Anda di halaman 1dari 15

Pengelolaan Sistem Informasi Sumber Daya Alam Daerah:

Kebutuhan dan Permasalahannya


(Bagian Akhir dari Dua Tulisan)

Budy P. Resosudarmo (NRM)*)

Permasalahan Sistem Informasi di Daerah


Bagian ini mencoba mengungkapkan permasalahan umum yang sering ditemui di
daerah berkaitan dengan pengelolaan informasi. Catatan, memang tulisan ini memusatkan
perhatiannya pada sistem informasi sumber daya alam, namun demikian pada kenyataannya
sebagian besar permasalah yang ada pada pengadaan dan pengelolaan informasi di daerah,
yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan, tidak unik hanya untuk kasus sumber daya
alam, namun lebih pada pengadaan dan pengelolaan informasi secara umum. Karenanya
bagian ini akan mengulas permasalah sistem informasi di daerah secara umum. Hanya saja
perlu diperhatikan, pada setiap permasalahan yang diulas disini untuk kasus sumber daya alam,
pemecahan permasalahannya seringkali lebih sulit. Hal ini disebabkan pengertian tentang
informasi yang menyangkut sumber daya alam relatif belum dikuasai dengan baik oleh
perencana pembangunan.
Perlu juga diperhatikan bahwa ulasan di bagian ini sifatnya yang umum, maka akan ada
permasalahan yang diungkapkan di sini yang merupakan permasalahan di suatu daerah, tetapi
bukan merupakan suatu masalah di daerah lain. Sebaliknya, akan ada permasalahan yang secara
spesifik ada di suatu daerah, tetapi tidak diungkapkan di sini.
Untuk dapat mengungkap permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan informasi,
khususnya informasi untuk perencanaan pembangunan daerah, dengan relatif sistematis,
tulisan ini memulainya dengan mengajukan tiga pertanyaan:
1. Apakah pemerintah daerah tahu akan kebutuhan informasi dalam mengembangkan
strategi pembangunan daerahnya?
2. Jika tahu butuh, apakah pemerintah daerah tahu bahwa informasi itu ada?
3. Jika tahu butuh dan tahu kalau data tersebut ada, apakah pemerintah daerah bisa
mendapatkannya?
Dengan memperhatikan pertanyaan di atas, sebenarnya tabel yang baik untuk
menunjukkan situasi yang dapat terjadi di daerah haruslah dilukiskan dalam matriks tiga
dimensi. Namun demikian matriks dua dimensi pada Gambar 1 dapat juga mengindikasikan
situasi yang terjadi di daerah secara umum. Atau, dengan kata lain, Gambar 1 menunjukkan
tipologi kondisi daerah dalam hal permasalahan sistem informasi.

*)
Disusun secara bersama oleh Budy P. Resosudarmo (NRM), Raksaka Mahi (LPEM-FEUI), Vivi Yulaswati (Bappenas),
Fauziah Swasono (LPEM-FEUI), Mas Wedar (Bappenas), Virza Sasmitawidjaja (NRM), Surjadi (LPEM-FEUI), dan
Timothy Brown (NRM)-red.

1
Bisa Diambil Tidak Bisa Diambil

Tahu Butuh – Tahu Ada A B


Tahu Butuh – Tidak Tahu Ada C1 C2

Tidak Tahu Butuh – Tahu Ada D1 D2

Tidak Tahu Butuh – Tidak Tahu Ada D3 D4

Gambar 1. Situasi yang Mungkin Muncul Berkaitan Dengan Informasi

A. Tahu Butuh – Tahu Ada – Bisa Ambil


Kondisi A pada Gambar 1 di atas adalah kondisi “ideal.” Pada kondisi ini pemerintah
daerah tahu akan informasi yang dibutuhkan, tahu kalau informasi itu ada, dan dapat
mengambilnya. Namun demikian, bukan berarti pada kondisi ini tidak ada permasalahan
dalam menggunakan informasi yang tersedia. Beberapa masalah yang relatif sering muncul
dalam kondisi ini adalah sebagai berikut.
Kualitas Informasi yang Rendah
Informasi yang tersedia ternyata kualitasnya rendah. Ketika diperiksa ke lapangan
ternyata keadaan yang ada di lapangan berbeda dengan informasi yang ada. Keadaan
rendahnya kualitas informasi relatif lebih parah untuk informasi mengenai sumber daya alam.
Rendahnya kualitas informasi ini sering kali disebabkan oleh (1) lemahnya metodologi
yang digunakan dalam mengambil data, (2) kualitas sumber daya manusia yang tidak memadai,
(3) biaya yang tinggi dan (4) instansi pengambil data memiliki insentif tertentu untuk
melaporkan hasil yang berbeda dengan data yang didapat.
Lemahnya metodologi yang digunakan berkaitan erat dengan kurang memadainya
sumber daya manusia dalam hal pengumpulan data. Beberapa macam data, terutama sekali
untuk sumber daya alam, membutuhkan metodologi yang relatif sulit dan manusia yang relatif
berpengetahuan baik. Sebagai contoh, pembuatan sistem informasi geografis (geographic
information system).
Pengambilan data dan pengelolaan informasi membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Hal ini sering kali menyebabkan pengambilan jalan pintas dalam mengambil dan mengelola
informasi yang pada akhirnya menurunkan kualitas informasi. Hal lain yang sering kali
menyebabkan rendahnya kualitas data adalah instansi pengambil informasi/data tidak berani
menyatakan yang sebenarnya karena alasan tertentu. Misalnya, keadaan dimana kenaikan
pangkat suatu pimpinan instansi tergantung pada tercapai atau tidaknya sesuatu target yang
dibebankan padanya dan lemahnya kontrol, memberikan insentif yang kuat untuk
memanipulasi data jika hal yang ditargetkan ternyata tidak tercapai.
Informasi yang Berbeda dari Sumber yang Berbeda
Beberapa macam informasi ternyata dikelola oleh beberapa instansi. Permasalahan
yang sering timbul adalah untuk sebuah informasi, instansi yang berbeda memberikan data
yang berbeda. Contoh klasik mengenai hal ini adalah data deforestasi di suatu daerah. Angka
dari Departemen Kehutanan relatif secara konsisten lebih rendah dari estimasi beberapa
lembaga non-pemerintah.

