Anda di halaman 1dari 10

'URF DAN

KEDUDUKANNYA SEBAGAI METODE ISTINBATH HUKUM DALAM USHUL


FIQH

Oleh:Badruzzaman
dan Ahmad Baharuddin
BAB I
A. Pendahuluan

Ilmu Ushul Fiqih merupakan salah satu


intsrumen penting yang harus dipenuhi oleh siapapun yang ingin menjalankan atau
melakukan mekanisme ijtihad dan istinbath hukum dalam Islam. Itulah
sebabnya tidak mengherankan jika dalam pembahasan kriteria seorang mujtahid,
penguasaan akan ilmu ini dimasukkan sebagai salah satu syarat mutlaknya. Atau
dengan kata lain, untuk menjaga agar proses ijtihad dan istinbath tetap
berada pada koridor yang semestinya, Ushul Fiqih-lah salah satu “penjaga”nya.

Meskipun demikian, ada satu fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa
penguasaan Ushul Fiqih tidaklah serta merta menjamin kesatuan hasil ijtihad dan
istinbath para mujtahid. Disamping faktor eksternal Ushul Fiqih itu
sendiri –seperti penentuan keshahihan suatu hadits misalnya-, internal Ushul
Fiqih sendiri –pada sebagian masalahnya- mengalami perdebatan (ikhtilaf) di
kalangan para Ushuluyyin. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah al-Adillah
(sebagian ahli Ushul menyebutnya: al-Ushul) al-Mukhtalaf fiha, atau
“Dalil-dalil yang diperselisihkan penggunaannya” dalam penggalian dan
penyimpulan hukum.

Salah satu dalil itu adalah apa yang dikenal dengan al_'Urf (selanjutnya
disebut sebagai 'urf atau adat). Makalah ini akan menguraikan
tentang hakikat al-'urf tersebut, bagaimana pandangan para ulama tentangnya, serta
beberapa hal lain yang
terkait dengannya. Wallahul muwaffiq
B. Rumusan
Masalah

Dalam makalah ini


kami akan membatasi masalah kami yaitu:

• Pengertian 'urf dan adat


• Pembagian 'urf
• Dalil kehujjahan 'urf dan adat
• Syarat 'urf dan adat
• BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
'Urf dan Adat

Sebelum
berbicara jauh membahas masalah 'Urf sebaiknya membahas pengertiannya terlebih
dahulu. Berikut ini kami akan memaparkan beberapa pendapat ulama mengenai
pengertian 'urf, diantaranya 'urf secara
etimologi berasal dari kata arafa, yu'rifu (‫عرف‬-
‫ )يعرف‬sering diartikan
dengan al-ma'ruf (‫ )المعروف‬dengan arti sesuatu yang dikenal",
atau berarti yang baik . kalau dikatakan ‫فلن اولي‬
‫ ( فلن عرفا‬Sifulan
lebih dari yang lain dari segi urfnya), maksudnya bahwa seseorang lebih
dikenal dibandingkan dengan yang lain.[url=#_ftn1][1][/url]
Sedangkan
menurut abdul Wahab Khallaf 'urf adalah

‫م‬,‫ما تعارفه الناس وساروا عليه‬


‫او ترك‬,‫اوفعل‬,‫قول‬

Segala apa yang


dikenal oleh manusia dan berlaku padanya baik berupa perkataan, perbuatan
ataupun meninggalkan sesuatu.[url=#_ftn2][2][/url]
Adapun pendapat Wahbah Azzuhaily urf adalah :

‫وساروا عليه من كل‬,‫هو ما اعتداه الناس‬


‫ول يتبادر غيره‬,‫اولفظ تعارفوا اطلقه عل معني خاص ل تألف اللغة‬,‫فعل شاع بينهم‬
‫[عند سماعه‬url=#_ftn3][3][/url]

Ada juga yang


menfinisikan 'urf adalah apa-apa yang dibiasakan oleh masyarakat dan dijalankan
terus menerus baik berupa perbuatan maupun perkataan.

