Anda di halaman 1dari 16

Metode Seismik Refraksi

Gelombang seismik merupakan gelombang mekanis yang terjadi di bumi baik yang
disebabkan secara alami maupun buatan manusia. Adapun pengertian refraksi secara harfiah
adalah pembiasan. Sehingga seismic refraksi adalah pembiasan gelombang seismic. Selain
refraksi dikenal pula seismic refleksi atau pantulan, namun dalam laporan ini hanya dibahas
tentang seismic refraksi karena dalam penelitian yang dilakukan di daerah Seling hanya
menggunakan metoda refraksi.

Pada dasarnya dalam metoda ini diberikan suatu gangguan berupa gelombang seismic pada
suatu sistem dan kemudian gejala fisisnya diamati dengan menangkap gejala tersebut melalui
receiver (geophone). Hal tersebut akan menghasilkan gambaran tentang kecepatan dan
kedalaman lapisan berdasarkan pengukuran waktu tempuh gelombang antara sumber getaran
(shot) dan geophone. Adapun waktu yang diperlukan oleh gelombang seismic untuk
merambat pada lapisan batuan bergantung besar kecepatan yang dimiliki oleh medium yang
dilaluinya tersebut.

Dalam peneletian yang dilakukan di daerah Seling ini metoda seismic refraksi digunakan
untuk mengetahui jumlah lapisan yang ada pada daerah tersebut dan diketahui pula nilai
densitas dari setiap lapisan sehingga kita dapat memperkirakan karakteristik batuan yang
sesuai dengan densitas batuan yang diketahui. Dengan mengetahui jenis batuan yang
diperkirakan dari lapisan tersebut kita bisa menduga batuan di lapisan mana yang
berkemungkinan menjadi bidang lincir yang menyebabkan pergerakan tanah di daerah Seling
tersebut.

Teori Dasar

Dalam penjalaran gelombang seismic yang terjadi di bumi mengikuti beberapa prinsip fisika
perambatan gelombang pada suatu medium yaitu :

1. Prinsip Huygen

Suatu gelombang yang melewati suatu titik akan membuat titik tersebut menjadi sumber
gelombang baru dan akan begitu seterusnya.

1. Prinsip Fermat

Dalam penjalaran gelombang dari satu titik ke titik selanjunya yang melewati suatu medium
tertentu akan mencari suatu lintasan dengan waktu tempuh yang paling sedikit.

1. Prinsip Snellius

Gelombang yang merambat dan melalui medium yang berbeda akan mengalami pembiasan
maupun pemantulan. Adapun dalam pembiasan maupun pemantulannya akan mengikuti
persamaan berikut :
Sedangkan untuk sudut kritis (q2 = 900) maka persamaannya akan berubah menjadi :

dikarenakan sin 900 = 1

Dalam penjalaran gelombang seismic gelombang yang datang pertama kali adalah gelombang
langsung (jaraknya paling kecil) setelah itu adalah gelombang bias dan yang paling terakhir
ditangkapa adalah gelombang pantul (refleksi).

Selain prinsip utama penjalaran gelombang sebagaimana dijelaskan sebelumnya dalam


metoda refraksi dikenal pula prisip Hagiwara. Metoda Hagiwara ini digunakan untuk
menentukan kedalaman suatu lapisan dari daerah yang kita survey yaitu daerah Seling.
Ketika digunakan metoda Hagiwara sebagai metoda intrepetasi maka diperlukan suatu
pasngan kurva travel time bolak-balik (reciprocal travel time curve) yang direfraksikan dari
suatu lapisan pada kedalaman lapisan yang diselidiki.

Akuisisi data

Dalam pengambilan data seismic refraksi agar menghasilkan kualitas data yang bagus dan
mengandung bentuk first break yang tajam dapat dilakukan beberapa cara antara lain :
stacking, memperbesar kekuatan shoting, dan filtering. Dalam pengambilan data yang
menggunakan dinamit sebagai sumber getaran maka perlu diperhatikan tempat yang tepat
sehingga energy dinamit dapat terkonversi menjedi energy seismic secara efektif.

