Anda di halaman 1dari 8

STUDI KOMPARATIF PENJADWALAN PROYEK KONSTRUKSI

REPETITIF MENGGUNAKAN METODE PENJADWALAN


BERULANG (RSM)
DAN METODE DIAGRAM PRESEDEN (PDM)
Budi Laksito
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik - UNS Surakarta
Jln. Ir. Sutami No.36A Surakarta 57126

Abstract
Repetitive project activities require scheduling instrument which can facilitate unbreakable resources flow
from one to the next unit. CPM which has been widely recognized as a tough project scheduling method to
handle complex and has many branchesl networks, apparently become less effective if we used it to schedule
repetitive project. Like wise the PDM usefulness in a project relatively collided with it’s limited ability to
maintain work continuity for existing worker teams.What we want to inform in this paper is introducing a
new alternative method that is RSM . RSM is a method that guarantee the unbreakable resources usage, also
applicable for both repetitive vertical and horizontal project. Considered from the expense of total labor fee,
RSM are more cost-saving than PDM if the labor arrangement is adapted to work specialization

Keywords:
network, precedence diagram method, repetitive schedule method.

PENDAHULUAN Metode CPM atau metode jalur kritis yang sudah


Dewasa ini perkembangan proyek konstruksi ber- dikenal luas sebagai metode penjadwalan proyek
jalan pesat dan seringkali dalam skala besar yang yang tangguh untuk menangani jaringan kerja atau
membutuhkan biaya besar serta memiliki metode network yang kompleks dan memiliki banyak
yang dapat meningkatkan kualitas perencanaan dan cabang, ternyata menjadi kurang efektif bila
pengendalian untuk menghadapi jumlah kegiatan dan digunakan untuk membuat penjadwalan proyek
kompleksitas proyek yang cenderung bertambah. repetitif.

Para kontraktor konstruksi seringkali dihadapkan Diagram jaringan yang penyajiannya relatif lebih
pada proyek-proyek yang mengandung beberapa unit sederhana bila digunakan untuk penjadwalan proyek
yang identik atau serupa, seperti segmen-segmen repetitif adalah diagram dengan karakteristik
lantai pada bangunan bertingkat banyak, unit-unit kegiatan pada kotak atau simpul (node). Namun
rumah pada pembangunan perumahan, ruas-ruas kegunaan metode ini dalam proyek relatif terbentur
jalan pada proyek jalan raya dan lain-lain. Proyek- oleh kemampuannya yang terbatas untuk
proyek multiunit seperti ini bercirikan pengulangan mempertahankan kontinyuitas pekerjaan bagi regu-
kegiatan yang dalam banyak kasus muncul sebagai regu pekerja yang ada.
hasil pemecahan atau penguraian dari suatu kegiatan
umum menjadi beberapa kegiatan khusus. Tulisan ini menyajikan Metode RSM (Repetitive
Scheduling Method) atau Metode Penjadwalan
Kegiatan-kegiatan yang berulang membutuhkan alat Berulang, suatu metode yang menjamin penggunaan
penjadwalan yang mampu memfasilitasi aliran sum- sumberdaya yang tak terputus, serta dapat
ber daya yang tak terputus dari satu unit ke unit beri- diaplikasikan baik untuk proyek repetitif vertikal
kutnya. Karena itu seringkali persyaratan ini yang maupun horizontal.
menjadi tolak ukur penentuan waktu mulai kegiatan
dan yang menentukan seluruh durasi proyek. Dari latar belakang diatas, maka muncul
Merencanakan jadwal proyek multi unit dengan permasalahan sebagai berikut:
pengulangan kegiatan berarti sama dengan 1. Mampukah Metode RSM merencanakan jadwal
meminimalkan durasi proyek dengan memperhatikan proyek multiunit repetitive dengan tetap
batasan-batasn kontinyuitas sumber daya. mempertahankan kontinyuitas pekerjaan bagi

