan interaksi sosial yang bersifat personal untuk
memperoleh satu tujuan dan sasaran dengan unsur-unsur pendekatan yang baru ,
diluar kelaziman pelaksanaan Tarbiyah Jama’iyyah pada umumnya seperti halnya
dalam bentuk halaqoh. Unsur-unsur pendekatan dalam Tarbiyah Fardiyah
diusahakan agar seseorang pada awalnya tertarik dengan fikrah Islam melalui
proses Tarbiyah dan Takwin, baru setelah itu mengajaknya terlibat dan
berpartisipasi lebih jauh lagi dalam amal da’wah. Dalam hal ini diberikan kebebasan
bagi siapa saja yang hendak menjalankan misi Tarbiyah Fardiyah untuk
memanfaatkan seoptimal mungkin seluruh akses (Relasi) dan prakondisi untuk
melakuakn penetrasi fikroh dan mengupayakan kepuasan objek da’wah (Mutarabbi
Fardy) dengan fikroh-fikroh yang ditawarkan kepadanya.

Lantas sejauh mana urgensi Tarbiyah Fardiyah dalam konteks amal islami?.
Ikhwah Fillah, sesungguhnya amal Islami tidak dapat berjalan kecuali dengan satu
proses dan cara sebagaiman yang telah dilalui dan dijalankan oleh para Rosul
‘alaihimussholaatu wassalaam melalui media tarbiyah yang digerakkan untuk
menyingkap dan mengenali hakekat agama ini (Al-Islam) secara menyeluruh.
Berkata Imam Hasan Al-banna : “Sesungguhnya Manhaj Ikhwanul Muslimin terwujud
dalam pembatasan marhalah dengan kejelasan langkah-langkah nya, maka dari itu
kita tahu sebenarnya apa yang kita inginkan, dan juga kita tahu sarana yang dapat
merealisasikan keinginan – keinginan itu”.

Status hukum dan prinsip-prinsipnya


Tarbiyah fardiyah ditinjau dari kewajibannya secara hukum, dapat dipahami
dari bentuk-bentuk audiensi firman Alloh SWT yang diarahkan secara eksplisit
kepada setiap individu muslim, juga arahan nabawi yang mengarah kepada hal yang
sama, semua itu adalah Taklif ynag memperkuat keharusan adanya rasa tanggung
jawab pada setiap individu muslim untuk mengemban tugas da’wah islamiah,
sebagaimana firman alloh SWT dalam surat Fusshilat : 33, As-syura : 15, dan an-nahl
; 125.

Adapun hadits Rosululloh SAW yang dapat dijadikan landasan syar’i Tarbiyah
Fardiyah adalah hadits riwayat Muslim dari Abu Said Al-Khudry ; “Barang siapa
yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya,
jika tidak bisa dengan lisannya, jika tidak bisa dengan hatinya dan yang
demikian itu adalah selemah-lemahnya iman”. Juga dalam hadits riwaayat
Muslim lainnya : “Barang siapa yang menunjukan kepada kebaikan maka
baginya pahala sebesar pahala orang yang mengerjakannya”.

Berkaitan dengan tarbiyah fardiyah Imam Hasan Al-banna mengingatkan kita


bahwa kewajiban Tarbiyah fardiah adalah kewajiban untuk bersungguh-sungguh
dalam beramal, dengan menempuh proses “Takwin ba’da Tanbih”
(Pembentukan setelah pengarahan) dan “Ta’sis ba’da Tadris”
(Pemantapan atau pengokohan setelah pengajaran).

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 48 of 71


Minimal ada enam prinsip untuk melancarkan efisiensi dan efektifitas tarbiyah
fardiyah :

Pertama : Al-Manhaj As-salim, yaitu konsep yang benar, yang mampu mencetak
pribadi dan generasi islami, konsep yang terpadu dan menyeluruh meliputi aspek-
aspek tarbiyah fikriyah, ruhiyah dan akhlakiah.

Kedua : Al-qudwah al-hasanah, yaitu dalam hal ketaqwaan, kewaro’an dan


pengamalan ilmunya.

Ketiga : Al-bi’ah As-sholehah, ya’ni dengan menyediakan nuansa dan iklim yang
cocok untuk setiap individu, khusunya padaa masa-masa memasuki tahapan
pembentukan pertama.

Keempat : At-Tajarrud, yaitu totalitas seorang Murabbi yang mengemban misi


da’wah dalam rangka membentuk kepribadian individu muslim dan memfokuskan
hal itu.

Kelima : Tadarruj, yaitu seorang Murabbi dalam konteks Tarbiyah fardiyah


hendaknya memperhatikan tahapn-tahapan logis, seperti dengan stressing maslah-
masalah aqidah sebelum masalah Ibadah , maslah Ibadah sebelum konsep
kehidupan yang lebih luas, ringkasnya adaalah “Kulliat Qobla Juziyyat” .

Keenam : Arrifq wallin, sikap lembut dan halus adalah sarana dalam
mentarbiyah, oleh karenanya hendaklah bersabar atas segala kegagalan dan
kesalahan sampai datangnya satu masa dimana buah dari kesabaran itu akan
tampak membuahkaan hasilnya.

Sarana dan keistimewannya


Adapun sarana tarbiah fardiyah banyak macamnya yang dapat digunakan
secara bertahap sesuai dengan tahapan pendekatan Murabbi terhadap Individu
mad’unya. Dalam bentuk tatap muka misalnya (Liqo’), seorang Murabbi tarbiyah
fardiah bisa memnfaatkan pertemuan dengan membaca al-Qur’an, mengkaji hadits
atau siroh, pertemuan tersebut sedapat mungkin dicarikan waktu dan tempatnya
yang cocok, bisa juga memanfaatkan pertemuan di Halaqoh (ta’lim) Masjid, seminar
Ilmiah, atau dengan mengajaknya ke Rumah makan, dalam bentuk yang lebih
sederhana sarana Tarbiyah fardiah bisa dengan menghadiahkan sebuah buku yang
bermuatan fikroh islam, sehingga pada pertemuan berikutnya bisa didiskusikan hasil
dari bacaan buku tersebut. Semua hal tersebut di atas adalah sebagian dari sarana-
sarana tarbiyah fardiyah. Adapun selebihnya seorang murabbi dengan
kecerdasaannya dapat mengeksplorasi dan mengembangkan sarana-sarana lainnya
lebih banyak lagi.

Tarbiyah fardiyah bila dijalankan sesuai dengan manhajnya maka ia akan


menjadi sarana yang paling efektif , paling kuat pengaruhnya, dan paling terjamin
kualitasnya terhadap individu mad’u, keistimewaan Tarbiyah fardiyah terletak pada
fokus perhatian yang lebih terhadap mad’u dan kesempatan memberi pengaruh
lebih besar, sehingga menjadi besar pula tibgkat keberhasilan mengajak orang ke
jalan da’wah.

Tarbiyah fardiyah adalah salah satu gaya pendekatan (Uslub) dalam berda’wah,
akan tetapi gaya pendekatan yang satu ini tidak mungkin efektif dan membuahkan

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 49 of 71


hasil bagi kalangan juru dakwah dengan berbagai level mad’unya, karena para da’i
yang memainkan da’waahnya dengan gaya ini dituntut untuk memiliki beberapa
karakteristik khusus yang menjamin kapabilitas dirinya melalui jalan da’wah dengan
gaya pendekatan yang satu ini. Dengan kata lain tarbiyah fardiyah tidak dapat
dilakukan oleh seseorang yang hanya disebut dan dikenal sebaagai Da’i saja, tapai
harus oleeh seseorang yang telah mendaapat predikat Da’i plus yaitu Da’i
Murabbi.

Karakteristik Da’i Murabbi


Adapun beberapa karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang da’i Murabbi antara
lain adalah :

1. Al-Fahmu As-syamil al-kamil, yaitu pemahaman yang sempurna dan


menyeluruh terhadap dasar-dasar keislaman dan rambu-rambu petunjuknya,
juga terhadap apa yaang akan dida’wahkannya, karena seorang da’i Murabbi
akan mentarbiyah seseorang yang memiliki akal, perasaan dan pemahaman,
dan orang trsebut akan merefleksikan apa yang didengar dan diperhatikan
dari sang Murabbi, maka apabila seorang da’i Murabbi tidak memiliki level
pengetahuan yang memadai dan wawasan pemahaman yang menyeluruh
tentang dasar-dasar keislaman, maka hal itu akan memindahkan sebuah
kebodohan kepada Mad’u itu sendiri, yang paada gilirannya akan
menimbulkan masal;aah dam pembentukan kepribadian muslim sang mad’u
itu sendiri.
2. Waqi’ ‘Amaly, yaitu keteladanan sang Da’i Murabbi dengan amal
perbuatannya yang secara real tampak jelas padaa prilakunya, seperti
geraknya, diamnya, bicaranya, atributnya, pandangannya dan ibrohnya,
seluruh keteladanan itu adalah buah refleksi dari pengaruh keimanan dan
pemahaman dalam kehidupan sang da’i Murabbi, dalam rangka memberikan
pengaruh keteladnan yang baik (Qudwah shalihah) pada saat kemunculannya
di tengah-tengah masyarakat. Imam Hasan Al-Banna mensifati Da’i
Murabbi dengan sebutan Da’i Mujahid, lebih jelasnya beliau
menyebutkan bahwa da’i Mujahid adalah : “Sosok seorang Da’i yang
telah mempersiapkan segala sesuatunya, yang terus menerus
berfikir, besar perhatiannya dan siap siaga selalu”. Begitulah
seharusnya seorang Da’i, tercermin iman dan keyakinannya pada prilaku dan
amalnya. Berdasarkan penelitian pada perjalanan kehidupan sang Da’i ,
bahwa pengaruh mereka terhadap banyaak orang lebih banyak berasal dari
prilaku dan akhlaknya yang istiqomah di setiap keadaan. Sudah menjadi
pemahaman umum bahwa “Manthiqal Af’al aqwa min manthiqil aqwal”
( Logika amal / perbuatan lebih kuat dari logika kata-kata). Dikaataakn
pulaa oleh ulama saalafusalih : “Man lam tuhadzdzibka ru’yatuhu fa’lam
annahu ghairu Muhaadzdzab” (Barang siapa yang tidak mendiddikmu
ketika engkau melihatnya maka ketahuilah bahwa orang itu juga
tidak terdidik). Al-imam Syafi’i rahimahullohu berkata : “Man
wa’adzho akhohu bifi’lihi kaana Haadiyan” (Barang siapa yang
menasehati seudaranya dengan amal perbuatannya maka berarti ia
telah menunjukinya”. Oleh karena itu keteladanaan adalah fokus yang
sangat sensitif dan halus, karena apa yang tampak pada dirinya jauh lebih
besar pengaruhnya dari apa yang diucapkannya (Al-Mandzhor a’dzhomu
ta’tsiran minal qoul).
3. Al-khibroh binnufus, yaitu berpengalaman dalam memahami aspek
kejiwaan, karena sesungguhnya lapangan kerja seoarang da’i Murabbi tidak

