Anda di halaman 1dari 30

Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No.

3/2000

Perkembangan Paradigma
Pendampingan Pastoral
di Indonesia 1

Phan Bien Ton


2

Abstrak
Tulisan ini bermaksud menyoroti bagaimana perkembangan
paradigma pendampingan pastoral di Indonesia dan kemudian
menarik implikasinya secara khusus bagi peranan pemimpin jemaat
dalam pendampingan pastoral. Perkembangan paradigma
pendampingan pastoral sangat dipengaruhi oleh konteks sosio historis
Indonesia, setelah mengalami perkembangan tersebut disimpulkan
bahwa pendampingan pastoral adalah upaya integratif komunitas
Kristen yang bergumul bersama-sama dengan komunitas umat lain di
tengah-tengah keprihatinan masa kini yang muncul dalam situasi
sosial politik, budaya dan lingkungan hidup mereka dengan tujuan
untuk mengurangi akibat dosa dan penderitaan, dan mentransformasi
hidup sesuai dengan harkat kemanusiaan. Konsep pendampingan
pastoral yang makin meluas tersebut membutuhkan pemimpin jemaat
yang juga mampu menghayati perannya yang meluas, meliputi tiga
aspek pelayanan baik di dalam maupun di luar dinding-dinding Gereja:
aspek individual, komunitas, dan masyarakat luas. Dalam pelayanan
pendampingan pastoral yang menyeluruh itu, citra sebagai pemampu
merupakan citra yang diharapkan menjadi dasar identitas pemimpin
jemaat.

Kata kunci: Pendampingan Pastoral; Konteks Sosio Historis;


Citra Pemampu.

1. PENDAHULUAN dombanya, untuk menyatakan


“Pendampingan Pastoral” akhir- tugas pendampingan yang harus
akhir ini makin menjadi istilah dilaksanakan oleh para pemimpin
yang dikenal dengan baik dalam Kristen terhadap anggota Gereja
kehidupan berjemaat. Istilah ini dan masyarakatnya. Istilah ini
diambil dari citra mengenai relasi dipakai untuk menterjemahkan
seorang gembala dengan domba- istilah “Pastoral Care” dalam bahasa
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

Inggris dan dirasakan lebih Dalam pendekatan seperti ini,


bernuansa keutuhan dan saya membagi perkembangan
kesejahteraan menyeluruh, serta paradigma pendampingan
lebih dinamis, ketimbang istilah- pastoral di Indonesia ke dalam 5
istilah lain seperti “Perawatan tahap: sebelum tahun 1960-an,
Rohani (Spiritual Care)” atau dasawarsa 60-an, dasawarsa 70-
“Pemeliharaan Jiwa (Soul Care)”. an sampai sekitar pertengahan
Istilah “Pendampingan Pastoral” dasawarsa 80-an, sekitar
juga makin disukai untuk pertengahan dasawarsa 80-an
menggantikan istilah sampai 1998, dan tahun 1998-saat
“penggembalaan” yang sudah kini.3
lebih dahulu dikenal, karena
lebih menggambarkan 2. SEBELUM 1960
kesetaraan antara yang melayani Kekristenan Indonesia dan
dan yang dilayani, dan lebih termasuk pelayanan pastoralnya,
menggambarkan tanggungjawab sebelum Kemerdekaan Nasional
seluruh umat beriman dan mempunyai bentuk dan isi yang
bukan hanya pandeta selaku boleh dikatakan “foto copy” dari
gembala terhadap dombanya. kekristenan dan pelayanan
Tulisan ini bermaksud pastoral di Belanda. Tidak heran
menyoroti bagaimana kalau agama Kristen dicap
perkembangan paradigma sebagai “Agama Belanda”
pendampingan pastoral di (Cooley, 1981: 309).
Indonesia dan kemudian Gereja pada jaman kolonial
menarik implikasinya secara tersebut ada dalam kondisi steril,
khusus bagi peranan Majelis tanpa daya dan tidak mampu
Jemaat dalam pendampingan merespon tantangan-tantangan
pastoral. yang muncul pada jamannya. Ia
Untuk dapat menggambarkan boleh dikatakan tidak
perkembangan paradigma mempunyai kaitan dengan
pendampingan pastoral di kehidupan sosial politik di luar
Indonesia kita perlu melihat Gereja sama sekali (Sumartana,
konteks sosio historis yang 1982: 17). Kecenderungan a-
muncul, karena pendampingan politik dan a-historik inilah yang
pastoral tidak pernah selalu dicoba untuk dikoreksi
dilaksanakan dalam sebuah oleh para pemimpin Kristen
kevakuman, ia selalu dikerjakan pada waktu itu, antara lain: J.
dalam konteks sosio historis Leimena, T. S. G. Mulia, dan A.
tertentu (Browning, 1976: 18). M. Tambunan dari Protestan;

50
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

maupun Kasimo dan Soekarno, yang menghendaki


Soegiyopranoto dari Katholik. semua lapisan masyarakat,
Setelah Kemerdekaan Nasional termasuk Gereja di dalamnya,
dan selama dasawarsa 50-an, di untuk berpartisipasi. Orang
tengah tugas urgen untuk Kristen-pun bergumul mengenai
“nation-building”, Gereja dan sikap mereka terhadap
bangsa Indonesia sibuk kepemimpinan Soekarno di
menghadapi masalah-masalah tengah problem sosial-politik
besar, baik perang-perang bangsa (Simatupang, 1982: 26).
revolusi, pemberontakan- Berdirinya pemerintahan
pemberontakan regional “Orde Baru” di bawah Jendral
terhadap pemerintahan pusat, Soeharto setelah pertumpahan
dan khususnya gerakan DITII darah dan ratusan ribu kurban
yang menginginkan bentuk jiwa, merubah situasi politik
pemerintahan Islam. Para secara menyeluruh. Perubahan-
pemimpin Gereja pada waktu itu perubahan ini juga mulai
memang belum cukup merubah pelayanan pastoral
dilengkapi untuk berrefleksi Gereja pada waktu itu. Gereja
secara teologis terhadap semua mulai terlibat dalam kehidupan
masalah historik, sosial dan sosial-politik secara lebih aktif.
politik tersebut. Karenanya Teologi para pemimpin Gereja
dapat dimaklumi apabila makin menjadi kritis, dan juga
Gerejapun hanya memberikan terjadi semacam “de-
pelayanan pastoral yang westernisasi teologi”.
tradisionil, dari pendeta Gereja mulai merasa perlu
dipusatkan untuk para anggota untuk menjawab kebutuhan-
Gereja agar dapat bertahan di kebutuhan masyarakat, bahkan
tengah-tengah situasi sulit yang di luar Gereja secara lebih
tersebut. utuh, bukan hanya secara
spiritual, tetapi juga secara fisik,
3. DASAWARSA 60-AN bukan hanya secara individual,
Pada tahun 1960-an Gereja tetapi juga secara kolektif.
dicengkeram oleh ide-ide Orang-orang Kristen didorong
“revolusi” “perubahan sosial untuk menjadi katalis di tengah
secara cepat”, di bawah proses-proses revolusioner
pangaruh “Demokrasi menuju masyarakat yang dewasa
Terpimpin” dan “Revolusi dan modern (Simatupang, 1967:
Tanpa Akhir” yang 48). Untuk itu, teologipun harus
didengungkan oleh Presiden dikembangkan menjadi kritis

51
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

agar dapat merespon terhadap menjalankan tanggung jawabnya


situasi jaman, melayani terhadap dalam hal-hal “sekuler”,
mereka yang mulai menjadi termasuk politik dan ekonomi
kurban dari proses modernisasi. (Abineno, 1968: 23). Dapat
Modernisasi dirasakan penting, disimpulkan bahwa paradigma
tetapi tidak boleh mengorbankan pastoral mulai berubah dari
prinsip keadilan sosial pendampingan pendeta untuk
(Simatupang, 1967: 67). Gereja anggota jemaat menjadi
juga makin disadarkan bahwa pendampingan terhadap
teologi mereka terlalu “berpusat kehidupan Gereja secara
ke Eropa, khususnya Belanda”. menyeluruh dalam upaya
Sejarah bagi bangsa Indonesia, menghadirkan Kerajaan Allah di
menurut Simatupang, haruslah dunia. Pendampingan pastoral
theo-sentrik, tetapi ia juga harus bukan lagi the science for
“Indonesia-sentrik”, dan bukan individual ministry melainkan the
“Eropa-sentrik”. Orang-orang science of the church life and the
Indonesia tidak boleh science of the church life in/for the
beranggapan bahwa diri mereka world.
adalah “orang-orang yang tidak
mempunyai sejarah” di tengah- 4. DASAWARSA 70-AN
tengah penyerbuan kebudayaan SAMPAI SEKITAR
Barat modern (Simatupang, 1967: PERTENGAHAN
DASAWARSA 80-AN
96-104).
Pendampingan pastoral yang Pada tahun 1969 pemerintahan
dihasilkan dalam perubahan- Orde Baru memulai PELITA I,
perubahan semacam ini muncul dengan tekanannya pada
secara khusus dalam buku-buku kestabilan politik dan ekonomi.
teologi praktika dan pastoral J. L. Di tengah situasi inilah Gereja-
Ch. Abineno, professor STT gereja dan sekolah-sekolah
Jakarta. Abineno mendukung teologi melalui Konsultasi
teologi praktika dari A.D. tentang Teologi dan Pendidikan
Mueller, seorang teolog Jerman: Teologi di Indonesia yang
“ajaran tentang pengrealisasian dilaksanakan di Sukabumi tahun
yang benar dari Kerajaan Allah 1970, menghasilkan apa yang
di dalam Gereja dan oleh Gereja disebut “Pergumulan Rangkap”.
di dalam dunia” (Abineno, 1968: “Pergumulan Rangkap” berarti:
33). Bagi Abineno, Gereja harus bergumul dengan usaha untuk
hidup untuk dunia, bukan untuk melaksanakan kehendak Tuhan,
dirinya sendiri. Gereja harus dan bergumul dengan arah

