Anda di halaman 1dari 32

ASKEP ATRESIA ANI

TINJAUAN TEORI

1. Pengertian Atresia Ani

Atresia Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi
anus, rectum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002)

Atresia ini atau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi membran yang
memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak
sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang berbentuk anus
namun tidak berhubungan langsung dengan rectum. (sumber Purwanto. 2001 RSCM)

Atresia Ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran
anus (Donna L. Wong, 520 : 2003).

Atresia berasal dari bahasa Yunani, a artinya tidak ada, trepis artinya nutrisi atau makanan.
Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya
lubang badan normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura. Dengan kata
lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang atau buntunya saluran atau
rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau terjadi kemudian karena
proses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat terjadi pada seluruh saluran tubuh,
misalnya atresia ani. Atresia ani yaitu tidak berlubangnya dubur. Atresia ani memiliki nama
lain yaitu anus imperforata. Jika atresia terjadi maka hampir selalu memerlukan tindakan
operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya

Menurut Ladd dan Gross (1966) anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu:

1. Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus


2. Membran anus yang menetap
3. Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada bermacam-
macam jarak dari peritoneum
4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung

2. Etiologi

Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa
lubang dubur

2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan

3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum


bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai
keenam usia kehamilan.

3. Patofisiologi

Atresia ani atau anus imperforate dapat disebabkan karena :

1) Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit
karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus dari tonjolan embrionik

2) Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur, sehingga bayi lahir tanpa
lubang dubur

3) Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena ada kegagalan
pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau tiga bulan

4) Berkaitan dengan sindrom down

5) Atresia ani adalah suatu kelainan bawaan

Terdapat tiga macam letak


Tinggi (supralevator) → rektum berakhir di atas M.Levator ani (m.puborektalis) dengan jarak
antara ujung buntu rectum dengan kulit perineum >1 cm. Letak upralevator biasanya disertai
dengan fistel ke saluran kencing atau saluran genital

Intermediate → rectum terletak pada m.levator ani tapi tidak menembusnya

Rendah → rectum berakhir di bawah m.levator ani sehingga jarak antara kulit dan ujung
rectum paling jauh 1 cm.
Pada wanita 90% dengan fistula ke vagina/perineum
Pada laki-laki umumnya letak tinggi, bila ada fistula ke traktus urinarius

4. Manifestasi Klinis

1) Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.

2) Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi.

3) Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah letaknya.

4) Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak ada fistula).

5) Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam.

6) Pada pemeriksaan rectal touché terdapat adanya membran anal.

7) Perut kembung.

(Betz. Ed 7. 2002)

5. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita atresia ani antara lain :

a. Asidosis hiperkioremia.

b. Infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan.


c. Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah).

d. Komplikasi jangka panjang.

- Eversi mukosa anal

- Stenosis (akibat kontriksi jaringan perut dianastomosis)

e. Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training.

f. Inkontinensia (akibat stenosis awal atau impaksi)

g. Prolaps mukosa anorektal.

h. Fistula kambuan (karena ketegangan diare pembedahan dan infeksi)

(Ngustiyah, 1997 : 248)

6. Klasifikasi

Klasifikasi atresia ani :

1. Anal stenosis adalah terjadinya penyempitan daerah anus sehingga feses tidak dapat
keluar.

2. Membranosus atresia adalah terdapat membran pada anus.

3. Anal agenesis adalah memiliki anus tetapi ada daging diantara rectum dengan anus.

4. Rectal atresia adalah tidak memiliki rectum

(Wong, Whaley. 1985).

7. Penatalaksanaan Medis

a. Pembedahan
Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan kelainan.
Semakin tinggi gangguan, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk kelainan
dilakukan kolostomi beberapa lahir, kemudian anoplasti perineal yaitu dibuat anus
permanen (prosedur penarikan perineum abnormal) dilakukan pada bayi berusia 12
bulan. Pembedahan ini dilakukan pada usia 12 bulan dimaksudkan untuk memberi
waktu pada pelvis untuk membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan
ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badan dan bertambah baik status
nutrisnya. Gangguan ringan diatas dengan menarik kantong rectal melalui afingter
sampai lubang pada kulit anal fistula, bila ada harus tutup kelainan membranosa
hanya memerlukan tindakan pembedahan yang minimal membran tersebut dilubangi
degan hemostratau skapel

b. Pengobatan

1) Aksisi membran anal (membuat anus buatan)

2) Fiktusi yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah 3 bulan


dilakukan korksi sekaligus (pembuat anus permanen)

(Staf Pengajar FKUI. 205)

8. Pemeriksaan Penunjang

a) Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostik yang umum
dilakukan pada gangguan ini.

b) Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya sel-sel epitel
mekonium.

c) Pemeriksaan sinyal X lateral infeksi (teknik wangensteen-rice) dapat menunjukkan


adanya kumpulan udara dalam ujung rectum yang buntu pada mekonium yang
mencegah udara sampai keujung kantong rectal.

d) Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak rectal kantong.


e) Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan menusukan jarum tersebut
sampai melakukan aspirasi, jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah
masuk 1,5 cm Derek tersebut dianggap defek tingkat tinggi.

f) Pemeriksaan radiologis dapat ditemukan

a. Udara dalam usus berhenti tiba-tiba yang menandakan obstruksi di daerah


tersebut.

b. Tidak ada bayangan udara dalam rongga pelvis pada bagian baru lahir dan
gambaran ini harus dipikirkan kemungkinan atresia reftil/anus impoefartus,
pada bayi dengan anus impoefartus. Udara berhenti tiba-tiba di daerah
sigmoid, kolon/rectum.

c. Dibuat foto anterpisterior (AP) dan lateral. Bayi diangkat dengan kepala
dibawah dan kaki diatas pada anus benda bang radio-opak, sehingga pada
foto daerah antara benda radio-opak dengan dengan bayangan udara
tertinggi dapat diukur.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN ATRESIA ANI

1. Pengkajian

1) Biodata klien

2) Riwayat keperawatan

a. Riwayat keperawatan/kesehatan sekarang

b. Riwayat kesehatan masa lalu

3) Riwayat psikologis

Koping keluarga dalam menghadapi masalah


4) Riwayat tumbuh kembang

a. BB lahir abnormal

b. Kemampuan motorik halus, motorik kasar, kognitif dan tumbuh kembang


pernah mengalami trauma saat sakit

c. Sakit kehamilan mengalami infeksi intrapartal

d. Sakit kehamilan tidak keluar mekonium

5) Riwayat sosial

Hubungan sosial

6) Pemeriksaan fisik

2. Diagnosa Keperawatan

Dx Pre Operasi

1) Konstipasi berhubungan dengan aganglion.

2) Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan menurunnya intake, muntah.

3) Cemas orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit dan
prosedur perawatan.

Dx Post Operasi

1) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terdapat stoma sekunder dari


kolostomi.

2) Kurang pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah.

3. Rencana Keperawatan
a. Diagnosa Pre Operasi

Dx. 1 Konstipasi berhubungan dengan aganglion

Tujuan : Klien mampu mempertahankan pola eliminasi BAB dengan teratur.

Kriteria Hasil :

Penurunan distensi abdomen.

Meningkatnya kenyamanan.

Intervensi :

1. Lakukan enema atau irigasi rectal sesuai order

R/ Evaluasi bowel meningkatkan kenyaman pada anak.

2. Kaji bising usus dan abdomen setiap 4 jam

R/ Meyakinkan berfungsinya usus

3. Ukur lingkar abdomen

R/ Pengukuran lingkar abdomen membantu mendeteksi terjadinya distensi

Dx. 2 Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan menurunnya intake,


muntah

Tujuan : Klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan

Kriteria Hasil :

Output urin 1-2 ml/kg/jam

Capillary refill 3-5 detik


Turgor kulit baik

Membrane mukosa lembab

Intervensi :

1. Monitor intake – output cairan

R/ Dapat mengidentifikasi status cairan klien

2. Lakukan pemasangan infus dan berikan cairan IV

R/ Mencegah dehidrasi

3. Pantau TTV

R/ Mengetahui kehilangan cairan melalui suhu tubuh yang tinggi

Dx 3 Cemas orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit dan
prosedur perawatan.

Tujuan : Kecemasan orang tua dapat berkurang

Kriteria Hasil :

Klien tidak lemas

Intervensi :

1. Jelaskan dengan istilah yang dimengerti oleh orang tua tentang anatomi dan
fisiologi saluran pencernaan normal. Gunakan alay, media dan gambar

R/ Agar orang tua mengerti kondisi klien

2. Beri jadwal studi diagnosa pada orang tua


R/ Pengetahuan tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan kecemasan

3. Beri informasi pada orang tua tentang operasi kolostomi

R/ Membantu mengurangi kecemasan klien

b. Diagnosa Post Operasi

Dx 1 Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terdapat stoma sekunder dari


kolostomi.

Tujuan : Klien tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan kulit lebih lanjut.

Intervensi :

1. Gunakan kantong kolostomi yang baik

2. Kosongkan kantong ortomi setelah terisi ¼ atau 1/3 kantong

3. Lakukan perawatan luka sesuai order dokter

Dx 2 Kurang pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah.

Tujuan : Orang tua dapat meningkatkan pengetahuannya tentang perawatan di rumah.

Intervensi :

1. Ajarkan pada orang tua tentang pentingnya pemberian makan tinggi kalori tinggi
protein.

2. Ajarkan orang tua tentang perawatan kolostomi.

4. Evaluasi

Pre Operasi Post operasi


1. Tidak terjadi konstipasi 1. Kerusakan integritas kulit tidak
terjadi
2. Defisit volume cairan tidak
terjadi 2. Klien memiliki pengetahuan
perawatan di rumah
3. Lemas berkurang

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cealy L. & Linda A. Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisike-3.
Jakarta : EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 1997. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi ke-6. Jakarta : EGC.

Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Sri Kurnianianingsih (ed),
Monica Ester (Alih Bahasa). edisi ke-4. Jakarta : EGC.

ASUHAN KEPERAWATAN ATRESIA ANI

ASUHAN KEPERAWATAN ATRESIA ANI

A. Pengertian
Atresia Ani / Atresia Rekti adalah ketiadaan atau tertutupnya rectal secara congenital (Dorland,
1998).
Suatu perineum tanpa apertura anal diuraikan sebagai inperforata. Ladd dan Gross (1966)
membagi anus inperforata dalam 4 golongan, yaitu:
1. Stenosis rectum yang lebih rendah atau pada anus
2. Membran anus menetap
3. Anus inperforata dan ujung rectum yang buntu terletak pada bermacam-macam jarak dari
peritoneum
4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung rectum yang buntu
Pada golongan 3 hampir selalu disertai fistula, pada bayi wanita yang sering ditemukan fisula
rektovaginal (bayi buang air besar lewat vagina) dan jarang rektoperineal, tidak pernah
rektobrinarius. Sedang pada bayi laki-laki dapat terjadi fistula rektourinarius dan berakhir
dikandung kemih atau uretra serta jarang rektoperineal.

B. Pathofisiologi

C. Ganbaran Klinik
Pada sebagian besar anomati ini neonatus ditemukan dengan obstruksi usus. Tanda berikut
merupakan indikasi beberapa abnormalitas:
1. Tidak adanya apertura anal
2. Mekonium yang keluar dari suatu orifisium abnormal
3. Muntah dengan abdomen yang kembung
4. Kesukaran defekasi, misalnya dikeluarkannya feses mirip seperti stenosis
Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan colok
anus dengan menggunakan termometer yang dimasukkan sampai sepanjang 2 cm ke dalam anus.
Atau dapat juga dengan jari kelingking yang memakai sarung tangan. Jika terdapat kelainan,
maka termometer atau jari tidak dapat masuk. Bila anus terlihat normal dan penyumbatan
terdapat lebih tinggi dari perineum. Gejala akan timbul dalam 24-48 jam setelah lahir berupa
perut kembung, muntah berwarna hijau.
artikel disini :http://blog.ilmukeperawatan.com
D. Pemeriksaan Penunjang
1. X-ray, ini menunjukkan adanya gas dalam usus
2. Pewarnaan radiopak dimasukkan kedalam traktus urinarius, misalnya suatu sistouretrogram
mikturasi akan memperlihatkan hubungan rektourinarius dan kelainan urinarius
3. Pemeriksaan urin, perlu dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat mekonium

E. Penatalaksanaan
? Medik:
1. Eksisi membran anal
2. Fistula, yaitu dengan melakukan kolostomi sememtara dan setelah umur 3 bulan dilakukan
koreksi sekaligus
? Keperawatan
Kepada orang tua perlu diberitahukan mengenai kelainan pada anaknya dan keadaan tersebut
dapat diperbaiki dengan jalan operasi. Operasi akan dilakukan 2 tahap yaitu tahap pertama hanya
dibuatkan anus buatan dan setelah umur 3 bulan dilakukan operasi tahapan ke 2, selain itu perlu
diberitahukan perawatan anus buatan dalam menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi. Serta
memperhatikan kesehatan bayi.

F. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan eliminasi BAK b.d Dysuria
2. Gangguan rasa nyaman b.d vistel rektovaginal, Dysuria
3. Resti infeksi b.d feses masuk ke uretra, mikroorganisme masuk saluran kemih
4. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d mual, muntah, anoreksia
5. Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d trauma jaringan post operasi
6. Resti infeksi b.d perawatan tidak adekuat, trauma jaringan post operasi
7. Resti kerusakan integritas kulit b.d perubahan pola defekasi, pengeluaran tidak terkontrol

G. Path Ways

G. Intervensi
DP Tujuan Intervensi
Gangguan eliminasi BAK b.d vistel rektovaginal, Dysuria

Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d vistel rektovaginal, Dysuria

Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d mual, muntah, anoreksia

Nyeri b.d trauma jaringan post operasi (Kolostomi)

Resti kerusakan integritas kulit b.d perubahan pola defekasi, pengeluaran tidak terkontrol

Tidak terjadi perubahan pola eliminasi BAK setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan
KH:
? Pasien dapat BAK dengan normal
? idak ada perubahan pada jumlah urine

Pasien merasa nyaman setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam dengan KH:
? Nyeri berkurang
? Pasien merasa tenang