3. Metode GPR (Groun Penetrating Radar)

Metode ground penetrating radar atau georadar merupakan salah satu metode geofisika yang
mempelajari kondisi bawah permukaan berdasarkan sifat elektromagnetik dengan
menggunakan gelombang radio dengan frekuensi antara 1-1000 MHz. Georadar
menggunakan gelombang elektromagnet dan memanfaatkan sifat radiasinya yang
memperlihatkan refleksi seperti pada metode seismik refleksi.

Pengukuran dengan menggunakan GPR ini merupakan metode yang tepat untuk mendeteksi
benda benda kecil yang berada di dekat permukaan bumi (0,1-3 meter) dengan resolusi yang
tinggi yang artinya konstanta dielektriknya menjadi rendah.

Ada tiga jenis pengukuran yaitu refleksi, velocity sounding, dan transiluminasi. Pengukuran
refleksi biasa disebut Continuous Reflection Profiling (CRP). Pengukuran velocity Sounding
disebut Common Mid Point (CMP) untuk mementukan kecepatan versus kedalaman, dan
transiluminasi disebut juga GPR Tomografi.

Teori Dasar

GPR terdiri dari sebuah pembangkit sinyal, antena transmitter dan receiver sebagai
pendeteksi gelombang EM yang dipantulkan. Signal radar ditransmisikan sebagai pulsa-pulsa
yang tidak terabsorbsi oleh bumi tetapi dipantulkan dalam domain waktu tertentu. Mode
konfigurasi antena transmitter dan receiver pada GPR terdiri dari mode monostatik dan
bistatik. Mode monostatik yaitu bila transmitter dan receiver digabung dalam satu antena.
sedangkan moded bistatik bila kedua antena memiliki jarak pemisah.

Transmitter membangkitkan pulsa gelombang EM pada frekuensi tertentu sesuai dengan


karaketristik antena tersebut (10 MHz – 4 GHz). Receiver diset untuk melakukan scan yang
secara normal mancapi 32-512 scan per detik. Setiap hasil scan ditampilkan pada layar
monitor (real-time) sebagai fungsi waktu two-way traveltime, yaitu waktu yang dibutuhkan
gelombang EM menjalar dari transmitter, target dan  ke receiver. Tampilan ini disebut
radargram.

Fenomena elektromagnetik dapat dijelaskan dengan persamaan Maxwell. Persamaan ini


terdiri dari 4 persamaan medan dan untuk tiap-tiap persamaan merupakan hubungan antara
medan dengan distribusi sumber yang bersangkutan.

Persamaan yang menghubungkan sifat


fisik medium dengan medan yang timbul pada medium tersebut dapat dinyatakan dengan :

Keterangan :

H = intensitas medan magnet (ampere/m)

D = perpindahan listrik (coulomb/m2)

є = permitivitas listrik (farad/m)

σ = konduktivitas (1/ohm-m)

Untuk menyederhanakan masalah, sifat fisik medium diasumsikan tidak bervariasi terhadap
waktu dan posisi (homogen isotropi). Maka persamaan Maxwell dapat ditulis sebagai
berikut :
Persamaan Maxwel ini adalah landasan berpikir dari perambatan gelombang elektromagnet.
Pada material dielektrik murni suseptibilitas magnetik (μ) dan permitivitas listrik (є) adalah
konstan dan tidak terdapat atenuasi dalam perambatan gelombang. Tidak sama halnya jika
berhadapan dengan material dielektrik yang ada.

Sifat-sifat dari material bumi bergantung dari komposisi dan kandungan air material tersebut.
Keduanya ini mempengaruhi cepat rambat perambatan gelombang dan atenuasi gelombang
elektromagnet.

