P. 1
Jejak-Prabowo

Jejak-Prabowo

5.0

|Views: 1,973|Likes:
Dipublikasikan oleh astaga

More info:

Published by: astaga on Apr 11, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2015

pdf

text

original

Ada isu "pasukan lain" menyusup.

Perwira yang berada di lapangan saat peristiwa Trisakti terjadi,

dianggap bertanggungjawab.

MESKI perlahan, misteri yang menyelimuti tragedi berdarah di Universitas Trisakti mulai menemukan titik terang. Ini terjadi, menyusul usainya penyidikan aparat militer terhadap peristiwa nan kelabu itu. Menurut Komandan Polisi Militer Kodam (Dan Pomdam) Iaya, Kolonel CPly1· Drs. Hendardji, ketua Tim Pengusut AERI yang menangani peristiwa Trisakti, laporan penyidikan terhadap peristiwa 12 Mei 1998 itu sudah tuntas, Minggu (24/5). Setelah

- diserahkan ke Kodam Iaya, pengumuman terperinci dilakukan langsung oleh Panglima ABRI, Ienderal (TNI) Wiranto. Benar, usai sidang kabinet pertama Senin (25/5), Wiranto menjelaskan bahwa, ada delapan pelaku utama dari ABRI yang diduga menyebabkan kematian beberapa mahasiswa, disamping enam perwira yang dianggap mendorong terjadinya tindakan non proseduril dan indisipliner.

Pernyataan yang lebih transparan, justru datang dari Komandan Pusat Polisi Militer (Dan Puspom) ABRI, Mayjen (TNI) Syamsu Djalal, Perwira tinggi yang bertugas sebagai supervisor Tim Pengusut ABRI itu menegaskan, tragedi Trisakti . adalah tanggung jawab seluruh perwira yang berada di temp at kejadian. Bahkan, Syamsu tegas mengidentifikasi: penembakan dengan senjata tajam yang menewaskan empat mahasiswa itu berasal dari kesatuan Brigade Mobil (Brimob). "Kolonel Damanik kan ada di sana. Dia ikut memberikan perintah-perintah," ujar Mayjen Syamsu.

Dari mana tepatnya asal-usul si penembak, satu hal pasti, isu telanjur beredar santer di luar. Yakni, ada penembak gelap

atau "pasukan liar" yang berhasil masuk ke dalam

PEMAKAMAN ELANG MULYA. Tragedi Trisakti tanggung jawab

yang menggelar demo proreforrnasi itu mulai membubarkan diri. Dari arah kantor Wali Kota Ta-

tim keamanan, saat peris- seluruh perwira yang berada di

tiwa Trisakti terjadi, Be- tempat kejadian.

narkah? Sepanjang pekan

lalu, Tim Investigasi Tajuk mencoba merekonstruksi peristiwa bersejarah itu, berdasarkan sejumlah temuan di lapangan. Inilah hasilnya:

Hari telah senja, ketika sekitar 6.000 mahasiswa Universitas Trisakti (Usakti)

karta Barat, mereka berjalan menuju kampus yang jaraknya cuma 200 meter. Aksi demo itu sendiri dimulai pukul 12.30~ Awalnya, mahasiswa berniat long march ke gedung DPRfMPR. Namun, hal itu urung dilakukan, karena - tepat di muka kantor wali kota - mereka diha-

Tajuk NO.7, TH.I - 28 MEl 1998 82.

dang barisan pasukan Pengendalian Massa (Dalmas) Kepolisian Resort (PoIres) Jakarta Barat, yang didukung pasukan Kornando Distrik Militer (Kodim) Iakbar,

Setelah suasana reda, melalui pengeras suara, KapoIres Iakbar, Letkol (Pol.) Drs. Timur Pradopo, sempat mengueapkan terima kasih kepada mahasiswa atas ketertiban aksi mereka. Ini antara lain karena, sekitar pukuI 16.30, Dekan FH dan FE Usakti Adi Andojo Soetjipto dan Chairuman keIuar dari kampus, ikut meredakan suasana, seraya mengimbau mahasiswa untuk kembali ke karnpus.

Selang IS menit, ketika sebagian besar mahasiswa sudah memasuki haIaman kampus, tiba-tiba muneuI seorang alumnus Faknltas Desain (drop-out) angkatan 1976. Mas'ud, si mahasiswa DO itu, bertingkah "aneh". Sejak aksi digelar, ia sudah hilir mudik ikut mengatur mahasiswa dengan tingkahnya yang berlebihan. Pada·hal, sebagian besar yuniornya tak mengenal Mas'ud, Tak sedikit mahasiswa yang bahkan amat jengkeI atas tingkah-polahnya. Karena itu, mereka pun berteriak seraya menunjuk ke arah Mas'ud, "Intel...intel...."

Seeara serempak, para mahasiswa berupaya mengeroyok Mas'ud, Merasa terancam, si pembuat ulah itu berlari ke arah aparat, mencari perlindungan. Keruan, suasana seketika tegang kembali. Pasukan Dalmas secara spontan kembali berjagajaga menghadapi mahasiswa. Rupanya, pihak keamanan pun menduga, Mas'ud benar seorang intel, Saat itulah terdengar suara senjata dikokang, krak! "Kalau mereka mendesak, sikat saja," seru seorang petugas,

Ketegangan kian memuncak, lebihIebih setelah terdengar suara, "Berani rnaju, saya serang kamu." Emosi mahasiswa terpancing. Dari arah kerumunan mahasiswa, misaInya, muIai terlihat sebatang bambu melenting ke arah pasukan Dalmas. Tak disangka, sambutan dari barisan

aparat justru sebuah aba-aba: "Serbuuu ... !"

Mahasiswa, yang tidak riJ.enduga bakal diserbu, angkat kaki seribu. Pasukan DaImas yang bersenjatakan pentungan mengejar mahasiswa. Tak lama kemudian, "dor!" - terdengar suara bedil meletus. Pasukan Brimob di belakang DaImas pun melontar gas air mata. Sebagian lagi, sontak memuntahkan peluru hampa dan peluru karet ke arah mahasiswa yang mulai digerayangi kepanikan. .

Mereka beIingsatan mencari selamat.

Ada yang masuk kantor wali kota, ada yang menerabas ke kampus Universitas Tarumanegara. Selebihnya, masuk sedalam-da-

Pasukan Brimob terus merangsek. Dua lapis pasukan - selapis berdiri dan selapis lain berjongkok - membidikkan senjata ke arah mahasiswa dari arah pagar. Pada saat bersamaan, belasan personeI dari Unit Reaksi Cepat, Patroli Bermotor (Patmor), membidikkan senjata laras panjangnya ke haIaman kampus dari atas jembatan layang di muka kampus Usakti. "Saya Iihat dengan mata kepala sendiri, tembakan dari jembatan layang itu mengenai kawan saya, Yudo dan Hery," kata Andi, kepada Tajuk.

Penembaknya berseragam cokIat, berhelm putih dengan plester merah di belakang. Rompi hitam, dan di belakangnya bertuliskan 'polisi' warna merah. Saat itu

lamnya ke halaman kampus Usakti sendiri. Mereka yang punya nyali lebih, meneoba membalas den-

PROSESI PEMAKAMAN PAHLAWAN REFORMASI. Mahasiswa

jarum jam menunjuk pukul18.IS. Situasi kian ca-

berpikir polisi menembak rut marut. Beberapa rna-

pakai peluru karet, hasiswa berusaha rneno-

long rekannya yang tertembak. Lampu taman di halaman Usakti yang dipadamkan, semakin membuat suasana me 'ekam.

Emp .. " mahasiswa akhirnya tewas. Mereka adalah: Elang Mulya Lesmana, 20, (Fak. Teknik Sipil), Hendriawan Lesmana,

gan melempar batu atau

botol dari dalam kampus, "Mahasiswa berpikir, polisi menembak pakai peluru karet. Makanya mereka berani melempar batu," kisah Advendi, koordinator operasi dan pengendalian massa Crisis Center (CC) Usakti,

Tajuk NO.7, lH. 1- 28 MEl 1998 83

21 (Fak. Ekonomi), Hafidin Royani, 20, dan Hery Hertanto, 21 (Fak. Teknik). Sedang 16 lainnya luka terkena tembakan. Usai peristiwa, isu soal sniper (penembak tepat tersembunyi) dari arah gedung baru langsung jadi perbincangan ramai. Mereka pun mencaci maki aparat yang melepaskan peluru tajam. Tapi, siapa pelaku penembakan berpeluru tajam, dan siapa pula si sniper itu?

Fakta resrni di Tempat Kejadian Perkara (TKP) menunjukkan: terdapat pu-

..

SKEMATRAGEDI'··' UNIVERSITAS TRJSAK.T112"

..... , MEI199'S . ";:. "

Hery HartanloiHafidhTn RoyanT

:TATAN:

ifsi tew.a!i;r\ya Haftdhfn dan rI belum pasts. Yang jeres ah setu di arrtare 'keduanya vas di plaza

luhan Pasukan Dalmas Polres dan Polda Metro [aya, di bawah kendali Kapolres Iakbar Letkol (Pol.) Timur Pradopo. Di sana juga ada satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) Brimob di bawah pimpinan Lettu Wandi Rustiawan, Lettu Agus Tri, serta tiga regu Patmor (Patroli Motor) dari URC Samapta Polda, di bawah pimpinan Lettu Ahmad Hadi, dan Komandan Samapta Polda Metro Jaya, Kolonel Arthur Damanik. Bukan cuma itu. D'i sana juga terlihat pasukan pengendalian huru-hara (PHH) ABRI berseragam abu-abu dan hitarn-hitam, serta Dandim [akbar, Letkol Amril Arnir bersama pasukannya.

INVE5TIGASI

TRAGEDI TRISAKTI

Mengutip pernyataan Jenderal Wiranto, kejadian itu memang menyalabi proseduro Sebab, untuk menangani huru-hara mestinya setiap regu terdapat tiga orang terlatih yang membawa senapan. Ketiganya dibekali magasen hijau berisi 15 peluru hampa, magasen kuning berisi 15 peluru karet, dan magasen merah berisi 15 peluru tajam. Ketiganya ditembakkan dengan senapan SS-1 atau M-16.

Apabila tongkat dan gas air mata tak mampu lagi mengendalikan keberingasan massa - dan massa melakukan perlawanan yang membahayakan petugas - barulah petugas melakukan upaya ter-

akhir dengan menembakkan magasen merah. Dalam peristiwa Trisakti, mahasiswa jelas-jelas tidak membahayakan aparat.

Selepas peristiwa Usakti, antar kesatuan di Polri kabarnya malah saling tuding. "Brimob menuding Sabhara, sedang Sabhara menyatakan sebaliknya," ujar sumber Tajuk di Mabes Polri. Kapolri bah-

kan sempat berang saat mendengar pernyataan Kapolda Metro Jaya, Mayjen (Pol.) Hamami Nata, bahwa pihaknya hanya membekali pasukannya dengan pentungan, gas air mata, dan peluru

karet. Bagi Kapolri, pemyataan Hamami itu berkonotasi: yang diterjunkan ke TKP adalab pasukan Brimob dari Kelapa Dua, Iaktim - yang notabene di bawah kendali Mabes Polri. Padahal, kenyataannya, mereka dad Samapta Polda Metro Jaya.

Semen tara itu, kesimpulan hasil visum et repettum dan penelitian di Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri menyebutkan: korban tertembak dari jarak jauh, dan posisi penembak berada di atas. Menurut dr, Abdul Mun'im Idris DSF, ahli forensik FK - VI dan RSCM yang ikut memeriksa keempat jenazah korban, berdasarkan ciri dan pola luka para korban, bisa diketahui dari mana arab datangnya peluru.

Tiga dari empat korban, ditembus peluru dengan arab tegak lurus. lni, kata

Mun'im, bukan berarti mereka dalam posisi berhadap-hadapan. Bisa saja saat korban dalam posisi badan miring kemudian ditembak dari atas, sehingga menyebabkan ciri luka tegak lurus. "Sedangkan korban satunya, nampak lebih jelas bahwa datangnya peluru dari arab kanan atas," ungkapnya.

Benar. Bila dikaitkan dengan situasi di lapangan saat kejadian, seluruh posisi para korban - yang tewas maupun luka tembak- berada di dalam kampus. Dua mahasiswa kedapatan luka tertembak di samping gedung L Trisakti. Yang satu luka ternbak di bagian kepala, kaki, dan lengan. Seorang lagi, terkena di leher dengan diameter luka berlubang sebesar ukuran peluru, menukik ke tulang belikat dengan luka yang lebar menganga.

Empat mahasiswa yang menjadi korban di muka Gedung SyarifThayeb, adalah Elang Mulyana dan Hendriawan. Keduanya terkena di dada dan leher samping kanan. Sedangkan Sofyan, dada dan pam-parunya tertembus timah panas. Terakhir, tumit kaki seorang kawan Sofyan (yang mengenakan sepatu ·bot militer) robek tertembus peluru.

. Mereka semua, berada dalam POSlSl yang terbuka dihujani tembakan. "Saya " melihat belasan aparat berseragam coklat di atas jembatan layang dengan posisi membidikkan senjata ke arah rnahasiswa," kisah seorang anggota Crisis Center, yang menyaksikan kejadian itu dari lantai 6 Gedung Syarif Thayeb. Mereka membidik dan menembak dengan letusan satu-satu, seperti mencari target. Pasukan yang berada di atas jalan layang, adalah URC Brimob, Polda Metro Iaya,

Sebenarnya, dad proyektil bisa diketahui peluru itu menyalak dari senapan mana, karena setiap proyektil memiliki karakteristik tersendiri. Cara pengujiannya, mencocokkan selongsong peluru dengan senapan yang disandang para aparat yang bertugas kala itu. Untuk sementara, sumber-sumber Tajuk di kalangan aparat, mengindikasikan ke arah pasukan Brimob,

Namun, dari 100 anggota Brimob yang bertugas di Usakti, tak ada satu pun di antara mereka yang mengaku menembak dengan peluru tajam. Mungkinkab mereka menembakkan peluru tajam, mengingat Hamami Nata tak memerintah pasukan-

Tajuk NO.7. TH. 1- 28 MEl 1998 84

nya berbuat seperti itu? Tak tertutup kernungkinan, ada prajurit yang melanggar. "Mereka kan menyirnpan juga peluru tajam sebagai persediaan," tutur surnber di Polda Metro [aya.

Versi CC Usakti menyebutkan, ada rnahasiswa yang tewas seketika di Plaza, tertembus peluru. Letak Plaza berada di belakang kampus dan terlindung gedung-gedung rnenjulang di sekitarnya. Satu-satunya kernungkinan, peluru datang dari arah gedung yang tengah dibangun. Letaknya, mernang, menghadap Plaza. "Ada kilatan eahaya keluar dari salah satu lantai di gedung baru," ujar mahasiswa dari CC.

Seorang saksi mata rnenuturkan: ada dua pria berpakaian preman rnengenakan eelana jins, rnasuk ke gedung baru yang terletak di JI. Kyai Tapa, sekitar pukul 18.15. lnilah yang diperkirakan berkait dengan korban yang jatuh di Plaza. Tapi, menurut sebuah sumber, arah sudut penembakan diperkirakan mencapai 46.ci~r~jat dari arah atas. Karena itu, beberapa- petugas pun sempat meneek ke Hotel Citraland,yang berseberangan dengan Usakti. Setelah diselidiki, tak seorang saksi pun - saat berlangsungnya peristiwa - yang melihat sosok rneneurigakan rnasuk ke hotel itu.

Curna, ada tiga perwira kesatuan lain yang tidak masuk daftar petugas lapangan, bermalam di hotel tersebut. Dari situ, muneul dugaan adanya personel penyusup ke barisan Brimob dan Gegana. Disebutsebut ada oknum penyusup yang berasal dari satu kesatuan Angkatan Darat. Bahkan dikabarkan ada anggota sebuah kelompok bela diri pemuda yang disusupkan sebagai peserta aksi, Menanggapi hal itu, Dan Pomdam [aya Kolonel CPM Hendardji mengatakan, "Kalau benar ada indikasi itu, kenapa tidak dilaporkan ke kita. 'Iapi, semua itu tetap harus dibuktikan seeara hukum. Negara kita kan negara hukum," katanya.

Dalam Rakor antarpimpinan Polri, dugaan adanya tentara yang menyusup ke dalam tim keamanan Usakti memang sempat mengemuka. Sebab, kalau penernbaknya dilakukan aparat kepolisian, apa untung rnereka dari kasus tersebut. Bisakah hal itu dikaitkan dengan kemungkinan faktor psikologis, karen a tewasnya Letda Dadang di Bogor? Alasan ini pun terasa kurang logis.

INVESTIGASI

TRAGEDI TRISAKTI

Itulah sebabnya, analisis di balik tragedi Usakti kemudian lebih banyak diarahkan pada hal-hal yang bernuansa politik. Misalnya, ada versi yang menyebut kejadian itu sebagai "sengaja diciptakan untuk mengalihkan kendali gerakan". Maksudnya, jika sebelumnya kendali gerakan berada di tangan mahasiswa proreformasi, sementara pihak keamanan hanya bersikap reaktif terhadap demo-demo yang dilanearkan mahasiswa dalam tiga bulan terakhir, maka sejak tragedi Usakti kendali mulai beralih ke pihak keamanan.

Peralihan kendali ini penting, setidaknya dalam dua hal. Pertama, untuk menghindari eskalasi gerakan mahasiswa yang makin meluas dan memanas. Sebab titik didih gerakan. - pertemuan antara mahasiswa dan massa di Silang Monas - diperkirakan akan terjadi pada 20 Mei, bersamaan .dengan Hari Kebangkitan Nasional. Kedua, momentum Usakti juga

sangat penting digulirkan guna memberikan legitimasi atas berlakunya keadaan darurat lewat Tap MPR No. V/MPRl1998

POSISI SALAH SATU KORBAN Harian Republika dan Me-

dia Indonesia mengaitkan pergantian itu dengan dua peristiwa sebelumnya: orang-orang "hilang" dan tragedi Usakti. Toh, soal ini dibantah Kadispen AD,Brigjen (TNI) I Dewa Putu Rai. Sehari setelah Letjen. Prabowo diganti, KSAD Ienderal Subagyo Hadisiswoyo bahkan meminta pers untuk tidak mudah terpancing kepada isu mengenai kemungkinan terjadinya perpeeahan di tubuh AERI. Sebab, katanya, AD maupun AERI tetap kompak dalam satu komando ...

TERIEMBAK. Sengaja, diciptakan untuk mengalihkan kendali gerakan.

yang mengatur tentang pelimpahan wewenang kepada presiden untuk memulihkan keamanan negara.

Versi lain menyebutkan, peristiwa Usakti tercipta lebih karena adanya dinamika internal, yang terkait dengan perbedaan pandangan di kalangan elite ABRI. Indikasinya, antara lain, berupa keterlambatan penanganan pihak keamanan atas terjadinya eskalasi kerusuhan dan penjara-

Tajuk NO.7, TH.I- 28 MEl 1998 85

Tim Investigasi Tajuk

DAHl I 1 I WABA

' I

--"1 \/ I ~ -,-

i 1 -, \ i

__ \__ ~ _ \_~ \_ L L . .

Aksi penjarahan mewabah di mana-mana. Tennasuk salah satu korbannya putra Christianto Wibisono. Bagaimana reaksi mereka?

SEBAGAI pribumi keturunan, Kim Chan, 47, sudah telanjur mencintai negeri ini. Sepanjang hidupnya, tak sekali pun ia membayangkan bakal mengalami serangan anarkis dari tetangganya, atau orang pribumi lain, Hari awal chaos, Rabu siang (14/5), tak bakal bisa dilupakan seumur hidupnya, Terlebih bagi putrinya yang

masih balita. , ,

Bayangkan, sejak pukul 11.09;" Kim mendengar bakaI ada kerusuhan. Dan yang akan menjadi sasaran adalah warga nonpri. Kim dan keluarganya cemas. Soalnya, beredar isu, massa anarkis akan melakukan penjarahan, perkosaan dan penyiksaan terhadap warga keturunan

Cina. Mendengar isu itu, Kim Iangsung mengumpulkan empat putra-putrinya, dan melarang mereka ke Iuar rumah.

Benar. Sekitar pukul19.00, massa mulai bergerombol di muka rumah yang sekaligus toko (ruko) milik Kim. Detik demi detik dilaIui keluarga Kim dengan rasa ketakutan. Putri bungsunya mulai tak kuasa menahan desakan kengerian. Kelopak matanya dirembesi air bening. Meski getir melihatnya, Kim melarang putrinya menangis. "Saya takut dia orang marah," jelas Kim.

Mendekati pukul 20.00, massa tibatiba menggedor-gedor rolling door ruko. Kim sekeluarga diarn membisu dengan jantung berdebar-debar. Ngeri. Saat pintu jebel, dengan gaduh sekelompok orang masuk ke dalam, lalu memecah kaca-kaca etaIase. "Dengan panik, saya mencongkel kaca jendela nako di lantai dua, untuk kabur. Tapi, susah melepas palang besinya,"

Kim akhirnya menjebol atap rurnah, Lewat meja dan kursi yang disusun ke atas, mereka meloloskan diri lewat genting.

"Saya sempet ngedenger, massa berebut barang di lantai satu," Lantas, Kim mulai berteriak-teriak memanggil tetangga di belakangnya. "Untung mereka mau menolong. Keluarga saya masuk lewat jendela nako tetangga."

Baru saja ia menginjak rumah tetangganya, Kim mendengar massa berteriakteriak, hendak membakar rukonya. "Bakarl Bakar!" Ngeri Kim mendengarnya. Untunglah, beberapa warga sekitar melarang massa membakar rukonya. "Kalan jadi dibakar, bisa-bisa seluruh kompleks perumahan Iln, Tanah Kusir ludes dimakan api," Kim sedikit bersyukur.

Suasana hati Kim agak mendingin, setelah dua orang polisi dan militer datang ke rukonya, sekitar pukuI 21.45. Massa pun bubar. Di rumah tetangga itulah Kim sekeluarga bersembunyi, hingga azan subuh menggema. Sekitar pukuI 04.50, barulah Kim memberanikan diri memasuki rukonya. Ia mendapati, rukonya porak poranda dan kosong melompong. Semua barang

RABU, 13 MEI1998~ Sebelum findakan anilrkis '::"K~renatalC' ~'Ilnailkpet-" kayo yang n'lereka temukandi sekitartempat ito;; ,

bergulir,. di salah satu tiang penyar)9ga [alanla- ., ~ati;'lIiden!lan ' rambu~rambii'lalu', Massakeiiludian tertarik, dansebagian niulai "

yang Grogol, di muka kampusTrisakti,terlihat sea" ,. "lintas.~ M~rek<,t ,barnn¥t:iJ.jrn~g ':kB:-' ' m~'n~ilciJti jejakme~Ka., Yang paling·terpengaruh

rang pria berpenanpilen naels, BambuI. pendeknya' penting~ri.' .'sepeti pr:I1: dan 'pag~r pembat;is, kebariyakiln para' nfmilja. SLTP dan. SLTA: Setelah

tersisir rapi, mengenakanbaju putih, pantalon dan jaran: &m~banpun dibakar.Ke:ribUtan teiusrrien:·',sebagiall'inassate~ngaruh~kelompo'k'pemicu,

sepani mengkilat .la sibuk menib~l9i"bagikah dua jalar;,sampaI akhimya rniissa berupay.:l masuk 'ke , mulaimasuk ketargetsasaran. Mereka melelTJpari gepok lembaran uang.: " , , .. • .' -mal\~itralilJlil.:,i<arena, liemasildi,ta~n 'aparat. mat ruko,atau bank,seraya meilye~b~ dan berusa-

". Sementara,. delapao . pria berpenempllan.pre-' .. ' rnereka 'berlie1ok. membakar pulljh~nkendaraan ' ' ha -mambebol. 'piiito masuk, Umuffilwa,.' begitu, tt;an kumal, sibuk'menerima, pembagian ,itu.' Sese-. "yang partir di oo'laka!ig Citra!and.Seja~itU, aoanci, ' me(ek<l:menye:~u' masu,~,' sabagian mass a . me~ , kali, mereka saling' ~rebut menerima jatah, ifise- ,rilassa'beri!ulir, >, '" '.",' ", . ".' " 'ngiktrtrjejak'merekii~'~¢terah pintu utama jebol, ' lingi tengkar mulut Usai meneriniajatah,kedelap- ' ., .' ·'·Iridikasi laJn.di Te!ukNiiga,Tahgerallg_'Meiii~' massa lain)umplek;rrierigekor 'dan rIIulai meoja-' -en priaitU berba~r '~engail massa yangtengah' "rang dan seat keiustihante~adi,ooi'eda(sejum!ah rah::~'Kalatikea~aanmulai rarnai; rnereka mulal . mellV9ksikan, ribuan, mahasiswa dan tokoh kritis di ,Stiker,bertuljska,ti: "Ayo, bangkit, 'JJelSC!tu1ahpri- 'me~eriak~n •. ,kata~kata".bakarl· bakar!:'ungkap , kimipuJTrisaldj. Mendadak, niereka agresif berte-. .: b'uiri!.', S~ .r:tu~.satIJ bclllgSa., ~tubatJa~, H~1,l- , seo~ng ~pai<rt: dila~ngim, kepada Taju(.:, .. ' ,

riat-HidupmilhasiSiNal Hidtipiakyatr' Mereka :':curkar-i"ko,lusttawan iritimictasL", ". ,~,'., ' '.' ':,Bahkar(terakhir;'Polda Metro Jaya Oerhasil

terus Rlembaur di tengahmassa. sampai akhimya ,'r. Seearifumum,aksi penjat.lhandaripeinbalffir~ rrierlilhan 25 orcing: yang didugamerupakan bagiim

menghilangdari paildangan Tajuk. .; . " ~ , , an pusai:pusat Perbelanjaan, bank dan rilko,me-: .dari -kelOlTiPtlk terorganisir yang menggetakkan

, . Terbukti;':pa'ncitlgan mereka efektif. ,Sesekali, miUki. pola y.;ir:iifSarna.:Misalnya.pemicunyadia: " aksi ' 'dan ,penyulut kerusuhari ..• di

massamulaibergemuruhmemancing mahasiswa ,V'(cIliQIE!hdua'sarii(liiilima ornng,yangmernanci!l!kc' , [lamka:, Dike-

,liergabung; :ke1uar'darjJ<qmpus. Sebagjarimaha- "p8rt1ati~n'·~iililsYara~t:Seklliir. MerekIJ'memtiUaf "

sisiNa sudah berniapmeninggillkari pelataran kam- 'gailuhdeng~n'meruSak rambiJ-iamoo lalu lintas" PuI1MXladi.

'pus'.· Naniun: s"!igaskearrianan mahasiS'iva ber- . melerilpciri'gooimg-gedung.,~lanjutnya; meffika' ,hasitmenahaokawan~kaWannyil. ' : mulai ~embakar ban-ban bekas, atau bongkahan:

,'~~.

Yajuk NO, 7. TH, 1- 28 MEl 1998 86

dagangan Iudes, "Tidak MASSA MENJARAH ATM. Ada

satu CD, VCD atau lasser indikasi penjarahan massa

disc pun yang tertinggal. didalangi pihak tertentu.

Semua diambil orang-

orang" keIuhnya.

Dihitung-hitung, hanya dalam tempo sejam lebih, ia harus merugi Rp 80 juta. Meski begitu, ia masih bersyukur seIuruh keluarga dan dirinya selamat. Kim, adalah WNI turunan keenam, sejak nenek moyangnya migrasi ke Indonesia. Keluarga Chan tergolong berekonomi lemah, Kedua orang tuanya petani jeruk di Langkat. Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini, sejak kecil sudah merantau. Maka, pendidikannya pun berantakan.

Namun ia seorang pekerja keras. Ia meniti bisnis dari bawah. Mulai dari kuli, buruh pasar, hingga pedagang asongan pernah dilakoninya. Kepindahannya ke Jakarta, mulai mengubah nasibnya. Kini, Kim merniliki usaha apotek, toko emas, elektronik, penyewaan VCD dan lasser disc.

Malang, dua rukonya dirusak dan dijarah massa, yang sebagian tetangga•. nya. "Ya udah biarin. Abis

mau gimana."

Pemeluk Buddha yang taat ini, sebe.narnya, bisa saja meneari penghidupan di negeri lain yang lebih aman. Persoalannya, ia sudah rnerasa kerasari tinggal di negeri yang ia eintai ini. "Apa susahnya ke Australia. Tapi, saya lahir di sini, ya hidup mati di sini. Kalau nggakbisa boon usaha di sini, ya pindah ke Surabaya atau daerah lain. Pokoknya nggak ke luar negeri,"

Kisah getir Kim, hanyalah potret kecil dari derita WNI keturunan, yang diperlakukan semena-rnena saat chaos tempo hari. Kamis esoknya (14/5), massa entah dari mana, mulai mernbuat onar di seantero Jakarta. Jakarta sempat menjadi lautan api. Massa mulai tak pandang bulu dalam menjarah. Tak cuma mal/ruko, merekapun merambah ke permukiman penduduk.

Tajuk NO.7, TH. 1- 28 MEl 1998 87

Terutama menyatroni perumahan warga nonpri. Seperti peristiwa yang terjadi di permukiman mewah, Pantai Indah Kapuk

(PIK), Jakarta Utara. .

Kamis, sekitar pukul 1 i.oo, ribuan massa rnendadak mengalir jalan menuju kompleks PIK. Melihat gelagat tak baik, warga disesaki perasaan ngeri. Mereka m:engenakan pakaian dan mengambil barang sekenanya, laiu menyingkir dengan mobil ke arah lapangan golf PIK, yang tak jauh dari rumah mereka. "Ada yang hanya pakai celana pendek dan kaus oblong," ujar seorang warga PIK.

Lapangan golf PIK seketika dipenuhi sekitar 1.500 warga. Mereka menatap getir, pilu, dan ngeri, ke arah kediaman mereka. Mengapa mereka begitu beringas? Bukankah selama ini warga PIK sangat peduli kepada masyarakat sekitar yang tinggal di pemukiman kumuh? "Sudah dua kali mereka menyumbang sembako kepada kami, Satu paket harganya Rp 17.500, tapi dijual Rp 5.000.:' aku H. Muchtar, tokoh masyarakat di Kelurahan Kapuk, agak tak enak hati.

Karena itu, kata Muchtar, para tokoh masyarakat, ulama, dan lurah setempat, mengimbau warga 'agar mengembalikan barang-barang hasil jarahannya. Alhasil, ribuan barang berhasil dikumpulkan dari warga, "Saya yakin warga hanya ikut-ikutan. Sebab, yang datang . pertama' kali, massa dari arah Cengkareng,"

lkut menjadi korban,' putra pemilik Pusat Data Business Indonesia Christianto Wibisono, yalfg tinggal di PIK,Yasmin. Seluruh perabotan rurnah tangganya, dijarah massa. Setelah puas menguras isinya, rumah dan kendaraan Yasmin dibakar. "Rumah itu memang keeil, tapi artinya am at besar. Sebab, rumah itu sudah mereka tempati sejak beberapa tahun lalu," kisah Chris, yang tak habis pikir kenapa keluarganya terkena amuk massa.

Kepedihan Christianto, semestinya kepedihan banyak orang pula. Yakni, mereka yang menjunjung tinggi harmoni kehidupan, tanpa melihat warn a kulit. ...

Tim lnvestigasi Tajuk

J .. ..:_: J J _~_ ~ PER 1ST I W A

MENUANG BENSIN DALAM BARA API

PAMOR International Monetary Fund (IMF) naik sejalan dengan krisis moneter yang meIanda Asia. Sejak [uli, IMF telah mengatur pengumpulan dana dan pelbagai lembaga keuangan internasional serta negara donor, dan menyalurkannya ke negara-negara Asia yang tertimpa badai krisis moneter - tak terkecuali Indonesia.

Meski banyak dipuji karena perannya bak Sinterklas di belahan Asia, di AS sendiri IMF sejatinya kurang populer. Babkan dalam pengamatan yang lebih kritis lembaga keuangan yang ortodoks itu kerap dinilai bukan sebagai "dewa penolong", tapi justru sebagai faktor yang makin memperparah kondisi ekonomi di suatu negara. IMF bak menuang bensin dalam bara api.

Diplomasi para petinggi IMF selalu bersikap: tak akan mencampuri urusan rurnah tangga negara pengutang. Tapi, praktik di lapangan membuktikan sebaliknya. Artinya, langsung atau tidak IMF selalu ikut eampur urusan politik dalam negeri penerima bantuan. Maklum, si empunya uang tentunya tak mau perannya dilepaskan begitu saja dad konstelasi politik negeri yang akan meminjam uang. Dalam kasus Indonesia, misalnya, tampak betapa lembaga keuangan intemasional tersebut melakukan manuver politik yang mau tak mau mesti dikatakan: telah mencampuri urusan rumah tangga dalam negeri.

Salah satu buktinya adalah persetujuan bantuan tambahan senilai US$ 6 millar - di luar paket kesepakatan US$ 43 Oktober 1997 silam - yang Rabu pekan lalu mencapai kata akhir setelah Indonesia memenuhi persyaratan tertentu yang diminta IMP. Salah satu persyaratan itu, konon, menyangkut siapa yang akan terpilih sebagai ketua umum DPP Golkar dalam munaslub yang berlangsung belum lama ini.

Tegasnya, IMF ingin mengatakan: Akbar Tanjung mesti terpilih sebagai ketua umum DPP Golkar, agar kinerja kabinet RJ. Habibie bisa lebih stabil. Sebab, bila yang terpilih [enderal (purn.) Edi Sudradjat - yang notabene visi politiknya berseberangan dengan Habibie - kondisi ekonomi Indonesia diperkirakan sernakin tak menentu. Di sini jelas, untuk mengueurkan dana, IMF mempunyai nilai tawar yang tinggi. Hal ini membuat segala sepak terjang Indonesia sangat tergantung kepada lembaga intemasional yang berdiri di Bretton Woods, AS, pada 1944, itu. Entah itu menyangkut penyusunan kabinet baru Orde Reformasi, reneana Sidang Istimewa MPR, termasuk agenda pemilu yang akan datang.

Contoh lain, ketika nota kesepakatan ditandatangani pada 16 Ianuari 1997, IMP juga berhasil menggolkan serangkaian syarat yang didiktekan serta hams dijalankan pemerintah Indonesia. Pada kondisi "tak berdaya" negara mana pun pasti tidak akan keberatan mendapatkan

bantuan, ken dati harus menjalankan kebijakan ekonomi yang didiktekan IMF tersebut.

Dalam 18 tahun terakhir, IMF telah "memaksa" lebih dad 80 negara pengutang besar menerapkan program pembenahan struktural, Pemerintah negara pengutang dirninta merarnpingkan anggaran untuk kesehatan dan pendidikan, menurunkan nilai tukar mata uang loka! terhadap doIar AS, menaikkan tingkat suku bunga, serta mengizinkan kepemilikan asing.

Tidak berlebihan kalau ada yang mengatakan, IMF bukannya menolong negara pengutang, tapi memperparah krisis Asia. Lebih jauh, Jeffrey Sachs, direktur Institut Pembangunan Intemasional pada Universitas Harvard, AS, berpendapat, IMF tidak Iebih dari alat diplomasi praktis tingkat tinggi yang mengabdi pada kepentingan finansial AS.

Pilihan pada akhirnya memang berpulang kepada masing-masing negara, bagaimana eara menyikapinya. Indonesia, sama dengan negaranegara lain dalam masa sekarang, tidak bisa melepaskan din dan ketergantungan terhadap negara-negara donor. Yang perlu diupayakan, dan mungkin hanya manis di atas kertas, adalah menaikkan posisi tawar-menawar, tanpa harus menghamba kepada pemberi utang.

Bagaimana proses tarik-menarik antara IMF dan pemerintah Indonesia, serta kaitannya dengan "pemaksaan" politik? Berikut kronologinya:

8 OKTOBER 1997:

Pemerintah Indonesia mengundang IMF untuk memberikan bantuan finansial, menyusul krisis moneter yang ditandai dengan ambruknya nilai rupiah terhadap dolar. Paket bantuan keseluruhan yang disetujui senilai US$ 23 miliar.

NOVEMBER 1997:

Peneairan utang pertama dari IMP tahap pertama sebesar US$ 3 millar.

16 JANUARI 1998:

Kesepakatan antara Presiden Soeharto (waktu itu) dan Direktur Pelaksana IMF, Michael Carndessus. Indonesia bisa mendapat bantuan keuangan terhadap pemulihan perekonomian nasional asal juga menjalankan serangkaian kebijakan yang tertuang dalam 50 butir kesepakatan yang ditandatangani kedua belah pihak,

1 MARET 1998:

Presiden Soeharto mencoba menawar, dengan mengajukan konsep CBS (Currency Board System). Kernudian ada lagi konsep yang disebut IMF-Plus, yang merupakan paduan antare konsep IMF dan CBS.

Tajuk NO. 11, TH. I • 23 JUU 1998 10

3 MARET 1998:

Menteri Keuangan AS, Robert Rubin, di depan Kongres AS, mengatakan, kemungkinan IMF akan membatalkan pencairan angsuran berlkutnya jika pemerintah Indonesia berani berbuat macern-macern.

4 APRIL 1998:

Agenda rapat eksekutif IMF di Washington DC akan mencairkan cicilan kedua senilai US$ 1 miliar pada Mei 1998. Berikutnya, pencairan akan didasarkan pada tingkat ketaatan, yaitu US$ 1 miliar pada bulan [uni dan US$ 1 miliar pada bulan Iuli 1998. Narnun demikian, Carndessus memberi syarat "Kalau kesepakatan antara kedua pihak tidak dipatuhi, IMF akan kembali berunding mencari jalan keluar"

29 APRIL 1998:

Lembaga legislatif AS menyetujui pemerintahnya menyalurkan dana ke IMF untuk meningkatkan cadangan devisa negara-negara yang sedang dilanda krisis ekonomi, termasuk Indonesia. Tapi, Wakil Majelis RendahAS, Newt Gingrich, menegaskan: Indonesia tak bisa mengandalkan bantuan IMF untuk keluar dari krisis ekonominya tanpa melakukan perubahan total.

SMEI1998:

IMP menyetujui pencairan bantuan US$ 911 juta untuk Indonesia, setelah sehari sebelurnnya "memaksa" pemerintah menaikkan harga BBM dan tarif listrik. Terhadap kebijakan ini, Camdessus

mengemukakan alasannya: ini karena pertimbangan ekonomi semata, di mana harga BBM di Indonesia berada jauh di bawah tingkat internasionaL

21 MEl 1998:

Pelbagai demonstrasi akibat kenaikan harga BBM dan listrik, serta kerusuhan yang terjadi di tanah air, memaksa Presiden Soeharto turun takhta dan menyerahkannya kepada B.J. Habibie. Setelah konstelasi politik nasional berubah, praktis IMP pun membuat kalkukasi bam. "Karni kan perlu tahu dengan siapa karni akan bekerja sama," jelas Wakil Direktur IMF, Stanley Fisher, di Washington DC.

26MEI 1998:

Direktur IMP untuk Asia Pasifik, Hubert Neiss, berkunjung ke Indonesia untuk menjumpai berbagai tokoh masyarakat - termasuk kelompok oposan. Ditegaskan, pencairan cicilan ketiga yang sedianya dilaksanakan 4 [uni 1998 terpaksa ditunda, karena instabilitas politik yang tidak memungkinkan pihak IMF datang untuk mengevaluasi perkembangan Indonesia me1aksanakan prograrn IMP.

28 MEl 1998:

Tudingan bahwa IMP memaksakan suatu kebijakan kepada negara pengutang dibantah Hubert Neiss. "IMP tidak akan ikut campur urusan dalarn negeri Indonesia;' katanya dalarn serangkaian pembicaraan dengan tokoh reformasi Amien Rais, Emil

HUBERT NEISS. Tidak ikut

campur urusan dalam negeri Indonesia.

Salim, Nurcholish Madjid, serta Megawati

Soekarno. A

'I"

8JUN11998:

Kendati bantuan tak jadi mengucur bulan [uni, melalui juru bicaranya, Stanley Fisher, IMP berjanji akan mengucurkan cicilan bantuan berikutnya pada bulan Juli. IMP juga menjanjikan akan mempertahankan subsidi bagi penduduk rniskin yang kewalahan menghadapi kenaikan harga-harga, narnun menentang diturunkannya suku bunga perbankan yang sudah sangat tinggi.

10 JUNI 1998:

IMP tidak melepaskan pengawasannya terhadap pemerintah Indonesia. Hubert Neiss datang ke Indonesia dan memimpin tim evaluasi yang memantau perkembangan "ketaatan" reformasi eknorni Indonesia. Sementara, 'Ioshiko Kinoshita dari Japan for Economic Reseacrh mengemukakan, pihaknya merasa heran dengan sikap AS yang belum memberikan bantuan kemanusiaan kepada Indonesia, "Bahkan IMF yang mendapat dukungan kuat AS be1um juga mencairkan dana bantuan lanjutan bagi Indonesia."

15 JUNI 1998:

Badan Kerja Sarna Antar Parlemen (BKSAP) DPR mengadakan pertemuan dengan IMF untuk meminta kejelasan seputar perkembangan perundingan pencairan pinjaman IMP untuk Indonesia. "Karni ingin tahu Jatar be1akang mengapa program pinjarnan untuk Indonesia terus di-review;' kata Ketua BKSAP, Zamharir A.R

1 JULI 1998:

Rombongan anggota DPR datang ke Washington, AS. Tujuannya adalah melobi para pejabat IMP agar mereka tidak menundanunda pengucuran dana kepada Indonesia.

8JULI1998:

Direktur Pe1aksana IMP, Michael Camdessus, berjanji akan mengucurkan dana lanjutan untuk Indonesia. Tapi, rapat kemudian memutuskan, pengucuran dana sebesar US$ 1 rniliar baru akan diberikan setelah Munas Luar Biasa Golkar, 9-12 Iuli,

15 JULI 1998:

Hasil pertemuan Dewan IMF di Washington, AS, menyetujui pencairan bantuan US$ 1 rniliar, yang termasuk dalam first-line defence. Dana itu cair dalam waktu 1-2 hari. Dengan demikian, IMP menambah komitmen US$ 4 miliar- US$ 6 miliar sebagai dana tambahan, yang diharapkan cair dalam tahun anggaran 1998-1999 .....

Burhanuddin Abe

Tajuk NO. 11, TH.I· 23 JULI1998 11

Dewan Kehormatan Militer dibentuk untuk memeriksa kemungkinan keterlibatan

Letjen Prabowo Subianto dalam kasus penculikan para aktivis. Benarkah Jenderal Feisal Tanlung ikut bertanggungjawab?

THE falling star. Bintang yang tengah meluncur jatuh. Barangkali, itulah

perumpamaan yang pas ., untuk melukiskan drama

- atau tragedi? - tentang Letjen Prabowo Subianto, 47, yang hari-hari ini mengharu biru media massa. Muda, kaya, cerdas, berpengaruh, tak pelak Iagi, ialah the brightest star. bintang paling bersinar, di jajaran militer. Orang-orang berebut mendekat kepadanya. Dan, pada masanya, orang

nyaris tak bisa membayangkan masa depan ABRI tanpa menyebut namanya, seperti mereka hampir tak mampu melihat Indonesia tanpa kepemimpinan Soeharto - mertuanya.

Tapi, alangkah cepat pula roda masa berputar. Yang tak terbayangkan itu pun terjadi. Kamis pagi, 21 Mei, Presiden Soeharto lengser keprabon. Sehari sesudahnya, Prabowo kehilangan kursi Panglima Ko-mando Cadangan Strategis (Pangkostrad) yang baru dua bulan didudukinya. Sesu-dahnya, heredarlah kabar tentang segala sisi buram sang jenderal, yang dulu tertutup ke-meneorongan posisinya.

Mulai dari aksi ala Gringo Honasan yang dilakukannya ketika mengepung istana untuk memaksa Presiden B.J. Habibie menuruti kehendaknya, sampai ke pribadinya yang temperamental. Mulai dari tudingan bahwa ia berdiri di belakang aksi-aksi penculikan para aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti, dan bahkan Kerusuhan 13-14 Mei, sampai ke klik dan intrik di kalangan elite ABRI yang dibangunnya.

Lebih seru Iagi, kini hampir semua kekaeauan dihubungkan dengan Prabowo. Di jaringan Internet apakabar@c1ark.net, misalnya, ada posting yang mengaitkan Prabowo dengan tindak intimidasi yang menyebabkan ratusan warga pendatang di Timtim melakukan eksodus. Di luar negeri, Majalah Time menjulukinya the raging bull- kerbau liar.

Dan, lihatlah bagaimana publik kini memperlakukan sang bintang yang jatuh itu. Ahad lalu (1917), saat menjemput kepulangan Pius Lustrilanang - salah seorang korban penculikan itu - di Bandara Soekar-no-Hatta, para aktivis yang bertopeng ala para peneulik mengibarkan poster besar bergambar close-up Prabowo dengan tu-lisan: Wanted. Sebuah media, menyuarakan tuntutan sebagian publik, menulis dengan judul besar-besar: Seret Prabowo ke Pengadilan.

Sejak mahkamah militer Iuar biasa yang mengadili para anggota militer yang terlibat Pemberontakan G-30-S/PKI, sejak Orba berdiri dan lalu runtuh, inilah kali pertama seorang jenderal aktif dituntut untuk diajukan ke pengadilan.

Namun, tuntutan itu bukannya tak beralasan, Pekan lalu, Pangab Ienderal Wrranto menyatakan, aksi peneulikan para aktivis itu dilaksanakan untuk mengungkap "gerakan radikal" atas perintah pimpinan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Prabowo adalah komandan jenderal (danjen) Kopassus ketika

L

F 0 K U 5

T A J U K

DAN GRUP IV KOL. CHAIRAWAN. Pernah sukses dalam operasi pembebasan sandera di Irian Jaya.

Salah satu rekomendasi DKM itu adalah me-non-job-kan Mayjen Sintong Panjaitan dan memberhentikan Brigjen Rudolf S. ~rouw. Sintong (kini sesdalopbang) dan Warouw (kini ketua KONI) masing-masing adalah pangdam IX/Udayana dan pangkolakops yang bertanggung jawab atas pecahnya insiden yang menewaskan sedikitnya 50 orang itu.

Mungkinkah tindakan yang sama akan dikenakan atas Prabowo - bila ia terbukti bersalah? Menurut sumber Tajuk, disposisi Wiranto soal pembentukan DKM itu sebenarnya sudah turun sejak pertengahan bulan ini. Disposisi itu ditujukan kepada Kasum, dan bukannya Inspektur Jenderal (Irjen) ABRI Laksamana Madya TNI Suratmin - yang secara struktural berwenang mengusut pelanggaran prosedural di jajaran militer.Alasannya, karena Wakil Irjen saat ini dijabat oleh Mayjen Muchdi P.R, mantan danjen Kopassus yang diganti bersama Prabowo Mei lalu. Muchdi dikenal sebagai ternan dekat Prabowo. Bahkan, ada kemungkinan, ia termasuk dalam sejumlah pati yang akan diperiksa DKM itu.

Rencananya, DKM itu sudah bisa bekerja mulai akhir bulan ini. Namun, belakangan, muncul reneana untuk menunda dulu sampai digelarnya pengadilan militer bagi para oknum Kopassus yang kini ditahan di Puspom itu. Penundaan tersebut, kabarnya, juga terkait dengan belum tuntasnya "konsolidasi internal" di ABRI.

Pekan ini, Ketua Tim Peneari Fakta (TPF) yang juga Komandan Puspom (Danpuspom) ABRI Mayjen Syamsu Djalaluddin menyatakan, pemeriksaan berkas perkara tujuh oknum Kopassus itu bisa dilimpahkan ke Mahmil pada akhir bulan ini. Swnber-sumber Tajuk menyebut, para tersangka itu datang dari lapis perwira menengah. Di antaranya, Kol. Chairawan, Mayor Sembiring, dan Kapten Yulius - ketiganya dari Grup N Kopassus. Chairawan adalah ko-mandan grup intelijen satuan elite Baret Merah, yang pernah sukses dalam operasi pembebasan sandera di Irian Iaya (lihat: boks Kopassus).

Bagaimana dengan Prabowo? Menurut Syamsu, ia sudah bertemu dengan jenderal bertubuh gempal itu di Mabes AERI Cilangkap - saat ia menghadap Wrranto. Prabowo menyatakan kesediaannya untuk diperiksa.

INVEST

GAS I

aksi-aksi penculikan itu terjadi. Sebelwnnya, Wiranto mengumumkan indikasi keterlibatan oknwn Kopassus dalam aksi penCUlikan itu.

Wiranto juga memerintahkan pembentukan Dewan Kehormatan Militer (DKM) untuk memeriksa sejurnIah perwira tinggi yang diduga terlibat dalam kasus itu. Disebutsebut, termasuk di antara anggota DKM itu adalah Kepala Staf Umum (Kasum) Letjen Fachrul Razi (Akabri 70), Kepala Staf Sosial Politik (Kassospol) Letjen Susilo Bambang Yudhoyono (Akabri 73), dan Gubernur Lemhannas Letjen Agum Gumelar (AMN 68). Melihat jajaran tiga bintang yang bertengger di pundak para pati itu, hampir bisa dipastikan, Prabowo (Akabri 74) akan menjadi salah satu tersangka yang akan diperiksa.

Wiranto menyampaikan reneana pembentukan DIGv1 itu dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Polkam Senin pekan ini (2017). Menurut Menkeh prof. Muladi, Pangab membeberkan secara terbuka serangkaian kasus yang kini ditangani ABRI - dari penculikan sampai kerusuhan dan perkosaan yang memilukan hati itu (lihat: bagian perkosaan). Termasuk kasus Prabowo? "Semuanya, tak ada yang ditutup-tutupi," ujar Muladi ketika dice gat Tajuk. Rakor, katanya, juga menyepakati, kasus itu dituntaskan melalui dua eara: pembentukan DKM dan pengadilan militer.

DKM terakhir kali dibentuk pada akhir Desember 1991 untuk mengusut Peristiwa 12 November 1991 di Dill, Timtim. Dewan yang diketuai Dansesko AD (ketika itu) Mayjen Feisal Tanjung (kini menko polkam) itu dibentuk melalui wewenang Presiden Soeharto selaku panglima tertinggi ABRI - yang baru sekali itu digunakannya.

Tajuk NO. 11. TH. I - 23 JULI 1998 1:1

Pekan lalu, ketika menghadiri peresmian kursus reguler di Sesko ABRI di Bandung, Prabowo menyatakan siap bertanggung jawab atas aksi yang diduga dilakukan para perwira Kopassus tersebut. Kata Syamsu kepada pers, bila Pangab menyetujuinya, pemeriksaan itu bisa dimulai pekan depan.

Pertanyaannya kini: Apa motif penculikan itu, serta benarkah hanya Prabowo dan satuan Kopassus yang terlibat? Sampai awal pekan ini, Prabowo - sayangnya - belum bersedia memberikan keterangan. Namun, menurut se-jumlah sumber Tajuk yang dekat dengannya, suami Titiek Soeharto itu bukannya tak menyadari tudingan yang kini terarah kepadanya. "1 am a gutter. Saya kini sampah. Sementara, semua orang berlagak suci," kata

F .. D ,:;1< .u s

T'AJUK

INVEST

GAS I

ranto (waktu itu KSAD) adalah Mayjen I Nyoman Sang Suwisma, kini pangdam VIffanjungpura. Namun, keputusan Wiranto ini "dipotong" Prabowo me-Ialui Sjafrie Sjamsoeddin - yang dikenal sangat dekat dengan Pak Harto. Prabowo akhirnya sukses menaikkan Muchdi, dan "menukar" Suwisma mengisi posisi yang ditinggalkannya. Hal ini- 1ah yang memicu isu tentang perkubuan di AERI (lihat: Tajuk No. 10 Th. I)

Masalahnya: Mungkinkah Prabowo - dengan segala pengaruhnya - mampu melakukan tindakan one man show itu? Sebuah sumber millter Tajuk lainnya memustahilkan kemungkinan itu. Dari segi motif, ia mempertanyakan 'niat Prabowo memerintahkan aksi penculikan tersebut. "Untuk unjuk kekuatan?

Namanya tugas rahasia kok ditunjukkan, kan rnustahil," ujarnya.

Karena itu ia menduga, ada kepentingan lain yang lebih besar yang mungkin melatarbelakangi aksi-aksi itu, Bahkan, aksi penculikan ini disebut-sebut merupakan rangkaian tak terpisahkan dari aksi-aksi sebelumnya; seperti Kerusuhan Situbondo, Ta-sikmalaya, dan lain-lain, serta aksi-aksi pasca-penculikan, seperti Kasus Trisakti dan penjarahan massa itu. Dan, bila itu yang terjadi, tentulah aksi tersebut tak bisa dilakukan Prabowo sendiri. Siapa kalau begitu? "Bisa Pangab sebagai atasan langsung, atau malah mungkin Presiden selaku pangti," katanya. Pangab waktu itu adalah [enderal Feisal Tanjung, kini menko polkam.

Secara teoretis, tindak one man show itu juga sukar terjadi. Karena, ABRI dikenal dengan hierarki komandonya yang luar biasa ketat. Si sumber tadi mencontohkan, bila seo-

, rang kopral menerima perintah dari seorang komandan kompi, ia harus melapor kepada komandan regunya. Lalu, si komandan regu melaporkan perintah tadi ke komandan peletonnya, demikian seterusnya.

Keterangan hampir senada datang dari Mayjen (purn.) Syamsuddin. Menurut anggota Komnas HAM yang juga mantan pati Kopasandha (cikal bakal Kopassus ) itu, Kopassus adalah satuan komando. Ia tidak dibenarkan bertindak sendiri tanpa koordinasi dengan panglima teritorial setempat. Apalagi menyangkut operasi intelijen, yang semestinya hanya digunakan pada kondisi darurat perang. Satuan intelijen Kopassus bisa digunakan pada operasi non-perang, bila diminta oleh sang panglima teritorial. Dengan demikian, "pemakaian" aparat Kopassus untuk

Versi pertama menyebut, Prabowo bertindak sendiri. Kepada Tajuk, seorang mantan pati Kopassus menyampaikan dugaan: dalam serangkaian aksi yang kini ditudingkan kepadanya itu, Prabowo bertindak one man show.

Indikasinya, kata si pati, keterangan Wadanjen Kopassus Brigjen Idris Gasing, yang mengaku tak tahu-menahu adanya serangkaian operasi itu. Ia bilang, mengutip keterangan Gasing, "Maaf, Pak, saya betul-betul tak tahu. Ini one man show, Pak," Gasing, kata sang jenderal ini, baru tahu adanya keterlibatan Kopassus setelah Pius membuka mulut.

Ada gunjingan, memang, seputar kebiasaan Prabowo selama ini dalam mem-by pass para atasannya. Misalnya, ia pernah mendatangkan bermacam senjata canggih dari luar

j enderal yang menguasai lima bahasa asing itu, seperti ditirukan salah seorang sumber itu kepada Tajuk.

Bahwa Prabowo kini memilih diam, masih kata si sumber ini, itu karena, "1 don't want to Tack the boat (Saya tidak ingin mengacaukan situasi)," Sesudah menyatakan kesediaannya untuk bertanggung jawab, Prabowo kini menunggu respons dari jajaran pimpinan ABRI. Namun, bila terpaksa, ia akan siap membeberkan semuanya.

Membeberkan semuanya? Sejauh ini, memang ada dua dugaan berkenaan dengan keterlibatan Prabowo dan satuan Kopassus itu .

KEJIKA KERUSUHAN MEl. Ham- negeri tanpa sepengetahuan

pir semua kekacauan dihu- dan persetujuan atasannya.

bungkan dengan Prabowo Ia juga, kabarnya, pernah

mengge-rakkan pasukan dari satuan lain tanpa berkoordinasi terlebih dahulu de-ngan komandan satuan itu, Maklumlah, sebagai menantu Presiden, Prabowo adalah jenderal paling berpengaruh diABRI.

Prabowo, kata sumber -sumber Tajuk lainnya, juga berpengaruh dalam pengisian pospos elite di jajaran ABRI. Salah satu kasus yang sering disebut adalah naiknya Mayjen Muchdi P.R. ke posisi danjen Kopassus. Kabarnya, ketika itu calon yang diajukan Wi-

Tajuk NO, 11, TH, 1·23 JUL11998 14

operasi di kawasan DKI Jakarta, misalnya, haruslah ada koordinasi dengan pangdam Jaya.

Indikasi lain adalah beragarnnya asal kesatuan para oknum ABRI yang kini diperiksa TPF itu. Kata Syamsu, 23 orang saksi militer yang diperiksa itu berasal dari Kopassus, Kodam Iaya, Kodim, dan Babinsa.: Asintel Kodam [aya Kolonel Masni Harun termasuk di antara mereka. Tak tertutup kemungkinan, status mereka akan "meningkat" menjadi tersangka. Syamsu juga tak memustahilkan kemungkinan diperiksanya mantan Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin.

Sumber-sumber Tajuk juga menunjuk kemungkinan keterlibatan Badan-' Intelijen AERI (BlA) dalam kasus itu. Kabarnya, oknum ABRI yang menyerahkan Andi Arief ke tahanan Polda Metro [aya adalah Direktur A BlA bersama seorang kolonel dad lembaga yang dipimpin Mayjen ZakiAnwar Ma-karim itu. Zaki disebut-sebut sebagai salah seorang pati yang mungkin akan diperiksa DKM itu. Banyaknya kesatuan yang terlibat ini menunjukkan, hampir mustahil bila operasi itu dijalankan Prabowo dengan Kopassus-nya.

Iadii Sumber-sumber dekat Prabowo juga membantah bahwa ia bertindak one man show. Prabowo, kata salah seorang sumber ini, tak pernah memerintahkan dilakukannya penculikan. Yang dia komandokan adalah upaya menyingkap gerakan-gerakan radikal yang ditengarai akan merongrong kepemimpinan nasional menjelang dan pada saat berlangsungnya Sidang Umum MPR Maret lalu.

Operasi ito, konon, diberi nama Operasi Pengamanan Kepemimpinan Nasional (OPKN). Tujuannya mengamankan pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden ketujuh dan naiknya B.J. Habibie sebagai wakil presiden. Untuk itu, semua rintangan - ya kelompok-kelompok radikal tadi - mesti dirapikan (lihat: bagian II). Yang menarik, menurut si sumber ini, Prabowo mengaku, ia menerima Surat Perintah (Sprint) dari Pangab Feisal Tanjung untuk menjalankan operasi itu.

Feisal terlibat? Dugaan ini ditampik mantan pati Kopassus tadi. Menurutnya, opm - bila memang ada - bukanlah suatu operasi khusus. Melainkan, operasi yang rutin digelar setiap lima tahun. Karena, Rencana Strategis (Renstra) ABRI sendiri menggariskan, pengamanan pemilu, SU MPR, serta hasil-hasilnya, sebagai kebijakan dasar ABRI. Jawaban Danpuspom Syamsu Djalaluddin lebih tegas lagi,

FOKUS TAJUK

NVEST GASI

"Tidak ada itu perintah dari Pangab lama, Pangab barn, atau malah Pangti. Iangan nga. rang-ngarang;' tukasnya kepada pers Senin pekan ini.

Ngarang atau bukan, jelas bahwa tugas DKM untuk mengurai benang kusut Kopassus itu tak bakal bisa selesai dalam waktu semalam. DKM pimpinan Feisal Tanjung di tahun 1991 lalu membutuhkan waktu kerja 50 hari sebelum menelurkan rekomendasinya.

Namun, ada yang tak kalah penting dari sekadar mengusut dan mengadili para pelaku penculikan, penembakan, dan pemicu kerusuhan tersebut. Rangkaian peristiwa pahit yang memicu jatuhnya korban harta, kehormatan, dan jiwa, itu menjadi pelajaran sangat

Tanjungpriok, Lampung, sampai Insiden 27 Jull (lihat: rubrik Politik). Nah, semua itu pada gilirannya memburamkan citra Indonesia, sebagai negara militer tak demokratis yang gemar menindas hak-hak asasi rakyatnya.

Kini, dengan semangat reformasi dan demokratisasi yang melanda segenap lapisan masyarakat, seluruh wewenang yang nyaris tak berbatas itu mesti ditinjau kembali. Sebagai perbandingan, pecahnya Skandal Watergate, yang melengserkan Presiden Richard Nixon di Amerika Serikat, diikuti dengan pernantauan publik atas kiprah lembaga-lembaga intelijen seperti ClA, yang dinilai telah melanggar hak-hak sipil rakyat. Di negeri itu, ada Komite InteIijen Senat yang mengawasi

pahit. Bukan cuma untuk MUCHDI, PRABOWO DAN SOE-

ABRI, melainkan juga kita HARTO. Prabowo sukses mena-

sebagai bangsa.

ltulah pelajaran bahwa Kopassus

sudah waktunya kita membatasi kewenangan lernbaga-lernbaga yang berpotensi menjadi teror bagi masyarakat - apalagi bila ia bersenjata, Di masa lalu, kita mengenallembaga Opsus (Operasi Khusus) dan Kopkamtib (Ko-mando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) yang free-wheeler, bahkan ekstra konstitusional. Rentang wewenang operasi intelijen militer yang begitu luas melahirkan pelbagai bentuk pelanggaran HAM: mulai dari Timtim, Aceh, Irja,

dan mengendalikan kiprah lembaga-lembaga semacam

ikkan Muchdi ke posisi danjen itu.

Kini, sejalan dengan se-

mangat memberdayakan

DPR, mungkin perlu dipikirkan pula adanya lembaga serupa di Indonesia Sehingga, ada akuntabilitas lernbaga intelijen dan militer kepada rakyat, yang - sejati-nya - adalah pemilik kedaulatan tertingi di negeri ini. Bila itu terjadi, mungkin kita tak perlu lagi memilikidan kehilangan - seorang bintang cemerlang, seperti Prabowo, yang justru jatuh karena tak ada kendall yang mengontrol kekuasaannya.· ..

Tajuk NO. 11, TH. 1 • 23 JULI 1998 15

Tim Investipsl Tajuk

FOKUS TAJUK

INVESTIGASI

OARI SIOANG UMUM HIN

Munculnya peristiwa politik yang saling berangkai dalam setahun terakhir acap dikaitkan dengan

Operasi Pengamanari Kepemimpinan Nasional. Apa targetnya?

ADA satu bingkai analisis yang belakangan laris dipakai, -untuk mernahami serangkaian peristiwa

- poli~ ~ nege~~ ini dal~ setahtm terakhir. analis1S ini, tentu, tak lepas dari misi "sakral" yang mesti digoIkan ketika itu. Yakni,melempengkan jalan bagi terpilihnya kembali Soeharto sebagai presiden RI untuk kali ketujuh, dengan B.T. Habibie sebagai pendamping. lnilah misi politik yang - oleh banyak kalangan - Iazim disebut sebagai Operasi Pengamanan Kepemimpinan Nasional (OPKN).

OPKN itu sendiri sebenarnya lumrah dilakukan, dan menjadi bagian dari Renstra ABRI setiap menjelang pemilu dan sidang umum (SU) MPR Bedanya, kata sebuah sumber Tajuk, - kali ini ada potensi ancaman yang jauh

lebih besar dibandingkan OPKN sebelumnya. Repotnya, ancaman paling krusial justru menyangkut soal paling dasar: ada arus kuat yang menentang pencaIonan kembali Soeharto.

Soeharto bukan saja dianggap sudah waktunya turun takhta, setelah 32 tahun bertahan di singgasana kepresidenan. Tapi, Soeharto juga dituding sebagai faktor kunci dari terjadinya krisis ekonomi yang melilit erat leher rakyat. Ringkasnya, ada kekhawatiran, naiknya kembali Soeharto justru bakal kian memperparah krisis ekonomi.

Ancaman tak main-main itulah yang, kata sumber tadi, lantas diter-

• Pengamanan $idang Unnan MPH

Inilah fakta paling mencolok dari skenario OPKN. Selama 11 hari (1-11 Maret),

jemahkan ke dalam skenario OPKN. Targetnya jelas: mengungkap "gerakan radikal" yang berpotensi mengganggu proses politik di elite kepemimpinan nasional itu. Maka, mudah dipahami jika - menjelang SU MPR 1998 - muncul aneka kejadian yang nuansa dan muaranya mengarah ke pencapaian target tersebut.

Skenario OPKN" jelas tak cuma tampak secara fisik - seperti ketatnya pengamanan SU MPR 1998 - tetapi juga aneka kejadian yang masih terasa asapnya hingga kini. Sebut - saja ledakan bom di Tanah Tinggi, penculikan sejumlah aktivis, bahkan juga kasus penembakan Trisakti . yang memantik kerusuhan sosial dua hari berikutnya.

Tajuk NO. 11, TH. 1- 23 JUU 1998 16

bahkan sejak jauh hari sebelumnya, Kota Jakarta' memang bak medan pertempuran. Tentara dan polisi berseliweran di sana-sini, lengkap dengan senjata dan amunisinya. Mereka betjaga di titik-titik rawan selama 24 jam nonstop.

. Konsentrasi pengamanan tentu ada di lokasi kegiatan, gedung DPR/MPR Tercatat, ada 25 ribti personel ABRI yang memagar betis gedung wakil rakyat itu. Sementara, beberapa panser bercokol di pintu masuk kompleks DPR Untuk mendukung pengamanan Jakarta, Mabes Polri sarnpai-sarnpai

:menggunakan perangkat komunikasi dan komputer terpadu untuk mertjalankan Sistem Pemetaan Cepat berbasis GPS via satelit .

Pengamanan yang seketat itu memang tak lepas dari bayangan kekhawatiran ter-

hadap munculnya aksi unjuk rasa, yang bisa datang setiap saat. Maklum, hingga hari-hari terakhir menjelang SU dibuka, ada potensi ancaman yang cenderung mengarah pada upaya rnenggagalkan perhelatan politik lima. tahunan itu.

Selain unjuk rasa yang dimotori mahasiswa atau buruh korban PHK, kekhawatiran juga datang dari kelompok pendukung PDI Perjuangan pimpinan Megawati Soekarnoputri. Potensi ancaman juga datang dari kelompok "gelap'; yang suka meneror aparat lewat telepon dengan isu born, serta isu pengerahan satu juta massa untuk menggoyang gedung DPR

Toh, hingga SU berakhir dan sukses mengantar sang' pemimpin nasional sesuai skenario, kekhawatiran terhadap "gerakan radikal" itu tak terbukti. Tidak ada unjuk rasa, apalagi pengerahan massa besar-besaran seperti yang dikhawatirkan.

PASUKAN PENGAMAN SU MPH. Kekhawatiran temadap munculnya aksi unjuk rasa; yang bisa datang setiap saat.

.,:

FOKUS TAJUK

lNVEST1GASI

GATANAH TlNGGI"

• Ledakan Born di Tanah linggi

Bukan tanpa alasan kalau ada analisis yang mencoba menautkan kasus ledakan born di Tanah Tinggi (18 Ianuari 1998) dengan OPKN". Dari cerita born meledak, bisa dibilang, tak kelewat dramatis. Selain tak menelan korban jiwa, born "salah pasang' itu hanya meluluhlantakkan tempat kejadian perkara (TKP). Yakni, sebuah kamar berukuran 3 x 5 meter, di Blok V lantai 5 rumah susun [ohar Baru, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat.

Korban luka ringan diderita Agus Priyono (yang langsurig menjadi tersangka), serta dua sosok lain yang kabur sesaat setelah born . meledak. Kasus ini mulai berbobot politis setelah aparat keamanan menemukan petunjukpenting dari bukti-bukti yang disita - menunjuk pada upaya si penghuni kamar untuk merakit born.

Selain 10 botol bahan peledak, polisi juga menemukan 11 detonator tombol born, dan 10 bohlam lampu berukuran kecil. Benda-benda berbahaya itu berserakan di antara bukti-bukti penting lain: empat radio panggil, satu telepon genggam, satu laptop dengan disketnya, paspor, kartu mahasiswa, kartu tanda penduduk, uang Rp 280.000, dan setumpuk dokumen. ..

Dugaan politis menguat, menyusul ditemukannya bukti lain berupa bukubuku berjudul "seram" Misalnya, Revolution and Counter Revolution in Central America and the Carribean, dan Democracy of Death. Dari dokumen inilah.polisi ketika itu rnenyimpulkan: ada kaitan ledakan born itu dengan kiprah Partai Rakyat Demokratik (PRD). Apalagi, kepada polisi, tersangka Agus kabarnya rnengaku anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia un- . tuk Demokrasi (SMID) - organisasi di bawah jaringan PRD.

Dari PRD, bidikan merembet ke

TKP TANAH llNGGI. Berbobot politis setelah aparat keamanan menemukan petunjuk penting dari bukti-bukti yang disita.

sejumlah tokoh kritis, yang namanya disebut-sebut dalam e-mail (kotak surat di internet) yang terekam dalam laptop yang disita. Di situ, katanya, ada nama Hendardi, direktur eksekutif PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia), duet aktivis CSIS (Center for Srategic and International Studies) Sofjan dan Jusuf Wanandi, serta Surya Paloh, bos Harian Media Indonesia.

Nama Sofjan dan Jusufbahkan tak coma disebut di e-mail: Ada dokumen lain - katanya juga ditemukan d.i TKP - yang berisi notulen pertemuan "kelompok pro demokrasi" di sebuah rumah di Leuwiliang, Bogor. Di notulen, Sofjan dan Iusuf dinyatakan sedang berupaya rnenggalang kelompok elite untuk mempromosikan·nama-narna calon wapres dengan menggunakan kekuatan ekonomi. Keduanya juga disebut sebagai penyupJai dana bagi kegiatan unjuk

Tajuk NO. 11, TH. 1 - 23 JULI 1998 17

rasaLSM_

Buntutnya, Sofjan dan Jusuf Wanandi (juga Surya Paloh) dipanggil polisi untuk klarifikasi. Pada saat yang sarna, kakak beradik itu juga ramai-rarnai didemo sekelompok organisasi Islam, antara lain Komite Indonesia untuk Solidaritas Donia Islam (KISDI). Mereka menuntut: Sofjan dan Iusuf diadili, dan CSIS dibubarkan, Kasus born politik ini memang berakhir begitu saja. Cuma, dalam konteks OPKN, upaya mengaitkan ledakan born Tanah Tinggi dengan nama-nama "radikal" itu

rasanya masuk akal. .

Sofjan Wanaridi, misalnya, sejak lama dikenal sebagai salah seorang pengusaha Tionghoa yang berani bersikap tegas terhadap pemerintah. Padahal, dengan posisi sebagai "juru bicara" kelompok pengusaha besar (umumnya Tionghoa) yang tergabung ·dalam Yayasan Prasetia Mulya, suara Sofjan cukup diperhitungkan.

Celakanya, ketika pemerintah mengimbau kalangan pengusaha untuk membantu mengatasi krisis lewat gerakan cinta rupiah, Sofjan tak tampak antusias menyambut. Ia bahkan tegas rnenolak menukarkan

dolarnya dengan rupiah. Sikap Sofjan

··itu karuan membuat pemerintah gusar. "Sudah 13 konglomerat yang rnenyatakan siap rnembantu pemerintah, kecuali Sofjan," ujar Pangab (waktu itu) Ienderal Feisal Tanjung,

Tapi, cacat politis Sofjan bukan di situ. Menjelang SU MPR, ia sering melontarkan pernyataan seputar pencalonan wapres. Ada kesan, Sofjan tak setuju Habibie naik, dan cenderung memilih kembali Try Sutrisno, atau calon lain yang tetap dari ABRI. Sofjan juga disinyalir punya link-up dengan tokoh-tokoh macam Benny Moerdani.

. Dari sudut OPKN", Sofjan - dengan segala atribut dan kekuatan ekonomi di sekelilingnya - dipan~ dang sebagai berbahaya. Karena itukah, perlu rekayasa untuk menjeratnya? "Tidak betul. Bagaimana kita rnerekayasa. Nama Sofjan memang tercantum di dokurnen. Ini justru rekayasa mereka, yang mencoba memproyeksikan peristiwa itu kepada

t;; kami," sergah Pangdam Jaya (ketika

I itu) Mayjen Sjafrie Sjamsoedm:~ ~ai"k

-c

FOKUS TAJUK

INVEST GASI

DI AlAS FERI MUFIDA

Operasi penculikan terhadap aktivis Andi Arief diwarnai kecerobohan. Inilah kisah perjaianan para penculik dari Lampung hingga Jakarta.

CEROBOH, pangkal petaka. Gara-gara meninggalkan beberapa kesalahan, operasi pencu1ikan aktivis Andi Arief di Lampung agaknya akan mu-

dah tersingkap. Pasalnya, unit kecil pelaksana operasi meninggalkan beberapa jejak, Misalnya, mereka meninggalkan helm, catatan nomor hand phone, radio panggil, serta terlibat insiden kecil di Pelabuhan Bakauheni dengan sesama aparat, saat mereka akan membawa Andi Arief ke Jakarta.

Malahan, kejadian di Bakauheni itulah yang dijadikan awal penyelidikan. Dan Pusporn AERI Mayjen Syamsu Djalaluddin mengaku mengurai benang kusut kasus penculikan aktivis ini lewat insiden itu. Ia meminta laporan insiden di Pelabuhan Bakauheni, kepada POM ABRI di sana. Selanjutnya, Polisi Militer Daerah Militer II Sriwijaya Detasemen IV3 mulai menyelisik ulang peristiwa tersebut. Kejadian itu memang terjadi hanya selang dua jam dengan aksi penculikan terhadap Ketua Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (Smid), di taka alat musik "Studio 4 Musik', milik salah seorang kakaknya di Way Halim, Bandar Lampung. Perjalanan Bandar Lampung-Bakauheni secara normal bisa ditempuh kendaraan selama dua jam.

Operasi penculikan Andi dilakukan oleh lima orang berpakaian preman. Ketika itu jam menunjukkan sekitar pukul 11.00. Tiga orang di antaranya berambut cepak dan dua lainnya berambut gondrong. Secara kilat mereka masuk ke toko dan langsung menodongkan pistol. Seorang lagi memborgol lengan Andi Arief, dan menyeret paksa masuk ke dalam mobil Kijang LGX. Lantas secepatnya mobil itu melesat ke arah Pelabuhan Ba-

g, kauheni.

i Sekitar pukuI 13.00 terjadi insiden di Pe~ labuhan Bakauheni. Kisahnya, setelah pencu-

lik tiba di pelabuhan, mobil yang membawa

MEREKA YANG MASIH HILANG. Kepastian nasib mereka masih ditunggu keluarga.

ANDI ARIEF

Andi rupanya tak mau antre saat akan masuk ke lambung kapal. Gelagat tak baik pengemudi Kijang LGX berplat No. B ISO LX itu mernbuat seora~g petugas pelabuhan menegurnya. Nyatanya salah seorang penumpang mobil itu malah mencabut pistol dan memukuIkannya ke lengan petugas. Petugas itu pun lantas beringsut pergi,

Tak lama, petugas tadi kembali datang bersama seorang petugas kepolisian pelabuhan. Dengan gusar, kelima orang asing tadi menghardik petugas. "Kami Kopassus. Iangan ganggu tugas kami," berang salah seorang di antara mereka sambil menodongkan pistol ke arah wajah si polisi.

Keributan itu rupanya mengundang perhatian seorang petugas POM setempat, Kopka Azabidin, Begitu melihat PM, para penumpang Kijang menjadi santun. Mereka langsung memperkenalkan diri sebagai anggota Kopassus dari Grup I Serang. Seorang mengaku berpangkat mayor, satunya kapten. Syamsu membenarkan insiden di atas Feri Mufida itu. "Petugas kita membiarkan mereka pergi, setelah mereka mengeluarkan surat tugasnya"

Sebelumnya, ada seorang sesepuh masyarakat di bilangan Pakis Kawat, Tanjung Karang Pusat, Lampung, sebut saja Amir, yang mengaku pernah dimintai bantuan seseorang, untuk memonitor keberadaan Andi Arief. Kebetulan sesepuh tadi berjualan rokok dekat kediaman Andi Arief,

Nah, pada Iumat sore, 27 Maret, sekitar pukuI17.00, seseorang yang mengaku-aku sebagai Kapten Yulius dari Angkatan Darat, bertandang ke warung rokok Amir. Pria bertubuh semampai dan tegap itu datang dengan mengendarai mobil Kijang berwarna gelap, Saat itu ia bertanya, apakah Amir kenai semua warga di sekitar situ. "Tapi ketika itu ia cepat

bn

Yak Hanya Kopassus, Ini Operasi Besar ABRI

MINGGU sore (20/7) di kediaman Andi Arief. Uputan 6 SCTVtengah menyiarkan tayangan penyambutan kepulangan Pius lustrilanang, di Bandara Seokamo-Hattao Seluruh keluarga Andi saat ltu sedang menyimak siaran itu. Tiba-t1ba ayahnya. HM Arief Mahya, menggoda Andi. "Tuh,

Piussudah berani pulang Kokyang kelihatan hanya gambar orang-orang. Mana spanduknya. Mana SMID, kok nggak ada. Ataaa .. ."

Andi cuma tersenyum. lantas dia pun meledek ibunya. "Tuh. ibu Pius nggak nang/so Gitu dong. Masa. ketemu nang/s?" Dan, seluruh keluarga pun tertawa lepas. Keponakan-keponakan Andi pun sudah hafal siapa kawan~kawan seperjuangan Andi Arief, ' setelah diperlihatkan foto-foto Dedy Hamdun, Waluyo Djati, atau Faisol Reza, dan lainnya.

Berikut petikan wawancara Tajuk dengan pria lulusan (sariana) Rsipol, UGM: .

Apakah benar oknum KopaSsus yang menjadi dalang penculikan aktivis?

Tidaks~luruhnya Kopassus. Ini operaslbesar, prosedural, sistematis. dan terencana dari ABRI. Semuanya . menjadi tanggung jawab pimpinan tertinggi ABRL Bahwa dalam fakta lapangan yang paling menonjol Kopassus, itupersoalan lain. Tapi 8impinan ABRI tentu sangat tahu operasl itu, Dan ltu harus dipertanggungjawabkan. Memang agak sullt mengldentifikasi kesatuan ABRIIain yangterlibet dalam operasi itu. Cuma, ketika ada pemindahan saya dari tempat penyekapan keMabes Polri, sempat ada acara serah terima yang menyangkut tiga institusi. . Tanggal 17 April, pukul 01.00, saya dikeluarkan dari tempat penyekapan dalam keadaan mata ternnup, Setelah naik kendaraan selama sekitar satu jam, di pinggirjalan,saya dipindahkan kemobillain. Ketika itu ada kata, "Siap." Jadi saya sudah diserahkan ke instansi lain. Sekitar 1 jam karnudian, saya diserahkan ke Mabes Polri. Yang menerima letkol Pol. lubis. Jadi, dari sini saja, sudah ada tiga kesatuan ABRI

. yang berperan. Tidak hanya Kopassus. Dan anehnya, keesokan harinya, saya disuruh menandatangani surat penangkapan tertanggal 28 April. Jadi ada beda waktu 10 han, Bisa disimpulkan betapa supemya kekuatan yang memberikan rekomendasi serah terima ltu, Sehingga bisa memaksa polisi untuk menerima saya. Saya kira, rekomendasi itu dari KapoJrr. Tentu orang berpangkat lebih tinggi dariKapolri yang blsa mernaksa Kapolri.

Apa' beda materi interogasi antara di Mabes Polri dan di Polda?

Tajuk NO. 11, TH.I- 23 JULl 1998 19

Di Polri, saya lebih ditanya kasus Tanah Tinggi.

Sangat kontras dengan materi pertanyaan di tempat penyekapan yang lebih ke soal-soal politik.lnterogator itu sangat ulung, cerdas, dan sangat paham terhadap materi lnterogasl, Tampakflya mereka mewakiii instansi tertentu yang sangat berlainan dengan petugas pencuJikan dl lapangan. Materinya lebih rnengaran pada politik rezim Soeharto. Sebuah pertanyaan yang benar-benar mewakili kekuasaan yang sudah 30 tahun bercokol, dan ingin tetap berkuasa.

Contohnya?

Seperti, apakah saya kenaI Amien Rais, Megawati, Gus Dur, dan tokoh-tokoh gerakan pro demokrasi lain. Karena. kalau mau mengarahkan ke pengungkapan KasusTanah Tinggi. kenapa Dedy Hamdun dltangkap, Haryanto Taslam juga. Makanya saya tak ingln kalau kasus Inl hanya mengungkap masalah sampai ke kesalahan prosedur penangkapan dan penculikan aktivis. Harus diu ngkap lebih dari itu.

Anda sasaran utama penculikan ini?

Tidak. Saya tidak terlalu menonjol. Saya juga tidak sembunyi atau melarikan diri. Cuma, tidak tahu kenapa seJuruh aktivitas politik'radikal selalu diarahkan ke PRD dan SMID. Mulai 27 Juli, kami selalu dikejar-kejar. Tapi, tidak bisa pencullkan, intimidasi, serta pemenlaraanmematahkan semanget saya. Justru akan bisa berbalik memerosokkan ABRI. Saya berharap, dari kasus lnl, akan mengawaliterkuaknya kasus-ka-sus orang hilang di Aceh, Tlrmirn, Irian. Peristiwa Priok,lampung. sampai 27 Juli.

Apa tujuan operasi ini?

Kopassus sebenamya pihak yang paling tidak berkepentingan dengan gerakan aktivisme politik . radikal. Tidak masuk akal Kopassus tedibat dalam tugas seperti itu. Kalau Koppasus sampai terlibat. saya kira, ini instruksi jajaran elite militer yang Jebib tinggi dari Danjen Kopassus. Pangab ketika saya diculik Feisal Tanjung. dan Pangti ABRI Soeharto. Ini harus dimintai keterangan, Jangan sampai Prabowo dijadikan sampah dalam kasus in'i. Ada pertikaian elite politik ABRI. Saya tidak ingin ini dijadikan alat untuk mengeksploitir dendam-dendam politik pada Prabowo dan sebagainya. Harus ditarik sampai ke atas, dan tradisi untuk rnengorbankan sebuah kesatuan harus oicegah, Karena, kalau saya Iihat, motif penculikan itu karenaketaketan dari pemenntahan Soeharto terhadap munculnya gerakan-gerakan kaum rnuda yan'g pada sa at itu sudah mulai menjadi inspirasi gerakan-gerakan rakyat secara keseluruhan, Ketakutan berlebihan dari pemerintahan Orde Baru .......

F9KUS TAJUK

INVESTIGASI

iamit," aku Amir.

. Keesokan paginya, Sabtu, 28 Ma-ret, seki-· ar pukul 09.30, Yulius kembali bertandang ke varung Amir. Kali ini ia mengendarai sepeda notor bebek ber-warna hitam. Selanjutnya; ?ria ber-kulit putih, rambut agak gondrong, .tu mengutarakan niatnya mau menyewa kamar di kediarnan Amir. "Numpang temp at, untuk menangkap Andi Arief," begitu katanya.

Amir tersentak.. Ia bertanya, Andi, mau dipukul atau dlbunuh? Yulius menukas, ilia cuma ingin menangkap. Karena, Andi dianggap terlibat kasus peledakan Rumah Susun Tanah Tinggi, Jakarta. "Kami ditugaskan dari pu-sat. Karena, yang. bertugas di sini nggak hasil-hasil," ujar Yulius seperti diti-rukan Amir.

Yulius berkisah, beberapa hari ini, ia ting- . gal di kediaman Umar Hasan. Karena, kebetulan, menurut Yulius, putra Umar kawan se-

. I,

angkatartnya .. Yulius sendiri' mengaku, ,~ebe-

narnya sudah dapat rumah di kawasan-Rawa Laut, Bandar Lampung. Tapi, ia ingin pindah. Letaknya agak jauh dari rumah Andi.

Iika Amir mengizinkan Yulius menetap di rumahnya, dan Yulius berhasil meringkus

BARANG BUKTI TERSANGKA PENCULIK. Diiming-imingi Rp 25 juta untuk memberi informasi keberadaan Andi Arief.

Andi , ia menjanjikan imbalan Rp 25 juta, "Kalau Bapak tidak percaya. ini mobil kijang dengan BPKB-nya lengkap, silakan Bapak ambil, Kijang ini seharga Rp 25 juta," bujuk Yulius sebagaimana ditirukan Arnir. Namun Amir secara halus menampik tawaran itu. . Bagaimanapun, Andi Arief adalah tetang-

. ganya. Kendati begitu, Yulius sempat

menuliskan identitasnya di sebuah kertas

bekas bungkus rokok: Kapten Yulius S., Hp. 0818 713816, pager 021.13088 E 4985. Kemudian telepon kontaknya, di Lampung, Umar Hasan telp. 252020/261394.

Rupanya, Umar Hasan sendiri rnerasa, nama dan nomor telponnya dicatut Yulius. Saat dimintai konfirmasi akan hal ini, Umaryang juga anggota DPRD Tk. I Lampung - terkejut Ia tak habis pikir, kok bisa-bisanya hal itu terjadi. Ia mengalcui, rumahnya acap dikunjungi anggota Kopassus yang kebetulan mampir di Lampung. Ada yang sekadar mampir lantaran melintasi Lampung; ada yanghanya untuk beristirahat; ada juga yang memang sengaja bertamu. "Bukannya apaapa, satu putra dan dua menantu saya adalah perwira Kopassus, Iadi, kawan-kawannya banyak yang suka main ke sini," kata Hasan. "Biasalah, namanya di pasukan. Hubungan mereka biasanya erat sekali. Sudah seperti keluarga. Bahkan, saya sendiri nggak hafal satu per satu."

Bisa jadi, Yulius cuma rnencatut nama Umar Hasan. Apalagi, Yulius mengaku sudah merniliki pos di bilangan Rawa Laut. Memang, menurut informasi yang layak dipercaya, Yu-lius tak menjadikan kediaman

GrupElite,]

Eksistensi Grup IV .. .

pada 25 Ju ni 1996, bersarnaan pemekaran stru~{tu'r organisasi Kopas5Us, , Yangtadiny~ terdiri dari tigagrup dan satu detasemen, KopaSslJske~udian Climekarkan'rnenjadi lima grup: Grup I Para .KomandO{Ser~i1g, Jawa Barat),

Grui> II'Para Komando (Kandang Menjangan, Karto;u~o,JaJ..aTengah), Gruplll .. ' Pusat p~ndidika~ (BatuJaJar, Cimahi, Jawa Barat)~GrUPIV.S.a.ndiYuciha,;:dan ! Grull V Anti Teror ":'bentuka~ dariDetasemen 81. Dua grup terakhir berm~r~as

di Gijantu-i1g,)~ka~a~ . -:,'~»i- ". ,::;.:' ::,). _-.',J:'.~ , •• -. - 1- .

" . .: ~ Seperti juga G~up II AntiWor, Grup IV Sandi Yuohc! Ini adafahsfilbuah gn.ip elite militer yangberkualifikasi khuslls;Keahlian pai~.ai;ggdta~Y~·!leb[h:sP~si. fik ketimbang para' komando, Tak' mengherankan,m:~r:ek~ y~nil~IPS.m~~uk'ke

. , , ',' _ _- _ , .. _ " :,' _~ ,0 -:" __ ', .,_J-;,',~~~,"~'_:"'~ t.·,. ~

·Grup IV Inl adalah serdadu-serdadu terbaik. Seleksldanstaildafperililihiin

. anggotanyasangat ketat,' Misalnya saja, seorang p~iWira' Sis~~ ¥~n~"'p~da , akhir rnasa latihannya melakukan kesatahan, til!ipa"kbmpromi i~ngsu~g

• , ' ._ ;' _.,' ,I (_,,.'_ -.: • " ~

'. dipecat ... . . '. ' . .. . . . .

'. '·Meina~gberat'persyaratilnnya. Maklum, mereka'yang'dipercaY<l'~eng~nakan .. baretmerah adatahtentara berniental baJa' ya'ni tid~kdit61e~ir' '.' melakuka;nkesal<!han; sekalipun pada sebuah operll~ikecil"Makanya,'~ere- . 'kayanginasukg~uP ini adaJah orang-orang piliharidariGr¥ l-Ili"{yaiig .berkualiftkasi p~ia'komando, dan semuaanggota harusm'engikuti' ." ....

,Jull: ~·aYung~asar;temp~r). Mereka ini kemudian.' .' r.. . .

-k~~hiianilan·tiet~tiaiifjkasi intelijen. teinpur,del1gan'

" ' .. ·l:'J~~'·'>-;·--~·- ~,'." , .-

Tajuk NO. 11, TH. I - 23 JUlI 1998

FOKUS TAJUK

NVESTIGASI

KONTRAS. Tujuh oknum Kopassus menjadi tersangka kasus penculikan para aktivis.

Umar Hasan sebagai pos ke-giatan untuk melakukan peneulikan Aneli Arief "Rumah yang dijadikan pos di sana her-ada eli sekitar Kelurahan Rawa Laut, Kini, rumah tersebut hanya ditunggui dua orang wanita," ujar sumber tadi.

Kembali pada obrolan Yulius dan Amir, pada Sabtu (28/3). Sekitar pukul 10.45, tiba-tiba datang mobil kijang warn a gelap, ber-penumpang dua orang. Yulius langsung pamit. Anak buahnya yang mengaku berpangkat lettu menggantikannya. Anak bu-ah Yulius ini adalah seorang pria berperawakan sedang dan jangkung (sekitar 170 em). 1a mengaku bertugas di Angkatan Darat.

Anak buah Yulius itu tak lama tingal di sana. Karena, sekitar pukul 11.00, tiba-tiba muncul keributan dan rurnah Andi Terlihat, mobil kakak-kakaknya datang. Mereka bicara dan menangis. "Kami mendengar, Andi tertangkap," kisah Amir.

Mendengar itu, dengan gugup lettu itu pergi tanpa pamit mengendarai motor Yulius. Amir sempat mengingatkan, "Pak, helmnya tertinggal," Lettu itu membalasnya dengan suara tak kalah keras, "Nanti saya ambil." Namun, temyata, sejak itu dia tidak pemah muneullagi.

Sehenarnya, pengintaian terhadap Andi sudah lama dilakukan. Mereka sering kali terlihat mondar-mandir di sekitar rurnah Andi di [ln. Flamboyan, Tanjung Karang Pusat, Lampung. Pernah, suatu ketika, Andi mernbe-

li rokok. Di saat yang sa-ma, seorang eli antara petugas itu tengah berada di situ pula. "Mereka berternu, tapi sama-sama tidak tahu. Mereka sarna-sama saya layani," ujar Amir.

Walau mereka berhasil meneulik Andi, toh akhirnya ada h, . ", - apa barang bukti yang terceeer, sehingga lebih mernpermudah penyidikan pihak Porn ABRI. Hasilnya, kini, tujuh oknurn Kopassus yang diduga rneneulik aktivis tengah eliperiksa dan menjadi tahanan rniliter. Reneananya, pemeriksaan

akan rarnpung had-had ini, Diharapkan, akhir [uli perkaranya sudah diajukan ke Mahkamah Militer. Dakwaannya: melakukan peneulikan dan perampasan kemerdekaan orang.

Menurut sebuah sumber di Kopassus, ketujuh oknum Kopassus itu terdiri dari searang kolonel (Dan Grup IV Sandi Yudha Kolonel Chairawan), seorang mayor, Kapten Yulius, seorang lettu, dan tiga bintara, Seluruhnya berasal dari Grup rv. ...

Tim Inve5tigasi Taiuk

set di Usia Muda

lawan di garts pertahanan belakang lawan (penyusu pan). -

. Grup IV ini, speslallsaslnya adalah Sandi Yudha. Mereka adalah kelompok meliter elite dari Kopassus yang berfungsl sebagal lnte' sekaligusGi.sa melakukan aksl-aksl, Umumnya lntel sekadar mencari informasi dan menjelaskan darnpak suatu isu. sedangkan, Sandi Yudha tak curna ItU. Mereka bisa melakukan apa saja, termasuk mernbuat teror terhadap iawan, Anggota Grup IV ini memang dikenal sangat profesional. Wajar, rnengmgat, untuk rnembangun fasilitas latihan mereka, konon sampai menghabiskan iniliaran rupiah.

Kalau dirunut ke belakang, keberadaan Grup Sandi Yudhaini tak lepas dan perjalanan panjang sejarah Kopassus itu sendlrl, Pasukan elite ASHI yangJuga· dlkenal Korps Baret Merah itti bermula dart seouan Kesatuan Komando I1IjSlliwangi. Satuan inl merupakan lrnplan lama Brigjen Siamet R[yadi,yang menginginkan dibentuknya sebuah pasukan yang mampu rnengatasi segala kesulitan di medan tempur.

Belakangan, obsesl Siamet itu direalisasikan olen Letjen (purn.) E.

Kawilarang, yang kala itu menjabat panglima Tf II1jSiliwangi dan seorang veteran tentara KNILyang kemudian menjadi WNI, R.B. Visser alias Mayor Ijon JambL

Enam bulankemudian, pasukan elite ini diambil alih AD. Pasukan ini dibentuk tahun 1952, dengan nama Restmen Para Kornando Arigkatan Darat (RPKAD). Tahun 1967 narnanya diubah menjadi Pusat Komando Khusus (Puskosus-RPKAD). Selanjutnya berubah lagi menjadi Komando Pasukan Khas

Angkatan Darat (Kopasandha), yang terdiri dari dua grup: Para Komando dan Sandi Yudha. Keahlian Sandi Yudha adalah operasi intelijen penggalangan, Tujuannya untuk menciptakan kondisi sehingga lawan bisa ditaklukkan tanpa peluru. "lugas mereka melakukan penyusupan dan meniatuhkan mental

· lawan, tanpa memakai senjata," ujar Mayjen (purn.) Syamsuddin, mantan anggota satuan Ko rps Baret Merah.

Semasa pengabdlannya, Grup Sandi Yudha tak terbllang sudan mengukr prestasi gernllang di berbagai medan tempur, Di antaranya: tanpa rnelalul kon-

- tak senjata, mereka berhasil membebaskan seluruh sandera di Irian Jaya. Ini teiJadi semasa Syamsuddin menjabat pangurna Kodam Trikora. Grup inipun sernpat mengangkat citra Kopassus di pentas internasional, ketika sukses meiaksanakan Operasi Woyla, pembebasan sandera di Don Muang, Thailand, tahun 1981.

Tapi entah rnengapa, selanjutnya, saat Kopasandha bergantl nama

· Kopassus, Grup _Sandi Yudha dilikuidasi. Baru, di tahun 1996, Sandi Yudha kembali diperkenalkan oleh Prabowo dengan nama Grup IV Sandi Yudha. Di uslanya yang baru menginjak dua tahun, ada beberapa oknum grup itu yang diduga terlibatkasus psncullkan aktivis. -

Menurut Syamsuddin, operas! penculikan itu sudan keluar dari doKtrin _ K9passus. Tidak pada tempatnya membunuh nyarnuk dengan meriam, apalagl saat ini dalam keadaan tertlb slpil, "ltu tugas ponsl. Buat apa, untuk masalah kedl begltu (rnengungkap kelompok radikal - Red.), harus menerjunkan

· Kopassus. 'Buatsurat penangkapan resml kan selesai," uiar Syamsuddin.

"Kopassus nu untuk masalan-masalah besar. Sayangsekali Kopa~us diturunkan untuk operasi sernacarn itu. Ini bukan makanarmya, Kalau dia rnakan oncorn, blsa sa kit perut itu," ketakar Syamsuddin. A

Tajuk NO. 11, TH. 1- 23 JULI 1998 21

F 0 K U 5

T A J U K

Dicari: Tersangka Sebenamya

N V EST

GAS I

Peristiwa ini pun tak luput dari isu keterlibatan Prabowo. Hanya saja, ia kental dibingkai oleh adanya rivalitas di elite ABRI.

ISU keterlibatan Prabowo di balik peristiwa penembakan Trisakti, 12 Mei 1998, rasanya sulit dibuktikan. Apalagi, mengaitkannya dengan skenario OPKN - yang mestinya telah ditutup seusai presiden dan wapres baru terpilih. Hingga kini, setelah sebulan kasus pemicu reformasi itu disidangkan di Mahkamah Militer II-08 Jakarta, indikasi yang menunjuk ke keterlibatan "geng" Prabowo pun masih tersamar.

Narnun, sasus politik di luar sidang berkembang terbalik. Kasus Trisakti dihubunghubungkan dengan kabar terjadinya pertarungan tingkat tinggi di kalangan elite millter antara kelompok Prabowo dan kelompok Wiranto. Apalagi, tak lama kernudian, Prabowo dicopot dari jabatan pangkostrad. Itulah sebabnya, prosesi persidangan kasus Trisakti yang mengajukan dua terdakwa anggota Brigade Mobil (Brirnob), Lettu Agus Tri Heryanto dan Letda Pariyo, berjalan di luar harapan masyarakat.

Selain terlalu dini dimahmilkan, begitu

pendapat tim penasihat terdakwa, kasus ini pun tak seharusnya menggiring Agusdan Pariyo sebagai terdakwa. Apalagi dengan dakwaan, seperti disebut oditur di awal persidangan, bertanggung jawab dan menjadi penyebab kematian empat mahasiswa korban. Alhasil, persidangan itu tak lebih dari sidang perkara pelanggaran prosedur atau disiplin, "Sementara pembunuh yang sebenamya masih bergentayangan," ujar anggota tim penasihat Hotrnan Paris Hutapea, saat membaeakan pledoi, Selasa (14/7).

Dugaan keterlibatan Prabowo dalam peristiwa ini, menurut versi yang umum beredar, memang tak terlepas dari konteks rivalitasnya dengan Pan gab Wiranto. Atas nama . rivalitas, Prabowo sengaja menyulut keru-

suhan (dengan picu kasus Trisakti) untuk mendiskreditkan Wiranto.

MasaIahnya, isu dan fakta seringkali j auh panggang dari api, Memang sempat terbetik kabar, ada penembak jitu berpeluru tajam yang sengaja menyelinap di antara pasukan polisi. Kecurigaan itu diperkuat oleh hasil visum et repertum dan penelitian Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri, yang menyimpulkan: korban ditembak dari jarak jauh dengan posisi penembak berada di atas.

Perkiraan ten tang sudut penembakan yang sekitar 46 derajat dari atas rnenggiring asumsi bahwa penembak berasal dari arah jalan layang Grogol (ada pasukan Brimob di

PERSJDANGAN KASUS TRISAI\fI. Pembunuh yang sebenarnya masih bergentayangan.

situ), tapi bisa juga lebih atas lagi. Dari ketinggian gedung Citraland, dari atas gedung yang belum jadi di Trisakti, atau lebih atas lagi ... dad helikopter, yang saat chaos memang sempat hilir-mudik di udara.

"Rumus" yang dipakai hingga muneul nama Agus dan Pariyo sebagai terdakwa, memang, tak eukup jelas. Apalagi jika dikaitkan dengan fakta di lapangan: ada delapan Sa~. tuan Setingkat Kompi (SSK) dari Kepolisian dan Angkatan Darat di tempat kejadian perkara. "Rumus" itu -' ini menariknya - belakangan justru ditepiskan sendiri oleh Oditur Kolonel GHK Sadji Purwono -, Meski. kukuh rnenuntut . Agus dengan liuku~an' penjara 10 bulan dan Pariyo tujuh bulan, dakwaan oditur kepada mereka sebatas melanggar perintah serta melampaui kewenangan dinas.

Belakangan, Kolonel CPM Hendardji, ketua tim pengusut AERI, memang mengaku sudah menemukan si tersangka utama.·· Dialah satu dari 11 orang - juga dad Brimob - yang diduga menembakkan peluru tajam dengan senjata steyr. Kesimpulan ini, kata danpomdam [aya itu, diperoleh dari hasil uji balistik Puslabfor (bekerja sarna dengan Pindad dan ITB) terhadap peluru yang menembus salah satu korban.

Uji balistik itu memang masih akan diulang dengan alat yang lebih canggih: SEM SL-40. Pemeriksaan juga akan dilakukan terhadap 11 steyr bermasalah itu. "Sekalipun kalibernya sarna, setiap proyektil yang keluar dari senapan akan meninggalkan bekas berbeda. Dari situ bisa dilacak, siapa pemilik steyr yang mematikan itu," jelas Hendardji. Bukankah pemilik steyr di lingkungan AERI tidak hanya kesatuan Brimob?

lui yang masih harus ditelisik lebih jauh.

Termasuk, adakah si pelaku - siapa pun diabenar menyalahi prosedur, bertindak melampaui kewenangan dinas, atau ... diberi pe" rintah oleh atasan, yang punya atasan lebih tinggi dan lebih tinggi lagi . .6.

Tim Investigasi Tajuk

F 0 K U 5

T A J U K

N V EST

GAS I

SOALNYA KINI,

AKTOR- UYAMA

j I i

'\ til

I

Selain Anton Medan, oknum militer dan kelompok Benny Moerdani disasuskan berada di balik aksi kerusuhan.

Benarkah?

SUNGGUH susah menemukan aktor utama dari drama kolosal Kerusuhan Mei yang melanda Jakarta dan beberapa kota lain,

'beberapa waktu lalu. Sejauh ini, aparat kepolisian barn bisa mengambil para pemain kecil, para figuran. Dari lokasi kejadian saat itu, polisi menangkap 1.919 pelaku kerusuhan. Setelah diperiksa dan disaring, yang benar-benar memenuhi unsur dakwaan hanya 336 orang. Dari jumlah itu, 262 orang sudah diadili dan divonis, sebagian lainnya masih dalam antrean. Me-

ANTON MEDAN DI TENGAH MASSA. Mereka hanya figuran, pelengkap dari sebuah permalnan yang diotaki oleh pihak tertentu.

reka didakwa telah melawan petugas dan tidak membubarkan did tatkala dibubarkan petugas. Dakwaan dengan klasifikasi tipiring (tindak pidana ringan), dengan denda "hanya" sekitar Rp 15 ribu.

Tipiring untuk tragedi dengan skala begitu luas? Tentu, sebab mereka hanya figuran, pelengkap dari sebuah permainan yang - seperti sasus di luar - diotaki oleh pihak tertentu. Tapi, siapa aktor utama yang memainkan tragedi ini? Inilah pertanyaan yang ramai beredar sekarang, dan mulai disikapi aparat keamanan, Pangdam Jaya (ketika itu) Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin dan Gubernur DKI Jaya Sutiyoso, sebenarnya, sudah melansir ciri dan siapa-siapa saja yang mengotaki peristiwa itu.

Masuk akal bila Sjafrie tahu siapaorang

. yang bermain di situ. Soalnya, demikian sumber Tajuk di kalangan militer, sebagai penguasa teritorial Sjafrie tentu tahu siapa dalang kerusuhan. "Kenapa itu didiarnkan. Semestinya dia bisa mengerahkan pasukannya untuk mengamankan Jakarta:' katanya. Begitu pula dengan Sutiyoso. Sebagai gubernur Jakarta, ia punya akses dan orang untuk memerinci dengan pasti para aktor itu,

Belum jelas, siapa orang dimaksud. Yang terang, hari-hari terakhir ini aparat kepolisian memanggil seorang tokoh beken: Anton Medan. Mantan preman ini, yang kini menjadi pimpinan Ponpes Attaibin, sudah diperiksa aparat kepolisian selama hampir delapan jam. Anton disebut-sebut ikut menghasut dan menggerakkan massa di bilangan Gunung Sahari, Jakarta, termasuk pembakaran rumah taipan Liem Sioe Liong.

Tim penyidik Polda Metro Jaya memegang kartu kunci yang memberatkan Anton, yakni 10 orang sipil dan enam orang marinir. Mereka mengaku melihat Anton berada di depan: memimpin, menghasut, dan mengompori massa, agar membakar kediaman Om Liem.

Beberapa saksi mata yang ditemui Tajuk di sekitar kediaman Om Liem membenarkan posisi Anton ketika itu berada di barisan paling depan, Ia memimpin massa. Tapi, setahu mereka, Anton cuma komat-kamit sambil memegang tasbeh, "Pas di depan rumah Om Liem, massa yang dibawa Anton

FOKUS TAJUK

INVESTIGASI

Bedanya, yang ini berambut eepak, bersepatu bot militer.

Indikasi adanya rekayasa dalam peristiwa tersebut eukup kuat. Polanya sistematis, serempak. Polaini takeuma tampak di Jakarta, tapi juga di Solo. Saat ini, pihak kepolisian Solo bahkan sudah menandai seorang figur publik, bukan pejabat, sebagai aktor intelektual kerusuhan di sana. [adi, tinggal soal waktu. "Tapi untuk menangkapnya perlu bukti dan saksi," ujar Kapolresta Solo, Letkol Pol. Imam Suwangsa, kepada Tajuk.

,.Ada memang keeurigaan, oknum rniliter bermain dalarn kasus ini. Indikasinya, pada saat kerusuhan berlangsung, jumlah aparat yang berjaga di sekitar lokasi kej adian sangat terbatas, Selentingan muneul, aparat yang semestinya bertugas takut berdekatan dengan massa lantaran waswas bila ditunggangi oknum millter tertentu dengan melakukan penembakan, seperti dalam kasus Trisakti.

Sasaran si oknum itu jelas. Ia ingin menciptakan situasi keruh, sehingga citra pimpinan ABRI tercoreng. Dengan begitu, si dia bisa naik ke puneak. Bahkan, spekulasi yang muncul ketika itu, si dia merancang kejadian sehingga muncul situasi semaearn Supersemar kedua,

Penelusuran ke arah si oknum ini I1).emang membutuhkan waktu. Tapi, barang-

Tajuk NO. 11. TH. 1 - 23 lUll 1998

kali dari kasus siapa penembak mahasiswa Trisakti - yang menjadi pemicu kerusuhan massal- bisa dicarikan jejak aktor intelektualnya. Di luar memang santer disebut-sebut keterlibatan Letjen Prabowo. Menurut si empunya cerita, ia dibantu pimpinan sebuah organisasi beken.

Ini mereka lakukan begitu peristiwa Trisakti terjadi. Tujuan mereka hanya ingin memberi pelajaran kepada mahasiswa bahwa beginilah .akibatnya kalau mereka turun ke jalan. Pasti ada yang menunggangi. Nah, orang-orang dari organisasi itulah yang meletupkan kerusuhan di sekitar Trisakti. "Namun rupanya kebablasan. Mereka tidak menyangka bisa meluas dan tak terkendali. Terjadilah Tragedi 14 Mei: penja-

e> rahan dan perkosaan," tutur sumber ... ~

- Versi di atas disangsikan kebenar-

I annya oleh kalangan lainnya. Alasan~ nya, tak ada bukti autentik ke arah sa-

na. "Kalau dalam kasus penculikan aktivis, dia memang hanis bertanggung jawab," katanya. Pihak terakhir ini bahkan menuduh, kelompok CSIS di bawah Benny Moerdani, mantan menhankam, berada di balik aksi kerusuhan itu. Lagi-lagi ini sebatas sasus yang susah dipertanggungjawabkan kesahihannya. Soalnya, tidak ada jejak yang bisa dipegang,

Masih banyak yang belurn jelas. Untuk menjawab semuanya, pemerintah telah membentuk Tim Interdep untuk mengusut kasus ini. Anggotanya adalah Iaksa Agung, MenhankanVPangab,Mendagri,Menlu,dan Menkeh, LSM juga akan diajak kerja sarna oleh tim ini, Menurut Menkeh Muladi, tim ini berusaha mempereepat terungkapnya kasus Kerusuhan Mei, termasuk kelompok terorganisasi yang menjadi otak penggerak kerusuhan. "Tugasnya memang berat, komisi ini harus bisa membeberkan kelompok mana yang berada di balik kerusuhan," kata Muladi. Puspom ABRI, yang dikomandani Mayjen (CPM) Syamsu Djalaluddin, sudah siap-siap bergerak. "Sekarang konsentrasi lebih diarahkan untuk mengungkap kasus penculikan aktivis," ujarnya.

Nah, bila Puspom yang bergerak, jelaslah oleh kita, oknum millter kuat kemungkinan ada di balik kerusuhan. Soalnya kini: Siapa aktor utama yang memainkan tragedi inii A

lim·lnvestigasl Tajuk

»:

ierbaur dengan massa lain yang daang dari berbagai arah, Saya juga 199ak tahu apakah Anton memang nengajak massa membakar rumah Jm Liem," tutur rnereka,

Adalah tugas polisi untuk mengusut kasus pelik ini, dan hak Anton untuk membela diri. Anton sendiri, sebagaimana biasa, selalu tampil relaks dan bekerja seperti biasa. Akhir-akhir ini, Yayasan Attaibin yang dipimpinnya memasang sekitar 2.500 spanduk di berbagai lokasi strategis di Jakarta. Bunyinya: Seiamat Datang Pangdam laya Bam, Semoga Sukses. Menurut sumber Tajukyang dekat denganAnton Medan, ucapan selamat itu punya makna lain.

Anton ingin menunjukkan, dirinya sangat dekat dengan Pangdam Iaya .' yang baru, Mayjen TNI Djadja Suparman. Sekaligus, menohok P~ngdamlama Mayj en Sjafiie dan Polda Metro Ja~.'.r ya yang tengah mengusut kasusnya. [a-

di, sangat politis, "Ia ingin mengatakan MENGHAJAR SANG TAIPAN. In-

kepada Sjafrie dan Polda bahwa ia pun dikasi adanya rekayasa dalam

dekat dengan Djadja." Sampai-sampai peristiwa itu cukup kuat.

untuk itu, tutur si sumber, "Dia memasang tiga spanduk di jembatan penyeberangan dekat pintu gerbang Polda Jaya."

Kalau Anton tersangkut dalam kasus ini, barangkali hanya sekitar peristiwa di bilangan Gunung Sahari dan pembakaran rumah Om Liem. Susah dibayangkan bila hanya H.M. Ramdhan Effendy (nama Anton setelah memeluk Islam) yang menyusun dan mengatur semua aksi yang menyebar seeara serempak di seantero Jakarta. Apalagi kerusuhan di beberapa kota lain, seperti di Solo.

Tim Relawan, salah satu tim yang meneoba menguak kasus kerusuhan itu, hanya bisa memberikan gambaran umum. Mereka tidak cukup kuat untuk sampai pada siapa pelaku. "Sulit diungkap. Terus terang, saya yang terlibat dalam proses investigasi ini tidak bisa membuat suatu dugaan," kata Romo Sandyawan, ketua Tim Relawan.

Tim ini hanya bisa menyigi spesifikasi para pelaku dad keterangan para korban dan saksi mata. Ada kelompok pemuda berpakaian seragam pelajar SMU dan seragarn mahasiswa, tapi pemakainya berwajah tua, Ada pula kawanan pemuda berbadan kekar, berwajah sangar, dan ada gambar tato pada beberapa bagian tubuhnya. Kelompok lainnya lagi sama: para pemuda berbadan kekar.

DARI APARTEMEN MITRA BAHARI

Inilah satu-satunya apartemen di Jakarta Utara yang dijarah massa. Ada isu perkosaan, sebagian penghuninya pun kini menetap di luar negeri,

I l

·1·

..

Tajuk NO. 11, TH. 1 - 23 JUL1199B 25

. .

.

; :

;:

; :

." .. ~ -_,.- .... -',~ .. _ .. --.-.:--"_

BAYANGKAf:,I, Anda tinggal di sebuah apartemen mewah. Ketika bercengkerama bersama istri dan anak, tiba-tiba terde-

ngar ingar-bingar suara massa bergemuruh di luar apartemen, Saat Anda sekeluarga melongok melalui jendela flat, terlihat ribuan massa beringas tengah merusak, membakar, dan berupaya masuk ke tempat tinggal Anda. Ancaman terhadap keselamatan jiwa dan harta Anda sekeluarga begitu dekat dan nyata di hadapan, Sementara jerit tangis anak -anak dan wanita menggema di seluruh lantai apartemen. Pasti teror itu menciutkan nyali siapa pun juga.

Seperti itulah potret suasana di Apartemen Mitra Bahari (AMB), di )1n. Pakin, Kampung Luar Batang, Penjernihan, Jakarta Utara, 14 Mei lalu, Hanya dalam tempo beberapa jam, pesona kemewahan interior dan isi apartemen yang sebagian besar dihuni warga Tionghoa itu luruh, Seluruh pintu dan jendela kaca yang mengitari lantai dasar hancur lebur, Sofa-sofa mewah, lukisan, dan seluruh ornamen di lobby apartemen, lenyap. Dinding luar sebelah belakang yang tadinya berwarna hijau lembut kini berganti kusam hitam bekas jilatan api, Udara segar AC yang biasanya meninabobokan penghuni apatemen berlantai 26 itu digantikan embusan angin Pantai Sunda Kelapa yang menembus dari pintu dan jendela yang telah melompong. Suasananya lengang, layaknya sebuah gedung pencakar langit yang telah lama ditinggalkan penghuninya,

Kisah pilu itu dimulai Kamis pagi (14/5), sekitar pukul 10.30. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sepuluh truk Toyota, Colt Diesel telah parkir di dekat AMR Seperti menjalankan sebuah skenario, ratusan orang asing secara serentak langsung turon dari truk dengan membawa martil, linggis, bensin, dan korek api, Orang-orang asing yang rata-rata berpenampilan seperti preman (berambut gondrong, kumal, dan umumnya bertato) itu langsung membongkar paksa ruko yang terletak di Kompleks Mitra Bahari - bersebelahan dengan AMB. "Saya tidak tahu dari mana mereka datang. Yang jelas mereka bukan warga sekitar sini," ujar Serma TN! AD Agus Ngatino, yang juga ketua RW 1 Karnpung Luar Batang,

Mereka langsung berbaur dengan massa lain yang jumlahnya tak kalah banyak, yang

DAN, MAYAY PUN

'DIJARAH

. Kisah sadis rnassa dalarn Kerusuhan Mel silam di Apartemen Mitra Bah~ri (AMB) tidlik .. hanya menlrnpa apartemen dan 'ru'ko: Di saat , y~ng sema, seperti tak punya hati, rnassa penyerbu itujuga m~nja.lflh dan mertisak'sebtiah

rumah tempat penyimpanan mayat warga Ti- .. onghoa, Tempat mUll{ Yayasan Pemakaman ' Plult, yang terletak tepat di seberang AMB, itu '

···Iuluhiantakakibatamukan rnessa,

. Saat kejadian,14 Mei silani, tiga peti berisi . , jenazahmereka ,gotong ke' luar, -Kemudlan . diarak ke sana-kernarl ~bukan dipeikosa se'perti isu ya'ng santer terdengar, Setelah puas

, rnengarak peu.mereka puo'mengeluarkan je-'

. nazah dari dalamnya. Selanjutnya peti m,ati itu

digunakan untuk mengangkut barang-barang hasil [arahan, Sementara,.!rlayatnya dibiajJSan . '

, begitu saja di lalanan, Baru, pada tengafl-ma- . lam, pemilik Vayasan Pemakaman Pluit,yang juga seorang lionghoa, beranl mengambil jenaZ~h, dankerriudian segera melak~kan ritual

pembakaran . .It. ' '

F 0 K U 5

T A J U K

INVEST

GAS I

sebelumnya sudah berkumpul di dekat AMB. Suasana panas makin menjadi, lantaran para pendatang itu langsung beraksi. "Anehnya, mereka tak mengambil barang. Mereka cuma membongkar ruko, mengeluarkan barang-barang, dan membakar," jelas pria kelahiran 44 tahun yang 1alu itu. "Barang-barang itu sendiri malah diambil massa lainnya,"

Sekitar pukul12.30, orang-orang tak elikenal itu mengalihkan aksinya ke AMB. Lantaran kekuatan security AMB cuma 10 personel, dengan mudah pertahanan mereka elijebol. Seperti orang liar, mereka merusak barang-barang di lantai dasar apartemen yang selesai dibangun akhir 1996 itu. Massa mengangkut sofa-sofa di lobby dan mulai membakar puluhan mobil mewah (Baby Benz, BMW, dan Volvo) di basementAMB. ''Warga saya sendiri umumnya tidak ikut merusak. Mereka malu pada saya. Cuma satu-dua yang ikut mengambil barang," ungkap Agus.

Dalam sekejap kobaran api menjilat ke sana-kemari. Asap hitam tebal membubung tinggi, memayungi para penghuni apartemen yang mulai dirambati perasaan jeri luar biasa. Mereka tak berani turun ke luar. Pria-

wanita, orang dewasa dan anak-anak, saling berteriak ketakutan meminta bantuan warga yang berada eli bawah apartemen, sarnbil rnelambai-lambaikan tangannya. "Tolong! Tolong!"

Sementara sebagian warga sekitar, termasuk Agus Ngatino, yang juga eks anggota satuan elite Kopassus, meminta kepada penghuni agar turun dari apartemen. Namun ajakan Agus dan warganya tak dihiraukan penghuni apartemen. Mereka kalut dan talc berani turun.

Melihat ribuan massa makin beringas, dan didorong rasa kemanusiaan, Agus bersarna security AMB naik ke atas gedung untuk melakukan evakuasi terhadap penghuni. Evakuasi itu dilakukan mulai sekitar pukul 14.00 sampai 17.00. Sejak dad lantai atas hingga dasar, para penghuni yang dievakuasi menangis dengan wajah tegang. Maklum, para penyerbu pun turut naik ke atas apartemen. Dan, sepanjang menuruni anak tangga, sekujur tubuh penghuni digerayangi. "Perhiasan yang rnelekat di tubuh mereka dip ereteli. Saya tak marnpu mencegahnya," ujar Agus, yang kemudian menyerahkan para penghuni ke Warga Kampung Luar Batang,

Kerusuhan·:\lersi;BangYos

, - - '- '. ~ . " ' . ,.

GELD. ltulah perasaan yang lama dipendam Gubemur DKI' hansip, wanra, pasukar\'~pamong praja, dan pasukan'

Jaya Sutiyoso, atas te,rjadinya !\erusuhan 13-14 Mei lalu, pemadam kebekaran. semua slap membantu aparatjika

di Ibu KotaJa,karta. "Saya kecewa,"sahutnya denganraut kerusuhae meluas," ~jar Bang Vos. Mengapa ~itolak? .

wajah kelam kepada Tajuk. "Saya sudah menyiapkan "Saya tidak tahu rnengapabantuan itutidak diman-

bantuan keamanan ketika itu. Tapi kenapa 'tidak diguna- faatkan -, ltu rnenjadi pertenyaan saya:sampai sekarang,"

kan?" ',,' " Padahal saat itu situasi sudah tak terkendali, Seolah

Adalah wajarperasaan itu terus menguntitnya hlngga . hukum runtuh, Dl ~ana-mana orang dangan mudah

kini: Keberingasan massa kala itu telah mendatangkan' melakukan pembakaran, penjarahan, dan pemerkosaan.

kerugian materiil trlliunan rupiah dan menyisakan kepilu- Lal1tas'orang-brang pun bertanya hingga saat ini: Di mana

. an yang mendalam bagi jutaan warga, terutama etnis aparat keamananketika mereka dlbutuhkan rakyat?

Tlonghoa, Terlebih, BangVos sendiri rnengaku, selama ini Adakah rekayasa di balik ini semua, rnengingat tawaran

ia menyimpan trauma Tragedi 27 Juli 1996, di Jakarta, bantuan sudah dilontarkan BangVos?

saat ia menjabat panglima Kodam Jaya. Seperti diketahui, kerusuhan terse-Walaupun akhirnya dimanfaatkan, itu pun agakterlambat. Baru pada 14

butmengakbatkan beberapa gedung terbakar, Meisore; Panglima Divisi I Kostrad Mayjen Adam Dharnirl menglrirnkan dua

Belajar dari peristiwa pahit itu, ketika ia melihat bahwa kerusuhan pada pan;er dim satu truk bermuatan pasukan Kostrad, untuk mengawal barisan

tanggal 13 Mei bakal meluas, ia segera melakukan antisipasi. Bang ~6s ' , pemadamkebakaran yang akan msnjalankan tugas, "Tanpa pengawalan,

mengerahkan semua potensi Pemda, seperti hansip, wanra, dan pasukan anak buan s.aya~dakbi~a bergerak, Kita pernah mencoba, akrbatnya tiga

pemadam kebakaran, ,untuk membantu aparat keamanan. Pagi keesokah mobil pemacarn 'k~bakaran klta dirusak massa," ujar Kepala Oinas

harinya, Bang Vos menemui dan menawarkan bantuan kepada Pangdarn Pemadam Kebakaran Suharso.

Jaya Mayjen Sjafrie Sjamso~ddin di Pos Komando, di mana kebetuian saat Dan keterlambatan bala bantuan rtu berakibat fatal, rlbuan gedung

itu Pangkostrad Letjen Prabowo pun berada di sana. "Saya pu~ya ribuan hangus terbakar, ratusan manusia terparggang api drdalamnya .....

Tajuk NO, 11. TH. I • 23 JULl 199B

FOKUS TAJUK

NVESTIGASI

MENENTANG KEKERASAN TER· warga, puluhan orang

HADAP PEREMPUAN. Hampir datang lagi mau menyerbu

tiap hari ada saja yang menele- kampung. Mereka hendak menyerang para penghuni AMBlagi.

Melihat gelagat buruk, Agus langsung memobilisasi warganya. Warga mempersenjatai diri dan menghadapi para penganeam. Hanya dalarn sekejap, para penyerang belingsatan ngacir sambil membawa beberapn kawannya yang tertusuk senjata tajam warg<l. Mereka langsung naik ke sepuluh truk yang membawanya, dan melesat ke arah jalan tol.

Selamatlah ratusan warga keturunan dari amuk mass3:. Mereka sendiri tak berlamalama bertahan di rumah pendudukyang balk hati itu. Dengan pakaian seadanya - banyak di antara mereka cuma bercelana pendek dan berkaos oblong - langsung berpamitan pulang. Tak dinyana, keesokan harinya, Iumat sore (15/5), ada beberapa di antara mereka yang sudah menghubungi Agus melalui telepon. Mereka mengaku, ada yang sudah berada di Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan. "Sampai hari ini, hampir tiap hari, ada saja mereka yang menelepon dari luar negeri, mengucapkan terirna kasih telah ditolong," ujar Agus Ngatino. "Malah ada beberapa yang meminta sayu datang ke Hong Kong seeara gratis, sebagai tanda terima kasih telah diselamatka n

agar dilindungi.

Ihwal perkosaan, Agus Ngatino tidak melihat kejadian itu, Kalau toh mereka

pon dari luar negeri,

meraba-raba penghuni wa-

nita, itu tak lain untuk mencari uang atau barang berharga yang kemungkinan diselipkan di celana dalam atau di BH-nya. "Sepengetahuan saya tidak ada yang diperkosa," ujar Agus, yang mengaku .menyisir semua lantai apartemen. .'

Namun, beberapa warga sekitar mengatakan, ada ernpat wanita Tionghoa yang diperkosa saat terjadi kerusuhan itu. Warga lainnya menginformasikan - yang juga disampaikan ke Agus - ada seorang wanita warga negara Hong Kong, yang kebetulan tinggal di sana, sempat diperkosa perusuh seeara bergantian.

Ceritanya, saat perusuh tiba di salah satu lantai AMB, mereka mendapati perempuan malang itu. Awalnya, para perusuh menghardik wanita itu agar segera ke luar dari flatnya. Sayangnya, perempuan tadi tak mengerti bahasa Indonesia. Dengan penuh ketakutan, ia malah bertahan. Dan tujuh orang penjarah yang sudah tak sabaran lantas memperkosanya seeara bergantian.

Lepas dari kebenaran informasi itu, yang jelas, pada malam itu Agus - bersama warga Kampung Lemah Batang - berhasil menyelarnatkan sekitar 300 warga keturunan penghuni AMB. Walaupun sudah dilindungi

jiwanya," ...

Tim Investigasi Tajuk

Tajuk NO.1 1. TH. ! - 23 JULI 1998 2.7

dengan Uang Saku Rp 2,5·5 Juta per bulan

Gelombang Kedua Hanya 60 Orang

Bila saat ini Anda belurn bekerja atau tidak puas dengan pekerjaan yang ada, Anda kami ajak untuk meniti karir yang lebih cemerlang dengan mas a depan yang pasti

Jadilah Public Relations Profesional dalam dunia Pariwisata, rnelalui studi praktek di Singapura.

Bergabunglah dalam Pelatihan Public Relations Profesional di Jakarta dan Singapura,

Dengan persyaratan sebagai berikut:

1. Bersedia Overseas Training di Singapura selama 6 s.d. 12 bulan.

2. Berijazah SLN Dl-2-3 dan SI segala jurusan.

3. Prial Wanita, Usia 18 s.d. 26 tahun

4. Mengikuti pelatihan teori di Jakarta dengan biaya Rp 2.000.000.- (bisa dicicil).

Lima Keuntungan yang akan diperoleh: • Ahli dan terampil dalam bidang Public Relations di Industri Pariwisata.

• Mendapat uang saku Rp 2.500.000,- s.d ..

Rp 5.000.000,-/bln selama di Singapura.

• Meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

• Merniliki pengalaman internasional.

• The last but not least, Anda tidak perlu lagi mencari pekerjaan tapi akan dicari oleh pekerjaan.

Peminat, hubungi penyelenggara program:

Di Karnpus ITKP " Radio Dalam Center 11. Kramat Pela No. 40 A-B, Jakarta 12140 Telepon: (62-21) 72792538-9 Pax.: 7227340

Bawa guntingan iklan ini Gratis Paspor

o L 0 M

SIKAP tegas yang diambil [enderal Wiranto selaku pirnpinan ABRI terhadap para anggotanya, baik yang berpangkat rendah maupun perwira tinggi, yang diduga terlibat dalam kasus penculikan aktivis maupun kasus penembakan mahasiswa Trisakti yang diramaikan belakangan ini, adalah sikap yang sifatnya baku dalam ABRI. Kalau ada kesalahan yang dilakukan anggota

I; ABRI, mesti ditindak secara tegas

sebagai bentuk koreksi. Sehingga.bila pimpinan ABRI mernbentuk Tim Pencari Fakta (TPF) sampai Dewan Kehormatan Militer (DKM), itu adalah prosedur standar di ABRI.

Ada memang yang menyebut, langkah "bersih-bersih" yang dilakukan Wiranto kali ini adalah dalam rangka pembersihan kelompok tertentu di ABRI. Yang lalu memunculkan cerita tentang adanya faksionalisme antara Wiranto dan Prabowo. Namun, yang ingin saya bahas di sini adalah persoalan yang lebih mendalam.

Bahwa, apa yang terjadi di tubuh ABRI belakangan ini bukanlah sekadar ekses. Tapi, inilah hal yang pasti terjadi bila militer mempunyai wewenang yang begitu luas dalam kegiatan yang bersifat non-hankam, Yang kita lihat sekarang ini, ibaratnya ABRI itu rumah yang sedang terbakar. Dan, yang harus kita pikirkan bukan soal bagaimana rumah yang terbakar itu dipadarnkari. Melainkan, mengapa rumah itu gampang sekali terbakar. Mengapa korsluiting sering terjadi.

Berarti, ada persoalan yang lebih besar. Karena itu, harus dilakukan pembenahan yang menyeluruh, Pembenahan itu mengandung arti bahwa militer harus mempertirnbangkan kembali perannya selama ini, yang boIeh dikata hampir-hampir tak terbatas. Khususnya, daIam berbagai urusan yang bersifat non-hankam.

Dalam kasus penculikan para aktivis itu, misainya, pokok pangkalnya adalah urusan intelijen. Kesulitan terbesar yang kita alami dalam hal kegiatan intelijen ini adalah, bukan saja tidak ada pengendalian, namun koordinasinya juga tidak jelas. Kita mungkin tahu ada orang yang diculik, tapi kita tidak tabu siapa yang menculik. Bahkan, orang yang di "dalam", dan mestinya tahu siapa si penculik itu, sering kali juga tidak tahu. Dunia intelijen itu seperti rimba raya, tidak terkoordinasi dan ruwet. Sehingga, accountability-nya tidak jelas, lni rnerupakan ancaman bagi kehidupan bernegara kita.

Karena itu, yang harus kita pertanyakan adalah: siapa yang mengendalikan kegiatan intelijen. Menurut saya - dan hal ini di-

MOCHTAR MAS'OED

,.

lakukan di banyak negara - kegiatan intelij en bisa dan harus diawasi sipil. Iadi, ada pengawasan dalam parlemen terhadap kegiatan intelijen. Konsekuensinya, orang sipil yang ada dalam mekanisme kenegaraan harus menguasai seluk-beluk intelijen militer. Iadi, kata kuncinya adalah pengendalian negara secara terlembaga terhadap intelijen militer. Kalau tidak, intelijen akan terus-menerus menjadi teror bagi masyarakat.

Apa yang dilakukan pimpinan ABRI saat ini adalah hal yang mutlak dilakukan dan patut kita dukung. Tapi, yang perlu disoal bukan sekadar mencari dan mengusut siapa pelakunya, lalu diadili menurut hukurn tanpa melihat pangkat dan jabatannya. Karena, itu hanya penyelesaian yang jangka pendek sifatnya. Narnun, yang lebih penting untuk dipikirkan ke depan adalah bagaimana mengendalikan kegiatan intelijen yang berpotensi membahayakan rakyat tersebut. Dan, menu rut saya,ABRI harus melakukan lebih dari itu, Artinya, ada perombakan besar-besaran dalam dunia intelijen sehingga institusi tersebut accountable. Kalau hal itu bisa dilakukan, ini tentu langkah besar proses demokratisasi.

Dalam jangka panjang, saya berpendapat, langkah tersebut harus berlanjut pada pengembalian fungsi dan peran ABRl yang normal. Konsep dwifungsi ABRl itu muneul dalam keadaan darurat untuk menangani keadaan yang tidak nomal, Tapi, negara kita sudah merdeka selama 50 tahun lebih. Selama itu, kehidupan politiknya dikondisikan seolah-olah kita berada dalam keadaan perang. Karena itu, harus dikembalikan ke dalam kondisi normal ke~ hidupan bernegara.

Normal adalah hila orang tidak perlu takut pada intelijen.

Normal adalah hila militer menjadi lebih profesional di bidang tugasnya. Normal adalah bila jenjang karier militer tidak dipakai sebagai tangga menuju jabatan politik. Dan, normal adalah bila tentara tidak lagi menjadi aktor politik yang menikmati berbagai privilese dan tidak accountable.

Iadi, hersih-bersih di tubuhABRI itu hanya akan mampu mengembalikan dan meningkatkan citra institusi tersebut kalau dia kernbali ke fungsinya di zaman yang normal. Mengapa selama ini terkesan hahwa AERl enggan kalau diminta kembaii ke fungsi normalnya? Karena adanya vested interests.

Maka, menurut saya, dwifungsi itu harus diartikan sebagai fungsi hankam dan fungsi teritorial. Bukan fungsi kekaryaan, dari ekonomi sampai politik, sebagaimana selama ini dijalankan. Karena, kekaryaan itu dimaknai sangat luas dan luar biasa cakupannya. Itu bukan dwifungsi lagi, melainkan trifungsi, bahkan dasafungsi, Akibatnya, pekerjaan ABRI di bidang hankam menjadi terbengkalai.

Lalu, bagaimana peran dan posisi ABRI di masa depan bila ditilik dari segala keadaan yang kini dihadapinya? Menurut saya, hal

Tajuk No.it TH.I. 23.HJU 199B· aa

K 0 L 0 M

"

orma

• •

itu akan sangat bergantung pada siapa nantinya yang bisa tampil dan bertindak politik secara efektif. Di Indonesia, bertindak politik secara efektifbisa berarti memaksa orang lain untuk mengikuti pendapatnya.

Nah, yang punya alat paksa di Indonesia saat ini antara lain adalah militer. Sehingga, bila masih dan disahkan memiliki alat paksa untuk melakukan pekerjaan non-hankarn itu, sampai kapan pun tentara akan tetap sangat berpengaruh,

ABRI untuk mendukung kepentingannya sebagaimana dilakukan Golkar baru-baru ini, legitimasi ABRI di bidang politik, ekonomi, dan lain-lainnya, akan tetap langgeng. Karena itu, menurut saya, di masa depan hams ada perubahan kultural yang menyangkut ideologi bahwa tugas utama militer adalah di bidang hankam. Supaya, ABRI kita makin profesional, dan makin tangguh, di bidang hankam.

Musuh kita yang sebenarnya bukan para mahasiswa atau bu-

I i'

Sekarang, tergantung pada hitungan para politikus di Indonesia, apakah militer masih dilihat sebagai kekuatan yang real sehingga perlu tetap diakomodasi. Atau, yang semestinya dilakukan tentara adalah kegiatan yang lebih terfokus di bidang hankam. Bila yang kedua yang dilakukan, legitimasi bagi ABRI untuk aktif di luar urusan hankam tentu saja akan merosot.

Tapi, kalau para politikus si pi. kita masih suka memanfaatkan

ruh, tapi para penjarah bahan tambang atau kekayaan laut yang selama ini dikeruk tanpa bisa kita halangi. Inilah yang hams diamankan ABRI. Bukan seperti saat ini, melindungi negeri tidak mampu, mencegah pencurian ikan di laut juga tidak mampu, akibatnya citra ABRI merosot terus. Saya tidak menginginkan peran militer yang lemah. Saya ingin militer yang kuat, tapi dalam fungsi hankamnya ...

r· - .. '0.<

.-/ :

MADEG

,

I

" AJAW-AJAW"

JAUH hari sebelum berhenti rrienjadi presiden, Pak Harto tampak ber-Iega lila (ikhlas) untuk lengser kepiAhon. Bila rnemang rakyat tak lagi mempercayainya, itu tidak menjadi masalah, katanya. Mengutip falsafah Jawa mengenai suksesi kepemimpinan dalam pewayangan, Pak Harto kemudian menyinggung ihwal lengser keprabon, madeg pandhita.

"Tugas pandhital' begitu katanya pada peringatan HUT ke-33 Golkar di Jakarta (19/1011997), "adalah mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Kedua, mengasuh anak-cucu dan eieit supaya menjadi orang yang berguna bagi negara dan bangsa,"

Pak Harto berpidato semaeam itu sebagai jawaban atas keputusan Rapim Golkar yang menealonkan kembali dirinya sebagai presiden/mandataris MPR masa bakti 1998- 2003.

Sebelurn menyinggung "pandhita-pandhitaan", ia lebih dulu menyatakan: sebagai orang yang beriman, tentu akan terlebih dahulu memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, dan juga terima kasih kepada Golkar. "Tetapi, sebagai manusia yang serba kekurangan, saya harus mawas diri, mengoreksi did atau ngulat sarita hangrasa wane'

Kemudian, seperti bertanya, ia melanjutkan, "Apakah benar penampungan aspirasi rakyat oleh Golongan Karya menunjukkan bahwa rakyat mempereayai sayai'

Sebagian hadirin menyahut, "Betul, betul," Pak Harto meneruskan, "Mudah-rnudahan, kepercayaan itu tidak merupakan kepereayaan yang dipaksakan," Hadirin berteriak, "Tidaaak:'

SeJanjutnya, dengan mengutip tugastugas ke-pandhita-an seperti yang diuraikannya itu, barangkali diharapkan agar seluruh rakyat Indonesia mengerti dan tak perlu bertanya-tanya lagi bagaimana Pak Harto akan memposisikan diri sesudah tidak jadi presiden. Katanya, "Kala u kita tidak menjadi pemimpin kerajaan, (kita) bisa memadeg(berdiri) menjadi pandhita"

Kepada masyarakat yang membutuhkan, pandhita akan memberikan saransaran atau wur-wur sembur. Kepada penguasa, ia tut wuri handayani sehingga Sang Nata (presiden baru) dapat mengatur negara secara tenteram yang digambarkan tata tentrem gemah ripah loh jinawi. "Inilah bilamana akhirnya saya tidak dipercaya lagi . oleh rakyat untuk memegang tampuk kepemimpinan negara ini," kata Pak Harto. "Tanpa ada kepereayaan, kiranya sulit bagi saya untuk melaksanakan tugas yang berat (sebagai presiden) ini,"

Had ini, Pak Harto sudah dua bulan lebih berhenti menjadi presiden, Setelah gagal membentuk Kabinet Reformasi pada 20 Mei 1998 karena antara lain tidak didukung oleh menteri-menterinya, ia mengumumkan pemberhentiannya sendiri pada 21 Mei 1998. "Tidak jadi presiden juga tidak

patheken (tidak butuh - Red.)," katanya pada dua hari menjelang pengundurannya. "Wah, sudah tuwuk (kekenyangan)," timpal Nurcholish Madjid kala itu.

Tapi, tuwuk barangkali memang ungkapan tepat bagi seseorang yang sudah begitu lama (32 tahun) memegang jabatan sarna, apalagi presiden. Ungkapan ini nyatanya mendapatkan legitimasi dari begitu banyak orang yang mempersoalkannya. Sampai saat ini, ke-tuwuk-an Pak Harto atas hartanya terus dipermasalahkan. Sampaisampai, Pak Harto sendiri perlu membantah kalau dirinya punya simpanan dana di luar negeri.

"Saya sarna sekali tidak mempunyai account di luar negeri. Kalau ada yang menemukan account saya di luar negeri, silakan laporkan. Dan, kalau ada yang mau mengambil, akan saya teken dan serahkan kepada negara," tuturnya ketika menerima pengasuh Majalah Dharmais di Iln, Cendana 8 Jakarta, (8/7). Selain itu, ia pun menerima Dr. Yohanes Yakoh dan menunjuknya sebagai kuasa hukumnya (pengacara),

Memang, pada gilirannya, yang diramaikan khalayak adalah soal harta. Iawaban Pak Harto bahwa dirinya tak punya account di luar negeri itu pun tak menyurutkan suara-suara yang terus menuntut. Yayasan-yayasan yang dipimpin Pak Harto, yang menurut Sudharmono "hanya" menyimpan Rp 2,5 triliun, tak luput dari tuntutan. Akbar Tanjung, mantan anak buah Pak Harto, ikut-ikutan menuntut agar dana Yayasan Dakab dikembalikan ke Golkar.

Yang rnenarik, mantan anak buah Pak Harto yang menuntut itu tidak hanya Akbar Tanjung. Mereka - yang semasa rezim Orde Baru berkuasa pernah ikut menikmati "pembangunan" (ada yang diangkat Pak Harto jadi dirjen, irjen, menteri, dubes, gubernur, bahkan pengusaha, dan maeammacam lagi, yang dengan jabatannya itu menjadikannya terhormat dan tidak melarat) - kini berkoar-koar menuntut Pak Harto bak musuh bebuyutannya saja.

Kalau dulu pengikut Bung Karno dibersihkan oIeh rezim Orba dengan diberi cap "Orla" kini banyak yang tadinya pengikut - atau sedikitnya pernah ikut - rezim Orba lantas menghujat bekas pemimpinnya itu sendiri. lni menjadi tontonan rakyat, yang menggelikan.

Tajuk NO. 13, TH. 1- 20 AGUSTU$ 1998 10

l

-.-~---~-.--- .. ~

Tapi, biarlah tontonan itu terus berlangsung entah sampai kapan. Iurnal ini hanya ingin rnencoba mengetahui sejauh mana niat untuk madegpandhita seperti yang pernah diucapkan Pak Harto itu dilaksanakan secara konsist~n.

Dalam pewayangan, setiap kali Pandhita Duma ditanya oleh siapa saja, ia selalu mengawali jawabannya dengan, "Ajaw, ajaw;' tapi yang dilakukannya jelas. Sedangkan, aktivitas Pak Harto selepas lengser keptabon sulit ditilik, karena yang bersangkutan mernang kemudian jarang tampil di muka umum. Kabarnya, usai upacara pemberhentiannya dari presiden (21/5), Pak Harte langsung pulang ke Jill. Cendana, masuk ke kamarnya, dan merebahkan tubuhnya di kasur sampai sore hari.

Berikut ini aktivitasnya, sampai 17 Agustus:

28MEI 1998

Mantan Presiden Soeharto lebih banyak berada di rumah. "Ierkadang, melakukan jogging dan latihan-latihan fisik lainnya di rumah, Anak-anak juga bersikap tenang menghadapi pemberitaan soal pengusutan kekayaan keluarga," kata Probosutedjo.

Probo menambahkan, Pak Harto kini juga meminta anak-anaknya agar bersikap tabah menerima apa saja yang terjadi sekarang. "Mereka bersikap biasa-biasa saja, dan tidak marah menghadapi berita-berita soal kekayaan,"

Selain itu, tak satu pun dari keluarga Pak Barto yang berada di luar negeri. Pak Harto sendiri tetap tegar, dan tak kurang suatu apa pun. "Beliau tetap tenang menghadapi berita yang tidak obyektif dan negatif mengenai kekayaan keluarga," ujar Probosutedjo, menjawab pertanyaan bagaimana kondisi Pak Barto.

Menurut Probo, ia memiliki alasan bahwa dirinya obyekti£ "Saya malah yang marah dan geram menyaksikan tuduhan-tuduhan itu, yang makin tidak obyektit;' ujarnya ketika ditanyakan apakah keluarga Pak Harto sedih atau marah menanggapi tudingan tentang sejumlah kekayaan keluarga.

"Mungkin banyak kalangan tidak percaya akan apa yang saya katakan, tetapi saya mengatakan yang sesungguhnya, dan saya lakukansehubungan posisi saya sebagai saudara, yang juga prihatin," kata Probo.

SAlAT JUMAT Dl MASJ1D B1MAN· Dengan berbatik corak

TARA. Kami mau lenang dulu; kuning, ceIana hitam,

kalau ditanggapi nanti ramai lagi • dan berpeci, Pak Harto

duduk didampingi Bambang Trihatmodjo meIakukan salat Jwnat di masjid itu. Ketika usai salat, wartawan Kompas menanyakan kesehatannya, Pak Harto berucap pendek, "Ierima kasih, saya sehat-sehat saja. Alhamdulillah."

Menurut Bambang Trihatmodjo, "Kegiatan Bapak (Pak Harto) sehari-hari ini, ya, di rumah saja. Sudahlah, soal pemberitaan media massa dalam danluar negeri enggak usah saya tanggapi. Bapak dan kami mau tenang dulu, nanti kalau ditanggapi ramai Iagi," Sebelumnya, Pak' Harto juga berkunjung ke Pangdam Iaya dan Mabes ABRI, di Cilangkap.

8JUN11998

Pak Harto berulang tahun ke-77 di Jln. Cendana. Presiden B.J. Habibie tidak datang. Menurut Probo, Pak Harto memang tidak mengundang Habibie untuk hadir. "Karena bisa merepotkan, jadi lebih baik tidak. Pak Harto khawatir, nanti dikira mendikte atau mernbayang-bayangi," kata Probo kepada para wartawan di Jakarta (9/6).

Menurut Probo, hari ulang tahun Pak Harto hanya dihadiri seluruh anggota keluarga dan para pejabat dalam jumlah yang terbatas. "Ulang tahun ini tidak dipublikasikan, karena !\k Harto kan bukan presiden

lagi" .

Pak Harto, demikian Probo, sebenarnya sudah tidak ingin lagi dicalonkan menjadi presiden untuk periode 1998-2003. "Tapi, kalau beliau mau, itu karena desakan para pengurus Golkar dan lain-lain. Namun, pihak keluargasebenarnya sudah minta agar Pak Harte tidak lagi jadi presiden," ujarnya.

8TULI1998

Pak Harto menerima pengasuh Majalah Dharmais di Jill. Cendana, dan mengatakan, dirinya tak punya account di luar negeri.

14AGUSTUS 1998

Iika tak dicermati benar, sosok jenderal besar bintang lima ini tak akan kentara di antara ratusan jamaah Masjid Bimantara.

15 AGUSTUS 1998

Pada acara pidato Presiden B.J. Habibie di DPR, Pak Harto sebenarnya diundang untuk hadir. Tapi, rupanya ia memilih ber-. halangan.

17 AGUSTUS 1998

Pak Barto kelihatannya mulai merasakan sebagai jenderal besar tanpa pengawalan komplet. Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) Grup-A, yang selama inimenjaga Pak Harto sebagai presiden, dilikuidasi. Ia juga tak hadir ke acara peringatan detikdetik kemerdekaan di Istana Negara. ,..

Djoko Quarbntyo

Tajuk .NO. 13, TH. I - 20 AGUSTUS 1998 11

._- ~-----

JENDERAL besar purnawirawan Haji Muhammad Soeharto tidakhadir di Istana Merdeka. Begitu pula putraputrinya. Meski panitia perayaan had kemerdekaan Republik Indonesia ke-S3 telah melayangkan undangan kepada keluarga presiden kedua RI itu, mereka memilih untuk talc hadir di istana yang selama lebih dad tiga dasawarsa menjadi bagian hidup mereka. Inilah untuk pertarna kalinya sejak tahun 1966, rakyat Indonesia merayakan had kemerdekaan tanpa kehadiran Soeharto. Merdeka tanpa Soeharto.

Sebagai gantinya, di podium istana berdirilah Pro£ Dr. Ing. RJ. Habibie, wakil presiden pilihan Soeharto dan yang rnenggantikannya ketika ia lengser keprabon 21 Mei lalu. Meski mula-mula tampak kikuk - ya maklumlah, kan ia baru pertama kali - Habibie sukses mengakhiri tugas kenegaraan itu. Sekaligus menegaskan isyarat, ia bukan "imitasi" pendahulunya.

Karena, tak seperti Soeharto, yang formal, Habibie tampak lebih santai, Ketika menerima kembali naskah teks proklamasi dad Harmoko, misalnya, ia menjabat dulu ta-

Tajl.lk NO. 13, TH. I - 20 AGUSTUS 1998 12

PAK HARTO MElANTlK BENNY

ngan ketua DPRIMPR itu, MOERDANI. j'Tumpas dulu, ga.. dian rnemohon maafkepa-

Ia sernpat rnelernparkan se- lang dulu, kalau perlu pakai ke- da masyarakat, khususnya

nyum ke arah undangan kuatan militer". keluarga para korban. "Pe-

yang duduk di bawah podi- merintah, terrnasuk pim-

urn kehonnatan. Dan, dua kali ia berpaling pinan ABRI, telah rnenegaskan, di masa de-

sambil rnelarnbaikan tangan ketika dua ribu pan kejadian seperti itu tidak akan terulang,"

pe1ajar peserta aubade yang mengibarkan kata Habibie, yang disarnbut keplok panjang

bendera ke arahnya. peserta sidang.

Sesudah riga bulan duduk di kursi orang Harnpir semua pengamat sepakat, inilah

nomor satu itu, Habibie rnemang berusaha bagian terindah dari teks pidato setebal 44

menunjukkan, ia bukan Soeharto atau per- halaman yang dibacakan selama 2,5 jam itu.

panjangan tangannya. Dan, puncak "pertun- Karena, sejak Orde Baru berkuasa dan run-

jukan" itu terjadi Sabtu 15 Agustus Ialu - tuh, inilah untuk kali pertarna seorang pre-

yang juga tak dihadiri Soeharto, meski ia siden Republik Indonesia meminta maaf ke-

telah diundang. Dalarn pidato kenegaraan pada rakyatnya. Habibie tak mengkritik Or-

pertarnanya di depan sidang DPR, Habibie ba, dan tetap rnenyebutnya sebagai orde di

rnenyarnpaikan penyesalan sedalam-dalam- mana pembangunan dilaksanakan secara te-

nya atas terjadinya pelanggaran hak asasi reneana dan berkesinambungan. Toh, per-

rnanusia (HAM) di berbagai daerah di masa mintaan maafnya menyiratkan pengakuan,

lalu, yang dilakukan oknurn aparat dalarn inilah pula pernerintahan yang usia kekua-

operasi menghadapi gerakan separatis, saannya diwamai dengan rangkaian pe1ang-

Presiden, atas nama pemerintah, kemu- garan HAM.

Orde Bam adalah rezirn yang bermula dari tragedi dan berakhir dengan tragedi. Ia bermula dari tragedi pembantaian para tokoh dan rakyat yang diduga sebagai simpatisan PKI (Partai Komunis Indonesia) - yang sampai sekarang pun jurnlahnya tak pemah resmi diurnumkan. Ia berakhir dengan jatuhnya ratusan korban - versi tak resmi bahkan menyebut Iebih dari seribu orang - yang tewas, yang diperkosa, dan dijarah, yang hingga kini kasusnya belum tuntas disidik.

Dan, sepanjang 32 tahun usianya, Orde Baru juga meninggalkan luka politis yang sampai hari ini masih berdarah dan menganga. Yang paling rnutakhir adalah terbukanya kekejian operasi millter di Aeeh, yang , nyaris tak bisa dipereaya bisa terjadi di negeri yang mengaku ber-Pancasila (lihat: Membunuh Lalat dengan Meriam). Mantan KSAD Ienderal (pum.) Rudini sarnpai mengaku bergidik rnendengar eerita kekejian militer di Aeeh itu. " Ndak bisa percaya saya. Sedih sekali saya," ujamya.

Diperkirakan pula, dalarn hari-hari rnendatang kisah miris serupa akan datang dari Timor Timur (lihat: Tentara Lembut, Kata Xanana) dan Irian Jaya (lihat: Sesudah Operasi Pembebasan Sandera).

Inilah riga daerah hot spot warisan Orba yang, setelah ia runtuh pun, rnenyisakan 50- al yang tak gampang diselesaikan. Dua dari tragedi itu - pembantaian PKI dan Timtimtermasuk dalam daftar genocide (pembantaian atas kemanusiaan) tingkat dunia yang disusun para penulis buku Century of Genocide (lihat: Tajuk, No.7 Th. I, 28 Mei 1998). Namun, bukan tak mungkin Aceh dan Irian Jaya pun akan segera masuk dalarn daftar yang sarna.

Mengapa sernua kekejian itu terjadi?

Sejurnlah mantan pejabat Orba yang diajak Tajuk mengkritisi masa yang belurn lama lewat itu, kini, bisa mengaku dengan legawa: semua pelanggaran atas harkat kemanusiaan itu terkait dengan struktur kekuasaan Orba, yang terlalu mengedepankan pendekatan kearnanan. Dan, kekuasaan Orba tak terpisah dari pendiri dan pemimpin tunggal rezim itu: Soeharto.

Tajuk NO. 13, TH. I - 20 AGUSTUS 1998 13

- ------- ---~----.

Seorang mantan pejabat intelijen, misalnya, mern-, baridingkan gaya kepemimpinan Soekarno dan Soeharto dalam menghadapi setiap sengketa politis, Soekarno; yang tokoh sipil, biasanya, mendahuIukan penyelesaian politis, Bila gagal, bam dipakai kekuatan militer, Dan, kalau sudah lumpuh, dipakai lagi solusi politik. Hal ini, misalnya, tampak pada caranya menangani pemberontakan PRRI/Permesta. Soeharto, yang jenderal, menempuh cara sebaliknya, "Tumpas dulu, galang dulu, kalau perlu pakai kekuatan militer,' katanya.

Sesuai latar belakangnya sebagai tokoh militer yang menghabiskan sebagian hidupnya di medan pertempuran, "alat pukul politis" utama Soeharto - takbisa tidak - adalah militer. ABRI, yang semestinya menjadi pelindung rakyat, beralih fungsi menjadi

I;

berhadapan dengan rakyilt Seluruh J:;flngka-

ian cerita pelanggaran HAM itu, meski pahit, hams diakui, tak bisa lepas dari peran ABRI - satu-satunya institusi yang memiliki senja-

.. '. -'

'PraoowoBilliaKartudi;;M'-'~'--

"~,' ,! ~. ~_::;:_ ,',l, -_.'_<' , .• _" , ',,_._ ,f, • ... •.• J J. -,' ~ ~_ ••• 1-,' '"".cC"C -, ccc~,,,",,"""",~~,·,:,··,··,c':v:"·",,,!,'·';.;,'

'~IINP~~~J~e"~~Q~p1bj;dtn;'7,~klrirli~j;~n;'~i:~ !~i~fi~d~n.~a~b"ta~ng j'lii6' .

. : ;,k~mah' militer;·B~:~~~,~aI)Y~,··J~M·p~!~~a.~t~n· :[):anj~~·.;Kop~~tis·Mayj~n . l~hmenganalisiSlnstruksiBKO (Bawah' ,enl~ali Opera:sj) ~y~, ::Muchdi .p.rt dah.Komandan Gru:~jVKopassijsKdL'GhairawarJ:hu bila re-'Ta'di,:b~sJb~gyb, Pangab (waktu •..

. . ··kdinenclasl'~~wan··Keh()~matakP~rWi(a,(cl~LaisetuJui .. Me~h~rik~(miPa-' .• ;p~Hgtli'ketik~~~)reSiden soeh·artO}.:t·i rl"k'''n .. rniih"rrlon,~a:Iii:

. '; ,ngabienderaIWlral)to;mgap~iWira:liu diadmdrmahkainah>'inilit~'rd~ii di::kepad~ PrWowci. . ii':'! .'c·r::'d?W;:;}~"!,\f;·)(~"::

. 'jatuhi sanksl admi~istratif.ltu r~korri~ndasiya'ngakan:ka'misa~pafk~nke-' ,.'Statein~nSLibagyO itu,tak urung, . pada Pariga6;"ular'Ketua DKP.J<SAD Jelideral.Sutia_roiO··H}.i:kepada pers,~ .. Ia~'rh~~ta;' ~etil)ggiABRI yang'dihubuhgi

Jumat 14 Agustus lalu>' .' . '., '. . - ", ·pga~t.3tlls:8rga~'ik;HP (Ba~ahPeriritah), .

. . ' . KepadaTajuk;seju'mlah sumberyqnginemahamis~IUk"tieluk kerja DKP pas9kah ciibawah'kendali satuan induknya; . ' ..

menambahkan,b~sar ke~liil~inan k?tiga p~rwiraitu'akali'dikenai sanks' . satuail ditempatkan dalam keridali perintah koiTlil(1clD. .

a(jrninistratlf dulu,sehefunl dliijukan kemahmiL Sanksiadministratif bisa 'anasaJnyaiyang inenanggung seluruhPeiakSanaan'6p~~asI; te _~_".

··beruPCi pemberh~ntian .darIjab~tart; bahkan dari 'dinas militerakUf. Reko~. 'san administrasi.. . ,', .' " i. ' .'

. lTiendasi sanksluntuk Prabowodan Mu~hdi diper.kira kan ~kan teblh berat ke-Seda ng, statusB KO hampir sarna dengariBP,·nci~ubVr~an"~aiiiinis~.

,.", ~,_"~ .,' .. , ,.' ....... ' • " ~ r • - 1> •. ", .".'. ' •. ' ',. _~.: _ .A:.,t._.- _ _"':'~";'-'_"">'_'-":":'-''''''';'J"·i;.~.'·':'''\(·'~~·)'~',

Ajmbah~ sanksi untuk Chairawan. .. ..trasl rnaslh drtangan! kesatuan asalnya. BKOsatiJkesatt'(an biasanyaf'l1~mU~

-. .' Prabbwo diduga'kuatsebagai otak akslpencullkan para aktivis. Semen- : .at ke' inana satuan ·tersebutdi-BKO-kan,·kapan. dimulaidall'ka'~ail"tier~

. tara, ·M uchdi dipersalahka.h karena inenghila ngka n ba rang b~kti, ketik!3 la a khirnya, la tertuljs, tlda k boleh lisan, 'dan rnemuat t~gas POkOk y~rig'harus'

. menerimaja6atan da!ljen '. ~opaSsUs ,dari . Prabowo. Di antaranya· adalah . .d ijalankan. Misal ny?,. adainstruksi berbunyf 'i1KiGruPIVBKq)«()i;fa:mJ~x~1: .

"penjara bawahtamih':.t~r.n.pat paraalrtivi~' dis~kapdi Makorassus Cijan-. ,Artinya, 1kompi. 'GrupN KopasSus diperbaritl!ka~."kepad?·Kqd~aril.[aya,~~1l ' .tung, Jaka~ Selatan;ya,ngkin!kaqarnya sudat)diubah nienjadi tamsn.': berada dibawah perlntahnya.Koirlandan Kompi'(6anki)"GrupjV:iriil~hyabg"

. Se'dang, Chairawan' "curna" beitindaksela ku pelaksa na ()PerasL. . rnenga na lisis ttigas pOkok tadi, bukan Danjen Kopassu·s.'·· .",.. :; . :.' \.

'SebeiJm.ny~ Subagyo m~hiulilu'r6kaf(Pral;lOwos~dah mengakui keter- . . Selainitu, !lila benar satuan KopaSsus'di-BKO~ka:n ke'Kod~'m J~yt

• I~.' • '; c" c ,.:,' -';-;," L"' __ c • ..',. ..;' _' ". ',. " " .-_ , . ~

-; ... ~.

I'

rul\."~ 1H,_~Un..

OPE R A 5 r N T'E L

PRABOWO DAN PARA SENIOR KOPASSUS. Luka politis yang sampai hari ini masih berdarah dan menganga,

ta di negeri ini, Dari Aceh sampai Irian Iaya, dari Timor Timur sampai Lampung dan Tanjung Priok, yang kini juga belum tuntas terungkap masalahnya.

Dan, di jajaran AERl, pelanggaran HAM terbanyak tampaknya dilakukan oleh satuan Kopassus (Komando Pasukan Khusus) - yang hari-hari ini meyedot perhatian publik, karena keterlibatan Letjen Prabowo Subianto dalam aksi penculikan para aktivis (lihat:

Prabowo Buka 'Kartu di Mahmili). Meski aksi penculikan ternyata juga rnenimpa para aktivis mahasiswa di tahun 1978 (Iihatpulai Kisah Paguyuban Penculik dan Korbannya), kasus Prabowo ini kembali menghadapkan

Kopassus sebagai "terpidana" di mata publik,

Data dari tiga daerah hot

spot itu menunjukkan betapa ~ Kopassus, yang dulu menjadi ~ satuan kebanggan publik g karena sukses heroiknya, kini nyaris identik dengan korps pencabut nyawa di mata rakyat di daerah operasi rniliter. "Di Peurelak,' ada dua anggota Kopassus yang dijuluki malaikat pencabut nyawa karena bengisnya. Orang pun minggir kaIau ketemu mereka," kisah Abdullah Nurdin, salah seorang korban yang selamat dari kekejian oknum militer di Aceh itu,

Bahkan, ada semen tara analisis yang mengaitkan intensitas operasi militer yang membawa jatuhnya korban begitu banyak, dengan dominasi tokoh Kopassus di lapis elite AERI. Misalnya, pada periode ketika kursi pangab diduduki Ienderal L.B. Moerdani (1983-1988) - yang besar di satuan Ko-

Tajuk NO. 13, TH. I· 20 AGUSTUS 1998 14

passus dan intelijen - hampir seluruh pos kunci ABRl dipegang para jagoan baret merah. "Zaman itu, kalau bukan baret merah, jangan harap bisa jadi danrem," tutur seorang matan pati Sliwangi kepada Tajuk.

Akibatnya, doktrin tempur banyak mewarnai pendekatan yang diambil. Hampir semua peristiwa besar pelanggaran HAM - dari Timtim, Aceh, Irja, sampai Lampung dan Tanjung Priok - memang terjadi pada masa kepemimpinan Benny Moerdani.

Pendekatan tempur ini, sejatinya, bertentangan dengan doktrin operasi keamanan dalam negeri (kemdagri) yang dianut ABRl. Menurut mantan KSAD Ienderal Rudini, ada empat macam operasi dalam doktrin kemdagri itu: operasi teritorial (opster), operasi intelijen (opsin), operasi kamtibmas, dan operasi tempur. Kapan jenis-jenis ope-

F 0 K U S

T A J U K

I N TEL

OPERAS

rasi itu diterapkan sangat bergantung pada kondisi medan. "Iapi, opster harus didahulukan, dan sedapat mungkin operasi tempurnya disernbunyikan," sambung Mayjen (purn.) Syamsudin, mantan pentolan Kopasandha (kini Kopassus).

Toh, Syamsudin tak sepakat bila banyaknya pelanggaran HAM oleh oknum ABRl itu disebabkan oleh dorninasi pentolan baret merah di jajaran elite militer. Ia mencontohkan pengalamannya sendiri ketika menangani kasus sandera di Irian Jaya pada tahun 1978. Waktu itu, ia menjadi kasdam, dan pangdarnnya adalah Mayjen c.I. Santoso, tokoh legendaris Kopasandha yang berhasil merebut Bandara Halim Perdana Kusuma dari tangan PKI di tahun 1965. "Kami berdua baret merah. Tapi, waktu itu tak ada satu butir peluru pun yang meletus," kata Syam-

sudin, yang kini anggota Komnas HAM.

Menurut Syamsudin, banyaknya kasus pelanggaran HAM yang dilakukan

~ aparat ABRI itu " terkait dengan tipis~

jen KoP~Ss1)~h~~Smeherima lnstruksi BKO tadi d~riatasannya. D~iam hal ini, larigs_urfg~ari_p~ngab.Karena, r:neski Kopassus adalahsilfua'ri elit~.'AD, hubungannyadenganKSA[)(waktuitu dijabat Jenderal W(ranto) hanya da-, lam kerimgk<i peinbina~'rl' dan pelatihan .. "Karena itu, pernyatailO KSAD sobagyo lturancu dan saljl1gbertentangan," tukas mal;ltanK~pala Badan lnteJijen A~RI(Kii~~IA) Mayje~{porn.}Sy~rrisir~iregar kepada Tajuk;_.. .•. .. __

. Sedrang purhll.Wi~aWan jenderal bintang tiga bahkan m~nafsirk;im-per~ - nyatanKSAD 'sebagai i~ya~at: ·.DKP hendak"menutupi keterlibatan Felsal Tah-' jung. ~Bila itu yang teda~i;-seb~gai s~nior .s~lYa tidak terima," u)a~ mantan

pentolanKopassu's lnl, .~. _.. . . .- .

DKPmeli~dJngi Fei$aI7Sumber-sumbeOarig d~kat d~ngankalangan DKP tadi membantah sinya'iemenitu. Dewan beranggotakilli sembilanjenderal iersebut me!ll1ing ~endapatiJ ins~uksi BKO tadi datang dari Feisal. Bahkan,sej~tinya,' p~-ra'pa'~gdamyang lain pu~ 'meneri~a instruksise~pa. Namim;tujuannya untUk'merqbantumenye_lidikikerusuhan dan gerakan-gerakan radikal yangterjadi rnenjelangPemiiu-1997 dan SU,MPR Maret 1!:198.-

Tidak ad. a perintcih untuk rnels kukanpe_ncu likan terhadap para aktivis. '

Jadl, darirh~.ria data~gnya i~isiatif pen~uli~?n? Mayje~ (p~m:)Raja Ka- . mi SembinngMeliala'; rnantan instruktur Kopassus, tak memustahilkan kemungki~~n, id_ejt~ d~t~~g'(lari_prabowoseridi~i." Kare_~a" ~peraii~OP<!SSUs . blasa nya me-mal;lg dliakSana~an denga~ ~n~kat kerahasi,aan 'Iuar biasa ting-

nya pemahaman HAM di kalangan para prajurit, perwira, dan bahkan pimpinan ABRl. Ia mengisahkan pengalamannya mendiskusikan soal HAM dengan para taruna Akabri. "Mereka bilang, wah kalau pakai HAM bisa menghambat operasi," katanya. Syamsudin juga mengaku pernah mengusulkan penyusunan etika perang (combat ethics) bagi jajaran AD, se~acam yang diajarkan di sekolah staf dan komando di Amerika Serikat kepada KSAD (ketika itu) [enderal Edi Sudradjat, Apa reaksi Edi, yang juga jagoan Kopassus? ''Ab, jangan terlalu kebarat-baratanlah," tutur Syamsudin menirukan Edi.

Kini, setelah ribuan - bahkan mungkin ratusan ribu - korban berjatuhan, tak ada pilihan lain bagi bangsa Indonesia, selain mengembalikan ABRl ke khitahnya: tentara yang berpihak kepada rakyat, bukan kepada penguasa. Dan, bila itu terjadi, kita akan percaya bahwa pemerintahan Habibie memang bukan perpanjangan tangan Orde Barn dan Soeharto, yang kini menghabiskan hariharinya dengan madeg pandhita .....

Tatik S. Hafidz, Imelda Sari K., Miftahuddin, Sulton Mufit, dan Usman Sosiawan

gi: Dugaan itu dibenarkan seorangmantan pangdam yang mengaku jyga merierima instru~i BKO tadi. la menunjuk fakta, aksl penculikan itu hanya terjadi di Jakarta .dan Lampung. sementara, kodarn-kodam lainhya-.aman.

amanssla .:

Sinyalemen lebih jauh _Iagi datang dan SyilfTIsir Siregar. lainen~inya[it,

, ada persekongkolan antara Prabowo danbeberapa pargdam, memimfa~ - atkan instr~ksi BKO tadL Dugaan inl. niasuk akal, bila diingat, pangdamJaya (waktu itu).· Mayjen _Sjafrie Sjamsoeddin mernang k~wan-dekai P~abowo.

. Apalagi, rnenurut Danpuspom Mayjen Syamsu Djalalkepr1da Tajuk, pihaknya -kirii jugamenyidik kemungkinaiik~terlibaian -jnstansi.inst~nsi lalndi luar Kopass~s, terrilasuk Kodam'Jaya, dalam aksr'penculikan itu.'Namu~, si~ nyalemenSyamsirtadi femah,biiaditunjllkfakta, Pangdam Il/SrlWijayaMay-

jenAnsyorI Deasd'iketahul cukup dekat de~gan Wiranto.,-· '.' ..

, Lalu, ap~ Kabar Prabowo? len~lt;ral yangbaru saja di/engs~rkan (untuk , sementsra) darikursi dansesko ABRI itu, menurutselumlahkawan dekatnya, meleksanakan kegiat1m seharf-harlseperti blasa, Awalbulan ini, rrlisalriya, fa mengundang S_ejUmlahulamaunt~~berdoa . bersarna dirurilahnYa·di lin. Cendana 7- sepelempar batil dari rumah Pak Harto. Menurut'mereka, Prabawo masil~ bersikUkuh, ia :btikan :aktpr utenia dalam drama penculikan itu, -; Dan, ia slap membeberkan ve'r~i ceritanya, dalarn mahkamahmdlter kEilak,

. Tapi;bemirkah mahmil itu akan digeia2? Sampai akh'ir pekan lalu, sikap'

akhirWiranto belum lagi jelas, Ketika dlcegat 'p~~s seusal mengikutipidato',' ke~egaraan preslden Sabtu 15 AglJstuS'I~lu,je~d~ral yanggem~r berka'raok~ IWcuma menukas pendek. "Tunggu saia dulu. Enggak u.satiburu~~uru.~ .... -

• ' ,-_ -.' . I - '. . •• '.:-._'". _:._ ; •

Tajuk NO, 13, TH. I - 20 AGUSTUS 1998

Tatik S. Haf"tdz, Imelda S_ari K., dan Usman Sosiawan .-

,. '. ,.; '. _ •• - '.'. ." ~ • r r , ... ~ I • -'". -, :,- :. ,.

PERISTIWA

DUALISME

ORDE BARU

MEGA dan pengikutnya memiliki seribu satu alasan unf6k sakit hatijdan mempunyai banyak hal yang laku dijual dalam pemilu yang tinggal beberapa bulan lagi ini, Ia, yang dalam pandagan umum berstatus korban kesewenang-wenangan rekayasa politik Orde Baru, telah menjadi besar - bahkan mungkin lebih besar dad aslinya - lantaran merupakan simbol ketidakadilan, Selagi Syarwan Hamid (yang ketika peristiwa 27 Iuli 1996 menjabat kassospol AERI) masih berada di tampuk pernerintahan, selagi Feisal Tanjung (yang waktu itu pangab) masih duduk di kursi menko polkam, dan selagi kabinet B.J. Habibie tak mengambil langkah-Iangkah konkret yang bersifat reformatif untuk soal ini, rasa simpati masyarakat diperkirakan akan terus mengalir deras ke pangkuannya.

Namun, untuk menjadi pemimpin sebuah negara yang berpenduduk nomor lima terbesar di dunia - yang memiliki keragaman latar belakang yang tinggi dan sebagian masyarakatnya sedang "kemaruk" pada ikIim liberal - ini, popularitas bukanlah satu-satunya kunci keberhasilan. Si pernimpin, misalnya, rnesti pandai-pandai membaea peta, agar tak ketinggalan kereta. Berikut serangkaian peristiwa di seputar Megawati, PDI, dan pemerintah:

6 MEl 1998, di rumah Mega, Ialan Kebagusan, Jakarta:

Di luar sana, orang menunggu-nunggu, apa yang bakal dilakukan Megawati di saat sekritis itu. Tuntutan supaya Soeharto turun, dan reformasi dilaksanakan seeara total, semakin ingar-bingar, Amien Rais saja telah memberi batas enam bulan kepada pemerintah untuk memperbaiki keadaan. Ketika Tajuk menanyakan sebab-musabab kegandrungannya mempraktekkan perneo "diarn itu ernas'; Mega eepat menukas, ''Apakah seorang pemimpin harus selalu muneul ke permukaan, dan yang tidak muneul itu bukan pemimpin? Situasi sekarang memang rumit. TerIalu banyak gladiator yang berrnain di arena. Raja-raja kungfu sudah banyak yang bermain. Saya tak mau terprovokasi. Kalau saya mas uk kampus, misalnya, saya kan tak tahu siapa yang bermain di situ." (Tajuk No.6 Th. 1, 14 Mei-27 Mei 1998).

pularitasnya diperkirakan kian melangit, lebih-Iebih setelah ia mengadakan koalisi dengan Ketua PBNU K.H. Abdurrahman Wahid. Pengamat-pengamat seperti Dr. William J. Liddle dan Dr. Nureholish Madjid tak memungkiri kemungkinan ia bakal jadi pemimpin Indonesia dalam waktu dekat.

1 Iuni 1998, di Gedung Paneasila, Pejambon.Iakarta:

Tatkala cereaan terhadap Soeharto mengalir begitu deras, Megawati membuat move yang mengejutkan, tapi banyak mengundang simpati masyarakat luas, Tepat pada hari lahir Paneasila, ia menganjurkan agar makian-rnakian itu segera dihentikan, Sebab, bagaimanapun, Soeharto adalah presiden RI kedua. Mulai saat itu semakin banyak pihak yang beranggapan, Mega memiliki karakter seorang negarawan. Po-

Tajuk NO. 14, TH. I • 3 SEPTEMBER 1998 10

17 Iuni 1998, di Istana Negara:

Habibie telah mengungkapkan keinginannya bertemu Megawati. Tapi, Mega (yang sejak awal-awal sudah rnenilai, kepemirnpinan Habibie tak lain dan tak bukan adalah kepanjangan tangan rezim Soeharto) tidak banyak memberi hati. Ia tak bersedia bertemu dengan Habibie. Waktu itu, orang awam pun bisa melihat betapa Habibie berusaha meneeraikan dirinya dengan gaya-gaya model pemerintahan yang eksklusif ala Soeharto, dan memperlihatkan hasrat merangkul semua golongan. Presiden RI ketiga ini mencoba merekrut seorang Kwik Kian Gie (yang berasal dari PDI pro Mega) dalam kabinetnya, tapi gagal. Narnun, sebaliknya, ia memasukkan Panangian Siregar dari PDI pro Soerjadi selaku meneg lingkungan hidup - sesuatu yang kemudian disadari sebagai salah satu titik lemah dan jadi sasaran tembak dalam pemerintahannya.

16 Iuli 1998, eli Depdagri:

Hampir dua tahun setelah pengambilalihan kantor DPP PDI Ialan Diponegoro, yang meninggalkan 5 orang tewas, 23 hilang, 149Iuka-Iuka, 22 bangunan rusak,91 kendaraan dibakar, persoalan dualisme kepemimpinan dalam tubuh PDI masih berlarut-larut, Mendagri Syarwan Hamid mengajukan usul: seandainya deadlock terus, tak ada salahnya bila PDI menjadi dua partai, PDI I dan PDI II. Tapi Mega tidak bisa terima, dan menyodorkan alternatif: pilih PDI pro Soerjadi, yang merupakan produk rekayasa warisan Orde Bam; atau pilih PDI-nya, yang lebih aspiratif dan seiring-sejalan dengan semangat zaman reforrnasi, Ia menilai usul Syarwan sebagai peleeehan hukum, karena masalah pm masih dalam proses legal action, yang harus diselesaikan secara hukum.

.~

27 Juli 1998, ill rumah Mega, Jalan Kebagusan:

Peringatan dua tahun Tragedi 27 Iuli, yang sedianya bakal diadakan di Istora Senayan, dipindahkan ke pelataran rumah Megawati. Izin yang sebelumnya sudah dike1uarkan Kapolda Metro Jaya lantas dibatalkan oleh Kapolri, dengan alasan keamanan. "Reformasi bam sebatas kulit. Kegiatan peringatan Tragedi 27 Iuli ini sebenarnya merupakan satu test case, ternyata dilarang. Apa itu namanya reformasi?" kecam Mega, di antara pendukungnya. Acara ini berjalan mulus, tanpa menerbitkan kekerasan, Praktis, hanya acara peringatan di Yogyakarta yang sempat kisruh, dengan dibakarnya kantor DPP PPP, menyusul provokasi pembacokan terhadap pendukung Megawati oleh orang tak dikenal. Acara peringatan yang sarna, yang berlangsung di depan kantor DPP Iln, Diponegoro, juga berakhir dengan tenang.

8 Agustus 1998, di Hotel Bumi Wiyata, Depok:

Sementara itu, pihak Polri telah rnemberikan izin kepada DPP PDI Perjuangan pimpinan Megawati Soekarnoputri untuk menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDI di Depok, Jawa Barat. Rakernas yang berlangsung tiga hari di Depok, [awa Barat, ini merekomendasikan pelaksanaan Kongres PDI pada November 1998, atau sebelurn penyelenggaraan Sidang Istimewa MPR (51 MPR) untuk menghadapi Pemilu 1999, dengan target menang. Kapan dan di mana kongres akan berlangsung, itu akan dibahas DPP PDI. Rakemas juga rnendesak agar pemerintah membubarkan DPP PDI dengan Ketua Umum Soerjadi, Selain itu, PDI Perjuangan juga mendesak pemerintah supaya mengusut dan mengadili mereka yang diduga korupsi terhadap kekayaan negara, Pengusutan termasuk tentang kekayaan mantan Presiden Soeharto dan mantan pejabat negara lainnya.

14 Agustus 1998, di Bina Graha:

Presiden B.J. Habibie menerima Soerjadi, yang mau berkongres di Palu, dengan sebuah ciuman - adegan yang keesokan harinya meramaikan headline foto di

koran-koran, dan memancing kemarahan para pendukung PDI pro Megawati. Kendati memberi restu dan sanggup datang, Habibie tak bisa menjamin bahwa ia sendiri pasti hadir dan membuka kongres tersebut.

gat Soerjadi, karena kasasi Soerjadi ditolak lantaran saat diajukan

sudah melewati batas waktu yang ditentukan.

BENTROK APARAT DENGAN PENDUKUNG MEGA Of PALU: Konggres tidak menggembJrakan banyak pihak.

17 Agustus 1998, di halarnan Kantor DPP PDI,Joglo:

Mega tak muncuI dalam Upacara Kemerdekaan di lstana. Ketua umum DPP PDI itu memilih merayakan hari proklarnasi di antara sekitar LOOO pendukungnya, di halaman kant or DPD PDI, di Ioglo, Jakarta Barat. Sebagai penutup, warga PDI mendoakan Mahkamah Agung supaya dilimpahkan kebijaksanaan agar dapat memberi keputusan yang seadil-adilnya atas kasus gugatan PDI Perjuangan terhadap keabsah":ll Kongres Medan.

19 Agustus 1998;

Mahkamah Agung (MA) menutup peluang Mega untuk menggugat para pejabat pemerintah yang ditudingnya terIibat merekayasa KLB Medan. MA membatalkan vonis Pengadilan Tinggi Jakarta yang mengabulkan gugatan Megawati. "Badan peradilan tidak dapat memberikan penilaian atas beleid yang dilakukan pemerintah," kata Sekjen MA, Pranowo. Meski begitu, Mega tetap berhak menggu-

rajuk NO. 14, TH. 1- 3 SEPTEMBER 1998 11

27 Agustus 1998, Asrama Haji, Palu:

Habibie batal membuka kongres yang dimulai tanggal25 dan berakhir 28 Agustus itu. Dan, sebagai gantinya, Mendagri Syarwan Hamid datang membacakan pidato presiden di depan kongres yang para pesertanya harus berjuang keras, mesti main kucing-kucingan dulu dengan para pendukung Megawati, sebelum tiba di temp at. Banyak pendukung Mega yang ikut membanjiri Palu dengan satu tujuan: menggagalkan kongres V. Di samping itu, seperti yang dilakukan 11 DPC dari Aceh, tak sedikit pula orang dari kubu Soerjadi yang sudah pasang niat mendukung Megawati sebagai ketua umum DPP PDI untuk periode 1998- 2003. Tetapi sayang, setelah serangkaian bentrokan di luar arena dan muncuinya harapan bakal terjadi rekonsiliasi, ternyata hasil kongres tak terlaIu menggembirakan banyak pihak. Budi Hardjono, 54, terpilih sebagai ketua umum. Ia berjanji akan menawarkan kerja sarna untuk menggalang persatuan dan kesatuan kepada Megawati, di dalam PDI yang dipimpinnya. Mega menganggap, kongres ini "kongres-kongresan" ....

LAMA tak tampak di depan urnum, Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin masih tetap ganteng dan murah senyum. Lusinan wartawan yang menanti sedari pagi di kediaman anggota Komnas HAM Bambang W. Soeharto di JIn. Intan 8, Cilandak, Jakarta Selatan, pada Rabu (26 Agustus) lalu, kebagian senyumnya yang khas - yang konon digandrungi para ibu dan remaja putri di Jakarta. 'Iapi, tak seperti dulu, Sjafrie - yang tampak lebih kurus - kini pelit bicara. "Lu tanya aja sama Mas Bambang," tukasnya pendek, ketika awak pers menyerbunya. la lalu masuk ke jeep Pajero bereat army green, yang di jok belakangnya tampak tersembul selembar sajadah.

Sejumlah sumber dekat Sjafrie, 46, memang menceritakan, anak angkat keluarga mantan Presiden Soeharto itu kini banyak mengisi hari-harinya dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Belurn lama ini, ia kembali dari urnrah di Tanah Suci. Maklumlah, meski sudah resmi diurnumkan bahwa ia dimutasikan ke posisi asisten teritorial kepala staf umurn (aster kasum) ABRl pada 25 Iuni lalu, sampai saat ini Sjafrie belum lagi resmi dilantik. Kehadirannya di Cilandak pada Rabu itu - dua hari menjelang peringatan 100 hari kerusuhan 13-15 Mei - adalah penampilan publiknya yang pertama sejak ia di-lengser-kan

dari kursi pangdam Jaya.

Hari itu, Sjafrie memenuhi undangan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Tim, yang dibentuk atas perintah Presiden B.J. Habibie pada 23 Iuli lalu untuk meneliti kerusuhan 13- 15 Mei, meminta keterangan Sjafrie berkaitan dengan tanggung jawabnya selaku pangdam Jaya ketika itu. Selain Sjafrie, dua hari berikutnya, tim secara berurutan mengundang pula Gubemur DKI Jaya Mayjen Sutiyoso dan mantan Kapolda Metro [aya Mayjen Pol. Hamami Nata.

Segera menyusul dalam daftar "tarnu undangan" TGPF, kabarnya, adalah Ka- BIA Mayjen Zacky Anwar Makarim, Danjen Marinir Mayjen Soeharto, Ka-Bakin Letjen Moetojib, mantan Danjen Kopassus Mayjen Muchdi P.R., dan mantan Pangkostrad Letjen (pum.) Prabowo Subianto.

Daftar nama "kelas berat" yang tercantum dalam undangan TGPF itu menunjukkan keseriusan tim yang beranggotakan 19 orang - wakil dari pemerintah, Komnas HAM, dan tim relawan - untuk menguak rnisteri yang menyelimuti tragedi itu. Sikap tersebut terasa menyejukkan, di tengah beragarnnya statemen para pejabat pemerintah yang - belakangan ini - cenderung bernada negatif mengenai peristiwa pahit tersebut. Terutarna, dalam isu kontroversial tentang terjadinya perkosaan atas sejumlah perempuan keturunan Tiong-

hoa.

Seperti diketahui, tim relawan yang diketuai Romo EX. Sandyawan telah melaporkan terjadinya sedikitnya 168 kasus perkosaan dan pelecehan seksual dalam kerusuhan yang terjadi di Jakarta, Solo, Medan, Surabaya, dan Palembang. Laporan itulah yang, di antaranya, menyebabkan Presiden membentuk TGPF.

Tapi, dua-tiga pekan terakhir ini, para pejabat bergantian menyatakan, isu perkosaan itu fitnah belaka, untuk mendiskreditkan pemerintah Indonesia. Mulai dari Kapolri Mayjen Roesmanhadi, Ka-Bakin Moetojib, dan terakhir Menpen Yunus Yosfiah. Yunus bahkan mengutip keterangan anggota Taipei Women's Rescue Foundation yang berkunjung ke Indonesia dan bertemu Wiranto beberapa waktu lalu. "Pemerintah Anda dikerjain:' ujar Yunus, menirukan anggota tim.

Namun, dalam rilis yang dikirimkan ke berbagai media, yayasan itu membantah telah bertemu dengan Wiranto, dan apalagi mengeluarkan pemyataan seperti itu. "Kami sangat sakit hati menanggapi hal tersebut;' tulis rilis itu. Para anggota TGPF juga menyesalkan pernyataan bernada intimidatif yang .menyebabkan sejumlah saksi korban urung memberikan kesaksian. Namun, Selasa pekan ini, 1 September, sedikitnya enam orang korban perkosaan itu dijadwalkan memberikan kesaksian kepada

TGPE ~

(,~

J

Tajuk NO. 14, TH. ! • 3 SEPTEMBER 199B 12

r ~- __ ____..

Tapi,Iepas dari kontroversi - yang tampaknya mencerminkan friksi yang makin menajam di seputar kabinet Habibie - Ienderal Wiranto sendiri mengakui adanya keterlibatan anggotaABRI dalamkerusuhan 13-15 Mei itu, Dalam rllis resmi yang dibacakannya seusai rapat pimpinan ABRl (commander's call) Iurnat, 21 Agustus, Wiranto menyatakan komitmen ABRI untuk menuntaskan kasus penculikan, Trisakti, dan kerusuhan 13-14 Mei 1998. "Menyadari bahwa dalam peristiwa-peristiwa tersebut terlibat prajurit ABRI, ABRI bertekad untuk menata kembali pranata etika keprajuritan dan kepemimpinan ABRI, agar tidak terulang kembali berbagai peristiwa penyimpangan prosedur," janjinya.

Inilah, untuk pertama kalinya, ada pengakuan resmi tentang keterlibatan anggota ABPl dalam kerusuhan yang mernicu keruntuhan Orde Baru itu. Atas dua peristiwa lainnya - penculikan dan Trisakti - Wiranto sudah mengambil tindakan atas anggota AB1H yang terIibat, Dua perwira menengah Polri sudah diputus bersalah oleh mahkamah militer dalam kasus penembakan Trisakti - meski kini mere-

ka mengajukan banding.

Sedang, dalam kasus peneulikan, Wiranto - atas rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang diketuai KSAD [enderal Subagyo H.S. - memberhentikan Letjen (purn.) Prabowo Subianto dari dinas militer serta menonaktifkan Mayjen Muehdi P.R. dan Kol. Chairawan pada 21 Agustus Ialu. Tak tertutup pula kemungkinan, ketiganya diajukan ke mahkamah militer. Toh, keputusan itu - yang kabarnya diambil sesudah Wiranto salat istikharah - belum menjelaskan nasib 14 aktivis yang sampai saat ini masih raib dan kemungkinan keterlibatan satuan-satuan lain di luar Kopassus. Termasuk, dugaan keterlibatan oknum aparat Kodam J aya yang ketika itu dipimpin Sjafrie (lihat: Memilah-milah Komando Penculikan).

Pertanyaannya kini: Sejauh mana keterlibatan ABRl dalam kerusuhan itu, dan bagaimana keterkaitannya dengan dua peristiwa Iainnya? Sejumlah sumber yang dekat dengan kalangan TGPF yang dihubungi Tajuk menyebut, temuan awal yang mereka dapati menunjukkan bahwa keterlibatan itu eukup jauh. Dan

ada pula indikasi yang menunjukkan, ketiga peristiwa itu berhubungan serta digerakkan oIeh "tangan" yang sarna.

Dari keterangan Iusinan saksi mata di kota-kota yang dilanda kerusuhan itu, teridentifikasi pola-pola kerusuhan - mulai dari tahap persiapan sampai pelaksanaan - dan eiri-eiri para pelaku (lihat: skema poia kerusuhan). Selain itu, waktu kejadian, yang di beberapa tempat nyaris serempak, Ditambah pula, pilihan target kerusuhan adalah pusat-pusat pertokoan yang dalam sistem pengamanan ABRI tidak termasuk dalam prioritas' utama untuk dijaga (lihat: Polisi dan Pasukan Samping Itu).

Makanya kuat dugaan, ada "tangan misterius" - yang paham betul tentang teknik dan sistem pengamanan militer - yang mengaturnya. Dari sinilah muneul sinyalemen, keterlibatan anggota ABRl itu tidak secara kebetulan. Melainkan, sistema tis, rapi, dan terencana. Apalagi ada sejumlah saksi mata yang mengaku, telah mendapatkan keterangan tentang akan adanya kerusuhan itu sejak beberapa waktu sebelumnya dari kalangan

"orang dalam ABRI':

Bahkan Tajuk, yang mencoba meIacak sinyalemen itii, mendapati temuan yang mengejutkan. Bukan saja tentang kemungkinan keterlibatan dukun santet beken Ki Gendeng Pamungkas dalam kerusuhan itu (lihat: Kerika 1tu Saya Di Australia ). Tapi juga, pengakuan seorang saksi yang mungkin bisa membantu mengungkap misteri yang kini sudah berumur lebih dari 100 hari itu. Kata sang saksi ini, ia mendengar "pengakuan dosa" seorang anggota Kopassus, yang menyebut,

kesatuannya - bersama anggo- SJAFRIE DAN HAMAMI NATA.

ta-anggota kesatuan lain - ter- Ada kesan, mereka kini saling

libat dalam rekayasa kerusuhan lempar tangan.

yang terjadi di kawasan Id.rawaci, Tangerang.

Bahkan, yang lebih seram, jatuhnya ratusan korban di pusat pertdkoan Mega ¥all adalah bagian dari rekayasa tersebut. Malah, lebih jauh lagi, seluruh proses rekayasa kerusuhan itu - yang terkait dengan peristiwa penculikan dan penembakan Trisakti - adalah bagian dari sebuah operasi militer dan politik tingkat tinggi yang disebut-sebut melibatkan Prabowo, Sjafrie, dan bahkan mantan Presiden Soeharto (lihat: Saksi-Saksi setelah 100 Hart),

Prabowo dan Sjafrie terlibat dalam rekayasa kerusuhan? Di masyarakat, sinyalemen semacam itu sudah lama beredar - berikut segala analisis motif politisnya. Maklumlah,

peran dan tanggung jawab mereka pada saat kerusuhan di Ibu Kota itu,

Namun sejumlah sumber lainnya menyebut, dalam pertemuan itu tim mendapatkan dua hal penting. Pertama, adanya ketegangan di antara satuan Polri dan satu-satuan ABRI lainnyaterutama AD dan Marinir - sebagaimana disinyalir selama ini, Kedua, ketegangan itu tampaknya menyebabkan kekacauan koordinasi di antara para pejabat yang bertanggung jawab dalam penanganan kerusuhan itu, Meskipun Sjafrie dan Hamami

menegaskan bahwa koordinasi mereka selama menangani kerusuhan itu berjalan baik, "Iapi ada kesan, mereka kini saling lempar tangan," ujar salah satu sumber itu.

Ketegangan tersebut timbul, karena pihak polisi - konon - merasa "dikorbankan". Bila kita runutkan kembali jelujur petaka itu, titik picu kerusuhan adalah penembakan mahasiswa Trisakti pada tanggal 12 Mei, Dalam tragedi yang sampai saat ini masih menyisakan misteri itu, polisi dituduh sebagai pelakunya. Meski, Hamami bersikukuh, tidak ada anak buahnya yang melakukan penembakan. Bahkan,kabarnya, hasil pemeriksaan laboratodum forensik atas peluru yang didapati di tubuh korban, tidak ada yang cocok dengan senjata anggota Polri yang ketika itu bertugas.

Tapi, insiden tersebut menyebabkan polisi "lumpuh". Kepada TGPF, kabarnya Sjafrie

FOKUS TAJUK

KERUSUHAN MEl

keduanya dikenal sebagai kawan karib. Dan - ini yang banyak memicu spekulasi - keduanya dilengser-kan dari posisi prestisius mereka dalam waktu yang tak terpaut jauh.

Danpuspom Mayjen Syamsu D., yang mengaku belum menerima info tentang keterlibatan Kopassus dalam kerusuhan, tak serta merta menampik kemungkinan itu. "Oh, . bagus kalau ada keterangan demikian. Nanti kita lihat. Temuan yang berkaitan dengan oknum ABRI, nanti polisi militer yang akan rnenyidiknya," kata Syamsu, yang juga anggota TGPF, kepada Tajuk. Namun, menurut Bambang W. Soeharto, sampai saat ini tim belum melangkah sejauh itu, Pertemuan dengan Sjafrie dkk. - dan para pejabat lainnya - lebih merupakan konsultasi untuk mernahami

Tajl.lk NO. 14. TH. I ·3 SEPTEMBER 1998 14

menyebut tragedi itu sebagai penyebab rontoknya mental para anggota Polri, Sehingga, pada hari-hari berikutnya, ketika kerusuhan memuncak, kesatuan yang jumlah personelnya hampir tiga kali lipat personel operasional Kodam Jaya itu justru menarik diri.

Namun, Hamami Nata tegas-tegas menolak tudingan tersebut. "Shock sedikit ada, karena ada tudingan masyarakat bahwa polisi pembunuh:' katanya, seperti dikutip sebuah sumber Tajuk. Toh, kata Harnami, anak buahnya masih all out menjalankan tugas - termasuk melakukan penangkapan atas para perusuh. "Hilangnya" satuan polisi dari jalanan Jakarta yang rusuh, katanya, adalah karena rnereka sengaja ditarik untuk menjaga markas masing-masing dari serbuan massa. Hamami malah mengaku heran, "Mengapa hanya kantor polisi yang dibakar?"

Ielas, masih ada banyak hal yang belum jelas tentang apa yang terjadi pada hari-hari rusuh itu. Ada dugaan, misalnya, memang ada "rekayasa" yang menyebabkan para polisi menarik diri ke markasnya. Isu lain yang tak kalah menarik adalah temuan: pada tanggall4 Mei itu saluran komunikasi radio yang dipakai para polisi untuk berkomunikasi satu sama lain mendadak macet selama sekitar enam jam. Tak ada penjelasan rind tentang hal ini. Namun, menurut Hamami, itu terjadi karena sistem komunikasi mereka menggunakan HT trunking - yang bisa dibilang memang agak kuno. "Anggaran karni kan kecil," katanya.

Tapi, teka-teki yang paling binyak diminati warga Jakarta adalah tentang nasib Ienderal Sjafrie: Mungkinkah ia akan menyusuI Prabowo menghadap sidang DKP? Pertanyaan ini wajar, rnengingat, ia sebagai pangdam Jaya saat terjadinya kerusuhan Mei disinyalir tak berbuat sebagaimana mestinya (dalam standar millter) untuk menghadapi kemungkinan terjadinya ekskalasi kerusuhan. Sehingga, Pangab Wiranto akhimya terpaksa mengarnbil kendali tentara untuk rnengamankan Jakarta. Tentu, jawaban atas pertanyaan itu masih harus ditunggu. TGPF baru akan menyerahkan laporan awalnya kepada Presiden pada awal bulan ini. Sedang, laporan akhir baru akan rampung - bila tidak ada aral melintang - pada sekitar akhir bulan Oktober rnendatang,

Dan, selama tim bekerja, warga tetap berteka-teki, Sementara, Ienderal Sjafrie menggelar sajadahnya, mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa. ....

lim Tajuk

~.

FOKUS TAJUK

KERUSUHAN ME

",,-,7--,

~ • -. _ - ~ . - " .. ., _, . __ . . _,.,,, '" " '-"J '",' ~,:. -, __ • ~_'r, -'

"". _MANAp,e~garri~nan Jakarta; k~k~rllpai terladi ··ke;u~uhan13~15·.' '. '::'~~~i? Perlu ci'iketaiiui,P~ulgab Jenderal WirantO 'menurunk~mPe;rintahdpera~' 'siKhususuntuk Jbu Kota Jakarta di bawah kendaliKomandoOperaslJaya (KoppsJaya). Tugasnya:mengamankankampanye, pemilu; pas~a:peniil~; sO jAP~dai1 pascii:SU,MPR sampaiakhir Jun'i 1998. PanglimaKoopsJaya'

" .s: .. " ~.,. acialah?lll)gdamJaya·(ketika itu) Mayjen Sjafrie Sj~msoecidiiVdaiiWakii ..

Panglima KOQPs'adalah Kapolda MetrO'Jay,Hketika itu) Mayjen Hamami Nata; ',.: " ....

Polaoperasio'nal pengam:anaii KoopsJaja dibagi dua, yaM! Pengamanan Langslnlg (Pamsu,ng) i. . dan' Penganianarincicik Langsung' (Patntaksung). Pamsung, yang dipimpin Kapolda/Wapang .'. 'Koops, dijalankanolehp6ida.MetroJayadengan seluruh unsurnya, Polis! digaris depari,Jesuai .: ' kebijakilli. 'pimpirianA,BRI, ,yang. selalu ;rnengedepankan' polisi ~daiain 'setiap pengamanan~.·;·

'.' SementarajPamtaksll,ng,Yang dipimpin PangdamjPangkoops, diperkuat unsur-unsur 'dari TNIAD,.: .' '·AL,dailAU.: .. · .. ... " ·e.,: ,':c ' .'. '. .,' ';. ','<"',

: . .:. Panisuni dari pamta~sung ini'"diatu'r!.lntuk tujuh wilayah.Uma wilayali 'j~k~rta (Utara, Tir'riur> . Selatari, Bafltt;tlan Pus~t) dit~ITJbah'duawilayah Bekasi-Tangerimg danDepok~ Depokrnaslhter- ..

,.nia~uk. tanggungjawabPolda: ·Meiro.Jaya,~~idi luar jangkauah Ko~arh Jaya,karena sudehtermasuk'We'NenangKocjarp Siliwa~gi.Oengan begltu, selaruh seritrakegatan diwilayah Depok, seperf :" . Universitas Indonesiadan beberapa k'ampuslainilya,yangacapkali menjadi "titikapi" pergolakan;

termasuk dalarn pantauan Kodam Siliwangi. c : .' . . ...' . ..... . ',':. ."

.. .". Jakartadan sekiiamyaMkan curnajadi sentra kegiatanekonomi,:meJairik~njug~ pl!satpem'er- ". . 'intahan, pen~id'ii{i:ln;dari $e~ia~b~nyakk~giatan lainnY-a. Kod<lcrJi Jaya, sebagalpenanggungjaytab. ,c ·.keamariari di wi!ayah "ihi, me'rribagi 'operasi pengama;'Slnk~ dal~intigasasar~~: periga~anan,.~ita-· .... ~. mbah dua sasaran p'engamanan su~ope~asional. Ya.ng masuk dalam~asaia~p¢ngam.9!la.n ~~r1e:;. '"

· rna' adalah Sentrei ekdnom't,pusat pernerlntahan dan poJitik, s'ert~ saranaphh]IK yangfita(6(anJa-·;,'. ranya, 'gudang-gudang Bulog,' fasilitas transportasl, pasar tradisr.ona( '{p~sar'ta.oa'h.; Ab~hi,' ::~. Jatinegara, dansebagainya),sentra produksi (pabrik-pabi'ikdank~wasanindustri 'di Jakaha',} Tangerang, Beka.~i), serta sirnpul ekonomi strategis (Jalan Thamnri,Sudirrilari; dari Ku~ingan). ::';/:~:,'

, . Strategl di atasxertas tak SaIlla dengankenyataan ,dilapangan: Kerusuhan'Yang melaiiCia""~ .

· Jakarta dan sekitarnya pada 13-15 Meiadalah buktinya. Apara(keamamm, sekalipun ditamb~h berfipat kan, nyatailya tak berdaya'menghadapi eskalasi kerusuhan.~aya.ngkanitanggClI12Mei - .' ketika terjadi Peristiwa Trisakti - pasukaf\ yang ada di luar kekuatar) P9lisi ~ebanyak61 SSK (Satuan Setingkat Kompi) atau 6.100personel.Sehari kernudlan, pasul<anbertambahine'njadi)12 SSK, lalu 142 SSK pada 14 Mei; dan 174 SSK pada 15 MeLTambah'anpasukajllni,m~ii~rut~engak~~n Pangkoops Sjafrie Sjainsoeddirik~pad~TGPF, ~idatimgk~~ ~~ri ,~Oraba~~,:S~iel~h.;~~~~·rnfo{a·

bentuan kefjadaPangabtanggal13Mei sore hari. ,.:,,' >""'. ~.:.: .. , ---:',?~

'.':~ . Uilu, mengapa pa~ukan. sebesa(iWtak tamp~k.~at keruslJ.~Clri,;-;,ba~kanse.p~rg:~~n~d~Jljrj?:·~:. Ka~Clmy~,kepagi3 JG~f, .,maQti3~p·angda[!1 JayaJni l11enja,wati,:,rr~i():pa!;Q~~il :~i~~rdi~g jUrT)lflh\ .

· maSsa\iqak l)1emadaLT(!pi, isu'tak ~nllk yang tetah beredariuas adalah, ada yangtakb,e"re$di3lam . ; :koPlrHn:asi .kQrn~n.cio pp~r~Si.yang ~i~nda,lika,n sjeifrJe, cB.ahka~,y§~gJ~l>ih·se~". a,d~ip~§~kan lairi 'yang "mengaduk-~dpkair" sehibgga:nl1!kjn.keruh. ..'. " " ; ',....> ./: ,""", ... ..

. ···fndikasi_ke arah ini;kabarnya, lfiungkapkan MayjEm Hamami Nata kepadaTGPF.fiamanij,~mis-· .

'. alliya, mehany5kan: 'Mengapa hanyii'polisiyang ,disemng fna~a :sa~t'kfhJstih~r17:Paiid5tiiyang: 'dikumpufkan pihak kepolisian;ada 22 markas koinando pOlisi, 2 polsek,serta ~ekitarpos pollsl dan .: . pos polisi pernbantu, yang dirusak dan dibakar maSsa:Anggota polisi juga tak luput da'ri cacian dan .'

· . sera.ngan massa Bahkan, di depah UniversitaS Indo.I:I!~si<lSalemba:m.assaYClng~usuhmem9akllr" , m'obi! polisi. "qariJaPPran Intel k~pi, suasana di sary~suda.~:d!-s~ttingoi~h :Cl.nggpfilr>a~uKan ~i;I1~:." , .ping;'ujarsalahSeorang pejabat Polda J~yakepagatim;YflQg di.ma~Lidpas'u~aif~mp!ngadal.<!h: , " pas~kan ~ilua~. polisi" en~ahcda~i sa.tuali' maha :::)<lnif ::me~tiriya·rri~rh:'kack.'Up:;p()Ji~i'saat:·

" kerli~uha,~<' .;~ " .::'. .>~ ..•.• ", . ..'. .c: :,.::.; ;;.';>;.,,:;,,", .'·";;·:;C, ,::;?: " -:. , . Kona,isi ituniembuat mentalpcifisi melemah; sehingga"mereka ,ditarikkemarkasnyapada-14 ... 'Mei:!Kendati oElgfbi; SatUan P·bl~adilapahgan;ycihgb'e'rjumia~·se~itiir'i3.bb6p~rs(j[t~I',·rna~i~bisa '" jrieringk~sseNtar2.000.perak~ perijarahan dan :~erusaka.n:i In(dilak(jkan,s~}~J.~h,8.~rharrilf!le,n.eJe"'; p~~Pahgkoo~sJaya .Mayjen Sjafrje,lSapQlri (ketl,IffiJtlJ) jenderal,DibY~Wi~ci~o,o,bah~a·n·5_?mj:lai·'. ·pai!~a~.Japi,ijmenta.ra'ltiJ,·menurUUnf()trU,asi inteji1~n;'~~~c(nii,~~~u~n"s~tu~6K~dp.s.~~~a"aJry~,::.·.

·.·ri'ya tidal( inelakiikah pi3;ngejaran;periangl{apan,dah pehiridakanterh~Mppelaki.(keiiis~tian:~j·~:"

... ,: .•. ~.;-~?:{~: '·~~:'~".;f'~ '~0': ,.:~,:\~:':.:{'{, ., '<~:~~i~r :;-:';'~~; .. ': .. ;>: ',; :~f~;'·~);~':;';~'~<:j-'.{::·?~;'i~¥·1~~~0f·~

Tajuk NO. 14. TH. I - 3 SEPTEMBER 1998 15

FOKUS TAJUK

KERUSUHAN MEl

Saksi-saksi kerusuhan Mei perlehan-lahan berhenti puasa bicara. Dugaan yang menunjuk keterlibatan ABRI sebagaiperekayasa kerusuhan pun kian transparan.

ABRI merekayasa kerusuhan Mei? Suara tak sedap ini lama terdengar. Bukan cuma eli Jakarta, tetapi juga eli Medan dan Solo. Berawal dari isu yang dibingkai kecurigaan, kabar ini kian santer terdengar, utamanya setelah-Prabowo di-Iengser-kan dari dinas millter. Bisik-bisik yang menyebut bahwajada tiga korppi khusus - salah satunya Kopassus - sebagai perekayasa kerusuhan, perlahan-lahan, terangkat ke permukaan.

Sebagaimana Tim Relawan dan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), sejak dua pekan lalu Tajuk berusaha menelisik ulang pelbagai fakta, dan mengais informasi yang tereeeer di seputar tragedi yang merenggut ratusan korban jiwa itu. Sederet kesaksian baru berhasil kami peroleh, untuk kemudian dirangkai dengan temuan-temuan penting Tim Relawan dan TGPF sampai awal pekan ini.

KESAKSIAN SEORANG BAPAK.. Anaknya diduga mati terbakar di Mega Mall, Uppo Ka-

rawaci-Tangerang

Bapak ini sedang duduk lesu di sebuah taman di depan Mega Mall, Lippo Karawaci, ketika seorang pria berusia 28-29 menghampiri dan merangkulnya. Pagi itu, 16 Mei 1998, lokasi bekas kebakaran itu eukup ramai, karen a sebentar lagi akan dilakukan evakuasi korban kerusuhan 14 Mei. Tak semua orang bisa mendekat ke lokasi, yang dijaga ketat pasukan berseragam loreng. Praktis, hanya anggota ABRI dan satu-dua kerabat (termasuk bapak ini) yang bisa mendekat.

Si bapak ini menatap tajam lelaki yang menghampirinya. Perawakannya tinggi atletis, berkumis tipis seperti habis cukur, muka bulat, kulit kuning, dan berambut cepak. Ia

memakai kaus berkerah, jins biro, dan sepatu lars. Dia tanya saya, "Kenapa Bapak di sini?" Saya bilang, "Anak saya mungkin ada di dalam, terjebak kerusuhan dan mungkin sudah terbakar dengan kayu. Saya dengar di televisi, anak saya disangka.menjarah,"

Mendengar ueapan bapak ini, lelaki itu mendadak seperti menangis. Matanya, yang sudah sembab, langsung memerah. Lalu dia bilang, "Pak, saya minta tolong, demi Allah saya minta tolong. Saya mau ceritakan suatu rahasia, dan tolong sampaikan kepada wartawan atau siapa, Ini amanah saya kepada Bapak. Kalau tidak diungkap, di akherat kita sarna-sarna masuk neraka"

Bapak ini kaget, kenapa begitu? Dia jawab, "Sebab, perbuatan saya sangat jahat. Semua pembakaran, penjarahan, dan perkosafut kemarin (14 Mei), kami yang melakukan," Belum lagi si bapak bereaksi, lelaki itu membuka dompetnya. Warnanya loreng, dengan simbol baret merah dan pisau. Ia juga menunjukkan kartu identitas. "Tapi, karena mata saya buram, ndak bisa lihat tulisannya. Dia kemudian bilang, dirinya anggota Kopassus,"

Mereka lantas berbicara hingga dua jam lebih, sarnbil menunggu buldoser untuk membantu evakuasi. Belakangan diketahui, tentara ini stres berat, karena anggota keluarganya juga ikut hilang akibat kerusuhan Mei tersebut. Dia mengaku dimusuhi keluarganya, dianggap telah membunuh saudara sendiri. Bahkan, istrinya tak mau lagi bicara

dengannya. "Dia sampai bilang, 'Kalau bunuh diri· itu nggak dosa,saya sudah lakukan'. Saya pen:aya bahwa orang itu jujur. Makanya, saya ingat betul apa saja yang dia katakan," ujar bapak ini kepada Tajuk, Minggu (30/8).

Berikut ini cerita si anggota Kopassus tadi, yang dituturkan ulang oleh bapak malang itu:

Tajuk NO. 14. TH. 1-3 SEPTEMBER 1998 16

Kerusuhan ini sebenarnya sudah lama direncanakan. [adi, dua bulan sebelumnya, pada 1

Maret 1998, ada apel eli kesatuan kami di Kopassus. Sehabis apel, perwira piket mengumumkan bahwa anggota dari regu titik-titik diharuskan ikut ke Kodam Jaya (Ketika ditanya kenapa bilang titik-titik, dijawab: Saya tidak bisa mengatakan regunya. Jangan-jangan, Bapak nanti ditangkap tentara, lalu dipaksa bicara, sehingga saya bisa ditelusuri. Kalau itu teriadi; bisa habis keluarga saya. Dia mau bongkar rahasia ini karena, katanya; dia tidak kuat menanggung beban dosa).

Kami diangkut dengan dua truk, dan langsung menuju aula Kodam. Di sana, sudah ada satu kompi dari Kostrad dan satu kompi lagi dari Kodam Jaya. Acaranya sendiri dimnlai pukullO.OO, untuk mendengarkan briefing dari beberapa perwira tinggi. Di situ, ada Pak Prabowo (saat itu masih danjen Kopassus - Red.), Pangdam Sjafrie Sjamsoeddin, dan beberapa kepala direktorat. Sjafrie bicara duluan.

FOKUS TAJUK

KERUSUHAN MEl

angkut ke Jakarta pakai pesawat, keeuali yang dari Sumatra naik mobil. Kalau ditambah preman-preman se-Iabotabek yang dilibatkan, seluruhnya ada 10.000 orang. Mereka tidak diberi janji, tapi iming-iming. Kalau tugas berhasil, jarahan boleh diambil, Preman itu dikumpulkan di dodiklat (komando pendidikan dan latihan), seminggu sebelum kerusuhan.

Pada 12 Mei, tiga kompi ini kembali dikumpulkan. Mereka ditugasi untuk cari tabu di mana ada mahasiswa yang berdemonstrasi. Tampaknya, Pak Harto sudah memberikan lampu hijau kepada Prabowo, supaya mulai membabat mahasiswa. Tapi, karena susah cari-cari kesalahan, baru di Trisakti rencana bisa dijalankan. Waktu itu, banyak yang pegang HT (handy talky), karena mereka koordinasi ke Kodam. Kornpi-kompi ini

Dia bilang: Saudara-saudara dikumpulkan di sini karena kita akan membentuk tiga kompi pasukan khusus yang tidak terlihat. Kami nanti disuruh pakai baju preman, pa-

kai wig, tapi tetap bawa senjata. Pak Sjafrie memakai jaket mahasiswa. Lalu, mereka pu-

juga mengatakan: Negara sedang dalam ke- ra-pura berkelahi. Setelah terjadi keributan,

adaan genting. Kita diperintahkan oleh Pak regu ini akan membuka jaketnya, dibuang,

Harto untuk melakukan ini-ini, dan untuk lalu mundur dan menghilang.

itu kita bentuk tiga kompi ini. Begitu mereka mundur, tank-tank itulah

Ada dua tugas utama dari kompi-kompi yangakan membabat habis semua mahasis-

ini, Pertama, negara genting, karen a maha- wa. Dengan begitu, mahasiswa bisa dianggap

siswa akan menghaneurkan Orde Barn. Iadi, membikin onar dan makar terhadap negara.

kita harus meredam. Mahasiswa atau siapa Kalau mahasiswa sampai berhasil, jatuh se-

saja yang vokal, dan akan menghancurkan mua ini. Haneur. Makanya, kami harus

Orde Barn, harus diculik. Kedua, kalau kea- membela, agar konstelasi yang ada bisa tetap

daan ini tak bisa Iagi diatasi, mahasiswa akan utuh (Bapak ini mengaku tidak tahu, apa

dibunuh. Kata Sjafrie: Tugas Saudara-sauda- yang dimaksud dengan konstelasi di sini).

ra bukan membunuh, tapi menyusup dan Iadi, kalau betul anak Bapak terbakar di

mengaeaukan. Mega Mall, itu kerjaan regu yang berseragam menunggu berita di Makodam.

Lalu, ada juga reneana memperkosa pe- dinas hiram dan pakai penutup kepala kayak Tugas tiga kompi ini sudah dibagi-bagi.

rempuan Tionghoa (Si bapak bertanya, ke- ninja. Itu bukan regu saya. Tugas regu saya lni pakai motor, ini pakai baju hitam dinas,

napa harus ada perkosaani Dia bilang, ada spesial memimpin orang-orang untuk men- dan itu untuk yang tidak berbentuk. Hari itu

unsur politik di balik itu. Intinya; ini bagian jarah dan membakar (Cerita tentang keber- (12 Mei), kami semua sibuk memantau. Ba-

dari rekayasa untuk menaikkan Prabowo se- adaan pasukan ninja dibenarkan seorang gaimana, apa sudah ada kerusuhan? Belum,

bagai pangab. Dia lalu menyebut-nyebut soal penjarah dan seorang ibu yang kehilangan sedikit lagi. Nah, baru, setelah ada peluang

rencana peringatan Hari Kebangkitan Na- anaknya. Cuma; kata mereka kepada Tajuk, untuk bikin rusuh, regu bermotor berangkat

sional, 20 Mei 1998). ninja itu bersenjata celurit. Bukan senjata api. ke sana (Trisakti). Seluruh motor ditaruh di

Pada 20 Mei, kami dengar bahwa mau Para penjarah juga ban yak yang bukan orang Kodim Jakarta Barat.

ada demonstrasi besar-besaran. Untuk me- situ. "Orangnya hitam keriting, mirip orang Regu ini kemudian menyamar dengan

nyambutnya, sudah direncanakan untuk Indonesia Timur"). pakaian polisi. Senjatanya dilipat, dimasuk-

menyediakan 20 tank. Setiap tank akan diisi Yang dilibatkan dalam operasi ini tidak kan ke dalam jaket, lalu mereka berbaur de-

satu regu tentara yang dikasih peluru 3.000- seluruhnya tentara. Ada 200 orang binaan ngan polisi. Iadi, begitu polisi mulai menem-

. 5.000 biji. Iadi, nanti, ketika mahasiswa jalan dad Timor Timur, 200 orang dari Irian Iaya, bak dengan peluru kosong, mereka ikut me-

L;. menuju Monas, kompi im_' _akan __ m_e_n_yu_su_p __ d_an_2_00_o_ran_g_1_agI_'_d_ar~i,-s_um_a_t_ra_._M_e_r_ek_a_di_._- __ n_e_m_b_ak. __ H_a_b_is_m_e_n_e_m_b_ak_' _m_e_r_ek_a_am_b_il_ Tajuk NO. 14. TH.l- 3 SEPTEMBER 1998

17

MEGA MALL SETElAH KERUSUHAN. ltu kerjaan regu regu yang berseragam dinas pakai penutup kellii1a kayak ninja.

motornya, lalu menghilang (Ketika saya tanya mengapa mahasiswa ditembak, dia bilang, sujmya mahasiswa ngamuk).

Setelah berhasil di Trisakti, besoknya (13 Mei) , 10.000 pasukan itu disiapkan untuk memancing mahasiswa di Terminal Grogol, Sejak pagi, mereka kumpul-kumpul di terminal menunggu mahasiswa. Tapi, reneana ini boeor, karena semua mahasiswa ternyata pakai jaket dan tidak mau gabung.

Mereka terus menunggu sampai jam sebelas malam, tapi mahasiswa tidak juga ber- . gabung. Akhirnya, komandan terpaksa membagi-bagi pasukan. Seribu orang ke Ia-

~, ~'.

karta Utara, seribu ke Glodok, seribu ke Jakarta Timur, dan seribu lagi ke Jakarta SeIatan. Masing-masing rombongan dipimpin satu regu yang tidak berbentuk ini (Sampai pada cerita ini, tentara itu menangis).

Pada 14 Mei itu, sebelum menjarah dan membakar, dilakukan pemerkosaan lebih dulu. Pokoknya, di mana ada cewek Tionghoa, dinaikin. Yang memperkosa bukan tentara, tapi para preman yang didatangkan dari luar daerah. Sehingga, korban yang diperkosa tidak kenal, karena bukan orang situ. Seeara bersamaan, toko-toko mulai dijarah, lalu dibakar, setelah barang ludes diambil (Ten tara itu mengaku menyesali perbuatannya. Dia tahu; perbuatan itu laknat, tapi sebagai ten tara dia tidak berani menolak perintah).

Sore hari, setelah bikin rusuh, ketiga kompi langsung kembali ke Kodam. Sedang-

dilatih oleh Kopassus yang KERUSUHAN DI SOLO. Banyak

ada di sana. Mereka barn dikirim ke Jakarta seminggu sebelum kernsuhan.

" Di Lippo Karawaci, tempat regu saya bertugas, aksi dimulai pukul14.00. Kami teriakteriak, menyuruh orang melempar batu dan menjarah, Lalu, Lippa kita bakar, tapi Mega Mall sengaja dibiarkan dan dijaga regu lain yang berpakaian dinas. Ini disengaja, untuk menjebak. Pukul 18.00, preman-preman yang masuk regu saya ditarik ke Jakarta. Semuanya sepuluh truk. Malamnya, mereka langsung dipulangkan ke daerahnya. Untuk yang ke Timtim dan Irian, mereka berkereta ke Surabaya, barn dari sana dibawa pakai pe-

FOKUS TAJUK

KERUSUHAN MEl

kan, preman - preman ditarik ke baraknya. Di Makodam, setiap kompi dimintai Iaporan. .Berapa orang yang diperkosa, berapa toko yang dijarah, dan lainnya. Dari situ, diketahui jurnlah seluruhnya. [adi, orang yang mati di Jakarta kurang Iebih 5.000 orang, dan ratusan orang diperkosa.: Sebagian korban perkosaan yang masih hidup dibuang ke api.

Seluruh reneana memang dipersiapkan matang. Operasi ini bahkan sudah diberi nama Gerakan 12 Mei Orde Barn, karena tugasnya melindungi Orde Barn, agar jangan han cur. Sejak dua bulan sebelum kernsuhan, orang-orang binaan ini sudah direkrut dan

tabung-tabung gas elpiji di toke-toke. Iumlahnya sekitar 30 biji. Kompi saya masih di si- . tu, tapi sudah nggak ikut tugas. Tugas kami selesai sampai dengan memulangkan preman-prernan itu ..

Setibanya di lokasi, pasukan di empat truk itu langsung menodong kerumunan penonton. Mereka berteriak, "Hayo, tiarap semua ... :' Yang nggak mau tiarap ditembak kakinya. Masyarakat yang nggak tahu langsung tiarap, sedangkan lainnya lari tunggang-langgang. Yang tiarap ada SOD-an orang, sementara sekitar 3.000 lain lari dan menonton dari kejauhan.

Tak lama, orang-orang

orang Tionghoa lali mencari per- yang tiarap ini disuruh

lindungan. berdiri. Lalu, dengan tan-

gan di bela-kang, mereka digiring ke Mega Mall, yang memang belum dibakar. Satpam diperintahkan membuka gembok Rolling door-nya diangkat setengah, lalu SOD-an orang itu disuruh masuk. Begitu semua rnasuk, tretetet ... tet, mereka langsung diberondong tembakan ke arah kaki.

(Kepada Tajuk, Robaini, satpam Mega Mal~ menolak cerita ini. Katanya, seluruh satpam waktu itu tak berseragam, sehingga sufit . dibedakan dengan massa. "Nggak ada juga perintah membuka rolling. door, mana dia tahu kita ini satpam," kata Robaini. Namun, cerita seorang penjarah di Mega Mall itu, yang enggan disebut namanya, membenarkan versi cerita sang oknum Kopassus tadi. Misalnya, ada tembakan serta ada sejumlah korban

sawat.

. Setelah preman-preman pulang ke Jakarta, ada empat truk lain yang menggantikan. Dua truk di antaranya lebih dulu merampok

Tajuk NO. 14, TH. 1·3 SEPTEMBER 1998 18

yang mati terkena sabetan senjata tajam).

Setelah tembakan berhenti, tabung-tabung elpiji itu diturunkan, ditaruh di dalam, dan diledakkan. Begitu api mulai berkobar, pintuditutup dan digembok lagi. Lalu,oleh pasukan berseragam hitam, selongsong peluru dikurnpulkan dan disapu bersih. Sehabis itu, mereka naik truk dan menghilang.

Secara keseluruhan, tugas ketiga kompi memang cuma sarnpai di situ. Setelah melapor ke Makodam, kompi-kompi ini dike~balikan ke kesatuan masing-masing, dan menganggap bahwa tak pernah terjadi apa-apa. Tapi, semua yang bertugas - Kostrad, Kopas-

F 0 K U 5

T A J U K

hand phone saya yang kena. Saya sudah lama menjadi ibu peduli yang bergerak sendiri. Soalnya, saya menampung banyak orang Tionghoa di rumah. Sampai-sampai, ada yang menelepon, "Iangan sok jadi pahlawan," Suaranya kasar dan berat.

Tentang kerusuhan, saya sudah mendengar sebelum 12 Mei dari internet Bank of Tokyo. Pada 13 Mei, saya keluar rumah dan ikut melayat mahasiswa Trisakti. Dari sana, saya keluar pukuI 10.00, waktu ada orangorang yang disemprot gas air mata oleh petugas. Saya berusaha tenang dan pergi ke Iatinegara. Ketika pulang, saya Iewat JIn. Daan

KERUSUHAN MEl

suhan di Medan dan kota-kota di sekitar, yang cenderung seragam. Modus diawali dengan kedatangan sekelompok pria bermotor ke tempat-tempat tertentu. Mereka memberi tahu warga, akan ada pembagian sembako.

Setelah warga berkumpul, datang sekelompok pemuda lain yang berperawakan tegap, memakai rompi hitam, bertopi, atau berikat kepala. Mereka berteriak-teriak, menyeru warga untuk melempari rumah dan toko. Celakanya, sudah laporannya tak ditanggapi, Alamsyah - bersama lima kawan lain - justru menjadi sasaran penculikan. Beruntung, mereka dilindungi seorang to-

sus, maupun Kodam - tetap diawasi, "Saya ke sini juga setelah menyelinap lewat dapur"

Pembicaraan terhenti setelah buldoser datang. Tapi, bapak ini tak langsung menyampaikan amanat si tentara. Takut. Ia curna kirim surat kaleng ke Amien Rais, memberi tahu agar tidak membawa mahasiswa ke Monas pada 20 MeL Bapak itu khawatir, rencana tentara menghabisi mahasiswa jadi dilaksanakan. "Sura t itu saya kirim ke Muhammadiyah. Nggak tahu, nyampe atau tidak ke tangan Pak Amien,"

KESAKSIAN AlAMSYAH HAMOAN~ koordinator Dewan Pengurus Wahana Infonnasi Masyarakat (WIMj, Medan

Ketika kerusuhan Medan, lembaganya berulang kali mem beri laporan kepada petugas keamanan, tetapi tak ditanggapi serius. Laporan itu berkisar tentang modus keru-

.. ~~ '.

:.=-- "'-~.:'

' -. '-'--?;.~'~-':

;~;,~,.::~,~~~

.. ' ...•

koh masyarakat. 'Iapi, KERUSUHAN DI MEDAN. Beru-

Syamsul Hilal, kawan lang kali memberi laporan kepa-

Alamsyah, bisa dijernput da petugas keamanan, tetapi tak

paksa dan diinterogasi ditanggapi serlus,

hingga tujuh jam.

Syamsul diinterogasi di markas Kodim 020l/BS, ditanya seputar keterlibatannya dalam kerusuhan. Saat itulah Syamsul melihat sendiri, ada sembilan tentara khusus - sepertinya tergolong sniper - yang berasal dari satuan Kopassus. Selama bertugas di Medan, oknurn Kopassus itu diketahui menginap di kompleks perumahan Bumi Asri.

Mogot, dan melihat truk dengan beberapa orang tentara berkaus oblong.

Baru lima menit di

rumah, Ramayana dibakar.

Banyak orang Tionghoa Iari ke rurriah saya. Memang sih, banyak ternan saya yang Tionghoa, Ada yang namanya Cong (nama disamarkan - Red.), pengusaha di Iawa Tengah. Setelah kerusuhan, Cong datang ke rumah. Dia bilang, pada 13 Mei malam, ia ditelepon temannya dari Kopassus. Katanya, besok (14 Mei) Cong jangan keluar rumah, karena akan ada kerusuhan, dan tidak ada Kopassus yang membantu. Kenapa Cong diberi tabu? "Sebab, saya yang membelikan mereka obat gedheg (ekstasi). Obat ini biasa mereka pakai untukmelakukan sesuatu yang nggak disadari," katanya. £.

KESAKSIAN SEORANG IBU 01 JAKARTA. la keturunan Arab-Malaysia, -dan bersuami

orang Jepang

Saya nggak tahu, saya pribumi atau bukan. Yang jelas, saya hampir lari dari Indonesia, karena hampir kena. Untungnya, cuma

Tajuk NO. 14, TH. I- 3 SEPTEMBER 1998 19

Tim Tajuk

-- --_ .. _-----

Wawancara

Ki Gendeng Pamungkas

API kerusuhan 13-15 Mei lalu sudah lama padam. Tapi, tragedi nasional itu masih menyisakan kabut misteri - yang tak juga kunjung sirna. Utamanya, menyangkut satu soal sentral, yakni: siapa aktor dan provokator yang mengatur dan mengompori kejadian tersebut, Sejauh ini, aparat keamanan baru bisa menangkap para "figuran" - mereka yang diciduk saat melakukan penjarahan dan perusakan. Sebagian di antaranya sudah dilepas, karena tidak cukup bukti untuk diproses. Sebagian lainnya dikenai Tipiring (Tindak Pidana Ringan).

Tapi, siapa sang provokatori Belum jelas benar. Yang terdengar sejauh ini hanya desasdesus yang belum bisa·Aibuktikan ~~benarannya. Misalnya, ada isu keterlibatan organisasi dan kelompok tertentu. Seperti, Pemuda Pancasila (PP); perguruan silat Satria Muda Indonesia (SMI); dan Satria Nusantara, yang acap dihubungkan dengan rnantan Pangkostrad Letjen (purn.) Prabowo Subianto - yang baru saja diberhentikan dari dinas millter. Namun, nama Jenderal (purn.) Benny Moerdani (mantan menhankamlpangab), yang dikenal sebagai jawaranya dunia intelijen, juga sempat disebut -sebut.

Pihak keamanan sendiri sudah menyidik sejumlah tokoh yang diduga berlaku sebagai provokator lapangan. Di antaranya, Anton Medan. Mantan preman ini, menurut aparat keamanan, terlihat "mengompori" massa di dekat rumah Liem Sioe Liong di bilangan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Namun, belum lagi jelas bagaimana kelanjutan pemeriksaan atas Anton Medan, kini muncul tokoh lain yang talc kalah beken. ltulah Ki Gendeng Pamungkas, yang disebut-sebut terlihat ikut mengompori massa di depan swalayan Robinson, di Pasar Minggu, Jakarta SeIatan - yang kemudian hancur terbakar.

Sosok paranormal beken kelahiran Surabaya 14 Oktober 1947 ini terekam dalam tayangan sebuah video yang beredar di sebagian kalangan masyarakat. Dalam video itu, Ki Gendeng - atau orang yang disebut-sebut sebagai Ki Gendeng - mengenakan kemeja kotak-kotak, bercelana

gelap. Sekali ia tampak mengangkat tangannya, lalu berteriak, "Hoi.J" Tak jelas, apakah ia meIarang massa, atau justru mengomando mereka. Karena, arah kamera video kemudian beralih ke momen lain.

Pihak kepolisian, kabarnya, akan meneliti hal ini.Selain itu, gerak-gerik Ki Gendeng yang kurang simpatik terhadap warga keturunan Tionghoa kini juga menjadi sorotan. Hal ini sempat ditanyakan TGPF kepada aparat kepolisian yang hadir mendampingi mantan Kapolda Mayjen Hamami Nata hari Jumat (28 Agustus) lalu. Intinya, kok ada orang yang terang-terangan menyebarkan kebencian anti Tionghoa, di tengah upaya pemerintah menghilangkan sentimen rasial di negeri ini. Kabarnya, pihak kepolisian akan melakukan penyidikan terhadap paranormal yang pernah berjanji akan menyantet Soeharto itu.

Ketika semua tudingan tersebut dimintakan konfirmasi kepadanya, Ki Gendeng Pamungkas tegas-tegas membantah. Berikut wawancara Tajuk dengan Ki Gendeng, Rabu (26 Agustus) lalu:

Kabarnya, Anda ikut menggerakkan massa di depan Robinson Pasar Minggu saat kerusuhan 13-15 Mei laIu?

Tidak benar. Ketika itu, saya sedang di Australia, menyaksikan kerusuhan itu dari jarak jauh, melalui teknologi yang orang lain tidak akan tahu.

Kapan Anda pergi ke Australia?

Tanggal 12 Mei, dan pulang tanggal 17 MeL

Tapi, ada rekaman video yang menampakkan Anda di pertokoan itu ...

Biar saja orang bilang begitu. Toh, bisa saja muka orang itu rnirip saya, lantas orang tersebut dianggapnya Ki Gendeng Pamungkas. Ada juga orang yang mengatakan, waktu kerusuhan saya ada di Salemba. Padahal, ketika itu saya sedang menyaksikan kerusuhan tersebut di Australia.

Anda tahu dong, kerusuhan itu akan terjadi?

Oh, iya, wong kerusuhan itu ramalannya dari saya.

Anda ikut menggerakkan mereka? Tidak, mereka bergerak secara alami, dan alamlah yang menggerakkan mereka. Karena, mereka (rakyat) sudah muak dengan kesenjangan, ditambah dengan krismon.

Kenapa Anda mendirikan Posko Anti Tionghoa?

Karena saya tidak suka pada mereka, yang telah bikin negara kita susah. Setelah toko- toko mereka dibakar, mereka lari ke luar negeri, dengan menyebarkan berita-berita pemerkosaan, yang nyata-nyata tidak ada. Ketika mendengar ada isu kerusuhan 17 Agustus lalu, mereka rame-rame kabur ke luar negeri.

Berita pemerkosaan itu ada karena LSM maupun beberapa yayasan perempuan dibiayai oleh oknum tertentu untuk menyebarkan isu itu.

Tajuk NO. 14. TH. I - 3 SEPTEMBER 1998 20

GENDENG PAMUNGKAS DI DEPAN POSKO DAN REKAMAN VIDEO nu SAAT KERUSUHAN. Akan ada kerusuhan yang lebih akbar.

Saya mau meluruskan berita-berita pemerkosaan yang disebarkan para relawan. Itu bohong. Selama kerusuhan 13-14 Mei lalu, tidak terjadi pemerkosaan wanita etnis Cina oleh orang-orang pribumi. Kalau memang ada, mengapa mereka tidak mengadu ke polisi. Mengapa mereka harus mengadu ke LBH atau ke yayasan perempuan? Sakit mana penderitaan mereka dibandingkan tragedi Aceh, Tanjung Priok, dan sebagainya? Mereka yang lad ke luar negeri malah diminta oleh pemerintah untuk pulang. Untuk apa? Supaya perekonomian bangkit lagi? Mengapa harus oleh mereka?

Sejak kapan posko ini berdiri?

Posko ini berdiri sejak tahun 1988. Yang sudah mengirimkan pengaduan lewat faksimile sebanyak 98 buah, sedangkan lewat surat 116 buah. Ini datang dad berbagai daerah, kecuali Irian Jaya dan Timtirn. Ada juga di antara mereka yang datang langsung, tapi jurnlahnya tidak begitu banyak. Soalnya mereka berasumsi, kalau datang langsung mesti bayar mahal. Padahal, yang bayar hanya mereka yang melakukan konsultasi. Kalau pengaduan, tidak sepeser pun dipungut bayaran. Malah, mereka yang datang dari luar kota, pulangnya saya beri uang sekitar Rp 25.000 sebagai pengganti transpor.

Yang mengadu itu siapa saja?

Kebanyakan pembantu rumah tangga dan karyawan. Pendidikan mereka rata-rata dari SD sampai SMU, tetapi ada juga yang pernah kuliah.

Apa saja yang mereka adukan? Macam-macam. Kalau pembantu, kebanyakan karena disiksa. disuruh makan rnakanan bekas, Sedangkan karyawan, biasanya karena dijanjikan gaji besar setelah tiga bulan bekerja, tapi nyatanya banyak yang mendapat perlakuarr diskriminatif. Ada juga sekretaris yang dijadikan istri sirnpanan, yang diperlakukan secara sewenang-wenang.

Apa pengaduan itu ditindaklanjuti? Oh, tentu. Saya datangi majikan mereka, saya beri dia pelajaran. Tapi, saya selalu dihalangi atau diperingatkan oleh organisasi pemuda yang paling terkenal di Indonesia ini, Saya selalu bilang sama mereka, "Kalau kalian menghalang-halangi saya, berarti kalian siap berhadapan dengan rakyat."

Anda tidak risih mendirikan posko semacam itu? Kan, banyak juga warga keturunan yang nasionalismenya tinggi?

Nggak, kenapa harus risih, Di mobil saya pun, saya tempel stiker Posko Komite Anti Cina Berjalan. Kalan bicara nasionalisme, saya I angkat topi sarna Kwik Kian Gie, Arief Budiman, atau Christianto Wibisono. Artinya, saya anti Cina kepada Cina yang sudah

Tajuk NO. 14. TH. 1·3 SEPTEMBER 1998

membuat hancur bangsa ini, Iadi, tidak digebyah uyah.

Kabarnya, Anda punya ramalan mutakhir tentang situasi saat ini?

Ya, setelab tanggal 20 September, akan ada lagi kerusuhan yang lebih akbar dari kerusuhan 13-14 Mei lalu.

Ah, yang benar. Indikasinya apai Kesenjangan sosiaI yang semakin tinggi, harga sembako yang sulit dijangkau lagi oleh golongan masyarakat kecil, hilangnya sembako di beberapa daerah, semakin banyaknya orang miskin dan lapar, dan sebagainya. Dalam hal ini, saya bekerja dengan tim saya untuk meramu, meracik, dan memodifikasikan infor-· masi dari kIien saya yang kebanyakan elite ABRI, pejabat, maupun kIien saya di luar negeri. Dari informasi orang-orang yang

berpengaruh di negeri ini, saya dapat meramalkan, setelah tanggal22 September mendatang akan terjadi kerusuhan yang lebih besar,

Siapa saja klien Anda?

Tidak boleh dong, itu kan rabasia. Kerusuhan itu digerakkan siapa?

Tidak ada. ltu spontanitas saja; karena rakyat sudah lapar, sudah tersiksa, dan sudah tertekan. Setiap orang yang tertekan sewaktu-waktu akan berontak. Dan.kerusuhan akbar kali ini akan ditunggangi oleh kalangan elite.

Elite yang mana?

Para purnawirawan dan AERI yang masib aktif. Mereka yang purnawirawan ini

I adalah yang belum lama ini mendirikan partai. Mereka adalah pembuai, padabal sebelumnya mereka dibesarkan di AERI. Tapi, begitu tidak kebagian kursi, mereka berusaha menumbangkan kepemirnpinan Habibie. Sedangkan AERI yang masih aktif, asumsinya karena mereka gontok-gontokan, Kalau Pangab pernah mengatakan bahwa AERI tidak terpecah belah, itu hanya untuk menenangkan keadaan. Saya melihat, di AD tidak solid, sehingga nyaris kepolisian yang jadi korban, Padahal, seharusnya purnawirawan maupun AERI yang masih aktif bersatu untuk membantu Habibie, A

Instansi di luar Kopassus turut terlibat penculikan aktivis.

TapiJ bagaimana nasib aktivis lain yang masih hllang?

SAID Alkatiri tak lagi bisa menghitung: sudah berapa banyak "orang pintar" dan kiai yang ia datangi. Semua menyatakan, f\naknya, Noval Said, masih hidup. Bersarna keluarga korban penculikan lain, Said pun sudah mendatangi beberapa instansi ABRI.Tetapi, hingga kini, anaknya belum juga jelas nasibnya. Tak satu pihak pun bisa memastikan, di mana Noval berada. "Sekarang kami nggak mampu berbuat apa-apa, selain pasrah kepada Allah:' tuturnya, saat ditemui Tajuk dua pekan lalu .

. "Dia masih hidup atau mati pun, kami tak tahu," tutur Said, lirih. Noval adalah satu di .antara sembilan orang yang masih dinyatakan hilang. Ia raib Kamis 29 Mei 1997, sesaat setelah pencoblosan pemilu usai. Hari itu, Dedy Hamdun bersama Noval dan sopirnya, Ismail, mengantar istri Dedy, Eva Arnaz, check up di RS Bunda, Menteng, [akarta Pusat. Namun, ternyata ketiganya tak pernah sampai ke RS Bunda. Mereka lenyap tak tentu rimbanya. Sejak itu, keluarganya terus mencari. Hingga, sampailah mereka mendatangi Markas Kodam Iaya.

Apes. Bukan kabar baik yang mereka terima. Malah, aku salah seorangkeluarga Hamdun, mereka justru diperiksa seorang perwira Kodam Jaya. Ditanya macammacam. Bahkan, Pangdam -ketika itu - Mayjen TNI Sutiyoso melarang mereka mencari-cari Hamdun. "Kalau mau tahu, dia sedang kita bina 'di dalam" kenang seorang keluarga Hamdun, menirukan Sutiyoso, Bisa jadi, penangkapan itu berkait dengan aktivitas Harndun sebagai pendukung PPP sepan-

jang putaran kampanye Pemilu 1997. Maklum, kampanye PPP berhasil menyita perhatian berkat massa Mega-Bintang,

Tampaknya, Kodam Jaya berada di lini depan dalam aksi "menghilangkan" Hamdun cs. Sebab, setelah diperiksa Kodarn, barulah Hamdun cs dijebloskan di sel Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur. Ini diketahui, karena Hamdun cs sempat bertemu Yanni Afri dan Sonny, yang juga korban penculikan.

Kisah Yanni dan Sonny hampir serupa dengan Hamdun. Dua aktivis DPC PDI Jakarta Utara pendukung Megawati itu - yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir angkot - diculik orang tak dikenaI pada 26 Mei 1997. "Saat Yanni narik angkot, ada orang datang ke rumah mengaku bernama

Sonny. Malam hingga esok harinya, Yanni tak pulang," kisah ibunya. Menurut beberapa orang yang ditemui, Sonny dibawa ke Kodim Jakarta Utara. "Akhirnya, saya datangi Kodim. Kami dapat keterangan, 'Yanni cuma semalarn di sini. Karena tidak terbukti bersalah, dia langsung kita bebaskan," kenang ibunya. Si petugas sampai-sarnpai menunjukkan tanda tangan Yanni, di buku tahanan Kodim, bahwa dia sudah dibebaskan.

Tetapi, ibunya justru heran. Kalau Yanni benar dibebaskan, kenapa belum juga pulang. Rupanya, menurut sebuah sumber di Kodim, begitu keluar dari Kodim, 27 Mei 1997, Yanni dan Sonny langsung diciduk empat orang berbadan tegap yang rnengendarai hardtop. Yanni sempat berontak, sehingga terjadi tarik-rnenarik dengan pencu-

Tajuk NO. 14. TH. I· 3 SEPTEMBER 1998 22

Ada satu lagi korban penculikan pada masa itu. Dialah Muhammad Yusuf, yang diculik di rumahnya, [ln. Raden Saleh, Jakarta Pusat, pada 7 Mei 1997. Saat penculikan itu terjadi, pemegang tongkat komando pangdam Iaya adalah Mayjen TNI Sutiyoso. Karena itu, "Mestinya Sutiyoso ikut diperiksa dalam kasus ini," tutur Munir, S.H., koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Dugaan bahwa Sutiyoso terlibat memang berembus kencang. Sebagai pangdam, Bang Yos setidaknya mengetahui aksi itu. Apalagi, dia sendiri yang mengaku membina Hamdun cs.

Sayangnya, Sutiyoso seperti enggan di. mintai .. konfirmasi. Selepas memberi kete. rangan di depan TGPF, beberapa waktu lalu, Sutiyoso hanya memelototkan matanya, saat ditanya kasus penculikan itu. Ia terdiam sesaat, lantas ngeloyor ke toilet. Alhasil, kejelasan enam orang hilang itu masih gelap.

Waktu terus bergulir. Media September 1997, jabatan pangdarn beralih ke Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin, yang sebelumnya adalah kasdam Jaya. Semasa Sjafrie inilah, penculikan digenjot. Diawali penculikan terhadap aktivis Aldera Pius Lustrilanang dan Di-

KELUARGA KORBAN DI PUSPOM ABRI: Mereka lebih peduli nasib anggota kelaarga yang sangat dikasihinya.

KANTOR KODIM JAKARTA T1MUR [kananl: Sebelum disekap, Mugianto sempat dibawa ke kantor Kodim Jakarta limur. Contoh aksi BKO Kodam-Kopassus?

1ik. Melihat insiden itu, salah seorang anggota Kodim sempat membantu Yanni. Namun, begitu penculik membisikkan sesuatu, petugas Kodim itu berbalik memaksa Yanni ikut penculik.

Menurut sumber Tajuk, dari Kodim Jakarta Utara Yanni langsung dibawa ke Kodam [aya. Sebentar saja keduanya di sana, dan langsung dikirim ke sel Kopassus.

Tajuk NO. 14. TH. I· 3 SEPTEMBER 1998 23

rektur LBH Nusantara Desmond J. Mahesa pada 4 Februari 1998. Lalu Suyat, aktivis SMID yang diculik di Solo, yang sampai saat ini belum diketahui siapa yang menciduknya. Mahasiswa Universitas Slamet Riyadi ini diduga terkait dalam ledakan born di Rusun Tanah Tinggi, Iakpus, medio [anuari 1998.

Sumber Tajuk menyebutkan: pada 1 Maret 1998, Sjafrie menggelar ape! di Kodam Jaya. Dalam apel itu, ia bersama Prabowo dikabarkan membentuk tiga kompi pasukan khusus, yang tak terlihat dan tak berbentuk. Dalam briefing-nya, menu rut keterangan sumber Tajuk tersebut, salah satu

. tugas utama pasukan itu menculik mahasis- . wa atau tokoh vokal. Sayangnya, Sjafrie dan Prabowo sulit ditemui untuk konfirmasi.

Salah satu aksi pasukan tanpa bentuk itu adalah menculik Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan, Haryanto Taslam, tanggal8 Maret 1998. Empat hari kemudian, giliran tiga aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), organisasi onderbow PRD, yang baru saja memproklamirkan berdirinya Komite Nasional Pro Demokrasi (KNPD) di YLBHI, Iln, Diponegoro: Rahardjo Waluyo Djati (mahasiswa Fakultas

Sastra UGM), Faisol Reza (mahasiswa Filsafat UGM), dan Hermawan. Hendrawan (rnahasiswa Fisip Unair) - diculik di depan RSCM, Jakarta.

Hari berikutnya, tiga aktivis SMID lainnya, Aan Rusdiyanto, Nezar Patria, dan Mugiyanto, mengalami nasib serupa. Mereka diculik di Rusun Klender, Jakarta Timur, 13 Maret 1998. Ada kisah tersendiri dalam aksi penculikan yang terakhir itu. Mugiyanto sempat jadi "rebutan" antara Koramil Duren Sawit dan penculik. Hingga, Mugiyanto harus dibawa lebih dulu ke Kodim Jakarta Timur, dengan pengawalan empat personeI Pomdam Iaya, sebelum akhirnya diciduk si penculik.

FOKUS TAJUK

KERUSUHAN MEl

bat dalam penculikan itu, yakni Polda Lampung dan Korem Garuda Hitam. "Dua instansi itu berlagak bloon terhadap tindak penculikan itu. Padahal, mereka tahu" jelas Munir. Bahkan, yang menculik Andi Arief bukan murni tim Kopassus. Tapi, dibantu seorang kapten dari Detasemen Intel dam. "Makanya, Andi Arief diajak mampir dulu di Kramat VII, sebelum dijebloskan di Cijantung;' tutur sumber Tajuk (lihat: Taben. Sementara, yang menyerahkan Andi Arief ke Mabes Polri adalah seorang kolonel beserta seorang pirnpinan dari intel di Mabes ABRL

Rangkaian paket pencuIikan ditutup dengan "pengambilan" Birno Petrus, aktivis PRD, pada 31 Maret. Dan semua itu tersing-

,,'

MEREKA MASIH HILANG: Ayah kap, setelah satu per satu

Noval hanya bisa mengatakan, korban yang dibebaskan memberikan kesaksian. Gongnya terjadi tanggal 14 Iuli, saat Panglima ABRI

menyebut, Kopassus terlibat penculikan aktivis, Tiga hari kernudian, mantan Danjen Kopassus Prabowo langsung menyatakan bertanggung jawab.

Berikutnya, Pangab membentuk Tim Pencari Fakta ABRI yang dipimpin Komandan Puspom ABRI Mayjen Sjamsu Djalal. Pada saat yang sama, desakan untuk menyeret Prabowo begitu kuat. Maka, dibentuklah Dewan Kehormatan Militer (DKP) pada tangga13 Agustus. Dewan, yang

Yang menarik, sesudah penculikan di Rusun Klender itu, Sjafrie menyatakan: pihaknya teIah menemukan bukti-bukti donatur PRD, dari bukti-bukti yang didapat setelah pihaknya menangkap tiga aktivis PRD di Rusun Klender. "Itu

"Sekarang kami nggak mampu berbuat apa-apa, Selain pasrah kepada Allah."

berdasarkan dokumen yang ditemukan. Iadi, saya banyak tahu dari mereka sendiri," kata Sjafrie (18/3). Dengan pernyataan itu, sepertinya Sjafrie mengakui, Kodam ikut menculik aktivis itu dari Rusun Klender.

Begitu pun dalam aksi penculikan terhadar Ketua SMID Andi Arief 28 Maret 1998. Setidaknya, ada dua instansi yang terli-

Tajuk NO. 14. TH. 1 - 3 SEPTEMBER 1998 24

dipirnpin KSAD Ienderal TNl Subagyo H.S., kemudian memeriksa Letjen TNI Prabowo, Danjen Kopassus Mayjen TN! Muchdi P.R., dan Komandan Grup N (Sandi Yudha) Kol. Inf. Chairawan.

Alhasil, 24 Agustus, Prabowo pun dicopot dari dinas kemiliteran. Sedang, Muchdi dan Chairawan menerima sanksi "dibebaskan dari jabatan struktural" alias di-nonjob-kan. Tetapi, persoalan jauh dari tuntas. Sebab Kontras mengklaim, masih ada 14 korban peneulikan yang hingga kini belurn dibebaskan, Sedang Prabowo mengaku hanya menculik sembilan aktivis, yang kini sudahdibebaskan. Di mana sisanya? Ini masalahnya.

Tak satu instansi militer pun yang bisa memberi kepastian nasib mereka. Masih disekap penculik, telah tewas, atau sedang menjalani pembinaan di dalam. Tetapi, seperti menepis segala dugaan yang ada, Pius Lustrilanang langsung mengajukan dugaan, Hamdun cs serta Yanni Afri dan Sonny kemungkinan besar telah tewas. Alasannya, Hamdun cs sempat menghuni sel yang sama dengannya, dan dibebaskan lebih dulu. Mereka sempat bertemu dengan Yanni dan Sonny, yang juga sudah dibebaskan beberapa hari setelah Pius disekap di seL Sedang, M. Yusuf tidak jelas dibawa ke mana.

Tidak ada yang membantah kesaksian Pius. 'Ietapi, tak ada pula yang membenarkan. Sementara, keluarga korban sudah cukup lama terombang-ambing dalam ketidakpastian. Di mata keluarga, betapapun beratnya sanksi terhadap Prabowo cs tak terlampau penting, ketimbang nasib anggota keluarganya. "Kalau memang sudah mati, tunjukkan kepada kami, di mana kuburnya," tutur Said Alkatiri, ayah Noval,

Nasib Birno Petrus, Suyat, dan Herman Hendrawan? Menurut catatan Kontras, aktivis yang telah dibebaskan penculik adalah mereka yang sempat bertemu Andi Arief di dalam sel, Sehingga, mau tidak mau hams dibebaskan. Tetapi, dugaan itu pun menimbulkan pertanyaan. Bukankah Herman Hendrawan dan Petrus juga sempat berteinu dengan korban lainnya? Sementara, Suyat memang tak sempat bertemu. "Tapi, keterangarmya sempat di-cross check dengan Aan dan Nezar; selama mereka diperiksa," tegas Munir.

Sejatinya, untuk ABRI tidaklah sulit mengungkap nasib orang-orang hilang itu. Mereka tinggal merunut siapa yang mengambil

FOKUS TAJUK

KERUSUHAN MEl

PERKIRAAN PENCULIKAN 01 LUAR KOPASSUS

C'

PERIODE PANGDAM lAVA MAYJEN TNI SUTlYOSO 31-3-1996 sid 20-9-1997

KODAM JAVA

KODIM JAKARTA UTARA

8 MAREr1998 HARYANTO TASLAM (POI PERJUANGAN) OICUUK OJ KAWASAN TMII

12 MAREr 1998 FEfSOlREZA RAHARDJO WAlUYOlATI (AKTIVIS PRO) OICUUK 01 OEPAN RSCM

-~-----

12 MARET 1998 '

• ..::" .... \ ·.:.\~IZt:..'\\.l\ ,

(AKTIVIS PRO) :

OICULIK OJ OEPAN RSCM I

13 MAREr 1998

AAN RUSDIANTO NEZAR PATRIA (AKTIVIS PRO) OICUUK 01 RUMAH SUSUN KlENDER

6 AGUSTUS 1997 HENDRIK SIRAIT (KASUS 27 JULI)

OICUUK 01 JLN. GAJAHMAOA KOTA

28 MAREr 1998 ANDIARIEF (AKTIVIS PRO) OICUUK OJ LAMPUNG

KETERANGAN; D Mereka yang Sudali Dilepas

iii Mereka yang Masih Hilang CATATAN: Suyat, aktivis PRD, hingga kini takjelas dlambll slapa, Dia lenyap setelah pergi dan rurnah orang tuanya di Solo.

dan ditahan di mana. "Kalau mau tahu siapa peneuliknya, lihat saja background aktivitas korban. Dari situ, akan diketahui siapa yang rnenculik," tutur seorang perwira militer kepada Tajuk.

Apalagi Bimo dan Herman, yang sempat bertemu korban lainnya. Apa mungkin Bimo dan Herman sudah tewas? Mudahmudahan mereka dilindungi Tuhan. Bukankah, kalau diukur dari ketokohan, keduanya masih kalah jauh ketimbang Andi Arief atau Nezar. Untuk apa dihabisi?

Merunut sejumlah sumber Tajuk di kalangan militer, kemungkinan, ketiga aktivis itu masih menjalani pembinaan di dalam. Wallahu a'lam. Sumber itu menambahkan, paket peneulikan Mei 1997 dan Maret 1998· itu -diketahui dengan persis oleh Sutiyoso dan Sjafrie. "Sekarang tergantung pimpinan ABRI saja, mau mengusut tuntas kasus ini

3 FEBRUARI1998 PIUS lUSfRILANANG (ALOERA/MEGA) DESMON 1. MAHESA (LBH NUSANTARA) OICUUK 01 OEPAN RSCM

KODIM JAKARTA TIMUR

atau tidakr" ujarnya. Dengan kata lain, diduga, yang berperan dominan dalam aksiaksi peneulikan itu adalah Kodam Iaya (dalam hal ini Den Intel Kodam, Kramat VII) dan Satuan Intelijen Kopassus.

Pada saat hampir bersamaan, Juli 1996 silam, rupanya Intel Kodam V/Brawijaya menculik. 12 aktivis PRD dari pelbagai perguruan tinggi eli J atim. Mereka adalah Triana Damayanti (Unair), Nia Damayan (Unair) , M. Rizal (UMM), ZainalAbidin (UWK), Rouf (nap Surabaya), Ganjar Krisdayan (Unair), T. Yohannes Marpaung (UWK), David Kris (Unair), Wmuranto Adhi alias Wiwin (Malang), Budi Hari Wibowo (UWK), dan Ketua Sanggar Soerobojo Brewok.

Sepanjang diinterogasi, mereka diintimidasi, Mulai dari disuruh.rnakan katak hidup, . sampai telentang di .. aspal di siang belong, Mereka dibebaskan setelah 'dipaksa rnenan-

OIKAWAl 4PERSONEl POMOAMJAYA

KORAMIL DUREN SAWIT

Taj\.lk NO.·14, TH. I ·3 SEPTEMBER 1998 25

DIAMBll KOPASSUS

13 MAREr 1997 MUGIANTO (AKTlVlS PRO) OICUlIK 01 RUMAH SUSUN KlENDER

datangani surat di atas meterai 2000: bahwa mereka tak bakal buka mulut pada siapa pun. Anehnja, Pangdam V/Brawijaya yang baru Mayjen 1NI Djoko Subroto rnembantah semua kesaksian 12 aktivis itu.

Aksi kejam ini dipungkasi dengan penculikan terhadap Yadin Muhidin, Hendra Hambali, Ucok M. Siahaan, dan Abdun Naser, S.E. Menurut catatan Kontras, mereka terakhir terlihat tanggal 14 Mei lalu, saat kerusuhan meledak di Jakarta. "Penculikan itu, patut diduga, berkait dengan rekayasa kerusuhan di Jakarta, yang menurut Komnas HAM melibatkan anggota ABRI;' tutur Munir, Jelasnya, korban menyaksikan sesuatu yang harus ditutupi, sehingga dieulik (lihat:

Saksi-Saksi setelah 100 Han). Alhasil, hingga kini, kasus. inirnasih teresa menggantung, . rnasih dalam bayang-bayang kegelapan, i..

Tim Tajuk

--

FOKUS TAJUK

OPERAS INTEL

Penculikan aktivis o/eh aparat bukan soa/ baru. Bahkan, tahun 1978, ratusan aktivis "dicomof tanpa surat penahanan. Kini, mereka saling bersilaturahmi.

KEDUA orang itu bertemu begitu saja. Suatu hari, sebelum salat Jumat dimulai, di pelataran masjid tua Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta

Pusat. Yang satu lelaki sepuh, lainnya lelaki separo baya. Keduanya bertahun-tahun tak bertemu, sementara ada sepenggal masa dalarrlrsejarah hidup keduanya yang tak bisa dipisahkan. Y:ng sepuh adalah penculik, sedangkan pria dewasa itu tak lain adalah korbannya.

Keduanya Jantas saling berhormat dan berbagi senyum, "Saya sudah tak mengurusi duniawi," seloroh lelaki berusia 67 tahun itu, seraya mengangkat kedua belah tangannya. Yang muda membalas ramah, "Apa kabar, Pak."

Pria sepuh itu, Letjen TNI (purn.) Eddy Marjuki Nalapraya, mantan kasdam Iaya dan wakiJ gubernur DKI Jakarta. Sedangkan, pemuda tersebut mantan aktivis mahasiswa'78, Ezrasyah,47. Sejak itulah, silaturahmi terjalin. Malahan, meluas. "Kawanan" penculik dan para korbannya menjalin tali keke1uargaan. Selain Eddy, ada mantan Waasintel Kodam Jaya tahun 1978, Brigjen TNI (pum.) Agus Muhyidin, dan mantan pemeriksa Kolonel TNI (purn.) Kemas Saud. Sementara, aktivis mahasiswa 78 itu - di antaranya - Ezrasyah, H. Achmadi Noor Supit, M.B.A, dan Musfihin Dahlan. Mereka kerap bertemu di suatu tempat sekadar kongko atau berdiskusi.

Uniknya, salah seorang aparat yang dulunya langganan menciduk, sekarang, bekerja di sebuah perusahaan milik salah seorang korbannya. "Kita enggak pemah dendam. Tak ada benci. Semua kita anggap risiko politik gerakan mahasiswa," kata Ezra. "Itungitung, nostalgia kawanan penculik dan kor-

. bannya," timpal Noor, tertawa lebar.

Yang ada memang nostalgia. Kurun waktu

pun bergulir ke masa belasan tahun lalu: 1977 dan 1978. Suhu politik meninggi saat itu, Maklum, menjelang pemilu dan SU MPR RI - apalagi riga tahun sebelumnya - konsteIasi politik elite nasional sempat korsleit: meletus Malari tahun 1974. Konsentrasi gerakan mahasiswa pun seputar pemilu. Sejak April 1977, mahasiswa beraksi setelah melihatkecu- . rangan-kecurangan Orba dalam pemilu. Kam- ... - panye direkayasa, partai politik _dikerdilJ<~, dan masyarakat pendukung parpol diteror; '" ..

Mulailah mahasiswa mengeluarkan statement-statement, di tengah situasi represif rezim Orba. Banyak instansi keamanan diintruksikan menggilas setiap aksi mahasiswa. Ada Operasi Khusus (Opsus)-nya Ali Moertopo; Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dengan panglima Laksamana Sudomo. Operasi Intel Strategis Angkatan Darat (Intelstrad) dan kepolisian pun digerakkan.

Menjelang hari-H Pernilu 1977, mahasiswa melihat, kecurangan makin menjadijadi. Mereka pun membuat deklarasi Dewan Senat Mahasiswa (Dema), di ITB, 28 Oktober 1977. Inilah kali pertama mahasiswa kembali turun ke jalan setelah Malari. Mahasiswa menuntut Sidang Istimewa MPR. Mereka minta agar Presiden Soeharto turun dan diadili.

Agar efektif, mereka berencana menggelar Ikrar, 21 [anuari 1998. Bahaya. Maka, tuturNoor,sejaktanggal18,19,20,hingga21 Ianuari, aparat melakukan aksi penculikan. Hampir 80% ketua Dema ditangkap. Bahkan, aktivis ormas, seperti kelompok Cipayung, pun ditangkapi. Operasinya rapi, sampai masyarakat tak tahu. Apalagi, di saat bersamaan, lima media - antara lain Kompas, Sinar Harapan; dan Majalah Mingguan Tempo - dibredel.

Hanya dalam waktu tiga hari (18-21 [anuari 1978),ratusan aktivis digaruk bawahan Eddy Nalapraya (kala itu asintel Kodam

Iaya). Mereka disekap di Markas Batalyon 202, Tajimalela, Bekasi. Ditempatkan di ru.mah-rumah besar (para perwira) yang sudah disekat-sekat. Termasuk di antaranya Noor, Musfihin, dan Ezra.

Musfihin diculik, tanggal2I Ianuari 1978, di subuh buta pukul 03.00. Mahasiswa Sekolah Tinggi Publisistik (STP) Jakarta, angkatan 1976, ini diambil selepas pulang rapat dari VI. Musfihin, yang kini menjabat wakiJ pemimpin umum sebuah penerbitan Ibu Kota, sangat terkejut, ketika tiba di muka rumahnya, di Ciputat, sudah menanti dua buah kendaraan Toyota Hartop, dan belasan orang berpakaian preman, bersenjata lengkap. "Saya kaget" kenang Musfihin, salah seorang pendiri LSM Skephi.

Tajuk NO. 13. TH. 1- 20 AGUSTUS 1998

FOKUS TAJUK

OPERASI INTEL

,

I

Ia pun dilarikan pencu- DEMO MAHASISWA TAHUN (1977-1978) Sekolah Tinggi

IiI<. AwaInya, dia tenang. Ta- 1918. Banyak instansi ksa- Teknologi Jakarta, Noor Su-

pi, begitu mobil meluncur di manan diinstruksikan menggi- pit, diseret beberapa pria ke

jalan tikus dan berputar-pu- las setiap aksi mahasiswa. sebuah mobil pick up, saat

tar, sementara di kanan-kiri berada di karnpus. Esoknya,

jalan kebun singkong, ia rnulai gentar. "Mere- tiba-tiba ada orang menggedor-gedor dinding

ka pasti akan membunuh saya," pikir Musfi- ruangan Noor, sambil berteriak, adakah orang

hin. Nyalinya makin menciut tatkala mobil itu di sebelah. "Saya menyahut. Kita mulai berko-

rnemasuki sebuah tangsi militer. Di situ, berje- munikasi. Dia Achrnad Bagja (kini sekjen PB-

jer panser dan para serdadu bersenjata leng- NU);'kataSupit. "Akhirnya, ternan-ternan sa-

kap. Serasa memaskui sebuah lokasi pemban - ling menggedor dinding"

taian. Untung tidak. Itu Markas Batalyon 202. Sebulan penuh mereka diisolir. Bulan ke-

Saat bersarnaan, Ezra dan Noor pun di- dua, mereka dipertemukan. Barulah diketa-

culik orang-orang berciri serupa. Ezra, yang hui, sekitar 150 aktivis disekap di situ. Berhari-

pernah kuliah di IKIP dan Akademi Hubung- hari mereka cuma ditanya pertanyaan yang

an Internasional, Jakarta, diciduk di kedia- sarna: Siapa aktor intelektual gerakan? "Mere-

mannya. Sedangkan, mantan Ketua Dema kaenggakpercayakalaugerakankitaspontan.

Taiuk NO 13 TH 1_ 20 AGIIST!!S 199B

Aparat yakin, ada aktor intelektualnya," kata Musfihin.

Setelah tiga bulan disekap, mereka dibebaskan. Cuma 12 orang, yang dianggap pentolan aktivis, dipindah ke tahanan Guntur, Polisi Militer Kodam (Pomdarn) Iaya, Terrnasuk Musfihin dan Noor. Di sana, mereka berternu - antara lain - Arief Rachman (kini kepala sekolah SMA Labschool IKIP Jakarta), Prof. Ismail Sunny, penyair Rendra, Agus Basyah (kasus pembornan Ancol), Toto Tasmara (ketua Pernuda Masjid), dan Bung Torno. Mereka ditahan tanpa surat penahanan. Arief Rachman (kala itu purek III IKIP Jakarta), dituduh rnendukung gerakan mahasiswa; Sunny, berceramah di depan mahasiswa; Rendra, baca puisi di tengah aksi mahasiswa,

Penanganan aktivis 78, kata Agus Muhyi.din (waasintel Kodam Jaya kala itu), berjalan mulus. Buktinya, "Hubungan kekeluargaan kita baik, Bram Zakir (aktivis 78) kalau ulang tahun rnasih mengundang saya,' ujarnya. Tapi, diakuinya, untuk mempermudah kerja, mereka dipanggil ke Kodam. "Cuma ngomong-ngomong, diskusi. Alhamdulillah, enggak ada korban. Enggak tahu instansi lain."

Namun, banyak juga aktivis bernasib malang. Mereka diculik Opsus atau Intelstrad. Sarnpai berbulan-bulan, tutur Musfihin, mereka tak tabu keberadaannya. "Mata ditutup, digebuki, dicukil bagian anggota badannya, atau disetrum," kata Musfihin. Mereka yang terlibat kasus komando jihad pasti paham. Ada yang dimasukkan ke sebuah sel bawah tanah, yang basah penuh air. Di dalamnya, terdapat seekor ular piton. "Sebulan lebih dia mendekarn di sana. Dia trauma, lantas tinggal di luar negeri, dan enggak pernah kembali ke

. -))

smi,

(Noor dan Musfihin bam dibebaskan bulan Oktober 1978. Artinya, mereka disekap selama sembilan bulan. Penyelesaian tragedi penculikan aktivis 78 ini, sebagian dilakukan melalui proses peradilan. 'Iapi; umumnya penyelesaiannya tak jelas. Cuma lima orang yang diputus pengadilan: Lukman Hakim, ketua Dema UI; Ibrahim Zakir, uu Yorumeser, U1; Hudari Amin, IKlP Jakarta; serta Haryono, IAIN) ...

Dad; R. SumaabnadjaIRachmat Yunianlo

Aksi kekerasan operasi militer di Aceh dipandang sebagal cermin struktur kekuasaan Orde 8aru. Ini bukan kasuistis, bukan salah prosedur, tapi terorganlsir dan terpola.

Siapa saja terlibat?

ENjfAH apa yang terlintas di bena( Tjoet Nja' Dien, andai ia masih hidup, manakala mendengar rakyat Aceh "dihabisi" tentara negerinya sendiri, Bisa jadi, ia akan memimpin perjuangan "pasukan janda" yang - pada 1992 saja - jumlahnya sudah mencapai 134 ribu (22,5 ribu cerai mati dan masih usia produktif), atau 3,39% dari total 3,4 juta penduduk Propinsi DI Aceh. 'Iapi, menilik heroisme Tjoet Nja' Dien saat memimpin laskarnya melawan kompeni, tak mustahil ia mengomando sekalian seluruh rakyat Aceh untuk mencabut rencong - perang sabil melawan pasukan "elite" ABRI.

llustrasi yang (kalau terjadi) sangat potensial mengancarn integrasi bangsa itu, sedihnya, telanjur terkondisi menyusul terbongkarnya serangkaian pelanggaran HAM ABRI di Aceh. Seperti diberitakan, sedikitnya selama sembilan tahun (1989-1998), sebuah . operasi militer yang digelar di Tanah Rencong diketahui telah memangsa begitu banyak korban manusia. Dengan misi "khusus" menumpas gerombolan pengaeau keamanan (GPK), prajurit TNI itu sukses menyulap Aceh layaknya ladang pembantaian.

Belum ada angka pasti berapa jurnlah korban pembantaian massal ini, Yang pasti, dad hari ke hari - terlebih seteJah status Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh dicabut per 7 Agustus 1998 -korban-korban sema-

FOKUS TAJUK

OPERAS INTEL

kin panjang terdata. Hingga Kamis (13/8), Forum Peduli CFP) HAM Aceh telah menerima laporan 722 kasus (pernbunuhan, penyiksaan, perkosaan), dengan 225 orang dipastikan tewas, Sedangkan, Forum LSM Aceh mendata korban tewas sebanyak 88 orang dan 59 kasus orang hilang. Angka ini belum termasuk korban perkosaan dan tindak kekerasan lain.

Data juga datang dari DPRD Tingkat II Pidie, yang meneatat 597 kasus orang hilang. Lalu, LBH Iskandarmuda Lhokseumawe, membukukan data 292 kasus orang hilang. Sementara, LBH Banda Aceh mencatat 208 kasus (152 di antaranya orang hilang), dengan satu paparan khusus perihal tindak kekerasan ABRI terhadap perempuan (lihat:

TabeQ. Sampai menjelang 17 Agustus, total jenderaI sudah 2.000-an kasus yang terdata dan dijamin tidak overlappingsatu sarna lain.

Data di atas diduga akan bertambah panjang. Maklum, warga Aceh umumnya masih takut-takut melapor, lantaran pencabutan status DOM baru diikuti penarikan pasukan pada 21 Agustus pekan ini. Belum lagi, seperti dilaporkan Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), praktik penculikan dan kekerasan masih terjadi di Aeeh hingga Mei 1998. Iadi, praktis baru setelah Soeharto lengser, kejahatan kemanusiaan tersebut berakhir. "Korban tewas juga mungkin bertambah, karena ada informasi tentang sembilan lokasi kuburan massal. Tapi, ini masih perlu kita buktikan," kata Abdul Gani Nurdin, pelaksana harian ketua FP HAM Aceh.

Apa pun hasil pembuktian nanti, geger Aceh kali ini dipastikan bakal berumur panjang. Sarna panjangnya dengan cerita seputar Operasi Iaring Merah (OJM) yang digelar Pangdam I1Bukit Barisan (waktu itu) Mayjen TNI H.R. Prarnono, sejak 1990. Kita tahu, operasi militer ini digelar berdasarkan klaim: meningkatnya kerusuhan dan tindakan brutal GPK Kala itu, aparat mencatat sedikitnya 42 kasus pembakaran oIeh GPK yang telah memangsa masyarakat dan fasilitas sipil. OJM digelar di tiga sentra GPK: Ka-

bupaten Aeeh Utara, Aceh Timur, dan Pidie.

Dari penjelasan aparat, stigma GPK' tampaknya diberikan kepada simpatisan dan orang-orang tua bekas anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) - sebuah gerakan menuntut kemerdekaan Aeeh yang dipimpin Hasan Tiro, Desember 1976. Belakangan, mereka bergabung dengan kelompok kriminal, yang pada akhir 1980-an membeking ladang dan perdagangan ganja. Konon, operasi genear polisi menumpas ladang ganja di Aceh membuat kelompok ini kehilangan sumber rezeki.

Seolah menghadapi musuh berkekuatan besar dan bersenjata modern (banyak pengikut Hasan Tiro yang, katanya, berlatih militer di Libya), OJM pun digelar besar-besaran. Sejumlah pasukan didatangkan. Mulai dari Batalyon Infanteri (Yonif) 125 dan 126, yang berpangkalan di Sumatra Utara, hingga Kopassus - yang notabene sudah ditempatkan di Aeeh sejak awaI1980-an. "Saat saya danrern, Kopassus sudah mas uk, namun jurnlahnya masih kecil. Pelanggaran HAM

Tajuk NO. 13, TH. I· 20 AGUSTUS 1998

FOKUS TAJUK

OPERAS IN·TEL

OPERASI MILlTER KOPASSUS DI ACEH. TKlak bisa mentolerir perbedaan sekecil apa pun, dan selalu berorientasi pada kekerasan.

pasti ada, tapi tidak seheboh sekarang," ujar H.T. Djohan, mantan danrem Oll/Lilawangsa (1981-1982).

Operasi militer besar-besaran memang baru terjadi pada periode 1990-1991. Itulah masa ketika menhankam dijabat Ienderal L.B. Moerdani, panglima ABRI Jenderal Try Sutrisno, pangdam Bukit Barisan Mayjen H.R. Pramono, serta danrem Lilawangsa Kolone1 Syarwan Hamid. "Saya tidak tahu apakah instruksi (pembantaian) itu datang dari Panglima Tinggi AERI (Soeharto). Kalau dia yang kasih perintah, wah, itu lebih kejam dari Piraun," cetus Ghazali Abbas Adan, anggota Tim Pencari Fakta (TPF) DPR RI, yang asli Pidie.

Cerita kekejian AERI selama periode itu sudah banyak diungkap. Yang pasti, lazirnnyu penerapan konsep DOM, pelaksanaan OJM pun terdiri atas empat jenis operasi:

"Saya tidak tahu apakah instruksi (pembantaian) itu datang dari Pangtima Tinggi ABRI (Soeharto). Kalau dia yang kasih perintah, wah, itu lebih kejam dari Firaun."

teritorial, intelijen, tempur, dan kamtibmas .. "Untuk membina para GPK, se1uruh operasi itu dijalankan. Tapi, yang menjadi operasi pokok saat ini adalah kegiatan inteliien," jelas H.R. Pramono, ketika itu. "Setelah berhasil, baru kami terapkan operasi teritorial (opster), yakni membina masyarakat agar kondisi sosiallebih baik."

Repotnya, antara teori dan praktik amat bertolak belakang. Apa yang disebut operasi intelijen tak terwujud sebatas merazia KTP atau memilah-rnilah warga yang GPK dan rakyat biasa. "Operasi millter itu membabi buta," simpul Prof. Ibrahim Alfian, guru besar UGM yang asal Aceh. "Mereka sembarangan menudub orang sebagai GPK. Segala eara dihalalkan, termasuk membunub dan merekayasa sesuatu untuk membenarkan tindakannya. Ibaratnya, mereka membunub lalat dengan meriam," timpal Ghazali Abbas.

Tidak cuma itu. Pangdam H.R. Pramono sendiri mengaku tak sungkan melibatkan masyarakat untuk ikut memerangi GPK. "Masyarakat saya suruh:Pokoknya,kalau ketemu GPK, bunuh saja, enggak perIu diusut, Iangan sampai rakyat yang jadi korban. Masyarakat juga saya suruh bawa senjata tajam. Mau parang, mau apa, kalau ketemu GPK bunub saja," ujar Pramono (Tempo, 17 November 1990). Pangdam berdalih, itulah cara menumbuhkan keberanian masyarakat untuk membela diri.

Waktu berlalu, pejabat militer dirotasi, tapi operasi militer tetap dipertahankan. Itu berarti, perang melawan "GPK" -yangjumIahnya tak lebih dari 200 orang - terus berlangsung. Millter sepertinya tak perlu pusing memahami duduk soal mengapa GPK (serta GAM) sampai muncul di Aceh. Mereka pun seakan tak peduli aspirasi rakyat

Aceh, menyangkut kebijakan pembangunan yang tak mencerminkan keadilan. Bagi mereka, GAM dan GPK identik dengan gerakan bermotif ideologis dan separatis yang harus ditumpas.

Banyak analisis untuk membaca mengapa hal itu terjadi. H.T. Djohan, yang kini ketua DPRD I Aceh, melihat, kasus (pembantaian) ini akibat lepas kontroI pimpinan. "Kalau petunjuk dan pengarahan sudah jelas, mungkin pengawasannya yang kurang efektif" katanya. Ghazali Abbas, yang aktivis PPp, tak setuju. Merujuk laporan yang ia terima, apa yang terjadi di Aceh adalah sistem pembantaian. "Bukan kasuistis, bukan kesalaban prosedur, tapi terorganisir dan terpola. Iadi, bukan salah oknum, tapi menyang- . kut institusi militer," simpulnya.

Mayjen (purn.) Samsudin, anggota Komnas HAM, membenarkan. Menurutnya, pelanggaran HAM di Aceh terjadi akibat pendekatan rezim Orde Baru yang tak bisa mentolerir perbedaan sekecil apa pun, dan se1alu berorientasi

Tajuk NO. 13, TH. 1- 20 AGUSTUS 1998 19

pada kekerasan. "Kekerasan telah me1ekat pada struktur kekuasaan Orde Baru," tegas Samsudin. Alhasil, pendekatan keamanan yang berlebihan menyebabkan terjadinya penggunaan kekuasaan yang berlebihan pula (excessive power). "Doktrin operasi keamanan dalam negeri, yang mestinya mendahulukan opster dan kamtibmas, kenyataannya malah mengedepankan operasi tempur," lanjut Samsudin.

Analisis lain menyebutkan, penerapan status DOM buat Aceh sebenarnya juga dibingkai kepentingan politik praktis khas Orde Baru. Konen, kebijakan pembangunan yang tak menguntungkan Aceh terjadi, lebih karena Golkar tak pernah menang dalam pernilu di Aceh, .Baru pada 1987, Ibrahim Hasan tampil sebagai gubernur Aceh perta-

FOKUS TAJUK

OPERAS INTEL

rna yang mampu memenangkan Golkar. Dan, benar, sejak itu dana APBN mulai mengucur deras ke Aceh. Konsekuensinya, Ibrahim rnesti mernperbanyak kekuatan militer untuk "mengamankan pembangunan" di wilayahnya.

Untuk apa pun militer datang, pelanggaran HAM·lah yang nyatanya lebih kentara terjadi. Karenanya, upaya memperbaiki hubungan Aceh dan pusat (Jakarta) - seperti pernah susah payah dilakukan untuk membujuk tokoh Darul Islam Teungku Daud Beureuh kembali ke pangkuan republik - dinilai tak cukup dengan hanya minta maaf

dan mencabut status DOM. "Ekses pemberlakuan DQM telah rnelahirkan benih kebencian rakyat pada ABRI;' cetus Munir, ketua Kontras.

Karena itu, katanya, hal terpenting pasca-pencabutan DQM adalah pertanggungjawaban secara politik, sosial, dan hukum. Sisi politik rnenyangkut dihapusnya pembatasan hak rakyatAceh. Sisi sosial berkaitan dengan pemberian santunan kepada keluarga korban, Dan, dari sisi hukum, para pelaku - yang beberapa sudah teridentifikasi narna dan kesatuannya - harus diadill. Bukan secara persona nongrata, melainkan dari su-

Tapi, ornong-omong, apa kornentar H.R. Pramono setelah operasinya di Aceh dulu dibongkar? "Iangan ... jangan, jangan tanya saya. Tanya Pangab, tanya Pak Wrranto saja," sahutnya ketika dicegat Tajuk, Jumat (14/8). Bukankah tuduhan itu dialamatkan pada Anda? "Enggak benar itu ... enggak benar" Pramono, yang kini sudah menjadi sipil dan menjabat irjen Deperindag, lalu buru-buru masuk dan menutup pintu mobilnya.]leb! ...

Nanang JunaediiSulton Mullt, Tatik S. Halldz Uakarlal, dan Mukhtarudin Yakub (Banda Acehl

Tajuk NO. 13, TH. 1- 20 AGUSTUS 1998 20

Wakil kelima faksi di Timtim minta, ABHI menarik diri dari Timtim dalam tempo satu setengah tahun.

"BISAKAH tentara di Timor Timur tampil lebih lernbut," Kalimat itu meluncur dari mulut Xanana Gusmao ketika suatu waktu ketemu Mayjen Theo Syafei, mantan pangkolakops dan pangdam Udayana. Kalau Xanana sajayang pernah memimpin pasukan Fretilin melawan ABRI di hutan Timtim - masih bilang begitu, apalagi rakyat biasa. Mereka umumnya trauma dengan tentara. Bukan cuma karena j umlahnya yang banyak, tapi juga karena sepak terjangnya. "Rakyat Timtim sebenarnya tak ada masalah dengan Indonesia. Yang mereka benci adalah ten tara:' kata Mario Vegas Carrascalao, mantan gubernur Timtini.

Tapi, rakyat yang mana? Pertanyaan ini selalu muncul setiap kali terjadi gesekan antara kelompok pro maupun anti integrasi. Sealnya, setiap kelompok selalu mengk-

laim, dialah yang terbesar. Kelompok pro integrasi tetap mengacu pada Deklarasi Balibo tahun 1975, karen a didukung oleh rakyat dari keempat partai (ketika itu): Apodeti, UDT, Kota, dan Trabalhista. Satu-satunya yang menolak adalah Fretilin. Kelompok ini tetap menggalang perlawanan terhadap pemerintah Indonesia, sampai sekarang.

Dan, tampaknya, kelompok Fretilin akhir-akhir ini seperti berada di atas angin. Soalnya, keempat faksi lainnya yang kecewa terhadap pemerintah Indonesia, dan juga ABRI, mulai menarik diri, Ini bisa dilihat dalam Comunicado (Komunike) yang diteken wakil kelima partai (lama) di Timtim, 11 Agustus lalu, Mereka adalah Leandro Isaac (wakil

FOKUS TAJUK

OPERAS INTEL

KATAXANANK

ketua Dewan Politik Agung UDT), Frederico Almeida Santos da Costa (ketua eksekutif Apodeti), David Dias Ximenes (wakil Fretilin), Leao Pedro Dos Reis Amaral (ketua Kota), dan Paulo Freitas da Silva (ketua Trabalhista),

Komunike yang ditulis dalam bahasa Portugis ini merupakan reaksi terhadap persetujuan pihak Portugal terhadap usul Indonesia untuk memberikan otonomi kepada Timtim. Wakil kelima faksi tadi menolak otonorni itu, dan menuntut diadakannya referendum. Untuk itu, mereka mengusulkan serangkaian langkah. Di antaranya, membebaskan Xanana Gusmao dan semua tapol dari Timtim. Mereka juga meminta kehadiran komisaris tinggi PBB di wilayah itu dengan

wewenang mulai

• c -~ .' •

. '

dari pengendalian terhadap penarikan pasukan, penghapusan praktik-praktik operasi fisik, sampai pada penyerahan kekuasaan dad pemerintahan transisi kepada pemerintahan definitif yang dibentuk rakyat Timtim sendiri.

Usulan lainnya menyangkut keberadaan ABRI. Mereka meminta agar menghentikan dengan segera tekanan-tekanan yang dilakukan ten tara terhadap penduduk sipil. Menghentikan operasi militer, menarik kembali senjata yang telah diberikan kepada orang Timtim yang telah dilatih sebagai militer, polisi, hansip, dan Gadapaksi, serta membubarkan organisasi tersebut. Gencatan senjata antara ABRI dan Falintil serta menempatkan Falintil di temp at yang netral, membentuk suatu organisasi polisi yang anggotanya dari ABRI dengan tim bersenjata Portugal dan CNRT, dan penarikan total pasukan AERI dari wilayah Timtim. Pelaksanaan penarikan ini, menurut mereka, harus rampung paling

telat dalam waktu satu setengah tahun.

Tentu, tidak pada tempatnya bila noda dijatuhkan pada ABRI semata. Apa yang terjadi di Timtim, sebesar apa pun sisi baik dan negatifnya, tak lepas dari kebi-

jakan besar pemerintah Indonesia.

Sayangnya, setiap kali muncul ketidakpuasan terhadap penerapan kebijakan itu - dan acapkali bersinggungan dengan masalah keamanan - mau tidak mau berhadapan dengan ABRI. Akibatnya, korban pun jatuh. ABRI lalu dituding sebagai biang keladi segalanya.

Tragedi Santa Cruz, yang terjadi pada 12 November 1991, adalah contoh tentang hal ini. Inilah tragedi

F 0 K U 5

T A J U K

OPERAS

I N TEL

yang menjatuhkan banyak korban, dad pihak bongkar bersama, tidak ada apa-apa," kata

sipil maupun militer. Dad pihak sipil, menu- Theo.

rut laporan Komisi Penyelidik Nasional Masih banyak kasus lain yang, apa boleh

(KPN) ketika itu, korban meninggal sebanyak buat, mencoreng citra ABRl di sana. Di Desa 50 orang, dan 91 orang Iuka-luka, Angka ini Klerek Mutin, Viqueque, ada yang dikenal jauh lebih besar ketimbang versi militerdengan Kampung Janda. Suami mereka disersetempat, yang menyebut, 19 orang mening- bu tentara karena dituduh Fretilin. Tak lama gal. KPN menyimpulkan, ini terjadi karena tindakan sejumlah aparat keamanan yang melebihi batas kepatutan. Akibat dari peristiwa itu, ABRI menindak 19 anggotanya. Termasuk Pangdam Udayana dan Pangkolakops ketika itu: Mayjen Sintong Panjaitan dan Brigjen Rudolf Samuel Warouw.

Meski berbagai kalangan menerima versi itu, tak sampai mematikan sasus soal jumlah korban sebenarnya tragedi itu. Menurut Mario Carrascalao, ada sekitar 400 orang sampai sekarang yang dinyatakan hilang setelah Peristiwa Santa Cruz. Yang mati, menurut perkiraannya, sekitar 200 orang. Mario memang gubernur. Timtim saat peristiwa itu. "Saya melihat, ada satu truk di depan Santa Cruz yang berisi tumpukanjmanusia," ~'l.tanya kepada Tajuk. Kabarnya; mereka ~ikUbillkari . : mengganggu sec~ra massal di suatu tempat di TibanHera, -r . :merintahan. Tasitolu, dan Ainaro.

Selebihnya; -meimrut Mario, ada.' yang .. . Kasus seperti ini tampaknya susah dihin .: . masuk hutan dan bergabung dengan Fretilin. dari, sebab Timtim masih termasuk Daerah Ada yang disembunyikan para pendatang-· - Operasi Militer (DOM). Suatu tempat disebut

yang bekerja di Timtim saat dikejar petugas. DOM,menurutTheoSyafei,bilaadarakyatdi

Ada pula yang dibawa petugas ke Jakarta dan situ yang mengobarkan ideologi lain dan

kabarnya dirawat di rumah sakit ten tara. Bah - mengganggu jalannya pemerintahan. Cuma,

kan, baru-baru ini, menurut Mario, ada em- yang penting dicacat, bila daerah di Indonesia

pat pemuda Timtim yang ketemu dengannya ini dinyatakan sebagai DOM, mestinya antara

di Jakarta. Mereka mengaku korban Santa daerah operasi tempur dan operasi teritorial

Cruz, yang dibawa petugas ke Jakarta selepas satu berbanding dua. Artinya, satu daerah

insiden berdarah itu. Di Jakarta, mereka dija- operasi militer diimbangi dua daerah operasi

ga, tanpa kekurangan apa pun. Seorang di an- teritorial. Di Timtim, kata Theo, operasi po-

taranya sudah bergelar SH (Sarjana Hukum). koknya adalah teritorial, operasi tempur si-

"Mereka minta pertimbangan saya, sudah fatnya hanya mendukung. lni juga berlaku di

saatnyakah sekarang pulang ke Timtim, Saya dua DOM lainnya: Aceh dan Irian Iaya,

bilang, '[angan dulu, karena tidak ada jamin- Namun, lain teori lain pula praktik di la-

an dengan keselamatan kalian," tutur Mario. pangan. Ini, rnisalnya, terjadi di Timtim. Apa-

Cerita anggota DPA ini tentu tak mudah lagi, aparat di sana agak susah menandai ma-

diterima, setidaknya oleh pihak pemerintah - na lawan dan mana kawan. Lebih-Iebih, sete-

utamanya pihak militer. Sayang, Warouw, lah jaringan klandestin Fretilin begitu kuat.

pangkolakops Timtim saat tragedi, tak mau ltulah makanya, sejak integrasi tahun 1976,

berkomentar. "Itu sudah berlalu," katanya tentara di Timtim tak pernah kempis. Saat

pendek, sambil berlalu, Tapi, Theo Syafei, Tragedi Santa Cruz tahun 1991, rnisalnya, di

pengganti Warouw, menepiskan anggapan sana ada 12 batalyon - termasuk dua batalyon

soal jumlah korban yang melebihi versi peme- organik Korem Dili, 1mbangannya, enam

rintah. Soalnya, sasus itu pernah dibuktikan- batalyon tempur dan enam batalyon teritori-

nya sendiri di lapangan bersama masyarakat. al. Belakangan, menurut pihak militer, seba-

"Saya mendengar isu itu, dan mereka menye- gian besar sudah merupakan batalyon terito-

but tempat kuburannya. Tapi, setelah kita rial. Sayangnya, tak ada data valid berapa se-

setelah peristiwa itu terjadi, Mario Carrascalao ke sana. Melihat gubernurnya datang, para janda itu memeluk kakinya. "Pak, tolong kembalikan suami kami," mereka meratap. Insiden lain yang mendapat sorotan luas adalah Peristiwa Liquisa, awal tahun 1995. Di sana, enam warga yang dicap Fretilin didor aparat. Meski begitu, pimpinan ABRl menindak dua perwira, karena dinilai menyalahi prosedur operasi.

Suatu tempat disebut DOM, . menu rut Theo Syafei, bila ada rakyat di situ yang mengobarkan ideologi lain dan jalannya pe-

Tajuk NO. 13. TH. 1- 20 AGUSTUS 1998 ·22

benarnya kekuatan militer di sana. Sumber Tajuk menuturkan, sampai [anuari 1998 ada sekitar 25 ribu personel tentara di Timtim.

Barangkali, sudah galibnya bila di daerah operasi ditemui begitu banyak satuan inteli-

jen. Begitu pun di sana. Pernah terjadi, di Angkatan Darat saja ada intelijen Kolakops, Korem, Kodirn, sampai Koramil. Selain itu,

pernah pula ada Satuan Gabungan Intelijen

yang dikoordinir Satgas 86 Timtim, intelijen

Sektor C, dan intelijen dad setiap batalyon yang bertugas di sana. Ada lagi kelompok informan sipil yang dipakai tentara untuk menyadap info dad pihak Fretilin.

Di masa Warouw, misalnya, ada kelompok Railakang - artinya halilintar. Di antara anggotanya, adalah pemuda bekas Fretilin yang sudah dianggap berpihak kepada integrasi.

- Kelompok lain yang cukupdikenal bernama :~ . Satuan Tugas (Satgas) Elang. Tapi, belakang~' -.~~ an, acapkali mereka mengaku sebagaipetugas intel kepada setiap orang. Tak mengherankari . bila banyak caci maki ke arah mereka, terma- . .: ;.: -. suk dari Gubernur Timtirn (saat .itu) Mario ..;

. __ ._-- .-_.... .'. I

Vegas Carrascalao, Soalnya,...satgas ini hanya·· . ..;:" ~ I

mendatangkan perpecahan di kalangan rak- '~:. ',I yatTimtim.

Selain kadangkurang akurat, detektif swasta ini cenderung over acting. Akibatnya,

- perkelahian terbuka kadang tak terhindarkan.

Satu di antaranya, perkelahian di depan Gereja Motae! pada 28 Oktober 1991, yang menewaskan seorang anggota Kelompok Elang bernama Alfonso, karena dikeroyok pemuda anti integrasi. Di pihak anti integrasi pun, jatub korban, Sebastiao Gomes. Inilah cikal bakal meletusnya tragedi berdarah 12 November 1991 di Santa Cruz. Setelah peristiwa itu, Pangkolakops Theo Syafei membubarkan se-

mua kelompok tersebut.

Toh, sasus soal informan sipil tak pernah surut. Yang cukup tenar akhir-akhir ini adalah Gadapaksi: Garda Depan Penegak Integrasi. Maksudnya baik, untuk menjadi pelopor pemuda di bidang pembangunan.

Mereka diberikan modal untuk bergerak di bidang ekonorni. Tapi, tak jarang, "Gadapaksi berperan sebagai intel yang memberikan masukan kepada pihak militer," kata Mario Carrascalao. Kelompok ini, kabarnya, dibentuk oleh Kopassus di masa Prabowo Subianto. Sepak terjang Prabowo memang cukup berwarna di Timtim, tempat sebagian karier militernya terbentuk (lihat: Sara Pemalt Dicap Klandestin) .....

.~

, .~ I

-··1

c:

SuryansyahlEni Saeni, Imelda Sari K., dan Miftahuddin

FOKUS TAJUK

OPERAS INTEL

- MARIO VEGAS CARRASCAlAO:

Saya. Pernah Dicap Klandestin

Harto memperlihatkan laporan itu kepada . saya. Sejak sa at itu saya berpikir, ada rekayasa pihak tertentu untuk menjatuhkan saya. Terakhir, 27 November 1992, jam 14.00 sore, PakTheo Syafei (ketika itu pangkolakops) menelepon saya, "Mario, kami baru memeriksa xanana Gusmao. MenurutXanana, temyata

- Bagaimana Anda melihat operasi , Pak Mano tidak terlibat Malahan dia bilang,

intelijen ABRI di limtim? 'Sayang sekali dia tidak mau bekerja sama

Operasi inteltien sangatlernah di Timtim. dengan kam i. Dia sengat populer diTimtim,

Ada orang (slpll) yang mereka pakai uhtuk kon- karenanya bagi kami sangat berguna'." Lalu

tak ke hutan-hutan dengan Fretilin. Bila sa ate saya bllang, "Baru sekarang Bapaktahu

nya satuan itu pulang, dan digantikan satuan bahwa saya tak terllbat, Va. Padahal, sudah 10

baru, satuan baru ini bisa menembak mati

tahun saya jadi guoemur'

orang sipil yangtadinya dipakai untuk kontak ke hutan. Satuan yang pulang Kabamya, Soeharto mem~ng menugaskan Prabowo di limtim

itu~tidak-memQeri~an data. Orang (sip11) lain'yangmau,:dapatsimpatiuari..':,. uirtukmemotoiig i<lringanintel Pangab (ketika ito) Benny

ABRI bHang, dia pernah di hutan.ltulahYangterjadi di.Timtim.· Moerdani.

DiTimtim, ada yang namanya SatuanTugas Intelijen (S11). Markas Saya tidak meragukan informasi itu. Saya sendiri pemah dengar Pak

. mereka di Oili menggunakan bekas kantor perusahaan Nusra Bhakti. . Harto bilang bahwa Prabowo ditugaskan untuk menyelesaikan masala h

Tempatitu sangat terkenel diTimtim.OrangSTI tersebar di Kota DilL Anak-yang terjadi di TImtim. "Soalnya, Xanana masih di pihak sa na ," kata Pak

anak yang dlduga Fretilin ditangkap, dibawa ke sana, dandipukulL Paginya . Harto. Untuk itu, Prabowo mendekati Pastor Locatelli di Baucau, agar bisa

dilepas, dengan peri ngatan kalau ngomong nantI disiksa lagi. Kawan saya menghubungkannya dengan Xanana di hutan. Pastor meminta pertimban-

pendiri pro integrasi, anaknya dipukulLBegitu pulang, dia laporsaya.,Saya gan s~ya. Saya bllang, silakan saja. Cuma, Pastor mesti melaporkan hal ini

ambH fotonya. kepada Pangkolakops, agar nantinya tldak dicap sebagsl orangoya

Apa hubungan mereka' dengan pasukan Ylmg disebut ninja itu?·. Xanana. Akhimya, sejak itu, hubungan Pastor kurang baik dengan Prabowo.

. Ninja ltu hanya be_kerja malam harl, Pasukan ninja itu adalah orang =>, Kita memang mendengar saat itu, ada kelompok dalam miHter. Ada

slpll, yang direkrut danorahgTImtim dim Atambua (NlT) yang bisa berba- kelompoknya Pak Benny, misalnya, Pak Warouw, dan Pak Sintong. Ada

hasa Tetun. Saya dengar, pasukan ninja ini membawa orang yang dicungai kelompoknya Prabowo. Saya sendiri pemah bHang pada Pak Warouw agar

klandestin (gerakan bawah tanah Fretilin) ke Nusra Bhakti itu. Saya sendlri hal-hal sepertl ini cukup menjadi persoalari diABRI saja. Jangan sampai

pernah .dicap klandestin oleh ABRI, dan laporannya samoal ke tangan Pak " tersebar di masyarakat, sebab merusak citra

Harto.", ABRI sendiri.

Laporan itu m erupakan hasil pengakuan r~·~·"''''>'''''~~~L ",...,..",,' ~~ :~o,:: - -.' .,,, - . i. Benarkah KopaSsus begilu berperan di

j .. ,"'. r."'·"l'" DI o,,~., DILl r

Victor da Costa kepada K. aSi-1/328, ya' ng:l .,'" T~""" 29"' I '9', . ~'.

berada dl bawah komahdo Prabowo, tanggal. ~t .... ..".., .... ir I".. .ut .. ,. ..... ""'t~·".,.~, n.= _- r

23 Mei 1989. Dj situ Ylctormenyatakan, :.::~:: ,~"... ~.

.beberapa rnahasiswa punya perhatian khusus ~~': ~";~~,"""'~" "Io. ",. ""''':,_ _:.--'

A~,.,l ! ::l~\VlII.M- ----~',.-"

dari Gubernur (Cerrascaleo), "Dengan. . H.·"''''':'~ ,-_.- .~--'

ke_g,iat~nini semua, Say, a anal,i~is, bahwa' '.--_,-~~~_~'-_ " - ";., <",·;~t"

'r:J:Ig.~ ~ j' .. ~~:r ._. .. :lvU ~()"coQ

Gubemuradalah klandestiri." '. ",<»'" '."~' •• ,

... ~~-:.I' get~:,.\...r'.1 ,,'IJ;;~I~~''''~' .... ~ ,.-joCll·;"I'"Vl ~~:

Ketika sayamenghadap d.i Jm.Oendana, ."'''':':~'';;'' c~,,··,· .. · "., b.,_·-"'· :~:<'-.~." ::.::,~, .

Pak HarWbilang;· ~Saya tetap percaya Saudara .,,,, r ... '''':; ::;:''''-~~''<r:"; ;:;" T"""'''' ,.. ...

,'~.. _-"... _" • • J.I:,."i. 9iI~\l"r-:o...:.t'" J,..n b'dl-'I:. 1A"'1.~ ~"~ o:'C"I)".

Carrasealao sebagat gubemur." Sayabilang,~· ,,~ ,~,,,,,,,,- .. ,. ',: ... , ". ;~:;:~, ... """.

''TaPia,d.~ lap, 6, ran" kepada B,ap~k, ~~g, in,e, '.ri,Y~ . ,,", : •. ,~ >;:: ":';:;:~<l"""':~ .,,!,.

• • • ,c', T ',.' , ',' _. • l\l~(I dMl fI"ll'lil- 4,1.-UC';1:.')I" I)

atakan, saya itu.klandestin." "Mema,ngada lapo- ' ... , ", .: ~;::'~:::. "J" 1 >"",,,, ,.,~ ~:. :~',::;':' .

ra~ sepertl iiu.saYasu~ah biiangsafnaBowo'" l' ( ".,.. ."",n '''' "" •• " _""._,.,.....,'

. {Prabowo;Red.),jangai1sainp.arnar~~Si4dar'a.: / .1~, ,'::~~*'~ :~ ~",. _

Carrasca,lao ada daiam ~al~hal sepe~it~.;~:Pa( < ' ~~. , . .,'

,L u', " ,; ~ (_""''-'=':T~::';C~'~~'~~~:''~ ;:,...=~,:.(::!:;~ ,~-~ -.~,:_~>~,::~ .. ::-.'.:::::~~~':~.':>::-~.:=: .. : __ '.~~-~.~<~~-.L .. ::~.:::· .~.::I

Mario Vegas Carrasealao tahu banyaksoe' sepak terjang ABRI di Tlmor Ilmur, Maklum, ia pemah menjadi orangnomorsatu di propinsi termuda lni selama 10tahun (1982-1992). Wartawan Tajuk mewawancarainya pekan lalu.

Petikannya: '

Tajuk NO. 13, TH, I· 20 AGUSTUS 1998 23

sana?

Waktu saya jadi gubernur tahun 1982,

RPKAD (cikal bakal K6passus) itu dihargai rakyat limtim. Saya sampai pemah bllang kepada Pak Ben ny Moerdani (ketlka itu pangab) agar RPKAO ditaruh di Timtim saja. "GiiaItu, lu kira Indonesia hanya limtim saia?" RPKAD dianggap militer

'. yang hebat, tak ada interes. Setelah Jadi

" Kopassus, tahun 1989, namanya merosot di \. Timtirn -. Saya sendiri tidak tahu apa sebabnya. Prabowo sendlrl tlga kali ke Timtim. Mulanya, rakyatmenilainya hebat Yang,

, merusaknya adalah Danrern DiH (ketika

iiu) Kot. Mulyadi. Mau cepat naik pan~at, dia lalu menggarap prabowo. A· - .. '

'i :,

Pelanggaran HAM di Irja terjadi akibat strategl ABRI menghadapi "slsa GPK" Irja. Satuan Kopassus terlibat di dalamnya.

"515A GPK akan kita kejar terus. Kita kejar sampai dapat," Itulah janji Komandan Komando Pasukan Khusus dDankopassus) - waktu itu - Brigjen Prabbwo Subianto. [anji itu diucapkan Prabowo, saat rnenyerahkan anggota Tim Lorentz 95 yang berhasil diselamatkan tim gabungan ABRI di RSPAD Gatot Soebroto, Iumat 17 Mei 1996.

Dua hari sebelumnya, 15 Mei, tim itu berhasil membebaskan sembilan dari sebelas sandera yang sejak 8 Ianuari disekap. Mereka ditangkap gerilyawan Organisasi Papua Merdeka (OPM) - resminya disebut GPK (Gerombolan Pengacau Keamanan) - pimpinan Kelly Kwalik dan Daniel Yudhas Kogoya di Mapenduma, Kabupaten Iayawijaya, Irian [aya, Dua sandera lain - Navy W.T.H. Panekenan dan M. Yosias Lasamahu - tewas di tangan anggota gerombolan. Namun, gembong gerombolan, Kwalik dan Kogoya, lolos dari sergapan.

Inilah aksi terbesar gerilyawan OPM yang menyedot perhatian dunia - selain aksi-aksi sporadis yang sesekali terjadi. Maklurnlah, di antara para sandera itu, terdapat dua ilmuwan Belanda, dan empat mahasiswa Inggris. Meski tak sedahsyat aksi rekanrekan mereka di Timtim dan Aceh, akar gerakan separatisme OPM di Irja juga sama: ketimpangan ekonomi sosial dan politik yang terjadi di propinsi yang kaya sumber daya alam itu. Sampai saat ini pun, pangkal soal belum terpecahkan. Pekan lalu, misalnya, Gubernur Irja Freddy Numberi me-

r-u I\. U::' IAJUI\

OPERAS INTEL

SESUDAH OPE

minta agar pemerintah Presiden Habibie meninjau kembali jumlah kekayaan daerah yang harus disetor ke pusat.

Penanggung jawab operasi gabungan itu adalah Prabowo, dengan komandan lapangan Letkol Chairawan - keduanya kini menjadi terperiksa dalam kasus penculikan para aktivis. Sukses itu meroketkan nama Prabowo, yang tak lama kemudian menyandang dua bintang di pundaknya, setelah Kopassus dimekarkan.

Namun, sukses itu tampaknya harus di-

bayar mahal oleh warga setempat. Karena, seperti dijanjikan Prabowo, pengejaran atas Kwalik dan "sisa-sisa" laskar GPK justru rnakin menghebat setelah operasi pembebasan sandera itu berakhir. Menurut laporan yang disusun oleh tim Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) wilayah Irja daerah Mimika, Gereja Katolik Paroki Tiga Raja Timika, dan Gereja Kristen Injili (GKI) di Irian Klasis Mimika, sejak Desember 1996 sampai Oktober 1997 tercatat 16 warga sipil tewas di tangan oknum ABRI.

KETERANGAN GAMBAR

KEKUATAN

REGU

SEKSI . ••

PELETON - KOMPl

TIM .L KORAMIl <D

BATAlVON II KODIM ®

SAIGAS !! KOREM ®

BRIGADE X KODAM @@

INfANTERI X

ZENI m PENERBANG ce HEU

Tajuk NO. 13, TH. 1·20 AGUSTUS 1998 24

F 0 K U S

T A J U K

OPERAS

I N TEL

I PEMBEBASAN SANDERA

Bahkan, sampai [uni 1998 lalu, jumlah korban tewas diperkirakan telah bertambah menjadi 42 orang. Menurut tim, banyak di antara korban itu yang dibunuh secara semena-mena. Termasuk, di antaranya, pembunuhan atas pendeta Wenitobok Gwijangge, yang ditembak saat ia memanggang ubi di luar honay-nya, pada 12 Oktober 1997 di Desa Gilpit, Mapnduma.

Operasi yang diinstruksikan langsung dari Mabes AERl itu memang tak lagi dihandle Prabowo, yang sejak pembebasan

sandera jarang datang kembali ke Irja. Melainkan, oleh jajaran Kodam VIIIITrikora, yang biasanya melibatkan satuan Kopassus, Batalyon lnfanteri (Yonif) 753 Paniai, Yonif 752 Sorong, Yonif751 Jayapura, serta satgas Rajawali (berupa gabungan personel terbaik dari berbagai satuan), dan tim Maleo (lihat Peta Operasx).

Selain menumpas sisa-sisa GPK, mereka juga bertugas mengamankan proyek vital PT Freeport Indonesia. Seperti tampak dalam peta operasi pengamanan Maluku Irian

Tajuk NO. 13, TH. J - 20 AGUSTUS 1998 25

Jaya (Malirja) itu, konsentrasi pasukan keamanan memang terletak di sektor E, yang disebut sebagai Timika Kompleks. Inilah wilayah yang rnemang luar biasa kompleks: di situ ada PT Freeport Indonesia, salah satu penyumbang terbesar pajak dan devisa negara, namun yang tak kunjung usai bermasalah dengan warga setempat. Tak mengherankan jika inilah pula daerah jelajah GPK pimpinan Kwalik, Tadius Yogi, dan Daniel Kogoya.

Pemusatan pasukan lainnya terdapat di sektor A, yang rneliputi lbu Kota Iayapura dan wilayah perbatasan dengan Papua Nugini. Bedanya, bila sektor A dijaga satuan infanteri "biasa", di sektor E yang rawan itu Kodam menerjunkan satu kompi satuan parakomando Kopassus, satgas penerbang Angkatan Darat (Penerbad), serta satgas Rajawali. Tim Maleo, yang sebagian anggotanya berasal dari Kopassus, juga beroperasi di wilayah ini, Sejak operasi sandera itu, jumlah pos militer yang dibangun di sekitar PT PI ditambah.

Bahkan, menurut laporan tim tiga gereja itu, jumlah korban tak langsung akibat dampak operasi tersebut lebih besar lagi. Karena, ketika "mengoperasi" kampungkampung yang diduga menjadi sarang GPK, tak jarang tentara merusak kebun dan ladang, . menembaki ternak piaraan, serta membakar honay (rumah tradisional terbuat dari rumbia). Sejumlah gereja, rumah adat, dan bahkan puskesmas, juga dilaporkan ikut dirusak.

Akibatnya, warga yang ketakutan lalu hengkang ke gua-gua dan hutan-hutan di sekitar Lembah Bela dan Alama (keduanya di Kecamatan llaga, Kabupaten Paniai) dan Mapnduma di Kabupaten Jayawijaya. Tercatat, sekitar 1.000 warga telah hijrah dari kampung mereka untuk menyelamatkan diri.

Di pengungsian, mereka mengalarni kekurangan pangan dan menderita bermacarn penyakit. Namun, bila.rnereka nekat kernbali ke karnpung untuk mencari bahan pa-

rUI\.U3 .ft~UI\..

ngan, adakalanya mereka ditembaki tentara yang rupanya sudah mengepung daerah itu' (lihat: Balada Derita dariLembah Bela).

Tapi, kaIau mereka bersedia "turun gunung" sekalipun, tentara juga memberlakukan pengawasan ketat. Ke mana mereka pergi - bahkan berkebun atau berburuwarga mesti membawa surat jalan yang diteken aparat keamanan dari pos m.iliter terdekat. Sehingga bisa dibilang, hak warga untuk merdeka bergerak (freedom of movement) tidak terjamin.

Maka, menurut tim gereja, bencana kekurangan pangan yang menewaskan sekitar 477 orang di Kabupaten Jayawijaya dan lebih dari 250 orang di lima kabupaten lainnya tahun lalu bukan saja terjadi akibat mu-

OPERAS INTEL

sim kering berkepanjangan. Melainkan, lebih merupakan dampak ikutan operasi militer tersebut.

Tim tiga gereja itu sudah melaporkan temuan mereka kepada Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), yang kemudian mengirim tim penyidik ke Irja. Menurut Asmara Nababan, anggota tim Komnas HAM, kepada Tajuk, tak semua data yang tercantum dalam laporan itu bisa diverifikasi, mengingat lokasi medan yang luar biasa berat. Namun ia meyakini, operasi pengejaran sisa-sisa GPK memang menyebabkan terjadinya pe1anggaran J:IAM dalam tingkat yang sangat serius. Dan, pelanggaran itu terjadi sebagai konsekuensi dari strategi operasi tersebut.

Radisson,

J I\. K A R T,I\.

The difference is genuine.sM

Nikmati lezatnya hidangan spesial ulang tahun Radisson Jakarta yo_ng ke - 3 di Galle!}' Restaurant.

Silckon Anda coba ~idangan berikut yang komi sojikon setiap had untuk makan siang otou malam;

- Sop Buntut Rp.20.0001-

- Nasi Ayam Heinan Rp. 25.0001-

- Radisson Bento Rp.25.0001-

Atau Steamboat seharga Rp. 35.0001- setiap malam Sabtu dan malam Minggu. Juga, ada Pepsi Cola gratis untuk Anda.

Sambil bersantap, Andapun dihlbur dengon musik tradisionol, Senin sompai Jumat, dari pukul 11.30 - 14.30.

Untuk Ando, kami menyediakan ticket renang seharga Rp.15.000,* Harga be/um termasuk 21 % pajak dan jasa fayanan

JL PECENONGAN 72 • JAKARTA 10120. TElEPHONE (021) 3500077 • FAX (02113500055

Tajuk NO. 13. TIt 1- 20 AGUSTUS 1998 26

Strategi semacam itu, seperti dikemukakan sejumlah man tan j enderal kepada Tajuk, memang biasa dipakai ABRI dalam operasi menghadapi gerakan separatis. Itulah strategi anti perang gerilya (anti-guerilla warfare) yang disebut "memisahkan ikan dari airnya": gerilyawan adalah ikan yang tak bisa hidup tanpa air, ya massa pendukung dan simpatisannya. Operasi dan pengepungan atas kampung-kampung yang dicurigai sebagai basis dukungan GPK ditujukan untuk menciptakan rasa takut, agar warga kapok mendukung GPK. Sedang, pemberIakuan surat jalan adalah cara untuk mengontroI dan membatasi ruang gerak GPK.

Untuk melaksanakan operasi tempur dan intelijen semacam ini, satuan yang paling andal memang Kopassus. Dan, Irja - seIain Timtim dan Aceh - adalah me dan Iatihan (training ground) utama bagi satuan Kopassus. Tak mengherankan bila para pelaku penembakan itu, sebagaimana dikenali para saksi mata, sebagian besar adalah oknum Kopassus (lihat: Taben. "Rakyat yang hidup di daerah operasi perang gerilya memang serba salah. Mendukung gerilya, digebuk tentara. Tak mendukung, ganti dihajar GPK:' ujar salah seorang mantan pati itu.

Tapi, rakyat Irja adalah bagian dari bangsa Indonesia, yang semestinya juga ikut merasakan kemerdekaan yang pekan ini kita rayakan, Makanya, Komnas HAM merekomendasikan agar ABRI membuka dae <,11 operasi militer yang tertutup, rnenarik mundur pasukan dari kawasan berrnasalah, dan

DEMO PEMBmASAN IRIAN. Operasi pengejaran sisa-sisa GPK memang menyebabkan teJjadinya pelanggaran HAM yang sangat serius.

menyerahkan keamanan kepada pendekatan pihak kepala adat dan pemuka agama, serta merotasi personel pasukan selambatlambatnya enam bulan sekali. Maklumlah, medan Irja yang kelewat berat tak jarang memberikan tekanan psikologis kepada personel ABRI yang terkadang meletup dalam aksi-aksi di luar batas.

Pihak Kodam VIIIITrikora sendiri mengakui, pelanggaran HAM yang diadukan oIeh tim tiga gereja Timika "mungkin saja terjadi". Toh, dalam tanggapan tertulisnya yang dikeluarkan Iuni lalu, Pangdam VIlI/Trikora Mayjen Amir Sembiring balik

F 0 K U 5

T A J U K

...

syarakat menghendaki penarikan mundur pasukan ABRI dad daerah itu, karena dapat mengurangi beban satuan yang bertugas, "Iapi, bila terjadi gangguan keamanan lagi, jangan menuntut tanggung jawab dan menyalahkan ABRI;' tulis Amir dalam Iaporan yang diberi kIasifikasi "rahasia' itu. Dan, bagi para oknum ABRI yang melakukan "kesalahan prosedur" sehingga menirnbulkan pelanggaran HAM, Amir berjanji akan menindaknya sesuai hukum yang berlaku.

Tapi, bila "salah prosedur" itu terjadi terus-menerus selama lebih dari tiga dasawarsa, tentulah itu indikasi: ada yang salah dengan prosedur yang sudah baku tersebut. Dan, era reformasi ini adalah saat yang tepat untuk menata serta mengkajinya kembali .....

Tatik S. Hafid~

OPERAS

I N TEL

menuding, laporan gereja itu cenderung dibesar-besarkan. Ia menunjuk kasus 16 warga yang dilaporkan tewas tertembak itu. Menurut Amir, mereka memang anggota GPK, bukan warga biasa. Sedang, penembakan atas Pendeta Gwijangge dilakukan karena ia diduga telah mencoba mengecoh aparat keamanan yang mengejar GPK Daniel Kogoya.

Amir juga menampik tudingan bahwa operasi militerlah yang menyebabkan terjadinya bencana kelaparan dan kematian di Jayawijaya dan sekitamya. Satuan ABRI justru berada di garis terdepan dalam menyalurkan bantuan bagi para korban. ABRI, katanya, juga tidak pernah memberlakukan daerah operasi rniliter tertutup.

Pihaknya tidak berkeberatan bila ma-

Tajuk NO. 13. TH.I- 20 AGUSTUS 1998

,

Peran intelijen yang kelewat besar di masa Soeharto harus dibatasi. Sebagian besar responden poling.Tajuk dan CESDA-LP3ES menolak operasi'intelijen untuk kepentingan politik pemerintah. Mereka mengusulkan, DPR dapat mengawasi dan meminta pertanggungjawaban operasi semacam itu kepada

"PRESIDEN tiba-tiba terbetik untuk meminta Menko Polkam mengundang para intelijen asing itu, untuk bersama-sama membuat tim ill Indonesia dan me!acak kebenaran (informasi perkosaan - Red.)," tutur Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, Tuty Alawiyah, kepada pers, seusai Sidang Kabinet Terbatas Bidang Kesra, Rabu (12/8). Reaksi masyarakat pun bermunculan. Ada yang salut dan mendukung keseriusan Habibie mengungkap kasus perkosaan, yang mencoreng nama Indonesia di luar negeri. Ada pula yang ragu dan skeptis pada komitmen pemerintah,

"Atau, jangan-jangan Habibie kurang mempercayai intelijen Indonesia, yang cuma jadi alat Soeharto," Suara nakaI seperti ini muncul pula di benak masyarakat. Logikanya, bila aparat keamanan - termasuk di dalamnya intelijen - dipercaya, tidak perlu mengundang inte! asing menyelidiki kejadian di Indonesia. Memang ada sindiran, aparat intel Indonesia tidak lebih dari intel Melayu, yang kurang profesional. Mau menyelediki sesuatu saja, pakaian dan peralatannya mencolok.

Sinisme terhadap peran intelijen . . dari hasil .

poling lain (lihat: Merdeka Tanpa Soeharto)

Dari hasil jajak pendapat, sebagian responden (74,2%) menuntut reformasi dalarn peran intelijen di Indonesia. Mereka ingin, 0- perasi intelijen dilarang digunakan dalam politik. Hanya sebagian kecil (12,2%) yang cen.: _ . rung ingin mempertahankan agar dinas inteli- .' jen "tetap seperti pada masa Orde Bam': Bisa dimengerti bila sebagian besar responden poling menolak cara-cara inte!ijen se!ama ini. Dan; . pemberitaan media massa jelas mempengaruhi . persepsi mereka.

Memang, seusai Soeharto turun takhta, pers berlomba-lomba mengungkap praktik ilegaI • penguasa absolut RI se!ama tiga dekade itu. Mu- .. lai dari upaya mengumpulkan harta untuk anak-anaknya, hingga cara-cara militer guna:·· mempertahankan kekuasaannya. Sejatinya, tiga . dasawarsa rezirn Orba berkuasa, aneka operasi intelijen banyak dilakukan. Mulai dari yang haIus, hingga yang kasar. Tengok saja, bagaimana peran lembaga Opsus (Operasi Khusus) yang dipimpin Ali Moertopo di awal Orba. Opsus bi- ' sa dikatakan inte! di dalam inte! yang masa itu·.

sangat angker. ..

Ali Moertopo bersama Soedjono Hoemar- .. ditunjuk jadi aspri. Mereka inilah yang ...

nemuersmxan kerikil yang mengadang langkah . memperkuat kekuasaannya. Banyak toOrba, seperti Ienderal Nasution, H.R JhaJrsonlo, dan Sarwo Edhie, yang dipinggirkan.

Praktis, se!ama dasawarsa 1970-an, jejak hiAli Moertpo ditorehkan. Tak heran bila Pangkopkamtib Ienderal Soemitro me- .. nvavangkan penyimpangan penggunaan

intelijen dalam urusan politik. Beberapa mencatat, jatuhnya Pak Mitro dari ~pang~~opJ{anltib tidak lepas dari operasi

; saingannya. Begitu pula, meledaknya pada 1974.

Pada pertengahan dasawarsa 1980 menje!ang Soeharto lengser, peran intel diintensifkan. Peran Badan Intelijen AEID

figur Ienderal Benny Moerdani sangat rrlPlnnn-c·' joL Dari tiga fungsi inte!- penyelidikan, intelijen, dan conditioning - fungsi ketiga dominan. Fungsi terakhir berupa penggaiangan;

/

/

.w"-"' .... ca n dengan r:respolnd(~n pemilik telepon di Ia-

. sampel dilakukari secara acak, . buku petunjuk te!epon Jakarta (re~"u,";"~~,ou.J 1998/1999. Dari jumlah responden dan cara penarikan sampel, margin of error poling ini sebesar ± 4,4%. Hal sarna berlaku untuk

Tajuk NO. 13, TH. I - 20 AGUSTUS 1998

POL I N G

II

II

dan perang urat saraf terhadap kelompok-kelompok di masyarakat "Akhirnya, peran intel jadi counter-productivei' ujar seorang pengamat intelijen.

Perlu dibubarkankah dinas intelijen kita?

Ternyata, tak satu pun responden poling yang berpendapat dernikian. Mereka masih mernandang, dunia intelijen memiliki peran penting dan strategis bagi negara. 'Iapi, mengingat tingginya risiko yang bakal dihadapi bila fungsi intel disalahgunakan, aspek pengawasan menjadi penting,

Lembaga mana yang berperan? Hasilnya, sebagian besar masyarakat (50,2%) menjawab, operasi intelijen harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat, baik langsung maupun. melalui wakilnya di DPR.

Artinya, penggunaan dinas intelijen oleh presiden, sebagai kepala pemerintahan dan pimpinan militer, seharusnya dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Tampaknya mereka berharap, masyarakat bisa mengawasi sepak terjang aparat intelijen, agar tidak disalahgunakan. Malahan sebagian besar responden berpendidikan pascasarjana (62,5%) usul, operasi intelijen harus dipertanggungjawabkan ke DPR. Hanya 33,8% responden yang berpendapat, operasi in" telijen harus dipertanggungjawabkan kepada kepala negara.

Runtuhnya Orde Barn otomatis menyembulkan kasus-kasus yang selama ini ditutup-tutupi, Ambil contoh, kasus 27 [uli, Tanjung Priok, Aceh, dan Tasikrnalaya. Kasus apa saja yang paling mendesak untuk diusut tuntas? Sekalipun masyarakat memandang bahwa seluruh kasus kekerasan perlu diselidiki, sebagian besar (50,2%) menuntut: tragedi 27 Iuli 1996 lebih dulu dituntaskan. Berikutnya menvusul kasus Tanjung Priok (31,6%), serta kasus kerusuhan Situbondo, Rengasdengklok, dan Tasikrnalaya (10,0%).

Blla ditilik jawaban tersebut berdasarkan usia responden, ada catatan menarik. Sebagian besar (52,4%) masyarakat berusia di atas 56 tahun lebih memilih kasus Tanjung Priok untuk segera diusut tuntas. Setelah iru, barn peristiwa 27 Juli (28,6%), dan Tasikrnalaya serta Situbon-

INTELIJEN

do (5,7%). Jawaban yang hampir sama tampak pula pada responden yang berpendidikan pas" casarjana. Mayoritas (62,5%) memilih Tanjung

Priok, setelah itu baru kasus 27 .

. Pemberitaan pers sangat mempengaruhi jawaban responden. Menjelang 27 Iuli 1998 (atau satu hari sebelum poling dilakukan), media cetak dan elektronik genear memberi-··

takan peristiwa kelabu itu. Kubu gawati berencana U!l;Ul~'''UU)<,''U

tersebut di Istora Senayan. keamanan tidak mengizinkan.

Media massa lantas mem-em Menkopolkam Feisal Tanjung Syarwan Hamid, yang diduga menjabat pangab dan kasosspol peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI Kisruh ini berkepanjangan, karena Syarwan be" rencana mengajukan ke pengadilan tiga media cetak yang menyudutkan dirinya.

Dipilibnya peristiwa Tanjung Priok oleh se" pertiga masyarakat, juga, tidak lepas dari pemberitaan pers. Maklum,sejak Iuni lalu korban pe" ristiwa Tanjung Priok kerap berunjuk rasa me" nuntut pertan~gjawaban pemerintah. Bah" kan mereka meminta, pemerintah memeriksa dua mantan pangab, yakni Benny Moerdani dan Try Sutrisno. Kedua jenderal ini memang meniadi pangab dan pangdam Jaya, ketika kasus Tan" jung Priok meledak pada dasawarsa 1980"an.

Seiring dengan arus reforrnasi, masyarakat memang menginginkan: pemerintah mengusut tuntas semua kasus yang masih gelap. Tim Gabungan Pencari Fakta - yang anggotanya dari unsur pemerintah, 15M, dan tokoh masyarakat - sudah dibentuk untuk menyelidiki kerusuhan 13 Mei lalu. Harapan diturnpukan kepada keberanian tim yang dipirnpin Wakil Ketua Kornnas HAM Marzuki Darusman. Bila berhasil, tam" paknya kita tidak perlu memanggil intelijen luar negeri untuk membantu mengusut kasus-kasus yang lain. Bukankah mayoritas masyarakat masih percaya dinas intelijen kita, asal dibersihkan dari cara-cara ala Soeharto ....

Bagalmana sebaiknyac•

peran intelijen? .

" !," ...

%

'12,2. 74.0

, 0.2 13.6.: .

Dipertahankan Non plliitik .',

Lalnnya. ' .. _

. 11dakjawab

c N.500

Intelijen bertanggungjawab

ke ... ? .

%

DPR : 33.0 .

Kepala Negara 33.6

Rakyat 27.2

l1dak jawab 6.0

N.500

-----------.-- -- --~

Kasus lain yang perlu dlusut?

%

Tasik dan Situbondo 10.0

. 27 Juli 50.2

Tanjung Priok 31,6

Komando Jihad 0.2

Lainnya 0,2

l1dak jawab 7,8

Untung Widyanto

Tajuk NO. 13, TH. 1·20 AGUSTUS 1998

Reformasi Intel Soeharto

Intel inside. Kata-kata ini bukan jargon iklan kamputer. tapi sindiran aktivis pro demokrasi kala Soeharto masih berkuasa.lntel memang ada bertebaran di manamana. Setiap kegiatan LSM yang vokal pasti tidak lepas dari intaian aparat Klni; setelah presiden bergarm, peran intel dipertanyakan. "Harus dlreformasi," demikian jawaban seorang responden poling Tajuk dan CESDA.

Jajak pendapatdilakukan terhadap 500 warga Jakarta yangdiwawancarai via telepon. Dari responden yang dipilih seeara aeak itu, wanitanya berjurnlah 54.0% dan pria 46.0%. Untuk umur. berkisar antara 17 hingga 63 tahun, dengan proparsi hampirsama berada pada usia 17-25.26-35. dan 36-45 tahun, masingmasing28.2%. 24.6%. dan 25.8%. Sementara. yang berusia 46-55 tahun 14,4%. dan di atas 56 tahun ada 7.0%.

Untuk variabel pyndidikan. sebanyak 48.- 8% SLTA. lalu 22,4% diploma. dan 25.6% sana-

na. Hanya 3.2% yang berpendidikan pascasanena, Pada pekeqaan. hampirsetengah (45- .6%) responden mafi1siswa. ibu I'IJ,Qlah tangga. dan tidak bekerja. Lalu. 28,4% pegawai swasta, sebanyak 15.4% wiraswasta, dan 8.0% pegawai negeri (termasuk penslun), serta hanya 1.2% yang pumawirawan ABRI.

Dari segi pengeluaran per bulan. sebagian besar(48.8%) di bawah Rp 1 juta. Mereka yang belanjaantara Rp ljuta sampai Rp 2 juta ada 31.0%. lalu di atas Rp 2 juta hanya 8,4 %. Ada 11.8% respond en yang tidak memberikan jawaban terhadap pertanyaan sensitifini. Berikut kutipan wawaneara mendalam dengan tlga responden poling.

saya, kasus yang paling baru. Peristiwanya haogat, .dan karban serta pelakunya . masih ada. Saya usul, kasus Trisakti perlu diusut tuntas.lni bukan karena saya mahasiswa Universitas Trisakti. tapi semata-mata karena peradilan kasus penembakan mahasiswa Trisakti penuh rekayasa, Mengapa yang diadili cuma kroco. Harusnya sampai ke etas, hingga ke perwira tinggi yang kala itu menjabat kapolda dan .. pangdern Jaya.

2. Toni (bukan nama sebenamya). pensiunan pegawai negeri Sudah bukan rahasia lagi jika Soeharto mampu berkuasa selama 30 tahun . dergan menggunakan pendekatan kekuasaan. Dia memperalattentara. termasuk Intel. untuk mempertahank8n jabatannya. Tidak mengherankan jika masyarakat . takut untuk bicara apa adanya walaupun itu benar. Alhasil. banyak kasus yang belum terungkap. : ... misalnya peristiwa Tanjung Prick, Aceh. TimorTi-

mur. dan beberapa lainnya. .

Untuk ke depan, tidak bisa lagi presiden menggunakan intelijen untuk mempertahankan kekuasaan. Harus dilarang bila mereka (sparet. . . intel) memata-matai warga negara yang akan .: berbieara apa adanya. Jadi, DPR harus menga- . i wasi dan mengontrol tugas president termasuk . mengawasi dan meminta pertanl®lrlgjawatlan:;~H operasi inteliJen yang berdampak luas ke masya-;! rakat

Perubahan yang harus dilakukan pada intelijen kita adalah membatasi ruang geraknya. Tidak balch lagi ikut campur terlalu jauh untuk urusan politik, seperti yang lalli-Ialu. Tidak perlu lagi tokoh vokal dimatamatai. Tugas intel ke depan hanya menyelidiki pihakpihak yang ingin memisahkan diri dari Ncgara Kesatuan Republik Indonesia.

1. Roy (bukan namasebenamya), mahasiswa

Peran intelijen kita memang perlu direformasi. Tidak bisa lagi menggunakan cara-cara seperti masa Soeharto berkuasa. Ketika hu, banyak pengkritik Soeharto yang ditangkci.pi dan diculik. Intel ada di mana-mana untuk mematamatar setiap kelompok masyarakatyang dituduh ingin mendongkel kekuasaan presiden.

Perubahan yang harus dilakukan oleh inte-

lijen kita adalah membatasi ruang geraknya. TIdak boleh lagi ikut campur tenalu jauh untuk urusan po~tik. seperti yang lalu-Ialu. Di era reformasi ini, tidak perlu lagi tokoh vOkal dimata-matai. Iugas intel·k£i depan hanya menyelidiki pihak-pihak yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Misalnya. pada kelompok-kelompok anti integrasi di TImorTimur atau daersh-daerah lain.

Untuk mengontrol tugas intel, hendaknya dilakukan oleh presiden. Kenapa bukan DPR atau rakyat? Va nanti kan presiden harus mempsrtanggungawabkan tugas-tugasnya kepada DPR.Jadi. tidak perlu intellangsung dikontrol oleh parlemen. Urusan yang teknis. biar presiden yang kontrol. Namun, soal yang besai; bisa saja DPR meminta pertanggungjawaban intel.

Di antara sekian banyak operasi militer Orba yang harus diungkap, rrienurut

3.

swasta Saya kurang mengerti soal intelijen •

. melihat kasus penculikan aktivis atau di di Aceh, ngen juga mendengarnya, Ada disiksa secara kejam. bahkan dibunuh. Saya

dak setuju cara-cara pemerintah Soeharto kukan tindakan itu. Jangan diteruskan lagi oleh pemerintahan Habibie. .

Dari kasus penculikan yangbaru teuadi,'saya tidak menyangka kalau bowo terlibat Kalau melihatnya di televisi, orangnya kan baik, dan ganteng lagi. Lebih ganteng mana sarna Sjafrie Sjamsoeddin (mantan pangdam Jaya)? All, kalau PakSjafrie itu manis, tenang orangnya. Tapi, kita tunggu saja pengadilan tema- . dap mereka yang dituduh menculik. Di antara kasus yang belum jelas, saya setu- . ju jika semuanya diungkapseeara tuntas. Mana yanglebih dulu? ra, yanggampang '. atau sedertiana kasusnya. Kalau yang sulit, kan lama menyelidikinya. A

".-.'_'~-"", '.," ._e~ ._,:~._- .... ;" .... _._ .... ,·.c.._~~l_- "'i:, .... ,.,. _ " • ...- ~~ .... ,' •

Tajuk NO. 13. TH. I - 20 AGUSTUS 199B

POL I N G

INTELIJEN

Merde.ka tanpa Soeharto

MUNDUR sebelurn bertempur. Tampaknya, sikap semacam ftu yang diambil pemerintah berkaitari dengan Peraturari Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 2/1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum Simak saja hasil pertemuan antara DPA, Menteri Kehakiman, Komnas HAM, dan KapOlri, di Gedung DPA, Kilmis (13/8) lalu. Disepakati, pelaksanaan Perpu No. 2/1998 ditangguhkan sampat rnendapat persetujran DPR.

Sejatinya, sejak dikeiuarkan pada 24 Juli lalu, perpu ftu menimbulkan reaksi keras. Maklum~ perputersebutmengesankanlangkah mundurterhadap angin demokratisasi yangtengah bertiup kencang. "Namanya UU kemerdekaan menyampai~n pencapat, Padahal, isinya justru membatasi dan mengehlrt penyampaian pendapat," i1jar Hendardi, direktur eksekutif Perhimpunan Bantuan Hukum dan HakAsasi Man usia Indonesia (PBHI).

Kontradiktif, memang,jika melihatjanji awal Presiden Habibie yang ingin mendorong arus reformasi pasca- " Soeharto. Sikap semacam ini juga tampak dari se- 0 bagian responden poling Tajuk dan CESDA, yang dilakukan pada 28-31 Juli 1998. Poling ini berusaha menjajaki persepsi tentang rasa kemerdekaan pada masyarakatsaatini. Namun, sebelum ditanyakan tariggapan soal Perpu No. 2/- 1998, kepada responden diminta pendapatnya berkaitan dengan kebebasan berpendapat dan berkumpul di era reformasi. Sebagian besar (74,2%) merasa lebih bebas dibandingkan sebelum Soeharto tumbang.

Atmosfer kebebasan terasa di manamana - dan terpantullewat pemberitaan media massa, cetak maupun elektronik. Tak ada dering telepon dari aparat yang rnetarang pemuatan suatu berita- hal yang kerap terjadi ketika Soeharto berkuasa. Partai baru, sebagal manifestasi 0 kebebasan berserikat, terus bermunculan.

Kebebasan lain bisa dHihat dari maraknya aksi unjuk rasa di pelosok tanah air. Mulai dari tuntutan mundumya kepala desa, sampai gubernur. Hingga bulan lalu, sudah 7.000 lurah/kepala desa yang diminta mundur. Aksi-aksi massa itu bebas dllakukan, tanpa hambatan dan aperat keamanan. Dalam bahasa Nurcholish Madjid, sesungguhnya rakYat Indonesia baru merdeka selama dua bulan,setelah soeharto jatuh dart kursi presiden. "Ra kyat kini juga masih dalam 18- rafbelajarbebas;meskipun Indonesia telah merdeka sejak 1945: ujarCak Nur. Seorang responden pOling'yangmahasiswa-berujar, setelah 30 tahun di bawah Orba, baru kcili ini rakyat merdeka tanpa Soeharto,

Demo yang meBbatlcan leblh dari 50 orang harus dapat Illn, setuJu?

Krimloalitas naik ,

Amuk massa

%

Jatuhnya Soeharto memang jadi titik awal terbukanya ruang publik. Coba tengok pengurnpulan pendapatyangdllakukan CESDA-LP3ES menyambut50 tahun - kemerdekaan RI. Survei dilakukan pada 29 Juni - 23 Juli 1995., dengan mewawancarai 1.000 responden di Jakarta, Surabaya, dan Medari. Ketika ditanyakanarti atau makna kemerdekaan, sejumlah 33,7% menjawab ada atau terciptanya kebebasan. lalu, 25% menjawab bebas dari penjajahan, terciptanya kesejahteraan 8,6%, pembangunan di segala bidang 7,3%, peningkatan kehidupan ekonomi 6,2%, peningkatan kehidupan beragama 2,8%, pembangunan prasarana 1,8%, kemerdekaan tidak punya arti spa-epa 1,3%, dan yang menjawab tidak tahu 12,8%.

Yangmenalik, dart survei CESDA itujuga terungkap, sebagian responden (28,0%) masih takut menyatakan pendapat atau mengkriijk kebijakan pemerintah. Bisa dimaklumi. Karena, kala survei i~ dilakukan (tahun 1995), tak ada yang berani menelanjangi dosa-dosa politikdan ekonomi Soeharto. Bandingkan dengan keadaan saatini. Semua orang leluasa menggebuk Soeharto. Dan, yang lebih penting, tak ada yang takut mengkritik Habibie atau pejabat tinggi lain.

Kembali ke hasil poling Tajuk dan CESDA. Para responden melihat, pemerintahan Habibie berusaha meredam kebebasan. Memang mayoritas merasa lebih bebas mengemukakan pendapat, namun secara tiba-tiba pemerintah berusaha mengecilkan keran dengen mengeluarkan Perpu No. 2/-

1998.

Kepada responden, ditanyakan pendap-

atnya soal isi perpu yang mensyaratkan izin dart kepofisian terhadap demonstran yang melebihi 50 orang. lebih deri setengah (55,8%) tidak setuju terhadap peraturan nu, Mereka merasa, perpu tersebut tldak ubahnya cara Soeharto melanggengkan kekuasaan.

Pelingatan kemerdekaan RI ke-53 tahun ini diwamai krisis ekonomi yang parah. Kepada responden, ditanya kemungkinan yang bakal tedadi bila pemeiintah tidak mampu mengendalikan har-

. ga sembako dalam enam bulan ini. Sebagia~ besar (72,8%) cenderung memprediksikan pe.,. ningkatan kejahatan, berupa penjarahan dan pe-rampokan, hingga arnuk massa. Hanya 17,4% yang memperkirakan maraknya demonstrasi atau unjuk rasa. Kontradiktif, merneng, Di sa-

o tu sisi, masyarakat bisa leluasa menghirup 'ucara segar kebebasan. Iapl, di sisi lain, garagaraekonomt ambruk, mereka dihantui peningkatan kejahatan dan amuk massa .....

%

56.2 22,0

- Untung Wldyanto

Tajuk NO. 13. TH.I· 20 AGUSTUS 1998 31

INTELIJEN di masa Mataram merupakan badan tidak resmi atau dapat dikatakan sebagai suatu organisasi "tanpa bentuk" (OTB). Peran mereka adalah melaksanakan operasi dan berbagai cara mengamankan kerajaan dan raja pribadi. Tujuan "intelijen" pada masa lamp au itu, selain sebagai alat pengaman negara, juga menjadi alat utama bagi intrik elite di pemerintahan. Dengan demikian, kegiatan mereka dapat merupakan sumber bencana. SiJ?pkat kata, operasi-operasi intelijen - yang dalam satu peri ode Orde Baru pernah memiliki "cabang" Opsus (Operasi Khusus) - juga merajalela pada masa lamp au.

Istilah-istilah kuno bagi mata-mata seperti telik, sandhi, kecu, blater, weri, dan seterusnya, menunjukkari adanya aktivitas intelijen atau mata-mata. Pada zaman dulu, intelijen dipakai untuk berbagai macam tujuan. Mataram adalah contoh kekuasaan kerajaan yang despotik, di mana raja memerintah dengan kekuasaan yang mutlak dan sentral dalam ketatanegaraan pada masa itu. Selain itu, Kerajaan Mataram - seperti kerajaan lain sezamannya - sangat ekspansionis dan banyak musuh.ltu sebabnya, dinasti -din asti kerajaan Iawa memang tidak berumur panjang, hanya 100 tahunan lebih sedikit.

Tapi, dalam kurun waktu yang relatif pendek, para elite politik masing-masing kerajaan itu rupanya berhasil mengeksploitir rakyatnya, para petani dan pedagang, secara maksimal. Contoh dari eksploitasi ini adalah terwujudnya kompleks-kompleks candi di [awa Tengah dan Jawa Timur, yang dibangun dalam waktu relatif singkat, satu-dua abad, dengan alat-alat primitif dan tenaga manusia secara padat karya. Contoh lain adalah peperangan-peperangan raja-raja Mataram dari pemerintahan Sultan Agung, sampai kolonial Belanda - dengan memaksakan Pax Nederlandica-nya (perdamaian kolonial) - membagi Mataram menjadi beberapa kerajaan (1755), dan perang juga tak henti-hentinya berkecamuk.

Setiap peperangan meminta biaya nyawa dan harta yang sangat tinggi. Setelah satu peperangan besar, penduduk Iawa tinggal "separo" seperti disebutkan dalam Ramalan Jayabaya. Tidak mengherankan jika kemudian orang menamakan kondisi politik dan intrik-intrik ini sebagai rimba politik Iawa.

Dalam sejarah Mataram, ada berbagai peristiwa yang penuh kekerasan. Kekerasan itu pada zamannya sudah demikian menggemparkan masyarakat, sehingga menimbulkan keguncangan dan skandal besar yang membekas sampai lama. Salah satunya

ONGHOKHAM .

adalah pembunuhan secara massal untuk mengganyang golongan ulama. Korbannya sampai 6.000 jiwa; termasuk istri, para orang tua, anak-anak, dan pembantu-pembantu para ulama itu. Dengan singkat, se1uruh rumah tangga besar para ulama pada zaman itu dibantai secara serentak dalam waktu satu atau dua hari. Peristiwa ini terjadi baik pada zaman Sultan Agung (1613-1645) maupun di bawah penggantinya, Arnangkurat 1(1645-1678).

Pembantaian semacam itu hanya dapat berhasil bila dilaksanakan oleh orang-orang terpercaya yang dilatih untuk melakukan operasi tersebut,

Arnangkurat I terkenal dalam sejarah sebagai raja yang selalu curiga dan mengalami paranoia (rasa takut) besar. Bukan saja para ulama yang menjadi obyek kecurigaannya, tapi juga para pejabat istana, kerabat kerajaan, atau justru orang-orang yang dekat dengan takhtanya, Sebaliknya,. raja ini bersahabat dengan orang-: orang asing seperti para tawanan Belanda dan penasihat Portugis, , dan rnenggunakan mereka sebagai kaki tangan dan mata-mata ..

Hal ini memang satu pola tradisional, yaitu menjadikan orang asing sebagai sahabat, lantaran mereka tidak dapat menyaingi kekuasaan sang raja, dan memanfaatkan mereka untuk mengintai lawan atau yang berpotensi jadi musuh. Mata-mata raja ini mengumpulkan nama-nama pejabat dan kerabat yang dicurigai, termasuk keturunan dan anak buah mereka, yang diduga dapat menjadi ancaman bagi raja. Suasana keraton pada zaman Mataram sangatmencekam.

Para pangeran dari daerah-daerah yang dijajah dikumpulkan di keraton dan menjadi sandera. Diantara mereka bahkan sering ada yang dikawinkan dengan putra atau putri kerajaan. Namun, mereka tetap tidak .luput dari tangan raja kalau dicurigai. Orang ingat pada nasib Ki Ageng Mangir, menantu raja yang diriwayatkan bahwa kepalanya dihancurkan di atas batu di depan singgasana, ketika ia sedang sungkem pada raja sekaligus mertuanya, Panembahan Senapati (1582-1601).

Kekejaman Amangkurat I yang terbaca dalam babad-babad adalah sebagai suatu upaya operasi khusus yang klasik, yang pada waktu itu berakhir dengan kekacauan besar. Memang sering terjadi, operasi khusus yang gagal dapat menimbulkan chaos.

Pada akhir 1670-an, seiringAmangkurat I menjadi tambah tua, ada bintang baru yang muncul di Keraton Mataram, yakni pangeran mahkota yang muda. Pangeran mahkota ini dan kawankawannya menjadi tidak sabar menunggu raja tua wafat. Mereka berniat mempercepat suksesi. Pangeran mahkota ini lalu berkomplot dengan ternan sebaya, Pangeran Trunojoyo dari Madura, yang disandera di Keraton Mataram. Oleh si pangeran, Trunojoyo disuruh 1010s dan mengorganisir pemberontakan di wetan (timur). Pangeran berharap, dia akan diangkat oleh Arnangkurat I

.. ,

, 'I

menjadi pangliroa untuk menindas pemberontakan tersebut. Trunojoyo pun ia rninta berpura-pura perang dan kalah. Pangeran mahkota bersiasat, dengan kemenangan ini ia akan mengkudeta ayahnya sendiri serta naik ke takhta Mataram.

Tapi, apa yang terjadi pada 1677-1678 itu?

Trunojoyo temyata tidak mau pura-pura bertempur, akan tetapi ia memberontak dan perang secara sungguhan. Bang-bang wetan (para bupati timur) diajaknya serta berontak, dan mereka ini beraliansi dengan orang -orang Bugis yang sedang menyerangpantai utara Iawa, Pangeran mahkota dikalahkan, lari ke Mataram, Ibu kota panik, dan seisi keraton beserta raja dan pangerarr mahkota melarikan diri ke arah Tegal, meninggalkan harta karun da~ istana. Di daerah ini, Amangkurat I wafat (1678), dan karena itu ada Tegalingrum. Pangeran mahkota menjadi raja dengan gelar Amangkurat II (1678-1703).

Selama berkuasa, Amangkurat II bam berhasil kembali ke Matararn dan menguasai keadaan setelah bertahun-tahun perang, dengan bantuan VOc. Trunojoyo akhirnya berhasil dikalahkan dan ditangkap di dekat Kediri, Raja Arnangkurat II, dengan kerisnya sendiri, yang melakukan eksekusi terhadap Trunojoyo. Sampai hari ini, adegan tersebut masih menjadi obyek populer bagi pelukis-pelukis kaca di [awa,

Iadi, menimbulkan kekacauan untuk kemudian menumpasnya merupakan intrik elite kekuasaan sepanjang sejarah Iawa, baik pada zaman raja-raja maupun masa kolonial dan pasca-kolonial, Skenario ini dernikian klasik. Sehingga, bila pun tidak ada intrik dan komplotan, si penumpas kekacauan atau kerusuhan dapat dituduh menjadi dalangnya.

Seperti kita lihat di atas, kendati tidak ada badan

nyata yang disebut intelijen, ada aktivitas mata-mata atau orangorang intelijen pada berbagai peristiwa. Mata-mata ini rupanya cukup efisien dan efektif pada zaman Matararn, Dalam buku Serat Centini, yang sering disebut ensiklopedia Jawa masa lamp au, di-

ceritakan bagaimana sultan Mataram (Sultan Agung dan Amangkurat) mengejar anak-anak dan keturunan Sunan Giri sampai ke pelosok-pelosok. Para keturunan ini dikejarkejar selama beberapa generasi, sampai ke seluruh pojok Pulau [awa. Pemerintahan Hindia Belanda juga getol menelusuri keturunan para pemberontak Jawa. Praktik

semacarn ini dilanjutkan oleh Orde Bam dengan politik bersih lingkungannya.

Hindia Belanda mewarisi praktik tersebut melalui kerja Sarna dengan para pangreh praja, yang dijadikan aparat mata-mataltelik tradisional, Salah suatu tugas utama para bupati dan pangreh praja adalah berperan jadi polisi, Kenaikan pangkat tergantung dari sukses-tidaknya di bidang tersebut, Secara tidak resmi, biro-biro yang disebut kantor voor Inlandsche Zaken dan Chineesche Zaken sedikit ba-

nyak merupakan badan koordinasi kegiatan intelijen bagi pemerintah kolonial. Bam pada dasawarsa kedua abad ke-20 suatu dinas intelijen didirikan secara resmi, yaitu Politieke Inlinchtingen Dienst (PID), yang memata-matai pergerakan nasional,

Menurut seorang sarjana Prancis yang mengamati Hindia Belanda, mata-mata kolonial ini berhasil me- . ngamati seluruh gerak -gerik masyarakat. Seluruh Japisan masyarakat, katanya, disusupi informan. ltu sebabnya, di Hindia Belanda dan mungkin sampai

kini di Indonesia, gerakan bawah tanah tidak ada, atau paling se-

dikit jurnlahnya, dan tak berdaya sepanjang zaman. Perkumpulan-perkumpu -

Ian rahasia (atau serikat bawah tanah) seperti di Singapura, Malaysia, dan Vietnam, tidak terdapat di [awa, Barangkali, ini me-

rupakan hasil rekayasa sebuah pemerintahan yang paranoid, yang menyebar informan di segala lini, ....

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->