You are on page 1of 24

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang dan Permasalahan Permasalahan identitas Tionghoa adalah fenomena yanng menarik untuk dikaji secara mendalam. Identitas selama ini dipahami sebagai ciri khas yang dapat membedakan antara satu kelompok etnik dengan kelompok lainnya.1 Setiap kelompok etnik memiliki karakteristik yang berbeda, di mana perbedaan tersebut dapat dilihat melalui bahasa, adat istiadat, nilai dan norma budaya yang dianut, ciri-ciri fisik, dan ciri khas lainnya yang selama ini lebih banyak dikaitkan dengan simbol-simbol budaya yang digunakan oleh kelompok tersebut. Simbol-simbol budaya menjadi wujud ekspresi diri seseorang atau sekelompok orang. Melalui simbol-simbol akan tercermin budaya yang dianut oleh suatu kelompok yang sekaligus dapat menjadi identitas diri atau kelompok tersebut. Pada dasarnya identitas bersifat dinamis, oleh karena itu identitas akan mengalami perubahan sesuai dengan tempat, waktu, dan kondisi di mana individu atau kelompok itu berada. Begitu juga halnya dengan identitas etnis Tionghoa di Indonesia. Identitas Tionghoa mengalami perubahan seiring interaksi dengan perjalanan sejarah Indonesia. Transformasi politik dari pemerintah kolonial Belanda ke Indonesia merupakan masa sulit yang dialami oleh etnik Tionghoa hampir di seluruh kota di Indonesia. Perubahan orientasi politik mengakibatkan muncul ketergantungan nasib etnik Tionghoa terhadap kebijakan negara. Oleh karena itu, bagaimana negara memposisikan etnis tersebut akan mempengaruhi pembentukan identitas diri mereka. Sepanjang perjalanan sejarah Indonesia, posisi etnik Tionghoa mengalami pasang surut. Terjadi fluktasi yang konjungtur terhadap identitas Tionghoa Indonesia yang dipengaruhi oleh kondisi politik dalam dan luar negari Indonesia. Pengalaman sejarah pada masa lalu menjadikan Tionghoa Indonesia berada pada posisi yang rawan. Trauma
Etnik (ethnic) berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethnos yang berarti bangsa. Ethnos sering diartikan sebagai suatu kelompok sosial yang ditentukan oleh ras, adat istiadat, bahasa, nilai dan norma budaya yang dapat mengidentifikasikan adanya kenyataan kelompok yang minoritas atau mayoritas dalam suatu masyarakat. Konsep etnik yang digunakan dalam penulisan ini mengacu kepada kelompok sosial yang berasal dari etnik Tionghoa yang tinggal di kota Padang.
1

1

atas politik lokal, kejadian G 30 S/PKI ditambah dengan perasaan sebagai orang asing (outsider) menyebabkan orang Tionghoa cenderung mengabaikan persoalan-persoalan yang terkait langsung dengan mereka. Akibatnya sampai tahun 1998 eksistensi etnik Tionghoa terlihat hanya pada bidang-bidang tertentu, terutama terkonsentrasi pada bidang perekonomian dan sebagian kecil di bidang keilmuan (eksakta). Di latar belakangi oleh sejarah masa lalu membuat etnik Tionghoa cenderung bersikap apolitik dan memanfaatkan peluang ekonomi yang diberikan oleh pemerintah Orde Baru yang memposisikan mereka pada bidang tersebut. Sejarah masa lalu dan kebijakan ekonomi Orde Baru menyebabkan muncul beberapa konglomerat Tionghoa yang kemudian menjadi pemicu kesenjangan, kecemburuan, dan pandangan negatif yang diiringi berbagai stereotyping, prasangka (prejudice), dan ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik. Akibatnya, isu diskriminasi berkembang di kalangan masyarakat luas di samping kecaman sebagai binatang ekonomi (economic animal) yang ekslusif dan tidak bermasyarakat. Di sisi lain, etnik Tionghoa juga hanya menikmati sebagian kecil dari haknya sebagai Warga Negara Indonesia. Batasan-batasan yang diberikan oleh negara sejak Indonesia merdeka juga merupakan perlakukan diskriminasi yang sangat mempengaruhi pembentukan identitas diri dan kolektif mereka. Kondisi ini berlangsung hingga kejatuhan rezim Orde Baru di tahun 1998. Gejala yang menarik setelah kejatuhan pemerintahan Orde Baru adalah kebangkitan keyakinan dan harga diri Tionghoa di Indonesia. Mereka yang selama ini merasa terpuruk, sekarang berani menunjukkan diri melalui berbagai perkumpulan, baik organisasi masyarakat maupun ikut berpartisipasi dalam politik praktis secara terbuka. Perubahan mencolok terjadi pada tahun 2000, ketika mantan Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keppres no 6/2000 untuk mencabut Inpres no.14/1967 dan membebaskan orang Tionghoa untuk merayakan hari besar dan adat serta tradisi mereka. Pada tahun 2002 presiden Megawati Soekarnoputri menyatakan hari raya Imlek sebagai hari libur nasional dan presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghapus diskriminasi dengan mengeluarkan UU Kewarganegaraan RI no. 12 tahun 2006. Hal ini seperti mengembalikan identitas Tionghoa ke pemiliknya dan membuat proses asimilasi yang selama ini dipaksakan menjadi lebih alami terjadi.2
Sejak masa pemerintahan presiden Habibie (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999), Abdurrahman Wahid (20 Oktober 1999 – Juli 2001), Megawati (23 Juli 2001 - 2004), dan Susilo Bambang Yudhoyono
2

2

Seiring dengan keterbukaan dan kelonggaran yang diberikan oleh negara, pemerintah kota Padang juga memberikan kesempatan kepada etnik Tionghoa untuk mengekspresikan budaya dan tradisi mereka. Pada dasarnya kelonggoran ini sudah ada jauh sebelum terjadinya reformasi. Pada masa pemerintahan Orde Baru pun Tionghoa Padang tetap bisa melaksanakan budaya dan adat istiadat leluhur mereka di bawah pengelolaan perhimpunan keluarga dan perhimpunan kematian Himpunan Tjinta Teman dan Himpunan Bersatu Teguh. Kelonggaran ini tidak saja diberikan oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat kota Padang. Bahkan di perayaan ulang tahun kota Padang, pemerintah juga mengundang barongsai dan sipasan3 untuk beratraksi melalui dua perhimpunan kematian Himpunan Tjinta Teman dan Himpunan Bersatu Teguh.4 Sebagai ruang, Padang memiliki peranan yang penting dalam proses pembentukan identitas etnik yang mendiaminya. Di samping politik negara sebagai pengambil kebijakan nasional, Padang sebagai lokalitas yang menyediakan ruang bagi etnik Tionghoa untuk beraktivitas, berinteraksi, dan bersosialisasi juga memiliki peranan yang tidak kalah pentingnya. Pemerintah Kota tidak melakukan pembatasan terhadap etnik Tionghoa untuk melaksanakan dan melestarikan budaya serta adat leluhur mereka, meskipun secara tegas negara melakukan pelarangan terhadap pelaksanaan budaya dan adat istiadat Tionghoa. Kebijakan lokal ini merupakan salah satu ciri dari kota Padang yang plural dan budaya Minangkabau yang terbuka terhadap pendatang sebatas tidak merusak tatanan dan adat istiadat Minangkabau. Dominasi penduduk dari etnik Minangkabau juga tercermin dari budaya Minang yang berkembang di kota Padang. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ”orang Padang
(20 Oktober 2004 – 2009) telah dikeluarkan peraturan yang menghapuskan peraturan pemerintah sebelumnya yang bersifat diskriminatif terhadap etnik Tionghoa. 3 Sipasan adalah salah satu budaya Tionghoa Padang yang tidak ditemukan di kota lainnya di Indonesia. Asal usul tradisi Sipasan juga tidak diketahui dari mana, namun dari laporan pemerintah kolonial Belanda, tradisi Sipasan sudah dilaksanakan sejak lama. Sipasan merupakan arak-arakan yang terbuat dari kursi kayu yang disusun sepanjang kemampuan anggota perhimpunan kematian yang menjadi pelaksana mengangkatnya. Di atas kursi yang berjejer panjang duduk anak-anak yang menggunakan pakaian dari berbagai daerah. Pada umumnya anak-anak tersebut menggunakan pakaian tradisional, terutama pakaian tradisi Tionghoa. Secara kompak, anggota perhimpunan mengangkat kursi tersebut sehingga membentuk sipasan yang dibawa berkeliling Kampung Pondok. Di bagian depan terdapat kepala yang menyerupai naga. Tradisi ini dilaksanakan setiap perayaan tahun baru Tionghoa (Imblek). 4 Himpunan Tjinta Teman (HTT) dan Himpunan Bersatu Teguh (HBT) merupakan dua organisasi masyarakat Tionghoa yang berpusat di Padang dan memiliki cabang di beberapa kota di Sumatera Barat, termasuk Riau dan Medan. HTT dan HBT merupakan organisasi masyarakat yang bergerak dibidang pemakaman, sosial dan budaya. Kedua organisasi ini sudah ada sejak abad 19 dan mampu mempertahankan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat kota Padang hingga saat ini.

