Anda di halaman 1dari 114

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF SPESIALISASI

POST CLEARANCE AUDIT

Disusun Oleh:
TIM PENYUSUNAN MODUL
PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI
2011
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF SPESIALISASI
POST CLEARANCE AUDIT

Disusun Oleh:
TIM PENYUSUNAN MODUL
PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI
2011
Akuntansi Biaya

DTSS
DTSS Post Clearance Audit
i
Akuntansi Biaya

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i


DAFTAR ISI .........................................................................................................ii
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ……………………………………....……...iv
PETA KONSEP MODUL ……………………………………………………....……. v
MODUL
AKUNTANSI BIAYA
A. Pendahuluan ……………………………………………………………...…… 1
1. Deskripsi Singkat …………………….......................................................1
2. Prasyarat Kompetensi ………………...................................................... 2
3. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) .........................2
4. Relevansi Modul ...........……………………………………..…...……….. 3
B. KEGIATAN BELAJAR ….............................................................................5
1. Kegiatan Belajar (KB) 1 ……………........................................................5
Akuntansi Biaya
Indikator ……………………………………………………………...……… 5
1.1. Uraian dan contoh ...........................................................................5
A. Konsep Biaya..................................................................................
6
B. Analisis Perilaku Biaya………………………………………………7
C. Klasifikasi Biaya ………………………………………………………
8
D. Akuntansi Biaya …………………………………………………… 9
1.2. Latihan 1 ……………………………………………....……………...... 15
1.3. Rangkuman ……………………………………...…………………….. 22
1.4. Tes Formatif 1 ………………………………………....………………. 23
1.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………......................... 26
2. Kegiatan Belajar (KB) 2 …………….......................................................27
Perhitungan Harga Pokok Produksi
Indikator ………………………………………………………...…………… 27
2.1. Uraian dan contoh ...........................................................................27
A. Job Order Costing System..............................................................
28
B. Process Costing System.............................................................36
2.2. Latihan 2 …….……………………………...………………………..... 47

DTSS
DTSS Post Clearance Audit
ii
Akuntansi Biaya

2.3. Rangkuman ……………………………………………….......………….


61
2.4. Tes Formatif 2 ……………………………………………….........……….
61
2.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………...........................65
3. Kegiatan Belajar (KB) 3 …………….......................................................66
Kalkulasi Biaya Proses Metode
Biaya Rata-Rata dan Metode FIFO
Indikator ……………………………………………………………....………66
3.1. Uraian dan contoh .......................................................................... 66
3.2. Latihan 3 …….…………………………………………………....…..... 73
3.3. Rangkuman ……………………………………………………...……. 80
3.4. Tes Formatif 3 …………………………………………………….....….80
3.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………........................ 83
4. Kegiatan Belajar (KB) 4 …………….......................................................84
Sistem Biaya Standar
Indikator ………………………………………………………………...…… 84
4.1. Uraian dan contoh ...........................................................................84
A. Analisa Penyimpangan Biaya Standar........................................86
90
B. Akuntansi Biaya Standar...............................................................
4.2. Latihan 4 …….……………………………………....………………..... 95
4.3. Rangkuman …………………………………………....………………. 97
4.4. Tes Formatif 4 ………………………………………….....…………….98
4.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………............................
101
PENUTUP …………………………………………………………….......……………102
TES SUMATIF …………………………...................................................................
103
KUNCI JAWABAN ( TES FORMATIF DAN TES SUMATIF ) ……….......……… 106
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………........…………
107

DTSS
DTSS Post Clearance Audit
iii
Akuntansi Biaya

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Untuk dapat memahami modul ini secara benar, maka peserta diklat
diharapkan mempelajari modul ini secara urut mulai dari Kegiatan Belajar 1
sampai dengan Kegiatan Belajar 5.
Cara mempelajari setiap kegiatan belajar adalah mengikuti tahap-tahap
berikut ini:
1. Lihat apa yang menjadi target indikator dari kegiatan belajar tersebut;
2. Pelajari materi yang menjadi isi dari setiap kegiatan belajar (dengan cara
membaca materi minimal 3 kali membaca isi materi kegiatan belajar
tersebut);
3. Lakukan review materi secara umum, dengan cara membaca kembali
ringkasan materi untuk mendapatkan hal-hal penting yang menjadi fokus
perhatian pada kegiatan belajar ini;
4. Kerjakanlah Tes Formatif pada kegiatan belajar yang sedang dipelajari;
5. Lihat kunci jawaban Tes Formatif dari kegiatan belajar tersebut yang terletak
pada bagian akhir modul ini.
6. Cocokkan hasil tes formatif dengan kunci jawaban tersebut, apabila ternyata
hasil Tes Formatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang
benar x 100/15), maka kegiatan belajar dapat dilanjutkan pada kegiatan
belajar berikutnya, namun apabila diperoleh angka di bawah 67, maka
peserta diklat diharuskan mempelajari kembali kegiatan belajar tersebut agar
selanjutnya dapat diperoleh angka minimal 67.
7. Kerjakan Tes Sumatif apabila semua Tes Formatif dari seluruh kegiatan
belajar telah dilakukan.
8. Lihat kunci jawaban Tes Sumatif yang terletak pada bagian akhir modul ini
9. Cocokkan hasil tes sumatif dengan kunci jawaban tes sumatif, apabila
ternyata hasil tes sumatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah
yang benar x 100/25), maka peserta diklat dapat dinyatakan lulus dari
kegiatan belajar

DTSS
DTSS Post Clearance Audit
iv
Akuntansi Biaya

PETA KONSEP
Dalam mempelajari modul ini, agar lebih mudah dipahami maka disarankan
kepada peserta diklat untuk mempelajari peta konsep modul. Dengan demikian
pola pikir yang sistematik dalam mempelajari modul dapat terjaga secara
berkesinambungan selama mempelajari modul.

Kegiatan Belajar 1 – Akuntansi Biaya


Materi : Konsep Biaya; Analisis Perilaku Biaya; Klasifikasi
Biaya; Akuntansi Biaya

Kegiatan Belajar 2 – Perhitungan Harga Pokok Produksi


Materi : Job Order Costing System; Process Costing System

Kegiatan Belajar 3 – Kalkulasi Biaya Proses Metode Biaya Rata-


Rata dan Metode FIFO

Kegiatan Belajar 4 – Sistem Biaya Standar


Materi : Analisa Penyimpangan Biaya Standar; Akuntansi Biaya
Standar

DTSS
DTSS Post Clearance Audit
v
Akuntansi Biaya

PENDAHULUAN
A
MODUL
AKUNTANSI BIAYA

1. Diskripsi singkat

Akuntansi biaya secara garis besar memiliki dua tujuan pokok, yang
pertama adalah untuk penetapan harga pokok produksi dan yang kedua adalah
untuk pengendalian biaya produksi. Penetapan harga pokok produksi dilakukan
melalui akumulasi biaya produksi berdasarkan dua sistem produksi, yaitu Job
Order Cost System dan Process Cost System. Untuk Process Cost System,
terdapat beberapa variasi model perhitungan biaya produksi tergantung dengan
kondisi yang ada. Yang lazim digunakan adalah Pendekatan Biaya Rata-rata dan
FIFO.
Pengendalian biaya produksi dilakukan melalui biaya yang ditetapkan
terlebih dulu (predetermined cost), yang kemudian dikenal dan dikembangkan
sebagai sistem biaya standar. Terjadinya penyimpangan terhadap biaya standar,
akan dianalisis untuk kemudian ditindak lanjuti dengan langkah pengendalian
biaya produksi yang diperlukan oleh manajemen. Selain Laporan Harga Pokok
Produksi, disajikan pula pencatatan (akuntansi) yang diperlukan untuk
perusahaan manufaktur, khususnya kegiatan produksi. Dari sisi pencatatan ini,

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 1
Akuntansi Biaya

akuntansi biaya akan menghasilkan informasi tentang harga pokok penjualan


untuk perusahaan manufaktur.

Materi yang akan disajikan dalam modul ini fokus pada pemahaman
tentang konsep biaya, perilaku biaya, serta tujuan pokok akuntansi biaya yaitu
untuk penghitungan harga pokok produksi dan pengendalian biaya produksi.
Pada materi yang pertama, disajikan pola akumulasi biaya produksi berdasarkan
sistem produksi, yaitu Job Order Cost System dan Process Cost System. Untuk
sistem biaya proses, diperkenalkan berbagai variasi model perhitungan dengan
berbagai kondisi, yaitu pendekatan Rata-rata dan FIFO.

Dari sisi pengendalian disampaikan penggunaan biaya standar, yang lebih


ditekankan pada analisis atas varians biaya produksi serta langkah pengendalian
yang diperlukan oleh manajemen. Selain Laporan Harga Pokok Produksi,
disajikan pula pencatatan (akuntansi) yang diperlukan untuk kegiatan produksi.

2. Prasarat Kompetensi

1. Pangkat minimal golongan II/c;


2. Lulusan Prodip III Kepabeanan dan Cukai, DTSD kurikulum s.d. 2005,
DTSS kurikulum 2006 dan 2007;
3. Usia maksimal 45 tahun;
4. Sehat jasmani dan rohani;
5. Tidak sedang menjalani atau dalam proses penjatuhan hukuman disiplin;
6. Tidak sedang mengikuti diklat lain;
7. Ditunjuk oleh Sekretaris DJBC.
8. Sebelum mempelajari modul ini para siswa disyaratkan telah memahami
Dasar-dasar akuntansi keuangan pada umumnya, khususnya hal-hal
yang berkaitan dengan akuntansi persediaan. Dan disarankan terlebih
dahulu mempelajari dan memahami modul-modul:
- Modul Pengantar Akuntansi
- Modul Akuntansi Persediaan.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 2
Akuntansi Biaya

3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Standar Kompetensi
Setelah mempelajari modul ini, diharapkan peserta diklat dapat
menjelaskan perilaku biaya dalam perhitungan harga pokok produksi, serta dapat
melakukan pengalokasian biaya produksi berdasarkan sistem biaya proses
(process cost system) dan sistem biaya pesanan (job order cost system). Selain
itu, peserta diklat dapat melakukan pengendalian biaya terhadap biaya produksi
melalui sistem biaya standar serta dengan pencatatannya.

Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari modul ini, diharapkan peserta diklat dapat
melakukan perhitungan harga pokok produksi berdasarkan sistem biaya pesanan
dan sistem biaya proses. Khusus untuk sistem biaya proses dilakukan dengan
beberapa pendekatan yaitu metode Rata-rata dan metode FIFO. Selain itu,
peserta diklat diharapkan dapat melakukan pencatatan serta menerapkan
pengendalian biaya produksi melalui sistem biaya standar.

4. Relevansi Modul
Pada dasarnya audit kepabeanan dan cukai bertujuan untuk menilai
kebenaran dari nilai-nilai transaksi atas persediaan baik yang berasal dari impor
dan/atau ekspor. Oleh karena itu sebagian besar waktu audit akan banyak
tercurah kepada audit atas persediaan tersebut. Di sisi lain dalam praktik akan
dijumpai adanya pengelolaan dan penatausahaan persediaan mulai dari yang
sederhana hingga yang rumit. Bagi perusahaan dagang tentunnya pengelolaan
dan penatausahaan persediaannya cukup sederhana, sehingga perusahaan
tersebut tidak memerlukan akuntansi biaya secara khusus. Lain halnya untuk
perusahaan manufaktur. Pada jenis perusahaan ini pengelolaan dan
penatausahaan persediaan yang dimiliki perusahaan cukup rumit. Oleh karena
itu perusahaan tersebut memerlukan akuntansi biaya secara khusus.

Auditor Kepabeanan dan Cukai yang tidak memahami akuntansi biaya


secara baik, akan gagal melakukan audit yang ditugaskannya. Oleh karena itu

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 3
Akuntansi Biaya

modul ini memegang peranan sentral di dalam diklat PCA ini. Bila anda telah
memahami modul akuntansi biaya ini, dan ditambah dengan memahami modul
audit kepabeanan dan cukai, maka anda dapat dengan mudah mempelajari
modul audit persediaan yang merupakan inti dari audit kepabeanan dan cukai
sebagai mana telah dijelaskan di atas.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 4
Akuntansi Biaya

B
KEGIATAN
BELAJAR

1. Kegiatan Belajar (KB) 1

AKUNTANSI BIAYA

Indikator Keberhasilan :
Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu :
1. Menjelaskan konsep-konsep biaya.
2. Menganalisis perilaku biaya
3. Mengklsifikasikan Biaya
4. Menjelaskan proses akuntansi biaya, khusnya yang terkait
dengan persediaan.
5. Menentukan harga pokok produksi, harga pokok penjualan, dan
perhitungan laba ruginya.

1.1. Uraian dan Contoh

Budiman, manajer penjualan PT. Primafood, menerima pesanan seratus


ribu kardus mie instan dari Indomart dengan harga Rp 15.000,- per kardus.
Budiman menolak pesanan tersebut karena harga normal kepada para
penyalurnya adalah Rp 19.000,-. Benarkah keputusan manajer tersebut?

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 5
Akuntansi Biaya

Kondisi perusahaan pada saat ini menunjukkan bahwa kapasitas produksi


PT. Primafood belum sepenuhnya terpakai dan sisa kapasitas produksi masih
mampu untuk memenuhi pesanan Indomart. Biaya produksi untuk setiap kardus
yang dihitung berdasarkan kapasitas terpakai adalah sebagai berikut: Bahan
Baku Rp 4.000,-; Upah Langsung Rp 3.000,-; Biaya Overhead - Variabel Rp
3.000,-; dan Biaya Overhead - Tetap Rp 3.000,-. Apabila Budiman memahami
perilaku biaya produksi dan mau mencari informasi tentang biaya tersebut, maka
biaya yang relevan untuk setiap kardus mie instan yang dipesan hanya sebesar
Rp 10.000,- karena dengan adanya tambahan produk tersebut maka Biaya
Overvead – Tetap tidak diperhitungkan lagi. Dengan demikian, masih terdapat
keuntungan deferensial sebesar Rp 5.000,- untuk setiap kardus.

Uraian di atas menunjukkan pentingnya seorang manajer penjualan


memahami perilaku biaya produksi sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.
Akuntansi biaya akan membuka wawasan kita tentang konsep biaya, klasifikasi
biaya, serta perilaku biaya dalam kaitannya dengan harga pokok produksi.

A. Konsep Biaya

Pengertian biaya (Cost) dalam akuntansi biaya adalah pengorbanan


sumber daya untuk mendapatkan (menghasilkan) sesuatu. Pengorbanan sumber
daya dapat dilakukan melalui:
1). Pengeluaran kas;
2). Janji akan membayar tunai dimasa mendatang;
3) Ekspirasi nilai aktiva ( pemakaian bahan baku dalam produksi, beban
penyusutan).

Dalam akuntansi biaya, terdapat istilah yang keduanya berkaitan dengan


konsep biaya yaitu Cost dan Expense. Seperti telah diuraikan sebelumnya, Cost
merupakan pengorbanan sumber daya untuk memperoleh sesuatu item. Misal,
suatu perusahaan melakukan pembelian barang, maka yang dapat dikategorikan
sebagai Cost adalah harga perolehan barang tersebut, yaitu pengorbanan yang
dikeluarkan untuk memperoleh barang tersebut hingga siap dijual, seperti harga
beli, ongkos angkut, asuransi pengangkutan, pungutan bea masuk, biaya
inklaring dan sebagainya.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 6
Akuntansi Biaya

Expense adalah bagian dari Cost yang telah dibebankan sebagai biaya.
Apabila sebagian barang diatas dijual maka harga perolehan bagian yang terjual
tersebut dibebankan sebagai biaya (expense) dengan sebutan Harga Pokok
Penjualan.

B. Analisis Perilaku Biaya


Beberapa biaya dapat berubah secara langsung dengan adanya perubahan
kegiatan poroduksi, sedangkan biaya lainnya relatif tidak terpengaruh. Agar
manajemen dapat merencanakan kegiatan perusahaannya dengan baik serta
dapat mengendalikan biaya dengan efektif, maka manajemen harus mengerti
hubungan antara biaya dengan berbagai perubahan kegiatan. Perilaku biaya
yang dikaitkan dengan kegiatannya tersebut memerlukan pemahaman tentang
konsep biaya tetap, biaya variabel, dan biaya semi variabel.
Biaya Tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak akan berubah meskipun
volume kegiatan meningkat atau menurun, dalam rentang yang relevan
(misalnya kapasitas produksi, masa asuransi). Contoh biaya tetap antara lain
adalah beban penyusutan mesin, gaji karyawan tetap, beban asuransi.
Biaya Variabel adalah biaya yang jumlahnya akan meningkat secara
proporsional dengan peningkatan volume kegiatan dan menurun secara
proporsional dengan penurunan volume kegiatan. Contoh biaya variabel antara
lain adalah biaya bahan baku dan upah langsung. Biasanya biaya variabel dapat
diidentifikasi secara langsung dengan kegiatan yang mengakibatkan adanya
biaya tersebut.
Biaya Semi Variabel adalah biaya yang memiliki sifat biaya tetap dan
biaya variabel. Oleh karena itu, dalam perencanaan biaya seperti penentuan tarif
biaya produksi, maka biaya semi variabel harus dipisahkan ke dalam unsur-unsur
biaya tetap dan variabel. Keberhasilan dalam perencanaan dan pengendalian
biaya akan tergantung pada hasil analisis dan penelaahan yang cermat
mengenai hubungan antara biaya dan perubahan kegiatan operasi perusahaan,
dan hal itu membutuhkan penggolongan yang relevan.

Obyek biaya dalam akuntansi biaya adalah unit dan aktivitas atau
fenomena yang dapat dijadikan dasar untuk mengakumulasi (membebankan)
dan mengukur biaya. Termasuk dalam kategori unit dan aktivitas atau fenomena

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 7
Akuntansi Biaya

adalah unit produksi, sekumpulan produk, job order process, departemen,


kontrak, fungsi dan sebagainya. Pemilihan obiayaek biaya tergantung pada biaya
apa yang ingin diketahui. Misalnya seorang manajer ingin mengetahui besarnya
biaya per unit produk, maka yang dapat dijadikan sebagai obiayaek biaya adalah
unit produksi.

C. Klasifikasi Biaya
Biaya diklasifikasikan berdasarkan hubungan biaya tersebut dengan:
1). Produk
Berdasarkan produk, biaya diklasifikasikan menjadi biaya langsung dan biaya
tidak langsung. Biaya langsung adalah biaya yang secara langsung
mengubah bahan menjadi barang jadi, terdiri dari Biaya Bahan Baku
Langsung dan Upah Langsung. Sedangkan biaya tidak langsung adalah
biaya yang tidak secara langsung mengubah bahan menjadi barang jadi.
2). Volume kegiatan.
Berdasarkan volume kegiatan, biaya diklasifikasikan menjadi biaya variabel,
biaya tetap dan biaya semi variabel.
3). Departemen
Berdasarkan departemen, pengklasifikasian biaya ditujukan untuk
kepentingan administratif maupun pengendalian pada departemen yang
menjadi pusat-pusat biaya. Kinerja para manajer diukur berdasarkan
kemampuannya mengendalikan biaya, yaitu dengan membandingkan antara
biaya aktual dengan anggarannya. Pengklasifikasi biaya ini juga dikaitkan
dengan alokasi beban suatu departemen (misal departemen A) kepada
departemen lain (misal departemen B) yang menikmati kontribusi manfaat
dari kegiatan departemen A. Oleh karena itu, akan dikenal pengelompokan
“Departemen Produksi dan Jasa”. Dalam pengklasifikasian ini, departemen
produksi akan dibebani oleh biaya yang terjadi di departemen jasa karena
departemen ini telah memberikan kontribusi berupa jasa kepada kegiatan
produksi.
4). Periode akuntansi
Berdasarkan periode akuntansi, biaya diklasifikasikan sebagai pengeluaran
modal (Capital Expenditure) dan pengeluaran pendapatan (Revenue

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 8
Akuntansi Biaya

Expenditure). Pengeluaran modal adalah pengeluaran untuk perolehan aktiva


yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi, sedangkan
pengeluaran pendapatan adalah pengeluaran yang akan memberikan
manfaat dalam periode berjalan dan akan dicatat sebagai beban.
5). Alternatif Keputusan
Manajemen sering berhadapan dengan situasi dimana mereka harus
mengambil keputusan yang dikaitkan dengan alternatif atau pilihan, misalnya
membeli atau membuat sendiri suatu barang yang dibutuhkan, menghentikan
atau melanjutkan salah satu bagian usahanya, menerima atau menolak suatu
pesanan khusus dengan harga dibawah harga jual normal. Dalam kondisi ini,
sangat dibutuhkan pemahaman manajemen tentang biaya yang relevan dan
yang tidak relevan dengan berbagai alternatif pilihan tersebut beserta dengan
pertimbangannya. Contoh biaya yang berhubungan dengan alternatif
keputusan antara lain Defferential Cost, Opportunity Cost, dan Sunk Cost.

Dalam modul ini, fokus yang dibicarakan adalah pengklasifikasi biaya


berdasarkan produk. Berikut ini adalah biaya produksi yang terdapat pada
perusahaan manufaktur yaitu:
• Bahan Baku Langsung (Direct Material), meliputi material (bahan baku)
yang secara fisik menjadi bagian dari produk jadi dan secara terpisah
dapat dengan mudah ditelusuri ke produk jadi.
• Upah Langsung (Direct Labor), adalah biaya gaji dan upah yang
dikeluarkan dalam rangka mengubah bahan baku menjadi produk jadi
(Finished Goods).
• Biaya Produksi Tidak Langsung (Factory Overhead), mencakup
pemakaian bahan pembantu, upah tidak langsung, dan biaya lain yang
tidak dapat dibebankan secara langsung ke produk.

D. Akuntansi Biaya

Sebagai bagian dari akuntansi keuangan (akuntansi umum), akuntansi


biaya dimaksudkan untuk menghasilkan ketepatan dalam pencatatan dan
pengukuran berbagai unsur biaya (produk) pada saat terjadi, saat ditransfer ke
bagian lain serta saat dialokasikan ke produk yang bersangkutan. Sebagaimana

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 9
Akuntansi Biaya

telah dijelaskan, tujuan sistem akuntansi biaya adalah untuk pengendalian biaya
(produk) dan perhitungan Harga Pokok Produksi. Pengendalian biaya
dimaksudkan untuk menghasilkan output (produk) secara maksimal dengan
biaya yang minimal, sedangkan penentuan harga pokok produk dimaksudkan
untuk mengukur nilai persediaan dan harga pokok penjualan.

Tujuan akuntansi biaya tidak terlepas dari pengukuran harga pokok


penjualan karena harga pokok produksi merupakan dasar penentuan harga
pokok penjualan. Namun demikian, penentuan harga pokok penjualan
merupakan bidang dari akuntansi keuangan. Berikut ini gambaran secara umum
penghitungan harga pokok penjualan:

Saldo awal Barang Dalam Proses


Saldo awal bahan Baku
Pemakaian Bahan Baku (+) Pembelian bahan baku
(+) Biaya Produksi Biaya Upah Langsung (─)Saldo akhir bahan baku
Factory Overhead
(─) Saldo akhir Barang dalam Proses

Harga Pokok Produksi Rp.


(+) Saldo awal Barang Jadi Rp.
(─) Saldo akhir Barang Jadi (Rp. )

Harga Pokok Penjualan Rp.

Ilustrasi berikut ini menunjukkan hubungan keduanya secara komprehensif .

