Anda di halaman 1dari 23

PENENTUAN LAJU DAN ORDE REAKSI DENGAN METODE

KONDUKTOMETRI

MAKALAH LAPORAN AKHIR


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktikum Kimia Fisika
Dosen Pengampu : Ir. Sri Wahyuni, M.Si
Harjito, S.Pd, M.Sc

Disusun oleh:
1. Dimas Gigih D. (4301408052)
2. Diah Ika Rusmawati (4301408054)
3. Hermawan Agung P (4301408064)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Konduktometri merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya
hantar listrik suatu larutan. Daya hantar listrik (L) suatu larutan bergantung
pada jenis dan konsentrasi ion di dalam larutan. Daya hantar listrik
berhubungan dengan pergerakan suatu ion di dalam larutan ion yang mudah
bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar. Daya hantar listrik (L)
merupakan kebalikan dari tahanan (R), sehingga daya hantar listrik
mempunyai satuan ohm-1. Bila arus listrik dialirkan dalam suatu larutan
mempunyai dua elektroda, maka daya hantar listrik (L) berbanding lurus
dengan luas permukaan elektroda (A) dan berbanding terbalik dengan jarak
kedua elektroda (l).
L= l/R = k (A / l)
dimana k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm -1 cm -1
Kuat lemahnya larutan elektrolit sangat ditentukan oleh partikel-
partikel bermuatan di dalam larutan elektrolit. Larutan elektrolit akan
mengalami ionisasi, dimana zat terlarutnya terurai menjadi ion positif dan
negatif, dengan adanya muatan listrik inilah yang menyebabkan larutan
memiliki daya hantar listriknya.
Proses ionisasi memegan peranan untuk menunjukkan kemapuan daya
hantarnya, semakin banyak zat yang terionisasi semakin kuat daya hantarnya.
Demikian pula sebaliknya semakin sulit terionisasi semakin lemah daya
hantar listriknya.
Untuk larutan elektrolit besarnya harga 0 < ɲ < 1, untuk larutan non-
elektrolit maka nilai ɲ = 0. Dengan ukuran derajat ionisasi untuk larutan
elektrolit memiliki jarak yang cukup besar, sehingga diperlukan pembatasan
larutan elektrolit dan dibuat istilah larutan elektrolit kuat dan larutan elektrolit
lemah. Untuk elektrolit kuat harga ɲ = 1, sedangkan elektrolit lemah harga
derajat ionisasinya, 0 < ɲ < 1.

B. TUJUAN
Dalam percobaan ini akan ditunjukan bahwa reaksi penyabunan etil asetat
oleh ion hidroksida.
CH3COOC2H5 + OH CH3COO- + C2H5OH
Adalah reaksi orde kedua. Disamping itu ditentukan pula tetapan laju
reaksinya.
Penentuan ini dilakukan dengan cara konduktometri.

C. MANFAAT
Mengetahui bahwa reaksi penyabunan etil asetat oleh ion hidroksida adalah
reaksi orde kedua menggunakan cara konduktometri.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Salah satu sifat larutan elektrolit adalah kemampuannya untuk


