Anda di halaman 1dari 36

pengertian ‘Ariyah

‘Ariyah menurut bahasa yaitu pinjaman, sedangkan menurut istilah


‘Ariyah ada beberapa pendapat:
1. Menurut Hanafiyah ‘ariyah adalah
‫ﻟﻤﻨﺍﻓﻊ ﻣﺤﺍﻧﺍ‬١ ‫ﺗﻤﻠﻴﻚ‬
“memiliki manfa’at secara Cuma-Cuma”
2. Menurut malikiyah ‘ariyah adalah
‫ﻣﻨﻔﻌﺖ ﺗﻤﻠﻴﻚ‬ ‫ﻻﺑﻌﻮض‬
“memiliki manfa’at dalam waktu tertentu tanpa imbalan”
3. Menurut Syafi’iyah ‘ariyah adalah
‫ﺇ ﺑﺎ ﺣﺕ ﺍﻻ ﻧﺘﻔﺎ ﻉ ﻣﻦ ﺷﺨﺺ ﻔﻴﻪ ﺃ ﻫﻠﻴﺖﺍﻠﺗﺒﺭﻉ ﺒﻪ ﺒﻘﺄ ﻋﻴﻨﻪ ﻟﻴﺭﺩ ﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻠﻤﺘﺒﺭﻉ‬
“kebolehan dalam mengambil manfa’at dari seseorang yang membebaskanya, apa
yang mungkin untuk dimanfa’atkan, serta tetap zat barangnya supaya dapat
dikembalikan kepada pemiliknya”
4. Menurut Hanabilah ‘ariyah adalah
‫ﻟﻤﺳﺘﻌﺮﺃﻭﻏﻴﺮە‬١ ‫ﻟﻔﻴﻦ ﺑﻔﻴﺮﻋﻮض ﻣﻦ‬١ ‫ﺇﺑﺍﺣﺔ ﻧﻔﻊ‬
“kebolehan memanfa’atkan suatu zat barang tanpa imbalan dari peminjam atau
yang lainya “
Dalam Surat annisa’ ayat 58
‫ﻻﻣﺍﻧﺍﺕﺈﻟﻯﺃﻫﻠﻬﺍ )ﺍﻟﻧﺴﺄ‬١١ ‫ﷲ ﻳﺃ ﻣﺮﻛﻢ ﺃ ن ﺗﻮﺩﻮ‬١ ‫) ﺇن‬
“sesungguhnya Allah memerintahkan kamu agar menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya”

1.2 Dasar Hukum ‘Ariyah


Sebenarnya ‘ariyah adalah merupakan sarana tolong menolong antara orang
yang mampu dan orang yang tidak mampu. Bahkan antara sesama orang yang
mampu dan tidak mampu pun ada kemungkinan terjadi saling meminjam. Sesuai
dengan firman Allah:
‫ﻟﺘﻘﻮﻯ)ﺍﻟﻣﺎﺋﺩﺓ‬١ ‫ﻟﺒﺮﻭ‬١ ‫ﻋﻠﻰ‬١ ‫)ﻭﺗﻌﺎﻭﻧﻮ‬
“dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa”(al maidah: 2)
2

Dan didalam hadits Rasullah :


١ ‫ﺳﺎﻣﻦﺃﺑﻰ ﻁﻠﺤﺔ ﻓﺮﻛﺒﺔ )ﺭﻭﻩﺍﻟﺒﺧﺭﻯﻭﻣﺴﻟﻡ‬١ ‫)ن ﺭﺳﻮﻻﷲ ﺻﻠﻌﻢ‬
“Rasullah meminjam kuda abi tholib dan mengendarainya”( al bukhori)
Dalam suatu riwayat ada dijelaskan bahwa pernah meminjam baju Abu
safyan dengan suatu jaminan, tidak dengan jalan merampas dan tanpa izin.
Berdasarkan dengan hadits diatas ulama fiqh ulama fiqh mengatakan bahwa
‘ariyah hukumanya Mandub( ‫ ) ﻣﻨﺩﻮﺏ‬karena melakukan ‘ariyah merupakan salah
satu bentuk ketaatan (‫ )ﺗﻌﺒﺩ‬kepada Allah SWT.
Namun para ulama mempunyai pandangan yang berbeda dalam menetapkan
asal akad yang menyebabkan peminjaman “memiliki manfa’at” barang yang
dipinjam. Peminjam itu dilakukan secara suka rela, tanpa ada imbalan dari pihak
peminjam. Oleh sebab itu peminjam berhak meminjamkan barang itu kepada orang
lain untuk dimanfa’atkan, karena manfaat barang tersebut telah menjadi miliknya,
kecuali pemilik barang membatasi pemanfaatanya bagi peminjam saja atau
melarangnya meminjamkan kepada oranglain.
Mazhab Syafi’i, Hanafi, Abu Hasan Ububilah bin hasan Al kharki
berpendapat bahwa ‘ariyah hanya bersifat memanfaatkann benda tersebut karena
itu kemanfaatanya terbatas kepada pihak kedua saja(peminjan) dan tidak boleh
dipinjamkan kepada pihak lai, namun semua Ulama sepakat bahwa benda tersebut
tidak boleh disewakan kepada orang lain.
Ulama juga berpendapat dalam menentukan hukum. Berdasarkan sifat peminjam,
jumhur ulama berpendapat bahwa pemanfaatan barang oleh peminjam terbatas
pada izin kemanfaatan yang diberikan oleh pemiliknya.
Ulama mazhab Hanafi membedakan antara ‘ariyah yang bersifat mutlak dan
terbatas. Bila benda itu dipinjamkan kepada pihak lain (pihak ketiga) maka
peminjam(pihak kedua) berkewajiban mengganti rugi (kerugian), sekiranya terjadi
kerusakan dan mengganti sepenuhnya sekiranya benda itu hilang.
3

1.3 Rukun ‘Ariyah


Jumhur ulama mengatakan rukun ‘ariyah ada empat yaitu:
1. Orang yang meminjamkan
2. Orang yang meminjam
3. Barang yang dipinjam
4. Lafaz pinjaman
Ulama Mazhab Hanafi, mengatakan bahwa rukun ‘ariyah hanya satu saja
tidak perlu kabul. Namun menurut Zufar bin Husail bin Qoiz(Ahli fiqih mazhab
hanafi) kabul tetap diperlukan yaitu yang menjadi rukun ‘ariyah adalah ijab dan
kabul. Menurut Mazhab Hanafi, rukun no 1, 2, 3 yang disebutkan jumhur ulama
diatas, bukan rukun tetapi termasuk syarat.
Mengenai syarat ‘ariyah adalah:
1. Orang yang meminjam harus orang yang berakal dan dapat (cakap) bertindak atas
nama hukum karena orang tidak berakal, tidak dapat memegang amanat. Oleh
sebab itu anak kecil, orang gila, dungu, tidak boleh mengadakan akad ‘ariyah’
2. Barang yang akan dipinjamkan bukan barang yang apabila dimanfaatkan habis.
Seperti makanan dan minuman.

1.4 Pembayaran Pinjaman

Setiap orang meminjam sesuatu kepada orang lain berarti peminjam memiliki
hutang kepada yang berpiutang(mu’ir)setiap hutang wajib dibayar sehingga
berdosalah orang yang tidak mau membayar hutang. Bahkan melalaikan
pembayaran hutang juga termasuk aniaya. Perbuatan aniaya termasuk perbuatan
dosa sebagaimana sabda Rosullah saw:
( ‫ﻣﻄﻞ ﺍﻟﻔﻨﻲ ﻆﻠﻡ‬ ( ‫ﺭﻭﺍﻩﺍﻠﺒﺨﺭﻭﻣﺴﻠﻢ‬
“orang kaya yang melalaikan membayar hutang adalah aniaya”(riwayat bukhori
muslim).

Melebihkan bayaran dari sejumlah hutang diperbolehkan, asal saja kelebihan itu
merupakan kemauan dari yang berhutang semata. Hal ini akan menjadi nilai
kebaikan yang membayar hutang. Sebagaimana sabda Rosullah saw:
‫)ﻓﺎﺀنﻣﻦ ﺧﻴﺭﻛﻢ ﺃ ﺣﺴﻛﻢ ﻗﻀﺎ )ﺭﻭﺍﻩﺍﻩﻠﺒﺠﺭﻯﻭﻣﺴﻠﻡ‬
“sesungguhnya diantara orang yang terbaik dari kamu adalah orang yang sebai-
baiknya dalam mambayar hutang”(riwayat bukhori dan muslim)
Rosullah saw perhutang hewan, kemudian beliau membayar hutang itu
dengan yang lebih besardan tua umurnya dari hewan yang beliau pinjam. Jika
penambahan tersebut dikehendaki oleh orang yang berhutangan, maka tambahan
itu tidak halal bagi yang brpiutang untuk mengambil.
Sabda Rosullah saw:

(‫ﺃﺧﺭﺟﻪﺍﻠﺒﻴﻬﻕ( ﻛﻞ ﻗﺭض ﺟﺭﻣﻬﻔﻌﺔ ﻓﻬﻭﺟﻪ ﻣن ﻭﺟﻭﻩ ﺍﻠﺭﺑﺎ‬

“Tiap-tiap piutang yang mengambil manfaatnya, maka itu adalah salah satu cara
dari sekian cara riba”(dikeluarkan oleh Baihaqi).

1.5 Membayar Pinjaman Dan Menyewakan

Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa peminjamkan benda pinjaman


kepada orang lain. Sekianpun pemiliknya belum mengizinkanya jika
penggunaanya untuk hal – hal yang tidak berlainan dengan tujuan pemakaian
pinjaman.
Menurut mazhab Hambali, peminjam boleh memanfaatkan barang pinjaman
atau siapa saja yang menggantikan statusnya selama peminjaman berlangsung,
kecuali jika barang tersebut disewakan haram hukumnya. Merupakan. Hambaliyah
menyewakan barang pinjaman tanpa seizin pemilik barang.

1.6 Tanggung Jawab Peminjam

Bila peminjam telah memegang barang-barang pinjaman, kemudian barang


tersebut rusak, ia berkewajiban menjaminya. Baik karena pemakaian yang
berlebihan maupun karena yang lainya. Demikian menurut Ibn Abbas, Aisyah,
Abu Khurairoh, Syafi’i, dan Ishaq dalam hadits yang diriwayatkan oleh samurah,
Rosullah bersabda:
‫ﻋﻠﻰﺍﻠﻴﺩﻣﺄﺧﺩﺕﺣﺘﻰﺘﻭﺩﻱ‬
“Pemegang berkewajiban menjaga apa yang ia terima hingga ia
mengembalikanya”
Sementara para pengikut Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa,
pinjaman tidak berkewajiban menjamin barang pinjamannya kecuali karena
tindakan yang berlebihan.
Sabda Rosullah saw:

‫ﻟﻴﺲﻋﻠﻰﺍﻟﻤﺴﺘﻌﻴﺮﺧﻴﺮﺍﻟﻤﻔﻞﺿﻤﺎنﻭﻩﺍﻟﻤﺴﺘﻮﺩﻉﺧﻴﺭﺍﻟﻤﻔﻞﺿﻤﺎنﺃﺧﺭ)ﺟﻪﺍﻟﺩﺍﺭﻗﻄﻨﻰ‬
“pinjaman yang tidak berhianat tidak berkewajiban mengganti kerusakan, orang
yang dititipi yang tidak berkhianat tidak berkewajiban mengganti kerusakan”
(dikeluarkan al-Daruqurhni)
http://www.canboyz.co.cc/2010/03/makalah-ariyah-dan-
pengertiannya.htmlhttp://www.canboyz.co.cc/2010/03/makalah-ariyah-dan-
pengertiannya.html