3

terkadang diartikan sama dengan orang Minangkabau” atau sebaliknya ”Orang Minangkabau juga cenderung disamakan dengan orang Padang”. Pandangan umum ini sering menyesatkan. Padahal tidak semua orang Padang adalah orang Minangkabau, walaupun semua orang Minangkabau yang tinggal di Padang dapat dikatakan sebagai orang Padang. Jadi dapat dikatakan bahwa konsep Padang dan Minangkabau sangatlah berbeda.5 Kemampuan etnik Tionghoa (1,90 % dari keseluruhan jumlah penduduk) beradaptasi dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Minangkabau (90,07% dari keseluruhan jumlah penduduk) yang juga memiliki etos dagang dengan nilai-nilai budaya yang berorientasi ke agama Islam, dan adat istiadat yang kuat mengenai sistem kepemilikan tanah merupakan fenomena yang menarik.6 Selain budaya, agama merupakan identitas diri yang sangat penting untuk menjadi orang Minangkabau. 7 Ketegasan budaya dan adat terhadap nilai-nilai yang dianut oleh orang Minangkabau menyebabkan tidak mudah untuk menyatakan diri sebagai orang Minangkabau, seperti yang disampaikan oleh Mina Elfira, bahwa”Bila seorang Minangkabau sudah tidak Muslim lagi, Maka Minangnya sudah hilang. Yang tinggal hanya kabaunya saja”. Pentingnya agama dalam kehidupan sosial dan budaya Minangkabau juga tercermin dalam pandanan hidup orang Minangkabau yaitu ”Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabulah” (Hukum Minangkabau berdasarkan kepada Agama Islam, sedangkan hukum Islam berdasarkan kepada Kitab Suci Al Qur’an). Pandangan hidup tersebut dituangkan

Secara geografis Padang merupakan kawasan administratif yang dihuni oleh penduduk dari berbagai etnik. Padang merupakan perwujudan dari salah satu rantaunya Minangkabau. Sementara Minangkabau adalah salah satu etnik di Indonesia yang menganut budaya, adat istiadat, dan bahasa Minangkabau. Secara geografis wilayah Minangkabau terdiri dari darek dan rantau. Darek adalah daerah pusat kebudayaan Minangkabau yang terdiri dari Luhak Agam, luhak Lima Puluh Koto, dan luhak Tanah Datar (Luhak Nan Tigo), sedangkan rantau adalah daerah yang penduduknya menanut budaya dan adat istiadat Minangkabau dan berada di luar wilayah Luhak Nan Tigo). Secara budaya konsep Minangkabau adalah kawasan budaya yang meliputi wilayah Sumatera Barat, sebagian Jambi, dan sebagian Riau, bahkan sampai ke Negeri Sembilan.

5

Jumlah penduduk Tionghoa di kota Padang termasuk tiga besar setelah etnik Minangkabau 90,07 %, Jawa 3,29 %, dan Tionghoa 1,90 %. Lihat lebih lanjut Badan Pusat Statistik Padang tahun 2000.
Mina Elfira, “”Not Muslim, Not Minangkabau” Interrelious Marriage and its Cultural Impact in Minangkabau Society” in Gavin W. Jones, Chee Heng Leng, and Maznah Mohamad (ed), Muslim-NoMuslim : Marriae Political and Cultural Contestations in Southeast Asia, Singapore : Institute of Southeast Asian Studies, 2009, hal. 161.
7

6

4

pemerintah kota Padang melalui Perda, sehingga dapat menjadi tuntunan dan cerminan kehidupan sehari-hari masyarakat kota Padang.8 Selain tantangan budaya dan agama, J.S. Furnivall mengatakan, bahwa orang Minangkabau termasuk di antara sedikit kelompok etnik Indonesia yang tidak kalah dari etnik Tionghoa dalam hal keahliannya berdagang.9 Pandangan Furnivall ditemukan dalam kehidupan masyarakat kota Padang, di mana terjadi kompetisi yang tinggi antara pedagang dari etnik Minangkabau dengan etnik Tionghoa. Kompetisi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari antara ke dua kelompok etnik pedagang tersebut. Yang menarik adalah bahwa kompetisi yang terjadi tidak memicu konflik seperti yang terjadi di kota lainnya. Sepanjang sejarah, tidak ditemukan adanya konflik antar etnik di kota Padang, terutama konflik antar etnik Minangkabau dengan etnik lainnya termasuk dengan etnik Tionghoa. Pengalaman gelap bagi sebagian Tionghoa di beberapa kota di Indonesia tidak dialamai oleh Tionghoa Padang pada peristiwa Mei 1998. Sepanjang era reformasi bahkan tidak ditemukan tindak kekerasan dan kriminal yang menjadikan etnik Tionghoa Padang sebagai sasaran, seperti yang terjadi di Jakarta, Solo, Surabaya, Medan, dan kota lainnya. Gejala nasional yang menjadikan etnik Tionghoa sebagai sasaran untuk mengungkapkan kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan, krisis ekonomi, dan kekacauan politik tidak dialami oleh Tionghoa Padang. 10 Gerakan mahasiswa dilakukan secara damai tanpa menjadikan etnik Tionghoa sebagai sasaran kemarahan mereka. Yang terjadi malah sebaliknya. Ketika segerombolan preman mencoba memanfaatkan kondisi dengan melakukan pengrusakan terhadap beberapa rumah, toko, perkantoran, dan mencoba menjarah pemukiman Tionghoa pada tanggal 15 Mei 1998, lingkungan dan masyarakat sekitarnya malah memberikan perlindungan terhadap etnik tersebut.11 Perlindungan juga diberikan oleh aparat keamanan yang langsung berkoordinasi dengan pimpinan perhimpunan kematian Himpunan Tjinta Teman dan
Ibid., hal. 167. Orang Minangkabau terkenal dengan budaya merantau dan keahliannya dalam berdagang. Padangan ini disampaikan oleh J.S. Furnivall, Netherlands India : A Studi of Plural Economy, London : Cambrige University Press, 1967, hal 47. 10 Zaiyardam Zubir, “ Gerakan Mahasiswa Era Reformasi Di Padang : Suatu Analisis Tentang Ideologi, Issue, Strategi, dan Dampak Gerakan”, Jurnal Andalas, no 30/September/tahun XI/1999, hal. 80 – 93. 11 Wawancara, Haryono Pribadi, Padang : Kantor Family Raya, 11 Januari 2009.
9 8

5

Himpunan Bersatu Teguh.12 Kenyataan ini menunjukkan kota Padang khususnya dan Sumatera Barat umumnya merupakan wilayah yang normal pada waktu itu. Fenomena di atas menunjukkan keunikan dan karakteristik Tionghoa Padang yang berbeda dengan Tionghoa yang tinggal di daerah lainnya di Indonesia. Keunikan Tionghoa Padang tidak bisa dilepaskan dari lokalitas Padang yang berfungsi sebagai daerah rantau. Padang tidak saja menjadi rantau bagi orang Minangkabau, tetapi juga rantau bagi pendatang lainnya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun pendatang asing. Keragaman penduduk yang datang merantau menjadikan Padang tumbuh sebagai kota pantai yang plural dan dinamis. Bertolak dari pandangan tersebut, muncul pertanyaan bagaimana etnik Tionghoa Padang mampu menjaga budaya dan eksistensinya di bawah tekanan politik negara dan kompetisi yang tinggi dengan masyarakat kota Padang yang berasal dari etnik Minangkabau. Analisis akan dikaitkan dengan budaya, serta politik lokal sebelum dan sesudah PRRI, serta pola adaptasi, interaksi, dan relasi antar dan inter etnik Tionghoa hingga tahun 2006. Untuk mempertajam analisis akan ditinjau secara mendalam bagaimana lokalitas Padang membentuk identitas etnik Tionghoa sesuai dengan yang diharapkan atau malah sebaliknya, Tionghoa Padang sendirilah yang membentuk dirinya sesuai dengan harapan masyarakat kota, sehingga konflik yang disinyalir akan terjadi dapat dihindari. Berdasarkan kepada permasalahan di atas, maka akan diajukan sejumlah pertanyaan sebagai permasalahan, yaitu; 1. Bagaimanakah proses pembentukan identitas Tionghoa Padang sesuai dengan perjalanan sejarah kota Padang? 2. Bagaimanakah koeksistensi Tionghoa dalam masyarakat Minangkabau? 3. Apa sajakah kebijaksanaan nasional dan kebijakan pemerintah kota terhadap Tionghoa Indonesia? 4. Apakah ada pengaruh politik dan budaya lokal terhadap pembentukan identitas Tionghoa Padang? 5. Apakah dampak yang diakibatkan oleh transformasi politik Indonesia tahun 1998?
12

Wawancara, Ferryanto Gani (Toako HTT), Padang : Sekretariat HTT, 16 Januari 2009.