menghantarkan arus listrik. Sifat hantaran ini sangat berguna di dalam pemecahan
berbagai persoalan dalam bidang elektro analisis. Secara kuantitatif sifat hantaran
ini dapat digunakan untuk analisis suatu zat yang dipelajari dalam konduktometri.
Konduktometri merupakan metode analisis kimia yang didasarkan daya
hantar listrik suatu larutan. Besaran hantaran (L) bergantung pada jenis dan
konsentrasi zat dalam larutan. Besaran hantaran ini merupakan kebalikan dari
hantaran atau tahanan R.
Pada temperature tetapan hantaran suatu larutan bergantung pada (a)
konsentrasi ion, dan (b) kemobilan ion dalam larutan. Umumnya sifat hantaran
listrik dalam suatu elektrolit mengikuti hukum ohm, V=IR denga tegangan V, arus
I dan tahanan R. Hantaran (L) suatu larutan didefinisikan sebagai berikut sebagai
kebalikan dari tahanan,
L=I/R ………………………………………………………(9)
Hantaran jenis (γ) suatu larutan ialah hantaran sebatang larutan tersebut yang
panjang l meter dan luas penampang lintangnya 1m2. Maka untuk permukaan
sejajar seluas A m2 dan berjarak l m satu dari lain, berlakunya hubungan,
L= γ A/l …………………………………………………..(10)
Dalam pegukuran hantaran diperlukan pula suatu tetapan sel (k) yang
merupakan suatu bilangan, bila dikalikan dengan hantaran suatu larutan dalam sel
bersangkutan akan memberikan hantaran sejenis dari larutan tersebut, jadi :
γ = KL= k/R ……………………………………………..(11)
dari persaman (10) dan (11) jelaslah bahwa k =l /A yang merupakan tetapan bagi
suatu sel. Hantaran molar (Λ) yang terlarut didefinisikan sebagai hantaran yang
diperoleh kalau antara 2 elektroda yang cukup luas sejajar dan berjarak l meter,
ditemukan sejulah larutan yang mengandung 1 mol elektrolit itu. Dari
definisihantaran molar ini dan persamaan (10) dapat diturunkan persamaan
berikut,
Λ = γ / c …………………………………………………(12)
Dengan c adalah konsentrasi larutan dalam mol/ m3
γ = c Λ …………………………………………………..(13)
persamaan (12) berlaku untuk kehadiran sebuah elektrolit dalam larutan. Jika
lebih dari sebuah elektrolit yang terlarut, maka sesuai dengan hukum keaditifan
hantaran Kohlrausch untuk larutan yang encer haruslah berlaku:
γ=γ1= ici Λi= i(cki Λki+cai Λai) ……………(14)
ki = hantaran jenis karena kehadiral elektrolit i
ci = konsentrasi elektrolit I dalam mol/ m3
cki = konsentrasi kation elektrolit i dalam mol/ m3
cai = konsentrasi anion elektrolit dalam mol/ m3
Λi = hantaran ion kation elektrolit i
ai = hantaran ion anion dalam elektrolit i
dengan menggunakan persamaan (10) dan (12) dapat diturunkan :
Lt = (1/k) Σi cki Λki + cai Λai ……………………………………..(15)
Dengan konduktometri dapat ditentukan pula orde reaksi serta laju reaksinya.
Berlainan dengan cara titrasi maka pada konduktometri tidak dilakukan
penghentian reaksi. Selama reaksi berlangsung hantaran campuran berkurang
karena terjadi penggantian ion OH- dari larutan dengan ion CH3COO-. Dengan
pengandaian bahwa etil asetat, alcohol dan air tidak menghantarkan listrik
sedangkan NaOH dan CH3COONa terionisasi sempurna, maka hantaran larutan
pada waktu sama itu mengikuti persamaan,
Lt = (1/k) [(9b-x) ΛOH- + X ΛCH3COO- + b ΛNa+] …………………(16)
Hantaran pada waktu t=0 dinyatakan dengan,
Lo = (1/n) (b ΛOH- + b ΛNa+) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (17)
Hantaran x mulai dari x = 0 hingga x = c dengan c adalah konsentrasi awal
pereaksi yang paling kecil, sedangkan bila a = b, maka c = a = b. Untuk semua
persamaan (16) dapat dinyatakan,
L0 – Lt = (1/k) [ x (ΛOH- - ΛCH3COO-)]…………………………………(18)
L0 – Lc = (1/k) [ c (ΛOH- - ΛCH3COO-)]…………………………………..(19)
Dari persamaan (18) dan (19) diperoleh,
L0- LtL0- Lc= 1R0- (1Rt)1R0- (1Rc) ……………………………….. (20)
Hubungan hantaran atau tahanan dengan waktu tergantung pada berbagai keadaan
awal:
a. a = b
dengan mensubstitusikan persamaan (20) ke dalam persamaan (8) akan
memberikan,
L0- LtLt- Lc= ktat
Yang dapat disusun ulang menjadi,
Lt= 1K1atL0- Lt+ Lc

Persamaan (25) mengungkapkan bahwa Lt terhadap (l0-Lt)/t merupakan


garis lurus dengan arah lereng 1/k2 sehingga penentuan arah lereng itu
memungkinkan perhitungan dari tetapan laju reaksi k1.
kGambar
kbesar
kecil 1. Variasi konsentrasi reaktan terhadap
Waktu
Konsentrasi
waktu dalam reaksi kedua. Garis tipis merupakan
pengurangan yang bersangkutan, dalam reaksi
orde pertama, dengan laju awal yang sama.