Neraca awal tahun 2006 PT. Bhatara Indah serta transaksi yang terjadi selama
bulan Januari 2006 disajikan berikut ini:

PT Bhatara Indah
Neraca
Per 1 Januari 2006
(dalam ribuan rupiah)
Aktiva Lancar Kewajiban Lancar
Kas 183.000 Hutang Usaha 553.000
Surat Berharga 76.000 Hutang Pajak Penghasilan 35.700
Piutang Usaha 313.100 Bagian Hutang jangka pan
jang yang akan jatuh tempo 20.000
Persediaan : 608.700
Barang Jadi 68.700 Kewajiban jangka Panjang
204.400

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 10
Akuntansi Biaya

813.100

Brng. Dlm Proses 234.300


Bahan Baku 135.300 438.300
Biaya Dibayar Dimuka 15.800 Modal
Total Aktiva Lancar 1.026.200 Saham Biasa 528.000
Aktiva Tetap Laba yang Ditahan 939.500
Tanah 41.500 1.467.500
Bangunan 580.600
Mesin/Perltn. 1.643.000
2.223.600
Ak Penyusutan (1.010.700) 1.212.900
1.254.400
Total Aktiva 2.280.600 Total Kewajiban & Modal 2.280.600

Transaksi selama bulan Januari 2006 adalah sebagai berikut: (dalam rupiah)
a Pembelian bahan secara kredit 100.000.000
b Pemakaian bahan dalam bulan Januari:
Untuk produksi 80.000.000
Untuk bahan pembantu 12.000.000 92.000.000
c Pembayaran Gaji bulan Januari sebesar 160.000.000,-
dikurangi Pajak Penghasilan 30.400.000,- 129.600.000
d Alokasi Biaya Gaji adalah :
Untuk Upah langsung 65% 104.000.000
Untuk Upah pabrik tidak langsung (mandor) 15% 24.000.000
Untuk Bagian Pemasaran 13% 20.800.000
Untuk Bagian Administrasi 7% 11.200.000
e Pencatatan tambahan Pajak Penghasilan sebesar 16.000.000,- yang
dialokasikan:
Untuk Upah pabrik tidak langsung (mandor) 80%
Untuk Bagian Pemasaran 13%
Untuk Bagian Administrasi 7%
f Biaya Overhead Pabrik terdiri dari:
Penyusutan Bangunan, Mesin dan Peralatan 8.500.000
Asuransi (dibayar dimuka) 1.200.000
g Biaya Overhead pabrik lainnya sebesar 26.340.000

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 11
Akuntansi Biaya

70% dibayar tunai, sisanya masih terhutang (hutang usaha)


h Penerimaan dari penagihan pada pelanggan 205.000.000
i Pembayaran : Hutang Usaha 227.000.000
Pajak yang terhutang 35.700.000
j Pembebanan Biaya Overhead pabrik ke Barang Dalam
Proses 84.840.000
k Transfer barang yang telah selesaikan ke gudang barang jadi 320.000.000
l Penjualan senilai 384.000.000,- 40% diterima tunai, dan sisanya masih
berupa tagihan. Harga Pokok Penjualan adalah 75% dari penjualan
m Penyisihan untuk Pajak Penghasilan 26.000.000

Sajikan pencatatan transaksi selama bulan Januari 2006 dan susun laporan
Keuangan untuk akhir Januari 2006.

Pencatatan melalui jurnal disajikan sebagai berikut:

A Bahan 100.000.000
Hutang Usaha 100.000.00
B Barang dalam Proses 80.000.000
Pengendali Overhead Pabrik 12.000.000
Bahan 92.000.000
C Biaya Gaji 160.000.000
Hutang Pajak Penghasilan 30.400.000
Kas 129.600.000
D Barang dalam Proses 104.000.000
Pengendali Overhead Pabrik 24.000.000
Biaya Pemasaran 20.800.000
Biaya Administrasi 11.200.000
Biaya gaji 160.000.000
e Pengendali Overhead Pabrik 12.800.000
Biaya Pemasaran 2.080.000
Biaya Administrasi 1.120.000
Hutang Pajak Penghasilan 16.000.000
f Pengendali Overhead Pabrik 9.700.000
Akm. Penyusutan Bangunan, 8.500.000
Mesin, Perlt. 1.200.000
Asuransi Dibayar Dimuka
g Pengendali Overhead Pabrik 26.340.000
Kas 18.438.000

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 12
Akuntansi Biaya

Hutang usaha 7.902.000


h Kas 205.000.000
Piutang Usaha 205.000.000
i Hutang usaha 227.000.000
Hutang Pajak Penghasilan 35.700.000
Kas 262.700.000
j Barang Dalam Proses 84.840.000
Pengendali Overhead Pabrik 84.840.000
k Barang Jadi 320.000.000
Barang Dalam Proses 320.000.000
l K a s 153.600.000
Piutang Usaha 230.000.400
Penjualan 384.000.000
--------------------------------------------------
Harga Pokok penjualan 288.000.000
Barang Jadi 288.000.000
m Penyisihan untuk Pajak Penghasilan 26.000.000
Hutang Pajak Penghasilan 26.000.000

Dari pencatatan bulan Januari 2006 tersebut, mutasi (perubahan) yang terjadi
menghasilkan laporan – laporan sebagai berikut:

PT Bhatara Indah
Perhitungan Rugi-Laba
Untuk bulan Januari 2006
(dalam ribuan rupiah)
Penjualan 384.000
(-) Harga Pokok Penjualan (288.000)
Laba Kotor 96.000
(-) Biaya Operasional : Biaya Pemasaran 22.880
Biaya Administrasi 12.320 (25.200)
Laba Operasi 60.800
(-) Penyisihan untuk Pajak Penghasilan (26.000)
Laba Bersih 34.800
PT Bhatara Indah
Perhitungan Harga Pokok Penjualan
Untuk bulan Januari 2006
(dalam ribuan rupiah)
Bahan langsung
Persediaan Bahan, 1 Januari 2006 135.300
Pembelian 100.000

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 13
Akuntansi Biaya

Bahan yang tersedia untuk dipakai 235.300


(-) Pemakaian bahan pembantu 12.000
Persediaan Bahan, 31 Jan. 2006 143.300 (155.300)
Bahan langsung yang digunakan 80.000
Upah langsung 104.000
Overhead Pabrik: Bahan Tidak langsung 12.000
Upah tidak langsung 24.000
Pajak Penghasilan 12.800
Penyusutan Pabrik 8.500
Asuransi 1.200
Overhead Pabrik lainnya 26.340 84.840
Biaya Produksi bulan Januari 268.840
(+) Persediaan Barang Dalam Proses, 1 Jan 234.300
Total Biaya produksi 503.140
(-) Persediaan Barang Dalam Proses, 31 Jan (183.140)
Harga Pokok Produksi 320.000
(+) Persediaan Barang Jadi, 1 Jan 68.700
Barang yang tersedia untuk dijual 388.700
(-) Persediaan Barang Jadi, 31 Jan (100.700)
Harga Pokok Penjualan 288.000

PT Bhatara Indah
Neraca
Per 31 Januari 2006
(dalam ribuan rupiah)
Aktiva Lancar Kewajiban Lancar
Kas 130.862 Hutang Usaha 433.902
Surat Berharga 76.000 Hutang Pajak Penghasilan 72.400
Piutang Usaha 338.500 Bagian Hutang jangka pan
jang yang akan jatuh
tempo 20.000
Persediaan : Total Kewajiban lancar 526.302
Barang Jadi 100.700 Kewajiban jangka Panjang 204.400
Brng. Dlm Proses 183.140 Total Kewajiban 730.702
Bahan Baku 143.300 427.140
Biaya Dibayar Dimuka 14.600 Modal
Total Aktiva Lancar 987.102 Saham Biasa 528.000
Aktiva Tetap Laba yang Ditahan
Tanah 41.500 Saldo per 1 Januari 939.500
Bangunan 580.600 Laba Bersih bulan
Januari 24.800
Mesin/Perltn. 1.643.000 Total Laba yang Ditahan 974.300
2.223.600 ----------
Ak Penyusutan (1.019.200) 1.204.400 Total Modal 1.502.300
1.245.900
Total Aktiva 2.233.002 Total Kewajiban & Modal 2.233.002

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 14
Akuntansi Biaya

1.2. Latihan 1

Soal 1 (Perhitungan )
Neraca Saldo PT. Menara Gading per 31 Desember 2006 menunjukkan saldo
sebagai berikut (dalam ribuan rupiah):
Penjualan 14.500.500 Retur dan Potongan
Pembelian (netto) 2.400.000 Harga Penjualan 25.200
Ongkos angkut – masuk 32.000 Biaya Overhead Pabrik 1.885.600
Biaya Upah Langsung 3.204.000 Biaya Iklan 155.000
Biaya Gaji - Penjualan 200.000 Beban Pengiriman 65.000

Persediaan 31 Des. 2006 31 Des. 2005


Baran Jadi 567.400 620.000
Barang Dalam Proses 136.800 129.800
Bahan 196.000 176.000
Diminta menghitung:
1. Total Biaya Produksi
2. Harga Pokok Produksi
3. Harga Pokok Penjualan

Soal 2
PT. Busana Indah Garment memproduksi pakaian berdasarkan model yang
dipesan. Informasi berikut ini tersedia di awal bulan Mei 2006
Persediaan Bahan Rp 16.200.000,-
Persediaan Barang Dalam Proses Rp 3.600.000,-
Selama bulan Mei 2006, bahan seharga Rp 20.000.000,- telah dibeli. Jumlah
Upah Langsung yang dibayarkan Rp 16.500.000,- dan Biaya Overhead Pabrik
sejumlah Rp 8.580.000,-. Persediaan pada akhir Mei 2006 diketahui sebagai
berikut :
Persediaan Bahan Rp 17.000.000,-
Persediaan Barang Dalam Proses Rp 7.120.000,-
Siapkan perhitungan Harga Pokok Produksi untuk bulan Mei 2006!
Soal 3.
Berikut ini data akuntansi PT. Elang Perdana untuk tahun 2006 (dalam rupiah):

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 15
Akuntansi Biaya

Kas 240.000.000
Piutang Usaha 248.000.000
Persediaan 1 Jan. 2006 31 Des. 006
Barang Jadi 54.000.000 66.000.000
Barang Dalam Proses 29.800.000 38.800.000
Bahan 88.000.000 64.000.000
Pembelian Bahan 366.000.000
Potongan Penjualan 8.000.000
Biaya Overhead pabrik yang dibebankan 468.400.000
Biaya Pemasaran dan Administrasi 344.200.000
Beban Penyusutan 116.000.000
(90% untuk pabrik, 10% untuk Pemasaran & Administrasi)
Penjualan 1.844.000.000
Biaya Upah Langsung 523.600.000
Ongkos angkut bahan yang dibeli 6.600.000
Pendapatan Sewa 64.000.000
Bunga hutang obliges 16.000.000
Diminta : Siapkan perhitungan Harga Pokok Penjualan!

Soal 4.
PT, Kubota Industry memproduksi mesin-mesin khusus yang dibuat sesuai
dengan spesifikasi pelanggan. Informasi berikut ini tersedia pada awal bulan
Agustus 2006.
Persediaan Bahan Rp 16.200.000,-
Persediaan Barang Dalam Proses 3.600.000,-
Selama bulan Agustus pembelian bahan (langsung) sebesar Rp. 20.000.000,-
sedangkan Upah langsung dibebankan 16.500.000,- dan biaya Overhead Pabrik
sebesar 8.580.000,-
Persediaan akhir Agustus 2006 diketahui:
Bahan Rp. 17.000.000,-
Barang Dalam Proses 7.120.000,-
Sajikanlan perhitungan harga pokok produksi!
Soal 5
PT. Permata membeli bahan senilai Rp 110.000.000,- selama bulan Juni 2006.
Harga Pokok Penjualan dalam bulan tersebut adalah Rp 345.000.000,-. Biaya

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 16
Akuntansi Biaya

Overhead Pabrik dibebankan 50% dari biaya Upah Langung. Informasi lain
sehubungan dengan persediaan dan produksi perusahaan adalah sebagai
berikut (dalam rupiah):
Persediaan Awal Akhir
Barang Jadi 102.000.000 105.000.000
Barang Dalam Proses 40.000.000 36.000.000
Bahan baku 20.000.000 26.000.000

(1). Susunlah perhitungan Harga Pokok Produksi.


(2). Hitung biaya utama yang dibebankan ke Barang Dalam Proses selama bulan
tersebut.
(3). Hitung biaya konversi yang dibebankan ke Barang Dalam Proses.

Soal. 6
Informasi berikut ini tersedia untuk tiga perusahaan pada akhir tahun (dalam
rupiah):
PT. Intan Mulia Barang Jadi, 1 Januari 600.000.000,-
Harga Pokok Produksi 3.800.000.000,-
Penjualan 4.000.000.000,-
Laba Kotor dari penjualan 20%
Persediaan Barang Jadi, 31 ?
Desember

PT. Lautan Ongkos angkut masuk 20.000.000,-


Intan
Retur Pembelian 80.000.000,-
Beban Pemasaran 200.000.000,-
Persediaan Barang Jadi, 31 190.000.000,-
Desember
Harga Pokok Penjualan 1.300.000.000,-
Barang yang tersedia untuk dijual ?

PT. Berlian Laba Kotor 96.600.000,-

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 17
Akuntansi Biaya

Harga Pokok Produksi 340.000.000,-


Persediaan Barang Jadi, 1 Januari 45.000.000,-
Persediaan Barang Jadi, 31 52.000.000,-
Desember
Barang Dalam Proses 1 Januari 28.000.000,-
Barang Dalam Proses 31 38.000.000,-
Desember
Penjualan ?

Hitunglah jumlah-jumlah yang ditunjukkan oleh tanda tanya untuk perusahaan


tersebut.

Soal 7
Berikut ini data akuntansi yang disajikan PT. Permata untuk tahun yang berakhir
pada tanggal 31 Desember 2006 (dalam rupiah):
Penjualan 56.000.000,-

Persediaan Per 31 Desember 2006 Per 1 Januari 2006


Barang jadi 5.100.000,- 3.500.000,-
Barang Dalam Proses 7.500.000,- 4.000.000,-
Bahan 4.250.000,- 4.000.000,-

Pembelian Bahan 18.000.000,-


Biaya Upah Langsung 7.500.000,-
Overhead pabrik yang dibebankan ke poduksi 5.000.000,-
Beban Pemasaran 5% dari penjualan
Beban Administrasi 2% dari penjualan
Beban lainnya 1% dari penjualan

Diminta: 1. Susunlah perhitungan Harga Pokok Penjualan tahun 2006.


2. Susunlah perhitungan Laba – Rugi tahun 2006.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 18
Akuntansi Biaya

Soal 8 (Pencatatan )
Transaksi-transaksi berikut ini berkaitan dengan transaksi kegiatan pabrik pada
PT. Semesta Alam selama bulan Juli 2006:
a. Pemakaian Bahan Baku sebesar Rp 24.500.000,- dan Bahan Tidak
Langsung Rp 4.500.000,-.
b. Biaya Gaji sebesar Rp 44.000.000,- dipotong PPh. 21 sebesar 5%.
c. Daftar gaji terdiri dari: Upah Langsung Rp. 30.000.000,-
Upah Tidak Langsung Rp 6.000.000,-
Gaji Bagian Penjualan Rp 8.000.000,-
d. Biaya produksi lainnya sebesar Rp 7.500.000,-.
e. Biaya Overhead Pabrik yang dibebankan ke produksi sebesar Rp
22.932.000,-.
f. Biaya produksi yang telah selesai bulan Juli berjumlah Rp 60.000.000,-.
g. Pembelian bahan sejumlah Rp 50.000.000,-.
h. Pengiriman barang ke pelanggan senilai Rp 26.000.000,- dengan harga
pokok sebesar Rp 20.000.000,-.
Sajikan ayat jurnal yang diperlukan atas transaksi di atas.

Soal 9 (Pencatatan )
Berikut ini transaksi selama bulan Mei 2006 yang dilakukan oleh PT. Bumi
Sentosa:
a. Pembelian bahan baku senilai Rp 120.000.000,- dengan syarat n/30.
b. Biaya gaji bulan ini sebesar Rp 90.000.000,- dipotong PPh. 21 sebesar 5%.
Gaji tersebut untuk : Upah Langsung Rp. 45.000.000,-
Upah tidak langsung Rp 9.000.000,-
Gaji bagian Penjualan Rp 15.000.000,-
Gaji bagian Administrasi Rp 21.000.000,-
c. Pembelian bahan tidak langsung dan perbekalan lainnya secara kredit
Rp26.250.000,-.
d. Permintaan bahan selama bulan ini:
Untuk produksi Rp 60.000.000,-
Bahan tidak langsung 15.000.000,-
Perbekalan pengiriman (ekspedisi) 4.000.000,-

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 19
Akuntansi Biaya

e. Pengiriman perbekalan yang rusak senilai Rp 900.000,- di-retur ke penjual.


f. Hutang sejumlah Rp 142.500.000,- dilunasi, termasuk hutang gaji.
g. Penyusutan mesin pabrik sebesar Rp 1.000.000,-.
h. Beban pabrik lainnya, sejumlah Rp 6.900.000,- dicatat sebagai kewajiban.
i. Biaya Overhead Pabrik - Aktual sebesar Rp 38.056.000,- dibebankan ke
produksi.
j. Barang Jadi dengan total biaya total sebesar Rp 126.000.000,- ditransfer ke
gudang.
k. Penjualan sejumlah Rp150.000.000,- dengan harga pokok produksi
Rp96.000.000,-.

Sajikan ayat jurnal yang diperlukan atas transaksi di atas.

Soal 10 (Pencatatan )
Berikut ini transaksi selama bulan Juni 2006 yang dilakukan oleh PT. Cemara
Tujuh:
a. Pemakaian untuk produksi: Bahan langsung Rp 18.500.000,-
Bahan tidak langsung 2.800.000,-
b. Barang Dalam Proses yang diselesaikan/ditransfer ke gudang senilai
51.800.000,-.
c. Pembelian bahan sejumlah Rp 32.000.000,- secara kredit.
d. Gaji setelah dikurangi PPh. 21 adalah sebesar Rp 38.000.000,- dan telah
dibayar.
e. Gaji tersebut untuk : Upah Langsung 55 %
Upah tidak langsung 18 %
Gaji bagian Penjualan 17 %
Gaji bagian Administrasi 10 %
f. Biaya Overhead pabrik lannya adalah:
Penyusutan bangunan dan peralatan pabrik sebesar Rp 9.450.000,-
Beban asuransi pabrik 600.000,-
Beban lainnya yang masih terhutang 1.250.000,-
g. Biaya Overhead pabrik sebesar Rp 28.100.500,- dibebankan ke produksi.
h. Penjualan kredit sejumlah Rp 92.120.000,- dengan laba sebesar 40% dari

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 20
Akuntansi Biaya

harga pokok penjualan.


i. Hasil penagihan piutang sebesar Rp 76.000.000,-.
Sajikan ayat jurnal yang diperlukan atas transaksi di atas.

Soal 11 (Pencatatan )
PT. Bulan Bintang telah membayar Upah Langsung sebesar Rp 50.000.000,-
selama bulan Januari 2006. Berikut ini disajikan data akuntansi untuk biaya
produksi (dalam rupiah):
Per 1 Jan. 2006 Per 31 jan.
2006
Persediaan barang jadi 28.000.000 45.000.000
Persd. Barang Dalam Proses 12.000.000 14.000.000
Persediaan bahan baku 17.000.000 24.000.000
Harga Pokok Penjualan -- 140.000.000
Pengendali Overhead pabrik -- 25.000.000
Susunlah kembali ayat-ayat jurnal untuk mencatat informasi diatas!

Soal 12 (Pencatatan )
Saldo perkiraan dalam data akuntansi PT. Bunga Lestari per 1 Januari 2006
disajikan sebagai berikut (dalam rupiah):
Debit Kredit
Kas 20.000.000 Hutang Usaha 15.500.000
Piutang Usaha 25.000.000 Hutang gaji 2.250.000
Persd. Barang jadi 9.500.000 Akumulasi penyusutan 10.000.000
Barang Dlm. Proses 4.500.000 Saham Biasa 60.000.000
Bahan 10.000.000 Laba yang Ditahan 21.250.000
Mesin - mesin 40.000.000
Berikut ini transaksi yang dilakukan selama bulan Januari 2006:
a. Pembelian bahan sejumlah Rp 92.000.000,- secara kredit.
b. Biaya Overhead Pabrik lainnya yang diperhitungkan sebesar Rp 18.500.000,-.
c. Biaya Gaji dan Upah dialokasikan untuk:
Upah Langsung Rp 60.500.000,-
Upah tidak langsung 12.500.000,-
Gaji bagian Penjualan 8.000.000,-

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 21
Akuntansi Biaya

Gaji bagian Administrasi 5.000.000,-

Pembayaran gaji/Upah sudah dilakukan dengan potongan PPh 21 sebesar 5%

d. Pemakaian untuk produksi: Bahan langsung Rp 82.500.000,-


Bahan tidak langsung 8.300.000,-
e. Biaya Overhead pabrik sebesar Rp 47.330.000,- dibebankan ke produksi.
f. Barang dalam proses yang diselesaikan/ditransfer ke gudang senilai
188.000.000,-
g. Barang jadi senilai Rp 12.000.000,- belum terjual. Penjualan akan dilakukan
dengan syarat 2/10, n/60, mark up 30% diatas harga pokok produksi.
h. Dari seluruh piutang usaha, 80% telah ditagih, dikurangi 2% potongan
penjualan.
i. Berbagai beban sejumlah Rp 30.000.000,- belum dibayar, dan dialokasikan
sebagai beban pemasaran 60% dan sisanya beban administrasi.
j. Daftar cek menunjukkan adanya pembayaran sebesar Rp104.000.000,- untuk
kewajiban selain gaji:
1. Sajikan ayat jurnal yang diperlukan atas transaksi di atas dan lakukan posting
ke buku besar
2. Susunlah Neraca Saldo akhir Januari 2006

1.3. Rangkuman

1. Pengertian biaya dapat dilihat dari dua sisi yakni Cost dan Expense. Cost
(biaya perolehan) merupakan pengorbanan sumber daya untuk
memperoleh suatu barang, sedangkan expense adalah bagian dari Cost
yang telah dibebankan sebagai biaya, pada suatu periode.
2. Pemahaman manajemen terhadap perilaku biaya (biaya tetap, biaya
variabel, dan biaya semi variabel) sangat berkaitan erat dengan
kegiatannya sebagai pengambil keputusan dalam perusahaan. Selain itu,
pengetahuan pihak manajemen tentang pengklasifikasian biaya akan
dapat memberikan informasi pendukung, yang diperlukan untuk
pembebanan biaya ke harga produksi serta biaya non produksi.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 22
Akuntansi Biaya

1.4. Test Formatif – 1

Setelah mempelajari materi bahan ajar serta rangkuman, agar Saudara mudah
memahami bahan ajar ini, di bawah ini test formatif yang harus Saudara kerjakan
untuk mengetahui sejauh mana pemahaman Saudara atas bahan ajar ini.
Pilihlah jawaban yang Saudara anggap paling benar dengan cara melingkari
jawaban yang tersedia a, b, c atau d.
1. Mana dari pernyataan berikut yang paling benar berkaitan dengan cost dan
expense:
a. Cost adalah merupakan pengorbanan sumber daya untuk memperoleh
sesuatu barang tertentu.
b. Expense adalah cost yang telah dibagi-bagi menjadi biaya secara
sisteatis.
c. Cost adalah bagian dari expense yang telah dibebankan dalam periode
tertentu.
d. Ekspense adalah semua harga perolehan untuk mendapatkan barang
tertentu.