6

6. Apakah kegiatan yang dilakukan Tionghoa Padang, baik yang bersifat perorangan maupun kolektif dalam menghadapi perubahan negara? I.2. Batasan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas, maka batasan penelitian meliputi tiga aspek, yaitu aspek tematis, aspek temporal, dan aspek spasial. Aspek tematis penelitian ini adalah mengenai identitas Tionghoa Padang pasca kemerdekaan. Tema ini penting diteliti untuk memberikan analisis secara ilmiah mengenai keberadaan etnik Tionghoa sebagai bagian dari masyarakat kota Padang yang diiringi dengan aktivitas ekonomi, sosial, budaya dan upacara keagamaan sebagai salah satu wujud identitas mereka. Bagaimana orang Tionghoa berkembang dan membangun relasi sosial di tengah-tengah masyarakat Minangkabau yang juga memiliki etos dagang dengan nilainilai budaya yang berorientasi Islam serta adat istiadat yang kuat dalam hal hak kepemilikan tanah adalah fenomena yang menarik untuk dikaji lebih mendalam. Kajian juga dikaitkan dengan proses pembentukan identitas Tionghoa Padang yang dipengaruhi oleh lokalitas Padang di bawah pengaruh budaya dan adat istiadat Minangkabau dan politik negara sebagai struktur yang mempengaruhi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, maupun politik mereka. Penelitian tentang identitas Tionghoa pada tingkat lokal penting dilakukan untuk melihat sejauhmanakah pengaruh lokalitas sebagai ruang tempat etnik Tionghoa tersebut melakukan aktivitas dan proses relasi sosial mempengaruhi proses pembentukan identitas diri mereka. Penelitian ini penting untuk menghindari generalisasi yang selama ini cenderung diberikan kepada Tionghoa Indonesia tanpa melihat lebih jauh peranan lokalitas, sehingga pada tataran nasional bisa dibedakan antara Tionghoa Padang dengan Tionghoa yang tingal di kota lainnya di Indonesia. Aspek temporal penelitian dilakukan dari tahun 1950 sampai tahun 2006. Tahun 1950 dijadikan sebagai awal penelitian disebabkan karena pada tahun 1950 merupakan awal negara Indonesia menjadi sebuah negara yang berdaulat pasca pengakuan kedaulatan Belanda melalui Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949.13 Sementara itu sebagai batasan akhir penelitian diambil tahun 2006, karena pada tahun tersebut presiden
Pada tahun 2007 pemerintah Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, sebelumnya pengakuan kedaulatan Indonesia baru setelah KMB tahun 1949. Batas awal penelitian diambil tahun 1950 karena pemerintah Indonesia mulai melakukan pembenahan terhadap pemerintahan sejak 1950.
13

7

Susilo Bambang Yudoyono mengeluarkan UU no. 12 tahun 2006 mengenai masalah kewarganegaraan.14 UU no. 12 tahun 2006 memiliki makna yang dalam bagi etnik Tionghoa di Indonesia. Keberadaan dan eksistensi mereka diakui sebagai pribadi yang berkebangsaan Indonesia tanpa memandang suku maupun etniknya. Melalui UU no. 12 tahun 2006, kemajemukan bangsa Indonesia dihargai, bahkan diakui sebagai ciri utama bangsa Indonesia.15 Kurun waktu antara tahun 1950 – 2006 merupakan periode penting dalam sejarah identitas etnik Tionghoa di Indonesia, karena pada masa ini pemerintah mengambil kebijakan yang sangat mempengaruhi proses pembentukan identitas Tionghoa Indonesia, termasuk Tionghoa Padang. Ketergantungan etnik Tionghoa terhadap politik negara dan politik lokal menjadikan periode ini sangat penting dalam melihat sejarah identitas Tionghoa Padang. Dalam kurun waktu ini diharapkan terlihat dinamika perubahan identitas Tionghoa Padang sesuai dengan politik lokal dan kebijakan pemerintah yang berkuasa. Batasan spasial penelitian adalah wilayah Kotamadya Padang secara administratif. Padang dijadikan sebagai batasan spasial mengingat fungsi Padang sebagai ruang tempat etnik Tionghoa melakukan aktivitas dan relasi sosial dengan masyarakat lainnya. Walaupun lokasi penelitian diambil wilayah Kotamadya Padang secara administratif, namun penelitian lebih difokuskan di kecamatan Padang Selatan dan Padang Barat. Pengambilan lokasi utama penelitian di ke dua kecamatan ini mengingat etnik Tionghoa terkonsentrasi tinggal di kawasan tersebut, walaupun ada beberapa orang Tionghoa yang tinggal di daerah kecamatan lainnya, namun kegiatan sosial, dan budaya, mereka tetap terkonsentrasi di ke dua kecamatan tersebut. Hal ini disebabkan karena perhimpunan sosial, budaya, dan kematian Himpunan Tjinta Teman (HTT) dan Himpunan Bersatu Teguh (HBT), Klenteng, Vihara, serta Gereja terletak di kecamatan Padang Selatan, sehingga walaupun banyak Tionghoa Padang yang sudah tidak tinggal di sekitar ke dua kecamatan tersebut, namun aktivitas sosial dan budaya mereka tetap terkonsentrasi di sana. I.3. Kajian Sumber
Frans H. Winarta, “Globalisasi dan Sikap Organisasi Tionghoa”, Nasion, Vol 5, no. 1. tahun 2008, hal. 54. 15 UU no. 12 tahun 2006.
14

8

Penelitian ini menggunakan data arsip sebagai sumber utama. Data arsip umumnya diperoleh dari kantor Arsip Nasional di Jl. Ampera Raya Jakarta. Data yang telah diperoleh di antaranya koleksi Lembaga Negara (Staatsblad van Nederlandsch – Indie), koleksi Regeerings Almanak vor Nederlansch-Indie dari tahun 1854 – 1942 mengenai opsir-opsir Tionghoa yang menjabat di Padang, Bijblad yang memuat aturanaturan mengenai kontrak, terutama yang berkaitan dengan kontrak sewa dan pacht (hak monopoli), serta koleksi Memori van Overgave Sumatra’s West Kust tahun 1922 - 1937 tentang masalah kependudukan Tionghoa, dan koleksi Politiek Politioneel Overzicht tentang aktivitas politik Tionghoa di Sumatera Barat.16 Selain sumber pemerintah Belanda, penulis mengunakan arsip pemerintah kota yang diperoleh melalui Lembaran Daerah Kotamadya Padang dan kantor Statistik Kotamadya Padang. Arsip daerah juga penulis dapatkan melalui kantor arsip Pemerintah Tingkat II Kotamadya Padang, berupa surat-surat keputusan pemerintah kota mengenai status tanah dan program pemindahan pemakaman Tionghoa di Gunung Padang ke komplek pemakaman di Teluk Kabung Bungus. Selanjutnya penulis juga mendapatkan sumber berupa arsip pemerintah RI yang terdiri dari Undang-undang UU Pokok Agraria Tahun 1960, UU no. 41 tahun 1961 tentang pelarangan menggunakan bahasa asing dan dianjurkan Tionghoa Indonesia melakukan ganti nama, Inpres no. 14 tahun 1967 mengenai agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa, Kepres no 6 tahun 2000 yang mencabut Inpres no. 14 tahun 1967, dan UU no. 12 tahun 2006. Sumber primer mengenai masyarakat Tionghoa diperoleh melalui Klenteng, Himpunan Tjinta Teman, Himpunan Bersatu Teguh, Marga Tan, Long Se Tong Padang (Marga Lie & Kweek) dan dari Yayasan Kematian Santu Yusuf. Sumber yang diperoleh berupa Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga masing-masing lembaga dan organisasi masyarakat, Riwayat lembaga, serta Buletin yang diterbitkan secara berkala seperti Buletin HBT yang benama Sentosa. Sumber tersebut sangat membantu penulis untuk memahami kehidupan Tionghoa Padang melalui sudut pandang intern masyarakat Tionghoanya.
Staatsblad memuat peraturan-peraturan pemerintah yang diundangkan, termasuk peraturan tentang ketentuan tentang pengangkatan dan pengesahan pendirian perhimpunan sosial, sedangkan Bijblad merupakan keputusan Gubernur Jenderal yang diundangkan. Bijblad memuat aturan-aturan mengenai kontrak, terutama yang berkaitan dengan kontrak sewa dan pacht (hak monopoli).
16