Tidak terjadi kekurangan nutrisi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam
dengan KH :
? Pasien tidak mengalami penurunan berat badan
? Turgor pasien baik
? Pasien tidak mual, muntah
? Nafsu makan bertambah
Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 24 jam pertama dengan KH:
? Nyeri berkurang
? Pasien merasa tenang
? Tidak ada perubahan tanda vital

Tidak terjadi kerusakan integritas kulit setalah dilakukan tindakan keperawatan 24 jam pertama
dengan KH:
? Mempertahankan integritas kulit
? Tidak terdapat tanda-tanda kerusakan integritas kulit
? Mengindentifisikasi faktor resiko individu • Kaji pola eliminasi BAK pasien
• Awasi pemasukan dan pengeluaran serta karakteristik urine
• Selidiki keluhan kandung kemih penuh
• Awasi/observasi hasil laborat
• Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi

• kaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien


• Ajarkan teknik relaksasi distraksi
• Berikan posisi yang nyaman pada pasien
• Jelaskan penyebab nyeri dan awasi perubahan kejadian
• Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi

• Kaji KU pasien
• Timbang berat badan pasien
• Catat frekuensi mual, muntah pasien
• Catat masukan nutrisi pasien
• Beri motivasi pasien untuk meningkatkan asupan nutrisi
• Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pengaturan menu
• Kaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien
• Berikan penjelasan pada pasien tentang nyeri yang terjadi
• Berikan tindakan kenyamanan, yakinkan pada pasien bahwa perubahan posisi tidak menciderai
stoma
• Ajarkan teknik relaksasi, distraksi
• Bantu melakukan latihan rentang gerak
• Awasi adanya kekakuan otot abdominal
• Kolaborasi pemberian analgetik

• Lihat stoma/area kulit peristomal pada setiap penggantian kantong


• Ukur stoma secara periodik misalnya tia perubahan kantong
• Berikan perlindungan kulit yang efektif
• Kosongkan irigasi dan kebersihan dengan rutin
• Awasi adanya rasa gatal disekitar stoma
• Kolaborasi dengan ahli terapi.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. (1996). Text book of Medical-Surgical Nursing. EGC. Jakarta.
Doengoes Merillynn. (1999) (Rencana Asuhan Keperawatan). Nursing care plans. Guidelines for
planing and documenting patient care. Alih bahasa : I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati. EGC.
Jakarta.
Dorland. (1998). Kamus Saku Kedokteran Dorlana. Alih Bahasa: Dyah Nuswantari Ed. 25.
Jakarta: EGC
Prince A Sylvia. (1995). (patofisiologi). Clinical Concept. Alih bahasa : Peter Anugrah EGC.
Jakarta.
Long, Barbara. C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Terjemahan: Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan. USA: CV Mosby
[ad#tak-usah-bingung]
ASKEP ATRESIA ANI

Definisi

Istilah atresia berasal dari bahasa Yunani yaitu “a” yang berarti tidak ada dan

trepsis yang berarti makanan atau nutrisi. Dalam istilah kedokteran, atresia adalah suatu

keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal.

Atresia ani adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai

lubang keluar (Walley,1996). Ada juga yang menyebutkan bahwa atresia ani adalah tidak

lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya anus secara

abnormal (Suriadi,2001). Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah kondisi dimana

rectal terjadi gangguan pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan.

Jadi menurut kesimpulan penulis, atresia ani adalah kelainan congenital anus

dimana anus tidak mempunyai lubang untuk mengeluarkan feces karena terjadi gangguan

pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan.


Walaupun kelainan lubang anus akan mudah terbukti saat lahir, tetapi kelainan

bisa terlewatkan bila tidak ada pemeriksaan yang cermat atau pemeriksaan perineum.

Etiologi

Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui, namun ada sumber mengatakan

kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi, dan pembentukan

anus dari tonjolan embriogenik. Pada kelainan bawaananus umumnya tidak ada kelainan

rectum, sfingter, dan otot dasar panggul. Namun demikian pada agenesis anus, sfingter

internal mungkin tidak memadai. Menurut peneletian beberapa ahli masih jarang terjadi

bahwa gen autosomal resesif yang menjadi penyebab atresia ani. Orang tua yang

mempunyai gen carrier penyakit ini mempunyai peluang sekitar 25% untuk diturunkan

pada anaknya saat kehamilan. 30% anak yang mempunyai sindrom genetic, kelainan

kromosom atau kelainan congenital lain juga beresiko untuk menderita atresia ani.

Sedangkan kelainan bawaan rectum terjadi karena gangguan pemisahan kloaka menjadi

rectum dan sinus urogenital sehingga biasanya disertai dengan gangguan perkembangan

septum urorektal yang memisahkannya.

Faktor predisposisi

Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital saat lahir

seperti :

1. Sindrom vactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada vertebral, anal, jantung,

trachea, esofahus, ginjal dan kelenjar limfe).

2. Kelainan sistem pencernaan.

3. Kelainan sistem pekemihan.


4. Kelainan tulang belakang.

Klasifikasi

Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu

1. Yang tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis dicapai

melalui saluran fistula eksterna.