2. Agar manajemen dapat merencanakan dan mengendalikan biaya dengan


baik, maka manajemen harus dapat memisahkan biaya-biaya berikut:
a. Biaya langsung dan biaya biaya umum
b. Biaya umum dan biaya khusus
c. Biaya tetap dan biaya variabel
d. Cost dan expense.

3. Biaya yang jumlahnya meningkat secara proporsional dengan peningkatan


volume kegiatan disebut...
a. Biaya Tetap
b. Biaya variabel
c. Biaya semivariabel
d. Biaya relevan

4. Biaya yang jumlahnya tidak berubah meskipun volume kegiatan meningkat


dan menurun disebut:

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 23
Akuntansi Biaya

a. Biaya oportunitas
b. Biaya Tetap
c. Biaya variabel
d. Biaya relevan
5. Yang dapat menjadi obyek biaya sebagai dasar untuk mengakumulasikan
dan mengukur biaya adalah hal-hal berikut, kecuali...
a. Unit produksi
b. Aktivitas
c. Departemen
d. Manajemen

6. Berdasarkan keterkaitannya dengan produk, biaya dapat dikelompokkan


menjadi...
a. Biaya tetap dan biaya variabel
b. B iaya langsung dan baiaya tidak langsung.
c. Biaya vriabel dn semi variabel
d. Biaya relevan dan tidk relevan.

7. Berdasarkan volume kegiatan, biaya diklasifikasikan menjadi...


a. Biaya langsung, biaya tak langsung dan biaya bersama
b. Biaya variabel dan biaya tetap
c. Biaya variabel, biaya tetap dan biaya semi variabel.
d. Biaya langsung, biaya tidak langsung dan biaya semi langsung.

8. Pengeluaran untuk memperoleh aktiva yang memberikan manfaat lebih dari


satu tahun atau satu periode akuntansi disebut:
a. Capital expenditure
b. Revenue expenditure
c. Ekstraordinary expense
d. Semua jawaban di atas salah

9. Yang termasuk prime cost adalah...


a. Biaya Bahan baku langsung dan bahan pembantu
b. Biaya bahan baku langsung dan upah langsung
c. Biaya bahan baku dan biaya overhead.
d. Biaya upah langsung dan baiaya overhead.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 24
Akuntansi Biaya

10. Yang termasuk dalam biaya overhead adalah....


a. Biaya bahan langsung dan bahan pembantu
b. Biaya upah langsung dan upah tidak langsung
c. Biaya bahan pembantu, biaya upah tidak langsung dan biaya lainnya
yang tidak dapat dibebankan secara langsung ke produk.
d. Biaya bahan langsung, biaya bahan pembantu, biaya upah langsung dan
biaya upah pembantu.

11. Yang termasuk dalam conversion cost adalah:


a. Biaya Bahan baku langsung dan bahan pembantu
b. Biaya bahan baku langsung dan upah langsung
c. Biaya bahan baku dan biaya overhead.
d. Biaya upah langsung dan baiaya overhead.

12. Biaya produksi dapat dihitung dengan cara berikut......


a. Pemakaian bahan baku ditambah biaya upah langsung.
b. Saldo awal bahan baku ditambah pembelian dan saldo akhir.
c. Harga pokok produksi ditambah saldo akhir barang dalam proses
dikurang saldom awal barang dalam proses.
d. Harga pokok penjualan dikurangi saldo akhir barang jadi.

13. Ayat jurnal untuk mencatat pembelian bahan baku secara kredit adalah
a. Debit Bahan Baku, kredit Kas
b. Debit Bahan Baku, kredit Utang Dagang
c. Debit Kas, kredit Bahan Baku
d. Debit Utang, Kredit Bhan Baku.

14. Pembebanan biaya overhead pabrik ke barang dalam proses dijurnal sebagai
berikut:
a. Debit: Barang dalam Proses, Kredit: Pengendali Overhead Pabrik
b. Debit: Harga Pokok Penjualan, Kredit: Biaya Overhead
c. Debit: Pengendali Overhead Pabrik, Kredit: Barang dalam Proses
d. Debit: Barang jadi, Kredit Biaya Overhead

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 25
Akuntansi Biaya

15. Mana dari pernyataan berikut yang tidak benar:


a. Pemakaian bahan baku dijurnal dengan mendebit akun ’Barang Dalam
Proses’ dan mengkredit akun ’Persediaan bahan’.
b. Pemakain Bahan penolong dijurnal dengan mendebit akun ’’Barang
dalam Proses’, dan mengkredit akun ’Persediaan bahan’.
c. Upah Pengawas pabrik dijurnal dengan mendebit akun ’Pengendali
Overhead Pabrik’, dan mengkredit akun ’Barang dalam Proses’.
d. Beban penyusutan peralatan pabrik dijurnal dengan mendebit akun
’Pengendali Overhead Pabrik’, dan mengkredit akun ’Barang dalam
Proses’.

1.2. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban dengan kunci yang terdapat di bagian belakang modul
ini. Hitung jawaban Anda yang benar. Kemudian gunakan rumus untuk
mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi hak dan kewajiban serta
keberatan dan banding perpajakan.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari
mencapai
91 % s.d 100 % : Amat Baik
81 % s.d. 90,00 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori “Baik”), maka


disarankan mengulangi materi.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 26
Akuntansi Biaya

Kegiatan Belajar (KB) 2

PERHITUNGAN
HARGA POKOK PRODUKSI

Indikator Keberhasilan :
Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu :
1.Menghitung harga pokok berdasarkan ’Job Order Cost System’
2.Membuat ’Kartu Biaya Produksi Pesanan’
3. Menjelaskan akuntansi ’Job Order Cost System’
4. Menghitung harga pokok berdasarkan ’Process Cost System’
5.Membuat ’Laporan Biaya Produksi’

1.3. Uraian dan Contoh


Sumanto tersenyum simpul menghitung keuntungan penjualan tahu hari
ini karena produksi tahu kemarin siang yang telah menghabiskan satu kwintal
kedelai, telah habis terjual pagi ini dengan keuntungan sebesar Rp 125.000,-.
Benarkah Sumanto memperoleh keuntungan sejumlah itu?
Kondisi sebenarnya menunjukkan bahwa perhitungan keuntungan
tersebut tidak didasarkan pada harga pokok produksi yang tepat karena formula
yang digunakan adalah jumlah kedelai yang digunakan ditambah dengan upah
untuk dua pegawai yang dibayar harian. Ia tidak memperhitungkan pemakaian
kayu bakar, upahnya sendiri dan upah istrinya yang ikut bekerja, serta
pemakaian fasilitas di rumahnya yang seharusnya dibebankan ke harga pokok
produksi.
Apa yang terjadi dengan pengusaha tahu tersebut telah menggambarkan
bahwa kesalahan dalam persepsi tentang harga pokok produksi telah
menyebabkan informasi tentang keuntungan menjadi bias.

Dalam penentuan harga pokok produksi, berbagai biaya yang relevan


dengan proses produksi harus dialokasikan atau diakumulasikan ke produk yang
bersangkutan. Akumulasi biaya ini merupakan sistem perhitungan harga pokok

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 27
Akuntansi Biaya

produksi (production costing system) dengan cara membebankan unsur-unsur


biaya produksi ke dalam harga pokok produksi. Terdapat dua metode pokok
dalam akumulasi biaya produksi yaitu Job Oder Costing dan Process Costing.
Kedua metode tersebut merupakan fokus pembahasan kegiatan belajar ini.

A. Job Order Costing System


Dalam sistem ini, biaya produksi diperoleh dengan cara mengalokasikan
berbagai biaya ke masing-masing unit atau sekumpulan produk sejenis (batch)
melalui proses produksi dengan langkah yang berbeda satu sama lain. Metode
ini biasa dipergunakan pada perusahaan garment, percetakan, furniture, industri
pesawat terbang, konstruksi dan sebagainya.
Untuk setiap order (pesanan) atau job (batch atau lot) akan disiapkan
sebuah kartu yang disebut “Job Order Cost Sheet” atau “Cost Sheet”. Semua
biaya yang dibebankan pada suatu order akan dicatat ke dalam kartu tersebut.
Jadi fungsi dari Cost Sheet adalah untuk mencatat/mengumpulkan biaya
langsung dan biaya tidak langsung yang dibebankan pada suatu pekerjaan
(order). Oleh karena itu, pada setiap Cost Sheet harus dicantumkan nomor
ordernya, sehingga akan mempermudah proses pengumpulan dan pembebanan
biaya terhadap order yang dikerjakan.
Contoh: PT Busana Garment menjalankan kegiatannya dengan menerima
pesanan garment. Data persediaan pada tanggal 1 Mei 2007 disajikan sebagai
berikut (dalam rupiah):
Barang Jadi 1.500.000,-
Barang Dalam Proses 1.907.000,-
Barang Dalam Proses:
Job 021 Job 022 Job 023
No. Job/Pesanan PT. Pelangi PT. Mutiara PT. Matahari

Bahan Baku 280.000,- 340.000,- 180.000,-


Upah Langsung 210.000,- 270.000,- 135.000,-
Overhead (applied) 168.000,- 216.000,- 108.000,-
Jumlah 658.000,- 826.000,- 423.000,-
======= ======= =======

Transaksi selama bulan Mei 2007 adalah sebagai berikut (dalam rupiah):

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 28
Akuntansi Biaya

Mei 5 Pembelian bahan baku (kredit) sejumlah 2.200.000,-


7 Pemakaian: Bahan Penolong 240.000,-
Bahan baku untuk Job 021: 530.000,-
Job 022: 740.000,-
Job 023: 590.000,-
8 Pengembalian dari pabrik ke gudang
Bahan Baku Langsung Job 022: 20.000,-
Bahan Tidak Langsung 40.000,-
10 Pembayaran Gaji setelah dikurangi (PPh 21) sebesar 307.800,-
72.200,-
10 Biaya Gaji dialokasikan untuk:
55% ke Upah Langsung
15% ke Biaya Penjualan
20% ke Upah tak langsung
10% Biaya Administrasi
Alokasi Upah Langsung untuk: Job 021: 64.200,-
Job 022: 81.600,-
Job 023: 63.200,-
11 Biaya Overhead lainnya terdiri dari:
Biaya Penyusutan Bangunan dan Peralatan 20.000,-
Pabrik 2.500,-
Biaya Asuransi Pabrik yang jatuh tempo 32.500,-
Biaya yang terutang (belum dibayar)
11 Biaya Overhead pabrik yang diterapkan dan dibebankan terhadap
ketiga produk pesanan tersebut adalah 80% dari Upah Langsung untuk
bulan yang bersangkutan.
12 Pekerjaan 021, 022, dan 023 telah selesai dan dikirim ke gudang
barang jadi
14 Pesanan 021, 022, dan 023 dikirim dan ditagih dengan tambahan laba
sebesar 40% dari harga pokok. Alokasi biaya operasional sebagai
berikut:
Pesanan No. 021: Rp 65.178,-
022: 84.644,-

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 29
Akuntansi Biaya

023: 56.388,-
Sajikanlah : 1. Kartu Biaya Produksi Pesanan untuk ketiga pesanan yang
diterima.
2. Jurnal yang diperlukan bulan Mei 2006.

Kartu Biaya Produksi Pesanan disajikan di halaman berikutnya

PT. Busana Garment


Bogor

KARTU BIAYA PRODUKSI PESANAN


(Job Order Cost Sheet)
No. Pesanan: 021
Pemesan : PT. Pelangi
Tgl. Penyerahan : 14 Mei 2007

BIAYA BAHAN BAKU


Tanggal Jumlah
7 Mei 2007 530.000,-

BIAYA UPAH LANGSUNG


Tanggal Tarif/jam Jam Jumlah
10 Mei 2007 8.025,- 8 64.200,-

OVERHEAD PABRIK YANG DITERAPKAN


Tanggal Tarif/jam Upah Langsung Jumlah
11Mei 2007 80% 64.200,- 51.360,-

============================================================
WIP Awal 658.000,- Penjualan 1.824.984,-
Biaya Produksi : Harga Pokok Penjualan 1.303.560,-
Bahan baku 530.000,- Laba Kotor 521.424,-
Upah Langsung 64.200,- Biaya Operasional (65.178,-)
Overhead yang Laba Bersih 456.246,-
diterapkan 51.360,- ========
Harga Pokok 1.303.560,-
Produksi ========

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 30
Akuntansi Biaya

PT. Busana Garment


Bogor

KARTU BIAYA PRODUKSI PESANAN


(Job Order Cost Sheet)
No. Pesanan: 022
Pemesan : PT. Mutiara
Tgl. Penyerahan : 14 Mei 2007

BIAYA BAHAN BAKU


Tanggal Jumlah
7 Mei 2007 740000,-
8 Mei 2007 ( 20.000,-)
720.000,-

BIAYA UPAH LANGSUNG


Tanggal Tarif/jam Jam Jumlah
10 Mei 2007 8.025,- 81.600,-

OVERHEAD PABRIK YANG DITERAPKAN


Tanggal Tarif/jam Upah Langsung Jumlah
11Mei 2007 80% 81.600,- 65.280,-

============================================================
WIP Awal 826.000,- Penjualan 2.370.032,-
Biaya Produksi : Harga Pokok Penjualan 1.692.880,-
Bahan baku 720.000,- Laba Kotor 677.152,-
Upah Langsung 81.600,- Biaya Operasional (84.644,-)
Overhead yang Laba Bersih 592.508,-
diterapkan 65.280,- ========
Harga Pokok 1.692.880,-
Produksi ========

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 31
Akuntansi Biaya

PT. Busana Garment


Bogor

KARTU BIAYA PRODUKSI PESANAN


(Job Order Cost Sheet)
No. Pesanan: 023
Pemesan : PT Matahari
Tgl. Penyerahan : 14 Mei 2007

BAHAN BAKU
Tanggal Jumlah
7 Mei 2007 590.000,-

UPAH LANGSUNG
Tanggal Tarif/jam Jam Jumlah
10 Mei 2007 63.200,-

OVERHEAD PABRIK YANG DITERAPKAN


Tanggal Tarif/jam Upah Langsung Jumlah
11Mei 2007 80% 63.200,- 50.560,-

============================================================
WIP Awal 432.000,- Penjualan 1.577.464,-
Biaya Produksi : Harga Pokok Penjualan 1.126.760,-
Bahan baku 590.000,- Laba Kotor 450.704,-
Upah Langsung 63.200,- Biaya Operasional (56.338,-)
Overhead yang Laba Bersih 394.366,-
diterapkan 50.560,- ========
Harga Pokok 1.126.760,-
Produksi ========

Aspek Akuntansi ( Pencatatan)


Pencatatan berbagai biaya yang dialokasikan ke dalam harga pokok produk
pesanan akan ditampung ke dalam perkiraan (akun) Barang Dalam Proses
(Work in Process). Apabila proses produksi telah selesai, maka seluruh nilai yang
tercantum dalam perkiraan tersebut dipindahkan ke perkiraan Barang Jadi
(Finished Goods). Untuk pembebanan biaya langsung (Bahan Baku dan Upah
Langsung) dilakukan berdasar pengeluaran aktual (sesungguhnya), sedangkan
untuk biaya tidak langsung digunakan tarif yang telah ditentukan. Tarif tersebut

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 32
Akuntansi Biaya

dapat ditentukan berdasarkan jumlah jam kerja atau upah langsung.


Pembebanan Biaya Tidak Langsung (Overhead Pabrik) ini dicatat ke
dalam perkiraan Overhead Pabrik yang Diterapkan (Applied Overhead),
sedangkan Biaya Tidak Langsung yang Sesungguhnya dibukukan ke dalam
perkiraan Pengendali Biaya Overhead Pabrik. Selisih antara kedua Biaya
Overhead tersebut akan dianalisis dan dialokasikan sesuai dengan kebijakan
manajemen perusahaan. Bagan mekanisme pencatatan Job Order Costing
System dapat dilihat pada halaman berikutnya.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 33
Akuntansi Biaya
AKUNT ANSI BIAYA PRODUKSI
Pengendali Overhead Pabrik

Akumulasi Penyusutan Pabrik Barang Dalam Proses

Overhead Pabrik Yang Diterapkan


Asuransi Dibayar Dimuka

Barang Jadi

Kas
Biaya Upah Langsung

Harga Pokok Penjualan


Biaya Gaji dan Upah
Persediaan Bahan

Hutang Overhead Lainnya

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 34
Akuntansi Biaya

2. Jurnal Transaksi selama bulan Mei:


Mei Persediaan – Bahan 2.200.000
5 Hutang dagang 2.200.000
7 Barang Dalam Proses – Job 021 530.000
Job 022 740.000
Job 023 590.000
Pengendali Biaya Overhead Pabrik 240.000
Persediaan - Bahan 2.100.000
8 Persediaan – Bahan 60.000
Barang Dalam Proses- Job 022 20.000
Pengendali Biaya Overhead Pabrik 40.000
10 Biaya Gaji 380.000
Hutang PPh 21 72.200
Kas 307.800
10 Upah Langsung 209.000
Pengendali Biaya Overhead Pabrik 76.000
Biaya Penjualan 57.000
Biaya Administrasi 38.000
Biaya Gaji 380.000
-------------------------------------------
Barang Dalam Proses – Job 021 64.200
Job 022 81.600
Job 023 63.200
Upah langsung 209.000
11 Pengendali Biaya Overhead Pabrik 55.000
Biaya Penyusutan Bangunan & 20.000
Perlt. 2.500
Biaya Asuransi Pabrik 32.500
Hutang Biaya
11 Barang Dalam Proses – Job 021 51.360
Job 022 65.280
Job 023 50.560
Overhead Pabrik yang Diterapkan 167.200
12 Barang Jadi – Job 021 1.303.560
Job 022 1692.880
Job 023 1.126.760
Barang Dalam Proses – Job 021 1.303.560
Job 022 1692.880
Job 023 1.126.760
14 Piutang Dagang 5.772.480
Penjualan 5.772.480
Harga jual Job 021 Rp 1.824.984,-
Job 022 2.370.032,-
Job 023 1.577.464,-
---------------------------------------------------
Harga Pokok Penjualan 4.123.200
Barang Jadi – Job 021 1.303.560
Job 022 1692.880
Job 023 1.126.760

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 35
Akuntansi Biaya

B. PROCESS COSTING SYSTEM

Pendekatan ini digunakan untuk proses produksi yang dilakukan secara


massa atau tidak didasarkan pada pesanan, yang berlangsung secara kontinyu
melalui proses yang seragam. Perusahaan yang menggunakan sistem ini antara
lain adalah perusahaan plastik, minuman, pipa, bahan kimia, tekstil, dan
perusahaan sejenis lainnya. Berbagai biaya produk diakumulasikan selama satu
periode (bulan, triwulan, semester atau tahun), kemudian dialokasikan ke setiap
unit produk dengan cara jumlah biaya produksi selama satu periode dibagi
dengan jumlah produk yang dihasilkan.

Proses produksi massa ini melibatkan beberapa departemen produksi,


dimana setiap departemen melakukan perhitungan biaya produksi serta
menggunakan perkiraan “Barang Dalam Proses” (pada job order costing hanya
disediakan satu perkiraan untuk setiap pesanan dan didukung dengan kartu
biaya pesanan).

Karakteristik Process Costing System antara lain adalah:


1. Biaya dibebankan pada perkiraan ” Barang Dalam Proses” pada suatu
departemen.
2. Dibuat Laporan Biaya Produksi masing-masing departemen. Hal ini untuk
mengumpulkan, mengikhtisarkan serta menghitung biaya satuan dan total
biaya yang terjadi.
3. Barang Dalam Proses diakhir periode dihitung/dinyatakan dalam unit
ekuivalen. Unit ekuivalen adalah kuantum unit sempurna yang sekiranya
dapat diproduksi dengan menggunakan biaya-biaya (bahan , upah, dan
overhead pabrik) yang benar-benar terjadi (terserap) dalam satu periode.
4. Nilai produk yang sudah selesai pada suatu departemen ditransfer ke
departemen berikutnya, sedangkan nilai (cost) barang dalam proses tetap
tinggal dalam departemen yang bersangkutan. Pemindahan tersebut
dimaksudkan untuk menentukan total biaya “produk jadi” dalam satu periode.

Materi yang akan dibahas dalam process costing system meliputi:


1. Laporan Biaya Produksi pada departemen yang bersangkutan.
2. Perhitungan biaya satuan pada masing-masing departemen.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 36
Akuntansi Biaya

3. Perhitungan biaya yang dipindahkan ke departemen berikutnya atau ke


gudang.
4. Pengaruh unit yang hilang selama proses produksi.
5. Pengaruh penambahan material oleh departemen lanjutan.

Berikut ini adalah berbagai jenis arus produksi yang dapat terjadi pada process
costing system:
1. Berurutan (sequential flow), yaitu setiap produk diproses dengan urutan
langkah yang sama, dari departemen 1 ke departemen 2 dan seterusnya
2. Sejajar (parallel flow), yaitu suatu bagian dari pekerjaan tertentu dikerjakan
secara bersama-sama oleh beberapa departemen yang berbeda, dan
selanjutnya dipindahkan ke departemen yang sama untuk proses
penyelesaian.
3. Selektif (selective flow), yaitu produk bergerak ke departemen-departemen
yang berbeda, tergantung pada produk akhir yang akan dihasilkan.

Laporan Biaya Produksi

Semua biaya yang dibebankan pada suatu departemen akan diikhtisarkan


dalam suatu laporan biaya produksi. Laporan ini dapat menunjukkan biaya yang
terakumulasi dan disposisinya selama satu periode. Fungsi laporan ini adalah
sebagai sumber informasi untuk membukukan aktivitas biaya ke dalam berbagai
perkiraan di buku besar. Berikut ini adalah isi dari Laporan Biaya Produksi:
a. Biaya total dan biaya satuan yang diterima dari departemen sebelumnya.
b. Biaya bahan, upah langsung dan biaya tidak langsung (total/satuan) yang
ditambahkan di departemen yang bersangkutan.
c. Akumulasi biaya total dan satuan, sampai dengan departemen yang
bersangkutan.
d. Nilai yang ditransfer ke departemen berikutnya.

Penyusunan Laporan Biaya Produksi juga dipengaruhi oleh beberapa


kondisi seperti adanya unit hilang dalam proses produksi atau adanya tambahan
bahan dalam proses produksi berikutnya. Apabila terdapat unit hilang dalam
proses produksi maka diperlakukan sebagai berikut:

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 37
Akuntansi Biaya

a. Apabila terjadi pada tahap pembuatan (proses), maka dilakukan penyesuaian


terhadap biaya per unit pada departemen sebelumnya.
b. Apabila terjadi pada tahap lanjutan (supervisi), maka unit yang hilang
diperhitungkan ke dalam produksi, dengan catatan:
- ekuivalen sebagai 100% barang jadi;
- tidak terdapat penyesuaian biaya departemen sebelumnya;
- merupakan barang jadi yang ditransfer ke departemen berikutnya.
c. Apabila unit yang hilang bersifat normal, maka biaya yang diserap
dibebankan ke unit yang tersisa.
d. Apabila unit yang hilang sifatnya tidak normal, maka dihitung berdasarkan
biaya per unit dan diperlakukan sebagai kerugian, sehingga dapat dialihkan
ke:
- Harga Pokok Produksi (jika dipakai Overhead Aktual);
- Factory Overhead Control (jika dipergunakan Applied Overhead);
- Biaya tahun berjalan.

Berikut ini disajikan beberapa contoh penyusunan laporan produksi dengan


berbagai kondisi tersebut di atas.

Contoh : 1 ( Tidak terdapat tambahan biaya bahan pada departemen lanjutan)


PT. Toyota Astra memproduksi kendaraan melalui tiga tahap yaitu perakitan,
pengujian, dan perampungan. Data berikut ini menunjukkan penyerapan biaya
serta kinerja masing-masing departemen selama bulan Mei 2006.