Imam al-Ghazali pun


memberikan pengertian urf sebagai berikut :

‫مااستقر في النفوس من جهة العقول‬


‫وتلقته الطباع السلبمة بالقبول‬

Keadaan yang
sudah tetap pada jiwa manusia, dibenarkan oleh akal dan diterima pula oleh
tabiat yang sehat.

Adapun badran
mengartikan 'urf dengan :

‫ما اعتداه جمهور الناس والقوه من قول‬


‫او فعل تكرر مرة بعد اخري حتي تمكن اثره في نفوسهم وصارت تتلقاه عقولهم بالقبول‬

Apa-apa yang
dibiasakan dan diakui oleh orang banyak, baik dalam bentuk ucapan ataupun
perbuatan, berulang dilakukan dilakukan sehingga berbekas dalam jiwa mereka dan
diterima baik oleh akal mereka.[url=#_ftn4][4][/url]

Sebagai contoh adat kebiasaan yang berupa


perbuatan (urf amali) seperti jual beli muathah (‫)بيع الماطاه‬
yakni jual beli dimana si pembeli menyerahkan uang sebagai pembayaran atas
barang yang telah diambilnya, tanpa mengadakan ijab qabul, karena harga barang
tersebut sudah dimaklumi bersama.

'Urf berbeda dengan ijma' disebabkan karena


'urf itu dibentuk oleh kebisaan-kebiasaan orang yang berbeda-beda tingkatan
mereka, sedang ijma' dibentuk dari persesuaian pendapat khusus dari para
mujtahidin. Wahbah Azzuhaily berpendapat mengenai hal ini beliau mengatakan
ijma' dibentuk oleh kesepakatan para mujtahid dari ummat Rasulullah SAW setelah
wafatnya terhadapat suatu masalah, tidak dapat dijadikan sebagai sumber hukum
kecuali melaluli hukum syar'i dan kadang sampai kepada kita dan kadang pula
tidak sampai dan ijma' dianggap sebagai hujjah yang mengikat.

Sedangkan urf menurut beliau tidak disyaratkan


adanya kesepakatan, dan tidak dituntut pula besumber dari dalil syra'i dan
tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat selamanya karena 'urf ada yang
shahih dan ada pula yang fasid.[url=#_ftn5][5][/url]
Setelah
membahas pengertian 'urf maka timbul pertanyaan apa perbedaan antara 'urf (‫)العرف‬
dan adat (‫) العادة‬, sebagian ulama ushul fiqhi berpendapat bahwa urf disebut
juga adat (adat kebiasaan) sekalipun dalam pengertian istilahi tidak ada
perbedaan antara 'urf dengat adat. Mengutip Dalam buku ushul fiqhi islamiy
karya Wahbah Azzuhaily beliau mengatakan "sebagian ulama ushuliyyin
berkata sesunguhnya kata 'urf (‫ ) العرف‬dan kata adat (‫ )العادة‬merupaakan
kata sinonim seperti diungkapkan Ibnu Abidin, dan ar-Rahawy dalam bukunya
syarhul manar, dan Ibnu Najim dalam bukunya al-Asybah wa an-Nadzair. Dan kedua
kata tersebut bermakna sesuatu yang sudah tetap pada manusia, dibenarkannya
oleh akal dan diterima pula tabiat yang sehat.

Dan
berkata sebagian ushuliyyin yang lain seperti Ibnu al-Hammam al-Bazdawydal
dalam bukunya al-talwih 'ala at-Taudih: sesungguhnya 'urf lebih umum daripada
adat, 'urf tercakup 'urf qauly dan 'urf amaly, dan sedangkan adat hanya
dibatasi pada 'urf amaly saja.