Kelompok ini terutma melibatkan bayi perempuan dengan fistula rectovagina atau

rectofourchette yang relatif besar, dimana fistula ini sering dengan bantuan dilatasi,

maka bisa didapatkan dekompresi usus yang adequate sementara waktu.

2. Yang tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalam keluar tinja.

Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan dekompresi

spontan kolon, memerlukan beberapa bentuk intervensi bedah segera. Pasien bisa

diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 sub kelompok anatomi yaitu :

1. Anomali rendah

Rectum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborectalis, terdapat

sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal dan

tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinarius.

2. Anomali intermediet
Rectum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis; lesung anal dan

sfingter eksternal berada pada posisi yang normal.

3. Anomali tinggi

Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada. Hal ini

biasanya berhungan dengan fistuls genitourinarius – retrouretral (pria) atau

rectovagina (perempuan). Jarak antara ujung buntu rectum sampai kulit perineum

lebih daai1 cm.

Sedangkan menurut klasifikasi Wingspread (1984), atresia ani dibagi 2 golongan

yang dikelompokkan menurut jenis kelamin. Pada laki – laki golongan I dibagi menjadi 4

kelainan yaitu kelainan fistel urin, atresia rectum, perineum datar dan fistel tidak ada.

Jika ada fistel urin, tampak mekonium keluar dari orifisium eksternum uretra, mungkin

terdapat fistel ke uretra maupun ke vesika urinaria. Cara praktis menentukan letak fistel

adalah dengan memasang kateter urin. Bila kateter terpasang dan urin jernih, berarti fistel

terletak uretra karena fistel tertutup kateter. Bila dengan kateter urin mengandung

mekonuim maka fistel ke vesikaurinaria. Bila evakuasi feses tidak lancar, penderita

memerlukan kolostomi segera. Pada atresia rectum tindakannya sama pada perempuan ;

harus dibuat kolostomi. Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm dari kulit pada

invertogram, maka perlu segera dilakukan kolostomi.

Sedangkan pada perempuan golongan I dibagi menjadi 5 kelainan yaitu kelainan

kloaka, fistel vagina, fistel rektovestibular, atresia rectum dan fistel tidak ada. Pada fistel

vagina, mekonium tampak keluar dari vagina. Evakuasi feces menjadi tidak lancar
sehingga sebaiknya dilakukan kolostomi. Pada fistel vestibulum, muara fistel terdapat

divulva. Umumnya evakuasi feses lancar selama penderita hanya minum susu. Evakuasi

mulai etrhambat saat penderita mulai makan makanan padat. Kolostomi dapat

direncanakan bila penderita dalam keadaan optimal. Bila terdapat kloaka maka tidak ada

pemisahan antara traktus urinarius, traktus genetalis dan jalan cerna. Evakuasi feses

umumnya tidak sempurna sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi.Pada atresia rectum,

anus tampak normal tetapi pada pemerikasaan colok dubur, jari tidak dapat masuk lebih

dari 1-2 cm. Tidak ada evakuasi mekonium sehingga perlu segera dilakukan kolostomi.

Bila tidak ada fistel, dibuat invertogram. Jika udara > 1 cm dari kulit perlu segera

dilakukan kolostomi.

Golongan II pada laki – laki dibagi 4 kelainan yaitu kelainan fistel perineum,

membran anal, stenosis anus, fistel tidak ada. Fistel perineum sama dengan pada wanita ;

lubangnya terdapat anterior dari letak anus normal. Pada membran anal biasanya tampak

bayangan mekonium di bawah selaput. Bila evakuasi feses tidak ada sebaiknya dilakukan

terapi definit secepat mungkin. Pada stenosis anus, sama dengan perempuan, tindakan

definitive harus dilakukan. Bila tidak ada fistel dan udara <>

Sedangkan golongan II pada perempuan dibagi 3 kelainan


yaitu kelainan fistel perineum, stenosis anus dan fistel tidak ada.
Lubang fistel perineum biasanya terdapat diantara vulva dan tempat
letak anus normal, tetapi tanda timah anus yang buntu
menimbulkan obstipasi. Pada stenosis anus, lubang anus terletak di
tempat yang seharusnya, tetapi sangat sempit. Evakuasi feses tidal
lancar sehingga biasanya harus segera dilakukan terapi definitive.
Bila tidak ada fistel dan pada invertogram udara <>

Patofisiologi
Anus dan rectum berkembang dari embrionik bagian belakang. Ujung ekor dari bagian

belakang berkembang menjadi kloaka yang merupakan bakal genitoury dan struktur anorektal.

Terjadi stenosis anal karena adanya penyempitan pada kanal anorektal. Terjadi atresia anal karena

tidak ada kelengkapan migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7 dan 10 mingggu dalam

perkembangan fetal. Kegagalan migrasi dapat juga karena kegagalan dalam agenesis sacral dan

abnormalitas pada uretra dan vagina. Tidak ada pembukaan usus besar yang keluar anus

menyebabkan fecal tidak dapat dikeluarkan sehungga intestinal mengalami obstrksi.