Departemen Perakitan Pengujian Perampungan

Biaya yang diserap: (dalam jutaan rupiah)


- Bahan langsung 24.500 -- --
- Upah Langsung 29.140 37.310 32.400
- Biaya tak langsung 28.200 32.800 19.800
Kuantitas ( dalam unit )
Unit baru 50.000 -- --
Transfer dari departemen sebelumnya -- 45.000 40.000
Transfer ke departemen selanjutnya45.000 40.000 35.000
Unit dalam proses 4.000 3.000 4.000
Penyerapan biaya dalam WIP ½ Upah/ 1/3 Upah/ 1/4 Upah/
Overhead Overhead Overhead
Unit hilang 1.000 2.000 1.000
===============================================================

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 38
Akuntansi Biaya

Saudara diminta menyajikan Laporan Biaya Produksi PT Toyota Astra untuk


setiap departemen dengan asumsi:
a. Terjadi unit hilang pada tahap pembuatan.
b. Terjadi unit hilang di Departemen Pengujian pada tahap supervisi.

Contoh 1a. ( Unit hilang dalam proses )


PT Toyota Astra
Departemen Perakitan
Laporan Biaya Produksi
Bulan Mei 2006
Skedul Kuantitas : (dalam unit ) 50.000
Unit baru dalam proses --
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 45.000
Unit masih Dalam Proses ( semua bahan, ½ upah /FOH) 4.000
Unit hilang Dalam Proses 1.000 50.000

Biaya yang dibebankan ke departemen ini Biaya Total Biaya Per


(jutaan rupiah) unit
Transfer dari departemen sebelumnya -- --
Tambahan Biaya : Bahan 24.500 0,50
Upah langsung 29.140 0,62
Overhead pabrik 28.200 0,60
Jumlah Biaya yang harus dipertanggungjawabkan 81.840 1,72

Pertanggungjawaban Biaya (jutaan rupiah)


Ditransfer ke departemen berikutnya (45.000 x 1,70 jt) 77.400
Barang Dalam Proses – akhir Mei 2006
Bahan : 4.000 x 0,5 jt,- 2.000
Upah : 4.000 x ½ x 0,62 jt,- 1.240
Ovh. Pabrik : 4.000 x ½ x 0,60 jt,- 1.200 4.440
Jumlah Biaya yang dipertanggungjawabkan 81.840
Perhitungan tambahan:

Produksi Ekuivalen:
Bahan = 45.000 + 4.000 = 49.000
Upah dan FOH = 45.000 + 4.000/2 = 47.000
Biaya per unit bahan = 24.500jt / 49.000 = 0,50 jt/unit
Upah = 29.140 jt / 47.000 = 0,62 jt / unit
FOH = 28.200 jt / 47.000 = 0,60 jt / unit

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 39
Akuntansi Biaya

Contoh 1a. ( Unit hilang dalam proses )


PT Toyota Astra
Departemen Pengujian
Laporan Biaya Produksi
Bulan Mei 2006
Skedul Kuantitas : (dalam unit )
Unit yang diterima dari departemen sebelumnya ( 45.000
Perakitan )
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 40.000
Unit masih Dalam Proses ( semua bahan, 1/3 Upah 3.000
/FOH)
Unit hilang Dalam Proses 2.000 45.000

Biaya yang dibebankan ke departemen ini Biaya Total Biaya Per


(jutaan rupiah) unit
Transfer dari departemen Perakitan - 45.000 77.400 1,72
unit
Penyesuaian dari departemen Perakitan atas
unit hilang 1,80
77.400 jt / (45.000 – 2.000) unit
Tambahan Biaya : Upah langsung 37.310 0,91
Overhead pabrik 32.800 0,80
Jumlah biaya yang ditambahkan 70.110 1,71
Jumlah Biaya yang harus dipertanggungjawabkan 147.510 3,51

Pertanggungjawaban Biaya (jutaan rupiah)


Ditransfer ke departemen berikutnya ( 40.000 x 140.400
3,51 jt )
Barang Dalam Proses – akhir Mei 2006
Biaya dari departemen Perakitan-penyesuaian ( 5.400
3.000 x1,80)
Upah : 3.000 x 1/3 x 0,91 910
Ovh. Pabrik : 3.000 x 1/3 x 0,80 800 7.110
Jumlah Biaya yang dipertanggungjawabkan 147.510
Perhitungan tambahan:
Produksi Ekuivalen:
Upah dan FOH = 40.000 + 3.000/3 = 41.000 unit
Biaya per unit
Upah = 37.310 / 41.000 = 0,91 / unit
FOH = 32.800 / 41.000 = 0,80 / unit

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 40
Akuntansi Biaya

Contoh 1a. ( Unit hilang dalam proses )


PT Toyota Astra
Departemen Perampungan
Laporan Biaya Produksi
Bulan Mei 2006
Skedul Kuantitas: (dalam unit)
Unit yang diterima dari department Pengujian 40.000
Unit yang ditransfer ke gudang Barang Jadi 35.000
Unit masih Dalam Proses ( semua bahan, ¼ upah /FOH) 4.000
Unit hilang Dalam Proses 1.000 40.000

Biaya yang dibebankan ke departemen ini Biaya Total Biaya Per


(jutaan rupiah) unit
Transfer dari departemen Pengujian ( 40.000 unit) 140.400 3,51
Penyesuaian dari departemen Perakitan atas unit hilang
140.400 jt / (40.000 – 1.000) unit 3,60
Tambahan Biaya : Upah langsung 32.400 0,90
Overhead pabrik 19.800 0,55
Jumlah biaya yang ditambahkan 52.200 1,45
Jumlah Biaya yang harus dipertanggungjawabkan 192.600 5,05

Pertanggungjawaban Biaya
Ditransfer ke gudang Barang Jadi ( 35.000 x 5,05 jt) 176.750
Barang Dalam Proses – akhir
Dari Departemen Pengujian - penyesuaian : 4.000 x 14.400
3,60 jt
Upah : 4.000 x ¼ x 0,90 9.00
Ovh. Pabrik : 4.000 x ¼ x 0,55 550 15.850
Jumlah Biaya yang dipertanggungjawabkan 192.600
Perhitungan tambahan:
Produksi Ekuivalen:
Upah dan FOH = 35.000 + 4.000/4 = 36.000 unit

Biaya per unit Upah = 32.400 jt / 36.000 = 0,90 jt/unit


FOH = 19.800 jt / 36.000 = 0,55 jt/unit

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 41
Akuntansi Biaya

Contoh 1b. ( Unit hilang dalam proses supervisi di Departemen Pengujian )


PT Toyota Astra
Departemen Pengujian
Laporan Biaya Produksi
Bulan Mei 2006
Skedul Kuantitas (dalam unit ):
Unit yang diterima dari departemen sebelumnya (Perakitan ) 45.000
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 40.000
Unit masih Dalam Proses (semua bahan, 1/3 Upah /FOH) 3.000
Unit hilang Dalam Proses 2.000 45.000

Biaya yang dibebankan ke departemen ini (jutaan Biaya Total Biaya


rupiah) Per unit
Transfer dari departemen Perakitan - 45.000 unit 77.400 1,72
Tambahan Biaya : Upah langsung 37.310 0,87
Overhead pabrik 32.800 0,76
Jumlah biaya yang ditambahkan 70.110 1,63
Jumlah Biaya yang harus dipertanggungjawabkan 147.510 3,35

Pertanggungjawaban Biaya (jutaan rupiah)


Ditransfer ke Departemen perampungan 140.720
(40.000) 3,518 jt
Barang Dalam Proses – akhir Mei 2006
Biaya dari departemen Perakitan-penyesuaian 5.160
(3.000 x 1,72)
Upah : 3.000 x 1/3 x 0,87 870
Ovh. Pabrik : 3.000 x 1/3 x 0,76 760 6.790
Jumlah Biaya yang dipertanggungjawabkan 147.510
Perhitungan tambahan:
Produksi Ekuivalen: dianggap barang jadi
Upah dan FOH = 40.000 + 3.000/3 + 2.000 unit hilang
= 43.000 unit
Biaya per unit Upah = 37.310 / 43.000 = 0,87 jt / unit
FOH = 32.800 / 43.000 = 0,76 jt / unit
Biaya kehilangan per unit adalah 3,35 jt x 2.000 = 6.700 jt
6.700jt / 40.000 unit = 0,168 jt / unit
Harga transter ke departemen Perampungan menjadi = (3,35 + 0,168) jt per unit atau
3,518 jt

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 42
Akuntansi Biaya

Contoh 2: Terdapat tambahan/penyerapan biaya bahan langsung pada


Departemen Perampungan sebesar Rp 17.020.000.000,-.
PT. Toyota Astra memproduksi kendaraan roda dua melalui tiga tahap yaitu
perakitan, pengujian, dan perampungan. Data berikut ini menunjukkan
penyerapan biaya serta kinerja masing-masing departemen selama bulan Mei
2006.

Departemen Perakitan Pengujian Perampungan

Biaya yang diserap: (dalam jutaan rupiah)


- Bahan langsung 24.500 -- 17.020
- Upah Langsung 29.140 37.310 32.400
- Biaya tak langsung 28.200 32.800 19.800

Kuantitas ( dalam unit )


Unit baru 50.000 -- --
Transfer dari departemen sebelumnya -- 45.000 40.000
Transfer ke departemen selanjutnya 45.000 40.000 35.000
Unit dalam proses 4.000 3.000 4.000
Penyerapan biaya dalam WIP ½ Upah/ ½ Upah/ ¼ Upah/
Overhead Overhead Overhead
½ Bahan
Unit hilang 1.000 2.000 1.000
===============================================================
Saudara diminta menyajikan Laporan Biaya Produksi untuk Deptartemen
Perampungan!

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 43
Akuntansi Biaya

Contoh 2. ( Pada Departemen Perampungan terdapat tambahan biaya bahan )


PT Toyota Astra
Departemen Perampungan
Laporan Biaya Produksi
Bulan Mei 2006
Skedul Kuantitas: (dalam unit)
Unit yang diterima dari department Pengujian 40.000
Unit yang ditransfer ke gudang Barang Jadi 35.000
Unit masih Dalam Proses ( ½ bahan, ¼ upah /FOH) 4.000
Unit hilang Dalam Proses 1.000 40.000

Biaya yang dibebankan ke departemen ini Biaya Biaya Per


(jutaan rupiah) Total unit
Transfer dari departemen Pengujian ( 40.000 unit) 140.400 3,51
Penyesuaian dari departemen PePengujian atas unit 3,60
hilang
140.400 jt / (40.000 – 1.000) unit
Tambahan Biaya : Bahan 17.020 0,46
Upah langsung 32.400 0,90
Overhead pabrik 19.800 0,55
Jumlah biaya yang ditambahkan 69.220 1,91
Jumlah Biaya yang harus dipertanggungjawabkan 209.620 5,51
Pertanggungjawaban Biaya
Ditransfer ke gudang Barang Jadi ( 35.000 x 5,51 jt) 192.850
Barang Dalam Proses – akhir
Dari Departemen Pengujian – penyesuaian : 4.000 14.400
x 3,60 jt
Bahan : 4.000 x ½ x 0,46 920
Upah : 4.000 x ¼ x 0,90 9.00
Ovh. Pabrik : 4.000 x ¼ x 0,55 550 16.770
Jumlah Biaya yang dipertanggungjawabkan 209.620
Prod. kuivalen: Bahan = 35.000 + 4.000/2 = 37.000
unit
Upah dan FOH = 35.000 + 4.000/4 = 36.000 unit
Biaya per unit Bahan = 17.020 jt / 37.000 = 0,46 jt/unit
Upah = 32.400 jt / 36.000 = 0,90 jt/unit
FOH = 19.800 jt / 36.000 = 0,55 jt/unit

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 44
Akuntansi Biaya

Contoh 3: Terdapat tambahan/penyerapan biaya bahan langsung pada


departemen Perampungan sebesar Rp17.020.000.000,- dan unit
baru sejumlah 8.000 unit.
PT. Toyota Astra memproduksi kendaraan roda dua melalui tiga tahap yaitu
perakitan, pengujian, dan perampungan. Data berikut ini menunjukkan
penyerapan biaya serta kinerja masing-masing departemen selama bulan Mei
2006.

Departemen Perakitan Pengujian Perampungan

Biaya yang diserap: (dalam jutaan rupiah)


- Bahan Langsung 24.500 -- 17.020
- Upah Langsung 29.140 37.310 32.400
- Biaya tak langsung 28.200 32.800 19.800
Kuantitas ( dalam unit )
Unit baru 50.000 -- 8.000
Transfer dari departemen sebelumnya -- 45.000 40.000
Transfer ke departemen selanjutnya 45.000 40.000 44.000
Unit dalam proses 4.000 3.000 4.000
Penyerapan biaya dalam WIP ½ Upah/ ½ Upah/ ½ Bahan
Overhead Overhead ¼ Upah/
Overhead
Unit hilang 1.000 2.000 0
===============================================================
Saudara diminta menyajikan Laporan Biaya Produksi untuk Departemen
Perampungan.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 45
Akuntansi Biaya

Solusi Contoh 3:
PT Toyota Astra
Departemen Perampungan
Laporan Biaya Produksi
Bulan Mei 2006

Skedul Kuantitas: (dalam unit)


Unit yang diterima dari department Pengujian 40.000
Unit tambahan yang dimasukkan 8.000 48.000
Unit yang ditransfer ke gudang Barang Jadi 44.000
Unit masih Dalam Proses ( ½ bahan, ¼ upah /FOH) 4.000 44.000
Biaya yang dibebankan ke departemen ini Biaya Biaya Per
(jutaan rupiah) Total unit
Transfer dari departemen Pengujian ( 40.000 unit) 140.400 3,510
Penyesuaian dari departemen Pengujian : 2,925
140.400 jt / (40.000 + 8.000 unit tambahan)
Tambahan Biaya : Bahan 17.020
Upah langsung 32.400 0,720
Overhead pabrik 19.800 0,440
Jumlah biaya yang ditambahkan 69.220 1,530
Jumlah Biaya yang harus dipertanggungjawabkan 209.620 4,455

Pertanggungjawaban Biaya
Ditransfer ke gudang Barang Jadi ( 44.000 x 4,455 jt) 196.020
Barang Dalam Proses – akhir
Dari Departemen Pengujian - penyesuaian : 4.000 11.700
x 2,925 jt
Bahan : 4.000 x ½ x 0,370 jt 740
Upah : 4.000 x ¼ x 0,720 jt 720
Ovh. Pabrik : 4.000 x ¼ x 0,440 jt 440 13.600
Jumlah Biaya yang dipertanggungjawabkan 209.620
Prod. Ekuivalen: Bahan = 44.000 + 4.000/2 = 46.000
unit
Upah dan FOH = 44.000 + 4.000/4 = 45.000 unit
Biaya per unit: Bahan = 17.020 jt / 46.000 = 0,370 jt/unit
Upah = 32.400 jt / 45.000 = 0,720 jt/unit
FOH = 19.800 jt / 45.000 = 0,440 jt/unit
Unit tambahan menjadi bagian penyesuaian

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 46
Akuntansi Biaya

1.4. Latihan 2

Job Order Costing

Soal 1
PT. Wujud Nawang Wulan menerima pesanan sejumlah pakaian wanita yang
dicatat ke dalam pesanan nomor 99. Selama mengerjakan pesanan tersebut,
bagian pencatatan menyajikan data sebagai berikut:
Bahan Langsung Upah langsung
14/9 dikeluarkan 600.000,- 20/9 diperhitungkan 90 jam 6.200,-/ jam
20/9 dikeluarkan 331.000,- 26/9 diperhitungkan 70 jam 7.300,-/ jam
22/9 dikeluarkan 200.000,-
Sajikan kartu Biaya Produk Pesanan tersebut, dengan catatan:
- Overhead pabrik yang diterapkan dalam pembebanan adalah Rp 5.000,-
per jam kerja langsung;
- Biaya operasional yang dialokasikan untuk pesanan ini sebesar Rp
75.000,-;
- Mark up diperhitungkan sebesar 40%.

Soal 2
PT. Wahana Toys menerima pesanan boneka dalam tiga model yang dicatat ke
dalam pesanan nomor 45, 46, dan 47. Selama mengerjakan pesanan tersebut,
bagian pencatatan menyajikan data sebagai berikut (dalam ribuan rupiah):
Pesanan No. 45 No. 46 No. 47
Biaya yang dibebankan dari periode sebelumnya 3.600 18.000 --
Biaya selama bulan Juli 2006:
Bahan langsung 44.000 34.000 32.000
Upah langsung 40.000 48.000 42.000
Overhead pabrik (60% dari Upah Langsung) 24.000 28.800 25.200

Sajikan ayat jurnal untuk mencatat transaksi berikut:


(1). Bahan langsung yang dikeluarkan dari gudang untuk digunakan.
(2). Biaya gaji /upah yang didistribusikan ke Barang Dalam Proses tersebut.
(3). Pembebanan Overhead pabrik ke produk.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 47
Akuntansi Biaya

(4). Pesanan no. 45 dan 46 diselesaikan dan ditransfer ke gudang barang jadi

Soal 3
Kartu biaya pesanan berikut ini dipersiapkan untuk tiga pekerjaan yang
dilaksanakan di bulan Pebruari 2006 (dalam ribuan rupiah):
Pesanan No. 15 No. 16 No. 17
Bahan 60.000 30.000 40.000
Upah langsung 120.000 70.000 80.000
Overhead pabrik-dibebankan 60.000 35.000 40.000
Marjin Laba kotor 60.000

Pada awal Pebruari pesanan no. 15 selesai dan menyerap 40% biaya bahan,
upah maupun overhead pabrik, dan kemudian dijual secara kredit. Pesanan no.
16 dimulai diproduksi dan selesai dalam bulan Pebruari tetapi belum dijual,
sedangkan itu pekerjaan No. 17 dimulai dan belum diselesaikan. Biaya
operasional yang dialokasikan ke pesanan no. 15 sebesar Rp750.000,- Sajikan
ayat jurnal bulan tersebut. untuk mencatat Barang Dalam Proses dan Barang
Jadi, serta siapkan Kartu Biaya untuk masing-masing pesanan.

Soal 4
Pembukuan PT. Buana Textil per 1 Mei 2006 menunjukkan data sebagai berikut:
Persediaan barang jadi Rp. 10.000.000,-
Persd. Barang Dalam Proses 16.400.000,-
Persediaan bahan baku 8.000.000,-
Perkiraan Dalam Proses memerinci adanya:
Pesanan No. 300 Rp 10.000.000,-
Pesanan No. 301 6.400.000,-
Rp 16.400.000,-

Selama bulan Mei 2006 kegiatan perusahaan adalah sebagai berikut:


a. Pembelian bahan sejumlah Rp 6.000.000,- dengan syarat n/30.
b. Pemakaian bahan untuk Pesanan No. 300: Rp 2.500.000,-
301: 1.400.000,-

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 48
Akuntansi Biaya

c. Pesanan No. 302 dimulai dengan permintaan bahan sejumlah Rp


1.800.000,-.
d. Bahan penolong dipakai sebesar Rp 1.700.000,-.
e. Dikembalikan ke gudang dari pekerjaan (pesanan) No. 300, berupa bahan
langsung Rp 400.000,- dan bahan penolong Rp 100.000,-.
f. Bahan yang dikembalikan ke pemasok sebesar Rp 600.000,-.
g. Beban Gaji bulan Mei sebesar Rp 10.000.000,- dikurangi PPh. 21 sebesar
5%.
h. Gaji dibayarkan ke karyawan.
i. Gaji tersebut dialokasikan untuk: Upah Langsung 60 %
Upah tidak langsung 20 %
Gaji bagian Penjualan 12 %
Gaji bagian Administrasi 8%
Upah langsung dialokasikan, untuk pesanan No. 300: 50%
301: 30%
302: 20%
j. Biaya Overhead pabrik lainnya sebesar Rp 1.504.000,- dibayar pada bulan
ini.
k. Biaya Overhead pabrik yang dibebankan ke produksi adalah 100% dari
upah langsung bulan Mei.
l. Pesanan No. 300 diselesaikan dan dikirim langsung ke pemesan dengan
harga kontrak sebesar Rp 22.500.000,-.
m. Barang dengan harga pokok sebesar Rp 8.000.000,- dijual secara kredit
dengan harga Rp 10.000.000,-.
n. Penagihan atas piutang usaha sebesar Rp 26.000.000,-.
o. Selisih penerapan overhead dipindahkan ke perkiraan harga pokok
penjualan.
p. Biaya operasional yang dibebankan ke pesanan no. 300 sebesar Rp
450.000,-
Sajikan : - Ayat jurnal yang diperlukan atas transaksi di atas.
- Kartu Biaya Pesanan untuk pesanan No. 300.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 49
Akuntansi Biaya

Soal 5
PT. Sun Tyos per 1 Maret 2006 menyajikan data persediaan sebagai berikut:
Persediaan barang jadi Rp. 15.000.000,-
Persediaan Barang Dalam Proses 19.070.000,-
Persediaan bahan baku 14.000.000,-
Perkiraan Barang Dalam Proses memerinci adanya (dalam rupiah):
Pesanan No. 05 No. 06 No. 07
Bahan 2.800.000 3.400.000 1.800.000
Upah langsung 2.100.000 2.700.000 1.350.000
Overhead pabrik-dibebankan 1.680.000 2.160.000 1.080.000
6.580.000 8.260.000 4.230.000

Berkenaan dengan kegiatan bulan Maret 2006, tersedia informasi berikut ini:
a. Pembelian bahan sejumlah Rp 22.000.000,- dengan syarat n/30.
b. Pemakaian bahan untuk produksi sejumlah Rp 21.000.000,-, dari jumlah
ini untuk bahan tidak langsung sejumlah Rp 2.400.000,- Sisanya
dialokasikan ke:
Pesanan No. 05 Rp 5.300.000,-
06 7.400.000,-
07 5.900.000,-
c. Bahan dikembalikan ke gudang sejumlah Rp 600.000,- Dari jumlah
tersebut terdapat bahan tidak langsung sebesar Rp 200.000,-, sisanya dari
pekerjaan (pesanan) No. 06.
d. Bahan yang dikembalikan ke pemasok sebesar Rp 600.000,-.
e. Pembayaran Gaji bulan Maret setelah dikurangi PPh. 21 sebesar 5%,
sebesar Rp 38.000.000,-.
f. Gaji tersebut dialokasikan untuk : Upah Langsung 55 %
Upah tidak langsung 20 %
Gaji bagian Penjualan 15 %
Gaji bagian Administrasi 10 %
Upah langsung dialokasikan, untuk pesanan No. 05: 6.420.000,-
No. 06: 8.160.000,-
No. 07: 7.420.000,-

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 50
Akuntansi Biaya

g. Biaya Overhead pabrik lainnya sebesar Rp 5.500.000,- didalamnya


termasuk penyusutan bangunan dan peralatan pabrik sebesar Rp
2.000.000,- dan asuransi pabrik sejumlah Rp 250.000,- yang jatuh tempo,
dan sisanya belum dibayar sebesar Rp 3.250.000,-.
h. Biaya Overhead pabrik yang dibebankan ke produksi adalah 80% dari upah
langsung, yang harus dibebankan ke tiga pesanan.
i. Pesanan No. 05 dan 06 diselesaikan dan ditransfer ke gudang barang jadi.
j. Pesanan No. 05 dan 06 dikirim ke pemesan, dengan marjin laba sebesar
40% dari harga pokok.
k. Penagihan piutang usaha selama bulan Maret sebesar Rp 69.450.000,-
l. Biaya operasional yang dibebankan ke pesanan no. 05 dan 06 masing-
masing sebesar Rp 450.000,-
Sajikan : - Ayat jurnal yang diperlukan atas transaksi di atas, dan posting ke
buku besar.
- Kartu Biaya Pesanan.
- Daftar persediaan akhir Maret.

