Anda di halaman 1dari 9

EZKA AMALIA

09/283366/SP/23675
Jurusan Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada

Essai Pengganti UAS

Mata Kuliah Kekuatan Politik Indonesia

Reformasi Media: Kebebasan di bawah Konglomerasi Media

Salah satu prinsip dasar demokrasi adalah kekuasaaan penuh di tangan


rakyat. Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat, dari rakyat
dan untuk rakyat. Dalam sistem ini, hak-hak warga negara harus dijamin, seperti hak
kemerdekaan menyampaikan pendapat baik secara lisan maupun tulisan termasuk
berkaitan dengan kontrol terhadap pemerintah.

Pers adalah suatu sarana yang dapat digunakan oleh warga negara untuk
menyampaikan pikiran dan pendapat, serta memiliki peran yang penting dalam
demokrasi. Pers juga merupakan salah satu entitas yang cukup berpengaruh terhadap
kehidupan suatu negara. Mulai dari tingkat individu hingga pemerintah akan merasakan
beragam manfaat dan pengaruh. Baik berupa hal positif, maupun negatif. Sebagai
‘kekuatan keempat’ (fourth estate), pers adalah ‘pelindung demokrasi, pembela
kepentingan umum, menyingkapkan penyelewengan wewenang pemerintah dan membela
hak-hak demokratis warga Negara’.1 Dengan kata lain, pers adalah suatu kekuatan
demokratis untuk melakukan kontrol sosial. Menurut Miriam Budiardjo salah satu ciri
negara demokrasi adalah memiliki pers yang bebas dan bertanggung jawab. Namun
sayangnya, pada masa orde baru, pers yang bebas dan bertanggungjawab seolah hanya
sebuah mimpi belaka. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas peran serta
perkembangan kebebasan pers sebagai salah satu pilar dalam demokrasi pasca Orde Baru.

Pers Masa Orde Baru

1
Erlizar, S.H., Pers Profesional dan Pencitraan Politik, 22 Mei 2009, <http://www1.harian-
aceh.com/opini/85-opini/2672-pers-profesional-dan-pencitraan-politik.html>, 3 Januari 2011.
Selama masa Orde Baru, yang tekenal sebagai rezim otoriter, pers di
Indonesia sangat dibatasi kebebasannya. Bahkan pers di Indonesia saat itu tidak bisa
disebut sebagai the watch dog.2 Hal ini terlihat dengan sukap pemerintah yang melakukan
pembredelan terhadap beberapa pers cetak seperti TEMPO, deTik, dan EDITOR. Lebih
jauh lagi, pemerintah juga memerintahkan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) untuk
meminta para pemimpin redaksi agar memecat wartawan-wartawannya apabila
memberitakan berita yang cenderung menyinggung pemerintah. 3 Begitu pula dengan
Dewan Pers. Dewan pers cenderung menjadi anak buah pemerintah Orde Baru.4 Misalnya
saat pemberedelan bberapa pers cetak, banyak dari anggota Dewan Pers tidak setuju
dengan keputusan tersebut. Tetapi, pada kenyataannya, mereka diminta untuk
mendukung keputusan pembredelan itu. Padahal Dewan Pers merupakan lembaga
independen dan dibentuk sebagai bagian dari upaya untuk mengembangkan kemerdekaan
pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional.

Hal ini menyebabkan media tidak bisa bergerak secara bebas dalam
memberitakan fenomena yang terjadi dalam kehidupan baik sosial maupun politik
Indonesia. Misalnya saja, ketika zaman Orde Baru, media tidak bisa menampilkan
perspektif yang kritis tentang Soeharto, tokoh yang masih hidup dan sedang berada di
puncak kekuasaan. Media memang menampilkan kritik, tetapi kritik tersebut dikemas
dalm retorika yang metaforis dan simbolis.5 Sehingga dimungkinkan kritik yang diajukan
oleh media tidak disadari oleh masyarakat. Sebaliknya, pers Orde Baru lebih berani
dalam memberitakan maupun mengkritik tokoh yang telah meninggal, seperti Soekarno.
Media menampilkan berbagai macam perspekif sehingga gambaran tentang Soekarno
mencakup kelebihan dan kelemahannya.6