MEDIA TEKNIK SIPIL/Juli 2005/85


regu-regu pekerja sehingga penggunaan sumber Metode Diagram Preseden/Precedence Diagram
daya menjadi tak terputus Method (PDM)
2. Apakah kelebihan dan kelemahan Metode RSM Dalam penyusunan jaringan kerja, hubungan antar
(Repetitive Scheduling Method) bila dibanding kegiatan pada Metode PDM berkembang menjadi
dengan apabila kita merencanakan proyek beberapa kemungkinan hubungan ketergantungan
dengan menggunakan Metode PDM. antar kegiatan berupa konstrain. Konstrain
menunjukkan hubungan antar kegiatan dengan satu
Bagan Balok dan Jaringan Kerja garis dari node terdahulu ke node berikutnya. Satu
Kedua metode yaitu bagan balok dan jaringan kerja konstrain hanya dapat menghubungkan dua node.
tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya Batasan hubungan antar kegiatan ini disebut juga
masing-masing. Metode bagan balok yang mudah teknik pendahulu. Teknik ini mengemukakan
dibuat dan dipahami serta cukup komunikatif sering hubungan seri langsung antara dua kegiatan, satu
kali dipakai untuk menyusun jadwal induk suatu kegiatan merupakan kegiatan pengikut dari kegiatan
proyek. Jaringan kerja merupakan metode yang pendahulunya; hubungan antar kegiatan ini dikenal
mampu menyuguhkan teknik dasar dalam dengan nama hubungan dependencies
menentukan urutan dan kurun waktu kegiatan unsur (ketergantungan) atau precendence (yang harus
proyek, dan pada giliran selanjutnya dapat dipakai didahulukan) dimana pengaturan kegiatan mana
untuk memperkirakan waktu penyelesaian proyek yang harus diutamakan/didahulukan adalah dengan
secara keseluruhan. menggunakan hubungan logika ketergantungan antar
kegiatan. Ada beberapa hubungan antar kegiatan,
Pelaksanaan Kegiatan Berulang yaitu: FS (Finish to Start), SS (Start to Start), FF
Tata laksana proyek multiunit tidak selalu berarti (Finish to Finish), dan SF (Start to Finish).
bahwa satu unit pertama harus diselesaikan dahulu
baru mulai mengerjakan unit kedua, ketiga dan se- Tinjauan sumber daya Repetitive Scheduling
terusnya, hal ini jelas akan kurang atau bahkan tidak Method (RSM)
efektif. Tata laksana proyek multiunit yang berciri- Dalam Metode RSM ada dua istilah penting yang
kan adanya kegiatan- kegiatan yang berulang akan berhubungan dengan masing-masing kegiatan, yang
lebih efektif jika dilakukan dengan cara perpindahan pertama yaitu Tingkat Produksi Sumber Daya (unit
regu pekerja sesuai jenis kegiatannya. Jika misalnya resource production rate = rpr) dan yang kedua
proyek multiunit adalah proyek perumahan, maka yaitu Tingkat Produksi Unit (unit production rate =
hal ini berarti disusun dahulu jadwal untuk satu unit upr). Tingkat produksi sumber daya untuk sebuah
rumah, lengkap dengan hubungan pendahulunya kegiatan A, rprA, adalah banyaknya pekerjaan yang
(precedence relationships) yaitu hubungan antar dapat dikerjakan oleh sumber daya dalam satu satuan
kegiatan sesuai logika ketergantungannya. Setelah waktu, beberapa kalangan ada yang memakai istilah
jadwal satu unit rumah dibuat, baru kemudian dibuat tingkat produktivitas tenaga kerja. Dalam bentuk
jadwal proyek keseluruhan dengan cara: untuk per- persamaan:
pindahan regu pekerja, pertama diatur mengikuti Q A ……………………………………..[1]
rpr A =
jadwal satu unit rumah, selanjutnya diatur dengan TA
aturan regu kerja bisa berpindah dari satu unit rumah Dimana:
ke unit rumah berikutnya setelah regu ini menyele- rprA = Produktivitas tenaga kerja A ('satuan volume
saikan kegiatan/pekerjaannya di unit rumah sebe- pekerjaan'/hari)
lumnya.
QA = Banyaknya (volume) pekerjaan kegiatan A
Metode Jalur Kritis/Critical Path Method (CPM) ('satuan volume pekerjaan')
Metode CPM diaplikasikan dalam bentuk diagram TA = Durasi kegiatan A (hari)
panah, dalam diagram ini status kegiatan ditentukan Sedangkan tingkat produksi unit adalah jumlah unit
dan digambarkan dalam jaringan kerja (network). berulang yang dapat dikerjakan oleh regu pekerja
Urutan kegiatan yang digambarkan dalam diagram dalam satu satuan waktu.
jaringan tersebut menggambarkan ketergantungan 1 ………………………………….[2]
upr A =
kegiatan tersebut terhadap kegiatan yang lain, TA
dimana setiap kegiatan memiliki kurun waktu rpr A …………………………………...[3]
pelaksanaan yang sudah ditentukan (deterministic). upr A =
QA
Metode CPM mempunyai kelemahan yaitu hanya
Dimana:
mengenal hubungan finish to start saja, pada proyek
uprA = Tingkat produksi unit pada kegiatan A
multiunit penggunaanya menjadi tidak efektif karena
(unit/hari)
menggandung terlalu banyak hubungan dan
(Robert B. Harris dan Photios G. Ionnau, 1998:271)
menciptakan kegiatan dummy yang sangat banyak.