2
Beberapa alasan yang umum disebutkan dalam kasus ini adalah (1) pengertian/definisi
yang berbeda tentang sebuah variabel, (2) metodologi yang berbeda, (3) kualitas yang berbeda
dan (4) adanya insentif tertentu bagi sebuah institusi untuk menghasilkan data yang
menguntungkannya.
Kelengkapan Informasi
Dalam kasus ini, informasi relatif ada tetapi kurang lengkap sehingga sulit untuk
digunakan. Pengertian kurang lengkap disini adalah (1) sebagian ada, sebagian tidak, (2)
informasinya kurang detail, atau (3) informasinya tidak sinambung (hanya ada untuk perioda-
perioda tertentu). Hal utama yang menimbulkan kasus ini adalah (1) pihak instansi/lembaga
yang mengumpulkan data tidak mengerti akan kebutuhan data dari instansi/lembaga pengguna
data dan (2) mahalnya biaya pengumpulan dan pengelolaan data.
Tidak Memahami Metodologi Penggunaan Informasi
Disini pemerintah daerah tahu akan kebutuhan sesuatu informasi. Pemerintah daerah
tahu kalau data itu ada dan data tersebut dapat dengan mudah diambil. Hanya saja,
pemerintah daerah kurang memahami teknik analisis yang harus dilakukan. Akibatnya,
informasi yang relatif sangat berharga tersebut tidak digunakan dalam mengembangkan
perencanaan pembangunan daerah. Atau, karena salah dalam melakukan analisa, maka
perencanaan pembangunan yang dihasilkan tidak seperti yang diharapkan.
Kendala utama dalam kasus ini adalah lemahnya sebagian besar kualitas sumber daya
manusia di daerah dan mutasi yang terlalu cepat. Dalam kasus mutasi yang terlalu cepat,
mereka yang mampu sering kali harus pindah ke bagian lain, sebelum sempat menghasilkan
suatu analisis ekonomi yang baik.

B. Tahu Butuh – Tahu Ada – Tidak Bisa Ambil


Pada kondisi ini, pemerintah daerah menyadari akan kebutuhan suatu informasi, tahu
dimana informasi itu berada, tetapi tidak bisa mengambil informasi tersebut. Secara umum
permasalahan yang menyebabkan kondisi ini adalah adanya hambatan institusional. Berikut ini
coba diperinci apakah hambatan institusional tersebut.1
Faktor Sekuritas
Beberapa institusi pengumpul dan pengelola data berpendapat bahwa beberapa
informasi tertentu merupakan informasi yang tidak dapat diberikan kepada instansi lain,
termasuk pemerintah daerah. Dilain pihak pemerintah daerah membutuhkan informasi
tersebut untuk mengembangkan perencanaan pembangunan di daerahnya.
Contoh kasus untuk hal ini adalah kasus biaya produksi sebuah perusahaan yang
bergerak di bidang eksploitasi dan pengolahan sumber daya alam. Perusahaan tersebut
berpendapat bahwa informasi biaya produksi merupakan informasi yang eksklusif miliknya
sendiri. Sementara itu, pihak pemerintah daerah memerlukan informasi tersebut untuk dapat
mengestimasi penerimaan daerah dari mekanisme bagi hasil.
Lemahnya Kerjasama Antarlembaga/Instansi
Lemahnya kerjasama antarlembaga/instansi pemerintah atau antara lembaga
pemerintah dan non-pemerintah seringkali menyebabkan (1) lembaga pemilik informasi tidak
merasa perlu memberikan informasi yang diminta lembaga lain, atau (2) lembaga pemilik data
memberikan data setelah saat dibutuhkannya data tersebut lewat. Dengan demikian, lembaga

1
Perhatikan segala permasalah di kondisi A dapat juga terjadi di kondisi B ini.

3
yang membutuhkan informasi tersebut untuk mengembangkan perencanaan pembangunan
daerah tidak dapat menggunakan informasi tersebut.
Masalah Prosedural
Ada kalanya lembaga pemilik informasi memiliki prosedur pengambilan data yang
tidak dipahami oleh lembaga yang membutuhkan data tersebut. Kegiatan pengambilan data
menjadi berlarut-larut, dan pada saat data dibutuhkan, data tersebut tidak tersedia.
Mahalnya Biaya Pengambilan Informasi
Cukup banyak instantsi pengambil dan pengelola informasi menuntut kompensasi dari
informasi yang dibutuhkan. Untuk informasi sumber daya alam umumnya kompensasi
tersebut relatif sangat mahal dan harus diambil di Jakarta. Beberapa pemerintah daerah tidak
memiliki dana untuk mengakses informasi mahal yang dibutuhkannya itu. Karenanya,
informasi yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh.
Tidak Tersedianya Perangkat Elektronik yang Memadai
Tidak tersedianya perangkat elektronik yang memadai dapat pula menyebabkan
transfer informasi terhambat. Di suatu kasus, ada pemerintah daerah yang membutuhkan
informasi yang tersedia di internet, tetapi tidak dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan
tesebut, karena tidak memiliki perangkat elektronik yang memadai untuk mengakses ke
internet.
Dilain kasus, pemilik informasi tidak memuat informasinya di internet, sehingga
instansi lain sulit untuk mengaksesnya.

C. Tahu Butuh – Tidak Tahu Ada


Perhatikan dalam kondisi ini tidak terlalu jadi soal apakah pada kenyataannya data
tersebut bisa (C1) atau tidak bisa diambil (C2).2 Karenanya analisa mengenai kondisi C1 dan C2
digabung menjadi satu kondisi, yaitu kondisi C. Dalam kondisi C ini dua kenyataan dapat
terjadi, yaitu: (1) informasi memang tidak ada atau (2) informasi sebenarnya ada.
Informasi Memang Tidak Ada
Kenyataan bahwa informasi memang tidak ada dapat disebabkan karena beberapa hal.
Yang umum terjadi adalah sebagai berikut:
• Tidak ada teknologi yang dapat mengestimasi informasi yang dibutuhkan. Pada kondisi ini
memang tidak ada teknologi yang mampu memberikan informasi yang akurat mengenai
informasi yang dibutuhkan.
• Pengambilan data membutuhkan teknologi yang membutuhkan biaya mahal. Terbatasnya
dana yang tersedia menyebabkan tidak adanya instansi/lembaga yang melakukan
pengambilan data.
• Pemerintah daerah belum memperhatikan dan memberikan prioritas pada kegiatan
pengumpulan suatu informasi. Hal ini dapat terjadi walaupun pemerintah daerah
menyadari kebutuhan akan data tersebut.
Ketiga permasalahan di atas relatif sering terjadi untuk kasus informasi sumber daya alam.

2
Walaupun pada kenyataannya jika informasi tersebut tidak bisa diambil, pemecahan persoalannya menjadi lebih sulit.

4
Informasi Sebenarnya Ada
Secara umum yang menyebabkan terjadinya kondisi C ini adalah lemahnya kerjasama
antar lembaga/instansi. Secara lebih terperinci, ada beberapa hal yang sering terjadi sehingga
pemerintah daerah tidak tahu bahwa informasi yang dibutuhkan itu tersedia:
• Lembaga perencana pembangunan daerah tidak secara aktif mengamati dan mencari tahu
kegiatan lembaga lain, baik pemerintah maupun non-pemerintah, yang melakukan
mengambilan dan mengelolaan informasi.
• Lembaga yang mengumpulkan dan mengelola informasi belum merasa perlu melaporkan
informasi yang dimilikinya kepada lembaga perencana pembangunan daerah.
• Tidak ada koordinasi dalam hal pengambilan dan pengelolaan informasi di daerah, baik
antar lembaga pengumpul informasi maupun antara lembaga pengumpul dan pengguna
informasi.
Perhatikan semua permasalahan yang terjadi di kondisi A dan B dapat pula terjadi di kondisi C
ini. Demi efektifitas penulisan, masalah-masalah tersebut tidak dibahas kembali.

D. Tidak Tahu Butuh


Dalam tulisan ini, jika kondisi ini terjadi, tidak terlalu dipersoalkan lagi apakah data itu
ada atau tidak ada, dan bisa atau tidak bisa diambil. Jika pemerintah daerah tidak tahu akan
kebutuhan data dalam hal merencanakan pembangunan daerahnya, kemungkinan besar
perencanaan pembangunan daerahnya tidak menggunakan data yang seharusnya diperlukan.
Penyebab utama terjadinya kondisi ini adalah lemahnya sumber daya manusia di
beberapa pemerintah daerah. Solusi utama untuk keadaan ini adalah memberikan masukan
yang memadai kepada pemerintah daerah sehingga dapat meningkatkan kemampuan sumber
daya manusianya. Namun demikian, berbagai permasalahan mungkin timbul di kondisi A, B
dan C di atas.

Rekomendasi Pengembangan Sistem Informasi di Daerah


Bagian ini akan memberikan rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam hal
mengembangkan sistem informasi, terutama sekali sistem informasi pengelolaan sumber daya
alam.
Berdasarkan tipologi kondisi daerah dan permasalahan yang telah diuraikan
sebelumnya, tulisan ini merekomendasikan beberapa langkah kebijakan umum bagi
pemerintah daerah dalam mengembangkan sistem informasi di daerah. Perlu diingat, tulisan
ini hanya memberikan langkah-langkah umum, bukan detail operasional.
Pertama-tama pemerintah daerah perlu menyadari kondisi daerahnya, dalam hal sistem
informasi, masuk dalam tipologi mana pada Gambar 1. Jika suatu daerah tidak pada kondisi
A, bagian ini akan memberikan rekomendasi untuk dapat naik ke kondisi A dengan jalan yang
relatif efektif dan efisien. Jalan yang direkomendasikan tersebut dapat dilihat di Gambar 2.
Jika suatu daerah telah berada di kondisi A, bagian ini akan memberikan rekomendasi
untuk dapat memecahkan permasalahan-permasalahan menyangkut sistem informasi yang
umumnya ada di kondisi A.

5
Daerah Pada Kondisi D
Jika suatu daerah berada di kondisi D, baik berada di kondisi D1, D2, D3 atau D4,
permasalahan utama yang ada adalah (1) pemerintah daerah tidak tahu kalau ia butuh suatu
sistem informasi dalam merencanakan pembangunan daerahnya, dan/atau (2) pemerintah
daerah tahu butuh, tapi tidak tahu butuh informasi apa saja tepatnya.
Memecahkan kedua permasalahan yang baru saja disebutkan ini, akan membawa
daerah pada kondisi D4 ke C2, daerah pada kondisi D3 ke C1, daerah pada kondisi D2 ke B, dan
daerah pada kondisi D1 langsung ke A (lihat Gambar 2). Rekomendasi untuk memecahkan
kedua permasalahan tersebut adalah:
1. Menimbulkan sense of urgency dikalangan perencana di daerah tentang perlunya
mengelola sistem informasi dengan baik. Disini diusahakan dengan berbagai cara agar
perencana di daerah merasa bahwa kebutuhan akan adanya sistem informasi yang baik
untuk membuat sebuah perencanaan adalah hal yang sangat urgent. Untuk ini pemerintah
daerah perlu berhubungan dengan beberapa perguruan tinggi dan/atau lembaga tertentu
yang dapat menjelaskan konsekuensi-konsekuensi buruk jika membangun perencanaan
daerah tanpa menggunakan informasi yang relatif baik. Bappenas yang selama ini
berpengalaman melakukan perencanaan nasional tentunya merupakan salah satu lembaga
penting yang perlu dipertimbangkan untuk dihubungi.

Standar Minimum Sistem


Informasi Daerah dan
digunakan untuk menyusun
RAPBD

Rek. 7, 8, 9 Rek. 5 & 6


& 10

A B
Rek. 3 & 4

C1 C2

Rek. 1 & 2 Rek. 1 & 2

D1 D2

D3 D4
Note: Rek. = Rekomendasi No.

Gambar 2. Proses Pemecahan Masalah Sistem Informasi

6
2. Meningkatkan pengetahuan perencana-perencana di daerah agar lebih menyadari
kebutuhan informasi yang baik untuk perencanaan pembangunan. Ada beberapa
cara yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah, baik sendiri maupun bekerjasama
dengan pemerintah pusat. Cara pertama adalah memberikan pendidikan/pelatihan bagi
perencana di daerah tentang kebutuhan informasi dan perencanaan pembangunan yang
baik. Untuk ini dapat diselenggarakan pendidikan formal (degree/non-degree) bekerjasama
dengan beberapa perguruan tinggi dan/atau lembaga tertentu. Dapat pula dengan
menggalang kegiatan-kegiatan pendidikan non-formal, seperti membentuk
learning/discussion group, yang terdiri dari beberapa orang, yang secara terus menerus
mendapatkan dan menyebarkan informasi yang berkaitan dengan analisis perencanaan
pembangunan. Cara kedua adalah dengan memberikan kesempatan seluasnya bagi
perencana di daerah untuk memperoleh informasi, baik melalui media cetak, radio, televisi
dan internet, mengenai pentingnya pengorganisasian sistem informasi yang baik dalam
kaitannya dengan mengembangkan perencanaan pembangunan dan menciptakan
kelestarian alam.
Untuk kasus sumber daya alam, program peningkatan pengetahuan ini merupakan hal yang
sangat penting, karena pengertian perencana pembangunan di banyak daerah terhadap
sumber daya alam relatif tidak dalam.

Daerah Pada Kondisi C


Jika suatu daerah sudah berada pada kondisi C, baik C1 maupun C2 , permasalahan
utama yang ada di daerah tersebut adalah pemerintah daerah tidak tahu dimana data yang
dibutuhkannya berada. Jika masalah ini dapat dipecahkan maka daerah yang berada pada
kondisi C2 akan naik ke kondisi B, dan daerah yang berada pada kondisi C1 akan naik langsung
ke kondisi A (lihat Gambar 3).
Rekomendasi untuk memecahkan permasalahan yang ada pada kondisi C adalah
sebagai berikut:
3. Menyediakan media dimana para perencana dapat tahu dimana dan bagaimana
mengakses informasi/data yang dibutuhkan untuk perencanaan pembangunan.
Media ini dapat berupa manual katalog (hardcopy) atau katalog di komputer.
Pengorganisasian katalog dapat dilakukan berdasarkan (1) jenis infomasi atau (2) lokasi
informasi (serta persyaratan untuk memperoleh informasi).
ƒ Pengelompokan Jenis Informasi disini adalah kegiatan mendefinisikan kegunaan
dari informasi yang ada dan mengelompokkannya menurut kegunaannya tersebut.
Tentu saja dapat pula dikelompokkan lagi menurut prioritas kepentingan dan
menurut jenis variabelnya. Sebagai contoh, data makroekonomi nasional berisi:
PDB, inflasi, tingkat penggangguran, APBN dll. Adapun data penerimaan daerah
berisi: besarnya total subsidi, penerimaan pajak daerah dll.
ƒ Lokasi Informasi (serta persyaratan untuk memperolehnya) adalah
pengelompokkan informasi berdasarkan lokasi dari penyimpanan informasi
tersebut. Data/informasi biasanya dikumpulkan dan disimpan diberbagai sumber
yang relevan. Sumber tersebut bisa instansi pemerintah di tingkat pusat maupun
daerah, bisa juga lembaga asing. Pemerintah daerah perlu mengetahui lokasi dari
penyimpanan informasi/data yang dibutuhkan, termasuk cara untuk mengaksesnya.
Adalah umum setiap instansi menerapkan suatu prosedur tertentu yang harus diikuti
pihak luar jika ingin mengakses data yang ada diinstansi tersebut.

7
Satu hal yang relatif penting untuk disadari oleh pemerintah daerah adalah tidak perlu
semua kegiatan mengoleksi dan mengelola informasi di suatu daerah dilakukan oleh
pemerintah daerah di daerah itu. Hal ini terutama sekali benar untuk kasus sumber daya
alam yang umumnya membutuhkan biaya yang sangat besar dalam pengadaan dan
pengelolaannya. Namun hal yang terpenting adalah pemerintah daerah di daerah tersebut
mengetahui lembaga-lembaga mana saja yang mengumpulkan dan mengelola informasi
untuk daerahnya.
4. Mendorong kegiatan penyediaan informasi yang dibutuhkan dan saat ini informasi
tersebut belum ada. Menyadari bahwa ada beberapa informasi penting dalam
mengembangkan perencanaan pembangunan yang belum tersedia, pemerintah daerah
hendaknya memberikan prioritas bagi kegiatan penyediaan data tersebut. Untuk ini
pemerintah daerah dapat bekerjasama dengan berbagai instansi pemerintah lainnya atau
instansi swasta.

Daerah Pada Kondisi B


Jika suatu daerah telah berada pada kondisi B, maka untuk dapat meningkatkan daerah
tersebut menjadi kondisi A, hal-hal berikut direkomendasikan untuk dilaksanakan:
5. Membangun kerjasama yang baik dengan berbagai instansi yang memiliki
informasi. Untuk informasi yang tidak dipublikasi, kemampuan bekerjasama dengan
lembaga pemilik informasi merupakan kunci keberhasilan mengakses informasi tersebut.
Kerjasama yang baik akan mengatasi persoalan prosedural pengambilan informasi dan
mengurangi tingkat kesulitan memperoleh informasi karena faktor sekuritas.
6. Meningkatkan anggaran untuk memperoleh informasi. Seringkali memang informasi
yang dibutuhkan relatif mahal dan/atau harus diambil ditempat yang relatif jauh. Bahkan
dapat pula terjadi situasi dimana informasi yang dibutuhkan hanya tersedia dalam bentuk
file elektronik. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah daerah memang harus menyediakan
anggaran yang lebih besar untuk memperoleh informasi.

Daerah Pada Kondisi A


Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, kondisi A seringkali bukan tanpa
masalah. Jika suatu daerah telah berada pada kondisi ini, beberapa kebijakan perlu dilakukan
untuk dapat menggunakan informasi yang ada dengan baik. Rekomendasi mengenai kebijakan
yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
7. Standarisasi. Untuk dapat memudahkan penggunaan informasi yang ada, seringkali perlu
ada suatu standar mengenai metodologi pengumpulan dan bentuk informasi tersebut.
Standarisasi dalam hal pengumpulan informasi diharapkan dapat mengurangi terjadinya
perbedaan hasil pengukuran yang dilakukan oleh dua instansi yang berbeda. Standarisasi
bentuk informasi yang didapat juga akan memudah pengguna informasi tersebut. Sebagai
contoh adalah industri kayu. Sebagian perusahaan melaporkan tingkat produksinya dalam
satuan berat, sebagian perusahaan dalam satuan volume, dan sebagian lagi dalam satuan
fisik seperti lembar. Kondisi ini menyulitkan perencana pembangunan dalam menentukan
tingkat total produksi industri kayu. Sebuah forum antar instansi yang terkait sebaiknya
dibentuk untuk melakukan standarisasi pengumpulan dan bentuk informasi.
8. Pemeliharaan informasi. Pemerintah daerah hendaknya mengembangkan kebijakan
yang mendorong terpeliharanya berbagai informasi yang ada di pemerintah daerah atau
lembaga lain di daerahnya. Ada dua hal penting dalam hal pemeliharaan data:

8
ƒ Kontinuitas Informasi: Selain masalah penyediaan informasi, hal yang perlu
diperhatikan dalam pengembangan sistem informasi adalah kontinuitas dari
ketersediaan informasi tersebut. Berbeda dengan informasi/data yang diproduksi
oleh BPS, umumnya informasi yang diproduksi oleh instansi pemerintah non BPS,
terutama sekali di daerah, seringkali tergantung dengan proyek yang berkaitan
dengan pengadaan dananya. Begitu proyek selesai maka selesai pula pengadaan
informasi tersebut, sehingga tidak ada kontinuitas dari pengadaan informasi.
Berkaitan dengan menjaga kontinuitas dari penyediaan informasi, ada beberapa hal
tentang data yang perlu diperhatikan:
• Data Utama (Core Data): yaitu data yang diutamakan untuk diperbaharui secara
regular dengan anggaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah/pusat.
Contohnya adalah data I-O yang diperbarui oleh BPS. Kontinuitas dari data ini
umumnya terjamin.
• Data Berdasarkan Aktivitas Proyek (Project-based Data): yaitu data yang
pengadaannya melalui aktifitas proyek dalam lingkungan pemerintahan daerah,
maupun yang berasal dari proyek pusat di daerah. Data ini, kontinuitas relatif
sangat tidak terjamin.
• Shared-data: yaitu data yang pengadaannya melalui kerjasama beberapa instansi.
Jika dalam proses pengadaan data ini terjadi kerjasama/koordinasi yang baik
antara instansi yang terlibat, baik instansi pemerintah maupun non-pemerintah,
ada kemungkinan kontinuitas dari kerjasama ini akan langgeng. Dengan
demikian, kontinuitas pengadaan data dapat terjaga.
ƒ Peningkatan kualitas informasi: Kualitas informasi merupakan faktor penting
yang menentukan tinggi-rendahnya kualitas hasil analisis dari yang menggunakan
informasi tersebut. Apabila hal ini diabaikan, maka serangkaian informasi/data yang
telah disimpan tidak akan bermanfaat. Batasan tentang kualitas informasi sulit untuk
dideskripsikan. Tetapi pada pokoknya, kualitas informasi haruslah memenuhi
beberapa kriteria menyangkut:
ƒ Validitas informasi
ƒ Akurasi informasi
ƒ Kelengkapan informasi
ƒ Aksesabilitas informasi.
Untuk mengetahui apakah validitas dan akurasi suatu data baik, diperlukan
serangkaian tes yang mengevaluasi sejauh mana informasi yang ada tersebut memang
layak dipakai. Untuk itu lembaga pengelola informasi haruslah memiliki kemampuan
menganalisis validitas dan akurasi suatu informasi. Selain masalah validitas dan
akurasi, data yang berkualitas hendaknya lengkap dan relatif mudah diakses, baik
informasinya maupun metodologi pengumpulannya.
9. Meningkatkan teknik pengelolaan informasi. Kebijakan yang dikembangkan disini
adalah, terutama sekali, menyangkut pengembangan perangkat keras dan pengelolaannya
dalam menyimpan informasi. Kebijakan yang mengarah pada penggunaan sistem
elektronika yang baik merupakan satu pilihan yang relatif umum saat ini. Untuk informasi
sumber daya alam, karena beragam dan banyaknya informasi di bidang ini, penggunaan
media elektronika yang baik merupakan suatu kebutuhan yang tak dapat dihindari.
Perangkat keras yang baik ini juga penting untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan. Jangan
sampai data yang dulu telah dimiliki, atau diketahui letak dan cara mengaksesnya, hanya

9
karena sistem perangkat keras dokumentasi yang tidak baik menjadi hilang atau tidak dapat
diakses atau membutuhkan waktu cukup lama mendapatkannya.
10. Meningkatkan kemampuan perencana daerah dalam melakukan analisa ekonomi.
Informasi yang baik baru berguna jika perencana di daerah dapat menggunakannya. Jika
ternyata perencana di daerah belum benar-benar mampu menggunakan informasi yang
ada, maka kemampuan perencana di daerah perlu ditingkatkan. Peningkatan ini dapat
dilakukan melalui program pendidikan formal maupun non-formal. Pendidikan formal
dapat dilakukan melalui kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi dan berbagai instansi
yang mampu, seperti Bappenas, BPPT dan LIPI. Adapun pendidikan non-formal dapat
dilakukan dengan menyelenggarakan diskusi rutin, mengundang pakar, dan penyediaan
bacaan yang memadai.

10
Lampiran

A1. Sekilas Pandang dan Sintesa atas Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup Terutama Kaitannya dengan Informasi
Undang-undang 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup secara eksplisit
menjelaskan tentang hak, kewajiban dan peran masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif dalam
pengelolaan lingkungan hidup. Salah satu komponen yang terpenting untuk dapat mendukung
kegiatan pengelolaan lingkungan ini adalah ketersediaan informasi yang benar dan akurat.
Pasal 5 ayat 2 undang-undang tersebut menyatakan: Setiap orang mempunyai hak atas
informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Pada penjelasan ayat tersebut disebutkan: Hak atas informasi lingkungan hidup
merupakan suatu konsekuensi logis dari hak berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup
yang berdasarkan pada asas keterbukaan. Hak atas informasi lingkungan hidup akan
meningkatkan nilai dan efektivitas peran serta dalam pengelolaan lingkungan hidup, disamping
akan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan
hidup yang baik dan sehat.
Informasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat tersebut dapat berupa
data, keterangan, atau informasi lain yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup
yang menurut sifat dan tujuannya memang terbuka untuk diketahui masyarakat, seperti
dokumen analisis mengenai dampak lingkungan, laporan dan evaluasi hasil pemantauan
lingkungan hidup, baik pemantauan penaatan maupun pemantauan perubahan kualitas
lingkungan hidup dan rencana tata ruang.
Sintesa dari ayat tersebut dapat diartikan bahwa untuk menjalankan perannya dalam
pengelolaan lingkungan hidup baik sebagai pemantau maupun sebagai pihak yang terlibat
langsung, masyarakat perlu dibekali oleh informasi yang menunjang agar semua tindakan dan
kegiatan dalam partisipasinya dalam pengelolaan lingkungan hidup sejalan dengan kondisi
lingkungan hidup tersebut dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ayat ini juga bernapaskan perlunya keterbukaan informasi yang berkaitan dengan
pengelolaan lingkungan hidup bagi semua pihak yang membutuhkannya. Dengan demikian
semua pihak sesungguhnya mempunyai persamaan akan kemudahan akses terhadap informasi
pengelolaan lingkungan hidup.
Sedangkan pasal 6 ayat 2 menyebutkan: Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau
kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan
lingkungan hidup.
Pada penjelasan ayat tersebut menyebutkan bahwa informasi yang benar dan akurat itu
dimaksudkan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Inti dari ayat tersebut adalah diharuskannya semua pihak yang melakukan pengelolaan
terhadap lingkungan hidup baik itu berupa eksplorasi, eksploitasi maupun konservasi untuk
menyediakan informasi yang benar dan akurat. Ayat ini mengharuskan adanya transparansi
dari semua pihak yang menyediakan data dan informasi yang berkaitan dengan kegiatannya
masing-masing.
Kebenaran dan keakuratan informasi yang disediakan oleh pihak yang berperan dalam
pengelolaan lingkungan hidup juga harus dapat digunakan sebagai alat untuk mengontrol
sejauh mana kegiatannya tersebut telah sesuai dengan peraturan (compliance factor), dan disebar

11
luaskan kepada masyarakat yang juga dalam undang-undang ini disebutkan mempunyai
peranan dalam pengelolaan lingkungan hidup.

A2. Beberapa Sumber Informasi Penting di Indonesia


Tabel A.1. Sumber Informasi Penting di Indonesia

Lembaga Basis Data Cakupan


BPS Pusat * Statistik Indonesia (agregat, sektoral), PDRB Propinsi, Nasional, propinsi,
Jl. Dr. Sutomo 6-8 Statistik Perusahaan HPH, statistik perdagangan, kabupaten
Jakarta 10710 SUSENAS, dan lain-lain.
Tel. 021 350-7057, http://www.bps.go.id/
Fax. 021 385-7046 Email: bpshq@bps.go.id
BPS Propinsi Propinsi dalam Angka, Tabel Input-Output, ICOR, luas Propinsi, kabupaten
lahan, statistik daerah lainnya.
Beberapa BPS propinsi (Kaltim, Sulut, Jatim, dll.)
memiliki website sendiri.
Bank Indonesia Data dan peraturan moneter, ekspor-impor, indikator Internasional, nasional
Jl. MH. Thamrin 2 makro, investasi, pasar uang, pasar modal, kurs, dan
Jakarta 10010 lain-lain.
http://www.bi.go.id/Ind/datastatistik/index.htm
Pertamina Peta eksplorasi perminyakan dan geotermal, pajak Nasional,
eksploitasi, peraturan-peraturan, beberapa prospek regional/lokal
migas
http://www.pertamina.com/
PT PLN Pemetaan instalasi PLN, pembangkit, transmisi. Nasional,
Jl. Trunojoyo Blok M 1/135 Perencanaan dan monitoring listrik pedesaan. Produksi regional/lokal
Kebayoran Baru - Jakarta 12160 energi dan penjualannya.
http://www.pln.co.id/
http://www1.rad.net.id/pln/
Kantor Menteri Negara Data dan manajemen sumber daya alam Nasional, regional
Lingkungan Hidup (keanekaragaman hayati, lahan basah, danau, kawasan
Jl. D.I. Panjaitan Kav. 24, Jakarta lindung, taman laut).
13410 http://www.menlh.go.id/
Telp. 021-8580067 E-mail: webmaster@menlh.go.id
Fax. 021-8580081
Bapedal Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Nasional, regional
Gedung Kantor Menteri Negara lingkungan, informasi mengenai pengendalian
Lingkungan Hidup Lt. VI lingkungan.
Jl. DI Panjaitan Kav. 24
Jakarta Timur http://www.bapedal.go.id/download.html
Telp./Fax. 021-8580081
Deptamben Peta tematik, kegiatan eksplorasi, produksi, ekspor- Nasional, propinsi
impor, informasi dan peraturan yang berkaitan dengan
mineral dan migas.
http://www.dpe.go.id/INFOBIJAK01/index.htm
Ditjen Pertambangan Umum - Daerah penambangan, komoditi, perusahaan Nasional, propinsi,
Deptamben penambang, peraturan-peraturan. kabupaten, hingga
http://www.djpu.com/index2.htm lokasi tambang
Departemen Kehutanan dan Integrated Forest Fire Management Project – Indonesia Nasional, regional
Departemen Wilayah (IFFMP-I)
Pemukiman http://www.iffm.or.id/
Kementerian Kehutanan dan Informasi mengenai hutan dan perkebunan (luas, Nasional, regional
Perkebunan * komoditi, tenaga kerja, penelitian, tata wilayah,
peraturan-peraturan, kerjasama)
http://mofrinet.cbn.net.id/utama.asp

12
Departemen Pertanian * Peraturan, statistik produksi, konsumsi, sumber daya, Nasional, propinsi,
dan monitoring untuk pertanian, perikanan, peternakan beberapa sampai
dan lahan. tingkat Kecamatan
http://www.deptan.go.id/
email: kabidbd@deptan.go.id
BAKOSURTANAL * Basis data topografis nasional (peta rupabumi, dasar Nasional, propinsi,
kelautan, tematik), sistem informasi sumberdaya alam, kabupaten
peta sumber daya kelautan.
http://www.bakosurtanal.go.id/
LAPAN Basis data inderaja (citra satelit) Nasional, propinsi,
Jalan LAPAN No. 70 Pekayon, http://www.lapanrs.com/ kabupaten dan
Pasar Rebo, Jakarta Timur beberapa lokasi riset
Telp./Fax. 021-8717715
Proyek MREP (Marine Atlas sumber daya kelautan, peta digital. Beberapa propinsi
Resources Evaluation and http://www.bakosurtanal.go.id/mrep/content.html
Planning Project) BPPT
Pusat Penelitian dan Basis data keanekaragaman hayati nasional Nasional, propinsi
Pengembangan Biologi LIPI
Jalan Ir. H. Juanda No. 18 Bogor http://www.nbin.or.id/
16002 email: nbin@indo.net.id
WWF Basis data distribusi spesies, kawasan cagar alam. Nasional, propinsi
http://www.panda.org/wwfintlink/
http://www.panda.org/resources/inthefield/country/i
ndonesia/
DISHIDROS Batimetri nasional dan data navigasi Wilayah Indonesia dan
Jl. Pantai Kuta V No. 1 http://www.geocities.com/Athens/Oracle/5567/5- ZEE
Jakarta 14430 1.html
Tel. 021-684810
BPN ILUD (peta penggunaan tanah, monitoring dan peta Nasional, regional
rencana tata ruang)
http://www.geocities.com/tokyo/2439/iludemai.htm
email: gbechtold@yahoo.com
SIG (Sistem Informasi Geografi) Media pertukaran dan perpaduan data spasial dan literal Nasional, propinsi,
Nasional * secara nasional. kabupaten
Koordinator: Bakosurtanal http://www.signas.or.id/
Jl. Raya Jakarta-Bogor Km. 46 Email: signas@pu.go.id
Cibinong 16911, Bogor
Tel. 021-875-3407
Puslitbang Teknologi Mineral Peta geologi digital Indonesia, indeks data Nasional, regional
(PPTM) * pertambangan, statistik pertambangan
Jl. Jend. Sudirman No.623 http://www.pptm.dpe.go.id/
Bandung
Bappenas Data about development condition (economic sides: Naional, propinsi
Jl. Suropati 2 production, GRDP, grants, etc; spatial, infrastructure,
Jakarta Pusat human resources, urban and rural development, etc)
http://www.bappenas.go.id/
Pekerjaan Umum Peta dasar digital, peta prasarana, peta tematik, peta Nasional, kota,
topografi, peta batas kecamatan, kontur, dan atribut kabupaten
postur desa
http://www.pu.go.id/publik/lpi-pu/infopeta/html/
ind/mainpeta.htm
PT Aneka Tambang Informasi mengenai kegiatan usaha PT Antam diseluruh Nasional, lokal
Gedung Aneka Tambang Indonesia termasuk jenis komoditi, informasi
Jl. Letjen. Tb. Simatupang No. 1 lingkungan dan kontribusi sosial, serta laporan
Lingkar Selatan keuangan.
Tanjung Barat - Jakarta 12530 http://www.antam.co.id/index1.htm
Email: antamtbk@rad.net.id

Deperindag Data ekspor-impor, peraturan-peraturan, informasi Nasional


Jl. Gatot Subroto Kav. 52-53, mengenai perindustrian dan perdagangan Indonesia,

13
3rd Floor indikator ekonomi, dan lain-lain.
Jakarta 12950 http://www.dprin.go.id/main.htm
Dit Geologi Tata Lingkungan Peta hidrogeologi, geologi perencanaan kota, informasi Nasional, regional
Jl. Diponegoro 57 Bandung dan peraturan yang berkaitan dengan air tanah
40122 http://www.dgtl.dpe.go.id/
Tel. 022-772603, Fax : 022- email: geoling@dgtl.dpe.go.id
706167
Dit Vulkanologi Sistem informasi geotermal dan observasi gunung Sumatera, Jawa, Bali
Jalan Diponegoro No.57 berapi. dan Nusa Tenggara,
Bandung 40122 Sulawesi, Maluku dan
Tel. 022-771402/772606 Fax. http://www.vsi.dpe.go.id/ Irian
022-702761 Email: dali@vsi.dpe.go.id
ZMT Bremen Informasi proyek pesisir kerjasama Indonesia-Jerman Sumatera Barat
Zentrum für Marine (manajemen pesisir, ekosistem, potensi ikan, terumbu
Tropenökologie karang)
Fahrenheitstraße 1 http://alf.zfn.uni-
D- 28 359 Bremen bremen.de/zmt/projects/Indonesia/index.html
Germany Pimpinan proyek: Dr. A. Kunzmann
E-mail: kontaktstelle@zmt.uni- email: akunzmann@zmt.uni-bremen.de
bremen.de IACRS (Indonesian Association for Coral Reef Studies)
Tel +49 421 23800 21 simpul I (sumatera)
Fax +49 421 2208 330 http://members.xoom.com/simpsatu/
Pusat Penelitian dan Pemetaan dan penelitian yang berkaitan dengan Nasional, regional
Pengembangan Oseanologi LIPI kelautan.
Jln. Pasir Putih I, Ancol Timur,
P.O. BOX 4801/JKTF http://www.oseanologi.lipi.go.id/indonesia.htm
Jakarta 11001 E-mail: shar@indo.net.id atau
Tel.: 021-683850 p3o_lipi@jakarta.wasantara.net.id
Fax: 021-681948
Bogor network Informasi mengenai hasil-hasil penelitian yang berkaitan Nasional, regional
dengan sumber daya alam
http://www2.bonet.co.id/dephut/teliti1e.htm
Wetlands International – Lokasi lahan basah, status konservasi, kepemilikan Nasional, regional
Indonesia Programme lahan, nilai lahan, tipe habitat, spesies flora-fauna,
Jl. Arzimar III No. 17 penggunaan lahan dan dampak aktivitasnya.
Bogor 16152 http://www.wetlands.or.id/
The Indonesian Center for Keanekaragaman hayati Nasional, regional
Biodiversity and Biotechnology http://www.icbb.org/indonesia/
(ICBB) email: iccb@bogor.indo.net.id
Jl. RE. Martadinata 8
Bogor 16162
Tel. 0251-319689, 382275, Fax.
382275
CIFOR (Center for International Riset dan beberapa data kehutanan Internasional, nasional
Forestry Research) Kotak pos: PO Box 6596 JKPWB
Jl. Situ Gede, Sindangbarang
Bogor Barat 16680 http://www.cgiar.org/cifor/
Tel. 0251 - 622622 E-Mail cifor@cgiar.org
Fax. 0251 – 622100
World Conservation Monitoring Deskripsi kekayaan alam dunia (di Indonesia adalah Pulau Komodo,
Centre Taman Nasional Komodo) Padar, Rinca dan Gili
http://www.wcmc.org.uk/protected_areas/data/wh/k Motong
omodo.html
Nottingham University Citra satelit cuaca Indonesia – Australia (diperbarui) Nasional
http://www.ccc.nottingham.ac.uk/pub/sat-
images/GMSS.JPG
The University of Texas at Peta beberapa daerah Indonesia Nasional, regional
Austin http://www.lib.utexas.edu/Libs/PCL/Map_collection/
indonesia.html

14
SIMBA Sistem Informasi untuk Manajemen Batimetri Nasional, regional
http://www.argoss.nl/projects/a58_simba/html/index.
htm
COREMAP (Coral Reef Proyek pemetaan dan rehabilitasi terumbu karang Regional, mempunyai
Rehabilitation and Management http://eco-web.com/cgi- link ke berbagai situs
Program) local/framecontext?a=index/index.html&b=register/03 yang berhubungan
162.html dengan sumber daya
alam.
Situs-situs konservasi di Menyediakan link ke berbagai situs yang berkaitan
Indonesia dengan sumber daya alam (cukup lengkap)
http://users.bart.nl/~edcolijn/links.html
EcoScience Informasi lingkungan, konsultasi, bimbingan penelitian Miling list
yang menyangkut lingkungan hidup
http://tile.net/lists/ecoscienceindonesia.html

Catatan:
ƒ Dalam menggali informasi selengkap-lengkapnya, user dapat menggunakan mesin pencari (search engine)
yang banyak dijumpai di internet, seperti web ferret, www.yahoo.com, www.altavista.com,
www.hotboot.com, www.lycos.com, dan lain-lain. Selain dari tabel diatas masih cukup banyak situs lain yang
berguna dan dapat membantu pemerintah daerah dalam mendapatkan berbagai informasi penting.
ƒ Tanda asterik (*) menunjukkan situs yang direkomendasikan bagi pemerintah daerah dalam kaitannya dengan
ketersediaan data sumber daya alam.
ƒ Beberapa pemerintah daerah di Indonesia dalam lima tahun terakhir ini telah pula melakukan pengumpulan
berbagai informasi penting. Sebagai contoh, pemerintah daerah Kalimantan Timur telah melakukan
pengumpulan informasi sebagai berikut:
ƒ Pertamina UPPDN VI Balikpapan: jenis produksi Pertamina
ƒ Kanwil BPN dan Bappeda: peta geologi, peta jenis/kelas tanah, curah hujan, dll.
ƒ Kanwil Dephub: daftar pelabuhan laut, dermaga khusus migas
ƒ Kanwil Deptamben: daftar kontraktor PT Bukit Asam, daftar kontrak karya emas, produksi
pertambangan
ƒ Bapedalda: usaha/kegiatan wajib AMDAL, laboratorium lingkungan, kasus lingkungan
ƒ BPN Kotamadya Balikpapan: data lahan utama (cadangan pada awal dan akhir tahun)

15

Beri Nilai