Anda di halaman 1dari 7

MONITORING EFEK SAMPING ANTIBIOTIK KELOMPOK A

Pendahuluan
Perkembangan pengetahuan dan ditemukannya obat-obat baru untuk pengobatan,
pencegahan, maupun diagnosis menuntut kita untuk lebih mengetahui lebih banyak mengenai
farmakodinamik dan farmakokinetik dari obat. Selain efek yang diharapkan pada saat
pemberian obat kepada pasien, dapat pula terjadi reaksi yang tidak diinginkan, dengan kata
lain adverse drug reaction (ADR). Adverse drug reaction dapat timbul dari yang paling ringan
hingga dapat menjadi sangat berat yang dapat menimbulkan kematian (Vervloet dan Durham,
1998; Gruchalla, 2003).
Adverse drug reaction yang terjadi dapat memperburuk penyakit dasar yang akan kita
obati, menambah permasalahan baru dan bahkan kematian. Keracunan dan syok anafilaktik
merupakan contoh ADR yang berat yang dapat menyebabkan kematian, sedangkan sebagai
contoh yang ringan adalah rasa gatal dan mengantuk. Jenis ADR sangatlah banyak, dari yang
dapat diperkirakan akan timbul sampai yang tidak kita perkirakan yang potensial
membahayakan keselamatan jiwa pasien (Gruchalla, 2000). Karena hal ini cukup sering
didapatkan di klinik, amatlah penting artinya bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara
mendiagnosis, penatalaksanaan serta pencegahan apabila terdapat reaksi akibat ADR
(Mariyono dan Suryana, 2008).
Beberapa definisi telah dikemukakan untuk adverse drug reaction. ADR adalah setiap
efek yang tidak diinginkan dari obat yang timbul pada pemberian obat dengan dosis yang
digunakan untuk profilaksis, diagnosis dan terapi (WHO, 1972). ADR didefinisikan sebagai
efek yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan penggunaan obat yang timbul sebagai
bagan dari aksi farmakologis dari obat yang kejadiannya mungkin tidak dapat diperkirakan
(FDA 1975). ADR adalah efek yang membahayakan atau tidak mengenakkan yang
disebabkan oleh dosis obat yang digunakan sebagai terapi (atau profilaksis atau diagnosis)
yang mengharuskan untuk mengurangi dosis atau menyetop pemberian dan meramalkan
adanya bahaya pada pemberian selanjutnya (Laurence, 1998). ADR adalah reaksi yang
berbahaya atau tidak mengenakkan akibat penggunaan produk medis yang memperkirakan
adanya bahaya pada pemberian berikutnya sehingga mengharuskan pencegahan, terapi
spesifik, pengaturan dosis atau penghentian obat (Edward dan Aronson, 2000; Vervloet dan
Durham, 1998).
ADR dapat dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu yang dapat diperkirakan, umum
terjadi dan berhubungan dengan aksi farmakologis obat (reaksi tipe A) dan yang tidak dapat
diperkirakan, jarang terjadi dan biasanya tidak berhubungan dengan aksi farmakologis obat
(reaksi tipe B). Hampir 80% ADR adalah tipe A contohnya adalah toksisitas obat, efek
samping, efek sekunder, dan interaksi obat. Reaksi termediasi sistem imun atau alergi
termasuk tipe B, timbulnya jarang, hanya 6-10% dari keseluruhan ADR.
ADR dalam segi praktis klinis dapat diklasifikasikan untuk memudahkan dalam
mengetahui terjadinya ADR pada penggunaan obat dalam praktek sehari-hari, salah satu
klasifikasi yang dapat digunakan adalah (Vervloet dan Durham, 1998):
1. Reaksi yang dapat timbul pada setiap orang, yaitu:
a. Overdosis obat  efek farmakologis toksik yang timbul pada pemberian obat
akibat kelebihan dosis ataupun karena gangguan ekskresi obat.
b. Efek samping obat  efek farmakologis yang tidak diinginkan yang timbul pada
dosis terrekomendasi.
c. Interaksi obat  aksi farmakologis obat pada efektivitas maupun toksisitas obat
yang lain.
2. Reaksi yang hanya timbul pada orang yang susceptibel, yaitu:
a. Intoleransi obat  ambang batas yang rendah pada aksi farmakologis normal dari
obat.
b. Idiosinkrasi obat  respon abnormal dari obat yang berbeda dari efek
farmakologisnya. Hal ini timbul pada pasien yang susceptibel dan kejadian bisa/
tidak bisa diperkirakan. Terjadi karena metabolisme obat ataupun defisiensi
enzim.
c. Alergi obat
d. Reaksi pseudoalergik/anafilaktoid  reaksi yang secara klinis mirip dengan
reaksi alergi tanpa peranan imunologis (tidak diperantarai IgE).
Tes diagnosis untuk reaksi hipersensitivitas yang baik termasuk anamnesa yang detail
dan pemeriksaan fisik sangat penting untuk mengklasifikasikan reaksi, menentukan terapi,
mengidentifikasi obat yang menimbulkan reaksi tersebut dan untuk mengetahui insiden alergi
terhadap obat tersebut.
Anamnesis yang mendetail dan pasti harus didapatkan dari pasien. Hal-hal yang harus
didapatkan pada saat anamnesis adalah (Vervloet dan Durham, 1998):
1. Gejala klinis serta waktu timbulnya gejala serta jarak timbul gejala dari paparan obat
yang dicurigai
2. Kemungkinan onset timbulnya gejala, terbagi sebagai berikut:
a. Immediate (segera) timbul beberapa detik hingga 6 jam dari paparan, gejala klinis
yang dapat timbul adalah anafilaksis, urtica, angioudem, bronkospasme
b. Accelerated, timbul antara 6 hingga 72 jam setelah paparan. Gejala yang mungkin
didapatkan antara lain urtika dan asma
c. Delayed, timbul gejala lebih dari 72 jam setelah paparan. Gejala yang mungkin
didapatkan antara lain sindrom mukokutan (rash, dermatitis eksfoliatif) atau tipe
hematologis (anemia, trombositopenia, netropenia).