52
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

perkembangan dunia di “teologi pembangunan” atau


sekitarnya, sehingga sebagai “teologi pembebasan”
Gereja yang tetap setia kepada (Yewangoe, 1987: 278-280;
Tuhannya, Gereja dapat Steenbrink, 1989: 19-23).
melaksanakan panggilannya Masalah pluralitas agama
dengan cara yang penad dan makin menjadi perhatian, dan
bermanfaat (Nababan, 1971: 2). berpuncak dengan munculnya
Dalam perkembangan ini, ada SK no. 70 dan 77 MenteriAgama
beberapa akibat dalam pada tahun 1978. Gereja mulai
pelayanan pastoral Gereja-gereja lebih menyadari pelayanan dan
di Indonesia, antara lain: (1) misi yang lebih inklusif,
mulai menekankan pentingnya sekalipun masih banyak juga
praksis; (2) makin menyadari Gereja-gereja yang masih
pentingnya kontekstualisasi melaksanakan misi mereka
teologi; (3) makin menyadari secara sangat eksklusif dan
situasi pluralitas budaya dan merendahkan keberadaan
agama yang amat menentukan kepercayaan-kepercayaan agama
pola-pola pelayanan; dan (4) lain (Steenbrink, 1984: 16).
pergumulan mengenai Masalah relasi Gereja dengan
hubungan secara kritis dengan negara serta ideologinya,
ideologi negara. dimulai dengan
Pendidikan teologi yang diberlakukannya pelajaran PMP
menekankan pentingnya praksis (Pendidikan Moral Pancasila) di
dapat kita jumpai, misalnya sekolah-sekolah (1975), dan P4
dalam model yang (Pedoman Penghayatan dan
dikembangkan oleh STT Jakarta Pengamalan Pancasila) bagi
yang mengirimkan para hampir semua lapisan warga
mahasiswanya untuk hidup di masyarakat Indonesia (1978).
komunitas-komunitas yang Gereja memang tidak (bisa)
menderita di Klender dan menolak lagi arah
Cengkareng, melakukan perkembangan ideologi politik
pelayanan mereka di sana dan di mana Pancasila sebagai asas
berrefleksi teologi berdasarkan tunggal bagi kehidupan
pengalaman tersebut. berbangsa dan bermasyarakat
Pentingnya kontekstualisasi (1984), akan tetapi sempat terjadi
muncul dalam berbagai pergumulan yang tidaklah
pemikiran para teolog, diwarnai enteng.
juga dengan debat apakah Dalam dunia pastoral, semua
Indonesia lebih baik memakai perkembangan tersebut juga

53
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

mempengaruhi pemahaman Perkembangan paradigma


Gereja. Pemahaman tentang pendampingan pastoral sebagai
pelayanan pastoral juga makin respon terhadap makin
“mendunia”. Poltak Sormin, menguatnya Pancasila sebagai
dalam orasi pengangkatannya ideologi negara ini makin terlihat
sebagai guru besar teologi nyata dari ungkapan-ungkapan
praktika di STT HKBP di yang lebih kemudian seperti
Pematang Siantar, mengusulkan pada tulisan T. B. Simatupang,
sebuah pandangan yang berbeda misalnya, yang menyatakan
dari Abineno. Ketimbang bahwa tugas Gereja adalah
menekankan pelayanan Gereja “bersama-sama meletakan
bagi dunia, Sormin menekankan landasan moral, etik, dan
bahwa pusat dari penyelamatan spiritual bagi pembangunan
Allah adalah dunia. Jadi, pusat nasional sebagai pengamalan
perhatian teologi praktika dan Pancasila menuju tinggal landas”
pelayanan pastoral bukanlah (Simatupang, 1988: 21-46). Pada
aktifitas Gereja, tetapi praksis tahap ini dapat disimpulkan
orang Kristen dalam bahwa pendampingan pastoral
menghadapi situasi dan berkembang dengan paradigma
masalah-masalah sosial, kultural baru, bukan lagi menekankan
dan politik di dalam dunia ini church life in the world melainkan
(Sormin, 1974: 36-48). Dengan religious/moral life in the world.
pendampingan pastoral seperti Perlu dicatat, sekalipun pada
itu, Gereja akan menjadi Gereja tataran pemikiran teoretik
yang peka, yang mampu melihat tentang pendampingan pastoral
“tanda-tanda zaman” dan telah berkembang sedemikian
memproklamasikan bahwa rupa sejak diterbitkannya
Kristus tetap hadir dalam dunia pandangan Abineno di tahun
sekarang ini. Karena itu Gereja 1968, namun tentu saja pada
tidak lagi berkata kepada dunia tataran praksis dapat dijumpai
“datang dan jadilah seperti bahwa para pendeta belum
kami”, tetapi Gereja mengatakan beranjak dari pandangan lama
“Kristus besertamu di mana yang lebih menekankan
kamu berada”. Maka struktur pendampingan pastoral sebagai
hubungan antara Allah, Gereja pendampingan dari seorang
dan dunia bukan lagi: Allah- pendeta jemaat bagi warganya.
Gereja-Dunia, melainkan Para pendeta mungkin lebih
struktur: Allah-Dunia-Gereja.4 mengikuti pola pastoral tulisan
Bons-Storm (terbit 1976), yang (1)

54
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

masih sangat individualistik Kecenderungan ini diperkuat


(pola one-to one dan dibatasi selama dasawarsa berikutnya,
dinding-dinding Gereja), (2) bahkan sampai situasi
tidak melibatkan diri di tengah kontemporer sekarang ini,
masyarakat, (3) pelaksanaannya melalui dikembangkannya
lebih oleh elite Gereja, ketimbang beberapa model berteologi
umat secara menyeluruh, serta pastoral/praktika, antara lain: (1)
(4) lebih merupakan ‘model Metode Studi Kasus (MSK); (2)
proklamasi’ yang didominasi Metode Teologi Fungsional; dan
oleh pendekatan ‘teologi (3) Metode Pendidikan Pastoral
terapan’ yang memang telah Klinis (PPK).
mendominasi perkembangan Metode Studi Kasus (MSK)
pendampingan pastoral di dipelopori oleh Tjaard Hommes
Eropa.5 Model ini menekankan yang memimpin Institute for
bahwa meskipun ilmu-ilmu Advanced Pastoral Studies dari
humaniora seperti psikologi, ATESEA (Association For
sosiologi, ekonomi, hukum, Theological Education in South
antropologi, sejarah, politik, dsb, East Asia), dengan program
memiliki integritas sendiri dan “Doctor of Pastoral Studies”-nya.
mungkin bermanfaat untuk (Hasil-hasilnya dapat dijumpai
menjelaskan konteks di mana pada seri Metode Studi Kasus
teologi akan diaplikasikan, akan yang diterbitkan oleh BPK
tetapi ilmu-ilmu tersebut tidak Gunung Mulia: Sumut, 1985;
memberikan pemahaman Timor, 1990; dan Jawa, 1990).
teologis apapun. Pemahaman Metode berteologi lainnya
teologis harus berdasarkan lebih dikembangkan oleh teolog-
kepada Alkitab semata-mata.6 teolog Roma Katholik, antara
lain: J. B. Banawiratma, S. J.7
5. PERTENGAHAN DASAWARSA Pembaharuan pelayanan
80-AN SAMPAI 1988
pastoral di kalangan Katholik
Perkembangan pada sebenarnya telah dimulai sejak
pertengahan dasawarsa 80-an Konsili Vatikan II. Sebelum
menunjukkan bahwa teologi Konsili Vatikan II perhatian
pastoral di Indonesia semakin Gereja lebih dicurahkan pada
berkembang dengan hidup religius orang-orang
kecenderungan-kecenderungan beriman, dan kurang diberikan
menuju kepada “doing theology” pada tugas umat Allah di tengah
yang menekankan aspek dunia.8 Setelah Konsili Vatikan
berteologi dari praksis. II, dan terutama dengan

55
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

berkembangnya Teologi perkembangan pendampingan


Pembebasan di Amerika Latin, psatoral di Amerika Utara.10
Gereja lebih berusaha untuk Keterbatasan tempat tidak
secara aktif memperbarui dan memungkinkan kita untuk
mentransformasi umat manusia membahas perbedaan-perbedaan
pada umumnya, melalui karya- antara satu metode dengan
karya umat di tengah-tengah metode yang lainnya, akan tetapi
hidup masyarakat.9 Perubahan justru hanya memperhatikan
ini dapat diamati dalam makin bahwa metode-metode tersebut
banyaknya karya-karya teologi bertemu pada satu titik fokus:
mengenai solidaritas sosial dan pengembangan suatu bentuk
perjuangan Gereja di tengah- berteologi pastoral yang
tengah kemelaratan dan ketidak berangkat dari praksis, yang
adilan. Sumbangan khas lebih bersifat empirik, dan yang
Banawiratma dalam semuanya lebih menekankan korelasi
ini adalah suatu model yang antara ilmu teologi dengan ilmu-
lebih kontekstual dan sistematis ilmu humaniora lainnya.
yang dapat diikuti langkah demi Pendampingan pastoral yang
langkah dalam suatu pendidikan sedemikian itu membutuhkan
sosio-pastoral di Indonesia. metode pendekatan dialog
Metode Pendidikan Pastoral mutual kritis seperti telah
Klinis di Indonesia digambarkan dalam berbagai
dikembangkan oleh Mesach tulisan teolog Katholik,
Krisetya bersama dengan Aart khususnya Banawiratma,11 yang
Martin van Beek, dalam suatu berbeda dari pendekatan
kerja sama antara UKSW sebelumnya yang menekankan
(Universitas Kristen Satya satu arah: dari teori
Wacana) dan PELKESI diaplikasikan ke praktek.
(Persatuan Pelayanan Kristen Kebutuhan Gereja akan
untuk Kesehatan di Indonesia) pendekatan-pendekatan yang
(van Beek, 1988: 312-320). lebih empirik dalam pelayanan
Pendekatan klinis ini pastoral dalam
menghasilkan definisi perkembangannya terlihat makin
pendampingan pastoral yang menguat. Perkembangan teologi
lebih mengadopsi “model pastoral yang bersifat empiris,
terapeutis”, didominasi oleh profesional, dan cenderung ke
pendekatan “psikologi terapan”, klinis tersebut memang harus
yang lebih mendominasi diakui sangat didominasi oleh
model-model yang lebih bersifat