86/MEDIA TEKNIK SIPIL/Juli 2005


Penggambaran Diagram RSM
Durasi Proyek=21Hari
Gambar 1 menunjukan sebuah hubungan kegiatan A B3
A3
dan B, yang diambil dari jaringan kerja PDM dengan 3
x
hubungan antar kegiatan adalah SS.

Unit-unit Berulang
A2 B2
NO SDM 2
y
ES ACT EF
DUR A1
B1
Gambar 1. Diagram jaringan kerja Metode PDM 1
Cps(AB
)
Keterangan: Legenda 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Hari
NO = Nomor kegiatan Lead Time=2
SDM = Kode regu tenaga kerja/SDM
ACT = activity/kegiatan Gambar 3. Diagram RSM untuk 3 unit dengan
DUR = duration/durasi kegiatan hubungan FS
ES = earliest start/saat mulai awal
EF = earliest finish/saat mulai akhir Pengaruh Pengubahan Tingkat Produksi Unit
Misalkan saja regu pekerja masing-masing kegiatan
Gambar 2 menunjukkan bagan balok pasangan B dari gambar 3 ditambah 50% dan penambahan ini
kegiatan yang diambil dari sebuah jaringan kerja berpengaruh mengurangi durasi masing-masing
untuk tiga unit berulang. Ketiga unit berulang kegiatan B menjadi 2 hari dan menambah masing-
masing-masing terdiri dari dua kegiatan, A dan B. masing angka produksi unit dari 1/3 u/h menjadi 1/2
Masing-masing kegiatan A berdurasi 2 hari dan u/h. Sebuah diagram RSM untuk ketiga unit pada
masing-masing kegiatan B berdurasi 3 hari. gambar 3 dengan revisi angka produksi unit
Hubungan antar kegiatan dalam masing-masing unit ditunjukkan dalam gambar 4 dengan garis produksi
adalah FS, dan masing-masing kegiatan B putus-putus dari gambar 3.
diperlihatkan pada posisi awal mulai jadwal.
Akibatnya, terdapat penundaan 1 hari antara kegiatan A3 B3
3
A2 dan B2, serta penundaan 2 hari antara kegiatan Durasi
A3 dan B3. Proyek
Unit-unit Berulang

A2 Semula
2 B2 cpf(AB)
A3
Garis Produksi B
3 x B3
dari gambar 3
A1 B1
Unit-unit Berulang

1 cps(AB)
A2
2 y B2
10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Hari

A1
1 B1
Gambar 4. Pengaruh penambahan angka Tingkat
10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Produksi Unit pada Diagram RS
Hari
Titik kontrol cps(AB) masih mengontrol posisi garis
Gambar 2. Bagan balok untuk tiga unit berulang produksi B yang sekarang terletak paralel dengan
dengan garis produksi kegiatan A. Karenanya
Gambar 3 adalah diagram RSM dari kegiatan- menambah angka tingkat produksi unit (upr) untuk
kegiatan yang terdapat pada Gambar 2, terlihat garis produksi B dari 1/3 ke 1/2 u/h adalah serupa
hubungan FS yang ditunjukkan oleh garis panah dengan memutar/merotasi garis produksi tersebut
putus-putus ke bawah pada akhir hari ke-12, ke-14 pada titik kontrol. Sebuah panah melingkar pada
dan ke-16. Penundaan yang terlihat antara akhir cps(AB) menunjukkan rotasi ini. Durasi proyek
masing-masing kegiatan A dan awal kegiatan B direvisi dari 21 hari menjadi 18 hari, dan panah FS
pasangannya adalah sama seperti terlihat pada pada permulaan kegiatan B3 menetapkan titik
Gambar 2. Pada Gambar 3 juga nampak garis-garis kontrol lainnya, yaitu cpF(AB), yang dilewati garis
produksi baik A dan B adalah kontinyu sehingga produksi B baru
penggunaan sumber daya tak terputus.