‘Ariyah menurut bahasa berarti datang dan pergi, namun ada juga yang artinya saling menukar
dan mengganti. Sedangkan menurut istilah, ulama fikih berbeda pendapat dalam
mendefenisikannya, yaitu :
Menurut Syarkasyi dan ulama Malikiyah :
Pemilikan atas manfaat suatu benda tanpa ganti
Menurut ulama Syafi’iyah dan Hambaliyah :
Pembolehan untuk mengambil manfaat tanpa ganti[1]
Jadi dapat disimpulkan bahwa ‘Ariyah adalah perbuatan pembolehan memanfaatkan barang
milik oleh seseorang kepada orang lain pada waktu tertentu tanpa ada imbalan.
Ulama sepakat ‘ariyah boleh dilakukan terhadap barang yang bermanfaat seperti rumah, hewan,
dan seluruh barang yang diperbolehkan agama untuk memanfaatkannya.
Berikut ini adalah beberapa ayat Al Qur’an yang berhubungan dengan ‘ariyah.
1. A. Surat Al Maidah : 2
ْ‫ﻦ َﺭّﺑِﻬﻢ‬ْ ‫ل ِﻣ‬ً‫ﻀ‬ْ ‫ن َﻓ‬َ ‫ﺤَﺮﺍَﻡ َﻳْﺒَﺘُغﻮ‬
َ ‫ﺖ ﺍْﻟ‬
َ ‫ﻦ ﺍْﻟَﺒْﻴ‬
َ ‫ﻻ َءﺍّﻣﻴ‬ َ ‫لِﺋَد َﻭ‬
َ ‫ﻻ ﺍْﻟَﻘ‬
َ ‫ﻱ َﻭ‬
َ ‫ﻻ ﺍْﻟَﻬْد‬
َ ‫ﺤَﺮﺍَﻡ َﻭ‬َ ‫شْﻬَﺮ ﺍْﻟ‬
ّ ‫ﻻ ﺍﻟ‬
َ ‫ﷲ َﻭ‬ ِّ ‫ﺷَﻌﺎِﺋَﺮ ﺍ‬
َ ‫ﺤّﻠﻮﺍ‬
ِ ‫ﻻ ُﺗ‬
َ ‫ﻦ َءﺍَﻣُﻨﻮﺍ‬ َ ‫َﻳﺎَﺃّﻳَﻬﺎ ﺍّﻟِذﻳ‬
َ ‫ﻋَﻠﻰ ﺍْﻟِﺒّﺮ َﻭﺍﻟّﺘْﻘَﻮﻯ َﻭ‬
‫ﻻ‬ َ ‫ن َﺗْﻌَﺘُدﻭﺍ َﻭَﺗَﻌﺎَﻭُﻧﻮﺍ‬ ْ ‫ﺤَﺮﺍِﻡ َﺃ‬
َ ‫ﺠِد ﺍْﻟ‬
ِ‫ﺴ‬ ْ ‫ﻦ ﺍْﻟَﻤ‬
ِ‫ﻋ‬َ ‫ﺻّدﻭُﻛْﻢ‬ َ ‫ن‬ ْ ‫ن َﻗْﻮٍﻡ َﺃ‬
ُ ‫ﺷَﻨآ‬
َ ‫ﺠِﺮَﻣّﻨُكْﻢ‬ْ ‫ﻻ َﻳ‬
َ ‫ﻄﺎُﺩﻭﺍَﻭ‬
َ‫ﺻ‬ ْ ‫ﺣَﻠْﻠُﺘْﻢ َﻓﺎ‬
َ ‫ﺿَﻮﺍًﻧﺎ َﻭِﺇَذﺍ‬
ْ ‫َﻭِﺭ‬
ِ ‫ﺷِدﻳُد ﺍْﻟِﻌَﻘﺎ‬
‫ﺏ‬ َ ‫ﷲ‬
َّ ‫ن ﺍ‬ّ ‫ﷲ ِﺇ‬
َّ ‫ن َﻭﺍّﺗُﻘﻮﺍ ﺍ‬ِ ‫لْثِﻢ َﻭﺍْﻟُﻌْدَﻭﺍ‬
ِْ ‫ﻋَﻠﻰ ﺍ‬َ ‫َﺗَﻌﺎَﻭُﻧﻮﺍ‬
Arti : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan
jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang
had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang
mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan
apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-
kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari
Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu
dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa
dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-
Nya
Menurut keterangan yang terdapat dalam tafsir Al Misbah karangan M. Quraish Shihab
menyatakan bahwa di dalam ayat ini Allah menyeru orang-orang beriman : Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu melanggar syari’at-syari’at Allah dalam ibadah haji dan umrah
bahkan semua ajaran agama, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, yaitu Dzul
Qa’idah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab, jangan menganggu binatang Al Hadya, yaitu
binatang yang akan disembelih di Mekah dan sekitarnya. Demikian juga jangan menganggu Al
Qala’id, yaitu binatang-binatang yang dikalungi lehernya sebagai tanda bahwa ia adalah binatang
persembahan yang sangat istimewa dan juga jangan menganggu pengunjung Baitullah, yakni
siapa yang ingin melaksanakan ibadah haji atau umrah sedang mereka melakukan hal tersebut
dalam hal mencari dengan sungguh-sungguh karunia keuntunga duniawai dan keridhaan
ganjaran yang Ukhrawi dari Tuhan mereka.
Apabila kamu telah bertahallul menyelesaikan ritual ibadah haji atau umrah atau karena satu dan
lai sebab sehingga kamu tidak menyelesaikan ibadah kamu, misalnya karena sakit atau terkepung
musuh, maka berburulah jika kamu mau.
Dan janganlah sekali-kali kebencian yang telah mencapai puncaknya sekalipun kepada suatu
kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Mesjid Haram, mendorong kamu berbuat
aniaya kepada mereka atau selain mereka. Dan toleong menolonglah kamu dalam mengerjakan
kebajikan, yakni segala macam bentuk dan macam hal yang membawa kepada kemaslahatan
duniawi atau ukhrawi dan demikian juga tolong menolonglah dalam ketakwaan, yakni segala
upaya yang dapat menghindarkan bencana duniawi dan ukhrawi, walaupun dengan orang yang
yang tidak seiman dengan kamu, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah maha berat siksa-Nya.
[2]
Dalam ayat ini, terdapat firman-Nya yang berarti “ Dan tolong menolonglah kamu dalam
kebajikan dan ketakwaan, jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran”. Ini adalah
merupakan prinsip dasar dalam menjalin kerjasama dengan siapapun, selama tujuannya adalah
kebajikan dan ketakwaan.
Firman Allah ini merupakan dasar hukum ‘Ariyah (pinjam meminjam) karena dapat saling
tolong menolong sesama manusia selama berada dalam kebajikan. Bila diperhatikan ayat kedua
surat Al Maidah ini, secara nyata disana disebutkan bahwa perbuatan tolong menolong tidak
mutlak berlaku atas semua perbuatan. Secara jelas ayat tersebut mengungkapkan bahwa dalam
lapangan perbuatan yang bersifat tercela, tolong menolong itu malah dilarang. Dalam soal
hukum sesuatu persoalan, para ulama pun selalu menekankan bahwa ketentuan-ketentuan hukum
tentang suatu masalah amat berkaitan erat dengan illat hukum, sehingga dikatakan bahwa adanya
hukum itu ditentukan oleh ada atau tidak adanya illat. Dalam kerangka ini pun, ‘ariyah tidak
pula terlepas dari illat hukum.
Sehubungan dengan itu, ‘ariyah bias menjadi wajib atas seseorang yang mempunyai kelebihan
harta untuk meminjamkannya kepada seseorang yang sangat membutuhkan, yang mana jika
orang itu tidak diberi pinjaman akan menyebabkan ia teraniaya atau akan berbuat sesuatu yang
dilarang agama, seperti ia kan mencuri karena ketiadaan biaya untuk mencukupi kebutuhan
hidupnya. Akan tetapi bila seseorang memberikan pinjaman yang mana dengan meminjamkan
hartanya itu ia bermaksud menganiaya peminjam itu untuk berbuat maksiat, maka hukum ‘ariyah
menjadi haram. Dengan demikian, didasarkan paa kondisi-kondisi yang amat bervariasi, hukum
pinjam meminjam pun bisa sangat bervariasi pula, seperti wajib, haram, makruh, ataupun mubah.
[3]
Asbabun Nuzul ayat :
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Al Hathm bin Hind Al Bakri dating ke madinah
membawa kafilah yang penuh dengan makanan, dan memperdagangkannya. Kemudian ia
menghadap Rasulullah SAW untuk masuk Islam dan berbai’at (sumpauh setia). Setelah ia
pulang, Rasulullah SAW bersabda kepada orang-orang yang ada pada waktu itu bahwa ia masuk
ke sini dengan muka seorang penjahat dan pulang dengan punggung pengkhianat. Dan sesudah ia
sampai ke Yamamah, ia pun murtad dari Islam.
Pada suatu waktu di bulan Dzul Qaidah, ia (Al Hathm) berangkat membawa kafilah yang penuh
dengan makanan ke menuju Mekah. Ketika para sahabat Rasul mendengar berita kepergiannya
ke Mekah, bersiaplah segolongan kaum muhajirin dan anshar untuk mencegat mereka. Akan
tetapi turunlah ayat ini ( Al Maidah : 2 ) yang melarang perang pada bulan haram. Pasukan
itupun tidak jadi mencegatnya.[4]
1. B. Surat An Nisa’ : 58
‫ﺳِﻤﻴًﻌﺎ‬
َ ‫ن‬ َ ‫ﷲ َﻛﺎ‬
َّ ‫ن ﺍ‬
ّ ‫ظُكْﻢ ِﺑِﻪ ِﺇ‬
ُ ‫ﷲ ِﻧِﻌّﻤﺎ َﻳِﻌ‬
َّ ‫ن ﺍ‬
ّ ‫ل ِﺇ‬
ِ ‫ﺤُكُﻤﻮﺍ ِﺑﺎْﻟَﻌْد‬
ْ ‫ن َﺗ‬
ْ ‫س َﺃ‬
ِ ‫ﻦ ﺍﻟّﻨﺎ‬
َ ‫ﺣَكْﻤُﺘْﻢ َﺑْﻴ‬
َ ‫ﺕ ِﺇَﻟﻰ َﺃْﻫِﻠَﻬﺎ َﻭِﺇَذﺍ‬
ِ ‫لَﻣﺎَﻧﺎ‬
َْ ‫ن ُﺗَؤّﺩﻭﺍ ﺍ‬
ْ ‫ﷲ َﻳْﺄُﻣُﺮُﻛْﻢ َﺃ‬
َّ ‫ن ﺍ‬
ّ ‫ِﺇ‬
‫صﻴًﺮﺍ‬ِ ‫َﺑ‬
Arti : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya
kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya
kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Di dalam Al Maraghi dijelaskan tentang ayat ini, bahwa :
‫ﺕ ِﺇَﻟﻰ َﺃْﻫِﻠَﻬﺎ‬
ِ ‫لَﻣﺎَﻧﺎ‬
َْ ‫ن ُﺗَؤّﺩﻭﺍ ﺍ‬
ْ ‫ﷲ َﻳْﺄُﻣُﺮُﻛْﻢ َﺃ‬
َّ ‫ن ﺍ‬
ّ ‫ِﺇ‬
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya
Ada macam-macam amanat yang terkandung dari ayat ini, yaitu :
Pertama : Amanat hamba dengan Tuhannya, yaitu apa yang telah dijanjikan Allah kepadanya
untuk dipelihara, berupa melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan
menggunakan segala perasaan dan anggota badannya untuk hal-hal yang bermanfaat baginya dan
mendekatkannya kepada Tuhan.
Kedua : Amanat hamba dengan sesama manusia, diantaranya adalah mengembalikan titipan
kepada pemiliknya, tidak menipu, menjaga rahasia dan lain sebagainya yang wajib dilakukan
terhadap keluarga, manusia pada umumnya dan pemerintah. Termasuk di dalamnya keadilan
umara terhadap rakyatnya, dan keadilan para ulama terhadap orang-orang awam dengan
membimbing mereka kepada keyakinan dan pekerjaan yang berguna bagi meeka di dunia dan di
akhirat seperti pendidikan yang baik, mencari rizki yang halal, memberikan nasehat dan hukum-
hukum yang menguatkan keimanan, menyelamatkan mereka dari berbagai kejahatan dan dosa
serta mendorong mereka untuk berbuat kebajikan.
Ketiga : Amanat manusia terhadap dirinya sendiri, seperti hanya memili yang paling pantas dan
bermanfaat bagi dirinya dalam masalah agama dan dunianya, tidak langsung mengerjakan hal
yang berbahaya baginya di dunia dan akhirat, serta menghindarkan berbagai penyakit sesuai
dengan pengetahuan dan petunjuk dokter,
‫ﺤُكُﻤﻮﺍ ِﺑﺎْﻟَﻌْدل‬
ْ ‫ن َﺗ‬
ْ ‫س َﺃ‬
ِ ‫ﻦ ﺍﻟّﻨﺎ‬
َ ‫ﺣَكْﻤُﺘْﻢ َﺑْﻴ‬
َ ‫َﻭِﺇَذﺍ‬
dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan
dengan adil
Di dalam banyak ayat, Allah memerintahkan untuk berbuat adil. Diantaranya seperti dalam ayat :
‫ﺏ ِﻟﻠّﺘْﻘَﻮﻯ‬
ُ ‫ﻋِدُﻟﻮﺍ ُﻫَﻮ َﺃْﻗَﺮ‬
ْ‫ﺍ‬
“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” ( Al Maidah : 8 )
ِ‫ﺴ‬
‫ط‬ْ ‫ﻦ ِﺑﺎْﻟِﻘ‬
َ ‫ُﻛﻮُﻧﻮﺍ َﻗّﻮﺍِﻣﻴ‬
“Jadilah kalian orang yang benar-benar menegakkan keadilan” ( An Nisa’ : 135 )
Pemutusan perkara diantara manusia mempunyai banyak jalan, diantaranya ialah : pemerintahan
secara umum, pengadilan, dan bertahkim kepada seseorang untuk memutuskan perkara antara
dua orang yang bersengketa dalam perkara tertentu.
Kemudian Allah menerangkan keadilan dan penyampaian amanat. Dia berfirman :
‫ظُكْﻢ ِﺑِﻪ‬
ُ ‫ﷲ ِﻧِﻌّﻤﺎ َﻳِﻌ‬
َّ ‫ن ﺍ‬
ّ ‫ِﺇ‬
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu
Sebaik-baik sesuatu yang dinasihatkan kepada kalian adalah menyampaikan amanat dan
memutuskan perkara dengan adil diantara manusia. Sebab Dia tidak menasihatkan kecuali yang
mengandung kebaikan, keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
‫صﻴًﺮﺍ‬
ِ ‫ﺳِﻤﻴًﻌﺎ َﺑ‬
َ ‫ن‬
َ ‫ﷲ َﻛﺎ‬
َّ ‫ن ﺍ‬
ّ ‫ِﺇ‬
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Kalian wajib menjalankan segala apa yang diperintahkan dan dinasihatkan Allah, karena Dia
lebih mengetahui daripada kalian tentang segala apa yang terdengar dan terlihat.[5]
Pada ayat ini yang berhubungan dengan ‘ariyah adalah “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”. Yang mana dijelaskan bahwa
‘ariyah berpegang pada prinsip saling menguntungkan antara orang yang berakad maka dalam
suatu transaksi tidak boleh ada yang dirugikan. Dengan demikian pihak yang meminjam
berkewajiban mengganti barang pinjaman yang rusak selama barang tersebut masih ada dalam
kekuasaannya. Karena peminjam telah memperoleh manfaat dari barang yang dipinjamnya.
‘Ariyah atau pinjam meminjam merupakan keizinan pemanfaatn barang untuk sementara waktu
bukan pemindahan milik. Apabila telah habis waktu yang ditentukan, maka peminjam wajib
mengembalikan barang pinjamannya kepada pemilik barang. Karena pada hakikatnya barang
pinjaman merupakan amanat yang wajib dikembalikan, sesuai dengan surat An Nisa’ ayat 58.[6]
Asbabun Nuzul ayat :
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa setelah fathul makkah, Rasulullah SAW memanggil
Utsman bin Talhah untuk meminta kunci ka’bah. Ketika Utsman dating menghadap Rasul untuk
menyerahkan kunci itu, berdirilah Al Abbas seraya berkata : “Ya Rasulullah, demi Allah,
serahkan kunci itu kepadaku. Saya akan merangkap jabatan itu dengan jabatan urusan
pengairan”.Utsman menarik kembali tangannya. Maka bersabdalah Rasulullah :”Berikanlah
kunci itu kepadaku, wahai Utsman !” Utsman berkata : “Inilah dia amanat dari Allah”. Maka
berdirilah Rasulullah membuka ka’bah dan kemudian keluar untuk thawaf di baitullah. Lalu
turunlah Jibril membawa perintah supaya kunci itu diserahkan kepad Utsman. Rasulullah
melaksanakan perintah itu sambil membaca surat An Nisa’ ayat 58.[7]
1. C. Surat Al Baqarah : 282
ُّ‫ﻋّﻠَﻤُﻪ ﺍﷲ‬ َ ‫ب َﻛَﻤﺎ‬ َ ‫ن َﻳْكُﺘ‬ ْ ‫ب َﺃ‬ٌ ‫ﺏ َﻛﺎِﺗ‬ َ ‫ﻻ َﻳْﺄ‬ َ ‫ل َﻭ‬ ِ ‫ب ِﺑﺎْﻟَﻌْد‬
ٌ ‫ب َﺑْﻴَﻨُكْﻢ َﻛﺎِﺗ‬ ْ ‫ﺴّﻤﻰ َﻓﺎْﻛُﺘُﺒﻮُﻩ َﻭْﻟَﻴْكُﺘ‬ َ ‫ﻞ ُﻣ‬ٍ‫ﺟ‬ َ ‫ﻦ ِﺇَﻟﻰ َﺃ‬ ٍ ‫ﻦ َءﺍَﻣُﻨﻮﺍ ِﺇَذﺍ َﺗَدﺍَﻳْﻨُﺘْﻢ ِﺑَدْﻳ‬ َ ‫َﻳﺎَﺃّﻳَﻬﺎ ﺍّﻟِذﻳ‬
ّ ‫ن ُﻳِﻤ‬
‫ﻞ‬ ْ ‫ﻄﻴُﻊ َﺃ‬ ِ ‫ﺴَﺘ‬
ْ ‫ﻻ َﻳ‬ َ ‫ﺿِﻌﻴًﻔﺎ َﺃْﻭ‬ َ ‫ﺳِﻔﻴًﻬﺎ َﺃْﻭ‬ َ ‫ق‬ ّ‫ﺤ‬ َ ‫ﻋَﻠْﻴِﻪ ﺍْﻟ‬
َ ‫ن ﺍّﻟِذﻱ‬ َ ‫ن َﻛﺎ‬ ْ ‫ﺷْﻴًئﺎَﻓِﺈ‬
َ ‫ﺲ ِﻣْﻨُﻪ‬ ْ ‫ﺨ‬ َ ‫ﻻ َﻳْﺒ‬
َ ‫ﷲ َﺭّﺑُﻪ َﻭ‬ َّ ‫ق ﺍ‬ ِ ‫ق َﻭْﻟَﻴّﺘ‬ ّ‫ﺤ‬ َ ‫ﻋَﻠْﻴِﻪ ﺍْﻟ‬
َ ‫ﻞ ﺍّﻟِذﻱ‬ ِ ‫ب َﻭْﻟُﻴْﻤِﻠ‬ْ ‫َﻓْﻠَﻴْكُﺘ‬
ّ‫ﻀ‬
‫ﻞ‬ ِ ‫ن َﺗ‬ ْ ‫شَﻬَدﺍِء َﺃ‬ّ ‫ﻦ ﺍﻟ‬ َ ‫ن ِﻣ‬ َ ‫ﺿْﻮ‬َ ‫ﻦ َﺗْﺮ‬ ْ ‫ن ِﻣّﻤ‬ ِ ‫ﻞ َﻭﺍْﻣَﺮَﺃَﺗﺎ‬ ٌ‫ﺟ‬ ُ ‫ﻦ َﻓَﺮ‬
ِ ‫ﺟَﻠْﻴ‬
ُ ‫ن َﻟْﻢ َﻳُكﻮَﻧﺎ َﺭ‬ ْ ‫ﺟﺎِﻟُكْﻢ َﻓِﺈ‬
َ ‫ﻦ ِﺭ‬ ْ ‫ﻦ ِﻣ‬ِ ‫ﺷِﻬﻴَدْﻳ‬َ ‫شِﻬُدﻭﺍ‬ ْ ‫ﺳَﺘ‬ْ ‫ل َﻭﺍ‬ ِ ‫ﻞ َﻭِﻟّﻴُﻪ ِﺑﺎْﻟَﻌْد‬ْ ‫ُﻫَﻮ َﻓْﻠُﻴْﻤِﻠ‬
ِّ ‫ﻋْﻨَد ﺍ‬
‫ﷲ‬ ِ ‫ط‬ ُ‫ﺴ‬ َ ‫ﺟِﻠِﻪ َذِﻟُكْﻢ َﺃْﻗ‬َ ‫ﺻِغﻴًﺮﺍ َﺃْﻭ َﻛِﺒﻴًﺮﺍ ِﺇَﻟﻰ َﺃ‬ َ ُ‫ن َﺗكُْﺘُﺒﻮﻩ‬ ْ ‫ﺴَﺄُﻣﻮﺍ َﺃ‬ ْ ‫ﻻ َﺗ‬ َ ‫ﻋﻮﺍ َﻭ‬ ُ ‫شَﻬَدﺍُء ِﺇَذﺍ َﻣﺎ ُﺩ‬ ّ ‫ﺏ ﺍﻟ‬ َ ‫ﻻ َﻳْﺄ‬َ ‫ﺧَﺮﻯ َﻭ‬ ْ‫ل‬ ُْ ‫ﺣَدﺍُﻫَﻤﺎ ﺍ‬ ْ ‫ﺣَدﺍُﻫَﻤﺎ َﻓُﺘَذّﻛَﺮ ِﺇ‬ ْ ‫ِﺇ‬
‫ﻻ َﺗْكُﺘُﺒﻮَﻫﺎ‬ّ ‫ح َﺃ‬
ٌ ‫ﺟَﻨﺎ‬ُ ‫ﻋَﻠْﻴُكْﻢ‬ َ ‫ﺲ‬ َ ‫ﺿَﺮﺓً ُﺗِدﻳُﺮﻭَﻧَﻬﺎ َﺑْﻴَﻨُكْﻢ َﻓَﻠْﻴ‬ ِ ‫ﺣﺎ‬ َ ‫ﺠﺎَﺭًﺓ‬ َ ‫ن ِﺗ‬
َ ‫ن َﺗُكﻮ‬ ْ ‫ﻻ َﺃ‬ّ ‫ﻻ َﺗْﺮَﺗﺎُﺑﻮﺍ ِﺇ‬ ّ ‫ﻻ َﺗْﺮَﺗﺎُﺑﻮﺍَﻭَﺃْﺩَﻧﻰ َﺃ‬ ّ ‫شَﻬﺎَﺩِﺓ َﻭَﺃْﺩَﻧﻰ َﺃ‬ ّ ‫ﻭََﺃْﻗَﻮُﻡ ِﻟﻠ‬
‫ﻋِﻠﻴٌﻢ‬
َ ‫ﻲٍء‬ ْ ‫ﺷ‬َ ‫ﻞ‬ ّ ‫ﷲ ِﺑُك‬ُّ ‫ﷲ َﻭﺍ‬ ُّ ‫ﷲ َﻭُﻳَﻌّﻠُﻤُكُﻢ ﺍ‬ َّ ‫ﻕ ِﺑُكْﻢ َﻭﺍّﺗُﻘﻮﺍ ﺍ‬ ٌ ‫ﺴﻮ‬ ُ ‫ن َﺗْﻔَﻌُﻠﻮﺍ َﻓِﺈّﻧُﻪ ُﻓ‬ ْ ‫ﺷِﻬﻴٌد َﻭِﺇ‬ َ ‫ﻻ‬ َ ‫ب َﻭ‬ٌ ‫ﻀﺎّﺭ َﻛﺎِﺗ‬ َ ‫ﻻ ُﻳ‬ َ ‫ﺷِﻬُدﻭﺍ ِﺇَذﺍ َﺗَﺒﺎَﻳْﻌُﺘْﻢ َﻭ‬ ْ ‫َﻭَﺃ‬
Arti : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah[179] tidak secara tunai untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di
antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya
sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang
berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada
Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang
berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu
mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah
dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki,
maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai,
supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu
enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis
hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih
adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan)
keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang
kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya.
Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit
menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu
kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.
Dalam tafsir Al Misbah disebutkan bahwa surat Al Baqarah ayat 282 ini dimulai dengan seruan
Allah SWT kepada kaum yang menyatakan beriaman, Hai orang-orang yang beriman, apabila
kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu
menulisanya.
Perintah ayat ini secara redaksional ditujukan bagi orang yang beriman, tetapi yang dimaksud
adalah mereka yang melakukan transaksi hutang piutang, bahkan secara lebih khusus adalah
berhutang. Ini agar yang member piutang merasa lebih tenang dengan penulisan itu.
Kata tadayantum yang ada pada ayat diterjemahkan dengan bermuamalah. Kata ini memiliki
banyak arti tetapi makna yang terkandung di dalamnya selalu menggambarkan hubungan antar
dua pihak, salah satunya berkedudukan lebih tinggi dan satunya berkedudukan lebih rendah.
Muamalah yang dimaksud adalah muamalah yang tidak secara langsung, yakni hutang piutang.
Selanjutnya Allah menegaskan : Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menulisnya
dengan adil, yakni dengan benar, tidak menyalahi ketentuan Allah dan perundangan yang
berlaku di masyarakat. Tidak juga merugikan salah satu pihak yang bermuamalah. Selanjutnya
kepada para penulis diingatkan, agar janganlah enggan menulisnya sebagai tanda syukur, sebab
Allah telah mengajarkannya hendaklah ia menulis.
Setelah menjelaskan tentang penulisan, maka uraian berikut adalah menyangkut persaksian, baik
dalam menulis maupun selainnya. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara
kamu. Ini berarti bahwa saksi yang dimaksud adalah benar-benar yang wajar serta telah dikenal
kejujurannya sebagai saksi.
Pada kelanjutan ayat disebutkan : Dan janganlah saksi-saksi itu enggan apabila dipanggil, karena
kengganannya dapat mengakibatkan hilangnya hak atau terjadi korban. Kata kalimat berikutnya :
Janganlah yang bermuamalah memudharatkan para saksi dan penulis, karena dengan hal tersebut
membuat para saksi dan penulis kehilangan pekerjaannya, oleh itu tidak ada salahnya
memberikan mereka biaya transportasi atau semacamnya. Lalu di lanjutkan dengan kata-kata :
Jika kamu melakukan yang demikian maka sesungguhnya itu adalah kefasikan pada dirimu.[8]
Dalam ayat ini, jelas tergambar bahwa segala transaksi yang terjadi di upayakan untuk
mengadakan pencatatannya. Seperti dalam “ariyah diharapkan segala hal yang terjadi di catat
dengan mendatangkan saksi sehingga tidak terjadi kesalahan di kemudian hari dengan adanya
pencatatan tersebut. Karena jika suatu hari peminjam berkilah bahwa ia tidak pernah meminjam
dapat dibuktikan dengan adanya catatan tersebut serta dengan adanya saksi.