56
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

sosiologis atau psikologis. Oleh diharapkan oleh Gereja-gereja,


karena itu tidak heran muncul bahkan Eka Darmaputera salah
tanggapan yang menekankan satu teolog yang berkecimpung
bahwa realitas kemelaratan dan cukup lama di Persekutuan
ketidak adilan dalam kehidupan Gereja-gereja di Indonesia
sosial-ekonomi di Indonesia tak mensinyalir terjadinya proses
terpisahkan dari tradisi insignifikansi Gereja di tengah
keagamaan. Jadi pendampingan kehidupan sosial politik
pastoral-pun harus berkaitan Indonesia.12 Secara khusus,
erat dengan spiritualitas dan dalam gerakan Reformasi
tidak boleh kehilangan identitas sampai munculnya era Indonesia
pastoralnya. Teologi dan Baru-pun, peranan Gereja-gereja
spiritualitas adalah dua dimensi dapat dipertanyakan. Pepatah
dari satu keseluruhan yang “ayam berkokok karena fajar
integral/utuh (Imbelli dan menyingsing” barangkali tepat
Groome, 1992: 127-137). untuk menggambarkan
perubahan sikap yang terjadi di
6. PERKEMBANGAN kalangan Gereja-gereja dalam
TERAKHIR TAHUN 1998 menyambut munculnya Era
SAMPAI KINI Indonesia Baru, ketimbang
Ada dua isu pokok yang menjadi sebaliknya.
tantangan dalam tahun-tahun Dalam situasi tersebut Gereja-
terakhir ini, yaitu masalah gereja di Indonesia menghadapi
hubungan antar agama dan tugas berat untuk menghadirkan
masalah lingkungan hidup. diri kembali dengan secara pas.
Ada perubahan besar yang Tantangan yang muncul adalah
telah terjadi di Indonesia sejak bagaimana Gereja-gereja
jatuhnya pemerintahan Orde menghadapi hubungan antar
Baru. Munculnya Era Indonesia agama yang jelas-jelas telah
Baru mengakibatkan banyak sangat berbeda sifat dan nilai-
perubahan dalam hubungan nilainya sejak konflik dan
antar agama di Indonesia dan kekerasan antar agama merebak
dengan demikian juga di berbagai wilayah Nusantara.
perubahan sikap di kalangan Konflik antar agama di
Gereja-gereja. Harus diakui, Indonesia ini pada masa Orde
dalam kehidupan masyarakat di Baru biasanya diselesaikan cara
Indonesia, peranan Gereja-gereja tertutup dengan memberikan
dalam kehidupan sosial politik pengarahan, penyuluhan, dan
belumlah sesignifikan yang penyadaran lisan. Jargon

57
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

kerukunan antar umat beragama kesadaran bersama dan


dipaksakan oleh pihak penguasa, pengakuan bersama akan
yang memang mempunyai adanya hak dan kekuasaan dari
kekuasaan yang amat besar, masing-masing pihak
berdasarkan Pancasila sebagai (pembagian kekuasaan secara
satu-satunya azas berbangsa dan seimbang). Ini merupakan
bernegara yang menjadi pendekatan yang dianggap lebih
platfrom yang diakui bersama, baik, meskipun bisa diragukan
untuk menyelesaikan konflik. kefektifannya, manakala eskalasi
Dengan demikian yang terjadi konflik sudah sampai pada tahap
adalah suatu bentuk kekerasan bersenjata yang begitu
penyelesaian kompromi semu, parah seperti yang terjadi di
tidak demokratis, dan Maluku Utara.
dipaksakan untuk harmonis oleh Yang jelas, situasi konflik tetap
penguasa ini justru mendorong potensial pada hubungan antar
kedaulatan organisasi agama di Indonesia. Pada
keagamaan ke titik nadir dan dasarnya sektarianisme agama
mengangkat kekuasaan negara berpijak pada kesadaran bahwa
ke titik zenit yang absolut seolah-olah hanya agama yang
(Suwondo, 1999: 204-206). dianutnyalah yang paling benar.
Pada masa pemerintahan Gus Menurut Sumartana hubungan
Dur saat ini, telah muncul konfrontatif antar agama yang
pendekatan yang berbeda. berbeda akan membawa akibat
Pemerintah mulai membiarkan yang bertentangan dengan
interaksi dan konflik antar seluruh misi agama, dan akan
agama terjadi secara wajar dan “menikam dari belakang”
demokratis tanpa harus diatur, seluruh panggilan kemanusiaan
diarahkan dan diawasi. Pihak yang luhur dari agama. Agama
penguasa hanya melakukan akan cenderung menolak
kontrol terhadap adanya kehadiran agama lain,
tindakan yang melanggar “menobatkannya”, bahkan kalau
hukum, karena konflik dianggap punya kekuasaan akan
sesuatu yang alamiah dan dapat mengeliminasi agama lain. Pola
terjadi di mana saja dan kapan pikir semacam ini selalu muncul
saja. Dengan demikian dari semua institusi keagamaan,
diharapkan interaksi dan konflik walaupun dengan intensitas
yang lebih demokratis, akan yang bervariasi (Sumartana,
lebih diusahakan sedemikian 1994: 72-73).
rupa dan memunculkan

58
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

Jelaslah, tantangan yang dunia saat ini menghadapi krisis


mendesak Gereja-gereja adalah keadilan-ekologis tersebut, yang
untuk mengikis pandangan- pada dasarnya terdiri dari dua
pandangan yang secara fanatik proses global yang saling
menganut pola pikir di atas, dan bergantung: degradasi
memupuk kesediaan untuk lingkungan alam, dan
menonjolkan panggilan kemiskinan yang mendehuma-
kemanusiaan yang luhur dari nisasi kehidupan disebabkan
agama itu sendiri. Dengan oleh ketidakadilan sosial yang
demikian Gereja perlu masif.13
mengubah praktek Pembahasan isu ekologi dalam
pendampingan pastoral yang pendampingan pastoral cukup
tidak sehat dalam penting untuk situasi di
pengembangan solidaritas Indonesia masa kini. Isu ini
kehidupan keberagamaan merupakan titik pijak bersama
bersama dan mengembangkan yang diakui sebagai isu
paradigma baru yang dapat signifikan oleh berbagai pihak:
menjawab tantangan di atas. kelompok agama, pengambil
Isu kedua yang dihadapi oleh kebijakan publik, LSM, dsb. Isu
pendampingan pastoral di ini bisa menjadi platfrom untuk
Indonesia pada tahun-tahun mambangun pendampingan
terakhir ini adalah mengenai pastoral yang lebih relevan dan
masalah lingkungan hidup. Di berkaitan dengan isu hubungan
tataran internasional kesadaran antar agama yang sudah kita
mengenai ekoteologi sudah bahas tadi. Pendampingan
sedemikian berkembang. Namun pastoral masa kini perlu
dalam perkembangan menjawab tantangan untuk
pendampingan pastoral, hal ini memasukkan dimensi krisis
masih merupakan isu yang baru. keadilan ekologis ini dalam
Isu ekologi dan kaitannya paradigmanya.
dengan pendampingan pastoral Sebagai kesimpulan, agaknya
sudah didiskusikan oleh pendampingan pastoral di
Howard Clinebell, teolog Indonesia menuju
Amerika Utara yang dianggap perkembangan ke arah upaya
sebagai tokoh yang paling untuk mampu menjawab
berpengaruh dalam tantangan-tantangan yang
pengembangan disiplin ilmu semakin bersifat kontekstual dan
pendampingan pastoral publik. Hal ini rupanya paralel
kontemporer, mengingat bahwa dengan situasi yang berkembang

59
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

di dataran Internasional. Kutipan Pendampingan pastoral adalah


dari Larry Graham di bawah ini upaya integratif komunitas
dapat memperjelas hal tersebut: Kristen yang bergumul bersama-
sama dengan komunitas umat
In the last fifteen years, pastoral lain di tengah-tengah
theology has discovered social and keprihatinan masa kini yang
cultural “location”, and has gone muncul dalam situasi sosial
contextual and “public”. Through politik, budaya dan lingkungan
the rise of feminist and womanist hidup mereka dengan tujuan
consciousness … family therapy untuk mengurangi akibat dosa
and other systems analysis, dan penderitaan, dan
intercultural conversations with mentransformasi hidup sesuai
pastoral caregivers around the dengan harkat kemanusiaan.
globe, liberation and other political
theologies, the ecological crisis, and Ada beberapa elemen penting
greater clarity about a variety of dalam definisi tersebut:
oppressive sructures, the field of A. Pendampingan pastoral
pastoral theology and care have
dideskripsikan sebagai
expanded its theory and practice to
interpret and engage the larger upaya, sebab memang
world. Indeed, Bonnie Miller- penting untuk menekankan
McLemore, one of the leaders in the hakekat pendampingan
field, characterizes pastoral care and pastoral yang sangat praktis
counseling as moving from atau “operation-centred”
exclusive focus upon “living human (Pattison, 1988: 14). Tanpa
document” to attend also to the
harus terjatuh dalam bahaya
“living human web”.14
pragmatisme pastoral di
7. PROPOSAL PEMAHAMAN antara para pekerja pastoral
BARU PENDAMPINGAN yang menunjukkan seolah-
PASTORAL olah pendampingan pastoral
Bertolak dari perkembangan di hanya sekedar aktivisme15
atas, barangkali satu definisi tanpa refleksi mendalam,
yang dapat disusun untuk kita menolak kecenderungan
membantu mencari jalan ke lain kepada kepasifan dan
masa depan untuk memiliki nir aksi yang justru sering
pendampingan pastoral yang menjadi gambaran
mampu menjawab tantangan- menyedihkan dari kualitas
tantangan jaman seperti di atas pelayanan pastoral gereja-
adalah sebagai berikut: gereja di Indonesia secara
umum.16

60
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

B. Pelaksana pendampingan lebih merupakan fasilitator,


pastoral juga ditegaskan, di mana partisipasi dan
yaitu ‘Komunitas Kristen,’ bahkan kendali akan
bukan hanya diusahakan sedapat-
elite/pemimpin jemaat saja. dapatnya di tangan warga
Dalam pemahaman jemaat.
semacam ini pendampingan C. Istilah ‘komunitas Kristen’
pastoral merupakan mengandung pengertian
bentuk/praksis dari proses yang luas. Ada 4 level
'berteologi praktika' oleh tercakup di dalamnya: 1)
segenap umat beriman perorangan/ individu
(bukan sekedar ‘pastoral’ Kristen (karena individu
dalam arti sempit yang adalah sistem yang
berpusat pada kompleks dengan kisah
pastor/pendeta), yang hidupnya yang unik, yang
menangani strategi-strategi merupakan akumulasi dari
gereja dalam menciptakan interaksinya dengan orang
dan mempengaruhi struktur- lain dan sebagai organisme
struktur pendampingan dari sub-bagian masyarakat);
dalam masyarakat, yang 2) sistem hubungan-
sebagian besar justru hubungan mendasar
sekuler. 17
Kalau demikian, (keluarga, teman-teman); 3)
bagaimanakah hubungan sistem hubungan yang lebih
antara umat dan pemimpin luas (tetangga, desa, negara,
umat? Hal itu akan dibahas kelas ekonomi, kelompok
secara khusus nanti, namun etnis, dsb); dan 4) Tuhan
untuk saat ini cukuplah (menunjuk kepada
ditegaskan bahwa apa yang “komunitas yang paling
dilakukan oleh para universal yang dapat
pemimpin dan teolog di dibayangkan oleh
gereja bukan lagi untuk seseorang” (Poling, 1983:
jemaat, melainkan, dalam 131-136). Dari empat level
konteks bersama-sama tersebut, yang paling
dengan jemaat. Pemimpin ditekankan dalam tulisan ini
jemaat bisa saja menjadi adalah komunitas Kristen
inisiator dalam sebuah dalam level jemaat gereja
proses, tetapi mereka pasti lokal tertentu atau orang-
tidak akan melaksanakannya orang Kristen pada daerah
sendiri, mereka akan selalu lokal tertentu. Dalam