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 50 of 71


lain adalah kejiwaaan, bergumul dengannya dan menjadikaannya sasaran
yang pertama dan terakhir dalam Tarbiyah, sedangkan jiwa tidak seperti gigi
sisir, akan tetapi jiwa orang berbeda satu dengan yang lainnya, ada yang
lemah, ada yang kuat, ada yang peka dan over sensitif. Ada yang lembut ,
ada yang keras dan bebal dan sebagainya. Oleh karena itu seorang murabbi
hendaknya mensikapui seseorang sesuai dengan kejiwaannya dan berhati-
hati dalam berinteraksi dengannya, maka jangan bersikap terlalu tegas dan
streng kepada orang yang jiwanya halus dan peka, melainkan harus dihadapi
dengan lemah lembut , sebaliknya orang yang jiwanya keras harus dihadapi
dengan ketegasan jika ia lalai dan menyimpang. Adalah Rosululloh SAW sosok
Murabbi pertama yang berpengalaman dalam ilmu jiwa, beliau tidak
mempergauli paara sahabtnya dengan sikap yang sama antara yang satu dan
lainnya, karena beliau sangat tahu akan tabiat manusia dan kejiwaan mereka.
Dalam hadits riwayat bukhari dari Abdulloh ibnu mas’ud RA. Beliau
bersabda : “Adalah Rosululloh SAW pernah beberapa hari lamanya
tidak memberikan nasehat dan wejangan kepada kami, karena beliau
takut kami menjadi bosan” (Al-Hadits) Berkaitan dengan Al-khibroh
binnufus, banyak contoh keteladanan dari Murabbi zaman ini, diantara
mereka adalah imam Hasan al-Banna, di mana telah terjadi dialog anatara
beliau dengan salah seorang ikhwah, Ikhwah tersebut berkata :
“sesungguyhnya ana lagi banyak muskilah dan banyak yang ingin ana adukan
kepada antum, masaalah yang ana hadapi ada yang bersifat umum dan ada
yang khusus”, maka kata Imam Al-banna : “Sudahlah jangan bebani diri
antum dengan masalah itu, serahkan urusan antum kepada Alloh”, “Tapi, ana
ingin antum tahu”, sergah Akh tersebut, “Sesungguhny ana sudah tahu” kata
Imam seraya meyakinkan Akh tersebut, “Jadi ana bahagia kaalau antum mau
tahu” balas akh tersebut. Akan tetapi belum sempat ana memulai curhat,
beliau sudah mendahauliku dengan rentetan musykilah dan keluhan yang
dialaminya sendiri, bahkan yang mengherankan apa yang diutarakannya
sama dengan apa yang ana rasakan . setelah beliau selesai berbicara, maka
ana pun berkata kepadanya : “Ya ustadz….. demi Alloh sungguh ana sangat
bahagia, dan ana tidak akan mengeluh lagi”, ana mengatakan semua itu
sambil terisak dan bercuccuran air mata”.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, sesungguhnya Tarbiyah fardiyah


merupakan seni yang hanya dapat dimainkan oleh para Da’i tertentu, dan seni yang
satu ini memiliki garis yang jelas dan batasan syar’i yang telah dirumuskan dalam
ajaran islam. Seni yang satu ini juga bukan perkara yang mudah, semudah menulis
dan mengarang sebuah buku tentang pentarbiyahan, juga semudah merumuskan
manhaj dalam khayalan, akan tetapi apalah artinya bila kemudian buku dan manhaj
tersebut hanya menjadi tinta bisu diatas kertas tergantung diatas rak, karena tidak
dirubah potensinya dalam gerak nyata yang tampak di permukaan bumi, menjadi
manusia yang menterjemahkan buku dan manhaj tersebut kedalam prilakunya,
gerak-geriknya, cita rasanya, struktur berfikir dan moralitasnya.

Nah, sekarang bagaimana kita mulai, dari mana dan kapan sasaran akhirnya,
adalah bentuk-bentuk pertanyaan yang jawabanyya ada pada sejauh mana kita
dapat merealisasikan manhaj Tarbiah Fardiyah dengan segala uslub kerjanya.

Langkah pertama yang harus dimulai dalam menjalankan misi Tarbiyah


fardiyah ini adalah menjalin hubungan dengan seseorang yang hendak diproses, dan
berusah semaksimal mungkin mengenali orang tersebut, mengenali pikirannya,

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 51 of 71


pemahamannya, persepsinya dan mencermati sela-sela kelemahannya. Dengan
begitu akan dapat dipastikan dan diketahui bentuk-bentuk pendekatan aplikatif apa
yang mungkin bisa dimplementasikan terhadap orang tersebut. Setelah mengenali
dan meyakini bahwa orang tersebut memamng maslahat untuk didakwahi, maka
mulailah sang da’i bersama orang tersebut melakukan rekreasi spritual (Rihlatul
Iman), dalam rihlah inilah sang mad’u digiring untuk melalui tiga tahap periode
perkembangan yang terbangun di atasnya nilai-nilai kepribadian islam dan atribut-
atribut keimanan, ketiga tahap priode perkembangan tersebut hendaknya secara
tertib dan runtut harus dilalui oleh sang mad’u, karena hal itu merupakan faktor
yang sangat mendasar bagi terbangunnya kepribadian islami yang menyeluruh dan
terhindarnya kesalahn fatal dalm menyampaikan pesan-pesan da’wah.

Tiga periode perkembangan


Adapun ketiga periode perkembangan tersebut adalah :

Pertama : periode pembinaan akidah, periode ini merupakan periode yang


sangat fundamental dalam membentuk kepribbadian seorang muslim, karena ia
merupakan landasan pijak bagi periode perkembangan lainnya, akidah yang
dimaksud bukanlah sekedar pengetahuan kering yang hanya membahas masalah-
masalah yang tidak bermuara pada amal, dan tidak bermanfaat bagi pertuimbuhan
ghirah islamiyah dan semangat berda’wah, akan tetapi akidah yang dimaksud
adalah sebagaaimana yang dipersepsikan oleh as-syahid Sayyid Qutub
Rohimahulloh diman beliau berkata : “Seyogyanya periode pembinaan
akidah melewati masa yang panjang, sehingga langkah-langkah
pembinaan secara perlahan dapat mendekati kesempurnaan, dengan
kedalaman dan kemantapannya, sebaliknya seyogyanya periode ini jangan
hanya sekedar menjadi pelajaran teoritis, akan tetapi periode ini secara
prioritas harus dipahami sebgai periode menterjemahkan akidah dalam
gambaran kehidupan nyata dengan segala kualitas perasaan dan amal
perbautan yang tercermin dalam bangunan kehidupan berjamaah dengan
gerakan kolektifnya. Adalah sebuah kesalahan fatal bila akidah hanya
menjadi kerangka teori yang hanya sekedar dijadikan sebagai konsumsi
pelajaran intelektual”.

Kedua : Periode aplikasi, setelah akidah tertanam kuat pada diri sang mad’u, dan
ia meraasakan hubungan dan ketergantungan yang kuat kepada Alloh SWT, maka
berikutnya adalah periode aplikasi , yaitu pantulan tabiat dari keyakinannya dalam
prilaku, gerak-gerik, akhlak dan ubudiahnya, maka bila periode ini dapat dilewati
dengan baik berart telah terjadi keselarasan “ bainal madzhhar wal jauhar”
antara esensi dan substansi, antar kulit dan isi , antara teori dan praktek, antara
konsep dan realita dan antara ilmu dan amal. Oleh karena tuntutan dan target
periode ini adalah menggiring seseorang untuk membentuk dirinya sehingga terjadi
kesesuian anatara apa yang diyakinaninya (akidahnya) dengan amalan syar’i yang
lekat secara menyeluruh pada dirinya dan muncul dari refleksi akidahnya.

Ketiga : Periode pemetaan amal islami, setelaah akidah sang mad’u kuat dan
amaliah syar’inya bagus, maka berarti ia telah menunjukan kesiapannya untuk
dipetakan atau ditempatkan dalam proyek amal islami (amal da’wah) dibawah
naungan jamaah dan da’wah, dan dijelaskan kepadanya dalil-dali syar’i yang
mengarahkan kewajiban bekerja di bawah naungan jamaah dan tidak menghindar
dari padanya walau hanya sejengkal. Kesimpulannya bahwa tarbiah fardiah dimulai
dengan tarbiyah islamiyah dan diikat kemudian dengan aml jama’i.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 52 of 71


Kaidah Asasiyah
Terakhir, yang menjadi catatan penting dalam mentarbiyah adalah kaidah-kaidah
asasiyah yang harus di perhatikan oleh sang Murabbi, dan menerapkan kaidah-
kaidah tersebut disela-sela aktifitasnya dalam menjalankan tarbiyah fardiyah.
Kaidah-kaidah tersebut di antaranya adalah :

1. Ar-Rifq, yaitu kelemahlembutan, sebagaimana firman alloh SWT dalam surat


al-Imran : 159, kelemah lembutan adalah asas dalam bermuamalah, seoarang
da’i tidak dapat mengambil hati mad’unya, kecuali bila ia mempergaulinya
dengan penuh lemah lembut sehingga menjadi mudah untuk menguasai hatinya.
2. Al-Ibti’adu anidzdzammi wattaa’aatubi, yaitu menjauhkan sikap agresif yang
cenderung mencela dan mendiskriditkan, karena sesungguhnya da’wah tidak
dibangun di atas celaan dan cemoohan, melainkan dengan Tanashuh (menjaga)
dan Taghafur (mema’afkan) serta Al-Irsyad bil husna (membimbing dengan
cara – cara yang baik. Sebagaiman Ibnussamak seorang Ulama yang zuhud –
Rahimahulloh- ketika seseorang berkata kepaadanya : “Kita bertemu lagi besok
dalam rangka saling mencela”, lalau jawab Ibnu samak : “Bal baini wa bainaka
ghodan nataghafar” (Tidak, akan tetapi kita bertemu besok untuk saling
memaafkan).
3. At-tarbiyah Tamhid wattasywiq, Tarbiah itu harus dijalankan dengan
perlahan bukan dengan paksaan, dengan memunculkan kesenangan bukan
ketakutan, hal ini tentu saja membutuhkan kesabaran, karena untuk dapat
menikmati buahnya kadang harus menunggu masa panen yang butuh waktu
lama.
4. At-Tasyji’, yaitu motivasi sang da’i Murabbi terhadap mad’unya, berupa
“reward”, apresiasi dan penghargaan, untuk menambah semangat dan
mendorongnya untuk beramal, sebagaiman yang telah dilakukan oleh Rosululloh
kepada sahabat Suhaib bin sinan ar-rumy, yang hijrah ke Madinah dengan
meninggalkan seluruh hartanya setelah diambil seluruhnya oleh orang-orang
musyrikin, dan dia hanya bisa menyelamatkan agamanya, Rosululloh
menyambut kedatangannya seraya berkata : “Rabiha Suhaib” (beruntunglah
Suhaib).
Waallohu A’lamu bisshawab.
Makalah ini disadur dari Kitab “Mamarratul haq”, Juz a dan ba, lissyaikh Ra’id Abdul
hady.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 53 of 71