9

Arsip pribadi berupa koleksi keluarga Lie Saay diperoleh melalui Lie He Liang dan Lie Hai Tjun (cicit Major Lie Saay). Penulis juga memperoleh sumber dari Lie Swan Houw yang mengirimkan beberapa sumber dari koleksi KITLV - Leiden, yaitu berupa arsip Observatory Bosscha – Sterrenwacht Lembang Bandung, catatan perjalanan Justus Van Maurik, Indrukken van Een ”Totok” Indische Type en Schetsen, koran Nederlandsch –Indie Sumatra Courant, dan Nieuws – En Avertentie-1. Sumber-sumber ini memberikan informasi yang berharga mengenai kehidupan Major Lie Saay sebagai salah satu contoh gambaran kehidupan Tionghoa Padang pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Selanjutnya dari Lie Swan Houw juga diperoleh tulisan Mattheus van Purmerend yang berjudul ”Hoe een Chineesch Huwelijk op Sumatra’s Westkust tot Stand Komt” dalam Onze Missie in Oost – En West – Indie no. 12 tahun 1929. Dari tulisan Purmerend ini, penulis memperoleh data penting tentang bagaimana pelaksanaan upacara perkawinan yang dilakukan oleh Tionghoa Padang di awal abad XX. Di Perpustakaan Nasional diperoleh sumber koleksi Officiele Bescheiden Betreffende De Nederlands – Indonesische Betrekkingen 1945 – 1950, mengenai situasi politik Indonesia pasca kemerdekaan. Penulis juga mendapatkan sumber dari koleksi koran terbitan Padang, terutama Singgalang dan Haluan. Koleksi koran di antaranya memuat berita tentang situasi kota Padang pada masa koran tersebut terbit. Data diperoleh melalui iklan dagang, pengumuman, berita duka cita, dan berita-berita lokal. Selain koran, penulis juga memperoleh sumber sekunder berupa buku-buku hasil karya yang berkaitan dengan topik penelitian. Di Perpustakaan Nasional diperoleh sumber koleksi Officiele Bescheiden Betreffende De Nederlands – Indonesische Betrekkingen 1945 – 1950, mengenai situasi politik Indonesia pasca kemerdekaan. Penulis juga mendapatkan sumber dari koleksi koran terbitan Padang, terutama Singgalang dan Haluan. Koleksi koran di antaranya memuat berita tentang situasi kota Padang pada masa koran tersebut terbit. Data diperoleh melalui iklan dagang, pengumuman, berita duka cita, dan berita-berita lokal. Selain koran, penulis juga memperoleh sumber sekunder berupa buku-buku hasil karya yang berkaitan dengan topik penelitian. Untuk informasi sezaman, penulis gunakan sumber berupa koran dan majalah yang diperoleh dari Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau

10

(PDIKM) Padang Panjang, berupa Sumatra Tengah yang berisikan tentang situasi Sumatera Tengah pada masa Orde Lama, tulisan J.W. Young tentang Het Huiwelijk bij de Chineezen te Padang, in De Indische Gids 1885, Een Uitstap naar Padang. Selain ke dua sumber tersebut, penulis juga mendapatkan koleksi Harian Hoa Po, Seng Po, Doenia Baroe, dan Perdamean. Melalui koran-koran lama tersebut, penulis mendapatkan informasi tentang bagaimana situasi sosial, budaya, politik, dan ekonomi Padang pada masa koran tersebut terbit. Koran-koran yang diperoleh dari PDIKM Padang Panjang merupakan koran-koran yang terbit di awal tahun 1900-an. Beberapa koran, seperti Seng Po, Hoa Po, dan Sinar Sumatra adalah harian milik Tionghoa Padang. Sumber ini menunjukkan bahwa Tionghoa Padang memiliki peranan penting dalam sejarah pers di Sumatera Barat. Sumber sekunder berupa buku dan hasil penelitian KITLV yang sudah dipublikkasikan banyak penulis dapatkan di Perpustakaan KITLV Jakarta. Sumbersumber tersebut di antaranya karya Karel Steenbrink & Paule Maas tentang Orang-Orang Katolik Di Indonesia 1808 – 1942 (jilid 1 dan 2) dan terbitan KITLV Press mengenai Verhandelingen van Het Koninklijk Instituut voor Taal – Land- en Volkenkunde tahun 2007 – 2009. Di samping menggunakan sumber tertulis, penulis juga mendapatkan sumber lisan melalui wawancara yang dilakukan kepada informan Tionghoa Padang yang tinggal di Padang, di antaranya dengan Toako HTT (Ferryanto Gani), pengurus HBT (10 orang pengurus), pengurus HTT (10 orang pengurus), Pastor Philip, Pendeta, pengurus Kelenteng See Hien Hiong (Indra), dan 20 orang Tionghoa Padang berdasarkan kepada usia dan pekerjaan. Kepada Tionghoa Padang yang sudah merantau ke Jakarta juga dilakukan wawancara, di antaranya dengan Naro, Salam, Gunawan Wijaya, Lie He Lian, Frangki Welirang, Sofyan Wanandi, dan lain sebagainya. Selanjutnya wawancara juga dilakukan dengan pejabat pemerintah bidang Hukum (Yulitar, SH), dan warga masyarakat dari kalangan orang Minangkabau di antaranya ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Kota Padang (DT, Syahrul), Lurah Belakang Pondok (Andre Algamar), Wakil Walikota, dan 15 orang masyarakat yang kriterianya berdasarkan usia dan pekerjaan. Sumber wawancara diperlukan untuk mendapatkan data mengenai Tionghoa Padang setelah kemerdekaan sampai Reformasi tahun 2006.

11

I.4. Pendekatan Konseptual Penelitian ini akan memfokuskan kajian tentang identitas Tionghoa Padang sejak 1950 – 2006. Setiap individu memerlukan identitas untuk memberinya sense of belonging sebagai wujud eksistensi sosial mereka. Ketika kita berbicara tentang identitas Tionghoa, maka kita akan dihadapkan dengan dua teori dasar, yaitu teori identitas (identity theory) dan teori identitas etnik (ethnic identity theory). Kedua teori ini akan membantu penulis menganalisa perubahan identitas yang terjadi pada etnik Tionghoa Padang sebagai akibat transformasi politik Indonesia. Kompleksnya aspek yang akan diungkapkan, maka penelitian ini membutuhkan teori dan konsep-konsep yang dapat merangsang kegiatan berfikir dalam menyusun kerangka konseptual.17 Untuk bisa membedakan konsep-konsep dan teori-teori yang digunakan perlu dilakukan batasan sosial yang melingkupinya.18 Batasan sosial selalu ada pada setiap masyarakat, hanya bentuk dan implikasinya yang berbeda. Lemah atau kuatnya batasan sosial antar golongan dapat dilihat dari tingkat kepercayaan dan dukungan.19 Untuk mencapai tujuan penelitian digunakan pandangan Barth yang mengatakan bahwa perbedaan antar etnik lebih ditentukan oleh proses-proses sosial, baik pemisahan maupun penyatuan, sehingga perbedaan kategori tetap dipertahankan. Karakteristik kelompok etnik menurut Barth terdiri atas : (1) secara biologis mampu berkembang biak dan bertahan, (2) mempunyai nilai-nilai budaya dan sadar akan rasa kebersamaan dalam suatu bentuk budaya, (3) mempunyai jaringan komunikasi dan interaksi sendiri, (4) menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok pupulasi lain.20 Barth mendefinisikan kelompok etnik sebagai suatu aspek penting, yaitu kelompok-kelompok etnik sebagai suatu unit kebudayaan dan kelompok etnik sebagai
Konsep dan teori ilmu sosial digunakan untuk penyusunan kerangka konseptual penulisan sejarah. Lihat lebih lanjut Berkhofer, Jr, Robert F., A Behavioral Approach to Historical Analysis, New York/London, 1969, hal. 1 dst. 18 Batasan sosial (social boundaries) adalah elemen-elemen yang membedakan antara “kita” dan “bukan kita” yang terwujud dalam tindakan informal. Batasan sosial meliputi pandangan tentang etika berhubungan hingga batasan akses atas sumber daya (resources). 19 Jonathan. H. Turner, The Structure of Socioloycal Theory, Sixth Edition, University of California, 1998, hal. 513-515. 20 Fredrik Barth, Kelompok Etnik dan Batasannya, terj, Nining I. Susilo, Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1988, hal. 1.
17