Soal 6
Pembukuan PT. Beach Eq memperlihatkan saldo perkiraan per 1 Maret 2006
sebagai berikut:
Persediaan barang jadi Rp. 78.830.000,-
Persd. Barang Dalam Proses 292.621.000,-
Persediaan bahan baku 65.000.000,-
Selisih Overhead pabrik (Cr.) 12.300.000,-

Perkiraan Barang Dalam Proses memerinci adanya (dalam ribuan rupiah):


Job Upah Overhead
No. Produk Bahan langsung pabrik Total

204 80.000 ban pelampung 15.230 21.430 13.800 50.460


205 5.000 sekoci 40.450 55.240 22.370 118.060
206 10.000 rompi pelampung 60.875 43.860 19.366 124.101
116.555 120.530 55.536 292.621

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 51
Akuntansi Biaya

Selama bulan Maret 2006, tersedia informasi berikut ini:


a. Pembelian ( kredit) bahan sejumlah Rp 42.300.000,-.
b. Pembelian bahan khusus sejumlah Rp 5.800.000,- untuk pekerjaan baru
(Pesanan No. 207), yaitu 4.000 baju pelampung.
c. Data Gaji / Upah bulan Maret disajikan berikut ini:
Pesanan Jumlah Jam Kerja
204 26.844.000,- 3.355,5
205 22.750.000,- 3.250
206 28.920.000,- 3.615
207 20.370.000,- 2.910
Upah tak langsung sebesar Rp 9.480.000,- dan pengawas pabrik Rp
3.000.000,-
Potongan atas gaji, untuk PPh. 21 sebesar 5%.
d. Pemakaian bahan untuk produksi:
Pesanan No. 204 Rp 9.480.000,-
205 11.320.000,-
206 10.490.000,-
207 16.640.000,- ( tidak termasuk bahan khusus
yang juga telah dikeluarkan dari gudang)
e. Overhead pabrik lainnya yang terjadi atau terutang (dicatat dalam perkiraan
“ Kredit Rupa-rupa”) adalah:
Asuransi pabrik 830.000,- Beban batu bara 1.810.000,-
Pajak Bumi & Bangunan 845.000,- Sumber tenaga 3.390.000,-
Penyusutan Mesin 780.000,- Reparasi& 2.240.000,-
Pemeliharaan
Penyusutan Pabrik 840.000,- Perbekalan tak 1.910.000,-
langsung
Penerangan 560.000,-
f. Biaya Overhead pabrik diterapkan ke produk dengan tarif Rp 2.300,- per jam
kerja langsung. Diselenggarakan perkiraan “ Overhead Pabrik yang
diterapkan” serta “ Pengendali Overhead pabrik”.
g. Pesanan No. 204 selesai dan dikirimkan dengan harga kontrak Rp
117.500.000,-

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 52
Akuntansi Biaya

Sajikan : - Ayat jurnal yang diperlukan atas transaksi di atas, dan posting ke buku
besar.
- Kartu Biaya Pesanan
- Selisih Overhead pabrik (aktual dengan pembebanan )

Soal 7
PT. Bunga Tulip mempersiapkan Kartu biaya pesanan berikut ini untuk tiga
pekerjaan yang dilaksanakan di bulan Mei 2006. Data biaya ketiga pesanan
adalah sebagai berikut:
(dalam rupiah)
Pesanan No. 05 No. 06 No. 07
Bahan 16.000.000 13.000.000 12.000.000
Upah langsung 12.000.000 10.000.000 8.000.000
Overhead pabrik-dibebankan 9.000.000 7.500000 6.000.000

Pesanan no. 05 :
Pada awal Mei, pesanan belum selesai namun sudah menyerap 30% biaya
bahan, 25% biaya upah dan overhead pabrik. Pesanan ini kemudian
diselesaikan dan dijual dengan mark up 30% dari harga pokok.
Pesanan no. 06 :
Awal Mei, pesanan belum selesai, namun sudah menyerap 40% biaya bahan,
30% biaya upah dan overhead pabrik. Pesanan ini diselesaikan dan dijual
dengan mark up 30% dari harga pokok.

Pesanan No. 07:


Awal Mei, pesanan belum selesai, namun sudah menyerap 25% biaya bahan,
25% biaya upah dan overhead pabrik. Pesanan ini diselesaikan dan dijual
dengan mark up 30% dari harga pokok.

Biaya Operasional yang dialokasikan ke masing-masing pesanan sebesar Rp


600.000,-. Sajikan ayat jurnal bulan tersebut untuk mencatat Barang Dalam
Proses dan Barang Jadi, serta tunjukkan Kartu Biaya untuk masing-masing
pesanan.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 53
Akuntansi Biaya

Soal 8
PT. Bunga Melati menerima tiga pesanan barang yang berbeda dari PT. Menara
Gading, yang harus diserahkan pada tanggal 25 April 2007. Sejak minggu
terakhir bulan Pebruari 2007 telah dilakukan pengerjaan atas ketiga pesanan
tersebut. Berikut ini adalah data biaya produk pesanan pada PT. Bunga Melati,
pada tanggal 31 Maret 2007:
(dalam rupiah)
Pesanan PT. Menara Gading No. 025 No. 026 No. 027
Barang dalam Proses, awal 2.500.000 2.000.000 1.500.000
Maret
Biaya bulan Maret 2007:
Bahan 4.000.000 3.000.000 2.500.000
Upah Langsung 3.000.000 2.500.000 2.000.000
Overhead Pabrik 2.250.000 2.000.000 1.600.000
Total Biaya Produksi 11.750.000 9.500.000 7.600.000

Catatan tentang Bahan selama bulan April 2007 adalah sebagai berikut:
Unit/Kg Harga/unit
Saldo 1 April 2007 100 30.000,-
4 April Pembelian 100 31.000,-
8 April Pembelian 600 32.000,-
20 April Pembelian 400 33.000,-
Saldo akhir April 2007 600

Sajikanlah ketiga Kartu Biaya Pesanan di atas, dengan catatan:


- Pemakaian bahan adalah untuk job No. 025 (20%), No. 026 (30%) dan No.
027 (50%).
- Perusahaan menggunakan metode FIFO dan sistem periodik dalam arus
persediaan.
- Pembayaran Gaji bulan tersebut setelah dikurang PPh 21 5%, sebesar Rp
9.500.000,-.
- Alokasi biaya gaji/upah adalah untuk Upah Langsung 60%, Upah tidak
langsung 25%, Biaya Administrasi 10%, dan Biaya Pemasaran 15%.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 54
Akuntansi Biaya

- Upah langsung dialokasikan ke pesanan sebagai berikut: Pesanan No. 025


Rp 2.500.000 No. 026 Rp 2.000.000,- dan No. 027 Rp1.500.000,-.
- Tarif upah per jam kerja langsung adalah Rp 12.500,-.
- Biaya Overhead pabrik dibebankan sesuai dengan jam kerja langsung,
dengan tarif per jam Rp. 10.000,-
- Ketiga pesanan tersebut diselesaikan dan diserahkan kepada pemesan,
dengan mark-up 30% dan kepada masing-masing pesanan dibebani biaya
operasional sebesar Rp 500.000,-.

Soal 9
Perusahaan menerima pesanan suatu produk yang dikerjakan selama dua
minggu dengan data biaya sebagai berikut:
Minggu I Minggu II
Bahan baku yang dipakai 2.500.000,- 1.500.000,-
Jam kerja Departemen I 200 150
Tarif Upah Departemen I 3.000,-/ jam 3.000,-/ jam
Jam kerja Departemen II 100 70
Jam kerja mesin Departemen II 90 80
Tarif Upah Departemen II 3.200,-/ jam 3.200,-/ jam
Overhead pabrik yang diterapkan:
Jam kerja Departemen I 2.500,-/ jam 2.500,-/ jam
Jam mesin Departemen II 4.000,-/ jam 4.000,-/ jam

Pesanan dengan No. 333 tersebut dijual dengan mark up 30% dari harga pokok
produksi dan biaya operasional diperhitungkan 5% dari harga pokok produksi.
Sajikanlah Kartu Biaya Pesanan untuk produk di atas!

Process Costing System

Soal 1 (unit yang hilang)


PT. Tiga Berlian melakukan proses produksi baru pada bulan Oktober 2006,
yang diawali dengan produksi 10.000 unit di Departemen A. Dari jumlah tersebut,
sebanyak 1.000 unit telah hilang selama pemrosesan dan merupakan suatu
jumlah yang normal. Sebanyak 7.000 unit ditransfer ke Departemen B. Sisa

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 55
Akuntansi Biaya

sebanyak 2.000 unit masih dalam persediaan Barang Dalam Proses pada akhir
bulan, dengan tingkat penyelesaian 100% untuk bahan dan 50% untuk biaya
konversi. Biaya Bahan sejumlah Rp 27.000.000,- dan Biaya Konversi sejumlah
Rp 40.000.000,- dibebankan ke Departemen A selama bulan Oktober.
Sajikan Laporan Biaya Produksi untuk Departemen A !

Soal 2 ( tidak ada unit yang hilang)


Biaya Departemen 2 pada sebuah perusahaan selama bulan Juni 2006 adalah:
Transfer biaya dari departemen 1: Rp. 16.320.000,-
Biaya yang ditambahkan di departemen 2:
Bahan baku 43.415.000,-
Upah Langsung 56.100.000,-
Overhead Pabrik 58.575.000,-

Data produksi menunjukkan 12.000 unit telah diterima selama bulan itu dari
Departemen 1. Sebanyak 7.000 unit telah ditransfer ke barang jadi dan 5.000
unit berada dalam proses pada akhir bulan Juni dengan tingkat penyelesaian
50% untuk biaya bahan dan 25% untuk biaya konversi. Siapkan Laporan Biaya
Produksi untuk Departemen 2!

Soal 3 (kerusakan normal)


Sebuah perusahaan menggunakan kalkulasi biaya proses pada waktu produksi.
Semua bahan ditambahkan pada awal proses dan produk diperiksa ketika
berada pada tahap konversi 80%, dimana kerusakan yang terjadi hanya
diidentifikasi pada titik tersebut. Kerusakan normal diperkirakan sebesar 5% dari
produk yang baik. Selama bulan Maret 2006, sebanyak 10.500 unit telah
dimasukkan ke dalam proses. Biaya untuk periode tersebut adalah Rp
52.500.000,- untuk bahan, Upah Langsung sebesar Rp 39.770.000,- dan
Overhead Pabrik sebesar Rp 31.525.000,-. Unit dalam proses pada akhir bulan
sejumlah 3.000 unit, dengan tingkat penyelesaian 90% untuk biaya konversi.
Sebanyak 7.000 unit ditransfer ke gudang barang jadi. Siapkan Laporan Biaya
Produksi untuk bulan Maret 2006!

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 56
Akuntansi Biaya

Soal 4 (unit yang hilang - normal)


Pada bulan Desember 2006, Departemen Pengendali Produksi PT. Bintang
Timur melaporkan data produksi alkohol untuk Departemen 2 sebagai berikut:
Ditransfer dari Departemen 1 55.000 liter
Ditransfer ke Departemen 3 39.500 liter
Dalam proses akhir Desember (1/3 biaya konversi) 10.500 liter
Semua bahan dimasukkan ke dalam proses di Departemen 1. Departemen Biaya
mengumpulkan angka-angka di bawah ini dari Departemen 2:
Biaya per liter dari Departemen 1 Rp 1.800,-
Biaya Upah Langsung Deptartemen 2 27.520.000,-
Overhead Pabrik yang dibebankan (diterapkan) 15.480.000,-
 Siapkan Laporan Biaya Produksi untuk Departemen 2 pada bulan Desember
2006!

Soal 5 (unit yang hilang bersifat normal)


PT.Rajawali memproduksi sebuah barang melalui tiga departemen. Bulan Mei
2006 sebanyak 110.000 unit telah selesai di Departemen 1 dengan biaya Rp
176.000.000,- dan kemudian ditransfer ke Dertemen 2. Dari jumlah ini,
Depertemen 2 telah menyelesaikan dan mentransfer sebanyak 85.000 unit ke
departemen berikutnya. Persediaan dalam proses akhir Mei sebanyak 22.000
unit dengan tingkat penyelesaian 50% untuk biaya konversi. Biaya Upah
Langsung dan Overhead Pabrik selama bulan Mei 2006 di Departemen 2 adalah
Rp26.245.000,- dan Rp12.670.000,-. Kerusakan di departemen ini dianggap
normal dan terjadi selama pemrosesan.
 Susunlah Laporan Biaya Produksi untuk Departemen 2 dan hitung
penyesuaiannya untuk unit yang hilang.

Soal 6 (unit yang hilang bersifat abnormal)


Selama bulan Pebruari 2006, Departemen Perakitan menerima 60.000 unit dari
Departemen Pemotongan dengan biaya Rp 3.540,- per unit. Biaya yang
ditambahkan di Departemen Perakitan antara lain: Bahan sebesar Rp
41.650.000, Upah Langsung sebesar Rp101.700.000,- dan Overhead pabrik Rp
56.500.000,-. Tidak ada persediaan awal. Dari 60.000 unit yang diterima, 50.000
unit ditransfer ke departemen berikutnya, 9.000 unit dalam proses dengan tingkat
penyelesaian 2/3 biaya konversi. Unit yang hilang dengan tingkat penyelesaian

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 57
Akuntansi Biaya

50% untuk bahan dan biaya konversi. Seluruh unit yang hilang dianggap tidak
normal dan dibebankan ke Overhead pabrik.
• Susunlah Laporan Biaya Produksi untuk Departemen Perakitan!
.

Soal 7 (penambahan bahan)


PT. Mandom memproduksi cologne melalui proses di tiga departemen. Di
Departemen ketiga (Finishing), ditambahkan bahan-bahan yang menghasilkan
penggandaan jumlah produk. Data berikut berkaitan dengan kegiatan
departemen tersebut di bulan Maret 2006:
Unit (kg) yang diterima dari departemen kedua (Mixing) 20.000
Unit (kg) yang ditransfer ke gudang barang jadi 32.000
Unit dalam proses ( 100% bahan, 50% Upah dan Overhead pabrik) 8.000
Biaya yang dibebankan dari Departemen Mixing 30.000.000,-
Biaya yang ditambahkan di Departemen
Finishing:
Bahan baku 8.800.000,-
Upah Langsung 9.000.000,-
Overhead Pabrik 7.200.000,- 25.000.000,-
Tidak ada persediaan awal dalam proses
• Susunlah Laporan Biaya Produksi untuk Departemen Finishing untuk bulan
Maret!

Soal 8 (penambahan bahan)


PT. Sari Ayu MT memproduksi “hand cream” melalui proses di tiga departemen.
Bahan ditambahkan pada awal proses di Departemen kedua (Mixing). Data
berikut berkaitan dengan kegiatan departemen tersebut di bulan Mei 2006:
Unit (kg) yang diterima dari departemen pertama 20.000
Unit yang ditambahkan di Departemen kedua (Mixing) 10.000
Unit yang ditransfer ke Departemen Finishing 24.000
Unit dalam proses (50% Upah dan Overhead pabrik) 6.000
Biaya yang dibebankan dari departemen pertama 60.000.000,-
Biaya bahan yang ditambahkan di departemen kedua 30.000.000,-
Biaya konversi yang ditambahkan di departemen kedua 54.000.000
• Susunlah Laporan Biaya Produksi untuk Departemen Mixing untuk bulan Mei
2006!

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 58
Akuntansi Biaya

Soal 9 ( unit yang hilang)


PT. Dankos Laboratories memproduksi sejenis anti biotik melalui proses di tiga
departemen. Data kuantitas dan biaya berikut berkaitan dengan kegiatan di bulan
Juli 2006
Departemen
Peracikan Pengujian Perampung
an
Data Produksi: (dalam kg.)
Unit baru dalam proses 8.000 5.400 3.200
Ditransfer ke departemen berikutnya 5.400 3.200 -
Ditransfer ke gudang barang jadi 2.100
Unit dalam proses (1/3 biaya konversi) 2.400 1.800
(2/3 biaya konversi) 900
Biaya yang dibebankan di departemen
Bahan 20.670.000, 7.980.000 14.400.000
-
Upah Langsung 11.160.000 5.016.000 11.20.000
Overhead Pabrik 5.580.000 2.280.000 5.040.000
Total 37.410.000 15.276.000 30.960.000

Kehilangan unit dianggap normal dan diterapkan untuk semua produksi.


• Susunlah Laporan Biaya Produksi untuk tiap Departemen!

Soal 10 (kerusakan di akhir proses)


Kalkulasi biaya proses dilakukan di departemen I PT. Intan Nusantara. Bahan
ditambahkan pada awal proses sedangkan pemeriksaan (supervisi) dilakukan di
akhir proses. Kerusakan diharapkan berkisar 5% dari unit yang baik. Kerusakan
normal dibebankan ke perkiraan beban periode berjalan.
Catatan Departemen I untuk bulan Juli 2006 memperlihatkan:
Unit baru dalam proses 10.000
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 8.000
Unit dalam proses ( 100% bahan, 25% Upah dan Overhead pabrik) 1.200
Biaya bahan 50.000.000,-
Biaya konversi 45.500.000,-
• Susunlah Laporan Biaya Produksi untuk Departemen I dalam bulan Juli 2006!

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 59
Akuntansi Biaya

Soal 11 ( unit yang hilang bersifat normal)


PT. Cemara Tujuh menggunakan kalkulasi biaya proses pada dua depertemen
produksinya. Informasi berikut berkaitan dengan kegiatan Departemen II di bulan
Mei 2006:
- Kerusakan normal sebanyak 5% dari produk yang baik.
- Pemeriksaan dan identifikasi kerusakan dilakukan pada tahap penyelesaian
90% dan bahan ditambahkan sesudah pemeriksaan.
- Departemen II telah menerima 14.000 unit dari departemen sebelumnya
dengan biaya Rp 140.000.000,-.
- Biaya-biaya di Departemen II meliputi 12.000.000,- untuk bahan dan Rp
89.250.000,- untuk biaya konversi.
- Sejumlah 8.000 unit telah diselesaikan dan ditransfer ke barang jadi dan
pada akhir bulan terdapat brang dalam proses 5.000 unit dengan tingkat
penyelesaian 60% untuk biaya konversi.
• Susunlah Laporan Biaya Produksi untuk Departemen II!

Soal 12 ( unit yang hilang bersifat normal)


PT. Berlian Utama menggunakan kalkulasi biaya proses pada dua depertemen
produksinya. Pada Departemen II, pemeriksaan dilakukan pada tahap
penyelesaian 96%, sesudah itu bahan ditambahkan pada unit-unit yang baik.
Tingkat kerusakan sebesar 3% dari produk yang baik masih dianggap normal.
Catatan di Departemen II bulan April 2006 menunjukkan:
Diterima dari Departemen I 30.000 unit
Biaya yang dibebankan 135.000.000,-
Bahan 12.500.000,-
Biaya konversi 139.340.000,-
Ditransfer ke Barang jadi 25.000 unit
Barang dalam proses akhir bulan ( selesai 50%) 4.200 unit

• Susunlah Laporan Biaya Produksi untuk Departemen II!

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 60
Akuntansi Biaya

1.5. Rangkuman

1. Pembebanan biaya ke dalam produk dikenal sebagai akumulasi biaya


produk, yang merupakan sistem perhitungan harga pokok produksi.
Terdapat dua metode yang digunakan dalam akumulasi biaya
produksi, yaitu job order costing dan process costing. Pada job order
costing, biaya produk dialokasikan ke unit-unit produk pesanan, dan
dicatat melalui kartu biaya produksi pesanan. Sedangkan pada
process costing, biaya produk selama satu periode, dialokasikan ke
alam setiap unit produk dengan cara dibagi kuantum produk yang
dihasilkan selama periode tersebut. Perhitungan biaya produksi
tersebut diikhtisarkan dalam Laporan Biaya Produksi.

1.6. Tes – Formatif 2

Lingkarilah jawaban yang Saudara anggap paling benar dari beberapa jawaban
yang tersedia di bawah ini :
1. Penentuan harga pokok produksi dimana berbagai biaya relevan dialokasikan
atau diakumulasikan ke masing-masing unit atau sekumpulan produk sejenis
(batch) melalui proses produksi dengan langkah yang berbeda satu sama lain
disebut…….
a. Order Process Costing System
b. Process Costing System
c. Job Order Costing System
d. Mix Costing System

2. Metode job order costing system banyak digunakan pada perusahaan-


perusahaan berikut, kecuali….
a. Minuman Ringan (soft drink)
b. Percetakan
c. Furniture
d. Konstruksi

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 61
Akuntansi Biaya

3. Untuk proses produksi yang dilkukan secara massa yang berlangsung


secara kontinyu melalui proses yang seragam, dapat digunakan
pendekatan…..
a. Job Order Costing System
b. Mix Costing System
c. Order Process Costing System
d. Process Costing System

4. Metode process costing system banyak digunakan pada perusahaan-


perusahaan berikut, kecuali….
a. Minuman Ringan (soft drink)
b. Konstruksi
c. Bahan Kimia
d. Pipa

5. Mana dari pernyataan-pernyataan berikut yang salah…


a. Dalam Job Order Costing System, semua biaya yang dibebankan pada
suatu order akan dicatat ke dalam sebuah kartu ‘Cost Sheet’.
b. Pada setiap cost sheet dicantumkan nomer ordernya.
c. Cost sheet berfungsi hanya untuk mencatat biaya langsung, sedangkan
biaya tidak langsung dicatat pada akuntansi umum.
d. Dalam Job Order cost System biaya overhead pabrik yang dibebankan
berdasarkan biaya overhead yang sudah distandarisasi.

6. Jurnal untuk mencatat pebebanan biaya overhead adalah:


a. Debit: ‘Barang Jadi’, dan Kredit: ‘Overhead Control’
b. Debit: ‘Barang Dalam Proses’, dan Kredit: ‘Overhead Control’
c. Debit: ‘Barang Dalai Proses’, dan Kredit: ‘Overhead Applied’
d. Debit: ‘Barang Jadi’, dan Kredit: ‘Overhead Applied’

7. Biaya Gaji dapat dibebankan ke akun berikut, kecuali…


a. Beban Upah Tak Langsung
b. Beban Administrasi
c. Beban Penjualan
d. Beban lain-lain

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 62
Akuntansi Biaya

8. Dala Job Order Cost System, pencatatan berbagai biaya yang dialokasikan
ke dalam harga pokok produk pesanan akan ditampung kedala akun….
a. Bahan Baku
b. Barang Dalam Proses
c. Barang Jadi
d. Barang Pesanan

Informasi berikut untuk menjawab soal 9 – 15.


PT ABC, sedang mengerjakan pesanan PT Q. Saldo awal Work in process per 1
Januari adalah sebesar Rp.500.000. Selama bulan Januari PT ABC telah
mengeluarkan biaya-biaya berikut:
- Pemakaian bahan baku Rp. 600.000
- Penggunaan upah langsung Rp.200.000
- Overhead pabrik actual Rp.110.000
- Overhead pabrik yang diterapkan Rp.100.000
Selanjutnya, dalam bulan tersebut telah selesai dan diserahkan kepada PT Q
dengan harga jual Rp.2.000.000. Selisih antara biaya overhead pabrik actual dan
yang diterapkan dibebankan pada biaya operasional. Biaya operasional dalam
bulan tersebut (termasuk selish biaya overhead pabrik) Biaya operasional dalam
bulan tersebut adalah Rp.50.000. adalah Rp.50.000.