‘ARIYAH ( Pinjam-meminjam )
Sebagai manusia kita tidak akan pernah dipisahkan dengan yang namanya pinjam-
meminjam atau ‘ariyah. Karena kita bahwa semua yang kita butuhkan itu tidak
semuanya kita memilikinya. Oleh karena itulah maka adanya pinjam-meminjam
atau ‘ariyah. Dalam makalah ini kami akan menjelaskan rukun, syarat, dan dalil-
dalil yang membahas mengenai ‘ariyah atau pinjam-meminjam.

Menurut Bahasa ‘ariyah adalah memberi manfaat tanpa imbalan. Sedangkan


‘ariyah menurut syara’ ialah memberikan manfaat dari sesuatu yang halal
dimanfaatkan kepada orang lain, dengan tidak merusakkan zatnya, agar zat barang
itu nantinya bisa dikembalikan lagi kepada yang mempunyai. Tiap-tiap yang
mungkin diambil manfaatnya dengan tidak merusakkan zat barang itu, boleh
dipinjam atau dipinjamkan.

‘Ariyah disyariatkan berdasarkan dalil-dalil berikut :


- Firman Allah Ta’ala
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan taqwa kepada Allah dan
janganlah kamu bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan bermusuhan.” (Al
Maidah : 2)

- Firman Allah Ta’ala


“Dan enggan(menolong dengan) barang berguna.” (Al Ma’un : 7)

- Sabda Rosulullah SAW


“Pinjaman wajib dikembalikan dan orang yang menjamin sesuatu harus membayar”
(riwayat Abu Daud dan Tirmidzi)

Hukum ‘Ariyah
Hukum ‘ariyah adalah sunnah berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat Al
Maidah ayat 2, akan tetapi bisa jadi ‘ariyah itu hukumnya menjadi wajib, misalnya
meminjamkan pisau untuk menyembelih binatang yang hampir mati. Dan
hukumnya bisa haram apabila barang yang dipinjam itu digunakan untuk sesuatu
yang haram atau dilarang oleh agama. Karena jalan menuju sesuatu, hukumnya
sama dengan hukum yang dituju.

Diantara hukum-hukum ‘ariyah adalah sebagai berikut :

1. Sesuatu yang dipinjamkan harus sesuatu yang mubah(diperbolehkan). Jadi


seseorang tidak boleh meminjamkan budak wanita kepada orang lain untuk digauli
atau seseorang tidak boleh meminjamkan orang muslim untuk melayani orang kafir
atau meminjamkan parfum haram atau pakaian yang diharamkan, karena Allah
Ta’ala berfirman :
“Dan jangan kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al
Maidah:2)

2. Jika mu’ir (pihak yang meminjamkan) mengisyaratkan bahwa musta’ir


(peminjam) berkewajiban mengganti barang yang dipinjam jika dia merusak barang
yang dipinjam, maka musta’ir wajib menggantinya, karena Rosulullah SAW
bersabda :

“Kaum muslimin itu berdasarkan syarat-syarat mereka.”(riwayat Abu Daud dan Al


Hakim)

Jika mu’ir tidak mengisyaratkan, kemudian barang pinjaman rusak bukan karena
kesalahan musta’ir atau tidak karena disengaja, maka musta’ir tidak wajib
mengganti, hanya saja dia disunnahkan untuk menggantinya, karena Rosulullah
SAW bersabda kepada salah seorang istrinya yang telah memecahkan salah Satu
tempat makanan.

“makanan dengan makanan dan tempat dengan tempat.” (diriwayatkan Al


Bukhari).