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis yang terjadi pada atresia ani adalah kegagalan lewatnya mekonium

setelah bayi lahir, tidak ada atau stenosis kanal rectal, adanya membran anal dan fistula eksternal

pada perineum (Suriadi,2001). Gejala lain yang nampak diketahui adalah jika bayi tidak dapat

buang air besar sampai 24 jam setelah lahir, gangguan intestinal, pembesaran abdomen, pembuluh

darah di kulir abdomen akan terlihat menonjol (Adele,1996)

Bayi muntah – muntah pada usia 24 – 48 jam setelah lahir juga merupakan salah satu

manifestasi klinis atresia ani. Cairan muntahan akan dapat berwarna hijau karena cairan empedu

atau juga berwarna hitam kehijauan karena cairan mekonium.

Pemeriksaan Penunjang

Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut :

2. Pemeriksaan radiologis

Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.

3. Sinar X terhadap abdomen


Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk mengetahui

jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya.

4. Ultrasound terhadap abdomen

Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system pencernaan

dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor.

d. CT Scan

Digunakan untuk menentukan lesi.

e. Pyelografi intra vena

Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.

f. Pemeriksaan fisik rectum

Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau

jari.

g. Rontgenogram abdomen dan pelvis

Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan

dengan traktus urinarius.

Penatalaksaan
1. Penatalaksanaan Medis

1. Malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindakan bedah yang disebut diseksi

posterosagital atau plastik anorektal posterosagital.

2. Colostomi sementara
2. Penatalaksanaan Keperawatan

2.1 Pengkajian

Diperlukan pengkajian yang cermat dan teliti untuk mengetahui masalah pasien

dengan tepat, sebab pengkajian merupakan awal dari proses keperawatan. Dan

keberhasilan proses keperawatan tergantung dari pengkajian. Konsep teori yang

difunakan penulis adalah model konseptual keperawatan dari Gordon. Menurut

Gordon data dapat dikelompokkan menjadi 11 konsep yang meliputi :

1. Persepsi Kesehatan – Pola Manajemen Kesehatan

Mengkaji kemampuan pasien dan keluarga melanjutkan perawatan di

rumah.

2. Pola nutrisi – Metabolik

Anoreksia, penurunan BB dan malnutrisi umu terjadi pada pasien

dengan atresia ani post kolostomi. Keinginan pasien untuk makan mungkin

terganggu oleh mual dan munta dampak dari anestesi.

3. Pola Eliminasi

Dengan pengeluaran melalui saluran kencing, usus, kulit dan paru maka

tubuh dibersihkan dari bahan - bahan yang melebihi kebutuhan dan dari produk

buangan. Oleh karena pada atresia ani tidak terdapatnya lubang pada anus,

sehingga pasien akan mengalami kesulitan dalam defekasi (Whaley &

Wong,1996).

4. Pola Aktivitas dan Latihan


Pola latihan dan aktivitas dipertahankan untuk menhindari kelemahan

otot.

5. Pola Persepsi Kognitif

Menjelaskan tentang fungsi penglihatan, pendengaran, penciuman, daya

ingatan masa lalu dan ketanggapan dalam menjawab pertanyaan.

6. Pola Tidur dan Istirahat

Pada pasien mungkin pola istirahat dan tidur terganggu karena nyeri

pada luka inisisi.

7. Konsep Diri dan Persepsi Diri

Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body image, body

comfort. Terjadi perilaku distraksi, gelisah, penolakan karena dampak luka

jahitan operasi (Doenges,1993).

8. Peran dan Pola Hubungan

Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan sesudah

sakit. Perubahan pola biasa dalam tanggungjawab atau perubahan kapasitas fisik

untuk melaksanakan peran (Doenges,1993).

9. Pola Reproduktif dan Sexual

Pola ini bertujuan menjelaskan fungsi sosial sebagi alat reproduksi

(Doenges,1993).

10. Pola Pertahanan Diri, Stress dan Toleransi


Adanya faktor stress lama, efek hospitalisasi, masalah keuangan, rumah

(Doenges,1993).

11. Pola Keyakinan dan Nilai

Untuk menerangkan sikap, keyakinan klien dalam melaksanakan agama

yang dipeluk dan konsekuensinya dalam keseharian. Dengan ini diharapkan

perawat dalam memberikan motivasi dan pendekatan terhadap klien dalam upaya

pelaksanaan ibadah (Mediana,1998).

2. Pemeriksaan Fisik

Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani adalah anus

tampak merah, usus melebar, kadang – kadang tampak ileus obstruksi, termometer

yang dimasukkan melalui anus tertahan oleh jaringan, pada auskultasi terdengan

hiperperistaltik, tanpa mekonium dalam 24 jam setelah bayi lahir, tinja dalam urin dan

vagina (Whaley & Wong,1996).