STUDI SINGKAT
SOSOK MURABBI TELADAN

Pernahkah anda mengalami suatu saat ketika anda membuka mushaf dan anda
mulai membaca al-qur’an kemudian anak-anak anda datang mendekati anda sambil
membawa buku Iqra’nya lalu mereka melakukan hal yang sama seperti apa yang
tengah anda lakukan?, Pernahkah anda mendapatkan Mutarabbi anda mengerjakan
shaum sunnah padahal anda secara eksplisit tidah pernah menyuruhnya ataau
menginstruksikannya ?, hal tersebut dilakukan oleh Mutarabbi anda hanya karena ia
mendapatkan anda juga melakukan shaum sunnah pada hari-hari sebelumnya.
Pernahkah anda mengalami khadimat anda perlahan-lahan menyesuaikan diri dan
penampilannya di tengah-tengah keluarga anda, mulai terbiaasa mengenakan gaun
panjang, memakai kerudung walau pada awalnya cuma nempel di atas kepala, tapi
toh lama kelamaan ia menjadi terbiasa berjilbab baik ketika ia bekerja di dalam
rumah apalagi di luar rumah?, padahal isteri anda belum pernah berkata kepadanya
bahwa memakai jilbab itu wajib, apalagi memperdengarkannya ayat al-Qur’an yang
berkenaan dengan kewajiban menutup aurat baik dalam surat An-nur maupun Al-
ahzab.

Itulah buah dari keteladanan, ketealadaanan adalah cara berda’wah yang


paling hemat karena tidak menguras enerji dengan mengobral kata-kata, bahkan
bahasa keteladanaan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan,
sebagaimaana adagium mengaatakan : “Lisaanul hal afshohu min lisaaanil
maqaaal”, bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Dalam ungkapan lain
keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengikuti secara alamiah
sesuai dengan keaadaan tonggak tersebut, lurusnya, bengkoknya, miringnya ,
tegaknya dan lain sebagainya, sebagaimana pepatah mengataakan : “Kaifa
yastaqqimudzdzhillu wal ‘uudu a’waj”, bagaaimana bayangan akan lurus bila
tonggaknya bengkok.

Oleh karena itu penting bagi kita para Murabiyyin untuk berusaha semaksimal
mungkin menjadi figur murabbi teladan, agar keteladanaan kita memberikan
keberkahan bagi perkembangan da’wah dan peningkatan kwalitas maupun
kwantitas para Mutarabbi yang kita bina . Untuk memudahkan kita mencontoh hal-
hal yaang baik yang sepatutnya disikapi oleh seoarang figur Murabbi, maka melalui
makalah ini kita akan berinteraksi dengan beeberapa tokoh yang tercatat sebagai
figur murabbi teladan dalam sejarah, dengan menampilkan “Suratun
Hayawiyyah” atau gambaran kehidupan mereka khusunya dalam melakukan
aktifitas pentarbiyahan.

Secara runtut sesuai dengan urutan zamannya , kita akan mulai membahas
keteladanan figur murabbi dari “Murabbi hadzihil ummah”, yaitu Rosululloh SAW,
kemudian kita telusuri keteladanan figur murabbi para Sahaabatnya, para tabi’in
,ualam salaafusslaih hingga para Masayikh da’wah di zaman kita sekarang ini.
“Aina nahnu minhum”, kita sungguh tidak ada apa-apanya dibanding mereka
bahkan rasanya mustahil bisa sama dengan mereka, itulah satu perasaan yang akan
terlintas pada benak kita ketika kita mengetahui keteladaanaan mereeka sebagai
murabbi, akan tetapi kita dinasehati oleh satu pepatah : “Tasyabbahu in lam
takuunuu mislahum, Innattasyabbuha bil kiraami falaahun”, Teladanilah

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 54 of 71


meski tidak sama persis dengan mereka, sesungguhnya meneladanani oranorang
mulia adalah satu keberuntungan.

Keteladanan Rosululloh SAW


Sebagai Murobbi Rosululloh SAW selalu melakukan pendekatan komunikasi
sebagaimana yang telah direkomendasikan di dalam Al-Qur’an, bentuk-bentuk
komunikasi yang digunakan diantaranya adalah : “Qoulan Layyinan” ( 20 : 44 ),
“Qoulan Maysuran” ( 17 : 28 ), “Qoulan Ma’rufan” ( 32 : 32 ), “Qoulan
Balighan” ( 4 : 63 ), “Qoulan sadidan” ( 4 : 9 ), dan “Qoulan kariman”
( 33 : 31 ).

Sebagai Murabbi Rosululloh SAW, tidak pernah memojokkan mutarabbi dengan


kata-kata , apalagi hal itu dilakukan di hadapan orang lain, sebagaimana
diriwayatkan oleh Abi Humaid Abdirrahman bin Sa’ad As-Sa’idy RA, Ia berkata :
“Nabi SAW telah mengutus seseorang yang bernama Ibnu Lutbiyyah sebagai amil
zakat, setelah selesai dari tugasnya lalu ia menghadap Rosululloh SAW seraya
berkata : “ini hasil dari tugas saya , saya serahkan kepada mu, dan yang ini hadiah
pemberian orang untuk saya”, lalu Rosululloh SAW segera naik ke atas mimbar,
setelah menyampaikan puja dan puji kehadirat Alloh SWT beliau berkhutbah seraya
berkata : “Sesungguhnya aku megutus seseorang di antaara kalian sebagai amil
zakat sebagaimaana yang telah diperintahkan oleh Alloh SWT kepadaku, lalu ia
datang dan berkata : “ini untuk engkau dan yang hadiah untukku, jika orang itu
benar , mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapak atau Ibunya sehingga hadiah
tersebut datang kepadanya, demi Alloh tidaklah mengambil seseorang sesuatu yang
bukan haknya melainkan kelak dia bertemu dengan Alloh SWT membawa barang
yang bukan menjadi haknya “, lalu Rosululloh SAW mengangkat keduabelah
tangannya hingga tampak ketiaknya, seraya berkata : “Ya Alloh, telah aku
sampaikan” 3 x ( HR. Bukhari – Muslim )

Rosululloh juga tidak pernah menjaga jarak dengan mutarabbinya, sehingga


tidak terjadi kesenjangan psikologis antara mutarabbi dengan murabbi, hal ini dapat
dilihat dari gambaran dialog lepas antara Jabir bin Abdillah dengan beliau
sebagaimana yang telah diriwayatkaan sendiri olehnya : “Aku pernah keluar
bersama rosululloh SAW pada peperangan Dzatirriqo’, aku mengendarai seekor onta
yang lamban jalannya, sehingga aku tertinggal jauh dari rosululloh SAW, kemudian
Rosululloh SAW menemuiku seraya berkata : “ Kenapa engkau hai, Jabir “ “Ontaku
Ya Rosulalloh…,jalannya lamban sekali” balasku. Kemudian Rosulluooh berkata lagi :
“Berikan kepadaku tongkat yang ada di tanganmu atau berikan aku sepotong
kayu”, lalu aku berikan kepadanya dan beliaupun memukulkan kayu tersebut secara
perlahan ke onta saya, lalu beliau menyuruhku menaiki onta itu, demi Alloh tiba-tiba
ontaku berjalan dengan sangat cepat”. Kemudian obrolan berlanjut , Rosululloh
SAW bertanya kepadaku : “Hai Jabir, apakah engkau sudah kawin?”, “sudah ya
rosulalloh” jawabku, “dengan janda atau gadis”?, tanya beliau lagi, “dengan janda
ya Rosul” tegasku, “Kenapa tidak dengan gadis saja sehingga engkau dapat
“bersenang-senang dengannya” dan ia dapat “bersenag-senag denganmu”?, balas
Rosululloh SAW dengan nada bertanya, lalu aku menjelaskan : “Ya Rasululloh
sesungguhnya ayahku meninggal pada perang Uhud, dan meninggalkanku saudara
perempuan sebanyak tujuh orang, maka dari itu aku menikahi seorang wanita yang
sekaligus dapat meenjadi pengasuh dan pembimbing mereka”. Kemudian Rosululloh
berkata : “Engkau benar insya Alloh”.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 55 of 71


Keteladanaan Para Sahabat RA
Diantara para sahabaat yang paling menonjol keteladanannya adalah Abu
bakar as-Shiddiq RA, bukan hanya karena ia adalah satu-satunya sahabat yang
mendapat gelar as-sihiddiq, dan juga bukan hanya karena satu-satunya sahabat
yang menemani Rosululloh SAW dalam perjalanaan hijrah ke Madinah, akan tetapi
lebih dari itu karena Abu Bakar layak disebut sebagai “Murabbi hadzihil Ummah”
sepeninggalnya Rosululloh SAW , beliaulah yang memandu akidah dan fikrah para
sahabat yang lainnya ketika mereka masih belum legowo menerima berita wafatnya
Rosululloh SAW termasuk Umar bin khattab RA. Pada saat itulah Abu bakar
memberikan taujih tarbawy dengan membacakan firman Alloh SWT, dalam surat Ali
Imron : 144, seraya menambahkan penjalasan dengan kata – kata hikmahnya :
“Man kaana ya’budu muhamma dan fainna muhammad qod maata, wa man
kaana ya’budulloha fainnallaha hayyun laa yamuutu” (Barang siapa yang
menyembah Muhammad seseungguhnya Muhammad telah tiada, tetapi Barang
siapa yang menyembah Alloh SWT sesungguhnya Alloh Hidup dan tidak akan mati).
Itulah keteladanan abu Bakar dalan menyemai benih-benih tarbiyah, khusunya
Tarbiyah Aqidiyah.