Keberhasilan dari metoda GPR bergantung pada variasi bawah permukaan yang dapat
menyebabkan gelombang tertransmisikan. Perbandingan energi yang direfleksikan disebut
koefisien refleksi (R) yang ditentukan oleh perbedaan cepat rambat gelombang elektromagnet
dan lebih mendasar lagi adalah perbedaan dari konstanta dielektrik relatif dari media yang
berdekatan. Hal ini dapat terlihat pada persamaan berikut :

Keterangan :

V1 = cepat rambat geombang elektromagnet pada lapisan 1

V2 = cepat rambat geombang elektromagnet pada lapisan 2 , dan V1 < V2

є1 dan є2 = konstanta dielektrik relatif lapisan 1 dan lapisan 2

Dalam semua kasus, besarnya R terletak antara -1 dan 1. bagian dari energi yang
ditransmisikan sama dengan 1-R. Persamaan diatas daplikasikan untuk keadaan normal pada
permukaan bidang datar. Dengan asumsi tidak ada sinyal yang hilang sehubungan dengan
amplitudo sinyal.

Jejak yang terdapat pada rekaman georadar merupakan konvolusi dari koefisien refleksi dan
impulse georadar ditunjukkan oleh persamaan :
Keterangan :

r(t)  = koefisien refleksi

A(t) = amplitudo rekaman georadar

F(t) = impulse radar

n(t) = noise radar

Besar amplitudo rekaman georadar r(t) akan tampak pada penampang rekaman georadar
berupa variasi warna. Refleksi atau transmisi di sekitar batas lapisan menyebabkan energi
hilang. Jika kemudian ditemukan benda yang memiliki dimensi yang sama dengan panjang
gelombang dari sinyal gelombang elektromagnet maka benda ini menyebabkan penyebaran
energi secara acak. Absorbsi ( mengubah energi elektromagnet menjadi energi panas ) dapat
menyebabkan energi hilang. Penyebab yang paling utama hilangnya energi karena atenuasi
fungsi kompleks dari sifat lstrik dan dielektrika media yang dilalui sinyal radar. Atenuasi (α)
tergantung dari konduktifitas (σ), peermeabilitas magnetik (μ), dan permitivity (є) dari media
yang dilalui oleh sinyal dan frekuensi dari sinyal itu sendir (2πf). Sifat bulk dari material
ditentukan oleh sifat fisik dari unsur pokok yang ada dan komposisinya.