12

suatu tatanan.21 Pandangan pertama menekankan bahwa kemampuan untuk berbagi sifat budaya merupakan ciri yang utama dari kelompok etnik, sehingga klasifikasi seseorang dalam keanggotaan suatu kelompok etnik tergantung kepada kemampuan seseorang atau kelompok tersebut untuk memperlihatkan sifat budaya dari kelompoknya. Pandangan ke dua menyebutkan bahwa kelompok- kelompok etnik dilihat sebagai tatanan sosial, sehingga ciri khas suatu kelompok etnik ditentukan oleh kelompok lain. Dengan kata lain, kelompok etnik sebagai tatanan sosial terbentuk jika anggota kelompok etnik tersebut menggunakan identitas etnik-nya untuk tujuan interaksi melalui membedakan dirinya sendiri dengan orang dari kelompok etnik lainnya.11 Meskipun kategori etnik memasukkan perbedaan budaya menjadi salah satu dasar pembedaan, namun tidak dapat diasumsikan adanya persamaan antara unit-unit etnik dengan persamaan-persamaan budaya. Pembedaan tidak dilakukan berdasarkan perbedaan objektif pada faktor-faktor sosial.22 Faktor-faktor pembentuk kelompok etnik menurut Barth adalah interaksi kelompok etnik tersebut dengan kelompok lain. Batas-batas antar kelompok etnik ini dibangun, dipertahankan, dan dilestarikan melalui proses interaksi. Pemikiran Barth tentang konstruksi identitas etnik sebagai berikut : The boundaries to which we must give attention are of course social boundaries, though they may have territorial counterpart. If a group maintains its identity when members interact with others, this entail criteria for determining membership.23 Barth mengatakan bahwa sistem politik yang diterapkan oleh suatu rezim pemerintahan akan berpengaruh terhadap hubungan antaretnik.24 Batas-batas suatu kelompok etnik dipertahankan oleh kelompoknya melalui pengungkapan dan pengukuhan secara terus-menerus serta pembelajaran. Kelompok tersebut akan dikenal sebagai unit yang berbeda oleh kelompok lain jika memperlihatkan perilaku atau budaya yang berbeda.25 Kelompok etnik akan terbentuk jika kebudayaan dikaitkan dengan ras yang berdasarkan kepada identitas biologis.26 Dari latar belakang ras dan etnik itu pula, suatu
Fredrik Barth, Ibid., 1988, hal. 12-15. Fredrik Barth, “Introduction” dalam Fredrik Barth dkk, Ethnic Group and Bundaries : The Social Organization of Culture Difference, Bergen-Oslo: Universitets Forlaget, 1970, hal.13. 23 Fredrik Barth, Ibid., 1970, hal. 15. 24 Fredrik Barth, Op.cit., 1988, hal. 39. 25 Fredrik Barth, Ibid., hal. 16-17. 26 Furnivall mengatakan bahwa negara Indonesia terbentuk dari masyarakat yang terbagi atas banyak etnik dengan masing-masing kebudayaannya, namun diikat menjadi kesatuan melalui paksaan
22 21

13

masyarakat membentuk tipe kepribadian dasar yang selanjutnya menjadi acuan bagi pembentukan kepribadian warganya.27 Untuk menjelaskan identitas Tionghoa Padang digunakan teori identitas dari Madan Sarup. Sarup mengataan bahwa identitas itu tidak pernah tetap, tidak utuh, tidak satu, tetapi "fabricated" dan "constructed", terus digodok dalam proses. Artinya, bahwa identitas itu akan terus berubah, terus dikonstruksi dalam suatu proses. Sarup juga mengatakan bahwa identitas itu bersifat fragmentaris dan kontradiktif. Di tengah kuatnya pengaruh global dan intensitas kontak dengan berbagai budaya di dunia menyebabkan identitas "asli" mungkin tidak pernah ada, kecuali kesepakatan-kesepakatan sementara. Melalui resistensi dan berbagai strategi pembentukan identitas dilakukan penentuan posisi subyektif di dalam masyarakat.28 Identitas dibentuk melalui beberapa proses, yaitu; Pertama, identitas dapat berubah sejalan dengan waktu serta dipahami secara berbeda di tempat yang berbeda pula. Di sini identitas adalah inklusivitas dan eksklusivitas. Kedua, identitas ditandai oleh perbedaan secara simbolis dan dialami secara sosial. Penanda simbolis dapat berupa penampilan fisik, warna kulit, dan kelas sosial. Ketiga, pembicaraan tentang identitas tidaklah lengkap jika kita belum menyinggung tentang ketegangan antara pandangan esensialis dan non-esensialis. Mereka yang berpandangan esensialis melihat identitas sebagai sesuatu yang tetap, bahwa ada karakter tertentu yang menandai dan tidak berubah dari waktu ke waktu, seperti karakter yang dimiliki oleh semua orang Asia dan Eropa. Sebaliknya, kelompok non-esensialis mempertanyakan kemungkinan mempunyai identitas yang tetap sepanjang masa dan di semua tempat, seperti karakter yang dimiliki oleh Tionghoa perantauan dengan mempertahankan kepercayaan terhadap arwah nenek moyang dan pemeliharaan kebudayaan leluhur. Keempat, representasi budaya melalui apresiasi dan pementasan seni dapat merekonstruksi identitas untuk menceritakan diri dan kehidupan kita agar identitas dan makna yang kita inginkan terbentuk.

dalam bentuk negara jajahan Hindia Belanda. Kolonial Belanda membagi penduduk Indonesia atas Bumi Putra, Timur Asing, dan kelompok Eropa. Lihat lebih lanjut H.A.R. Tilaar, Ibid., hal. 11. 27 Bambang Setiawan, Persoalan Kesukubangsaan dan Diskriminasi, dalam “Etnidstas da Konflik Sosial Di Indonesia”, Proceeding Lokakarya, PMB-LIPI, 1999, hal. 65. 28 Stuart Hall, “Encoding/Decoding”, dalam Culture, Media, Language, London & New York : Routledge, in Association with the Centre for Contemporary Cultural Studies, University of Birmingham, 1996, hal. 128-138.

14

Identitas terbentuk secara hirarki dan terstruktur berdasarkan kategori-kategori sosial berdasarkan penggolongan orang menurut negara, ras, klas sosial, pekerjaan, jenis kelamin, etnik, agama, dan lain sebagainya. Hal ini juga ditemukan pada etnik Tionghoa. Masing-masing kategori sosial tersebut melekat kekuatan status dan martabat yang pada akhirnya memunculkan struktur sosial yang khas dalam masyarakat tersebut, yaitu struktur yang menentukan kekuatan dan status hubungan antar individu dan antar kelompok. Wang Gungwu mengatakan bahwa konsep identitas budaya membuka kemungkinan untuk mengkaji tidak hanya bagaimana orang-orang Tionghoa menopang identitas Tionghoa mereka sambil mengadopsi banyak nilai-nilai bukan Tionghoa, tetapi juga bagaimana sebagian mereka dapat melakukan asimilasi total dan menerima suatu identitas bukan Tionghoa yang sepenuhnya baru.29 Dengan konsep ini para cendikiawan akan bisa menjajaki kesediaan orang Tionghoa menerima identitas nasional, lokal, dan menelaah sejauhmana mereka mengidentifikasi diri sebagai orang Tionghoa, ketika berhubungan dengan orang Tionghoa lainnya yang juga tinggal di lokalitas yang sama atau dengan orang Tionghoa yang tingal di luar lokalitas tersebut. Untuk melihat hubungan saling mempengaruhi antara individu dengan struktur sosial yang lebih besar, baik secara individu maupun kelompok (group/komunitas) dengan masyarakat kota Padang dan negara secara lebih luas sebagai struktur sosial yang ikut mempengaruhinya, maka interaksi menjadi kunci pembentuk struktur sosial yang baru. Individu dan masyarakat dalam teori Striker dipandang satu.30 Teori Stryker mengkombinasikan konsep peran dan konsep diri/self (interaksi simbolis). Stryker mengatakan bahwa setiap peran yang kita tampilkan dalam berinteraksi dengan orang lain dan dilambangkan sebagai wujud dari proses interaksi dinamakan identitas.31 Jika kita memiliki banyak peran, maka kita akan memiliki banyak identitas. Konsep banyak peran ini juga dikembangkan oleh Wang Gunggu melalui konsep identitas ganda.32
29