Ketika dua pertiga Jazirah Arab ditimpa oleh gerakan pemurtadan (Harakatul
Irtidad), dalam bentuk pembangkangan tidak mau membayar kewajiban zakat,
maka lagi-lagi Abu bakar RA tampil sebagai pelopor Murabbi dalam hal ketegaasan
Amar Ma’ruf Nahi Munkar untuk memerangi mereka, banyak para sahabat termasuk
umar bin Khattab RA masih beranggapan bahwa bukan itu jalan keluar untuk
menghentikan gelombang kemurtadan, maka Abu bakar langsung memberikan
pelajaran kepada para sahabat khusunya umar bil khattab RA seraya berkata : “
Hatta anta ya, Umar ajabbaarun fil Jahiliyah Khawwarun fil Islam ?,
Wallaahi laa Yanqushuddinu wa anaa Hayyun, Lau mana’uuni ‘Uqqoolu
ba’iirin yuadduunahi ila Rosuulillah lahaarobtuhu hatta tansalifa saalifaty”
( sampai engaku juga Ya Umar, apakaah engkau hanya tampak perkasa pada masa
jahiliyah kemudian jadi ragu pada masa islam ?, Demi Alloh tidak akan berkurang
agama ini (Islam) sedikitpun selama akau masih hidup, Walaupun mereka tidak
memberikan hanya seutas tali unta yang harus diberikan kepada Rasululloh, maka
tetap akan ku pernagi mereka sampaai urat leherku terputus”).

Bahkan keteladan Abu bakar sebagai Murabbi bukan hanya dengan kata-kata
tetapi juga langsung dibarengi dengan sikap dan tindakan kongkrit, agar menjadi
contoh bagi para sahabat yang lain, sebagaiman terjadi pada saat sebagian besar
para sahabat (Kibaarusshahabah) keberataan dengan diangkatnya Usamah Bin Zaid,
padahal hal itu telah menjadi ketetapan komando Rosululloh SAW sebelum
wafatnya, dan abu bakar berazam untuk tidak membatalkan apa yang telah
ditetapkan Rosululloh SAW, seraya mengiringi pelepasan ekspedisi Usamah dengan
meenuntun kudanya saampai perbatasan, sejak awal Usamah merasa tidak enak
karena Abu Bakar berjalan kaki sementara Ia berada diatas kudanya, lalu usamah
menawarkaan agar ia turun Abu Bakar saja yang naik kuda, lalu abu bakar berkata :
“Wallohi maa rokibtu wa maa nazalta, wa maa lialaa ughabbira qadami fi
sabilillaah” ( Demi Alloh, aku tidak mau naik dan engkau juga tidaak perlu turun,
biarkanlah kakiku bersimbah debu di jan Alloh )

Keteladanan Ulama Salafusshalih


Salah satu di antara mereka adalah Atho bin abi Rabaah Rahimahulloh, yang
memimpin halaaqah besar di masjidil haram, dimana Sulaiman bin abdil malik yang
menjadi Khalifah pada saat itu juga sering menghadiri halaqohnya, Athu bin abi

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 56 of 71


Rabah adalah seorang habsyi (Negro) yang pernah menjadi budak dari salah
seorang wanita penduduk kota mekkah, lalu ia dimerdekakan karena kepandaiannya
dalam mendalami ajaran islam.

Keteladanan Atho bin Abi Rabah sebagai Murabbi adalah kelembutannya dan
ketajaaman nasehatnya serta pandangan dan perhatianya yang penuh kasih
sayang, sebagaimana yang dikisahkan oleh Muhammad bin suqoh Salah seorang
Ulama Kufah , bahwa suatu ketika Atho bin abi rabah menasehatinya : “Wahai anak
saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum kita tidak menyukai pembicaraan
yang berlebihan”, “lalu apa batasannnya pembicaran yang berlebihan”? tanyaku,
beliau melanjutkan nasehatnya seraya beerkata : “Mereka mengkategorikan
pembicaraan berlebih, bila dilaakukan selain dari Al-qur’an yang dibaca dan
difahami, atau hadits Rosululloh yang diriwayatkan, atau berkenaan dengan amar
ma’ruf nahi munkar, atau pembicaraan tentang satu hajat, kepentingan dan
persoalan maisyah”, kemudian beliau mengarahkan paandangannya kepada ku
seraya berkata : “Atunkruuna (Inna ‘alaikum laahaafidzhiin, kirooman
kaatibiin) (Al-infithar : 10 – 11), wa anna m’a kullin (‘minkum malakaini Anil
yamiini wa ‘anisshimaali Qa’iid, maa yalfidzhu min qaulin illaa laadaaihi
raqiibun ‘atiid) ( Qaf : 17 – 18), Amaa yatahyii aahaduna lau nusyirat alaihi
shahiifatuhullatii amlaa’aahaa shdra naahaarihi, faawaajada aktsara maa fiihaa
laaisa min amri diinihi walaa amri dunyaahu”.

Kapabilitas takwiniyah Atha bin Abi rabah dalam mentarbiyah bukan hanya
kepada kalangan pembesar dan terpelajar tapi sampai seorang tukang cukur,
sebagaimana dikisahkan oleh Imam Abu hanifah : “Aku melakukan kesalahan dalam
lima hal tentang manasik haji, lalu aku diajarkan oleh seorang tukang cukur, yaitu
ketika aku ingin selesai dari ihram, aku mendatangi salah seorang tukang cukur, lalu
aku berkata kepadaanya :”berapa harganya”?, “semoga Alloh menunjukimu, ibadah
tidak mensaratkan soal harga, duduk sajalah dulu, soal harga gampang” jawab
tukang cukur, waktu itu aku duduk tidak menghadap kiblat, lantas ia mengarahkan
duduku hingga menghadap kiblat, kemudian menunjukan bagian kiri kepalaku, lalu
ia memutarnya sehingga mulai mencukur kepalaku dari sebelah kanan, ketika aku
dicukur ia melihaatku diam saja, lalu ia menegurku : “Kenapa koq diam saja, ayo
perbanyaklah takbir”, maka akupun bertakbir, setelah selesai aku hendak langsung
pergi, lalu ia berkata : “mau kemana kamu”?, “aku mau ke kendaraanku” jawabku,
tukang cukur itu mencegahku seraya berkata : “Shalat dulu dua rakaat, baru kau
boleh pergi kemana kau suka” , Aku berkata dalam hati, tidak mungkin tukang
cukur bisa seperti ini kalu bukan dia orang alim, lalu aku berkata kepadanya :
“Darimana engkau dapati mengenai bebrapa manasik yang kau perintahkan
kepadaku’?, Demi alloh aku melihat Atha bin abi rabah mempratekan hal itu, lalu
aku mengikutinya, dan aku arahkan orang banyak untuk belajar kepadanya”, jawab
tukang cukur alim tersebut.

Di antara kebiasaan baik ulama salafusshalih dan keteladanan mereka dalam


mentarbiyah adalah ketika memberikan materi mereka tidak terkesan bersikap
santai atau memberikannya sambil duduk bersandar misalnya, akan tetapi mereka
menunjukan sikap yang sigap dan penuh semangat, sebagaimana telah menjadi
sikap umum di kalangan mereka ketika menyampaikan materi, hal itu terungkap
dari pernyataan salah seorang diantara mereka : “Laa yanbaghi lanaa idzaa
dzukira fiinasshalihuna jalasnaa wa nahnu mustaniduuna” ( Tidaklah pantas
bagi kita ketika disebutkan di tengah-tengah kita orang-orang yang shaleh, lalu kita
duduk sambil bersandar ).

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 57 of 71


Adalah Said ibnul Musayyib rahimahulloh, juga seoarang murabbi yang
keteladanannya patut dicontoh oleh para Murabbiyyiin, beliau memimpin halaqoh
yang cukup besar di Masjid nabawi, di samping beliau juga terdapat halaqohnya
‘Urwah bin Zubair, dan abdulloh bin ‘Utbah rahimahumalloh, Said ibnul Musayyib
mempunyai seorang mutarabbi, namanya Abu Wada’ah, suatu ketika Abu Wada’ah
beberapa kali tidak datang halaqoh, tentu saja Said bin Musayyib merasa kehilangan
mutarabbinya yang sudah mustawa qowy ini, beliau kahawatir kalau-kalau
ketidakhadirannya lantaran sakit atau ada masalah yang menimpanya, lalu beliau
juga bertanya kepada ikhwah yang lainnya juga tidak ada yang tahu, akan tetapi
bebrapa hari kemudian tiba-tiba Abu Wada’ah, datang kembali sebagaimana biasa,
maka sang Murabbi teladan said bin Musayyib segera menyambut kedatangannya
dengan sapaan yang penuh perhatian seraya berkata : “kemana saja engkau ya,
aba wada’ah”?, “Isteriku meninggal dunia, sehingga aku sibuk mengurusinya” jawab
Abu wada’ah. “Mengapa tidak beritahu kami sehingga kami bisa menemanimu dan
mengantarkan jenazah issterimu serta membantu segala keperluanmu” tanya Said
kembali. “Jazaakallahu kahairan” jawab abu wada’ah yang terkesan memang
sengaja tidak memberi tahu karena khwatir merepotkan murabbynya.

