Anda di halaman 1dari 3

Adanya krisis energi di dunia telah mendoong para peneliti untuk

mendapatkan bahan bakar alternatif sebagai pengganti bahan bakar yang berasal
dari minyak bumi. Bahan bakar alternatif yang layak dikembangkan adalah bahan
bakar yang bersifat renewable atau terbarukan, salah satunya adalah biodiesel.
Biodiesel adalah senyawa eter asam lemak yang dihasilkan dari proses
transesterifikasi minyak (trigliserida) maupun esterifikasi asam lemak yang
berasal dari minyak nabati atau hewani dengan alcohol rantai pendek. Beberapa
jenis minyak nabati dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan
biodiesel misalnya adalah: minyak jelantah, minyak jarak pagar, minyak katul/
kulit padi, minyak kacang tanah, min yak kelapa sawit, minyak kelapa, Crude
palm oil, dan minyak biji karet.
Sebagai bahan bakar alternative, biodiesel memiliki banyak keunggulan,
yaitu: ramah lingkungan karena bersifat biodegrable dan tidak beracun, emisi
polutan beupa hidrokarbon yang tidak terbakar, CO, CO2, SO2, dan jelaga hasil
pembakaranbiodiesel lebih rendah dari solar, tidak memperparah efek rumah kaca
karena siklus karbon yang terlibat pendek, kandungan energy yang hampir sama
dengan kandungan energy petroleum diesel (80 % dari kandungan petroleum
diesel, angka cetan lebih tinggi dari pada petroleum diesel, dan penyimpanan
mudah karena titik nyala yang rendah.
Biodiesel dapat disintesis melalui reaksi antara minyak (trigliserida) dan
alcohol rantai pendek,. Transesterifikasi adalah suatu reaksi yang menghasilkan
ester dengan salah satu pereaksinya juga merupakan senyawa ester. Pada reaksi
ini tejadi pemecahan senyawa trigliserida dan migrasi gugus alkil antara senyawa
ester. Hasil dari reaksi transesteifikasi ini adalah senyawametil ester (biodiesel).
Persamaan reaksinya dapat dituliskan sebagai beikut:
Alkohol rantai pendek yang yang dapat digunakan adalah methanol dan
etanol. Methanol lebih disukai karena murah dan memiliki rektivitas lebih tinggi
dari pada etanol. Reaksi transesterifikasi merupakan reaksi bolak – balik yang
berjalan lambat. Agar diperoleh hasil yang optimal, perlu dilakukan proses
dilakukan proses pengadukan yang baik, pemberian reaktan berlebih, suhu dan
waktu reaksi yang sesuai, serta penambahan katalis. Tanpa katalis, reaksi baru
dapat berjalan pada suhu sekitar 2500C. Penambahan katalis diperlukan untuk
mempercepat reksi dan dan menurunkan kondisi operasi. Katalis yang dapat
digunakan untuk reksi transesterifikasi adalah katalis asam, basa atau enzim.
Katalis enzim misalnya adalah lipase, katalis asam dapat berupa asam sulfat, asam
klorida, dan asam sulfonat, katalis basa contohnya KOH, NaOH, dan K2CO3
dalam alkohol. Dengan katalis basa, reksi dapat berjalan pada suhu kamar,
sedangkan katalis asam umumnya memerlukan suhu reaksi di atas 1000C.