9. Besarnya biaya produksi pesanan PT Q untuk bulan Januari adalah…..


a. Rp. 1.410.000
b. Rp. 1.400.000
c. Rp. 910.000
d. Rp. 900.000

10. Besarnya Harga Pokok Produksi pesanan PT Q adalah….


a. Rp. 1.410.000
b. Rp. 1.400.000
c. Rp. 910.000
d. Rp. 900.000

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 63
Akuntansi Biaya

11. Besarnya Harga Pokok Penjualan pesanan PT Q adalah….


a. Rp. 1.410.000
b. Rp. 910.000
c. Rp. 900.000
d. Rp. 1.400.000

12. Besarnya laba kotor atas penjualan pesanan PT Q adalah…


a. Rp. 600.000
b. Rp. 590.000
c. Rp. 550.000
d. Rp. 540.000

13. Besarnya laba bersih atas penjualan pesanan PT Q adalah…


a. Rp. 600.000
b. Rp. 590.000
c. Rp. 550.000
d. Rp. 540.000

14. Berdasarkan informasi di atas, mana dari pernyataan di bawah ini yang
benar…
a. PT ABC telah melakukan efisiensi biaya bahan baku.
b. PT ABC telah melakukan efisiensi biaya bahan penolong.
c. PT ABC telah melakukan inefisiensi biaya overhead pabrik.
d. PT ABC telah melakukan efisiensi biaya overhead pabrik.

15. Yang bukan merupakan jenis arus produksi dala process cost system
adalah…
a. Reciprocal flow
b. Sequential flow
c. Parallel flow
d. Selective flow

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 64
Akuntansi Biaya

1.7. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban dengan kunci yang terdapat di bagian belakang modul
ini. Hitung jawaban Anda yang benar. Kemudian gunakan rumus untuk
mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi hak dan kewajiban serta
keberatan dan banding perpajakan.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari
mencapai
91 % s.d 100 % : Amat Baik
81 % s.d. 90,00 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori “Baik”), maka


disarankan mengulangi materi.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 65
Akuntansi Biaya

2. Kegiatan Belajar (KB) 3

KALKULASI BIAYA PROSES


METODE BIAYA RATA-RATA DAN
METODE FIFO

Indikator Keberhasilan :
Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu :
1. Mengkalkulasi biaya proses dengan metode biaya rata-rata.
2.. Mengkalkulasi biaya proses dengan metode FIFO

2.1. Uraian dan Contoh

Pendekatan lain dalam akumulasi biaya produksi ke dalam harga pokok


produksi massa adalah dengan metode Biaya Rata-rata dan metode First In First
Out (FIFO). Dengan metode biaya rata-rata maka nilai Barang Dalam Proses
pada awal periode akan dibebankan pada periode berjalan. Selain itu, bersama
dengan biaya produksi periode yang bersangkutan, dihitung biaya rata-rata per
unit produk. Sedangkan dengan metode FIFO, Barang Dalam Proses pada awal
periode dihitung harga per unitnya. Selain itu unit baru dan biaya tambahan baru
akan dihitung nilainya. Berikut ini disajikan contoh penghitungan harga pokok
produksi massa dengan kedua metode tersebut.

PT. Toyota Astra Motor memproduksi kendaraan melalui tiga tahap yaitu
perakitan, pengujian dan perampungan. Data berikut menunjukkan penyerapan
biaya serta kinerja masing-masing departemen selama bulan Mei 2006.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 66
Akuntansi Biaya

Departemen Perakitan Pengujian Perampungan

Barang Dalam Proses, awal Mei 2006 ½ Upah/FOH 1/3Upah/FOH ¼ Upah/FOH


Unit 4.000 3.000 4.000
Biaya yang diserap: (dalam jutaan rupiah)
Dari departemen sebelumnya -- 5.400 14.400
Departemen yang bersangkutan. : - 2.000 -- --
Bahan
- Upah Langsung 1.240 910 900
- Biaya tak langsung 1.200 80 550

Departemen Perakitan Pengujian Perampungan


Biaya bulan Mei 2006
: - Bahan 19.840 -- --
- Upah Langsung 24.180 34.050 33.140
- Biaya tak langsung 22.580 30.018 19.430
Kuantitas ( dalam unit )
- Barang Dalam Proses, awal Mei 4.000 3.000 4.000
- Transfer dari departemen sebelumnya 40.000 38.000 36.000
- Transfer ke departemen selanjutnya 38.000 36.000 36.000
- Unit selesai yang ditahan 1.000 -- --
Unit dalam proses, akhir Mei 2006 3.000 4.000 3.000
Penyerapan biaya dalam WIP akhir 2/3 Upah/ 1/2 Upah/ 1/3 Upah/
Overhead Overhead Overhead
Unit hilang 2.000 1.000 1.000

Saudara diminta menyajikan Laporan Biaya Produksi dengan metode biaya rata-
rata dan FIFO untuk setiap departemen.

Kalkulasi Biaya Rata-rata Departemen Perakitan.


PT Toyota Astra Motor
Departemen Perakitan
Laporan Biaya Produksi-Kalkulasi Biaya Rata-rata
Bulan Mei 2006
Skedul Kuantitas : (dalam unit )
Unit awal Barang Dalam Proses ( ½ Upah/ FOH) 4.000
Unit baru dalam proses 40.000 44.000
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 38.000
Unit selesai, masih ditahan 1.000
Unit masih Dalam Proses ( semua bahan, 2/3 upah /FOH) 3.000

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 67
Akuntansi Biaya

Unit hilang Dalam Proses 2.000 44.000

Biaya yang dibebankan ke departemen ini (jutaan rupiah) Biaya Biaya Per
Total unit
WIP, awal : Bahan 2.000
Upah 1.240
Overhead Pabrik 1.200
Tambahan Biaya : Bahan 19.840 0,52
Upah langsung 24.180 0,62
Overhead pabrik 22.580 0,58
Jumlah Biaya yang harus dipertanggungjawabkan 71.040 1,72

Pertanggungjawaban Biaya (jutaan rupiah)


Ditransfer ke departemen berikutnya (38.000 x 1,72 jt) 65.360
Unit selesai – ditahan : 1.000 x 1,72 jt 1.720
Barang Dalam Proses – akhir Mei 2006
Bahan : 3.000 x 0,52 jt,- 1.560
Upah : 3.000 x 2/3 x 0,62 jt,- 1.240
Ovh. Pabrik : 3.000 x 2/3 x 0,58 jt,- 1.160 5.680
Jumlah Biaya yang dipertanggungjawabkan 71.040
Perhitungan tambahan:
Produksi Ekuivalen:
Bahan = 38.000 + 1.000 + 3.000 = 42.000 unit
Upah dan FOH =38.00 + 1.000 + (2/3 x 3.000) = 41.000
Biaya per unit
Bahan = (2.000 + 19.840) jt/ 42.000 = 0,52 jt / unit
Upah = ( 1.240 + 24.180 ) jt / 41.000 = 0,62 jt / unit
FOH = (1.200 + 22.580) jt / 41.000 = 0,58 jt /unit
Kalkulasi Biaya Rata-rata Departemen Pengujian.
PT Toyota Astra Motor
Departemen Pengujian
Laporan Biaya Produksi-Kalkulasi Biaya Rata-rata
Bulan Mei 2006
Skedul Kuantitas : (dalam unit )
Unit awal Barang Dalam Proses ( 1/3 Upah/ FOH) 3.000
Unit yang diterima dari dept Perakitan 38.000 41.000
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 36.000
Unit masih Dalam Proses ( semua bahan, 1/2 upah 4.000
/FOH)
Unit hilang Dalam Proses 1.000 41.000

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 68
Akuntansi Biaya

Biaya yang dibebankan ke departemen ini (jutaan Biaya Biaya Per


rupiah) Total unit
Biaya dari departemen Perakitan
Barang Dalam proses ( 3.000 unit ) 5.400 1,800
Transfer bulan ini ( 38.000 unit) 65.360 1,720
Jumlah 41.000 unit 70.760
Penyesuaian dari departemen Perakitan atas unit
hilang 1,769
70.760 / ( 41.000 – 1.000 unit hilang)
Biaya tambahan departemen ini
WIP, awal : Upah 910
Overhead Pabrik 800
Tambahan Biaya : Upah Langsung 34.050 0,920
Overhead Pabrik 30.018 0,811
Jumlah biaya tambahan 65.778 1,731
Jumlah Biaya yang harus dipertanggungjawabkan 136.538 3,500

Pertanggungjawaban Biaya (jutaan rupiah)


Ditransfer ke departemen berikutnya (36.000 x 3,5 jt) 126.000
Barang Dalam Proses – akhir Mei 2006
Biaya departemen Perakitan – disesuaikan 7.076
(4.000 x 1,769 jt,-)
Upah : 4.000 x ½ x 0,920jt,- 1.840
Ovh. Pabrik : 4.000 x ½ x 0,811 jt,- 1.622 10.538
Jumlah Biaya yang dipertanggungjawabkan 136.538

Perhitungan tambahan:
Produksi Ekuivalen:
Upah dan FOH =36.000 + 4.000/2 = 38.000 unit
Biaya per unit
Dari departemen Perakitan = 70.760 / 40.000 = 1,726 jt / unit
Upah = (910 + 34.050) jt / 38.000 = 0,920 jt / unit
FOH = (800 + 30.018) jt / 38.000 = 0,811 jt /unit

Kalkulasi Biaya Rata-rata Departemen Perampungan


PT Toyota Astra MOtor
Departemen Perampungan
Laporan Biaya Produksi-Kalkulasi Biaya Rata-rata
Bulan Mei 2006
Skedul Kuantitas : (dalam unit )
Unit awal Barang Dalam Proses ( ¼ Upah/ FOH) 4.000
Unit yang diterima dari dept Pengujian 36.000 40.000
Unit yang ditransfer ke gudang barang jadi 36.000
Unit masih Dalam Proses ( semua bahan, 1/3 upah /FOH) 3.000
Unit hilang Dalam Proses 1.000 40.000

Biaya yang dibebankan ke departemen ini (jutaan rupiah) Biaya Biaya Per

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 69
Akuntansi Biaya

Total unit
Biaya dari departemen Pengujian
Barang Dalam proses ( 4.000 unit ) 14.400 3,60
Transfer bulan ini ( 36.000 unit) 126.000 3,50
Jumlah 40.000 unit 140.400
Penyesuaian dari departemen Pengujian atas unit hilang
140.400 / ( 40.000 – 1.000 unit hilang) 3,60
Biaya tambahan departemen ini
WIP, awal : Upah 900
Overhead Pabrik 550
Tambahan Biaya : Upah Langsung 33.140 0,92
Overhead Pabrik 19.430 0,54
Jumlah biaya tambahan 54.020 1,46
Jumlah Biaya yang harus dipertanggungjawabkan 194.420 5,06

Pertanggungjawaban Biaya (jutaan rupiah)


Ditransfer ke departemen berikutnya (36.000 x 5,06jt) 182.160
Barang Dalam Proses – akhir Mei 2006
Biaya departemen Pengujian – disesuaikan 10.800
(3.000 x 3,60 jt)
Upah : 3.000 x 1/3 x 0,92 jt,- 920
Ovh. Pabrik : 3.000 x 1/3 x 0,54 jt,- 540 12.260
Jumlah Biaya yang dipertanggungjawabkan 194.420

Perhitungan tambahan:
Produksi Ekuivalen:
Upah dan FOH =36.000 + 3.000/3 = 37.000 unit
Biaya per unit
Dari departemen Pengujian = 140.400 / 40.000 = 3,51 jt / unit
Upah = (900 + 33.140) jt / 37.000 = 0,92 jt / unit
FOH = (550 + 19.430) jt / 37.000 = 0,54jt /unit

Kalkulasi Biaya FIFO Departemen Perakitan


PT Toyota Astra Motor
Departemen Perakitan
Laporan Biaya Produksi-Kalkulasi Biaya FIFO
Bulan Mei 2006
Skedul Kuantitas : (dalam unit )
Unit awal Barang Dalam Proses ( ½ Upah/ FOH) 4.000
Unit baru dalam proses 40.000 44.000
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 38.000
Unit selesai, masih ditahan 1.000
Unit masih Dalam Proses ( semua bahan, 2/3 upah /FOH) 3.000
Unit hilang Dalam Proses 2.000 44.000
Biaya yang dibebankan ke dept ini (jutaan rupiah) Biaya Biaya Per
Total unit
Barang Dalam Proses (WIP) , awal 4.440

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 70
Akuntansi Biaya

Tambahan Biaya : Bahan 19.840 0,522


Upah langsung 24.180 0,620
Overhead pabrik 22.580 0,579
Jumlah biaya tambahan 66.600 1,721
Jumlah Biaya yang harus dipertanggungjawabkan 71.040
Pertanggungjawaban Biaya (jutaan rupiah)
Ditransfer ke departemen berikutnya :
1). Dari persediaan awal
Nilai persediaan : 4.440
Biaya Upah : 4.000 x ½ x 0,620 : 1.240
Biaya FOH : 4.000 x ½ x 0,579 : 1.158 6.838
2). Dari produksi periode berjalan =
71.040jt - ( 6.838 + 5.685 ) jt 58.517 65.355
Barang Dalam Proses – akhir Mei 2006
Bahan : 3.000 x 0,522 jt,- 1.566
Upah : 3.000 x 2/3 x 0,620 jt,- 1.240
Ovh. Pabrik : 3.000 x 2/3 x 0,579 jt,- 1.158
Unit selesai- masih ditahan 1.000 x 1,721 jt 1.721 5.685
Jumlah Biaya yang dipertanggungjawabkan 71.040
Perhitungan tambahan:
(dalam unit)
Produksi Ekuivalen: Bahan Upah/FOH
Ditransfer ke departemen Pengujian 38.000 38.000
(-) Persediaan awal ( semua unit) (4.000) (4.000)
Dimulai dan diselesaikan bulan ini 34.000 34.000
(+) Persediaan awal ( dikerjakan bulan ini ) 0 2.000
(+) Persediaan akhir : yang diselesaikan – ditahan 1.000 1.000
yang masih dalam proses 3.000 2.000
38.000 39.000
Biaya per unit:
Bahan : 19.840 jt,- / 38.000 = 0,522 jt,-
Upah langsung : 24.180 jt,- / 39.000 = 0,620 jt,-
Overhead pabrik : 22.580 jt,- / 39.000 = 0,579 jt,-

Kalkulasi Biaya FIFO Departemen Pengujian


PT Toyota Astra Motor
Departemen Pengujian
Laporan Biaya Produksi-Kalkulasi Biaya FIFO
Bulan Mei 2006
Skedul Kuantitas : (dalam unit )
Unit awal Barang Dalam Proses ( 1/3 Upah/ FOH) 3.000
Unit yang diterima dari departemen Perakitan 38.000 41.000
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 36.000
Unit masih Dalam Proses ( semua bahan, ½ upah /FOH) 4.000
Unit hilang Dalam Proses 1.000 41.000
Biaya yang dibebankan ke departemen ini (jutaan rupiah) Biaya Biaya Per
Total unit
Barang Dalam Proses (WIP) , awal 7.110

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 71
Akuntansi Biaya

Biaya dari departemen Perakitan 65.355 1,721


Biaya departemen Perakitan yang disesuaikan
65.355 / ( 38.000 - 1.000 unit hilang) 1,766
Tambahan Biaya: Upah langsung 34.050 0,920
Overhead pabrik 30.018 0,811
Jumlah biaya tambahan 64.068 1,731
Jumlah Biaya yang harus dipertanggungjawabkan 136.533 3,497
Pertanggungjawaban Biaya (jutaan rupiah)
Ditransfer ke departemen berikutnya :
1).Dari persediaan awal
Nilai persediaan : 7.110 jt
Tambahan biaya:
Biaya Upah : 3.000 x 2/3 x 0,920 jt 1.840 jt
Biaya FOH : 3.000 x 2/3 x 0,811 jt : 1.622 jt 10.572
2). Dari produksi periode berjalan , unit yang dimulai dan
diselesaikan = 136.533 jt – ( 10.572 + 10.526) jt 115.435 126.007

Barang Dalam Proses – akhir Mei 2006


Biaya dari departemen Perakitan – disesuaikan 4.000 x 1,766 jt 7.064
Upah : 4.000 x ½ x 0,920 jt,- 1.840
Ovh. Pabrik : 4.000 x ½ x 0,579 jt,- 1.622 10.526
Jumlah Biaya yang dipertanggungjawabkan 136.533
Perhitungan tambahan:
(dalam unit)
Produksi Ekuivalen: Bahan Upah/FOH
Ditransfer ke gudang Departemen Perampungan 36.000
(-) Persediaan awal ( semua unit) (3.000)
Dimulai dan diselesaikan bulan ini 33.000
(+) Persediaan awal ( dikerjakan bulan ini) 2.000
(+) Persediaan akhir : yang dikerjakan bulan ini) 2.000
37.000
Biaya per unit:
Upah langsung : 34.050 jt,- / 37.000 = 0,920 jt,-
Overhead pabrik : 30.018 jt,- / 37.000 = 0,811 jt,-

Kalkulasi Biaya FIFO Departemen Perampungan


PT Toyota Astra
Departemen Perampungan
Laporan Biaya Produksi-Kalkulasi Biaya FIFO
Bulan Mei 2006
Skedul Kuantitas : (dalam unit )
Unit awal Barang Dalam Proses ( ¼ Upah/ FOH) 4.000
Unit yang diterima dari departemen Pengujian 36.000 40.000
Unit yang ditransfer ke gudang Barang Jadi 36.000
Unit masih Dalam Proses ( semua bahan, 1/3 Upah /FOH) 3.000
Unit hilang Dalam Proses 1.000 4.000
Biaya yang dibebankan ke departemen ini (jutaan rupiah) Biaya Total Biaya Per unit
Barang Dalam Proses (WIP) , awal 15.850
Biaya dari departemen Pengujian 126.007 3,500

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 72
Akuntansi Biaya

Biaya departemen Perakitan yang disesuaikan


126.007 / ( 36.000 - 1.000 unit hilang) 3,600
Tambahan Biaya: Upah langsung 33.140 0,921
Overhead pabrik 19.430 0,540
Jumlah biaya tambahan 52.570 1,461
Jumlah Biaya yang harus dipertanggungjawabkan 194.427 5,061
Pertanggungjawaban Biaya (jutaan rupiah)
Ditransfer ke departemen berikutnya :
1).Dari persediaan awal
Nilai persediaan : 15.850 jt
Tambahan biaya:
Biaya Upah : 4.000 x ¾ x 0,921 jt 2.763 jt
Biaya FOH : 4.000 x ¾ x 0,540 jt : 1.620 jt 20.233
2). Dari produksi periode berjalan , unit yang dimulai dan
diselesaikan = 194.427 jt – ( 20.233 + 12.261) jt 161.933 182.166

Barang Dalam Proses – akhir Mei 2006:


Barang Dalam Proses – akhir Mei 2006
Biaya dari departemen Pengujian – disesuaikan
3.000 x 3,600 jt 10.800
Upah : 3.000 x 1/3 x 0,921 jt,- 921
Ovh. Pabrik : 3.000 x 1/3 x 0,540 jt,- 540 12.261
Jumlah Biaya yang dipertanggungjawabkan 194.427
Perhitungan tambahan:
(dalam unit)
Produksi Ekuivalen: Bahan Upah/FOH
Ditransfer ke gudang Barang Jadi 36.000
(-) Persediaan awal ( semua unit) (4.000)
Dimulai dan diselesaikan bulan ini 32.000
(+) Persediaan awal ( dikerjakan bulan ini) 3.000
(+) Persediaan akhir : yang dikerjakan bulan ini) 1.000
36.000
Biaya per unit:
Upah langsung : 33.140 jt,- / 36.000 = 0,921 jt,-
Overhead pabrik : 19.430 jt,- / 36.000 = 0,540 jt,-

2.2. Latihan 3
Soal 1. ( metode rata-rata)
Pada waktu melakukan pemeriksaan terhadap kebenaran kalkulasi biaya
persediaan barang dalam proses dan barang jadi yang terdapat dalam
pembukuan PT. Cemani, auditor DJBC menemukan data sebagai berikut:
Barang jadi, 200.000 unit Rp 1.009.800.000,-
Barang dalam proses, 300.000 unit
Rp
(50% biaya upah dan over-head pabrik)
660.980.000,-

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 73
Akuntansi Biaya

Perusahaan tersebut menggunakan kalkulasi biaya metode rata-rata. Bahan


dimasukkan ke dalam produksi pada awal proses dan Overhead pabrik
diterapkan pada tarif 60% dari biaya upah langsung. Catatan nilai persediaan PT.
Cemani pada awal 2006 menunjukkan tidak terdapat barang jadi. Berikut ini
tambahan informasi untuk tahun 2006.
Biaya (ribuan rupiah)
Unit Bahan Upah
Barang dalam proses, 1 Januari 2006 200.000 200.000,- 315.000,-
( 80% upah dan overhead pabrik)
Unit baru dalam proses: 1.000.000
Biaya Bahan 1.300.000,-
Upah Langsung 1.995.000,-
Unit selesai 900.000
• Sajikanlah Laporan Biaya Produksi PT. Cemani untuk tahun 2006

Soal 2. (metode rata-rata)


Berikut ini informasi yang berkaitan dengan Departemen B PT. Angkasa:
Unit dalam proses persediaan awal 5.000
Unit yang diterima dari departemen A 35.000
Unit yang diselesaikan 37.000
Unit dalam proses persediaan akhir 3.000
Biaya (dalam rupiah)
Diterima Bahan Konversi Total
Persediaan awal 2.900.000 -- 3.400.000 6.300.000
Unit yang diterima 17.500.000 25.500.000 15.000.000 58.000.000
20.400.000 25.500.000 18.400.000 64.300.000

Tingkat penyelesaian WIP awal 20% biaya konversi dan persediaan akhir 40%
biaya konversi. Semua bahan ditambahkan pada akhir proses. Perusahaan
menggunakan kalkulasi dengan metode rata-rata.
• Sajikanlah Laporan Biaya Produksi Departemen B!

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 74
Akuntansi Biaya

Soal 3. (metode rata-rata)


PT. Indah Kiat menggunakan metode kalkulasi biaya rata-rata untuk menghitung
biaya produksinya. Perusahaan memproduksi barangnya melalui tiga
depeartemen, yaitu Pencetakan, Perakitan, dan Perampungan. Berikut ini
informasi tentang kegiatan produksi Departemen Perakitan:
Barang dalam proses 1 Juni 2006 : 2.000 unit, terdiri dari:
Jumlah Penyelesaian
Diterima dari Departemen Pencetakan 32.000.000,-
Biaya tambahan di Departemen Perakitan:
Bahan Langsung 20.000.000,- 100%
Upah Langsung 7.200.000,- 60%
Overhead Pabrik 5.500.000,- 50%

Selama bulan Juni 2006, berlangsung kegiatan sebagai berikut:


a Sebanyak 10.000 unit diterima dari Departemen Pencetakan, dengan nilai
Rp 160.000.000,-.
b Biaya sebesar Rp 150.000.000,- di Departemen Perakitan, terdiri dari:
Bahan Langsung Rp 96.000.000,-; Upah langsung Rp 36.000.000,-; dan
Overhead pabrik sebesar 18.000.000,-.
c Sebanyak 8.000 unit telah diselesaikan dan ditransfer ke Departemen
Perampungan.
Pada tanggal 30 Juni terdapat 4.000 unit masih dalam proses dengan tingkat
penyelesaian:
Bahan Langsung 90%, Upah langsung 70% dan Overhead pabrik 35%.
• Sajikan Laporan Biaya Produksi Departemen Perakitan untuk bulan Juni
2006!