Sedangkan
menurut Ibnu Amr dan yang sepakat dengan beliau dari ulama muhadditsin seperti
syekh fahmy dalam bukunya al-adat wa al-urf fiy ra'yi al-fuqahai: ”sesungguhnya
adat lebih umum dari pada urf".[url=#_ftn6][6][/url]

B. Pembagian 'Urf

Ulama ushul fiqhi


membagi Urf menjadi tiga macam:

• Dari
segi objeknya, urf dibagi kepada 'urf lafdzy dan 'urf amali

'Urf
lafdzi ((‫العرف‬
‫اللفظي‬adalah kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan lafal/ungkapan
tertentu dalam mengungkapkan sesuatu, sehingga makna ungkapan itulah yang
difahami dan terlintas dalam pikiran masyarakat.

Contohnya,
ungkapan "daging" mencakup seluruh daging yang ada. Apabila seseorang
penjual daging, sedangkan penjual daging itu memiliki bermacam-macam daging,
lalu pembeli mengatakan "saya beli daging satu kilogram" pedagang itu
langsung mengambil daging sapi, karena kebiasaan masyarakat setempat telah
mengkhususkan penggunaan daging pada daging sapi.
'Urf
amali kebiasaan masyarakat yang berkaitan degan perbuatan biasa atau muamalah
keperdataan. Adapun yang dimaksud perbuatan biasa adalah perbuatan masyarakat
dalam masalah kehidupan mereka yang tidak terkait dengan kepentingan oang lain,
seperti kebiasaan libur kerja dalam satu minggu.

• Dari segi cakupannya,' urf dibagi dua,


yaitu 'urf amm dam 'urf khash

'Urf
'amm (‫ )العرف العام‬adalah 'urf yang berlaku pada sesuatu tempat, masa, dan
keadaan. Atau kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas diseluruh masyarakat
dan diseluruh daerah.

Contohnya,
seperti memberi hadiah (tip) kepada orang yang telah memberikan jasanya kepada
kita.

'Urf khash (‫ )العرف الخص‬adalah urf yang berlaku hanya pada


suatu tempat, masa dan keadaan tertentu saja, atau kebiasaan yang berlaku di
daerah dan masyarakat tertentu.

Contohnya
mengadakan halal bihalal yang biasa dilakukan oleh bangsa Indonesia yang
beragama Islam pada setiap selesai menunaikan ibadah puasa bulan ramadhan,
sedang pada Negara-negara islam lain tidak melakukannya.

• Dari segi keabsahannya dari pandangan


syara', 'urf dibagi menjadi 'urf shahih dan 'urf fasid.

Urf
shahih (‫ )العرف الصحيح‬adalah apa yang telah menjadi kebiasaan manusia yang tidak
bertentangan dengan dalil syara' dan tidak menghalalkan sesuatu yang telah
dianggap haram oleh syara' dan tidak membatalkan yang wajib.

Contohnya
mengadakan pertunangan sebelum melangsungka pernikahan, dipandang baik, telah
menjadi kebiasaan dalam masyarakat, dan tidak betentangan dengan syara'.

'Urf
fasid (‫ )العرف الفاسد‬adat kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang, berlawanan
dengan ketentuan syariat karena membawa kepada menghalalkan yang haram atau
membatalkan yang wajib, misalnya perjanjian-perjanjian yang bersifat riba,
menarik hasil pajak penjudian dan lain sebagainya.[url=#_ftn7][7][/url]
bersambung.......part 2
Kajian Hukum 'Urf dan Âdah
(sebuah pengantar)
Oleh: Ahmad Baharuddin dan Badruzaman

Prolog

Akhir-akhir ini, seruan dan slogan beberapa golongan untuk


"memaksa" Islam agar sejalan dengan realita dan kebiasaan yang ada
terasa semakin kuat. Mereka berdalih dengan menggunakan kekuatan hukum 'urf,
hukum mengikuti kebiasaan yang berlaku pada masanya. Selain
itu terkadang juga dalam pembacaan Turats kita mendapati Ulama dalam
menghadapi sebuah masalah yang belum dijelaskan Alquran secara rinci terkadang
berbeda pendapat dengan Hujjah yang sama dan saling menguatkan. Salah satu Hujjah
yang dipergunakan adalah hukum Urf. Yaitu kebiasaan dikalangan
manusia secara umum.