MEDIA TEKNIK SIPIL/Juli 2005/87


ketersediaan sumber daya, dan batasan-batasan
A3
kontinuitas sumber daya.
3 B3

Unit-unit Berulang Garis Produksi B METODE


dari gambar 4
2 A2
Metode yang digunakan adalah deskriptif
B2
cpf(AB) komparatif. Deskkriptif berarti pemaparan masalah
yang ada, sedangkan komparatif berarti
A1
membandingkan. Analisa jaringan kerja berdasarkan
1 B1
dua metode, yaitu metode diagram pendahulu
(Precedence Diagram Method /PDM) dan metode
10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 penjadwalan repetitif (Repetitive Scheduling Method
Hari /RSM). Pembahasan dalam penelitian ini
memberikan penekanan pada perbandingan pola
penggunaan sumber daya manusia proyek. Obyek
Gambar 5. Pengaruh penambahan angka
analisa adalah proyek pembangunan 6 unit rumah
TingkatProduksi Unit pada diagram RSM dalam
tipe 65/104.
hubungan FS antar kegiatan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jika kita masih menginginkan sumber daya masing- 1. Perbandingan Metode PDM dan RSM
masing kegiatan B digandakan lagi dari yang terlihat Metode RSM sejauh ini baru mengenal hubungan FS
pada gambar 4, angka tingkat produksi unit kegiatan sedangkan Metode PDM mengenal adanya empat
B (uprs) menjadi 1 u/h dan mengakibatkan garis- hubungan antar kegiatan atau empat konstrain yaitu
garis A dan B saling menyempit, terlihat bahwa FS, SS, FF dan SF. Untuk itu perlu membandingkan
ternyata rotasi lebih lanjut garis produksi B pada Metode RSM dengan dua jadwal Metode PDM, yang
cps(AB) akan mengganggu hubungan FS pada hari pertama adalah Metode PDM dengan keempat
ke-14 dan ke-16, jadi kontrol garis B harus dialihkan konstrain yang selanjutnya disebut dengan PDM
ke cpF(AB), dimana panah melingkar menunjukkan saja, dan yang kedua Metode PDM dengan hubungan
rotasi garis produksi tersebut. FS saja yang selanjutnya disebut dengan PDM-FS.
(Robert B. Harris dan Photios G. Ionnau, 1998:273) Perbandingan antara Metode PDM (dan
Metode PDM-FS) dengan Metode RSM dapat
Rangkaian Pengontrol dilihat pada tabel 1 berikut ini.
Dalam Metode RSM, rangkaian kegiatan-kegiatan
yang menentukan durasi minimal proyek dinamakan
"rangkaian pengontrol". Rangkaian ini tetep
menggunakan kaidah-kaidah teknik pendahulu,

Tabel 1. Perbandingan Metode PDM dan Metode RSM


Metode PDM PDM-FS RSM
Kondisi awal Kondisi awal Kondisi awal
Tenaga kerja puncak 106 orang 100 orang 79 orang
Durasi proyek 80 hari 89 hari 98 hari
Fluktuasi histogram Fluktuatif Fluktuatif tajam Bergelombang
Masuk kerja 540 hari 540 hari 540 hari
Stand by 298 hari 339 hari 0 hari
Perbaikan Perbaikan Perbaikan
Tenaga kerja puncak 88 orang 88 orang 88 orang
Durasi proyek 80 hari 87 hari 87 hari
Fluktuasi histogram relatif baik relatif baik relatif baik
Masuk kerja 540 hari 538 hari 534 hari
Stand by 335 hari 357 hari 0 hari
Upah tenaga kerja Rp.68.165.000 Rp.67.418.000 Rp.44.968.000

Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa masing-masing waktu penyelesaian proyek total, maka Metode
metode mempunyai kelebihan dan kekurangan PDM relatif lebih baik. Namun apabila kita lebih
sendiri-sendiri. Apabila kita lebih berorientasi pada berorientasi pada penggunaan tanaga kerja yang