2
J. Oetama, Perspektif Pers Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1987, hal.
3
F.P. Aditama, Jejak Pers di Masa Orba dan Reformasi, 26 November 2007, <http://mengintip-
dunia.blogspot.com/2007/11/jejak-pers-di-masa-orba-dan-reformasi.html>, 29 Desember 2010.
4
V.W. Ardy, Sistem Pers Indonesia Masa Orde Baru, 21 Desember 2008,
<http://disinijurnalvera.blogspot.com/2008/12/sistem-pers-indonesia-masa-orde-baru.html>, 29 Desember
2010.
5
A. Sudibyo, Citra Bung Karno: Analisis Berita Pers Orde Baru, BIGRAF Publishing, Yogyakarta, 1999,
hal. 239.
6
Sudibyo, Citra Bung Karno: Analisis Berita Pers Orde Baru, hal. 239.
Di bawah pemerintahan Soeharto, pemerintah juga menunjukkan politik
hegemoninya dengan cara melarang pers memberitakan peristiwa atau isu tertentu yang
menyangkut pemerintah dengan segala alasan dan pembenaran, menunjukan kesalahan-
kesalahan yang dilakukan oleh pers yang belum tentu ada, dan memunculkan aturan baru
dalam pers berupa Surat Ijin untuk Penerbitan Pers. Tindakan pelarangan yang dilakukan
oleh pemerintah ini menyebabkan gerakan pers dikebiri.

Pers Pasca Orde Baru

Dengan adanya gerakan Reformasi yang berhasil menggulingkan


pemerintahan otoriter Soeharto, pers berharap banyak pada kebijakan yang akan
dikeluarkan oleh Presiden B.J. Habbie. Meski harapan itu sempat mengecil karena
diangkatnya Letjen TNI M Yunus Yoshfiah sebagai Menteri Penerangan, pada
kenyataanya Yunus berhasil membuka keran kebebasan pers di Indonesia. Menpen
mengeluarkan kebijakan–kebijakan yang mendorong kebebasan pers untuk mendukung
perkembangan demokrasi seperti dipermudahnya pembuatan SIUPP, dibebaskannya para
wartawan untuk membuat suatu organisasi kewartawanan, bahkan dicabutnya peraturan
ketat mengenai sanksi pencabutan SIUPP. Hasil diterapkannya kebijakan pers tersebut
adalah semakin membudaknya jumlah penerbitan pers hingga mencapai lebih dari 350
industri penerbitan, banyaknya organisasi kewartawanan yang didirikan, dan semakin
berkembangnya koran–koran nasional bahkan hingga koran lokal. Media elektronik pun
turut berkembang. Makin banyak stasiun radio maupun televisi yang didirikan.

Kebebasan pers yang ditandai dengan kebijakan-kebijakan yang lebih


memudahkan pers untuk bergerak, menegakkan kelahiran kembali pers yang telah lama
dibelenggu. Koffi Annan menyatakan dalam The World Association of Newspapers
bahwa pers massa kini sangat berperan dalam memajukan kebebasan, pertukaran
informasi dan gagasan global. Kebebasan itu merupakan prasyarat bagi demokrasi,
pembangunan dan perdamaian.

Sesuai dengan pasal 2 ayat 2 Undang-Undang No 11 tahun 1966 “ Pers


Nasional berkewajiban :
a. mempertahankan, membela, mendukung, dan melaksanakan Pancasila dan
UUD 1945 secara murni dan konsekuen;

b. memperjuangkan pelaksanaan amanat penderitaan rakyat berlandaskan


demokrasi Pancasila;

c. memperjuangkan kebenaran dan keadilan atas dasar kebebasan pers;

d. membina persatuan dan kekuatan progresif revolusioner dalam perjuangan


menantang imperialisme, kolonialisme, neokolonialisme feodalisme,
liberalism, komunisme, fasisme, dan diktator; dan

e. menjadi penyalur pendapat umum yang konstruktif dan progresif


revolusioner.