Bagaimanakah sebenarnya kekuatan


hukum Urf itu ? sejauh mana ia mampu mengahdirkan hukum yang tsabit ? dan
mengapa ulama justru sering berbeda pendapat karena hal itu ?

Premis-premis di atas adalah salah satu yang memotivasi penulis mengahadirkan sebuah
tulisan kecil (baca; walaupun hanya sekedar pengantar) untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan di atas dan sekaligus membuka wacana keilmuan kawan-kawan. Yang
akhirnya semoga dengan ini dapat membuka jalan diskusi diantara kita dan saling
melengkapi satu sama lain.

Defenisi 'Urf dan Âdah Serta Dasar Hukumnya

Dalam beberapa pengertian yang dilangsir oleh para Ulama kata Urf terkadang
digandengkan dengan kalimat Adâh namun secara kebahasaan dua kalimat ini berbeda.

'Urf
ialah sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat, diterima oleh akal dan
merupakan kebiasaan dikalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan.
Antara lain adalah kebiasan pejabat negara menggunakan peci hitam pada setiap
acara kenegaraan, dan kita mengunakan sarung ketika Shalat. Sedangkan

Âdah
ialah hal yang dilakukan berulang-ulang tanpa menggunakan hal-hal yang logis
baik pada kelompok ataupun secara person saja. Misalnya ; kebiasaan makan
dengan lauk pedas, atau setelah makan mesti merokok, dan sebagainya.
Kemudian kita dapat melihat perbedaan keduanya dengan kaidah 'Amm dan Khas. Âdah
digunakan secara umum dan mencakup segala hal baik dari perongan dan kelompok
masyarakat. Berbeda dengan Urf, ia hanya digunakan pada kelompok secara khusus tidak
pada satu person saja.

Adapun dalil yang mengasakan Hukum keduanya adalah

Al Quran

‫خذ‬
199 : ‫) العفو و أمر بالعروف وأعرض الجاهلين )العراف‬

Hadits

- ‫قال رسول ال صلي ال عليه وسلم لصحابه‬


(( ‫)) أنتم أعرف بأمردنياكم‬

- ‫قال رسول ال صلي ال عليه وسلم )) مارآه‬


‫))المسلمون حسنا فهو عند ال حسن‬

Dari dalil diatas dapat dilihat bahwa telah ada ketetapan dari para sahabat dan tabiin
untuk mengunakan Urf dalam
menetapkan hukum yang belum dijelaskan secara rinci dalam Alquran dan Hadits. Para
ulama sepakat bahwa 'Urf Syariy dapat dijadikan dasar hujjah
selama tidak bertentangan dengan syara'.

Ulama Malikiyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ulama Madinah dapat
dijadikan hujjah, demikian pula ulama Hanafiyah menyatakan
bahwa pendapat ulama Kufah dapat dijadikan dasar hujjah. Imam Syafi'i
terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Beliau menetapkan hukum yang berbeda
pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di
Mesir (qaul jadid). Hal ini menunjukkan
bahwa sebagian besar para ulama berhujjah dengan 'Urf. Sedang tentu saja 'Urf fasid
tidak mereka jadikan sebagai dasar hujjah.

Pembagian Urf dan Âdah

a) Urf

1- Ditinjau dari sebab dan sifatnya ;