Gelombang seismik adalah gelombang mekanis yang muncul akibat adanya gempa bumi. Sedangkan
gelombang secara umum adalah fenomena perambatan gangguan (usikan) dalam medium
sekitarnya. Gangguan ini mula-mula terjadi secara lokal yang menyebabkan terjadinya osilasi
(pergeseran) kedudukan partikel-partikel medium, osilasi tekanan maupun osilasi rapat massa.
Karena gangguan merambat dari suatu tempat ke tempat lain, berarti ada transportasi energi.
Gelombang seismik disebut juga gelombang elastik karena osilasi partikel-partikel medium terjadi
akibat interaksi antara gaya gangguan (gradien stress) malawan gaya-gaya elastik. Dari interaksi ini
muncul gelombang longitudinal, gelombang transversal dan kombinasi diantara keduanya. Apabila
medium hanya memunculkan gelombang longitudinal saja (misalnya di dalam fluida) maka dalam
kondisi ini gelombang seismik sering dianggap sabagai gelombang akustik.
Dalam eksplorasi minyak dan gas bumi, seismik refleksi lebih lazim digunakan daripada seismik
refraksi. Hal tersebut disebabkan karena siesmik refleksi mempunyai kelebihan dapat memberikan
informasi yang lebih lengkap dan baik mengenai keadaan struktur bawah permukaan.
Penyelidikan seismik dilakukan dengan cara membuat getaran dari suatu sumber getar. Getaran
tersebut akan merambat ke segala arah di bawah permukaan sebagai gelombang getar. Gelombang
yang datang mengenai lapisan-lapisan batuan akan mengalami pemantulan, pembiasan, dan
penyerapan. Respon batuan terhadap gelombang yang datang akan berbeda-beda tergantung sifat
fisik batuan yang meliputi densitas, porositas, umur batuan, kepadatan, dan kedalama batuan.
Galombang yang dipantulkan akan ditangkap oleh geophone di permukaan dan diteruskan ke
instrument untuk direkam. Hasil rekaman akan mendapatkan penampang seismik.
5. Metoda Seismik pantul (refleksi) dan Bias (refraksi).
Metoda seismik berdasarkan bahwa kecepatan penjalaran gelombang seismik ditentukan oleh sifat
elastisitas mediumnya. Gelombang yang melalui media yang berbeda kepadatannya akan
mempunyai kecepatan penjalaran yang berbeda. Pada dasarnya dalam metoda ini kita memberikan
suatu gelombang seismik buatan
(dengan ledakan, misalnya) pada suatu media, dan kemudian diamati gejala penjalarannya dengan
menangkap gejala tersebut melalui geofon. Dari patron gelombang yang tertangkap ini kita mencoba
menafsirkan apa yang terkandung di
dalam tanah di daerah yang sedang diteliti. Metoda pantul meneliti pantulan gelombang yang dibuat
orang (misalnya bahan peledak) oleh lapisan batuan di bawah tanah. Pencatatan gelombang pantul
dilakukan oleh geofon. Dari perhitungan beda waktu peledakan dengan penerimaan oleh geofon,
maka kedalaman suatu horizon pemantul (reflektor) di bawah tanah dapat diketahui. Metoda ini
biasanya untuk mengadakan penelitian di tempat yang dalam. Akhir- akhir ini sering pula metoda ini
dipergunakan untuk penelitian di tempat dangkal (Jackson, 1981), meliputi penelitian ke dalam
lapisan batuan dan struktur geologi.
Gambaran cara kerja metoda seismik pantul tampak . Sumber gelombang biasnya dinamit, palu
hidrolis, atau vibroseis yang dikembangkan oleh continental oil company. Lubang tembak dibuat
dengan bor hingga mencapai kedalaman di bawah lapisan tanah. Jalur pengukuran sebaiknya
menghindari kota, bentangan transmisi, dan jalan air. (Jackson, 1981). Pencatat (recorder) terdiri
dari banyak geopon, yang disusun dalam 24 rangkaian (channel). Setiap rangkaian biasanya terdiri
dari 8 buah geopon atau kelipatan dari
8. letak rangkaian tergantung kepada bentuk topografi. Jarak antara setiap geopon di dalam satu
rangkaian biasanya 1 meter atau lebih, sedangkan jarak antara rangkaian bisa mencapai 15 m.
Metoda ini memerlukan banyak perhitungan yang cukup ruwet dengan hasil yang bisa cukup diteliti.
Metoda seismik refraksi hampir serupa dengan metoda pantul, akan tetapi metoda ini lebih
sederhana. Sumber gelombang didekat permukaan (kurang lebih 1 m di bawah permukaan tanah),
tidak perlu pemboran seperti pada metoda pantul. Jumlah
geoponnya hanya 24 buah, karena pada setiap rangkaian (channel) cukup 1 buah saja. Gelombang
yang dicatat adalah gelombang bias yang setelah mencapai sudut kritis dan kemudian merambat
melalui batas litologi, dan akhirnya ditangkap oleh geofon di permukaan. Jangkauan metoda ini
terbatas di tempat dangkal, mencapai kedalaman kurang lebih sepertiga dari panjang bentangan
geofonnya. Gambaran stratigrafi dan struktur yang didapat dari metoda ini biasanya bermanfaat
untuk menunjang eksplorasi batubara di daerah dangkal.
Metode seismik didasarkan pada gelombang yang menjalar baik refleksi maupun refraksi.  Ada
beberapa anggapan mengenai medium dan gelombang dinyatakan sebagai berikut :
     a.  Anggapan yang dipakai untuk medium bawah permukaan bumi antara lain:

          1.  Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan tiap lapisan menjalarkan gelombang  seismik
dengan kecepatan berbeda.

          2.  Makin bertambahnya kedalaman batuan lapisan bumi makin kompak.


      b.  Anggapan yang dipakai untuk penjalaran gelombang seismik adalah :

          1.  Panjang gelombang seismik << ketebalan lapisan bumi.  Hal ini memungkinkan  setiap
lapisan bumi akan terditeksi.
          2.  Gelombang seismik dipandang sebagai sinar seismik yang memenuhi hukum  Snellius dan
prinsip Huygens.