61
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

pendampingan pastoral, justru di luar individu.


komunitas gereja lokal dan Sepanjang sejarah, para
komunitas orang-orang pendamping pastoral telah
Kristen lokal (dari berbagai berkali-kali menjumpai
gereja) adalah komunitas bahwa mau tidak mau diri
yang biasanya paling banyak mereka harus terlibat dalam
menghadapi isu-isu konkret permasalahan sosial politis
yang terjadi di tengah situasi yang menyangkut struktur-
sosial politik dan budaya struktur dan orang banyak
masyarakat luas. Meskipun sebagai salah satu bentuk
demikian, respons pribadi pelayanan yang paling
tertentu sebagai bagian dari penting dan effektif.
komunitas Kristen dan Pemakaian istilah “pastoral”
respons komunitas kristen yang luas cakupannya ini
pada level yang lebih luas menantang kecenderungan
pada level nasional, bahkan simplistik untuk
internasional, misalnya, menyamakan
tidak perlu dibuang. pendampingan pastoral
D. Cakupan atau ruang lingkup dengan konseling pastoral,
pendampingan pastoral suatu bahaya yang menjadi
bersifat luas: pelayanan yang ciri dari gerakan
tanggap terhadap situasi pendampingan pastoral di
sosial politik budaya di luar Amerika Utara pada tahun
batas ‘dinding-dinding 1960 an dan awal 1970 an,
gereja,’ dan bukan sekedar seperti yang sedikit telah
situasi hidup anggota jemaat disinggung di atas.
saja, meskipun tentu saja
tanpa mengabaikan Pendekatan yang ditekankan
pelayanan di dalam batas adalah pendekatan holistik yang
'dinding-dinding gereja' tadi. mengakui keterbatasan yang ada
Jelas pendampingan pastoral dalam berbagai disiplin ilmu dan
dengan cakupan meluas ini menekankan pentingnya dialog
tidak membatasi yang kritis dan mutual.
pendampingan pastoral Pendampingan pastoral bukan
kepada individu-individu penerapan dari teori-teori
saja. Banyak dosa, teologis (teori-ke-penerapan)
penderitaan, dan yang mengabaikan sumbangan
kemampuan untuk ilmu-ilmu humaniora/sosial18;
perubahan hidup berakar juga bukan pula didominasi oleh

62
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

ilmu-ilmu humaniora/sosial pertumbuhan yang sesuai


yang mengabaikan teologi sama dengan visi universal maupun
sekali (dari praksis ke teori)19; teologi Kristen. Visi teologis
melainkan hasil dialog mutual pendampingan pastoral ini perlu
kritis antara teologi dan ilmu- kita jelajahi lebih lanjut dalam
ilmu humaniora/sosial. Di mana bagian berikutnya.
praktek-praktek kultural (yang
dipahami melalui ilmu-ilmu 8. DASAR-DASAR TEOLOGIS
humaniora). PENDAMPINGAN PASTORAL
Tujuan pendampingan pastoral Pendampingan Pastoral bukan
dicoba untuk didefinisikan sekedar aktivisme yang
secara lebih menyeluruh. didasarkan kepada pengalaman
Pendampingan pastoral bertahun-tahun yang telah
bukanlah sekedar bersifat kuratif terbukti memberikan hasil yang
(untuk menyelesaikan positif. Pendampingan pastoral
masalah),20 seperti yang secara perlu merupakan hasil dari
keliru sering terlalu ditekankan proses berteologi praktika yang
oleh mereka yang menyamakan dilaksanakan oleh komunitas
pendampingan pastoral dengan Kristen yang mencoba setia
konseling pastoral. kepada panggilannya di dalam
Pendampingan pastoral perlu Yesus Kristus, menggumuli
merespon juga pertumbuhan keprihatinan-keprihatinan masa
yang positif, lebih bersifat kini iman mereka di tengah-
preventif (pencegahan) atau tengah konteks sosial, politik dan
melioratif (pemeliharan dan budaya mereka.
peningkatan yang sudah baik), Richard P. McBrien, seorang
seperti yang ditekankan oleh teolog Roma Katholik meng-
Howard Clinebell, dengan istilah uraikan suatu teologi pelayanan
“nurturing”nya.21 Jadi, yang melihat pelayanan dapat
pendampingan pastoral tidak dilakukan pada 4 level:
lagi terlalu terfokus pada 1. Umum/universal yaitu
“problem oriented.” Ia menjadi pelayanan yang dilakukan
“human oriented” secara lebih oleh setiap manusia
utuh. Ungkapan terhadap sesama manusia
“mentransformasi hidup sesuai yang membutuhkannya.
dengan harkat kemanusiaan” Suatu pelayanan yang
dalam definisi di atas ingin berakar pada
menekankan dimensi kemanusiaan/humanitas.
pertumbuhan ini, suatu Misalnya: demonstrasi

63
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

melawan senjata nuklir, Nya. Ini merupakan


membantu orang yang pelayanan yang ditetapkan
kelaparan, membantu oleh gereja, yang dilakukan
korban bencana alam, dsb. hanya oleh orang-orang
2. Umum/spesifik yaitu tertentu. Seorang Kristen
pelayanan untuk sesama yang mengunjungi orang
manusia yang dilakukan sakit atas prakarsanya
oleh profesi pertolongan sendiri, melakukan
seperti: perawat, pekerja pelayanan
sosial, bantuan hukum, Kristen/universal, tetapi
pengobatan, dsb. Pelayanan orang Kristen yang
ini berakar pada mengunjungi orang sakit
kemanusiaan, namun juga sebagai bagian dari tugasnya
kompetensi tertentu yang dalam Tim Visitasi Gereja,
membutuhkan validasi melakukan pelayanan
tertentu seperti lisensi Kristen/spesifik (McBrien,
keprofesionalan oleh yang 1987: 11-12).
berwenang. Pendampingan pastoral
3. Kristen/universal yaitu memang menerima, menghargai
pelayanan kepada sesama serta menjadi bagian dari naluri
yang dilakukan di dalam instinktif kemanusiaan untuk
Kristus dan oleh karena memperhatikan dan merawat
Kristus. Pelayanan ini sesama yang dikasihinya, yang
berakar pada baptisan setiap sedang menderita oleh karena
anggota gereja. Pelayanan suatu ancaman tertentu terhadap
umum/universal yang keberadaannya, baik sakit
dilaksanakan oleh seorang penyakit, kesedihan, kematian,
Kristen dapat dikatakan ketakutan, dsb. Secara konkret
merupakan pelayanan manusia saling menghibur dan
Kristen/universal ini jika saling meringankan rasa sakit.22
dilakukan dengan motif- Namun, pendampingan secara
motif Kristen secara naluriah kemanusiaan saja tidak
eksplisit. cukup, sebab: a) Gereja sebagai
4. Kristen/spesifik, yaitu institusi keagamaan memiliki
pelayanan untuk sesama di kekhususan yang berbeda dari
dalam Kristus dan oleh sekedar agen kemanusiaan lain;
karena Kristus, atas nama dan b) “tugas kebaikan secara
gereja dan demi membantu umum terhadap sesama
gereja melaksanakan misi- manusia” merupakan konsep

64
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

yang belum didefinisikan dan pastoral sebagai hasil dari upaya


tidak cukup tajam untuk mampu berteologi praktika juga harus
menjadi dasar yang didasarkan pada dasar yang
mengarahkan dan membimbing sama. Pendampingan pastoral
seluruh kegiatan Kristen yang menjadi bentuk atau ekspressi
diarahkan secara khusus untuk dari umat Kristen yang
pelayanan pastoral. Konsep melaksanakan kesetiaan mereka
tersebut lebih sekedar bersifat terhadap Kristus. Jelaslah,
reaktif dari pada proaktif - pendampingan pastoral bentuk
menanggapi kebutuhan manusia pelayanan pada level 3 dan 4
sewaktu kelihatan jelas bahwa dari penjelasan McBrien di atas.
hal-hal tersebut mulai menjadi Dalam perspektif teologis di
ancaman kehidupan, tetapi tidak atas, konsep proklamasi kerajaan
pernah sungguh-sungguh Allah di dalam dan melalui
prihatin untuk mencegah Yesus Kristus menjadi amat
menguatnya kebutuhan- penting untuk pendampingan
kebutuhan tersebut.23 pastoral. Yesus Kristus adalah
Pendampingan pastoral, kalau “pendobrakan yang menentukan
demikian, perlu didasarkan dari kerajaan Allah ke dalam
kepada motivasi dan keyakinan sejarah manusia” (Snyder, 1991:
iman Kristen yang justru melihat 147). Di dalam hidup, ajaran, dan
Yesus Kristus sebagai bentuk secara khusus: kematian dan
konkret pendampingan Allah kebangkitan Kristus, kerajaan
terhadap umat manusia. Allah telah didemonstrasikan
Mendasarkan diri pada motivasi dan dimanifestasikan di tengah-
dan keyakinan iman Kristen tengah sejarah. Kerajaan Allah
bukan berarti hanya kini hadir di tengah-tengah
“bersemangatkan” iman Kristen, sejarah dan terus bergerak dalam
melainkan dalam seluruh upaya- antisipasi mencapai
nya pendampingan pastoral kepenuhannya. “Gerakan sejarah
seharusnya didahului dengan menuju kulminasinya dalam
upaya berefleksi teologis Kristen kerajaan Allah adalah sebuah
yang kokoh. Eksistensi teologi gerakan yang mengikuti pola
Kristen didasarkan sepenuhnya kematian dan kebangkitan
pada realitas Yesus Kristus yang Kristus.”24
telah berinkarnasi, disalibkan, Gereja atau umat Kristen yang
dan bangkit, dan yang melaksanakan kesetiaan mereka
melaluinya kerajaan Allah telah terhadap Kristus, hidup pada
dinyatakan. Pendampingan masa kini di antara dua waktu