Wang Gungwu, “Kajian Tentang Identitas Orang Cina Asia Tenggara”, dalam Jennifer Cushman & Wang Gungwu (ed), Perubahan Identitas Orang Cina di Asia Tenggara , Jakarta : PT. Temprint, 1991, hal. 7-9. 30 Stryker. S & Serpe, Commitment, Identity Salience and Role Behavior : Theory and Research Example, in W. Ickes & E.S. Knowles (ed), Personality, Role, and Social Behavior, New York : SpringerVerlag, 1982, hal. 205. 31 Stryker dan Serpe, Ibid., hal. 202.

15

Intinya, teori interaksi simbolis dan teori identitas mendudukkan individu sebagai pihak yang aktif dalam menetapkan perilakunya dalam membangun harapan-harapan sosial. Perspektif interaksionis simbolis tidak menyangkal adanya pengaruh struktur sosial, namun jika hanya struktur sosial saja yang dilihat untuk menjelaskan perilaku sosial, maka hal tersebut kurang memadai. 33 Untuk itu digunakan pemikiran Bourdieu tentang identitas yang dipengaruhi oleh konstruksi kapital simbolis melalui pengakuan. Dalam bukunya, "Homo Academicus”, Bourdieu menulis : “As a label capable of being applied to any object, it says that the object designated is different, without speciying in what respect it differs; as an instrument of recognition and not of cognition, it single out an empirical individual, generally apprehended as singular, that is to say different, but without analysing the difference. The constructed individual is defined by a finite set of explicitly defined properties which differ through a series of identifiable differences from the set of properties, constructed according to the shame explicit criteria, more precisely, it identifies its refferent not in ordinary space but in a space constructed of differences produced by the very definition of the finite set of effective variable.34 Ketika sebuah label atau identitas diletakkan pada sebuah objek, maka dapat dikatakan bahwa objek tersebut tanpa membuat pengkhususan dalam hal apa yang berbeda dari objek, sehingga label tersebut menjadi instrumen pengakuan dan mengkhususkan individu secara empiris. Identitas ditujukan untuk membedakan individu tanpa menganalisis lebih lanjut mengenai perbedaannya. Individu yang dikonstruksi oleh identitas tersebut didefinisikan oleh seperangkat kepemilikan tertentu secara eksplisit melalui serangkaian perbedaan dari seperangkat kepemilikan. Tokoh Cultural Studies Stuart Hall melihat identitas sebagai points of temporary attachment to the subject positions which discursive practices construct for us. Artinya, jika seseorang berada dalam lingkungan masyarakat Tionghoa, maka “orang tersebut” akan mengidentifikasikan diri dan menyesuaikan “identitasnya sebagai salah satu dari mereka, namun ketika seseorang itu berada di luar negeri, maka orang tersebut akan melihat dirinya sebagai orang Indonesia. Di sini identitas menjadi sebuah konstruk sosial yang tidak permanen. Identitas adalah sebuah posisi yang subyektivitas. Selanjutnya,
32

Wang Gungwu, Perubahan Identitas Orang Cina Di Asia Tenggara, Jakarta : PT. Temprint, Stryker dan Serpe, Op. Cit., hal. 208. Pierre Bourdieu, Homo Academicus. Stanford-California: Stanford University Press, 1988, hal.

hal. 15.
33 34

22-23.

16

posisi di mana kita mengidentifikasikan diri dan diidentifikasi orang lain tidak netral atau setara. Artinya, kekuasaan bermain dalam menentukan identitas seseorang; misalnya pelabelan “pribumi” dan “non-pribumi” umum dilakukan oleh sekelompok masyarakat dan pemerintah Orde Baru. Stuart Hall membagi identitas budaya atas dua definisi yang berbeda, yaitu Pertama, identitas budaya berhubungan dengan persamaan budaya pada suatu kelompok tertentu di mana anggota-anggotanya memiliki sejarah dan nenek moyang yang sama. Dalam definisi ini, identitas budaya menggambarkan persamaan pengalaman sejarah dan berbagai lambang-lambang budaya yang membuat mereka menjadi satu komunitas yang stabil, tidak berubah dan melanjutkan kerangka acuan dan pemaknaan di bawah perubahan sejarah. Kedua, definisi identitas budaya adalah identifikasi yang dibentuk oleh sejarah dan kebudayaan. Identitas budaya mengandung identitas politik, yaitu politik penentuan posisi dalam masyarakat tertentu.35 Stuart Hall menjelaskan bahwa identitas kebudayaan sebagai representasi adalah tidak permanen karena merupakan produksi atau konstruksi yang tidak lengkap, tetapi selalu dalam proses perubahan dan dibentuk dari dalam kelompok. Kedua definisi ini memperkuat definisi identitas sebagai kategori budaya, sejarah, dan politik.36 Identitas budaya tunduk atau berada di bawah permainan sejarah, budaya, dan kekuasaan yang berakar pada masa lalu. Dengan kata lain identitas budaya dibentuk oleh diskursus budaya melalui sejarah yang terkait dengan permainan kekuasaan melalui transformasi dan pembedaan (difference).37 I.5. Kajian Pustaka Tidak bisa disangkal bahwa kajian tentang etnik Tionghoa di Indonesia sudah banyak dilakukan. Bahkan tidak sedikit dari kajian itu yang diterbitkan. Ini menunjukkan bahwa fenomena tentang etnik Tionghoa di Indonesia telah merangsang begitu banyak kajian, baik kajian lapangan maupun kepustakaan berupa buku, artikel, maupun laporan penelitian. Beberapa kajiaan yang dijadikan sebagai sumber sekunder untuk penelitian
Stuart Hall, “Cultural identity and Diasopra”, Identity and Difference, ed. Kathryn Woodward. London: Sage/Open University, 1997, hal. 51. 36 Stuart Hall , Ibid. 37 Stuart Hall , Ibid., hal. 55.
35

17

ini, pertama tesis Erniwati, Asap Hio Di Ranah Minang : Komunitas Tionghoa di Sumatera Barat.38 Karya Erniwati membahas mengenai sejarah Tionghoa Sumatera Barat dari awal abad XIX sampai awal abad XX. Kajian pendahuluan ini menggambarkan sejarah kedatangan etnik Tionghoa ke Sumatera Barat yang sudah terjadi jauh sebelum kedatangan bangsa barat. Keberadaan etnik Tionghoa di Sumatera Barat adalah suatu fenomena yang menarik, di mana di daerah ini terjadi interaksi dan sosialisasi antar etnik yang memiliki potensi yang sama, yaitu kepintaran dalam berdagang. Erniwati mengatakan bahwa Sumatera Barat menjadi salah satu contoh bertemunya dua sistem budaya masyarakat yang berbeda, namun hidup secara berdampingan secara harmonis. Dua latar belakang masyarakat yang bertolak belakang tersebut disatukan secara harmonis melalui suatu mekanisme yang tercipta melalui proses sosialisasi dan adaptasi yang panjang, yaitu sitem ekonomi makro yang menyatukan pedagang Minangkabau dengan pedagang Tionghoa melalui hubungan simbiosis. Keterbatasan ruang lingkup dan tekanan sosial, ternyata tidak menghalangi orang Tionghoa untuk berkembang dan membentuk komunitas yang mampu bertahan di Sumatera Barat, malah dalam catatan sejarah tidak tercatat konflik yang memicu tindak kekerasan, kecuali di satu kota di pantai barat Sumatera, yaitu kota Pariaman. 39 Pertemuan dua sistem budaya dari kelompok masyarakat yang berbeda dengan kesamaan etos dagang digambarkan secara deskriptif dan menghasilkan konstruksi sejarah yang berbeda dengan sejarah kehidupan orang Tionghoa di daerah lainnya di Indonesia. Ke dua adalah karya Freek Colombijn, Poco-Poco (Kota) Padang.40 Dalam karyanya Colombijn mengulas tentang cara manusia mengubah penggunaan ruang sehingga membentuk kota. Colombijn membahas sejarah pembentukan kota Padang dari tahun 1906 sampai tahun 1990. Dalam karyanya, Colombijn juga mengulas tentang keberadaan etnik Tionghoa sebagai bagian dari penduduk kota Padang. Kontribusi Tionghoa terlihat pada bidang perdagangan, terutama dalam pemanfaatan ruang sebagai sarana pasar. Pembahasan Colombjin banyak membantu peneliti dalam memandang
Erniwati, Asap Hio Di ranah Minang : Komunitas Tionghoa di Sumatera Barat, Yoyakarta : Ombak, 2007. 39 Erniwati, “Pariaman (Saat) Tionghoa Pariaman”, dalam Budi Susanti, S.J. (ed), Masih (Kah) Indonesia, Yogyakarta : Kanisius, 2007. 40 Freek Colombijn, Paco-Paco (Kota) Padang : Sejarah Sebuah Kota di Indonesia Pada Abad ke 20 dan Penggunaan Ruang Kota, Yogyakarta : Ombak, 2006.
38