Tabel Skoring Naranjo yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi ADR


N Reaksi Obat yang Interaksi Obat (IO) Ya Tidak Tidak
O Merugikan (ROM) Tahu
01 Apakah ada laporan yang Apakah ada laporan yang jelas +1 0 0
jelas tentang ROM tersebut tentang IO tersebut pada waktu
pada waktu lampau? lampau?
02 Apakah ROM terjadi Apakah IO terjadi setelah +2 -1 0
setelah pamberian obat pemberian obat obat yang
yang dicurigai sebagai dicurigai sebagai penyebab
penyebab terjadinya terjadinya IO?
ROM?
03 Apakah ROM berkurang Apakah IO berkurang ketika salah +1 0 0
ketika obat dihentikan atau satu obat dihentikan atau ketika
ketika diberi antagonis? diberi obat antagonis?
04 Apakah ROM timbul lagi Apakah IO timbul lagi ketika +2 -1 0
ketika obat tersebut kedua obat tersebut diberikan
diberikan lagi? secara bersamaan lagi?
05 Adakah alternatif lain Adakah alternatif penyebab IO -1 +2 0
penyebab ROM pada pada pasien tersebut?
pasien tersebut?
06 Apakah ROM juga timbul Apakah ROM juga timbul ketika -1 +1 0
ketika diberikan placebo? diberikan placebo?
07 Apakah obat berada pada Apakah Obat berada pada +1 0 0
konsentrasi toksis dalam konsentrasi toksis dalam darah?
darah?
08 Apakah ROM meningkat Apakah IO meningkat ketika +1 0 0
ketika dosis ditingkatkan dosis ditingkatkan/berkurang
atau berkurang ketika dosis ketika dosis diturunkan?
diturunkan?
09 Apakah pasien pernah Apakah pasien pernah mengalami +1 0 0
mengalami ROM yang IO yang sama di waktu lampau
sama di waktu lampau ketika obat yang sama atau
ketika obat yang sama atau turunannya diberikan?
turunannya diberikan?
10 Apakah diagnosis ROM Apakah diagnosis IO tersebut +1 0 0
tersebut didukung oleh didukung oleh bukti yang
bukti yang obyektif obyektif?
Keterangan:
Bila skor Naranjo 9 atau 10 menunjukkan bahwa kejadian tersebut = definitely ADR; skor 5-
8 kemungkinannya = probable.; skor 1-4 ヘ possible.; dan bila skor kurang dari 1 = doubtful..