Tidak lama kemudian Said bin Musayyib menghampiri Abu Wada’ah dan
membisikinya seraya berkata : “Apakah engkau belum terpikir untu mencari isteri
yang baru ya Aba Wada’ah”, “Yarhamukalloh, siapa orangnya yaang mau
mengawini anak perempunnya dengan pemuda macamku yang sejak kecil yatim,
fakir dan hingga sekarang ini aku hanya memiliki dua sampai tiga dirham” tandas
Abu Wada’ah yang tampaknya ingin bersikap waqi’ terhadap keadaan dirinya, “aku
yang akan mengawinimu dengan anak perempuanku” tegas said, seraya terbata-
bata Abu Wada’ah berucap : “ Eng,…engkau akan mengawiniku dengan anak
perempuanmu, padahal engkau tahu sendiri bagaimana keadaanku”, “Ya,…kenapa
tidak, karena kami jika seudah kedataangan seseorang yang kami ridho terhadap
agamanya dan akhlaknya maka kami kawinkan orang iyu, dan engkau termasuk
orang yang kami ridhoi” jawab Said meyakinkan mutarabbinya. Lalu dipanggilnyalah
ikhwah yang ada di halaqah tersebut untuk menyaksikan akad nikahnya dengan
mahar sebanyak dua dirham, Abu Wada’ah benar-benar terkejut tak tahu harus
berkata apa, antara kaget daan girang, ia pulang menuju rumahnya sampai-sampai
ia lupa kalau hari itu ia sedang shaum, karena di tengah perjalaanan ia terus berfikir
darimana ia akan menafkahkan isterinya, atau berhutang dengan siapa?, tak terasa
ia sudah sampai di rumah dan adzan maghribpun tiba, lalu ia berbuka dengan
sepotong roti, baru saja menikmati rotinya, tiba-tiba ada suara yang mengetuk
pintu, “siapa yang mengetuk pintu”, tanyanya dari dalam rumah, “Said” jawab suara
di balik pintu yang sepertinya ia mengenalinya, setelah dibukanya tiba-tiba sang
murabbi sudah ada di hadapannya, Abu Wada’ah mengira telah terjadi “sesuatu”
dengan pernikahannya, lalu ia langsung menyapa sang Murabbi seraya berkata :
“Ya, aba Muhammad mengapa tidak kau untus sesorang memanggilku sehingga aku
yang datang menemuimu”, “Tidak, engkau lebih berhak aku datangi hari ini”,
setelah dipersilahkan masuk Said langsung mengutarakan maksud kedatangannya
seraya berkata : “Sesungguhnya anak perempuanku telah sah menjadi isterimu
sesuai dengan sari’at alloh SWT sejak tadi pagi, dan aku tahu tidak ada seorangpun
yang menemanimu, menghiburmu dan melipu kesedihanmu, maka aku tidak ingin
engaku bermalam pada hari ini disuatu tempat sedang isterimu masih berada di
tempat lain, maka sekarang aku datang dengan anak perempuanku ke rumahmu” ,
lalu said menoleh kee arah puterinya seraya berkata : “masuklah engkau ke rumah
suamimu wahai puteriku, dengan menyebut asma Alloh dan memohon

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 58 of 71


barokahNYA”, masuklah anak perempuan said , dan ketika melangkahkan kakinya
nyaris keserimpet (terinjak gaunnya) hampir jatuh hampir terpeleset karana saking
malunya, “sedang aku juga cuma berdiri di hadapanya kaget campur bingung tak
tahu harus berkata apa” kata Abu Wada’ah mengenang kejadian itu, tapi kemudian
ia cepat-cepat mendahului isterinya ke dalam ruangan, lalu ia jauhkan cahaya
lampu dari sepotong roti yang memang tinggal segitu-gitunya supaya tidak terlihat
oleh isterinya. Baru setelah itu ia keluar rumah untuk mamanggil ibunya untuk
menemui menantu barunya.

Itulah keteladanan Said bin Musayyib yang menolak pinangan Abdul malik bin
Marwan Khalifah bani uamayyah yang ingin meminang putrinya, malah beliau
segara meengawinkan putrinya dengan Abu Wada’ah mutarabbinya yang sederhana
dan tidak diragukan lagi kualitas tarbiyahnya.

Subhanalloh,… ada ‘ngga ya, Murabbi seperti Said bin Musayyib rahimahulloh di
zaman sekarang ini?, kalau ada alhamdulillah, kalau belum ada mudah-mudahaan
selepas dauroh murabbi ini ada yaang berusaha meneladaninya. Amin Ya robbal
alamin.

Lain lagi kisahnya dengan Imam abu hanifah, atau dikenal dengan nama
Nu’man bin Tsabit rahimahulloh, beliau seorang murabbi yang wajahnya selalu enak
dipandang, berseri-seri, dalam penegtahuannya, manis tuturkatanya, rapih
penampilannya, dan selalu memakai wangi-wangian, jika beliau datang ke
majlisnya, maka semua orang yang ada disitu sudah mengetahuinya sebelum
mereka melihatnya lantaran semerbak wewangian yang dipakainya.

Di samping cerdas, alim, faqih, beliau juga dikenal sebagai Murabbi yang
dermawan, karena beliau juga dikenal sebagaai seoarang saudagar, tepatnya
sebagai pedagang pakaian, kain dan sutera, beliau berkeliling dari kota satu ke kota
lainnya di wilayah irak.

Suatu ketika salah seorang muridnya datang ketempat jualannya, ia minta


dicarikan baju, lalu beliau mencarinya, sesuai dengan warna yang dimintanya lalu
diberikan kepadanya, “berapa harganya ?”, tanya sang murid, “sedirham” jawab
Imam, “satu dirham” tegas sang murid lagi penasaran dan campur heran kok murah
banget, “ya, segitu”, tegasnya lagi, “yang bener nih…” kata muridnya lagi, “Aku
tidak main-main, aku beli baju ini dan yang serupa lagi dengannya seharga dua
puluh dinar emas dan satu dirham perak, yang satu aku sudah aku jual, sedang
yang siasanya ini aku jual kepadamu dengan harga sedirham, aku memang tidak
mau mangambil untung terhadap murid-muridku”.

Suatu ketika Imam abu hanifah melahat salah seorang mutarabbinya


berpakaian lusuh sehingga terkesan tidak enak dipandang, setelah yang lainnya
keluar dari majlis, sehingga tidak ada seorangpun di dalam majlis itu selain Imam
abu hanifah dengan mutarabbinya tersebut, lalu beliau berkata kepadanya,
“angkatlah sajadah ini lalu ambil sesuatu yang ada di bawahnya”, setelah
diambilnya ternyata uang sebanyak seribu dirham, “ambilah uang itu dan
perbaikilah penampilanmu’ tegas imam abu Hanifah, lalu kata orang itu : “Aku
sudah cukup, Alloh telah melimpahkan nikmatnya kepadaku, aku tidak
membutuhkan uang ini”. Dengan cerdasnya imam abu hanifah menyanggah
omongan mutarabbinya itu : “Jika memang benar-benar telah melimpahkan
ni’matnya kepadamu, lalu mana bukti kenikmatanNYA itu, bukankah rosululloh SAW

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 59 of 71


bersabda : “Innalloha yuhibbu an yaraa aaatsara ni’matihi ‘ala ‘abdihi”
(sesungguhnya alloh SWT senang melihat bukti keni;matannya pada hambanya),
karena itu sudah sepantasnya engkaumemperbaiki keadaanmu agar engkau tidak
membuat sedih saudaramu”.

Itulah beberapa keteladan Ulama Salafussalih dalm mentarbiyah para


mutarabbinya, Wallohu ‘alamu bisshawaab.

Keteladanan Masyaikh Da’wah kita


Imam As-syahid Hasan al-Banna, figur murabbi yang satu ini sudah barang
tentu tidak asing bagi kita, juga bagi seluruh aktifis da’wah dan harakah islamiyah di
mana saja berada. Adalah pantas bila beliau merupakan salah seorang sosok figur
murabbi teladan abad.

Keteladanan Imam Hasan al-banna dapat disimpulkan dari pendekatan


da’wahnya ke berbagai lapisan masyarakat, prinsip-prinsip pendekatan da’wah yang
diisyaratkan dalam hadits Rosululloh SAW seperti : “khoothibinnaasa ‘alaa qodri
‘uqulihim”, “khotibinnaasa ‘ala lughati qaumihim” (Ajaklah berbicara kaummu
sesuai dengan kemampuan akal mereka, ajaklah berbicara kaummu sesuai dengan
gaya bahaasa mereka). Tampak sekali hal ini dilakukan oleh beliau dalam menyemai
benih-benih tarbiyah di tengah-tengah masyarakatnya.

Ketika beliau menetap di Ismailiyah, yang terkenal sebagai kota pelabuhan, di


mana banyak buruh-buruh pelabuhan menghabiskan waktu malamnya dengan
nongkrong di kedai-kedai kopi, dari sinilah beliau memulai da’wahnya, beliau
mengadakan pendekatan yang sangat hati-hati dan perlahan, beliau menyampaikan
hal-hal yang bersifat umum seperti ingat kepada Alloh dan hari akherat, tidak
konfrontatif, penyampaian da’wah dikemas dengan sederhana, diselingi dengan
bahasa ‘amiyah (pasaran), diselingi dengan cerita dan ilustrasi, dan lamanya hanya
sepuluh menit atau paling laama seperempat jam.

Al-Ustadz umar Tilmitsani Allohu yarham, menceritakan tentang sosok Hasan al-
banna sebagai Murabbi, bahwa halaqoh beliau yang kemudian dikenal dengan
“kuliah selasa” sangatlah sederhana, seluruh mutarabbinya duduk di atas tikar
putih, dan mereka disuguhi teh dalam dua teko kecil, ini bukan karena beliau kikir,
karena memang hanyalah itulah yang dapat beliau sediakan.

Imam Syahid sangat lembut , suka bergaul dan mudah dekat dengan orang
lain. Beliau tidak pernah cemberut atau berpaling saat berbicara atau diajak bicara,
sikap santun selalu menyertai pergaulannya baik dengan orang dewasa maupun
anak kecil, bahkan beliau pernah memberikan ceramah di depan anak-anak sekolah
dasar Mahmudiyah yang terletak di daerah Abbasiah, beliau berdiri di tengah-
tengah mereka dan berbicara dengan mereka, seolah-olah belaiu bagian dari
mereka. Beliau berbicara dan menggunakan bahasa yang dimengerti anak kecil.
Ketika selesai beliau “dikeroyok” oleh anak-anak kecil tersebut seraya
bergelantungan di tubuh beliau, seolah – olah tidak ingin berpisah dengannya. Ini
adalah buah dari bahas lembut dan akhlak luhur yang tidak merasa risih dengan
gurauan dan celotehan anak-anak kecil.