          3.  Pada batas antar lapisan, gelombang seismik menjalar dengan kecepatan  gelombang pada
lapisan di bawahnya.

          4.  Kecepatan gelombang bertambah dengan bertambahnya kedalaman.

Metode seismik sering digunakan dalam eksplorasi hidrokarbon, batubara, pencarian 


airtanah(ground water),kedalaman serta karakterisasi permukaan batuan dasar  (characterization
bedrock surface), pemetaan patahan dan stratigrafi lainnya dbawah  permukaan dan aplikasi
geoteknik.

2. Reflection dan refraction


Gelombang yang melewati suatu bidang batas, maka gelombang tersebut dapat dipentulkan
dan diteruskan.
Refleksi adalah respon gelombang elastik dalam penjalarannya akan bergantung pada
medium yang dilewatinya. Munculnya zona kontras sifat elastik batuan (kecepatan dan
ensitas) yang signifikan akan menyababkan terjadinya refleksi gelombang. Diskontinuitas
dari lapisan tersebut akan menyababkan gelombang seismik dipantulkan dengan sudut
pantul sama dengan sudut datangnya. Dengan asumsi bumi homogen isotropis dan berada
pada normal inside (sudut datang = 0), perbandingan antara energi yang direfleksikan
dengan energi insiden secara matematis ditulis sebagai koefisien refleksi, seperti perumusan
yang berdasarkan pada prinsip Fermat.

Sedangkan Refraksi adalah gelombang seismik yang datang dan mengenai reflektor tidak
selalu akan direfleksikan, tetapi juga bisa ditransmisikan kemedium berikutnya. Gelombang
yang mempunyai bidang batas dua medium yang memiliki kontras densitas dan kecepatan
berbeda akan direfleksikan berdasarkan hukum Snellius.
5. Metoda Seismik Refleksi
Tujuan utama dari suatu survei seismik refleksi adalah memberikan informasi mengenai
geologi bawah permukaan. Metoda seismik refleksi ini dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu :
ï Seismik dangkal (shallow seismic reflection) yang umumnya digunakan dalam eksplorasi
batu bara dan bahan tambang lainnya.
ï Seismik dalam yang umum digunakan untuk eksplorasi daerah prospek hidrokarbon.
Prinsip dasar dari metoda seismik pantul ini adalah pengiriman sinyal ke dalam bumi, dan
karena adanya bidang perlapisan (bidang kontak) maka bidang tersebut dapat menjadi bidang
pantul (reflektor).
Sinyal yang dikirim melalui alat peledak (S) direfleksikan oleh bidang reflektor oleh titik
refleksi (R), dan sinyal yang dipantulkan direkam oleh detektor berupa geofon (G). Jika h
adalah ketebalan lapisan, maka waktu (t) yang dibutuhkan oleh sinyal untuk sampai ke
detektor adalah :
ï Untuk satu lapisan :

ï Untuk dua lapisan :

dimana kecepatan rambat dan waktu dapat diketahui, sehingga ketebalan masing-
masing lapisan dapat dihitung.

Gambar 18. Sketsa prinsip dasar seismik refleksi


Karena banyaknya aspek yang dibahas dalam seismik ini, maka dalam tulisan ini
hanya membahas hal-hal praktis saja.
5.1 Parameter-parameter yang Harus Diperhatikan
Kualitas data seismik sangat ditentukan oleh kesesuaian parameter lapangan yang
digunakan dengan kondisi geologi dan kondisi permukaan daerah survei. Di samping
itu parameter lapangan juga harus disesuaikan dengan target eksplorasi yang ingin
dicapai. Jadi keberhasilan suatu survei seismik sangat ditentukan dari desain
parameter lapangan digunakan.
Beberapa parameter lapangan yang harus ditentukan dan disesuaikan dengan kondisi
lapangan adalah sebagai berikut :
ï Jumlah dan susunan geopon
ï Interval sampling
ï Jumlah bahan peledak dan kedalaman lubang bor
ï Jarak antar titik tembak
ï Jarak antara geopon
ï Geometri penembakan
ï Filter (high-cut dan low-cut).
Parameter lapangan dirancang berdasarkan data geologi dan data geofisika yang ada,
dan penentuannya dilakukan dengan uji coba secara langsung di lapangan. Parameter
dipilih berdasarkan optimasi keterbatasan parameter lapangan dalam memecahkan
problem yang muncul. Selain itu faktor ekonomis juga merupakan pertimbangan
utama dalam optimasi ini.