Qauly,
ialah ungkapan yang dipergunakan orang banyak sedang pada hakikatnya berbeda dengan
kaidah pemakaiannya. Seperti perkataan walad, menurut bahasa berarti anak, termasuk di
dalamnya anak laki-laki dan anak perempuan. Tetapi dalam percakapan sehari-hari biasa
diartikan dengan anak laki-laki saja. Lahmun, menurut bahasa berarti daging termasuk di
dalamnya segala macam daging, seperti daging binatang darat dan ikan Tetapi dalam
percakapan sehari-hari hanya berarti binatang darat saja tidak termasuk di dalamnya
daging binatang air (ikan).
·
Amaly, ialah hal-hal yang sering dipergunakan oleh
manusia ketika berinteraksi dengan lainnya. Seperti jual beli dalam masyarakat tanpa
mengucapkan shighat akad jual beli. Padahal menurut syara', shighat jual beli itu
merupakan salah satu rukun jual beli. Tetapi karena telah menjadi kebiasaan dalam
masyarakat melakukan jual beli tanpa shighat jual beli dan tidak terjadi hal-hal yang tidak
diingini, maka syara' membolehkannya.

2- Ditinjau dari ruang lingkup berlakunya ;


'Am, Ialah
'urf yang berlaku hampir pada semua tempat, masa dan keadaan, seperti memberi
hadiah (tip) kepada orang yang telah memberikan jasanya kepada kita, penggunaan
kata Thalaq untuk melepaskan ikatan perkawinan, dan lain sebagainya

Khash, Ialah 'urf yang hanya berlaku pada satu


tempat, masa atau keadaan tertentu saja. Seperti kebiasaan warga negara Iraq
menggunakan lafaz dâbbah(onta) untuk menyebut kuda, dan juga mengadakan
halal bi halal yang biasa dilakukan oleh bangsa Indonesia yang beragama Islam
pada setiap selesai menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan, sedang pada
negara-negara Islam lain tidak dibiasakan.

b) Âdah, terbagi kepada:


- Syar'iy, Ialah Âdah(adat istiadat) yang dapat diterima karena telah ditetapkan dengan
Nash dan tidak bertentangan dengan syara'. Seperti menggunakan mukena pada wanita
ketika sedang Shalat, mengadakan pertunangan sebelum melangsungkan akad nikah,
dipandang baik, telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat dan tidak bertentangan
dengan syara', dan lain-lain.

- Ghairu Syar'iy, Ialah Âdah(adat istiadat) yang tidak diterima karena tidak adanya Nash
yang menetapkan dan juga kosongnya nash yang menafikannya. Misalnya karena
perbedaan tempat dan keadaan udaranya menyebabkan berbedanya hukum dalam
menetapkan batasan haid pada wanita, usia baligh pada anak dan lain-lain. Secarah umum
hukum Âdah Ghairu Syar'iyah ini terbagi dua sesuai keadaan yang dialaminya ; pertama :
Tsabit, jika ia dapat dipertanggung jawabkan secara Nash yang mendukungnya maka itu
bisa dilaksanakan. Dalam hal ini dicontohkan adanya nafsu makan dan minum, maka
hukumnya tsabit. Kedua : Mutabaddil, seperti menutup kepala, ini baik yang
menganggapnya baik dan buruk bagi yang melihatnya buruk.
Kriteria Sahnya 'Urf dan Âdah
Secara umum ulama Fiqih menganggap 'Urf adalah salah satu landasan hukum setelah
tidak adanya dalil lain yang menetapkanya. Namun dalam kaitannya sebagai landasan
hukum ia tidak lepas dan bebas dari syarat yang
mengikatnya.'Urf sendiri memiliki syarat dan kriteria tertentu hingga dapat
dikatakan sebagai salah satu kekuatan hukum dalam Islam. Kriterianya antara lain ;
Urf itu
adalah hal lazim yang dilakukan oleh banyak orang Secara umum dilakukan di semua
negara Islam Tidak bertentangan dengan dalil Syar'iy
Urf yang terkait dengan amalan, dan ungkapan Nash pada satu waktu tertentu, terbatas
pada waktu itu saja. Terkait dengan kebiasaan manusia yang mesti dilaksanakan Tidak
adanya ungkapan dan amalan yang berlawanan dengan urf ini