88/MEDIA TEKNIK SIPIL/Juli 2005


kontinyu (tidak ada yang menunggu) serta bekerja berpindah-pindah dan pengaturannya
kesederhanaan diagram, maka Metode RSM lebih menjadi tidak jelas, dan yang paling penting adalah
unggul. Ditinjau dari segi biaya yaitu upah total kualitas hasil kerjanya sangat layak dipertanyakan.
tenaga kerja jika kita menggunakan Metode RSM
maka terdapat penghematan biaya yang cukup besar Akan halnya jika perencanaan menggunakan
dibandingkan jika kita menggunakan Metode PDM, Metode RSM maka pengaturan kerjanya akan relatif
jika pengaturan tenaga kerjanya disesuaikan dengan lebih mudah karena metode ini mampu menjaga
spesialisasi kerja. kontinyuitas pekerjaan sehingga tenaga kerjanya
bisa bekerja terus-menerus selama rentang waktu
2. Pengaturan Tenaga Kerja tertentu dan kualitas hasil kerjanya relatif lebih
Jika perencanaan menggunakan Metode PDM maka terjamin karena mereka mengerjakan suatu
pengaturan tenaga kerjanya ada dua kemungkinan, pekerjaan sesuai keahliannya.
yang pertama, jika tenaga kerjanya diasumsikan
mengerjakan satu pekerjaan sesuai spesialisasi 3. Paradoksal RSM
keahliannya, maka tenaga kerjanya harus diatur un- Dari hasil perbandingan diatas secara sepintas ter-
tuk mengikuti jalannya pekerjaan proyek yang ser- lihat bahwa seolah-olah terdapat suatu paradoksal
ing terintrupsi untuk menunggu selesainya peker- yaitu Metode RSM yang tidak ada waktu
jaan lain. Dan pengaturan seperti ini sering tidak menunggu ternyata kurun waktu penyelesaian
mudah dilakukan karena setelah tenaga kerja berga- proyeknya lebih lama, sedangkan pada Metode
bung dengan proyek, tidak mudah untuk melepas PDM yang dijumpai banyak waktu menganggur
dan memanggil mereka kembali untuk bekerja se- ternyata lebih cepat. Berikut ini akan dijelaskan
suai dengan ada tidaknya pekerjaan mereka, se- fenomena tersebut.
dangkan untuk menahan mereka untuk stand by
akan menelan biaya yang tidak jelas efisien. Yang Gambar 6 memperlihatkan jaringan kerja PDM
kedua, jika tenaga kerjanya diasumsikan mampu suatu proyek yang terdiri dari tiga unit berulang
mengerjakan beberapa pekerjaan yang berbeda, yang masing-masing mengandung tiga kegiatan.
Solusi dari jaringan kerja ini menghasilkan proyek
yang berakhir pada hari ke-24 (awal mulai proyek
maka disini tidak perlu melepas dan memanggil bisa diabaikan).
kembali tenaga kerja, namun proyek ini akan
dikerjakan mungkin secara serabutan, tenaga kerja

2 2F 3 H 4 3C
10 B1 13 13 C1 15 15 D1 18
3 2 3

12 2F 13 H 14 3C
13 B2 16 16 C2 18 18 D2 21
3 2 3

23 H 24 3C
22 2F
16 B3 19 19 C3 21 21 D3 24
2 3
3

Gambar 6. Diagram jaringan kerja PDM untuk tiga unit berulang

MEDIA TEKNIK SIPIL/Juli 2005/89


B3
C3
3
D3

Unit-unit Berulang
B2
Lag C2-C3
C2
2 D2
B1
Lag C1-C2
C1
1 D1

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

Hari

Gambar 7. Bagan Balok Transfer dari Jaringan Kerja PDM

3 B3 C3 D3
Work Break
Unit-unit Berulang

B2 C2 D2
2
Work Break

B1 C1 D1
1

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25
Hari

Gambar 8. Diagram RSM Transfer dari Diagram Balok

B3 C3 D3
3
Unit-unit Berulang

Cp(BC)
B2 D2
2 C2

B1 D1
C1
1 Cp(CD)