65
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

tadi: manifestasi kerajaan Allah keberadaannya secara khusus.


yang sudah hadir di tengah- Memang kita adalah produk dari
tengah sejarah di dalam diri masa lalu, dengan pengharapan
Yesus Kristus, dan kepenuhan dan ketakutan kita terhadap
kerajaan Allah yang masih masa depan, namun masa kini
mendatang. Gereja adalah realitas yang tidak dapat
melaksanakan kesaksian iman dibuang menjadi sia-sia.
dengan memperhatikan tiga Semuanya ini adalah untuk
dimensi kerajaan Allah tersebut: mengatakan bahwa
masa lalu dengan pernyataan pendampingan pastoral lebih
Allah yang normatif, masa berurusan dengan realitas “masa
depan dengan pengharapan kini.” Pendampingan pastoral
eskatologis terhadap kepenuhan merupakan wujud nyata “teologi
kebenaran Allah pencipta dan masa kini yang terbuka.” Ia
penyelamat, dan masa kini menjadi upaya berteologi
dengan perjumpaan (encounter) dengan perhatian utamanya
terhadap kuasa Allah yang adalah mengenali kehadiran
senantiasa memperbarui. Allah di dalam dan melalui
Dimensi masa kinilah yang keprihatinan-keprihatinan masa
menjadi perhatian terutama dari kini, yang berlokasi pada waktu
pendampingan pastoral. Godaan dan tempat yang khusus.
untuk mengurangi pentingnya Sebagai upaya “teologi masa
dimensi masa kini harus kini yang terbuka,” peranan
diwaspadai oleh gereja. Masa interpretasi teologis dalam
kini jangan sampai menjadi pendampingan pastoral menjadi
sekedar lanjutan/perluasan dari sesuatu yang amat krusial.
masa lalu, atau sekedar waktu Pendampingan pastoral
untuk pengulangan tradisi atau membutuhkan kemampuan
dogma tertentu. Masa kini juga umat Kristen untuk berefleksi
jangan sampai dianggap hanya mengenai eksistensi dan aksi-
titik awal dari masa depan, yang aksinya dalam hubungannya
tidak bermakna dibanding dengan kehadiran dan aksi Allah
cerahnya gambaran yang berkesinambungan dalam
pengharapan yang baru, atau sejarah (sejak dari aksi Allah
sesuatu yang akan lenyap begitu yang tergambar dalam Kitab
saja ke dalam keabadian. Masa Suci, melalui sejarah gereja
kini adalah kesempatan yang dengan tradisi-tradisinya,
diberikan oleh Allah untuk maupun masa kini dan masa
menjumpai manusia dalam yang akan datang). Dalam

66
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

hubungan antara umat Allah Kristus di tengah-tengah


dengan Allahnya tersebut kehidupan kita sebagai Sang
muncullah dua aspek: deskriptif Pemberi Makna dan Arah dalam
dan normatif. Yang deskriptif hidup kita. Jadi, inti
adalah kenyataan bahwa Allah pendampingan pastoral adalah
adalah pencipta dan dunia upaya teologis untuk terlibat
adalah karya penciptaan dan dalam realitas masa kini dengan
penyelamatan Allah. Yang bertanya: “Apakah hakekat
normatif adalah tuntutan agar eksistensi dan ketaatan Kristen
ciptaan Allah selalu berpaling di sini, pada situasi ini, kini, dan
kepada sang penciptanya. Di di tempat ini.”25 Pendampingan
antara yang what is dan what pastoral, meminjam ungkapan
ought inilah terletak dialektika Bonhoeffer bertanya: “Siapakah
hubungan manusia dengan Yesus Kristus sesungguhnya
Allah. Hubungan dialektis ini bagi kita, kini?”
adalah dialektika kasih. Allah, Karakter interpretatif dari
seperti yang dinyatakan di refleksi teologis yang mewarnai
dalam diri Yesus Kristus, adalah pendampingan pastoral seperti
Allah yang mengasihi dan digambarkan di atas menjadikan
karenanya menyelamatkan pendampingan pastoral sebagai
manusia. Sebagai jantung alam teologi hermeneutik. Pada titik
semesta ini, yang mengikat inilah pendampingan pastoral
semua relasi di dalamnya adalah sebagai respon umat Kristen
kekuatan kasih Allah. Jantung terhadap keprihatinan yang
teologi praktika pendampingan muncul di tengah situasi sosial
adalah justru dalam politik masyarakatnya, menjadi
keterbukaannya terhadap realita salah satu bentuk berteologi
masa kini dan perjumpaan kontekstual seperti yang menjadi
dengan Allah sebagai kasih. dambaan kita selama ini.26
Jelaslah, pendampingan pastoral Sambil menunggu munculnya
sebagai bagian teologi praktika teologi kontekstual yang lebih
tidaklah berarti teologi yang komprehensif di Indonesia,
berurusan hanya dengan hal-hal respons pendampingan pastoral
praktis. Ia merupakan teologi yang dipahami sedemikian ini
praktika bukan karena terutama diharapkan membantu umat
memperhatikan kebutuhan- Kristen untuk mengatasi
kebutuhan pragmatis, melainkan masalah kontektualisasi.27
karena ia mengarahkan kita
terutama untuk mengenali 9. PEMAMPU: PERANAN

67
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

UTAMA PEMIMPIN JEMAAT dan kualitas-kualitas personal


DALAM PENDAMPINGAN yang integratif. Dalam kaitan
PASTORAL MASA KINI inilah citra ‘pemempu’ menolong
Pemahaman pendampingan kita untuk menghayati peranan
pastoral yang menekankan kita.
bahwa pelaksananya adalah Sebagai pemampu berarti
seluruh komunitas Kristen dan Majelis Jemaat berperanan untuk
bukan hanya para melibatkan seluruh anggota
elite/pemimpin Gereja saja, komunitas, terutama mereka
mempunyai implikasi bahwa yang tersingkir seperti para jelata
peranan para pemimpin Gereja melarat, yang tertindas, ataupun
perlu dirumuskan lebih tajam. yang dieksploitasi oleh orang-
Dalam hal ini saya mangusulkan orang lain, agar mereka dapat
citra PEMAMPU.28 Citra dimampukan untuk
‘pemampu’ berkaitan erat melaksanakan tugas panggilan
dengan citra ‘komunitas’. Dalam mereka secara utuh sebagai
‘komunitas’ terkandung dimensi orang-orang yang beriman.
kepelayanan maupun dimensi Dengan demikian
pemuridan. Orang Kristen pendampingan pastoral menjadi
dipanggil untuk melayani sama “upaya pendampingan terhadap
seperti Kristus melayani, dengan suara-suara yang tak terdengar
tujuan membentuk ‘komunitas dari kehidupan pribadi maupun
orang-orang yang dikasihi komunitas demi transformasi
Tuhan’. Pembentukan komunitas iman yang berkesinambungan”
semacam ini membutuhkan gaya (Poling, 1991: 187).
pendekatan yang fasilitatif, tidak Pendampingan pastoral tidak
hierarkhis dan/atau otoriter, lagi dibatasi untuk para elite.
melainkan inklusif dan mawas Apa yang dilakukan oleh para
diri. Orang Kristen juga pemimpin dan teolog di Gereja
dipanggil untuk taat kepada bukan lagi untuk jemaat,
panggilan Tuhan dan mengambil melainkan, dalam konteks
resiko yang mungkin terjadi bersama-sama dengan jemaat.
dalam ketaatannya tersebut. Majelis jemaat bisa saja menjadi
Pembentukan komunitas yang inisiator dalam sebuah proses,
memiliki komitmen terhadap tetapi mereka pasti tidak akan
tujuan-tujuan yang seringkali melaksanakannya sendiri,
tidak mudah dibayangkan ini mereka akan selalu lebih
membutuhkan pendekatan yang merupakan fasilitator, di mana
menekankan kesetiaan, teladan, partisipasi dan bahkan kendali

68
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

akan diusahakan sedapat- pelayanan tersebut, memberikan


dapatnya di tangan warga orientasi dan pelatihan yang
jemaat. membantu warga jemaat yang
ingin terlibat dalam pelayanan
10. CITRA PEMAMPU DAN tersebut, serta membuat sistem
IMPLIKASINYA BAGI rujukan dan tindak lanjut yang
PENDAMPINGAN memadai.
PASTORAL INDIVIDUAL Jelas dibutuhkan internal-
Ada beberapa implikasi dari network yang cukup kuat untuk
citra pemampu sebagai melaksanakan semua tugas di
perwujudan paradigma baru atas, namun juga external-network
pendampingan pastoral, yang memadai untuk mampu
meliputi pendampingan pastoral menjawab kebutuhan dan
individual, pendampingan tantangan yang akan muncul
pastoral komunitas, maupun dalam pelayanan semacam itu.
pendampingan pastoral External-network tersebut
masyarakat luas. Dalam seyogyanya merupakan kerja
pendampingan pastoral sama oikumenis dengan gerja-
individual implikasinya sebagai Gereja lokal lain maupun dengan
berikut: lembaga-lembaga pelayanan
Majelis Jemaat pelu menstruk- masyarakat (Kristen maupun
turkan pengalaman jemaat agar non-Kristen) lainnya.
mereka bertumbuh dalam kesa- Pemimpin Jemaat tidak hanya
daran, kesediaan dan menolong dan memampukan
kemampuan mereka untuk warga jemaat utnuk melakukan
melaksanakan pendampingan pendampingan pastoral, tetapi
pastoral satu terhadap yang lain mereka sendiri perlu terlibat
(peer-caring/peer-counseling). secara pribadi dalam
Bentuk konkret dari hal ini pelaksanaan program visitasi
berupa: komunikasi mengenai yang terpadu.29 Masih
kebutuhan pelayanan yang dibutuhkan kehadiran diri
muncul di antara jemaat, Gereja dan majelis jemaat selaku
membentuk tim visitasi pastoral eksemplaris atau teladan,
yang kuat, menginformasikan khususnya secara moral dan
keberadaan tim tersebut kepada spiritual. Teladan semacam ini
jemaat, menolong warga jemaat merupakan kunci kesuksesan
untuk menyadari karunia dan pelaksanaan pelayanan pastoral
kemungkinan (pelayanan) yang jemaat.30
dapat mereka lakukan dalam