18

Padang sebagai lokalitas yang dinamis. Perkembangan Padang sebagai akibat penggunaan ruang oleh penghuninya, mengalami proses perubahan yang berlangsung secara terus menerus. Proses perubahan menimbulkan ketegangan di antara sejumlah kelompok yang berkepentingan. Konflik tidak bisa dihindarkan ketika terjadi kompetisi permintaan akan ruang tempat orang, kelompok, dan organisasi meningkat secara drastis, sedangkan ruang yang tersedia sangat terbatas. Untuk itu diperlukan master plan, sehingga ruang dapat digunakan untuk pengunaan umum dan penggunaan simbolik yang memberikan ciri khasn bagi Kota Padang. Karya ke tiga Rustopo, Menjadi Jawa : Orang-Orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa di Surakarta 1895 – 1998.41 Karya Rustopo merupakan karya terbaru dan merupakan hasil penelitian disertasi. Rustopo memberikan fenomena baru yang berupaya untuk melihat masa lalu orang-orang Tionghoa di Jawa secara sosio-kultural dari perkembangan intelektual dan mentalitas yang manusiawi dalam kehidupan seharihari individu atau sekelompok orang biasa. Orang Tionghoa digambarkan sebagai salah satu bagian yang secara integrasi membentuk identitas Jawa sebagai upaya mencari jati diri dalam membangun identitas kejawaannya. Dalam tulisannya Rustopo berhasil menempatkan orang Tionghoa baik sebagai komunitas maupun sebagai individu menjadi satu kesatuan ke dalam masyarakat dan kebudayaan Jawa. Dengan menampilkan tokohtokoh Tionghoa sebagai contoh, tulisan ini berhasil menunjukkan adanya keinginan komunitas Tionghoa untuk ”menjadi” Jawa dan berharap agar dapat diterima oleh masyarakat Jawa. Secara metodologi, tulisan Rustopo mampu membangun model penelitian sejarah yang merekonstruksi penulisan prosopografi dengan memanfaatkan intuisi dan imajinasi seniman untuk menghasilkan karya sejarah kebudayaan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Dengan menggunakan teori konvergensi dari William Stern, yaitu hasil pertemuan (konvergensi) antara faktor pribadi dan faktor lingkungan, Rustopo menggambarkan faktor-faktor pribadi orang Tionghoa yang menjadi Jawa dalam kurun waktu 1895 -1998. Rustopo melacak kajiannya melalui silsilah dan faktor lingkungan, mulai dari lingkungan keluarga, tetangga hingga lingkungan budaya. Pola-pola kebudayaan Jawa yang disampaikan oleh Geertz dijadikan sebagai rujukan
Menjadi Jawa : Orang-Orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa di Surakarta 1895 – 1998, Yogyakarta : Ombak, 2007.
41

19

untuk mengamati simbol-simbol kejawaan mana yang diadopsi dan dihasilkan oleh orang-orang Tionghoa di Surakarta. I.6. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan metode sejarah, yaitu mencari, menemukan, dan menguji sumber-sumber, sehingga mendapatkan fakta sejarah yang otentik dan dapat dipercaya. Sumber yang digunakan dalam penelitian ini berupa sumber tertulis, angket/quisioner, sumber lisan, dan artefak yang berbentuk material maupun non material. Sumber-sumber tertulis yang diteliti meliputi arsip, surat kabar, artikel, majalah, laporan lembaga/organisasi Tionghoa, dan buku-buku ilmiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural dengan mengunakan analisis sejarah makro untuk menjelaskan identitas Tionghoa Padang pada periode 1950 - 2006. Penelitian ini termasuk kategori penelitian kualitatif yang bertujuan untuk menemukan teori dari lapangan. Metode kualitatif juga didukung dengan data perpusakaan dan arsip, hasil wawancara, pengamatan dan observasi. Ada beberapa alasan utama mengapa pendekatan kualitatif dianggap lebih tepat digunakan untuk mencapai tujuan penelitian ini. Pertama, penelitian ini dimaksudkan untuk memahami permasalahan yang timbul dari proses perubahan identitas dalam fenomena sosial dengan setting alamiah dan interpretasi berdasarkan pengamatan dan pemaknaan yang diberikan oleh ruang sebagai lokalitas tempat Tionghoa Padang beraktivitas. Kedua, realita bersifat multidimensi sebagai akibat dari kompleksitas situasi yang beragam. Oleh karena itu, kajian terhadap fenomena ini harus dilakukan dengan menganalisa sesuai konteksnya dan ini hanya mungkin dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga teknik, yaitu studi pustaka dan arsip, observasi, dan wawancara mendalam.42 Studi pustaka dilakukan sebagai langkah awal dalam penelitian dengan mengumpulkan dan menelaah literatur berupa buku, artikel-artikel, dan laporan penelitian yang berkaitan dengan topik. Studi pustaka dilakukan di perpustakaan di kalangan Universitas Indonesia yaitu, perpustakaan
Max Travers mengatakan bahwa teknik pengumpulan data yang menggunakan teknik pengumpulan data tertulis, observasi dan wawancara sekaligus dinamakan dengan teknik etnografi. Teknik ini membutuhkan keseriusan peneliti untuk mengamati sekelompok orang tertentu untuk mengetahui pandangan hidup (way of life) orang yang diteliti. Lihat lebih lanjut Max Travers, Qualitative Research Through Case Studies, London : Sage Publication, 2001, hal. 3.
42

20

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, perpustakaan pusat Universitas Indonesia, perpustakaan Pascasarjana Departemen Antropologi dan Sosiologi, perpustakaan Nasional, perpustakaan Atmajaya, perpustakaan Daerah Sumatera Barat, dan perpustakaan Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNP. Sumber tertulis berupa dokumen yang digunakan terdiri dari; pertama dokumen resmi negara, baik yang berasal dari dokumen kolonial Belanda maupun dokumen pemerintah Indonesia, seperti Staatsblad no 37 tahun 1835, Staatsblad no 57 tahun 1866, Keppres no 6/2000, Peraturan Presiden RI no. 10 tahun 1959, Surat Edaran Pressidium Kabinet Ampera no. SE 06/Pres.Kab/6/1967, Instruksi Presiden RI no. 14 tahun 1967, Instruksi Pressidium Kabinet no 49/U/IN/8/1967, dan Instruksi Pressidium Kabinet no 37/U/IN/1967 dan dokumen lainnya. Dokumen resmi tersebut diperoleh dari Arsip Nasional RI (ANRI) Jakarta. Arsip lain yang digunakan dan yang tidah kalah pentingnya adalah arsip perhimpunan berupa anggaran dasar dan anggaran rumah tangga marga, Himpunan Tjinta Teman, Himpunan Bersatu Teguh, dan Santu Yusuf, laporan tahunan, baik dari perhimpunan marga maupun perhimpunan sosial-budaya yang ada di Padang. Beberapa arsip perhimpunan yang telah didapatkan antara lain; Huishoudelijk Reglement, Heng Beng Tong, Padang, 4 Juni 1924 dan catatan/ buku harian keluarga Gho. Selain itu, penelitian dilengkapi dengan bahan publikasi dari koran dan majalah, seperti Harian Haluan, surat kabar Sin Po, Harian Singgalang, Buletin ISDB, publikasi Klenteng, Bulletin Perhimpunan, AD/ART Perhimpunan, dan dokumen lainnya. Observasi dan pengamatan dilakukan secara non partisipan, di mana peneliti berperan hanya sebagai pengamat fenomena yang sedang diteliti. Teknik ini dimaksudkan untuk memperoleh data tentang kondisi objektif dari masyarakat yang diamati, lingkungan sosial, serta perilaku subjek penelitian berkaitan dengan perubahanperubahan yang terjadi. Untuk mengkroscek kebenaran data, peneliti juga melakukan partisipasi lengkap, yaitu berinteraksi secara mendalam dengan relasi yang berasal dari keturunan Tionghoa. Untuk mendukung bukti-bukti peristiwa masa lalu, penelitian ini juga mengamati peninggalan sejarah berupa benda, seperti Klenteng, gedung tua, tempat pemujaan, prasasti/kuburan tua, dan foto-foto sebagai sumber primer, di antaranya foto upacara kematian, upacara perkawinan, bakti sosial perhimpunan, dan dokumenter lainnya yang