Bahkan pada pasal 3 disebutkan bahwa “ Pers Indonesia mempunyai hak


kontrol, kritik dan konstruktif”. Untuk memulihkan kepercayaan rakyat terhadap negara,
tidak ada cara lain selain pemberitaan yang profesional. Yaitu dengan beberapa cara :

1. Lembaga pers harus menghindarkan diri dari segala bentuk kepentingan kekuasaan.
Kebijakan redaktur harus lebih berkuasa daripada komando penguasa atau pemilik
modal perusahaan tersebut. Insan pers masih berharap dengan jargon pers “ pers yang
bebas adalah pers yang bertanggung jawab” yang sering kali insane pers ada dalam
posisi yang salah. Peliputan berita secara akurat, balance, check and recheck sering
kali di kalahkan oleh para penguasa.

Sebaliknya, pers yang hanya memaki-maki dan tidak mencari pemberitaan secara
proporsional akan ditinggalkan pembaca.

2. Setiap jurnalis harus menerapkan etika jurnalisme yang kuat. Dengan kode etik
jurnalistik maka wartawan akan sanggup menilai dan memberitakan suatu peristiwa
untuk diberitakan secara layak.

3. Pers harus mampu menggumuli fakta empiric berupa realitas social, mendeskripsikan
dan menyebarkan kepada pembaca dan tidak mencoba menambah atau mengurangi
fakta, dalam kapasitasnya sebagai penulis, wartawan bisa beropini, member saran,
dll. Sebaliknya dalam posisinya sebagai wartawan, ia tidak bisa beropini namun
merekan fakta empiris yang disampaikan pada pembaca.7

Pers dikatakan mampu memberi pelajaran demokrasi apabila tulisan atau


liputannya mampu menggugah kesadaran emotif pembaca dan menghindarkan diri dari
sikap anarkis dan bengis. Profesionalisme dalam melakukan investigasi, peliputan dan
pemberitaan mutlak dilakukan oleh seorang wartawan. Kita tidak bisa membandingkan
pers Indonesia dengan pers Amerika yang mampu mengusut Presiden yang berselingkuh.
Namun, karena terbukanya keran demokrasi di tanah air, pers bisa menjadi lembaga
kontrol terhadap perilaku pemimpin, yang akhirnya dapat memacu kepatuhan masyarakat
terhadap hukum karena melihat pemimpin yang bersih.

Perbincangan mengenai pers dalam sistem politik demokrasi menempati


posisi sentral mengingat kebebasan pers mejadi salah satu ukuran demokratis tidaknya
suatu sistem politik. Biasanya kebebasan pers dalam sistem politik demokrasi
dihubungkan dengan kebebasan penting lainnya, seperti kebebasan berekspresi,bertukar
gagasan dan informasi,dan sebagainya. Namun, sayangnya, kebebasan yang diberikan
oleh pemerintah di zaman reformasi melalui kebijkan-kebijakannya saat in cenderung
kembali ditekan, terutama media elektronik televisi.

Televisi sebagai Pers yang “Bebas”

Sebagai salah satu media informasi, televisi memiliki peran yang sangat
krusial dalam membentuk opini dalam masyarakat. Televisi menyajikan apa yang tidak
disajikan oleh media cetak dan radio. Televisi dapat mengemas berita dalam bentuk
tulisan, gambar bergerak, dan suara dalam satu tampilan atau kemasan yang lebih
menarik minat penonton. Namun, saat ini televisi tidak lagi hanya digunakan sebagai alat
untuk meraup keuntungan seperti yang tertera dalam pasal 3 ayat 2 UU NO. 40 Tahun
1999 tentang pers yang berfungsi sebagai alat ekonomi.

7
Soeroso, Menuju Pers Demokratis, Lembaga Studi dan Inovasi Pendidikan, Yogyakarta, 2001, hal.
Pers atau media televisi saat ini cenderung digunakan sebagai alat untuk
mencapai kepentingan para pemilik modal. Padahal salah satu cara untuk mengembalikan
kepercayaan masyarakat terhadap negara adalah melalui pers yang menghindarkan diri
dari segala bentuk kepentingan kekuasaan. Hal terebut pernah ditegaskan oleh Ashadi
Siregar bahwa pers harus mampu memilah dengan tajam antara mesin kekuasaan di satu
pihak dan realita sosial di pihak lain. Mesin kekuasaan tersebut berupa mesin politik yang
digerakkan oleh birokrasi, mesin ekonomi yang digerakkan oleh pemilik modal, dan
mesin kebudayan yang digerakkan oleh diktator nilai estetik atau kerohanian. Keputusan
redaktur seharusnya lebih dibandingkan keputusan para pemilik modal. Namun,
kecenderungan yang ada saat ini memutarbalikkan hal tersebut.