Allohu Yarhamuhu, Al-Ustadz hasan al-Hudhaibi, juga mempunyai keteladanan


dalam hal mentarbiyah, diantaranya adalah kata-kata hikmahnya seperti “Nahnu
Dhu’at laa Qudhot” (kami mengajak bukan memvonis), “Aqimiddaulata fii

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 60 of 71


daarika taqum fii ardhika” (Tegakkanlah daulah di dalam rumahmu maka
kelak akan tegak di negrimu). Selain itu apabila ada anggota Ikhwan yang
bertengkar di hadapannya, beliau selalu mengucapkan perkataannya yang terkenal
: “Apabila kalian berdua tidak sanggup memperbaiki hubungan yang ada di antara
kalian, lalu bagaimana kalian bisa memperbaiki perselisihan yang terjadi pada orang
lain”?. Dan di antara do’a yang paling sering meluncur dari mulut beliau adalah :
“Ya Alloh pilihlah diriku menjadi hamba yang selalu taat kepadaMU”

Sebagai seoarang Murabbi, Imam As-Syahid Hasan Al-Banna bukanlah tipe


orang yang kaku dan pelit senyum, sebagaimana diceritakan oleh Syekh umar
Tilmitsani, bahwa suatu ketika ia diundang untuk makaan siang di kantor pusat.
Sambil bercanda beliau berkata, “Hari ini kami jadi tukang masak, ayo makan siang
bersama kami”. Di lain waktu ia diajak oleh Imam as-Syahid menghadiri sebuah
acara, ketika makanan dihidangkan, ia melihat yang terhidang hanya telur goreng
dan keju yang kelihatannya sudah kadaluarsa, lalu ia membisiki beliau seraya
berkata : “Apaka anda mengajak saya ke tempat ini uuntuk membuat saya lapar”?.
Sambil tersenyum beliau menjawab : “Diamlah, Semoga Alloh melindungimu”. Lalu
beliau memanggil seorang akh, tak lama kemudian akh tersebut datang kembali
dengan membawa daging goreng dan buah anggur. Sunguh beliau tidak
memperlihatkan wajah yang tidak menyenangkan, meskipun Ustadz Umar tilmitsani
sedikit membuatnya repot.

Sebagai seorang Murabbi Imam As-Syahid tidak hanya bersikap baik kepada
kalangan ikhwah saja. Dalam suatu perjalanan beliau dengan sopirnya seorang al-
akh, menjumpai sebuah kendaraan yang mogok, beliau menyruh sopirnya berhenti,
lalu ia langsung turun dari mobilnya dan menanyakan apa yang dibutuhkan oleh
laki-laki pemilik mobil tersebut, ternyata orang itu kehabisan bensin. Saat itu mobil
belum ada klaksonnya yang ada hanya terompet terbuat dari logam yang
diujungnya ada gelembungan karet, nah dengan gelembungan kare itulah beliau
menuangkan bensin dari mobilnya dan beliau sendiri yang mengisinya ke dalam
tangki mobil tersebut, dan haal itu dilekuakn berkali-kali, beliaun lakuak senua itu
tanpa harus bertanya siapa, apa dar mmana dan agamanya apa kepada orang yang
ditolongnya tersebut. Orang yang ditolongnya itu kemusdian berkata ; “Saya
Muhammad Abdurrasul seorang hakim di kota Kairo, Anda ini siapa”? Imam as-
Syahid menjawab dengan sikap rendah hati : “Saya hasan al banna, saya seorang
guru sekalh dasar di As-sibtiyyah”. Orang itu kemudian berkata lagi : “Apakah anda
hasan al-Banna Mursyid Ikhwanul Muslimin?”, “Ya”, jawab Imam as-syahid jujur.
Sejak saat itu kemudian Ustadz muhammad abdurrasul tampil sebagai salah
seorang juru bicara Ikhwanul Muslimin, di tengah rimba pengadilan. Inialah buah
keteladan seoarang Murabbi yang tawaddu dan ikhlas.

Wallohu ‘alamu bisshowaab.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 61 of 71


EVALUASI TARBIYAH
I. Landasan Evaluasi
”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan
bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan” (QS. Al Hasyr : 18)
”Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab” (Atsar Sahabat)

II. Untuk apa evaluasi dilakukan ?


Abbas Asisi mengklasifikasikan mutarabbi menjadi tiga bagian :
1. manusia yang berprilaku dengan akhlak islamiyah, yaitu orang yang rajin
beribadah dan pergi ke mesjid. Orang seperti ini dinomorsatukan, karena mereka
lebih dekat dengan da’wah kita, sehingga tidak memerlukan tenaga yang
banyak. Untuk mengajak merekapun tidak banyak kesulitan, Insya Allah .
2. Manusia yang berprilaku denghan akhlak asasiyah, yaitu orang yang tidak taat
beragama, tetapi tidak mau terang-terangan dalam berbuat maksiyat karena ia
masih menghormati harga dirinya. Orang semacam ini menempati urutan kedua.
3. Manusia yang berprilaku dengan akhlak jahiliyah, yaitu orang yang buka dari
golongan pertama dan kedua. Dialah orang yang tidak peduli terhadap orang
lain. Sedang orang lain mencibirnya karena perbuatan dan perangainya yang
jelek.
Kategori yang dirumuskan oleh Abbas Asisi ini menunjukkan bahwa mutarabbi
memiliki karakteriktik sendiri-sendiri. Untuk mengetahuinya perlu dilakukan sebuah
proses penilaian. Penilaian (evaluasi) seperti ini sering disebut evaluasi karakteristik
mutarabbi. Evaluasi ini dilakukan sebelum prose tarbiyah berlangsung yang bisa kita
katakan evaluasi pra proses tarbiyah
Selain evaluasi pra proses tarbiyah, ada juga evaluasi pada proses tarbiyah. Jadi
prosesnya yang dievaluasi, agar dapat dipantau dan diperbaiki di kesempatan
berikutnya. Apalagi dalam da’wah proses menjadi sebuah kmponen yang
mendapatkan perhatian yang lebih. Untuk itu evaluasi bukan saja pada akhir proses
yang sering dipahami orang, akan tetapi evaluasi itu pada prosesnya. Apakah
prosesnya sudah benar atau belum. Apakah prosesnya sudah efektif atau belum.
Pentingnya evaluasi dalam proses tarbiyah dianjurkan oleh Rasulullah SAW :
“Berkhutbahlah sesuai dengan kadar akal mereka”
Indikator keefektifan proses adalah sesuai dengan kadar akal murabbi. Jadi proses
seperti apa yang sesuai dengan kadar akal mereka. Didalamnya terdapat makna
bahwa evaluasi untuk menentukan tujuan mana yang belum direalisasikan,
sehingga tindakan perbaikan yang cocok dapat diadakan. Dan memberikan
informasi tentang cocok tidaknya strategi mengajar yang ia gunakan, supaya
kelebihan dan kekurangan strategi mengajar tersebut dapat ditentukan. Juga bisa
bermanfaat dalam merencanakan prosedur untuk memperbaiki rencana pelajaran.
Menentukan apa saja sumber belajar yang perlu digunakan.
Hasil (output) dari tarbiyah sudah bisa dipastikan harus diukur, karena hasil
tarbiyah harus dapat menentukan mutarabbi sudah pada kategori mana atau
apa.dengan kata lain evaluasi untuk mengukur kompetensi dan kapasitas mutarabbi
apakah mereka telah merealisasikan tujuan yang telah ditentukan.
Dari penjelasan ini evaluasi dapat dilakukan untuk mengkur mutarabbi yang akan
diproses, mengukur prosesnya dan hasil prosesnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan
bagan berikut :

Input Proses Output

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 62 of 71


Evaluasi Evaluasi Evaluasi

III. Bagaimana mengevaluasi ?


1. Evaluasi pra mutarabbi (pra proses).
Hal ini untuk mengetahui baru sampai dimana kemampuan mutarabbi yang akan
mengikuti proses tarbiyah tersebut hingga posisinya jelas. Murabbi dapat
mengetahui proses apa yang akan diselenggarakan seperti yang tertuang dalam
perencanaan proses tarbiyah. Wujud evaluasinya mutarabbi dapat mengisi check
list (daftar isian) yang diambil dari muwashafat yang ada pada masing-masing
marhalah. Atau murabbi dapat melakukan wawancara dan atau dengan
menggunakan observasi/investigasi ke rumah mutarabbi.

2. Evaluasi proses tarbiyah


Setelah mutarabbi terevaluasi kini giiran mengevaluasi prosesnya. Mengevaluasi
prosesnya disyaratkan memiliki perencanaan tarbiyah, karena dari sanalah kita
dapat mengevaluasinya. Apa yang kita rencanakan dapat menjadi bahan
evaluasi proses. Dengan perencanaan kita bisa tahu berapa banyak materi yang
telah disampaikan. Berepa sering pertemuan tarbiyah kita selenggarakan.
Metode apa yang telah kita pergunakan. Berapa kali penyelenggaraan mabit
atau jalsah rhiyah untuk akhowat. Yang tidak akalh penting adalah apakah cukup
menarik atau cukup efektikkah proses tarbiyah yang telah kita laksanakan. Untuk
mengukur hal ini kita dapat membuat jurnal pertemuan. Dapat dituangkan lewat
buku tulis, secarik kertas, dan atau lisan mutarabbi.

3. Evaluasi ketika selesai belajar


Evaluasi inilah yang banyak dipahami orang dan dilakukan. Evaluasi ini
digunakan untuk melihat apakah output yang dicanangkan telah tertuang dalam
muwashafat, terpenuhi atau belum. Ini menjadi tolak ukur dari dua komponen
(input dan proses). Apakah keduanya baik atau belum. Wujud evaluasi ini bisa
berwujud tes tertulis, lisan, ngobrol (curhat), investigasi, diskusi, mencocokkan
muwashafat dengan membuat daftar check (check list), membuat karya tulis,
menggarap proyek mengarang, silaturrahmi dan lain-lainnya.