69
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

11. CITRA PEMAMPU DAN kontekstualisasi ritual slametan


IMPLIKASINYA BAGI 3, 7, 40, 100, dan 1000 hari
PENDAMPINGAN meninggalnya seorang anggota
PASTORAL KOMUNITAS keluarga dalam tradisi Jawa,
JEMAAT akan sangat bermanfaat bagi
Banyak dari pelayanan ini akan pendampingan pastoral.
bertumpang tindih dengan komunitas.31 Selain menggumuli
pendampingan pastoral ritual-ritual kehidupan yang
individual, tetapi kesehatan belum ‘diibadahkan’ di Gereja
secara kolektif mempunyai atau yang belum dimanfaatkan
demensi lain yang bagi pendampingan pastoral,
membutuhkan penanganan Majelis Jemaat barangkali juga
khusus. Ada beberapa hal bisa perlu menggumuli tahap-tahap
dikemukakan dalam kerangka kehidupan tertentu yang belum
ini. direspons dengan ritual tertentu.
Pendampingan pastoral Misalnya: di sebuah Gereja USA
komunitas berhubungan secara ada ibadah pengucapan syukur
dialektis dengan ritual-ritual mendapatkan SIM mengendarai
dalam kehidupan yang dalam mobil untuk pertama kali,
kehidupan berjemaat biasanya karena hal itu merupakan
ditampung dalam bentuk peralihan tahap kedewasaan
ibadah-ibadah tertentu. Fungsi- tertentu yang dirasakan cukup
fungsi pendampingan dijalankan signifikan oleh para warga
melalui ritual baik untuk jemaat. Dalam pergumulan-
memberikan ketertiban, pergumulan ini citra Majelis
menguatkan makna, Jemaat sebagai pemampu amat
memberikan ikatan kesatuan menentukan, karena
sebagai komunitas, menangani kontekstualisasi yang berhasil
ambivalensi kehidupan, maupun memiliki kunci: kepekaan
untuk menghadapi misteri hidup terhadap bentuk-bentuk religius
(Ramshaw, 1987: 22-54). Majelis populer dari rakyat. Warga
Jemaat perlu menggumuli jemaatlah pelaku utama dalam
kembali seberapa jauh ritual- berrefleksi, yang paling dapat
ritual yang ada telah difungsikan menghayati mana-mana bentuk
dalam pendampingan pastoral yang perlu dikontekstualisasikan
komunitas. Perhatian secara dan mana-mana tahap
khusus perlu diberikan untuk kehidupan yang perlu direspons
ritual-ritual tahap kehidupan (life melalui ritual tertentu (cf.
cicle). Sebagai contoh: upaya Schreiter, 1993: 202ff).

70
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

Jelaslah, perlu kerja sama membantu proses keakraban dan


antara Majelis Jemaat dengan saling memperhatikan satu sama
segenap warga untuk merancang lain.
ibadah yang tepat, dengan
pemakaian simbol, tindakan, 12. CITRA PEMAMPU DAN
ritus, dsb yang benar-benar akan IMPLIKASINYA BAGI
bermakna dan membantu PENDAMPINGAN
pertumbuhan hidup beriman PATORAL MASYARAKAT
warga jemaat. Ibadah umat Pendampingan pastoral
menjadi benar-benar ‘crucial terhadap masyarakat luas
event’ dalam kehidupan jemaat, bermaksud menghadirkan
di mana pendampingan Roh Kerajaan Allah di tengah-tengah
Kudus terhadap jemaat Tuhan dunia. Gereja sebagai institusi
ditawarkan. melibatkan diri di tengah-tengah
Kotbah adalah saluran kehidupan masyarakat umum
pendampingan pastoral yang dan memiliki keprihatinan
amat penting. Majelis Jemaat terutama terhadap nasib mereka
perlu membantu dengan serius yang marginalized, melarat, dan
bagaimana hal ini dapat menderita (Cf. Banawiratma,
terwujud. 32
Majelis Jemaat 1990: 25-44). Keterlibatan ini
diharapkan bukan hanya tidak meniadakan keterlibatan
pemampu bagi warga jemaat, secara aktif anggota-anggotanya
tetapi juga pemampu bagi para secara individual yang bagaikan
pengkotbah/pendeta, agar ‘garam mengasinkan dunia’ di
mereka benar-benar dapat tengah-tengah pelayanan bagi
melaksanakan tugas dengan sesamanya.
sebaik-baiknya. Dalam pendampingan pastoral
Kelompok kecil baik kelompok terhadap masyarakat luas di
persekutuan doa atau kelompok tengah situasi sosial-politik-
bible-study di luar ibadah Minggu budaya yang khas, yang
biasanya jauh lebih ditekankan adalah isu-isu pokok
memungkinkan jemaat untuk setempat/lokal, tanpa
melakukan pendampingan meninggalkan kemungkinan
pastoral. bahwa Gereja setempatpun bisa
Acara-acara kekeluargaan yang membantu untuk menghadapi
mengundang anggota-anggota masalah-masalah pada level
Gereja yang biasanya justru nasional yang seyogyanya
kurang saling mengenal satu dihadapi melalui jaringan kerja
sama lain, akan sangat pada level nasional (PGI, KWI,

71
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

dsb). Di lain pihak, kerap kali di daerahnya dan lemahnya


isu-isu lokal tertentu perlu pelaksanaan tugas aparat
diangkat pada level nasional dan keamanan? Bagaimana dengan
jaringan kerja pada level lemahnya kesadaran masyarakat
nasional lebih banyak mengenai lingkungannya? dan
membantu. Apa implikasi dari masih banyak lagi.
citra pemampu bagi Untuk mampu ‘melihat’, warga
pendampingan pastoral perlu distrukturkan malalui
masyarakat semacam ini? Ada pengalaman tertentu.33 Proses
beberapa hal yang dapat konsientisasi ini menjadi
dikemukakan. tanggung jawab majelis jemaat.
Pemimpin jemaat perlu Yang dapat dilakukan oleh
membantu warga jemaat untuk Majelis Jemaat adalah mengajak
benar-benar terlibat dalam warga jemaat bersama-sama
realita situasi sosial-politik- menggumuli prioritas pelayanan
budaya masyarakat di sekitarnya bersama tersebut, memfasilitasi
dan ‘melihat‘ adanya kebutuhan proses tersebut secara terencana
pelayanan tertentu. Dalam dengan berbagai informasi
masalah AIDS misalnya, berapa (kultural maupun teologis)34
banyakkah Gereja lokal kita yang yang akan membantu warga
melihat pentingnya pelayanan jemaat bersama-sama ikut dalam
terhadap korban/ penderita proses berteologi, dan
AIDS dan memberikan pelatihan penyusunan program aksi
konseling untuk menyambut pastoral yang dapat menjawab
boom penderita AIDS di tantangan pelayanan tersebut.
sekitarnya, bahkan di antara Apabila jemaat bersama-sama
warga jemaat sendiri? Contoh telah melihat prioritas pelayanan
lain: bagaimana Gereja tertentu yang menjadi visi dan
menanggapi penggusuran para tanggung jawab mereka,
pedagang kecil untuk proyek pemeliharaan selanjutnya dari
pembangunan supermarket visi itupun membutuhkan
raksasa yang masuk di kota peranan Majelis Jemaat. Sebagai
mereka? Atau terhadap suatu kesatuan, komunitas
lingkungan yang tandus yang jemaat secara kolektif perlu terus
menyebabkan sebagian besar menerus memelihara visi moral
warga melaksanakan urban teologis yang melandasi
musiman menjadi kuli di kota kehidupan, kesaksian dan
lain? Bagaimana Gereja lokal pelayanan mereka bersama-
menanggapi brutalnya penjahat sama.35 Misalnya, kalau jemaat

72
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

memutuskan pelayanan pendampingan pastoral yang


terhadap kelompok manula di makin meluas membutuhkan
kota tersebut merupakan visi Majelis Jemaat yang juga mampu
utama jemaat, maka tugas menghayati perannya yang
Majelis Jemaat adalah membantu meluas, meliputi tiga aspek
agar teologi manula menjadi visi pelayanan baik di dalam
moral yang kuat untuk maupun di luar dinding-dinding
malandasi pelayanan tersebut. Gereja: aspek individual,
Sebelum ada pelayanan terhadap komunitas, dan masyarakat luas.
kelompok pemuda Dalam pelayanan pendampingan
pengganguran harus ada teologi pastoral yang menyeluruh itu,
pemuda dan teologi kerja yang citra sebagai pemampu
kuat. Sebelum melayani krisis- merupakan citra yang
krisis rumah tangga yang diharapkan menjadi dasar
menjamur jelas diperlukan identitas Majelis Jemaat.
teologi pernikahan dan rumah
tangga Kristen yang memadai, DAFTAR PUSTAKA:
dst. Abineno, J. L. Ch. (1993): Pedoman
Sekali lagi kebutuhan terhadap Praktis Untuk Pelayanan Pastoral.
jaringan-jaringan kerja yang Jakarta: BPK Gunung Mulia.
bersifat oikumenis sangat _______. (1968): Sekitar Theologia
ditekankan. Ketrampilan Praktika. Volume 1. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.
profesional untuk membentuk,
Adams, Jay. (1970): Andapun Boleh
memelihara, dan
Membimbing. Malang: Gandum Mas.
mengembangkan agar jaringan-
Banawiratma, J. B. (1988): “Teologi
jaringan kerja semacam itu terus
Fungsional-Teologi Kontekstual”
berfungsi dengan effektif dalam Konteks Berteologi di indonesia.
merupakan tuntunan yang Diedit oleh Eka Darmaputera.
makin menguat untuk pelayanan Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Majelis Jemaat di masa-masa Banawiratma, J. B. and Tom Jacobs.
mendatang. (1989): “Doing Theology with Local
Resources’. East Asian Pastoral Review.
13. KESIMPULAN 26:1.
Makalah ini mencoba menggali Banawiratma, J. B. dan J. Muller.
keluar perkembangan pendamping- (1993): Berteologi Sosial Lintas Ilmu.
an pastoral di Indonesia dan Yogyakarta: Kanisius.
bagaimana implikasinya bagi Berinyuu, Abraham Adu. (1992):
peranan Majelis Jemaat dalam “Change, Ritual, and Grieft:
pendampingan pastoral. Konsep Continuity and Discontinuity of

73
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

Pastoral Theology in Ghana”. The Holland, Joe and Peter Henriot.