5.2. Cara Penentuan Parameter Lapangan

a. Analisa noise (gangguan)


Analisa noise ditujukan untuk mendeskripsikan parameter fisis sinyal dan noise
sehingga desain parameter lapangan dapat dilakukan dengan baik. Analisa (test) noise
ini dilakukan paling awal sebelum survei seismik dimulai. Noise adalah gelombang
yang tidak diharapkan dan sering muncul pada saat perekaman seismik. Biasanya
mengganggu sinyal refleksi.

b. Susunan geopon (array geophone)


Tujuan dari penentuan array geophone ini adalah untuk mendapatkan bentuk susunan
geophone yang dapat berfungsi meredam noise (ground roll) secara optimal sehingga
signal to noise ratio-nya (S/N ratio) tinggi. Untuk menaikkan (S/N ratio) ground roll
harus diredam dengan cara menebarkan geophone.

c. Test kedalaman dan jumlah dinamit


Tujuan test ini adalah untuk menentukan kedalaman pemboran dan jumlah dinamit
yang paling optimum, artinya dapat memberikan hasil perekaman seperti yang
diharapkan tetapi juga dengan biaya yang ekonomis.
d. Jarak titik tembak
Untuk melakukan pemilihan jarak terdekat dan terjauh ini, kita kaitkan dengan target
dari survei. Untuk memilih jarak terdekat biasanya digunakan acuan target terdangkal,
sedangkan untuk jarak terjauh kita gunakan acuan target terdalam.

e. Geometri Penembakan
Informasi struktur geologi dan data geofisika yang ada di daerah penyelidikan sangat
diperlukan untuk menentukan geometri penembakan. Pemilihan cara penembakan,
tergantung pada kedalaman zona prospek dan kompleksitas struktur bawah
permukaan. Pemilihan geometri penembakan berguna untuk memfokuskan energi
seismik sehingga efektifitas sumber menjadi lebih optimal.

f. Filter (low cut dan high cut)


Penentuan filter low-cut dan high-cut ini kita lakukan pada instrumen yang kita
gunakan. Pemilihan high cut filter dapat ditentukan atas dasar sampling rate yang
digunakan karena sampling rate menentukan besarnya frekuensi aliasing. Pemilihan
besarnya low cut filter ditujukan untuk meredam noise berfrekuensi lebih rendah dari
frekuensi geophone yang digunakan apabila noise tersebut terlalu menenggelamkan
sinyal.

g. Sampling rate
Penentuan besar kecilnya sampling rate bergantung pada frekuensi maksimum sinyal
yang ingin direkam pada daerah survei tersebut. Tetapi pada kenyataannya, besarnya
sampling rate dalam perekaman sangat bergantung pada kemampuan instrumentasi
perekaman yang digunakan, dan biasanya sudah ditentukan oleh pabrik pembuat
instrumen tersebut. Penentuan sampling rate ini akan memberikan batas frekuensi
tertinggi yang terekam akibat adanya aliasing.
5.3 Prosedur Pengambilan Data di Lapangan
a. Pemasangan patok
Sebelum dilakukan pengukuran seismik, maka terlebih dahulu harus ditentukan posisi
koordinat (X, Y, dan Z) dari tiap-tiap titik geophone maupun shot point. Penentuan
koordinat ini dapat dilakukan dengan menggunakan theodolith ataupun GPS. Titik-
titik tersebut, kemudian ditandai dengan patok yang sudah mempunyai harga
koordinat terhadap referensi tertentu.

b. Pemasangan geophone
Geophone dipasang sesuai dengan rencana tipe penembakan yang akan dilakukan dan
disusun berurutan. Pemasangan geophone diusahakan sedekat mungkin dengan patok
yang sudah diukur koordinatnya.