Namun jika kerusakannya hanya sedikit disebabkan karena dipakai dengan izin
tidaklah patut diganti, karena terjadinya sebab pemakaian yang diizinkan.(ridlo
kepada sesuatu berarti ridlo pula kepada akibatnya).

Jika barang pinjaman mengalami kerusakan karena kesalahan dan disengaja oleh
musta’ir, dia wajib menggantinya dengan barang yang sama atau dengan uang
seharga barang pinjaman tersebut, karena Rosulullah SAW bersabda :

“Tangan berkewajiban atas apa yang diambilnya hingga ia menunaikannya.”


(Diriwayatkan Abu Daud, At Tirmidzi dan Al Hakim yang men-shahih-kannya).

3. Musta’in (peminjam) harus menanggung biaya pengangkutan barang pinjaman


ketika ia mengembalikannya kepada mu’ir jika barang pinjaman tersebut tidak bisa
diangkut kecuali oleh kuli pengangkut atau dengan taksi.
Rosulullah bersabda :

“Tangan berkewajiban atas apa yang diambilnya hingga ia


menunaikannya.”(diriwayatkan Abu Daud, At Tarmidzi dan Al Hakim)

4. Musta’in tidak boleh menyewakan barang yang dipinjamnya. Adapun


meminjamkannya kepada orang lain dibolehkan, dengan syarat mu’in
merelakannya.
5. Pada tiap-tiap waktu, yang meminjam ataupun yang meminjamkan boleh
memutuskan aqad asal tidak merugikan kepada salah seorang di antara keduanya.
Jika seseorang meminjamkan kebun untuk dibuat tembok, ia tidak boleh meminta
pengembalian kebun tersebut hingga tembok tersebut roboh. Begitu juga orang
yang meminjamkan sawah untuk ditanami, ia tidak boleh meminta pengembalian
sawah tersebut hingga tanaman yang ditanam diatas sawah tersebut telah dipanen,
karena menimbulkan mudharat kepada seorang muslim itu haram.

6. Barang siapa meminjamkan sesuatu hingga waktu tertentu, dia disunahkan tidak
meminta pengembaliannya kecuali setelah habisnya batas waktu peminjaman.

Rukun Meminjamkan :

1. Ada yang meminjamkan, syaratnya yaitu :


a. Ahli (berhak) berbuat kebaikan sekehendaknya. Anak kecil dan orang yang
dipaksa, tidak sah meminjamkan.
b. Manfaat barang yang dipinjamkan dimiliki oleh yang meminjamkan, sekalipun
dengan jalan wakaf atau menyewa karena meminjam hanya bersangkutan dengan
manfaat, bukan bersangkutan dengan zat. Oleh karena itu, orang yang meminjam
tidak boleh meminjamkan barang yang dipinjamnya karena manfaat barang yang
dipinjamnya bukan miliknya. Dia hanya diizinkan mengambilnya tetapi membagikan
manfaat yang boleh diambilnya kepada yang lain, tidak ada halangan. Misalnya dia
meminjam rumah selama 1 bulan tetapi hanya ditempati selama 15 hari, maka
sisanya boleh diberikan kepada orang lain.

2. Ada yang meminjam, hendaklah seorang yang ahli (berhak) menerima kebaikan.
Anak kecil dan orang gila tidak sah meminjam sesuatu karena ia tidak ahli (tidak
berhak) menerima kebaikan.

3. Ada barang yang dipinjam, syaratnya :


a. Barang yang benar-benar ada manfaatnya
b. Sewaktu diambil manfaatnya, zatnya tetap (tidak rusak).
4. Ada lafadz. Menurut sebagian orang sah dangan tidak berlafadz.

Syarat Sahnya ‘Ariyah :

Untuk sahnya ‘ariyah ada empat syarat yang wajib dipenuhi :


1. Pemberi pinjaman hendaknya orang yang layak berbaik hati. Oleh karena itu,
‘ariyah yang dilakukan oleh orang yang sedang ditahan hartanya tidak sah.

2. Manfaat dari barang yang dipinjamkan itu hendaklah milik dari yang
meminjamkan. Artinya, sekalipun orang itu tidak memiliki barang, hanya memiliki
manfaatnya saja, dia boleh meminjamkannya, karena meminjam hanya bersangkut
dengan manfaat, bukan bersangkut dengan zat.

3. Barang yang dipinjamkan hendaklah ada manfaatnya. Maka tidak sah


meminjamkan barang yang tidak berguna. Karena sia-sia saja tujuan peminjaman
itu.

4. Barang pinjaman harus tetap utuh, tidak boleh rusak setelah diambil manfaatnya,
seperti kendaraan, pakaian maupun alat-alat lainnya. Maka tidak sah meminjamkan
barang-barang konsumtip, karena barang itu sendiri akan tidak utuh, seperti
meminjamkan makanan, lilin dan lainnya. Karena pemanfaatan barang-barang
konsumtip ini justru terletak dalam menghabiskannya. Padahal syarat sahnya
‘ariyah hendaklah barang itu sendiri tetap utuh.

http://de-kill.blogspot.com/2008/11/ariyah-pinjam-meminjam.html

Mu'amalat : Pinjam-meminjam ('ariyah)


Al-'ariyah menurut bahasa artinya sama dengan pinjaman, sedangkan menurut istilah syara'
aialah aqad berupa pemberian manfaat suatu benda halal dari seseorang kepada orang lain tanpa
ada imbalan dengan tidak mengurangi atau merusak benda itu dan dikembalikannya setelah
diambil manfaatnya.
Allah SWT berfirman :
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Maidah : 2)
Rasulullah SAW bersabda :
"Dan Allah mennolong hamba-Nya selam hamba itu mau menolong sudaranya."
Dari Abu Umamah ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda : "Pinjaman itu harus dikembalikan dan
orang yang meminjam dialah yang berhutang, dan hutang itu wajib dibayar". (HR. At-
Turmudzi).
Hukum asal pinjam-meminjam adalah sunnah sebagaimana tolong-menolong yang lain. Hukum
tersebut dapat berubah menjadi wajib apabila orang yang meminjam itu sangat memerlukannya.
Hukum pinjam-meminjam juga bisa menjadi haram bila untuk mengerjakan kemaksiatan.
Rukun Pinjam-meminjam
Orang yang meminjamkan syaratnya :
Berhak berbuat kebaikan tanpa ada yang menghalangi. Orang yang dipaksa atau anak kecil tidak
sah meminjamkan.
Barang yang dipinjamkan itu milik sendiri atau menjadi tanggung jawab orang yang
meminjamkan.
Orang yang meminjam syaratnya :
Berhak menerima kebaikan. Oleh sebab itu orang gila atau anak kecil tidak sah meminjam
karena keduanya tidak berhak menerima kebaikan.
Hanya mengambil manfaat dari barang yang dipinjam.
Barang yang dipinjam syaratnya :

Ada manfaatnya.

Barang itu kekal (tidak habis setelah diambil manfaatnya). Oleh sebab itu makanan yang setelah
diambil manfaatnya menjadi habis atau berkurang zatnya tidak sah dipinjamkan.
Aqad, yaitu ijab qabul.

Pinjam-meinjam berakhir apabila barang yang dipinjam telah diambil manfaatnya dan harus
segera dikembalikan kepada yang memilikinya. Pinjam-meminjam juga berakhir apabila salah
satu dari kedua pihak meninggal dunia atau gila. Barang yang dipinjam dapat diminta kembali
sewaktu-waktu, karena pinjam-meinjam bukan merupakan perjanjian yang tetap.
Jika terjadi perselisihan pendapat antara yang meminjamkan dan yang meminjam barang tentang
barang itu sudah dikembalikan atau belum, maka yang dibenarkan adalah yang meminjam
dikuatkan dengan sumpah. Hal ini didasarkan pada hukum asalnya, yaitu belum dikembalikan.
Kewajiban Peminjam
Mengembalikan batang itu kepada pemiliknya jika telah selesai.
Rasulullah SAW bersabda :
"Pinjaman itu wajib dikembalikan dan yang meminjam sesuatu harus membayar". (HR. Abu
Dawud)
Mengganti apabila barang itu hilang atau rusak.
Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Shafwan bin Umayyah, bahwa Nabi SAW pada waktu
perang Hunain meminjam beberapa buah baju perang kepada Shafwan. Ia bertanya kepada
Rasulullah : "Apakah ini pengambian paksa wahai Rasulullah?" Rasulullah SAW menjawab :
"Bukan, tetapi ini adalah pinjaman yang dijamin (akan diganti apabila rusak atau hilang)". (HR.
Abu Dawud)
Merawat barang pinjaman dengan baik.
Rasulullah SAW bersabda :
"Kewajiban meminjam merawat yang dipinjamnya, sehingga ia kembalikan barang itu". (HR.
Ahmad)
http://tarbiyatulmujahidin.comze.com/html/2%20FIQIH%20muamalat
%207%20ariyah.htm

http://zonaekis.com/search/ariyah-dalam-ekonomi-islam

Pengertian Hiwalah
Hiwalah (‫ )ﺍﻟﺤﻭﻟﻪ‬berarti pengalihan, pemindahan, berubah kulit dan
memikul sesuatu diatas pundah.
Pemindahan hak atau kewajiban yang dilakukan seseorang (pihak pertama)
kepada pihak kedua untuk menuntut pembayaran hutang dari atau membayar
hutang kepada pihak ketiga. Karena pihak ketiga berhutang kepada pihak pertama.
Baik pemindahan (pengalihan) itu dimaksudkan sebagai ganti pembayaran maupun
tidak.
Ulama mazhab Hanafi (Ibnu Abidin) mendefinisikan Hiwalah ialah
pemindahan membayar hutang dari orang yang berhutang (al-muhiil = ‫ﺍﻟﻣﺤﻴﻞ‬
Kepada yang berhutang lainya(muhaal
alaih=
‫)ﺍﻟﻣﺤﺎلﻝ ﻋﻠﻴﻪ‬Ulama mazhab Hanafi lainya (Kamal bin Humman)mendefinisikanya
dengan : ”Pengalihan kewajiban membayarkan hutang dari pihak pertama kepada
pihak lainya yang berhutang kepadanya atas dasar saling mempercayai”.

1.2. Dasar Hukum Hiwalah


Pelaksanaan Al-Hiwalah dibenarkan dalam islam. Sebagaimana sabda
Rosullah saw:
‫ﻣﻄلﺍﻠغﻧﻰﻃﻠﻡ‬
‫)ﻭﺇذﺍﺍﺗﺒﻊﻋﻠﻰﻣﻠﻰﺀﻓﺎ ﻠﺒﺘﻊ )ﺭﻭﺍﻩﺍﻠﺠﻣﻪﻋﺔ‬
“Memperlambat pembayaran hukum yang dilakukan oleh orang kaya merupakan
perbuatan zalim. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah
membayar hutang, maka hendaklah ia beralih(diterima pengalihan tersebut)”.(HR
Jama’ah)
7

Sabda Rosullah saw:


‫)ﻣﻄل ﺍﻠغﻨﻰﻃﻠﻡﻨﺎﺀ ذﺍ ﺃﺣﻴلﺃﺣد ﻛﻡﻋﻀﻰﻣﻠﻰﺀ ﻓﻠﻴﺣل )ﺭﻭﺍﻩﺃﺣﻣﺩﻭﺍﻠﺑﻴﻬﻘﻰ‬
“Orang yang mampu membayar hutang haram atasnya melalaikan hutangnya.
Apabila salah seorang diantara kamu memindahkan hutangnya kepada orang lain,
hendaklah diterima pilihan itu, asal yang lain itu mampu membayar”.(HR Ahmad
dan Baihaqi)

1.3. Jenis Hiwalah


Mazhab Hanafi membagi hiwalah dalam beberapa bagian, ditinjau dari segi
objek aqad maka hiwalah dapat sibagi dua:
Apabila dipindahkan itu merupakan hak menuntut hutang,maka pemindahan itu

disebut hiwalah Al haqq(‫)ﺣﻭﺍﻠﺔﺍﻠﺤﻕ‬atau pemindahan hak.


Apabila dipindahkan itu kewajiban untuk membayar hutang, maka pemindahan itu

disebut hiwalah Al-Dain(‫)ﺣﻭﺍﻠﺔﺍﻠﺩﻴﻦ‬atau pemindahan hutang


Ditinjau dari sisi lain hiwalah terbagi dua pula yaitu:
Pemindahan sebagai ganti dari pembayaran hutang pihak pertama kepada pihak

kedua yang disebut hiwalah al-muqayyadah ( ‫ ) ﺣﻭﺍﻠﺔﺍﻠﻣﻘﻴﺩﺓ‬atau


pemindahan bersyarat
Pemindahan hutang yang tidak ditegaskan sebagai ganti dari pembayaran hutang

pihak pertama kepada pihak keduayang disebut hiwalahal- muthadah( )atau


pemindahan mutlak.

