Anda di halaman 1dari 6

c c

   

c c

    



Kanker lidah adalah suatu neoplasma malignant yang timbul dari jaringan epitel

mukosa lidah dengan sel yang berbentuk squamous cell carsinoma (sel epitel gepeng

berlapis) dan terjadi akibat rangsangan menahun, juga beberapa penyakit-penyakit tertentu

(pre malignant) seperti syphilis dan plumer vision syndrome, leukoplasia, reytoplasia. Kanker

ganas ini dapat menginfiltrasi ke daerah sekitarnya, di samping itu dapat bermetastase secara

limfogen dan hematogen.




Penyebab terjadinya kanker lidah adalah merokok, terutama yang lebih dari 2 pak

dalam sehari. Risiko tersebut akan meningkat dengan penggunaan alkohol 6-12 % sehari.

Asap rokok yang mengepul dalam rongga mulut dan terkena lidah dapat memicu terjadinya

keganasan pada lidah. Kanker lidah yang sering terjadi adalah tipe karsinoma sel skuamosa.

Kanker lidah meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Umumnya kanker lidah terjadi

pada usia sekitar 60 tahun. selain faktor risiko di atas, faktor lain yang dapat memicu

terjadinya kanker lidah adalah pemakaian gigi palsu yang tidak sesuai, kebersihan mulut yang

buruk, radang kronis, dan faktor genetik.



Gejala-gejala kanker lidah antara lain adalah timbulnya ulkus (luka) seperti sariawan

yang tidak sembuh dengan pengobatan adekuat, mudah berdarah, nyeri pada lidah, nyeri yang

menjalar pada telinga, nyeri menelan yang menyebabkan sulit menelan dan terbatasnya
pergerakan lidah. Pada stadium dini, kanker lidah tidak menimbulkan nyeri dan biasanya

ditemukan pada pemeriksaan rutin pada gigi dan mulut. Kanker biasanya timbul di bagian

pinggir lidah, hampir tidak pernah ditemukan kanker pada pangkal lidah kecuali pada

seseorang yang pernah menderita sinus yang tidak pernah mendapatkan pengobatan selama

beberapa tahun. Karsinoma sel skuamosa pada sel lidah seringkali tampak seperti luka

terbuka (borok) dan cenderung tumbuh ke dalam jaringan di bawahnya. Bintik kecoklatan

mendatar seperti bercak sering ditemukan pada perokok yaitu di sisi biasanya sigaret atau

pipa diletakkan pada bibir.

 

1. Biopsi langsung : merupakan metode baku untuk memperoleh jaringan dari lesi di

rongga mulut dan orofaring.

2. Panendoskopi : dilakukan untuk menentukan perluasan lesi yang besar dan terletak di

sebelah posterior dan untuk menyingkirkan adanya tumor primer simultan.

3. Biru toluidine : sebuah zat pewarna yang dibubuhkan ³in situ´ sebagai salah satu cara

disgnostik tambahan dalam mendeteksi karsinoma sel skuamosa.

! 

Lesi pada jenis kanker T1-T2 dilakukan intervensi pembedahan atau radiasi. Lesi

yang masih kecil sebaiknya dilakukan glossectomy parsial. Lesi dengan ukuran lebih besar di

mana tindakan eksisi akan berdampak pada kemampuan bicara dan menelan sebaiknya

dilakukan tindakan radioterapi. Terapi yang paling efektif untuk karsinoma lidah baik pada

lokal maupun regional adalah kombinasi dari tiga penatalaksanaan yaitu bedah, radioterapi

dan kemoterapi. Kemoterapi dengan 5-Fluorourasil dan Cisplatin dan terapi radiasi menjadi

terapi yang paling efektif. Pasien dengan masalah kekambuhan atau metastase ke organ lain
dilakukan penatalaksanaan secara paliatif. Kemoterapi dapat diterapkan pada pasien dengan

gejala transient. Obat dengan agen tunggal terdiri dari methotrexeat, 5 fu, cisplatin,

paclitaxel, decotax. Kombinasi antara cisplatin dan 5 fu, carboplatin dan 5 fu, serta cisplatin

dan paclitaxel juga digunakan. Peningkatan gejala merupakan tolak ukur yang penting.

Evaluasi/observasi secara spesifik bisa dilakukan melalui inspeksi regio kepala dan leher

untuk mencari kekambuhan.

"  #

1 Tumor Primer (T)

a. TIS : Karsinoma in Situ

b. T1 : Tumor kurang dari 2 Cm.

c. T2 : Tumor lebih dari 2 Cm

d. T3 : Tumor lebih dari 4 Cm.

e. T4 : Perluasan berat disekelilingnya.

2. Pembesaran Kelejnjar Limfe (N) :

a. No : Tidak teraba kelenjar limfe

b. N1 : Kelenjar limfe homolateral tidak terfiksasi

c. N2 : Kelenjar limfe bilateral atau kontraleteral tidak terfiksasi

d. N3 : Kelenjar limfe terfiksasi

e. N4 : Pembesaran kelenjar limfe tidak dapat dikaji karena perluasan yang berat.

3. Metastase (M)

a. Mo : Tidak terdapat metastase

b. M1 : Metastase ke kenjar limfe dan daerah disekitarnya.

c. M2 : Metastase dengan perluasan, sulit untuk dideteksi.




$

Kejadian kanker lidah disebabkan oleh banyak faktor yang dikelompokkan menjadi

beberapa faktor. Yaitu, Faktor luar, faktor host dan penyakit-penyakit tertentu. Factor luar

meliputi rokok, asap tembakau, radiasi, virus, alkohol. Faktor host meliputi umur lebih dari

60 tahun, laki-laki dominan, menurunnya nutrisi, immunologic, kurang hygiene dan

pemakaian gigi palsu yang tidak sesuai. Penyakit-penyakit tertentu meliputi syphilis dan

plumer sindrom. Factor-fakror tersebut akan memicu suatu rangsang karsinogen yang

mengenai sel squamous carcinoma pada mukosa mulut yang tidak mempunyai keratin

sebagai pelindung. Dimukosa mulut tersebut, zat-zat karsinogen tertampung dan

berproliferasi secara tidak terkontrol. Kanker lidah yang mengenai radix linguae biasanya

asimptomatis hingga proses penyakit berlanjut hingga timbul nyeri menelan dan pergerakan

lidah yang terbatas. Kanker pada posterior lidah (radix linguae) dominan bermetastase ke

colli/leher. Ketika kanker mengenai corpus linguae tanda yang paling sering terlihat adalah

putih-putih pada lidah yang tidak bisa dihilangkan. Kemudian bisa terbentuk ulkus yang

mudah berdarah. Kanker pada anterior (corpus linguae) dominan metastase pada kelenjar

limfe submental dan submandibular. Penatalaksanaan kanker lidah meliputi operasi

glosektomi dan diseksi leher yang dilanjutkan dengan kemoterapi.


c c
%&'






























c c
 ( %    ) '  






c c!
    ( 


 * (  

Ballenger, 2002. Penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher Jilid I. Jakarta:
Binarupa Aksara
Anonymous, 2008. Karsinoma Lidah.
http://klinikmedis.wordpress.com/2008/03/06/karsinoma-lidah/ di akses 23 oktober
2010 pukul 20.00 WIB

Anonimous, 2010. Tongue cancer. http://www.tonguecancer.com/tongue_cancer.htm di akses


23 oktober 2010 pukul 20.00 WIB

Brunner & Suddarth, 2002. Buku ajar keperawatan medical bedah edisi 8. Jakarta: EGC