Pembahasan
Pengambilan sampel dilakukan di tiga bangsal rawat inap yaitu Raudhah, Marwah dan
Ibnu Sina. Jumlah sampel pada ketiga bangsal tersebut sebanyak 12 pasien menggunakan
antibiotik. Pemilihan sampel dilakukan berdasarkan catatan pengobatan di rekam medik
pasien. Bangsal Ibnu Sina tetap dimasukkan sebagai sampel identifikasi efek samping dan
kejadian ADR dengan pertimbangan keluarga (orang tua pasien) dapat menjadi informan
yang baik dalam proses wawancara. Identifikasi kejadian efek samping dan ADR dilakukan
dengan dengan menyusun daftar pertanyaan Naranjo.
Hasil identifikasi efek samping dan ADR diperoleh data hanya ada 1 pasien diantara
12 pasien yang diwawancara mengalami ADR akibat antibiotik. Daftar pertanyaan dalam
naranjo tersebut tidak semua dapat disampaikan kepada pasien/keluarga pasien. Jenis
pertanyaan yang tidak dapat dilakukan identifikasi adalah pertanyaan ke-6 dan ke-8 sebab
tidak dilakukan intervensi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hasil wawancara dengan
pasien/keluarga pasien disajikan dalam tabel berikut:

No RM Antibiotik Aturan Awal ADR potensial ADR Score Kesimpulan


pakai Pemberian aktual Naranjo
491231 Ceftriaxone 3x1gr 23/2 Rash, diare - 0 Doubtful
491331 Cefixime 2x100 24/2 Diare - 0 Doubtful
491490 Cefotaxime 2x1gr 23/2 Rash, ruam, GI - 0 Doubtful
491259 Ceftriaxone 2x1gr 20/2 Rash, gang.GI - 0 Doubtful
491378 Broadced 2x1gr 22/2 Rash, gang.GI - 0 Doubtful
491229 Ceftriaxone 2x1gr 20/2 Rash, gang.GI - 0 Doubtful
Metronidazol 3x500 Sakit kepala - 0
491384 Terfacef 2x1gr 22/2 Rash, gang.GI - 0 Doubtful
Metronidazol 3x500 Sakit kepala - 0
491470 Lizor 2x500 23/2 Diare - 0 Doubtful
011175 Ceftriaxone 2x1gr 19/2 Rash, diare - 0 Doubtful
490746 Amoxan 3x500 14/2 Angiodema Gatal 7 Probable
--- Cetfriaxone 2x1 Rash, gang.GI - 0 Doubtful
490980 Amoxan Angiodema - 0 Doubtful
Ceftriaxone Rash, gang.GI - 0
Metronidazol Sakit kepala - 0
Cefotaxim Ruam, gang.GI - 0