A=[A]01+kt[A]0
Persamaan tersebut memungkinkan kita meramalkan konsentrasi A pada
setiap waktu setelah reaksi. Persamaan ini menunjukan bahwa dengan laju awal
yang sama, konsentrasi A mendekati nol dengan lebih lambat daripada reaksi orde
pertama.
Jika reaksi orde kedua keseluruhannya, tetapi orde pertama terhadap
masing-masing reaktan A dan B, maka hukum lajunya adalah.
d[A]dt= -kA[B]
Kita tidak dapat mengintegrasikan hukum ini, sampai kita mengetahui
hubungan antara konsentrasi A dengan konsentrasi B yang bergantung pada
stoikiometri reaksi.
A+B →produk
Jika konsentrasi awal [A]0 dan [B]0, maka ketika konsentrasi A turun
menjadi [A]0 – x, maka konsentrasi B akan turun menjadi [B]0 – x (karena setiap
hilangnya A, memerlukan kehilangan satu B). dengan demikian
-d[A]dt=kA0-x(B0-x)
Maka, karena d[A]/dt = -dx/dt, hukum lajunya adalah:
dxdt=kA0-x(B0-x)
Karena x=0 jika t=0, maka
kt =0xdxA0-x(B0-x)
=-1[A]0-[B]0ln[A]0[A]0-x-ln[B]0[B]0-x
Dengan memperhatikan A =[A]0 – x dan B=[B]0 – x; jadi
kt = 1[A]0-[B]0lnA[B]0[A]0[B]
Slopek ==k
Slope
ln C
n

ln(ao – x)(bo –x)


ln v

BAB III
METODOLOGI
A. Alat-alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1) Konduktometri 5) Pipet volume 20 ml
2) Labu ukur 200 ml 1 buah 6) Botol timbang
3) Labu ukur 100 ml 1 buah 7) Gelas Kimia 50 ml
4) Labu erlenmeyer 250 ml 6 buah 8) Stopwatch
5) Pipet volume 10 ml
A. Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1) Etil asetat
2) Larutan NaOH 0,02 M 200 ml
3) Larutan KCl 0,1 M
4) Aquades
A. Prosedur Percobaan
h
nambahkan
las
NaOH
bilas
engan
mencapai
Menentukan
dengan
Meletakan
sel
dan
airhantaran
dan
mengencerkannya
thermostat
larutan
masing-masing
menentukan
hantaran
Membuat
dalam
Membuat
dengan
Menentukan
Membuat
KCl maka
pada
0,1
larutan
air
thermostat
larutan
hantarannya
NaOH
larutan
M
hingga
kedua
dan
menit
temperature
dan
etil
memasukannya
KCl
dan
NaOH
ke-5,
asetat
larutan
volumenya
menentukan
0,1etil
berulang
dan
M
10,
0,02
0,02
larutan
100
dicampu
asetat
15,
MMmenentukan
sama
200
20,
200
hantarannya
sampai
keke
25,
dalam
dan
dengan
dalam
dan
menunjukkan
dikocok.
Erlenmeyer
campuran
Erlenmeyer
dalam
Menjalankan
larutan
hasil
NaOH yang
dan
Stopwatch
etil s
ut
utup
30hantarannya tersebut
mlmlml
Sisa campuran dipanaskan beberapa menit kemudian didinginkan dan ditentukan
hantarannya.
Gambar alat:

B. Data Pengamatan
Suhu Aquades : 28 0C
Suhu Larutan KCl : 29 0C

Tabel 1. Data Hantaran (Lo) pada Sampel


Sampel Tahanan (Ro) Hantaran (Lo)
Aquades 0,0287 µ-1 s-1 34,8 µs
Larutan KCl 0,0714 µ-1 s-1 14 µs
Larutan NaOH dan 5,4795 x 10-3 µ-1 s-1 182,5 µs
Aquades

Tabel 2. Data Hantaran (Lo) pada Larutan NaOH + Etil asetat


No. Waktu Tahanan (Ro) Hantaran (Lo – x (mmol) k
(sekon) (Lo) Lt) /t
1. 300 7,8616 x 10-3 127,2 µs 0,1843 µ 9,7959×10- 0,16

µ-1 s-1 3
2. 600 9,1491 x 10-3 109,3 µs 0,122 µ 0,0129 0,1537
-1 -1
µ s
3. 900 0,01 µ-1 s-1 99,3 µs 0,0924 µ 0,0147 0,1556

4. 1200 0,0106 µ-1 s-1 94,2 µs 0,0736 µ 0,0156 0,1496

5. 1500 0,0114 µ-1 s-1 87,8 µs 0,0631 µ 0,0168 0,1734


-1 -1
6. 1800 0,012 µ s 83,4 µs 0,0551 µ 0,0176 0,199
5
7. 2100 0,0123 µ-1 s-1 81.1 µs 0,0483 µ 0,018 0,21
8. Dipanaskan 0,0144 µ-1 s-1 69,6 µs - -
Harga k rata-rata = 0,1717

Tabel 3. Data kalibrasi Konduktometer dengan KCl


0
T C 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
L 12,6 12,9 13,4 13,8 14,1 14,4 14,9 15,5 16,0 16,2
4 5 5 5 9 9 6 3 5 5

Grafik

Dari grafik didapat persamaan:


y = 337,21 x + 66,699 dengan R2= 0,9867
Lt = 1k.a (Lo-Lt)t+ Lc maka, 1k.a = 1337,21
1k.0,02= 1337,21 k= 1337,21 x 0,02
=0,1483
y x
BAB IV
PEMBAHASAN
Penentuan laju reaksi/ tetapan laju reaksi pada reaksi penyabunan etil
asetat oleh ion hidroksida dapat ditentukan secara konduktometri.
Reaksi yang terjadi:

- -
CH3COOC 2H5 + OH CH3COO + C 2H5OH

Selain itu, percobaan inu juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa reaksi
di atas merupakan reaksi orde dua. Penggunaan konduktometri dalam perobaan
ini karena zat yang bereaksi merupakan suatu larutan elektrolit, sehingga
penentuan konsentrasi zat tersebut dapat dilakukan melalui pengukuran daya
hantar listriknya. Jika konsentrasi pereduksi berkurang maka daya hantar
listriknya pun berkurang. Jadi konsentrasi suatu larutan yang bereaksi berbanding
lurus dengan daya hantar listriknya. Daya hantar listrik sendiri berbanding terbalik
dengan harga tahanannya, L=1/R.
Sebelum larutan etil asetat dan NaOH (direaksikan) diukur daya
hantarnya, konduktometer dikalibrasi terlebih dahulu dengan larutan KCl pada
berbagai suhu. Campuran etil asetat dan NaOH diukur daya hantarnya setelah
bereaksi selama 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit, 30 menit, dan 35
menit. Dari hasil pengukuran diperoleh daya hantar listrik ampuran semakin lama
reaksi semakain berkurang. Hal ini karena makin lama waktu reaksi, maka
konsentrasi pereaksi makin berkurang sedangkan konsentrasi produk semakin
semakin bertambah. Sehingga konsentrasi etil asetat atau ion OH- dengan
CH3COO- pada larutan. Harga daya hantar listrik berturut-turut dari reaksi selama
5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit, 30 menit, dan 35 menit adalah
127,2 µs; 109,3 µs; 99,3 µs; 94,2 µs; 87,8 µs; 83,4 µs; dan 81,1 µs. Adapun sisa
campuran kemudian dipanaskan, setelah itu didinginkan dan diukur daya
hantarnya dengan konduktometer. Diperoleh daya hantar yang lebih kecil dari
waktu reaksi 35 yaitu: 69,6 µs. Hal itu karena ketika dipanaskan reaksi
berlangsung sempurna dan ion OH- yang ada semakin sedikit dan membentuk
produk.
Daya hantar NaOH sendiri, sebelum direaksikan dengan etil asetat besar
yaitu 182,5 µs. Karena NaOH termasuk elektrolit kuat dan ion-ionnya masih utuh
apalagi diencerkan dengan aquades.
Konsentrasi etil asetat dan NaOH yang digunakan pada percobaan ini
sama (a=b) yaitu 0.02 M. dengan demikian analisis data yang digunakan pada
percobaan ini juga menggunakan analisis untuk besar a=b, yaitu persamaan xa(a-
x)=kit .Untuk menentukan harga x atau besarnya konsentrasi zat yang terpakai,
serta persamaan Lt=1ki atLo-Lt+Lc. Untuk menentukan k atau tetapan laju
reaksinya.
Dari perhitungan diperoleh nilai x yang semakin lama reaksi, semakin
besar nilai x, artinya semakin banyak zat yang bereaksi. Sedangkan nilai k
diperoleh 0,1717
Dari grafik Lo-Lt/t terhadap Lt diperoleh suatu garis yang linear. Grafik
yang berupa garis lurus inilah yang menunjukkan bahwa reaksi etil asetat dan
NaOH merupakan arde kedua. Sehingga diperoleh persamaan y = 337,21 x +
66,699 dengan ketelitian R2= 0,9867; 98,67 %dari persamaan tersebut dapat dicari
nilai k dengan persamaan Lt=1k.a(Lo-Lt)t+Lc dan diperoleh nilai k sebesar
0,1483.
BAB V
KESIMPULAN
Dari percobaan di atas dapat ditarik kesimpulan:
1. Penetapan laju reaksi dan reaksi penyabunan etil asetat oleh ion hidroksida
dapat ditentukan dengan ara konduktometri.
2. Besarnya harga k secara perhitungan adalah 0,1717 sedangkan secara grafik
sebesar 0,1483.
3. Dari grafik yang diperoleh berupa garis lurus/ linear yang membuktikan
bahwa reaksi penyabunan etil asetat dan ion hidroksida merupakan orde
kedua.

DAFTAR PUSTAKA

Alberty, R. A. 1987. Physical Chemistry. New York : John Wiley and Sons
Castellan, G.W. 1983. Physical Chemistry. New York : Addison- Wesley
Publising
Company.
Mulyani, Sri. 2003. Kimia Fisika II. Bandung: UPI.
Tim Dosen Kimia Fisika. 2010. Diktat Petunjuk Praktikum Kimia Fisik.
Semarang: Unnes.
Steinbach, King.-.Experiments in Physical Chemistry,hal.145-149.
http://akafarma.htm

LAMPIRAN
Analisis Data:
Pembuatan Larutan :
1. Membuat larutan etil asetat 0,02M 200ml
M=
ρ × % × 10
Mr
=
0,9 × 9,995 × 10
88,11
= 10,1634 M
Pengenceran :
M1.V1 = M2.V2
10,1634M x V1 = 0,02 x 200
V1 = = 0,3936 ml ~ 0,4 ml
4
10,1634
Jadi, larutan etil asetat yang akan siencerkan sejumlah 0,4 ml dalam
labu tukur 200 ml dengan aquades sampai tanda batas.

2. Membuat larutan KCl 0,1 M 100ml, Mr KCl=74,56


M= x
gr 1000
Mr p
0,1 = x
gr 1000
74,56 100
gr = 0,7456 gram

jadi, KCl yang digunakan untuk membuat 100 ml KCl dengan konsentrasi
0,1 M yaitu sebanyak 0,7456 gram.