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
Hari

Gambar 9. Diagram RSM

90/MEDIA TEKNIK SIPIL/Juli 2005


4. Pelaksanaan Penelitian mempertahankan kontinyuitas pekerjaan bagi regu-
a. Tahap Persiapan regu pekerja sehingga penggunaan tenaga kerja
Bentuk bagan balok dan diagram RSM hasil menjadi tak putus, dan oleh karena itu dapat
transfer dari jaringan kerja gambar 6 ditunjukkan digunakan sebagai salah satu metode alternatif yang
oleh gambar 7 dan 8. Dari gambar 7 terlihat adanya bisa dipilih dalam perencanaan proyek
lag time (waktu penundaan) karena adanya work
break antara kegiatan C1 ke kegiatan C2 dan dari Kelebihan yang dimiliki RSM dibanding Metode
C2 ke kegiatan C3, dimana setelah kegiatan C1 PDM antara lain:
selesai kegiatan C2 tidak bisa langsung dimulai -Mampu mempertahankan kontinyuitas
karena harus menunggu selesainya kegiatan B2, jadi pekerjaan bagi masing-masing regu pekerja
tenaga kerja kegiatan C harus stand by sehari (tidak ada menunggu atau stand by) sehingga
sebelum mengerjakan kegiatan C2. Demikian juga bisa menghemat upah total tenaga kerja.
hubungan antara kegiatan C2 ke kegiatan C3, -Penampakan diagramnya lebih sederhana
sehingga tenaga kerja yang mengerjakan kegiatan C dan lebih mudah dibaca karena merupakan
harus stand by selama 2 hari ketika mengerjakan diagram berskala waktu (time scale
kegiatan C. network).

Metode RSM yang didesain untuk mampu Kelemahan yang dimiliki RSM dibanding Metode
mempertahankan kontinyuitas pekerjaan maka work PDM antara lain:
break yang ada di gambar 8 harus ditiadakan - kurun waktu penyelesaian proyek relatif lebih
dengan cara menunda kegiatan C2 sehari dan lambat.
menunda kegiatan C1 dua hari sehingga didapat - Hubungan ketergantungan antar kegiatan
garis produksi C yang menerus seperti terlihat pada terlihat kurang jelas, terutama bila terdapat
gambar 9. Namun demikian, penundaan ini ternyata lebih dari satu hubungan antar kegiatan-
membawa pengaruh bergesernya awal kegiatan D kegiatannya.
dari hari ke-15 menjadi hari ke-17 karena upr garis
produksi kegiatan D lebih kecil dibanding upr garis REKOMENDASI
produksi kegiatan C, dan akhirnya proyek berakhir Hubungan ketergantungan antar kegiatan pada
pada hari ke-26, yaitu 2 hari lebih lama dibanding Metode RSM ini masih hanya mengenal hubungan
Metode PDM. FS (finish to start) saja, oleh karenanya penulis
menyarankan untuk dilakukan penelitian lebih
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa pada lanjut untuk mencoba hubungan yang lain, seperti
metode RSM, usaha untuk menghilangkan work SS (start to start) dan FF (finish to finish) guna
break dengan kondisi upr tertentu bisa mengantisipasi kelemahan Metode RSM pada
mengakibatkan tertundanya penyelesaian proyek. efektivitas waktu.

Dengan mencermati fenomena di atas maka dapat REFERENSI


ditarik kesimpulan tambahan bahwa dalam Ahuja, H. N. 1976. ”Construction Performance
menentukan durasi masing-masing kegiatan pada Control by Networks”, John Wiley&Sons,
Metode RSM perlu memperhatikan keseragaman New York.
durasi antar kegiatan yang berurutan. Hal ini Harris, Robert B., dan Ionnau, Photios G. 1998.
dilakukan agar memperoleh garis produksi-garis “Scheduling Project with Repeating Activi-
produksi yang berurutan yang sejajar atau paralel, ties”, Journal of Construction Engineering
sehingga kurun waktu penyelesaian proyek dapat and Management, ASCE, 124(4), p. 269-278.
ditekan sesingkat mungkin. Usaha pengkondisian Imam Soeharto. 1997. ”Manajemen Proyek-Dari
ini bisa dilakukan dengan pemakaian tenaga kerja Konseptual Sampai Operasional”, Penerbit
yang mengerjakan kegiatan yang bersangkutan dan Erlangga, Jakarta.
atau dengan melakukan pemecahan atau penguraian Istimawan Dipohusodo. 1996. ”Manajemen Proyek
proyek dalam jenis-jenis kegiatannya sedemikian dan Konstruksi Jilid 2”, Kanisius,
rupa sehingga didapat durasi masing-masing Yogyakarta.
kegiatan menjadi seragam. Lock, Dennis-E. Jasjfi. 1994. ”Manajemen
Proyek”, Penerbit Erlangga, Jakarta.
SIMPULAN Tubagus Haedar Ali. 1997. “Prinsip-prinsip Net-
Metode RSM ternyata mampu merencanakan work Planning”, PT Gramedia, Jakarta
jadwal proyek multiunit repetitif dengan tetap

MEDIA TEKNIK SIPIL/Juli 2005/91


92/MEDIA TEKNIK SIPIL/Juli 2005