Karena pertanyaan ke-6 dan 8 tidak dapat dilakukan identifikasi kebenarannya, maka
nilai poin 7 tidak dapat disimpulkan bahwa kejadian tersebut bersifat probable. Hasil
wawancara pasien tersebut kami menyatakan bahwa kejadian tersebut bersifat definitely
ADR. Pasien bersama keluarga pasien memberikan pernyataan yang memang mendukung
dugaan tersebut. Berdasarkan catatan pengobatan pasien, penggunaan antibiotik amoxan
untuk pasien dihentikan pada tanggal 16 Februari 2010 dengan awal pemberian 2hari
sebelumnya yakni tanggal 14 Februari 2010. Bukti tersebut menguatkan identifikasi bahwa
pasien memang alergi antibiotik golongan Penicilin.
Berdasarkan informasi dari Drug Information Handbook, 2008 efek samping obat
antibiotik yang digunakan pasien sampel adalah sebagai berikut:

Ceftriaxone
Efek samping: Rash (2%); diare (3%); eosinophilia (6%); thrombositosis (5%); leukopenia
(2%); peningkatan transaminase (3,1-3,3%); nyeri di tempat injeksi iv (1%); hangat, sesak,
indurasi (5-17%) setelah injeksi i.m; peningkatan BUN (1%)
Cefixime
Efek samping: gastrointestinal: diare (16%); frekuensi 2-10% yaitu nyeri perut, mual,
dispepsia, gas dalam perut
Cefotaxime
Efek samping dengan frekuensi kejadian 1-10% yaitu rash; pruritus; diare; mual; muntah;
colitis; nyeri di tempat injeksi
Cefprozil
Efek samping: pusing (1%); diaper rash (1,5%); diare (2,9%); mual (3,5%); muntah (1%);
nyeri perut (1%); vaginitis, genital pruritus (1,6%); peningkatan transaminase (2%);
superinfeksi.
Metronidazol
Pada pemakaian sistemik (frekuensi tidak terdefinisi); topical (frekuensi tidak terdefinisi);
vaginal (frekuensi terdefinisi) antara lain:
Vaginal discharge (12%); sakit kepala (5%); pusing (2%); ketidaknyamanan GI (7%); mual
dan atau muntah (4%); rasa logam (2%); diare (1%); vaginitis (10%); vulva/vaginal iritasi
(9%); ketidaknyamanan pelvic (3%); pningkatan WBC (2%)
Amoxicilin
Efek samping frekuensi tidak terdefinisi, antara lain:
CNS: hiperaktivitas, agitasi, cemas, insomnia, konfusi, kejang, perubahan tingkah laku,
pusing
Dermatologi: sindrome Steven Johnson, urticaria, kemerahan, rash, dermatitis exloliative
GI: mual, muntah, diare, colitis hemoragi, pseudomembraneous colitis, pewarnaan gigi
Hematologi: anemia, anemia hemolotik, trombositopenia, eusinophilia, leukopenia,
agranulositosis
Hati: peningkatan AST ALT, cholestatic jaundice, cholestasis hepar, acute cytolytic hepatitis
Renal: adanya kristal di urin

Daftar Pustaka

Gruchalla, R., 2003, Drug Allergy, cit Mariyono, H.H., dan Suryana, K., 2008, Adverse Drug
Reaction, Bagian SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Unud RSUD Sanglah Denpasar.

Gruchalla, R., 2000, Understanding Drug Allergies, cit Mariyono, H.H., dan Suryana, K.,
2008, Adverse Drug Reaction, Bagian SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Unud RSUD
Sanglah Denpasar.

Lacy, C.F, et al., 2008, Drug Information Handbook, 17th Ed., Lexi-Comp : Ohio
Mariyono, H.H., dan Suryana, K., 2008, Adverse Drug Reaction, Bagian SMF Ilmu Penyakit
Dalam FK Unud RSUD Sanglah Denpasar

Vervloet, C., dan Durham, 1998, S., ABC of Allergies Adverse Reactions to Drugs, cit
Mariyono, H.H., dan Suryana, K., 2008, Adverse Drug Reaction, Bagian SMF Ilmu
Penyakit Dalam FK Unud RSUD Sanglah Denpasar.

Anda mungkin juga menyukai