Kekuatan pemilik modal saat ini lebih berpengaruh dalam setiap isi atau
pemberitaan yang muncul di televisi. Dalam studi media, untuk menjelaskan isi media
terdapat tiga pendekatan khusus, salah satunya ialah pendekatan ekonomi politik.8 Bahwa
keberadaan perusahaan pers ditentukan oleh kekuatan ekonomi-politik di luar
pengelolaan media, seperti pemilik media, pemilik modal, dan pendapatan media. Faktor-
faktor tersebut kemudian menentukan peristiwa apa saja yang dapat disiarkan dan tidak.

Konglomerasi media juga dapat dijelaskan melalui produksi dari teks media.
Tercatat terdapat lima faktor yang mempengaruhi kebijakan redaksi terkait produksi teks
media, yaitu faktor individual, level rutinitas media, organisasi (internal dalam media),
level ekstramedia (lingkungan eksternal). 9 Organisasi atau struktur dan kultur internal
media menjadi salah satu faktor penentu yang tidak mungkin dipisahkan. Tentu ini
berkaitan pula dengan siapa pemilik media tersebut, bagaimana perusahaan media
mengelola dan mengatur dirinya.

Hal ini berkaitan erat dengan percepatan gerak industrialisasi pers yang tidak
diiringi dengan laju transformasi sosial ke arah masyarakat industri, serta melahirkan
realitas proses industrialisasi pers yang bercorak kapitalis dengan masuknya pemodal-
pemodal raksas dalam kehidupan pers. Para pemilik modal tersebut pada akhirnya tidak
hanya sekedar menanamkan modal dan mencari keuntungan ekonomis, tetapi juga

8
A. Sudibyo, Politik Media dan Pertarungan Wacana, LKiS, Yogyakarta, 2001, hal. 2.
9
Sudibyo, Politik Media dan Pertarungan Wacana, hal. 7
berharap pers, dimana mereka menempatkan uang mereka, dapat berfungsi positif
terhadap reputasi dan kepentingan pragmatis para pemilik modal.

Tujuan selain ekonomis yang diharapkan oleh pemilik modal terhadap pers
tempat dia menanamkan modalnya akan mengekang kemandirian redaksional pers
melalui jaringan pengusaha dan pemilik modal. Kemandirian yang paling terkekang
adalah dalam masalah politis-ideologis. Ditambah lagi, saat ini telah terjadi hubungan
simbiosis antara kalangan konglomerat atau para pemilik modal dengan kalangan
birokrat. Hal ini menyebabkan pers menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari korporasi
yang dibentuk oleh mesin-mesin kekuasaan tersebut dan terlibat dalam sharing
kepentingan dengan mereka.

Misalnya saja dalam kasus ketika pemilihan ketua umum Partai Golkar
dengan berita yang disajikan di Metro TV dan Surat Kabar Media Indonesia. Agenda
Setting10 Metro TV dan Media Indonesia mencoba memperlihatkan sosok Surya Paloh
sebagai calon pemimpin yang baik dikarenakan Surya Paloh merupakan orang penting
dalam media massa tersebut.11 Begitu pula dengan TV One yang berada di bawah kendali
Bakrie Group milik Abu Rizal Bakrie. Stasiun televisi ini juga melakukan hal yang
hampir sama dengan Metro TV dan Media Indonesia. Perbedaannya hanya pada tokoh
yang mereka sorot. Atau ketika TV One memberitakan mengenai kejadian lumpur di
Sidoarjo. TV One cenderung menggunakan kata Lumpur Sidoarjo daripada Lumpur
Lapindo.