1.4. Rukun hiwalah


Menurut mazhab hanafi, rukun hiwalah hanya ijab (pernyataan melakukan
hiwalah) dari pohak pertama, dan qabul (penyataan menerima hiwalah) dari pihak
kedua dan pihak ketiga.
Menurut mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali rukun hiwalah ada enam yaitu:
Pihak pertama

Pihak kedua

Pihak ketiga

Ada hutang pihak pertama pada pihak kedua

Ada hutang pihak ketiga kepada pihak pertama

Ada sighoh (pernyataan hiwalah)

1.5. Syarat Hiwalah


Semua imam mazhab (Hanafi, maliki, Syafi’i dan Hambali) berpendapat bahwa
hiwalah menjadi syah apabila sudah terpenuhi Syarat-syaratnya yang berkaitan
dengan pihak pertama, kedua, dan ketigaserta yang berkaitan hutang itu.
I. Syarat bagi pihak pertama
a. Cukup dalam melakukan tindakan hukum da;lam bentuk aqad yaitu baliqh dan
berakalhiwalah tidak syah dilakuakan oleh anak kecil walaupun ia sudah
mengerti(mumayyiz)
b. Ada persetujuan jika pihak pertama dipaksa untuk melakuakan hiwalah maka aqad
tersebut tidak syah

II. Syarat kepada pihak kedua


a. Cukup melakukan tindakan hukum yaitu baliq dan berakal
9

b. Dinyaratkan ada persetujuan dari pihak kedua terhadap pihak pertama yang
melakukan hiwalah (mazhab Hanafi sebagian besar mazhab Maliki dan syafi’i)

III. Syarat bagi pihak ketiga


a. Cukup melakukan tindakan hukum dalam bentuk akad, sebagai syarat bagi pihak
pertama dan kedua
b. Disyaratkan ada pernyataan persetujuan dari pihak ketiga(mazhab hanafi)
sedangkan mazhab lainya (Maliki, Syafi’i dan Hambali) tidak mensyaratkan hal
ini, sebab dalam aqad hiwalah pihak ketiga dipandang sebagai objek aqad
c. Imam Abu Hanifah dan Muhammad bin hasan asy-syaibani menambahkan bahwa
kabul tersebut dilakukan dengan sempurna oleh pihak ketiga didalam suatu
majelis aqad

IV. Syarat yang dilakukan terhadap hutang yang dialihkan


a. Sesuatu yang dialihkan itu adalah sesuatu yang sudah dalam bentuk hutang piutang
yang sudah pasti
b. Apabila mengalihkan hutang itu dalam bentuk hiwalah al-muqayyadah semua
ulama fiqih menyatakan bahwa baik hutang pihak pertama kepada pihak kedua
maulun hutang kepada pihak ketiga kepada pihak pertama meski sama jumlah dan
kwalitasnya
c. Mazhab syafi’i menambahkan bahwa kedua hutang tersebut mesti sama pula,
waktu jatuh temponya, jika tidak sama maka tidak sah

http://www.canboyz.co.cc/2010/03/makalah-tentang-hiwalah-dan.htm
 E. HIWALAH 1. Pengertian Hiwalah Secara etimologi Hiwalah bearti pengalihan,
pemindahan, perubhan warna kulit, memikul sesuatu diatas pundak. Secara terminologi hiwalah
adalah: Memindahkan hutang dari tanggungan Muhil menjadi tanggungan Muhal alaih( orang
yang berhutang lainnya, sedangkan jumhur ulama mendefinisikan dengan: Akad yang
menghendaki pengalihan utang dari tanggung jawab seseorang kepada tanggungjawab orang
yang lainnya Contoh. Apabila ada hutang pada seseorang, sedangkan orang tersebut mempunyai
harta pada orang lain. Lalu ketika orang yang meminjamkan pinjaman menagih, sipeminjam
mengatakan" aku persilahkan tuan mengambil pada siAnu, karena dia mempunya hutang kepada
saya sebanyak hutang saya kepada tuan" jika orang yang meeminjamkan rela dengan hal itu
maka si peminjam bebas dari tanggung jawab. Muhil (sebagai yang berhutang) Muhal (orang
yang menghutangkan) Muhal alaih (orang yang melakukan pembayara hutang) 2. Landasan
Hukum Islam membenarkan Hiwalah dan membolehkannya, karena ai diperlukan. Imam
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa rasulullah saw bersabda:
"menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah kezaliman. Dan jika salah seseorang
kamu dikutkan (dihiwalahkan) kepada orang yang kaya yang mampu, maka turutlah" Mazhab
Hanafi membagi Hiwalah kepada beberapa bagian[10], yaitu: a. Al-Hiwalah al-Muqayyadah
(pemindahan bersyarat) yaitu pemindahan sebagai ganti dari pembayaran utang dari pihak
pertama kepada pihak kedua. Contoh: Syarif berpiutang kepada basuki sebesar satu juta rupiah,
sedangkan basuki juga berpiutang pada rahman satu juta rupiah. Basuki kemudian memindahkan
haknya untuk untuk menagih piutangnya yang terdapat pada rahman, kepada Syarif. 14
 b. Al-Hiwalah al-Muthlaqah (pemindahan mutlak) yaitu pemindahan yang tidak ditegaskan
sebagai ganti pembayaran utang pihak pertama kepada pihak keua. Contoh: Ahmad berutang
kepada Burhan sebesar satu juta rupiah. Karena Karna juga berhutang kepada Ahmad sebesar
satu rupiah. Ahmad mengalihkan utangnya kepada Karna shingga Karna berkewajiban
membayar utang Ahmad kepada Burhan, tanpa menyebutkan bahwa pemindahan utang itu
sebagai ganti utang Karna kepada Ahmad 3. Syarat-Syarat Hiwalah Syarat-syarat yang
diperlukan pihak pertama, yaitu: a. Cakap melakukan tindakan hukm dalam bentuk akad, yaitu
balig dan berakal b. Ada pernyataan persetujuan. Jika pihak pertama dipaksa melakukan hiwalah
mak hiwalah tidak sah Syarat-syarat yang diperlukan pihak kedua, yaitu: a. Cakap melakukan
tindakan hukm dalam bentuk akad, yaitu balig dan berakal sebagaiman pihak pertama b. Mazhab
Hanafi, sebagian besar Mazhab Malik dan Mazhab Syafi'I mensyaratkan ada persetujuan pihak
kedua terhadap pihak yang pertama dalam melakukan hiwalah. Syarat-syarat yang diperlukan
pihak ketiga, yaitu: a. Cakap melakukan tindakan hukm dalam bentuk akad, yaitu balig dan
berakal sebagaiman pihak pertama b. Ulama hanafi mensyaratkan adanya persetujuan dari pihak
ketiga. Sedangkan ketiga Mazhab yang lainnya tidak mensyaratkan hal yang itu Syarat-syarat
utang yang dialihkan 1. Sama kedua halnya baik jenis maupun kadarnya, penyelesaian tempo
waktu, mutu baik dan buruknya. 2. Utang yang berada ditangan peminjam adalah utang yang
sudah jelas menjadi tanggung jawab pihak pemberi pinjaman yang hendak memindahkah
pinjaman kepadanya. 4. Cara Pelaksanaan Hiwalah Dalam cara pelaksanaan Hiwalah yang perlu
kita perhatikan, antara lain: 15
 a. Pihak yang membayar utang hendaknya orang yang betul-betul mampu memenuhinya. b.
Bila dipersilahkan menagih kepada seseorang, namun ternyata orang tersebut jatuh melarat, mati
atau pergi jauh maka haknya dikembalikan lagi kepada orang yang memerintahkan untuk
menagihnya itu c. Jika seseorang menyuruh menagih kepada orang lain, namun orang lain itu
menyuruh pula menagih kepada orang lain lagi, maka hiwalah tersebut boleh dilakukan, selama
persyaratan dapat dipenuhi dan tidak merugikan pihak yang menagih. Akibat hukum Hiwalah
Jka akad Hiwalah terjadi, maka akibat hukum dari akad adalah sebagai berikut: a. Jumhur ulama
berpendapat bahwa kewajiban pihak pertama untuk membayae hutang kepada pihak kedua
menjadi terlepas. b. Akad Hiwalah menyebabkan lahirnya hak bagi pihak kedua untuk menuntut
pembayaran hutang kepada pihak ketiga. Berakhirnya akad hiwalah Para ulama fiqih
mengemukakan bahwa akad Hiwalah akan berakhir apabilaSalah satu pihak yang sedang
melakukan akad membatalkan akad a. Pihak ketiga melunasi utang kepada pihak kedua b. Pihak
kedua wafat, sedangkan pihak ketiga merupakan Ahli waris harta pihak kedua. c. Pihak kedua
mnghibahkan, harta yang merupakan akad Hiwalah kepada pihak ketiga. d. Pihak kedua
membebaskan pihak ketiga dari kewajiban untuk membayar utang dari yang dialihkan 5.
HUKUM MENERIMA HAWALAH Barangsiapa yang mempunyai hutang namun dia
mempunyai piutang pada orang lain yang mampu, kemudian dia memindahkan kewajiban
membayar hutangnya kepada orang lain yang mampu itu, maka orang yang mampu tersebut
wajib menerima kewajiban itu. Nabi saw bersabda: “Penundaan orang yang mampu (melunasi
hutang) itu adalah zhalim, dan apabila seorang di antara kamu menyerahkan (kewajiban
pembayaran hutangnya) kepada orang kaya, maka terimalah.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir
no: 5876). 16

http://www.slideshare.net/rohimkaya/makalah-2891357

Ar-Rahn merupakan perjanjian penyerahan barang untuk menjadi agunan dari fasilitas
pembayaran yang diberikan. Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh ulama fiqh. Ulama
Mazhab Maliki mendefinisikan rahn sebagai harta yang bersifat mengikat. Ulama Mazhab
Hanafi mendefinisikan rahn dengan, “menjadikan sesuatu (barang) sebagai jaminan terhadap hak
(piutang) yang mungkin dijadikan sebagai pembayar hak (piutang) tersebut, baik seluruhnya
maupun sebagiannya”. Sedangkan ulama Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali mendefinisikan
rahn dalam arti akad, yaitu “menjadikan materi (barang) sebagai jaminan utang yang dapat
dijadikan pembayar utang apabila orang yang berutang tidak bisa membayar utangnya itu”.

Rahn di tangan murtahin (pemberi utang kreditur) hanya berfungsi sebagai jaminan utang dari
rahin (orang yang berutang debitur). Barang jaminan itu baru dapat dijual/dihargai apabila dalam
waktu yang disetujui oleh kedua belah pihak utang tidak dapat dilunasi oleh debitur. Oleh sebab
itu, hak kreditur terhadap barang jaminan hanya apabila debitur tidak melunasi utangnya
(Sjahdeini, 1999: 76).
Perjanjian gadai dalam Islam disebut rahn, yaitu perjanjian menahan sesuatu barang sebagai
tanggungan utang. Kata rahn menurut bahasa berarti “tetap”, “berlangsung” dan “menahan”.
Sedangkan menurut istilah berarti menjadikan sesuatu benda bernilai menurut pendangan syara’
sebagai tanggungan utang; dengan adanya tanggungan utang itu seluruh atau sebagaian utang
dapat diterima (Basyir, 1983: 50).
Dalam buku lain juga didefinisikan bahwa rahn adalah menahan sesuatu dengan hak yang
memungkinkan pengambilan manfaat darinya atau menjadikan sesuatu yang bernilai ekonomis
pada pandangan syari’ah sebagai kepercayaan atas hutang yang memungkinkan pengambilan
hutang secara keseluruhan atau sebagian dari barang itu (Tim Pengembangan Perbankan
Syari’ah Institut Bankir Indonesia, 2001: 73).
Menurut ta’rif yang lain dalam bukunya Muhammad Syafi’i Antonio (1999: 213) dikemukakan
sebagai berikut: “menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman
yang diterimannya. Barang yang ditahan tersebut memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian,
pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk dapat mengambil kembali seluruh atau
sebagian piutangnya. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa rahn adalah semacam jaminan
hutang atau gadai.
Sedangkan menurut Imam Abu Zakaria Al-Anshori (Syafi’i dalam Chuzaimah, 1997: 60) dalam
kitabnya Fathul Wahhab mendefinisikan rahn sebagai berikut: “Menjadikan barang yang bersifat
harta sebagai kepercayaan dari suatu utang yang dapat dibayarkan dari harga benda itu bila utang
tidak dibayar”.
Selanjutnya Imam Taqiyyuddin Abu-Bakar Al-Husaini dalam kitabnya Kifayatul Ahyar Fii Halli
Ghayati Al-Ikhtisar berpendapat bahwa definisi rahn adalah: “Akad/perjanjian utang-piutang
dengan menjadikan harta sebagai kepercayaan/penguat utang dan yang memberi pinjaman
berhak menjual barang yang digadaikan itu pada saat ia menuntut haknya.”
Lebih lanjut Imam Taqiyyuddin mengatakan bahwa barang-barang yang dapat dijadikan jaminan
utang adalah semua barang yang dapat dijual-belikan, artinya semua barang yang dapat dijual itu
dapat digadaikan.
Ar-Rahn adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang
diterimanya.
Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa rahn merupakan suatu akad utang-
piutang dengan menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara’
sebagai jaminan, hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil uang.
Gadai untuk menanggung semua hutang. Kalau orang yang berhutang mengembalikan sebagian
hutangnya, ia tidak boleh mengambil barang yang digadaikan sebelum melunasi semua
hutangnya. Boleh menggadaian barang milik serikat untuk tanggungan hutang seseorang asal
mendapat izin dari serikat. Juga boleh menggadaikan barang pinjaman, sebab barang itu sudah
menjadi hak sementara (Rifa’i. 1978: 197-198).
http://zonaekis.com/pengertian-gadai-rahn#more-2268

KONSEP GADAI SYARIAH (AR-RAHN) DALAM PERSPEKTIF


EKONOMI ISLAM DAN FIQH MUAMALAH
Posted: 24/01/2011 by muhamad mujahidin in Ekonomi Syariah, Fiqh Muamalah
Tag:ekonomi syariah, fiqh muamalah, gadai, gadai syariah, pegadaian, pegadaian syariah,
rahn

I. LATAR BELKANG MASALAH


Kehadiran lembaga pegadaian di Indonsia bukanlah hal yang asing lagi. Bahkan lembaga ini
menjadi sangat populer dikalangan masyarakat (khususnya Jakarta), ketika menjelang lebaran
tiba. Sudah merupakan tradisi bagi pemudik di ibukota untuk menggadaikan barang berharga
mereka menjelang bulan syawal.
Dengan menitipkan emas, kendaraan bermotor atau barang berharga lainnya sebagai jaminan
atas uang yang dipinjam, keinginan untuk bertemu sanak saudara dikampung dengan kerinduan
yang sangat pun terobati. Bukan tanpa alasan karena disaat ongkos dan harga kebutuhan untuk
oleh-oleh yang semakin menggila yang tidak lagi dapat diatasi oleh gaji maupun pendapatan
selama di Jakarta, maka pegadaian merupakan alternatif yang dapat menjawab tersebut.
Sekilas lembaga ini memang terlihat sangat membantu. Dan tentu saja dengan menyuarakan
motto “ mengatasi masalah tanpa masalah”-nya, lembaga ini berhasil menafsir dan mencitrakan
dirinya di mata masyarakat sangat baik. Akan tetapi, disadari atau tidak ternyata dalam
prakteknya lembaga ini belum dapat terlepas dari persoalan.Dengan berkaca mata pada syariat
islam, ketika perjanjian gadai ditunaikan terdapat unsur-unsur yang dilarang syariat. Hal ini
dapat terlihat dari praktek gadai itu sendiri yang menentukan adanya bunga gadai, yang mana
pembayarannya dilakukan setiap 15 hari sekali. Dan tentu saja pembayarannya haruslah tepat
waktu karena jika terjadi keterlambatan pembayaran, maka bunga gadai akan bertambah menjadi
dua kali lipat dari kewajibannya.Bukan hanya riba, ketidak jelasan (gharar), dan qimar juga ikut
serta menghiasi aktifitas lembaga ini. Yang secara jelas terdapat kencenderungan merugikan
salah satu pihak.
Memang hal ini tidaklah terlalu diperhatikan oleh masyarakat. Tetapi, ketika mereka terjebak
dengan bunga yang membengkak serta ketidak sanggupan uintuk membayar,maka di sinilah
masalah letak permasalahan itu muncul.Oleh karena itu, berangkat dari uraian yang telah
dikemukakan di atas,maka saya selaku penulis membuat esai ini dengan maksud untuk
menganalisa dan memberikan sebuah solusi dengan pendekatan fiqh islam sebagai jawaban atas
ketidak syari’an atas praktek pegadaian saat ini.
II. POKOK-POKOK PERMASALAHAN
Dengan melihat latar belakang di atas maka yang akan menjadi pokok-poko permasalahan yang
akan dibahas dalamn esai ini adalah
1. Apa definisi dari gadai menurut konvensional dan syari’at Islam?
2. apa yang menjadi dasar hukum gadai konvensional dan syariah?
3. Bagaimana pandangan syari’at Islam terhadap gadai?

