Anda di halaman 1dari 6

Islam Sebagai Doktrin Agama

Agama adalah suatu sistem kepercayaan kepada Tuhan yang dianut oleh sekelompok
manusia dengan selelau mengadakan interaksi dengan-Nya. Pokok persoalan yang
dibahas dalam agama adalah eksistensi Tuhan, manusia, dan hubungan antara manusia
dengan Tuhan. Tuhan dan hubungan manusia dengan-Nya merupakan aspek metafisika,
sedangkan manusia sebagai makhluk dan bagian dari benda alam termasuk dalam
katagori fisika. (Amsal Bahtiar, 1999;2)
Taib Thahir Abdul Muin mengemukakan definisi agama sebagai suatu peraturan
Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal untuk dengan kehendak
dan pilihannya sendiri mengikuti peraturan tersebut, guna mencapai kebahagiaan
hidupnya di dunia akhirat.
Ada empat unsur yang menjadi karakteristik agama sebagai berikut : pertama
unsur kepercayaan terhadap makhluk gaib, kedua unsur kepercayaan bahwa kebahagiaan
dan kesejahteraan di dunia ini dan di akhirat tergantung pada adanya hubungan yang baik
dengan kekuatan gaib yang dimaksud, ketiga unsur respon yang bersifat emosional dari
manusia, keempat unsur paham adanya yang kudus (secred) dan suci, dalam bentuk gaib,
dalam bentuk kitab suci yang mengandung ajaran-ajaran agama yang bersangkutan,
tempat-temoat tertentu, peralatan untuk menyelenggarakan upacara dan sebagainya
(Abuddin Nata, 200;121)
Adapun ruang lingkup agama sebagai suatu sistem nilai meliputi tiga persoalan
pokok, yaitu pertama, tata keyakinan atau credial, yaitu bagian agama yang paling
mendasar berupa keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan yang supranatural, Dzat Yang
Maha Mutlak di luar kehidupan manusia. Kedua,tata kepribadian atau ritual, yaitu
tingkah laku dan perbuatan manusia dalam berhubungan dengan dzat yang diyakini
sebagai konsekuensi dari keyakinan akan keberadaan Tuhan. Ketiga, tata aturan, kaidah-
kaidah atau norma-norma yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, atau
manusia dengan alam lainnya sesuai dengan keyakinan dan peribadatan tersebut. (A.
Toto Suryana Af, dkk, 1997:25)
Agama Islam merupakan satu-satunya agama yang paling sesuai untuk manusia.
Islam datang dari Allah Pencipta manusia. Pencipta lebih tahu tentang kemampuan dan
karakter yang diciptakannya. Oleh karena itu, Agama Islam akan sesaui dengan segala
dimensi kemanusiaannya.
Ajaran islam yang terhimpun dalam Al-Qur’an diturunkan Allah untuk mengatur
seluruh aspek kehidupan manusia dimuka bumi, memberi petunjuk dasar kepada manusia
apa yang harus dilakukannya dalam rangka mencapai kehidupan yang sejahtera di dunia
dan di akhirat.
Dengan demikian, Agama Islam menjadi dasar pedoman hidup bagi manusia
dalam mengatur kehidupannya baik dalam hubungannya dengan Allah, hubungan dengan
sesame manusia serta dengan alam secara keseluruhan (A. Toto Suryana Af, 1997};36)
Berdasar fakta diatas, maka dalam makalah yang berjudul “Islam Sebagai Doktrin
Agama” akan dibahas ;
1. Pengertian Islam
2. Wahyu sebagai bentuk doktrin Agama
3. Fungsi wahyu Al-Qur’an
4. Fungsi Al-Sunnah