c. Pemasangan sumber peledak


Sumber peledak dipasang sesuai dengan rencana tipe penembakan

d. Persiapan alat perekaman data seismik


Sebelum melakukan penembakan alat perekam harus dicek terlebih dahulu, sehingga
data yang dihasilkan cukup optimal.

e. Penembakan
Penembakan hanya dapat dilakukan ketika alat perekam data seismik sudah dilakukan
pengecekan dan terpasang dengan baik.

f. Pencatatan data pengamatan pada observer log


Data pengamatan dan kejadian selama berlangsungnya pengukuran kemudian disalin
pada buku observer log.

6. Seismik Refraksi
Jika gelombang seismik melewati dua medium yang mempunyai kecepatan rambat
yang berbeda, maka gelombang tersebut akan terbiaskan (refraksi). Jika gelombang
yang datang membentuk sudut i1 dan dipantulkan dengan sudut i2 dari garis normal
(Gambar 19A), maka :

, dimana V1 dan V2 adalah kecepatan rambat pada masing-masing


media.
Jika V2 lebih besar daripada V1, maka sudut refraksi lebih besar daripada sudut
normal, dan disebut sebagai sudut ic.

.
Jika gelombang rambat bergerak di sepanjang bidang pantul, maka sudut yang
dibentuk disebut dengan sudut kritis (lihat Gambar 19B)

Gambar 19 Refraksi sinar (atas), dan terbentuknya sudut kritis (bawah).


Jika jarak dari break point diketahui, maka dapat diperoleh ketebalan lapisan antara
bidang refraksi, yaitu :

Contoh grafik hasil survei refraksi dan interpretasi bawah permukaan dapat dilihat
pada Gambar 20.
Gambar 20. Kurva time-distances

6.1 Perencanaan Survei


Tahap pertama dari suatu perencanaan survei seismik refraksi adalah memilih lokasi
dan panjang lintasan survei dengan menggunakan peta topografi daerah penyelidikan.
Lokasi lintasan survei harus di set untuk mencapai tujuan survei secara efisien, yaitu
menggunakan informasi yang ada pada peta topografi dan peta geologi. Rekaman titik
penerima kedatangan pertama (first arrival) merupakan gelombang langsung dan
kedatangan pertama (first break) dari gelombang refraksi tidak muncul.
6.2 Pengambilan Data
Untuk mendapatkan kualitas rekaman seismik refraksi yang tinggi dan mengandung
bentuk first break yang tajam perlu dilakukan beberapa teknik, diantaranya adalah
stacking, mempertinggi kekuatan sumber dan filtering. Sistem perekam seismik yang
bisa digunakan adalah system perekam seismik 24 channel. Sedangkan sumber
seismik yang sering digunakan adalah dinamit. Bila menggunakan dinamit sebagai
sumber, perlu dipilih tempat yang tepat untuk melakukan peledakan, yaitu tempat
dimana energi dinamit dapat terkonversi menjadi energi seismik secara efektif.
Biasanya, dinamit diledakkan di dalam lubang bawah permukaan. Bila jarak sumber
ke penerima lebih dari seratus meter, akan lebih baik meledakkan dinamit di dalam air
dengan kedalaman lebih dari 50 cm atau membuat lubang lebih dalam sehingga
ledakan dinamit menjadi lebih efektif.
Metode Seismik