IV. Apakah yang harus dipantau dalam evaluasi.


Secara keseluruhan evaluasi tarbiyah baik pra, proses maupun hasil dituangkan ke
dalam tiga aspek yang harus dievaluasi, yakni :
1. Evaluasi kognitif
Pada kurikulum tarbiyah islamiyah (Manhaj 1421 H) terdapat tujuan-tujuan
intruksional yang telah dirumuskan. Tujuan tersebut diantaranya “mengetahui
hasil ibadah“. Pada tujuan ini yang ingin diraih settelah proses tarbiyah
berlangsung adalah tujuan untuk meraih aspek kognitif. Sehingga aspek kognitif
menjadi sebuah aspek yang mesti dievaluasi.untuk mengetahui lebih jauh aspek
kognitif ini, kita ikuti uraian berikut :
Kognitif memiliki tingkatan yaitu :
a. Tingkat pengetahuan (knowlegde)
Evaluasi kognitif untuk tingkat pengetahuan bila yang ingin diketahui
tingkat mengahfal atau mengingat kembali atau mengulang kembaliapa
yang pernah diterima para mutarabbi. Evaluasi pada tingkat ini dapat

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 63 of 71


digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak,
yaitu “dapat menyebutkan sarana dan media untuk tafakur“

b. Tingkat pemahaman (comprehension)


Evaluasi untuk tingkat pemahaman bila yang ingin diketahui adalah
kemampuan mutarabbi dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan
atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan
yang pernah diterimanya. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunkan utnuk
mengatahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “memahami
kewajibannya terhadap orang lain, khususnya keluarga dekat dengan
senantiasa menekankan kewajiban pada dirinya bukan pada haknya“.

c. Tingkat penerapan(aplication)
Evaluasi tingkat penerapan bila yang ingin diketahui kemampuan
mutarabbi dalam menggunakan pengetahuan untuk memecahkan
berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi pada
tingkat ini dapat digunakan untuk mengathui pakah tujuan berikut
tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi menerapkan kewajiban-kewajiban
rumah tangga dan menjadi teladan anggota keluarga yang lainnya”.
d. Tingkat analisis (analysis)
Evaluasi untuk tingkat analisis bila yang ingin diketahui kemampuan
mutarabbi dalam merinci dan membandingkan pengetahuan atau data
yang begitu rumit serta mengklasifikasikannya menjadi beberapa kategori,
dengan tujuan agar dapat mengenal hubungan dan kedudukan masing-
masing data terhadap data lainnya. Evaluasi pada tingkat ini dapat
digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak,
yaitu “mutarabbi mampu menginvetarisir ide-ide pemikirannya”
e. Tingkat sintesa (synthesis)
Evaluasi pada tingkat ini bila yang ingin diketahui memampuan mutarabbi
dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur
pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih
menyeluruh. Evaluasi pada tingkat dapat digunakan untuk menetahui
apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi mampu
memformulasikan ide-ide dan pemikirannya”.
f. Tingkat evalusi (evaluation)
Evaluasi untuk tingkat ini bila yang ingin diketahui kemampuan muitarabbi
dalam membuat perkiraan atau keputusan yang tepat berdasarkan kriteria
dan pengetahuan yang dimilikinya. Evaluasi ini dapat digunakan apakah
tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi mampu membedakan
sistem politik yang fungsional dan disfungsional”.
Wujud tes yang dapat dipakai untuk mengukur penguasaan kognitif antara
lain diskusi, karya ilmiah, mengarang, tes tertulis, mengisi daftar cek (check
list), jurnal dan lainnya.

2. Evaluasi afektif
Selain itu tujuan tarbiyah ada yang berbunyi “merasakan kekhusyu’an dan
kenikmatan dalam beribadah”. Tujuan ini bukan sekedar mutarabbi mengetahui
hasil-hasil ibadah melainkan mutarabbi memiliki sikap terhadap aktifitas ibadah
tersebut. Sikap yang diinginkan adalah merasakan kekhusyu’an dan kenikmatan.
Sehingga pada aspek ini yang dievaluasi adalah aspek afektifnya.
Afektif juga memiliki tingakatan yaitu :
a. Tingkat menerima (receiving)

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 64 of 71


Evaluasi afektif untuk tingkat menerima bila yang ingin diketahui adalah
tingkat kesadaran, kesediaan dan kemauan mutarabbi pada islam.
Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah
tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu ; “menyadari kewajiban bekerja
dan berpenghasilan dengan memilih pekerjaan yang sesuai dengan
kecenderungan dan spesialisasinya”.
b. Tingkat menanggapi (responding)
Evaluasi untuk tingkat menanggapi bila yang ingin diketahui adalah
tingkat kemauan dan kemampuan untuk bereaksi terhadap suatu
kejadian, proses, stimulus yang ditunjukan oleh bentuk partisipasi dalam
berbagai bentuk. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk
mengatahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi
menerpakan spesialisasi yang dimilikinya dalam upaya mendukung kerja
da’wah serta tanggung jawab rumah tangga dengan menjalaninya secara
serius”.
c. Tingkat menilai (valuing)
Evaluasi untuk tingkat menilai bila yang ingin diketahui adalah tingkat
pengakuan secara obyektif (jujur) bahwa islam dan segala yang
melingkupinya adalah agama yang benar yang diikutimoleh kemauan
untuk menerimanya (istislam) dengan ditunjukan oleh sikap dan prilaku.
Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah
tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi dapat menerapkan
adab-adab Islam di rumah:.
d. Tingkat oraganisasi (organization)
Evaluasi untuk tingkat oraganisasi bila yang ingin diketahui adalah tingkat
konseptualisasi nilai-nilai islam sehingga menjadi karakternya. Nilai islam
telah menjadi ciri pribadinya. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan
untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu
“mengutamakan produk-produk islam ketika berbelanja dan ketika
membelinya di toko-toko non muslim meskipun harganya lebih mahal ”
e. Tingkat karakterisasi (charaktersization)
Evaluasi untuk tingkat karakterisasi bila yang ingin diketahui adalah
tingkat internalisasi nilai-nilai islam sehingga menjadi karakternya. Nilai
Islam telah menjadi ciri pribadinya. Evaluasi untuk tingkat ini dapat
digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak,
yaitu “mutarabbi mampu membiasakan diri hidup teratur”.
Wujud tes yang bisa dipakai untuk mengukur penguasaan afektif antara lain :
diskusi, karya ilmiah, mengarang, tes tertulis, mengisi daftar check, jurnal dan
lainnya.

3. Evaluasi psikomotorik
Kemudian ada juga tujuan tarbiyah yang berbunyi “mempraktekan kiat-kiat
mencapai kekhusyu’an dalam shalat”. Tujuan ini dirancang bahwa tarbiyah harus
sampai pada tingkat amal. Artinya tarbiyah harus sampai pada aspek
psikomotorik. Sehingga aspek psikomotorik menjadi sebuah aspek yang tidak
boleh dilewatkan. Dalam aspek psikomotorik tidak ada tingkatan sepeerti pada
aspek kognitif maupun afektif, namun dapat dibagi dalam beberapa kelompok.
Yakni ;
a. Gerakan seluruh badan
Evaluasi yang dilakukan pada kelompok ini bila murabbi ingin mengetahui
sudah sampai dimana kemampuan gerak fisik mutarabbi secara
keseluruha. Evaluasi pada kelompok ini dapat digunakan untuk

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 65 of 71


mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu “mutarabbi
mampu melakukan latihan fisik dengan teratur 10 – 15 menit setiap hari”.
b. Gerakan yang terkoordinasi
Evaluasi yang dilakukan pada kelompok ini bila murabbi ingin mengetahui
sudah sampai dimana kemampuan koordinasi gerakan fisik mutarabbi
antara fungsi salah satu atau lebih indera manusia dengan salah satu
anggota badannya. Evaluasi pada kelompok ini dapat digunakan untuk
mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak, yaitu : “mutarabbi
mampu menulis rasmul bayan dengan baik”.
c. Komunikasi nonverbal
Evaluasi yang dilakukan pada kelompok ini bila murabbi ingin mengetahui
sudah sampai dimana kemampuan komunikasi mutarabbinya dengan
menggunakan simbolatau isyarat, misalnya isyarat dengan tangan,
anggukan kepala, ekspresi wajah dan lain-lain. Evaluasi pada kelompok ini
dapat digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau
tidak, yaitu : “mutarabbi mampu membiasakan diri murah senyum
(ramah) di depan orang lain”.
d. Kecakapan dalam berbicara
Evaluasi yang dilakukan pada kelompok ini bila murabbi ingin mengetahui
sudah sampai dimana kemampuan berbicara yang dihubungkan dengan
koordinasi gerakan tangan atau anggota badan lainnya dengan ekspresi
muka dan kemampuan berbicara. Evaluasi pada kelompok ini dapat
digunakan untuk mengetahui apakah tujuan berikut tercapai atau tidak,
yaitu : “mutarabbi mampu berbicara sesuai adab dan ketentuan yang ada
dalam Al Qur’an (bagi akhowat)”.
Wujud tes yang bisa dipakai untuk mengukut penguasaan psikomotorik
adalah praktek langsung.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 66 of 71


METODE TARBIYAH DAN PENDIDIKAN ORANG
DEWASA

I. METODE TARBIYAH
Untuk mencapai sasaran tarbiah secara baik dan optimal diperlukan metode
pembelajaran yang sesuai dengan objek tarbiah, jenis materi, kondisi
lingkungan dan faktor lainnya. keberhasilan tercapainya tujuan tarbiah juga
ditentukan oleh penguasaan cara-cara atau teknik menyampaikan materi.
Secara umum fungsi metode adalah untuk mengikat tersirat, mengurai yang
tersekat, membuka yang tersumbat. Ada beberapa metode pembelajaran yang
diperlukan dalam proses tarbiah, semuanya dapat dipergunakan sesuai obyek
tarbiah, jenis materi, lingkungan dan faktor lainnya. Metode itu antara lain:

1. METODE CERAMAH
Metode ceramah disebut juga metode kuliah merupakan bentuk
penyampaian yang paling umum dipakai dalam menyampaikan suatu materi.
Seorang murabbi dapat memberikan materi melalui taujih dan ditunjang
dengan mengetahui tingkat kognitif sangat mengajar sangat baik. Sehingga
murabbi dalam mentarbiah tidak hanya mentransfer informasi untuk sekedar
tahu saja.

2. METODE TANYA JAWAB


Tanya jawab sebagai metode adalah berupa lontaran pertanyaan untuk
dijawab agar diketahui tingkat penguasaan dan pemahaman pesrta terhadap
hal-hal yang telah tersampaikan atau fakta-fakta yang telah dipelajari,
didengar atau dibacanya. Metode ini juga berguna untuk meningkatkan
keakraban dan ukhuwwah. Mislanya murabbi dengan mengajukan pertanyaan
pada peserta baik hal yang terkait dengan materi pembahasan, pribadi,
keadaan lingkungan, permasalahan yang sedang populer atau pertanyaan
lainnya.

3. METODE DISKUSI
Adalah suatu cara penyajian bahan materi dalam bentuk percakapan atau
pembahasan terhadap suatu permasalahan atau pengalaman yang baru
dperoleh. Dalam diskusi diharapkan dilakukan pengendapan dan kratifitas
data dan informasi yang diperolehnya. dengan diskusi seorang peserta akan
secara otomatis terdorong melakukan penguasaan yang lebih baik terhadap
suatu materi. Kelemehan diskusi akan menyita waktu lebih banyak. Apalagi
bila murabbi tidak dapat menarik kesimpulan , bahkan akan diikuti terjadinya
bias terhadap nilai yang harus disampaikan.