21

mendukung. Sumber lain yang digunakan berupa artefak non material, misalnya dapat dilihat melalui kesenian musik Gambang, seni bela diri wushu, upacara kematian, upacara perkawinan, dan tradisi Barongsai yang masih dilaksanakan hingga saat ini. Selanjutnya, untuk mengisi kekurangan data yang tidak tercatat pada sumber tertulis, maka penelitian ini menggunakan sumber lisan. Sumber lisan dicapai dengan melakukan wawancara terhadap 50 orang informan berdasarkan kategorisasi usia dan profesi dengan harapan mendapatkan informasi sesuai dengan zamannya. Topik yang ditanyakan dalam proses wawancara antara lain tentang kisah hidup informan dan hasil pengamatan informan tentang fenomena masa lalu. Wawancara dilakukan langsung kepada pelaku dan anggota keluarga (family-tree interviewing), sehingga dapat menjangkau dua generasi dalam satu keluarga yang sama.43 Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah indepth interview dengan pola semi structured interview. Wawancara juga dilaksanakan terhadap informan (kelompok-kelompok klan/suku, tokoh budaya dan agama) dan subjek penelitian (kelompok etnik yang berbeda). Pada penelitian lapangan, data lisan yang diambil sangat tergantung pada ingatan pelaku sejarah ataupun anggota keluarganya. Data yang sudah diperoleh dikritik secara interen maupun eksteren, setelah itu diklasifikasikan sesuai dengan kronologisnya.44 Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis prosesual dan struktural. Analisis prosesual digunakan untuk menggambarkan proses perubahan identitas orang Tionghoa dan kehidupan sosial budayanya. Analisis struktural45 digunakan untuk menganalisis pengaruh kebudayan lokal dan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yang berpengaruh terhadap proses pembentukan identitas Tionghoa Padang. Selain itu, analisis struktural juga digunakan untuk menganalisis identitas Tionghoa Padang yang berkaitan dengan proses perubahannya sebagai akibat pengaruh sosial budaya lokal dan kebijakan pemerintah Indonesia. Fakta-fakta yang sudah diperoleh dari sumber-sumber sejarah bersama-sama
43

Hugo Slim and Paul Thompson, “Ways of Listening” dalam Robert Perks and Alistair Thomson” (eds), The Oral History Reader, New York: Ruutledge, 1998, hal. 114-125. 44 Gilbert J. Garraghan, S.J, A Guide to Historial Method, New York : Fordham University Press, 1957, hal. 108. 45 Mengenai model analisis struktural lihat Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, Jakarta: Gramedia, 1993, hal. 100-101.

22

dengan konsep yang digunakan disusun ke dalam suatu interpretasi yang menyeluruh, sehingga proses eksplanasi akan menghasilkan penulisan sejarah analitik. I.7. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan permasalahan penelitian, meliputi penjelasan tentang proses perubahan identitas yang dipengaruhi oleh rezim yang berkuasa di Indonesia. Kajian tentang orang Tionghoa secara mikro penting dilakukan untuk mendapatkan rekonstruksi kehidupan orang-orang Tionghoa secara interen. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan deskripsi analitis tentang aspek sosial, budaya, dan politik yang membentuk karakteristik identitas Tionghoa Padang khususnya, dan cerminan kekayaan budaya Indonesia umumnya. Studi pada tingkat lokal diperlukan untuk menghasilkan rekonstruksi sejarah sosial dan budaya yang dapat dipertanggungjawabkan. I.8. Sistematika Penulisan Hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk rekonstruksi karya sejarah yang terbagi atas tujuh bab. Bab pertama merupakan pendahuluan yang membahas tentang latar belakang dan permasalahan, batasan penelitian, kajian sumber, pendekatan konseptual, kajian pustaka, metodologi penelitian, tujuan dan kegunaan penelitian serta sistematika penulisan. Bab ke dua mendeskripsikan perjalanan sejarah Padang dari Muara sampai terbentuknya Kota Padang. Untuk menggambarkan proses pembentukan Padang menjadi sebuah Kota, bab ini membahas tentang keadaan alam dan wilayah kota, Padang sebelum kemerdekaan, dan Padang setelah kemerdekaan. Untuk mengkaji kondisi Padang sebelum kemerdekaan, pembahasan meliputi rantau Minangkabau, entrepot di bawah kekuasaan asing. Sementara pembahasan tentang Padang setelah kemerdekaan meliputi pluralitas kota dan pemerintahan. Bab ke tiga membahas tentang koeksistensi Tionghoa dalam masyarakat kota Padang sebelum kemerdekaan. Pembahasan pada bab ini terdiri atas tiga sub bab. Sub bab pertama membahas tentang Kampung Pondok, meliputi pembahasan tentang morfologi dan gaya bangunan, serta sistem pemerintahan bentukan Belanda. Sub bab ke

23

dua membahas tentang kehidupan politik, sosial, dan budaya yang meliputi kehidupan politik kolonial dan pengatuh nasionalisme Tionghoa. Sub bab ke dua juga membahas tentang perhimpunan marga serta perhimpunan sosial, budaya dan kematian. Budaya Pondok dan kesenian juga menjadi salah satu bahasan dalam su bab ini, di mana pembahasan direfleksikan pada bahasa Pondok serta upacara perkawianan dan kematian Tionghoa Padang. Sub bab ke tiga membahas tentang agama meliputi penghormatan terhadap arwah leluhur dan zending serta missi. Bab ke empat membahas tentang posisi Tionghoa Padang dalam politik lokal 1945 – 1949. Pembahasan pada bab ini terdiri dari dua sub bab meliputi masa kacau dengan pembahasan kondisi Tionghoa pada masa revolusi dan masa orde lama dengan pembahasan tentang posisi Tionghoa pada tahun 1950 – 1965. Pembahasan pada masa kacau meliputi periode awal kemerdekaan, Poh An Tui, orientasi yang terbelah, dan masa PDRI. Pembahasan masa orde Lama meliputi kebijakan Benteng, kebijakan pemerintah dalam bidang politik, dan kebijakan Pemerintah di Bidang Sosial – Budaya. Bab ke lima membahas tentang harmonisasi dalam keterasingan (1966 – 1998). Bab ini terdiri atas empat sub bab, di mana sub pertama membahas tentang perubahan negara yang meliputi kebijakan dan kontrol negara serta menciptakan stabilitas ekonomi dan politik. Sub bab ke dua membahas tentang kota dan pemakaman Tionghoa. Sub bab ke tiga membahas tentang hegemoni budaya, sedangkan sub bab ke empat membahas tentang interaksi dan relasi, meliputi interaksi ke dalam komunitas, dialektika hubungan Tionghoa dengan orang Minangkabau, serta Tionghoa dengan Pemerintah Bab ke enam membahas tentang era baru : dampak reformasi bagi Tionghoa Padang. Bab ini terdiri dari empat sub bab, meliputi pertama, organisasi sosial dan jaringan yang diperluas, ke dua ekspos budaya, ekonomi, dan kompetisi, ke tiga memasuki politik praktis, dan ke empat kontiniutas yang tidak berubah. Bab ke tujuh merupakan kesimpulan yang merupakan jawaban perrmasalahan penelitian.

24