III. ANALISIS
A. Pengertian Gadai Konvensional dan Gadai Syariah
1. Pengertian Gadai Konvensional
Mengutip pendapat Susilo (1999), pengertian pegadaian adalah suatu hak yang diperoleh
seseorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak. Barang bergerak tersebut
diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh seorang yang mempunyai utang atau oleh orang
lain atas nama orang yang mempunyai utang. Seseorang yang berutang tersebut memberikan
kekuasaan kepada orang yang berpiutang untuk menggunakan barang bergerak yang telah
diserahkan untuk melunasi utang apabila pihak yang berutang tidak dapat melunasi
kewajibannya pada saat jatuh tempo.
Jadi dapat disimpulkan bahwa gadai adalah suatu hak yang diperoleh oleh orang yang berpiutang
atas suatu benda bergerak yang diberikan oleh orang yang berpiutang sebagai suatu jaminan dan
barang tersebut bisa dijual jika orang yang berpiutang tidak mampu melunasi utangnya pada saat
jatuh tempo.Sedangkan pengertian Perusahaan Umum Pegadaian adalah suatu ban usaha di
Indonesia yang secara resmi mempunyai izin untuk melaksanakan kegiatan lembaga keuangan
berupa pembiayaan dalambentuk penyaluran dana ke masyarakat atas dasar hukum gadai.[1]
2. Pengertian Gadai Syariah
Gadai Syariah sering diidentikkan dengan Rahn yang secara bahasa diartikan al-tsubut wa al-
dawam (tetap dan kekal) sebagian Ulama Luhgat memberi arti al-hab (tertahan).[2] Sedangkan
definisi al-rahn menurut istilah yaitu menjadikan suatu benda yang mempunyai nilai harta dalam
pandangan syar’a untuk kepercayaan suatu utang, sehingga memungkinkan mengambil seluruh
atau sebagaian utang dari benda itu.[3]
Istilah rahn menurut Imam Ibnu Mandur diartikan apa-apa yang diberikan sebagai jaminan atas
suatu manfaat barang yang diagunkan.[4] Dari kalangan Ulama Mazhab Maliki mendefinisikan
rahn sebagai “harta yang dijadikan pemiliknya sebagai jaminan hutang yang bersifat mengikat“,
ulama Mazhab Hanafi mendefinisikannya dengan “menjadikan suatu barang sebagai jaminan
terhadap hak (piutang) yang mungkin dijadikan sebagai pembayar hak tersebut, baik seluruhnya
maupun sebagiannya“. Ulama Syafii dan Hambali dalam mengartikan rahn dalam arti akad
yakni menjadikan materi (barang) sebagai jaminan utang, yang dapat dijadikan pembayar utang
apabila orang yang berhutang tidak bisa membayar hutangnya.[5]
Dalam bukunya: Pegadaian Syariah, Muhammad Sholikul Hadi (2003) mengutip pendapat
Imam Abu Zakariya al-Anshari dalam kitabnya Fathul Wahhab yang mendefenisikan rahn
sebagai: “menjadikan benda bersifat harta sebagai kepercayaan dari suatu utang yang dapat
dibayarkan dari (harga) benda itu bilautang tidak dibayar.” Sedangkan menurut Ahmad Baraja,
rahn adalah jaminan bukan produk dan semata untuk kepentingan sosial, bukan kepentingan
bisnis, jual beli mitra.[6]
Adapun pengertian rahn menurut Imam Ibnu Qudhamah dalam kitab Al-Mughni adalah sesuatu
benda yang dijadikan kepercayaan dari suatu hutang untuk dipenuhi dari harganya, apabila yang
berhutang tidak sanggup membayarnya dari yang berpiutang. [7]
Dari ketiga defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa rahn merupakan suatu akad utang piutang
dengan menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara’ sebagai
jaminan, hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil utang.[8]
B. Landasan Hukum Gadai Konvensional dan Gadai Syariah
1. Landasan Hukum Gadai Konvensional
Pada awalnya lembaga pegadaian pertamakali didirikan pada tanggal 1 April 1901. Tetapi
seiring dengan perkembangan zaman, pegadaian beberapakali berubah status mulai sebagai
Perusahaan Jawatan (1901), Perusahaan di bawah IBW (1928),Perusahaan Negara (1960),dan
kembali ke perusahan jawatan 1969. baru sekitar tahun 1990 dengan lahirnya PP10/1990 tanggal
10 April 1990, sampai dengan terbitnya PP103 tahun 2000, pegadaian berstatus sebagai
Perusahaan Umum dan masuk sebagai salah satu BUMN dalam lingkungan Dep. Keuangan RI.
hingga sekarang.Dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 pasal 6, dijelaskan bahwa sifat
usaha pegadaian adalah menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan umum dan sekaligus
memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan. Sedangkan isi pasal
7,dijabarkan:(1) Turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama golonganmenengah ke
bawah melalui penyediaan dana atas dasar hukum gadai, dan jasa di bidang keuangan lainnya
berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.(2) Menghindarkan masyarakat dari
gadai gelap,praktek riba dan pinjaman tidak wajar.[9]
2. Landasan Hukum Gadai Syariah
Dasar hukum yang digunakan para ulama untuk membolehkannya rahn yakni bersumber pada
al-Qur’an (2): 283 yang menjelaskan tentang diizinkannya bermuamalah tidak secara tunai.[10]
Dan Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisiyah binti Abu Bakar, yang
menjelaskan bahwa Rasulullah Saw pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan
menjadikan baju besinya sebagai jaminan.[11]
Berdasarkan dua landasan hukum tersebut ulama bersepakat bahwa rahn merupakan transaksi
yang diperbolehkan dan menurut sebagian besar (jumhur) ulama, ada beberapa rukun bagi akad
rahn yang terdiri dari, orang yang menggadaikan (ar-rahn), barang-barang yang digadai
(marhun), orang yang menerima gadai (murtahin) sesuatu yang karenanya diadakan gadai, yakni
harga, dan sifat akad rahn.[12] Sedangkan untuk sahnya akad rahn, ada beberapa syarat yang
harus dipenuhi oleh para pihak yang terlibat dalam akad ini yakni: berakal, baligh, barang yang
dijadikan jaminan ada pada saat akad, serta barang jaminan dipegang oleh orang yang menerima
gadai (marhun) atau yang mewakilinya.[13]
Dengan terpenuhinya syarat-syarat di atas maka akad rahn dapat dilakukan karena kejelasan
akan rahin, murtahin dan marhun merupakan keharusan dalam akad rahn. Sedangkan mengenai
saat diperbolehkan untuk menggunaan akad rahn, al-Qur’an dan al-Sunah serta ijma ulama tidak
menetapkan secara jelas mengenai akad-akad atau transaksi jual beli yang diizinkan untuk
menggunakan akad rahn.
Sebagian kecil ulama, sebagaimana yang dikemukakan Ibn Rusdy bahwa mazhab Maliki
beranggapan bawa gadai itu dapat dilakukan pada segala macam harga dan pada semua macam
jual beli, kecuali jual beli mata uang, dan pokok modal pada akad salam yang berkaitan dengan
tanggungan, hal ini disebabkan karena pada shaf pada salam disyaratkan tunai, begitu pula pada
harta modal. Sedangkan kelompok Fuqaha Zahiri berpendapat bahwa akad gadai (rahn) tidak
boleh selain pada salam yakni pada salam dalam gadai, hal ini berdasar pada ayat yang
berkenaan dengan gadai yang terdapat dalam masalah hutang piutang barang jualan, yang
diartikan mereka sebagai salam.[14]
Dari bebrapa pendapat di atas dapat diartikan bahwa sebagian ulama beranggapan bahwa rahn
dapat digunakan pada transaksi dan akad jual beli yang bermacam-macam, walaupun ada
perbedaan ulama mengenai waktu dan pemanfaatan dari barang yang dijadikan jaminan tersebut.
Sedangkan benda Rahn yang digadai, dalam konsep fiqh merupakan amanat yang ada pada
murtahin yang harus selalu dijaga dengan sebaik-baiknya, dan untuk menjaga serta merawat agar
benda (barang) gadai tersebut tetap baik, kiranya diperlukan biaya, yang tentunya dibebankan
kepada orang yang menggadai atau dengan cara memanfaatkan barang gadai tersebut. Dalam hal
pemanfaatan barang gadai, beberapa ulama berbeda pendapat karena masalah ini sangat
berkaitan erat dengan hakikat barang gadai, yang hanya berfungsi sebagai jaminan utang pihak
yang menggadai.
C. Solusi Mekanisme Operasional Pegadaian dengan Penerapan berdasarkan Prinsip
Syariah
Seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, sungguh merupakan suatu hal yang
ironis, ketika terdapat sebuah lembaga keuangan formal ( pemerintah) tidak bisa memperoleh
pendapatan yang dapat menunjang kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Adapun lembaga
pegadaian, seandainya dalam aktivitasnya tidak menggunakan sistem bunga ( memungut bunga
dari pinjman pokok ), maka tentunya lembaga tersebut akan mengalami hal yang demikian. Akan
tetapi, di sisi lain sistem tersebut sangat memberatkan bagi nasabah, karena pemungutan
bunganya yang ditetapkan setiap 15 hari sekali.
Memang hal ini tidaklah terlihat berat jika pinjaman tersebut bersifat kecil, namun jika uang
yang dipinjamkan tersebut sangat besar jumlahnya, maka akan sangat memberatkan bagi
nasabah.Persoalan ini cukup kompleks. Jika salah satu dimenangkan, maka hal ini akan terlihat
tidak adil. Karena pihak penerima gadai yang saat ini bestatus lembaga pegadaian, akan merasa
dirugikan jika dalam operasional usahanya tidak mendapay keuntungan yang akan menunjang
kegiatan usahanya. Sedangkan pihak yang menggadaikan diwajibkan membayar berupa bunga
setiap 15 harinya, maka hal ini juga akan merugikan pihak penggadai.
Karena barang atau hartanya telah ditahan oleh penerima gadai. Selain itu hal yang menjadi
sangat pokok dalam persoalan ini adalah penerapan bunga yang berbuntut riba yang jelas-jelas
dilarang oleh syara’.Berangkat dari persolan tersebut, maka berikut sebuah solusi yang bisa
dijalankan guna lembaga pegadaian yang merupakan lembaga penolong dapat tetap eksis dalam
menjalankan mottonya “ mengatasi masalah tanpa masalah.”
1. Kategori Barang Gadai
Muhammad Shalikul hadi mengutip pendapat Basyir (2003) bahwa jenis barang gadai yang
dapat digadaikan sebagai jaminan adalah semua jenis barang bergerak dab tak bergerak,
sehingga barang yang dapat digadaikan bisa semua barang asal memenuhi syarat:
(1) Merupakan benda bernilai menurut hukum syara’
(2) Ada wujudnya ketika perjanjian terjadi
(3) Mungkin diserahkan seketika kepada murtahin.

2. Pemeliharaan Barang Gadai


Ada perbedaan pendapat para ulama dalam halpemeliharaaan barang gadai. Ulama Syafi’iah dan
Hanabilah berpendapat biaya pemeliharaan barang gadai menjadi tanggung jawab pemberi gadai
karena barang tersebut merupakan miliknya dan akan kembali kepadanya. Sedangkan para ulama
Hanafiah berpendapat bahwa biaya pemeliharaan barang gadai menjadi tanggungan penerima
gadai yang mana dalam posisinya sebagai penerima amanat. Berdasarkan pendapat di atas maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa biaya pemeliharaan barang gadai adalah hak rahin dalam
kedudukannya sebagai pemilik yang sah. Akan tetapi jika harta atau barang jaminan tersebut
menjadi kekuasaan murtahin dan di izinka oleh maka biaya pemeliharaan jatuh pada murtahin.
Sedangkan untuk mengganti biaya tersebut nantinya, apabila murtahin mendapat izin dari rahin
maka murtahin dapat memungut hasil marhun sesuai dan senilai dengan yang telah ia keluarkan.
Tetapi apabila rahin tidak mengizinkannya maka biaya pemeliharaan menjadi utang rahin
kepada murtahin. Pendapat ini dikutip oleh Muhammad Shalikul Hadi dari Sabiq (2003).
[15]Resiko Atas Kerusakan Menurut para ulama Syafi’iah dan Hanabilah berpendapat bahwa
murtahin tidak bertanggung jawab atas rusaknya barang gadai jika tidak disengaja. Sedangkan
ulama Hanafiah berpendapat bahwa hal tersebut menjadi tanggungan murtahin sebesar harga
barang minimum, dihitung mulai waktu diserahkannya barang gadai kepada murtahin sampai
barang tersebut rusak.
Shalikul Hadi mengutip Basyir (2003: 84) Pembayaran Atau Pelunasan Hutang GadaiApabila
sudah samapai jatuh tempo dan rahin belum membayarkan kembali utangnya maka murtahin
boleh memaksa rahin untuk menjual barangnya. Kemudian hasilnya digunakan untuk menebus
utang tersebut sedangkan jika terdapat sisa atas penjualan barang tersebut, maka akan
dikembalikan kepada rahin.Prosedur Pelelangan GadaiJika ada persyaratan akan menjual
barang gadai pada saat jatuh tempo, maka ini diperbolehkan dengan ketentuan:[16]
(1) Murtahin harus mengetahui terlebih dahulu keadaan rahin
(2) Dapat memeperpanjang tenggang waktu pemabayaran
(3) Kalau keadaan mendesak murtahin boleh memindahkan barang gadai kepada murtahin lain
dengan izin rahin
(4) Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi, maka murtahin boleh menjual barang gadai dan
kelebihan uangnya dikembalikan kepada rahin .