3. Membuat larutan NaOH 0,02 M 200ml, Mr NaOH=40


M= x
gr 1000
Mr p
0,02 = x
gr 1000
40 200
gr = 0,16 gram
Jadi, KCl yang digunakan untuk membuat 200 ml NaOH dengan
konsentrasi 0,02 M yaitu sebanyak 0,16 gram.

Menghitung Ro,Rt dan Rc


1) Ro =
1
Lo
 Sampel air = Lo = 34,8 µs
Ro =
1
Lo
= = 0,0287 µ-1 s-1
1
34,8
 Sampel KCl = Lo = 14 µs
Ro =
1
Lo
= = 0,0714 µ-1 s-1
1
14
 Sampel NaOH dan aquades= Lo = 182,5 µs
Ro =
1
Lo
= = 5,4795 x 10-3 µ-1 s-1
1
182,5
2) Rt =
1
Lt
 t = 5 menit = 300 sekon, Lt = 127,2 µs
Rt = = 7,8616 x 10-3 µ-1 s-1
1
127,2
 t = 10 menit = 600 sekon, Lt = 109,3 µs
Rt = = 9,1491x10-3 µ-1 s-1
1
109,3
 t = 15 menit = 900 sekon, Lt = 99,3 µs
Rt = = 0,01 µ-1 s-1
1
99,3
 t = 20 menit = 1200 sekon, Lt = 94,2 µs
Rt = = 0,0106 µ-1 s-1
1
94,2
 t = 25 menit = 1500 sekon, Lt = 87,8 µs
Rt = = 0,0114 µ-1 s-1
1
87,8
 t =30 menit = 1800 sekon, Lt = 83,4 µs
Rt = =0,012 µ-1 s-1
1
83,4
 t = 35 menit = 2100 sekon, Lt = 81,1 µs
Rt = =0,0123 µ-1 s-1
1
81,1
 Setelah dipanaskan :
Lc = 69,6 µs
Rc = =
1 1
Lc 69,6
= 0,0144 µ-1 s-1

Menghitung A dan B dimana a = b = c = 0,02 M


A=

 Ro  
( )
 1  a 
   c 1 −

Ro  
 − 1
Rc  

=
 1    0,02  1 − 5,4795 × 10  − 1
−3

   
 5,4795 × 10− 3    c0,02  0,0144  

=
(182,4984)( 0,6195 − 1)
= -69,4406

B=

( )
 1  b 
   c 1 −
 Ro   
Ro  
 − 1
Rc  

= -69,4406 ,karena a =b =c = 0,02 M

Menentukan harga K
Lt =
1
( Lo − Lt ) + Lc
K1 • at

• t = 5 menit = 300 sekon


127,2 =
1
(182,5 − 127,2) + 69,6
K1 • 0,02 • 300
127,2 =
1
( 55,3) + 69,6
6 K1
127,2 =
9,2167
+ 69,6
K1

57,6 K1 = 9,2167
K1 = 0,16
• t = 10 menit = 600 sekon
=
109,3 1
(182,5 − 109,3) + 69,6
K 2 • 0,02 • 600
=
109,3 1
( 73,2) + 69,6
12K 2
=
109,3 6,1
+ 69,6
K2

39,7 K2 = 6,1
K2 = 0,1537

• t = 15 menit = 900 sekon


=
182,5 1
(182,5 − 99,3) + 69,6
K 3 • 0,02 • 900
=
182,5 1
( 83,2) + 69,6
18K 3

=
182,5 4,622
+ 69,6
K3

29,7 K3 = 4,622
K3 = 0,1556

• t = 20 menit = 1200 sekon


=
94,2 1
(182,5 − 94,2) + 69,6
K 4 • 0,02 • 1200
=
94,2 1
( 88,3) + 69,6
24K 4
=
94,2 3,6792
+ 69,6
K4
24,6 K4 = 3,6792
K4 = 0,1496

