Anda di halaman 1dari 3

Syarat Pembentukan Paragraf

 Kesatuan
Tiap paragraf hanya mengandung satu gagasan pokok atau satu topik. Fungsi paragraf ialah
mengembangkan topik tersebut. Oleh sebab itu. Dalam pengembangannya tidak boleh terdapat unsur-
unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik atau gagasan tersebut.
Cermati Paragraf Berikut
• Kebutuhan hidup sehari-hari setiap keluarga dalam masyarakat tidaklah sama. Hal ini sangat
tergantung dari besarnya penghasilan setiap keluarga. Keluarga yang berpenghasilan sangat
rendah, mungkin kebutuhan pokok pun sulit terpenuhi. Lain halnya dengan keluarga yang
berpenghasilan tinggi. Mereka dapat menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk
pembangunan tempat-tempat beribadah atau untuk kegiatan sosial lainnya. Tempat-tempat
ibadah memang perlu bagi masyarakat. Pada umumnya tempat-tempat ibadah ini dibangun
secara bergotong royong dan sangat mengandalkan sumbangan para dermawan. Perbedaan
penghasilan yang besar dalam masyarakat telah menimbulkan jurang pemisah antara si kaya
dan si miskin.
Kepaduan: hubungan antara kalimat dengan kalimat
• Kepaduan/Koherensi
Satu paragraf bukanlah merupakan kumpulan atau tumpukan kalimat yang masing-masing berdiri
sendiri atau terlepas, tetapi dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik.
Pembaca dapat dengan mudah memahami dan mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena
adanya loncatan pikiran yang membingungkan. Urutan pikiran yang teratur, akan memperlihatkan
adanya kepaduan.
Kepaduan dalam paragraf dibangun dengan:
• Unsur kebahasaan yang digambarkan dengan:
a. Repetisi atau pengulangan kata kunci
b. Kata ganti
c. Kata transisi
• Pemerincian dan urutan paragraf:
Hubungan antara pikiran utama dan pikiran penjelas dapat dilihat dari urutan perinciannya

Repetisi
• Dalam mengajarkan sesuatu, langkah pertama yang perlu kita lakukan ialah menentukan tujuan
mengajarkan sesuatu itu. Tanpa adanya tujuan yang sudah diterapkan, materi yang kita berikan,
metode yang kita gunakan, dan evaluasi yang kita susun, tidak akan banyak memberikan
manfaat bagi anak didik dalam menerapkan hasil proses belajar. Dengan mengetahui tujuan
pengajaran, kita dapat menentukan materi yang kita ajarkan …….
Kata atau Frase Transisi
 Perkuliahan bahasa Indonesia seing kali sangat membosankan sihingga tidak mendapat
perhatian sama sekali dari mahasiswa. Hal ini disebabkan, bahkan kuliah yang disajikan dosen
sebenarnya mrupakan masalah yang sudah diketahui oleh mahasiswa, atau merupakan masalah
yang tidak diperlukan mahasiswa. Disamping itu, mahasiswa yang sudah mempelajari bahasa
Indonesia sejak mereka ………. Akibatnya, memilih atau menentukan bahan kuliah yang akan
dibrikan kepada mahasiswa merupakan kesulitan tersendiri bagi para pengajar bahasa
Indonesia.
Pemakaian kata Ganti
 Ibu Sud dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat, pada 26 Maret 1907. Ibu Sud merupakan puteri
bungsu dari keluarga A.M. Niung yang berasal dari UjungPandang. Darah seni yang ada pada
orang tua Ibu Sud telah mengalir pada Ibu Sud. Hal ini terlihat ketika Ibu Sud masih duduk di
sekolah dasar, menunjukkan kegemaran Ibu Sud menyanyi dan bermain sandiwara. Ibu Sud rajin
mengikuti latihan-latihan musik, seni suara, dan seni drama yang diberikan oleh guru-guru Ibu
Sud. Kegemaran Ibu Sud akan seni suara mendorong Ibu Sud untuk mempelajarinya terus.
Narasi
 Karangan narasi adalah karangan yang menceritakan serangkaian peristiwa atau kejadian
menurut urutan terjadinya (kronologis), dengan maksud memberi arti kepada sebuah atau
serentetan kejadian, sehingga pembaca dapat memetik hikmah dari kejadian tersebut.
Macam Narasi
 Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris,
sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif. Contoh narasi ekspositoris adalah
biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Sedangkan contoh narasi sugestif adalah novel,
cerpen, cerbung, ataupun cergam.
 Pola narasi secara sederhana berbentuk susunan dengan urutan awal – tengah – akhir.
 Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal
harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca.
 Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan
menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur
cerita akan mereda.
 Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang
menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan
akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.
Langkah menyusun narasi (terutama yang berbentuk fiksi) cenderung dilakukan melalui proses kreatif,
dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Oleh karena itu, cerita dirangkai dengan
menggunakan "rumus" 5 W + 1 H, yang dapat disingkat menjadi adik simba.[rujukan?]
1. (What) Apa yang akan diceritakan,
2. (Where) Di mana seting/lokasi ceritanya,
3. (When) Kapan peristiwa-peristiwa berlangsung,
4. (Who) Siapa pelaku ceritanya,
5. (Why) Mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan
6. (How) Bagaimana cerita itu dipaparkan.
Contoh Narasi (fakta)
 Yang mendiami pulau-pulau di Indonesia pada zaman purba ialah penduduk asli. Kemudian
antara 1500-1000 tahun SM, bangsa yang hidup di Hindia Belakang (Kamboja) lalu berpindah ke
selatan. Setelah itu mereka datang secara bergelombang. Lalu mereka menetap di pulau-pulau
Indonesia itu dan bercampur dengan penduduk asli. Kemudian inilah bangsa Indonesia.
Narasi (Pengalaman Hidup)
 Selama liburan ujian akhir nasional banyak hal yang sudah aku lakukan mulai dari mengerjakan
tugas sampai dengan menyenangkan diriku sendiri. Aku di hari pertama mengerjakan tugas
matematika membuat rumus bangun-bangun ruang dan bangun datar. Aku juga menyelesaikan
tugas membuat ringkasan sejarah. Aku juga sempat membuat kliping untuk mata pelajaran
geografi.
 Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-
tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku
jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa.
Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu.
Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di
hadapanku, akankah kurindui juga?
Ada yang berdegup keras di dalam dada, namun kuusahakan untuk menepiskannya. Jangan,
Bowo, sergah hati kecilku, jangan biarkan hatimu terbagi. Ingatlah Ratri, dia tengah menunggu
kepulanganmu dengan segenap cintanya.