A. Pengertian Islam
Pengertian Islam dari segi bahasa adalah sebagai berikut sebagaimana yang dijelaskan
oleh Drs. Shalahuddin Sanusi :
1. Islam dari kata-kata “assalmu”, “assalamu”, dan “assalamatu”, yang berarti bersih
dan selamat dari kecacatan-kecacatan lahir dan batin.
2. Islam dari kata-kata “assilmu” dan “assalmu” yang berarti perdamaian dan
keamanan (assulhu wal amaan)
3. Islam dari kata-kata “assalmu” (la= dibaca pendek), “assalmu” dan “assilmu” yang
berarti menyerahkan diri, tunduk dan taat (al-istislamu-al-idz’aanu-ath thaa’atu). (Endang
Saifuddin Anshari, 1980:53)
Sedangkan kata Islam menurut bahasa berasal dari kata “aslama”, yang berarti
tunduk, patuh dan berserah diri. Islam adalah nama dari agama wahyu yang diturunka
Allah SWT kepada Rasul-rasul-Nya untuk disampaikan kepada manusia. Agama Islam
berisi ajaran-ajaran Allah yang mengatur hubungan dengan Allah, manusia dengan
manusia, dan manusia dengan alam. Islam dalam pengertian ini adalah agama yang
dibawa oleh para rasul Allah, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW.
Agama Islam di setiap zaman mengajarkan aqidah yang sama, yaitu tauhid atau
mengesakan Allah SWT. Letak perbedaan ajaran di antara wahyu yang diterima setiap
Nabi pada syariat yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kecerdasan umat
pada saat itu.
Islam yang diturunkan kepada Nabi Mahammad adalah whyu Allah terakhir untuk
manusia. Oleh karena itu, agama ini sudah sempurna dan senantiasa sesuai dengan
tingkat perkembangan manusia sejak masa diturunkannya, empat belas abad yang lalu
hingga akhir peradaban manusia hari kiamat kelak (A. Toto Suryana Af, dkk, 1997:30)
Adapun pengertian Islam secara istilah akan kita dapati rumusan yang berbeda-
beda. Harun Nasution misalnya mengatakan bahwa Islam menurut istilah (Islam sebagai
agama), adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat
manusia Nabi Muhammad SAW sebagai rasul. Islam pada hakekatnya membawa ajaran-
ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi mengenal berbagai segi dari
kehidupan manusia.
Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama
perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau
persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata, bahwa agama Islam selaras benar
dengan namanya. Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh Nabi Allah,
sebagaimana tersebut pada beberapa ayat kitab suci al-Qur’an, melainkan pula pada
segala sesuatu yang tak sadar tunduk sepenuhnya kepada undang-undang Allah, yaitu kita
saksikan pada alam semesta (Abuddin Nata, 2000:63)
H.A. Gaffar Ismail, seorang muballigh terkemuka menulis : Islam nama agama
yang dibawa oleh Muhammad SAW berisi kelengkapan dari pelajaran-pelajaran meliputi
(a) kepercayaan, (b) seremoni peribadatan, (c) tata tertib penghidupan pribadi, (d) tat
tertib pergaulan hidup, (e) peraturan-peraturan Tuhan, (f) bangunan budi pekerti yang
utama, dan menjelaskan rahasia penghidupan yang kedua (akhirat).
T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, guru besar dan dekan Fakultas Syariah Sunan
Kalijaga Yogyakarta, antara lain menulis : Agama adalah suatu kumpulan peraturan yang
ditetapkan Allah untuk menarik dan menuntun para umat yang berakal kuat, yang suka
tunduk dan patuh kepada kebaikan, supaya mereka memperoleh kebahagiaan dunai,
kejayaan dan kesentosaan akhirat, negeri yang abadi, supaya dapat mendiami surga
Jannatul-Khuld, mengecap kelezatan yang tak ada tolak bandingnya serta kekal selama-
lamanya. Ta’arif definisi ini meliputi segi-segi I’tiqad, (kepercayaan bathin), budi pekerti
(akhlak) dan amal saleh (amal kebijakan). (Endang Saifuddin Anshari, 1980:55)