• t = 25 menit = 1500 sekon


=
87,8 1
(182,5 − 87,8) + 69,6
K 5 • 0,02 • 1500
=
87,8 1
( 94,7) + 69,6
30K 5
=
87,8 3,1567
+ 69,6
K5
18,2 K5 = 3,1567
K5 = 0,1734
• t = 30 menit = 1800 sekon
=
83,4 1
(182,5 − 83,4) + 69,6
K 6 • 0,02 • 1800
=
83,4 1
( 94,7 ) + 69,6
36K 6

=
83,4 3,1567
+ 69,6
K6
2,7528k6=13,8
13,8 k6=2,7528
k6=0,1995

• t = 35 menit = 2100 sekon


81,1=1k7∙0,02∙2100182,5-81,1+69,6
81,1=142 k7101,4+69,6
81,1=2,4143k7+69,6
2,4143k7=11,5
11,5 k7=2,4143
k7=11,5

Menghitung x pada t menit


xaa-x=k∙t
➢ t = 5 menit = 300 sekon
x0,020,02-x=0,016∙300
x0,0004-0,02x=48
x=0,0192-0,96x
1,96x=0,0192
x=9,7959×10-3
➢ t = 10 menit = 600 sekon
x0,020,02-x=0,1537∙600
x0,0004-0,02x=92,22

x=0,0369-1,8444x
2,8444x=0,0369
x=0,0129
➢ t = 15 menit = 900 sekon
x0,020,02-x=0,1556∙900
x0,0004-0,02x=0,1556∙900
x0,0004-0,02x=140,04
x=0,056-2,8008x
3,8008x=0,056
x=0,0147

➢ t = 20 menit = 1200 sekon


x0,020,02-x=0,1496∙1200
x0,0004-0,02x=179,52
x=0,0718-3,5904x
4,5904x=0,0718
x=0,0156

➢ t = 25 menit = 1500 sekon


x0,020,02-x=0,1734∙1500
x0,0004-0,02x=260,1
x=0,104-5,202x
6,202x=0,104
x=0,0168
➢ t = 30 menit = 1800 sekon
x0,020,02-x=0,1995∙1800
x0,0004-0,02x=359,1
x=0,1436-7,182x
8,182x=0,1436
x=0,0176

➢ t = 35 menit = 2100 sekon


x0,020,02-x=0,2099∙2100
x0,0004-0,02x=440,79
x=0,1763-8,8158x
9,8158x=0,1763
x=0,018

Menghitung L0-Ltt
➢ t = 5 menit = 300 sekon
L0-Ltt=182,5-127,2300
=0,1843
➢ t = 10 menit = 600 sekon
L0-Ltt=182,5-109,3600
=0,122
➢ t = 15 menit = 900 sekon

L0-Ltt=182,5-99,3900
=0,0924
➢ t = 20 menit = 1200 sekon

L0-Ltt=182,5-94,21200
=0,0736
➢ t = 25 menit = 1500 sekon

L0-Ltt=182,5-87,81500
=0,0631
➢ t = 30 menit = 1800 sekon

L0-Ltt=182,5-83,41800
=0,055
➢ t = 35 menit = 2100 sekon

L0-Ltt=182,5-81,12100
=0,0483
Menghitung harga ARt+1BRt+1
Karena harga A = B maka ARt + 1 = BRt + 1, sehingga ARt+1BRt+1=1
➢ t = 5 menit
ARt+1= BRt+ 1= -69,44067,8616×10-3+1
=-0,5425+1=0,4576
➢ t = 10 menit
ARt+1= BRt+ 1= -69,44069,1491×10-3+1
=-0,5896+1=0,4104
➢ t = 15 menit
ARt+1= BRt+ 1= -69,44060,01+1
=-0,6944+1=0,3056
➢ t = 20 menit
ARt+1= BRt+ 1= -69,44060,0106+1
=-0,736+1=0,264
➢ t = 25 menit

ARt+1= BRt+ 1= -69,44060,0114+1


=-0,7916+1=0,2084
➢ t = 30 menit

ARt+1= BRt+ 1= -69,44060,012+1


=-0,8333+1=0,1667
➢ t = 35 menit

ARt+1= BRt+ 1= -69,44060,0123+1


=-0,8541+1=0,1459