Soal 4 (metode rata-rata)


PT. Anggada menggunakan metode kalkulasi biaya rata-rata untuk menghitung
biaya produksinya. Semua kerusakan yang terjadi di Departemen II adalah
normal dan dapat diterapkan di semua departemen produksi. Berikut ini informasi
yang berkaitan dengan Departemen II selama bulan Agustus 2007:

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 75
Akuntansi Biaya

Persd. Awal Realisasi Biaya


Biaya yang ditransfer dari departemen I 12.000.000,- 89.200.000,-
Biaya konversi 6.000.000,- 60.400.000,-
Persediaan awal di Departemen II (2/3 biaya konversi) adalah 1.200 unit dan
sebanyak 8.000 unit ditransfer dari Departemen I. Persediaan akhir adalah 1.000
unit (50% biaya konversi) dan sebanyak 7.800 unit ditransfer ke Departemen III.
• Sajikanlah Laporan Biaya Produksi Departemen II untuk bulan Agustus 2007!

Soal 5 (metode rata-rata)


Sebuah produk diolah di sebuah departemen produksi pada PT. Cahaya Logam.
Bahan di tambahkan pada awal proses. Penyusutan sebanyak 10% s/d 14%
semua terjadi di awal proses dan dianggap normal, sedangkan biaya konversi
terus menerus ditambahkan sepanjang proses. Informasi berikut ini berkaitan
dengan kegiatan produksi selama bulan Agustus 2007:
Barang dalam proses, awal Agustus 2007 : 4.000 kg ( 75% selesai):
Bahan baku 22.800.000,-
Upah langsung 24.650.000,-
Overhead Pabrik 21.860.000,-
Biaya tambahan bulan Agustus 2007
Bahan baku (arus FIFO):
Persediaan, 1 Agustus 2007, 2.000 kg 10.000.000,-
Pembelian 10 Agustus 2007, 10.000 kg 51.000.000,-
Pembelian 19 Agustus 2007, 10.000 kg 51.500.000,-
Pengeluaran untuk produksi bulan Agustus, 16.000 kg
Upah langsung 103.350.000,-
Overhead Pabrik 93.340.000,-
Ditransfer ke luar 15.000 kg
Barang dalam proses akhir Agustus 3.000 kg (33,33% selesai)
• Sajikanlah Laporan Biaya Produksi untuk bulan Agustus 2007!

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 76
Akuntansi Biaya

Soal 6
PT. Agni memproduksi bahan peledak melalui tiga departemen. Pada awal
Agustus 2007 persediaan Barang Dalam Proses di Departemen II adalah
sebagai berikut:
Biaya dari Departemen I Rp 13.130.000,-
Bahan baku Departemen II 0
Upah langsung Departemen II 500.000,-
Biaya Overhad pabrik Departemen II 50.000,-
Unit dalam proses 5.000 unit
Biaya di Departemen II selama bulan Agustus 2007:
Upah langsung 14.200.000,-
Biaya Overhad pabrik 3.450.000,-
Transaksi selama bulan Agustus 2007 sebagai berikut:
- Diterima 75.000 unit dari departemen I, dengan biaya per unit Rp2.641,-
per unit.
- Pada Departemen II diselesaikan 80.000 unit, sebanyak 60.000 unit
dipindahkan ke Departemen III, dan 8.000 unit masih ditahan. Sebanyak
4.000 unit masih dalam proses, dengan menyerap biaya konversi 50%,
selebihnya hilang dalam proses.
- Sajikan Laporan Biaya Produksi Departemen II untuk bulan Agustus
2007, dengan menggunakan metode rata-rata.

Soal 7. (metode FIFO)


PT. Inovasi Motor menggeluti pembuatan motor listrik bertipe standar. Biaya
pabrikasi untuk bulan Mei 2007 berjumlah Rp 66.000.000,-. Berikut ini data
persediaan PT. Inovasi Motor pada awal bulan Mei:
Motor yang sedang diproduksi 2.500 unit ( 80% selesai ) 32.000.000,-
Motor yang dimiliki dalam bentuk barang jadi ( 1.200 unit) 19.200.000,-
Selama bulan ini, sebanyak 5.500 unit motor selesai dan ditransfer ke gudang
barang jadi.
Pada akhir bulan Mei, data persediaan sebagai berikut:
Motor yang sedang diproduksi ( 50% selesai ) 1.000 unit
Motor yang dimiliki dalam bentuk barang jadi 1.400 unit

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 77
Akuntansi Biaya

Perusahaan menggunakan metode kalkulasi biaya FIFO untuk produksi dan


penjualan barang. Dalam menetapkan nilai barang jadi, biaya per unit untuk
motor yang sudah selesai diselesaikan dari persediaan awal, dipisahkan dari
biaya per unit untuk motor yang dimulai dan diselesaikan selama bulan tersebut.
Sajikan Laporan Biaya Produksi dan Harga Pokok Penjualan untuk bulan Mei
2007!

Soal 8. (metode FIFO)


PT. Dunia Plastic memproduksi kemasan anti pecah untuk kosmetik melalui tiga
departemen yaitu Pencampuran, Pencetakan, dan Penyelesaian. Data pada
Departemen Pencetakan disajikan sebagai berikut:
Persediaan WIP: 1 Juli 2007 ( 50% Bahan, Biaya konversi) 1.000 buah
31 Juli 2007(75 % Bahan, Biaya konversi) 2.800 buah
Juli 2007, transfer ke Departemen Penyelesaian 20.000 buah
Unit hilang dalam proses 800 buah
Perusahaan menggunakan metode kalkulasi biaya FIFO. Data biaya yang
tersedia sebagai berikut:
Persediaan WIP: 1 Juli 2007 6.000.000,-
Biaya bulan Juli 2007: Dari Departemen Pencampuran 97.632.000,-
Bahan baku 16.200.000,-
Upah Langsung 26.568.000,-
Overhead pabrik 19.872.000,-
• Sajikan Laporan Biaya Produksi untuk Departemen Perakitan!

Soal 9. (metode FIFO)


PT. Cemara menggunakan kalkulasi biaya proses dengan metode FIFO. Semua
kerusakan yang terjadi di Departemen II selama bulan Juni adalah normal dan
dianggap berasal dari depertemen sebelumnya. Data biaya Departemen II untuk
bulan Juni 2007 adalah sebagai berikut:
Persediaan Tambahan
awal Biaya
Biaya yang ditransfer dari Dept I 19.200.000,- 91.200.000,-
Biaya konversi 6.000.000,- 60.000.000,-
Persediaan awal WIP, ( 2/3 biaya konversi ) 1.200 unit

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 78
Akuntansi Biaya

Persediaan akhir WIP, ( ½ biaya konversi ) 1.000 unit


Transfer dari Departemen I 8.000 unit
Ditransfer ke Departemen III 7.800 unit
Sajikan Laporan Biaya Produksi Departemen II untuk bulan Juni 2007!

Soal 10. ( metode FIFO)


PT. Jamu Sido Muncul memproduksi Jamu Sehat Lelaki dengan proses produksi
melalui departemen yaitu Peramuan, Penggandaan, dan Pengepakan. Kalkulasi
biaya rata-rata digunakan pada dua departemen pertama, sedangkan untuk
departemen Pengepakan dipakai kalkulasi biaya FIFO. Berikut ini data pada
bulan September 2007:
Departemen Peramuan Penggandaan Pengepakan
Data produksi: (dalam kg)
Unit awal dalam proses 1.000 500 500
(1/2 bahan/
biaya konvrs)
Unit baru dalam proses 15.000
Unit diterima dari
departemen sebelumnya - 12.500 11.500
Unit ditransfer ke
departemen berikutnya 12.500 11.500
Unit ditransfer ke barang
jadi 10.400
Unit hilang 500 - 1.000
Unit dalam proses ( akhir
bulan ) 3.000 1.500 600
100% bahan 2/3 biaya 1/6 biaya
½ biaya konv konv
konv
Data Biaya:
WIP : Biaya dari departemen -- 650.000,- 1.500.000,-
sebelumnya
Bahan baku 980.000,- -- 30.000,-
Upah Langsung 230.000,- 175.000,- 65.000,-
Overhead Pabrik 400.000,- 100.000,- 50.000,-
Biaya tambahan bulan September 2007:
Bahan baku 15.020.000.- -- 615.000,-
Upah Langsung 5.570.000,- 6.700.000,- 1.435.00,-
Overhead Pabrik 8.300.000,- 4.275.000,- 1.230.000,-
Sajikanlah Laporan Biaya Produksi, tanpa skedul kuantitas!

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 79
Akuntansi Biaya

2.3. Rangkuman

Terdapat dua pendekatan dalam akumulasi biaya produksi massa (process


costing) yaitu Metode Biaya Rata-rata dan Metode First in First Out (FIFO). Pada
metode biaya rata-rata, nilai barang dalam proses awal periode dibebankan pada
periode berjalan dan bersama biaya yang terjadi pada periode tersebut, dihitung
rata-rata biaya per unit produk. Pada metode FIFO, barang dalam proses awal
periode dihitung biaya per unitnya, sedangkan unit baru serta biaya tambahan
untuk unit baru tersebut akan dihitung biaya produk per unit secara terpisah.
Keduanya dijumlahkan sebagai nilai yang akan dilimpahkan ke departemen
selanjutnya atau ke gudang barang jadi.

2.4. Test formatif - 3


Lingkarilah jawaban yang Saudara anggap benar dari alternatif jawaban yang
tersedia di bawah ini :
1. Metode akumulasi biaya produksi ke dalam harga pokok produksi massa
dimana nilai ’Barang dalam Proses’ awal periode akan dibebankan pada
periode berjalan, kemudian bersama-sama dengan biaya periode
bersangkutan dihitung biaya per unit produk disebut metode:
a. LIFO
b. FIFO
c. Average
d. COMWIL

2. Metode akumulasi biaya produksi ke dalam harga pokok produksi massa


dimana nilai ’Barang dalam Proses’ awal dihitung biaya per unitnya,
kemudian ditabahkan dengan biaya unit baru dan biaya tambahan baru yang
dihitung berdasarkan equivalen unitnya guna mendapatkan harga per unit,
dan selanjutnya dihitung nilai transfer ke departeen berikutnya disebut
metode:
a. LIFO
b. FIFO
c. Average
d. COMWIL

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 80
Akuntansi Biaya

Informasi berikut untuk menjawab soal 3 – 10.


Data kuantitas persediaan dalam departemen B adalah sebagai berikut:
- Barang dalam proses awal Juli 2010......... 2.000 unit (1/2 Upah/FOH)
- Transfer dari departemen sebelumnya ...... 41.000 unit
- Transfer ke departemen selanjutnya .........37.000 unit
- Unit selesai yang ditahn ........................ 1.000 unit
- Unit dalam proses akhir Juli 2010..... 3.000 unit (Semua Bahan, 2/3
Upah/FOH)
Barang dalam proses awal Juli 2010 menyerap biaya bahan, upah langsung dan
overhead pabrik masing-masing Rp. 3.000.000, Rp.2.000.000, dan
Rp.1.000.000. Selain itu, tambahan biaya bahan, upah langsung dan overhead
pabrik selama bulan Juli di Departemen B masing-masing sebesar Rp.
38.000.000, Rp.20.000.000, dan Rp.15.000.000
3. Unit barang yang hilang adalah.......
a. 1.000 unit
b. 2.000 unit
c. 3.000 unit
d. 4.000 unit

4. Unit equivalen untuk bahan bila digunakan metode Average adalah...


a. 41.000 unit
b. 40.000 unit
c. 38.000 unit
d. 39.000 unit

5. Unit equivalen untuk bahan bila digunakan metode FIFO adalah...


a. 41.000 unit
b. 40.000 unit
c. 38.000 unit
d. 39.000 unit
6. Unit equivalen untuk Upah/FOH dengan metode rata-rata
a. 41.000 unit
b. 40.000 unit
c. 38.000 unit
d. 39.000 unit

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 81
Akuntansi Biaya

7. Unit equivalen untuk Upah/FOH dengan metode FIFO


a. 40.000 unit
b. 38.000 unit
c. 41.000 unit
d. 39.000 unit

8. Biaya bahan per unit berdasarkan produk equivalen dengan menggunakan


metode average adalah....
a. Rp. 1.100
b. Rp. 1.200
c. Rp. 1.050
d. Rp. 1.000

9. Biaya Upah per unit berdasarkan produk equivalen dengan menggunakan


metode Average adalah....
a. Rp. 1.000
b. Rp. 400
c. Rp. 550
d. Rp. 1.000

10. Nilai yang ditransfer ke Departemen berikutnya equivalen dengan


menggunakan metode average adalah....
a. Rp. 79.000.000
b. Rp. 73.000.000
c. Rp. 72.150.000
d. Rp. 71.250.000

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 82
Akuntansi Biaya

2.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut :

Cocokkan hasil jawaban dengan kunci yang terdapat di bagian belakang modul
ini. Hitung jawaban Anda yang benar. Kemudian gunakan rumus untuk
mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi hak dan kewajiban serta
keberatan dan banding perpajakan.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari
mencapai
91 % s.d 100 % : Amat Baik
81 % s.d. 90,00 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori “Baik”), maka


disarankan mengulangi materi.
***

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 83
Akuntansi Biaya

3. Kegiatan Belajar (KB) 4

SISTEM BIAYA STANDAR


Indikator Keberhasilan :
Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu :
1.Menganalisis penyimpangan biaya standar
2. Melakukan akuntansi biaya standar

3.1. Uraian dan Contoh


Anton, manajer produksi PT. Dunia Garment memperhatikan Laporan
Biaya Produksi pada bulan April 2009. Ia tidak mengerti mengapa biaya produksi
selama tiga bulan sebelumnya terus meningkat padahal jumlah produksi relatif
sama. Sampai bulan keempat, ia belum tahu faktor apa yang menyebabkan
kejadian tersebut dan bagaimana ia harus mengatasinya. Anton mengetahui
bahwa biaya bahan baku, upah langsung, dan overhead pabrik telah terjadi
peningkatan, namun ia belum menemukan penyebabnya. Kondisi tersebut telah
menyebabkan Anton tidak tahu dari mana ia akan mengendalikannya.

Apabila kita amati kejadian di atas, maka kekurangan Anton adalah dia
tidak mempunyai tolok ukur untuk biaya produksi. Tolok ukur sebagai alat
pengendali yang ia perlukan adalah biaya standar. Dengan biaya standar, Anton
dapat mengukur jumlah biaya produksi yang seharusnya. Apabila terjadi
perbedaan dengan biaya produksi sesungguhnya, Anton dapat menguraikan
faktor-faktor yang menjadi penyebabnya (misalnya harga bahan, pemakaian
bahan, tarif upah, jam kerja atau kapasitas). Dengan demikian, ia dapat segera
melakukan langkah atau tindakan pengendalian terhadap penyebab tersebut.

Selain untuk memperoleh perhitungan harga pokok produksi yang akurat


dan benar, tujuan akuntansi biaya adalah untuk pengendalian terhadap biaya
produksi. Dalam pembicaraan job order costing, sudah dibicarakan adanya biaya
overhead pabrik yang diterapkan (applied overhead), yaitu jumlah biaya
overhead pabrik yang dibebankan ke dalam harga pokok produksi, selain biaya
overhead pabrik yang sesungguhnya. Cara ini merupakan usaha manajemen

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 84
Akuntansi Biaya

mengestimasikan jumlah yang ideal (efisien) untuk pembebanan biaya overhead


pabrik ke dalam biaya produksi. Timbulnya selisih antara biaya yang dibebankan
dengan biaya overhead pabrik sesungguhnya (Pengendali Overhead Pabrik)
dijadikan sebagai dasar analisis kinerja manajemen.

Sistem biaya standar menerapkan konsep tersebut di atas secara lebih


luas, dimana jumlah biaya (beban) untuk tiap unit produksi (yang meliputi bahan,
upah langsung, maupun overhead pabrik) ditetapkan terlebih dulu.
Penyimpangan (variance) yang timbul antara biaya yang telah distandarkan
dengan biaya sesungguhnya akan dianalisis secara lebih terinci dengan
penyebabnya. Manajemen akan melakukan tindakan pencegahan atau
pengendalian terhadap berbagai penyebab terjadinya penyimpangan yang
bersifat negatif. Berikut ini beberapa aspek yang dapat menyebabkan
penyimpangan pada setiap unsur biaya produksi.
• Biaya Bahan, penyimpangan yang timbul antara lain karena:
- Perbedaan harga bahan antara yang ditetapkan dengan harga bahan
sesungguhnya;
- Perbedaan antara kuantitas pemakaian bahan yang ditetapkan dengan
kuantitas pemakaian sesungguhnya;
- Perbedaan harga pemakaian bahan, yaitu antara harga yang ditetapkan
dengan harga sesungguhnya, atas penggunaan bahan sesungguhnya.
• Biaya Upah Langsung, penyimpangan yang timbul antara lain karena:
- Perbedaan tarif upah yang ditetapkan dengan tarif upah sesungguhnya;
- Perbedaan jam kerja yang ditetapkan dengan jam kerja sesungguhnya.
• Biaya Overhead Pabrik, penyimpangan yang timbul antara lain karena :
- Perbedaan antara jam kerja mesin yang ditetapkan dengan jam kerja
mesin sesungguhnya (varians efisiensi);
- Perbedaan antara kapasitas normal mesin dengan jam kerja mesin
sesungguhnya (varians kapasitas);
- Perbedaan antara tarif standar overhead pabrik dengan tarif
sesungguhnya, atas kegiatan aktual.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 85
Akuntansi Biaya

A. Analisa Penyimpangan Biaya Standar

Pengendalian manajemen melalui penetapan biaya standar memerlukan


suatu analisis lebih lanjut. Analisis lebih lanjut perlu dilakukan karena adanya
kemungkinan penyimpangan diakibatkan oleh perbedaan antara biaya yang
dibebankan dengan biaya yang benar-benar terjadi cukup material. Perbedaan
tersebut akan diidentifikasi dan dianalisis sebagai varians biaya standar.
Penyimpangan dikatakan menguntungkan apabila biaya standar lebih besar
daripada aktualnya, dan dikatakan tidak menguntungkan apabila terjadi
sebaliknya. Pengendalian manajemen dikatakan berhasil apabila penyimpangan
tersebut dapat diketahui sedini mungkin. Lebih jauh, analisis yang dilakukan
bukan hanya berorientasi pada angka varians, tetapi manajemen juga harus
mampu menentukan sebab-sebab terjadinya penyimpangan tersebut.

Penyimpangan pada harga bahan dilakukan dengan mengukur naik


turunnya harga bahan dan pengaruhnya terhadap laba perusahaan. Kemudian,
standar kuantitas bahan dapat dikembangkan dari spesifikasi bahan yang
analisis secara cermat atas barang yang akan dihasilkan, dan kemudian
dikaitkan dengan pemakaian bahan. Penyimpangan harga bahan ini, dilihat dari
aspek pengendalian dapat menunjukkan kinerja Bagian Pembelian.

Berkaitan dengan Upah Langsung, terdapat dua standar yang biasa


digunakan yaitu Standar Tarif upah dan Standar Efisiensi. Standar Tarif Upah
dapat ditentukan melalui kesepakatan antara pegawai dengan Bagian Personalia
atau peraturan yang berlaku, sedangkan Standar Efisiensi dapat dikembangkan
melalui suatu kajian yang dikenal dengan time and motion study.

Berkaitan Overhead Pabrik, dasar penggunaan tarif standar mirip dengan


tarif yang diterapkan lebih dulu (applied overhead) atau dapat juga melalui
penyusunan anggaran di Departemen Produksi. Guna menentukan biaya
standar, jumlah biaya overhead pabrik yang dianggarkan dalam suatu
departemen akan dibagi dengan dasar alokasi. Dasar alokasi yang dipakai
antara lain adalah jam kerja langsung, jam pemakaian mesin, biaya bahan, atau
jumlah unit produk.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 86
Akuntansi Biaya

Berikut ini ilustrasi penggunaan sistem biaya standar yang diaplikasikan


pada PT Rajawali. Selama bulan Agustus 2008, departemen produksi
menyajikan informasi sebagai berikut:
• Bahan Baku:
- setiap unit produk memerlukan 6,5 kg bahan A dengan harga standar Rp.
25.000,- per kg.
- selama bulan ini telah dilakukan pembelian bahan A sejumlah 5.000 kg
dengan harga Rp. 24.700,- per kg.
• Upah Langsung:
- jam kerja standar yang diperlukan untuk memproduksi satu unit barang A
adalah 6 jam dengan tarif per jam Rp. 9.000,-.
• Overhead Pabrik:
- berdasarkan anggaran fleksibel departemen ini, pada kapasitas normal
4.000 jam diketahui:
- tarif Overhead pabrik – variabel Rp. 1.200,- per jam kerja langsung
- tarif Overhead pabrik – tetap Rp. 800,- per jam kerja langsung
- tarif overhead pabrik Rp. 2.000,- per jam kerja langsung
Data akhir bulan menunjukkan bahwa produksi selama bulan Agustus 2008
adalah 530 unit barang, dengan pemakaian bahan baku A sebanyak 3.500 kg.
Untuk memproduksi barang tersebut telah dilakukan kegiatan selama 3.475 jam
kerja dengan tarif upah Rp 9.500,. Overhead sesungguhnya (aktual) sejumlah
Rp.7.384.000,-, sedangkan jam kerja sesungguhnya adalah 3.475 jam dan jam
kerja standar tiap unit barang adalah 6,5 jam.
 Saudara diminta melakukan analisis varians biaya produksi tersebut.

Analisis Varians Biaya Produksi disajikan sebagai berikut:


A. Varians Biaya Bahan
1. Varian Harga Beli Bahan
Kuantitas pembelian (harga standar ─ harga
sesungguhnya)
5.000 x Rp (25.000 ─ 24.700) 1.500.000, M
M = Menguntungkan ( favourable) -
2. Varians Harga Pemakaian

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 87
Akuntansi Biaya

Kuantitas pemakaian (harga standar ─ harga sesunggunhnya)


3.500 x Rp (25.000 ─ 24.700) 1.050.000,- M
3. Varians Kuantitas Bahan
Harga standar x kuantitas (standar ─ pemakaian )
25.000,- x (3.445 ─ 3.500) (1.375.000,-) TM
TM = Tidak Menguntungkan (unfavourable )
B. Varians Biaya Upah Langsung
1. Varians Tarif Upah
Jam Kerja aktual (tarif standar ─ tarif sesungguhnya)
3.475 x Rp (9.000 ─ 9.500) (1.737.500,-) TM
2. Varians Efisiensi Upah
Tarif Standar x (jam standar ─ jam aktual)
9.000,- x (3.180 ─ 3.475) (2.655.000,-) TM
Jumlah (4.392.500,-)
C. Varians Biaya Overhead Pabrik
Biaya Overhead pabrik standar : 530 x 6,5 x 2.000,- 6.890.000,-
Total Biaya Overhead Pabrik Aktual (7.384.000,-)
Jumlah (494.000,-) TM
Selain menggunakan cara di atas, analisis varians biaya overhead pabrik dapat
juga dilakukan dengan beberapa model berikut ini:
Model 1: Analisis Dua Varians
a. Varians Terkendali:
Biaya Overhead Pabrik – Aktual 7.384.000,-
Produksi aktual – berdasar Biaya Standar :
OVH Variabel : 530 x 6,5 x 1.200,- = 4.134.000,-
OVH Tetap : 4.000 x 800 = 3.200.000,- 7.334.000,-
Varians ini menjadi tanggung jawab manajer ( 50.000,-) TM
departemen, sejauh mereka memegang kendali atas
biaya diatas

b. Varians Volume:
Tarif OVH tetap x (kapasitas normal – jam kerja standar )
800, x (4.000 – 3.445) ( 444.000,-) TM
Total Varians ( 494.000,-) TM

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 88
Akuntansi Biaya

Varians ini menunjukkan adanya kapasitas yang


tersedia tidak dimanfaatkan sepenuhnya. Kondisi ini
menjadi tanggung jawab manajer departemen
produksi, sejauh hal tersebut diakibatkan oleh
inefisiensi produksi, tetapi juga bisa menjadi tanggung
jawab manajemen eksekutif apabila diakibatkan oleh
perubahan permintaan penjualan yang sulit
dikendalikan.