Apakah Urf Merupakan Salah Satu Sebab Perbedaan Para Ahli Fiqh

Tidak. Urf bukan merupakan penyebab terjadinya perbedaan para Ahli Fiqh. Setidaknya
ini adalah jawaban yang disampaikan dari beberapa ulama. Diantaranya al-Bathlayusy
dalam kitabnya al-Insaf, dan Ibnu Taimiyah dalam risalahnya Raf'ul Malam

Hal ini juga disebutkan oleh Syathiby dalam Muwafaqat, beliau mengatakan bahwa tidak
sepantasnya ulama berbeda pendapat dengan sebab Urf, tapi perbedaan yang ada pada
hakikatnya saja bukan pada Urf-nya. Bahkan beliau menambahkan kembali bahwa para
Ulama hanya berbeda pada zahirnya saja tapi kenyataannya mereka sama dalam
memandang hukum.

Akhirnya kita dapat menarik kesimpulan


berdasar dari keterangan Imam Syathiby. Urf bukan merupakan penyebab
terjadinya perbedaan para Ahli Fiqh, karena seandainya jika salah satu ulama
yang berbeda pendapat itu (baca; secara zahirnya) menyaksikan dan berinteraksi secara
langsung terhadap urf tertentu maka mereka akan nampak sama terhadap pemvonisan
hukum.

Epilog

Urf atau tradisi dapat dijadikan produk hukum selama tidak melanggar Syariah.
Misalnya, lampu lalu lintas yang harus ditaati, pembatasan waktu dalam pelunasan
hutang, peraturan-peraturan teknis yang dibuat dalam bisnis atau perkantoran, peraturan
perundang-undangan dll.

Dalam Islam dikenal Qaidah Fiqhiyah, yaitu Al-‘Âdah Muhakkamah, yaitu tradisi
atau kebiasaan bisa menjadi landasan hukum selagi tidak bertentangan dengan Syariah
dan memenuhi kriteria yang kami telah sebutkan di atas. Bahkan para Mufty dan Qadhy
dalam memberikan fatwa kontenporernya berpegang dengan kaidah ini.
Rasul saw bersabda,
‫ا لمسلمون على شروطهم إل شرطا حرم حلل أو أحل حراما‬،
Umat Islam terikat dengan perjanjian yang dibuat sesama mereka, kecuali
perjanjian yang isinya mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram
(HR Ahmad dan Abu Dawud).

Studi tentang kajian Urf kali ini terasa sangat kurang dan mustahil untuk bisa diterangkan
dan dijelaskan secara panjang lebar dalam lembaran-lembaran makalah sesederhana ini.
Sungguh ini merupakan hal penting yang perlu dikaji lebih dalam lagi. Namun,
mengingat makalah ini hanya "pengantar" maka kajian kita hanya melihat sekilas
wacana-wacana utama yang bisa dikaji ulang, dikembangkan, dan seterusnya
melengakapi kembali wacana kawan-kawan.
Wallahu A’lam bish-Shawab

Bibliografi
Abu Sunnah, Ahmad Fahmi. Al-Urf wal Âdah Fi Ra'yi al-Fuqaha, cet.pertama (1425
H/ 2004 M) dârul bashâir.

Abu Sunnah, Ahmad Fahmi. Qâidatâni Fiqhiyatâni Al-Adah Muhakkamah - La Dhara


wa La Dhirar. cet.pertama (1425 H/ 2004 M) dârul bashâir.

Al-Kafrawy, As'ad 'Abdul Ghani, Al-Istidlal 'Indal Ushuliyyin, cet. II (1426 H/ 2005
M) darusalam.

'Azzam, Abdul Aziz Muhammad, Al-Qawâid Al-Fiqhiyah, (1426 H/ 2005 M) darul


hadits, Kairo.

Khallaf, Abdul Wahhab. Mashâdir at-Tasyri' al-Islamiy Fima La Nassha Fih.


cet.VII (1426 H/ 2005 M) dârul qalam.

Zaydiyy, Abdur Rahman, Al-Ijtihad bi-Tahqiqi al-Manath wa Sulthanih fi Fiqhi al-


Islam, darul hadits, Kairo.