3. Pembentukan Laba Pegadaian


Pada bab sebelumnya dijelaskan bahwa pegadaian memperoleh laba dari bunga gadai. Tetapi
dari segi kaca mata syariah hal ini dilarang. Tentunya jika bunga gadai dihapuskan maka
lembaga pegadaian tidak akan dapat melanjutkan operasionalnya lagi. Sebaliknya jika hal ini
diperbolehkan hukum haram atas riba mengikatnya dan tentu saja kerugian salah satu pihak akan
terjadi.untuk mengatasi hal tersebut dapat diterapkan sebagai berikut:
(1) Melakukan transaksi gadai dengan akad Rahn
(2) Melakukan transaksi gadai dengan akad Bai’ al Muqoyyadah
(3) Melakukan Akad al Mudharabah.
(4) Melakukan dengan akad Qardhul Hasan
Itulah beberapa alternatif yang bisa dijalankan guna mengeliminir praktek riba dalam pegadaian
konvensional. Danjuga sebagai solusi atas persoalan yang terdapat dalampegadaian saat sekarang
ini, sehingga diharapkan natinya lembaga ini benar-benar telah menjalankan mottonya sebagai
lembaga yang mengatasi masalah tanpa menimbulkan masalah.[17]

III. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan sekaligus penutup esai ini adalah:
1. Pengertian gadai menurut konvensional adalah gadai adalah suatu hak yang diperoleh oleh
orang yang berpiutang atas suatu benda bergerak yang diberikan oleh orang yang berpiutang
sebagai suatu jaminan dan barang tersebut bisa dijual jika orang yang berpiutang tidak mampu
melunasi utangnya pada saat jatuh tempo.sedangkan gadai menurut syariat adalah menjadikan
suatu benda yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syar’a untuk kepercayaan suatu
utang, sehingga memungkinkan mengambil seluruh atau sebagaian utang dari benda itu.
2. yang menjadi dasar hukum gadai konvensional adalah Undang-undang Nomor 9 Tahun
1969 pasal 6 dan pasal 7, sedangkan dasar hukum gadai syariah adalah al-Qur’an (2): 283 yang
menjelaskan tentang diizinkannya bermuamalah tidak secara tunai. Dan Hadis yang diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim dari Aisiyah binti Abu Bakar, yang menjelaskan bahwa Rasulullah
Saw pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menjadikan baju besinya sebagai
jaminan.
3. Dalam pandangan Islam bahwa pegadaian diperbolehkan oleh syariat. Dan tentunya harus
sesuai dengan yang digariskan dalamAl-Qur’an dan As-Sunnah. Seterusnya, bukan tidak
mungkin bahwa segala sesuatu yang bersifat konvensional yang ternyata banyak menyimpan
persoalan dapat dijawab dengan menerapkan prinsip-prinsip syari’ah. Bunga bukanlah satu-
satunya jalan yang tepat untuk mendapatkan keuntungan. Tetapi dengan memberdayakan akad-
akad syariah pendapatan atau laba pun dapat diperoleh dan tentunya hasil yang didapatkan pun
bersih dan halal.

DAFTAR PUSTAKA

1. Abdul Ghafur Ansori,. Gadai Sariah di Indonesia, Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press, 2005.
2. Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Bandung : CV. Diponegoro, 2003.
3. Ghufran Sofiyanah, Mengatasi Masalah Dengan Pegadaian Syariah, Jakarta : RENAISAN
Anggota IKAPI, 2005.
4. Ibnn Rusdy, Bidaya al-Mujtahid, alih bahasa Imam Gazali Said, Jakarta: Pustaka Amini,
1991.
5. Imam al’ama Ibn Mandur, Lisan al-Arab, Beirut: Muassah Tarikh al-Arabi, 1999.
6. Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Kutub al-Tis’ah (CD).
7. Muhammad Sholikul Hadi, Pegadaian Syariah, Jakarta : Salemba Diniyah, 2003.
8. Muhammad Syafi’i Antonio, Bisnis dan Perbankan Dalam Perspektif Islam Dalam
Mustafa Kamal (ED) Wawasan Islam dan Ekonomi, Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi UI, 1997.
9. Prof. DR. H. Racmat Syafee’i, M.A.. Fiqih Muamalah, Bandung : CV. Pustaka Setia,
2001.
10. Sabiq, Sayyid, Fiqh us-Sunnah, Muhammad Sa‘eed Dabas, Jamal al-Din M. Zarabozo,
translators, Indianapolis, Ind., USA: American Trust Publications, c1985.
11. Susilo, Y. Sri, dkk. Bank Dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta : Salemba Empat, 1999.
12. Van Hope, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: Ikhtiar Baru, 1996.
http://mujahidinimeis.wordpress.com/2011/01/24/konsep-gadai-syariah-ar-rahn-dalam-
perspektif-ekonomi-islam-dan-fiqh-muamalah/

PEGADAIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Tuesday, 27 July 2010 21:56


A. Pendahuluan

Bank Muamalat Indonesia (BMI) kian gencar meningkat aliansi dan kerjasama dengan para
mitra usahanya. salah satunya dengan memantapkan kerjasama pembiayaan gadai syariah (rahn)
dengan Perum pegadaian, yang ditanda tangani awal september lalu. Kerja sama ini mencakup
tambahan pembiayaan modal kerja tiga Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) yang telah
beroperasi dan pendirian 13 Cabang Layanan Gadai Syariah (Majalah Modal, 2003: 64).

Pegadaian syari’ah sebagai suatu solusi yang muncul di tengah kegelisahan masyarakat terhadap
praktek-praktek penipuan yang berkedok jasa, dan juga dilatarbelakangi atas berkurangnya
kepercayaan masyarakat kepada lembaga-lembaga yang berorientasi pada penawaran jasa ini,
mencoba tampil dengan kepercayaan penuh dan patut untuk mendapatkan kepercayaan. “secara
konsep pegadaian syari’ah terfokus pada mekanisme kepengelolaannya yang sesuai dengan
kaedah fiqih, dan seperti yang pernah dipraktekan oleh Rasulullah SAW”. Secara umum ciri dari
pegadaian adalah transaksi dari pemilik dana (modal) dengan pemilik barang. Transaksi yang
dimaksud adalah peminjaman sejumlah dana dengan jaminan barang yang sesuai dengan nilai
uang yang dipinjam.

Pada dasarnya konsep pegadaian syari’ah yang dimaksud dapat dilihat dari dua aspek. Pertama,
kebutuhan konsumtif Kedua, kebutuhan produktif. Adapun latar belakang munculnya sistem
syari’ah secara umum tidak terlepas dari mekanisme sistem konvensional yang menggunakan
konsep bunga, sebab dengan konsep bunga yang diterapkan dalam pegadaian konvensional dapat
dikatagorikan sebagai riba dan hal ini dilarang oleh Islam, sedangkan dalam sistem syari’ah yang
dikembangkan bukanlah sistem tambahan (bunga). (Buletin KOMPAS, Edisi 29/IX/2003).

B. Tinjauan Umum Pegadaian dalam Perspektif Islam


1. Pengertian Gadai (rahn)

Ar-Rahn merupakan perjanjian penyerahan barang untuk menjadi agunan dari fasilitas
pembayaran yang diberikan. Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh ulama fiqh. Ulama
Mazhab Maliki mendefinisikan rahn sebagai harta yang bersifat mengikat. Ulama Mazhab
Hanafi mendefinisikan rahn dengan, “menjadikan sesuatu (barang) sebagai jaminan terhadap hak
(piutang) yang mungkin dijadikan sebagai pembayar hak (piutang) tersebut, baik seluruhnya
maupun sebagiannya”. Sedangkan ulama Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali mendefinisikan
rahn dalam arti akad, yaitu “menjadikan materi (barang) sebagai jaminan utang yang dapat
dijadikan pembayar utang apabila orang yang berutang tidak bisa membayar utangnya itu”.

Rahn di tangan murtahin (pemberi utang kreditur) hanya berfungsi sebagai jaminan utang dari
rahin (orang yang berutang debitur). Barang jaminan itu baru dapat dijual/dihargai apabila dalam
waktu yang disetujui oleh kedua belah pihak utang tidak dapat dilunasi oleh debitur. Oleh sebab
itu, hak kreditur terhadap barang jaminan hanya apabila debitur tidak melunasi utangnya
(Sjahdeini, 1999: 76).

Perjanjian gadai dalam Islam disebut rahn, yaitu perjanjian menahan sesuatu barang sebagai
tanggungan utang. Kata rahn menurut bahasa berarti “tetap”, “berlangsung” dan “menahan”.
Sedangkan menurut istilah berarti menjadikan sesuatu benda bernilai menurut pendangan syara’
sebagai tanggungan utang; dengan adanya tanggungan utang itu seluruh atau sebagaian utang
dapat diterima (Basyir, 1983: 50).

Dalam buku lain juga didefinisikan bahwa rahn adalah menahan sesuatu dengan hak yang
memungkinkan pengambilan manfaat darinya atau menjadikan sesuatu yang bernilai ekonomis
pada pandangan syari’ah sebagai kepercayaan atas hutang yang memungkinkan pengambilan
hutang secara keseluruhan atau sebagian dari barang itu (Tim Pengembangan Perbankan
Syari’ah Institut Bankir Indonesia, 2001: 73).

Menurut ta’rif yang lain dalam bukunya Muhammad Syafi’i Antonio (1999: 213) dikemukakan
sebagai berikut: “menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman
yang diterimannya. Barang yang ditahan tersebut memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian,
pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk dapat mengambil kembali seluruh atau
sebagian piutangnya. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa rahn adalah semacam jaminan
hutang atau gadai.

Sedangkan menurut Imam Abu Zakaria Al-Anshori (Syafi’i dalam Chuzaimah, 1997: 60) dalam
kitabnya Fathul Wahhab mendefinisikan rahn sebagai berikut: “Menjadikan barang yang bersifat
harta sebagai kepercayaan dari suatu utang yang dapat dibayarkan dari harga benda itu bila utang
tidak dibayar”.

Selanjutnya Imam Taqiyyuddin Abu-Bakar Al-Husaini dalam kitabnya Kifayatul Ahyar Fii Halli
Ghayati Al-Ikhtisar berpendapat bahwa definisi rahn adalah: “Akad/perjanjian utang-piutang
dengan menjadikan harta sebagai kepercayaan/penguat utang dan yang memberi pinjaman
berhak menjual barang yang digadaikan itu pada saat ia menuntut haknya.”

Lebih lanjut Imam Taqiyyuddin mengatakan bahwa barang-barang yang dapat dijadikan jaminan
utang adalah semua barang yang dapat dijual-belikan, artinya semua barang yang dapat dijual itu
dapat digadaikan.

Ar-Rahn adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang
diterimanya.

Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa rahn merupakan suatu akad utang-
piutang dengan menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara’
sebagai jaminan, hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil uang.

Gadai untuk menanggung semua hutang. Kalau orang yang berhutang mengembalikan sebagian
hutangnya, ia tidak boleh mengambil barang yang digadaikan sebelum melunasi semua
hutangnya. Boleh menggadaian barang milik serikat untuk tanggungan hutang seseorang asal
mendapat izin dari serikat. Juga boleh menggadaikan barang pinjaman, sebab barang itu sudah
menjadi hak sementara (Rifa’i. 1978: 197-198).
2. Dasar Hukum Gadai

Gadai hukumnya jaiz (boleh) menurut al-Kitab, as-Sunnah, dan Ijma” (Sabiq, 1996: 139).

a. Dalil dari al-Qur’an

Surat al-Baqarah ayat 283 yang berbunyi sebagai berikut:

??? ???? ??? ??? ??? ????? ????? ????? ?????? ??? ??? ????? ???? ????? ???? ????? ?????? ?????
???? ??? ??? ?????? ??????? ??? ?????? ???? ???? ???? ????? ??? ?????? ???? (283)

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak
memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang
berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah
yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah
Tuhannya” (Q.S. al-Baqarah: 283).

b. Dalil dari as-Sunnah

Rasulullah pernah menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi untuk ditukar dengan
gandum. Lalu orang Yahudi berkata:

“Sungguh Muhammad ingin membawa lari hartaku”. Rasulullah kemudian menjawab: ”bohong!
sesungguhnya aku orang yang jujur di atas bumi ini dan di langit. Jika kamu berikan amanat
kepadaku pasti aku tunaikan Pergilah kalian dengan baju besiku menemuinya.” (H.R. Bukhari).

Ijma’ dan Qiyas Ulama’

Pada dasarnya para ulama’ telah bersepakat bahwa gadai itu boleh. Para Ulama’ tidak
pernah mempertentangkan kebolehannya demikian pula landasan hukumnya. Jumhur
Ulama’ berpendapat bahwa gadai disyari’atkan pada waktu tidak bepergian maupun pada waktu
bepergian. Berdasarkan al-Qur’an dan Hadist diatas menunjukan bahwa transaksi atau perjanjian
gadai dibenarkan dalam Islam bahkan Nabi pernah melakukannya. Namun demikian perlu
dilakukan pengkajian yang lebih mendalam dengan melakukan Ijtihad. Bagaimanakah
perbandingan konsep pegadaian syari’ah dengan pegadaian konvensional ditinjau dari aspek
hukumnya? (Muhammad dan hadi, 2003: 41).