Model 2: Analisis Tiga Varians – A


a. Varians Pengeluaran:
Biaya Overhead Pabrik – Aktual 7.384.000,-
Produksi Aktual – berdasar jam aktual:
OVH Variabel : 3.475 x 1.200,- = 4.170.000,-
OVH Tetap : 4.000 x 800 = 3.200.000,- 7.370.000,-
( 14.000,-) TM
b. Varians Kapasitas Menganggur:
Tarif OVH tetap x (kapasitas normal – jam kerja
aktual )
800,- x (4.000 – 3.475) ( 420.000,-) TM
Varians ini mengukur kapasitas produksi yang ada
belum dimanfaatkan sepenuhnya.

c. Varians Efisiensi:
Tarif OVH Pabrik x (jam kerja aktual – jam standar untuk
produksi aktual)
2.000,- x (3.475 – 3.445) ( 60.000,-) TM
Jumlah ( 494.000,-) TM
Analisis ini menunjukkan bahwa manajemen
departemen produksi memanfaatkan tenaga kerja atau
mesin cukup efisien.

Model 3: Analisis Tiga Varians – B


a. Varians Efisiensi Variabel:
Tarif OVH Variabel x (jam kerja aktual – jam standar
untuk produksi aktual)
1.200,- x (3.475 – 3.445) ( 36.000,-) TM

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 89
Akuntansi Biaya

b. Varians Pengeluaran:
Biaya Overhead Pabrik – Aktual 7.384.000,-
Produksi Aktual – berdasar jam aktual:
OVH Variabel : 3.475 x 1.200,- = 4.170.000,-
OVH Tetap : 4.000 x 800 = 3.200.000,- 7.370.000,-
( 14.000,-) TM
c. Varian Volume: ( 444.000,-) TM
Jumlah ( 494.000,-) TM
Model 4: Analisis Empat Varians
a. Varians Efisiensi Tetap:
800,- x (3.475 – 3.445) ( 24.000,-) TM
b. Varian Pengeluaran: ( 14.000,-) TM
c. Varians Kapasitas Menganggur: ( 420.000,-) TM
d. Varians Efisiensi Variabel: ( 36.000,-0 TM
Jumlah ( 494.000,-) TM

B. Akuntansi Biaya Standar

Pencatatan terhadap biaya standar menggunakan salah satu dari dua


sistem yaitu sistem Partial Plan atau sistem Single Plan. Bagan akuntansi kedua
sistem tersebut disajikan pada berikut.

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 90
Akuntansi Biaya
AKUNTANSI DALAM SISTEM BIAYA STANDAR

Bahan Baku

Barang Dalam Proses

Upah Langsung Biaya Standar


Biaya Aktual

Saldo Akhir Barang Jadi

Overhead Pabrik

Nilai WIP dengan biaya standar + varians biaya

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 91
Akuntansi Biaya

AKUNTANSI DALAM SISTEM BIAYA STANDAR

Bahan Dalam Proses


Barang Jadi
Biaya Standar Biaya standar
Bahan - Transfer Biaya Standar
Upah langsung
Ovh. Pabrik

* Varians dicatat dalam Perkiraan terpisah


* Varians dapat dialokasikan dengan berbagai alternative
1. ke Ikhtisar laba/Rugi
2. ke Harga Pokok Penjualan
3. ke Persediaan akhir

DTSS
DTSS Post Clearance Audit 92
Akuntansi Biaya

Berdasarkan ilusrasi pada halaman sebelumnya, pencatatan akuntansi


berdasarkan sistem Single Plan dapat disajikan sebagai berikut:
Debit Credit
1 Pembelian Bahan:
Bahan (5.000 x 25.000,-) 125.000.000,-
Hutang Dagang (5.000 x 24.700,-) 123.500.000,-
Varians Harga Beli Bahan 1.500.000,-
2 Pemakaian Bahan:
Barang dalam Proses (530 x 6,5 x 25.000,-) 86.125.000,-
Varians Kuantitas Bahan 1.375.000,-
Bahan (3.500 x 25.000,-) 87.500.000
3 Saat pembebanan Upah Langsung:
Biaya Upah Langsung 33.012.500,-
Hutang Upah 33.012.500,-
4 Alokasi Biaya Upah ke Produk:
Barang Dalam Proses (530 x 6 x 9.000,-) 28.620.000,-
Varians Tarif Upah 1.737.500,-
Varians Efisiensi Upah 2.655.000,-
Biaya Upah Langsung 33.012.500,-
5 Saat Pembebanan biaya Overhead Pabrik:
Barang Dalam Proses 6.890.000,-
Biaya Overhead Pabrik yang 6.890.000,-
Ditetapkan
(530 x 6,5 x 2.000,-)
6 Pencatatan Biaya Overhead Pabrik Aktual:
Pengendali Biaya Overhead Pabrik 7.384.000,-
Sewa dibayar Dimuka
Akumulasi Penyusutan-Pabrik & Peralatan 7.384.000,-
Hutang Biaya (tak langsung)
Dll..................

93
Akuntansi Biaya

Jurnal Penyesuaian/penutup akhir periode :


1 Menutup Biaya Overhead Pabrik yang diterapkan:
Biaya Overhead Pabrik Yang diterapkan 6.890.000,-
Pengendali Biaya Overhead Pabrik 6.890.000,-
2 Mencatat Varians Biaya Overhead (2 varians):
Varians Terkendali 444.000,-
Varians Volume 50.000,-
Pengendali biaya Overhead Pabrik 494.000,-

Pencatatan dalam Buku besar dapat ditampilkan sebagai berikut :

Barang dalam Proses

Saldo awal - Transfer Barang Jadi


Bahan 86.215.000
Upah 28.625.000
Ovh Pabrik 6.890.000 Saldo Akhir ................
121.730.000 121.730.000

Biaya Overhead Pabrik yang Diterapkan


Ditutup 6.890.000 WIP 6.890.000

Pengendali Biaya Overhead Pabrik


ajp 6.890.000
Beban Aktual 7.384.000
ajp 494.000
------------- -------------
7.384.000 7.384.000
======== ========

94
Akuntansi Biaya

3.2. Latihan 4

Soal 1. (analisis dua varian)


Biaya overhead pabrik yang dibebankan ke departemen Mixing berdasarkan jam
mesin. Data berikut ini berkaitan dengan kegiatan bulan Juni 2008.
Kapasitas normal dalam pemakaian mesin 15.000 jam
Jam pemakaian mesin – standar, untuk produksi sesungguhnya 12.000 jam
Jam pemakaian mesin – sesungguhnya. 13.000 jam

Tarif overhead pabrik berdasarkan jam pemakaian mesin pada kapasitas normal
adalah sebagai berikut:
Overhead – variabel Rp 375.000,- : 15.000 jam Rp 2.500,-
Overhead - tetap 675.000,- : 15.000 jam 4.500,-
Total Overhead pabrik 105.000,- : 15.000 jam 7.000,-
Overhead pabrik aktual selama bulan Juni 2008 berjumlah Rp 900.000,-

Saudara diminta menyajikan ayat jurnal untuk mencatat :


1). Overhead pabrik aktual.
2). Pembebanan overhead pabrik ke produksi.
3). Penutupan perkiraan overhead pabrik yang diterapkan.
4). Penutupan perkiraan pengendali overhead pabrik ke perkiraan varian yang
bersangkutan.

Soal 2. (analisis tiga varian)


Biaya overhead pabrik yang dibebankan ke departemen Perakitan pada PT.
Hyundai berdasarkan jam kerja langsung. Data berikut ini berkaitan dengan
kegiatan bulan Juli 2008.
Kapasitas normal jam kerja langsung 10.000 jam
Jam kerja – standar, untuk produksi sesungguhnya 11.000 jam
Jam kerja langsung - sesungguhnya 10.500 jam
Tarif overhead pabrik berdasarkan jam kerja langsung pada kapasitas normal
adalah sebagai berikut:

95
Akuntansi Biaya

Overhead – variabel Rp 30.000.000,- : 10.000 jam Rp 3.000,-


Overhead - tetap 20.000.000,- : 10.000 jam 2.000,-
Total Overhead pabrik 50.000.000,- : 10.000 jam 5.000,-
Overhead pabrik aktual selama bulan Juli 2008 berjumlah Rp 56.000.000,-
Saudara diminta menyajikan ayat jurnal untuk mencatat :
1). Overhead pabrik aktual.
2). Pembebanan overhead pabrik ke produksi.
3). Penutupan perkiraan overhead pabrik yang diterapkan.
4). Penutupan perkiraan pengendali overhead pabrik ke perkiraan varian
overhead dengan metode A.

Soal 3. (analisis tiga varian)


Biaya overhead pabrik yang dibebankan ke departemen Finishing pada PT Astra
berdasarkan jam mesin. Data berikut ini berkaitan dengan kegiatan bulan
Agustus 2008.
Kapasitas normal dalam pemakaian mesin 5.000 jam
Jam pemakaian mesin – standar, untuk produksi sesungguhnya 4.800 jam
Jam pemakaian mesin - sesungguhnya 5.200 jam

Tarif overhead pabrik berdasarkan jam pemakaian mesin pada kapasitas normal
adalah sebagai berikut:
Overhead – variabel Rp 20.000.000,- : 5.000 jam Rp 4.000,-
Overhead - tetap 60.000.000,- : 5.000 jam 12.000,-
Total Overhead pabrik 80.000.000,- : 5.000 jam 16.000,-
Overhead pabrik aktual selama bulan Agustus 2008 berjumlah Rp 78.000.000,-

Saudara diminta menyajikan ayat jurnal untuk mencatat :


1). Overhead pabrik aktual.
2). Pembebanan overhead pabrik ke produksi.
3). Penutupan perkiraan overhead pabrik yang diterapkan.
4). Penutupan perkiraan pengendali overhead pabrik ke perkiraan varian
overhead dengan metode B.

96
Akuntansi Biaya

Soal 4. (analisis empat varian)


Biaya overhead pabrik yang dibebankan ke departemen Penjahitan (Sewing)
pada PT. Indah Garment berdasarkan jam kerja langsung. Data berikut ini
berkaitan dengan kegiatan bulan Maret 2008.
Kapasitas normal jam kerja langsung 8.000 jam
Jam kerja – standar, untuk produksi sesungguhnya 7.000 jam
Jam kerja langsung - sesungguhnya 7.600 jam

Tarif overhead pabrik berdasarkan jam kerja langsung pada kapasitas normal
adalah sebagai berikut:
Overhead – variabel Rp 64.000.000,- : 8.000 jam Rp 8.000,-
Overhead - tetap 24.000.000,- : 8.000 jam 3.000,-
Total Overhead pabrik 88.000.000,- : 8.000 jam 11.000,-
Overhead pabrik aktual selama bulan Maret 2008 berjumlah Rp 86.000.000,-

Saudara diminta menyajikan ayat jurnal untuk mencatat :


1). Overhead pabrik aktual.
2). Pembebanan overhead pabrik ke produksi.
3). Penutupan perkiraan overhead pabrik yang diterapkan.
4). Penutupan perkiraan pengendali overhead pabrik ke empat perkiraan varian
overhead.

3.3. Rangkuman

1 Sistem biaya standar merupakan pengembangan dari penerapan sistem


biaya, dimana bukan hanya biaya overhead pabrik yang ditetapkan
terlebih dulu, tetapi juga mencakup biaya bahan serta upah langsung.
Sistem biaya standar dapat menyajikan informasi yang berguna bagi
manajemen dalam pengendalian biaya produksi. Penyimpangan (varians)
yang disajikan dalam analisis biaya produksi, menunjukkan dengan jelas
letak penyebab penyimpangan (inefisiensi) serta tindakan pencegahan
yang seharusnya dilakukan.

97
Akuntansi Biaya

3.4. Test Formatif – 4 :


Lingkarilah jawaban yang Saudara anggap benar dari alternatif jawaban yang
tersedia di bawah ini.

1. Berikut adalah manfaat- manfaat yang diberikan oleh sistem biaya standar,
kecuali...
a. Sebagai alat pengendalian biaya
b. Mencari faktor penyebab inefisiensi
c. Mendapatkan perhitungan harga pokok yang lebih benar dan akurat
d. Memudahkan akuntansi biaya.

2. Sistem biaya standar mengharuskan manajen menetapkan terlebih dahulu


standar biaya-biaya berikut, kecuali.....
a. Biaya Overhead Pabrik
b. Biaya pajak perusahaan
c. Biaya bahan langsung
d. Biaya upah langsung

3. Berikut adalah penyebab tibulnya penyimpangan biaya bahan, kecuali...


a. Perbedaan antara nilai persediaan menurut akuntansi dan hasil
peeriksaan fisiknya.
b. Perbedaan harga bahan antara yang ditetapkan dengan harga
sesungguhnya.
c. Perbedaan antara kuantitas peakaian bahan sebenarnya dengan yang
telah ditetapkan.
d. Perbedaan harga pemakaian bahan, yaitu antara harga yang ditetapkan
dengan harga sesungguhnya berdasarkan penggunaan bahan
sesungguhnya.

4. Penyipangan biaya dikatakan merugikan apabila....


a. Biaya standar lebih besar dari biaya aktualnya
b. Biaya standar lebih kecil dari biaya aktualnya.
c. Biaya standar lebih besar dari biaya yang ditetapkan.
d. Biaya standar lebih kecil dari biaya yang ditetapkan.

98
Akuntansi Biaya

5. Penyipangan biaya upah langsung dapat disebabkan oleh....


a. Perbedaan tarif upah, perbedaan pemakaian jam kerja, dan perbedaan
kuantitas yang diproduksi.
b. Perbedaan tarif upah dengan perbedaan kuantitas yang diproduksi.
c. Perbedaan pemakaian jam kerja dengan perbedaan peakaian bahan
diproduksi.
d. Perbedaan tarif upah yang ditetapkan dengan tarif upah sesungguhnya.

6. Penyimpangan biaya overhead pabrik dapat disebabkan oleh hal-hal berikut,


kecuali.....
a. Perbedaan antara jam kerja mesin yang ditetapkan dengan yang
digunakan.
b. Perbedaan antara kapasitas normal mesin dengan jam kerja mesin
sesungguhnya.
c. Perbedaan antara kuantitas overhead pabrik aktual dengan standarnya.
d. Perbedaan antara tarif standar overhead pabrik dengan tarif
sesungguhnya.

7. Penyipangan biaya dikatakan menguntungkan apabila....


a. Biaya standar lebih besar dari biaya aktualnya
b. Biaya standar lebih kecil dari biaya aktualnya.
c. Biaya standar lebih besar dari biaya yang ditetapkan.
d. Biaya standar lebih kecil dari biaya yang ditetapkan.

Inforasi berikut untuk menjawab soal 8 – 10.


Selama bulan Maret 2010,Departemen Produksi PT Rajawali Cakti menyajikan
data berikut:
- Setiap unit produk memerlukan 15 kg bahan X dengan harga Rp.100/kg.
- Selama bulan Maret 2010 telah dilakukan pembelian bahan X sebanyak
5000 kg dengan harga Rp.90/kg.
- Ja m kerja yang diperlukan untuk memproduksi satu unit barang X adalah
4 jam dengan tarif Rp.4000/ jam.

99
Akuntansi Biaya

- Data akhir Maret 2010 menunjukkan bahwa produksi selama bulan


tersebut adalah sebanyak 200 unit. Untuk itu bahan X yang digunakan
sebanyak 3.200 kg.

8. Besarnya varian harga beli bahan adalah...


a. Menguntungkan Rp. 30.000
b. Tidak Menguntungkan Rp. 30.000
c. Tidak Menguntungkan Rp. 50.000
d. Menguntungkan Rp.50.000

9. Besarnya varian harga pemakaian bahan adalah...


a. Menguntungkan Rp.50.000
b. Tidak Menguntungkan Rp. 50.000
c. Menguntungkan Rp. 30.000
d. Tidak Menguntungkan Rp.30.000

10. Besarnya varian kuantitasi bahan adalah...


a. Menguntungkan Rp.50.000
b. Tidak Menguntungkan Rp.20.000
c. Tidak Menguntungkan Rp.30.000
d. Tidak Menguntungkan Rp.30.000

100
Akuntansi Biaya

1.4. Umpan Balik dan Tindak Lanjut :


Cocokkan hasil jawaban dengan kunci yang terdapat di bagian belakang
modul ini. Hitung jawaban Anda yang benar. Kemudian gunakan rumus untuk
mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi hak dan kewajiban serta
keberatan dan banding perpajakan.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari
mencapai
91 % s.d 100 % : Amat Baik
81 % s.d. 90,00 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori “Baik”), maka


disarankan mengulangi materi.

101
Akuntansi Biaya

PENUTUP

Setelah anda selesai melakukan proses pembelajaran mulai dari


Kegiatan Belajar 1 sampai Kegiatan Belajar 4, maka selanjutnya anda diminta
untuk menyelesaikan tes sumatif yang merupakan gabungan tes seluruh materi
kegiatan belajar yang telah dipelajari sebelumnya.
Tes sumatif digunakan untuk mengukur kemampuan dan keberhasilan
anda dalam mempelajari seluruh materi di dalam modul ini. Apabila hasil evaluasi
tes sumatif secara keseluruhan menunjukkan nilai sebesar minimal 81, maka
anda dianggap sudah dapat memahami materi modul ini dengan baik. Cara
menghitung nilai tes sumatif pertama-tama cocokkan hasil jawaban dengan
kunci yang terdapat di bagian belakang modul ini. Hitung jawaban Anda dengan
benar. Kemudian gunakan rumus untuk mengetahui tingkat pemahaman
terhadap materi.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal

Pada dasarnya semua soal tes sumatif merupakan soal-soal yang telah
dites pada setiap kegiatan belajar. Oleh karena itu peserta diharapkan dapat
menyelesaikan tes sumatif dengan lebih baik bila dibandingkan dengan tes
formatif. Selamat bekerja semoga modul bermanfaat bagi anda di dalam
menunjang aktifitas anda di lapangan.

102
Akuntansi Biaya

TES SUMATIF

Pilihan Ganda :

Lingkarilah jawaban yang Saudara anggap paling benar dari beberapa


alternative jawaban yang tersedia di bawah ini.

Bulan Maret 2008 PT. Meranti memproduksi 1.000 unit barang A. Untuk setiap
unit produk, dikeluarkan biaya bahan baku Rp 6.000,- , biaya upah langsung Rp
3.000,- dan biaya overhead pabrik variabel Rp 1.000,- . Biaya overhead pabrik -
tetap per bulan diketahui sebesar Rp 1.000.000,-. Berdasarkan data tersebut,
tentukan:
1. Besarnya biaya utama (prime cost) adalah:
a. Rp 9.000,-
b. Rp 4.000,-
c. Rp 7.000,-
d. Rp 2.000,-

2. Besarnya biaya konversi per unit adalah:


a. Rp 9.000,-
b. Rp 5.000,-
c. Rp 4.000,-
d. Rp 7.000,-

3. Biaya produk per unit adalah;


a. Rp 9.000,-
b. Rp 5.000,-
c. Rp 11.000,-
d. Rp 7.000,-

4. Apabila dalam bulan tersebut diproduksi 500 unit barang A, maka biaya
konversi per unit adalah:
a. Rp 7.000,-
b. Rp 4.000,-

103
Akuntansi Biaya

c. Rp 9.000,-
d. Rp 6.000,-

5. Apabila dalam bulan tersebut diproduksi 500 unit barang A, maka biaya
produk per unit adalah:
a. Rp 12.000,-
b. Rp 9.000,-
c. Rp 7.000,-
d. Rp 11.000,-
6. Apabila dalam bulan tersebut diproduksi 500 unit barang A, maka biaya
utama per unit adalah:
a. Rp 11.000,-
b. Rp 9.000,-
c. Rp 6.000,-
d. Rp 7.000,-

7. PT. Adhishoes memproduksi sepatu “Nike” dengan biaya produksi per pasang
sepatu sebesar Rp 100.000,-, dengan biaya konversi Rp 40.000,-. Diketahui
biaya upah langsung adalah seperenam biaya utama. Besarnya biaya upah
langsung per pasang sepatu adalah
a. Rp 15.000,-
b. Rp 12.000,-
c. Rp 16.000,-
d. Rp 10.000,-

8. Untuk memproduksi sebuah blender seri BM-012, PT Maspion mengeluarkan


biaya konversi sebesar Rp 40.000,- dengan total biaya per produk adalah Rp
100.000,-. Diketahui biaya upah langsung adalah seperlima biaya utama.
Besarnya biaya bahan baku per unit blender:
a. Rp 60.000,-
b. Rp 55.000,-
c. Rp 70.000,-
d. Rp 65.000,-

104
Akuntansi Biaya

PT Jamu Sidomuncul mengeluarkan biaya sebagai berikut selama bulan Agustus


2007: Biaya upah langsung Rp 120.000.000,- Biaya overhead pabrik Rp
108.000.000,- dan pembelian bahan baku langsung Rp 160.000.000,- Akuntansi
persediaan menyediakan data sebagai berikut:
1 Agustus 2007 31 Agustus 2007
Barang Jadi 27.000.000,- 26.000.000,-
Barang dalam proses 61.500.000,- 57.500.000,-
Bahan baku langsung 37.500.000,- 43.500.000,-
9. Berdasarkan informasi di atas, besarnya biaya produksi bulan Agustus
adalah:
a. Rp 340.000.000,-
b. Rp 386.000.000,-
c. Rp 387.500.000,-
d. Rp 389.400.000,-

10. Berdasarkan informasi di atas, Harga Pokok Penjualan bulan Agustus


adalah:
a. Rp 340.000.000,-
b. Rp 387.000.000,-
c. Rp 387.500.000,-
d. Rp 389.400.000,-

105
Akuntansi Biaya

KUNCI JAWABAN

1. Kunci Jawaban Test Formatif


1.1. Test Formatif 1
1. A 6. B 11. D
2. C 7. C 12. C
3. B 8. A 13. B
4. B 9. B 14. A
5. D 10.C 15. A

1.2. Test Formatif 2


1. C 6. C 11. D
2. A 7. D 12. A
3. D 8. B 13. C
4. D 9. D 14. C
5. C 10.B 15. A

1.3. Test Formatif 3 1.4. Test Formatif 4


1. C 6. B 1. D 6. C
2. B 7. D 2. B 7. B
3. B 8. D 3. A 8. B
4. A 9. C 4. B 9. C
5. A 10. C 5. D 10.D

2. TEST SUMATIF

1 a. 6 b
2 b. 7 b.
3 c. 8 a.
4 d. 9 b.
5 a. 10 b.

106
Akuntansi Biaya

DAFTAR PUSTAKA

- Matz, Usry & Hammer,Akuntansi Biaya, Perencanaan dan Pengendalian,


Edisi 9, Penerbit Erlangga - Jakarta.
- Carter & Usry, Cost Accounting, 13rd edition, 2002. Thomson Liang,
Singapore.
- Cost Accounting, Modul Pelatihan PCA – Tahun 1993.
---

107