ASAL-USUL TERJADINYA BUKIT SIGUNTANG

Gunung Merapi di Sumatera Barat, bukit Siguntang di Jambi dan bukit si Guntang-Guntang di Palembang, ketiganya mempuanyai sejarah asal-usul yang sama. Pada zaman dahulu tersebutlah sebuah kerajaan yang bernama Selado Sumali. Raja negeri itu mempunyai sebuah pedang pusaka yang diturunkan secara turun-temurun, tapi sayang senjata tersebut tibatiba hilang tanpa diketahui kemana perginya. Pedang Pusaka yang keramat serta bertuah itu bernama “Pedang Surik Meriang Sakti Sumbing Sembilan Puluh Sembilan”. Raja telah bertekad agar pedang pusaka yang hilang itu harus ditemukan segara. Dipanggillah seorang hulubalang kerajaan yang amat terkenal bernama Datuk Baju Merah Berbulu Kerongkongan. Karena setiap turut berperang bajunya selalu merah oleh darah, dan ketika dia dilahirkan kerongkongannya dtumbuhi bulu. Kepada belaiaulah raja mempercayakan untuk mencari pedang pusaka yang hilang itu. Ketika Datuk Baju Merah Berbulu Kerongkongan mendapat tugas ini beliau menerimanya dengan senang hati tanpa membantah sedikitpun. Karena beliau tahu benar dengan tugasnya, maka pergilah beliau masuk hutan keluar hutan tanpa ada sedikitpun rasa takut lama kelamaan beliau sampai kesebuah goa, diputuskannya lah untuk memasuki goa itu yang nampak gelap dengan dinding goa yang keras dan dingin. Sesampai disana Datuk Baju Merah Berbulu Kerongkongan amat terkejut disebuah batu yang papak dilihatnya orang tua sedang duduk bertapa, diharibaannya terlintang sebuah pedang. Datuk Baju Merah Berbulu Kerongkongan benar-benar memperhatikan benda itu tersebut. Menurut hematnya itulah pedang Surik Meriang Sakti Sumbing Sembilan Puluh Sembilan yang dicarinya. Setelah menunggu beberapa saat barulah beliau menyapa orang asing yang sedang bertapa!. Siapa sebenarnya datuk sebenarnya dan dari mana datuk datang?. Mendengr ada suara manusia, pertapa itu menyebutkan namanya. Ia bernama Panglimo Tahan Takik berasal dari Ranah Pagaruyung, kemudian petapa itu bertanya kepada Datuk Baju Merah Berbulu Kerongkongan, siapa engkau gerangan yang lancang ini. Ada keperluan apa makanya engkau sampai disini. Maksud hamba? Datang kemari hendak mencari pedang pusaka Negeri Selado Sungai yang hilang. Kalau hamba tak salah lihat pedang pusaka itu ada diharibaan Datuk Panglimo.

namun tiba-tiba mereka berhenti dimuka mereka tampak seekor ular besar sedang menghadap siap menelan barang siapa yang berani mendekat. binatangbinatang yang ada disekitar goa itu berterobosan lari kemana-mana. Terpungkas dan potong tiga badan ular itu. akhirnya sampailah kesebuah tanah lapang yang maha luas. Kedua pendekar tu melakukan pertaruhan. Datuk Baju Merah sebentar matanya melirik kepada pedang Surik Meriang Sakti yang dipegangnya. Sadar bahwa pedang yang mereka perebutkan telah berhasil diambil lawannya. perkelahian sudah semakin hebat. Sudah tujuh lurah tujuh pematang yang mereka lalui. tiba-tiba keluar cahaya seperti kilat dari senjata pusaka itu. Segera berdiri dan mengejar Datuk Baju Merah. kepala ular itu . perkelahian datuk panglimo degan melawan ular itu sudah berjalan ternyata datuk panglimo tidak sanggup melawan dan membunuh ular itu. melihat kenyataan ini datuk paglimo tahan takik sangat marah. ia pun lalu dan langsung menyerang Datuk Baju Merah.Kurang ajar !bentak Rang Panglimo Tahan Takik. pada hari ketujuh ini tempat telah berpindah kebagian luar. Matahari telah tiba mengawali hari ketujuh dalam mengikuti perkelahian antara kedua pendekar yang tangguh kedalam sebuah goa ditengah rimba Negeri Selado Sumai. mula-mula tending menendang kemudian saling hembus-menghembus bunyi pelak dan raung bersiponggang melantun dinding. barang siapa yang sanggup membunuh ular itu dialah yang berhak mendapatkan atau memiliki pedang Surik Meriang Sakti Sumbing Sembilan Puluh Sembilan. Kedua pendekar itu sama-sama setuju. diatas padang datar itu lah kedua pendekar masih saling kejar-mengejar.dinding goa. Selesai berucap kemudian Datuk Panglimo mencoba untuk melawan ular besar itu. Perkelahian terus berjalan sudah 6 (enam) hari tubuh kedua pendekar itu tampak lelah. Perkelahian sudah tak dapat dihindarkan lagi. Ia melompat kesamping ditendangnya kepala ular itu sekuat-kuatnya. kedua pendekar kedua itu sedang berkejar-kejaran sejadi-jadinya. Pada suatu ketika Datuk Panglimo Tahan Takik. Penghuni rimba besar-kecil lari pontang-panting ketakutan. selesai berucap yang demikian dicabutkannyalah pedang tersebut. ia melangkah lambat secara meyakinkan sambil megucapkan kata sakti dan himbauan. melihat hal ini kedua pendekar itu mengadakan perundingan. serentak dengan itu serentak itulah dihujamkanlah senjata itu sekuat-kuatnya. tentu saja ia berhajat hendak merata badan ular tersebut. Melihat temannya tidak mampu membunuh ular besar melintang dan menghalangi perjalanan mereka. Sayup-sayup mata memandang rumput hijau papak beluka.

yang lama kelamaan menjadi gunung merapi seperti yang ada sekarang.terlempar ke udara bersiutan dan jatuh ditanah Minang Kabau. itulah sejarah asal-usul terjadinya bukit Siguntang. . ekornya diangkat dengan tangan lalu dilemparkanya kenegeri Palembang menjadi bukit Siguntang-Guntang.