3. Tugas, Tujuan Latar Belakng, dan Fungsi Pegadaian Syariah

Sebagai lembaga keuangan non bank milik pemerintah yang berahak memberikan pinjaman
kredit kepada masyarakat atas dasar hukum gadai yang bertujuan agar masyarakat tidak
dirugikan oleh lembaga keuangan non formal yang cendrung memanfaatkan kebutuhan dana
mendesak dari masyarakat, maka pada dasarnya lembaga pegadaian (Perum Pegadaian) tersebut
mempunyai tugas, tujuan serta fungsi-fungsi pokok sebagai berikut:
Tugas Pokok

Tugas pokok pegadaian yaitu menyalurkan uang pinjaman atas dasar hukum gadai dan usaha-
usaha lain yang berhubungan dengan tujuan pegadaian atas dasar materi.
Tujuan Pokok

Sebagai lembaga keuangan syari’ah non bank milik pemerintah bertujuan untuk menyediakan
tempat badan usaha bagi orang-orang yang menginginkan prinsip-prinsip syari’ah bagi
masyarakat muslim khususnya dan pada semua lapisan masyarakat non muslim pada umumnya.
Disamping itu untuk memenuhi kebutuhan umat akan jasa gadai yang sesuai syari’ah Islam.

c. Latar Belakang

Adapun latar belakang berdirinya pegadaian syari’ah yaitu bekerja sama dengan Bank Muamalat
Indonesia. Karena Bank Muamalat Indonesia sendiri masih belum punya managemen skill dalam
bidang ahli menaksir barang, adapun pegadaian sudah mempunyai ahli penaksir barang akan
tetapi dananya sangat terbatas. Maka dari itu perlu adanya kerjasama antara pegadaian dengan
bank dengan prinsip bagi hasil.

Sifat usaha pegadaian pada prinsipnya menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan umum dan
sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan. Oleh karena itu, pegadaian
pada dasarnya mempunyai tujuan-tujuan pokok seperti dicantumkan dalam PP No. 103 tahun
2000 sebagai berikut:

1) Turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama golongan menengah ke bawah


melalui penyediaan dana atas dasar hukum gadai, dan jasa di bidang keuangan lainnya
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2) Turut melaksanakan dan menunjung pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah di


bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya melalui penyaluran uang pinjaman
kepada masyarakat atas dasar hukum gadai.

3) Mencegah dan memberantas praktek pegadaian gelap, ijon dan pinjaman tidak wajar
lainnya.

Fungsi Pokok

Fungsi pokok pegadaian adalah sebagai berikut:

1) Mengelola penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai dengan cara mudah, cepat,
aman dan hemat.

2) Menciptakan dan mengembangkan usaha-usaha lain yang menguntungkan bagi pegadaian


maupun masyarakat.
3) Mengelola keuangan, perlengkapan, kepegawaian, pendidikan dan pelatihan.

4) Mengelola organisasi, tata kerja dan tata laksana pegadaian.

5) Melakukan penelitian dan pengembangan serta mengawasi pengelolaan pegadaian.

Dari tugas, tujuan dan fungsi pegadaian tersebut perum pegadaian adalah lembaga kredit yang
melayani hampir semua jenis kebutuhan dana. Kredit tersebut dapat berupa kredit untuk
kebutuhan konsumsi atau terlebih untuk tujuan produksi (misalnya biaya pengolahan sawah dan
sebagainya).

4. Persamaan, Perbedaan Rahn dan Gadai

Gadai tanah, sebagaimana yang berlaku dalam hukum adat di Indonesia, tidak ditemukan
pembahasannya secara khusus dalam fiqh. Pada satu sisi gadai tanah mirip dengan jual beli.
Dalam hal ini hukum adat menyebutnya sebagai jual gadai. Pada sisi lain mirip dengan rahn.
Kemiripannya dengan jual beli karena berpindahnya hak menguasai harta yang digadaikan itu
sepenuhya kepada pemegang gadai, termasuk memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari
benda tersebut, walaupun dalam waktu yang ditentukan.

Sedangkan kemiripannya dengan rahn adalah karena adanya hak menebus bagi penggadai atas
harta yang digadaikan itu. secara rinci persamaan dan perbedaannya diuraikan sebagai berikut:

Persamaan Gadai dan Rahn:


Hak gadai berlaku atas pinjaman uang.

b. Adanya agunan sebagai jaminan barang.

c. Tidak boleh mengambil manfaat barang yang digadaikan.

d. Biaya barang yang digadaikan ditangung oleh pemberi gadai.

e. Apabila batas waktu pinjaman telah habis, barang yang digadaikan boleh dijual atau
dilelang.

Perbedaan Rahn dan Gadai:

a. Rahn dalam hukum Islam dilakukan secara sukarela atas dasar tolong-menolong tanpa
mencari keuntungan, sedangkan gadai menurut hukum perdata disamping tolong-menolong juga
menarik keuntungan dengan cara menarik bunga atau sewa modal yang ditetapkan.

b. Dalam hukum perdata, hak gadai hanya berlaku pada benda yang bergerak, sedangkan
dalam hukum Islam, rahn berlaku pada seluruh harta, baik harta yang bergerak maupun yang
tidak bergerak.

c. Dalam rahn, menurut hukum Islam tidak ada istilah bunga utang, yang ada hanyalah sewa
tempat.
d. Gadai menurut hukum perdata, dilaksanakan melalui suatu lembaga, yang di Indonesia di
sebut Perum pegadaian; Rahn menurut hukum Islam dapat dilaksanakan tanpa melalui suatu
lembaga.

Menurut mazhab Hanafi penerima rahn boleh memanfaatkan barang yang menjadi jaminan utang
atas izin pemiliknya, karena pemilik barang itu boleh mengizinkan kepada siapa yang
dikehendakinya untuk menggunakan hak miliknya, termasuk untuk mengambil manfaat
barangnya. Hal itu menurut mereka bukan riba, karena pemanfaatan barang itu diperoloeh
melalui izin. (Muhammad, 2000: 90).

KONSTRUKSI SISTEM OPERASIONAL PEGADAIAN SYARI’AH (RAHN)


A. Pegadaian dan Bunga Gadai dalam Islam

Pada dasarnya saat akad perjanjian gadai merupakan akad utang-piutang. Namun akad utang-
piutang gadai mensyaratkan adanya penyerahan barang dari pihak yang berhutang sebagai
jaminan utangnya. Apabila terjadi penambahan sejumlah uang atau penentuan persentase tertentu
dari pokok utang (dalam pembayaran utang tersebut), maka hal terbut termasuk perbuatan riba,
dan riba merupakan suatu hal yang dilarang oleh syara’ (Basyir, 1983: 55).

Mengenai pengertian riba para Ulama’ telah berbeda pendapat. Walaupun demikian,
Afzalurrahman (1996) memberikan pedoman bahwa yang dikatakan riba (lebih lazim) disebut
bunga, di dalamnya terdapat tiga unsur berikut: Pertama, kelebihan dari pokok pinjaman; kedua,
kelebihan pembayaran sebagai imbalan tempo pembayaran; ketiga, sejumlah tambahan yang
disyaratkan dalam transaksi.

Adapun mengenai berlakunya pemungutan bunga (Riba) dalam lembaga pegadaian yang selama
ini berlaku, merupakan sudah menjadi hal yang biasa. Hal ini disebabkan oleh karena pendapatan
terbesar dari lembaga pegadaian tersebut adalah dari pemungutan bunga dari pokok pinjaman.
Bagaimana Islam menanggapi terjadinya praktek tersebut? Mengenai hal ini sebenarnya sudah
ada dua peneliti yang telah mengkaji lebih jauh tentang bunga pegadaian, yaitu Muhammad
Yusuf dan Viyolina. Adapun untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai deskripsi dari penelitian
tersebut, secara umum adalah sebagai berikut:

Pertama: Muhammad Yusuf (2000) berpendapat dalam hasil penelitiannya tersebut berpendapat
bahwa:

a. Islam membenarkan adanya praktik pegadaian yang dilakukan dengan cara-cara dan tujuan
yang tidak merugikan orang lain. Pegadaian dibolehkan dengan syarat rukun yang bebas dari
unsur-unsur yang dilarang dan merusak perjanjian gadai. Praktik yang terjadi di pegadaian
konvensional, pada dasarnya masih terdapat beberapa hal yang dipandang merusak dan
menyalahi norma dan etika bisnis Islam, diantaranya adalah masih terdapat unsur riba, yaitu
yang berupa sewa modal yang disamakan dengan bunga.

b. Pegadaian yang berlaku saat ini masih terdapat satu diantara banyak unsur yang dilarang
oleh syara’, yaitu dalam upaya meraih keuntungan (laba) pegadaian tersebut memungut sewa
modal atau lebih lazim disebut dengan bunga.
Kedua: Viyolina (2000) lebih tegas memaparkan dalam penelitiannya tersebut berpendapat
bahwa:
Unsur riba yang terdapat dalam aktivitas pegadaian saat ini sudah pada tingkat yang nyata, yaitu
pada transaksi penetapan dan penarikan bunga dalam gadai yang sudah jelas tidak sesuai dengan
al-Qur’an dan as-Sunnah.
Penerapan bunga gadai yang pada awalnya sebagai fasilitas untuk memudahkan dalam
menentukan besar kecilnya pinjaman, telah menjadi kegiatan spekulatip dari kaum kapitalis
dalam mengesploitasikan keuntungan yang besar. Berdasarkan kenyataan tersebut dapat
dijadikan dasar Istinbat (kesimpulan hukum) untuk menyatakan bahwa penarikan dan penetapan
bunga gadai belum sesuai dengan prinsip-prinsip hukum Islam dan lebih banyak mendatangkan
kemudharatan, sehingga dapat pula dikatakan bahwa penarikan dan penetapan bunga gadai
adalah tidak sah dan haram.

Berdasarkan kedua penelitian tersebut di atas, Islam membenarkan adanya praktik utang-piutang
dengan cara akad gadai yang sesuai dengan prinsip syari’ah. Artinya, bahwa utang-piutang gadai
tersebut tidak boleh mengandung unsur-unsur yang dilarang oleh syara’ seperti adanya unsur riba
di dalam akadnya.
B. Aspek Sosial dan Komersial Gadai

Gadai pada dasarnya mempunyai nilai sosial yang sangat tinggi. Yaitu menolong orang yang
sedang dalam kesusahan. Namun pada kenyataannya dalam masyarakat konsep tersebut dinilai
“tidak adil” karena adanya pihak-pihak yang merasa dirugikan. Dilihat dari segi komersial, yang
meminjamkan uang merasa dirugikan, misalnya karena inflasi, pelunasan yang berlarut-larut,
sementara barang jaminan tidak laku. Dilain pihak, barang jaminan mempunyai hasil atau
manfaat yang kemungkinan dapat diambil manfaatnya atau dipungut hasilnya. Bagaimanakah
cara untuk mengatasi hal tersebut? Sejauh manakah hak penerima gadai atas hasil atau manfaat
barang yang digadaikan? (Syafi’i dalam Chuzaimah, 1997: 59)

Bertolak dari permasalahan tersebut diatas, berikut akan dibahas solusi alternatif agar pihak
penggadai dan penerima gadai tidak merasa saling diperlakukan tidak adil dan tidak merasa
saling dirugikan. Sedangkan untuk lebih jelasnya adalah pada bagian berikut:

1 Pendapat ahli hukum Islam tentang manfaat barang gadai pada dasarnya barang gadai
tidak boleh diambil manfaatnya, baik oleh Rahin sebagai pemilik maupun Murtahin sebagai
pemegang amanat, kecuali mendapat izin masing-masing pihak bersangkutan. Hak Murtahim
terhadap Marhun hanya sebatas menahan dan tidak berhak menggunakan atau memungut
hasilnya. Demikian pula Rahin, selama Marhun ada ditangan Martahin sebagai jaminan hutang,
Rahin tidak berhak menggunakan Marhun. Keadaan demikian ini, apabila kedua belah pihak
(rahin dan murtahin) tidak ada kesepakatan (Basyir, 1983: 56).

Adapun mengenai boleh atau tidaknya barang gadai diambil manfaatnya, beberapa Ulama’
berbeda pendapat. Namun menurut Syafi’i (1997) dari kesekian perbedaan pendapat para Ulama
yang tergabung dalam beberapa mazhab, sebenarnya ada titik yang mengarah menuju kesamaan
dari pendapat mereka. Inti dari kesamaan pendapat Mazhab tersebut terletak pada pemanfaatan
barang gadaian pada dasarnya tidak diperbolehkan oleh syara’, namun apabila pemanfatan
barang tersebut telah mendapatkan izin kedua belah pihak (rahin dan murtahin), maka
pemanfaatan barang gadaian tersebut diperbolehkan. Sedangkan untuk lebih jelasnya mengenai
pendapat para Ulama’ fiqh tentang pemanfaatan barang gadai menurut Syafi’i (1997) adalah
sebagai berikut:

a. Pendapat Ulama as- Syafi’iyah

Mengenai pemanfaatan barang gadaian, masih menajadi perdebatan dikalangan para Ulama, ada
yang berpendapat Rahinlah yan berhak atas Marhun, dan adapula berpendapat sebaliknya
Murtahinlah yang berhak atas Marhun tersebut. Imam Syafi’i mengatakan dalam bukunya,
yaitu al-Um bahwa:

“Manfaat dari barang jaminan atau gadaian adalah bagi yang menggadaikan, tidak ada sesuatu
pun dari barang jaminan itu bagi yang menerima gadai” (t.t: 155).

b. Pendapat Ulama Malikiyah

Mengenai pemanfaatan dan pemungutan hasil barang gadaian dan segala sesuatu yang dihasilkan
dari padanya, adalah termasuk hak-hak yang menggadaikan. Hasil gadaian itu adalah bagi yang
menggadaikan selama pihak penerima gadai tidak mensyaratkan.

c. Pendapat Ulama Hanabillah

Ulama Hanabilah dalam masalah ini memperhatikan barang yang digadaikan itu sendiri, yaitu
hewan atau bukan hewan, sedangkan hewanpun dibedakan pula antara hewan yang dapat diperah
atau ditunggangi dan hewan yang tidak dapat diperah dan ditunggangi.

d. Pendapat Ulama Hanafiah

Menurut Ulama Hanafiah tidak ada bedanya antara pemanfaatan barang gadaian yang
mengakibatkan kurangnya harga atau tidak, maka apabila yang menggadaikan memberi izin,
maka penerima gadai sah mengambil manfaat dari barang yang digadaikan oleh penggadai
(Syafi’i dalam Chuzaimah, 1997: 72).
http://www.ekisonline.com/component/content/article/37-keuangan/68-pegadaian-dalam-
perspektif-islam.html