2. Diagnosa Keperawatan

Data yang diperoleh perlu dianalisa terlebih dahulu sebelum mengemukkan

diagnosa keperawatan, sehingga dapat diperoleh diagnosa keperawatan yang spesifik.

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien atresia ani yaitu:

a. Inkontinen bowel (tidak efektif fungsi eksretorik berhubungan dengan tidak

lengkapnya pembentukan anus (Suriadi,2001).

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia

(Doenges,1993).

c. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kolostomi (Doenges,1993).


d. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan (Doenges,1993).

5. Kecemasan keluarga berhungan dengan prosedur pembedahan dan kondisi bayi

(Suriadi,2001).

6. Gangguan citra diri berhubungan dengan adanya kolostomi (Doenges,1993).

7. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma saraf jaringan (Doenges,1993).

8. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan penumpuksan secket berlebih

(Doenges,1993).

9. Kurangnya pengetahuan keluarga berhungan dengan kebutuhan perawatan di rumah

(Whaley & Wong,1996).

2. Intervensi Keperawatan

Fokus intervensi keperawatan pada atresia ani adalah sebagai berikut :

Inkontinen bowel (tidak efektif fungsi


eksretorik) berhubungan dengan tidak
lengkapnya pembentukan anus (Suriadi,2001).

Tujuan yang diharapkan yaitu terjadi peningkatan fungsi usus, dengan

kriteria hasil : pasien akan menunjukkan konsistensi tinja lembek, terbentuknya

tinja,tidak ada nyeri saat defekasi, tidak terjadi perdarahan.

Intervensi :

1. Dilatasikan anal sesuai program.

2. Pertahankan puasa dan berikan terapi hidrasi IV sampai fungsi

usus normal.

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan


kolostomi (Doenges,1996).
Tujuan yang diharapkan adalah tidak terjadi gangguan integritas kulit,

dengan kriteria hasil : penyembuhan luka tepat waktu, tidak terjadi kerusakan di

daerah sekitar anoplasti.

Intervensi :

1. Kaji area stoma.

2. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian lembut dan longgar pada area stoma.

3. Sebelum terpasang colostomy bag ukur dulu sesuai dengan stoma.

4. Yakinkan lubang bagian belakang kantong berperekat lebih besar sekitar 1/8 dari ukuran

stoma.

5. Selidiki apakah ada keluhan gatal sekitar stoma.

c. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur


pembedahan (Doenges,1993).

Tujuan yang diharapkan adalah tidak terjadi infeksi, dengan kriteria hasil :

tidak ada tanda – tanda infeksi, TTV normal, lekosit normal.

Intervensi :

1. Pertahankan teknik septik dan aseptik secaa ketat pada prosedur medis atau perawatan.

2. Amati lokasi invasif terhadap tanda-tanda infeksi.

3. Pantau suhu tubuh, jumlah sel darah putih.

4. Pantau dan batasi pengunjung , beri isolasi jika memungkinkan.

5. Beri antibiotik sesuai advis dokter.

d. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukkan sekret

berlebih (Doenges,1993).
Tujuan yang diharapkan adalah mempertahakan efektif jalan nafas,

mengeluarkan sekret tanpa bantuan dengan kriteria hasil : bunyi nafas

bersih, menunjukkan perilaku perbaikan jalan nafas misalnya, batuk efektif

dan mengeluarkan sekret.

Intervensi :

1. Kaji fungsi pernafasan, contoh : bunyi nafas, kecepatan, irama dan

kedalaman dan penggunaan otot tambahan.

2. Catat kemampuan untuk mengeluarkan dahak atau batuk efektif, catat

karakter, jumlah spuntum, adanya hemaptoe.

3. Berikan posisi semi fowler dan Bantu pasien untuk batuk efektif dan

latihan nafas dalam.

4. Bersihkan secret dari mulut dan trakea, penghisapan sesuai keperluan.

5. Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontra

indikasi.

6. Kolaborasi pemberian mukolitik dan bronkodilator.

e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan anoreksia (Doenges,1993).

Tujuan yang diharapkan adalah kebutuhan nurtisi tubuh tercukupi, dengan

kriteria hasil : menunjukkan peningkatan BB, nilai laboratorium normal,

bebas tanda mal nutrisi.

Intervensi :
1. Pantau masukan/ pengeluaran makanan / cairan.

2. Kaji kesukaan makanan anak.

3. Beri makan sedikit tapi sering.

4. Pantau berat badan secara periodik.

5. Libatkan orang tua, misal membawa makanan dari rumah, membujuk anak untuk makan.

6. Beri perawatan mulut sebelum makan.

7. Berikan isirahat yang adekuat.

8. Pemberian nutrisi secara parenteral, untuk mempertahankan kebutuhan kalori sesuai

program diit.