merupakan salah satu metoda geofisika yang digunakan untuk eskplorasi sumber daya alam
dan mineral yang ada di bawah permukaan bumi dengan bantuan gelombang seismik.
Eksplorasi seismik atau eksplorasi dengan menggunakan metode seismik banyak dipakai oleh
perusahaan-perusahaan minyak untuk melakukan pemetaan struktur di bawah permukaan
bumi untuk bisa melihat kemungkinan adanya jebakan-jebakan minyak berdasarkan
interpretasi dari penampang seismiknya.Dalam metoda seismik pengukuran dilakukan
dengan menggunakan sumber seismik (ledakan, vibroseis dll). Setelah sumber diberikan
maka akan terjadi gerakan gelombang di dalam medium (tanah/batuan) yang memenuhi
hukum-hukum elastisitas ke segala arah dan mengalami pemantulan ataupun pembiasan
akibat munculnya perbedaan kecepatan. Kemudian, pada suatu jarak tertentu, gerakan
partikel tersebut di rekam sebagai fungsi waktu. Berdasar data rekaman inilah dapat
‘diperkirakan’ bentuk lapisan/struktur di dalam tanah (batuan)
Metode seismik didasarkan pada gelombang yang menjalar baik refleksi maupun refraksi.
Ada beberapa anggapan mengenai medium dan gelombang dinyatakan sebagai berikut :
Anggapan yang dipakai untuk medium bawah permukaan bumi antara lain :

 Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan tiap lapisan menjalarkan gelombang


seismik dengan kecepatan berbeda.
 Makin bertambahnya kedalaman batuan lapisan bumi makin kompak.

Anggapan yang dipakai untuk penjalaran gelombang seismik adalah :

 Panjang gelombang seismik << ketebalan lapisan bumi. Hal ini memungkinkan setiap
lapisan bumi akan terditeksi.
 Gelombang seismik dipandang sebagai sinar seismik yang memenuhi hukum Snellius
dan prinsip Huygens.
 Pada batas antar lapisan, gelombang seismik menjalar dengan kecepatan gelombang
pada lapisan di bawahnya.
 Kecepatan gelombang bertambah dengan bertambahnya kedalaman.
Metode Seismik adalah suatu metode dalam ilmu Geofisika yang dipergunakan untuk mendeteksi
struktur bawah permukaan. Metode ini termasuk metode geofisika aktif. Seismik di bagi menjadi dua
yaitu Seismik Refraksi (Bias) dan Seismik Refleksi (Pantul).

Prinsip Metode Seismik dipermukaan ditimbulkan oleh sumber menghasilkan gelombang mekanis.
Sumber tersebut dapat berupa ledakan(eksplosien), vibroseis, airgun, watergun, hammer, weigh drop,
tergantung jenis metode seismik yang dipergunakan.

Seismik Refleksi dipergunakan untuk mendeteksi Hidrokarbon. Sedang Seismik Refraksi


dipergunakan untuk mendeteksi batuan atau lapisan yang letaknya cukup dangkal dan untuk
mengetahui lapisan tanah penutup (overburden). Eksplorasi seismik adalah istilah yang dipakai di
dalam bidang geofisika untuk menerangkan aktifitas pencarian sumber daya alam dan mineral yang
ada di bawah permukaan bumi dengan bantuan gelombang seismik. Hasil rekaman yang diperoleh
dari survei ini disebut dengan penampang seismik. Eksplorasi seismik atau eksplorasi dengan
menggunakan metode seismik banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan minyak untuk melakukan
pemetaan struktur di bawah permukaan bumi untuk bisa melihat kemungkinan adanya jebakan-
jebakan minyak berdasarkan interpretasi dari penampang seismiknya.

Mekanisme pengambilan data lapangan yang dipergunakan dalam Seismik Refraksi adalah
mengetahui jarak dan waktu yang terekam oleh alat Seismograf untuk mengetahui kedalaman dan
jenis lapisan tanah yang diteliti. Dari getaran atau gelombang yang diinjeksikan dari permukaan tanah
akan merambat kebawah lapisan tanah secara radial yang di mana pada saat bertemu lapisan dengan
sifat elastik batuan di bawah permukaan yang berbeda. Maka gelombang yang datang akan
mengalami pemantulan dan pembiasan. Gelombang yang melewati bidang batas dengan sifat lapisan
yang berbeda akan terpantul dan terbiaskan kepermukaan kemudian di tangkap oleh alat reciver yaitu
Geophone yang diletakkan di permukaan.
http://in.pdf-more.com/ebook_i_xls/Metode+Seismik+Refraksi

http://www.jiyiyou.com/us/metode%20seismik%20refraksi-pdf.html

http://www.pdf-engine.net/Metode-Seismik-Refraksi-24.html