B. Wahyu sebagai bentuk doktrin agama


Agama Islam yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya tidak selengkap
wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Wahyu yang turun pada saat itu
bersifat local untuk satu atau dua suku bangsa saja. Misalnya wahyu yang turun kepada
Nabi Isa dan sebagainya.
Al-Qur’an menjelaskan dengan gambling bahwa para nabi Allah mambawa
agama Islam bagi para umatnya, seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an surat al-
Baqaarah ayat 136, yang artinya :
Katakanlah (hai orang-orang mukmin: kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang
diturunkan kepada Ibrahim, Islmail, Ishak, Yakub, serta anak cucunya dan kepada apa
yang telah diturunkan kepada Musa, Isa serta para Nabi Tuhan mereka. Kami tidak
membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk dan patuh
kepada-Nya (QS. Al-Baqarah:136)
Demikian pula wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Isa as., Nabi yang
paling dekat urutannya dengan Nabi Muhammad, dinyatakan Allah sebagai agama Islam,
dalam firman-Nya, yang artinya :
Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran dari mereka (bani Israil) berkatalah ia :
Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?
Para Hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab : Kamilah penolong-penolong
(agama) Allah. Kemi beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang berserah diri (muslimin) (Qs. Ali Imran, 3:52)
Wahyu yang diturunkan Allah kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad, tidak
dijamin oleh Allah orisinalitasnya, setelah para Nabi pembawanya tiada. Oleh karena itu
pada waktu selanjutnya umat dan para penganutnya menambah dan mengurangi ajaran
yang ditinggalkan para nabi itu bahkan mengganti nama Islam yang melekat pada ajaran
agama itu dengan nama lain yang diinginkan mereka. Penyimpangan-penyimpangan itu
dijelaskan oleh al-Qur’an, misalnya dalam ayat yang menjelaskan penyimpangan kaum
yahudi :
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka meruba prkataan dari tempat-tempatnya. Mereka
berkata; Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka
mengatakan pula) : Ra’ina dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. (Qs.
An-Nisa:46)
Berdasarkan ayat-ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa agama yang
diturunkan Allah kepada para Rasul sebelum Nabi Muhammad telah diintervensi,
ditambah dan dikurangi para pengikutnya setelah para Rasul itu wafat.
Dengan demikian, Agama Islam menjadisatu-satunya nama bagi wahyu Allah
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang terkumpul dalam kitab suci al-
Qur’an. Wahyu yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya tidak berlaku lagi, telah
dikoreksi dan disempurnakan oleh wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad, yaitu al-
Qur’an. (A. Toto Suryana Af, dkk, 1997:31)
Wahyu Allah berfungsi membimbing, memberi petunjuk, memberikan
pertolongan, dan menunjukkan jalan lurus agar manusia tidak tersesat dalam mencari
dam menyembah kepada Dia, Tuhan yang sebenarnya, yang dalam rentang perjalanan
sejarahnya dan secara psikis, tak henti-hentinya manusia mencoba mencari jawaban dari
pertanyaan yang mereka ajukan sendiri, siapakah hakekat Dia dibalik ala mini.
Keyakinan akan adanya wahyu Allah berarti memberikan pengakuan akan adanya
campur tangan Tuhan bagi perjalanan sejarah manusia dalam bentuk pengutusan para
rasul-Nya. Dan apa yang terjadi setelah itu adalah, apakah manusia menerima kedatangan
rasul-Nya yang membawa wahyu ilahi secara ikhlas, ataukah mereka menolaknya.
Apakah manusia mau menerima wahyu Tuhan yang sebenarnya, ataukah
mengingkarinya. (TIM IAIN SA, 1995:8)