Journal of Pastoral Care. 46:2. (1980): Social Analysis: Linking Faith
Bon-Storm, M. (1976): Apakah and Justice. New York, Maryknoll:
Penggembalaan Itu? Jakarta: BPK Orbis York.
Gunung Mulia. Janssen, P. (1976): Tehnologi
Browning, Don S. (1976): The Pastoral. (Malang: Institute Pastoral
Moral Context of Pastoral Care. Indonesia.
Philadelphia: Westminster Press. Janssen, P. (1984): Pengantar
Clebsch, William R. dan Charles R. Pekerjaan Pastoral. Malang: Institute
Jaekle. (1964): Pastoral Care in Pastoral Indonesia.
Historical Perspective. Englewood Judo Poerwowidagdo. (1994):
Cliffs: Prentice Hall. Towards the 21st Century: Challenges
Clinebell, Howard. (1993): and Oportunities for Theological
“Healing Persons/Healing the Earth Education. Geneva: World Council
-- Pastoral Care Givers Respon to of Churches.
the Eco-justice Crisis”. Dalam Kennedy, William B. (1981):
Pastoral Care and Counseling in “Learning in, with, and for the
Pluralistic Society. Diedit oleh Church: the Theological Education
Mesach Kristeya. Proceeding of 5th of the People of God”. Union
Asia Pasific Conference on Pastoral Seminary Quarterly Review 36.
Care and Counseling, Bali. Kennedy, William B. (1992):
Clinebell, Howard. (1996): Echo- “Towards an Educational Paradigm
therapy, Healing Ourselves, Healing the for Practical Theology”, Ministerial
Earth. Minneapolis: Fortress Press. Formation 56.
Cooley, Frank L. (1981): The Nababan, S. A. E. (ed). (1971):
Growing Seed: The Christian Church in Pergumulan Rangkap. Jakarta:
Indonesia. Jakarta: Dewan Gereja- Sekretariat Umum Dewan Gereja-
gereja di Indonesia. gereja di Indonesia.
Darmaputera, Eka. (1999): “Gereja Poling, James N. (1991): The Abuse
Mencari Jalan Baru Kehadirannya: of Power. Nashville: Abingdon.
Melawan Konflik Diri, Menghadapi Poling, James E. and Donald E.
gerakan Eksternal (Krisis Gerakan Miller. (1985): Foundation for a
Oikumenis di Indonesia dan Practical Theology of Ministry.
Dampaknya)”. Penuntun 4:14. Nashville: Abingdon.
Foskett, John dan David Lyall. Simatupang, T. B. (1982): “Doing
(1988): Helping the Helpers: Super- Theology in Indonesia Today”.
vision and Pastoral Care. London: Bulletin of the Commission on
SPCK. Theological Concerns. 3:2.
Green, Laurie. (1990): Let’s Do _______. (1967): Tugas Kristen
Theology. London: Mowbray. Dalam Revolusi. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.

74
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

Sormin, Poltak (1974): Fungsi Disampaikan sebagai bahan diskusi dalam


Seminar di ICDS, Bandung, 17 Oktober 2000.
Theologia Praktika dan Oraktika 2
Pendeta GIA Weleri, pengajar paruh waktu
Theologia Dalam Pembinaan Umat di STT Abdiel dan ICDS Bandung dan
Yang Dewasa. Jakarta: BPK Gunung Jakarta.
3
Mulia. Pentahapan ini mengacu dan
mengembangkan lebih lanjut pentahapan
Steenberink, Karel A. (1989): yang saya lakukan dalam Phan Bien Ton,
“Indonesian Churches 1978-1984: Rethinking the Nature of Practical
Theology in the Indonesian Context, Tesis
Main trends, issues and problem”. M.Th., (Sydney College of Divinity, 1993): 11-
Exchange 54. 92.
4
Struktur hubungan seperti ini dapat dilihat
Sumartana, Th. (1982): “A dalam buku Colin W. William, What in the
Personal Reflection”. Bulletin of the World, (New York: NCCUSA, 1965): 42.
Commission on Theological Concerns.
5
M. Bon-Storm, Apakah Penggembalaan
3:2. Itu? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1976): 23.
Definisi ini amat dipengaruhi oleh pandangan
Suwondo, Kutut. (1999): “Gereja Eduard Thurneysen, seorang teolog Jerman.
dalam Konflik dengan Agama- Cf. Eduard Thurneysen, A Theology of
Pastoral Care, (Richmond: John Knox Press,
agama Lain”. Penuntun 4:14. 1962) sebagai berikut:
Thurneysen, Eduard. (1962): A a. Mencari dan mengunjungi anggota
jemaat satu persatu.
Theology of Pastoral Care. Richmond: b. Mengkabarkan Firman Allah kepada
John Knox Press. mereka, dalam situasi hidup mereka
pribadi.
Ton, Phan Bien. (1993): Rethinking c. Melayani mereka sama seperti
the Nature of Practical Theology in the sekiranya Yesus melayani mereka.
Indonesian Context. Tesis M.Th. d. Supaya mereka lebih menyadari akan
Sydney College of Divinity. iman mereka, dan dapat mewujudkan
iman itu dalam hidupnya sehari-hari.
van Beek, Aart Martin dan Totok 6
Contoh dalam bidang konseling pastoral
S. Wiryasaputra. (1984): yang memakai pendekatan teori ke aplikasi
dipopulerkan di kalangan Injili bahkan
Mendampingi Orang Sakit. menolak sumbangan ilmu-ilmu humaniora
Yogyakarta: R. S. Bethesda. sama sekali, seperti “Nouthetic Counseling”
_______. (1988): “In Pursuit of nya Jay Adams. [Lihat Jay Adams, Andapun
Boleh Membimbing, (Malang: Gandum Mas,
Wholeness: the Birth of Clinical 1970)] Ini tidak berarti bahwa pendampingan
Pastoral Education in Indonesia”. pastoral dan konseling pastoral dari kelompok
ini menjadi kehilangan makna sama sekali
Asia Journal of Theology 2
(contoh: pelayanan World Vision;
William, Colin W. (1965): What in Compassion; Doulos Ministries; RSK Baptis,
the World. New York: NCCUSA. dll).
7
J. B. Banawiratma, “Teologi Fungsional-
Yewangoe, A.A. (1987): Theologia Teologi Kontekstual”, dalam Eka
Crusis di Asia. Jakarta: BPK Gunung Darmaputera (ed), Konteks Berteologi di
Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
Mulia. 1988): 47-64. J. B. Banawiratma and Tom
Jacobs, “Doing Theology with Local
Resources’, East Asian Pastoral Review,
------- 26:1 (1989): 51-72. Metode ini sebagai
1
Diolah kembali dari bahan yang pernah pengembangan dari apa yang dijelaskan
disampaikan dalam Konvensi I dan Konggres dalam tulisan Joe Holland and Peter Henriot,
Nasional I Asosiasi Pastoral di Indonesia Social Analysis: Linking Faith and Justice,
(API), Bandungan, 27-28 Juli 1993. (New York, Maryknoll: Orbis York, 1980).

75
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

8
Lihat P. Janssen, Tekhnologi Pastoral, praktek-praktek kultural (yang dipahami
(Malang: Institute Pastoral Indonesia, 1976): melalui ilmu-ilmu humaniora) bukan hanya
Bab 1. merupakan sumber pertanyaan yang harus
9
Janssen menulis” “Pastoral dalam arti dijawab oleh teologi, melainkan juga
dewasa ini bukan bimbingan pastor terhadap berpotensi sebagai pembangkit jawaban
umatnya sendiri, bukan penggembalaan alternatif. Praktek-praktek kultural harus
domba-domba Kristus, melainkan dikritik oleh teologi pastoral kita, akan tetapi
penggembalaan umat manusia dalam di pihak lain, teologi pastoral harus bersedia
perkembangannya oleh Gereja Kristus juga dikritik oleh praktek-praktek kultural.
dengan mewujudkan terus menerus bentuk Lihat Phan Bien Ton, Rethinking, 104-105.
12
persekutuan hidup yang dibutuhkan oleh Darmaputera mensinyalir bahwa gereja di
situasi dan kondisi perubahan jaman” Indonesia makin tidak populer, makin
(Pengantar Pekerjaan Pastoral, (Malang: dicurigai, disikapi dengan kebencian, dan
Institute Pastoral Indonesia, 1984): 11. antipati serta kehadirannya makin dianggap
10
Lihat John Foskett dan David Lyall, tidak berarti. Peran sosial gereja makin
Helping the Helpers: Supervision and bersifat “hadiah” dan “simbolis” belaka dari
Pastoral Care, (London: SPCK, 1988): 45- para pengambil keputusan di negeri ini,
47. Lihat juga J.L. Ch. Abineno, Pedoman bahkan gereja makin menuju ke arah
Praktis Untuk Pelayanan Pastoral, (Jakarta: irrelevansi total. Baca Eka Darmaputera,
BPK Gunung Mulia, 1993): 29-34. Model “Gereja Mencari Jalan Baru Kehadirannya:
psikologi terapan ini disebut oleh Abineno Melawan Konflik Diri, Menghadapi gerakan
dengan istilah: “pelayanan pastoral sebagai Eksternal (Krisis Gerakan Oikumenis di
konseling pastoral”. Definisi pastoral dalam Indonesia dan Dampaknya)”, Penuntun 4:14
pendekatan ini adalah sebagai berikut: (1999): 191-197.
13
“upaya pertolongan yang dilaksanakan oleh Howard Clinebell, “Healing
orang-orang Kristen yang representatif, Persons/Healing the Earth – Pastoral Care
dengan tujuan untuk kesembuhan, Givers Respon to the Eco-justice Crisis,”
penopangan, bimbingan, dan pendamaian dalam Mesach Kristeya (ed.) Pastoral Care
orang-orang yang mengalami masalah yang and Counseling in Pluralistic Society,
th
timbul dalam konteks makna dan keprihatinan (Proceeding of 5 Asia Pasific Conference on
yang ultima”. Definisi ini berasal dari William Pastoral Care and Counseling, Bali, 1993):
R. Clebsch dan Charles R. Jaekle, Pastoral 41-74. Juga bukunya: Echotherapy,
Care in Historical Perspective, (Englewood Healing Ourselves, Healing the Earth,
Cliffs: Prentice Hall, 1964): 4. Definisi ini (Minneapolis: Fortress Press, 1996).
14
sementara memperlihatkan model Larry Graham, “Pastoral Theology as
pendekatan yang berbeda dari definisi Bons- public theology in relation to the clinic”,
Storm, ternyata memiliki keterbatasan yang unpublished paper, 1999, cited in Ronaldo
serupa dengan definisi Bons-Storm pada Sathler-Rosa, “Pastoral Action in a Contextof
masalah ruang lingkup dan pelaksana Economic Slavery and Cultural Apathy”,
pendampingan pastoralnya. Unpublished paper in the 6th International
11
J. B. Banawiratma dan J. Muller, Congress on Pastoral Care and Counseling,
Berteologi Sosial Lintas Ilmu, (Yogyakarta: Accra, Ghana, 1999, p.7.
15
Kanisius, 1993). Model ini menekankan Mengomentari tentang aktivisme di
bahwa teori teologik dan praksis kalangan pekerja pastoral, Alistair
berhubungan sedemikian rupa secara V.Campbell, teolog dari Inggris, menuliskan
dialogis, sehingga praksis tidak hanya bahwa pelayanan pastoral bukan sekedar
mengaplikasikan teori, dan sebaliknya praksis melaksanakan pekerjaan-pekerjaan baik
tidak membuang teori, melainkan keduanya dengan tehnik-tehnik yang canggih.
berfokus bersama dalam pokok pergumulan Pendampingan pastoral menuntut para
tertentu. Metode korelasi sudah dikenal sejak pendamping menjadi orang yang
Paul Tillich memperkenalkannya. Akan berkepribadian khusus, bukan sekedar orang
tetapi, metode korelasi Tillich masih sangat yang dilatih sangat profesional (yang penting
bersifat teori-ke-aplikasi: teori teologi bukan apa yang dilakukan, tetapi orangnya).
dikorelasikan dalam arti diaplikasikan sebagai Lihat Rediscovering Pastoral Care. 2nd
jawaban terhadap pertanyaan yang muncul edition. (London: Darton, Longman & Todd,
dari situasi. Metode korelasi yang sekarang 1986), h.15-16.
16
berkembang lebih mengikuti revised Ada kritik kuat bahwa gereja di Indonesia,
correlation model ala David Tracy, di mana terutama gereja-gereja lokal sering terlalu