Contoh kasus-kasus tersebut membuktikan bahwa saat ini media di Indonesia,


khususnya media televisi telah menjadi alat untuk mencapai kepentingan para pemilik
modal dan kalangan birokrat yang mempunyai hubungan erat dengan pemilik-pemilik
modal tersebut. Bahkan saat ini, pemilik modal tersebut adalah sang birokrat.

Kesimpulan
10
Agenda setting merupakan upaya media untuk membuat pemberitaan tidak semata-mata menjadi saluran
isu dan peristiwa melainkan ada strategi dan kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan
memiliki nilai lebih yang diharapkan oleh media. Agenda Setting sendiri merupakan salah satu konsekuensi
dari faktor kepemilikan modal dalam isu ekonomi politik media. Konsekuensi yang lain berupa
homogenisasi atau penyeragaman bentuk tayangan ataupun program dan hegemoni budaya.
11
S.S. Andarini, Opini: Konglomerasi Media, Kepemilikan Silang pemicu Monopoli Pemberitaan, 22
September 2010, <http://qnoyzone.blogdetik.com/index.php/2010/09/22/opini-konglomerasi-media-
kepemilikan-silang-pemicu-monopoli-pemberitaan/>, 3 Januari 2011.
Keruntuhan rezim otoriter di bawah kepemimpinan Soeharto membawa angin
segar bagi perubahan kondisi pers atau media di Indonesia. Diharapkan pers dapat
memperoleh kembali kebebasan yang selama masa Orde Baru dibelenggu oleh
pemerintah. Harapan tersebut terwujud dengan dibukanya keran kebebasan pers melalui
kebijakan-kebijakan pemerintah yang akomodatif. Namun, pada perkembangannya, pers
atau media di Indonesia mengalami hambatan baru berupa konglomerasi media.
Kebebasan pers terbelenggu dalam format yang berbeda. Pers atau media, terutama
televisi, saat ini cenderung menjadi alat untuk mencapai kepentingan para pemilik modal
berupa pencitraan diri dibandingkan sebagai pelindung demokrasi maupun wadah
informasi dan alat penyalur opini. Oleh karena itu dibutuhkan kontrol sipil yang kuat baik
dalam system media maupun model komunikasi politiknya.12

Daftar Pustaka

Pustaka Literatur

Oetama, Jakob. 1987. Perspektif Pers Indonesia. Jakarta: LP3ES.

Meyer, Thomas dan Lew Hincman. 2002. MEDIA DEMOCRACY: How the Media
Colonize Politics. Blackwell Publishing: Malden.

Soeroso. 2001. Menuju Pers Demokratis. Yogyakarta: Lembaga Studi dan Inovasi
Pendidikan.

Sudibyo, Ahmad. 1999. Citra Bung Karno: Analisis Berita Pers Orde Baru. Yogyakarta:
BIGRAF Publishing.

______________. 2001. Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta: LKiS.

Pustaka Online

Aditama, Firdaus Putra. 2007. Jejak Pers di Masa Orba dan Reformasi. Diunduh dari
<http://mengintip-dunia.blogspot.com/2007/11/jejak-pers-di-masa-orba-dan-

12
T. Meyer dan Lew Hinchman, MEDIA DEMOCRACY: How the Media Colonize Politics, Blackwell
Publishing Inc., Malden, 2002, hal. 142.
reformasi.html> pada 29 Desember 2010.

Andarini, Susi Sakti. 2010. Opini: Konglomerasi Media, Kepemilikan Silang pemicu
Monopoli Pemberitaan. Diunduh dari
<http://qnoyzone.blogdetik.com/index.php/2010/09/22/opini-konglomerasi-
media-kepemilikan-silang-pemicu-monopoli-pemberitaan/> pada 3 Januari
2011.

Ardy, Vera Widiaswari. 2008. Sistem Pers Indonesia Masa Orde Baru. Diunduh dari
<http://disinijurnalvera.blogspot.com/2008/12/sistem-pers-indonesia-masa-
orde-baru.html> pada 29 Desember 2010.

Erlizar, S.H. 2009. Pers Profesional dan Pencitraan Politik. Diunduh dari
<http://www1.harian-aceh.com/opini/85-opini/2672-pers-profesional-dan-
pencitraan-politik.html> pada 3 Januari 2011.