C. Fungsi Wahyu al-Qur’an


Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada
umat manusia, sudah barang tentu memiliki sekian banyak baik bagi Nabi Muhammad itu
sendiri maupun bagi kehidupan manusia secara keseluruhan. Diantara fungsi al-Qur’an
adalah sebagai : (1) bukti kerasulan Muhammad dan kebenaran jalannya; (2) Petunjuk
aqidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia, yang tersimpul dalam keimanan
akan keesaan Allah dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasa; (3) petunjuk
mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan san
susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual dan
kolektif; (4) petunjk syariat dan hokum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hokum
yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesame manusia.
Atau dengan kata lain, al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang
harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Lebih dari itu, fungsi al-Qur’an adalah sebagai hujjah umat manusia yang
merupakan sumber nilai objektif, universal dan abadi, karena ia diturunkan dari Dzat
yang Maha Tinggi. Kehujjah al-Qur’an dapat dibenarkan, karena ia merupakan sumber
segala macam aturan tentang hokum, sosial ekonomi, kebudayaan, pendidikan, moral dan
sebagainya, yang harus dijadikan pandangan hidup bagi seluruh umat manusia dalam
memecahkan setiap persoalan (baca al-a’raf:158; al-Nahl:59; aL-Ahzab:36). Demikian
juga al-Qur’an berfungsi sebagai hakim yang memberikan keputusan terakhir mengenai
perselisihan di kalangan para pemimpin, dan lain-lain. Sekaligus sebagai korektor yang
mengoreksi ide, kepercayaan, undang-undang yang salah dikalangan umat beragama.
Oleh karena itu al-Qur’an merupakan penguat bagi kebenaran kitab-kitab suci terdahulu
yang dianggap lebih positif. Fungsi itu berlaku karena isi kitab-kitab suci terdahulu
terdapat perubahan dan perombokan dari aslinya dari para pemeluknya, disamping itu
juga sebagian isinya dianggap kurang relevan dengan perubahan dan perkembangan
zaman dan tempat. (Muhamin dkk, 1994:0)
D. Fungsi al-Sunnah
Al-sunnah sebagai sumber kedua setelah al-Qur’an mempunyai fungsi-fungsi terhadap al-
Qur’an sebagai berikut :
1. As-Sunnah berfungsi menetapkan dan menguatkan hukum-hukum yang telah
ditentukan al-Qur’an, maka dalam hal ini kedua-duanya bersama-sama menjadi sumber
hokum dari permasalahan yang dikuatkan tersebut. Seperti Sunnah (hadist) perintah
shalat, zakat, larangan riba dan lain-lain.
2. As-Sunnah berfungsi memberikan penjelasan makna yang dikehendaki al-Qur’an,
menafsirkan dan merinci ayat-ayat al-Qur’an. Bentuk penjelasan, penafsiran dan
perincian ini meliputi 4 kategori :
a. Bayanul-mujmal, artinya memberi penjelasam terhadap ayat-ayat al-qur’an yang
bersifat global atau merincinya. Contohnya dapat dilihat pada as-sunnah yang memberi
kejelasan bagaimana cara shalat, cara manasik haji.
b. Taqyidul-mutlaq, artinya membatasi ayat-ayat al-Qur’an yang masih mutlak (belum
ada batasnya). Contohnya : sunnah yang menerangkan arti yad dalam ayat tentang
pencurian, yalni membatasi tangan kanan dan hanya sampai pergelangan saja yang harus
dipotong.
c. Tahsisul-‘am, artinya penentuan khuss ayat-ayat al-Qur’an yang masih umum.
Misalnya ketentuan anak-anak dapat mempusakai orang tuanya dan keluarganya di dalam
al-Qur’an yang masih umum kemudian sunnah mengemukakan syarat tidak berlainan
agama dan tidak adanya tindakan pembunuhan.
d. Taudihul-musykil, artinya memberi penjelasan pada hal-hal yang rumit. Seperti kata
al-khaitul-abyad dalam al-Qur’an, kemudian sunnah menjelaskan kata tersebut dengan
bayadun-nahar (terangnya-siang).
3. As-Sunnah berfungsi menetapkan hukum atau aturan-aturan yang tidak didapati di
dalam al-qur’an (legislasi tanpa al-Qur’an). Didalam hal ini, aturan-aturan atau hukum-
hukumnyahanya berasaskan pada as-Sunnah semata. Seperti sunnah yang berisi tentang
keharaman memadu seorang wanita bersama-sama dengan bibinya. Keharaman
mengawini wanita yang sepersusuan, dan lain-lain. (Tim IAIN SA, 1995:37)

Dari beberapa pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :


1. Penegertian Islam bias dilihat dari ketiga bahasa dan istilah, secara bahasa Islam
berarti selamat, sedangkan dari segi istilah Islam adalah agama yang ajaran-ajaranya
diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW. Sebagai
rasul. Islam pada hakekatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu
segi, tetapi mengenal berbagai segi dari kehidupan manusia.
2. Wahyu sebagai bentuk doktrin agama, bahwasannya Al-Qur’an menjelaskan
dengan gambling bahwa para Nabi Allah membawa agama Islam bagi para umatnya,
seperti yang tercantum dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 136, yang artinya :
Katakanlah (hai orang-orang mukmin: kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang
diturunkan kepada Ibrahim, Islmail, Ishak, Yakub, serta anak cucunya dan kepada apa
yang telah diturunkan kepada Musa, Isa serta para Nabi Tuhan mereka. Kami tidak
membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk dan patuh
kepada-Nya (QS. Al-Baqarah:136)
3. Fungsi Wahyu al-Qur’an adalah sebagai : (1) bukti kerasulan Muhammad dan
kebenaran jalannya; (2) Petunjuk aqidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh
manusia, yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Allah dan kepercayaan akan
kepastian adanya hari pembalasa; (3) petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan
jalan menerangkan norma-norma keagamaan san susila yang harus diikuti oleh manusia
dalam kehidupannya secara individual dan kolektif; (4) petunjk syariat dan hokum
dengan jalan menerangkan dasar-dasar hokum yang harus diikuti oleh manusia dalam
hubungannya dengan Tuhan dan sesame manusia. Atau dengan kata lain, al-Qur’an
adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan
hidup di dunia dan akhirat.
4. Fungsi Al-Sunnah adalah (1) As-Sunnah berfungsi menetapkan dan menguatkan
hukum-hukum yang telah ditentukan al-Qur’an (2) As-Sunnah berfungsi memberikan
penjelasan makna yang dikehendaki al-Qur’an, menafsirkan dan merinci ayat-ayat al-
Qur’an (3) As-Sunnah berfungsi menetapkan hokum atau aturan-aturan yang tidak
didapati di dalam al-qur’an (legislasi tanpa al-Qur’an).