Kecemasan keluarga berhungan dengan prosedur pembedahan


dan kondisi bayi.(Suriadi,2001;159)

Tujuan yang diharapkan adalah memberi support emosional pada keluarga,

dengan kriteria hasil : keluarga akan mengekspresikan perasaan dan

pemahaman terhadap kebutuhan intervensi perawatan dan pengobatan.

Intervensi :

1. Ajarkan untuk mengekspresikan perasaan.

2. Berikan informasi tentang kondisi, pembedahan dan perawatan di rumah.

3. Ajarkan keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan pasien.

4. Berikan pujian pada keluarga saat memberikan perawatan pada pasien.

5. Jelaskan kebutuhan terapi IV, NGT, pengukuran tanda – tanda vital dan pengkajian.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma
saraf jaringan (Doenges,1996).

Tujuan yang diharapkan adalah pasien akan melaporkan nyeri hilang atau

terkontrol, pasien akan tampak rileks, dengan kriteria hasil : ekspresi wajah

pasien relaks, TTV normal.

Intervensi :

1. Tanyakan pada pasien tentang nyeri.

2. Catat kemungkinan penyebab nyeri.

3. Anjurkan pemakaian obat dengan benar untuk mengontrol nyeri.

4. Ajarkan dan anjurkan tehnik relaksasi.

Resiko tinggi terhadap konstipasi berhubungan dengan


ketidakadekuatan masukan diit (Doenges,1993).

Tujuan yang diharapkan adalah pola eliminasi sesuai kebutuhan, dengan

kriteria hasil : BAB 1x/hari, feses lunak, tidak ada rasa nyeri saat defekasi.

Intervensi :

1. Auskultasi bising usus.

2. Observasi pola diit dan itake cairan

Gangguan citra diri berhubungan dengan adanya kolostomi


(Doenges,1996).

Tujuan yang diharapkan adalah pasien mau menerima kondisi dirinya

sekarang, dengan kriteria hasil : pasien mentatakan menerima perubahan ke


dalam konsep diri tanpa harga diri rendah, menunjukkan penerimaan

dengan merawat stoma tersebut, menyatakan perasaannya tentang stoma.

Intervensi :

1. Kaji persepsi pasien tentang stoma.

2. Motivasi pasien untuk megungkapkan perasaannya.

3. Kaji ulang tentang alasan pembedahan.

4. Observasi perilaku pasien.

5. Berikan kesempatan pada pasien untuk merawat stomanya.

6. Hindari menyinggung perasaan pasien atau pertahankan hubungan positif.

Kurangnya pengetahuan keluarga berhungan dengan


kebutuhan perawatan di rumah (Walley & Wong,1996).

Tujuan yang diharapkan adalah pasien dan keluarga memahami perawatan

di rumah, dengan kriteria hasil keluarga menunjukkan kemampuan untuk

memberikan perawata untuk bayi di rumah.

Intervensi :

1. Ajarkan perawatan kolostomi dan partisipasi dalam perawatan sampai mereka dapat

melakukan perawatan.

2. Ajarkan untuk mengenal tanda – tanda dan gejala yang perlu dilaporkan perawat.

3. Ajarkan bagaimana memberikan pengamanan pada bayi dan melakukan dilatasi pada anal

secara tepat.

4. Ajarkan cara perawatan luka yang tepat.


5. Latih pasien untuk kebiasaan defekasi.

6. Ajarkan pasien dan keluarga untuk memodifikasi diit (misalnya serat)

2.5 Implementasi Keperawatan

Seperti tahap lainnya dalam proses keperawatan fase pelaksanaan terdiri

dari : validasi rencana keperawatan, dokumentasi rencana keperawatan dan

melakukan tindakan keperawatan.

1. Validasi rencana keperawatan

Suatu tindakan untuk memberikan kebenaran. Tujuan validasi data adalah

menekan serendah mungkin terjadinya kesalahpahaman, salah persepsi.

Karena adanya potensi manusia berbuat salah dalam proses penilaian.

2. Dokumentasi rencana keperawatan

Agar rencana perawatan dapat berarti bagi semua pihak, maka harus

mempunyai landasan kuat, dan bermanfaat secara optimal. Perawat

hendaknya mengadakan pertemuan dengan tim kesehatan lain untuk

membahas data, masalah, tujuan serta rencana tindakan.

3. Tindakan keperawatan

Meskipun perawat sudah mengembangkan suatu rencana keperawatan

yang maksimal, kadang timbul situasi yang bertentangan dengan tindakan


yang direncanakan, maka kemampuan perawat diuji untuk memodifikasi

alat maupun situasi.

6. Evaluasi

Evaluasi adalah suatu kegiatan yang terus menerus dengan melibatkan

klien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. Dalam hal ini diperlukan

pengetahuan keehatan dan strategi evaluasi. Tujuan dari evaluasi adalah

menilai apakah tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak.