Anda di halaman 1dari 6

KEMENTERIAN KEHUTANAN

BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN


SUMBER DAYA MANUSIA KEHUTANAN
BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEHUTANAN SAMARINDA
Jl. P. Untung Suropati Sei Kunjang PO. Box. 1078 Samarinda Telp. (0541) 274327, Fax. 273208
E-mail: bdk_smd@yahoo.co.id

RANCANGAN TEKNIS
PEMBUATAN RUMAH KOMPOS,
MOL (MIKRO ORGANISME LOKAL)
DAN MESIN CINCANG

DISUSUN OLEH :
SEKSI SARANA DAN PRASARANA HUTAN DIKLAT

JANUARI 2011
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hampir dua dekade terakhir, kenaikan kenaikan harga pupuk dan


laju kenaikan produktivitas menurun dan terjadi gejala kejenuhan
reproduksi atau leveling off, ini merupakan petunjuk menurunnya
efisiensi pupuk.
Penurunan efisiensi pupuk berkaitan erat dengan faktor tanah
dimana telah terjadi kemunduran kesehatan tanah baik secara
kimia, fisik maupun biologi sebagai akibat pengelolaan tanah yang
kurang tepat. Keadaan ini terjadi di lahan sawah, lahan kering dan
lahan rawa yang diusahakan secara intensif dan pengelolaannya
tidak tepat dimana seluruh panen diangkut termasuk seresah/ sisa
panen. Padahal sisa panen tersebut merupakan bahan organik yang
sangat bermanfaat dan merupakan kunci utama bagi kesehatan
tanah baik secara fisik, kimia maupun biologi.
Salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas
kesuburan lahan pada lahan sawah, lahan kering dan lahan rawa
adalah mengembalikan sisa hasil tanaman ke dalam tanah sebagai
bahan organik dalam bentuk kompos, dan tidak membakar atau
membawa sisa hasil tanaman keluar dari lahan.
Proses pembuatan sisa hasil tanaman menjadi pupuk organik
secara manual memerlukan waktu sekitar 5 minggu, dengan
bantuan alat pemotong dan penghancur sisa hasil tanaman waktu
pembuatan kompos dapat dipersingkat menjadi 1 minggu. Untuk
melakukan proses pengomposan tersebut diperlukan juga tempat
untuk mengolah bahan organik, berupa bangunan sederhana.

Sehubungan dengan hal tersebut, untuk mendukung upaya


perbaikan kualitas kesuburan lahan melalui penyediaan pupuk
organik, maka Seksi Sarana dan Prasarana Hutan Diklat Balai Diklat
Kehutanan Samarinda pada Tahun Anggaran 2011, melakukan
fasilitasi kegiatan pengembangan rumah kompos dan mesin
cincang yang pada tahap awal difokuskan di Kantor Balai Diklat
Kehutanan Samarinda.

1.2. Tujuan

Tujuan Rancangan Teknis Pembangunan Rumah Kompos adalah


untuk memberikan acuan dan masukan kepada Pelaksana pembuat
rumah kompos dan mesin cincang, dalam melaksanakan kegiatan
teknis rumah kompos yang sesuai dengan tujuan dan keinginan
yang diharapkan.

Tujuan kegiatan pengembangan rumah kompos adalah :

1. Memberdayakan kelompok tani untuk memanfaatkan jerami dan


limbah organik lainnya sebagai bahan pembuatan kompos
menggunakan APPO, untuk memperbaiki kesuburan lahannya
2. Sebagai pusat/ pembelajaran bagi masyarakat dan petani,
3. Memasyarakatkan penggunaan pupuk organik
4. Sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi kelangkaan dan
tingginya harga pupuk anorganik, sehingga dapat mengurangi
beban subsidi pemerintah.
1.3. Sasaran
Sasaran kegiatan pembangunan rumah kompos dan pembuatan
mesin cacah difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pupuk di
Persemaian, Arboretum dan kegiatan penanaman dan
pemeliharaan tanaman di lahan Hutan Diklat Balai Diklat Kehutanan
Samarinda.
1.4. Pengertian
a. Rumah kompos adalah bangunan yang berfungsi untuk memproses
pengomposan sisa hasil tanaman/ jerami/ limbah kotoran ternak
menjadi pupuk organik/ kompos dan dilengkapi dengan alat
pengolah pupuk organik dan dekomposer.
b. Mikro Organisme Lokal (MOL) adalah cairan yang terbuat dari
bahan- bahan alami yang disukai tanaman sebagai media hidup
dan berkembangnya mikro organisme yang berguna untuk
mempercepat penghancuran bahan bahan organik (proses
dekomposisi menjadi kompos/pupuk organik). Disamping itu juga
dapat berfungsi sebagai tambahan nutrisi bagi tumbuhan yang
sengaja dikembangkan dari mikro organisme yang berada di
tempat tersebut.
c. Bahan organik adalah semua bahan yang berasal dari mahluk
hidup yang secara alami dapat dihancurkan jasad renik
(mikroba) di alam. Contoh bahan organik adalah seresah
tanaman, sisa hasil panen, kotoran ternak/ limbah ternak.
d. Pupuk organik/ kompos adalah pupuk yang sebagian besar atau
seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman
dan atau hewan yang telah melalui proses dekomposisi, dapat
berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai
bahan organik, memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biolog tanah.
e. Pengomposan adalah proses alami dimana bahan organik
mengalami penguraian secara biologis khususnya oleh mikroba
mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber
energi.
f. Persyaratan mutu pupuk organik adalah C/N Rasio 10-25 %
sebagaimana persyaratan teknis minimal yang ditetapkan oleh
Menteri Pertanian Nomor : 02/Pert/HK.060/2/2006.

II. RUANG LINGKUP KEGIATAN

Ruang lingkup kegiatan pengembangan rumah kompos terdiri dari :


2.1. Pembangunan rumah kompos sederhana
a. Pengadaan bahan dan material
b. Konstruksi rumah kompos
2.2. Pembuatan sarana penunjang
a. Alat Pengolah Pupuk Organik (APPO)/ Mesin Pencincang,
b. Dekomposer (MOL)

III. SPESIFIKASI TEKNIS

3.1. Rumah Kompos


a. Norma
Pembangunan rumah kompos diarahkan pada lahan yang berada
sekitar Kantor Balai Diklat Kehutanan Samarinda untuk
memenuhi kebutuhan suplay pupuk di persemaian dan
arboretum serta sebagai contoh atau tempat praktek pelatihan
teknik pembuatan pupuk kompos.
b. Standar teknis
1. Rumah Kompos
Luas tanah minimal 25 m2, terdiri dari :
- Luas bangunan rumah kompos minimal 4 x 4 meter persegi
- Sisanya untuk lahan dekomposisi
- Instalasi listrik dan air sesuai dengan kebutuhan rumah
kompos
Bahan bangunan terbuat dari :
- Tiang Balok Ulin 8 x 8 cm (9 Batang)
- Paku atau baut Ulin
- Dinding Papan Ulin panjang 2 meter x lebar 20 cm (75
Keping)
- Balok Kayu Biasa (untuk serumbung atap) 6 Batang
- Atap seng 15 lembar
- Lantai Semen (Semen 8 Sak dan pasir 2 Ret)
- Pipa Paralon 20 inci 6 Batang
2. APPO (Mesin Pencincang)
- Kapasitas minimal 750 kg/jam untuk jerami atau minimal 500
kg/jam untuk bahan organik lainnya.
- Bahan Pisau : Baja Besi Eks Per Mobil panjang 40 cm 4
(empat) Buah
- Bahan Kuda-kuda : Besi Siku 4 inci
- Bahan Bodi : Plat Seng
- Fungsi : Pencacah, Penghancur dan menghaluskan bahan
organic
- Mesin penggerak menggunakan manual (kayuh
sepeda)/mesin
3. Dekomposer/ Mikro Organisme Lokal (MOL)
- Fungsi dekomposer sebagai bahan utama pembuatan MOL
untuk proses dekomposisi bahan organik menjadi kompos,
berbentuk padat maupun cair.
- Dalam proses pembuatan MOL diperlukan penyediaan drum
plastik bertutup dan clam 2 (dua) buah, ember 1 (buah),
bahan baku lokal pembuatan MOL.
c. Kriteria
- Di area lokasi memiliki potensi sumber bahan baku pembuatan
kompos, terutama jerami/ limbah panen atau limbah ternak

IV. PELAKSANAAN KEGIATAN


4.1. Cara Pelaksanaan
Mekanisme pelaksanaan pembangunan rumah kompos, pembuatan
APPO (mesin cacah) dan MOL (Mikro Organisme Lokal) dilakukan
secara swakelola oleh staf Seksi Sarana dan Prasarana Hutan Diklat
Balai Diklat Kehutanan Samarinda yang dengan melibatkan
sebagian partisipasi masyarakat. Dengan mekanisme ini
diharapkan dapat ditumbuhkan semangat kebersamaan, rasa
memiliki dan melestarikan/ memelihara rumah kompos.

4.2. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan


Jadwal kegiatan ini mepertimbangkan urutan kegiatan,
ketersediaan sumberdaya, ketersediaan bahan organik dan lain-lain
yaitu :
• Pembuatan Rumah Kompos dilakukan selama 7 (tujuh) hari
kalender dengan tenaga kerja sebanyak 2 (dua) orang pelaksana
dan 1 (satu) orang pengawas.
• Pembuataan APPO (Mesin Cincang) dilakukan selama 10
(sepuluh) hari kalender dengan tenaga kerja sebanyak 2 (dua)
orang pelaksana dan 1 (satu) orang pengawas.
• Pembuatan Decomposer (MOL) dilakukan selama 8 (delapan) hari
dengan tenaga kerja sebanyak 2 (dua) orang pelaksana dan 1
(satu) orang pengawas.
4.3. Pendanaan

Biaya pelaksanaan kegiatan pembangunan rumah kompos dan


pembuatan sarana penunjangnya dialokasikan pada DIPA 2011 Balai
Diklat Kehutanan Samarinda pada Kegiatan Pengelolaan Hutan
Diklat Tahun 2011. (sebagaimana terlampir)

V. PENUTUP

Berdasarkan perkembangan kerusakan lahan sebagai akibat dari pola


usaha pengolahan tanah yang tidak memerhatikan pengelolaan lahan
ramah lingkungan, maka sudah saatnya sisa hasil tanaman/jerami tidak
dibakar atau di bawa keluar tetapi dimanfaatkan dengan
mengembalikan ke lahan proses penguraian dalam bentuk kompos.

Mengingat penyediaan kompos memerlukan proses yang cepat dengan


alat pengolah pupuk organik dan sarana serta fasilitas yang mencukupi
sesuai dengan kawasan lahan, maka rumah kompos mutlak diperlukan
dalam rangka mempercepat penyediaan kompos dalam jumlah dan
waktu sesuai dengan pola tanam yang ada.

Diharapkan dengan adanya rumah kompos tersebut, maka dapat


merubah sikap dalam bercocok tanam yang berorientasi kepada
keberlanjutan dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan bahan
bahan lokal setempat.