4. METODE DEMONSTRASI
Adalah suatu cara pembelajaran dalam bentuk menunjukkan,
memperlihatkan atau mendemonstrasikan suatu pembahasan materi.
Seorang murabbi mempraktekkan suatu pembahasan secara tepat. Mislanya
mendemonstrasikan cara membaca al Qur’an sesuai dengan kaidah tajwid.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 67 of 71


5. METODE EKSPERIMEN
Merupakan metode pengajaran dalam bentuk mempraktekkan atau
mencoba suau pembahasan. Setelah murabbi menunjukkan cara melakukan
sesuatu maka selanjutnya peserta mempraktekkan sendiri sebagaimana yang
telah dicontohkan. Metode demonstrasi atau Eksperimen saling terkait sebab
dengan eksperimen sekaligs mendemonstrasikan sesuatu. Metode
demonstrasi lebih dititik beratkan pada murabbi sedangkan metode
eksperimen lebih menitik beratkan pada peserta yang harus melakukan
sesuatu.

6. METODE SIMULASI
Yakni metode pengajaran untuk membangkitkan atau mendorong peserta
dalam suatu permainan. Mislanya dalam masalah pentingnya menjaga
kesehatan dan mendeteksi diri akan kekuatan tubuh serta manfaat olah raga
bagi stamina tubuh.

7. METODE PARTISIPASI
Merupakan metode pengajaran dengan cara mendorong langsu ng
padapeserta untuk terlibat aktif dengan sebuah proses kegiatan. Musalanya
murabbi ingin mengajarkan tentang urgensi quwwatul maal dan beratnya
beramal, maka murabbi dapat mewajibkan infaq majelis dan semua peserta
wajib mengisi kotak infaq setiap datang. Kemudian setelah beberapa saat
baru dibahas tentang bagaimana kesan sulitnya berinfaq serta kendalanya
dalam mobilisasi dana.

8. METODE PENGGUNAAN ALAT


Metode ini sering digunakan dalam pelatihan. Metode pengajaran melalui
pendekatan penggunaan alat bantu. Mislanya peserta dapat diberikan sebuah
instrumen yang dikerjakan sendiri untuk melihat atau mengungkapkan
kepribadiannya.

9. METODE LATIHAN
Metode pengajaran dalam bentuk peserta melakukan suatu kegiatan untuk
memperoleh keterampilan sesuatu. Dengan berlatih secara praktis
keterampilan yang dimiliki oleh peserta dapat ditingkatkan dan
disempurnakan

10. METODE PENUGASAN


Adalah cara pengajaran dengan memberikan tugas dalam bentuk tugas
baca, menghadiri acara tertentu, atau tugas-tugas lainnya yang kemduian
dipertanggungjawabkannya kepada murabbi yang memberikan tugas
tersebut. Tujuannya peserta lebih mantab, pengalamnnya lebih terintegrasi
dan untuk mendorong peserta berusaha lebih baik.

11. METODE SOSIODRAMA


Metode pengajaran dengan pendekatan menyaksikan tayangan aktifitas
kehidupan sekitar manusia. Bisa melui laboratorium, film, planetarium,
tetater, dan lain sebagainya. Misalnya materi aneka ragam ciptaan Allah SWT
di alam semesta dapat bersama-sama pergi ke planetarium menyaksikan
penayangannya.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 68 of 71


12. METODE PENGALAMAN TERSTRUKTUR
Yakni murabbi dapat melakukan sebuah intervensi tindakan yang tidak
diketahui maksudnya oleh peserta. Kemudian setelah selesai peserta disuruh
untuk mengemukakan pelajaran apa yang telah diperolehnya. Pada tahap
akhir murabbi menjelaskan pelajaran apa yang baru disampaikannya.

13. METODE PENGEMBANGAN KELOMPOK


Pada umumnya murabbi dalam menyampakan bahan denga mengunakan
beberapa metode memandang peserta sebagai individu. Namun demikian
pada suatu saat peserta dihadapi bukan sebagai individu melainkan sebagai
kelompok dalam melaksanakan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Mislanya murabbi mengajak peserta untuk rihlah atau
mukhayam. Dalam acara tersebut, akan dapat dilakukan tenis pembentukan
kelompok lebi cepat dan efektif daripada memberikan ceramah tentang
ukhuwwah dan ta’awun.
Masih banyak lagi metode yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
Karena banyaknya metode yangd apat digunakan dalam pembelajaran maka
murabbi harus memilih dengan tepat metode mana yang paling sesuai. Sebab
setiap metode hanya cocok digunakan dalam situasi dan tujuan tertentu.
Dalm situasi dan tujuan berbeda diperlukan metde yang berbeda. Masing-
masing metode mempunyai kelebihan dan kelemahannya. Selayaknya
murabbi dapat mengatasi kelemahan-kelemahannya.
II. SIAPAKAH ORANG DEWASA ITU ?
Masa dewasa dibagi menjadi 3 (tiga) kategori :
1. Masa dewasa dini
Masa ini usianya berkisar antara 18 sampai dengan 30 tahun. Tugas
perkembangannya adalah :
 Belajar memikul tanggung jawab sosial
 Belajar memilih kelompok sosial yang cocok
 Belajar hidup berkeluarga
 Belajar mengurus anak
 Belajar mengurus rumah tangga
2. Masa dewasa pertengahan
Masa ini usianya berkisar antara 30 tahun sampai 50 tahun. Tugas
perkembangannya adalah :
 Mencapai tanggung jawab sosial yang layak bagi orang dewasa
 Membina dan mempertimbangkan standar kehidupan ekonomi
 Membantu para remaja menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab
 Mengembangkan kegiatan untuk mengisi waktu luang
 Mencapai hubungan yang harmonis dengan sekitarnya
 Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisiologis pada
masa dewasa pertengahan
 Menyesuaikan diri sebagai orang tua yang telah berusia
3. Masa dewasa matang
Masa ini usianya berkisar diatas 50 tahun. Tugas perkembangannya adalah :
 Menyesuaikan diri terhadap penurunan kekuatan dan kesehatan
jasmani
 Menyesuaikan diri terhadap masa pensiun dan berkurangnya
pendapatan
 Menyesuaikan diri terhadap datangnya kematian bagi keluarga

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 69 of 71


 Memenuhi kewajiban sosial
 Membina dan mengatur kehidupan fisik yang lebih mantap
 Mengatur kehidupan batiniah yang lebih baik

III. APAKAH ORANG DEWASA BISA BELAJAR ?


Kemampuan dasar untuk belajar sebenarnya tidak pernah berubah sekama
hidup. Sementara penyebab bahwa orang dewasa terkesan tidak bisa belajar
adalah
 Kurang yakin pada kemampuan diri sendiri
 Perubahan fisiologis
 Tidak begitu peduli terhadap faktor eksternal

IV. ORANG DEWASA JUGA BELAJAR


Suatu proses internal yang dikendalikan oleh peserta didik sendiri dengan rasa
melibatkan diri secara keseluruhan, yaitu : secara intelektual, emosional, dan
fungsi fisologis. Jadi rekomendasi untuk membelajarkan orang dewasa adalah :
rangsang agar terlibat dalam proses belajar dengan cara buatlah belajar
menjadi kebutuhannya. Pusat dinamika belajar pada orang dewasa terletak
pada mereka yang merasakan belajar sebagai sebuah pengalaman.

V. BAGAIAMANA ORANG DEWASA BELAJAR ?


1. Menciptakan iklim yang kondusif
Orang dewasa akan belajar produktif apabila :
 Lingkungan fisik bersifat santai
 Ruangan diatur secara tidak formal
 Memberikan kesan bahwa mereka diterima, dihargai dan didukung
kehadirannya
 Ditumbuhkan suasana saling membutuhkan dan menguntungkan
antara guru dan murid
 Memberikan kebebasan untuk berekspresi tanpa rasa takut akan
ancaman atau takut dianggap melakukan perbutan yang memalukan
 Ciptakan suasana yang bersahabat dan informal
 Mereka dikenal sebagai individu yang unik
 Menggunkan alat bantu belajar dari bahan yang jauh dari kesan
peadagogi, contoh menggunkan lembar kerta yang murah
 Menaruh minat pada peserta didik dan mengahrgainya bukan
menganggap peserta didik sebagai penerima kebijakan
 Kesediaan guru untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh
muridnya

2. Mendiagnosa kebutuhan
Pendiagnosaan kebutuhan bagi peserta memiliki tujuan , yaitu peserta
memahami dan menyadari perlunya hal-hal tersebut mereka pelajari
Dalam praktek mendiagnosa kebutuhan ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan diantaranya :
 Melibatkan peserta dalam proses menentukan apa-apa saja yang perlu
mereka pelajari
 Memberikan gambaran tentang ciri-ciri yang dikehendaki
 Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengenali diri
sendiri

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 70 of 71


 Membantu mereka mengukur kesenjangan yang ada antara
kemampuan yang mereka miliki saat ini dan kemampuan-kemampuan
yang dituntut oleh model profesinya dengan harapan akan timbul
ketidak puasan pada diri mereka sendiri

3. Proses perencanaan
Dalam proses perencanaan peserta didik ikut serta menentukan apa yang
ingin mereka pelajari, sedang guru membantu memberikan arah dan
sebagai sumber dari isi pelajaran (content resource). Bentuk partisipasi
peserta bisa berupa perwakilan, panitia, dan atau satuan tugas.
Perencanaan yang dimaksud meliputi:
 Diagnosis kebutuhan belajar.
 Menentukan tujuan pendidikan khusus.
 Arah pengembangan dan pentahapan.
 Perencanaan pengalaman-pengalaman belajar yang akan disajikan.
 Menentukan kriteria keberhasilan sesuai dengan tujuan.

4. Penyelenggaraan pengalaman belajar


 Transaksi belajar mengajar sebagai tanggung jawab bersama antara
guru dan peserta didik.
 Peran guru dirumuskan sebagai teknisi prosedural, manusia sumber,
dan mitra (partner) dalam mempelajari sesuatu.
 Guru lebih bersifat katalisator yang mempercepat proses belajar dari
pada sebagai instruktur. Guru lebih bersifat pemandu.
 Guru hanya mampu membantu orang lain belajar.
 Memberikan kesempatan kepada peserta didik utnuk ikur bertanggung
jawab dalam kegiatan belajar.

5. Evaluasi hasil belajar


Proses penilaian hasil belajar pada pendidikan orang dewasa adalah proses
menilai diri sendiri, dengan membantu peserta memperoleh bukti-bukti
bagi mereka sendiri. Bukti evaluasi hasil belajar digunakan bukan menilai
baik atau buruk, tetapi untuk mendiagnosa ulang kebutuhan
belajarnya.

Kumpulan Materi Daurah Murabbi : Page 71 of 71