76
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

sibuk hanya dengan pelayanan pastoral khaostik dan berkarya untuk menyela-matkan
terhadap anggota-anggotanya sendiri dan dan membebaskan (Kejadian 1:1-2). Dikutip
kurang siap untuk menanggapi situasi sosial oleh Totok S. Wiryasaputra, "Pengertian
yang terjadi di sekitarnya. Pelayanan LSM Dasar tentang Konseling Pastoral", Buletin
dirasakan lebih banyak menyentuh Holistik, No.2, 1988, 42-47.
23
kepentingan masyarakat luas. cf. Sutarno, Cf. Robert Kysar, Called To Care: Biblical
"Kesaksian Kristen dalam Masyarakat Images for Social Ministry. (Minneapolis:
Pancasila", Umat Baru, 163, Februari, 1995, Augsburg Fortress, 1991), p.vii
h.22-28. 24
Seperti dikutip oleh Howard A.Snyder,
17
Cf: Don S. Browning, "Mapping the Terrain Models, 147.
of Practical Theology, toward a Practical 25
Cf. Paul H. Ballard, "The Form of Practical
Theology of Care", Pastoral Psychology, 36, Theology", in Ministry, Society and Theology,
1, Fall, 1987, 10-28. Vol.5, No. 2, November, 1991, 60.
18
Ilmu-ilmu sosial lebih menunjuk pada 26
Eka Darmaputera menyatakan bahwa
sosiologi, dan barangkali, ilmu politik. salah satu masalah utama konteksualisasi
Sedangkan "ilmu-ilmu humaniora" lebih adalah masalah hermeneutik. Cf. "Menuju
bersifat inklusif dan mencakup suatu wilayah Teologi Kontektual di Indonesia", dalam Eka
studi yang luas meliputi disiplin psikologi, darmaputera (ed.), Konteks Berteologi di
sosiologi, antropologi, hukum, ilmu politik, Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
dan sejarah. 1988), 11.
19
Tokoh terkemuka yang dianggap 27
Harus diakui bahwa di Indonesia belum
mempelopori pendekatan ini dalam bidang muncul bentuk teologi kontekstual yang
pastoral adalah Seward Hiltner yang cukup kuat dibandingkan dengan, misalnya,
berpandangan bahwa materi untuk teologi Minjung di Korea Selatan, teologi Dalit
pemahaman teologis tidak disediakan oleh di India, dsb.
kebenaran teoretik atau pernyataan- 28
Istilah ini belum populer di kalangan gereja,
pernyataan dogmatik, melainkan harus dicari tetapi sudah mulai dikenal dan diterima di
melalui studi kasus pelayanan pastoral kalangan pendidikan teologi. Hasil
secara empirik dengan bantuan ilmu-ilmu pertemuan “Konsultasi Kurikulum Pendidikan
kemanusiaan. Cf. Preface to Pastoral Theologia PERSETIA” di Kaliurang 7-13
Theology (Nashville: Abingdon, 1958); h..22- Maret 1994, misalnya, mengusulkan citra
23. Catatan: bab 1-4 buku ini telah “pemampu” sebagai harapan terhadap hasil
diterjemahkan dan menjadi bagian dari Tjaard pendidikan teologi di Indonesia pada masa
G.Hommes dan E.Gerrit Singgih, Teologi dan mendatang. Bandingkan juga tulisan Judo
Praksis Pastoral: Antologi Teologi Pastoral. Poerwowidagdo, Towards the 21 Century:
st

(Yogyakarta: Kanisius dan Jakarta: BPK Challenges and Oportunities for


Gunung Mulia, 1992), 72-159. Theological Education, (Geneva: World
20
Pendampingan pastoral yang bersifat Council of Churches, 1994): 61.
kuratif meliputi 4 macam fungsi: healing 29
Tradisi tiap-tiap Gereja dan denominasi
(penyembuhan), sustaining (pendukungan), dalam masalah visitasi ini berbeda-beda,
guiding (bimbingan), dan reconciling tetapi adalah suatu kewajaran untuk
(pendamaian), seperti yang diuraikan oleh mengharapkan pendeta mengunjungi setiap
William R.Clebsch dan Charles R.Jaekle, anggota jemaatnya minimal satu kali setahun
Pastoral Care in Historical Perspective dalam suatu kunjungan yang disebut visitasi
(Englewood Cliffs: Prentice Hall, 1964). Lihat besar, sementara anggota-anggota majelis
juga J.L.Ch. Abineno, Pedoman Praktis, h.48- lain melakukan visitasi kedua, ketiga, dan
67. seterusnya, sesuai dengan pengaturan model
21
Cf. Howard C. Clinebell, Basic Types of visitasi yang dipilih (bisa teritorial, bisa
Pastoral Care and Counseling (Nashville: kategorial).
Abingdon Press, 1984), 43. 30
Dalam beberapa tradisi Gereja, visitasi
22
Paul Tillich menyatakan: "Human caring is oleh Majelis Jemaat atau para penatua
universal". Ini berarti bahwa sifat dasar merupakan kewajiban yang tidak boleh
kemanusiaan manusia adalah "caring, diabaikan dengan alasan kesibukan yang
merawat, mendampingi". Citra dasar manusia terlalu menyita waktu. Untuk tidak melakukan
yang mulia ini adalah mengacu kepada citra kewajiban visitasi karena alasan beban
Allah sebagai pencipta yang bersifat pekerjaan yang terlalu berat atau beban
mendampingi, merawat. Sejak awal Allah masalah pribadi, seorang anggota majelis
peduli, mem-perhatikan keadaan yang

77
Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 3/2000

wajib meminta ijin resmi sesuai dengan


peraturan yang berlaku, untuk cuti dari
kewajiban visitasi ini sementara waktu atau
secara permanen.
31
Lihat Aart Martin van Beek dan Totok S.
Wiryasaputra, Mendampingi Orang Sakit,
(Yogyakarta: R.S. Bethesda, 1984): 30.
Bandingkan Abraham Adu Berinyuu,
“Change, Ritual, and Grieft: Continuity and
Discontinuity of Pastoral Theology in Ghana”,
The Journal of Pastoral Care, 46:2 (1992):
141-152.
32
Dalam hal ini ada berbagai cara dalam
berbagai tradisi gereja. Ada gereja yang
hanya bergantung pada ‘kesensitifan’
pengkotbah terhadap Roh Kudus dan situasi
jemaat, ada gereja yang mensupllai
pengkotbah dengan berbagai informasi yang
dibutuhkan tentang keberadaan jemaat, ada
yang hanya menetapkan topik atau tema
yang dibutuhkan jemaat, namun ada juga
gereja yang membentuk komisi kotbah yang
bersama-sama pengkotbah menggumuli
kotbah yang tepat (proses berteologi dan
proses pembentukan homili secara kolektif).
Pilihan terakhir kelihatannya merupakan
alternatif yang laing belum lazim di Indonesia.
Barangkali perlu digumuli untuk
diselenggarakan secara teratur meskipun
tidak perlu setiap minggu.
33
Cf. William B. Kennedy, “Learning in, with,
and for the Church: the Theological Education
of the People of God”, Union Seminary
Quarterly Review 36 (1981): 27-38;
“Towards an Educational Paradigm for
Practical Theology”, Ministerial Formation
56 (January 1992): 24-36.
34
Fasilitas terhadap informasi kultural
maupun teologis tersebut dapat saja
memanfaatkan para ahli dalam berbagai
bidang ilmu, tanpa mengasumsikan bahwa
teologi adalah hak eksklusif kaum elite dan
teolog. Ini merupakan implikasi dari
pendekatan dialogis yang holistik/integratif
dari pendampingan pastoral yang diusulkan
di depan. Pelaksanaan praktis dari
pendekatan ini adalah memanfaatkan setiap
pakar yang ada terutama di tengah-tengah
jemaat untuk membantu menganalisis dan
mendekati masalah dari kaca mata disiplin
ilmu yang mereka tekuni.
35
Lihat Don S. Browning, The Moral
Context of Pastoral Care, (Philadelphia:
Westminster Press, 1976): 96.

78